Dilengkapi 17 Stasiun, LRT Jabodebek Siap Mengular di 2021

Setiap melintas di jalan tol dari Jakarta baik ke Bogor maupun ke Bekasi akan melihat proyek pembangunan Light Rail Transit (LRT) Jakarta-Bogor-Depok-Bekasi. Bahkan mungkin banyak timbul pertanyaan kapan akan selesai dan mulai mengular di ibukota atau daerah yang disinggahinya. Baca juga: Penasaran dengan Biaya Pembangunan LRT dan MRT Per Kilometernya? Simak Berikut Ini Ternyata pengerjaannya hingga kini baru mencapai 63,03 persen. Karena berada di dua provinsi yakni DKI Jakarta dan Jawa Barat, pengerjaannya di bagi tiga lintasan. Tiga lintasan ini berada di Cibubur-Cawang, Bekasi Timur-Cawang dan Cawang-Kuningan-Dukuh Atas. Saat ini lintasan 1 yang meliputi Cawang hingga Cibubur, pengerjaannya sudah 82,3 persen Dikutip KabarPenumpang.com dari kompas.com (9/7/2019), Corporate Secretary PT Adhi Karta Ki Syahgolang Permata mengatakan. Untuk lintasan 2 dari Cawang menuju Kuningan hingga Dukuh Atas mencapai 51,5 persen dan lintasan 3 Cawang ke Bekasi Timur 56,5 persen. Adapun tiga lintasan yang akan dilalui LRT Jabodebek ini akan memiliki 17 stasiun. Berikut ini pembagian stasiun dari tiga lintasan tersebut. Untuk lintasan Cibubur menuju Cawang yakni Stasiun Harja Mukti, Ciracas, Kampung Rambutan, Taman mini dan Cawang. Lintasan Bekasi Timur ke Cawang ada Stasiun Jati Bening Baru, Cikunir 1, Cikunir 2, Bekasi Barat dan Jati Mulya. Sedangkan lintasan ketiga yakni Cawang ke Dukuh Atas meliputi Stasiun Ciliwung, Cikoko, Pancoran, Kuningan, Rasuna Said, Setiabudi dan Dukuh Atas. Namun, meski terlihat tengah dalam pengerjaan, ternyata ada kendala pembangunan prasarana LRT Jabodebek yaitu pembebasan lahan seluas 12 hektar untuk Depo di Bekasi Timur. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan pembebasan lahan yang menyisakan satu area di Bekasi akan diselesaikan paling lambat Agustus 2019. Setelah itu, pekerjaan konstruksi LRT Jabodebek bisa kembali dilanjutkan. “Pembangunannya itu kan berhenti karena tanahnya belum dibebaskan. Sekarang sudah diukur, diselesaikan masalah surat-menyuratnya, oleh LMAN juga sudah siap dibayar,” kata Luhut. Sementara itu, berdasarkan data yang diperoleh, dana yang sudah dibayarkan oleh LMAN untuk LRT sebesar Rp508,55 miliar. Nominal itu dibayarkan untuk 121 bidang tanah. Moda transportasi massal berbasis rel ini akan mulai mengular pada 2021 mendatang. Nilai pengerjaannya pun cukup fantastis dengan menghabiskan dana mencapai Rp22,8 triliun. Baca juga: Tak Kunjung Rampung, LRT Jabodebek Lintasan Kuningan-Dukuh Atas Terganjal Masalah! “Pengerjaan kami target selesai Juli 202. Lalu, perlu enam bulan uji coba sehingga beroperasi efektif di 2021,” ujar Syahgolang.

Sempat Adopsi Sistem Tanpa Kondektur, Perum PPD Justru Malah Semakin Terpuruk

Agaknya sedikit aneh apabila bus yang Anda tumpangi hanya beranggotakan seorang pengemudi saja, tanpa kehadiran seorang kondektur. Bak dokter dan suster, nampaknya hubungan antara pengemudi bus dan kondektur ini memang tidak boleh terpisahkan. Mungkin Anda semua yang tinggal di Ibukota sejak puluhan tahun lalu masih ingat dengan kehadiran bus kota yang hanya beranggotakan pengemudi saja – dan hasilnya malah membawa defisit pendapatan terhadap operatornya. Baca Juga: Bus Tingkat di Indonesia, Transformasi dari Moda Angkutan dan Wisata Pukul mundur ke tahun 1993-an, dimana Perusahaan Pengangkutan Djakarta (PPD) mengalami tiga kerugian pasca menerapkan sistem Wajib Angkut Penumpang (WAP) – defisit anggaran, hubungan buruk antara perusahaan dan karyawan, dan ketidakpuasan penumpang. Ketika menggunakan sistem WAP, terhitung ada banyak kecacatan yang dirasakan oleh sejumlah pihak, mengingat paradigma WAP yang mengisyaratkan awak bus untuk mengangkut penumpang sebanyak-banyaknya. Konflik Dua Arah Dikutip KabarPenumpang.com dari laman historia.id, awak bus Patas AC (yang dioperatori oleh PPD) berkewajiban mengangkut sejumlah penumpang berdasarkan target dari PPD. Namun di sisi awak bus, memenuhi target yang sudah ditentukan sebelumnya oleh pihak perusahaan sedikit sulit untuk dicapai apabila mereka terlalu patuh pada peraturan lalu lintas dan peraturan yang berlaku pada tubuh PPD sendiri. Maka dari itu, para awak bus selalu kesulitan untuk memenuhi target dan berdampak pada minimnya uang setoran kepada perusahaan. Pertentangan mulai terjadi tatkala pihak operator tidak suka dengan cara kerja dari awak bus yang terpaksa melanggar hanya demi memenuhi target – sedangkan awak bus menilai bahwa perusahaan terlalu banyak menuntut. Penerapan Operasi Tanpa Kondektur Situasi inilah yang menjadi titik balik bagi perusahaan untuk memperbaiki situasi yang sudah kadung memanas. Sistem WAP yang dianggap sudah tidak efektif lalu diganti dengan Rute Metode Baru (RMB). Salah satu aturan di RMB yang harus ditempuh adalah penghapusan peran dari kondektur, dimana PPD percaya bahwa pendapatan yang selama ini ‘bocor’ tidak lepas dari peran kondektur. “Dari mencari penumpang sebanyak-banyaknya kepada memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya,” ungkap Sri Haryoso Suliyanto, dalam tesisnya yang berjudul “Perbandingan Sistem Wajib Angkut Penumpang dan Rute Metode Baru dalam Rangka Meningkatkan Kinerja Perum PPD”. Lalu peran kondektur digantikan oleh kotak transparan (fare box) yang berfungsi sebagai penampung ongkos penumpang. Kotak ini sendiri terletak di bagian depan bus – tepatnya di samping pengemudi. Baca Juga: Bus Listrik Untuk TransJakarta, Antara Harapan dan Realita Malah Semakin Mundur Ibarat “Manis di Awal, Pahit di Akhir”, ternyata perubahan sistem dari WAP ke RMB yang terjadi di tubuh PPD tidaklah berjalan sesuai harapan. Banyaknya oknum penumpang yang memasukkan uang ke fare box tidak sesuai dengan nominal yang ditentukan kala itu (Rp1.300) ternyata ‘sukses’ membuat kas PPD semakin berlubang. Belum lagi penumpang yang nekat menggulung selembar kertaas dan memasukkannya ke dalam fare box – itu berarti ia sukses naik bus Patas AC secara cuma-cuma. Ya, penghapusan kondektur pada bus Patas AC kala itu menjadi satu blunder besar bagi PPD. Lahirnya TransJakarta Dibawah komando Sutiyoso yang kala itu menjabat sebagai Gubernur Jakarta periode 1997-2007, Jakarta mulai memperkenalkan sistem busway – dimana ini merupakan hasil dari seminar garapan Japan International Cooperation Agency (JICA) dan Bappenas bertajuk “Towards an Integrated Transportation System for Jabotabek”. Hadirnya busway merupakan jawaban dari gagalnya penerapan sistem WAP dan RMB yang mencakup penghapusan kondektur dari layanan bus kota.

Mampukah Pesawat Bertenaga Listrik Geser Kedigdayaan Pesawat Komersial?

Selain dari kendaraan yang mengunakan bahan bakar fosil, salah satu penyumbang emisi karbon terbesar adalah dari pesawat terbang. Tak ayal jika belakangan ini ada banyak perusahaan yang bergerak di sektor aviasi yang mulai merancang pesawat bebas emisi karbon yang bertenagakan energi listrik. Tapi, seberapa efektifkan kehadiran pesawat semacam ini dalam upayanya untuk menekan tingginya angka pencemaran udara? Baca Juga: Tahun 2020, Dipercaya 14.419 Pesawat Komersial Gunakan Akses WiFi di Kabin Sebelum membahas pertanyaan di atas secara rinci, sebuah startup yang bernama Israel Eviation merupakan salah satu perusahaan yang turut meramaikan bisnis pesawat bertenaga listrik ini. Dengan produk andalannya yang bernama Alice, mereka dengan bangga memamerkan prototipe dari pesawat yang mampu menampung sembilan penumpang ini pada pagelaran Paris Air Show yang diadakan bulan Juni kemarin. Menyandang predikat sebagai calon moda transportasi masa depan, Alice pun cukup banyak menyedot perhatian para pengunjung. Tidak main-main, Alice dari Israel Eviation yang digerakkan dengan menggunakan energi listrik yang tersimpan di dalam baterai ini mampu merengkuh jarak maksimal hingga 1.000km dengan kecepatan jelajah mencapai 240 knot atau setara dengan 445 km/jam. Mari mulai berandai-andai, “Apabila moda seperti memang dapat dijadikan contoh kendaraan masa depan, maka bukan tidak mungkin apabila pesawat semacam Alice inilah yang kelak akan menguasai angkasa dan meruntuhkan kedigdayaan yang selama ini dipegang oleh dua produsen pesawat raksasa di jagad aviasi global, Boeing dan Airbus,” Mengapa hadirnya pesawat bertenaga listrik ini dikatakan dapat meruntuhkan kejayaan dari Airbus dan Boeing yang selama ini masih menggunakan bahan bakar fosil – walaupun beberapa maskapai yang menggunakan produk mereka mulai melakukan pencampuran bahan bakar agar bisa menekan angka emisinya. Jawabannya karena moda berbasis tenaga listrik ini lebih ramah lingkungan. Bukankah selama ini para pemain di sektor transportasi selalu menekankan perjalanan yang ramah lingkungan? Maka moda berbasis listrik inilah jawabannya. “Kami percaya bahwa elektrifikasi dan praktik bisnis yang berkelanjutan adalah jalan masa depan, saat ini teknologi belum memenuhi tuntutan industri penerbangan dan pariwisata dunia saat ini,” ujar Presiden Harbour Air, Randy Wright yang seolah mengisyaratkan bahwa masa depan tranportasi dunia akan bertumpu pada energi listrik – demi mewujudkan perjalanan yang ramah lingkungan. Baca Juga: Setengah Mobil Setengah Pesawat, AeroMobil 4.0 Siap Mengudara di 2020 Selain ramah lingkungan, pemanfaatan tenaga listrik pada sektor moda udara juga dinilai sangat efisien karena secara signifikan dapat menurunkan biaya pengoperasian (tidak membutuhkan avtur yang selama ini menjadi salah satu penyebab mahalnya harga tiket pesawat). Pun dengan biaya perawatan yang lebih rendah karena motor dan drivetrain yang tidaklah serumit pesawat komersial. Berlandaskan pada pemberitaan yang sebelumnya sudah banyak membahas soal moda berbasis tenaga listrik ini, tahun 2020 menjadi salah satu tahun yang paling ditunggu-tunggu oleh banyak pihak, karena ada banyak moda udara berbasis tenaga listrik yang akan diperkenalkan kepada publik.  

Sejak Dahulu, Hubungan Antara Rel Kereta dan Batu Kerikil Tak Terpisahkan

Batu kerikil biasanya banyak di gunakan untuk menjadi campuran semen saat membangun sebuah bangunan. Tapi selain itu juga banyak kegunaannya. Nah, sebagai penggguna kereta listrik (KRL) atau kereta api, pastinya sering lihat banyak batu kerikil di rel kereta api. Itu bukanlah suatu kebetulan apalagi kereta api yang melaju diatas kecepatan 100 km per jam. Baca juga: Jangan Asal Pilih Ban, Inilah Dua Jenis Ban yang Lumrah Digunakan Dengan kecepatan seperti ini penumpang di dalam gerbong akan merasakan getaran meski kereta api memiliki pegas. Adanya batu kerikil juga membantu pegas yang kurang mampu menahan goncangan. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, selain menahan goncangan ternyata ada fungsi lainnya. Nah, simak ya penjelasan fungsi batu kerikil di rel kereta api. 1. Sebagai bantalan pemberat Rel kereta sendiri terbagi dua bagian yakni sepasang rel panjang dari baja sebagai lintasan. Kedua adalah bantalan berupa batangan baja atau beton bahkan kayu yang fungsinya sebagai penahan daya tekanan agar rel tidak tenggelam. Sedangkan batu kerikil yan terdapat disekitarnya sebagai pemberat dan membantu rel agar tetap stabil sehingga kereta api bisa melaju dengan baik dan aman. 2. Penahan getaran Batu kerikil di saat bersamaan juga bisa menjadi penahan getaran ketika kereta api melintas. Bayangkan dengan ukuran dan berat kereta api yang terbuat dari logam hanya di sanggah sepasang baja bagaimana jadinya? Pasti akan menghasilkan gaya yang sangat besar. Sehingga dengan adanya batu kerikil, goncangan yang terjadi bisa berkurang serta memperpanjang usia rel. 3. Mencegah erosi Dengan iklim Indonesia yang punya curah hujan tinggi, menjadi perhitungan sendiri bagi peletakan batu kerikil di sekitar kereta. Alasannya adalah saat hujan dan banjir tiba tidak berakibat pada pengikisan dan erosi tanah yang berada tepat dibawah railway. Sebab erosi bisa mengakibatkan tanah anjlok atau ambles dan mengakibat kecelakaan fatal. 4. Menghambat tumbuhnya tanaman liar Selain tiga di atas, rerumputan atau tanaman liat sekitat rel secara langsung atau tidak bisa menggemburkan tanah di bawahnya dan mengakibatkan tanah d bawah rel labil. Adanya kerikil bisa menghalangi cahaya matahari menyinari tanah dan presentase tumbuhnya tanaman akan semakin kecil. Nah, tapi ada beberapa rel kereta yang tidak memiliki batu kerikil. Seperti rel yang di bangun di atas jembatan atau jalan raya. Hal ini karena jembatan rel kereta api dirancang khusus agar menahan getaran. Baca juga: Kisah Stasiun Batutulis, Pernah Mati Suri dan Terlupakan Selain itu tidak akan ada tanaman liar yang tumbuh dan erosi. Hal ini juga berlaku di jalan raya karena aspal dan semen bisa memggantikan kerikil dengan baik.

Hanya Bisa Pesan Tiket H-30 Sebelum Keberangkatan, PT KAI Sukses Ambil Alih KAI Access?

Bagi Anda yang ingin memesan tiket kereta api, kini PT KAI telah mengubah regulasinya, dimana Anda hanya dapat melakukan pemesanan tiket untuk H-30 keberangkatan. Hal ini diutarakan melalui akun Instagram resmi PT KAI, @Kai121. Seperti yang sudah diberitakan sebelumnya, pemberlakuan regulasi baru ini merupakan dampak dari diambil alihnya sistem aplikasi KAI Access oleh PT KAI. Baca Juga: Mulai 1 Juli 2019, Sistem Aplikasi KAI Access Diambil Alih PT KAI “#SahabatKAI, Railmin mau minta maaf dulu nih sebelumnya, karena terkait perubahan pada sistem penjualan tiket di tempat Railmin, maka penjualan tiket KA Jarak Jauh dan Menengah pada hari ini (1 Juli 2019) sementara hanya dilayani untuk keberangkatan H-30” “Nanti jika pembenahan di sistem penjualan tiketnya sudah selesai, akan Railmin infokan kembali ya ke #SahabatKAI, Sekali lagi, Railmin mohon maaf atas ketidaknyamanannya.” Begitulah yang ditulis PT KAI di dalam akun Instagram resmi milik PT KAI. Dikutip KabarPenumpang.com dari laman tribunnews.com (11/7), Vice President Public Relation PT KAI, Edy Kuswoyo membenarkan perihal perubahan sistem yang mempengaruhi pemesanan tiket kereta api tersebut. “Betul, ini berlaku untuk semua saluran penjualan KAI,” jelas Edy. Namun dirinya masih enggan membeberkan sampai kapan perubahan pasa sistem penjualan tiket ini akan berlaku dan mengatakan bahwa calon penumpang juga tetap bisa membeli tiket kereta api secara go show (langsung). Sebelumnya, aplikasi pemesanan tiket – KAI Access dipegang oleh pihak ketiga. Pengambil alihan sistem aplikasi oleh PT KAI diharapkan pelayanan pengguna jasa kereta api akan semakin cepat dan mudah. Baca Juga: Prambanan Ekspres, KRD Pertama yang Gunakan Aplikasi KAI Access untuk Pembelian Tiket Vice President PT KAI Daop VII Madiun Wisnu Pramudyo, mengatakan bahwa setelah sistem aplikasi KAI Access diambil alih, PT KAI akan menambah kapasitas server yang ada. Sehingga layanan melalui aplikasi KAI Access kedepannya tidak akan mengalami kendala lagi.  

Dengan Airbus A330-900NEO, Ada Kemungkinan AirAsia Buka (Kembali) Rute ke Eropa

Salah satu maskapai berbiaya rendah terbesar dan paling terkenal di Asia, AirAsia sempat membuka rute penerbangan ke Benua Eropa, namun sayangnta rute tersebut diberhentikan pada tahun 2012 silam, alasannya saat itu rute ke Eropa tidak menguntungkan karena load factor yang rendah. Tentu saja, mereka menggunakan pesawat wide-body untuk menjabani rute menuju benua biru, seperti A330 dan lainnya. Pertanyaannya sekarang adalah, apakah Tony Fernandes cs. akan kembali membuka rute menuju Eropa? Baca Juga: Ekspansi Bisnis Besar-Besaran, AirAsia Berencana untuk Ganti Slogan! Jawabannya mungkin saja! Karena Tony Fernandes, sang CEO AirAsia masih memiliki mimpi untuk mengembalikan rute penerbangan tersebut. Mimpi AirAsia untuk kembali membuka rute menuju Eropa didukung oleh maskapai-maskapai kelas wahid yang mengoperasikan rute penerbangan dari Eropa menuju kawasan Asia Timur dan Tenggara – mulai dari Lufthansa, KLM, hingga British Airways. Nah, AirAsia rencananya akan ‘menyelinap’ masuk ke dalam persaingan maskapai full service tersebut dengan label Low Cost Carrier (LCC) yang selama ini bersanding di belakang namanya – dimana soal harga benar-benar bisa ditekan oleh AirAsia. Di sini, AirAsia tidak akan menjelma menjadi maskapai layanan penuh, melainkan AirAsia bisa memanfaatkan kelas bisnis yang ada pada armada mereka. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com (11/7), AirAsia pada akhirnya akan menggunakan Airbus A330-900NEO yang tengah mereka pesan. AirAsia kemungkinan akan membutuhkan mitra penghubung di Eropa, namun operator layanan penuh mungkin akan menghindari bermitra dengan AirAsia – jelas karena takut pasarnya diambil alih oleh AirAsia. Tapi mungkin AirAsia bisa bermitra dengan maskapai berbiaya rendah asal Eropa, dan apabila kerja sama ini terjadi, setidaknya penumpang tidak terlalu ‘kaget’ dengan perpindahan moda pengangkut – dari LCC ke LCC, bukan dari LCC ke maskapai layanan penuh. Lalu, kapan AirAsia akan mulai mengoperasikan rute menuju Eropa? Nampaknya pihak maskapai tidak akan mengopersikan rute ini dalam waktu dekat, mengingat sejumlah persiapan masih harus dilakukan oleh AirAsia, mulai dari perencanaan rute, pencarian mitra, hingga menanti Airbus A330-900NEO yang mereka pesan. Tanpa A330-900NEO, maka peluang AirAsia untuk membuka kembali rute menuju Eropa menjadi sangat kecil. Baca juga: Buka Rute Ke Frankfurt, Citilink Datangkan 2 Unit Airbus A330-900NEO di Oktober 2019 Sebagai LCC, nampaknya bukan AirAsia saja yang punya peluang terbang ke Eropa, dari Indonesia, maskapai Citilink bahkan sudah menyebut akan melayanu penerbangan ke Frankfurt, Jerman, setelah masakapai berlivery hijau-putih ini menerima dua unit Airbus A330-900NEO.  

Lockheed VLST, Desain Pesawat Angkut Raksasa yang Tak Pernah Terwujud

Jika Airbus punya varian A380-1000 yang tidka pernah mengudara karena satu dan lain hal, maka produsen pesawat asal Negeri Paman Sam, Lockheed Martin juga ternyata punya desain pesawat yang hingga saat ini tidak dapat direalisasikan. Perbedaan cara pandang dan faktor internal dari rancangan pesawat ini sendirilah yang pada akhirnya menjatuhkan calon pesawat terbesar di tahun 1990-an ini masuk ke “dasar jurang”. Baca Juga: “A380-1000,” Mimpi Airbus Bawa Seribu Penumpang dalam Sekali Terbang Kembali ke tahun 1996, dimana pihak Lockheed Martin percaya bahwa semakin besar pesawat, maka semakin baik pula penilaiannya secara keseluruhan – terutama dari segi daya angkut. Jalan pemikiran pihak Lockheed Martin kala itu didukung oleh sejumlah faktor, mulai dari keterbatasan daya tampung bandara (sedangkan pengoperasian penerbangan setiap harinya sangatlah banyak), pertumbuhan lalu lintas udara yang sangat pesat, hingga kondisi di tubuh Lockheed Martin sendiri yang kala itu mulai lesu di sektor kemiliterannya. Berangkat dari situ, Lockheed Martin mulai berinisiatif untuk membangun pesawat yang mampu mengangkut 600 hingga 800 penumpang dan solusi yang kala itu muncul adalah Large Subsonic Transport – dengan nama komersial yang digunakan oleh perusahaan adalah Lockheed Very Large Subsonic Transport (Lockheed VLST)
Sumber: simpleflying
Dikutip KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com, blueprint dari Lockheed VLST menunjukkan bahwa pesawat ini memiliki panjang 262 kaki, dengan bentang sayap mencapai 282 kaki (211 kaki jika dilipat), dan menggunakan empat mesin General Electric 90 (GE90) atau empat mesin Pratt and Whitney 4000 (PW4000). Adapun total daya angkut yang dapat diboyong oleh Lockheed VLST ini mencapai 635.000kg. Daya Angkut
Konfigurasi bangku dari Lockheed VLST. Sumber: simpleflying
Jika menggunakan konfigurasi bangku dua kelas, maka pesawat ini mampu mengangkut 900 penumpang sekaligus dalam sekali penerbangannya (450 penumpang di dek bawah, dan sisanya di dek atas). Dimensi dari pesawat yang amat sangat besar ini bahkan masih menyediakan ruang untuk menampung 16 palet kargo! Dapatkah Anda membayangkan seberapa besar ukuran dari pesawat ini? (Calon) Rute Operasi Jika rampung, maka pesawat ini diplot untuk menjabani beberapa rute favorit kala itu, seperti: London menuju Hong Kong, Singapura, dan Tokyo, New York menuju London, Frankfurt, dan Paris, Tokyo menuju San Francisco, Los Angeles, dan Honolulu. Baca Juga: Lockheed Martin Bocorkan Rencana Garap Pesawat Supersonik yang Senyap! Tidak Pernah Mengudara Dalam blueprint yang sama, terdapat pula penjelasan bahwa pesawat ini hanya mampu menempuh jarak 5.900 km saja dalam kondisi tangki bahan bakar terisi penuh – itu berarti pesawat ini hanya efisien untuk menjabani rute New York menuju London saja yang terpaut jarak 5.555 km. Namun ketika Lockheed VLST menempuh perjalanan dari New York menuju Frakfurt, pesawat ini akan mengalami kesulitan karena jarak 6.205km yang terpaut diantara dua kota tersebut. Selain itu, sejumlah pertimbangan lain yang pada akhirnya memutuskan nyawa dari rencana pengadaan pesawat ini antara lain: suara yang diperkirakan terlalu berisik, membutuhkan landas pacu yang lebih lebar dan panjang, hingga bobot pesawat yang terlalu berat.

Lari Telanjang di Hotel Singapura, Tiga Awak Kabin British Airways Terancam Dipecat

Tiga orang awak kabin British Airways (BA) diskors dan bahkan terancam kehilangan pekerjaan mereka. Pasalnya ketiga orang ini diduga berlarian tanpa busana alias bugil di sebuah hotel di Singapura ketika mereka singgah setelah 14 jam penerbangan dari bandara Heathrow di London. Baca juga: Kerap Alami Pelecehan, Cathay Pacific Bakal Ganti Seragam Awak Kabin KabarPenumpang.com melansir laman straitstimes.com (8/7/2019), dua pria dan seorang wanita yang merupakan kru dari BA diduga menyelundupkan alkohol dari pesawat mereka dan meminumnya saat tengah singgah di Singapura. Ketiganya dilaporkan mabuk dan menjadi liar yang kemudian memainkan permainan putar botol dengan berbagai tantangan yang diberikan.
(Must Share News)
Saat mendapat tantangan dari permainan putar botol tersebut, ketiganya menerima untuk berjalan telanjang dikoridor sembari mengetuk pintu kamar tamu yang lainnya. Dari para tamu tersebut ternyata ketiganya mengetuk pintu seorang pejabat BA dan melaporkan perilaku ketiganya kepada atasan di London. Sayangnya hotel tempat mereka menginap tidak disebutkan dan pihak BA kemudian menanggapi hal yang terjadi pada tiga awak kabin mereka. “Kami mengharapkan standar perilaku tertinggi dari tim kami di seluruh dunia setiap saat dan kami sedang menyelidiki apa yang terjadi. Kami tidak mentolerir perilaku nakal oleh kolega dan akan selalu menyelidiki sepenuhnya klaim dan mengambil tindakan apa pun yang diperlukan,” kata pihak BA melalui sebuah pernyataan. Seorang awak kabin yang sudah dua tahun bekerja di industri penerbangan mengatakan dirinya telah mendengar tentang insiden dimana awak kabin mabuk dan berperilaku tak pantas. Bahkan kadang perilaku tersebut menyimpang seperti perilaku seksual tetapi dirinya tidak melaporkan demi menghindari masalah. “Mereka telah melakukan sesuatu yang tidak dapat diterima dan ilegal. Mereka harus menghadapi konsekuensi bahkan jika harus kehilangan pekerjaan mereka,” ujar awak kabin tersebut. Seorang mantan awak kabin, Rachel menambahkan, apa yang dilakukan awak kabin BA tampak berlebihan. Sebab kemana pun Anda pergi, harus sadar bahwa mewakili maskapai dan negara Anda. Tahun lalu diketahui seorang awak kabin BA juga terlibat kasus di sebuah hotel Singapura. Baca juga: Kerap Dijadikan Objek Pelecehan Seksual, Perlukah Pihak Maskapai Tambah ‘Kurikulum’ Bela Diri Terhadap Awak Kabin? Tak hanya itu, ada pula awak kabin pria yang di duga memperkosa awak kabin perempuan saat singgah di Singapura. Peristiwa pemerkosaan tersebut diduga terjadi selama mereka bertugas dan melakukan pesta minuman beralkohol dan itu dilakukan di Hotel Jen Tanglin, Singapura. Bahkan beberapa situs berita Inggris menyebutkan bahwa Johannesburg, Las Vegas, Bangkok dan Singapura adalah beberapa kota di mana karyawan BA terkenal denhan perilaku minus mereka.

Antisipasi Kondisi Darurat, Shinkansen Bertenaga Baterai Siap Beroperasi di 2020

Sebagai negara yang menggunakan kereta api sebagai moda transportasi massal, Negeri Sakura ini juga mengembangkan berbagai macam kereta api dengan teknologi masa kini. Dikutip kabarPenumpang.com dari laman japantoday.com (10/7/2019), baru-baru ini Japan Railway entral Co (JR Central) meluncurkan uji coba kereta peluru bertenaga baterai pertama. Baca juga: Jelang Olimpiade Musim Panas, WiFi Gratis Siap Hadir di Kereta Peluru Shinkansen JR Central sendiri melakukan uji coba untuk kereta peluru Shinkansen yang menggunakan baterai pada Rabu (10/7/2019) kemarin. Bahkan penggunaan baterai ini sendiri adalah yang pertama di antara kereta berkecepatan tinggi di dunia. Menurut JR Central, sistem baterai yang mereka gunakan ini untuk mengatisipasi ketika listrik di jaringan pada jalur rel terjadi pemadaman berkepanjangan, disebutkan kereta peluru Shinkansen yang menggunakan tenaga baterai diambil dari tipe N700S. “Kereta peluru Shinkansen yang baru dikembangkan akan dapat melanjutkan perjalanannya sendiri ke stasiun terdekat. Bahkan ketika kereta ‘mogok’ di terowongan atau di jembatan,” kata JR Central. Setelah uji coba perdana ini, Shinkansen bertenaga baterai akan mulai debutnya pada 2020 mendatang. Baterai yang digunakan akan diletakkan dibagian bawah gerbong kereta karena ukurannya relatif kecil. Uji coba kereta peluru tenaga baterai yang dilakukan bersama media di railyard di Mishima, Prefekur Shizuoka. Dalan uji coba, kereta tersebut melaju dengan kecepatan maksimum 30 km per jam. Selain itu lampu dalam gerbong akan diredupkan dan AC dimatikan saat sistem darurat diaktifkan. Bisa dikatakan, kehadiran baterai pada kereta peluru ini sendiri untuk memudahkan ketika dalam keadaan darurat dan membantu penumpang tiba di stasiun tujuan mereka dengan selamat. Baca juga: Terkendala Sistem Pengereman, Ratusan Ribu Penumpang Shinkansen Padati Stasiun JR Central sendiri awalnya akan memproduksi kereta dengan 16 gerbong. Tetapi untuk menjual N700S secara global, perusahaan telah membuatnya dan dapat disesuaikan untuk gerbong yang lebih sedikit dari pemikiran awal.

Trump Sebut Qatar Lakukan “Transaksi Besar” Terkait Produk Boeing

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebutkan bahwa maskapai asal Timur Tengah, Qatar Airways telah mengeksekusi rencananya untuk membeli pesawat dari Boeing. Presiden yang terkenal dengan keputusannya yang kontroversial ini menggambarkan bahwa rencana tersebut sebagai sebuah “transaksi besar” yang telah ditandatangani Selasa (9/7) kemarin. Alih-alih hanya membeli pesawat saja, ternyata pihak Qatar juga melengkapi sistem persenjataan dan kemiliteran mereka pada kunjungannya ke Gedung Putih. Baca Juga: Qatar Airways Umumkan Jadi Maskapai Pertama yang Operasikan Boeing 777X Jika melihat dari pembelian yang dilakukan oleh Qatar terhadap Boeing, maka wajar saja jika Trump mengisyaratkannya sebagai “transaksi besar”. Kendati begitu, Presiden Trump tidak menyebutkan apakah pembelian pesawat ini dilakukan Qatar di atas perjanjian baru atau merupakan tindak lanjut dari perjanjian yang sebelumnya sudah ditangatangani – termasuk kesepakatan senilai US$1,8 miliar yang diumumkan bulan lalu pada pagelaran Paris AirShow 2019 untuk lima unit pesawat Boeing 777. “Ini merupakan transaksi yang akan menghabiskan banyak uang di negara kami, dan itu menandakan bahwa ada pekerjaan besar yang menanti kami semua di sini,” ujar Presiden Trump di Gedung Putih, dikutip KabarPenumpang.com dari laman bloomberg.com (9/7). Kesepakatan ini terjadi di tengah boikot ekonomi selama dua tahun yang dilakukan Qatar yang dipimpin oleh sekutu Amerika, Arab Saudi dan didukung oleh negara-negara termasuk Mesir dan Uni Emirat Arab. Trump awalnya mendukung langkah Saudi meskipun menempatkan Negeri Paman Sam dalam posisi yang agak aneh karena memiliki pangkalan militer utama di Qatar. Baca Juga: Geser Singapore Airlines, Qatar Airways Kini Jadi Maskapai Terbaik Dunia Pada kesempatan yang sama, emir Qatar, Sheikh Tamim Bin Hamad Al Thani mengatakan bahwa mereka berupaya untuk meningkatkan hubungan dengan Amerika dan menggandakan kemitraan ekonomi antara dua negara tersebut. Mansoor bin Ebrahim Al Mahmoud, yang memimpin Qatar Investment Authority, mengatakan bahwa awal tahun 2019 ini dana kekayaan Qatar akan meningkatkan portofolio investasi Amerika dari sekitar US$30 miliar menjadi sekitar US$45 miliar selama dua tahun ke depan.