Kurangi Polusi dan Kemacetan, Trem Jadi Solusi di Inggris

Udara kota besar yang semakin hari dipenuhi polusi akibat emisi pembuangan dari knalpot kendaraan maupun pabrik, membuat udara tidak sehat. Untuk mengembalikan ini moda transportasi seperti trem memiliki peluang dalam penyeimbangan kualitas udara dan perekonomian suatu daerah serta mengurangi kemacetan.

Baca juga: Hindari Tabrak Motor, Pengemudi Trem ini “Lempar” Beberapa Penumpang

Transport for the North (TfN) bisa menghadirkan trem untuk masuk dalam bagian dari proposal Rail North. Di mana dalam proposal tersebut juga harus menyertakan light rail dan tramways dengan masing-masing moda menyediakan layanan optimal dalam berbagai arus lalu lintas.

Persyaratan penting adalah integrasi penuh moda seperti pertukaran dan tiket yang memungkinkan perjalan tanpa batas ke dan di dalam daerah Barat Laut. Dilansir KabarPenumpang.com dari airqualitynews.com (11/10/2019), trem dan kereta ringan harus membuat komponen penting dari penyediaan transportasi umum terutama untuk terkoneksi di Timur dengan Manchester Metrolink hingga dari West ke Cheshire dan Liverpool.

Nantinya ini akan memenuhi peran yang sama dengan London Underground yang merupakan basis konektivitas dan pertumbuhan yang sangat baik. Bisa dikatakan kereta ringan atau trem merupakan pendatang yang relatif baru di dunia angkutan massal dan berbeda dengan kereta biasa atau bawah tanah yang membutuhkan waktu lama dalam pembangunan serta menghabiskan biaya banyak.

Moda baru ini menggunakan kereta yang fleksibel dibanding kereta konvensional dan memiliki kemampuan mengular di jalanan. Kereta ringan bisa berhenti jauh lebih cepat sehingga bisa beroperasi sesuai mode penglihatan tanpa persyaratan persinyalan utama.

Saat ini UKTram Ultra Light Group menawarkan harga £5 juta per kilometer lintasan termasuk depo, kendaraan dan Trem Coventry yang dipasang saat ini sekitar £3 juta per kilometer lintasan. Trem sendiri dianggap sebagai cara yang efisien untuk memindahkan sejumlah besar orang di kota dengan dua ribu hingga 18 ribu penumpang per jam.

Ini sudah memiliki catatan yang terbukti menarik para pengguna kendaraan pribadi berpindah ke trem di jam sibuk sekitar 27 persen. Trem sendiri merupakan kendaraan listrik yang tidak menghasilkan polisi dan dapat menggunakan listrik hijau yang diproduksi secara lokal dan jalurnya membuat berbagai kawasan dengan pejalan kaki menjadi pilihan yang aman.

Dengan demikian, kawasan pejalan kaki dengan trem dapat menyediakan akses ke area pusat kota di mana bus dan mobil akan mengganggu. Bagian penting dari keberhasilan sistem apa pun adalah demonstrasi bahwa mengubah gaya hidup orang menjauh dari mobil pribadi bermanfaat besar bagi mereka dan lingkungan.

Dalam beberapa situasi, di mana sistem trem konvensional tidak sesuai, light rail menengah dapat dipertimbangkan. Ada beberapa jalur bekas dan ringan digunakan di Salford, Eccles dan Warrington yang harus dimasukkan dalam rencana Rail North mengambil keuntungan dari konstruksi berbiaya rendah yang dikembangkan termasuk TremTrain.

Baca juga: Joint Venture Rusia Kembangkan Trem Otonom Guna Minimalisir Human Error

Kendaraan light rail menengah dapat menjadi TremTrain yang dapat berjalan di jalur kereta utama tetapi memiliki beberapa karakteristik kendaraan light rail. Biasanya, mereka akan memiliki ketinggian permukaan 950 mm untuk memberikan akses level pada platform Railtrack standar dan fleksibilitas untuk platform level jalan, rem track magnetik dan balancing, yang mampu berjalan secara berhadapan, bekerja bersama dengan kereta konvensional dan membebaskan kapasitas di stasiun utama.

Setelah Persiapan Ekstra, Qantas Sukses Lakoni Penerbangan Non-Stop Sydney-New York

Mungkin beberapa dari Anda masih ingat dengan rencana maskapai asal Australia, Qantas yang akan melakoni perjalanan antar benua non-stop terjauh, yaitu dari Sydney menuju New York. Menurut pihak maskapai, penerbangan itu akan memakan waktu selama 20 jam di udara – hampir seharian penuh. Mengingat ini merupakan hal yang cukup ekstrem, maka diperlukan persiapan yang amat matang, tidak hanya dari pilot melainkan juga dari segi penumpangnya.

Baca Juga: “Sunrise Project,” Qantas Bakal Sabet Gelar Penerbangan Langsung Terlama di Dunia

Kesiapan Pilot
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman cnbc.com (18/10), pilot Qantas yang nantinya mengoperasikan rute jarak jauh ini akan terlebih dahulu diambil sampel urinnya dan mengenakan alat pemantau kinerja otak guna menguji tingkat kelelahan. Memang, di udara, pilot akan mengaktifkan sistem auto-pilot untuk menjalankan moda yang mereka kemudikan – namun tetap saja mereka harus tetap memasang fokus selama 20 jam waktu perjalanan untuk berkomunikasi dengan menara pemantau (ATC) hingga mengecek pesawat selama berkalana di angkasa (apakah semua fungsi di pesawat beroperasi secara normal atau tidak).

Kesiapan Penumpang
Sementara untuk penumpang, sebuah studi yang dilakukan oleh peneliti di University of Sydney Charles Perkins Center yang menyebutkan bahwa dari 500 penumpang yang sudah pernah bepergian dengan Qantas selama lebih dari sembilan jam penerbangan (dalam sekali perjalanan), menemukan bahwa sekitar 54 persen dari mereka akan mengenakan headset untuk mereduksi kebisingan dari mesin, 38 persen meminum alkohol, dan 10 persen sisanya menenggak obat tidur. Namun ini semua dinilai kurang baik untuk dilakukan, mengingat mereka akan mengidap dehidrasi dan memperparah efek jet lag yang dirasakan.

Baca Juga: Di Penerbangan Jarak Jauh, Qantas Canangkan Sensasi Bersepeda dan Relaksasi Lewat Virtual Reality

Penerbangan Ultra-Long Haul
Kendati ada banyak hal yang mesti dipersiapkan sebelum terbang bersama The Flying Kangaroo dalam rute penerbangan super jauh ini, namun pihak maskapai telah sukses menghubungkan jarak 16.200km yang terbentang antara Sydney dan New York beberapa hari ke belakang, dimana penerbangan yang total memakan waktu perjalanan 19 jam 16 menit ini memboyong 49 penumpang saja dengan menggunakan Boeing 787-9 Dreamliner. Hal ini diketahui dari unggahan @instagramaviation pada 21 Oktober 2019 di jejaring sosial Instagram.

Sybil Peacock, Eks Pramugari Delta Air Lines Wafat di Usia 103 Tahun

Sebagian dari Anda mungkin masih ingat dengan Sybil Peacock Harmon, ia adalah pramugari Delta Air Lines yang pertama kali mengudara bersama maskapai asal Amerika Serikat ini pada tahun 1940, kini dikabarkan telah tutup usia. Ya, Sybil meninggal di usianya yang ke 103 tahun – padahal di ulang tahunnya yang ke-102, pihak Delta Air Lines masih merayakan pramugari yang pernah mengabdi selama tiga tahun ini.

Baca Juga: Capai Usia 102 Tahun, Delta Airlines Rayakan Ulang Tahun Pramugari Pertamanya!

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman southernliving.com (16/10), wanita kelahiran Minden, Louisiana, pada 9 Juli 1916 ini sebelumnya sempat mengenyam bangku pendidikan di sekolah keperawatan. Hingga kelak umurnya menyentuh angka 24 tahun, ia ditarik oleh pihak maskapai menjadi salah satu awak kabin pertama dari Delta Air Lines.

“Terbang itu istimewa bagiku karena aku bisa pergi ke berbagai tempat,” ujar Sybil ketika merayakan ulang tahunnya yang ke-102 bersama Delta.

Menjadi pramugari, bagi Sybil pribadi merupakan sebuah kebanggaan yang tidak tertandingi kala itu. Semua orang seolah menganggap mereka adalah seorang pahlawan, terutama anak-anak di bandara yang sampai-sampai bergerombol menghampirinya untuk meminta tanda tangan.

“Anak-anak yang ada di bandara akan berteriak pada kami (pramugari – sebutan awak kabin kala itu), berlari menuju kami, dan meminta tanda tangan. Kami merasa seperti seorang selebriti,” kenang Sybil di ulang tahunnya yang ke-102.

Ketika masih mengabdi kepada Delta Air Lines, Sybil beroperasi di pesawat DC-3 Dakota yang berkapasitas 21 penumpang. Jasa yang telah dilakukan oleh Sybil kepada Delta Air Lines memang tidak bisa dipandang sebelah mata – bahkan pada pihak maskapai masih menganggap Sybil sebagai bagian dari keluarga besar Delta Air Lines.

Sybil adalah anggota keluarga Delta yang dicintai yang meninggalkan jejaknya sebagai anggota pramugari kelas satu kami, dan kami sangat sedih mendengar kabar bahwa Sybil telah meninggalkan kami semua,” ujar pihak Delta dalam sebuah pernyataan.

Baca Juga: Vesna Vulovic – Pramugari Selamat dari Ledakan Pesawat di Ketinggian 10.000 Meter

Tidak ada yang menyangka bahwa pertemuan pihak Delta Air Lines pada perayaan ulang tahun Sybil yang ke-102 (tahun lalu) merupakan pertemuan terakhir mereka dengan sang awak kabin DC-3. Kendati sudah berpulang, namun pihak maskapai dan keluarga tidak akan pernah melupakan jasa Sybil semasa hidupnya.

Selamat jalan, Sybil Peacock Harmon!

Trafik Padat di Bandara Halim, Boeing 737 NG Batik Air Terpaksa ‘Divert’ ke Bandara Soetta

Setiap berita yang terkait Boeing 737 NG kini mendapat respon cepat dari netizen, seperti yang terjadi kemarin, Minggu, 20 Oktober 2019 saat momen pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih, diwartakan Boeing 737-800 NG PK-LBY milik Batik Air dengan nomor penerbangan ID-7540 rute Bandar Adisutjipto, Yogyakarta menuju Bandara Halim Perdanakusuma, terpaksa dialihkan pendaratannya ke Bandara Soekarno-Hatta.

Baca juga: Ada Keretakan di Boeing 737 NG, Kembali Ingatkan “Teori Habibie”

Danang Mandala Prihantoro, Corporate Communications Strategic Lion Air Group dalam pesan tertulis menyebutkan, bahwa pilot melakukan persiapan pendaratan sesuai standar operasional prosedur (SOP), namun mendapat informasi dari pengatur lalu lintas udara Bandara Halim Perdanakusma masih terdapat kepadatan di bandara sehingga pesawat harus berputar (holding), lebih dari satu jam.

Lamanya waktu tunggu hingga satu jam tentu membawa konsekuensi tersendiri, dalam memastikan keselamatan dan keamanan penerbangan (safety first), lantas pilot memutuskan untuk melakukan pengalihan pendaratan (divert) ke Bandara Soekarno-Hatta. Keputusan tersebut adalah sudah sesuai prosedur operasional.

Akhirnya, pesawat mendarat secara normal di Bandara Soekarno-Hatta pada pukul 18.55 WIB. Sesaat setelah mendarat dan posisi pesawat sudah sempurna di landas parkir, seluruh tamu diarahkan dan dibawa menuju ruang tunggu keberangkatan, guna mendapatkan informasi lebih lanjut.

Sesuai dengan prosedur setiap pesawat yang akan diterbangkan kembali adalah kewajiban pilot yang akan menerbangkannnya untuk melakukan pengecekan penggantian salah satu ban pesawat yang diluar jadwal penggantian dan membutuhkan pengerjaan kurang lebih 30 menit. Keputusan tersebut dilakukan untuk memastikan keamanan dan keselematan penerbangan selanjutnya.

Baca juga: Boeing 737 NG Garuda dan Sriwijaya Air ‘Terjangkit’ Crack, Kemenhub Siap Gelar Inspeksi

Kemudian Boeing 737-800 NG registrasi PK-LBY diterbangkan ke Halim Perdanakusuma pukul 20.45 WIB, tanpa membawa tamu. Lamanya waktu tunggu di Bandara Halim Perdanakusuma pada 20 Oktober kemarin diduga karena padatnya lalu lintas penerbangan tamu-tamu negara dan VVIP yang turut menghadiri Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden.

Pertama di Asia Pasifik, Bandara Ahmad Yani Hadirkan Ruang Multisensori untuk Anak Penderita Autisme

PT Angkasa Pura I selaku pengelola Bandara Ahmad Yani menghadirkan ruang multisensori pertama di bandara di Indonesia dan bahkan di Asia Pasifik. Fasilitas yang disediakan untuk anak berkebutuhan khusus utamanya autisme merupakan terobosan dan inovasi dari untuk memberikan pelayanan terbaik kepada seluruh pengguna jasa bandara, tidak terkecuali bagi penumpang berkebutuhan khusus.

Baca juga: Aplikasi “Access Houston Airports,” Bantu Penumpang dengan Anak Cacat dan Autisme

Fasilitas serupa ruang multisensori ini setidaknya ada di enam bandara utama Eropa dan Amerika, seperti di Heathrow International Airport (Inggris), Shannon International Airport (Irlandia), Pittshburg International Airport (Rusia), Hartsfield-Jackson Atlanta International Airport (AS), Lehigh Valley International Airport (AS), dan Birmingham-Shuttlesworth International Airport (AS).

“Hadirnya ruang multisensori ini merupakan salah satu komitmen kami dalam memberikan suatu pengalaman yang bernilai kepada seluruh pengguna jasa, tak terkecuali kepada penumpang yang memiliki anak dengan autisme agar dapat merasa tenang, aman, dan nyaman sebelum berpergian dengan pesawat udara, khususnya di tengah situasi bandara yang sibuk,” ujar Direktur Utama Angkasa Pura I Faik Fahmi dalam siaran pers (21/10/2019).

Ruang multisensori ini didesain agar dapat memberikan stimuli yang menenangkan, mengatasi ketegangan, dan mengurangi perilaku temper tantrum pada anak dengan autisme. Ruangan ini memiliki 2 tipe kegunaan dengan mengubahnya menjadi ruangan putih (white room) dan ruangan gelap (black room). White room berguna untuk menciptakan rasa aman, santai, dan memberikan sensasi nyaman kepada anak dengan autisme. Sementara black room berguna untuk memfasilitasi pemahaman anak dengan autisme terhadap lingkungan sekitar dan pemahaman mengenai hubungan sebab-akibat.

Memiliki luas 3,6 x 10 meter, ruang multisensori terletak di area ruang tunggu keberangkatan domestik Bandara Jenderal Ahmad Yani. Berbagai fasilitas seperti matras pada lantai dan dinding ruangan, bola gym, bean bag, aqua tube (tabung gelembung akuatik), lampu LED yang bisa berubah warna, laser finger, papan vestibular, dan lain-lain tersedia di dalamnya.

Baca juga: Bawa Anak Autis Dalam Penerbangan? Ini Dia Tipsnya!

“Kami berharap keberadaan ruang multisensori ini dapat digunakan sebaik mungkin dan memberikan banyak manfaat bagi pengguna jasa, khususnya orang tua yang bepergian bersama anak dengan autisme. Ke depan, kami berencana menghadirkan ruang multisensori ini di seluruh bandara yang kami kelola,” jelas Faik Fahmi.

Ada Aplikasi ‘Cari Jodoh’ di Bandara, Patut Dicoba Buat Para Jomblo!

Tentu Anda semua tidak asing lagi dengan aplikasi cari jodoh Tinder, bukan? Atau sampai sekarang Anda masih menjadi seorang pemain Tinder sejati? Kali ini, kita akan membahas tentang aplikasi pencari jodoh yang mungkin bisa Anda terapkan ketika hendak melakukan perjalanan udara. Ya, hal ini ditunjang dengan studi yang dilakukan oleh HSBC, dimana 1 dari 50 penumpang bertemu dengan pasangan mereka di dalam penerbangan mereka.

Baca Juga: Hadapi Delay di Bandara, Anda Bisa ‘Survive’ Tanpa Smartphone

Tidak heran jika sejumlah orang kreatif di luar sana mulai mengupayakan untuk menciptakan aplikasi pencari jodoh yang bisa Anda gunakan di bandara. Nah, bagi Anda semua yang masih lajang, tidak ada salahnya untuk mencoba aplikasi di bawah ini. Berikut KabarPenumpang.com sarikan beberapa aplikasi cari jodoh di bandara, dikutip dari laman fodors.com.

Inflighto
Aplikasi ini dibuat oleh seorang frequent flyer yang menemukan pasangan hidupnya di penerbangan. Seolah ingin mencoba peruntungan hidupnya terhadap orang lain, akhirnya ia membuat aplikasi cari jodoh di atas ketinggian 35.000 kaki. Tidak hanya menyediakan fitur chat, tapi Inflighto juga menampilkan fitur lain, seperti real-time maps hingga radar cuaca.

Inflighto melacak semua rencana perjalanan komersial dan menciptakan ruang obrolan khusus antara penumpang dan kru untuk setiap penerbangan individu. Aplikasi ini tidak memerlukan informasi login pribadi, sehingga penumpang dapat tetap anonim.

Happn
Di aplikasi ini, Anda bisa bertemu dengan ‘calon pendamping hidup’ dalam jarak yang cukup dekat. Sebenarnya sistem ini hampir sama seperti aplikasi pencari jodoh yang lain, dimana Anda bisa dengan leluasa mengubah jangkauan pencarian pengguna lain. Fakta unik yang ada di aplikasi ini adalah, data yang ada di Happn menyebutkan bahwa banyak pelancong yang menemukan ‘calon pendamping hidup’ mereka di Bandara Schipol Amsterdam, Bandara Ataruk Istanbul, Bandara Heathrow London, dan Bandara Changi Singapura.

Baca Juga: Enam Kereta dengan Perjalanan Paling Romantis Bersama Pasangan

Bumble
Sejatinya aplikasi ini telah mengalami perkembangan yang cukup signifikan, dimana Anda tidak hanya bisa mencari teman dalam urusan percintaan saja, melainkan juga hanya sekedar teman mengobrol hingga membuka jaringan bisnis baru. Ada banyak orang yang sudah merasakan keuntungan dari Bumble, salah satunya adalah seorang penumpang yang berhasil melakukan kencan di sebuah restoran cepat saji dengan seorang pilot.

Ya, urusan jodoh memang tidak ada yang tahu!

Mercedes-Benz “Car-to-X,” Teknologi Keselamatan Berkendara Berbasis Connected Car

Manufaktur otomotif asal Jerman, Mercedes-Benz kabarnya akan menguji sistem komunikasi Car-to-X di jalanan yang tertutup oleh salju. Tidak lain, hadirnya teknologi mutakhir seperti ini akan meningkatkan teknologi connected car di masa yang akan datang. Sebagai informasi awal, teknologi Car-to-X merupakan teknologi komunikasi antar kendaraan dan infrastruktur transportasi yang menggunakan sensor onboard seperti radar, kamera, dan lain sebagainya.

Baca Juga: Mercedes-Benz Urbanetic, Solusi Berkendara Multifungsi dari Masa Depan

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman indiatimes.com (12/10), pihak Mercedes-Benz sendiri telah berkutat dalam pemutakhiran teknologi Car-to-X ini selama lebih dari satu dekade – dan kini pihak perusahaan siap untuk menguji coba apa yang telah mereka perjuangkan pada musim dingin mendatang. Adapun rencananya penguji-cobaan teknologi Car-to-X ini akan bertempat di distrik Zollernalb, Baden-Württemberg, Jerman.

Guna melancarkan uji coba, nantinya salah satu mobil Mercedes-Benz akan disematkan dengan teknologi Car-to-X, dan pengemudinya sudah terlebih dahulu mengaktifkan aplikasi Live Traffic Service, dimana aplikasi ini akan memberikan data-data yang diperlukan selama uji coba. Nantinya, sensor di atas kendaraan akan mengenali kondisi jalan yang licin dan mengirim informasi termasuk data GPS (Global Positioning System) ke Daimler Vehicle Backend secara real-time, menggunakan jaringan radio seluler.

“Lalu informasi tersebut nantinya juga akan ditampilkan pada peta digital di dua depot pemeliharaan jalan distrik Zollernalb secara real-time,” ujar pihak Mercedes-Benz.

“Pada fase lanjutan nanti, kendaraan layanan publik seperti mobil polisi juga akan menjadi ‘kelinci percobaan’ dalam uji coba ini,” sambungnya.

Seperti yang sudah diinformasikan oleh pihak produsen mobil, bahwasanya proyek percontohan ini akan dimulai ada Januari 2020 dan akan terus berlanjut hingga akhir musim dingin.

Baca Juga: Mercedes Benz Pamerkan Desain Moda Futuristik yang Mampu Angkut Penumpang dan Kargo

“Dengan fungsi Car-to-X, kita dapat meningkatkan keselamatan dalam berbagai situasi mengemudi,” ujar Michael Hafner, Head of Driving Technologies and Automated Driving di Daimler AG.

“Ini berkat integrasi mulus dari sistem Car-to-X ke dalam sistem mobil penumpang Mercedes-Benz yang dapat secara otomatis mendeteksi bahaya yang berbeda seperti jalan yang licin,” tandasnya.

Lagi! Penumpang Lakukan Travel Hack Guna Pangkas Bobot Bagasi

Anda masih ingat dengan Ryan Carney Williams, yaitu penumpang British Airways yang dicekal mengudara karena menggunakan pakaian berlapis sebagai upayanya untuk mereduksi biaya bagasi? Ya, upaya travel hack-nya dengan menggunakan lapis delapan celana dan 10 atasan sekaligus ini dicekal oleh petugas Bandara Keflavik di Islandia pada awal Januari 2018 silam. Sejatinya, memang tidak ada regulasi yang secara tertulis mengatur tentang travel hack semacam ini, namun kejadian sini sempat menuai sorotan kala itu.

Baca Juga: Kenakan Pakaian Berlapis-Lapis, Pria Ini Dicekal di Bandara Keflavik!

Kali ini, pemberitaan terbaru datang dari Filipina, dimana salah satu penumpang wanita yang hendak mengudara juga melakukan hal yang serupa dengan Ryan. Adalah Gel Rodriguez, seorang penumpang yang hendak bertolak dari Davao City, berinisiatif untuk mengenakan sejumlah baju yang ia bawa guna mengurangi bobot dari koper yang ia bawa. Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman independent.co.uk (18/10), wanita ini setidaknya mengenakan tujuh atasan dan setidaknya tiga celana sekaligus – membuat dirinya seperti orang yang dibebat oleh pakaian.

Setelah Gel sukses melaksanakan travel hack ini, ia lalu mengabadikan momen dimana ia mengenakan pakaian berlapis dan mengunggahnya ke laman Facebook.

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=2430537840357366&set=a.428321277245709&type=3

“Ketika petugas check in counter mengatakan: total bobot yang diijinkan untuk bagasi kabin adalah 7 kg. Saya: Tidak Masalah! #ExcessBaggageChallengeAccepted,” tulis Gel dalam keterangan foto yang diunggahnya ke Facebook.

Sontak, unggahan Gel ini menuai banyak komentar dari warganet. Terbukti, postingan yang diunggah pada tanggal 1 Oktober 2019 ini disukai oleh 33 ribu orang, dikomentari oleh lebih dari 1.000 pengguna Facebook, dan dibagikan lebih dari 20 ribu kali.

Baca Juga: Pakaian Apa yang Selazimnya Dikenakan Penumpang Pesawat?

Beragam tanggapan dari netizen yang menyebutkan bahwa apa yang dilakukan oleh Gel ini memenuhi kolom komentar unggahan tersebut. Tidak sedikit juga dari warganet yang meminta Gel untuk mengulangi aksi uniknya tersebut, namun dengan singkat Gel menjawab, “Mungkin tidak. Karena itu amat sangat panas. Dan saya tidak merekomendasikan itu semua kepada kalian,” balas Gel singkat.

Kemasukan Tikus, Airbus A340 Menteri Keuangan Jerman Pernah “Grounded” di Ngurah Rai

Grounded pada pesawat umumnya harus dilakukan karena memang pesawat sedang dalam proses maintenance atau pesawat sedang mengalami masalah teknis, yang menjadikan si pesawat harus dilakukan pengecekan. Nah, menyangkut grounded karena masalah teknis, tentu ada beragam faktornya, namun tahukah Anda, bahwa pesawat VVIP (Very Very Important Person) Kenegaraan Republik Federal Jerman ternyata pernah mengalami temporary grounded akibat kemasukan tikus yang merusak sistem kabel, dan uniknya TKP (Tempat Kejadian Perkara-red) berada di Bali.

Baca juga: Kenali Dua Jenis “Grounded” di Dunia Dirgantara

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman dpa-international.com, adalah Olaf Scholz, Menteri Keuangan Jerman yang pesawatnya dimasuki oleh sosok terlarang ketika tengah mengunjungi event akbar International Monetary Fund (IMF)-World Bank yang dihelat di Nusa Dua, Bali pada Oktober 2018. Kala itu, Menteri Olaf baru saja menyelesaikan pertemuan akbar tersebut dan hendak bertolak kembali menuju Jerman.

Namun sialnya, Airbus A340 yang diberi nama ‘Konrad Adenauer’ ini malah ‘mogok’ dan tidak bisa mengangkut Menteri Olaf kembali ke Jerman. Setelah pemeriksaan mendalam dilakukan, ternyata petugas menemukan adanya tikus di dalam pesawat yang menggerogoti kabel yang ada di dalam pesawat wide body tersebut. Tentu saja, hal ini sangat jarang sekali terjadi dan dibutuhkan pemeriksaan yang lebih mendetail agar supaya tidak ada hewan pengerat lagi yang tertinggal di dalamnya. Ya, dikhawatirkan tidak hanya ada satu tikus saja yang menggerogoti kabel kelistrikan tersebut.

Mengingat ‘Konrad Adenauer’ yang masih butuh perawatan pasca dimasuki oleh tikus, mau tidak mau Menteri Olaf harus terbang dengan menggunakan pesawat yang berbeda agar bisa sampai di Jerman sesegera mungkin. Akhirnya Menteri Olaf mengajak sejumlah protokolnya dan 20 jurnalis untuk kembali ke Jerman – sementara ‘Konrad Adenauer’ masih berada di Bandara Ngurah Rai untuk proses inspeksi dan perbaikan.

Baca Juga: Buntut “Grounded Berjamaah,” Tiga Maskapai Cina Getok Boeing dengan Minta Kompensasi

Sebulan berselang, tepatnya pada akhir November 2018, ‘Konrad Adenauer’ yang semestinya ditumpangi oleh Kanselir Jerman, Angela Merkel dan Menteri Olaf untuk menghadiri acara pembukaan KTT G20 di Buenos Aires, Argentina mengalami kendala serius pada bagian mesinnya. Akankah kerusakan yang dialami oleh ‘Konrad Adenauer’ ini disebabkan oleh hewan pengerat ketika di Bali tersebut?

Berdiri di Tepi Luar Balkon Kapal Pesiar, Wanita ini Dilarang Naik Kapal Pesiar Selamanya

Awal tahun 2019, seorang pria yang meloncat dari atas balkon kapal pesiar Symphony of the Seas yang dioperasikan oleh Royal Carribean dan menjadi viral di media sosial. Hal ini membuat pria yang saat diamankan luka-luka itu, beserta teman-temannya dilarang untuk berlayar dengan kapal pesiar Royal Carribean selamanya.

Baca juga: Loncat Bebas dari Ketinggian 30 Meter, Penumpang Ini Dilarang Naik Kapal Pesiar Selamanya

Nah, kalau pria muda itu meloncat, beda lagi dengan wanita satu ini,  ia berdiri di tepi luar balkon dan tertangkap kamera penumpang lain. Wanita ini berdiri di tepi balkon kapal pesiar Allure of the Seas yang juga milik Royal Carribean. Dia tengah menggunakan baju renang one piece dengan kedua tangan terangkat ke atas sambil memegang kapal.

Foto ini diambil oleh seorang penumpang lain bernama Peter Blosic dan mempostingnya ke Facebook Royal Carribean Crown & Anchor Society Group. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman cruisepassenger.com.au (17/10/2019), foto tersebut memperlihatkan perliaku yang sangat ceroboh dan berbahaya.

Menurut postingan tersebut, Blosic menghubungi layanan tamu dan wanita itu dicari ke kamar tempatnya menginap. Dalam pelayaran memiliki aturan yang ketat untuk memastikan keselamatan tamu, salah satunya adalah tidak diperbolehkan memanjat pagar, pergi ke tepi balkon ataupun berdiri di pinggiran pagar.

Kebijakan perilaku berbahaya ini, bila dilakukan oleh penumpang di atas kapal pesiar, maka mereka akan dikawal keluar dan dibawa ke pelabuhan. Kemudian diperiksa dan tergantung keparahan pelanggaran yang dilakukan yang bisa membuat penumpang itu masuk dalam daftar hitam atau tidak memperbolehkan mereka untuk ikut pelayaran lagi.

“Awal pekan ini di Allure of the Seas seorang tamu diamati secara ceroboh dan berbahaya berpose untuk foto dengan berdiri di pagar balkon kamarnya dengan bantuan rekannya. Keamanan diberitahu dan para tamu kemudian debarked di Falmouth, Jamaika, sebagai akibat dari tindakan mereka dan sekarang dilarang seumur hidup berlayar dengan Royal Caribbean,” kata Jonathon Fishman, manajer reputasi perusahaan Royal Carribean.

Baca juga: Nikmati Kapal Pesiar Untuk Rayakan HUT Pernikahan Ke-45, Pasangan Ini Malah Dapat Celaka

Kejadian ini terjadi pada 13 Oktober 2019 kemarin dengan keberangkatan kapal dari Fort Lauderdale, Florida sebagai bagian pelayaran ke kawasan Karibia barat selama tujuh hari.