Variable Pitch Platform Screen Door Terbuka dengan Menyesuaikan Berhentinya Kereta

Variable Pitch Platform Screen Door (VP-PSD) pertama di dunia baru saja diluncurkan ST Engineering di AusRAIL Plus 2019 yang berlangsung di Sydney, Australia pada 3-5 Desember 2019 kemarin. VP-PSD ini nantinya akan memungkinkan operator kereta untuk memberikan keselamatan dan kenyamanan bagi penumpang.

Baca juga: Merusak Screen Door di Stasiun Orchard, Pria Muda Didakwa Pengadilan Singapura

Sebab VP-PSD bisa secara otomatis bergeser untuk menyesuaikan dengan pintu kereta tergantung berhentinya kereta tersebut. Apalagi ketika jalur tersebut digunakan oleh beragam kereta dengan perhentian yang berbeda-beda ketika di peron. Sehingga dengan kehadiran VP-PSD ini bisa secara mulus mendeteksi posisi pemberhentian pintu kereta yang benar sebelum kereta itu tiba di stasiun.

KabarPenumpang.com merangkum dari stengg.com (3/12/2019), screen door ini direkayasa untuk  melayani beberapa jenis kereta api dan tidak dapat memasang pintu screen door lama atau tradisional. Seperti halnya Sydney, Wakil Presiden ST Engineering, Mobility, Bernard Chow menyarankan target lain bisa termasuk seperti di Eropa dan Amerika Serikat yakni New York Subway dan London Underground.

“Pengembangan Pintu Layar Pitch Platform Variabel fleksibel dan inovatif kami menandai kemajuan besar dalam kemampuan untuk industri kereta api. Membangun berdasarkan keahlian teknik dan teknologi inovatif kami, pelanggan kami sekarang dapat secara dinamis mengelola sistem kereta warisan sambil memastikan keselamatan komuter. Solusi kami menggarisbawahi komitmen perusahaan kami dalam memberikan layanan kereta api yang aman, andal, dan efisien untuk penumpang global,” kata Yong Thiam Chong, Presiden, Mobilitas Elektronik ST Engineering.

Solusi VP-PSD ST Engineering nantinya akan berfungsi sebagai penghalang keamanan antara platform dan jalur kereta api. Sehingga mencegah penumpang jatuh ke jalur kereta api terutama selama periode puncak dengan lalu lintas penumpang yang tinggi. Selain indikator keselamatan yang mengingatkan penumpang pada pembukaan dan penutupan pintu, VP-PSD juga dilengkapi sensor celah jari untuk mencegah jari terjebak di antara pintu.

Memiliki sturktur yang berbeda, VP-PSD bisa dimasukkan dalam platform yang sudah ada maupun yang baru. Hal ini bisa menghasilkan peningkatan ruang platform berdiri untuk penumpang tanpa takut jatuh secara tidak sengaja ke rel ketika menunggu kereta tiba.

Baca juga: ST Engineering Kembangkan Automatic Fare Collection, Masuk Stasiun Tanpa Tapping Kartu

Selain menjadi salah satu pemasok PSD global terkemuka dengan sertifikasi Safety Integrity Level 3, solusi elektronik kereta ST Engineering juga telah membantu perencana kota dan operator kereta api mengelola jaringan metro yang kompleks, memperluas serta meningkatkan harapan untuk perjalanan yang mulus dan cerdas.

Baraya Travel, Dipilih Karena Tak Buat Dompet Merintih

Semakin menjamurnya bisnis perjalanan menggunakan shuttle dari Jakarta – Bandung maupun sebaliknya membuat para senior dalam bisnis ini harus memutar otak agar tidak kehilangan konsumennya yang bisa saja beralih pada penyedia jasa lain yang memiliki kelebihan di sebagian bidang. Mulai dari harga tiket yang relatif lebih murah dari kompetitornya hingga penggunaan sarana transportasi yang amat mewah menjadi beberapa cara penyedia jasa tersebut untuk menarik hati para konsumen.

Baca Juga: Menjajal Jakarta-Bandung Menggunakan Shuttle Premium Cititrans

Dari sekian banyak nama penyedia jasa yang sudah lama memakan asam garam dari bisnis ini, keluarlah satu nama yang kemudian menjadi terkenal akibat harganya yang murah dibandingkan dengan para kompetitornya dulu, Baraya Travel. Tidak hanya melayani jasa travel saja, Baraya juga melayani pengantaran kargo, pengantaran paket, serta tour and travel. Dibandingkan kompetitornya dulu seperti Cipaganti, X-Trans, dan Cititrans, Baraya Travel menjadi favorit para penumpang karena harga yang relatif lebih murah daripada ketiga travel tersebut.

Pilihan rute Baraya Travel juga terbilang mumpuni, dengan mencakup hampir semua wilayah-wilayah sentral yang ada di Jakarta. Namun, tidak bisa dipungkiri, kebanyakan dari para penumpang yang  hendak bertolak menuju atau dari Jakarta lebih melihat dari segi biaya. Lalu, bukan menjadi suatu pemandangan yang aneh ketika melihat Baraya Travel selalu ramai, terutama jika weekend atau musim libur.

Baca Juga: Mercedes Benz Sprinter 315CD: Mewahnya Layanan Shuttle Jakarta – Bandung

Dari segi armadanya, Baraya Travel menggunakan Elf Pariwisata yang mampu menampung 16 penumpang dalam sekali perjalanan. Layaknya travel pada umumnya, armada yang digunakan Baraya hampir tidak ada bedanya dengan travel-travel lain yang juga menyediakan jasa serupa, hanya saja setelan bangku yang agak sedikit keras dan jarak antar bangku yang terlalu pendek membuat kaki Anda akan terasa cepat pegal.

Namun, ada pemandangan berbeda ketika KabarPenumpang.com mencoba untuk menjajal travel dengan predikat terkenal karena murahnya ini. Alih-alih naik mobil elf tadi, kami beserta rombongan lain disuruh untuk menaiki bus dengan ukuran sedang yang akan membawa penumpangnya menuju Bandung. Sebuah bus yang mampu menampun 31 penumpang tersebut digunakan oleh pihak Baraya agar dapat membawa penumpang yang lebih banyak dalam sekali jalan. Dengan harga tiket yang sama dengan mobil shuttle, tentu saja kehadiran bus ini seolah menjadi sebuah pengharapan bagi siapa saja yang tidak kebagian tiket untuk pergi ke Bandung.

Baca Juga: Kenali Shuttle Bus Jakarta – Bandung, Beda Perusahan Beda pula Fasilitasnya

Ketika bus sudah mulai menapaki jalanan Ibu Kota sore itu menuju Bandung, suspensi dari bus tanggung tersebut masih terasa empuk, setidaknya jauh lebih baik daripada mobil elf. Untuk jarak antar bangku penumpang pun terbilang sedikit lebih lega daripada mobil elf, dengan bangku yang jauh lebih empuk. Kehadiran reclining seat pada setiap bangku penumpang dapat digunakan jika Anda sudah mulai lelah, namun jangan lupa perhatikan orang yang berada di belakang Anda, jangan sampai Ia merasa terganggu karena Anda memundurkan sandaran bangkunya.

Sebagai catatan, tidak semua waktu pemberangkatan dan lokasi pemberangkatan menyediakan layanan bus seperti ini. Ada baiknya Anda menanyakan langsung kepada operator atau costumer service ketika sedang memesan tiket perjalanan. Pastikan pula untuk datang lebih awal dari jadwal keberangkatan, karena tidak menutup kemungkinan akan ada pergeseran jadwal. Atur posisi duduk Anda senyaman mungkin agar selama di perjalanan Anda tidak akan cepat merasa lelah.

Keliling Bandung Naik Bus Bandros Yuk!

Bandung, kota yang menjadi sasaran warga Ibu Kota untuk menghabiskan libur akhir pekan. Banyaknya pilihan wisata yang ditawarkan oleh kota kembang ini menjadi daya tarik sendiri bagi para pendatang. Ratusan hingga ribuan plat nomor selain D menghiasi setiap sudut Ibu Kota Jawa Barat ini. Para pengunjung beramai-ramai mendatangi objek wisata, factory outlet, pusat oleh-oleh, hingga warung makan untuk sekedar berwisata kuliner.

Baca juga: Odong-Odong Keren (Oren), Double Decker Khas Depok

Di penghujung tahun 2013 silam, Bandung meluncurkan satu alat transportasi yang ditujukan untuk kepentingan wisata. Ya, itu adalah Bandros. Nama ini terdengar sama dengan nama penganan yang berbahan dasar kelapa. Namun, Bandros di sini merupakan singkatan dari Bandung Tour on the Bus yang berarti berkeliling kota Bandung dengan bus. Ide kreatif ini awalnya diprakarsai oleh Walikota Bandung, Ridwan Kamil.

Pengadaan Bandros ini bukan tanpa alasan, Kang Emil (sapaan Ridwan Kamil) mengaku ingin mendongkrak sektor pariwisata yang ada di kota Bandung. Diadaptasi dari bentuk double decker yang menjadi ikon kota London, bentuk Bandros senada dengan double decker jaman dulu ini. Dengan pilihan cat warna merah menyala, menjadikan Bandros ini semakin menarik perhatian setiap orang yang melihatnya.

Ditambah lagi dengan bus Bandros yang sering dipakai untuk momen-momen tertentu. Ambil contoh ketika tim bola kebanggaan tanah Priangan, Persib Bandung menjuarai turnamen piala Presiden pada 2015 silam. Para pemain dan official tim berjuluk maung Bandung itu diarak mengelilingi kota Bandung dengan menggunakan Bandros. Tentu saja momen seperti ini membuat antusias warga lokal maupun pendatang semakin menjadi-jadi untuk naik bus ini.

Selain merah, ada pula warna lain yang turut menghiasi body dari bus tingkat ini. Perbedaan warna ini menandakan perusahaan yang menyediakan bus tersebut. Sebut saja salah satu perusahaan provider kelas wahid di Indonesia, Telkomsel menjadi sponsor dalam pengadaan bus Bandros ini. selain Telkomsel, Bank Mandiri pun belakangan ini turut menjadi salah satu penyumbang bis wisata kebanggan kota Bandung.

Bandros Kuning. Sumber: bandung.co
Bandros Kuning. Sumber: bandung.co

Mengutip dari detik.com, Direktur Technology and Operations Bank Mandiri Kresno Sediarsi mengatakan bantuan ini merupakan bentuk apresiasi Bank Mandiri terhadap Bandung. “Bantuan sosial ini menjadi salah satu rangkaian acara kami untuk menyambut HUT Bandung dan HUT Bank Mandiri. Semoga dapat dinikmati oleh warga Bandung,” ujarnya di sela acara Mandiri Karnaval Nusantara di GOR Saparua, Bandung, pada Minggu, 12 November 2014 lalu.

Kini, sudah banyak bus Bandros yang “seliweran” di Bandung. Dengan menggunakan mesin Hino Dutro Bus 130 MDBL, Bandros dapat mencapai kecepatan maksimum hingga 124 km/jam. Bus sasis 6 roda ini memiliki panjang sekitar 7,5 meter, lebar sekitar 2 meter, dan tinggi sekitar 3 meter. Bis yang menggunakan bahan bakar solar dengan kapasitas tangki sebesar 100 liter ini mampu mengangkut penumpang hingga  40 orang yang terbagi di area atas dan area bawah. Menggunakan sistem Turbo Charge Intercooler sebagai direct injection, membuat Bandros dapat menghasilkan tenaga yang lebih besar daripada mesin turbo biasa.

sumber: griyagawe.files.wordpress.com
sumber: griyagawe.files.wordpress.com

Bus ini juga dilengkapi dengan perangkat sound system untuk pemandu wisata yang terdiri atas 1 head unit, 1 amplifier, 4 speaker, dan 2 wireless mic. Walau sepintas bus ini terlihat seperti double decker merah ikon kota London, Routemaster, namun bagian depan bus ini sengaja di bentuk mirip dengan term yang ada di San Francisco, lengkap dengan kaca patri dan ukiran yang menempel di pinggiran bus ini. Dengan desain seperti ini tentu saja semakin memperkental nuansa art-deco dari bus Bandros.

Apa Anda tertarik untuk menaiki Bus Bandros ini?

British Airways Siap Uji Coba Robot di Bandara Heathrow

Lagi-lagi eksistensi dari robot menggetarkan jagad aviasi global. Setelah sejumlah bandara di dunia mulai mengoperasikan robot berdampingan dengan tenaga manusia, kini giliran maskapai British Airways yang akan mempekerjakan perangkat pintar ini di sekitaran Bandara Heathrow. Sama seperti robot-robot lainnya, kelak robot multibahasa berwarna dasar hitam-putih ini akan membantu dan berinteraksi dengan setiap penumpang yang membutuhkan bantuannya.

Baca Juga: RADA! Robot Berteknologi Artificial Intelligence di Bandara Indira Gandhi

Sebagaimana yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman metro.co.uk (19/12), adapun zona operasi dari robot ini berada di sekitaran Terminal 5, dimana mereka siap untuk mengantarkan penumpang menuju kafe, toilet, meeting room, hingga zona check-in.

Namun tidak seperti bandara lain yang mengintegrasikan setiap teknologinya, Bandara Heathrow ini bisa dibilang masih cukup ‘tradisional’, sehingga kehadiran dari robot ini lebih ditujukan untuk mengurangi beban yang ditanggung oleh staf bandara – seperti menjawab pertanyaan penumpang dan lain-lain.

Ya, ‘tekanan’ yang dialami oleh staf Bandara Heathrow tidaklah seringan yang Anda kira, karena sekitar 90.000 penumpang sibuk hilir mudik di bandara tersibuk di Inggris ini setiap harinya.

Menurut bocoran, nama dari robot ini adalah Bill – terinspirasi dari nama kapten layanan penerbangan internasional harian penumpang pertama di dunia, Lieutenant EH ‘Bill’ Lawford.

Menilik dari segi teknologi yang tersemat di dalamnya, Bill menggunakan teknologi geolocation dan puluhan sensor, yang membuatnya bebas bergerak kemana pun tanpa khawatir menabrak barang atau manusia.

Rencananya, dua unit Bill ini akan diujicoba pada Februari 2020 mendatang. Jika berjalan sesuai rencana, maka bukan tidak mungkin apabila perjalanan penumpang di Bandara Heathrow akan menjadi lebih nyaman dan cepat.

Baca Juga: Giliran Bandara Seattle Gunakan Jasa Robot Untuk Layani Calon Penumpang

“Di masa depan, saya membayangkan armada robot yang bekerja berdampingan dengan orang-orang kami yang menawarkan pengalaman perjalanan yang benar-benar mulus.” Ujar Ricardo Vidal, kepala inovasi di British Airways.

Sebagai informasi tambahan, robot Bill tersebut akan dipasok oleh perusahaan BotsAndUs yang berbasis di London barat dan merupakan bagian dari investasi British Airways senilai £6,5 miliar dalam upaya perusahaan untuk meningkatkan pengalaman pelanggan.

Natal 2019 dan Tahun Baru 2020 Tak Pergi Keluar Kota? Ayo Jajal Bus Listrik TransJakarta Gratis di Monas

Momen Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2020, banyak dimanfaatkan untuk berlibur bersama orang terkasih. Namun, guna menambah keseruan liburan natal dan tahun baru kali ini, moda transportasi kebanggan warga DKI Jakarta yaitu TransJakarta berinisiatif menghadirkan bus listrik sebagai pelengkap keseruan liburan warga.

Baca juga: Bus Listrik di Singapura Meluncur Tahun Depan, Interiornya Mirip ‘Punya’ TransJakarta

Pengadaan bus listrik ini sendiri disampaikan Kepala Divisi Sekretaris korporasi dan Humas PT Transportasi Jakarta (TransJakarta) Nadia Diposanjoyo, selain bertamasya masyarakat juga bisa memanfaatkan momen liburan mereka untuk mengenal bus listrik.

Antrian penumpang yang akan naik bus listrik TransJakarta (Istimewa)

“Ini adalah inovasi yang harus kami kenalkan kepada masyarakat luas, khususnya di DKI Jakarta. Jadi moment Nataru kali ini bisa dijadikan kesempatan untuk memperkenalkan bus listrik secara lebih luas lagi,” kata Nadia di Jakarta.

Nadia menambahkan, layanan bus listrik di Monas ini juga untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat yang belum sempat mengikuti ujicoba bus listrik yang dilakukan sejak bulan April 2019 lalu. Dengan ini, Nadia berharap masyarakat bisa merasakan sensasi menjajal bus listrik di momen liburan Natal dan Tahun baru 2020.

bus listrik gratis dari Transjakarta di Monass (Istimewa)

“Ujicoba lalu sangat disambut antusias masyarakat dengan dikuti oleh sebanyak 13 ribu pelanggan. Sebab itu, masyarakat yang belum berkesempatan atau yang ingin kembali menjajal layanan bus listrik bisa mencobanya,” imbuh Nadia.

Baca juga: TransMilenio, Bakal Jadi Operator Bus Listrik Terbesar di Benua Amerika

Layanan bus listrik akan ini lanjut Nadia, akan mulai di buka mulai hari Ini, Selasa (24/12/2019) hingga (02/12/2020) mendatang. Nantinya dua unit bus listrik siap melayani masyarakat mulai pukul 10.00 – 18.00 WIB. “Menariknya, masyarkat bisa menikmati layanan kami secara gratis,” imbuh Nadia.

X-59 QueSST, Pesawat Supersonik Rancangan NASA, Siap Unjuk Gigi Pada 2021

Ketika era penerbangan supersonik berakhir pada awal tahun 2000-an yang ditandai dengan berakhirnya operasi dari pesawat Concorde, pemberitaan terbaru datang dari badan antariksa Amerika Serikat, NASA yang berencana untuk menghidupkan kembali era penerbangan super ngebut tersebut. Adalah X-59 QueSST yang kabarnya telah menuntaskan uji penerbangan terakhirnya dan kabarnya akan mulai diproduksi pada tahun depan.

Baca Juga: Lockheed Martin Bocorkan Rencana Garap Pesawat Supersonik yang Senyap!

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman nzherald.co.nz (20/12), NASA mengklaim bahwa X-59 QueSST ini merupakan pesawat supersonik yang tidak terlalu bising, hasil kolaborasinya dengan perusahaan kedirgantaraan Amerika Serikat, Lockheed Martin. Ya, NASA memang terkesan diam-diam dalam mengembangkan proyek ambisiusnya ini, dan tiba-tiba hadir ke publik dengan membawa berita bahwa mereka sudah menyelesaikan uji penerbangan untuk pesawat supersoniknya ini.

“Kami telah menunjukkan bahwa proyek ini berjalan sesuai jadwal dan rencana,” ujar salah satu eksekutif dari NASA, Bob Pearce.

“Kami memiliki segalanya untuk bisa melanjutkan misi penelitian bersejarah ini, dimana hasilnya akan tampak pada gaya penerbangan di masa yang akan datang,” tambahnya.

Dijadwalkan, pesawat yang kabarnya memiliki kecepatan dua kali lipat dari Boeing 787 Dreamliner ini akan melakukan pemeriksaan akhir pada akhir tahun 2020, dan diharapkan bisa lepas landas perdana pada tahun 2021 kelak.

Pesawat X-59 QueSST ini memang sengaja dirancang untuk bisa mereduksi efek dari ‘sonic boom’ dan meminimalisir suara yang dihasilkan oleh mesin pesawat. Terobosan yang coba dibawa oleh X-59 QueSST ini merupakan kebalikan dari penerbangan supersonik era Concorde, dimana salah satu variabel yang menurunkan tahta Concorde dari jagad aviasi global adalah ‘sonic boom’ yang dihasilkan oleh pesawat.

Baca Juga: Suksesor Concorde ini Tetap Dihantui Bayangan Kelam Pendahulunya

Sonic boom atau dentuman sonic ini merupakan istilah bagi gelombang kejut di udara yang dapat ditangkap telinga manusia. Istilah ini umumnya digunakan untuk merujuk kepada dentuman yang disebabkan pesawat-pesawat supersonik seperti Concorde. Bukan menjadi sesuatu yang aneh lagi jika dentuman sonic ini  kerap membuat alarm kendaraan berbunyi hingga memecahkan kaca, lho!

Pada akhirnya, akankah masa depan jagad aviasi global dihiasi kembali oleh pesawat supersonik seperti X-59 QueSST?

Ternyata Dua Faktor Ini Menjadi Alasan Wisatawan Jepang Terkesan Angkuh Ketika Mengudara

Melakukan perbincangan dengan orang asing atau penumpang yang duduk di sebelah Anda ketika mengudara agaknya menjadi salah satu opsi yang tidak akan ditempuh untuk menghabiskan waktu perjalanan. Alih-alih melakukan hal tersebut, mungkin Anda akan memilih untuk mendengarkan musik, menonton film yang sudah Anda unduh, atau bahkan tidur. Tapi tahukah Anda, bahwa perilaku untuk tetap diam dan tidak membuka topik obrolan selama perjalanan ini amat diterapkan oleh orang Jepang. Mengapa bisa begitu?

Baca Juga: Di Jepang, Bisa Makan Mie Gratis Asalkan Datang ke Stasiun Lebih Awal!

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman soranews24.com (4/7/2019), sebuah perusahaan penyedia jasa traveling asal Jepang, Expedia melakukan survei mengenai perilaku penumpang ketika berada di dalam pesawat. Mereka mengumpulkan sekitar 18.237 wisatawan dari 23 negara berbeda yang pernah naik pesawat atau tinggal di sebuah hotel dalam kurun waktu setahun terakhir.

Alih-alih mengetahui destinasi yang mereka tuju atau apa tujuan mereka melakukan perjalanan tersebut, Expedia lebih tertarik dengan perilaku mereka ketika di dalam pesawat – apakah mereka akan membuka topik obrolan dengan penumpang yang ada di sampingnya, atau tidak. Dan tahukah Anda, bahwa orang-orang Jepang amat tidak tertarik untuk membuka topik obrolan dengan penumpang yang ada di sampingnya.

Dalam survei tersebut, penumpang asal India menjadi ‘pemimpin klasemen’, dimana sebanyak 60 persen dari mereka mengatakan senang untuk membuka topik obrolan dengan penumpang di sebelahnya. Angka tersebut diikuti oleh pelancong asal Mexico yang berada di angka 59 persen. Negara ketiga yang gemar untuk melakukan hal serupa adalah Brazil yang memegang angka 51 persen, yang diikuti oleh Spanyol dengan angka 46 persen.

Tidak hanya itu, angka mengejutkan lainnya juga muncul dari klasemen bawah, dimana dihuni oleh:

Korea: 28 persen,
Australia: 27 persen,
Jerman: 26 persen,
Hong Kong: 24 persen, dan
Jepang: 15 persen.

Tidak hanya soal membuka topik perbincangan selama berada di dalam pesawat, tapi orang-orang Jepang – setidaknya dalam survei yang dilakukan oleh Expedia ini juga terkenal tidak terlalu ‘ramah’ selama berada di bandara atau bahkan di dalam penerbangan sekalipun. Ini terbukti dari munculnya nama Jepang yang berada di posisi bontot dari sejumlah pertanyaan di dalam survei tersebut, mulai dari “Membantu penumpanglain untuk memasukkan barang ke dalam bagasi kabin”, “memberikan rekomendasi perjalanan kepada penumpang lain di dalam pesawat”, hingga “mengalah kepada penumpang lain yang terlambat ketika berada di security checkpoint”.

Terkesan Tidak Ramah Karena Budaya dan Keterbatasan
Namun patut digarisbawahi di sini, bahwa ini tidak menandakan bahwa pelancong asal Negeri Sakura tidaklah ramah atau tidak baik, melainkan elemen budaya hingga letak geografis yang mungkin menyebabkan mereka bertindak seperti itu.

Sebagaimana yang kita ketahui bersama, kebudayaan di Jepang sana selalu menekankan untuk tidak mengganggu orang lain, dan membuka topik perbincangan dengan orang lain ditafsirkan bisa menjadi satu celah untuk mengganggu orang lain.

Baca Juga: Beragam Alasan Mengapa Orang Jepang Fanatik Pada Sosok Kereta

Selain itu, faktor linguistik juga memegang peranan penting di sini, dimana tidak semua orang Jepang bisa berbahasa Inggris dan baha Inggris juga tidak dijadikan bahasa internasional di sana. Jadi, wajar saja nampaknya apabila mereka lebih memilih untuk diam.

Sementara untuk perkara mengalah kepada penumpang lain yang sudah terlambat agaknya menjadi percampuran dari dua variabel di atas – budaya dan linguistik. Alih-alih si lawan bicara tidak mengerti apa yang mereka sampaikan dan berujung pada salah paham (mengganggu orang lain), maka mereka mungkin akan berpikiran untuk tidak mencampuri urusan penumpang yang terlambat ini.

Sangat unik, ya!

 

 

Bantu Kurangi Polusi Udara, Bajaj Listrik Piaggio Ape Mulai Merambah India

Tuk-tuk (Bajaj) dan becak masih menjadi peran penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di kota-kota India. Sebab angkutan umum ini tak hanya sebagai layanan pengantaran tetapi berfungsi sebagai bisnis mikro seluler yang menjual makanan dan barang-barang lainnya.

Baca juga: Bersama Yulu, Bajaj Auto di India Terjun ke Bisnis Sewa Skuter Listrik

Piaggio Ape yang merupakan kendaraan roda tiga serbaguna pertama kali diperkenalkan 70 tahun lalu belum lama ini menerima makeover listrik di jalan-jalan sibuk India. Kendaraan roda tiga Ape E-City ini merupakan versi listrik dari transporter Piaggio yang mengadirkan baterai sebagai bahan bakar agar bisa menjalankannya.

(Piaggio)

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (18/12/2019), kehadiran bajaj listrik Ape ini membantu menurunkan polusi udara di India agar lebih baik. Sebab India juga merupakan salah satu negara dengan polusi udara terburuk.

Selain itu, Program Adopsi dan Pabrikan Kendaraan Hibrida dan Listrik (FAME) yang lebih cepat mendorong mobilitas listrik melalui pengurangan pajak barang dan jasa pada kendaraan ini, di antara insentif lainnya. Piaggio Ape yang baru masuk dan di perkenalkan di New Delhi menjadi pintu masuknya pasar kendaraan komersial listrik di India.

Diketahui, Piaggio Ape akan dihadirkan dengan tenaga baterai dari perusahaan energi India Sun Mobility yang memungkinkan baterai ketika habis bisa diisi dengan waktu kurang dari dua menit. Swap ini akan berlangsung di jaringan stasiun pengisian Sun Mobility, yang diperkirakan akan mencakup 50 lokasi di sepuluh kota di India pada Maret 2020.

Stasiun-stasiun ini akan mampu menangani hingga 150 pengisian baterai per hari, dengan pelanggan mendapatkan akses melalui Model “pay-as-you-go”.vMenurut Sun Mobility, pendekatan “baterai sebagai layanan” ini adalah kunci dalam menurunkan biaya pembelian di muka untuk Ape E-City, membuatnya setara dengan versi pembakaran internal.

Baca juga: Jajal Tuk Tuk, “Bajaj” dengan Argometer di Bangalore, India

“Di Piaggio, kami percaya dalam memberikan solusi pemecahan jalur di segmen transportasi mil terakhir dengan penawaran teknologi terbaik di kelasnya kepada pelanggan kami. Kemitraan kami dengan Sun Mobility akan memungkinkan pelanggan untuk mengalami eco-system baterai pintar inovatif, cerdas, dan unik swappable di India,” kata Diego Graffi, CEO Piaggio Vehicles.

Jangan Ragu! Barang-Barang di Kamar Hotel Ini Memang Gratis Dibawa Pulang

Musim libur telah tiba. Banyak warga yang mulai berhamburan meninggalkan kota domisili untuk menghabiskan waktu liburan bersama orang-orang tercinta. Tak ayal, banyak hotel di beberapa kota yang terkenal selalu ramai menjadi destinasi wisata telah penuh dipesan. Alih-alih merepotkan sanak saudara yang tinggal di kota tersebut, beberapa orang akan lebih memilih untuk menghabiskan waktu istirahatnya di hotel.

Baca Juga: Ini Dia! Hal Yang Kurang Menyenangkan Saat Bertandang Ke Cina

Selain contoh masalah di atas, hotel juga menawarkan berbagai macam layanan yang bisa dinikmati oleh para pelanggannya, mulai dari fasilitas yang ada di kamar hingga fasilitas tambahan seperti massage dan restorasi. Segala keperluan mandi pun biasanya sudah tertata rapi di wastafel. Nah, kadang Anda pernah dibuat bingung bukan dengan perlengkapan hotel mana saja yang boleh dibawa pulang? Berikut, KabarPenumpang.com beberkan beberapa barang di hotel yang boleh dibawa pulang, dihimpun dari laman bravotv.com.

Sebagai catatan, kewenangan setiap hotel berbeda. Untuk lebih memastikan, Anda bisa menanyakan langsung perkara ini langsung ke bagian resepsionis.

Perlengkapan Mandi

Sumber: brilio.net

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Laterooms.com menemukan bahwa perlengkapan mandi merupakan barang yang paling sering hilang setelah tamu check out dari kamar tersebut, dengan bola lampu berada di posisi kedua barang yang sering hilang di kamar hotel. Sedangkan survei lain menunjukkan bahwa sebanyak 73 persen tamu hotel berkebangsaan Amerika ‘menggondol’ perlengkapan mandi yang tersedia. Walaupun Anda tidak akan dikenakan biaya tambahan ketika membawa pulang perlengkapan mandi ini, ada baiknya Anda membawa sendiri perlengkapan mandi Anda.

Sandal Hotel

Sumber: berdesa.com


Memang tidak semua hotel memiliki fasilitas ini, namun tidak sedikit juga hotel yang kehilangan signature slippers mereka. Bak sebuah kebanggaan pernah menginap di hotel tersebut, banyak tamu yang kemudian mengemas sandal tersebut ke dalam koper mereka. Hampir sama seperti kasus di atas, memang tidak ada salahnya membawa pulang sandal tersebut.

Handuk

Sumber: whotelsthestore.com

Hampir serupa dengan kasus sandal hotel, beberapa hotel tidakmempermasalahkan ketika handuk mereka dibawa pulang oleh tamunya, namun sebagian lainnya akan mengenakan Anda biaya. Pastikan Anda membaca manual guide yang biasanya tersedia di kamar tentang charge yang dikenakan jika Anda merusak atau membawa pulang salah perlengkapan kamar hotel. Jika Anda masih bingung, silakan hubungi resepsionis dan tanya apakah membawa pulang handuk merupakan tindakan ilegal atau tidak.

Baca Juga: Lebih Mewah dan Super Mahal, Singapore Airlines Sulap Suite Kelas Satu di Airbus A380

Diingatkan kembali, setiap hotel memiliki peraturannya masing-masing, sehingga alangkah lebih bijak jika Anda menghubungi pihak resepsionis hotel terlebih dahulu sebelum mengemas perlengkapan kamar tersebut.

Survei IHG: 77 Persen Pelancong Tidak Mengenal ‘Warna Sejati’ Destinasi Tujuan Wisata!

Bagi Anda semua yang hobi berjalan-jalan ke luar negeri, mengunjungi beragam destinasi wisata favorit seyogyanya sudah menjadi satu agenda wajib yang sayang jika dilewatkan. Sebut saja Bangkok dengan Wat Arun-nya, Paris dengan Menara Eiffel-nya, hingga Roma dengan Colosseum-nya. Namun tahukah Anda bahwa sebuah survei yang dilakukan oleh InterContinental Hotels Group (IHG) menyebutkan ada lebih dari tiga perempat (77 persen) pelancong yang merasa wajib untuk mengunjungi destinasi wisata populer – dimana 75 persen diantaranya menginginkan pengalaman lebih dari sekedar mengunjungi destinasi tersebut.

Baca Juga: Inilah Tips Beli Tiket Liburan Nataru 2019 versi Ditjen Hubud

Ya, liburan ke suatu destinasi memang tidak melulu untuk mengunjungi objek wisata terpopulernya saja. Ada banyak kearifan lokal dari setiap destinasi yang juga akan menambah pengalaman Anda mengunjungi suatu daerah. Masih bersumber dari survei yang sama, dari tujuh kota besar yang menjadi responden, sebanyak 59 persen penduduk lokal merasa bahwa pelancong tidak mengetahui tentang ‘warna sejati’ dari destinasi yang mereka kunjungi. Sebagai informasi tambahan, tujuh kota yang menjadi responden dalam survei ini adalah: London, New York, Paris, Shanghai, Dubai, Sydney, dan Meksiko.

Maksud dari ‘warna sejati’ di atas adalah kearifan lokal yang ada di kota terkait. Sebagai contoh, warna sejati Jakarta adalah kerak telor, macet, dan gedung-gedung tinggi.

Dari cabang survei lainnya, didapatkan pula data bahwa sebesar 75 persen luxury travelers ingin merasakan pengalaman dimana penduduk lokal di kota terkait memiliki informasi lengkap seputar destinasi tersebut, seperti tempat-tempat ataupun aktifitas lokal unik yang bisa dilakukan oleh para pelancong.

Tentu saja data yang terpapar di atas patut dijadikan renungan – yang kemudian ditindak lanjuti oleh masing-masing eksekutif terkait, guna meningkatkan devisa negara via jalur pariwisata. Melihat celah ini, IHG meluncurkan campaign bertajuk InterContinental Icons, dimana tujuannya adalah untuk menginspirasi dan mengajak para wisatawan untuk menemukan kembali hal-hal yang membuat setiap kota benar-benar menarik.

Baca Juga: Liburan di Bangkok? Ini Tips dari Tourism Authority of Thailand Biar Tak Salah Arah!

Selain itu, InterContinental juga mengajak publik untuk memilih pemandangan, suara, rasa, aroma, dan suasana yang menjadi sebuah ikon dari masing-masing kota melalui pemungutan suara online. Dari pilihan-pilihan yang diberikan di masing-masing kota, diharapkan wisatawan bisa menemukan keaslian dari kota tersebut ketika mereka berkunjung. Selain melakukan voting online, InterContinental juga mengajak publik untuk berdiskusi di sosial media dengan menggunakan tagar #intercontinentalicons.

Jadi, sudah siap untuk menghabiskan libur Natal 2019 dan Tahun Baru 2020 dengan kearifan lokal yang ada di setiap kota?