Sukses di Jerman Hingga Dubai, Giliran Volocopter Unjuk Gigi di Singapura

Tampaknya gagasan untuk menghadirkan drone untuk mengentaskan kemacetan dan polusi kini kian mendekati realita. Upaya demi upaya terus dikerahkan oleh sejumlah perusahaan yang menggeluti moda jenis baru ini untuk bisa meyakinkan para regulator bahwa drone ini tidak hanya aman, namun bisa membawa dampak signifikan pada kondisi lalu lintas kota-kita besar.

Baca Juga: Terima Kucuran Dana Segar, Volocopter Fokus Kembangkan VTOL Andalannya

Memang, perusahaan-perusahaan yang mengembangkan moda udara ini seperti Boeing, Ehang, hingga Volocopter sejatinya sudah dalam tahap pengembangan pasca uji coba dan bisa dibilang hanya tinggal menunggu sertifikasi saja untuk bisa masuk ke dalam layanan komersial. Selain menunggu proses sertifikasi, salah satu dari ketiga nama perusahaan di atas, Volocopter dikabarkan baru saja melakukan uji penerbangan terhadap taksi udara rilisannya di Marina Bay, Singapura beberapa waktu yang lalu.

Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman aljazeera.com (22/10), adapun moda Volocopter ini berhasil mengudara selama kurang lebih dua menit – atau satu menit lebih cepat ketimbang yang diiklankan oleh pihak perusahaan. Ini bukan lantaran masalah teknis, melainkan karena faktor cuaca yang tidak mendukung saat uji coba.

Adapun uji penerbangan di Singapura dilakukan oleh seorang pilot di dalamnya. Kendati demikian, nantinya moda-moda udara modern semacam ini akan berjalan secara otonom alias nirawak. Sebelum di Singapura, Volovopter sudah terlebih dahulu melakukan penerbangan demonstrasi publik di Jerman, Dubai, dan Finlandia.

Membahas sedikit tentang Volocopter ini sendiri, moda electric Vertical Take Off and Landing (eVTOL) ini menawarkan perjalanan udara yang aman, tenang, dan bebas emisi. Moda ini mampu mengangkut dua penumpang beserta barang bawaan mereka menuju jarak hingga 30 km dengan kecepatan 110 km per jam.

“Ini (uji penerbangan Volocopter) merupakan tonggak penting untuk pengenalan mobilitas udara perkotaan, karena kami memberikan gambaran kepada orang-orang terhadap moda udara modern dan betapa tenangnya itu (Volocopter) dalam penerbangan penuh,” ujar CEO Volocopter, Florian Reuter.

Baca Juga: Prototipe Taksi Drone Ehang 184, Sukses Uji Coba Dalam 1000 Kali Terbang

Senada dengan Florian, Civil Aviation Authority of Singapore (CAAS) mengatakan bahwa hadirnya Volocopter di Singapura diharapkan dapat mereduksi kemacetan yang terjadi di jalanan dewasa ini.

“Dengan bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan seperti Volocopter, kami berharap dapat memfasilitasi inovasi untuk penggunaan moda yang bermanfaat, sembari memastikan penerbangan dan keselamatan publik,” tutur Ho Yuen Sang, direktur divisi industri penerbangan di CAAS.

Tergolong Pesawat Tua, Lima Maskapai ini Masih Operasikan Airbus A300, Ada Apa?

Indonesia patut berbangga dengan pesawat Airbus A300. Ya, dalam proses perakitan pesawat wide-body pertama milik Airbus ini, tidak lepas dari peran salah seorang warga negara Indonesia yang kini dikenal sebagai Bapak Two-Men Cockpit, Wiweko Soepono. Selain terkenal sebagai pesawat wide-boy pertama di dunia, A300 juga menyandang predikat sebagai ‘pembuat jalan’ dari ETOPS.

Baca Juga: Ada Kisah Antara Wiweko Soepono dan Airbus A300B4 Garuda Indonesia

Bagi Anda yang belum mengetahui tentang ETOPS, ini merupakan sertifikasi yang dirilis oleh Federal Aviation Administration (FAA) dimana sejatinya pesawat masih bisa  mengudara hanya dengan menggunakan satu mesin saja (semisal satu mesinnya lagi mati karena masalah teknis atau non-teknis).

Pesawat ini mulai mengudara untuk pertama kalinya pada 28 Oktober 1972, dan masih terus diproduksi setidaknya sampai tahun 2007 silam. Hingga saat ini, tercatat pesawat A300 sudah diproduksi lebih dari 560 unit dan digunakan oleh sejumlah maskapai. Kendati sudah tidak uzur, namun masih ada beberapa maskapai di luar sana yang mengoperasikan pesawat tua ini.

Pada masa kejayaannya dulu, pesawat ini termasuk sebagai pesawat mulfifungsi, dimana beberapa operator tidak hanya menggunakannya untuk mengangkut penumpang, melainkan juga untuk mengangkut kargo, kargo militer, hingga digunakan sebagai pesawat tanker.

Nah, seperti yang sudah dijanjikan di atas, berikut adalah maskapai yang masih setia menggunakan Airbus A300, seperti yang dirangkum KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com (20/10).

Mahan Air
Karena hampir semua Airbus A300 yang masih beroperasi saat ini dioperasikan oleh maskapai penerbangan Iran, agak sulit untuk mendapatkan informasi yang akurat tentang mereka. Meskipun demikian, Mahan Air tercatat sebagai maskapai dengan jumlah Airbus A300 terbesar yang masih beroperasi. Di rentang tahun 2009 hingga 2014, Mahan Air dikabarkan memboyong 11 unit A300 dari Lufthansa, Japan Airlines, dan Kyrgyz Airways.

Iran Air
Kendati Iran Air tercatat sebagai flag carrier dari Iran, namun jumlah pesawat A300 yang dimiliki oleh maskapai ini tidaklah sebanyak Mahan Air – Iran Air hanya memiliki 35 unit, sedangkan Mahan Air memiliki 46 unit. Kendati kalah dalam jumlah, Iran Air mengoperasikan delapan unit A300 sebagai pesawat kargo.

Baca Juga: Wiweko Soepono – Bapak ‘Two-Men Cockpit’ yang Sarat Pengalaman di Dunia Dirgantara

Selain dua maskapai di atas, ada juga Qeshm Air, Meraj Airlines, dan Pemerintah Irak yang masih mengoperasikan Airbus A330. Mungkin sebagian dari Anda bingung mengapa hanya maskapai Irak atau Iran saja yang masih mengoperasikan pesawat tua semacam A330. Hal ini lantaran sanksi yang dijatuhkan oleh pihak Amerika Serikat sehingga Iran dan Irak harus berpuas hati dengan hanya mengoperasikan pesawat A300 saja.

Hapuskan Perbedaan Gender, Petugas Wanita JR East Tidak Lagi Mengenakan Rok

Dari beberapa operator kereta di Jepang, East Japan Railway (JR East) adalah operator kereta terbesar yang melayani lusinan jalur padat di Tokyo, termasuk kereta peluru oetsu, Hokuriku, dan Tohoku Shinkansen. Belum lama ini, JR Eeat mengumumkan pembaruan seragam petugasnya, yang unik pembaruan seragam ini menjadi yang pertama dilakukan dalam satu setengah dekade ini, terakhir pembaruan seragam dilakukan JR East pada tahun 2003.

Baca juga: Gunakan Bahasa Inggris Sebagai Nama Stasiun, JR East Dipetisikan Warga Tokyo!

Dikutip dari soranews24.com (10/10/2019), sebagai permulaan, skema warna seragam utama akan diubah dari abu-abu ke biru tua, warna yang menurut JR East membawa nuansa “martabat tradisional,” dan bekerja dengan baik sesuai visi perusahaan guna menciptakan rasa nyaman bagi para pelanggannya. Pada seragam desain baru nampak masih memiliki sedikit warna abu-abu dengan garis-garis aksen di lengan mereka (dua garis menunjukkan kepala stasiun).

Yang unik dari pembaruan desain seragam yaitu dihapuskannya penggunaan rok bagi karyawan wanita, tidak seperti seragam terdahulu, pada seragam terbaru rok telah dihapuskan dan diganti model celana panjang. Dengan mengenakan seragam celana panjang, maka setiap petugas/karyawan wanita kini juga harus mengenakan dasi, mengikuti kostum yang selama ini digunakan pada stelan seragam karyawan pria. Untuk seragam baru ini, karyawam diperbolehkan memilih satu diantara tiga desain seragam.

Seragam lama untuk karyawan/petugas wanita.

Uniknya, JR East merancang seragam “cool biz,” yaitu kostum yang dirancang untuk periode konservasi listrik, yang disebut saat itu temperatur AC kurang sensiif. Untuk jenis seragam yang satu ini, baik petugas pria dan wanita dapat mengenakan kostum tanpa dasi dan kerah kemeja yang tidak perlu dikancingkan.

Baca juga: Terus Kembangkan Shinkansen, JR East Uji Coba ALFA-X

Pihak JR East menyebut pemberlakuan seragam baru merupakan bagian dari revisi peraturan Reformasi 2027 yang sedang berlangsung dan telah dimulai tahun lalu. Presiden JR East Yuji Fukasawa dalam siaran pers mengakatan, bahwa pembaruan seragam diantaranya dilakukan untuk menyambut Olimpiade Tokyo dan Paralimpiade 2020. Tujuan lain pembaruan seragam ini dimaksudkan untuk menghilangkan perbedaan gender. Di sisi lain, kelompok feminis justru mengkritik kebijakan tersebut, yang menyebut seharusnya manajemen JR East memberikan pilihan bagi petugas wanita, apakah ingin menggunakan celana panjang atau rok.

[Video] Duh! Airbus A320 Nyangkut di Jembatan Jinhe, Cina

Bagaimanca ceritanya ada sebuah pesawat yang nyangkut di bawah jembatan ketika sedang dibawa dengan menggunakan sebuah truk? Ya, pesawat ini sejatinya hendak dirakit menjadi satu kesatuan, namun malang, pesawat berjenis Airbus A320 ini malah tersangkut di sebuah jembatan karena si pengemudi truk tidak memperhitungkan secara matang antara tinggi keseluruhan moda (termasuk tinggi truk dan pesawat) dengan tinggi jembatan. Walhasil, kejadian yang sempat diabadikan dalam bentuk video berdurasi 00.44 detik ini menjadi bahan perbincangan netizen.

Baca Juga: Libatkan 1.500 Perusahaan, Inilah Proses Perakitan Airbus A380 Yang Fenomenal

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com (22/10), peristiwa ini sendiri terjadi pada tanggal 13 Oktober 2019 kemarin, di Distrik Daoli, Harbin, Cina – tidak terlalu jauh dari Bandara Internasional Harbin Taiping. Diduga, pesawat yang hendak dirakit ini akan dibawa ke bandara tersebut. Menurut penuturan saksi mata yang berada di sekitar lokasi, truk ini tersangkut di sebuah jembatan bernama Jinhe, dan pengemudi truk tersebut sempat kebingungan untuk keluar dari kondisi tersebut.

“Pengemudi truk sempat merenungi nasibnya selama 20 menit, karena truk yang ia kendarai benar-benar tidak bisa bergerak,” ujar salah satu saksi mata.

https://www.youtube.com/watch?v=wpc2sOWIZZY

Namun setelah mendapatkan ilham, pengemudi truk ini turun dari kendaraannya dan mengurangi tekanan angin dari semua ban truknya. Dengan begitu, ketinggian dari truk akan berkurang dan pesawat yang tengah diangkutnya tersebut bisa lolos dari kolong jembatan. Hingga berita ini diturunkan, baik Jembatan Jinhe maupun fuselage Airbus A320 yang sempat nyangkut tersebut masih menjalani pemeriksaan lebih lanjut guna menemukan kerusakan jika ada.

Baca Juga: Masih Bingung Bedakan Boeing 737 dan Airbus A320? Simak Ini

Kejadian seperti ini tentu terkesan mustahil terjadi, mengingat seharusnya truk pengangkut fuselage pesawat semacam ini sudah memperhitungkan terlebih dahulu jalur mana yang hendak dilintasi, serta mempertimbangkan kemungkinan kendala yang muncul – seperti halnya apakah truk akan melintasi kolong jembatan atau tidak, dan kemungkinan hambatan perjalanan lainnya.

British Airways Sajikan ‘Makanan Kelinci’ Kepada Penumpang!

Janganlah menaruh ekspektasi tinggi terhadap makanan yang akan Anda semua dapatkan di dalam sebuah penerbangan – atau nantinya Anda akan merasa kecewa jika apa yang didapatkan tidak sejalan lurus dengan apa yang Anda idamkan. Hal inilah yang menimpa salah satu penumpang dari British Airways (BA), dimana ia merasa kesal setelah menerima makanan yang dianggapnya tidak layak disuguhkan kepada penumpang. Kejadian ini sontak menjadi viral setelah sang penumpang meluapkan kekesalannya di media sosial.

Baca Juga: Kenali Jenis Makanan Khusus dalam Penerbangan

Kisah ini berawal manakala Carolyn, penumpang wanita yang hendak mengudara dari Vancouver mendapati makanannya hanyalah berisikan nasi, tahu, baby corn, dan beberapa iris sayuran lainnya. Carolyn merasa tidak dihargai dengan disuguhi makanan itu, dimana seharusnya ia dan penumpnag lainnya mendapatkan penganan yang jauh lebih layak dan lebih kaya gizi. Saking kesalnya, ia mengatakan bahwa, “kami bukanlah kelinci!”

Diwartakan KabarPenumpang.com dari laman birminghammail.co.uk (18/10), Carolyn bahkan sampai menyebutkan bahwa in-flight meal yang disuguhkan British Airways amatlah menyedihkan.

“British Airways, ini adalah makanan vegetarian menyedihkan yang menurut kalian cocok untuk disajikan di dalam sebuah penerbangan jarak jauh?” cuit Carolyn di Twitter.

“Akankah kalian memakannya? Ada yang mau? Memakan tahu putih, dengan nasi dan baby corn yang berasal dari makanan kaleng,” sambungnya.

Sebagai tanggapan pihak maskapai tentang apa yang menimpa salah satu penumpangnya ini, British Airways mengatakan bahwa mereka akan terlebih dahulu mengkonfirmasi kebenaran dari apa yang dicuitkan oleh Carolyn sebelum menindaklanjutinya kepada pihak penyedia catering.

“Kami akan pastikan kasus makanan yang menyedihkan ini sampai ke pihak penyedia catering,” balas pihak British Airways.

Baca Juga: Singapore Airlines Pertimbangkan Sajian Makanan ‘On Demand’ di Kelas Bisnis

Lagi, Carolyn ingin memastikan bahwa British Airways akan segera menindaklanjuti kasus ini kepada pihak catering.

“Tolong beri tahu pihak catering bahwa kami (penumpang) bukanlah kelinci. Kami suka makanan yang lezat! Dan kami lebih memilih puding yang ketimbang buah melon sebagai makanan penutup,”

Toyota Motor Europe dan CaetanoBus Siap Luncurkan Bus Bertenaga Hidrogen

Manufaktur otomobil asal Benua Biru Toyota Motor Europe dan CaetanoBus dikabarkan baru saja meluncurkan bus kota baru yang hadir dengan menggunakan teknologi bahan bakar dari Toyota pada pagelaran Busworld 2019 di Brussels. Pihak Toyota mengatakan bahwa bus bertenaga bahan bakar hidrogen bernama H2.City Gold tersebut akan mulai diproduksi di Portugal pada tahun 2020 mendatang.

Baca Juga: Bus Tingkat Bertenaga Hidrogen Meriahkan Asian Games 2018

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman autocarpro.in (21/10), adapun pihak Toyota Motor Europe dan CaetanoBus telah mengembangkan bus ini sejak tahun 2018 silam, sembari menunjukkan kemampuan adaptasi yang baik dari teknologi bahan bakar hidrogen yang dikembangkan oleh Toyota. Penggunaan bahan bakar hidrogen yang dipasang Toyota pada bagian atap bus ini akan memungkinkan bus menempuh jarak sejauh 400km – tergantung pada siklus pemakaian hingga penggunaan AC).

Toyota menempatkan lima tangki hidrogen di atap kendaraan, dimana kelimanya ini memberikan total kapasitas hidrogen hingga mencapai 37,5kg dan itu akan menjamin pengoperasian bus dari Toyota Motor Europe da CaetanoBus yang bebas emisi dan tentu saja ramah lingkungan – adapun satu-satunya emisi yang dihasilkan oleh H2.City Gold ini adalah uap air. Menurut pihak Toyota, bus ini akan terus dikembangkan dan melakukan serangkaian uji coba sebelum pada akhirnya memasuki masa komersialisasi pada pertengahan tahun 2020 mendatang.

“Sesuai dengan visi kami, dimana kami akan terus mengembangkan kendaraan bebas emisi tidak hanya pada kendaraan penumpang saja, melainkan juga pada kendaraan berbobot besar seperti bus, truk, forklift, dan truk kecil,” ujar salah satu eksekutif yang ada di Toyota Motor Europe.

“CaetanoBus merupakan mitra yang ideal untuk memulai pengembangan kegiatan penjualan powertrain kami di Eropa. Saya berharap dapat menerima umpan balik pasar dari inisiatif ini dan perluasan bisnis pasokan teknologi sel bahan bakar hidrogen kami,” ujar CEO dari Toyota Motor Europe, Dr Johan van Zyl.

Seperti yang sudah diketahui bersama, ini bukanlah kali pertama Toyota Motor Europe bekerja sama dengan CaetanoBus – melainkan hubungan ini sudah terjalin cukup lama, sehingga tidak lah sulit bagi kedua perusahaan ini untuk saling menyatukan visi dan mengembangkan H2.City Gold.

Baca Juga: Palembang Dapat Bantuan Mobil Listrik Hidrogen, Ini Dia Bedanya dengan Mobil Listrik Biasa!

“Kami sudah berhubungan dengan Toyota dalam waktu yang cukup lama, dan dengan hadirnya proyek H2.City Gold ini, diharapkan kota-kota besar yang ada di Eropa bisa kembali memikirkan soal mobilitas di masa yang akan datang yang tidak mengesampingkan kualitas hidup masyarakatnya,” tutur presiden dari Salvador Caetano Industria, Jose Ramos.

Setelah Hadir di Bandara Taipei dan Munich, Kini Robot Pepper ‘Melayani’ Bandara Christchurch

Tentu belum hilang dalam ingatan,  bagaimana sadisnya penembakan brutal di Christchurch, Selandia Baru yang dilakukan oleh Brenton Tarrant yang diduga mengidap islamofobia. Kejadian yang terjadi pada tangga 15 Maret 2019 ini setidaknya memakan korban jiwa hingga 50 orang dan korban luka hingga 50 orang.

Baca Juga: Bandara Munich Gandeng Lufthansa Hadirkan Robot Humanoid Untuk Bantu Penumpang

Kini kondisi Christchurch sendiri sudah mulai kondusif, malah berangsur membaik, termasuk kembali bersinar sebagai salah satu kota tujuan wisata di Selandia Baru – ini tampak dari Bandara Christchurch yang mulai memperkenalkan teknologi robotika yang siap membantu setiap penumpangnya. Adapun robot humanoid atau yang menyerupai manusia ini juga sejatinya telah digunakan di Bandara Munich, Jerman dan maskapai Eva Air di Bandara Taipei, Taiwan untuk membantu penumpangnya untuk check-in.

Adalah Pepper Robot, yang kini kebagian tugas untuk membantu akomodasi penumpang di Bandara Christchurch dikabarkan sudah menjalani uji coba dan satu diantara tiga robot ini sudah mulai beroperasi secara komersial.

Kami mempertimbangkan apakah sistem robotika mampu bersanding dengan kinerja manusia untuk menangani penumpang atau tidak,” ujar Airport Chief Executive, Malcolm Johns, seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman internationalairportreview.com (14/10).

Kami tertarik untuk melihat apa yang orang pikirkan dan rasakan tentang berinteraksi dengan robot dan informasi apa yang mereka dapatkan,” sambungnya.

Baca Juga: Pepper Robot, Bantu Check In Penumpang Eva Air

Hadirnya teknologi robotika di bandara tentu akan menjadi penyegar bagi siapapun yang sudah muak tersesat di bandara, atau mereka yang sudah lelah mengantre di konter check-in. Tidak hanya diperuntukkan dalam jangka waktu pendek, para peneliti di luar sana berasumsi bahwa teknologi semacam ini akan berguna bagi bandara hingga 10-20 tahun mendatang – tentu saja dibareng dengan sejumlah upgrade yang akan menambah kegunaan dari robot tersebut.

Terhitung sejak tanggal 14 Oktober kemarin, robot Pepper secara resmi beroperasi di Bandara Christchurch mulai Senin sampai Jumat dalam beberapa jam saja.

Bila di Udara ada Air Navigation Charges, maka di Laut ada Traffic Separation Scheme

Bila dalam dunia dirgantara dikenal istilah Air Navigation Charges, yaitu skemayang mengatur tentang arus perjalanan suatu penerbangan di ruang udara negara lain. Persisnya setiap pesawat harus tunduk terhadap arahan dari masing-masing ATC (Air Traffic Control) yang ada di setiap negara ketika melintasinya. Ada juga biaya “service” yang dikenakan kepada setiap penerbangan yang melintasi ruang udara suatu negara. Tapi, bukan hanya pesawat saja yang harus tunduk pada arahan dari ATC, pun halnya dengan kapal laut yang juga harus tunduk pada TSS selama melakukan navigasi pelayaran.

Baca Juga: “Air Navigation Charges,” Biaya Jasa Navigasi ATC Saat Pesawat Melintas di Suatu Negara

Nah, mungkin sebagian dari Anda akan bertanya-tanya, “Apa sih TSS itu? Apakah penting bagi kelautan Indonesia?”

Merujuk pada definisinya, TSS atau Traffic Separation Scheme merupakan sistem rute manajemen lalu lintas maritim yang pengaturannya berada di bawah International Maritime Organization (IMO). Jalur lalu lintas maritim ini menunjukkan arah umum kapal di zona terkait dan semua kapa yang berada di bawah navigasi dari TSS semuanya berlayar ke arah yang sama (beraturan).

Adapun penerapan dari TSS ini akan berdampak pada:
1. Membantu mengurangi dan mengelola lalu lintas di arus lalu lintas yang berlawanan,
2. Membantu pengelolaan kapal yang hendak masuk atau keluar dari area pelabuhan,
3. Arahan tentang jarak aman antar kapal,
4. Menyediakan rute untuk deep draught vessels, dan lain sebagainya.

Selain mengatur tentang arus lalu lintas kapal, TSS ini juga turut memberikan pedoman terkait kapal yang hendak melintas memotong jalur yang sudah ada. Menurut aturan TSS yang ada di laman wikipedia, setidaknya kapal yang hendak melintas ini membuat sudut 90 derajat layanya zebra cross yang ada di jalanan.

Hadirnya skema lalu lintas maritim semacam ini lantaran adanya peningkatan dari jumlah modanya itu sendiri. Jikalau tidak diatur dengan sedemikian rupa, maka tak pelak kekacauan di jalur laut akan siap mengancam. Poin dari hadirnya TSS adalah menjamin keamanan dan keselamatan dalam lalu lintas pelayaran.

Baca Juga: Tahun 2020, Roller Coaster Hadir di Kapal Pesiar Untuk Jelajahi Laut

Saat ini TSS telah hadir di Selat Sunda dan Selat Malaka, mirip dengan Air Navigation Chargers, setiap kapal yang melewat zona TSS juga berkewajiban membayar biaya jasa pelayanan panduan pelayaran, sesuai peraturan, besarnya biaya jasa TSS ditetapkan dari bobot tonase kapal.

Ancam Batalkan Visa, Australia Perketat Pengamanan Biosekuriti di Bandara Sydney

Pejabat di Bandara Internasional Sydney dikabarkan telah menerapkan regulasi baru untuk membatalkan visa penumpang jika ditemukan pelanggaran biosekuriti yang serius. Menteri Pertanian Australia, Bridget McKenzie, mengatakan dengan diterapkannya regulasi ini akan menunjukkan bahwa Australia tidak akan mentolerir siapapun yang punya niatan untuk membahayakan lingkungan, industri, ekonomi dan cara hidup mereka.

Baca Juga: Ikuti Tahapan Ini, Proses Check In dan Pemeriksaan Keamanan di Bandara Bakal Mulus

“Ancaman biosekuriti yang dihadapi negara kita adalah nyata dan dapat menghancurkan semua warga Australia,” kata Menteri Bridget, dikutip KabarPenumpang.com dari laman nationalhogfarmer.com (15/10).

“Kami memiliki penyakit signifikan seperti African Swine Fever (demam babi Afrika) di ambang ‘pintu’ kami, dan salah satu cara agar penyakit ini tidak merambah di Australia adalah dengan cara mencegah mereka via pemeriksaan biosekuriti,” sambungnya.

Menter Bridget menambahkan bahwa salah satu kasus pembatalan visa karena ditemukannya masalah biosekuriti adalah salah satu penumpang asal Vietnam kedapatan menyelundupkan 4,5 kg daging babi di dalam kopernya. Dikhawatirkan, penyelundupan daging semacam ini akan membuka jalur bagi African Swine Fewer untuk berkembang di Australia.

“Masuknya penyakit semacam African Swine Fever ini ke Australia tentu akan memukul industri daging babi yang ada di sini, dimana masuknya penyakit ini juga akan mengancam nasib 36.000 pekerja yang bergantung pada mata pencahariannya di sektor ini,” tambah Menteri Bridget.

Meningkatnya pengawasan di garis perbatasan Australia memang terkesan menambah ribet bagi siapapun yang hendak menyambangi negara berjuluk Negeri Kangguru tersebut. Namun jika ditinjau lebih mendalam, hadirnya penambahan regulasi seperti ini akan membawa dampak baik bagi negara terkait, dimana ancaman dari luar – khususnya penyakit akan menjadi sedikit ter-filter dan tidak bisa dengan mudah masuk via jalur udara.

Baca Juga: Ben Gurion, Bandara Paling Aman dengan Standar Keamanan Tertinggi di Dunia

“Memastikan perbatasan yang kuat berarti memastikan sistem biosekuriti yang kuat untuk melindungi reputasi perdagangan internasional kami sebagai pemasok utama makanan yang aman, sehat, dan berkualitas tinggi,” ujar Menteri Bridget.

Ia menambahkan, jika ada penumpang yang terjaring pemberlakuan dari regulasi baru ini, maka si penumpang tersebut akan dicekal untuk masuk ke Australia selama tiga tahun lamanya.

Beihang BZK-005, Inilah Alasan Garuda Indonesia Pilih Drone Kargo Buatan Cina

Jika tiada aral melintang, pada Januari 2020, Garuda Indonesia akan memulai fase uji coba drone kargo BZK-005 besutan Beihang, Cina. Dalam periode tiga bulan, hingga Maret 2020, rencananya dua unit drone BZK-005 bakal didatangkan dari Cina untuk fase uji coba, yang kabarnya akan mengambil lokasi di wilayah Nanggroe Aceh Darussalam.

Baca juga: Fokus di Wilayah Sulawesi, Maluku dan Papua, Inilah Tantangan Operasional Drone Kargo Garuda Indonesia

Bagi sebagian orang, muncul pertanyaan, mengapa Garuda Indonesia justru mengakuisisi drone dari Cina? Kepada KabarPenumpang.com, Direktur Kargo dan Pengembangan Garuda Indonesia Muhammad Iqbal dalam diskusi Forum Wartawan Perhubungan (Forwahub) menjelaskan, bahwa sejatinya ada tiga negara yang menjadi survei dan pertimbangan dalam proses akuisisi drone kargo.

“Pertama adalah Amerika Serikat (AS), namun AS tidak memberikan akses atas rencana akuisisi drone jenis ini. Kemudian ada Israel, meski teknologi Israel sangat maju, namun membeli drone dari Israel jelas dapat memicu masalah di dalam negeri. Dan pilihan lantas jatuh kepada Cina, yang memang sudah tergolong maju dalam adopsi teknologi drone,” ujar Muhammad Iqbal yang hari ini (22/10/2019) menjadi pembicara dalam diskusi bertajuk “Menata Drone di Langit Pertiwi: Potensi dan Penerapannya sebagai Angkutan Logistik Udara Nasional” di Jakarta.

Harbin BZK-005. Sumber: Wikipedia

Iqbal menambahkan, sampai saat ini drone (kargo) belum ada yang mencapai tahapan komersial penuh, semua yang beredar di luar negeri juga masih berstatus uji coba. Pun begitu halnya dengan BZK-005 yang masih dalam status menanti sertifikasi dari Civil Aviation Administration of China (CAAC). Untuk itu, uji coba pada Januari 2020 di Aceh juga akan melibatkan asistensi penuh dari pihak manufaktur.

Menurut rencana, implementasi komersial drone kargo BZK-005 akan dimulai pada tahun 2021. Selain sertifikasi kelayakan dari CAAC, sudah barang tentu juga dibutuhkan sertifikasi serupa dari otoritas penerbangan di Indonesia.

Dalam roadmap-nya, Iqbal menjelaskan Garuda Indonesia akan mendatangkan 100 unit drone kargo BZK-005 dan 50 unit drone kargo VTOL (Vertical Take-Off Landing). “Khusus untuk pesanan BZK-005, kami sudah melakukan pembicaraan dengan pihak PT Dirgantara Indonesia, dimana besar harapan nantinya drone ini dapat diproduksi di dalam negeri,” tambah Iqbal.

Dengan beroperasinya drone kargo, Garuda Indonesia memastikan biaya jasa kargo nantinya dapat turun hingga 30 persen. Dalam fase uji coba di Januari 2020, drone BZK-005 akan membawa payload seberat 500 kg, sementara kapasitas kargo maksimal yang dapat digotong mencapai 1.200 kg.

Baca juga: ‘Belanja’ ke Cina, Garuda Indonesia Datangkan Drone Untuk Angkutan Kargo

Di Cina sendiri, BZK-005 sudah berstatus operasional, namun bukan sebagai drone kargo, melainkan sebagai drone intai militer. Bahkan militer Cina mengerahkan drone jenis ini untuk meronda di kawasan Laut Cina Selatan.

Dari spesifikasi, BZK-005 mampu terbang dengan jarak maksimal hingga 1.200 km pada ketinggian 5.000 meter. Adapun, waktu terbang maksimal selama 4–5 jam dengan kecepatan hingga 300 km per jam. Pihak Garuda Indonesia berargumen, BZK-005 hanya butuh panjang landasan 600 meter dan dapat beroperasi di landasan rumput sekalipun.