Kelola Data 22 Ribu Karyawan, AirAsia Kerja Sama dengan Cloud Workday

Cloud sudah mulai banyak digunakan hampir seluruh kalangan baik perusahaan maupun perorangan. Biasanya sistem cloud ini untuk menyimpan data-data atau foto. Salah satu yang menggunakannya adalah maskapai berbiaya rendah terbesar di Asia Tenggara yakni AirAsia. Baca juga: Mahathir Siap Jual Malaysia Airlines, Mungkinkah AirAsia Berminat Akuisisi? AirAsia baru-baru ini berkerja sama dengan Cloud Workday mengadopsi sistem mereka untuk mengelola data 22 ribu karyawan perusahaannya di seluruh kawasan sebagai bagian dari transformasi digital. Pemberitahuan terkait penggunaan Cloud milik Workday ini menjadi salah satu lompatan besar dalam manajemen sumber daya manusia. Dimana Cloud Workday membantu menyediakan perangkat lunak untuk manajemen keuangan ataupun sumber daya manusia. KabarPenumpang.com melansir laman thejakartapost.com (2/7/2019), Kepala staf dan budaya AirAsia Varun Bhatia mengatakan bahwa teknologi Cloud Workday dapat membantu perusahaan mempertahankan apa yang disebut sebagai “sumber tunggal kebenaran dan data karyawan”. “Kami percaya kami harus bergerak menuju pendekatan yang lebih personal dan karyawan harus mendapatkan pengalaman pribadi,” kata Bhatia baru-baru ini. Kolaborasi ini, kata Bhatia, memungkinkan karyawan maskapai untuk mengakses platform terintegrasi berbasis cloud secara terpisah dari ponsel mereka kapan saja dan dari mana saja. “Ini adalah platform swalayan di mana karyawan dapat melakukan hal-hal dasar seperti mengatur cuti, melengkapi informasi data mereka dan sejenisnya,” katanya. Platform menyimpan informasi tentang masing-masing karyawan dan catatan pekerjaan mereka, termasuk jalur karir, tingkat keterampilan teknis dan pengembangan profesional, serta informasi standar yang diperlukan karyawan untuk melakukan pekerjaan mereka. Karyawan juga dapat memeriksa jadwal kerja harian mereka, mengelola hari cuti, dan melacak informasi tentang gaji mereka. Workday president for Asia Asia Rob Wells mengatakan bahwa dengan bantuan teknologi dan digitalisasi, AirAsia dapat memungkinkan tenaga kerjanya mencapai efisiensi dan membuat pekerjaan mereka lebih mudah. “Setiap hari, 22.000 karyawan AirAsia melayani kami, menerbangkan kami, merawat barang-barang kami atau memastikan bahwa pesawat itu bekerja sepanjang waktu. Mereka tidak punya waktu untuk datang ke kantor ke perangkat desktop. Jadi, melibatkan tenaga kerja melalui seluler, melalui akses ke digitalisasi, sangat penting, ”katanya. Baca juga: Gunakan Satu Jenis Pesawat, Jadi Jurus AirAsia Tetap Efisien dengan Harga Tiket Terjangkau Mengadopsi teknologi cloud untuk mengelola sumber daya manusianya adalah bagian dari visi “AirAsia 3.0” maskapai untuk lebih dari sekadar perusahaan perjalanan udara dan menjadi perusahaan teknologi perjalanan. AirAsia 3.0 juga membayangkan menyediakan pemesanan hotel dan layanan logistik sebagai platform e-commerce satu atap untuk para pelancong.

Bangkitkan Produk ‘Lama,’ Mungkinkah Airbus Rilis A340NEO?

Meski tak terlalu sukses di pasaran, namun pesawat angkut jarak jauh empat mesin Airbus A340 dapat dikatakan legendaris, lantaran pamornya pernah sukses dan kemudian terjepit karena munculnya rival Boeing 777 series yang menawarkan lebih efisien dengan daya angkut dan jarak jangkau relatif sama. Meski begitu, A340 populasi masih cukup besar sampai saat ini, yaitu mencapai 370 unit yang sebagian besar digunakan maskapai Jerman, Lufthansa. Baca Juga: Airbus Rayakan Ulang Tahun ‘Emas,’ Digdaya Hampir di Semua Lini Bukan saja kondang di segmen maskapai, A340 series juga dipercaya sebagai pesawat VVIP (Very Very Important Person). Sebut saja pesawat resmi perdana menteri Jerman, pesawat sultan Brunui Hassanal Bolkia, dan pesawat Emir Qatar, kesemuanya mengguanakan varian A340. Pesawat dengan teknologi fly by wire yang kecanggihannya setara A330 ini resmi terbang perdana pada 25 Oktober 1991 dan diluncurkan pada 15 Maret 1993. Jika Anda masih ingat, pada Indonesia AirShow 1996, Airbus pernah mendatangkan A340 ke Bandara Soekarno-Hatta, saat itu A340 berhadapan langsung dengan rivalnya, Boeing 777. Tidak ada masalah serius pada A340, namun proyek pengembangan A340 terpaksa dihentikan Airbus pada tahun 2011, sebab utamanya A340 tak mampu melawan efisensi yang ditawarkan rival-rivalnya di segmen pesawat jarak jauh. Dan melihat kondisi saat ini, muncul pertanyaan, mampukah Airbus ‘menyulap’ dan membangkitkan kembali pamor dari A340? Sebagaimana diketahui, strategi Airbus untuk tetap bertahan di jalur persaingan adalah dengan cara menciptakan kembali pesawat yang sebelumnya sudah mereka rakit, dimana mayoritas pesawat yang mereka ambil ini merupakan varian terlaris. Setelah itu, pihak Airbus akan melakukan eksplorasi lebih lanjut, menambahkan sejumlah fitur terbaru, dan menyematkan embel-embel “NEO” pada bagian belakang varian terkait. Kendati saat kemunculannya sempat menggoyang singgasana Boeing 747, namun bukan berarti Airbus tidak memiliki kendala dengan varian A340nya ini. Ya, beroperasi dengan empat mesin jet membuat varian ini sangat boros bahan bakar. Hal ini semakin diperparah dengan daya angkutnya yang bisa dibilang sangat tanggung – hanya 375 penumpang dengan konfigurasi standar. Jika dibandingkan dengan lawan sepadannya, Boeing 747 mampu mengangkut hingga 416 penumpang dengan pembagian tiga kelas. Jika hendak dibandingkan lebih jauh lagi, varian Boeing 787 Dreamliner saja yang menggunakan dua mesin jet mampu menangkut hingga 335 penumpang. Padahal, Dreamliner masuk ke dalam kategori mid-size wide-body aircraft, tidak seperti A340 yang tergolong sebagai pesawat wide-body. Baca juga: Alami Masalah pada “Ventilasi,” Airbus A340 Air France Terpaksa Mendarat Darurat di Iran Diwartakan KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com (1/7/2019), tentu saja masalah borosnya bahan bakar dan kapasitas angkut dari A340 menjadi masalah utama bagi Airbus yang harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum merilisnya kembali dengan embel-embel “NEO” pada bagian belakang namanya. Secara hipotesis, diperkirakan akan ada dua varian dari A340NEO, dimana: 1. A340-700NEO – varian A340NEO yang memiliki ukuran lebih kecil, berkapasitas 340 penumpang, dan mampu mengudara hingga ke kisaran 9.700 nmi (17.964 km) 2. A340-800NEO – lebih besar dari A340-700NEO yang mampu menangkut hingga 400 penumpang dengan jarak tempuh mencapai 9.000 nmi (16.668 km) Menimbang masalah kenyamanan penumpang, nampaknya sudah tidak perlu dibahas lagi karena Airbus sudah pasti akan memberikan pelayanan terbaiknya, sehingga penumpang yang menunggangi armada buatannya akan kerasan. Lalu, kapan rencananya Airbus akan mengeksekusi ide brilian yang akan menjadikannya penguasa angkasa? Jawabannya adalah nyaris tidak mungkin. Karena secara spesifikasi, Airbus sudah memiliki A350 yang hampir menyerupai kembangan dari A340 ini, punya kemampuan serupa dengan hanya menggunakan dua mesin. Namun sepenuhnya keputusan ada di pihak Airbus, akankah pabrikan pesawat yang bermarkas di Leiden ini menghadirkan varian A340NEO?    

Makin Strong! Batik Air Terima Kedatangan Airbus A320-200CEO Ke-44

Setelah mendatangkan armada Airbus A320-200CEO ke-43 pada akhir April 2019, kini Batik Air (Lion Air Group) mewartakan bahwa A320-200CEO pesanan ke-44 dengan registrasi PK-LZL telah diterbangkan dari pabrikan Airbus di Hamburg, Jerman. Pesanan ke-44 A320-200CEO merupakan bagian dari total pesanan keluarga A320 yang mencapai 234 unit, dimana pesawat kini telah tiba di Bandara Soekarno-Hatta. Baca juga: Batik Air Resmi Terima Airbus A320-200CEO Ke-43 Untuk proses pengiriman pesawat, Batik Air bernomor penerbangan BTK-001 menempuh perjalanan udara dan transit berkisar 18 jam 30 menit. Batik Air PK-LZL memiliki tujuan Abu Dhabi yang lepas landas dari Bandar Udara Internasional Finkenwerder di Hamburg barat daya, Jerman (XFW) pukul 18.00 waktu setempat (Currently Central European Summer Time/ CEST, GMT+2). Penerbangan BTK-001 mendarat di Bandar Udara Internasional Al Bateen, Abu Dhabi, United Arab Emirates (AZI) pada 02.30 waktu setempat (Gulf Standard Time/ GST, GMT+4). Rute berikutnya (03/ 07 dari Bandar Udara Internasional Al Bateen, Batik Air melanjutkan perjalanan) pukul 03.30 waktu setempat dan sesuai jadwal kedatangan di Bandar Udara Internasional Kuala Lumpur, Malaysia (KUL) pada 14.45 waktu setempat (Malaysia Time/ MYT, GMT+8). Kemudian A320CEO PK-LZL mengudara dari Kuala Lumpur pada 16.45 waktu setempat dan sudah tiba di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten (CGK) pukul 19.00 waktu setempat (Western Indonesia Time/ WIB, GMT+7).
 
View this post on Instagram
 

A post shared by KabarPenumpang.com (@kabar.penumpang) on

Batik Air memiliki konsep layanan penerbangan premium, Airbus 320 Batik Air mempunyai konfigurasi lorong tunggal (single aisle) dan bertata letak dua kelas yaitu ekonomi (3-3) dan bisnis (2-2). Pesawat ini telah dibekali teknologi modern dan fitur-fitur yang memberikan kenyamanan setiap tamu ketika berada di kabin. Airbus A320 memiliki kabin tujuh inci lebih lebar dikelasnya dengan kursi selebar 18 inci atau lorong yang lebih luas untuk memudahkan pergerakan. Kompartemen penyimpanan barang yang terletak di atas kursi menyediakan 10 persen volume ekstra sehingga menampung lebih banyak jumlah tas hingga 60 persen. Baca juga: Tiga Kali Hisap Rokok di Toilet, Penumpang Batik Air Tujuan Padang Digelandang Keamanan Bandara Hingga kini Batik Air melayani lebih dari 45 destinasi domestik dan internasional ke Singapura; Chennai, India; Perth, Australia serta Guilin dan Kunming di Tiongkok, frekuensi penerbangan mencapai lebih dari 350 perhari. Batik Air kini mengoperasikan 44 Airbus 320-200CEO (12 kelas bisnis dan 144 kelas ekonomi), delapan Boeing 737-800NG (12 kelas bisnis dan 150 kelas ekonomi) serta enam Boeing 737-900ER (12 kelas bisnis dan 168 kelas ekonomi) yang dilengkapi fasilitas hiburan di dalam kabin (in-flight entertainment) atau video dalam layar (audio video on demand) sentuh di setiap kursi.

Mulai 7 Juli, Garuda Indonesia Siapkan 14 Pesawat untuk Layani Penerbangan Haji

Menyambut musim keberangkatan Jamaah Haji 2019/1440H, Garuda Indonesia menyatakan kesiapannya dalam pelaksanaan operasional yang penerbangan perdana akan dimulai pada tanggal 7 Juli 2019 mendatang. Untuk memastikan operasional penerbangan Haji berjalan lancar, Garuda Indonesia Group telah melakukan berbagai upaya persiapan seperti perawatan armada, sistem ground handling, layanan inflight catering, termasuk persiapan awak kabin dan pilot yang akan bertugas selama periode penerbangan Haji. Baca juga: Convair 340, Pesawat Garuda Indonesia yang Terbangkan Jemaah Haji di Tahun 1956 Direktur Utama Garuda Indonesia Ari Askhara mengatakan dalam catatan tertulis yang diterima KabarPenumpang.com (5/7) menyebutkan, “Dengan berbagai upaya persiapan yang telah dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, kiranya penerbangan Haji tahun ini akan dapat berjalan dengan lancar, tepat waktu dan memberikan kenyamanan kepada seluruh jamaah Haji Indonesia. Garuda Indonesia optimistis dapat memberikan kinerja terbaik dalam operasional penerbangan haji tahun ini. Total jamaah haji Indonesia tahun 2019 yang akan diberangkatkan mencapai 111.071 jamaah. Para jamaah tersebut akan diterbangkan dengan 14 pesawat Garuda Indonesia, diantaranya adalah pesawat jenis Boeing 777 (kapasitas 393 seat), Airbus 330 (kapasitas 360 seat) dan Boeing 744 (kapasitas 455 seat). Penerbangan fase keberangkatan rencananya akan dimulai pada tanggal 7 Juli 2019 sampai dengan 5 Agustus 2019. Gelombang 1 fase keberangkatan tersebut akan diberangkatkan menuju Madinah dari tanggal 7 Juli 2019 sampai dengan 19 Juli 2019. Sedangkan gelombang 2 fase keberangkatan akan diberangkatkan menuju Jeddah pada tanggal 20 Juli 2019 sampai dengan 5 Agustus 2019. Sedangkan untuk penerbangan fase kepulangan akan dimulai dari tanggal 17 Agustus 2019 sampai dengan 15 September 2019. Sementara Gelombang 1 fase kepulangan tersebut akan diberangkatkan dari Jeddah dari tanggal 17 Agustus 2019 sampai dengan 29 September 2019. Sedangkan gelombang 2 fase kepulangan akan diberangkatkan dari Madinah pada tanggal 30 Agustus 2019 sampai dengan 15 September 2019. Pada penerbangan Haji tahun 2019/1440 H ini, Garuda Indonesia akan menerbangkan sebanyak 111.071 jamaah yang tergabung dalam 284 kelompok terbang (kloter) dari 9 embarkasi, yaitu embarkasi Banda Aceh (4.711 jamaah), embarkasi Medan (8.641 jamaah), embarkasi Padang (7.035 jamaah), embarkasi Jakarta (19.650 jemaah), embarkasi Solo (34.882 jamaah), embarkasi Balikpapan (6.825 jamaah), embarkasi Makassar (18.190 jamaah) dan embarkasi Lombok (4.967 jamaah). Baca juga: Siasati Puncak Musim Haji, Bandara Arab Saudi Adopsi Teknologi Gelang RFID Seperi pada layanan tahun lalu, Garuda Indonesia juga meningkatkan jumlah awak kabin haji yang berasal dari putra putri terbaik daerah yang berasal dari masing-masing daerah embarkasi. Tujuan Garuda Indonesia merekrut awak kabin dari daerah-daerah embarkasi tersebut adalah merupakan bagian dari “pelayanan” Garuda Indonesia kepada para jemaah – khususnya untuk mengatasi kendala komunikasi (bahasa). Garuda Indonesia juga menghadirkan berbagai pilihan hiburan In-flight Entertainment bernuansa islami di setiap penerbangannya.

Airbus Tidak Rilis Katalog Harga, Ada Apa?

Menurut laporan dari media baru-baru ini, produsen pesawat asal Eropa, Airbus, menghentikan kebijakan penerbitan katalog harga untuk lini produknya. Di tahun-tahun sebelumnya, pihak Airbus telah merilis daftar harga untuk pesawatnya dan hampir tidak pernah absen setiap tahunnya, tetapi kebijakan berbeda diterapkan Airbus mulai tahun ini, dimana mereka sejauh ini belum merilis katalog harga pesawat untuk tahun 2019. Perusahaan menekankan bahwa katalog harga tidak mencerminkan nilai aktual dari sebuah transaksi yang diselesaikan. Baca Juga: Airbus A330-900NEO Pesanan Perdana Lion Air Tuntaskan Test Flight “Katalog harga relatif tidak berarti bagi kami – Anda bisa melihat kami tidak merilisnya tahun ini,” tutur Chief Commercial Officer dari Airbus, Christian Scherer pada pagelaran Paris Air Show 2019 yang lalu. Sementara itu, jalur pemasaran konvensional tetap dipraktikan oleh rival abadinya dari Amerika, Boeing. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman aerotime.aero (3/7/2019), pada salah satu ajang kedirgantaraan terbesar di dunia tersebut, Boeing memperbaharui katalog harganya, sedangkan pembaruan terakhir katalog harga dari Airbus dilakukan pada tahun 2018 silam. Ya, penerbitan katalog harga setiap tahunnya sudah menjadi praktik umum bagi kedua raksasa ini. Dalampembaruan terakhirnya, pihak Airbus menaikkan harga rata-rata dari pesawat komersialnya sebanyak dua persen yang mulai efektif berlaku tertanggal 1 Januari 2018 kemarin. Seperti yang sudah kita ketahui bersama, katalog harga dapat menjadi patokan awal bagi para pembeli poetensial untuk menentukan besaran budget yang harus mereka keluarkan untuk membeli varian baru. Beberapa variabel lain terkait pembelian juga dapat diukur melalui katalog harga, seperti diskon, deposit biaya, bea pra-pengiriman, dan lain-lain. Baca Juga: Tersebar Isu Soal Kenyamanan Penumpang, Terlalu Dinikah Airbus Luncurkan A321XLR? Namun, dampak diskon serta variabel lain yang sangat bervariasilah – dimana ini akan mempengaruhi harga akhir yang pada akhirnya membuat Christian Scherer mengatakan bahwa katalog harga menjadi tidak terlalu penting dan tidak selamanya relevan dengan hasil akhir. Jika dilihat dengan sudut pandang sederhananya, untuk apa seorang pedagang di pasar membuat daftar harga apabila selama proses jual beli tersebut ada tahap tawar-menawar dari sisi pedagang dan pembeli? Mungkin gambaran sederhananya seperti itu.  

‘Jodohkan’ Pengemudi dan Penumpang, GoJek Hadirkan Sistem Meachine Learning

Sistem dengan model machine learning baru saja diperkenalkan oleh pihak GoJek. Vice president of data science Gojek Syafri Bahar mengatakan, sistem ini sendiri hadir untuk menjodohkan pengemudi dan penumpang. Baca juga: Kerja Sama GoJek dan Garuda Indonesia Mungkinkan Anda Pesan Makanan dari Luar Kota Dengan sistem Jaeger nantinya bisa membangun alokasi multi tujuan berdasarkan jumlah penambahan mitra pengemudi dan jutaan pengguna. Bahkan sistem terbaru ini mampu membantu perusahaan dalam memutuskan pengemudi mana yang akan mendapat notifikasi saat mengambil pesanan di lokasi terdekat. Syafri mengatakan, pihaknya memiliki sejumlah besar data untuk mengoptimalkan keputusan mereka. Tetapi pihaknya juga harus memperhitungkan berbagai tujuan dinamis untuk menyeimbangkan pengemudi dan pelanggan. “Dengan monitor efisiensi pasar dan keadilan pengemudi, kami menemukan bahwa model ini secara konsisten mendahulukan prioritas beberapa pengemudi. Saya dan tim juga tengah mengembangkan sejumlah proyek open source berdasarkan sistem Jaeger ini,” kata Syafri yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman cnnindonesia.com (4/7/2019). Ada beberapa proyek yakni yang pertama akan dinamakan Lasso, ini merupakan sebuah layanan yang bisa menentukan setiap permintaan peringkat pengemudi. Lasso akan membuat panggilan http ke beberapa layanan mikro. Syafri mengatakan, Lasso juga akan menangani pencatatan setiap permintaan dan respons yang penting untuk mengevaluasi dan memulihkan bug dengan cara debugging atau metode yang dilakukan oleh para pemrogram dan pengembang perangkat lunak untuk mencari dan mengurangi bug. “Proyek kedua adalah Feast, ini untuk membatu GoJek menyelesaikan sejumlah masalah teknis saat menerapkan model machine learning. Ketiga, Mesiter yang juga disebut sebagai master Jeager untuk mengkonfirmasi model machine learning mana yang akan diterapkan di lokasi tertentu berdasarkan waktu hingga segmen yang berbeda,” ujar Syafri. Baca juga: Grab Gandeng UI untuk Kembangkan Startup, Ternyata Keduluan GoJek Terakhir adalah Babel, pihaknya telah mengabstraksikan berbagai teknik pengujian yang akan pihaknya gunakan pada UI Web khusus untuk mengevaluasi dampak Jaeer pada berbagai metrik bisnis. Sistem Jaeger ini pun berbeda dari GrabNow yang dimiliki Grab, dimana pengemudi dan penumpang dalam jarak dekat bisa langsung terkoneksi tanpa harus menunggu lama tiba.

Garuda Indonesia Gunakan Bus Listrik untuk Operasional Karyawan di Bandara Soekarno-Hatta

Garuda Indonesia untuk pertama kalinya menggunakan bus listrik, bus buatan PT Mobil Anak Bangsa (MAB) ini bukan digunakan sebagai kendaraan angkut penumpang dari terminal ke apron (shuttle bus), melainkan bus low deck ini digunakan untuk mendukung mobilitas operasional karyawan. Dengan pengoperasian fasilitas bus listrik tersebut, menjadikan Garuda Indonesia sebagai BUMN pertama di Indonesia yang menggunakan fasilitas mobil listrik produksi dalam negeri tersebut. Baca juga: Berharap Mampu Pasok Kebutuhan Bus di Bandara, Moeldoko Hadirkan Prototipe Bus Listrik MAB Pada tahap awal penggunaan fasilitas bus listrik tersebut akan menunjang mobilitas operasional karyawan Garuda Indonesia Group di lingkungan kerja areal Bandara Internasional Soekarno Hatta. Adapun saat ini Garuda Indonesia mengoperasikan sebanyak 1 unit bus listrik berkapasitas 60 penumpang. Direktur Utama Garuda Indonesia Ari Askhara dalam siaran pers (4/7) mengungkapkan bahwa hadirnya fasilitas bus listrik produksi dalam negeri merupakan bagian dari komitmen Garuda Indonesia dalam mendukung daya saing produk unggulan dalam negeri. “Selain itu, hal ini juga menjadi komitmen Garuda Indonesia untuk menjaga lingkungan melalui pengoperasian kendaraan yang bebas emisi.” Garuda Indonesia kedepannya akan memperkuat kolaborasi dengan PT MAB melalui anak usaha Aerotrans dan Gapura Angkasa untuk menggunakan bus listrik tersebut sebagai bagian dari layanan usaha jasa transportasi angkutan darat maupun penunjang layanan operasional penerbangan yang dikelola Garuda Indonesia Group. Bus listrik merupakan smart solution untuk mengurangi polusi yang saat ini kondisinya memprihatinkan khususnya di daerah Jabodatabek karena hanya dengan pengisian batere selama 3 jam, bus listrik tersebut mampu menempuh jarak sejauh lebih kurang 300 kilometer. Serta diharapkan mampu menekan biaya bahan bakar yang dikeluarkan untuk mobil operasional perusahaan. Bus listrik yang digunakan Garuda Indonesia adalah dari tipe MD255-XE2. Bus ini bisa melaju 40-80 kilometer bila baterainya, yang berkapasitas 300 ampere jam (Ah), terisi penuh. Bus listri dengan harga Rp3 miliar per unit ini punya kapasitas 60 penumpang dengan 20 kursi. Baca juga: Adopsi Bus Listrik, Antara Harapan dan Tantangan yang Menghadang Panjang bus keseluruhan mencapai 12 meter. Tipe baterai adalah LiFePo (Lithium Ferro Phosphate), spesifikasi 576 V 450 Ah, berkapasitas 259.2 kwh, dan total berat 2.290 kilogram. Tipe motor mesin adalah electrical motor PMSM (Permanent Magnetic Synchronous Motor) dengan seri HYYQ 800-1200. Kekuatan maksimal sebesar 200 kw 268 hp.

Gelontorkan Rp1,4 Triliun, Boeing Siap ‘Cicil’ Dana Santunan Keluarga Korban 737 MAX 8

Menanggapi pemberitaan terakhir yang menyebutkan bahwa pihak Boeing sama sekali belum memberikan ‘santunan’ terhadap korban kecelakaan pesawat jenis 737 MAX 8 yang dioperatori oleh Lion Air dan Ethiopian Airlines, pihak produsen pesawat kenamaan asal Amerika ini langsung merespon pemberitaan tersebut dan mengatakan bahwa mereka akan memberikan santunan kepada keluarga korban dengan nominal yang sudah ditentukan. Hanya saja, pemberian santunan ini bakal dilakukan secara berkala. Baca Juga: Pasca Dua Kecelakaan 737 MAX 8, Pihak Boeing Belum ‘Santuni’ Keluarga Korban! Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman reuters.com (3/7/2019), adapun nominal yang akan diberikan Boeing kepada keluarga korban adalah senilai US$100 juta atau yang berkisar Rp1,4 triliun. Pemberian santunan yang akan dilakukan secara bertahap ini nantinya akan ‘dilunaskan’ Boeing dalam jangka waktu beberapa tahun kepada pemerintah dan organisasi non-profit untuk membantu keluarga korban kecelakaan Lion Air dan Ethiopian Airlines. Menurut salah satu juru bicara Boeing, ia menyatakan bahwa santunan tersebut ditujukan untuk membantu biaya pendidikan dan biaya hidup keluarga serta kerabat korban kecelakaan pesawat Boeing 737 MAX 8. Menurut laman sumber, sebagian korban kecelakaan Boeing 737 MAX 8 ini merupakan pekerja kemanusiaan dan staf kementerian yang berkaitan dengan program lingkungan, kesehatan, dan makanan. Terlepas dari pemberitaan buruk yang selama ini menyelimuti perusahaan kedirgantaraan tersebut, sebenarnya pemberian santunan ini bisa dibilang cukup terlambat, mengingat kecelakaan kedua maskapai ini bisa dibilang sudah cukup lama. Tidak menutup kemungkinan juga bahwa pemberian santuan ini merupakan upaya dari Boeing untuk memperbaiki citra yang sudah kadung jelek – terutama dengan isu-isu tambahan yang menjadi topik hangat perbincangan belakangan ini, seperti penggelapan dokumentasi penjualan pesawat jenis 787 Dreamliner kepada Air Canada, pengakuan dari karyawan internal Boeing yang menyebutkan bahwa dirinya enggan naik varian 737 MAX 8 karena pengerjaannya yang bisa dibilang ‘asal-asalan’, dan sejumlah isu miring lainnya. Baca Juga: Duh! Ternyata Boeing Pernah ‘Palsukan’ Dokumen Pembelian Varian 787 Dreamliner Air Canada Mengutip dari laman cnnindonesia.com (4/7/2019), seorang perwakilan kerabat korban kecelakaan Lion Air, Anton Sahadi, mengatakan bahwa pihak keluarga menghargai pemberian santunan yang diberikan pihak Boeing tersebut. Namun Anton menegaskan bahwa keluarga tidak akan menghentikan tuntutan hukum terhadap perusahaan. “Kami akan terus memperjuangkan hak-hak kami di pengadilan. Boeing melakukan ini (memberikan santunan) untuk membangun citra mereka kembali,” ujar Anton.  

Di Bangladesh, Baut Rel Kereta Diganti dengan Batang Bambu dan Pisang

Jalur kereta yang panjang memiliki bantalan yang biasanya disambungkan dengan baut-baut baja. Baut-baut ini juga untuk menahan agar rel dan bantalannya tidak goyang dan bisa menahan kereta api yang akan melintas. Baca juga: Marak Pencurian Komponen Rel Kereta, Ternyata Sudah Jadi Momok Sejak Puluhan Tahun Namun apa jadinya jika baut-baut baja tersebut diganti dengan batang pohon pisang atau batang bambu? Mungkin ini tidak terpikirkan oleh sebagian besar orang, tetapi ini terjadi di Bangladesh. Dimana baut-baut tersebut digantikan oleh kedua batang pohon tersebut. Miris memang, tetapi ini dilakukan agar rel tetap aman ketika dilintasi. Ada beberapa jalur yang mau tak mau menggunakan batang bambu dan pisang untuk mengamankan bantalan rel yakni Stasiun kereta api Kalihati, Jokerchor, Solla dan Hatia di Tangail, antara Dhaka dan Jembatan Jalan Raya Bangabadhu. Ini terlihat buruk dan penggunaan batang pohon menggantikan baut dikarenakan baut-baut tersebut kerap kali dicuri. Dari sumber kereta api, bentang raya antara Tangail dan Sirajganj di samping relnya memiliki 132 jembatan. Salah satunya adalah Jembatan Pungli Rail yang sudah kehilangan bantalan utamanya. Karena hal ini, warga takut akan terjadinya kecelakaan kereta api besar lainnya seperti yang pernah terjadi pada Agustus 2007 silam. Dua orang penduduk yang tinggal di daerah dekat rel itu mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir sembilan bogie tergelincur di Tangail. Munnaf Ali dan Mannan Mia mengatakan, jika bogie itu sampai jatuh ke sungai makan akan menjadi lebih buruk. Kepala Stasiun Jembatan Jalan Raya Dhaka-Bangabandhu, Abdul Mannan, mengatakan, bahwa dia tidak mengetahui kondisi kritis ini. “Meskipun, tidak ada aturan keras dan cepat bahwa bambu tidak dapat digunakan sebagai pengganti baut besi, saya akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan terhadap praktik tersebut,” katanya yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman dhakatribune.com (2/7/2019). Baca juga: Musim Semi 2020, Jepang Bakal Punya Handcar Bertipe Sepeda di Atas Rel Kereta Asisten Insinyur Kereta Api Joydebpur Bangladesh, Nazib Kaiser mengatakan, “Seringkali baut ini dicuri dan kami tidak memiliki cukup baut. Dalam kondisi seperti ini, sebagai tindakan penghentian kesenjangan darurat, bambu dapat digunakan untuk mengamankan rel dan bantalan rel, bukan baut tidur logam.”

Di Stasiun Kereta Inggris, Konsumsi Keran Air Minum Gratis Sudah Jadi Tren

Limbah plastik menjadi salah satu masalah yang berdampak pada lingkungan. Pasalnya limbah plastik baru bisa hancur dalam waktu yang cukup lama, yaitu setelah 450 tahun. Hal ini kemudian membuat operator kereta api untuk mengurangi limbah plastik tersebut. Baca juga: Stasiun di Melbourne Uji Penggunaan Duratrack, Bantalan Rel dari Bahan Plastik Daur Ulang Apalagi kereta api sendiri hanya menghasilkan 15 gram CO2 per kilometer bila dibandingkan dengan pesawat 100 gram untuk penerbangan. Hasil tersebut dipuji oleh Badan Energi Internasional sebagai salah satu moda transportasi yang paling efisien untuk angkutan penumpang dengan membantu mengurangi emisi karbon dan polusi. Untuk membantu mengurangi emisi karbon dan sampah plastik, beberapa operator kereta melakukan daur ulang. Salah satu limbah plastik yang paling banyak ditemukan yakni adalah botol air kemasan sekali pakai dan ini meningkat dalam 15 tahun terakhir. Namun hanya lebih dari setengahnya yang terdaur ulang. Untungnya selain daur ulang, operator kereta menghadirkan keran air untuk minum gratis. Sehingga penumpang yang haus bisa langsung meminum dari kran air tersebut atau bisa mengisi ulang botol minuman mereka. Dirangkum KabarPenumpang.com dari globalrailwayreview.com, Mike Winter, CEO MIW Water Cooler Experts mengatakan, pemasangan keran air minum meningkat setelah 30 tahun MIW berdiri. Bahkan ternyata 78 persen orang Inggris lebih memilih keran air minum gratis karena lebih murah. Selain itu kehadiran keran air minum gratis juga membuat penjualan botol air minum tahan lama dan bisa digunakan kembali diperkirakan akan mencapai $10,4 miliar tahun 2025 mendatang dan meningkat tajam beberapa tahun terakhir. Memasang keran air minum adalah langkah yang relatif kecil yang dapat membuat perbedaan besar pada jumlah plastik sekali pakai yang dibuang di stasiun kereta api, sementara konsumen menghemat uang dan mendapat manfaat dari tetap terhidrasi dalam perjalanan mereka. Keran air minum terbaik saat ini kuat dan higienis dan dapat mencakup penghitung data, sehingga pengurangan limbah plastik yang dicapai dapat dilaporkan kepada para pemangku kepentingan. Bisa dikatakan stasiun kereta api di Inggris menjadi pemimpin dalam hal pengurangan limbah plastik tepatnya botol sekali pakai. Apalagi baru-baru ini Network Rail memasang keran air minum di stasiun Charing Cross dengan maksud untuk meluncurkannya di stasiun yang dikelola lainnya. Untuk Network Rail, ini merupakan langkah nyata untuk mengurangi dampak limbah plastik di stasiun-stasiunnya, dan bagian dari ambisi yang lebih luas untuk menerapkan prinsip-prinsip ekonomi melingkar untuk mengurangi dua juta ton limbah yang dihasilkannya setiap tahun. Keran air minum juga telah dipasang oleh kereta api di Inggris, Greater Anglia di Stasiun Liverpool Street melalui London Drinking Fountain Fund. Penggunaan plastik sekali pakai masih sangat banyak dan menjadi agenda utama publik saat ini, sementara keran air minum di area publik adalah solusi sederhana yang ideal untuk memotong plastik sekali pakai sambil memberi manfaat bagi penumpang. Dalam iklim kesadaran lingkungan saat ini, kebijakan keberlanjutan yang kuat tidak hanya berfungsi sebagai dorongan reputasi tetapi itu juga merangsang inovasi dan menurunkan biaya dalam jangka panjang. Baca juga: Kurangi Sampah Plastik, London Hadirkan Keran Air Siap Minum Gratis Untuk Penumpang “Saya berharap melihat lebih banyak kereta api di seluruh dunia mengikuti jejak stasiun dan operator yang mengambil langkah-langkah untuk mengurangi dampaknya. Ini adalah kesempatan unik untuk membangun momentum kesasaran lingkungan dan iklim dengan memastikan perjalanan kereta api,” ujar Mike.