Otoped Listrik Mulai Menjamur, Apakah Bakal ada Regulasinya?

Meski masih dominan untuk kebutuhan ‘jalan-jalan,’ otoped listrik (skuter listrik) kini mulai merambah jalanan di Jakarta dan kota-kota besar lain di Tanah Air. Selain turut mengkampanyekan gerakan kendaraan bebas polusi, naik otoped listrik tak pelak menjadi tren pergaulan, utamanya bagi kaum milenial. Dengan populasi yang makin banyak, punya kecepatan relatif lesat, ditambah kadang melaju di jalanan umum, menjadikan beberapa pihak bertanya, akankah nantinya ada regulasi yang mengatur operasional otoped listrik?

Baca juga: Pakai GrabWheels Jangan Lupa Scan Kode QR Setelah Selesai Kalau Tak Mau Didenda Rp300 Ribu

Apalagi saat ini Grab, menghadirkan GrabWheels dan menyebarkan skuter listriknya di berbagai sudut ibukota. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, ternyata saat ini pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai menyiapkan regulasi untuk pengguna skuter dan sepeda listrik.

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo mengatakan, regulasi tengah disiapkan oleh pihaknya karena saat ini skuter dan sepeda listrik menggunakan model bike share. “Operator mengenakan charge, hitungannya mungkin Rp5 ribu per 30 menit. Ini sedang kami lakukan regulasinya seperti apa, kemudian kita jalankan,” ujar Syafrin yang dikutip dari antaranews.com (15/10/2019).

Dia mengatakan, otoped listrik akan diatur untuk digunakan di jalur sepeda karena spesifikasinya kendaraan kecil dan mirip dengan sepeda. Meski menggunakan motor listrik, kedua moda transportasi ini berbeda dengan sepeda motor yang memiliki kecepatan 70-80 km per jam.

“Otoped listrik paling 20-25 km per jam itu sudah kencang banget. Jadi ini makanya kita perlu pejalan kaki, kemudian pesepeda baru kendaraan bermotor lainnya, kata Syafrin.

Bahkan Sekretaris Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Agus Suyatno mengatakan, kehadiran otoped listrik ini harus ada uji standar, karena beberapa negara tidak memperbolehkan transportasi tersebut beroperasi. Di Perancis bahkan membuat aturan baru karena ratusan insiden, yang beberapa diantaranya menyebabkan kematian.

Di Perancis, Jumat lalu (25/10/2019) keluar aturan, bahwa pengguna otoped listrik setidaknya harus berusia 12 tahun dan tidak bisa mengendarai di trotoar. Otoped listrik pun tidak boleh melaju lebih dari 50 km per jam.

Menteri Transportasi Junior Jean-Baptiste Djebbari mengatakan dalam sebuah pernyataan, peraturan baru akan mendorong penggunaan yang lebih bertanggung jawab dan mengembalikan rasa ketenangan bagi pejalan kaki, khususnya yang paling rentan seperti orang tua, anak-anak dan orang dengan kebutuhan khusus.

Adapun aturan yang akan berlaku bagi pengguna otoped listrik di Perancis yakni:
* Penggunaan trotoar dilarang kecuali pada area yang ditentukan
* Hanya satu pengendara yang akan diizinkan per perangkat dan tidak diperbolehkan menggunakan ponsel ketika berkendara
* Tidak boleh lawan arus dan harus melintas di jalur yang tersedia
* Penunggang tidak akan diizinkan mengenakan headphone saat menggunakan skuter mereka
* Pada Juli mendatang, kecepatan tertinggi skuter akan dibatasi pada 25 km per jam
* Pengguna yang berkendara di jalan yang diizinkan lebih cepat harus mengenakan helm dan pakaian visibilitas tinggi
* Otoped listrik akan dilarang sepenuhnya di jalan negara

Nantinya jika pengguna melanggar aturan-aturan tersebut, akan dihukum dengan denda €135 (£116) dan hingga €1500 bila melampaui batas kecepatan. Akhir pekan lalu, seorang pria berusia 25 tahun tewas dan seorang wanita muda terluka serius setelah otoped yang mereka kendarai ditabrak oleh sebuah mobil di kota Bordeaux.

Baca juga: Sasar Pasar Last-Mile Transport, Hyundai Kembangkan Skuter Listrik yang Bisa Dilipat

Setidaknya lima kematian terkait otoped listrik lainnya telah dilaporkan di Perancis, termasuk di ibukota Paris dan pinggiran kota dan kota Reims di timur. Saat ini diketahui sekitar 15 ribu otoped listrik tersedia untuk disewa di Paris. Nah, apakah Pemprov DKI juga akan mencontoh Pemerintah Perancis?

Boarding Pass Raksasa untuk Prank Bikin Semua Orang Tertawa

Ketika akan masuk ke kabin pesawat, setiap penumpang wajib memiliki boarding pass sebagai tanda masuk mereka ke kabin. Namun bagaimana bila boarding pass yang dimiliki seukuran dengan tinggi penumpangnya?

Baca juga: Serbu Kokpit, Wanita Muda ini Tak Boleh Terbang dengan Jet2.com Seumur Hidup

Juli lalu, seorang pria asal Inggris dengan tinggi enam kaki sepuluh inchi harus bersusah payah membawa boarding pass miliknya. Pasalnya boarding pass milik James Ormond yang akan menuju Krakow di Polandia itu setinggi tubuhnya dan bila dilipat pun masih lebih besar dibanding ukuran boarding pass lain.

KabarPenumpang.com melansir laman dailymail.co.uk, Ormond kala itu bepergian degan teman-temannya dengan menggunakan pesawat milik maskapai Jet2.com dan mereka memberikan boarding pass dengan panjang enam kaki tersebut sedangkan yang lainnya berukuran normal. Dia harus membuka lipatan boarding pass itu setiap pemeriksaan keamanan.

Tak hanya itu, ketika tiba di pintu masuk pesawat, temannya Chris Hodkin bertanya kepada seorang pramugari, “Apakah harus memeriksa boarding pass?”

Pramugari menjawab harus dan Ormond memberikan boarding pass jumbo miliknya. Pramugari itu membuka boarding pass tersebut sambil tertawa dan melipatnya lagi sebelum menyerahkan kembali ke si-empunya.

“Apakah Anda berhasil memindai ini?” kata pramugari itu sembari memberikan boarding pass tersebut.

Lelucon itu kemudian membuat teman-temannya tertawa dan menurut Hodkin hal itu lucu dan membuatnya tak bisa berhenti tertawa.

Dia mengatakan saat pemeriksaan boarding pass milik Ormond, dirinya dan teman yang lain hanya berdiri di sudut dan menikmati lelucon itu. Meski dibuat lelucon, Hodkin tetap mencetak boarding pass milik Ormond dengan ukuran asli, ini dilakukan agar ketika pemindaian bisa terlihat jelas.

“Saya membukanya dan itu sangat besar. Itu dilipat jadi saya tahu itu besar dan konyol. Aku berjuang untuk membukannya. Rencana mereka untuk membuat setinggi saya,” kata Ormond.

Baca juga: Ini Dia Maskapai Asing yang Sabet Predikat Terburuk dalam Tanggapi Keluhan Penumpang

Dia menambahkan, salah satu hal yang menyenangkan adalah ketika mereka meninggalkan gerbang, ada sebuah keluarga yang mengucapkan selamat tinggal kepada seseorang dan menangis. Tetapi ketika Ormond membuka kertas boarding pass raksasanya itu membuat mereka terawa terbahak-bahak.

“Setidaknya itu ada gunanya, tapi untung saya juga memiliki boarding pass dengan ukuran normal. Awak kabin sangat baik dan juga bercanda,” kata dia.

Stasiun di India Punya Ruang Tunggu Megah yang Mampu Tampung 500 Penumpang

Seringkali dianggap tak beraturan dan kumuh, ternyata India bisa memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi penumpang keretanya. Hal ini terlihat kehadiran sebuah ruang tunggu terbesar di jalur milik Indian Railways tersebut.

Baca juga: Bajaj Masuk Peron di Stasiun India, Pengemudi Diamankan Petugas

Ruag tunggu yang dilengkapi dengan pendingin udara ini hadir di Stasiun Patna Junction yang merupakan stasiun kereta api tersibuk di Negara Bagian Bihar. Selain dilengkapi pendingin udara, KabarPenumpang.com melansir dari laman financialexpress.com (14/10/2019), daya untuk pendingin dan penerangan di ruang tunggu ini menggunakan energi surya.

Ruang tunggu tersebut mampu menampung 500 orang sekaligus dan bisa dinikmati semua penumpang kereta dari berbagai kelas ataupun kereta penumpang biasa. Ruang tunggu ini diresmikan oleh Menteri Kereta Api India Piyush Goyal dan menghadiahkannya kepada penumpang.

Direktur Stasiun Patna Junction, Nilesh Kumar mengatakan, ruang tunggu itu dibangun diatas lahan seluas 7500 meter persegi di stasiun persimpangan Patna. Tak hanya pendingin udara, ada tujuh televisi HD 65 inci dipasang untuk hiburan penumpang yang tengah menunggu kereta mereka.

Layar digital ini tak hanya untuk hiburan tetapi juga menghadirkan informasi penting terkait jadwal kereta, informasi platform dan lainnya. Televisi ini sendiri akan nyala sepanjang hari di ruang tunggu itu.

“Lampu LED terpasang di seluruh ruangan untuk penerangan dan ada titik pengisian daya ponsel serta laptop. WiFi gratis juga hadir untuk digunakan penumpang yang menunggu kereta di ruang tunggu,” jelas Kumar.

Bangku baja, furnitur, dan kipas langit-langit juga disediakan untuk kenyamanan serta kemudahan penumpang. Dinding ruang tunggu telah dihiasi dengan lukisan dan karya seni tradisional yang mewakili budaya rakyat setempat dan tradisi negara bagian Bihar.

Baca juga: Laksana Bandara Internasional, Ternyata ini Sebuah Stasiun di India

Lukisan-lukisan mencerminkan kegiatan Chhath Puja yang terkenal yang merupakan simbol dari perayaan meriah kota kuno. Dindingnya juga dihiasi dengan karya seni yang cerah dan berwarna-warni yang mencerminkan budaya Madhubani oleh seniman rakyat setempat. Selain itu, kebersihan ruang tunggu dirawat oleh staf stasiun sepanjang hari.

Stiker “Baby on Board” Ternyata Bisa Picu Kecelakaan Lalu Lintas

Stiker bertuliskan Baby on board atau child on car  sudah jamak ditempel pada kaca-kaca kendaraan pribadi. Pemasangan stiker ini tak lain untuk memberi peringatan pada pengendara lain agar berhati-hati untuk menjaga jarak, lantaran di dalam kendaraan berstiker terdapat penumpang bayi atau anak-anak.

Namun, tahukah Anda bahwa tempelan stiker tersebut juga bisa berujung maut. Dilansir KabarPenumpang.com dari telegraph.co.uk, adanya stiker baby on board sudah menyebabkan satu dari 20 orang pengendara mengalami kecelakaan. Hal ini didapat dari hasil survei yang mengatakan bahwa adanya stiker ini cukup mengganggu perhatian. Sebagian dari pengemudi mengatakan, bisa mengaburkan penglihatan bila diletakkan di jendela belakang mobil.

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Confused.com, harusnya pengemudi menggunakan tanda-tanda yang dipasang di mobil dengan cermat. “Pengemudi perlu memastikan bahwa pandangan mereka tidak dikaburkan dan mereka memiliki pandangan yang jelas tentang jalan di sekitar mereka setiap saat,” kata juru bicara Departemen Transportasi.

Baca juga: Terpaksa Gunakan Kantung Muntah? Baca Dulu Tips Ini

Adanya tanda baby on board sendiri sebenarnya cukup berguna untuk para petugas medis atau polisi bila terjadi kecelakaan, karena menegaskan di dalam mobil tersebut ada anak-anak. Hal ini disampaikan oleh Julie Towsend selaku wakil kepala eksekutif badan amal Brake.

“Stiker bantuan ini bisa menjadi penghalang jika pengemudi menampilkan tanda-tanda saat anak mereka tidak berada di dalam kendaraan. Lebih buruk lagi bahaya yang ditimbulkan pengemudi bila di jendela mobil di pasang banyak tanda,” katanya.

Menurut hasil dari pertemuan 2.000 pengemudi, 46 persen mengatakan, orangtua banyak yang memasang stiker tersebut terlepas dari ada atau tidaknya anak-anak di dalam mobil tersebut. Selain itu 15 persen lainnya mengatakan dengan adanya stiker membuat kendaraan mobil mereka seperti baru, sedangkan 46 persen lainnya menganggap adanya stiker atau tanda adalah bahaya.

Baca juga: Duuh! Ini Dia 10 Bandara Terburuk di Dunia

Andrew Howard, Kepala AA Safety Road mengatakan ada 150 ribu kecelakaan dalam satu tahun. “Menurut angka yang dikeluarkan pemerintah, dalam gangguan akibat stiker ini mencaai tiga persen, dengan ‘titik buta’ kendaraan untuk dua persen lainnya di atas itu.

Direktur eksekutif Dewan Penasehat Parlementer Keselamatan Transportasi Robert Gifford mengatakan, harus berhati-hati dengan temuan dan hasil survei yang ada. Sebab menurutnya, bila terlalu banyak mengambil kesimpulan maka dapat membuat kesalahan terhadap penilaian masing-masing pengemudi.

Baca juga: Ibarat “Sedia Payung Sebelum Hujan,” Jangan Sepelekan Kotak P3K di Kendaraan

“Poin penting yang harus diingat adalah Anda bertanggung jawab atas mobil setiap saat dan pandangan Anda tidak boleh dikaburkan,” jelas Gifford. Diketahui, tanda baby on board ini sudah ada sejak tahun 1980-an dan pertama kali dijual oleh Safety 1st Corporation yang bertujuan untuk membantu pengendara lain mengemudi dengan hati-halti bila berada di belakang kendaraan dengan tanda tersebut. Baru-baru ini yakni tepatnya tahun 2005, Transport for London menerbitkan tanda untuk ibu hamil.

Gara-Gara Bocah Tak Pakai Sepatu, Satu Keluarga Tak Bisa Naik Pesawat Jetstar

Setiap maskapai memiliki aturan bagi penumpang yang akan naik dalam penerbangan mereka. Salah satunya adalah menggunakan pakaian lengkap dan sepatu. Belum lama ini Jetstar mengusir keluarga dengan anak tanpa menggunakan sepatu.

Baca juga: Orang Tuanya Dalam Pesawat yang Diterbangkan, Pilot Jetstar Menyapa Spesial dari Kokpit

KabarPenumpang.com melansir news.com.au (25/10/2019), seorang ibu dan dua anaknya yang masih kecil diusir dalam penerbangan Jetstar karena putranya yang berusia balita tidak memakai sepatu. Seorang saksi mengatakan, staf di Bandara Queenstown menolak untuk membiarkan keluarga itu naik meski ada penumpang yang memberikan sepasang sepatu pada bocah laki-laki itu.

Isobel Mebus, kaget dan marah setelah menyaksikan insiden itu pada Kamis (24/10/2019) kemarin. Mebus mengaku tengah akan menumpang pesawat Air New Zealand ke Wellington ketika melihat wanita yang menggendong anaknya menangis keluar dari penerbangan.

“Ada pasangan Samoa yang lebih tua di belakangku dan dia menjelaskan kepadaku bahwa dia tidak diizinkan dalam penerbangan karena putranya tidak memakai sepatu. Jadi orang-orang mulai berkeluaran dan pasangan yang lebih tua itu berkata, ‘Yah, kita akan pergi dan membelikannya sepatu’ karena ibu tidak punya uang untuknya,” ujar Mebus.

Dia mengatakan, seorang penumpang wanita datang dengan sepasang sepatu dan mengenakannya pada bocah laki-laki itu dan mereka berkata petugas masih tidak membiarkan mereka naik. Tak hanya menolak, Mebus mengatakan, staf Jetstar malah memerintahkan bagasi mereka untuk diturunkan dari pesawat.

Hal tersebut menyebabkan penundaan dan gangguan bagi banyak penumpang lain yang menunggu untuk terbang keluar dari Queenstown. Mebus mengaku tidak bisa percaya dengan apa yang disaksikan.

“Dia benar-benar di samping dirinya sendiri dan menangis. Itu sangat mengerikan dan saya sangat marah. Mereka menyelesaikan masalah itu karena anak itu memakai sepatu tetapi masih ditolak,” katanya.

Baca juga: Kabin Jetstar JQ284 Kena “Teror” Popok dan Kotoran Balita

Diketahui, Jetstar memiliki syarat dan ketentuan dimana mereka memiliki hak untuk menolak penumpang jika tidak mengenakan alas kaki. Juru bicara Jetstar mengonfirmasi bahwa ketiga orang tersebut tidak bisa ikut penerbangan itu karena tidak memiliki sepatu. Dia menambahkan mereka tinggal satu malam lagi di Queenstown dengan kerabat dan berangkatkan besoknya ke Auckland dengan biaya penerbangan pribadi.

Berlaku Kasar ke Awak Kabin AirAsia, Model ini Bikin Malu Dirinya Sendiri

Siapapun penumpangnya sepertinya bila menggunakan toilet pesawat sesaat sebelum mendarat tidak akan diperbolehkan oleh awak kabin. Hal ini karena dalam toilet pesawat tidak dilengkapi dengan sabuk pengaman dan menghindarkan penumpang cedera karena goncangan ketika akan mendarat.

Baca juga: Tak Bisa Duduk Disamping Sang Pacar, Penumpang ini Siram Air Panas ke Pramugari AirAsia

Namun baru-baru ini seorang penumpang yang juga runner-up Miss Malaysia Internasional, Sabee Chin memposting kata-kata dan video perilaku kasarnya pada awak kabin AirAsia di Facebook karena tidak diperbolehkan menggunakan toilet pesawat. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman worldofbuzz.com (23/10/2019), Sabee memposting itu dikarenakan awak kabin menolak untuk mengizinkannya menggunakan toilet karena pesawat sedang bersiap untuk mendarat.

Dalam postingannya, Sabee menulis ketika dia tiba di depan toilet dan ada penumpang lain di depannya. Kemudian dirinya bertanya pada awak kabin kenapa tidak diperbolehkan menggunakan toilet.

Awak kabin itu menjawab dengan sopan, “Maaf, toilet sudah ditutup, tidak bisa digunakan. Silahkan kembali ke tempat duduk Anda.”

Tidak seperti penumpang lain yang akhirnya duduk karena tidak diizinkan menggunakan toilet, Sabee tetap meminta izin menggunakan toilet. Namun tidak direspons oleh awak kabin karena sudah diberitahu.

Awak kabin itu mencoba melanjutkan pekerjaannya dan sekali lagi mengingatkan Sabee serta penumpang lain untuk kembali ke kursi mereka. Meskipun demikian, bintang itu sepertinya tidak akan menerima jawaban dan mulai melecehkan awak kabin dengan menginvasi ruang pribadinya dan mendorong ponselnya ke wajah awak kabin itu beberapa kali.

Sabee marah dan mengatakan bahwa dia akan mengadu ke departemen layanan pelanggan AirAsia meskipun faktanya dia yang menyebabkan semua drama yang tidak perlu ini. Ketika pesawat akhirnya mendarat, SaBee mengambil video dari semua staf penerbangan.

Suaranya bisa terdengar di latar belakang saat dia menyatakan dengan mengejek, “AirAsia! Ini AirAsia ok.” Terlepas dari sikapnya yang buruk, staf penerbangan AirAsia masih melanjutkan pekerjaan mereka dan hanya berdiri dengan sopan, menunggu sang diva untuk tenang.

Baca juga: Beli Laptop Lenovo Bisa Dapat Tiket AirAsia Gratis? Inilah Syaratnya!

“Sejak postingan itu beredar, warganet mengkritik bintang itu karena perilakunya yang kasar. Staf AirAsia hanya mengikuti protokol, mereka tidak pantas dilecehkan seperti itu! Mudah-mudahan, Sabee telah belajar dari kesalahannya,”ujar seorang warganet.

Rilis 9 Faktor Penyebab Kecelakaan JT610, KNKT: “Satu Tidak Terjadi, Maka Kecelakaan Dapat Terelakkan”

Kecelakaan pesawat Lion Air JT610 yang jatuh di Tanjung Karawang, Jawa Barat pada 29 Oktober 2018 silam memang menyisakan duka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan. Kendati diiming-imingi dana santunan dari pihak Boeing (yang nyatanya hingga kini belum terdistribusi secara merata), namun pihak keluarga korban enggan menerima dan masih tetap berusaha untuk menyuarakan keadilan dan titik terang dari insiden setahun lalu ini.

Baca Juga: KNKT (Kembali) Ungkap Kejadian Pra Jatuhnya Lion Air JT610

Sebagai badan yang berkewajiban untuk menelisik terkait insiden yang menyebabkan varian Boeing 737 MAX di-grounded-kan secara massal dari operasional ini, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) lalu melakukan investigasi mendalam. Dalam kurun waktu satu tahun, KNKT berhasil menemukan penyebab jatuhnya dari pesawat ini, yaitu komplikasi dari fitur teranyar Boeing untuk pesawat komersialnya, Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS).

Kendati sudah terjadi dan tidak mungkin kembali untuk mencegah kecelakaan ini terjadi, nyatanya KNKT menemukan sembilan faktor yang saling berkaitan dan jika ada salah satu dari faktor ini tidak terjadi, maka besar kemungkinan kecelakaan ini juga tidak terjadi. Diungkapkan pada acara Laporan Akhir Kecelakaan Pesawat Udara Lion Air JT610, Jumat (25/10), berikut adalah kesembilan faktor yang berkontribusi pada jatuhnya pesawat yang menewaskan 189 orang ini.

1. Asumsi terkait reaksi pilot yang dibuat pada saat proses desain dan sertifikasi pesawat Boeing 737 MAX 8, meskipun sesuai dengan referensi yang ada ternyata tidak tepat,

2. Mengacu pada asumsi yang telah dibuat atas reaksi pilot dan kurang lengkapnya kajian terkait efek-efek yang dapat terjadi di kokpit, sensor tunggal yang diandalkan untuk MCAS ini dianggap cukup dan memenuhi ketentuan sertifikasi,

3. Desain MCAS yang mengandalkan satu sensor rentan terhadap kesalahan,

4. Pilot mengalami kesulitan dalam merespon pergerakan MCAS yang tidak seharusnya, mengingat tidak ada petunjuk dalam manual book dan pelatihan,

Baca Juga: Akhirnya! Boeing Akui Adanya Kesalahan Sistem pada Boeing 737 MAX 8

5. Indikator Angle of Attack (AoA) Disagree tidak tersedia di dalam pesawat, dimana informasi terkait perbedaan AoA di sayap kanan dan kiri tidak dapat ditampilkan dan baik pilot maupun teknisi tidak dapat mengidentifikasi kerusakan sensor AoA,

6. Sensor AoA yang diganti di Bali mengalami miskalibrasi yang tidak terdeteksi,

7. Investigasi tidak dapat menentukan apakah pengujian sensor AoA baru ini telah terpasang dengan benar atau tidak, dimana ini akan berimplikasi pada miskalibrasi.

8. Informasi mengenai stick shaker dan penggunaan prosedur non-normal Runaway Stabilizer pada penerbangan sebelumnya (Denpasar ke Jakarta) tidak tercatat (mengacu pada poin 5), dan

9. Kondisi di kokpit menjelang jatuhnya pesawat dinilai terlalu hectic, karena pilot mesti berkomunikasi dengan ATC, mengendalikan pesawat secara manual, dan munculnya notifikasi aktivasi dari MCAS membuat pilot kesulitan untuk mengendalikan pesawat secara baik.

Dari kesembilan faktor tersebut, KNKT menegaskan apabila salah satunya tidak terjadi, maka kecelakaan nahas ini pun dapat terhindarkan.

KNKT (Kembali) Ungkap Kejadian Pra Jatuhnya Lion Air JT610

Tak terasa, tanggal 29 Oktober mendatang menandakan satu tahun jatuhnya pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT610. Kala itu, Lion Air menggunakan pesawat Boeing 737 MAX 8, dimana ini menjadi titik awal dari aksi grounded massal yang dilakukan oleh seluruh maskapai dunia hingga saat ini. Dalam rentang satu tahun pasca kejadian, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah melakukan sejumlah investigasi guna mencari penyebab utama jatuhnya pesawat nahas tersebut – mulai dari menganalisa Flight Data Recorder (FDR), Cockpit Voice Recorder (CVR), hingga melakukan simulasi langsung.

Baca Juga: Benarkah Boeing Gadaikan Faktor Keselamatan 737 MAX Demi Kas Perusahaan?

Dari sini, KNKT menemukan bahwa adanya kerusakan pada indikator kecepatan dan ketinggian pada pesawat berkode PK-LQP ini. Kerusakan ini sendiri pertama kali terjadi pada tanggan 26 Oktober 2018, manakala pesawat mengudara dari Tianjin Cina menuju Manado. Berdasarkan informasi yang didapatkan KabarPenumpang.com dari acara Laporan Akhir Kecelakaan Pesawat Lion Air JT610 yang dihelat KNKT pada Jumat (25/10), sejumlah perbaikan terkait kerusakan ini sudah dilakukan, dimana yang terakhir, sensor Angle of Attack (AoA) sebelah kiri pesawat diganti di Bali pada 28 Oktober 2018.

Sejak diganti, pesawat bukannya menjadi ‘sembuh’ tapi malah menjadi semakin ngaco. Hal ini tercitra dari deviasi hingga 21 derajat dari sensor AoA sebelah kiri. Sialnya, kerusakan ini tidak terdeteksi manakala pesawat melakukan uji penerbangan setelah sensor baru tersebut terpasang.

Adapun deviasi ini berdampak pada perbedaan penunjukkan ketinggian dan kecepatan antara instrumen kiri dan kanan di kokpit, dan juga mengaktifkan stick shaker serta Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS) pada penerbangan dari Denpasar menuju Jakarta pada 28 Oktober.

Pada penerbangan dari Denpasar menuju Jakarta tersebut, pilot berhasil mengatasi aktifnya MCAS dengan memindahkan stab trim switch ke posisi cut out.

Namun kembali disayangkan, pilot tidak melaporkan terkait hal ini (stick shaker dan pemindahan stab trim ke posisi cut out) kepada ground crew. Hal ini semakin diperburuk dengan absennya lampu peringatan AoA Disagree, sehingga pilot tidak melaporkan kejadian tersebut.

Baca Juga: Ternyata Boeing Ketahui Masalah Sensor di 737 MAX Sebelum Lion Air Jatuh!

Namun siapa sangka, ini merupakan faktor awal dari jatuhnya Lion Air JT610. Terkait penemuan ini, KNKT mengeluarkan tiga rekomendasi keselamatan kepada Lion Air yang sekiranya dapat dilakukan guna meningkatkan keselamatan di udara, diantaranya terkait manajemen manual dan pengelolaan masalah yang berulang terjadi (dalam kasus ini adalah kerusakan indikator kecepatan dan ketinggian).

Rekomendasi lain juga turut dikeluarkan KNKT kepada Boeing (6 rekomendasi), DGCA atau Dirjen Penerbangan Sipil (3 rekomendasi), Federal Aviation Administration atau FAA (8 rekomendasi), hingga AirNav Indonesia (1 rekomendasi).

[Galeri Foto] Deretan Makanan di Pesawat ini Mampu Menjatuhkan Selera Makan Anda!

Penerbangan yang membosankan ditambah dengan perut yang mulai keruyukan merupakan duet maut yang akan memaksa Anda untuk membeli penganan di atas pesawat. Namun, jangan pernah menyimpan ekspektasi lebih dari makanan yang dijajakan di sini, mengingat Anda akan menyesal kelak. Ya, memang tidak semua makanan yang kita pesan di dalam penerbangan akan sesuai dengan apa yang kita harapkan. Namun apa jadinya jika makanan tersebut tampak seperti tidak bisa dimakan karena bentuknya yang sangat tidak menjual? Akankah Anda memakannya?

Baca Juga: Yakin Sehat? Ini Rahasia Makanan di Pesawat Kata Mantan Pramugari

Sebuah media asal Inggris, thesun.co.uk, pernah merangkum makanan-makanan yang diterima oleh penumpang di dalam pesawat dengan bentuk yang sama sekali tidak ‘menjual’ dan malah menghilangkan selera makan. Kira-kira, makanan apa sajakah itu? Demi menjaga privasi dan nama baik, maka KabarPenumpang.com akan mengikuti thesun.co.uk untuk tidak membocorkan nama maskapainya.

Mungkin nama dari makanan ini adalah Sandwich Bakso

Sumber: thesun.co.uk

Kalau tadi Sandwich Bakso, maka yang ini namanya Bubur Bakso

Sumber: thesun.co.uk

Mulanya sih menggugah selera, tapi pas dibuka, kok dagingnya seperti masih mentah, ya?

Sumber: thesun.co.uk

Kalau yang ini sih nasibnya seperti mie instant, gambar memang menipu!

Sumber: thesun.co.uk

Apakah itu pasta yang menggunakan saus kacang basi?

Sumber: thesun.co.uk

Oops.. Harusnya kami menyensor makanan yang satu ini!

Sumber: thesun.co.uk

Bilik Toilet di Bandara Narita Dilengkapi Kertas Tisu Untuk Smartphone

Biasanya di dalam sebuah bilik toilet, hanya ada satu gulungan kertas tisu. Namun, apa jadinya jika ada dua gulungan kertas tisu di dalam satu buah bilik toilet? Di Jepang tepatnya di Bandara Narita Tokyo, dalam setiap bilik toiletnya terdapat dua gulungan kertas tisu.

Baca juga: Cair Tapi Bukan Sabun, Lantas Apa yang Dikeluarkan Dispenser Sabun di Bandara Detroit?

Gulungan yang besar adalah kertas tisu biasa dan digunakan untuk menyeka setelah Anda buang air. Sedangkan gulungan lainnya lebih kecil dan digunakan untuk menyeka ponsel pintar alias smartphone Anda.

Mungkin Anda berpikir untuk apa kertas toilet dan apa hubungannya dengan ponsel pintar yang Anda bawa tersebut. KabarPenumpang.com merangkum dari laman fortune.com, ternyata lembaran kertas ini memang untuk membersihkan smartphone yang dibawa ke bilik toilet.

Kertas tisu untuk smartphone ini disediakan oleh NTT Docomo, salah satu operator seluler terbesar di Jepang. Perusahaan tersebut mengatakan, bahwa layanan ini merupakan respon terhadap temuan bahwa layar smartphone disebut-sebut lima kali lebih banyak mengandung kuman dibandingkan sebuah toilet duduk.

Kertas tisu khusus ponsel pintar (The Guardian)

Docomo juga menerbitkan video singkat yang menunjukkan bagaimana menggunakan spray dan informasi lainnya untuk membantu pengunjung mengatasi toilet umum hi-tech yang akan di hadapi di Jepang. Diketahui, toilet merupakan bisnis yang serius di Jepang, dimana bangunan umumnya dilengkapi dengan washlet berteknologi tinggi.

Menurut sebuah studi tahun 2013 oleh Ofcom, 11 persen orang Inggris mengaku melihat konten video di telepon, tablet atau laptop saat berada di kamar mandi. Angka itu 20 persen diantara berusia 18 sampai 24 tahun. Selain itu ternyata kuman berbahaya yang ditemukan di smartphone dapat menyebabkan muntah hingga infeksi kuman Ecoli.

Baca juga: Tujuh Bandara Ini Jadi Yang Terbaik Untuk Fasilitas Nursery Room

Dari survei yang dilakukan kepada para pelancong tentang toilet di Jepang, hasil menunjukkan bahwa pengunjung asing secara universal terkesan dengan kebersihan dan fleksibilitas toilet umum Jepang. Kertas toilet ini sudah dipasang di 86 bilik toilet di terminal kedatangan bandara dan ini ada sampai Maret 2017 kemarin. Setiap lembar kertas tisu untuk ponsel ini, berisi informasi tentang akses WiFi di bandara dan sebuah aplikasi dengan tips perjalanan.