Sejak tahun 2013 hingga Juni 2019 ini, sudah 70 ekor gajah dilaporkan tewas karena tertabrak kereta api. Gajah-gajah ini tewas sebagain besar di daerah Assam dan Benggala Barat. Karena kematian gajah-gajah tersebut, akhirnya Indian Railways berusaha menemukan cara baru untuk mengusir kawanan gajah saat kereta akan melintas.
Baca juga: Halau Rusa di Jalur Kereta, Peneliti Jepang Pasang Klakson Suara Anjing Melolong di Lokomotif
Cara baru tersebut adalah dengan memutarkan suara lebah untuk menakuti gajah-gajah. Ada 50 amplifier yang berdengung sebagai ‘Plan Bee’ di berbagai jalur kereta api dekat koridor gajah di hutan Assam dimana hampir enam ribu ekor gajah tinggal.
“Kami sedang mencari cara untuk menghentikan gajah datang ke rel dan petugas kami datang dengan perangkat ini,” Pranav Jyoti Sharma, juru bicara Indian Railways.
Dia mengatakan, dengungan lebah tersebut akan dinyalakan saat kereta mendekati titik-titik rawan dan bisa terdengar sejauh 600 meter. Sebelum digunakan pada gajah liar, tahun 2017 lalu, perangkat ini sudah diuji efisiensinya pada gajah jinak.
Kemudian dilakukan uji kepada gajah liar hingga akhirnya digunakan seutuhnya pada 2018. KabarPenumpang.com melansir laman ndtv.com (10/7/2019), pendektan baru ini bahkan sudah memenangkan penghargaan dari ahli konservasi hewan untuk ide inovatif terbaik dari kereta api India untuk Northeast Frontier Railway (NFR).
Penggunaan suara dengungan lebah sendiri dikarenakan gajah takut dengan suara dan sengatan lebah. Bahkan penduduk desar di Kerala menggunakan sarang lebah sebagai pagar untuk menakut-nakuti gajah perusak. Sehingga saat gajah menyentuh pagar, lebah di dalam sarang akan keluar dan mempertahankan sarang mereka.
Ada peningkatan konflik manusia dan hewan di seluruh negeri yang oleh para konservasionis menyalahkan penyusutan habitat hewan-hewan liar. Hampir 2.300 orang telah dibunuh oleh gajah dalam lima tahun terakhir, menurut angka resmi yang dirilis pada Juni.
Baca juga: Asik Berlenggak-lenggok di Rel, Satu Keluarga Angsa Buat Kereta Api Tertahan 30 Menit
Gajah-gajah juga membayar mahal dengan sekitar 700 kematian dalam delapan tahun terakhir. Sebagian besar terbunuh oleh pagar listrik, diracuni atau ditembak oleh penduduk setempat yang marah pada anggota keluarga yang terbunuh atau tanaman dihancurkan, dan kecelakaan pada jalur kereta api.
Sebelumnya Jepang memasang klakson suara anjing melolong pada lokomotif untuk menghalau rusa di jalur kereta. Hal ini dikarenakan banyak rusa liar yang berdiri di rel.
Hadirnya MRT Jakarta untuk melengkapi moda transportasi berbasis massal di Ibukota tidak lantas hanya sekedar disediakan saja, melainkan PT MRT Jakarta selaku operatornya juga melakukan pula sejumlah tinjauan-tinjauan lain yang pada akhirnya dapat menunjang pengalaman para penggunanya. Salah satu yang menjadi konsentrasi PT MRT Jakarta dalam pembenahan lingkungan di sekitar stasiun MRT Jakarta adalah peningkatan aksesibilitas para calon penumpang jaringan metro pertama di Indonesia ini.
Baca Juga: “Bebas,” Jadi Film Pertama yang Dibuat dengan Latar MRT Jakarta
Dalam mengeksekusi rencananya kali ini, William Sabandar cs. tidak berjalan sendiri. Adalah Insititute for Transportation Development Policy (ITDT) yang menjadi tandem PT MRT Jakarta dalam mewujudkan rencana perusahaan ini. Berdasarkan pantauan langsung KabarPenumpang.com di kantor MRT Jakarta (11/7), William Sabandar selaku Direktur Utama PT MRT Jakarta menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) terkait “Studi Integrasi Antarmoda Serta Optimalisasi Konektivitas Pejalan Kaki dan Sepeda di Sepanjang Koridor MRT Jakarta”.
“Penandatanganan ini adalah sebuah awal dari proses yang ingin kami lakukan dengan fokus kepada pejalan kaki dan pengguna sepeda. Sebuah tim bersama akan dibentuk untuk mengupayakan dan melibatkan stakeholder lebih luas lagi pada tiga tingkatan, yaitu masyarakat, kelembagaan terkait, dan di level pemerintah,” ujar William.
William menambahkan, di tingkat masyarakat, upaya yang dilakukan berbentuk sosialisasi dan kampanye untuk membuka ruang untuk masyarakat agar bisa nyaman menggunakan jalan di sekitaran stasiun.
“Sedangkan untuk tingkat kelembagaan, upaya yang bisa dilakukan misalnya perancangan peningkatan signage atau penunjuk arah menuju stasiun MRT untuk memfasilitasi pejalan kaki dan pesepeda,” tandas William.
Lalu di level pemerintahan, diharapkan mereka dapat membangun infrastruktur seperti trotoar, dan lainnya.
Baca Juga: Ini Dia Rute MRT Jakarta Jika Diteruskan Hingga ke Tangerang Selatan
“Semoga kawasan berorientasi transit ini menjadi lebih nyaman, ramah, aman, dan juga kembali menjadi milik masyarakat yang beraktivitas di kawasan tersebut,” imbuhnya.
Menyoal kerja samanya dengan ITDT, William mengatakan bahwa, “diharapkan kualitas akses dan integrasi yang lebih prima dapat terwujud dengan cepat di Jakarta,”
“Sebagai moda transportasi baru di Jakarta, menjadi sebuah keharusan bagi PT MRT Jakarta untuk membentuk pola perjalanan penggunanya, dimana pola ini melibatkan konektivitas antara pejalan kaki, pesepeda, dan angkutan umum lainnya,” ujar South-East Asia Director ITDT, Yoga Adiwinarto.
Mulai Kamis ini, 11 Juli 2019, maskapai berbiaya hemat (LCC) Citilink Indonesia mengimplementasikan kebijakan yang dikeluarkan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia terkait penyesuaian harga tiket pesawat LCC sebesar 50 persen dari Tarif Batas Atas (TBA).
Baca juga: Selasa Sore! Waktu Paling Tepat untuk Berburu Tiket Pesawat Murah
Penurunan harga tiket pesawat sebesar 50 persen dari TBA diberlakukan untuk rute-rute tertentu dengan jadwal penerbangan setiap hari Selasa, Kamis dan Sabtu pukul 10.00 – 14.00 waktu setempat. Citilink Indonesia akan mengalokasikan 3.348 kursi dengan 62 penerbangan yang akan mengalami penyesuaian harga ini setiap harinya.
Adapun rute-rute yang mengalami penyesuaian harga tiket diantaranya adalah rute Jakarta – Medan pp, Jakarta – Yogyakarta pp, Makassar – Surabaya pp, Jakarta – Denpasar pp, Balikpapan – Denpasar pp, Surabaya – Banjarmasin pp, Jakarta – Solo pp, Jakarta – Malang pp, Batam – Pekanbaru pp, Jakarta – Pangkal Pinang pp, Jakarta – Bengkulu, Kertajati – Pekanbaru, Medan – Yogyakarta dan berbagai rute lainnya.
Direktur Utama Citilink Indonesia Juliandra Nurtjahjo dalam keterangan tertulis mengatakan bahwa Citilink Indonesia memastikan implementasi kebijakan tersebut berjalan dengan lancar. “Penyesuaian harga tiket ini sejalan dengan komitmen Citilink Indonesia dalam menyediakan penerbangan dengan harga terjangkau bagi masyarakat,” ujarnya.
Juliandra menambahkan bahwa sejalan dengan kebijakan pemerintah, pihaknya akan terus melakukan evaluasi atas harga tiket pesawat dan berkolaborasi dengan stakeholders terkait untuk bersama-sama mencari solusi terbaik dalam rangka penyediaan penerbangan yang terjangkau bagi masyarakat.
Baca juga:Buka Rute Ke Frankfurt, Citilink Datangkan 2 Unit Airbus A330-900NEO di Oktober 2019
“Walaupun ada penyesuaian harga tiket, kami tetap berkomitmen untuk terus memberikan pelayanan terbaik sebagai premium LCC kepada seluruh pelanggan,” tutup Juliandra.
Seorang model kulit hitam yang tinggal di Melbourne, Australia harus menerima sanksi akibat keonaran yang sudah ia perbuat selama mengudara. Adalah Adau Mornyang (25 tahun), model kelahiran Sudan ini dituduh telah melontarkan kata-kata kasar dan kotor, serta melakukan sejumlah kontak fisik dengan awak kabin dari United Airlines. Kekacauan yang terjadi pada tanggal 21 Januari lalu ini disinyalir terjadi karena Adau terlalu banyak menenggak minuman beralkohol.
Baca Juga: Inilah Beberapa Tipe Penumpang Pesawat, Anda Masuk Kategori Yang Mana?
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman mirror.co.uk (28/6), dalam rekaman audio yang baru dirilis pihak terkait kepada publik, terdengar beberapa kali Adau melontarkan kata-kata yang tidak semestinya. Tidak hanya kepada awak kabin saja Adau melakukan hal tidak terpuji ini, pun kepada penumpang lain yang berada di sekelilingnya.
Di beberapa kesempatan, Adau terus mempertanyakan bahwa bagaimana caranya ia dapat mengganggu penumpang lain, sebelum akhirnya menuduh awak kabin melontarkan isu rasisme.
“Saat ini saya mengganggu orang lain karena Anda (sensor) saya, dasar Anda binatang jalang!” bentak Adau di dalam rekaman audio tersebut.
“Saya seorang wanita berkulit hitam yang sedang tdak stabil, dan perlu dikendalikan,” tambahnya di ujung makiannya.
Tak lama berselang setelah melontarkan kalimat tersebut, Adau langsung melemparkan kaus kaki kepada salah satu penumpang yang berada di dekatnya.
Di pengadilan, Adau dituduhkan berperilaku tidak menentu oleh salah seorang penumpang pada penerbangan yang sama. Selama perjalanan 8,5 jam menuju Los Angeles, Adau hampir sama sekali tidak bisa tenang – dimana hal ini juga dibarengi dengan cacian, umpatan kata kasar dan kotor, hingga kontak fisik.
Kontak fisik ini dilakukan Adau terhadap salah seorang awak kabin yang bernama Romeo Gutierrez ketika mencoba untuk menenangkannya.
Baca Juga: Gegara Tunggu Penumpang Belanja, Pesawat ini Harus Tertunda Penerbangannya
Sikapnya yang tidak bisa tenang memaksa petugas untuk memisahkan dirinya dari penumpang lain dan diborgol selama sisa perjalanan. Sekira dua jam menjelang pendaratan di Los Angeles, Adau sempat meminta izin untuk ke toilet, namun dirinya enggan keluar selama hampir 45 menit. Tindakan ini kembali memaksa petugas untuk menggendongnya keluar.
Pada bulan Maret silam, Adau mengatakan kepada publik bahwa dalam penerbangannya tersebut, ia berada dalam kondisi normal tanpa pengaruh alkohol, zat adiktif, atau obat tidur apapun. Setelah serangkaian proses pengadilan, Adau akan menerima putusan terhadap masa depannya pada bulan Juli ini.
Kereta peluru Trans-ASEAN yang akan menghubungkan Cina, Laos hingga ke Singapura baru saja dicanangkan oleh Thailand. Negara Gajah Putih ini akan memulai jalur kereta peluru tersebut dari Stasiun Bang Sue di Bangkok menuju titik akhir di Stasiun Beijing, Cina.
Baca juga: Jelang Olimpiade Musim Panas, WiFi Gratis Siap Hadir di Kereta Peluru ShinkansenKabarPenumpang.com melansir todayonline.com (8/7/2019), Bang Sue sendiri adalah distrik yang kurang terkenal dibandingkan dengan Chatuchak.
(TODAYonline)
“Orang Thailand akan dapat naik kereta api berkecepatan tinggi ke ibu kota Cina dan Singapura dari stasiun kereta api di Bang Sue di masa depan,” ujar Wakil Menteri Transportasi Pailin Chuchottaworn.
Kereta peluru ini direncanakan karena Thailand akan dijadikan sebagai pusat logistik ASEAN. Sehingga para pejabat sepakat bahwa kereta api berkecepatan tinggi akan menjadi jantung dari sistem infrastruktur baru yang sangat dibutuhkan Thailand. Ditambah selama ini, Thailand punya hubungan bilateral dan indsustri yang kuat dengan Cina.
Nantinya kereta peluru ini akan menjadi yang pertama di Thailand dan merupakan jaringan transportasi modern yang mengular sepanjang 3.193 km dengan biaya pembangunan sekitar 2,07 triliun Bath atau sekitar $91,4 miliar dollar Singapura.
“Rute kereta api akan menghubungkan Bang Sue dengan Chiang Mai di Utara, Laos di Timur Laut, Kamboja di Timur dan Malaysia di Selatan. Tetapi rencana ini tidak hanya di atas kertas. Pemerintah telah memulai pembangunan beberapa rute dan akan “terus memanggil tawaran” untuk proyek tersebut,” kata Pailin.
Dia menambahkan, rute-rute ini akan membuat transportasi menjadi lebih nyaman dan diharapkan bisa mendorong perekonomian nasional dalam jangka panjang. Rute pertama yang akan dibangun adalah dari Thailand-Sino dimana menghubungkan Bangkok dan Nong Khai di ujung Timur Laut Cina dan dijadwalkan selesai pada 2023.
Jalur ini akan sepanjang 608 km dan berfungsi sebagai transportasi utama ke Laos yang ada di sebelah Nong Khai. Dari garis perbatasan, rute kereta api lain akan membawa penumpang ke ibu kota Laos, Vientiane, dan babak terakhir akan membawa para pelancong ke Mohan, sebuah kota perbatasan di provinsi selatan Cina.
Jalur sepanjang 414 km antara Vientiane dan Mohan kini telah selesai 55 persen, menurut seorang pejabat Laos yang meminta untuk tidak disebutkan namanya. Pemerintah Laos juga sedang dalam proses membangun bagian rel lain yang menghubungkan ibu kotanya dengan Nong Khai.
“Ini adalah proyek untuk mengubah kami dari negara yang terhubung dengan daratan (Laos tidak mempunyai garis pantai-red). Saat ini, orang harus menghabiskan dua hari perjalanan dari Vientiane ke Mohan, tetapi dengan kereta api berkecepatan tinggi, para pelancong akan hanya membutuhkan tiga jam,” kata pejabat tersebut.
Seperti Thailand, Laos bermaksud menggunakan rute internasional ini untuk membantu meningkatkan ekonominya. Pejabat itu berharap garis ini akan menarik antara 10 dan 20 juta turis Tiongkok ke negara itu setiap tahun. Jalur ini juga akan menguntungkan Thailand secara ekonomi karena pihak berwenang Thailand berencana untuk menghubungkan Nong Khai dengan Koridor Ekonomi Timur (EEC), proyek negara yang banyak disebut-sebut untuk menjadikan Timur sebagai pusat industri untuk produksi modern dan cerdas.
Bang Sue nantinya akan menjadi pintu gerbang dalam pembangunan proyek kereta cepat ini. Stasiun Bang Sue akan dibangun menjadi sebuah “stasiun besar”, yang diharapkan menjadi yang terbesar di seluruh negara ASEAN.
Baca juga: Mulai Mengular 2021, Kereta Cepat Jakarta-Bandung Gunakan Kereta Generasi Baru CR400AF
Stasiun empat lantai akan mencakup area seluas 300 ribu meter persegi dan direncanakan akan dikelilingi oleh area komersial. Stasiun ini juga akan terhubung dengan Jalur Biru kota, Jalur Kereta Api Bandara, dan rute kereta api ke provinsi di pedalaman Thailand.
Manufaktur pesawat kenamaan asal Eropa, Airbus dikabarkan akan melakukan pengecekan secara menyeluruh terhadap varian A380 dari sejumlah maskapai. Pengecekan ini merupakan tindak lanjut dari laporan pihak maskapai yang menyebutkan bahwa terdapat sejumlah titik yang mengalami keretakan pada bagian sayap. Dikhawatirkan, bagian yang retak ini akan mengganggu pengoperasian pesawat.
Baca Juga: Sukhoi KR-860, ‘Kembaran’ Airbus A380 yang Tak Pernah Mengudara
Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa mengatakan bahwa titik yang mengalami retak tersebut dapat mengurangi integritas struktural sayap jika tidak lekas diperbaiki. Kendati terdengar menyeramkan, namun Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa mengatakan bahwa unit pesawat yang mengalami keretakan tidak perlu melakukan grounded massal (seperti Boeing 737 MAX), melainkan harus segera diperbaiki yang dibarengi dengan pemeriksaan terjadwal.
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman bloomberg.com (10/7/2019), pengecekan awal ini dimulai dengan memeriksa 25 unit pesawat yang dioperasikan oleh Emirates, Qantas, dan Singapore Airlines. Jika menilik kejadian yang terjadi tujuh tahun lalu, Airbus menghabiskan jutaan dollar untuk proses perbaikan dan perawatan satu unit pesawat penumpang terbesar di dunia yang mengalami permasalahan yang serupa – retak pada bagian sayap.
Menurut salah seorang juru bicara Airbus, retakan ditemukan pada bagian spar sayap belakang, namun pihaknya menyebutkan bahwa retakan tersebut tidak akan mengganggu pengoperasian pesawat secara menyeluruh.
“Keamanan armada terkait tidak terpengaruh (akibat adanya retak),” tuturnya.
Qantas Airways yang memiliki 12 unit varian A380 mengatakan bahwa retak pada bagian sayap ini ditemukan di enam unit armadanya, dan dua diantaranya telah selesai diperbaiki. Sementara untuk Singapore Airlines, maskapai asal Singapura ini menyatakan bahwa empat dari 19 unit A380 yang dimilikinya harus diperiksa lebih mendalam oleh pihak Airbus.
Baca Juga: Dinilai Kurang Efisien, Akankah Airbus A380 Berjaya 20 Tahun Mendatang?
Untuk memeriksa keretakan ini, pihak maskapai harus menggunakan metode pengujian ultrasonik, dan semisal pihak maskapai menemukan ada bagian yang retak, maka Airbus menghimbau agar pihak maskapai terlebih dahulu melakukan perbaikan sebelum melanjutkan pengoperasian dari pesawat terkait.
Selain tiga nama maskapai di atas, A380 yang dioperasikan oleh Lufthansa, Air France, dan maskapai charter Hi Fly juga masuk ke dalam daftar pesawat yang perlu diperiksa secara mendalam.
Terkenal sebagai Queen of the Skies, Boeing 747 menjadi salah satu pesawat yang paling mudah untuk dikenali dari bagian depannya yang lebih menonjol ketimbang bagian belakangnya. Saking besarnya pesawat ini, pilot bahkan sampai-sampai tidak bisa melihat tanah di bawah dari kokpit. Namun stigma raksasa dari pesawat ini tidak akan Anda temui dari varian Boeing 747SP. Mungkin beberapa dari Anda belum mengetahui salah satu dari varian 747 ini, berikut penjelasannya!
Baca Juga: Inilah Fakta di Balik Berhentinya Produksi Boeing 747-8 Intercontinental
Boeing 747SP (yang merupakan singkatan dari Special Performance) merupakan pesawat yang ditujukan untuk melakoni penerbangan jarak jauh, dimana secara keseluruhan, pesawat jenis ini hampir sama persis dengan saudara kandungnya, Boeing 747-100 – hanya saja panjang pesawat yang lebih pendek, ukuran tailplane yang lebih besar, dan flap tepi yang terlihat lebih sederhana.
Jujur saja, pesawat ini terlihat lucu karena bentuknya yang terlihat sangat ‘gempal’, tapi jangan sepelekan performanya. Kendati bentuk fuselage dari Boeing 747SP ini lebih pendek dari varian lainnya (secara otomatis daya angkutnya juga akan lebih sedikit), namun ini merupakan keuntungan bagi si pesawat itu sendiri karena jarak tempuhnya akan jadi lebih jauh dan kecepatan yang relatif dapat ditingkatkan.
Sebagaimana yang dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Boeing 747SP ini sendiri memiliki kapasitas hingga 276 penumpang dengan jarak tempuh maksimal hingga 10.800 km. Penerbangan perdana dari pesawat ini dilakukan pada 4 Juli 1975, dan pertama kali diperkenalkan ke publik pada tahun 1976 dengan menggunakan livery maskapai asal Amerika, Pan Am.
Hadirnya Boeing 747SP ini di jagad aviasi global tidak lepas dari peran Pan Am dan Iran Air yang pada tahun 1973 meminta Boeing untuk bisa menghadirkan moda yang mampu mengoperasikan rute penerbangan jarak jauh dengan daya angkut yang cukup banyak kala itu. Pan Am rencananya akan mengoeprasikan penerbangan dengan rute New York – Timur Tengah, sedangkan Iran Air kala itu berencana untuk mengoperasikan rute Teheran – New York.
Baca Juga: Sepi Pesanan, Boeing 747 Beralih dari “Queen of the Skies” Jadi “Flying Truck”
Namun selayaknya pesawat lain yang mulai tergerus perkembangan teknologi, Boeing 747SP pun mau tidak mau harus merelakan tergusur oleh varian lain karena masalah bahan bakar. Ya, ukuran pesawat yang pada masanya tergolong cukup besar membuat pihak maskapai harus merogoh kocek yang lebih dalam untuk mengoperasikan Boeing 747SP. Hadirnya pesawat lain dengan efisiensi bahan bakar yang lebih baik pada akhirnya membuat maskapai pengguna varian ini perlahan meninggalkan ‘si kekar’.
Pihak Boeing pun pada akhirnya tidak memenuhi ekspektasi produk yang kala itu berada di angka 200 unit, dan hanya mampu menjual 45 unit saja.
Demi menghidupkan sebuah lokomotif tua, sekelompok perajut asal Gippsland bersatu untuk membuat rajutan yang diharapkan bisa mengumpulkan Aus$230 ribu atau Rp3,2 miliar. Rajutan ini nantinya akan dipasangkan sebagai ‘kostum’ pada lokomotif tua tersebut seperti memakaikan baju.
Baca juga: “1940s Weekend Railway at War,” Cara Edukasi dan Nostalgia Sejarah Kereta ala Britania Raya
Rajutan ini sendiri diperkirakan sepanjang dua kilometer untuk menutupi satu lokomotif vintage di Walhalla di Timur Victoria, Australia. Dilansir KabarPenumpang.com dari abc.net.au (2/7/2019), Lokomotif yang sudah dipasangkan kain rajutan itu diresmikan pada hari Sabtu (6/7/2019) kemarin.
(Railpage)
Kehadiran rajutan diatas lokomotif vintage ini akan berlangsung di kota bersejarah penambangan emas tersebut selama bulan Juli ini. Para perajut berharap agar pelancong yang mengunjungi kota mereka dan berfoto di depan lokomotif membagikan foto mereka ke media sosial untuk meningkatkan kesadaran dan agar terkumpul dana yang diharapkan sehingga lokomotif tua itu bisa kembali beroperasi.
Walhalla sendiri berada di ngarai pegunungan terpencil di Gippsland tengah dan dulunya sangat sibuk dengan pertambangan emas. Tetapi para penambang sudah menghilang dan pariwisata menjadi jalur kehidupan baru Walhalla, sehingga penduduk berbondong-bondong meningkatkan jumlah pengunjung dengan menghadirkan lokomotif tambahan ke Walhalla Goldfields Railway.
Kereta Api Queensland, Lokomotif DH 37
“Kami pada akhirnya berharap untuk memperluas jalur kereta api ke Erica (kota tetangga). Untuk melakukan itu kita membutuhkan lebih banyak lokomotif dan lebih banyak kereta api. Saat ini lokomotif terbesar kami yang beroperasi hanya dapat menarik empat gerbong,” ujar Graeme Skinner seorang masinis.
Untuk saat ini kereta api Walhalla Goldfields mengangkut sekitar 30 ribu penumpang per tahun dengan adanya peningkatan jumlah wisatawan. “Orang-orang hanya menyukai kenyataan bahwa kita begitu terisolasi dan ini adalah perjalanan yang indah ke ngarai,” kata Skinner.
Sembilan tahun yang lalu, Goldfields Railway membeli lokomotif hidrolik diesel 1969 yang lebih kuat dan andal dari Queensland. Tetapi untuk menghidupkan mesin dari lokomotif dengan ukuran 3,6 kaki ini perlu di konversi menjadi 2,6 kaki ukuran Victoria dan bisa menghabiskan dana sekitar $230 ribu.
Karena hal ini, maka para perajut di seluruh kota tersebut bersatu untuk membuat sesuatu yang bisa menarik pelancong untuk mampir atau singgah di kota mereka. Tim tersebut menyerukan media sosial untuk kelompok-kelompok rajutan di seluruh Australia untuk menyumbangkan rajutan berbentu kotak dengan ukuran 12 x 12 inchi yang dapat dijahit kembali untuk disatukan membuat selimut raksasa menutupi lokomotif.
“Idenya adalah untuk membuat orang terlibat … untuk menjahit kotak bersama agar sesuai dengan lokomotif. Ini seperti menempatkan pelompat pada Little Johnny, mengukurnya sehingga semuanya masuk akal,” kata juru bicara Walhalla Goldfields Railway, Lynda George.
Segera setelah peluncuran proyek Winter Woollies, ratusan kotak rajutan dan rajutan baru dan daur ulang datang membanjiri. Perajut dari Melbourne, Warrnambool, Ballarat, Jembatan Murray di New South Wales dan bahkan San Diego di AS menyumbangkan 12 kotak rajutan mereka ke tim Walhalla.
Baca juga: NIS 107, Jejak Lokomotif Tertua di Indonesia Yang Terlupakan
“Saya terlibat sebagai perajut benang karena delapan tahun yang lalu, saya adalah orang yang aktif sebagai guru sekolah dan saya mengalami kecelakaan. Saya menderita cedera otak yang sedang berlangsung akibat hal ini dan saya menarik diri dari dunia. Aku membutuhkan sesuatu yang lebih daripada semua hal soliter yang kulakukan di rumah,” kata koordinator proyek Winter Woollies, Rowena Milbourne. Perajut relawan Mel Beasley melakukan perjalanan dari Tyers untuk menghadiri sesi merajut hari Rabu dan suka merajut topi dan syal untuk para tunawisma.
Bandara masa kini semakin maju dengan mempermudah dalam proses check in penumpang. Pasalnya sekarang berbagai teknologi yang masuk ke bandara seperti sistem pengenalan wajah (face recognition) untuk mengurangi antrean di jalur keamanan sudah digunakan oleh banyak bandara besar di dunia.
Baca juga: Senyum Anda Tak Dibutuhkan Saat Pemindaian Wajah di Bandara
Sebuah survei yang dilakukan oleh Xenophon Strategies mengungkapkan bahwa sebagian besar atau mayoritas penumpang menggunakan teknologi pengenalan wajah untuk meningkatkan keamanan dan mengurangi waktu terpakai saat mengantri. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman airport-technology.com (2/7/2019), Xenophon melakukan survei atas nama NEC Corporation of America (NEC) yang menyediakan solusi biometrik dan kecerdasan buatan.
Hasil yang didapat setelah men-survei 1955 penumpang, maka didapatkan 75 persen diantaranya akan merangkul atau mengajak penumpang lain menggunakan teknologi pengenalan wajah untuk mengidentifikasi pelancong internasional dan domestik. Sedangkan 87 persen responden mengaku akan menyetujui penggunaan sistem pengenalan wajah untuk mengidentifikasi penjahat dan teroris.
Sebab menurut para responden hal ini juga bisa untuk melindungi sistem perjalanan udara. Apalagi gerbang kemanan dan jalur masuk ke bandara bisa dikatakan sebagai masalah paling parah oleh penumpang.
Selain itu lebih dari 71 persen memilih membayar biaya $10 atau Rp141 ribu demi memotong jalur antrean. Sedangkan sebanyak 22 persen mengatakan, mereka mau mempermalukan diri sendiri seperti bernyanyi di depan petugas demi bisa melalui jalur keamanan lebih cepat dari yang lainnya.
Survei ini juga mengidentifikasi kesadaran dan afinitas yang luas untuk penggunaan pengenalan wajah dalam perjalanan udara. Hasil yang didapatkan adalah sebanyak 84 persen memilih bandara di masa depan yang menggunakan teknologi pengenalan wajah tanpa meminta penumpang untuk berhenti dan menunjukkan dokumen seperti paspor, pengecekan tas dan lainnya.
Hampir 78 persen responden survei menunjukkan bahwa mereka mengetahui teknologi pengenal wajah yang digunakan di bandara untuk pelancong internasional yang masuk dan keluar negeri. Sementara 48 persen mengetahui program biometrik yang dilakukan biasanya oleh maskapai penerbangan.
Baca juga: Menjadi yang Pertama di Australia, Bandara Melbourne Hadirkan eGate dan Smart Security
“Maskapai penerbangan melaporkan bahwa mereka dapat naik jet jumbo dalam waktu kurang lebih sepertiga dengan menggunakan pengenalan wajah di pintu gerbang. Sementara itu, US Customs and Border Protection melaporkan mereka mampu menghentikan lebih dari 100 penipu yang mencoba memasuki negara itu dengan dokumen palsu. Keberhasilan ini tidak akan terjadi, dan tidak akan terus terjadi, tanpa pengenalan wajah,” ujar Presiden Xenophon Strategies David Fuscus.
Setelah pada 7 Januari yang lalu Jepang memberlakukan pajak keberangkatan (departure tax) bagi para wisatawan asing yang hendak meninggalkan negara berjuluk Negeri Sakura ini, kini ada Perancis yang berencana untuk menerapkan pajak baru bagi penumpang pesawat yang rencananya mulai efektif diberlakukan pada tahun 2020 mendatang. Pemerintah Perancis mengklaim pemberlakuan pajak ini akan membuat dunia penerbangan mampu berkontribusi dalam menghadapi perubahan iklim.
Baca Juga: Mulai 7 Januari, Jepang Kenakan “Pajak Keberangkatan” untuk Seluruh Penumpang Internasional
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman climatechangenews.com (9//7/2019), berdasarkan rencana tersebut, maka nantinya tiket pesawat akan dikenakan pajak untuk semua penerbangan yang berangkat dari Perancis – kecuali penerbangan menuju Corsica dan menuju wilayah koloni Perancis. Penerbangan transit akan masuk ke dalam daftar pengecualian.
Adapun total bea yang akan dikenakan kepada para penumpang berada di angka €1,50 (US$1,68) atau yang setara dengan Rp23.800 untuk tiket penerbangan kelas ekonomi di Uni Eropa dan €3 atau yang setara dengan Rp47.500 untuk tiket penerbangan kelas ekonomi di luar Uni Eropa. Untuk penerbangan kelas bisnis, masing-masing retribusi yang dikenakan berada di angka €9 (Rp143.000) dan €18 (Rp285.000).
Menanggapi rencana ini, Menteri Transportasi untuk transisi ekologi, Elisabeth Bone mengatakan bahwa pemungutan pajak kepada penumpang pesawat bukanlah hal baru di sektor aviasi global. Pun halnya dengan Swedia dan Belanda yang tengah mempertimbangkan penerapan pajak lingkungan pada tiket penerbangan.
Lebih lanjut, Pemerintah berharap dapat meningkatkan pemasukan negara dari pajak senilai €182 juta (Rp2,9 triliun) yang kelak akan dialokasikan untuk mewujudkan infrastruktur transportasi yang ramah lingkungan – tidak terkecuali jaringan perkeretaapian di Perancis.
Pemerintah memutuskan untuk menerapkan pajak pada tiket penerbangan sebagai tanggapan atas protes yang dilayangkan oleh Yellow Vest (Gilets jaunes) atas naiknya biaya hidup. Yellow Vest Movement atau Gerakan Rompi Kuning sendiri merupakan sebuah gerakan protes yang dimulai dengan unjuk rasa di Perancis pada hari Sabtu, 17 November 2018 dan kemudian menyebar ke negara-negara terdekat (seperti Belgia dan Belanda).
Baca Juga: FlixTrain Mulai Masuki Pasar Kereta Api Perancis
Gerakan ini sendiri dipicu oleh kenaikan harga bahan bakar, tingginya biaya hidup, dan klaim bahwa beban yang tidak proporsional dari reformasi pajak pemerintah akan menimpa para kelas pekerja dan menengah. The Yellow Vest Movement menginginkan perubahan dan pengunduran diri Peresiden Perancis, Emmanuel Macron.
Meski niat pengenaan pajak adalah hal yang positif, namun sedikit banyak akan berdampak pada wisatawan, mengingat akan ada beban biaya tambahan pada elemen tiket penerbangan.