Daripada Jajan di Kereta, Lebih Baik Bawa Daftar Bekal ini Sebelum Berangkat

Walaupun sekarang sudah banyak orang yang mengalihkan pilihannya kepada pesawat ketika melakoni sebuah perjalanan jarak jauh, namun kereta api tidaklah kehilangan pesonanya begitu saja. Masih saja ada orang yang lebih setia terhadap si ular besi ketimbang ia harus beralih menggunakan si burung besi untuk melakukan perjalanan jarak jauh. Nah, salah satu maslaah yang kerap melanda para penumpang yang melakukan perjalanan jarak jauh dengan menggunakan kereta api adalah masalah makan atau jajan.

Baca Juga: Nasi Goreng Parahyangan: Racikan Sederhana yang Digandrungi Penumpang ‘Gopar’

Nah, bagi Anda yang suka jajan ketika bepergian menggunakan kereta api, ada baiknya Anda ubah cara tersebut dengan beberapa tips yang KabarPenumpang.com sarikan dari laman phinemo.com berikut ini!

Bekal Biskuit atau Krakers
Ini merupakan cemilan yang tepat Anda konsumsi selama perjalanan – selain dapat menahan rasa lapar, biskuit atau krakers juga kerap kali dijadikan ‘sahabat sejati’ para pengidap penyakit maag. Menurut ahli kesehatan, mengunyah biskuit secara terus menerus bisa menghindarkan kita dari asam lambung yang berlebih.

Pengganti Tepat Nasi Adalah…
Roti! Ya, makanan yang satu ini jauh lebih praktis ketimbang Anda membawa nasi lengkap dengan lauk pauknya. Selain memberikan efek kenyang yang hampir sama dengan nasi, ternyata roti juga memiliki kandungan serat yang lebih tinggi dari nasi. Belum lagi kandungan karbohidratnya yang dapat diubah menjadi sumber energi. Lengkap deh pokoknya!

Nasi Bungkus Juga Boleh! Tapi…
Bagi Anda yang sulit untuk menggantikan peranan nasi, Anda bisa membawa bekal nasi bungkus yang sudah Anda kemas di rumah atau Anda beli di sekitaran stasiun. Tapi, pastikan lauk yang Anda bawa tidak cepat basi, ya!

Bekal Buah
Selain baik untuk kesehatan, ternyata buah juga dapat dijadikan sebagai teman perjalanan Anda. Kandungan vitamin, mineral, serat, dan anti-oksidan dipercaya mampu membawa banyak keuntungan bagi Anda. Sebut saja apel yang terkenal akan kandungan anti-oksidannya yang tinggi, dimana itu akan meningkatkan sistem imun dalam tubuh. Atau pisang yang dapat meningkatkan stamina Anda.

Baca Juga: Kereta Api Punya Menu Makanan Baru dan Dapur Sentralnya Ternyata Ada di Yogyakarta

Minuman dan Makanan Instan
Ini merupakan opsi paling sederhana yang bisa Anda coba. Cukup sediakan beberapa buah mie instan dalam kemasan cup dan minuman kaya serat sebelum memulai perjalanan, dan ketika rasa lapar mulai mengganggu, cukup minta air panas kepada pihak RESKA untuk menyeduhnya. Ini akan jauh lebih hemat ketimbang Anda membeli makanan dan minuman tersebut di kereta.

 

Lewati Fase Debat ‘Alot,’ KLM Setuju Naikkan Tujuh Persen Gaji Awak Kabin

Kabar gembira datang dari maskapai tertua di dunia yang masih beroperasi, Koninklijke Luchtvaart Maatschappij (KLM) Royal Dutch Airlines, dimana pihak maskapai telah mencapai kesepakatan dengan persatuan awak kabin untuk meningkatkan gaji mereka. Dikabarkan, kedua belah pihak telah mencapai kesepakatan pada Kamis (19/12) malam kemarin, setelah kurang lebih delapan bulan bernegosiasi. Adapun besaran kenaikan gaji yang disetujui kedua belah pihak berada di angka tujuh persen. Wah, berarti awak kabin KLM bisa jadi lebih makmur, ya!

Baca Juga: Apa Saja sih Keuntungan yang Didapatkan oleh Seorang Awak Kabin?

Sebagaimana yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman nltimes.nl (20/12), tidak hanya kenaikan gaji saja, tapi para awak kabin KLM juga memiliki akses untuk mendapatkan pelatihan, bonus, hingga libur tambahan yang setara dengan dua persen dari upah yang mereka dapat.

“Karena jadwal kerja yang tidak teratur, maka kesepakatan yang dicapai dengan pihak maskapai merupakan kabar baik untuk kami, dimana sekarang karyawan dapat memilih untuk berinvestasi di diri sendiri (mengikuti pelatihan) dengan cara yang sesuai dengan mereka,” ujar Birte Nelen, direktur serikat pekerja FNV.

Mengingat pada tahun 2019 kemarin para pekerja ini sempat menerima penugasan sekunder, maka pihak maskapai juga akan ‘menghadiahi’ para pekerja dengan upah €375 atau yang setara dengan Rp5,8 juta. Menurt KLM, gaji para awak kabin ini akan mulai naik tertanggal 1 September mendatang, sebanyak dua persen terlebih dahulu. Hal ini menyusul kenaikan dua setengah persen yang dijadwalkan akan mulai diberlakukan tertanggal 1 Agustus 2020 dan 2021. Jadi jika tidak meleset, per 1 Agustus 2021, gaji awak kabin KLM akan naik enam setengah persen.

Baca Juga: Ternyata, Jakarta Merupakan Destinasi Penerbangan Antar Benua Perdana KLM!

Sayangnya, pihak KLM tidak menjelaskan kemana setengah persen lagi nominal yang harus dibayarkan pihak maskapai agar pas tujuh persen.

Sementara itu, awak kabin KLM masih harus menyetujui kesepakatan tersebut, dimana perjanjian perundingan dijadwalkan pada bulan Januari 2020 mendatang.

GoJek vs Grab, Persaingan Dua Raksasa Ride-Hailing di Pasar Asia Tenggara

Pasar transportasi udara di Indonesia memang tidak lepas dari duopoli antara Garuda Indonesia Group yang menyandang predikat sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Lion Air Group yang berasal dari pihak swasta. Ternyata duopoli ini tidak hanya terjadi di sektor kedirgantaraan saja – dalam ruang lingkup yang lebih besar, pasar transportasi darat di Asia Tenggara juga ternyata dicokol oleh dua perusahaan beda negara yang sama-sama tengah naik daun, GoJek dan Grab.

Baca Juga: Ternyata di Ride Hailing Banyak Kecurangan yang Dilakukan Pengemudi Online

Ya, kedua perusahaan ride-hailing ini memang masih dalam arena persaingan yang sangat ketat. Dengan menonjolkan beragam promo serta mendapatkan sokongan dana dari beragam investor, baik GoJek dan Grab sama-sama tengah berjuang guna memantapkan diri di ‘puncak klasemen’. Tercatat sebagai negara dengan populasi terpadat keempat di dunia, Indonesia memang diplot sebagai pasar yang tepat bagi kedua perusahaan untuk mencuri ceruk pasar.

Budaya konsumtif serta keberadaan dua perusahaan ini yang sudah kadung melekat di hati para konsumennya di Tanah Air menjadi alasan mengapa GoJek dan Grab bertumbuh dengan sangat pesat di Indonesia. Belum lagi pundi-pundi rupiah yang didapat dari iklan – sebut saja iklan yang dipasang bersebelahan di sejumlah public space di Jakarta, menjadi penanda bahwa kedua perusahaan ini memang sama-sama tengah berada dalam tensi tinggi persaingan.

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman ft.com (26/12), pimpinan bisnis perbankan investasi Deutsche Bank di sektor teknologi Asia, Neel Laungani mengatakan bahwa kedua perusahaan ini terus menggalang dana guna memperkuat sektor bisnis mereka – terhitung sejak tiga tahun terakhir. Ya, seperti yang sudah diketahui sebelumnya, sejumlah perusahaan raksasa seperti Google, Tencent, JD.com, Astra International, hingga Mitsubishi turut menanamkan modal mereka di Gojek – sedangkan Grab mendapatkan investasi dari Toyota Motor, Oppenheimer Funds, Ping An Capital, hingga Microsoft.

Perebutan gelar sebagai penguasa ride-hailing di Asia Tenggara tidak hanya terjadi di segi pendanaan saja, pun juga dari segi teknologinya. Inilah yang menjadi titik paling seru dari pertarungan antara dua perusahaan tersebut, mengingat ini akan berimplikasi langsung pada user experiences (pengalaman pengguna). Ini terlihat dari beragam opsi pembayaran yang dapat dilakukan oleh pengguna aplikasi, hingga beragam promo menarik yang ditujukan untuk meraup pengguna sebanyak-banyaknya.

Baca Juga: GoJek Kalah Saing, Grab Maju Selangkah Hadirkan Fitur Asuransi

Kendati kedua perusahaan sama-sama memiliki visi untuk menguasai pasar, namun Neel mengatakan bahwa, “Di luar Indonesia, Grab sulit dikalahkan, tetapi Indonesia adalah GoJek. Mereka bisa menjadi pemimpin di pasar yang bisa berakhir dengan duopoli.”

Dikutip dari laman sumber lain, GoJek sekarang telah beroperasi di 207 kota di empat negara di Asia Tenggara, 203 diantaranya berada di Indonesia dan Grab telah hadir di 339 kota di delapan negara, dan 224 ada di Indonesia.

Wow! Jakarta Masuk Peringkat 10 Kota dengan Perjalanan Terlama di Dunia

Perjalanan lama akibat macet di Jakarta, menjadi pemandangan yang wajar dan terasa lumrah. Apalagi bila hujan yang mendadak turun, perjalanan akan semakin lama akibat banyak motor yang berhenti  di bawah flyover atau jalan tol baik untuk meneduh atau akan menggunakan mantel hujan.

Baca juga: Inilah 10 Stasiun Bawah Tanah Terpadat di Dunia

Namun, ternyata bukan hanya Jakarta yang memiliki perjalanan ‘lama’ untuk sampai di satu tujuan. KabarPenumpang.com melansir dari laman businessinsider.com, ternyata ada sekitar 20 kota lain yang memiliki perjalanan terlama dan ternyata Villavicencio di Kolombia berada di peringkat pertama.

Tak hanya itu, ternyata di negara Amerika Serikat, ada lima kotanya yang masuk dalam 20 kota di dunia yang memiliki perjalanan terlama. Tahun 2014, pengguna jalan di Amerika Serikat menghabiskan waktu 42 jam per tahun karena terjebak dalam kemacetan.

Waktu perjalanan ini didapat dari data Waze salah satu aplikasi navigasi milik Google yang dibeli pada tahun 2013 lalu dengan harga lebih dari US$1 miliar. Waze sendiri merupakan aplikasi navigasi yang berbeda dengan lainnya.

Sebab memiliki kemampuan untuk mengumpulkan informasi sumber dari basis pengguna yang besar dimana pengemudi dan penumpang melapor ke Waze jika adanya kecelakaan, insiden lalu lintas bahkan petugas polisi. Hal ini yang membuat Google memasukkan beberapa sumber informasi ke dalam Google Maps.

Baca juga: Inilah 10 Penerbangan “Direct Flight” dengan Waktu Terlama di Dunia

Untuk lebih jelas berapa lamanya perjalanan yang dibutuhkan ke suatu tempat, berikut ini 20 kota yang memiliki perjalanan terlama di dunia. Nomor pertama sepertinya akan sangat dihindari pelancong dan Jakarta berada di tempat ke-10.

1. Villavicencio, Kolombia – 192,1 menit
2. Myrtle Beach, SC, USA – 96,9 menit
3. Sarasota, FL, USA – 85,8 menit
4. Golan Heights, Israel – 80,8 menit
5. Negev, Israel – 54,3 menit
6. Denver, CO, AS – 47 menit
7. Manila, Filipina – 45,5 menit
8. Kuala Muda, Malaysia – 44,3 menit
9. Moskow, Rusia – 43,1 menit
10. Jakarta, Indonesia – 42,1 menit
11. Montpellier, Prancis – 41,2 menit
12. London, Inggris Raya – 41,2 menit
13. Galilea, Israel – 41,1 menit
14. Milan, Italia – 40 menit
15. San Francisco / San Jose, CA, AS – 39,4 menit
16. Yerusalem, Israel – 38,8 menit
17. New York, NY, AS – 38,7 menit
18. Rio de Janeiro, Brasil – 38,4 menit
19. Roma, Italia – 37,7 menit
20. Amsterdam, Belanda – 37,5 menit

De Havilland Comet, Inilah Pesawat Jet Komersial Pertama di Dunia

Melihat perkembangan sektor aviasi global yang dewasa ini sudah semakin trengginas termakan teknologi, tidak ada salahnya jika kali ini Anda semua diajak untuk meniti balik awal perkembangan si burung besi – terutama di sektor penerbangan penumpang. Mungkin beberapa dari Anda tidak asing lagi dengan satu merk pesawat, De Havilland. Ya, manufaktur kedirgantaraan asal Inggris yang berdiri pada akhir tahun 1920 ini ternyata menyumbang peran besar di sektor aviasi global. Tahukah Anda apa peran dari De Havilland ini?

Baca Juga: Pesawat Twin Otter, Si Kecil Bandel yang Lincah Meliuk di Daerah Pegunungan

Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, adalah De Havilland Comet,  pesawat jet komersial pertama di dunia. Di bawah pengawasan salah satu desainer dari De Havilland, Ronald Eric Bishop, pesawat ini sendiri mulai dirancang pada tahun 1946. Perancangan ini sebenarnya merupakan salah satu mimpi liar dari Ronald, dimana ia ingin menerbangkan pesawat komersial pada tahun 1952.

Singkat cerita, pesawat yang kelak bernama De Havilland DH 106 Comet ini melakukan penerbangan perdana dalam sebuah uji coba pada 27 Juli 1949. Tiga tahun berselang, tepatnya pada 2 Mei 1952, DH 106 Comet ini diperkenalkan ke publik untuk pertama kalinya, dengan menggunakan livery British Overseas Airways Corporation (BOAC) atau yang kini sudah berganti nama menjadi British Airways.

Satu hal yang membedakan De Havilland Comet ini dengan pesawat lainnya adalah penggunaan empat mesin turbojet de Havilland Ghost 50 Mk1 yang terletak di bagian bawah sayap. Ketika dipasarkan, sontak pesawat ini menjelma menjadi sebuah game-changer yang membawa dampak positif ke sektor aviasi internasional. Hal ini terbukti dari jumlah pesanan yang masuk di tahun pertamanya (kurang lebih 50 unit), dengan total penumpang yang diangkut mencapai angka 30.000.

Namun agaknya langkah perusahaan untuk terus mengembangkan dan memasarkan DH 106 Comet harus terjegal manakala pada 2 Mei 1953 sebuah pesawat Comet hancur tak lama berselang setelah lepas landas dari Kalkuta. Tidak berhenti sampai di situ, pada bulan Januari dan April 1954 pun dua pesawat Comet hancur tanpa penyebab yang jelas.

Namun setelah diselidiki, ternyata yang menyebabkan hancurnya pesawat-pesawat De Havilland Comet ini adalah karena kelelahan pada logam (metal fatigue), dan sejak ditemukan penyebab kecelakaan, De Havilland kembali berbenah untuk mengatasi masalah-masalah yang mungkin terjadi di masa depan – tidak terkecuali metal fatigue tersebut.

Baca Juga: Harbour Air Uji Coba Pesawat Terbang Listrik Selama Lima Menit

Perkembangan demi perkembangan dilakukan oleh perusahaan agar bisa mempertahankan De Havilland Comet di udara, termasuk dengan cara merilis varian terbaru dari pesawat terkait. Tercatat, ada empat jenis pesawat Comet yang pernah mengudara, tentu saja dengan spesifikasi yang berbeda – namun tidak terlalu jauh.

Namun pada akhirnya, De Havilland Comet harus menyerah pada keadaan dan sah keluar dari penerbangan komersial pada 14 Maret 1997. Hingga pada akhir masa pengoperasiannya, tercatat ada 114 unit pesawat – termasuk satu diantaranya adalah prototipe. Adapun pengguna aktif dari pesawat jenis ini adalah BOAC, British European Airways, Dan-Air, dan Royal Air Force.

Apa Saja yang Dilakukan Awak Kabin Ketika Tengah Beristirahat?

Kendati sering mondar-mandir di kabin untuk memenuhi permintaan penumpang, namun jangan kira seorang awak kabin tidak memiliki waktu istirahatnya sendiri. Layaknya pegawai kantoran, seorang awak kabin juga membutuhkan istirahat guna memaksimalkan kinerja kerjanya. Kira-kira, apa saja yang dilakukan seorang awak kabin ketika tengah beristirahat? Apakah mereka bisa merebahkan diri sejenak setelah lelah seharian menggunakan sepatu high heels?

Baca Juga: Mantan Pramugari ‘Buka Kartu’, Ternyata Maskapai Atur Penggunaan Pakaian Dalam

Guna menjawab pertanyaan di atas, KabarPenumpang.com merangkum dari laman thetravel.com tentang apa-apa saja yang dilakukan seorang awak kabin ketika tengah beristirahat di dalam sebuah penerbangan. Berikut adalah beberapa diantaranya:

Gosip
Layaknya kebanyakan perempuan, awak kabin pun membutuhkan asupan gosip di sela-sela waktu kerja – apapun objek perbincangannya. Mulai dari rekan kerjanya, urusan kantor, selebtiris, atau mungkin isu politik, hingga penumpang yang bermasalah.

Ya, setidaknya gosip bisa menjadi media alternatif bagi para awak kabin untuk saling mendekatkan diri (mengingat tidak semua awak kabin sudah mengenal satu sama lain).

Makan dan Minum
Menurut laman sumber, tidak menutup kemungkinan bagi seorang awak kabin untuk ikut ‘mencicipi’ makanan dan minuman yang dijajakan kepada para penumpang. Namun bukan berarti mereka tidak membayarnya, ya!

Awak kabin juga akan tetap membayar makanan atau minuman yang mereka ambil layaknya seorang penumpang. Ssstt, terkadang awak kabin tidak ingin momen mengisi perut ini diketahui oleh penumpang, lho!

Memoles Ulang Make Up
Walaupun sudah melakoni perjalanan jauh, namun seorang awak kabin juga dituntut untuk tetap memiliki penampilan yang ciamik! Nah, di waktu istirahatnya ini, awak kabin juga sering memoles ulang make up-nya guna menyegarkan penampilannya!

Selain itu, tidak sedikit juga dari para awak kabin ini menggunakan waktu istirahat mereka untuk membersihkan kotoran yang menempel di seragam. Pokoknya, penampilan harus terjaga!

Baca Juga: Jangan Ganggu Awak Kabin Bila Tak Ingin Dapatkan Reaksi Tak Mengenakkan

Mengabadikan Momen
Sebuah perjalanan memang mengandung sejuta cerita, dan agaknya sayang untuk dilewatkan begitu saja. Maka tidak heran jika para awak kabin ini akan menggunakan waktu istirahatnya untuk selfie bersama rekan kerjanya.

Jika kebetulan di penerbangan terkait ada seorang public figure, tak jarang juga awak kabin akan meminta selfie dengan mereka.

Nasehat Baik Saat Bawa Anak Jalan-Jalan dengan Pesawat

Sebagai orang tua yang akan membawa anak-anak bepergian menggunakan pesawat, biasanya mempersiapkan barang bawaan dan makanan sudah dilakukan dari jauh-jauh, apalagi bila anak yang dibawa masih bayi dan dibawah usia sepuluh tahun dan dalam perjalanan yang cukup jauh.

Baca juga: Ingin Bawa Anak Naik Pesawat? Perhatikan Beberapa Poin Penting Ini

Ini pastinya akan sangat merepotkan dan melelahkan orang tua. KabarPenumpang.com melansir dari laman irishtimes.com (9/9/2017), beberapa saran perlu digunakan Anda sebagai orang tua dan penumpang yang membawa anak ialah dengan memilih kursi pesawat secara tepat. Pemilihan kursi bisa dilakukan bila memang maskapai membuka layanan tersebut. Tak hanya itu, beberapa maskapai juga ingin dihubungi jika saat bepergian Anda membawa anaak-anak bersama dalam penerbangan.

Bila saat bepergian Anda membawa bayi, biasanya akan mencari kursi sekat untuk keranjang bayi. Tetapi umumnya dalam penerbangan, anak dibawah dua tahun di pangku oleh orangtuanya. Sebab, pesawat tidak memiliki kursi kosong sehingga layanan untuk mendapatkan pelayanan bayi serta anak dibawah sepuluh tahun akan bervariasi dari setiap maskapai. Maka sebaiknya di tanyakan terlebih dahulu kepada pihak maskapai agar tahu apa yang harus Anda lakukan.

Untuk memudahkan Anda, baiknya lihat tata letak semua pesawat di seatguru.com. Selain itu, bila ingin melihat peringkat maskapai Anda bisa melihatnya di airlinequality.com/ratings/a-z-airline-rating/

Melihat tren yang berkembang, kesempatan terbang bersama anak-anak kian meningkat, alasannya karena hiburan dalam penerbangan sudah lebih baik dan membawa anak-anak menjadi lebih nyaman. Layanan kabin pun untuk anak-anak seperti permainan dan makanan spesial terkadang sudah disiapkan oleh pihak maskapai. Di Indonesia sendiri, setiap penerbangan sekelas Garuda Indonesia, orangtua yang membawa anak biasanya diberikan mainan seperti boneka atau mainan lainnya yang memang sudah dipersiapkan oleh awak kabin.

Baca juga: Melahirkan di Dalam Pesawat, Antara Jaminan Terbang Gratis dan Isu Kewarganegaraan

Jika Anda bepergian dengan maskapai biaya rendah atau LCC baiknya bawa makanan ringan dan minuman sedikit lebih banyak dibanding saat menggunakan penerbangan layanan penuh (full service). Jangan lupa saat Anda membawa anak ikut serta dalam penerbangan, isi ransel anak dengan mainan, buku mewarnai, boneka hingga makanan ringan. Biarkan anak Anda merasakan penerbangan bila ingin duduk dekat jendela untuk melihat pemandangan dari udara.

Sedangkan bila Anda membawa bayi, sertakan pakaian ekstra, isi tas dengan popok, lap dan baju menjadi satu agar tidak membongkar-bongkar lagi. Bawa juga handuk kecil atau kain yang berguna untuk segala macam hal. Bawa permen yang bisa dikunyah anak-anak Anda saat lepas landas atau mendarat. Permen ini berguna untuk mengurangi tekanan pada telinga anak-anak. Salah satu maskapai yang memberikan layanan untuk anak yakni Etihad Airlines memiliki nanny atau pengasuh yang terlatih untuk membantu anak-anak.

Duh, Pilot ANA Lupa Bawa Lisensi Terbang Ketika Bertugas!

Bagaimana rasanya jika rencana liburan akhir tahun yang sudah tertata rapi terpaksa harus berantakan di bandara karena penerbangan Anda terpaksa dibatalkan? Terlebih jika Anda mengetahui bahwa pembatalan penerbangan tersebut dikarenakan sang pilot lupa membawa lisensinya? Wah, akankah Anda meluapkan amarah kepada sang pilot?

Baca Juga: Ellen Church, Pramugari Pertama di Dunia yang Juga Punya Lisensi Pilot

Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com (25/12), adalah seorang pilot berusia 60 tahunan yang mengabdi kepada maskapai asal Jepang, All Nippon Airlines (ANA) tengah mengemudikan pesawat dari Tokyo Haneda menuju Fukuoka (ANA Flight 259). Namun di tengah perjalanan, ia baru sadar bahwa dirinya lupa membawa lisensi penerbangannya. Padahal, dokumen tersebut amatlah penting bagi seorang pilot – layaknya SIM bagi para pengemudi kendaraan bermotor.

Nasi sudah menjadi bubur, pilot ini langsung menghubungi atasannya dan mengatakan bahwa ia tidak membawa lisensi penerbangannya. Akan memakan waktu yang cukup lama jika sang pilot harus kembali ke destinasi awal (Tokyo) hanya untuk mengambil lisensi penerbangannya, dan kala itu atasan sang pilot memerintahkan untuk melanjutkan penerbangan menuju Fukuoka. ANA Flight 259 masih aman dari ‘amukan’ penumpang.

Menurut regulasi yang berlaku, seorang pilot tidak diijinkan untuk menerbangkan pesawat jika tidka membawa lisensi penerbangannya, dan inilah yang menjadi akar dari masalah selanjutnya. Sang pilot yang identitasnya tidak diungkap ini tidka bisa melanjutkan penerbangan – ANA flight 428 dari Fukuoka menuju Itami di Osaka. Walhasil, tanpa hadirnya seorang pilot, pihak maskapai harus membatalkan penerbangan tersebut dan sebanyak 129 penumpang ‘dipaksa’ untuk mencari alternatif perjalanan lain.

Baca Juga: Kopilot Oman Air Lupa Bawa Lisensi Terbang, Pesawat Tertahan Lebih dari 2 Jam di New Delhi!

Tidak berhenti sampai di situ, penerbangan selanjutnya dari pilot ini (ANA flight 739 dari Itami menuju Sendai) juga terdampak. Pihak maskapai harus mencari pilot pengganti yang bisa dan sudah kompeten melayani penerbangan di rute tersebut.

Menanggapi kasus pilot kelupaan membawa lisensi ini, pihak ANA masih enggan untuk berkomentar lebih jauh. Besar kemungkinan, pihak maskapai masih melakukan investigasi mendalam terkait kejadian ini.

Penumpang British Airways Melihat Drone di Ketinggian 30 Ribu Kaki, Fakta atau Halusinasi?

Seorang penumpang British Airways membeberkan sebuah fakta yang mencengangkan dimana ia bersaksi melihat sebuah drone di ketinggian 30.000 kaki (9.114 meter). Tentu saja pernyataan penumpang ini menggemparkan jagad aviasi Inggris, mengingat ada aturan khusus terkait penggunaan drone oleh warga sipil. Menurut penuturan si penumpang, ia melihat pesawat nirawak ini ketika pesawat yang ia tumpangi hendak mendarat di Bandara Heathrow.

Baca Juga: Ternyata Drone Dilarang di Negara-Negara Ini

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman dailymail.co.uk (20/12), adalah Sarah Baker, seorang penumpang yang tengah mengudara dari Tokyo menuju London Heathrow yang membuat kesaksian tersebut. Menurut pengakuan Sarah, ia melihat sebuah drone berada di ketinggian sekitar 30.000 kaki, kurang lebih 30 menit sebelum pesawat yang ditumpanginya mendarat pada tanggal 29 November 2019 kemarin.

Sarah dengan yakin mengatakan bahwa yang dilihatnya tersebut adalah sebuah drone berwarna biru dan memiliki empat kaki. Padahal, jika merujuk pada regulasi yang berlaku di Tanah Britania, sebuah drone tidak boleh mengudara lebih dari ketinggian maksimum 1.640 kaki (500 meter). Hal ini ditujukan agar di pemilik drone tetap bisa memantau dan tidak mengganggu jalur penerbangan pesawat komersial.

“Saya yakin dengan apa yang saya lihat,” ujar Sarah.

“Itu sangat mengkhawatirkan,” sambungnya.

Ya, ia khawatir drone yang ia lihat tersebut berada terlalu dekat dengan mesin pesawat dan pada akhirnya terhisap mesin jet – sebuah skema yang sangat mengerikan jika hal ini benar-benar terjadi.

Setibanya di London, Sarah langsung menghubungi Otoritas Penerbangan Sipil dan melaporkan apa yang baru saja ia lihat. Namun alih-alih menanggapi keluhannya, Otoritas Penerbangan Sipil malah meminta Sarah untuk menghubungi pihak kepolisian.

Baca Juga: Drone Misterius Ganggu Penerbangan di Bandara Changi Singapura

Ketika dimintai keterangan terkait kasus Sarah ini, pihak Kepolisian Metropolitan mengatakan memang menerima laporan dari Sarah Baker tentang temuan drone di ketinggian 30.000 kaki di dekat Bandara Heathrow, namun mereka tidak menyelidikinya lebih lanjut dengan alasan satu dan lain hal.

Mungkin, pernyataan Sarah yang agak sedikit tidak masuk akal yang pada akhirnya membuat pihak Kepolisian Metropolitan tidak menindaklanjuti laporan tersebut.

Dalam jagad dunia drone, ada jenis drone yang mampu terbang di ketinggian sekitar 10 meter, yaitu drone di segmen HALE (High Altitude Long Endurance), umumnya jenis drone ini digunakan oleh kalangan militer dalam misi intai strategis. Namun, yang unik dari pernyataan Sarah adalah sosok drone yang dilihat mempunyai kaki empat yang mengindisikasn drone copter, sementara saat ini tidak ada drone copter yang mampu terbang di ketinggian tersebut.

SITA Prediksikan Masa Depan Bandara di Dunia, Seperti Apa Jadinya?

Perusahaan IT multinasional terkemuka, SITA telah membuat prediksi terkait bagaimana teknologi membentuk tata cara penumpang yang hendak melakukan mobilisasi via bandara. Ya, dalam 10 tahun terakhir, beragam teknologi mutakhir seperti keamanan biometrik, mobile check-in, pelacakan bagasi, hingga face recognition telah sukses mengundang decak kagum para pelancong yang sudah mendambakan kehadirannya sejak lama.

Baca Juga: Penanganan Bagasi di Bandara Kini Libatkan Teknologi RFID

Direktur Pengembangan Bisnis SITA, Benoit Verbaere mengatakan bahwa jumlah penumpang yang akan mengalami peningkatan hingga dua kali lipat dalam kurun waktu 20 tahun mendatang akan menjadi tantangan tersendiri bagi para pihak pengelola bandara dan pemangku kepentingan terkait. Prediksi ini semakin diperparah dengan minimnya perluasan dari bandara-bandara tersebut. Maka dari itu, pemutakhiran teknologi menjadi salah satu jalan keluar dari masalah peningkatan ‘populasi’ penumpang ini.

Jadi, kira-kira apa prediksi dari SITA mengenai masa depan perjalanan penumpang via jalur udara di masa yang akan datang? Berikut KabarPenumpang.com sarikan jawabannya, dikutip dari laman japantoday.com (16/12).

Keamanan yang Terintegrasi
Di masa yang akan datang, SITA memprediksi fase pemeriksaan keamanan penumpang akan sepenuhnya terintegrasi. Dengan kata lain, Anda tidak perlu lagi melepas ikat pinggang hingga jaket ketika melintasi X-Ray. Penumpang serta bawaannya akan dikenali secara otomatis ketika melintasi pos keamanan integrated tersebut. Selain itu, titik pemeriksaan identitas juga akan digantikan dengan sensor yang siap melancarkan perjalanan Anda di bandara.

Penumpang Akan Mengandalkan Identitas Digital Mereka
Ya, di masa depan Anda tidak akan lagi menggunakan identitas ‘tradisional’ mereka ketika hendak bepergian (baik dalam maupun ke luar negeri), melainkan hanya dengan menggunakan data digital saja. Pengenalan data digital ini juga akan disandingkan dengan kecerdasan buatan.

Akan Terus ‘Diawasi’
Tenang, di sini Anda tidak akan diperlakukan layaknya seorang penjahat yang sedang diintai oleh petugas keamanan, melainkan ini akan membantu Anda dalam hal membawa barang bawaan.

Baca Juga: Tuntas 2021, Bandara London City Rencanakan Pengembangan Senilai Rp7,1 Triliun

Bandara Akan Terintegrasi
Hampir sama seperti poin pertama, kelak bandara-bandara di dunia akan semakin terintegrasi, dimana perpaduan antara penggunaan teknologi baru dengan jaringan komunikasi tingkat tinggi (5G) akan memaksimalkan pengalaman penumpang. Selain semakin terintegrasi, bandara di masa depan juga akan semakin otomatis dan dapat menyesuaikan kebutuhan penumpang.

Ini hanya sebagian dari beberapa prediksi yang dibuat oleh SITA. Akankah semua prediksi tersebut terlaksana di masa yang akan datang?