Duh! Ternyata Boeing Pernah ‘Palsukan’ Dokumen Pembelian Varian 787 Dreamliner Air Canada
Nama Boeing nampaknya masih enggan turun dari topik utama pembahasan seputar dunia transportasi. Setelah pemberitaan yang terakhir beredar adalah dari keluarga korban kecelakaan dua pesawat tipe 737 MAX 8 yang mengaku belum mendapatkan ‘santunan’ dari pihak produsen, kini pemberitaan terbaru menyebutkan bahwa beredar kabar tentang pihak Boeing yang mengakui tentang pemalsuan dokumen penjualan varian Boeing 787 ke pihak Air Canada.
Baca Juga: Pasca Dua Kecelakaan 737 MAX 8, Pihak Boeing Belum ‘Santuni’ Keluarga Korban!
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com (2/7/2019), varian Dreamliner dari pihak Boeing ini dikirim kepada Air Canada pada tahun 2014 silam, namun kira-kira 10 bulan setelah pengiriman tersebut, Boeing mengakui bahwa pihaknya telah memalsukan dokumentasi terkait penjualan pesawat wide-body tersebut. Pada pernyataannya, Boeing mengklaim seolah-olah bahwa pengerjaan pesawat tersebut belum sepenuhnya rampung, namun sudah dikirim kepada pihak konsumen.
Benar saja, pada tanggal 10 Februari 2015, Boeing 787 Dreamliner milik Air Canada yang hendak bertolak dari Vancouver menuju Narita di Jepang terpaksa melakukan pendaratan darurat di Anchorage, Alaska setelah mengalami kebocoran tangki bahan bakar, kurang lebih lima jam setelah mengudara – dan kini semuanya sudah jelas bahwa Boeing memalsukan dokumentasi terkait penjualan varian 787 Dreamlinernya sebelum pesawat tersebut dikirim ke pihak Air Canada! Ya, Boeing ‘membocorkan’ salah satu rahasianya ini tertanggal 29 Juni 2019 kemarin.
Ya, salah satu momen pembuka celah bagi terbongkarnya ‘borok’ dari Boeing terkait pemalsuan dokumen ini terjadi ketika penyelidikan menyeluruh pasca dua kecelakaan maut yang dilakukan oleh varian 737 MAX 8 – dimana penyelidikan diperluas hingga ke pabrikan Dreamliner di South Carolina.
Dengan berdalih bahwa ini merupakan masaah yang terisolasi, pihak Boeing langsung mengambil tindakan korektif dengan memanggil mekanik dan inspektur dari perusahaan yang terkait dengan urusan administratif ini. Hadirnya kasus seperti ini tentu saja membahayakan semua penumpang dan awak kabin yang berada di dalam penerbangan terkait. Tapi apakah pihak Air Canada selaku pihak yang ‘ditipu’ oleh Boeing ini pernah berada di dalam situasi yang sangat berbahaya?
Baca Juga: Inilah Alasan, Mengapa Boeing Menggunakan Angka 7 di Produk Jet Komersialnya
Beruntung, maskapai ini tidak pernah mengalami insiden serius terkait dengan pemalsuan dokumen ini, namun tetap saja, di dunia penerbangan yang dimana semuanya harus serba presisi dan beroperasi dengan sempurna, pemalsuan dokumen semacam ini akan sangat berbahaya.
Emirates Operasikan A380 dengan Rute Terpendek di Dunia, Jaraknya Setara Jakarta – Pangandaran!
Apa yang akan terlintas di benak Anda pertama kali ketika mendengar nama Airbus A380? Mungkin sebagian dari Anda akan langsung terngiang tentang ukurannya yang sangat luar biasa besar, atau mungkin juga ada yang langsung teringat tentang kapasitas angkut dari moda yang berjuluk superjumbo jet ini. Ya, kendati moda ini produksinya sudah diberhentikan karena minimnya permintaan dari pihak maskapai, namun salah satu pengguna A380 terbesar di dunia, Emirates malah membuka rute penerbangan baru dengan menggunakan pesawat ini. Kira-kira, rute penerbangan mana ya yang dirilis oleh Emirates?
Baca Juga: Misterius! Qantas Terbangkan Airbus A380 Ke Orlando Pada Januari 2020, Terbangkan Siapa?
Seperti yang diwartakan oleh KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com (2/7/2019), maskapai asal Timur Tengah ini meluncurkan rute penerbangan yang bertajuk #ShortestA380Flight. Ya, dari namanya saja, Anda pasti sudah dapat menebak jarak dari rute yang dihadirkan oleh Emirates ini – rute penerbangan A380 terpendek di dunia. Peluncuran dari rute ini sendiri dilaksanakan pada Senin, 1 Juli 2019 kemarin, dimana A380 hanya mengudara sejauh 350km saja.
Jarak tersebut hampir sama jauhnya dengan jarak antara Jakarta dengan Pangandaran yang ada di ujung Jawa Barat sana (sekitar 356km). Nah, tapi Emirates bukan membuka rute penerbangan ini dari Jakarta ke Pangandaran, melainkan dari Dubai menuju Muscat.
Moda yang mampu merengkuh kecepatan maksimal hingga 1.020 km per jam ini hanya membutuhkan waktu sekira kurang dari 40 menit untuk melakoni perjalanan dari Dubai menuju Muscat tersebut. Mungkin sebagian dari Anda akan kebingungan ketika mendengar Emirates mengoperasikan Airbus A380 hanya untuk mengoperasikan rute penerbangan pendek.
Kendati belum ada penyataan resmi dari Emirates, namun dari gelagatnya, Emirates ingin memaksimalkan daya angkut dari A380 yang mampu mengangkut hingga 555 penumpang dalam konfigurasi tiga kelas ini. Tidak menutup kemungkinan Emirates akan memangkas jumlah pengoperasian harian dari rute Dubai – Muscat dan akan memadatkannya di dalam A380.
Baca Juga: “A380-1000,” Mimpi Airbus Bawa Seribu Penumpang dalam Sekali Terbang
Mengutip dari laman sumber yang sama, pihak Emirates akan melayani penerbangan dari Dubai menuju Muscat dua kali dalam sehari:
1. EK862 berangkat dari Dubai pukul 08:25 waktu setempat dan diperkirakan tiba di Muscat sekira pukul 09:40 waktu setempat (estimasi tersebut sudah termasuk proses taxi dan lain-lain),
2. EK863 berangkat dari Muscat pukul 11.15 waktu setempat dan diperkirakan tiba di Dubai sekira pukul 12.25 waktu setempat (estimasi tersebut sudah termasuk proses taxi dan lain-lain).
Sementara untuk rute sebaliknya, skema penerbangannya adalah:
1. EK864 berangkat dari Dubai pada pukul 16:10 waktu setempat dan diperkirakan tiba di Muscat pada pukul 17:25 waktu setempat,
2. EK865 berangkat dari Muscat pada pukul 19:05 waktu setempat dan diperkirakan tiba di Dubai pada pukul 20:15 waktu setempat.
BlueBird dan MRT Jakarta Sepakat Lakukan Studi Integrasi Layanan dalam Enam Bulan
Dalam tenggat enam bulan kedepan, tim yang dibentuk PT MRT Jakarta dan PT Blue Bird akan melakukan studi atas Pengembangan Layanan Transportasi Terintegrasi Serta Pemesanan dan Pembayaran Tiket MRT Jakarta Bagi Pengguna MRT Jakarta dan Bluebird. Hal tersebut disekapati dalam Nota Kesepahaman (MoU) antara kedua perusahaan di Kantor Pusat PT MRT Jakarta, Gedung Wisma Nusantara, Rabu (3/7/2019).
Baca juga: Ketika Oversupply, Armada Taksi Blue Bird Nantinya Tawarkan Jasa Antar Barang
Sebagaimana sebuah studi, Penandatanganan Nota Kesepahaman ini bertujuan agar kedua belah pihak bersama-sama menjajaki rencana studi terkait dengan pengembangan layanan transportasi terintegrasi untuk konektivitas first and last mile menuju layanan MRT Jakarta. “Konkritnya seperti kemungkinan untuk membangun tempat tunggu atau tempat menaikkan dan menurunkan penumpang di area sekitar stasiun MRT Jakarta,” ujar Direktur Utama PT MRT Jakarta, William Sabandar kepada KabarPenumpang di Stasiun Dukuh Atas.
Selain itu, melalui Nota Kesepahaman ini pula dapat dilakukan studi skema layanan transportasi dengan moda transportasi lain di luar MRT Jakarta dan Bluebird.
Sementara Direktur Utama PT Blue Bird Tbk, Noni Sri Ayati Purnomo mengatakan, “Kami sangat antusias dalam menjajaki kerjasama dengan pihak MRT Jakarta. Kami yakin dengan kompetensi yang dimiliki oleh kedua belah pihak sebagai penyedia transportasi yang aman, nyaman dan efisien, kerjasama ini akan melengkapi konektivitas dan akses dari layanan jasa masing-masing sebagai transportasi yang saling terintegrasi.”
Dalam catatan tertulis yang diterima KabarPenumpang.com, disebutkan ruang lingkup kerja sama antara MRT Jakarta dan BlueBird mencakup: 1. Melakukan studi skema pick up dan drop off taksi bagi pelanggan MRT Jakarta untuk mengurangi kemacetan dan memberikan solusi untuk optimalisasi antara kebutuhan penumpang dan ketersediaan taksi Bluebird; 2. Melakukan studi skema kerjasama konektivitas last mile & first mile bagi pelanggan MRT Jakarta dan Bluebird, termasuk tempat tunggu bagi Pelanggan Bluebird sebagai tempat drop off dan pick up Taksi dari dan/atau ke stasiun MRT Jakarta; 3. Melakukan studi skema layanan transportasi terintegrasi (Multi Moda) dengan pihak lain secara menyeluruh sebagai salah satu bagian dari ekosistem transportasi di Indonesia; Baca juga: Garap TOD di Stasiun Layang, MRT Jakarta Siap Bangun Transit Plaza di Lebak Bulus 4. Melakukan studi skema penjualan tiket MRT Jakarta melalui program-program seperti aplikasi dan kanal lain yang dimiliki MRT Jakarta dan Bluebird.
Tak Lagi Gunakan Kartu Multi Trip, Penumpang KRL Bisa Reedem dan Dapatkan Uang Sisa Saldo
Penumpang kereta CommuterLine (KRL) yang menggunakan kartu multi trip (KMT) bisa mencairkan saldo yang mereka miliki hingga kartu menjadi Rp0. Ini bisa dilakukan karena PT Kereta Commuter Indonesia atau KCI memberlakukan mekanisme reedem.
Baca juga: Mudahkan Pelancong, Japan Railway Rilis Kartu Multi Trip dengan Paket Hemat
Mekanisme ini merupakan pengakhiran penggunaan uang elektronik yang mana sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia No.20/6/PBI/2019 tentang uang elektronik. Nantinya pengguna KMT yang sudah menukarkan kartu mereka dengan memanfaatkan mekanisme reedem ini tidak akan bisa menggunakannya lagi untuk seterusnya.
Dikutip KabarPenumpang.com dari keterangan tertulis di krl.co.id, pemilik KMT yang menyatakan hendak melakukan reedem perlu memahami dimana KMT mereka akan dikembalikan ke PT KCI. bagi pengguna KMT yang akan melakukan reedem hanya perlu datang ke Stasiun KRL di seluruh relasi.
Kemudian, pemilik KMT akan diminta mengisi formulir pernyataan melakukan reedem. Setelah formulir dikembalikan ke petugas, nantinya akan divalidasi jumlah saldo terakhir yang akan ditarik secara keseluruhan.
Setelah itu KMT akan dikembalikan ke PT KCI dan pemilik KMT akan menerima salinan formulir pengambalian sisa saldo dalam KMT. Pengambilan sisa saldonya sendiri bisa diambil paling lambat 14 hari kerja setelah pengajuan reedem.
Untuk diketahui, KMT sendiri tidak mengenal saldo minimum maupun masa berlaku. KMT dapat digunakan hingga saldo menjadi Rp0 saat tap out di stasiun. KMT juga dapat digunakan selama masih berfungsi dan terbaca dengan baik oleh perangkat tiket elektronik di stasiun.
Sehingga PT KCI menghimbau pemilik KMT untuk menyimpan kartu miliknya dengan baik agar senantiasa dapat digunakan saat hendak naik KRL. Ketentuan ini hanya berlaku untuk pengakhiran penggunaan KMT. Untuk transaksi lainnya (pembelian, top up, dan tap in/out) KMT dapat digunakan seperti biasa.
Sementara untuk Tiket Harian Berjaminan (THB) juga sama sekali tidak ada perubahan ketentuan. Namun, nantinya jika pengguna ingin memiliki KMT lagi bisa membelinya di stasiun dan tidak ada masalah apapun.
Baca juga: Naik Kelas, Kartu Multi Trip Siap Berevolusi Jadi E-Money
“Pengguna bisa membeli KMT kapan pun meski sudah pernah mengembalikannya. Ini tidak ada masalah kalau mau membeli lagi,” ujar VP Corcomm PT KCI Anne Purba yang dihubungi KabarPenumpang.com, Rabu (3/7/2019).
Pasca Dua Kecelakaan 737 MAX 8, Pihak Boeing Belum ‘Santuni’ Keluarga Korban!
Awan kelabu masih menyelubungi keluarga korban tewas kecelakaan dua Boeing 737 MAX 8 dari Lon Air dan Ethiopian Airlines. Dua kecelakaan yang terjadi hanya berselang sekira lima bulan ini ternyata masih meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga korban yang ditinggalkan, baik dari penumpang maupun awak pesawat. Setelah beberapa bulan ke belakang nama Boeing dicecar oleh berbagai pihak – yang menjadi buntut dari dua kecelakaan maut ini, namun siapa sangka bahwa pihak produsen pesawat ini ternyata belum ‘menyantuni’ keluarga korban?
Baca Juga: Akhirnya! Boeing Akui Adanya Kesalahan Sistem pada Boeing 737 MAX 8
Ya, pengakuan mengejutkan ini dilontarkan langsung oleh keluarga yang mengatakan bahwa pihak Boeing belum menghubunginya secara langsung, padahal keluarga mereka menjadi korban meninggal dari kecelakaan yang diakibatkan oleh error pada sistem navigasi ini. Sebagaimana yang dilansir dari laman businessinsider.sg (2/7/2019), adalah Nadia Milleron dan Michael Stumo kehilangan anak perempuan mereka yang masih berusia 24 tahun yang bernama Samya Stumo ketika Boeing 737 MAX 8 yang dioperatori oleh Ethiopian Airlines jatuh di Addis Ababa pada bulan Maret 2019 silam.
Nadia dan Michael mengaku bahwa mereka belum mendapatkan ‘santunan’ berupa ungkapan bela sungkawa dari pihak produsen pesawat.
“Boeing berbicara banyak kepada sejumlah pihak, namun tidak kepada kami selaku keluarga korban,” ungkapnya.
Ternyata kejadian serupa tidak hanya dialami oleh keluarga Nadia dan Michael, melainkan sejumlah kuasa hukum dari keluarga korban yang berusaha untuk mencari keadilan dari insiden fatal ini pun menuturkan pengakuan yang sama – tidak ada ucapan bela sungkawa dari Boeing.
Salah satu pengacara asal Miami yang mewakili keluarga korban, Steve Marks mengatakan respon dari pihak Boeing kepada keluarga korban terkait kecelakaan ini sangatlah ‘tidak biasa’. Steve bahkan merinci bahwa respon dari pihak Boeing sangatlah buruk dari bayangan respon yang diharapkan oleh pihak keluarga.
“Tak berselang lama setelah kecelakaan kedua (Ethiopian Airlines), perwakilan dari pihak Boeing mengatakan: kami akan menyelesaikan semuanya, ini permasalahan kami,” papar Steve.
Namun di lain pihak, melalui CEO Dennis Muilenburg mengaku bahwa pihak Boeing telah melontarkan berkali permintaan maaf dan perasaan menyesal terkait dua kecelakaan maut tersebut. Pihak Boeing mengatakan video permintaan maaf pertama Boeing diunggah pada bulan April atau sekira tiga minggu setelah kecelakaan kedua (Ethiopian Airlines).
Baca Juga: Pasca Insiden Boeing 737 MAX 8, Akankah Pilot ‘Kembali’ Menyandarkan Kepercayaan Pada Pesawat Tersebut?
Dalam video tersebut, Dennis mengatakan, “Kami turut berduka cita atas nyawa korban yang melayang akibat kecelakaan ini. Tragedi nahas ini terus membebani hati dan pikiran kami di Boeing,”
Namun nampaknya bukan permintaan maaf seperti itulah yang diharapkan oleh keluarga korban, melainkan permintaan maaf secara langsung dan personal kepada pihak keluarga korban.
“Permintaan maaf yang sebenarnya adalah ketika Anda duduk berseberangan dengan keluarga korban dan bertukar sentimen – setidaknya seperti itulah prosedur yang kami inginkan,” ujar Nadia dan Michael Stumo.
[Video] Nekat atau Bodoh, Pria Ini Merokok Santai di Dalam Kabin
Kabin pesawat salah satu tempat dilarang merokok apalagi ketika tengah mengudara. Namun baru-baru ini seorang penumpang yang entah bodoh atau tak paham tentang larangan itu merokok di kabin pesawat yang tengah terbang.
Baca juga: Ngotot Merokok di Dalam Kabin, Penumpang Alaska Airlines Dibekuk Petugas Keamanan
Hal ini membuat penumpang yang ada di sekitarnya kaget karena pria tersebut menyulut rokoknya saat tengah penerbangan. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman thesun.co.uk (24/7/2019), penumpang tersebut diketahui tengah melakukan perjalanan menuju ke Minnesota dengan maskapai Spirit Airlines.
https://youtu.be/osSU2wbN9RY
Perilakunya ini kemudian membuat seorang penumpang wanita yang duduk disebelahnya merekam pria tersebut melalui kamera ponsel. Dalam video pria tersebut menyalakan rokoknya saat duduk di kursi.
Dia kemudian tertidur dan pria yang duduk diseberangnya terkejut saat melihatnya. Karena sadar itu salah, penumpang yang melihat itu kemudian memencet tombol bantuan dan mengatakan pada awak kabin pria di sebelahnya tengah menghisap rokok.
Awak kabin itu membangunkan penumpang tersebut dan menepuk dada pria itu pelan agar tersadar. Kemudian mengatakan tidak boleh merokok di dalam pesawat karena melanggar hukum.
“Oh my God,” ujar penumpang yang merokok tersebut sebelum awak kabin mengambil rokoknya.
Kemudian pria itu harus menunjukkan boarding pass dan dilakukan dengan cepat dari dalam dompetnya.
“Selama penerbangan, saya bisa mendengarnya mengeluarkan suara keras. Aku melihatnya mengeluarkan rokok dan korek dari sakunya. Saya mengeluarkan ponsel saya dan mulai merekam ketika dia menyalakan rokok. “Pria di seberang kami menjadi gugup dan menurunkan petugas saat saya merekam. Petugas meletakkan rokok di atas nampan dan mengambil boarding pass-nya,” kata wanita yang merekam kejadian itu.
Setelah pesawat mendarat, pria tersebut diamankan pihak kepolisian. Untuk diketahui, merokok dilarang dalam sejumlah penerbangan sejak 1980an. Amerika Serikat sendiri melarang penumpang merokok di semua penerbangan tahun 2000. Selain rokok biasa, vaping atau rokok elektrik juga dilarang digunakan dalam penerbangan.
Baca juga: Tiga Kali Hisap Rokok di Toilet, Penumpang Batik Air Tujuan Padang Digelandang Keamanan Bandara
Bahkan tidak boleh disimpan dalam bagasi melainkan harus dibawa di kabin. Awal tahun ini, awak pesawat terpaksa memadamkan api di loker overhead yang berawal dari rokok elektronik. Atas insiden ini Spirit Airlines belum memberikan komentar.
Lokomotif Uap D1410, Kembali Beroperasi Jadi Kereta Wisata di Solo
Indonesia yang memiliki jalur kereta api di Pulau jawa dan Sumatera ternyata memiliki beragam jenis lokomotif. Lokomotif tersebut dari lokomotif bertenaga uap hingga ke diesel. Kali ini, KabarPenumpang.com akan membahas lokomotif uap yang akan dipindah ke Solo dan dioperasikan untuk menarik kereta wisata. Pemindahannya ke Solo sendiri atas pesanan langsung Presiden Joko Widodo.
Baca juga: Sepur Kluthuk Jaladara, Kereta Uap Kuno Yang Lintasi Jalur Kota Solo
Bertipe D1410, lokomotif ini sudah pensiun tidak beroperasi lagi sejak 1975 lalu. Bahkan dipurnatugaskan sebagai monumen bersejarah di Museum Transportasi Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Presiden meminta lokomotif ini dihidupkan kembali karena tak lepas dari tren wisata kereta uap yang menjadi positif sehingga perlu di tambah. Keberadaan kereta kuno itu diharapkan mampu meningkatkan minat wisatawan berkunjung ke kota tersebut. Selain itu, keberadaan sarana wisata kereta kuno diharapkan bisa menguatkan posisi Kota Solo sebagai kota heritage.
“Nantinya bakal ditaruh di Solo sebagai pendamping 1218, RI 1 minta tambahan 2 loko lagi yakni D1410 dan D52099 supaya dihidupkan kembali,” kata Koordinator Restorasi Lokomotif Uap Balai Yasa Yogyakarta, Sukaryanto yang dikutip dari tribunjogja.com (11/6/2019).
Lokomotif D52099 buatan Krupp Essen, Jerman, itu mulai digunakan pada 1952, sedangkan lokomotif D14 adalah lokomotif yang didatangkan oleh Staats Spoorwegen (SS) yang berasal dari dua pabrikan berbeda. Lokomotif D14 nomor 01-12 buatan Hanomag, Hannover, Jerman, sedangkan 13-24 buatan Werkspoor, Belanda.
Bahkan tahun pembuatannya nomor 1-12 dibuat 1921 dan 13-24 tahun 1922 silam. Sebenarnya desain lokomotif D14 cocok dioperasikan di lintas lokal dan jalur pegunungan. Dulu sempat mengular di jalur Bogor-Sukabumi-Cianjur hingga ke Bandung.
Untuk saat ini lokomotif besutan Jerman tersebut yang akan kembali digunakan sebagai penarik kereta wisata itu baru selesai pembenahannya 20-25 persen dan target selesai September mendatang, karena waktu penghidupannya hanya sampai 2019.
Meski optimis selesai sesuai target, Sukaryanto mengaku hal terberat dari proses restorasi adalah pengadaan suku cadang. Ini dikarenakan pabrik lokomotif yang dibuat tahun 1890-an di Jerman tersebut sudah tidak ada.
Baca juga: Sepur Trutuk, Sejarah Jalur Kediri-Jombang
Nantinya setelah selesai, lokomotif uap ini akan segera dikirim ke Solo dan menarik rangkaian gerbong aslinya yang berada di Stasiun Purwosari, Solo. Selain itu juga diperuntukkan bagi gerbong yang saat ini digunakan kereta wisata loko uap Jaladara.
“Nantinya bakal ditaruh di Solo sebagai pendamping 1218, RI 1 minta tambahan 2 loko lagi yakni D1410 dan D52099 supaya dihidupkan kembali,” kata Koordinator Restorasi Lokomotif Uap Balai Yasa Yogyakarta, Sukaryanto yang dikutip dari tribunjogja.com (11/6/2019).
Lokomotif D52099 buatan Krupp Essen, Jerman, itu mulai digunakan pada 1952, sedangkan lokomotif D14 adalah lokomotif yang didatangkan oleh Staats Spoorwegen (SS) yang berasal dari dua pabrikan berbeda. Lokomotif D14 nomor 01-12 buatan Hanomag, Hannover, Jerman, sedangkan 13-24 buatan Werkspoor, Belanda.
Bahkan tahun pembuatannya nomor 1-12 dibuat 1921 dan 13-24 tahun 1922 silam. Sebenarnya desain lokomotif D14 cocok dioperasikan di lintas lokal dan jalur pegunungan. Dulu sempat mengular di jalur Bogor-Sukabumi-Cianjur hingga ke Bandung.
Untuk saat ini lokomotif besutan Jerman tersebut yang akan kembali digunakan sebagai penarik kereta wisata itu baru selesai pembenahannya 20-25 persen dan target selesai September mendatang, karena waktu penghidupannya hanya sampai 2019.
Meski optimis selesai sesuai target, Sukaryanto mengaku hal terberat dari proses restorasi adalah pengadaan suku cadang. Ini dikarenakan pabrik lokomotif yang dibuat tahun 1890-an di Jerman tersebut sudah tidak ada.
Baca juga: Sepur Trutuk, Sejarah Jalur Kediri-Jombang
Nantinya setelah selesai, lokomotif uap ini akan segera dikirim ke Solo dan menarik rangkaian gerbong aslinya yang berada di Stasiun Purwosari, Solo. Selain itu juga diperuntukkan bagi gerbong yang saat ini digunakan kereta wisata loko uap Jaladara. 19 Tahun Beroperasi, Lion Air Telah Terbangkan 600 Juta Penumpang
Tak terasa, ternyata Lion Air telah beroperasi selama 19 tahun di Indonesia, dan dalam memperingati hari jadinya yang ke-19, Lion Air mengumumkan telah menerbangkan sekitar 600 juta penumpang sejak beroperasi 30 Juni 2000 sampai 30 Juni 2019. Napak tilas perjalanan Lion Air, maskapai dengan logo Singa terbang ini memulai terbang perdananya dari Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang (CGK) ke Bandar Udara Internasional Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat (PNK).
Baca juga: Airbus A330-900NEO Pesanan Perdana Lion Air Tuntaskan Test Flight
Hingga 19 tahun kemudian, jaringan Lion Air berkembang melayani 42 kota tujuan domestik serta 25 internasional meliputi Singapura, Malaysia, Tiongkok dan Saudi Arabia. Armada Lion Air terus tumbuh dengan pengoperasian jenis pesawat terbaru, Lion Air mengoperasikan berbagai tipe, terdiri dari 66 Boeing 737-900ER (215 kelas ekonomi), 38 Boeing 737-800NG (189 kelas ekonomi) dan tiga berbadan lebar (wide body) Airbus 330-300 (440 kelas ekonomi).
Corporate Communications Strategic of Lion Air, Danang Mandala Prihantoro dalan catatan tertulis menyebutkan rata-rata pesawat yang digunakan Lion Air berusia enam tahun dan dinilai sangat cocok memenuhi kebutuhan traveling dalam mengakomodir keinginan para travelers untuk mengunjungi berbagai destinasi popular Indonesia dan luar negeri. Seiring tren perkembangan perjalanan udara kekinian (millennials traveling) serta distribusi logistik.
Meski kerap didera kabar delay, Lion Air terus berupaya meningkatkan kinerja tingkat ketepatan waktu (on time performance/ OTP), seperti mencapai 85,80 persen pada semester 1 2019 (Januari – Juni) dari total 2.562 penerbangan atau rata-rata 427 per hari. Perolehan OTP ini meningkat dibandingkan periode sama pada 2018 yaitu 77,4 persen dan di 2017 tercatat 72,90 persen.
Persentase nilau OTP didapatkan dari penghitungan konkret sesuai laporan Integrated Operation Control Center (IOCC) Lion Air Group secara tepat waktu dan bersamaan (real time) menurut ketepatan pesawat saat keberangkatan (departure) dan kedatangan (arrival) berdasarkan waktu kurang dari 15 menit dari jadwal yang ditentukan.
Baca juga: Lion Air Bersiap Turunkan Harga Jual Tiket Penerbangan Domestik
Bicara tentang pengoperasiaon pesawat, Lion Air memiliki utilisasi 8-9 jam per hari, rata-rata enam pesawat menjalani perawatan (schedule maintenance) serta rata-rata lima pesawat sebagai cadangan (stand by).
Tarif Mahal, Bus Wisata HoHo di New Delhi Sepi Peminat
Bus Hop on Hop off (HoHo) di India sepi peminat dan jumlah armadanya berkurang dari 15 menjadi hanya lima saja. Pasalnya tiket bus ini termasuk mahal yakni 400 Rupee atau sekitar Rp106 ribu untuk satu hari tur mengelilingi Delhi. Tur dengan Bus HoHo sendiri hanya mengunjungi 21 lokasi di seluruh kota.
Baca juga: “Wonderful Indonesia” Kini Hadir di Jalanan Moskow
Bus HoHo sendiri dimulai oleh Perusahaan Pengembangan Pariwisata dan Transportasi Delhi (DTTDC). DTTDC juga menghadirkan tur setengah hari dengan setengah harga. Tarif HoHo dihitung terlalu mahal dikarenakan perusahaan tur swasta melakukan tur sehari penuh dengan bus Volvo ber-AC hanya sekitar 30 Rupee atau Rp61 ribu meski tidak memberikan penumpang fleksibilitas yang ditawarkan oleh HoHo.
Dirangkum KabarPenumpang.com dari laman thehindu.com (1/7/2019), armada bus HoHo sendiri dalam kondisi baik, hanya saja frekuensi keberangkatan dan kurangnya infrastruktur di titik penjemputan yang menjadi pengganggu layanan.
“Harga harus dikurangi secara signifikan jika ingin meningkatkan popularitas bus HoHo,” ujar Jagannath Sahni seorang pengguna bus HoHo.
Setiap pengguna bus HoHo bisa naik dari titik penjemputan setelah selang waktu 45 menit. Sayangnya setelah menerima waktu yang menjelaskan rute dan waktu masing-masing bus, seorang penumpang bernema Shruti Shreya mengaku tidak puas.
“Ini adalah layanan yang baik, tetapi waktu yang disediakan tidak memadai untuk melihat semua tempat. Empat puluh lima menit adalah waktu yang terlalu sedikit untuk menutupi beberapa tempat. Saya pikir interval antara dua bus harus dimodifikasi agar sesuai dengan lokasi yang berbeda,” ungkapnya.
Layanan HoHo juga mempekerjakan sejumlah pemandu wisata yang memberikan penjelasan mengenai tempat-tempat wisata sepanjang perjalanan. Namun, penjelasan tersebut tidak dapat menjangkau para penumpang karena hanya dalam dua bahasa yakni Inggris dan Hindi dan para pemandu wisata ini sering beralih di antara dua bahasa tergantung pada demografi penumpang.
Layanan HoHo telah gagal memikat wisatawan asing, bahkan sebagian besar penumpang adalah orang India. Bus berhenti di rambu jalan layanan HoHo yang ditunjuk, untuk mengantar dan mengumpulkan penumpang. Tapi, di sejumlah lokasi utama, termasuk Gerbang India, tidak ada papan nama yang tepat.
Baca juga: Dari London, Telah Meluncur Bus Tingkat Bertenaga Listrik Pertama di Dunia
Keluhan lain yang dibuat oleh penumpang terkait dengan notifikasi yang tidak memadai. “Kami ketinggalan bus terakhir kemarin. Mereka harus memberi tahu penumpang sebelum bus terakhir berangkat, ”kata Shreya, ketika dia turun di Pasar Sarojni Nagar.
