Tisu Toilet di Stasiun Tokyo ‘Ingatkan’ Penumpang untuk Tak Gunakan Ponsel Ketika Berjalan

Masih ingat tisu toilet di Bandara Narita Tokyo yang bisa digunakan untuk menyeka layar ponsel pintar? Kehadiran tisu untuk menyeka layar ponsel ini dikarenakan temuan kuman yang lima kali lebih banyak dibandingkan toilet duduk. Kertas tisu ini disediakan oleh NTT Docomo dan menjawab respon masyarakat.

Baca juga: Bilik Toilet di Bandara Narita Dilengkapi Kertas Tisu Untuk Smartphone

Ternyata East Japan Railways (JR East) juga membidik pengguna kereta api yang lebih memilih berjalan sembari menatap layar ponsel pintar mereka tetapi tak tahu arah yang pasti di stasiun. East Japan kemudian berkampanye untuk mengingatkan orang agar tidak selalu berfokus pada ponsel ketika mereka berjalan.

Tapi tahukah Anda bagaimana JR East melakukan kampanye mereka itu? Dilansir KabarPenumpang.com dari soranews24.com, kampanye itu hadir melalui tisu yang terdapat di toilet stasiun tertentu milik JR East.

“Kampanye pencegahan ponsel pintar yang dilakukan JR East terlalu teliti dan menakutkan. Seruan bahkan dengan kertas toilet di ruang pribadi stasiun. Ini tidak bisa membersihkan area intim,” ujar Minami seorang penumpang.

Pada kertas itu tertulis gambar ponsel pintar yang menampilkan langkah kaki serta pesan “Yamemasho, aruki sumaho” atau berarti “Mari kita berhenti menggunakan ponsel pintar saat berjalan”. Sistem penyampaian pesan yang tidak biasa ini dibuat JR East bersama dengan operator telepon seluler NTT Docomo, KDDI, SoftBank dan Asosiasi Operator Telekomunikasi Jepang.

Media kertas tisu yang dibuat khusus ini, cukup baik untuk memahami pesan selama masih bisa digunakan dengan cara dilipat.

“Hei, bukankah ini bagus? Bukankah ini luar biasa? Kertas toilet untuk toilet stasiun. Menyampaikan pesan untuk mencegah ponsel pintar berjalan!” kata Hinari yang berkicau di akun Twitternya.

“Dan supaya kau tahu betapa seriusnya mereka, pesan itu berulang. Keseriusan kertas toilet JR luar biasa!!!!!! Meskipun itu sambil berjalan, ponsel pintar yang digunakan ketika berjalan memperingatkan agar semua orang berhati-hati melalui kertas tisu,” ujar penumpang lainnya, Asari.

Baca juga: Bilik Toilet di Bandara Narita Dilengkapi Kertas Tisu Untuk Smartphone

Kertas tisu ini sendiri hadir di Stasiun Tokyo, Shinjuku dan Shinagawa. Ketiga stasiun ini merupakan stasiun tersibuk di kota serta Stasiun Akihabara yang dilengkapi dengan teknologi.

Perdebatan Duduk di Samping Jendela vs Samping Lorong, Mana yang Lebih Enak?

Kegemaran seseorang untuk menentukan tempat duduk mana yang lebih ia suka selama mengudara memang tidak bisa disama-ratakan, sebagian ada yang menjawab lebih senang duduk di samping jendela pesawat, dan sebagiannya lagi mengatakan lebih senang duduk di samping lorong kabin. Ini merupakan soal selera, sama halnya seperti Anda ditanya soal mana yang lebih Anda suka, nasi goreng atau mie goreng. Mungkin analogi ini cocok untuk menggambarkan perdebatan soal posisi duduk selama berada di pesawat.

Baca Juga: Jadi Baiknya Sebagai Penumpang Pesawat Duduk di Kursi Mana?

Tentu saja, kedua bangku ini memiliki keuntungannya tersendiri. Jika duduk di samping jendela, maka Anda bisa menikmati pemandangan dari ketinggian selama perjalanan, namun jika Anda duduk di samping lorong kabin, maka itu Anda akan untuk bermobilisasi selama mengudara (semisal menggunakan toilet, dan lain sebagainya). Belum lagi, Anda bisa ‘mencuri start’ untuk keluar dari pesawat ketika sudah landing.

Tapi dimana ada keuntungan, maka ada juga kerugian yang dirasakan oleh kedua jenis penumpang ini.

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman cnn.com, kerugian duduk di samping jendela pesawat adalah Anda harus melangkahi penumpnag lain yang duduk di samping Anda – terlebih ketika bangku yang Anda duduki adalah bangku kelas ekonomi, dimana jarak antar bangku sangatlah sempit. Maka, sedikit banyaknya ini akan menyulitkan Anda untuk keluar dari bangku.

Selain itu, bagi Anda yang suka duduk di samping jendela juga tentu harus bersabar ketika pesawat sudah landing dan waktunya untuk menginggalkan kabin. Karena Anda harus menunggu orang yang duduk di samping Anda keluar, baru Anda bisa mengikuti rombongan lain meninggalkan kabin.

Tidak hanya mereka yang gemar duduk di dekat jendela saja yang memiliki kerugian, pun halnya dengan mereka yang duduk di samping lorong kabin. Nah, siap-siap saja waktu istirahat di penerbangan Anda akan terganggu karena ‘hilir-mudik’ penumpang yang berada di sebelah kiri kanan Anda.

ilustrasi. Sumber: istimewa

Mulai dari tangan terbentur mereka yang berjalan di lorong kabin, hingga terpaksa bangkit dari bangku untuk memberikan jalan bagi penumpang yang duduk di dekat jendela merupakan kerugian bagi Anda yang gemar duduk di samping lorong kabin.

Belum lagi jika ada penumpang yang harus berdiri di samping Anda untuk mengambil barangnya yang tertinggal di bagasi kabin. Tentu risih bukan kalau sudah seperti ini?

Baca Juga: Pilihan Awak Kabin, Inilah Posisi Tempat Duduk Favorit Selama Penerbangan

Untuk perjalanan rute pendek, agaknya tidak terlalu masalah untuk memilih duduk di manapun. Namun bagaimana jika penerbangannya memakan waktu yang cukup lama? Tentu ini menjadi masalah baru.

Jadi, Anda masuk ke dalam kelompok yang mana, nih? Duduk di samping jendela atau di samping lorong kabin?

Inilah Rahasia Bugar Awak Kabin Qantas Saat Layani Penerbangan Non-Stop Sydney-New York

Pekan lalu, maskapai asal Australia Qantas berhasil membuat jagad aviasi global tercengang. Pasalnya maskapai berjuluk The Flying Kangaroo ini sukses melakukan penerbangan langsung terjauh dan terlama yang dinamakan Project Sunrise. Adapun proyek ini menghubungkan Sydney di Australia dengan New York di Amerika sana. Ya, ini merupakan penerbangan terjauh dan terlama yang pernah dilakukan oleh maskapai manapun yang ada di dunia. Wajar saja jika seluruh penjuru dunia membicarakan penerbangan yang tercatat mengudara selama kurang lebih 19 jam ini.

Baca Juga: Setelah Persiapan Ekstra, Qantas Sukses Lakoni Penerbangan Non-Stop Sydney-New York

Namun, pernahkah Anda memikirkan tentang ketahanan dari awak penerbang yang beroperasi di Project Sunrise ini? Sejatinya, Project Sunrise merupakan ajang bagi Qantas untuk mempelajari tentang bagaimana pilot dan awak kabin bisa tetap beristirahat, cekatan, dan kompeten selama penerabangan terjauh ini. Jika Anda semua beranggapan bahwa Project Sunrise hanya dilakoni oleh awak utama tanpa ada ‘pemain cadangan’, maka Anda salah besar karena terdapat kru cadangan yang siap berganti shift dengan kru utama.

Tempat istirahat awak kabin Qantas di Project Sunrise. Sumber: businessinsider.sg

Ya, selain untuk menimbang kenyamanan penumpang yang mengudara melintasi 15 zona waktu ini, pihak Qantas juga akan menguji ketahanan awak penerbang mereka. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman businessinsider.sg, total ada empat awak kokpit dan 10 awak kabin yang beroperasi di Project Sunrise ini – tentu saja semuanya memiliki porsi dan jam kerjanya masing-masing. Sebut saja dua pilot dan lima awak kabin di shift satu bekerja selama 9 jam penerbangan awal, sedangkan sisanya beroperasi di sisa waktu perjalanan.

Tempat istirahat pilot. Sumber: businessinsider.sg

Pertanyaannya adalah, apakah awak kabin dan pilot yang sedang tidak beroperasi ini berada satu ruangan dengan penumpang? Tentu saja tidak, karena keduanya memiliki tempat khusus yang dapat mereka gunakan untuk beristirahat.

Kaca yang digunakan awak kabin untuk bersolek. Sumber: businessinsider.sg

Ya, tempat khusus yang hanya diketahui oleh awak penerbang ini sejatinya bisa digunakan untuk beristirahat. Selain terdapat kasur berukuran sedang, lengkap dengan bantal dan tirai, di ruangan khusus kru ini juga Anda bisa melihat eksistensi dari sebuah cermin seukuran tubuh manusia yang dapat digunakan oleh awak penerbang untuk bersolek sebelum kembali bertugas.

Tempat istirahat pilot untuk sejenak. Sumber: businessinsider.sg

Atau jika pilot hanya ingin beristirahat sejenak, mereka bisa menggunakan ruangan kecil yang berisikan bangku lipat dan in-flight entertainment (IFE).

Baca Juga: Intip Secret Airplane Bedrooms, Tempat Awak Kabin Melepas Penat

Tentu saja, Anda sebagai penumpang tidak diijinkan untuk masuk ke ruangan ini, karena ruangan ini khusus untuk beristirahat para awak penerbang. Tidak enak bukan kalau Anda sedang beristirahat lalu diganggu oleh orang lain?

Mulai 28 Oktober, Batik Air Layani Penerbangan Non-Stop Jakarta-Timika

Setelah sebelumnya melayani penerbangan langsung rute Jakarta-Jayapura, Batik Air, maskapai full service bagian dari Lion Air Group, efektif mulai 28 Oktober 2019 akan membuka penerbangan langsung rute Jakarta-Timika. Selama ini, Batik Air telah melayani rute Jakarta-Timika, namun dengan transit terlebih dahulu di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar.

Baca juga: Makin Strong! Batik Air Terima Kedatangan Airbus A320-200CEO Ke-44

Dikutip dari keterangan resmi Batik Air (25/10/2019), disebutkan penerbangan pertama akan menggunakan pesawat bernomor ID-6186 yang akan lepas landas melalui Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten (CGK) pada pukul 00.05 WIB dan dijadwalkan tiba di Bandar Udara Internasional Mozes Kilangin, Timika pada 07.15 WIT. Untuk rute sebaliknya, Batik Air terbang dari Timika pada 07.55 WIT, menggunakan nomor ID-6187 dan diperkirakan mendarat di Soekarno-Hatta, Tangerang pukul 10.50 WIB.

“Timika akhirnya melengkapi kota tujuan Batik Air di Papua, setelah Sorong melalui Bandara Eduard Osok, Papua Barat (SOQ), Manokwari – Bandara Rendani, Papua Barat (MKW), Jayapura – Bandar Udara Sentani, Papua (DJJ) dan Merauke – Bandara Mopah, Papua (MKQ),” ujar Chief Executive Officer (CEO) Batik Air, Capt. Achmad Luthfie.

Penerbangan pertama akan dioperasikan dengan pesawat terbaru Airbus A320-200 berkapasitas 12 kursi kelas bisnis dan 144 kelas ekonomi yang dilengkapi inflight entertainment (audio video on demand) di setiap kursi. Kesungguhan Batik Air ialah menyediakan pelayanan terbaik dan menambahkan kenyamanan tamu saat berada di pesawat (in-flight services) dengan upaya semakin meningkatkan pengalaman terbang sekitar lima (5) jam di kelas premium services airlines berkonsep pre-flight, in-flight serta post-flight.

Baca juga: Terbang Perdana 15 Mei, Lion Air Gantikan Batik Air Layani Penerbangan ke Bandara YIA

Bagi tamu dari Timika bisa memanfaatkan menjadi pilihan transit untuk terbang ke Balikpapan, Banda Aceh, Bandar Lampung, Banjarmasin, Batam, Bengkulu, Denpasar/Bali, Gorontalo, Jambi, Kupang, Labuan Bajo, Lubuklinggau, Luwuk, Makassar, Malang, Mamuju, Manado, Manokwari, Mataram—Lombok, Medan, Padang, Palembang, Palu, Pangkalpinang, Pekanbaru, Pontianak, Samarinda, Semarang, Sibolga, Silangit, Surabaya, Surakarta/ Solo, Tarakan, Ternate, Yogyakarta–Adisutjipto, Yogyakarta–Kulonprogo. Untuk rute internasional ke Singapura, Penang di Malaysia, Kunming di Tiongkok serta kota lainnya.

Sambut Piala Dunia 2022, Qatar Perluas Kapasitas Bandara Internasional Hamad

Menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022, Qatar melakukan pembangunan infrastruktur secara besar-besaran dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan di Doha dilakukan pembukaan sejumlah museum, hotel, perpustakaan nasional dan tahap pertama dari Metro Doha yang dibuka awal tahun ini dengan jalur baru.

Baca juga: April 2020, Qatar Airways Terbangkan Airbus A350-900 Non-Stop dari Doha ke Osaka

Tak hanya itu, Bandara Internasional Hamad (HIA) sebagai hub dari Qatar Airways akan diperluas untuk meningkatkan kapasitas menjadi 53 juta penumpang pada tahun 2022 mendatang. Perluasan bandara ini akan membuat konektivitas lebih mudah baik penumpang transit atau yang akan mengunjungi Qatar.

(forbes.com)

Badr Mohammed Al Meer, Chief Operating Officer di HIA mengatakan, bandara mengalami perkembangan yang pesat, maka cara-cara penumpang untuk melewatinya akan ditingkatkan. Menurutnya salah satu yang akan ditingkatkan yakni memperlancar arus penumpang secara keseluruhan dengan meminimalkan jarak perjalanan untuk koneksi.

“Jika ini terlaksana selain berita bagus, area yang diperluas juga bisa mengurangi saat puncak kepadatan,” kata Badr yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman forbes.com (23/10/2019).

Perluasan HIA juga akan menghadirkan lounge kelas bisnis yang jauh lebih besar dan lebih baik. Salah satunya yakni lounge bisnis Al Mourjan yang akan berukuran hampir 100 ribu kaki persegi dengan fasilitas spa, gimnasium, restoran dan pusat bisnis.

“Lounge saat ini adalah ruangan yang menarik tetapi jauh lebih baik ketika tidak terlalu padat dan karena lebih banyak penumpang yang terbang melalui Doha, maka ini akan terisi. Jadi fakta bahwa mereka membangun lounge baru yang cukup besar adalah berita bagus,” jelas Badr.

Selain lounge, pihak otoritas bandara mengatakan, terminal akan menjadi yang pertama di wilayah MENA (Timur Tengah dan Afrika Utara) untuk memperoleh peringkat bintang empat dari sistem penilaian keberlanjutan global. Terminal ini nantinya akan disertifikasi LEED Silver berkat efisiensi energinya.

Dalam bandara juga akan dihadirkan taman tropis indoor yang mirip Jewel di Bandara Changi yang memiliki taman tropis dan air terjun fantastis dalam ruangan yang bisa dikunjungi semua orang.

Baca juga: Dongkrak Pengalaman Penumpang, Singapore Airlines Siap “Rombak” Lounge di Changi

Bedanya, taman tropis di Singapura bisa dikunjungi masyarakat umum, tetapi di HIA akan hadir di dalam terminal dan hanya bisa diakses oleh semua penumpang. Dengan perluasan yang dilakukan ini, nantinya Doha akan mampu mengatasi berbagai masalah dan bisa menjadi pilihan menarik untuk melakukan perjalanan melalui salah satu hub terbesar di dunia ini.

Sadarkah Selama ini Psikologi Anda Dimainkan di Bandara?

Bagi sebagian orang, bandara kerap kali dinilai hanya sebagai tempat singgah sementara sebelum melanjutkan perjalanan dengan menggunakan pesawat, atau sebagai tempat kedatangan setelah mereka bepergian dari suatu kota. Kehadiran dari petugas pengamanan yang berlapis-lapis seolah tidak menjadi masalah bagi Anda mengingat tidak ada niatan lain selain mengudara, bukan? Namun bagi sebagian orang, sejatinya bandara merupakan salah satu tempat yang paling menjenuhkan karena terkesan ribet mengingat eksistensi dari petugas keamanan berlapis tadi dan skema perjalanan udara yang juga jauh lebih ribet ketimbang moda-moda lainnya.

Baca Juga: Pamerkan Mock-Up 777X, Boeing Mainkan Sisi Psikologis Penumpang

Namun tahukah Anda bahwa bandara dirancang sedemikian rupa untuk mempengaruhi psikologis para calon penumpang? Ya, normalnya, Anda akan menemukan beragam toko yang menjajakan penganan, hingga pernak-pernik khas daerah terkait setelah Anda melewati pos pengamanan pertama dan counter check-in.

Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman bbc.com (1/5), zona berbelanja ini disebut sebagai recomposure zone, dimana Anda bisa menyegarkan pikiran sejenak setelah berjibaku dengan ketatnya pengamanan di bandara. Tapi, kehadiran dari recomposure zone ini bukanlah momen perdana psikologis Anda ‘dimainkan’ oleh para perancang bandara.

Sebelumnya juga Anda sudah ‘diarahkan’ oleh papan penunjuk yang akan mengantarkan Anda ke gerbang keberangkatan. Kehadiran dengan papan penunjuk jalan dengan ukuran yang besar dan jalan yang itu-itu saja juga ternyata diklaim memainkan psikologis penumpang, dimana seperti yang sudah disebutkan di atas, Anda seolah diarahkan oleh mereka.

“Bandara yang sempurna akan menjadi tempat di mana Anda secara ‘natural’ akan dipandu oleh lingkungan,” ungkap Alejandro Puebla, perencana bandara senior di perusahaan teknik sipil Jacobs.

Dengan kata lain, jika Anda salah jalan, maka besar kemungkinan Anda sempat melamun sehngga tidak memperhatikan tanda yang akan membimbing Anda semua.

Baca Juga: Di Luar Regulasi, Manipulasi Psikologi Turut Campur Tangan di Perkeretaapian Jepang

Satu lagi permainan psikologis yang ada di bandara adalah terdapat lebih banyak jalan yang berbelok ke kanan daripada ke kiri. Ini dikarenakan populasi orang kidal tidaklah sebanyak orang normal (menggunakan tangan kanan), dan sejatinya orang akan lebih sering menengok ke kanan ketimbang ke kiri.

Apakah selamaini Anda sadar bahwa psikologis Anda sudah dipermainkan oleh bandara?

Diduga Cari Proyek Sampingan, Boeing Bantu Pembangunan Bandara di Chennai

Pabrikan kedirgantaraan asal Amerika Serikat, Boeing dikabarkan akan menyusun rencana untuk membangun Bandara Chennai di India dalam beberapa bulan mendatang. Rencana ini termasuk untuk melengkapi jalan di depan bandara sebagai bagian dari fasilitas selama kurun waktu 10 tahun ke depan. Dalam hal ini, Boeing tidak sendiri, melainkan perusahaan yang kini tengah terseok-seok ini juga kabarnya telah menggandeng Airports Authority of India (AAI) sebagai tandemnya.

Baca Juga: Boeing Digoyang Masalah (Lagi), Kini Ditemukan Retakan pada Seri 737 NG

Hadirnya pemberitaan semacam ini tentu saja membuat Anda semua bertanya-tanya, “Apakah ini merupakan salah satu upaya Boeing untuk bisa mendapatkan keuntungan setelah beberapa bulan ke belakang sektor pesawat penumpang komersialnya anjlok habis-habisan?”

Jawabannya, mungkin saja! Ini merupakan upaya sampingan dari pihak Boeing untuk menutupi kas perusahaan yang dikabarkan sempat tidak ada pesanan sama sekali. Namun terlepas dari spekulasi soal ini, KabarPenumpang.com mengutip dari laman thehindu.com (24/10), seorang pejabat di Boeing mengatakan bahwa pihaknya akan menurunkan beberapa tim ke lapangan guna meninjau langsung lokasi, dan selanjutnya akan melakukan serangkaian studi guna melancarkan pembangunan bandara tersebut.

“Tim akan pergi ke Chennai pada Jumat (25/10) dan mengadakan diskusi awal dengan pihak Boeing. Selanjutnya mereka akan melakukan studi selama enam bulan guna mempertimbangkan proyeksi lalu lintas udara, pembebasan lahan, dan bagaimana bandara ini dapat beroperasi secara efisien di masa yang akan datang,” terang salah satu pejabat dari AAI.

Mereka mengatakan bahwa pihak Boeing nantinya juga akan menyarankan cara untuk meningkatkan kapasitas sisi udara dari bandara tersebut – termasuk dari segi komunikasi, navigasi, hingga sistem pengawasan.

“Misalnya, mereka (pihak Boeing) dapat menyarankan cara untuk meningkatkan waktu huni landasan (jumlah waktu yang dihabiskan pesawat di landasan pacu). Kami sekarang mencoba menurunkannya menjadi 55 hingga 60 detik, tetapi ini akan menjadi lebih baik di tahun-tahun mendatang jika kami harus menangani lalu lintas udara yang terus mengalami peningkatan,” tandasnya.

Baca Juga: Bus Kota di Chennai, Potret Buruk Transportasi di India

Ya, sejumlah bandara di dunia belakangan ini mengalami masalah yang hampir serupa, yaitu adanya peningkatan perjalanan penumpang yang bisa menghambat perjalanan para penumpang, dan masalah seperti ini harus ditangani dengan cepat dan tepat. Selain di Chennai, Boeing juga rencananya akan melakukan studi di beberapa bandara yang bernaung di bawah AAI, seperti di Kolkata dan Ahmedabad.

JR East Bangun Stasiun Robotika, Mudahkan Penyandang Disabilitas dan Pelancong Asing

Teknologi yang semakin berkembang membuat beberapa negara menghadirkan robot sebagai pembantu para pelancong untuk mendapatkan informasi. Bahkan beberapa negara maju dan berkembang di bandaranya sudah memiliki robot seperti ini sebut saja Bandara Incheon di Seoul, Korea Selatan.

Baca juga: Adopsi Kecerdasan Buatan dan Robotika, Hitachi Rail Siap Hadirkan Stasiun Masa Depan

Hal ini kemudian membuat Japan Railways kemudian ingin membangun tim robot yang akan membantu para pelancong baik memberikan informasi hingga menangkap penjahat di stasiun-stasiun. Dilansir Kabarpenumpang.com dari soranews24.com, Japan Railways East mendirikan perusahaan baru bernama JRE Robotics Station atau Stasiun Robotika JRE untuk mewujudkan visi masa depan yang penuh dengan robot.

Pada 5 Juli 2017 lalu, JR East mengumumkan pembentukan Stasiun Robotika JRE. Mungkin nama ini terdengar seperti stasiun kereta api untuk robot. Tetapi bukan, bahkan tidak kalah keren, pasalnya ini adalah perusahaan yang didirikan JR East untuk memberikan dorongan tambahan pada proyek pengembangan robotiknya.

Bahkan secara khusus, Stasiun Robotika JRE akan berfokus pada robot dengan satu dari empat klasifikasi fungsional. Perusahaan akan merancang robot panduan untuk membantu pelancong menemukan jalan mereka di sekitar stasiun dan membantu tiba di stasiun tujuan.

Selain membantu masyarakat lokal, robot ini juga dilengkapi dengan kemampuan multi bahasa yang bisa memudahkan pelancong di Jepang. Dalam daftar perencanaan, robot-robot tersebut bisa membawa barang bawaan pelancong meski tujuan utamanya adalah membantu penyandang disabilitas.

Sedangkan untuk pelancong biasa, robot tetap sebagai pembantu perjalanan. Stasiun Robotika JRE ini juga tengah merencanakan untuk membuat robot yang bisa menangani kebersihan keamanan dan konsep seni dari perusahaan yang bisa mendeteksi pengutil.

JR East yang juga mengelola sejumlah pusat perbelanjaan dan hotel, robot-robot ini juga akan digunakan tidak hanya di stasiun tetapi propreti lainnya. Bahkan pihaknya juga menunggu beberapa saat sampai melihat robot muncul untuk membantu penumpang membeli tiket kereta api.

Baca juga: Minimalisir Tenaga Manusia, Jepang Mulai Kembangkan Puluhan Robot di Stasiun

Bahkan tahun 2018 kemarin, Stasiun Osaka sudah memiliki Robot dengan fitur kecerdasan buatan – Artificial Intelligence (AI) untuk memudahkan pelancong dalam perjalanan mereka. Robot ini bahkan mampu membantu pelancong dengan pilihan bahasa Jepang dan Inggris.

Scoot Resmi Pindah dari Terminal 2 ke Terminal 1 Bandara Changi

Seperti telah diwartakan pada November 2018, bahwa maskapai berbiaya murah asal Singapura, Scoot mencanangkan pemindahan fasilitas pelayanannya di Bandara Changi, yakni dari Terminal 2 ke Terminal 1. Nah, sesuai dengan target yang ditetapkan, yaitu pada kuartal keempat 2019, maka pihak Scoot pada 22 Oktober lalu telah mengumumkan pemidahan layanan terminalnya.

Baca juga: Q4 2019, Scoot Akan Pindah dari Terminal 2 ke Terminal 1 di Bandara Changi

Dikutip dari pesan tertulis Scoot yang diterima KabarPenumpang.com, dikatakan bila pemindahan terminal ini untuk memfasilitasi target pertumbuhan double digit Scoot tiga tahun ke depan dan memberikan pengalaman yang lebih baik dan lebih efisien kepada penumpang, dengan lebih banyak counter check-in self service dan fasilitas check-in bagasi yang tersedia di Terminal 1. Pada 22 Oktober 2019, Scoot juga merakayan telah menerbangkan penumpang ke-65 juta. Secara keseluruhan pada 22 Oktober, ada 9.877 penumpang dengan 4.726 bagasi dan 56 penerbangan dari Singapura yang diproses di Terminal 1.

Upaya pemidahan terminal pelayanan tak dilakukan dalam waktu sekejab, persisnya Scoot telah memulai beberapa uji coba operasional dan sistem, termasuk dua penerbangan percobaan, sejak Agustus 2019 untuk memastikan pemindahan berjalan lancar. Sejak Juli 2019, Scoot telah mengirim pemberitahuan kepada penumpang melalui situs, media sosial, email, dan aplikasi.

Di bandara, papan informasi ditaruh di lantai Kedatangan dan Keberangkatan Terminal 1 maupun Terminal 2. Pengumuman dalam penerbangan Scoot menuju Singapura telah diperbarui sejak 1 Oktober 2019 untuk memberi informasi kepada penumpang mengenai pemindahan. Staf tambahan juga ditempatkan di Terminal 1 dan Terminal 2 pada hari pemindahan, untuk memastikan penumpang akan segera mendapat bantuan bila perlu.

Lee Leek Hsin, Chief Executive Officer Scoot mengatakan, “Dalam waktu delapan tahun sejak kami berdiri pada 1 November 2011, kami telah melalui merger dua maskapai low-cost, menerbangkan lebih dari 65 juta penumpang, mengembangkan jaringan hingga hampir 70 kota di seluruh dunia, dan menambah armada menjadi 20 Boeing 787 dan 28 Airbus A320, dan masih banyak lagi dalam proses pemesanan. Scoot telah menjadi maskapai lowcost terbesar di Singapura, menguasai sekitar 45 persen pasar maskapai low-cost di Singapura. Terminal 2 Bandara Changi Singapura adalah tempat kami melakukan penerbangan perdana ke Sydney pada Juni 2012, dan merupakan rumah yang indah bagi kami, namun pemindahan ke Terminal 1 akan memberi lebih banyak ruang untuk rencana ekspansdi masa depan.”

Baca juga: Lecehkan Pramugari Scoot, Pria India Divonis 2 Tahun Penjara dan Hukuman Cambuk

Penerbangan terakhir Scoot menuju Terminal 2 adalah TR431 dari Kuching ke Singapura pada 21 Oktober 2019, yang tiba pada jam 12.40 waktu setempat pada 22 Oktober 2019 dengan membawa 115 penumpang. Sedangkan penerbangan pertama Scoot dari Terminal 1 adalah TR100 dari Singapura ke Guangzhou, yang berangkat pada jam 5.13 waktu setempat dengan membawa 315 penumpang.

Ternyata Boeing 777 Sempat Dirancang dengan Konsep “Trijet”

Selain keluarga Boeing 737 yang kini sedang terjungkal akibat jatuhnya dua unit varian 737 MAX 8, produsen kedirgantaraan asal Amerika Serikat ini juga sejatinya memiliki varian lain yang juga tercatat sebagai salah satu pesawat paling sukses di dalam sejarah penerbangan. Adalah Boeing 777, yang hingga saat ini masih berjibaku guna mematok kedigdayaan di sektor pesawat wide-body. Tentu Anda semua sudah tidak asing lagi dengan varian pesawat ini, bukan? Tapi, tahukah Anda bahwa mulanya pesawat ini dirancang untuk bisa terbang dengan menggunakan tiga buah mesin?

Baca Juga: Inilah Alasan, Mengapa Boeing Menggunakan Angka 7 di Produk Jet Komersialnya

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com (21/10), Boeing 777 sejatinya membawa perubahan besar pada sektor dirgantara global, dengan pertama kali moda ini beroperasi dengan menggunakan livery United Airlines pada tahun 1995 silam. Penggunaan pesawat ini menandai era baru penerbangan twin engine, dimana suara yang dihasilkan lebih tenang, lebih efisien, lebih ekonomis, dengan jangkauan yang lebih jauh. Walaupun, peluncuran Boeing 777 kala itu yang diwakilkan oleh seri 777-200LR ini seolah menjadi lonceng kematian bagi Boeing 747 yang tentu saja kalah saing dengan triple seven.

Seperti yang sudah disebutkan di atas, pada mulanya Boeing 777 dirancang untuk menggunakan tiga mesin jet (trijet). Kala itu, teori menyebutkan bahwa semakin banyak mesin yang digunakan, maka semakin baik pula performa pesawat ketika mengudara. Namun karena satu dan lain hal, akhirnya pengembangan Boeing 777 dengan tiga mesin ini urung dilaksanakan.

Andai saja kala itu perusahaan tetap bersikukuh untuk tetap menggunakan tiga mesin jet, maka bukan tidak mungkin apabila Boeing 777 akan menjadi rival bagi pesawat rilisan McDonnel Douglas asal Amerika Serikat, MD-11 dan DC-10. Mungkin karena alasan sama-sama barang Amerika, maka dari itu Boeing dengan varian 777 mengalah kepada DC-10 yang sudah mulai mengudara secara komersial pada Agustus 1971.

Baca Juga: DC-10 30, Kenangan Pesawat Trijet Jarak Jauh di Era Keemasan Garuda Indonesia

Hingga saat ini, pesawat wide-body yang menggunakan tiga mesin jet paling kondang di dunia masih disandang oleh MD-11 dan DC-10, dan mungkin tidak akan tergantikan dalam waktu dekat ini – karena hampir semua burung besi yang tengah dirancang kini masih berpaku pada penggunaan dua mesin yang mampu melakoni peran sama atau bahkan melebihi pesawat trijet.