Mampu Menampung 41 Juta Penumpang, Bandara Istanbul Dilengkapi Robot Humanoid

Bandara Istanbul yang dibuka pada Oktober 2018 lalu, kini sudah bisa menampung lebih dari 40 juta penumpang per tahunnya. Sebanyak 252.795 penerbangan baik domestik maupun internasional sudah lepas landas dan mendarat di bandara ini.

Baca juga: Bandara Baru Istanbul Diharapkan Menjadi Aerotropolis

Menteri Transportasi dan Infrastruktur Turki Cahit Turhan mengatakan, setelah dibuka, Bandara Istanbul mengambil alih lalu lintas udara dari Bandara Ataturk utama pada 6 April kemarin. Setelah kehadirannya, Bandara Istanbul bahkan diproyeksi akan menampung 200 juta penumpang setiap tahun dengan kapasitas penuh setelah empat fase dengan enam landasan pacu selesai tahun 2028 mendatang.

Dia menambahkan bahwa pembangunan landasan pacu paralel ketiga yang tersebar di 76,5 juta meter persegi di pantai Laut Hitam Yeniköy dan distrik Akpınar di sisi Eropa Istanbul akan selesai segera. KabarPenumpang.com melansir hurriyetdailynews.com (28/10/2019), bila kedepannya sudah selesai semua, Bandara Istanbul akan diatur menjadi pusat penerbangan global yang mampu menampung lebih dari 100 maskapai dan penerbangan ke lebih dari 300 tujuan di seluruh dunia.

Padahal awal dibukanya bandara ini hanya mampu menangani 11,6 juta penumpang per tahun dan kemudian gedung terminal tambahan diperluas menjadi 41 juta penumpang dengan menghabiskan dana 26 juta Euro. Sebagai catatan, Bandara Sabiha Gokcen yang terletak di sisi Asia telah melayani total 240 juta penumpang sejak diluncurkan pada sepuluh tahun lalu tepatnya 31 Oktober 2009.

Data terbaru dari otoritas bandara DHMİ menunjukkan bahwa antara Januari dan September tahun ini, total 26,7 juta orang menggunakan bandara, menunjuk ke peningkatan tiga persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2018. Tak hanya perluasan bandara, tahun ini diperkirakan mampu menampung 36 juta penumpang, Bandara Istanbul juga menerima robot humanoid untuk membantu penumpang dalam menjelajahi bandara.

Baca juga: Setelah Hadir di Bandara Taipei dan Munich, Kini Robot Pepper ‘Melayani’ Bandara Christchurch

Ada empat robot humanoid yang bisa mengekspresikan diri melalui lengan dan wajah mereka di layar untuk membantu penumpang. Dilengkapi dengan bahasa bilingual, robot ini bisa membantu penumpang dengan memindai tiket mereka untuk melihat stastus penerbangan, petunjuk arah gerbang dan melihat informasi lain dalam Bahasa Inggris dan Turki.

Pilot Southwest Airlines Kedapatan Pasang Kamera CCTV di Toilet Pesawat!

Bagaimana rasanya jika aktivitas Anda di toilet (lavatory)itu diperhatikan oleh orang lain melalui kamera tersembunyi? Wah, tentu saja Anda semua akan murka karena ini tergolong sebagai tindakan terlarang yang melanggar privasi seseorang. Tapi, apa jadinya jika aktivitas Anda ini diamati oleh seorang pilot penerbangan ketika pesawat berada di atas ketinggian? Akankah Anda langsung melabrak sang pengemudi burung besi ini?

Baca Juga: Kamera In-Flight Entertainment, Berbahayakah atau Malah Menguntungkan?

Jawaban dari pertanyaan di atas tentu saja beragam, atau mungkin ada beberapa dari Anda yang melakukan hal seperti yang dilakukan oleh awak kabin yang satu ini. Ya, beberapa waktu ke belakang, seorang pramugari dari maskapai Southwest Airlines menggugat pihak perusahaan dimana kabarnya dua pilot mereka telah menyaksikan aktivitas wanita ini di dalam toilet melalui video live streaming. Adalah Renee Steinaker, korban dari aksi ini, telah mengajukan gugatan di pengadilan di Arizona atas tindakan yang dialaminya ketika Renee sedang dalam perjalanan dari Pittsburgh menuju Phoenix pada Februari 2017 lalu.

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman dailymail.co.uk (28/10), ketika Renee dikonfrontir dengan seorang pilot yang dipercaya ‘menonton’ Renee di dalam toilet, pilot itu lalu mengatakan bahwa ada beberapa kamera tersembunyi yang terpasang di semua armada Southwest Airlines.

Namun tentu saja pernyataan dari pilot tersebut malah berbalik menyerang pihak maskapai, dimana “Jika ini (pernyataan dari pilot) sampai terbongkar ke publik, maka tidak akan ada lagi yang mau naik Southwest,” ujar Renee.

Renee Steinaker. Sumber: abc7.com

Namun dengan cepat pihak maskapai melakukan aksi defensif dengan menyebutkan bahwa mereka tengah mendalami kasus yang terjadi lebih dari dua tahun lalu ini.

“Kami masih menyelidiki tuduhan dan membahasnya dengan pihak-pihak terkait,” ujar pihak maskapai.

Berbanding terbalik dengan apa yang dituturkan oleh pilot tersebut, pihak maskapai malah mengatakan bahwa tidak pernah ada kamera tersembunyi yang terpasang di toilet pesawat.

“Dari hasil penyelidikan, tidak ditemukan kamera apapun di dalam toilet; insiden ini agaknya hanya sebuah humor yang tak pantas,” tambah pihak Southwest Airlines.

Baca Juga: Airbus Bakal Tambah Sensor di Pesawat Guna Pantau Kebiasaan Penumpang

Kisah ini bermula ketika Renee baru saja selesai menggunakan toilet dan dipanggil oleh Kapten Pilot Terry Graham untuk masuk sebentar ke dalam kokpit, sehingga sang pilot bisa menggunakan toilet. Ya, protokol di Southwest Airlines mewajibkan harus ada dua orang awak di dalam kokpit.

Namun ketika Renee berada di dalam kokpit, ia melihat ada sebuah iPad yang berada disisi tempat duduk Kapten Terry dan menayangkan secara langsung kejadian apa yang terjadi di toilet. Renee juga mengaku bahwa ia bisa melihat apa yang sedang Terry lakukan di toilet. Sejak saat itulah kasus ini terus didalami hingga berujung ke meja hijau.

Ditemukan Ponsel ‘Mencurigakan’, Air France AF136 Terpaksa Melipir ke Irlandia

Maskapai asal Perancis, Air France dikabarkan terpaksa harus mengalihkan salah satu penerbangannya setelah mendapati salah satu ponsel mencurigakan di dalam penerbangannya. Adalah Air France Flight AF136 yang tengah menjalani rute penerbangan dari Paris menuju Chicago beberapa waktu yang lalu terpaksa mendarat di Shannon, Irlandia guna menjalankan protokol keselamatan dan keamanan. Ya, pendaratan ini dilakukan lantaran penumpang dan pihak maskapai menemukan sebuah ponsel tidak bertuan di dalam penerbangan tersebut.

Baca Juga: Mengenal Ditching, Pendaratan Darurat Pesawat di Atas Permukaan Air

Sebagaimana yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman independent.co.uk (21/10), maskapai ini mendarat di Shannon Airport Irlandia pada 20 Oktober 2019 kemarin, sekira pukul 16.30 waktu setempat. Setibanya pesawat di bandara, petugas pemadam kebakaran langsung mengerumuni pesawat alih-alih terjadi sesuatu yang tidak diinginkan – terlebih ketika petugas bandara mengetahui bahwa pesawat ini belum membuang muatan bahan bakar sebelum melakukan pendaratan di sana.

“Ponsel tak bertuan tersebut langsung dibawa oleh petugas kepolisian keluar dari pesawat menuju ruang terminal untuk selanjutnya dilakukan investigasi mendalam,” ujar Garda Inspector, Paul Slattery.

Namun setelah dilakukan pemeriksaan lanjutan, petugas keamanan di Shannon Airport mengatakan bahwa yang mereka temukan itu hanyalah ponsel biasa dan dikembalikan ke petugas Air France.

“Setelah kami tidak menemukan apa-apa di dalam ponsel tersebut, kami nyatakan ponsel tersebut aman dan dikembalikan ke pihak maskapai,” tandas Paul.

Kurang lebih dua jam setengah setelah pesawat berjenis Airbus A330-200 tersebut mendarat di Shannon Airport, Air France Flight AF136 kembali melanjutkan perjalanan menuju Chicago O’Hare. Pesawat ini pun dikabarkan sempat melakukan pengisian bahan bakar sebelum melanjutkan perjalanan.

Menanggapi insiden kecil namun cukup membuat jantung penumpang berdegup kencang ini, pihak Air France melalui pernyataan resmi tidak menampik apa yang menimpa salah satu armadanya.

“Pihak Air France mengkonfirmasi bahwa awak pesawat AF136 yang bertolak dari Paris CDG menuju Chicago O’Hare (ORD) pada 20 Oktober 2019 memutuskan untuk mengalihkan penerbangan sebagai tindakan pencegahan setelah kru pesawat dan penumpang menemukan sebuah ponsel tak bertuan di dalam pesawat,” tutur pihak maskapai dalam sebuah pernyataan resmi.

“Air France AF136 mendarat di Chicago dengan selamat sekira pukul 20.26 waktu setempat,” sambungnya.

Kuat dugaan, ponsel tersebut merupakan milik penumpang yang sebelumnya menunggangi pesawat yang sama.

Baca Juga: Insiden Landing Gear Boeing 737-800 SpiceJet, Drama Pendaratan Darurat Yang Dramatis!

Dari sini diharapkan Anda semua bisa menarik satu pembelajaran berharga, dimana Anda harus lebih teliti lagi ketika hendak meninggalkan pesawat – jangan sampai ada barang yang tertinggal seperti pada kasus ini. Toh yang rugi bukan hanya Anda karena kehilangan ponsel, melainkan juga pihak maskapai karena sampai-sampai harus melipir keluar dari jalur penerabangan guna menerapkan skema keamanan dan keselamatan, serta waktu penumpang lain yang terbuang percuma.

Bakso Popso, Kuliner ‘Mujarab’ dalam Dinginnya Gerbong Kereta

Tak peduli kereta eksekutif atau ekonomi, saat ini seluruh kompartemen gerbong kereta telah dilengkapi AC. Dan saat menghadapi hawa dingin di gerbong, rasanya mencicipi hidangan berkuah yang hangat menjadi sesuatu yang direkomendasikan. Hidangan berkuah yang dimaksud seperti bakso atau bakwan. Namun, apakah restorasi PT KAI menjual panganan tersebut?

Baca juga: Tidak Puas Dengan Popso Nasi Goreng Parahyangan, Penumpang Layangkan Petisi ke PT KAI dan PT RMU

Anak perusahaan PT Kereta Api Indonesia (KAI) yakni Reska atau Restoran Kereta Api, rupanya punya sajian hangat yang khas, dibilang khas, karena makanan ini utamanya memang dijual untuk penumpang kereta.

Nah, kali ini KabarPenumpang.com akan membahas Bakso Reska Popso yang kemasannya mirip mie cup (pop mie). Dalam kemasan bakso Popso ini, ada bakso, tahu dan mie bakso layaknya di jual oleh pedagang bakso dengan mangkok.

Penumpang yang ingin makan Popso bisa dengan mudah mendapatkannya, bila gerbong duduk dekat dengan gerbong restorasi, penumpang bisa langsung mendatanginya. Tetapi bila agak jauh biasanya pramugari (prami) dan pramugara akan berkeliling menyusuri tiap gerbong untuk menjajakan makanan salah satunya bakso Popso ini.

Sebenarnya ketika makan bakso Popso ini lebih nikmat berada di gerbong restorasi selain masih panas karena baru diseduh juga penumpang bisa duduk dengan nyaman karena tersedia meja dan kursi. Namun kerap kali banyak penumpang yang duduk berlama-lama untuk bekerja karena kursi mereka tidak memiliki meja dan membuat penumpang lainnya menunggu.

Apalagi gerbong restorasi hanya bisa menampung penumpang makan sekitar delapan orang. Penasaran dengan harganya? Ya memang lebih mahal dari pedagang bakso keliling yakni Rp25 ribu seporsi, tapi setidaknya bakso Popso ini membantu mengenyangkan perut yang lapar.

Tapi jangan heran bila harganya sedikit berubah karena harga kelas ekonomi, ekonomi premium, bisnis dan eksekutif bisa berbeda. Mungkin yang dipikiran penumpang, bisa makan bakso Popso hanya ketika naik kereta jarak jauh, ternyata untuk makan dan dinikmati dengan orang tersayang ataupun keluarga ketika di rumah juga bisa.

Baca juga: Lapar di Kereta Api? Jangan Lupakan Nomer SMS/WhatsApp Ini

Sebab sekarang, bakso Popso kini dijual secara online dan harganya sedikit lebih mahal. Beberapa e-commers seperti Tokopedia ataupun Shopee menjual bakso popso ini.

KA Cantik Ekspres, Hanya 5 Tahun Layani Jember-Surabaya!

Cantik adalah kata relatif yang digunakan untuk memuja wajah seorang perempuan. Namun, kata cantik juga ternyata digunakan PT Kereta Api Indoneisa (KAI) untuk menamai sebuah rangkaian kereta milik mereka relasi Surabaya menuju ke Jember.

Baca juga: KA Sarangan Ekspres – Hanya Ramai Penumpang Ketika Musim Liburan

KabarPenumpang.com merangkum berbagai laman sumber, kereta Cantik Ekspres nama yang diberikan pada KA relasi Surabaya-Jember yang memiliki rangkaian campuran bisnis dan eksekutif. Kereta ini berangkat pertama sejak pukul 06.00 pagi dari Jember dan tiba pukul 10.15 di Surabaya Kota.

Sedangkan keberangkatan dari Surabaya pukul 16.00 dan tiba di Jember pukul 20.00 atau pergi dan pulang menempuh waktu perjalanan enam jam. KA Cantik Ekspres berhenti di beberapa stasiun yakni Stasiun Jember, Rambipuji, Stasiun Tanggul, Stasiun Probolinggo, Stasiun Bangil, Stasiun Sidoarjo, Stasiun Wonokromo, serta terakhir Surabaya Gubeng.

Menggunakan nomor gapeka 102 tujuan Surabaya dan 101 tujuan ke Jember. KA Cantik Ekspres menarik satu gerbong eksekutif, dua gerbong bisnis dan satu gerbong makan pembangkit bisnis (KMP2). Nama cantik Ekspres sendiri merupakan singkatan dari Cepat, Aman, Nyaman, Tepat, Itulah Kereta Api.

KA Cantik Ekspres (Foto: Istimewa)

Sedangkan masa Lebaran atau ketika menjadi angkutan mudik, KA tersebut memiliki tambahan di gerbong bisnis yang tadinya dua menjadi enam. Selama beroperasi KA ini menjadi favorit mahasiswa dan pekerja baik yang akan pergi atau pulang ke Surabaya.

Harga tiketnya pun cukup terjangkau untuk kelas eksekutif Rp42 ribu dan bisnis Rp35 ribu sekali jalan. KA yang mengular di Daop IX Jember ini sayangnya berhenti beroperasi pada 1 Desember 2009.

Keputusan penghentian pengorpeasian KA Cantik Ekspres sendiri sama dengan kereta lainnya yang mana jumlah penumpang atau keterisian kurang dari 60 persen setiap harinya. Apalagi biaya operasional yang cukup besar dan mau tak mau harus melakukan efisiensi biaya.

Baca juga: KA Purbaya – “Kereta Cepat” Tempo Doeloe dengan Karcis Kartu Domino

Selain itu keterbatasan sarana utama lokomotif, persaingan antar KA yang kompetitif, mengoptimalkan KA yang menguntungkan dan masih ada KA lain yang melintas di jalur ini juga jadi faktor lainnya. KA Cantik Ekspres sendiri mulai mengular sejak 2004 dan kini yang melintas di jalur tersebut ada KA Mutiara Selatan dengan relasi Banyuwangi menuju Surabaya dengan kelas eksekutif dan bisnis.

Bingung dengan ‘Bahasa Teknis’ di Laporan Akhir KNKT Seputar JT-610? Ini Penjelasannya!

Pada Jumat (25/10) kemarin, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah melaporkan terkait sejumlah penyebab jatuhnya pesawat Lion Air JT-610, mulai dari kerusakan yang ada pada indikator kecepatan dan ketinggian, masalah pada Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS), hingga kondisi di dalam kokpit yang dikabarkan super hectic pada detik-detik terakhir pesawat terhubung dengan menara pemantau atau ATC.

Baca Juga: KNKT (Kembali) Ungkap Kejadian Pra Jatuhnya Lion Air JT610

Namun di dalam penuturan KNKT kemarin, ada beberapa bahasa teknis yang digunakan dalam penjelasannya, seperti stab trim, angle of attack, dan lain-lain. Mungkin beberapa dari Anda masih ada yang belum mengetathui tentang arti dari bahasa teknis tersebut, bukan? Nah, berikut adalah penjelasannya, dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber.

Stab Trim
Sederhananya, ini merupakan salah satu instrumen yang ada di pesawat yang digunakan untuk menyeimbangkan pesawat (stab di sini diambil dari kata stabilizer yang berarti alat penstabil, sementara trim diambil dari kata trimmable). Dalam kasus ini, stab trim juga memiliki fitur untuk menggerakkan permukaan ekor horisontal pesawat secara keseluruhan.

Angle of Attack (AoA)
Sebagaimana yang sudah pernah diberitakan sebelumnya, AoA merupakan sudut antara garis referensi pada body pesawat dan vektor yang mewakili gerakan relatif antara pesawat dan fluida yang bergerak di antaranya.

AoA Disagree
Masih berkaitan dengan poin di atas, AoA Disagree merupakan sebuah kondisi dimana sensor yang diterima oleh pesawat (yang didapat dari sensor) bertentangan dengan arah dari hidung pesawat. Dalam kasus Lion Air JT-610 ini, pilot yang menerbangkan pesawat dari Denpasar menuju Jakarta tidak melaporkan adanya masalah pada stab trim karena absennya lampu peringatan AoA Disagree.

Baca Juga: Rilis 9 Faktor Penyebab Kecelakaan JT610, KNKT: “Satu Tidak Terjadi, Maka Kecelakaan Dapat Terelakkan”

Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS)
Ini merupakan fitur otomatisasi baru yang diterapkan oleh Boeing, dimana MCAS ini bertugas untuk menjaga pesawat dari manuver-manuver berbahaya seperti mengangkat hidung terlalu tinggi yang dapat berakibatpada stall. Sebagai informasi tambahan dari laman aviatren.com, fitur MCAS ini masih tetap bisa berfungsi kendati pesawat dikendalikan secara manual (autopilot mati).

Pensiun Angkut Penumpang, Boeing 747-400 Dikonversi Jadi Pesawat Pemadam!

Kendati posisinya mulai tergantikan oleh moda-moda lain yang lebih efisien dalam penerbangan berjadwal, namun Boeing 747 tidak lantas begitu saja hilang ditelan jaman. Masih banyak perusahaan di luar sana yang berupaya untuk memanfaatkan the Queen of the Skies guna ‘memutar roda’ perusahaan – salah satunya Global SuperTanker Service.

Baca Juga: Sepi Pesanan, Boeing 747 Beralih dari “Queen of the Skies” Jadi “Flying Truck”

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com (26/10), pesawat berjenis Boeing 747-400 yang dioperasikan oleh Global SuperTanker Service ini sejatinya telah dirombak secara besar-besaran oleh pihak operator sehingga pesawat tersebut tidak lagi difungsikan untuk mengangkut penumpang, melainkan ratusan hingga ribuan galon air dan memasuki peran barunya sebagai VLAT atau Very Large Air Tanker. Ya, di tubuh Global SuperTanker Service, the Queen of the Skies berfungsi sebagai pesawat pemadam kebakaran.

Ambil contoh kebakaran hutan di Bolivia pada akhir bulan Agustus silam, Global SuperTanker Service mengirimkan Boeing 747-400-nya untuk memadamkan api. Itu merupakan salah satu tugas baru dari Boeing 747-400 setelah sekian lama mengangkut penumpang.

Salah satu alasan dari penggunaan Boeing 747-400 ini lantaran kecepatan dari pesawat ini yang luar biasa. Perusahaan menyebut, pesawat ini bisa tiba di hampir seluruh titik di penjuru dunia hanya dalam waktu kurang dari 20 jam (berangkat dari basis perusahaan di Colorado Springs).

Boeing 747-400 milik Global SuperTanker Service. Sumber: wikipedia

Jika Anda berpikiran bahwa pesawat ini hanya berisikan ribuan galon air saja, maka Anda salah besar – karena nyatanya pesawat ini telah dimodifikasi sehingga bisa menampung ribuan galon air di lantai bawah, 14 bangku first class dan dua ranjang untuk staf pendukung dan awak pesawat tambahan di lantai atasnya.

Selain berfungsi untuk menyemprotkan air pada titik yang mengalami kebakaran, Boeing 747-400 milik Global SuperTanker Service ini juga bisa digunakan untuk menyemprotkan dispersan pada tumpahan minyak di laut.

Mengutip dari laman Airfleets, pesawat Boeing 747-400 dengan nomor registrasi N744ST milik Global SuperTanker Service pertama kali dibeli dari maskapai Japan Airlines. Pesawat yang sudah berusia 19 tahun ini lalu dibawa ke perusahaan Evergreen International Aviation di McMinnville, Oregon, Amerika Serikat untuk disulap menjadi sebuah pesawat pengangkut air.

Baca Juga: Inilah Fakta di Balik Berhentinya Produksi Boeing 747-8 Intercontinental

Selain N744ST, varian lain yang juga memasuki tahapan baru sebagai pesawat pemadam adalah Boeing 747-100 dengan nomor registrasi N479EV, dan Boeing 747-200 dengan nomor registrasi N470EV.

Stress Karena Antrean di Bandara? Ternyata ini Penyebab dan Solusinya!

Dapatkan Anda membayangkan bagaimana jadinya jika langkah Anda menuju ke gerbang keberangkatan mesti tertahan karena antrean yang ada di bandara? Entah itu antrean di konter check-in atau antrean pemeriksaan keamanan yang berlapis. Tentu saja hal semacam ini bisa membuat Anda gusar sekaligus tidak nyaman. Bahkan, tidak sedikit dari Anda yang akan bertanya-tanya, “Apakah yang sebenarnya terjadi di ujung antrean sana? Berapa lama lagi kami harus menunggu?”

Baca Juga: Bosan Antri Lama di Bandara, Begini Cara Cepat Ambil Barang di Klaim Bagasi

Ternyata, tidak sedikit calon penumpang yang berspekulasi tentang apa yang terjadi di barisan paling depan. Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman internationalairportreview.com, bukan melulu antrean panjang yang membuat penumpang stress, melainkan karena mereka sejatinya tidak mengetahui apa yang terjadi di ujung antrean. Beragam studi yang berkenaan dengan psikologis penumpang sudah pernah dilakukan, dan semua hasilnya mengerucut pada ketidaktahuan akan hal yang terjadi di baris depan merupakan penyebab utama penumpang menjadi stress.

Kendati sudah ada beragam teknologi canggih yang siap melancarkan antrean di bandara – seperti self-check-in hingga self-service bag drops, namun itu sejatinya hanya akan berjalan jika tidak ada kesalahan dalam pengaplikasiannya. Lalu, bagaimana jika ada kesalahan dalam pengoperasiannya? Ya, ujung-ujungnya antrean penumpang akan tersendat juga.

Mungkin dengan menampilkan informasi tentang apa yang membuat satu barisan tersendat akan menjadi jawaban untuk persoalan di atas, namun, solusi ini baru bisa diterapkan setelah antrean terjadi – kasarnya mengobati, bukan mencegah.

Ada lagi solusi lain yang dapat digunakan untuk mereduksi tingkat kecemasan dan kegelisahan penumpang selama berada di antrean bandara, yaitu dengan menggunakan kamera 3D. Ya, kamera 3D tidak bisa dipungkiri mampu memberikan tingkat akurasi yang tak tertandingi untuk statistik penghitungan orang dan perkiraan tenggat waktu. Tapi solusi ini tidak cocok untuk mengukur bagaimana pergerakan orang yang sedang mengantre dalam satu proses (seperti antrean konter check-in atau antrean imigrasi).

Baca Juga: Bicara Kompensasi Saat Terjadi Delay Ada di Peraturan Menteri Perhubungan

Melihat hal ini, solusi terbaik untuk menghilangkan kegelisahan penumpang di antrean bandara adalah dengan cara menggabungkan beberapa teknologi yang ada di sana. Penggabungan teknologi Internet of Things (IoT) untuk mengumpulkan data yang diperoleh dari berbagai sensor dipercaya merupakan solusi paling efektif untuk problematika semacam ini.

Para peneliti percaya bahwa solusi ini dapat menghilangkan blind-spot yang ada di bandara dan diharapkan dapat mereduksi kegundah-gulanaan penumpang di antrean.

Sambut Pembukaan Global Village, Dubai Taxi Corporation Hadirkan “Low Cost Taxi”

Anda semua tentu sudah tahu dengan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), bukan? Ya, ini merupakan replika dari Indonesia dalam skala yang diperkecil, dimana Anda semua bisa melihat beragam suku budaya yang ada di Tanah Air di taman hiburan yang terletak di daerah Jakarta Timur ini. Nah, lain halnya dengan Global Village yang ada di Dubai sana, dimana Anda bisa melihat hingga 90 kebudayaan yang berbeda dari berbagai penjuru dunia.

Baca Juga: Ternyata! Biaya Taksi di Jakarta Tidak Semahal di Negeri Tetangga

Nah, guna menunjang pengalaman penunjung yang datang ke tempat yang diklaim sebagai proyek pariwisata, rekreasi, belanja dan hiburan terbesar di dunia ini, pihak pengelola rencananya akan menggandeng Dubai Taxi Corporation (DTC) untuk memberikan perjalanan bertarif rendah kepada mereka yang datang ke Global Village – mulai tanggal pembukaan resmi 29 Oktober 2019.

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman gulfnews.com (27/10), DTC yang berada di bawah pengelolaan Roads and Transport Authority (RTA) dikabarkan telah menandatangani kontrak kerja sama dengan pihak Global Village, dimana nantinya mereka akan menyediakan berbagai layanan taksi, limosin, hingga bus eksklusif.

Perjanjian ini memungkinkan DTC untuk secara eksklusif memberikan layanan berkendara kepada pengunjung Global Village. Pengunjung juga akan lebih mudah untuk memesan layanan inii di Global Village,” ujar CEO dari DTC, Dr. Yousef Al Ali.

Pemberlakuan tarif yang lebih murah ini memang sengaja dirancang khusus untuk mendorong tingkat permintaan – terlebih ketika perayaan musiman yang dilakukan di Global Village,” sambungnya.

Kelak, layanan bertarif murah ini akan tersedia bagi pengunjung yang berada di assembly point (titik berkumpul) dan hendak menuju ke gerbang masuk Global Village atau sebaliknya. Selain diproyeksikan untuk mendatangkan keuntungan bagi kedua perusahaan, hadirnya kerja sama ini juga akan menjadi ajang promosi bagi kedua perusahaan.

Baca Juga: Seoul Hadirkan Taksi Khusus Wanita, Tarifnya Lebih Rendah dari Biasanya

“Kerja sama ini mendukung upaya Pemerintah untuk memberikan layanan kelas dunia kepada wisatawan dan meningkatkan pengalaman para penggunanya,” tambah Dr. Yousef.

Untuk diketahui bersama, Global Village telah menjadi tujuan wisata utama di Emirat, setidaknya sejak 24 tahun terakhir.

KA Badra Surya – Kereta Ekonomi Legendaris Favorit Mahasiswa di Perantauan

Pergi jalan-jalan ke Bandung banyak yang memilih menggunakan kereta api, sebab selain cepat, harga terjangkau dan tak perlu macet-macetan. Apalagi markas besar PT Kereta Api Indonesia (KAI) berada di Tanah Pasundan. Nah, bagi pecinta kereta pasti tahu kereta-kereta yang mengular di jalur Bandung ini.

Baca juga: KA Sarangan Ekspres – Hanya Ramai Penumpang Ketika Musim Liburan

Tapi pernahkah Anda tahu kereta api Badra Surya? Pasti bingung, nama kereta ini adalah singkatan dari Bandung Raya Surabaya. Di mana kereta tersebut adalah kereta api kelas ekonomi yang cukup legendaris di Stasiun Bandung Kebon Kawung dengan relasi hingga ke Stasiun Surabaya Gubeng.

Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, relasi panjang KA Badra Surya ini sangat populer di kalangan mahasiswa, tak lain dan tak bukan karena tiketnya yang cukup murah. KA Badra Surya mulai beroperasi sejak tahun 1970-an dan berhenti beroperasi tahun 1997 begitu angkutan lebaran selesai kala itu.

Kereta yang satu ini sudah beberapa kali berganti nama dari pertama beroperasi yakni KA Ekspres Siang Jaya. Berangkat dari Surabaya pagi-pagi sampai Kroya dan dipecah dua. Sebagian rangkaian kereta menuju Bandung dan yang lainnya ke Jakarta. Hingga akhirnya rangkaian KA yang menuju Jakarta dihilangkan dan semuanya dari Surabaya menuju Bandung serta sebaliknya.

Sekitar tahun 1985, KA ini berubah nama menjadi KA Badra Surya dengan mengangkut rangkaian kelas ekonomi dan bisnis. Di masa Perumka, KA Badra Surya pernah menjadi raja jalur selatan waktu siang hari karena hampir selalu tepat waktu, bahkan terkadang lebih cepat dari jadwal semestinya.

Sebelum KA Pajajaran atau Argo Wilis beroperasi, KA ini sering dirangkaikan dengan gerbong K1 yang di-charter wisatawan asing dari Bandung ke Yogyakarta. Selama perjalanan bila berangkat dari Bandung, para penumpang bisa menikmati indahnya panorama pegunungan di Bumi Parahyangan Timur serta kali Progo di daerah Wates dan kali Serayu di daerah Banyumas.

Sedangkan jika berangkat dari Surabaya para penumpang akan disuguhi hamparan sawah dan perkebunan jati di daerah Caruban. Tiket yang cukup murah saat itu yakni Rp8.500, pelancong sudah bisa sampai ke Surabaya dan bila menambah Rp2 ribu bisa nyambung kereta tujuan Banyuwangi

Kereta ini pada masa jayanya juga menjadi andalan untuk menuju Surabaya lalu menyeberang ke Sulawesi. Para penumpangnya yang banyak diantaranya merupakan mahasiswa telah mendapat banyak hikmah dalam berbagai keterbatasan yang ada.

Baca juga: KA Banyubiru Ekspres – Mati Karena Uzur dan Kalah Saing dengan Transportasi Lain

Kini KA Badar Surya dihapus dan sebagai gantinya KA Pasundan menggunakan jadwal perjalanan KA Badra Surya. Dimana kala itu KA Pasundan menemani rangkaian KA Badra Surya dan berangkat dari Stasiun Kiaracondong.