Gogoro Smartscooter, Skuter Listrik Canggih Berbasis Aplikasi Online

Moda bertenaga listrik yang terkenal ramah lingkungan kini tengah gencar menggempur pasar kendaraan konvensional yang masih menggunakan bahan bakar fosil. Ya, di luar sana sudah banyak perusahaan maupun startup yang mengembangkan moda bertenaga listrik, salah satunya adalah Gogoro, startup yang mulai menggaungkan skuter listrik di Taiwan. Kira-kira, fitur apa saja yang dihadirkan Gogoro pada moda bertenaga listrik yang dilabeli skuter pintar ini, ya? Sebagai informasi, Taiwan merupakan negara yang dikenal sebagai pelopor skuter matic (skutic) di dunia. Baca Juga: Strator Ride, Otoped Listrik Beroda Besar Siap Masuki Moda Alternatif Perkotaan Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (8/7/2019), skuter listrik ini mengandalkan baterai swappable yang dapat dituker di setiap pos yang akan tersedia di setiap penjuru kota – dimana ini akan memungkinkan para pengguna untuk tetap bisa berkeliling kota dengan menggunakan Gogoro Skuter. Sebelumnya, Gogoro telah sukses mengembangkan skuter ini di Taiwan hingga booming dan mengekspansi pasar Eropa. Gogoro 1 Smartscooter merupakan moda pertama yang dikembangkan pada tahun 2015yang ditujukan untuk transportasi publik. Sementara moda kembangan yang kedua adalah Gogoro 2 Smartscooter yang dirilis pada tahun 2017 yang lalu, dimana moda ini bisa menembus kecepatan hingga 95 km per jam dan jangkauan maksimal hingga 100 km (apabila dikemudikan dengan kecepatan 40 km per jam konstan).
Sumber: newatlas.com
Namun kini Gogoro kembali menuju root awalnya dan menambahkan pembaruan terhadap moda kembangannya ini. Adapun pembaruan yang dilakukan oleh pihak pengembang adalah dari segi pemesanan moda, dimana pengguna Gogoro Smartscooter ini bisa memesannya via aplikasi online. Melalui aplikasi ini juga, para pengguna pun dapat memantau lokasi dari skuter, lengkap dengan kapasitas baterai yang tersisa di dalamnya. “GoShare merupakan integrasi dari Gogoro Network, Gogoro Smartscooter, dan GoGo App dalam upayanya untuk menghadirkan layanan first end-to-end mobility sharing platform,” ujar Horace Luke selaku CEO dari Gogoro. Baca Juga: OjO, Skuter Listrik Hasil Kolaborasi Austin Commuter Scooter Namun pada akhirnya, layanan ini akan sama seperti platform berbagi mobilitas lainnya – seperti Bird and Lime, dimana para pengguna akan dapat menjumpai setiap pos pengisian listrik dan peminjaman moda ini di berbagai titik di suatu kota. Adapun tujuan dari hadirnya Gogoro Smartscooter ini tidak hanya sebagai platform penyedia jasa berbagi mobilitas saja, melainkan sebagai solusi yang berkelanjutan untuk problematika mobilitas di perkotaan.    

Mulai 1 Agustus, KCI Terapkan Penggunaan KMT dan Hapus THB di Lima Stasiun

Penumpang CommuterLine atau kereta listrik (KRL) per 1 Agustus 2019 mendatang hanya akan bisa menggunakan Kartu Multi Trip (KMT) atau kartu uang elektronik yang dikeluarkan oleh bank yang sudah bekerja sama dengan PT Kereta Commuter Indonesia (KCI). Tapi tenang dulu, untuk penggunakan KMT atau kartu uang elektronik keluaran bank ini hanya akan ada di lima stasiun. Baca juga: Pantau Pergerakan Penumpang KRL Jabodetabek, PT KCI Andalkan E-Ticketing Monitoring Center Dilansir KabarPenumpang.com dari krl.co.id, lima stasiun ini tidak akan melayani pembelian kartu Tiket Harian Berjaminan (THB) sekali jalan. Tetapi meski begitu THB untuk pergi pulang (PP) bisa di gunakan baik untuk tap in atau tap out dan untuk THB biasa hanya untuk tap out di stasiun akhir sesuai relasi yang dipilih. Lima stasiun kereta tersebut yakni Stasiun Sudirman, Palmerah, Cikini, Universitas Indonesia dan Taman Kota. Pastinya akan banyak pertanyaan kenapa lima stasiun ini saja yang hanya menggunakan KMT? Pasalnya kelima stasiun ini pengguna KMT dan kartu uang elektronik bank rata-rata mencapai 60-90 persen. Rincian pengguna KMT itu sendiri di Stasiun Sudirman mencapai 90 persen, Stasiun UI, Palmerah dan Cikini mendekati angka 80 persen serta Stasiun Taman Kota mencapai 60 persen. Sehingga PT KCI memberikan dukungan terhadap program pemerintah dan Bank Indonesia untuk mendorong terciptanya cashless society atau masyarakat yang bertransaksi tanpa uang tunai. Selain itu, program ini sendiri untuk mengoptimalkan layanan di lima stasiun tersebut, agar sesuai dengan karakter penggunanya yang semakin banyak menggunakan KMT. Tak hanya itu KMT saat ini juga bisa didapatkan dengan harga lebih murah yaitu Rp30 ribu dan sudah termasuk saldo Rp10 ribu. Para pengguna KRL yang memiliki KMT maupun kartu uang elektronik bank (Mandiri E-Money, BNI Tap Cash, BRI Brizzi, dan Flazz BCA) tetap dapat menggunakan kartunya seperti biasa di lima stasiun tersebut tanpa ada perubahan ketentuan apapun. Bukan hanya tak bisa membeli THB sekali jalan, pengisian ulang relasi, refund jaminan kartu dan tap in tidak akan bisa dilakukan di lima stasiun tersebut. Sehingga penumpang yang akan naik KRL dengan THB bisa melalui stasiun-stasiun terdekat yang letaknya sebelum atau sesudah lima stasiun itu. “Nantinya pengguna hanya bisa menggunakan KMT, untuk pengguna pengguna THB hanya untuk tap out saja kecuali yang PP,” ujar salah seorang staf PT KCI kepada KabarPenumpang.com, Rabu (10/7/2019). Selama bulan pertama penerapan kebijakan ini, bila ada pengguna yang kesulitan dapat menghubungi petugas layanan di lima stasiun tersebut untuk kemudian dapat dibantu petugas. Sampai 1 Agustus 2019 nanti, PT KCI terus melakukan sosialisasi baik melalui media sosial resmi Twitter @commuterline, Instagram @commuterline, Facebook Commuter Line, dan juga Call Center (021)121. Baca juga: Tak Lagi Gunakan Kartu Multi Trip, Penumpang KRL Bisa Reedem dan Dapatkan Uang Sisa Saldo Selain melalui media digital tersebut, sosialisasi juga dilakukan melalui pemasangan banner dan poster yang dipasang di lima stasiun khusus KMT, informasi yang disampaikan oleh Petugas Pelayanan KRL (PPK) di dalam KRL, petugas announcer di stasiun, serta melalui Passanger Information Display (PID) yang ada di dalam KRL. Sosialisasi dan edukasi terus dilakukan sehingga seluruh pengguna jasa KRL Commuter Line dapat memahami dan mengerti tentang ketentuan yang berlaku.

Solusi Ramah Lingkungan, Mulai 1 Agutus Kargo Garuda Indonesia Gunakan Kemasaan dari Bahan Daur Ulang

Mengedepankan solusi ramah lingkungan adalah harapan setiap maskapai, seperti Garuda Indonesia yang resmi memperkenalkan GIA Box, yaitu produk packaging untuk pengiriman kargo yang ramah lingkungan. GIA Box rencananya akan mulai diluncurkan pada bulan Agustus mendatang dan akan menjadi pengganti styrofoam yang selama ini digunakan sebagai kemasan pengiriman kargo khususnya produk hasil laut. Baca juga: Numpuk di Gudang, AirAsia Daur Ulang Jaket Keselamatan dan Seragam Awak Kabin Direktur Kargo & Pengembangan Usaha Garuda Indonesia, Mohammad Iqbal dalam keterangan tertulis (10/7) mengatakan bahwa GIA Box ini tidak hanya sebagai media packaging yang kuat dan terjangkau untuk pengiriman barang, namun juga ramah lingkungan mengingat produk kemasan tersebut sudah memiliki sertifikat FSC (Forest Stewardship Council) yang bahannya berasal dari bahan daur ulang. “Melalui kesempatan ini kami mengajak para pengguna jasa untuk menggunakam GIA Box mulai sekarang dan jadilah bagian dari proses penyelamatan lingkungan.” lanjut Iqbal. “Selain unggul dari sisi ekonomis, GIA Box ini juga lebih kuat sehingga aman dari kebocoran yang biasanya terjadi pada styrofoam”, papar Iqbal. Iqbal melanjutkan bahwa kedepannya, GIA Box ini akan menggantikan penggunaan styrofoam secara keseluruhan. “Pada tahun 2019 ini kami menargetkan penjualan GIA Box sebanyak 20.000 box dan diharapkan pada tahun 2020 dapat terimplementasi untuk menggantikan seluruh styrofoam sebanyak 250.000 box per tahun, ” tambah Iqbal. Baca juga: British Airways Canangkan Daur Ulang Limbah Rumah Tangga Untuk Bahan Bakar Pesawat Sebelumnya, sebagai upaya berkelanjutan Garuda Indonesia dalam mengembangkan komitmen layanan operasional berwawasan lingkungan, Garuda Indonesia juga telah melaksanakan uji coba kendaraan listrik produksi anak bangsa PT Mobil Anak Bangsa dalam mendukung mobilitas operasional karyawan. Bus listrik merupakan smart solution untuk mengurangi polusi yang saat ini kondisinya memprihatinkan khususnya di daerah Jabodatabek karena hanya dengan pengisian batere selama 3 jam, bus listrik tersebut mampu menempuh jarak sejauh lebih kurang 300 kilometer. Serta diharapkan mampu menekan biaya bahan bakar yang dikeluarkan untuk mobil operasional Perusahaan.

Mengenal “Go-Around,” Saat Pesawat Tak Jadi Mendarat Karena Beragam Faktor

Pernahkah pesawat yang Anda tumpangi mendadak kembali mengudara padahal pesawat tersebut sudah siap untuk landing? Biasanya, pesawat sudah berada di ketinggian terbang yang sangat rendah dan Anda sudah mulai bisa memetakan daerah di sekitar bandara, namun pesawat terpaksa harus kembali gaspol untuk terbang kembali. Ya, dalam dunia penerbangan, kejadian semacam ini dikenal dengan istilah go-around. Tentu Anda penasaran kan dengan proses go-around ini sendiri? Baca Juga: Mengenal Balked Landings, Proses ‘Gagal’ Mendarat yang Dipengaruhi Sejumlah Faktor Sebagaimana yang dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, go-around atau over shooting adalah sebuah manuver standar dari sebuah pesawat terbang dalam momen membatalkan proses landing sebagai akibat dari terjadinya sesuatu di luar perencanaan yang dapat mengganggu proses landing bila tetap dilanjutkan.
Kendati go-around merupakan salah satu manuver dadakan, tapi seluruh pengoperasian pesawat terbang selalu dan harus mengacu kepada buku petunjuk atau “manual” terkait, seperti “operation manual” yang berisi antara lain prosedur normal operation dan emergency procedure. Jadi, seluruh manuver yang dilakukan oleh pilot dalam proses penerbangannya dipandu dengan ketat oleh sebuah referensi yang dikenal dengan “check-list”.
gambaran proses go around. Sumber: istimewa
Jika ditanya penyebab dari go-around sendiri, sebenarnya ada dua cabang inti: teknis dan non-teknis. Dari segi teknis, mungkin pilot menghadapi situasi dimana roda pesawat tidak turun saat mau landing, atau pilot merasa tidak percaya diri ketika hendak melakukan landing – dimana faktor ini bisa terjadi karena adrenalin pilot yang terlalu terpacu sehingga membuyarkan konsentrasinya dan pada akhirnya ia mengambil keputusan untuk melakukan go-around. Baca Juga: Lakukan Go Around, Pilot Garuda Indonesia GA425 Selamatkan Penerbangan dari Petaka Lalu ada juga faktor non-teknis yang biasanya berasal dari kondisi cuaca di bandara tujuan. Cuaca yang buruk atau terpaan angin yang sangat keras pada akhirnya dapat menyebabkan seorang pilot mengambil keputusan untuk melakukan go-around guna menyelamatkan nyawa ratusan penumpang yang ia bawa. Selain cuaca buruk, kondisi darurat di landas pacu bandara tujuan juga bisa menjadi faktor penyebab go-around – sebut saja landas pacu mendadak tidak bisa digunakan karena ada pesawat yang tergelincir dan faktor emergency lainnya.

Warna Warni Taksi di Bangkok Ternyata Merupakan ‘Kode’

Setiap negara biasanya memiliki ciri khas taksi mereka masing-masing dengan warna sebagai pembeda. Di Indonesia ada warna biru, putih dan hitam, di New York terkenal taksi berwarna kuning (Yellow cab), sedangkan di London dengan Black Cab yang legendaris. Nah, tahukah Anda di Thailand, tepatnya di Bangkok taksinya berwarna-warni? Baca juga: Liburan ke London Saat Musim Panas? Jangan Lupa Naik Cool Cab Dilansir KabarPenumpang.com dari laman iamwannee.com, warna warni taksi di Bangkok ternyata merupakan sebuah kode. Taksi ini ada yang memiliki satu warna dan beberapa dua warna. Masih penasaran kode warna taksi? Taksi dengan satu warna seperti hijau, merah muda, jingga, biru, merah dan lainnya merupakan taksi yang dimiliki oleh perusahaan dan pengemudi menyewanya. Sedangkan taksi dua warna seperti hijau dan kuning biasanya adalah taksi pribadi dimana milik perorangan atau pengemudi itu sendiri. Taksi dua warna lainnya seperti biru dan merah adalah milik perusahaan yang tidak mengidentifikasi namanya. Tetapi pelancong bisa melihatnya dengan nama perusahaan dicat berwarana putih tepat di bagian samping taksi. Bahkan warna-warna ini tak membuat perbedaan banyak dan tarifnya pun sama yakni dari 35 Bath dan meningkat 5,5 Bath berdasarkan jarak. Untuk tol penumpang harus membayarnya sendiri dan bila naik dari bandara akan ada tambahan biaya 50 Bath. Satu hal lagi untuk memudahkan pelancong yang akan menumpang taksi di Bangkok yakni semua taksi sama tak ada pembeda. Panggil atau datangi taksi dan beri tahu tujuan Anda pada pengemudi bila ingin pergi kesuatu tempat. Kemudian pilih taksi yang memiliki kondisi baik dan pengemudi yang sopan serta ramah. Terpenting adalah pilih taksi yang menggunakan argo meter mereka, karena jika pengemudi menolak menyalakannya dan menawarkan harga flat rate biasanya akan lebih mahal. Sehingga bila Anda tetap ingin memilih yang menggunakan argo meter baiknya ucapkan terimakasih dan mencari taksi lainnya. Transportasi berwarna di Bangkok tidak terbatas hanya pada taksi, bus-busnya juga berwarna dan masing-masing warna menandakan ongkos, rute, kepemilikan yang berbeda, dan memiliki AC atau tidak. Bus reguler yang tidak berAC diwarnai kombinasi merah dan krem. Ini dioperasikan oleh Bangkok Mass Transit Authority (BMTA) dan merupakan layanan bus termurah di kota. Baca juga: Gunakan Teknologi Pengenal Wajah, Taksi Jepang Hadirkan Iklan Sesuai Jenis Kelamin dan Usia Penumpang Dengan polusi udara dan panas di Bangkok, bepergian dengan bus-bus ini bisa menjadi pengalaman mencoba, terutama pada siang hari dan jam-jam sibuk. Bus warna putih-biru tidak lebih baik dan tarifnya sedikit lebih tinggi.

Bisakah Pesawat Penumpang Dikonversi Jadi Pesawat Kargo?

Setiap pesawat yang pernah Anda tumpangi bisa saja memiliki peran lain di masa yang akan datang – tidak lagi jadi pesawat penumpang. Seperti yang sudah Anda ketahui sebelumnya, ada beberapa restoran di luar sana yang memanfaatkan badan pesawat sebagai ruang untuk para pendatang menyantap penganannya. Namun tahukah Anda bahwa pesawat penumpang yang pernah menerbangkan Anda bisa dikonversi menjadi sebuah pesawat yang mengangkut barang atau paket alias pesawat kargo? Baca Juga: Tips – Sebelum Masuk ke Kargo Pesawat, Pastikan Koper Anda Cukup Kuat Ya, alih-alih memesan pesawat baru khusus untuk mengangkut kargo saja, ada banyak maskapai di luar sana yang kemudian mengkonversi pesawat penumpang mereka menjadi pesawat kargo. Mungkin beberapa dari Anda akan kebingungan mengenai skenario ini, namun percayalah, hal semacam ini memang terjadi. Ada beberapa faktor yang kemudian membuat pihak maskapai mengerahkan armada pesawat penumpangnya yang sudah cukup berumur untuk dijadikan sebagai pesawat kargo. Selayaknya barang-barang yang memiliki usia pemakaian yang selalu merosot dari waktu ke waktu, pun dengan pesawat. Pergeseran fungsi ini juga disokong oleh perkembangan teknologi yang membuat pihak maskapai akan lebih memilih untuk membeli armada baru untuk dijadikan sebagai pesawat penumpang dan menjadikan pesawat lamanya sebagai pesawat kargo – mengingat efisiensi operasional pada pesawat penumpang menjadi satu poin penting yang selalu dikedepankan oleh pihak maskapai sebelum membeli pesawat baru. Nah, berlandaskan pada alasan yang saling berkesinambungan tersebut, maka bukan tidak mungkin apabila pihak maskapai lalu mengkonversi pesawat penumpangnya menjadi pesawat kargo – dan umur pesawat terkait akan bertambah. Pertanyaan berikutnya yang muncul adalah: “bagaimana cara mengkonversinya?” Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com, mengingat pesawat kargo yang tidak membutuhkan fasilitas seperti tempat duduk, toilet, dapur, hingga bagasi kabin, maka pihak maskapai akan membongkar semua bagian kabin hingga kabin dalam keadaan kosong melompong. Sedangkan untuk bangku dan fasilitas lain hasil bongkaran tersebut akan digunakan maskapai untuk mengisi slot pada pesawat lainnya. Setelah bagian kabin pesawat dalam keadaan kosong melompong, pesawat akan mendapatkan penguatan pada sisi lantai dan tiang penyangga kabin dengan maksud agar pesawat dapat menampung beban kargoyang berat sekalipun – alih-alih barang kiriman jatuh ketika pesawat tengah mengudara, akan lebih berabe, bukan? Baca Juga: 2020: Airbus Sulap Ruang Kargo Pesawat Jadi Kamar Tidur Perubahan struktural yang sangat menyeluruh ini dilatarbelakangi oleh perbedaan regulasi yang mengatur pesawat penumpang dan pesawat kargo – dimana beberapa perubahan struktural ini akan dapat membantu pesawat mengangkut kargo tanpa harus terbalik karena bobotnya. Tapi, patut dicatat ya, bahwa tidak semua pesawat penumpang dapat dikonversi menjadi pesawat kargo. Ini dilandaskan oleh berbagai alasan, salah satunya adalah kualitas pesawat yang tidak memenuhi standar pesawat kargo.  

(Lagi) GoJek Dapat Kucuran Dana Segar dari Dua Raksasa Otomotif Asal Jepang!

Salah satu unicorn asal Indonesia, GoJek kembali mendapatkan kucuran dana segar dari dua perusahaan sekaligus. Adalah Mitsubishi Motors Corporation (MMC) dan Mitsubishi Corporation yang menjadi penyumbang dana kali ini. Namun sayang, kedua perusahaan enggan membocorkan nilai transfer dari kerja sama yang dinilai akan menciptakan nilai tambah dari layanan mobilitas di kawasan Asia Tenggara ini. Baca Juga: Dari 5 Kota, Pemberlakuan Tarif Baru Ojek Online Kini Diterapkan di 20 Kota Diwartakan KabarPenumpang.com dari laman bisnis.com (8/7/2019), Chairman dari Mitsubishi Motors Osamu Masuko mengatakan bahwa perusahaan sangat bersemangat untuk menjadi mitra strategis GoJek dan membawa Mitsubishi Motors dan Mitsubishi Corporation sebagai merek yang kuat di Asean. Sebagai informasi tambahan, investasi ini merupakan bagian dari pendanaan seri F yang kini sedang berlangsung di tubuh GoJek. “Kami melihat terciptanya sinergi dan inovasi yang mendorong pertumbuhan ketiga pihak. Kami percaya bahwa akumulasi pengetahuan layanan mobilitas baru yang berkembang pesat di kawasan ini dan kesempatan untuk masuk ke pasar, akan berkontribusi pada pertumbuhan pasar Asean di masa depan,” ujar Osamu. MMC sendiri sudah merangsek masuk ke pasar Asia Tenggara sejak lebih dari 50 tahun yang lalu melalui berbagai bentuk produk dan layanan. MMC dan Mitsubishi Corporation sendiri sebenarnya memiliki daya saingnya masing-masing, dan kedua perusahaan raksasa asal Jepang ini akan memanfaatkan GoJek untuk mempelajari beragam kemungkinan layanan mobilitas baru. “GoJek bangga bisa bermitra dengan Mitsubishi Motors Corporation dan Mitsubishi Corporation,” ujar Presiden Grup Gojek Andre Soelistyo. “Investasi ini merupakan bukti memperkuat visi GoJek ke depan untuk memanfaatkan teknologi untuk meningkatan kehidupan sehari-hari masyarakat di kawasan Asia Tenggara,” tandasnya. Baca Juga: ‘Jodohkan’ Pengemudi dan Penumpang, GoJek Hadirkan Sistem Meachine Learning Seperti yang sudah diketahui sebelumnya, Mitsubishi Corporation merupakan investor yang sudah pernah menanamkan saham di GoJek, dimana pendanaan dari Mitsubishi Corporation berpartisipasi dalam penutupan pertama putaran pendanaan seri F yang diumumkan pada bulan Februari lalu. Diketahui, GoJek telah mengumpulkan lebih dari US$1 miliar untuk valuasi US$10 miliar dari investor termasuk Provident Capital, Google, JD.com dan Tencent. Kabarnya, GoJek masih mengincar tambahan US$2 miliar untuk menutup putaran pendanaan seri F.  

Mungkinkah Aeromovel di TMII Terealisasi Secara Komersial?

Saat jalan-jalan ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII) terasa seperti keliling Nusantara dan tidak lengkap rasanya jika tidak mencoba naik berbagai jenis kereta yang ada di dalamnya. Kereta gantung, kereta dengan lokomotif dengan rel di atas tanah dan kereta angin atau aeromovel adalah tiga dari kereta yang dapat Anda coba bila bertandang ke TMI. Baca juga: Eksis Sejak 1975, Indonesia Canangkan Bangun Jalur Kereta Gantung Terpanjang Nah, dari tiga kereta di atas, KabarPenumpang.com akan membahas Aeromovel atau kereta atmosferis yang merupakan kendaraan bertenaga tekanan udara. Bisa dikatakan aeromovel ini merupakan cikal bakal light rail transit (LRT) atau kereta ringan, betapa tidak, jauh sebelum konstruksi LRT Jakarta dan LRT Jabodebek dibangun, maka konstruksi rel layar (elevated rail) sudah disuguhkan ke publik. Aeromovel di TMII sendiri memiliki nama “Titihan Samirono” yang artinya angin. Kereta ini bergerak di jalur layang setinggi enam meter dari atas permukaan tanah dengan kecepatan 15-20 km per jam, meski secara teori kereta ini sebenarnya mampu bergerak dengan kecepatan 60 km per jam. Namun, dengan kecepatan 15-20 km per jam menjadi ideal mengingat lintasannya hanya sepanjang 3,2 km sekaligus memungkinkan penumpang memiliki waktu yang lebih lama untuk memandang TMII secara keseluruhan. Disebut sebagai kereta bertenaga udara atau angin, ternyata SHS-23 Aeromovel yang ada di TMII ini dirancang atas gagasan Oscar Coester asal Brasil. Kereta dengan tenaga angin tanpa masinis ini ternyata memiliki keunggulan yang unik salah satunya adalah pemanfaatan tenaga dorong-hisap udara sebagai penggerak. Bisa dikatakan, gagasan ini banyak mengilhami prinsip gerak sebuah perahu layar di laut lepas. Wagon Aeromovel dilengkapi dengan sebuah layar baja yang letaknya dibawah roda, dan permukaan layar tersebut menerima tenga dorong udara yang ditiupkan dari sebuah ‘kipas angin’ (blower). Hal ini agar tenaga udara tersebut dapat dihimpun secara maksimal maka tenaga udara tersebut disalurkan melalui saluran angin yang merupakan bagian dari struktur penyangga rel. Untuk mendapat tenaga yang cukup sepanjang perjalanan maka beberapa ‘kipas angin’ diletakkan disepanjang linatasan aeromovel ini. Kelebihan sistem ini bukan hanya karena sistem penggerak yang unik ini, akan tetapi juga hadir dalam sisi pelaksanaan kontruksi dan produksi berbagai perangkatnya. Dengan menggunakan tenaga angin, Titihan Samirono ini bebas polusi udara dan suara dan salah satu alternatif angkutan yang menyajikan pelayanan murah, cepat dan aman sebagai transportasi massal pada masa mendatang. Titihan Samirono hadir di TMI sejak tahun 1989 dan masih berjalan dengan baik hingga hari ini. Ada enam stasiun aeromovel di TMII yakni Stasiun Aeromovel Taman Buaya, Stasiun Aeromovel Taman Nusa, Stasiun Aeromovel dekat anjungan Maluku, Stasiun Aeromovel Taman Burung, Stasiun Museum Transportasi dan Stasiun Taman Bunga Keong Emas. Selama 30 tahun mengular dan menjadi percontohan moda transportasi di Indonesia, ternyata Bekasi sempat akan membangun kereta ini. Tadinya kehadiran aeromovel di Bekasi untuk mencegah permasalah kemacetan yang hampir mirip dengan Jakarta. Bila jadi dibangun, lintasan kereta angin ini akan mengitari tiga kecamatan yakni Medansatria, Bekasi Barat dan Bekasi Selatan. Baca juga: Dirut PT KAI Jajal Kereta Hidrogen di Jerman dan Siap Bawa ke Indonesia Sayangnya tidak jadi dibangun karena alasan konsorsium investor tak sanggup membiayai proyek tersebut sebab anggaran yang terlalu besar yakni Rp2 triliun. Padahal bila moda transportasi tenaga angin ini terealisasi di Indonesia akan lebih murah biaya operasionalnya serta masyarakat bisa lebih disiplin dan mematuhi peraturan lalu lintas.  

Bukan Hanya Garuda Indonesia, Lufthansa Juga Suguhkan Panganan ‘Standar’ di Kelas Bisnis

Ketika Anda memutuskan untuk membeli tiket pesawat di kelas bisnis, selain kenyamanan, mungkin hal lain yang Anda incar adalah pelayanannya. Bangku yang jauh lebih enak ketimbang di kelas ekonomi merepresentasikan kenyamanan itu, sedangkan penganan nikmat nan menggugah selera merupakan representasi dari pelayanan yang diberikan oleh pihak maskapai. Namun apa jadinya jika penganan yang disajikan di kelas bisnis hanyalah makanan ‘biasa’ yang notabene memiliki harga relatif murah? Baca Juga: Yakin Sehat? Ini Rahasia Makanan di Pesawat Kata Mantan Pramugari Memang, tujuan dari pihak maskapai untuk memungkinkan penumpang menyantap penganan dengan taste yang sudah dikenal memang sudah terlaksana, tapi pertanyaannya apakah paket menu yang masih dapat dijangkau oleh ‘kocek mahasiswa’ bisa dibilang layak untuk disuguhkan kepada penumpang yang ada di kelas bisnis?
sandwich di business class Lufthansa. Sumber: Live and Let’s Fly – BoardingArea
Namun praktik semacam inilah yang diterapkan oleh maskapai raksasa asal Jerman, Lufthansa, dimana mereka menyuguhkan sandwich yang agaknya kurang ‘pantas’ untuk disuguhkan kepada penumpang di kelas bisnis. Logikanya seperti ini, Anda telah mengeluarkan nominal yang berkali-kali lipat ketimbang kursi di kelas ekonomi, sedangkan menu yang Anda dapatkan harganya bahkan tidak mencapai 2 persen dari harga tiket tersebut. Taruhlah harga tiket di kelas bisnis yang Anda beli harganya Rp6 juta, itu berarti harga penganan yang Anda dapatkan harganya tidak lebih dari Rp120.000! Namun sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman runwaygirlnetwork.com (4/7/2019), pihak Lufthansa berdalih bahwa penyediaan sandwich di kelas bisnis merupakan bentuk dari dukungan mereka terhadap penganan lokal. “Kami memang menggeluti bisnis global, tapi bagi kami, warga Eropa, kami sangat mencintai produk-produk lokal,” ujar Chief Commercial Officer – Network Airlines, Harry Hohmeister. Baca Juga: Gandeng Merek Restoran Ternama, Dongkrak Popularitas Layanan Penerbangan Ternyata tidak hanya Lufthansa saja yang pernah mengaplikasikan kebijakan di atas, pun dengan Garuda Indonesia, dimana pada awal Juli kemarin, seorang netizen yang tengah bertolak dari Jakarta menuju Denpasar di kelas bisnis disuguhi makanan cepat saji berbau Jepang di dalam penerbangannya. Tentu saja, netizen ini menyuarakan kekecewaannya di media sosial dan diamini oleh banyak netizen lain. “No wonder ya kalau terdepak dari Top 10 Best Airlines kalau inflight mealnya seperti ini! Business Class yang harganya berkali2 lipat dari Economy tapi makanannya sama dan kita tau lah ya harga hokben itu berapa! @GarudaCares @IndonesiaGaruda #sadfood” tulis Aria Aditia Sarlito, pemilik akun @ariasarlito yang menyuarakan kekecewaan atas pelayanan Garuda Indonesia di business class. Cuitan yang diunggah pada Selasa, 2 Juli 2019 ini sukses menarik perhatian netizen dan diperbincangkan oleh 1.682 pengguna Twitter lainnya.      

Japan Airlines Terima Airbus A350-900, Tapi Justru Layani Penerbangan Domestik

Bagi Singapore Airlines, Delta Airlines, Lufthansa, Qatar Airways dan Cathay Pacific, armada Airbus A350-900 yang mereka miliki dipersiapkan untuk melayani rute jarak jauh, pasalnya pesawat widebody ulta modern ini dapat melakukan penerbangan non stop sejauh 15.000 km dengan membawa penumpang di ketiga kelas dalam konfigurasi 300 – 350 kursi. Namun ada yang berbeda dengan Japan Airlines. Baca juga: Emirates Operasikan A380 dengan Rute Terpendek di Dunia, Jaraknya Setara Jakarta – Pangandaran! Japan Airlines (JAL) yang mulai menerima kedatangan A350-900 perdana dari total 18 unit yang dipesan. Tapi berbeda dengan maskapai-maskapai global yang disebut di atas, JAL uniknya justru bakal mengoperasikan A350-900 untuk rute jarak dekat, alias rute domestik secara eksklusif. Meski tak lazim dalam aspek spesifikasi penggunaan, namun tentu ada perhitungan tersendiri, semisal memang rute domesktik yang dimaksud adalah sangat padat penumpang, sehingga tidak akan merugi dari sisi biaya operasional pesawat. Adopsi pesawat widebody modern untuk penerbangan jarak jauh bukan kali ini saja, malahan Emirates menggunakan Airbus A380 untuk melayani rute yang hanya 350 km antara Dubai dan Muscat. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman onemileatatime.com (21/6/2019), pemesanan Airbus A350-900 ditujukan JAL untuk meremajakan armada Boeing 777-200. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari pihak JAL, pihak maskapai akan menggunakan Airbus A350-900 mereka dengan konfigurasi tiga kelas: 12 bangku di First Class, 94 bangku di J Class, dan 263 bangku di Economy Class. Menyinggung soal efisiensi bahan bakar, pihak Airbus menyebutkan bahwa varian A350-900 ini memiliki konsumsi bahan bakar yang 25 persen lebih irit ketimbang rival apple-to-apple-nya, Boeing 777-200ER. Dan pernyataan dari Airbus ini semakin membuktikan bahwa benar adanya apabila maskapaiyang sering disingkat JAL ini ingin melakukan penghematan dari segi bahan bakar, yang dimana ini akan berimplikasi pada penurunan harga tiket. Untuk First Class dari Airbus A350-900 di JAL menggunakan konfigurasi bangku 2-2-2 yang terdiri dari dua baris. Sedangkan untuk kelas unik yang mungkin hanya dimiliki oleh Japan Airlines, J Class, mereka menggunakan konfigurasi 2-4-2. Sebenarnya kelas ini hampir mirip dengan premium economy class yang bisa Anda temukan di penerbangan internasional maskapai lain. Baca Juga: Japan Airlines Terjun Ke Segmen Low Cost Carrier Sedangkan untuk economy class, Japan Airlines memberlakukan konfigurasi yang sama seperti kebanyakan maskapai lain – komposisi bangku 3-3-3. Bagi Anda yang penasaran dengan performa A350-900 milik Japan Airlines, maskapai ini akan membuka rute penerbangan perdananya pada tanggal 1 September 2019 mendatang dari Tokyo Haneda menuju Fukuoka.