“Bird of Prey” – Desain Mahakarya Airbus yang Terinspirasi dari Burung Elang

Pernahkah Anda membayangkan tentang bentuk pesawat yang agaknya sedikit unik dan berbeda dengan burung besi pada umumnya? Bagi Anda yang penasaran dengan konsep pesawat yang semacam ini, maka rasa penasaran Anda akan terjawab karena salah satu manufaktur kedirgantaraan asal Eropa, Airbus yang baru saja meluncurkan konsep pesawat baru nan unik yang diberi nama “Bird of Prey”. Sebagai pembuka, pesawat ini tidak menggunakan mesin jet melainkan propeller. Baca Juga: [Video] Airbus Kembangkan “AlbatrossOne,” Desain Sayap yang Terinspirasi dari Burung Albatros Dikutip KabarPenumpang.com dari laman theverge.com (19/7), Airbus meluncurkan konsep Bird of Prey ini pada pagelaran Royal International Air Tattoo 2019 dan mengaku bahwa konsep ini tercipta karena ‘mencontek’ dari alam. Mengapa dikatakan unik? Bisa Anda lihat sendiri, pada bagian sayapnya tampak Airbus merancangnya bak sebuah sayap burung yang tengah mengepak – ditambah dengan ujung-ujung sayap yang terlihat runcing. Sistem propulsi pesawat juga bisa dikatakan unik, karena bentuk masing-masing baling-baling yang seolah mengikuti bentuk dari ujung sayap tadi – memiliki delapan bilah baling-baling dengan ujung yang runcing pula. Didominasi oleh warna jingga yang cukup mencolok, Bird of Prey ini didaulat untuk mengangkut 80 penumpang. Namun, agaknya ini hanyalah sekedar konsep yang mungkin tidak akan diaplikasikan pada dunia penerbangan di masa yang akan datang. “Hanya untuk menginspirasi para aeronautical engineer muda,” tutur pihak Airbus. Penampakan dari Bird of Prey terpampang jelas pada pagelaran Royal International Air Tattoo, 19 Juli 2019 kemarin. Model dari Bird of Prey ini sendiri memiliki ukuran kurang lebih satu meter panjang dan didaulat mampu menempuh jarak hingga 1.500km dalam sekali mengudara. Bird of Prey sendiri menggunakan teknologi biomimikri – ‘menjiplak’ dari alam, dimana Airbus menggunakan burung elang sebagai dasar dari percobaan teknologi ini. Pihak Airbus mengatakan bahwa model Bird of Prey ini sendiri akan memberikan pendaratan yang lebih halus dan lebih sedikit polusi – karena mengggunakan teknologi hibrida. Baca Juga: “A380-1000,” Mimpi Airbus Bawa Seribu Penumpang dalam Sekali Terbang “Bird of Prey menggunakan bahan bakar 30 sampai 50 persen lebih hemat ketimbang pesawat konvensional yang beroperasi saat ini,” tutur pihak Airbus. Mengutip ujaran pihak Airbus tadi, “Mungkin pesawat ini tidak akan pernah dibuat,” Namun apabila dilakukan tinjauan lebih jauh lagi dan disertai dengan sejumlah uji coba yang berjalan sempurna, lalu kenapa pesawat semacam ini tidak coba untuk dipasarkan di waktu mendatang?  

“Re-Configurable Passenger Bench Seat,” Inovasi Airbus untuk Penumpang Obesitas

Masalah penumpang obesitas masih menjadi ganjalan bagi para maskapai, dan guna mencari jalan keluar dari masalah ini, salah satu manufaktur kedirgantaraan asal Eropa, Airbus baru saja mendapatkan hak paten terkait bangku yang digaungkan menjadi solusi bagi penumpang obesitas. Dengan hadirnya inovasi ini, menandakan bahwa Airbus selalu berupaya untuk menjaga pamornya dengan menjawab berbagai keluhan yang sealam ini ditampung oleh pihak maskapai selaku operator barang hasil produksinya. Baca Juga: Untuk Penumpang Obesitas, Perpanjangan Sabuk Pengaman Belum Jadi Prioritas Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman dailypost.co.uk (21/7), pihak Airbus baru saja mendapatkan hak paten untuk Re-Configurable Passenger Bench Seat – inovasi yang digadang-gadang mampu mengakhiri polemik tentang penumpang obesitas. Dengan hadirnya hak paten dari United State Patent and Trademark Office, kelak maskapai penerbangan yang mendapati penumpang obesitas dapat dengan cepat dan mudah melakukan rekonfigurasi bangku. Ya, dapat dilihat dari namanya saja, bangku yang lahir dari inovasi Airbus ini dapat dengan mudah disesuaikan dengan ‘ukuran’ penumpang yang hendak duduk di bangku pesawat. Jika dilihat dari ilustrasi yang diberikan pihak Airbus, bangku yang kerap disebut Obesity Seat ini memiliki bentuk layaknya bangku pesawat pada umumnya, hanya saja bagian pegangan tangan (armrest) yang ada di bagian tengah bangku bisa dilipat.
Re-Configurable Passenger Bench Seat dengan konfigurasi dua penumpang obesitas. Sumber: dailypost.co.uk
Jika penumpang yang hendak duduk tidak memiliki masalah dengan berat badannya, maka armrest tersebut bisa diangkat dan menghasilkan space baru bagi penumpang.
Re-Configurable Passenger Bench Seat dengan konfigurasi empat penumpang (dua dewasa dan dua anak). Sumber: dailypost.co.uk
Sederhananya, apabila armrest ini diturunkan, maka kapasitas dari baris bangku tersebut hanya untuk dua orang – sedangkan jika armrest dinaikkan, maka kapasitas baris bangku tersebut menjadi empat (dua dewasa dan dua anak-anak). Baca Juga: Tolak Atur Regulasi Kursi Pesawat, FAA: Kenyamanan Penumpang Bukan Masalah Keamanan Tidak hanya Re-Configurable Passenger Bench Seat saja, Airbus pun telah mendapatkan hak paten terkait Foldable Seat Bench dari pihak United State Patent and Trademark Office. Foldable Seat Bench ini, menurut Airbus, akan memudahkan pihak maskapai untuk melakukan perubahan fungsi pesawat – dari pesawat penumpang menjadi pesawat kargo.

“Skoda Parent Taxi,” Jadikan Orang Tua ‘Pengemudi’ Taksi Bagi Anak-Anak

Orang tua hampir setiap hari mengantar dan menjemput anak mereka ke sekolah atau terkadang mengajak berkeliling menggunakan mobil. Ternyata hal ini juga bisa membuat orang tua bosan melakukan rutinitas seperti itu. Baca juga: S.Ride, Aplikasi dari Sony untuk Taksi Hailing di Jepang Kemudian hadir candaan dimana jika orang tua menjadi pengemudi taksi bagi anak-anak mereka. Ternyata candaan kebosanan rutinitas tersebut dirasakan oleh 66 persen orang tua. https://youtu.be/ckT5-bRPo-E Hal ini kemudian membuat Skoda mendapat ide itu dan meluncurkan aplikasi ponsel pintar. Aplikasi ini memungkinkan anak-anak membayarkan biaya perjalanan mereka saat pergi dan berkeliling menggunakan mobil yang dikemudikan orang tua mereka. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman motor1.com (20/7/2019), biaya yang akan dibayarkan oleh anak-anak bukanlah uang tetapi mereka bisa membayar dengan melakukan pekerjaan rumah. Aplikasi Skoda Parent Taxi asal Ceko ini ternyata mendapatkan data bahwa orang tua di Inggris menyetir sekitar 1.648 mil atau 2.652 km per tahunnya untuk mengantar anak mereka ke berbagai hal seperti rumah teman atau klub olahraga. Bila tarif tersebut yang dibebankan kepada anak-anak seperti taksi di London, maka mereka akan menghabiskan biaya sebesar £12.565 atau setara dengan Rp219,14 juta. Aplikasi ini tersedia secara gratis di iOS dan Android dan bertindak seperti meteran taksi nyata. Salah satunya dengan melacak pergerakan mobil dengan GPS dan mengisi daya anak-anak dengan membersihkan mobil, memberi makan hewan peliharaan keluarga, merapikan kamar tidur mereka, dan melakukan pembersihan dibandingkan dengan biaya moneter. “Ini adalah aplikasi yang saya tunggu-tunggu! Memang benar bahwa anak-anak umumnya memiliki kehidupan sosial yang lebih baik daripada orang dewasa dan akibatnya itu bisa berarti banyak perjalanan mobil setiap minggu. Meskipun saya suka mendorong mereka untuk keluar dan melakukan lebih banyak, saya pikir itu ide yang bagus untuk bertukar mil untuk bantuan di sekitar rumah sebagai balasannya, “kata” blogger mumi “Jo Middleton. Baca juga: Aplikasi ‘e-hailing’ Bantu Pengemudi Taksi Dapatkan Penumpang di Bandara Kuala Lumpur Untuk diketahui, rata-rata jarak tempuh yang dihabiskan oleh orang tua mengantar anak-anak mereka ke kegiatan ekstrakurikuler dalam setahun: Irlandia Utara 2,142 mil London 1,789 mil Barat daya 1,760 mil Skotlandia 1,759 mil Tenggara 1,677 mil Midland Timur 1,654 mil Wales 1,635 mil Anglia Timur 1.550 mil Barat laut 1,515 mil Timur Laut 1,481 mil Yorkshire and the Humber 1,425 mil Midlands Barat 1,399 mil

Diterpa Masalah Keuangan, Air India Segera Diprivatisasi

Selain Malaysia Airlines, ternyata ada satu lagi maskapai plat merah di Asia yang kini kondisinya terseok karena masalah keuagan. Adalah Air India yang terbelit hutang hingga jutaan dollar. Mirip dengan formula yang digunakan untuk menyelamatkan Malaysia Airlines, maka Air India juga akan dijual sahamnya kepada swasta lewat program privitasisasi. Dalam masa persiapan privatisasi, sejumlah pembatasan diterapkan pemerintah agar laju hutang tak kian parah. Baca juga: Mahathir Siap Jual Malaysia Airlines, Mungkinkah AirAsia Berminat Akuisisi? Dikutip dari gulfnews.com (21/7/2019), disebutkan dalam masa menuju privatisasi, manajemen Air India dilarang untuk merekrut karyawan baru, tidak itu saja maskapai dengan livery merah putih ini juga dilarang menggelar program promosi. Penerbangan rute baru hanya dimungkinkan bila dianggap mendesak dan harus melalui uji aspek komersial. Pihak Department of Investment and Public Asset Management (DIPAM) mengungkapkan bahwa inisaitif besar harus diambil untuk menyelamatkan Air India. Segala bentuk promosi yang saat ini masih berjalan juga akan dibekukan. Pemerintah India dalam program Modi 2.0 sebelumnya telah gagal untuk menemukan penawar, dan selanjutnya pemerintah akan menjual maskapai ini kepada pihak swasta. Sebagai wujud konkrit upaya privatisasi, telah dibentuk kelompok kerja menteri untuk memuluskan jalannya privatisasi. Air India sejauh ini memiliki total utang sekitar Rs58.000 crore. Kerugian kumulatif dari operator ini sebesar Rs 70.000 crore. Pada tahun keuangan yang berakhir 31 Maret 2019 maskapai ini diperkirakan telah melaporkan kerugian sebesar Rs7.600 crore. Baca juga: IATA – Cermati Keterlibatan Swasta dalam Investasi Pembangunan Bandara “Kali ini kami tidak ada keraguan untuk pelepasan investasi,” ujar seorang eksekutif senior Air India. Dalam kerangkan privatisasi, Pemerintah India telah menunjuk konsultan EY guna merampungkan memorandum informasi awal guna mengundang minat – expression of interest (EoI) dari calon penawar.

Kontroversi MetroTrans Melaju di Jalur ‘Sempit,’ Inilah Tanggapan PT TransJakarta

Sejak hadirnya armada bus ‘besar’ MetroTrans dengan desain low deck, tak pelak gaya transportasi bus di Jakarta ikut berubah, persisnya Jakarta tak kalah dengan Singapura, Sydney dan kota-kota besar lainnya. Namun tak semua MetroTrans melaju di jalan raya ukuran besar. Beberapa MetroTrans justru dihadirkan PT TransJakarta di rute berjalan yang relatif ‘sempit.’ Baca juga: Mulai Agustus 2019, MetroTrans Gantikan “Bikun” di Kampus UI Depok Seperti apa yang terjadi di kawasan Kemang, kehadiran MetroTrans menimbulkan kontroversi, lantaran hanya sebagian kecil ruas Jalan kemang Raya yang lebar, sementara sisanya adalah jalan dengan ukuran relatif agak sempit. Pengoperasian MetroTrans menjadi dilema, terutama saat bus ukuran bongsor itu berbelok. Sudut putar yang besar otomatis memakan sebagian besar ruas jalan. Alhasil MetroTrans kerap dituding sebagai biang kemacetan. Bahkan saat ini, ruang Kemang Raya tengah dilakukan proyek pembuatan trotoar di sisi kanan dan kiri jalan. Dengan lebar jalan yang menyempit membuat beban kemacetan lalu lintas di jam-jam sibuk kian parah. Lantas yang jadi pertanyaan, apakah penggelaran MetroTrans selama ini sudah melalui studi? KabarPenumpang.com yang sempat menanyakan hal tersebut mendapat jawaban langsung dari Direktur Utama PT Transportasi Jakarta Agung Wicaksono. Agung mengatakan, kehadiran MetroTrans di jalanan sempit seperti daerah Kemang Raya karena kurangnya MiniTrans atau bus sedang yang menggantikan Kopaja ataupun MetroMini. Bahkan dia mengatakan saat ini MiniTrans yang ada baru seratus armada dan masih menunggu ketersediaan bus. “Kita mau gunakan MiniTrans, tetapi karena ketersediaan kurang sehingga menggunakan MetroTrans. Tidak ada uji studi hanya kurang armada,” jelas Agung, Jumat (19/7/2019). Dia menambahkan, untuk ketersediaan MiniTrans saat ini masih dalam tahap negosiasi dengan pihak Metromini, Kopaja, Kopami, Koantasbima dan operator bus sedang lainnya. Hal ini nantinya akan menjadi bagian dari komitmen Gubernur untuk membersihkan udara Jakarta dimana bus lama diganti menjadi baru. “Nanti bus baru itu akan menjadi bagian dari TransJakarta yang diberinama MiniTrans. Yang jelas kalau sudah tersedia dengan cukup maka akan segera kami alokasikan jika penyediaannya cepat dan mengikuti yang kami inginkan,” tambah Agung. Selain itu, TransJakarta juga sudah melakukan pra uji coba pada tiga bus listriknya. Ternyata selama libur Lebaran 2019 kemarin penumpang yang menggunakan bus listrik tersebut mencapai 13 ribu pelanggan. Agung mengatakan, saat ini ketiga bus tersebut tengah dalam fase mendapat perizinan dan sertifikasi. “Satu bus listrik dari MAB (Mobil Anak Bangsa) sudah mendapat sertifikat uji tipe (SUT) dari Kemenhub (Kementerian Perhubungan). Sedangkan BYD tengah menjalani sertifikasi,” kata AGung. Dia mengatakan, untuk BYD sendiri berkasnya baru masuk Selasa (16/7/2019) kemarin ke Kemenhub. Menurutnya, setealh lulus, akan ada proses dari kepolisian untuk mengeluarkan STNK, nilai jual kendaraan bermotor dan lainnya. Baca juga: “Terlalu Senyap,” Transport for London Aplikasikan Suara Khusus Pada Bus Listrik “Untuk peraturan terkait bus listrik masih proses lintas kementrian. Kalau bisa ada Perpres atau ada peraturan di tingkat pusat yang akan membuat berbagai kementerian ini bisa saling sinergi atau lebih konfidence ijin-ijin yang dibutuhkan,” ujarnya.

Gandeng Huawei, Saudi Railway Company Siap Hadirkan Jaringan Kereta Api Pintar

Saudi Railway Company (SAR) telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan perusahaan teknologi asal Cina, Huawei untuk memulai program kereta api pintar. Di bawah kemitraan ini, SAR dan Huawei akan berkolaborasi dalam berbagai inisiatif perkeretaapian cerdas, termasuk penerapan jaringan nirkabel kereta api generasi terbaru, Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan (AI) dan layanan cloud. Baca Juga: Uni Emirat Arab Canangkan Proyek Kereta Peluru Bawah Laut Menuju India Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman railway-technology.com (19/7), para mitra juga akan mengeksplorasi ide untuk menyebarkan teknologi 5G di jaringan kereta api SAR. Sesuai perjanjian, Huawei akan melatih staf SAR dan mentransfer pengetahuan untuk solusi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). “Ini merupakan proyek infrastruktur utama yang akan memiliki dampak signifikan pada negara, dan kami merasa terhormat telah dipilih sebagai mitra untuk membawa teknologi tingkat tinggi yang kami miliki dan kami terus berupaya untuk mengaplikasikannya dan mengembangkannya,” ujar chief executive Huawei Tech Investment Saudi Arabia, Dennis Zhang. SAR sendiri didirikan pada tahun 2006 silam, dimana perusahaan ini merupakan salah satu dari dua perusahaan milik negara yang mengoperasikan jaringan kereta api di Arab Saudi. Mundur ke bulan Februari 2019 yang lalu, SAR telah menandatangani kontrak dengan Perpetuum guna penyediaan layanan informasi kondisi lintasan untuk jalur kereta sepanjang 1.250km dari Riyadh ke Qurrayat. Dengan kontrak dua tahun yang ditandatangani oleh kedua belah pihak, SAR bertujuan untuk mendapatkan informasi real-time terkait jalur kereta api. Adapun kondisi yang melatarbelakangi kontrak kerja sama antara SAR dengan Perpetuum ini lantaran perkeretaapian Arab Saudi menghadapi kondisi cuaca ekstrem, dengan suhu mencapai hingga 55 derajat celcius. Dikhawatirkan, cuaca ekstrem ini akan mengganggu pengoperasian kereta api di sana. Baca Juga: Al Mashaaer Al Mugaddassah Metro, MRT Unik di Kota Suci Makkah Di sisi lain, pada bulan Juni lalu, Huawei memperkenalkan LTE-R Solution generasi baru untuk memfasilitasi komunikasi rel nirkabel. Teknologi ini memanfaatkan jaringan LTE-R, yang akan memungkinkan kontrol kereta, pengiriman, sistem informasi penumpang, CCTV dan layanan kereta api lainnya untuk berkomunikasi secara efisien.  

Tak Hanya Mudahkan Awak Kabin, Tablet PC Bantu Kurangi Penggunaan Kertas

Tak hanya memudahkan pekerjanya, Asiana Airlines juga sepertinya membantu untuk menjaga lingkungan dengan mengurangi pemakaian kertas untuk laporan mereka. Hal ini terlihat dari adanya peningkatan efisien maskapai Korea Selatan tersebut dengan mengadopsi platform kerja cerdas yang disebut A-tab untuk awak kabinnya. Baca juga: Bingung Saat di Dalam Pesawat? Inilah Pertanyaan Favorit untuk Awak Kabin Selain efisiensi kerja, A-tab tersebut juga membuat kerja pada awak kabin nyaman dan dimudahkan. Sebab dengan sistem bekerja pada PC tablet awak kabin bisa memeriksa jadwal kerja mereka, informasi tentang penerbangan, manual kerja dan juga menyerahkan laporan terkait pekerjaan mereka. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman koreaherald.com (15/7/2019), tablet PC ini dibagikan kepada sekitar empat ribu awak kabin yang dilengkapi dengan sistem pada akhir pekan. Seorang awak kabin Asiana Airlines mengatakan, hal tersebut memudahkan karena tidak harus membawa tumpukan kertas. “Daripada harus membawa tumpukan dokumen kertas, pengenalan A-tab akan membantu awak kabin untuk mengepakkan cahaya dan juga meningkatkan efisiensi kerja,” kata awak kabin tersebut. Pada bulan Januari 2019, maskapai penerbangan memberikan pilotnya tablet PC dengan aplikasi yang bekerja pada sistem yang disebut Electronic Flight Bag (EFB), yang membantu mereka dengan mudah melihat manual layanan, grafik dan kinerja penerbangan. Setelah operasi uji EFB dengan pilot yang menerbangkan pesawat Boeing 747. Perusahaan berencana untuk memperluas aplikasi ke kru lainnya yang mengoperasikan semua model pesawat. “Asiana telah berupaya memperkenalkan sistem berdasarkan kebutuhan karyawan, serta untuk memecahkan masalah mereka. Kami akan terus meningkatkan efisiensi kerja bagi karyawan kami melalui solusi IT berbasis data besar,” kata pejabat Asiana Airlines. EFB sendiri merupakan aplikasi perjanjian antara Jeppesen dan Asiana Airlines untuk tiga pesawat Boeing 777 baru yang akan menampilkan Boeing Class 3 EFB. Jeppesen juga akan menyediakan sistem e-Link kepada maskapai ini sehingga grafik dan data dapat diakses secara elektronik oleh personel darat, seperti pengiriman dan operasi. Baca juga: Lari Telanjang di Hotel Singapura, Tiga Awak Kabin British Airways Terancam Dipecat “Asiana Airlines dengan bangga memperkenalkan teknologi Electronic Flight Bag (EFB) yang mutakhir ke dalam armada 777 sebagai langkah menuju kokpit digital. EFB akan mengganti sebagian besar manual hardcopy kertas, yang akan mengurangi berat dan menyebabkan konsumsi bahan bakar yang lebih rendah, “kata Ho-il Lee, wakil presiden senior OCC & Penerbangan Operasi, Asiana Airlines.

Narrow-Body vs Wide-Body: Mana yang Lebih Baik di Rute Penerbangan Langsung Jarak Jauh?

Salah satu tren yang kini tengah berkembang adalah penerbangan langsung jarak jauh dengan menggunakan pesawat narrow-body. Berlandaskan alasan lebih hemat bahan bakar – atau efisiensi pengoperasian jika ditinjau dalam skala yang lebih besar, ada banyak maskapai di luar sana yang menggunakan pesawat berbadan kecil ini untuk beroperasi di rute penerbangan jarak jauh. Namun jika dibandingkan dengan pesawat wide-body yang sebelumnya dipercaya untuk mengoperasiakn rute penerbangan semacam ini, manakah yang lebih baik secara keseluruhan? Baca Juga: Airbus A220, Pesawat Narrow-Body yang Mampu Jabani Tugas Boeing 787 Dreamliner Penerbangan Narrow-Body Jarak Jauh
Ilustrasi Airbus A321XLR dengan livery Qantas. Sumber: Airbus
Tidak banyak yang menyadari bahwa ada beberapa keuntungan yang di dapat ketika mengudara dengan menggunakan pesawat narrow-body – salah satunya adalah antrean di bandara dan di kabin yang tidak terlalu menumpuk seperti menggunakan pesawat wide-body. Proses boarding juga dapat dilakukan dengan lebih cepat ketimbang pesawat berbadan besar. Itu dari segi penumpang, tapi dari segi maskapai yang mengoperasikannya pun dapat mengambil keuntungan dari penggunaan pesawat narrow-body. Sebagaimana yang sudah disebutkan di atas, efisiensi dalam pengoperasian pesawat narrow-body memang menjadi nilai jual utama dari pesawat jenis ini. Selain itu, tingkat keterisian penumpang yang rendah juga tidak menjadi suatu masalah yang terlalu berarti apabila pihak maskapai mengoperasikan pesawat narrow-body. Namun, tidak melulu pesawat narrow-body ini memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak. Ini dilandaskan oleh ketersediaan ruang yang jauh lebih sempit ketimbang pesawat wide-body. Ya, kenyamanan penumpang memang jadi salah satu perhatian utama bagi sejumlah pihak terkait penerbangan langsung jarak jauh dengan menggunakan pesawat narrow-body. Penerbangan Wide-Body Jarak Jauh
Airbus A380. Sumber: TheIndependent
Seolah menjadi kebalikan dari penerbangan langsung jarak jauh dengan menggunakan pesawat narrow-body, kenyamanan penumpang menjadi nilai jual utama dari pihak maskapai yang mengoperasikan pesawat wide-body untuk penerbangan langsung jarak jauh mereka. Bagi awak kabin yang beroperasi, penggunaan pesawat wide-body dalam penerbangan langsung jarak jauh seolah menjadi angin segar bagi mereka, dimana akan ada ruang istirahat khusus bagi mereka – dan tentu saja ada kesempatan untuk ‘memoles’ ulang make up mereka yang sudah mulai luntur. Baca Juga: Tersebar Isu Soal Kenyamanan Penumpang, Terlalu Dinikah Airbus Luncurkan A321XLR? Mana yang Lebih Baik? Tentu saja pertanyaan ini akan menghasilkan beragam jawaban – tidaklah absolut seperti pertanyaan 2+2=4. Ini semua bergantung dari sudut pandang Anda sebagai penumpang dan pihak maskapai yang mengoperasikan rute penerbangan tersebut. Bagaimana menurut Anda?  

Nuro, Mobil Otonom Pengantar Pizza Hadir Akhir Tahun di Houston

Menikmati pizza yang diantar oleh mobil otonom sebentar lagi akan terwujud di Amerika Serikat. Pasalnya raksasa pizza Domino’s baru saja bermitra dengan startup Silicon Valley untuk mulai mengirimkan pizza pesanan pelanggan mereka dengan sebuah mobil otonom. Baca juga: California Hadirkan AutoX, Mobil Otonom Pengantar Barang Pesanan Namun, penggunaan mobil otonom untuk mengantarkan pizza milik Domini’s ini akan dimulai pada akhir tahun ini. Armada ini nantinya akan mengirimkan pesanan pizza ke seluruh wilayah Houston dengan sebuah mobil pengiriman Nuro yang dibuat oleh Startup Silicon Valley. “Mitra berharga dalam perjalanan kendaraan otonom kami, menambahkan Kesempatan untuk membawa pelanggan kami pilihan pengalaman pengiriman tanpa awak, dan operator kami tambahan solusi pengiriman selama kesibukan toko yang sibuk, adalah bagian penting dari pengujian kendaraan otonom kami,” ujar Kevin Vasconi dari Domino’s KabarPenumpang.com melansir dari laman bigthink.com (18/6/2019). Cara kerja robot ini akan berlaku ketika pelanggan memesan pizza secara online. Saat mereka menentukan pizza yang dipesan. Pelanggan akan dimudahkan karena bisa melacak mobil melalui aplikasi dan saat kendaraan tiba di tujuan hanya memasukkan kode PIN khusus untuk membuka kunci kompartemen pizza. Diketahui, Nuro dan beberapa pesaingnya Udelv dan Robomart ternyata memfokuskan secara khusus pada pengembangan mesin pengiriman produk jarak jauh seperti pizza ini. Kendaraan R1 buatan khusus mereka memiliki ukuran setengah dari mobil penumpang biasa dan tidak memiliki ruang bagi pengemudi. Hal ini membuat mobil otonom tersebut lebih aman dan ringan dengan sedikit potensi membahayakan ketika terjadi kecelakaan. Kecepatan mobil otonom ini pun cukup rendah hanya 25 mil per jam atau 40,23 km per jamnya. Mobil otonom ini juga merupakan teknologi geofencing yang membatasi mereka pada area terbatas di sekitar toko. Untuk saat ini, mobil-mobil tersebut masih dilacak di sekitar lingkungan dengan kendaraan yang digerakkan oleh manusia melalui monitor untuk memastikan tidak ada yang rusak. Baca juga: Di 2020, Uber dan Volvo Siap Uji Mobil Otonom Generasi Ketiga Startup Silicon Valley, didirikan oleh veteran Google, telah menghasilkan $940 juta pada bulan Februari dan telah mengirimkan bahan makanan untuk Kroger di sekitar Houston. Kemudian mulai bermitra dengan Domino juggernaut pizza, yang menghasilkan hampir tiga juta pizza sehari, adalah langkah logis lain untuk memperluas bisnis mobil otonom. Tahun 2018 lalu di jalanan California, layanan mobil otonom juga hadir yakni AutoX yang akan mengantar makanan dari toko online GrubMarket. Pesanan tersebut akan berada di bagasi mobil otonom dan pelanggan hanya mengklik pesanan pada aplikasi untuk mengambilnya.

McDonnell Douglas MD-12 – Calon Rival Queen of the Skies yang Tidak Laku di Pasar

Bila sebelumnya pernah dibahas tentang pesawat rancangan Rusia yang hampir menjadi calon saingan dari Airbus A380, Sukhoi KR-860, kini ada lagi pesawat yang didaulat menjadi rival dari Boeing 747 namun gagal. Adalah MD-12, mahakarya dari produsen aerospace asal Amerika, McDonnell Douglas yang sempat digadang-gadang bakal jadi rival terberat bagi the Queen of the Skies ini pada akhirnya harus mengubur asanya dalam-dalam karena blunder dari McDonnell Douglas dalam pengembangannya. Baca Juga: Sukhoi KR-860, ‘Kembaran’ Airbus A380 yang Tak Pernah Mengudara Kembali ke periode 90-an dimana berbagai maskapai dari seluruh dunia tengah gencar-gencarnya menawarkan perjalanan internasional dengan harga yang cukup murah. Momen tersebut lantas tidak disia-siakan begitu saja oleh pihak McDonnell Douglas dan mereka langsung berinisiatif untuk mengembangkan pesawat tingkat dua dengan maksud pesawat tersebut dapat menampung lebih banyak penumpang. Pada periode tersebut, Boeing dengan varian 747-nya hampir menguasai semua ceruk penerbangan jarak jauh dan menyandang predikat sebagai produsen aerospace asal Amerika, ambisi McDonnell Douglas untuk mengembangkan MD-12 menjadi semakin menggebu-gebu. Beranjak ke musim dingin tahun 1991, jajaran direksi di McDonnell Douglas lalu menyetujui proposal untuk mengembangkan MD-11 menjadi MD-12 dengan kisaran budget US$4 miliar untuk pengembangan dan perakitan prototipe. KabarPenumpang.com mengutip dari laman simpleflying.com, dalam mengembangkan MD-12 ini, McDonnell Douglas tidak menghabiskan besaran dana tersebut sendiri, melainkan menjalin kemitraan terbatas dengan Taiwan Aerospace dan sejumlah perusahaan lain di Asia. Pada April 1992, McDonnell Douglas dengan bangga memamerkan varian MD-12 ini kepada publik dan sontak momen tersebut menarik minat berbagai maskapai yang sedang trengginas menjabani rute penerbangan jarak jauh. Kendati banyak minat terhadap varian MD-12 ini, namun tidak ada satupun dari mereka (pihak maskapai) yang secara resmi melakukan teken atau membuat membubuhi tanda di buku pesanan pesawat McDonnell Douglas. Baca Juga: MD-11, Tak Berusia Panjang, Inilah Kado Ulang Tahun Garuda Indonesia Ke-43 Entah karena kedigdayaan Boeing yang kala itu sedang tinggi-tingginya, atau memang MD-12 ini kurang andal, namun satu yang pasti – pihak McDonnell Douglas benar-benar memiliki banyak sekali kekurangan dalam pengembangan pesawatnya. Sebut saja sumber daya dalam pengembangan pesawat hingga kekurangan dari segi finansial. Padahal jika dilihat dari spesifikasinya, MD-12 ini sebenarnya bisa saja menjadi ancaman besar bagi Boeing. Ya, pesawat quadjet yang menggunakan mesin General Electric CF6-80C2 ini memiliki kapasitas angkut hingga 511 penumpang dalam konfigurasi satu kelas dan 430 penumpang dalam konfigurasi tiga kelas. Bertengger kelas Mach 0,85 (1.050km/jam), jarak tempuh dari pesawat ini mencapai 14.825km.