Tingkatkan Pengalaman Penumpang, Boeing Siap Uji Coba Program EcoDemonstrator

Kendati kondisi perusahaan tengah terseok sebagai buntut dari jatuhnya dua pesawat 737 MAX 8, namun pihak Boeing enggan terlalu lama terpuruk di dalam kondisi ini. Ini terbukti dari eksperimen Boeing yang bertajuk EcoDemonstrator, dimana melalui eksperimen ini, Boeing bebas berkreasi dengan berbagai fitur futuristik yang ada di sektor aviasi dan diharapkan dapat meningkatkan pengalaman penumpang di waktu yang akan datang. Baca Juga: Boeing 737 MAX 7, Pecahkan Rekor Internal Penjualan Pesawat Tercepat Sepanjang Sejarah! EcoDemonstrator ini sendiri terbagi ke dalam 50 proyek berbeda di dalamnya, termasuk pengaplikasian toilet pintar dan peningkatan daya pandang penumpang dari dalam kabin ke luar pesawat. Diwartakan dari laman newatlas.com (2/7/2019), program ini sendiri sebenarnya sudah berjalan sejak tahun 2012 lalu, yang juga melibatkan lima jenis pesawat dari Boeing. Mungkin Anda masih ingat dengan teknologi diesel hijau (ramah lingkungan) pertama di dunia, atau sayap pesawat yang terinspirasi dari bunga lotus/teratai, hingga teknologi yang dapat mencairkan es di badan pesawat ketika tengah mengudara? Ya, ini merupakan sebagaian dari proyek Boeing yang ada di dalam program EcoDemonstration. Tahun ini, rencananya Boeing akan menguji beberapa cara baru untuk berbagi informasi digital dengan menara kontol lalu lintas udara, meja selama penerbangan, kantor pusat operasional maskapai, dan teknologi baru yang menghubungkan berbagai bagian di dalam ruang kabin. Tidak menutup kemungkinan juga jika Boeing akan turut menguji toilet pintar yang akan mampu untuk mendeteksi dan menyesuaikan suhu dan kelembapan ruangan. Juga keberadaan kamera yang akan memungkinkan penumpang untuk melihat lebih jauh dan lebih luas ke arah luar pesawat ketika mengudara. Baca Juga: Gunakan Sayap Lipat nan Unik, Akankah Boeing 777X Jadi Pesawat Paling Efisien? “Ini adalah tambahan terbaru untuk program ecoDemonstrator kami, di mana kami melihat bagaimana awak dan penumpang dapat memiliki pengalaman yang lebih baik dan bagaimana teknologi dapat membuat penerbangan lebih aman, lebih efisien dan lebih menyenangkan,” kata Mike Sinnett, wakil presiden strategi produk dan masa depan pengembangan pesawat di Boeing Commercial Airplanes. Penerbangan uji coba perdana dari program EcoDemonstrator ini sendiri akan mulai bergulir pada musim gugur 2019 mendatang.  

Fokus di Wilayah Sulawesi, Maluku dan Papua, Inilah Tantangan Operasional Drone Kargo Garuda Indonesia

Pertengahan semester kedua tahun ini bakal menjadi ujian penting bagi jasa layanan logsitik Garuda Indonesia, pasalnya maskapai plat merah itu akan mulai melakukan uji coba penggunaan drone kargo. Tidak tanggung-tanggung, drone kargo yang bakal didatangkan Garuda Indonesia adalah jenis mutakhir, bahkan lebih maju ketimbang yang dioperasikan TNI saat ini. Drone yang dimaksud adalah Harbin BZK-005 yang punya kualifikasi HALE (High Altitude Long Endurance). Baca juga: ‘Belanja’ ke Cina, Garuda Indonesia Datangkan Drone Untuk Angkutan Kargo Seperti telah diwartakan pada bulan April silam, proyeksi pengguna drone akan mengangkut kargo dari wilayah remote menuju kota-kota besar di pelosok negeri. “Nantinya kargo akan dibawa dari wilayah remote menuju kota besar dengan menggunakan drone ini, dan seterusnya (kargo) akan dipindahkan menuju pesawat yang lebih besar. Mungkin drone ini nantinya akan kita operasikan di Kalimantan atau Papua dan ditujukan sebagai pengumpan (feeder) saja,” ujar Ikhsan Rosan, Vice President Corporate Secretary Garuda Indonesia. Dan tiga bulan berselang, ada keterangan terbaru (6/7/2019) dari Direktur Utama Garuda Indonesia Ari Askhara yang menjelaskan bila titik fokus pengoperasian drone kargo nantinya akan ada di wilayah Papua, Sulawesi dan Maluku. Lebih khusus lagi, dalam keterangan tertulis Ari mengatakan bahwa Garuda Indonesia akan mendukung upaya peningkatan kualitas perekonomian nelayan (perikanan) di wilayah-wilayah tersebut. “Sejalan dengan strategi nasional menuju Indonesia sebagai “Poros Maritim Dunia”, kehadiran teknologi drone kargo ini nantinya dapat secara signifikan mendukung upaya percepatan pengiriman komoditas kemaritiman di remote area sehingga kualitas dan kesegaran komoditas dapat menjadi lebih berdaya saing yang pada akhirnya dapat menstimulir kapasitas produksi nelayan lokal dengan cost logistik yang lebih kompetitif,” ujar Ari. Ia menambahkan dengan teknologi drone kargo ini menjadikan produk komoditas kemaritiman nelayan lokal di wilayah terpencil dapat terhubung langsung dengan hub penerbangan nasional Garuda Indonesia yang memiliki akses langsung ke sejumlah negara pengimpor produk maritim nasional. Untuk menunjang kampanye di atas, saat ini Garuda Indonesia berencana untuk bekerja sama dengan satu perusahaan dalam negeri sebagai manufacturer atau assembly point selama proses produksi UAV berlangsung. Proyeksi Garuda Indonesia lumayan tinggi untuk bisnis kargo gaya baru ini, dimana Garuda berharap bisa mendatangkan 100 unit drone kargo hingga tahun 2024. Baca juga: Dibanding Drone Kargo Garuda Indonesia, Kapasitas Payload Drone Feihong-98 Lebih Besar Jenis drone Harbin BZK-005 dapat mengangkut beban angkutan kargo hingga mencapai 2,2 ton dengan jarak tempuh mencapai 1.200 kilometer di ketinggian 3.000 meter. Harga drone buatan Beihang UAS Technology ini kabarnya mencapai US$1 juta. Meski harga akuisisi drone lebih murah ketimbang pesawat awak konvensional, namun banyak pekerjaan rumah yang dipersiapkan Garuda Indonesia, mulai dari tarif angkut yang harus lebih murah, manajemen pemeliharan serta suku cadang, dan tentunya sistem kendali. Drone akan dikendalikan dari fasilitas ground control station, dimana diperlukan kesiapan pilot yang terlatih dalam menerbangkan drone di medan pegunungan, akses transmisi ke drone juga harus diperhitungkan, terutama pada pengoperasian di wilayah Papua yang kemungkinan mengandalkan jalur NLoS (Non Light of Sight).

Lyfe Watch, Mudahkan Bayar MRT dan TransJakarta Hanya dengan Sekali Tap

Menggunakan transportasi umum baru seperti Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta, pembayarannya hanya bisa dilakukan dengan kartu uang elektronik. Hal ini selain memudahkan, juga mempercepat akses penumpang tanpa harus mengeluarkan uang. Namun bagaimana jika ada yang lebih memudahkan dengan media sebuah jam tangan dan bisa membayar segalanya serta membantu pengguna menjalani gaya hidup sehat? Baru-baru ini sebuah start-up Lyfe menggandeng PT Bank Nasional Indonesia (BNI) meluncurkan Lyfe Watch. Baca juga: FeliCa, Gelang Ajaib Berbasis Chip Untuk Transaksi Komuter Jabodetabek Ini adalah sebuah alat pembayaran pertama di Indonesia yang juga sebuah jam. Peluncuran Lyfe Watch sendiri pada 5 Juli 2019 kemarin saat HUT BNI ke-73. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, Lyfe Watch akan dilengkapi dengan teknologi Near Field Communication (NFC) dan teknologi pembayaran non-tunai (cashless) TapCash yang memungkinkan pengguna membayar berbagai kebutuhan sehari-hari tanpa mengeluarkan uang dari dompet. Kehadiran Lyfe Watch ini sendiri dirancang untuk menunjang aktivitas masyarakat Indonesia khususnya ibu kota Jakarta yang memiliki mobilitas tinggi. “Segala hal perlu dilakukan secara cepat dan aman. Smartwatch ini dapat digunakan untuk membayar tiket MRT dan bus TransJakarta,” kata Indra Darmawan, CEO Lyfe. Tak hanya itu, Lyfe Watch juga bisa untuk pembayaran parkir di Gelora Bung Karno dan beberapa stasiun besar, belanja di minimarket dengan EDC TapCash hingga berlibur ke tempat rekreasi yang sudah bekerja sama. Penggunaannya pun cukup mudah yakni pengguna hanya menempelkan Lyfe Watch di mesin pembaca dan semua transaksi bisa selesai dalam sekejap. Pengisian saldonya pun mudah yakni melalui aplikasi BNI Mobile atau TapCash Go. Selain menjadi jam tangan pembayaran, Lyfe Watch juga berfungsi sebagai fitness and health tracker untuk mendukung gaya hidup sehat pengguna. Lyfe Watch dilengkapi dengan fitur step counter, heart rate and blood pressure monitor, hingga calorie tracker. “Seluruh fitur Lyfe Watch ini bisa disinkronisasi dengan Lyfe App, sehingga data kondisi tubuh dapat disimpan dan dipantau dengan lebih akurat. Kami sangat bangga meluncurkan wearable payment pertama di Indonesia. Harapan kami, Lyfe Watch bisa menjadi salah satu metode pembayaran alternatif dan game changer di tengah masyarakat Indonesia yang sudah mulai mengimplementasikan cashless di kehidupan sehari-hari, ujar Singgih Akbar Prakoso, Vice President Lyfe. Baca juga: Microchip Implan Digunakan Untuk Pembayaran Tiket Kereta di Swedia Kehadiran Lyfe Watch ini sendiri mengingatkan dengan gelang Felica (Gelang Multi Trip milik KCI). Gelang ini sendiri bisa digunakan untuk melakukan pembayarna hanya dengan mentapnya ke mesin yang tersedia. Sayangnya gelang Felica tersebut hanya berfungsi untuk naik kereta listrik (KRL) bukan untuk yang lainnya seperti Lyfe Watch. Solusi Lyfe Watch tentu menarik, kemudian yang jadi pertanyaan adalah berapa harganya? Indra Darmawan menyebut harga dan spesifikasi Lyfe Watch akan dirilis pada akhir Juli 2019 ini.

Merespon Tawaran Mahathir, Akankah Singapore Airlines Akuisisi Malaysia Airlines?

Penandatanganan kontrak kerja sama antara Singapore Airlines dan Malaysia Airlines yang terjadi pada tanggal 30 Juni kemarin memang menimbulkan kontroversi berkepanjangan di mata publik. Sejumlah pertanyaan terkait penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) ini pun kemudian muncul ke permukaan, salah satu yang paling santer ditanyakan publik adalah seberapa jauh kerja sama yang akan dijalin oleh kedua maskapai ini? Baca Juga: Mahathir Siap Jual Malaysia Airlines, Mungkinkah AirAsia Berminat Akuisisi? Sebelum membahasnya lebih jauh, spekulasi terkait Singapore Airlines akan menjadi investor strategis bagi Malaysia Airlines juga sudah kadung ‘mewabah’. Ya, sebagaimana yang kita ketahui bersama, kerja sama yang terjalin di antara dua maskapai ini bisa dibilang sedikit timpang, mengingat karir gemilang yang sudah ditorehkan Singapore Airlines agaknya tidak berimbang dengan catatan karir yang selama ini diraih oleh flag carrier dari Malaysia ini – terlebih publik tidak bisa lupa dengan peristiwa hilangnya Malaysia Airlines MH-370 yang hingga saat ini masih menjai salah satu misteri di sektor aviasi global yang belum terpecahkan. Belum lagi pernyataan yang terlontar dari Perdana Menteri Malaysia, Tun Dr. Mahathir Mohamad di sela acara KTT Asia Pasifik ke-33 pada Selasa (25/6/2019) yang mengatakan bahwa Pemerintah Malaysia telah bersedia untuk menjual Malaysia Airlines apabila ada pihak luar yang hendak menimangnya – kendati Mahatir hanya mensyaratkan agar nantinya nama maskapai tidak diganti walaupun telah berpindah tangan. Ketimpangan ini nampaknya sudah semakin nyata di mata publik, yang pada akhirnya hal ini berbuntut pada protes besar-besaran dari publik akan kerja sama antara Singapore Airlines dan Malaysia Airlines. “Tetapi masih terlalu dini untuk mengatakan seberapa jauh kemitraan yang akan dijalin antara kedua maskapai ini,” ujar kepala analis CAPA Centre for Aviation, Brendan Sobie, sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman theindependent.sg (7/7/2019). Menurut nota kesepakatan tesebut, baik Singapore Airlines dan Malaysia Airlines akan menjalin kerja sama penerbangan codeshare – dan tidak menutup kemungkinan untuk menjalin hubungan kerja sama potensial lainnya di waktu yang akan datang, mungkin di sektor kargo, pemeliharaan pesawat, hingga perbaikan pesawat jika dibutuhkan. Baca Juga: Singapore Airlines Teken MoU dengan Malaysia Airlines, Warganet Mencak-Mencak di Media Sosial Apabila menghubungkan pernyataan dari Mahathir Mohamad tadi dengan kerja sama ini, maka akan timbul satu buah pemikiran yang hingga saat ini belum dapat dipastikan kebenarannya: “Akankah Singapore Airlines di waktu yang akan datang membeli saham dari Malaysia Airlines sebagaimana yang sudah digaungkan oleh Mahatir Mohamad?” Jika melihat kemungkinan kerja sama lanjutan seperti yang sudah disebutkan di atas, maka bukan tidak mungkin apabila Singapore Airlines akan mengambil alih keseluruhan pengoperasian dari Malaysia Airlines. Kalau memang benar inilah tujuan dari kerja sama yang terjalin di antara dua maskapai tersebut, lalu siapakah yang akan menjadi flag carrier dari Malaysia?  

Autopilot, Kini Jadi Masalah Baru Pada Boeing 737 MAX

Setelah ditemukannya masalah pada Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS), kini polemik seputar Boeing 737 MAX mulai dengan babak baru lainnya, setelah diketahui fitur autopilot di 737 MAX menjadi masalah baru setelah dilakukan pemeriksaan tambahan sebelum diizinkan kembali melayani penumpang. Masalah autopilot ini diidentifikasi dan ditemukan bukan oleh pihak Amerika Serikat, melainkan oleh European Union Aviation Safety Agency (EASA) atau Badan Keamanan Penerbangan Uni Eropa. Baca juga: Kembangkan Teknologi Autopilot, Boeing Tawarkan Self Flying Plane Dilansir KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com (6/7/2019), ada beberapa masalah yang perlu diperbaiki oleh Boeing 737 MAX seperti potensi kesulitan yang dimiliki pilot dalam memutar roda trim manual jet. Selain itu sensor of attack tak bisa diandalkan, prosedur pelatihan pilot tidak memadai, kegagalan autopilot untuk melepaskan diri dari keadaan darurat tertentu. Adapula masalah perangkat lunak mengenai mikroprosesor lagging yang baru-baru ini diidentifikasi oleh Federal Aviation Administration (FAA). EASA menemunkan bahwa autopilot tidak selalu terlepas dengan benar ketika keadaan darurat. Hal ini bisa menyebabkan insiden yang tidak menguntungkan jika pilot tak punya waktu untuk mengambil alih dari autopilot. Karena berbagai masalah, FAA sendiri mendapat banyak pertanyaan terkait proses sertifikasi yang telah mengurangi kredibilitas mereka sebagai regulator penerbangan di seluruh dunia. Hal ini kemudian membuat EASA kemungkinan bakal memiliki pengaruh yang signifikan untuk agen-agen penerbangan lainnya. “Kami terus terlibat dengan regulator dan memberikan informasi saat kami bekerja menuju pengembalian yang aman ke layanan untuk MAX,” ujar pihak Boeing menanggapi masalah yang ada. Tak hanya itu, Boeing sendiri belum mengungkapkan detail tentang kekhawatiran baru dari EASA dan belum ada informasi bagaimana akan diperbaiki masalah yang baru saja ditemukan tersebut. Meski begitu, Boeing tetap menjadwalkan masuknya kembali 737 MAX pada September 2019. Tetapi beberapa maskapai sudah menghapus penggunaan Boeing 737 MAX hingga Oktober dan beberapa negara melarang penerbangannya hingga tahun 2020. Untuk kembali menerbangan Boeing 737 MAX, badan pengatur penerbangan memiliki peran besar dalam penentuan pesawat tipe tersebut untuk disertifikasi ulang dan kembali melayani penumpang. Baca juga: Pasca Insiden Boeing 737 MAX 8, Akankah Pilot ‘Kembali’ Menyandarkan Kepercayaan Pada Pesawat Tersebut? Namun pertanyaan besar akan muncul bila sudah disertifikasi ulang. Apakah penumpang akan mau menggunakan pesawat Boeing 737 MAX kembali atau kepercayaan sudah hilang dan tak mau naik bila mereka tahu bakak terbang menggunakan pesawat itu?

Dari Embarkasi Luar Negeri, Lion Air Juga Layani Penerbangan Haji 2019

Bila Garuda Indonesia adalah maskapai resmi dan satu-satunya yang melayani penerbangan Haji dari Indonesia, maka bagaimana dengan maskapai lain? Ternyata maskapai lain (swasta) juga ada yang berpartisipasi dalam layanan penerbangan Haji, yaitu Lion Air. Namun Lion Air tidak memberangkatkan jamaah Haji dari Indonesia. Maskapai yang sudah biasa melayani rute Umrah ini menyebut akan melayani 67.457 jamaah pada Haji 2019. Dimana operasional dilaksanakan melalui kerjasama charter oleh salah satu perusahaan internasional. Baca juga: Mulai 7 Juli, Garuda Indonesia Siapkan 14 Pesawat untuk Layani Penerbangan Haji Danang Mandala Prihantoro, Corporate Communications Strategic Lion Air Group dalam catatan tertulis menjelaskan telah mempersiapkan 288 sumber daya manusia profesional, terdiri 65 pilot, 153 awak kabin, 57 teknisi serta 13 petugas pengatur kegiatan operasional darat (flight operation officer/ FOO atau Aircraft Dispatcher). Lion Air menggunakan basis operasional (home base) di Madinah (MED) dan Jeddah (JED), untuk masa operasional berkisar 2,5 bulan, terhitung 10 Juli 2019 hingga 05 September 2019. Pada penerbangan Haji tahun ini, Lion Air melayani kota asal pemberangkatan (emberkasi) dari beberapa negara di Asia, Timur Tengah, Afrika dan Eropa dengan kota tujuan penurunan (debarkasi) di Bandar Udara Internasional Raja Khalid, Riyadh (RUH); Bandar Udara Internasional Pangeran Mohammad bin Abdul Aziz, Madinah (MED); serta Bandar Udara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah (JED). Lion Air akan mengoperasikan tiga Airbus 330-300 (440 kursi), dua Airbus 330-900NEO (436 kursi) dan dua Boeing 737-900ER (215 kursi). Rata-rata pesawat tersebut berusia muda yang diproduksi pada 2015 – 2019. Seluruh pesawat sudah menjalani perawatan intensif, dalam performa terbaik dan laik terbang (airworthy for flight). Pelaksanaan layanan haji ditandai pelepasan kru dan penerbangan Airbus 330-300 dari Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang (CGK). Pesawat lepas landas pukul 11.19 WIB (Western Indonesia Time, GMT+ 07) dan tiba di Bandar Udara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah (JED) pukul 16.21 waktu setempat (Arabia Standard Time, GMT+ 03). Informasi 15 embarkasi tujuan Jeddah dan Madinah 1. Abuja – Bandar Udara Internasional Nnamdi Azikiwe, Federal Capital Territory of Nigeria, Afrika Barat (ABV). 2. Algiers – Bandar Udara Internasional Houari Boumediene, Republik Algeria, Afrika Utara (ALG). 3. Almaty – Bandar Udara Internasional Almaty, Nur-Sultan, Republik Kazakhstan (ALA). 4. Banjul – Bandar Udara Internasional Yundum, Republik Gambia, Afrika Barat (BJL). 5. Biskhek – Bandar Udara Internasional Manas, Kyrgyzstan, Asia Tengah (FRU). 6. Constantine – Bandar Udara Internasional Mohamed Boudiaf, Republik Algeria, Afrika Utara (CZL). 7. Dakar – Bandar Udara Internasional Blaise Diagne, Diass, Republik Senegal, Afrika Barat (DSS). 8. Kuwait – Bandar Udara Internasional Kuwait, Teluk Persia, Timur Tengah (KWI). 9. Lagos – Bandar Udara Internasional Murtala Muhammed, Ikeja, Federal Capital Territory of Nigeria, Afrika Barat (LOS). 10.Lome – Bandar Udara Internasional Gnassingbé Eyadéma, Republik Togo, Afrika Barat (LFW). 11.Muscat – Bandar Udara Internasonal Muscat, Oman, Arab (MCT) 12.Osh – Bandar Udara Internasional Osh, Kyrgyzstan, Asia Tengah (OSS). 13.Sarajevo – Bandar Udara Internasional Sarajevo, Republik Bosnia dan Herzegovina, semenanjung Balkan di Eropa bagian tenggara (SJJ). 14.Sokoto – Bandar Udara Internasional Sadiq Abubakar III, Federal Capital Territory of Nigeria, Afrika Barat (SKO). 15.Ta’if – Bandar Udara Internasional Ta’if, Makkah Al Mukarramah Rd, Taif Saudi Arabia (TIF) Baca juga: Terkait Kriminalisme, Komisi Haji Nigeria Waspadai Kepulangan Jamaah Haji dari Arab Saudi Informasi 6 embarkasi tujuan Riyadh 1. Abha – Bandar Udara Regional Abha, ‘Asir, Arab Saudi (AHB). 2. Amman – Bandar Udara Internasional Queen Alia, Zizya, Yordania (AMM) 3. Dammam – Bandar Udara Internasional Raja Fahd, Dammam, Arab Saudi (DMM). 4. Jizan – Bandar Udara Regional Jizan atau Bandar Udara Raja Abdullah Bin Abdulaziz, Jizan, Arab Saudi (GIZ). 5. Sharm el-Sheikh – Bandar Udara Internasional Sharm el-Sheikh, Sharm el-Sheikh, Mesir (SSH). 6. Ta’if – Bandar Udara Internasional Ta’if, Makkah Al Mukarramah Rd, Taif Saudi Arabia (TIF).

Citilink dan BIJB Kertajati Klarifikasi Video Viral Penumpang Seorang Diri di Penerbangan Surbaya

Baru-baru ini sebuah video viral dimana hanya ada satu orang penumpang dalam penerbangan maskapai berbiaya rendah (LCC) Citilink. Video tersebut sudah di bagikan oleh beberapa akun media sosial dan menjadi perhatian para warganet. Baca juga: Bak Raja, Pria Asal Lithuania Menjadi Satu-Satunya Penumpang Pesawat Tujuan Italia Dalam video tersebut yang benar-benar menarik saat penumpang satu-satunya itu merekam dirinya dan memperlihatkan seisi kabin yang tidak ada penumpang lain selain dia. Video berdurasi 40 detik tersebut memperlihatkan sosok penumpang yang mengenakan baju hitam dan berkacamata serta menyebut dirinya tengah dalam perjalanan menuju Surabaya. “Mantap, carter pesawat ke Surabaya Rp1,1 juta,” ujarnya sambil mengarahkan kameranya ke bangku depan dan belakang. https://youtu.be/K5MGo03y3-g Dikutip KabarPenumpang.com dari detik.com (2/7/2019), Citilink yang diwakili VP Corporate Secretary & CSR Citilink Indonesia Resty Kusandarina mengatakan, pihaknya juga belum mendapat informasi secara detail penerbangan yang ditumpangi penumpang yang videonya viral tersebut. “Mengenai video itu, karena di dalam video tersebut tidak terdapat waktu maupun detail penerbangan, kami tidak dapat memastikan mengenai video tersebut,” ujar Resty. Video ini beredar dan ada yang menyebutkan bahwa penerbangan yang ditumpangi pria tersebut berangkat dari Bandara Kertajati di Majalengka menuju ke Bandara Juanda di Surabaya. Resty mengakui meski ada pemindahan operasional Citilink ke Kertajati tetapi tingkat keterisian atau seat load factor (SLF) sudah mencapai 50 persen. “Rute KJT-SUB dan SUB-KJT sudah berada di atas 50 persen setelah pemindahan operasional berdasarkan catatan kami,” kata Resty. Tak hanya Citilink yang mengklarifikasi hal tersebut, pengelola Bandara Internasional Kertajati mengatakan tidak ada penerbangan Citilink dari Kertajati ke Surabaya yang hanya mengangkut satu orang. Airport Operation and Performance Group Head PT BIJB, Agus Sugeng Widodo mengatakan, pada penerbangan 1 Juli 2019 kemarin memang ada penerbangan Citilink dari Kertajati ke Surabaya yang mengangkut sepuluh penumpang. Tetapi saat penerbangan kembali dari Surabaya ke Kertajati Agus mengklaim load factor lebih dari 50 persen. “Cuma kemarin itu memang ada ke Surabaya penumpangnya hanya sepuluh orang tapi kesininya penuh diatas 50 persen saya sudah klarifikasi. Kesana sedikit kesini banyak, sepuluh orang tapi bukan satu orang,” kata Agus. Baca juga: Tunjukkan Hasil Screen Capture e-Ticket, Penumpang Kereta di Inggris Justru Kena Perkara! Dia menjelaskan sedikitnya penumpang dikarenakan waktu pemasaran tiket yang cepat sehingga hanya sepuluh orang yang mendaftar. Selain itu bahkan penerbangan di hari tersebut sempat akan dibatalkan tetapi akhirnya dibuka kembali.

MS Roald Amundsen – Kapal Hibrida Asal Norwegia, Siap Berlayar Pada Musim Panas 2019

Kapal pesiar tradisional menimbulkan semua jenis masalah yang berkaitan dengan kualitas udara untuk kota-kota yang sering mereka datangi, terutama di titik-titik penting seperti Barcelona dan Venesia di mana penduduk setempat secara teratur memprotes partikel beracun yang dihasilkan oleh kapal-kapal tersebut ketika tengah berlabuh atau sekedar lewat saja. Tetapi operator kapal asal Norwegia, Hurtigruten tengah mempersiapkan masa depan perkapalan yang lebih hijau untuk armada yang dikelolanya. Baru-baru ini, mereka memperkenalkan kapal hybrid MS Roald Amundsen yang hanya digerakkan hanya dengan menggunakan daya baterai saja. Baca Juga: HYBRIDShip Bangun Kapal Ferry Tanpa Emisi Hurtigruten sendiri telah beroperasi sejak 1893 dan rencananya dalam beberapa tahun ke depan, Hurtigruten akan menyambut beberapa kapal hybrid ini ke dalam armadanya, dengan MS Roald Amundsen sebagai kapal pertama yang masuk ke dalamnya. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (4/7/2019), nama dari kapal ini sendiri terinspirasi dari nama penjelajah Norwegia yang pertama kali melintasi Antartika dan mencapai Kutub Selatan pada tahun 1911. Mengingat medannya yang tergolong tidak biasa, MS Roald Amundsen dirancang khusus untuk berlayar di perairan kutub yang sangat dingin dan menawarkan beragam fasilitas mewah yang siap untuk memanjakan Anda. Fasilitas ini termasuk sauna dengan panorama yang menakjubkan, restoran, bar, dek observasi yang luas, kolam renang, kolam rendam air panas outdoor dan balkon pribadi di kabin MS Roald Amundsen. Ada pula ruang di dalam kapal yang cukup untuk menampung hingga 530 penumpang, dan bahkan pusat sains yang didedikasikan khusus untuk pendidikan dan hiburan. Namun, inti dari perbedaan MS Roald Amundsen dengan kapal lainnya terletak pada daya gedor mesinnya yang tidak menggunakan bahan bakar tradisional seperti diesel atau gas, melainkan baterai. Drivetrain hibrida memungkinkannya untuk bergerak dengan menggunakan energi listrik, yang diharapkan akan mengurangi emisi karbon hingga 20 persen. “Digadang-gadang sebagai pelopor kapal yang mengusung energi listrik yang ramah lingkungan, menjadi sebuah kehormatan bagi saya untuk bisa mengendarai MS Roald Amundsen untuk pertama kali,” ujar kapten Kai Albrigtsen, yang ‘mengeluarkan’ kapal ini untuk pertama kali dari galangannya untuk berlayar di lepas pantai Norwegia sebelah barat. Baca Juga: Spesifikasi KMP Port Link, Kapal Ferry Teranyar dan Terbesar Setelah perjalanan perdana kapal ini yang sukses, MS Roald Amundsen rencananya akan mulai mengangkut penumpang pada musim panas 2019 ini dan melakukan ekspedisi di sepanjang pantai Norwegia, kepulauan Svalbard dan Greenland.  

Dongkrak Pengalaman Penumpang, Singapore Airlines Siap “Rombak” Lounge di Changi

Maskapai plat merah asal negeri tetangga, Singapore Airlines diwartakan baru saja merilis rencana untuk menginvestasikan lebih dari SG$50 juta atau yang setara dengan Rp521,8 miliar untuk proyek renovasi besar-besaran di Lounge SilverKris dan KrisFlyer Gold yang terletak di Terminal 3 Bandara Internasional Changi. Ketka rampung kelak, nantinya lounge ini akan menghasilkan ruang sebanyak 30 persen lebih besar daripada yang sekarang – dan secara otomatis daya tampung penumpangnya pun akan serta merta bertambah. Baca Juga: Changi Stopovers, Siap Manjakan Penumpang Transit Jelajahi Singapura Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com (4/7/2019), lounge baru ini akan menawarkan sejumlah fitur yang sangat berkarakter dan dipercaya mampu meningkatkan pengalaman penumpang; seperti ruang terbuka yang lebih luas, peningkatan fasilitas, beragam makanan dan minuman, tampilan dan nuansa lounge yang modern namun sederhana, serta penonjolan kesan keanggunan yang abadi. Dalam upayanya untuk melakukan renovasi besar-besaran ini, Singapore Airlines tidak bekerja sendirian, melainkan menggunakan jasa yang ditawarkan oleh Hirsch Bedner Associates, sebuah firma asal California yang menggeluti bidang desain interior dan memiliki keahlian lebih di sektor perhotelan. Kembali ke tahun 2008, dimana pihak maskapai pertama kali memperkenalkan Singapore Airlines Suites Class, kelas penerbangan paling mewah yang pernah tersedia di jagad aviasi global. Nah, sebagai keuntungan dari penumpang yang mengambil kelas ini, mereka dan penumpang yang duduk di First Class akan dimanjakan oleh hadirnya The Private Room dan First Class Lounge yang baru. First Class Lounge ini akan kembali menampilkan bar andalannya, dan di The Private Room, “penumpang akan menikmati perjalanan epicurean yang disempurnakan dengan santapan penganan segar dan musiman,” ujar pihak Singapore Airlines. Sementara itu, perluasan dari Business Class Lounge akan mencakup empat zona yang berbeda – cafe, coworking space, area untuk bersantai dan beristirahat, serta area yang menyerupai foodcourt dimana pengunjung dapat mencicipi beragam jenis makanan dari seluruh penjuru Asia. Business Class Lounge juga akan dilengkapi dengan bar yang tidak kalah lengkap dengan yang ada di First Class Lounge. Baca Juga: Megah dan Bertabur Hiburan Mewah, Jewel Bandara Changi Siap Dibuka 17 April 2019 Sebagai langkah awal pengaplikasian rencana ini, pihak Singapore Airlines akan terlebih dahulu merenovasi Business Class Lounge, lalu First Class Lounge yang diikuti dengan The Private One, dan yang terakhir adalah KrisFlyer Gold Lounge. Apakah dengan hadirnya rencana renovasi ini akan menjadikan Anda semakin rajin mengudara dengan Singapore Airlines?

Bukan Fans Pentolan Grup Band, Inilah Istilah “Deadhead” di Kalangan Awak Kabin!

Sebagai salah satu moda transportasi yang terkenal sangat complicated dan memiliki banyak istilah yang tidak lazin di dengar di telinga, sudah sewajarnya jika awak kabin di dalam sebuah penerbangan akan berbicara dengan rekannya dengan menggunakan kode khusus. Hal ini ditujukan supaya penumpang tidak mengetahui apa yang tengah mereka bicarakan – setidaknya penumpang tidak panik ketika awak kabin ini berbicara soal sebuah kecelakaan atau lain-lain. Nah, di dalam dunia penerbangan, ada sebuah istilah yang namanya deadhead. Wah, namanya cukup menyeramkan, ya? Tapi kira-kira apa sih definisi sesungguhnya dari deadhead ini? Baca Juga: Apa Arti Nomor di Ujung Landas Pacu, Cari Tahu di Sini! Tapi bagi Anda yang merupakan penggemar dari grup band rock asal Amerika, Grateful Dead – terutama sang vokalis, Jerry Garcia yang memiliki basis penggemar yang dinamakan Deadhead, istilah di dunia penerbangan ini bukanlah ditujukan bagi mereka. Sebagaimana yang dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, deadhead di sini merupakan sebuah istilah bagi awak pesawat yang sebenarnya tengah bertugas namun terbang dalam kapasitasnya sebagai penumpang untuk kembali ke kota atau negara asal, atau ke bandara lain untuk melanjutkan penerbangan. Lalu muncul pertanyaan, “ketika tengah bertugas yang diindikasikan mengenakan seragam atau atribut tertentu, mengapa ia masih saja mengenakan seragam? Kenapa tidak dilepas saja seragamnya dan berganti pakaian dengan pakaian casual seperti biasa?” Kita asumsikan saja awak kabin deadhead ini hendak bertugas di rute penerbangan Surabaya – Lombok dan diwajibkan untuk bersiap pada pukul 14.00WIB di Bandara Juanda, sedangkan dirinya tengah berada di kota Jakarta dan penerbangan dari Jakarta menuju Surabaya dijadwalkan akan tiba di Bandara Juanda sekitar pukul 13.30 WIB. Nah, alih-alih awak kabin ini tidak sempat bersolek sebelum bertugas, maka dari itu ia lebih memilih untuk berdandan dan mengenakan seragam di Jakarta, padahal rute penerbangan yang ia layani adalah dari Surabaya menuju Lombok. Kurang lebih seperti itu penjabaran sederhananya. Tapi istilah deadhead ini tidak melulu digunakan untuk situasi seperti itu saja. Mengutip dari laman latimes.com (1/7/2019), bisa jadi skema deadhead ini diberlakukan pada awak kabin yang mendadak terserang penyakit ketika tengah bertugas. Baca Juga: Lebih Mengenal Plug Door, Pintu Khusus Milik Si Burung Besi Ambil contoh, seorang awak kabin merasa tidak sanggup untuk melanjutkan tugasnya ketika pesawat tengah transit di Yogyakarta, maka ia akan memanggil lead flight attendant untuk mengabarkan kondisinya. Setelah dinilai tidak mampu untuk melanjutkan penerbangan, maka lead flight attendant akan menghubungi awak kabin lain yang tersedia untuk menggantikan posisi dari awak kabin yang sakit tersebut. Jadi, sekarang sudah paham kan dengan istilah deadhead?