Mahathir Siap Jual Malaysia Airlines, Mungkinkah AirAsia Berminat Akuisisi?

Perdana Menteri Malaysia, Tun Dr. Mahathir Mohamad di sela acara KTT Asia Pasifik ke-33 pada Selasa (25/6) membuat pernyataan yang mengejutkan publik internasional, pasalnya Pemerintah Malaysia telah bersedia untuk menjual maskapai Malaysia Airlines (MAS) apabila ada yang ingin membeli maskapai nasional tersebut. Mahatir hanya mensyaratkan agar nantinya nama maskapai tidak diganti walaupun telah berpindah tangan. Baca juga: Ekspansi Bisnis Besar-Besaran, AirAsia Berencana untuk Ganti Slogan! Pernyataan Mahathir tentu mempunyai dasar, seperti kinerja keuangan MAS yang terus memburuk dalam beberapa tahun belakangan. Meski menawarkan MAS ke investor asing, Ia mengatakan Pemerintah Malaysia sangat berhati-hati dalam mengambil langkah untuk “membangkitkan kembali” Malaysia Airlines. “Kami telah melakukan sejumlah perubahan pada MAS, dan setiap kali kami membuat perubahan, selalu saja gagal, jadi kali ini kami harus sedikit lebih berhati-hati dalam mengambil langkah guna membangkitkan kembali MAS,” tambahnya. Tak berselang lama setelah pernyataan dari Mahathir Mohamad, penulis dan politisi senior Malaysia, Abdul Kadir Jasin mengutarakan gagasan bahwa AirAsia adalah pihak yang dinilai mampu menyelamatkan MAS. Seperti dikutip dari freemalaysiatoday.com (30/6), Jasin beranggapan maskapai raksasa berbiaya rendah asal Malaysia, AirAsia dipandang sebagai operator maskapai penerbangan yang sukses dengan kemampuan untuk menyelamatkan MAS dari “kematian.” Jasin menunjukkan bahwa AirAsia sudah memiliki satu elemen yang mirip dengan Malaysia Airlines, yaitu pada layanan penerbangan jarak jauh dengan AirAsia X. “Mereka (AirAsia X) sudah melayani penerbangan jarak jauh ke Jeddah dan banyak tempat lain seperti ke Jepang, Korea Selatan, Cina dan Australia, sehingga mereka punya pengalaman serupa dengan yang dijalani MAS saat ini,” ujar Kadir Jasin. Tentu akan berbeda dari aspek struktur harga, karena MAS aalah full servcice, sementara AirAsia adalah low cost carrrier. Tetapi apakah mereka dapat mengambil MAS dan mengubahnya menjadi AirAsia, atau menjadikan Malaysia Airlines tetap sebagai maskapai penerbangan tarif penuh, tentu semua berpulang kepada keputusan AirAsia. Bila kelak AirAsia jadi membeli MAS, maka beberapa pengamat mengkhawatirkan akan terjadi duopoli layanan penerbangan Malaysia, dimana kompetitor besar lainnya adalah Malindio Airwyas (Lion Air Group). Lantas bagaimana dengan tanggapan boss AirAsia atas ‘tawaran’ di atas? Sayangnya Chief Executive Officer (CEO) AirAsia Tony Fernandes sebelumnya sudah menyebutkan tidak punya rencana membeli MAS, Tony disebut-sebut lebih suka mengubah wajah AirAsia sebagai perusahaan yang unggul dalam bidang informasi dan teknologi. Seperti diketahui, AirAsia telah membangun situs web dan aplikasi travel dan lifestyle, layanan keuangan, dan operasi logistik. Tony Fernandes juga menyebut AirAsia telah didekati oleh sejumlah perusahaan asing yang tertarik untuk bermitra dengannya dan memanfaatkan database besar milik perusahaan yang mencapai 100 juta penumpang per tahun. Baca juga: Gunakan Satu Jenis Pesawat, Jadi Jurus AirAsia Tetap Efisien dengan Harga Tiket Terjangkau Pengamat penerbangan Malaysia, Shukor Yusof berpendapat, kemungkinan Fernandes tidak akan mengambil alih MAS saat ini. “Seperti yang dikatakan Tony Fernandes kepada pubkik, proyeknya sudah ‘penuh’ pada tahap ini, saya tidak melihat alasan bagi AirAsia untuk mengambil alih Malaysia Airlines,” kata Shukor. MAS telah mengakami kerugian lebih dari 2,4 miliar ringgit antara 2015 dan 2017, padahal MAS telah mendapat suntikan modal 6 miliar ringgit dari pemerintah pada tahun 2014.

Buka Rute Ke Frankfurt, Citilink Datangkan 2 Unit Airbus A330-900NEO di Oktober 2019

Semester kedua tahun 2019, Citilink telah menjalin kesepakatan dengan Garuda Indonesia Group untuk melanjutkan ekspansi bisnisnya di regional dan internasional. Hal ini terlihat dari Citilink yang akan menambah sejumlah rute internasionalnya. Baca juga: Airbus A330-900NEO Pesanan Perdana Lion Air Tuntaskan Test Flight Direktur Utama Citilink Indonesia, Juliandra Nurtjahjo mengaku, bahwa pihaknya tengah fokus merancang ekspansi bisnis lebih luas di regional dan internasional. Dia mengatakan beberapa minggu lalu pihaknya sudah menambah rute regional ke Pnom Pehn di Kamboja dan akan terus di develope. Dia mengatakan dua rute lainnya yakni Australia dan Vietnam tengah dalam proses perizinan. Namun dari kabar yang tersiar, Citilink akan membuat lompatan yang cukup jauh yakni melakukan penerbangan jarak jauh ke Eropa tepatnya ke Frankfurt di Jerman. “Kebetulan juga kolaborasi dengan Garuda Indonesia, Citilink Insya Allah di bulan Oktober dan Desember akan mendatangkan dua pesawat widebody. Jadi ini satu tipe terbaru dari Airbus yang memungkinkan pesawat tersebut bisa menempuh sampai 13 ribu km,” ujar Juliandra yang dikutip KabarPenumpang.com dari liputan6.com (30/6/2019). Pemilihan Frankfurt sendiri dikatakan Juliandra, karena hasil analisa pasar, kota ini adalah hub terbesar ketiga di Eropa setelah London dan Amsterdam. Selain itu, dari Frankfurt memungkinkan penumpang dari Indonesia dan regional (ASEAN) untuk melanjutkan connecting rute pesawat. Citilink sendiri akan memulai penerbangan jarak jauh perdananya pada Oktober dan Desember 2019. Nantinya pesawat yang akan digunakan adalah tipe baru Airbus A330-990 NEO. Citilink akan menjual kursi kelas ekonomi premium sebanyak 42 seat dan kelas ekonomi reguler 323 seat pada rute jarak jauh tersebut. “Doakan di Oktober dan Desember, sesuai rencana, pesawat tersebut bisa deliver ke Indonesia, dan kita akan lakukan penerbangan jarak jauh pertama ke Eropa,” ujarnya dia. Adanya ekspansi ini kemudian membuat pengamat penerbangan Alvin Lie mengakui keberanian langkah Citilink yang patut diapresiasi tersebut. Menurutnya maskapai nasional memang perlu banyak mengembangkan jangkauannya ke rute internasional yang strategis. Dia mengatakan, meski begitu harus ada pembedaan yang jelas Antara Garuda dan Citilink agar tidak terjadi kanibalisme pasar. Baca juga: Mulai 21 Juni, Citilink Resmi Buka Penerbangan Jakarta-Phnom Pehn “Citilink sebagai maskapai berbiaya rendah (low cost carrier/LCC) memang perlu menambah variasi pesawat yang dioperasikan guna menunjang upaya ekspansi. Contoh maskapai LCC yang mengoperasikan pesawat berlorong ganda (twin aisle) adalah Scoot, Jet Star, AirAsia X, hingga Virgin Australia,” tambahnya.

Setelah Ditangguhkan, Kereta dari Turki ke Iran Kembali Beroperasi

Turki dan Iran kini terhubung dengan layanan kereta api yang baru saja diluncurkan pada 25 Juni 2019, tepat setelah beberapa minggu pemerintah kedua negara menyelesaikan rencana tersebut. Kereta api ini akan beroperasi satu kali dalam seminggu dari Teheran ke Van (Turki) dan sebaliknya. Baca juga: AVE, 26 Tahun Beroperasi, Inilah Jaringan Kereta Cepat Terpanjang di Benua Biru Dilansir KabarPenumpang.com dari laman dailysabah.com (24/6/2019), kereta perdana tersebut berangkat dari Teheran menuju ke Van pada 24 Juni 2019 pukul 09.30 pagi. Kereta tersebut dijadwalkan tiba di Van Selasa pagi atau bisa diperkirakan waktu tempuhnya 21 jam. Kereta ini memiliki kapasitas 180 orang dan pada peluncuran perdana ada 79 penumpang yang menggunakanannya. Kereta dijadwalkan berangkat dari Van ke Teheran pukul 21.00 waktu setempat. Kereta dari Teheran menuju ke Van tersebut akan berhenti di tengah perjalanan yakni Tabriz yang merupakan ibukota Provinsi Azerbaijan Timur di iran barat laut. Kepala departemen pariwisata di Perusahaan Transportasi Raja Rail Iran, Mehrdad Nasseri mengatakan layanan duharapkan berlanjut dan penumpang pada keberangkatan pertama tersebut cukup baik dan bisa meningkat. “Kami ingin meningkatkan jumlah layanan (mingguan) dengan memberi tahu penumpang dan mengiklankan layanan. Kami percaya bahwa dengan meningkatnya jumlah layanan kereta, kerja sama antara Iran dan Turki juga akan berkembang. Agar layanan kereta ini dilanjutkan, ada permintaan yang tinggi dari para penumpang. Karena ada permintaan tinggi dari Teheran dan kota-kota terdekat, kami telah memperluas layanan Tabriz-Van ke Teheran-Van. Kami telah memenuhi keinginan penumpang mereka dan memastikan bahwa jumlah penumpang meningkat dengan cara ini,” kata Nasseri. Layanan kereta api antara Tabriz dan Van ditangguhkan pada tahun 2015 karena kekhawatiran keamanan atas bentrokan antara militer Turki dan pengungsi ilegal yang terdaftar sebagai organisasi teroris oleh Turki, Amerika Serikat dan Uni Eropa pada rute tersebut. Tapi jalur itu dipulihkan tahun lalu. Nasseri mengatakan bahwa jalur Teheran-Van yang dilanjutkan akan diikuti oleh yang lain dari Teheran ke Ankara segera. Terletak di dekat perbatasan Iran, Van adalah objek wisata karena keajaiban alam dan monumen bersejarahnya. Selama bertahun-tahun, itu telah menjadi tujuan utama bagi wisatawan Iran, terutama selama liburan nasional Iran. Baca juga: Elektrifikasi Jalur Kereta ke Iran, Mayoritas Pendanaan Dikucurkan Rusia Awal bulan ini, Wakil Menteri Jalan dan Pengembangan Kota Iran Saeed Rasouli mengatakan bahwa layanan kereta api adalah faktor kunci untuk mengembangkan pariwisata antara Iran dan Turki. Menteri Transportasi, Urusan Maritim, dan Komunikasi Ahmet Arslan juga mengatakan awal bulan ini bahwa jalur itu “Penting bagi negara kami dan kawasan kami,” menambahkan bahwa pengunjung Iran dapat melakukan perjalanan melintasi Turki dari Van.

Liburan ke London Saat Musim Panas? Jangan Lupa Naik Cool Cab

Cuaca ekstrem akibat pemanasan global terkadang tak terkendali dengan baik. Bila musim panas, suhu akan benar-benar panas, bahkan di beberapa negara Timur Tengah suhunya bisa mencapai 50 derajat dan bila musim dingin pun badai salju atau angin kencang suhunya bisa mencapai minus beberapa derajat. Baca juga: Di India, Suzuki Ertiga Hadir Dalam ‘Setelan’ Taksi Lho! Bila seperti ini terkadang seorang penumpang moda transportasi yang akan bepergian seperti bekerja atau hanya bertemu teman akan malas. Namun, di London kala gelombang panas menyerang ada taksi yang hadir untuk membuat nyaman penumpangnya selama perjalanan.
(newsguardian.co.uk)
Pasalnya taksi ini dilengkapi dengan pendingin dan fitur lainnya yang dirancang untuk menjaga penumpang tetap dingin dan nyaman ketika berada di dalam mobil. Ya, London Black Cab atau bisa juga disebut dengan Cool Cab yang dirancang menjadi taksi musim panas terbaik bagi penumpang yang kepanasan. Apalagi suhu di London naik menjadi 25 derajat dan akhir pekan bisa menjadi 33 derajat. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman newsguardian.co.uk (1/7/2019), di dalam taksi ini ada interior es, dimana penumpang yang masuk seperti berada di dalam freezer dengan sistem pendingin udara yang canggih. “Minggu ini telah menjadi sangat panas di Inggris, dan orang-orang Inggris merasakan panas. Bagi penumpang tidak ada yang lebih buruk di hari yang panas selain naik taksi yang pengap, jadi kami ingin membantu memerangi pengalaman ini dengan Cool Cab kami sendiri. Para komuter London terlalu akrab dengan pengalaman bawah tanah di musim panas, dengan panas yang meroket dan gerbong yang penuh sesak. ‘Cool Cab’ adalah obat untuk ini,” ujar seorang juru bicara Andrews Air Conditionin. Karena hari yang panas, penumpang taksi di London melambaikan tangan dari jauh hanya untuk naik dan disambut kendaraan unik tersebut. One fare Steve O’Dare from Lincolnshire mengatakan, ini adalah perjalanan yang paling mudah yang pernah dinaikinya. “Sangat menyenangkan, dan ketika Anda masuk ke dunia yang berbeda, dan saya pikir itu konsep yang hebat. Saya pikir, berikan beberapa minggu lagi, dan kita akan mengalami musim panas yang luar biasa. Panas akan menggulung masuk,” tambah Steve. Dia mengatakan ini adalah perjalanan paling keren, dimana London Black Cab memang sengaja di rancang untuk taksi musim panas terbaik bagi penumpang yang kepanasan karena cuaca ekstrem. Elizabeth Ann Iliffe seorang pelancong mengatakan, taksi ini luar biasa dan seperti adegan di film Frozen. “Sangat menyenangkan untuk masuk hanya beberapa menit untuk beristirahat dari panas dan dingin,”ujarnya. Sopir Cool Cab Tony, yang telah mengemudikan taksi selama 11 tahun, mengatakan, “Saya telah melakukan 10 musim panas London di dalam taksi dan saya tahu sekarang Anda memerlukan pendingin udara yang layak. Tidak mungkin bekerja tanpa itu. Anda harus tetap dingin dan tetap terhidrasi, dan kadang-kadang di dalam kabin biasa ini sulit untuk tetap di atas. Mengemudi taksi bisa terasa seperti daya tahan, jadi Anda harus menjaga diri sendiri ketika cuaca menjadi lebih ekstrem”. Tony juga tidak asing dengan kursi belakang yang keren. Bahkan dirinya mengaku penumpang paling keren yang pernah diantarnya adalah aktor, Michael Cain. ‘Cool Cab’ saat ini berjalan untuk waktu yang terbatas, tetapi telah terbukti populer di kalangan penumpang dan dapat dipertimbangkan untuk operasi penuh waktu sepanjang bulan-bulan musim panas di masa mendatang. Baca juga: Gunakan Teknologi Pengenal Wajah, Taksi Jepang Hadirkan Iklan Sesuai Jenis Kelamin dan Usia Penumpang Seorang juru bicara untuk Andrews Air Conditioning menambahkan, “Tanggapan kami terhadap ‘Cool Cab’ sangat bagus, dan kami senang konsepnya telah diterima dengan hangat. Orang-orang Inggris terkenal sulit untuk menyenangkan dalam hal cuaca biasanya terlalu panas, terlalu dingin, atau terlalu basah jadi kami senang mengisi ceruk untuk para penumpang yang lebih memilih untuk tetap di sisi yang lebih dingin dalam perjalanan mereka.”

Per Agustus 2019, Bea Cukai Arab Saudi Sita Produk Tembakau yang Tidak Memiliki Stempel Pajak

Pihak Bea Cukai Arab Saudi telah mengumumkan larangan impor rokok yang tidak memiliki stempel pajak pada setiap bungkusnya. Hal ini sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Otoritas Umum Zakat dan Pajak (General Authority of Zakat and Tax/GAZT) dan rencananya regulasi ini mulai efektif tertanggal 23 Agustus 2019 mendatang. Guna mensosialisasikan regulasi baru ini, Departemen Perpajakan Arab Saudi menghimbau kepada calon pendatang untuk menggali informasi lebih lanjut dan mendapatkan stempel pajak ini melalui daring. Baca Juga: Inilah Sejumlah Fakta Unik dari Flag Carrier Arab Saudi, Saudi Arabian Airlines! Pihak GAZT sendiri sebenarnya telah menerapkan regulasi terhadap rokok yang diimpor ke Arab Saudi ini sejak tanggal 31 Mei 2019 kemarin, dimana hal ini memungkinkan para importir rokok untuk mengajukan stempel pajak sehingga dapat mereka aplikasikan langsung pada setiap bungkus rokok yang hendak mereka import dari luar Kerajaan Arab Saudi. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman saudigazette.com.sa (18/6/2019), pihak Bea Cukai Arab Saudi juga telah dengan cermat mengklarifikasi peraturan untuk memasukkan produk tembakau dari luar. Pada peraturan baru tersebut, penumpang dewasa yang masuk ke teritori Arab Saudi hanya diijinkan membawa maksimal 200 batang rokok, 500 gram tembakau, dan 24 cerutu. Di bawah peraturan baru tersebut, apabila pelancong kedapatan membawa jumlah rokok, tembakau, atau cerutu melebihi dari batas yang sudah ditetapkan, maka petugas bea cukai akan melakukan penyitaan terhadap selisih yang dibawanya dan mereka baru boleh melakukan impor kembali pada 15 hari setelahnya. Pada bulan Agustus 2019 pula, pihak bea cukai akan menyita semua rokok yang tidak memiliki stempel pajak yang aktif pada setiap bungkusnya. Lalu pada bulan November 2019 mendatang, pihak Kerajaan juga akan menerapkan larangan penjualan rokok-rokok yang tidak memiliki stempel pajak aktif. Baca Juga: Riyadh Metro, Inilah Serba-Serbi LRT Pertama di Arab Saudi Sebagaimana yang sudah diketahui sebelumnya, pihak Arab Saudi telah terlebih dahulu memberikan pajak 100 persen terhadap jenis rokok elektronik dan produk lain yang terkandung di dalamnya, dan pajak senilai 50 persen terhadap setiap minuman yang mengandung gula. Arab Saudi sebagai negara dengan perputaran ekonomi terbesar di antara negara-negara Arab lainnya sudah mengimplementasikan pajak 100 persen untuk rokok dan produk tembakau lainnya, pajak 100 persen untuk minuman energi dan pajak 50 persen untuk minuman bersoda.    

Tunjukkan Hasil Screen Capture e-Ticket, Penumpang Kereta di Inggris Justru Kena Perkara!

Tentu Anda semua masih ingat dengan upaya yang dilakukan oleh Qantas dan Singapore Airlines dalam mewujudkan penerbangan yang lebih ramah lingkungan – salah satunya adalah mengurangi penggunaan boarding pass cetak. Nah, ternyata tidak hanya di moda udara saja yang telah menerapkan regulasi semaca itu, pun dengan kereta api yang sudah mulai bergerak menggunakan tiket elektronik (e-ticket). Ketika ada banyak keuntungan yang dapat dioptimalkan dari penggunaan e-ticket ini, apa jadinya jika dalam penerapan penggunaan tiket berbasis smartphone ini, malah penumpanglah yang pada akhirnya menjadi pihak yang dirugikan? Baca Juga: E-Ticket, Antara Mempermudah Atau Memperkeruh Ya, sebagaimana yang sudah kita ketahui dan aplikasikan bersama, e-ticket yang sudah Anda beli akan dikirim oleh pihak terkait melalui e-mail atau aplikasi. Terlepas dari bentuknya yang masih berupa e-mail dari pihak terkait atau sudah dalam bentuk gambar hasil screen capture, biasanya hal ini tidaklah menjadi masalah. Namun pada kenyataannya, seorang penumpang kereta di Inggris yang bernama Par Hendricks mengklaim bahwa ia diancam akan dituntut ke pengadilan karena dirinya menunjukkan barcode yang ada di e-ticket dalam bentuk screen capture untuk naik ke dalam layanan kereta yang sudah ia pesan sebelumnya. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman theguardian.com (29/6/2019), kejadian yang dialami Pat ini sendiri terjadi pada bulan April 2019 silam, dimana ia hendak bertolak menuju Manchester dari Bristol Temple Meads Station, Bristol. Di awal kedatangannya, petugas stasiun masih mengijinkan Pat untuk masuk ke area peron. Namun Pat menemukan bahwa kereta yang sudah dipesannya itu telah dibatalkan oleh pihak operator karena satu dan lain hal. Singkat cerita, Pat lalu mengurus ulang jadwal perjalanannya tersebut dan di saat itulah pihak stasiun menganggap bahwa e-ticket milik Pat tidak sah. “Saya sampai harus menunjukkan email pemesanan tiket, namun karena satu dan lain hal, saya tidak bisa menemukan tiket tersebut,” tutur Pat. Selain itu, Pat jgua mengkau bahwa dirinya diperlakukan bak seorang penjahat, alih-alih sebagai seorang penumpang. Mengingat bahwa perjalanan menuju Manchester tersebut terbilang cukup penting bagi Pat, akhirnya ia terpaksa membeli kembali tiket perjalanan tersebut seharga £161,3 atau yang setara dengan Rp2,9 juta. Menanggapi kejadian ini, Anthony Smith yang bekerja untuk Transport Focus – lembaga yang melakukan pengawasan terhadap transportasi publik di Inggris mengatakan bahwa kasus ini benar-benar memalukan, “terlebih ketika penumpang diperlakukan layaknya seorang penjahat,” Baca Juga: Seabreg Tantangan Implementasi E-Ticketing Pada Transportasi Massal Sebenarnya, penggunaan e-ticket semacam ini dapat digunakan oleh penumpang, apapun caranya – mulai dari menunjukkannya dalam bentuk e-ticket yang baru dikirim oleh pihak terkait, hingga dalam bentuk screen capture. Pihak CrossCountry selaku perusahaan kereta api mengatakan akan memberikan pelatihan lebih mendalam kepada petugas di lapangan untuk mengatasi masalah seperti ini agar tidak kembali terulang di masa yang akan datang. Pihak operator juga mengatakan bahwa mereka sudah mengembalikan uang sejumlah Rp2,9 juta yang dikeluarkan Pat untuk membeli tiket barunya tersebut.

Tidak Bawa Air Bersih, Cathay Pacific CX253 Terpaksa Return to Base!

Melakukan perjalanan udara dengan waktu yang sangat panjang memang membutuhkan persiapan yang sangat matang. Tidak hanya dari kesiapan fisik saja, pun dengan kesiapan perbekalan yang hendak dibawa – pastikan semuanya tidak ada yang tertinggal, jika tidak, nasibnya akan seperti maskapai Cathay Pacific yang satu ini. Diwartakan, maskapai asal Hong Kong ini tidak membawa pasokan air pada perjalanannya menuju London, sampai-sampai maskapai ini harus return to base hanya demi mengambil lagi pasokan airnya. Baca Juga: Layanan First Class Cathay Pacific Hilang dari Peredaran, Siapa yang Diuntungkan? Sebagaimana yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman news.yahoo.com (24/6/2019), kejadian ini sendiri terjadi pada Senin (24/6/2019) ketika Cathay Pacific dengan nomor penerbangan CX253 yang hendak bertolak dari Hong Kong International Airport menuju London Heathrow. Maskapai ini sendiri dijadwalkan take-off pada pukul 14.40 waktu setempat, dan sampai saat itu, semuanya masih berjalan dengan normal. Namun ketika pesawat sudah berada di jalur penerbangannya, pihak maskapai baru menyadari bahwa penerbangan tersebut tidak memenuhi standar karena tidak membawa pasokan air minum. Sekira empat jam setelah pesawat tinggal landas, penerbangan yang menggunakan pesawat Boeing 777-300ER tersebut kembali ke Hong Kong International Airport dan mendarat dengan selamat sekira pukul 19.12 waktu setempat. “Cathay Pacific CX253 terpaksa kembali ke Hong Kong sebagai langkah pencegahan operasi yang tidak sesuai standar,” ujar salah satu juru bicara dari pihak maskapai. Menurut situs pelacakan pesawat, FlightAware, CX253 yang mengangkut 398 penumpang tersebut berputar balik di dekat Zhengzhou, provinsi Henan. Seketika menerima kabar bahwa CX253 harus kembali ke Hong Kong International Airport, pihak maskapai langsung mengatur pesawat lain yang sedang tidak bertugas untuk bisa mengangkut semua penumpang yang ada di dalam CX253 agar mereka bisa kembali melanjutkan perjalanannya menuju London selepas tengah malam. Baca Juga: Dianggap Pilot “Terlalu Besar,” Embraer 175 United Airlines “Return To Base” di Tengah Perjalanan Menuju Chattanooga Seorang teknisi pesawat mengatakan bahwa masalah ini mungkin saja diakibatkan oleh sistem pada pompa air yang ada di tangki sehingga air di dalam penerbangan tersebut tidak terisi, “atau kemungkinan lain adalah petugas lupa mengisi tangki air sebelum pesawat tinggal landas,” “Air steril tersebut biasanya digunakan untuk membuat kopi atau minuman lain. Kejadian ini sangatlah jarang terjadi,” ujarnya yang ingin tetap anonim. Menanggapi kejadian ini, pihak Cathay Pacific meminta maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi. “Kami meminta maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi,” ujar pihak Cathay Pacific.  

Singapore Airlines Teken MoU dengan Malaysia Airlines, Warganet Mencak-Mencak di Media Sosial

Kerja sama dengan tajuk codeshare sudah lumrah dalam dunia maskapai penerbangan. Namun ada yang unik dari kerja sama codeshare antara Singapore Airlines dan Malaysia Airlines yang Memorandum of Understanding (MoU)-nya baru saja ditandatangani paa 27 Juni lalu. Alih-alih mendapat respon positif, kerja sama antara dua flag carrier ini justru mendapat kecaman dan rasa pesismisme dari warganet Singapura. Baca juga: Ikuti Jejak Air France-KLM, Muncul Gagasan Merger Singapore dan Malaysia Airlines Para netizen yang menyuarakan kekecewaan mereka atas kerja sama ini di media sosial beranggapan bahwa tiket Singapore Airlines yang mereka beli akan berakhir pada layanan yang dioperatori oleh Malaysia Airlines – dan mereka enggan hal ini terjadi. “Tidak! Penerbangan codeshare mengisyaratkan bahwa saya akan terbang dengan menggunakan Malaysia Airlines padahal yang saya beli adalah tiket Singapore Airlines,” ujar Jeannie Leow pada sebuah postingan media sosial Facebook. “Lain kali, diharapkan Anda harus berhati-hati jika hendak membeli tiket pesawat. Mana tahu tiket Singapore Airlines yang Anda beli, penerbangannya akan dioperasikan oleh Malaysia Airlines,” ujar Max Wong di Facebook. Bahkan, kritik pedas mengenai kerja sama ini juga diungkapkan oleh salah seorang pengguna Facebook yang bernama Noordin Mohd. Ia mengatakan bahwa kerja sama yang terjalin diantara dua perusahaan akan menurunkan reputasi dari Singapore Airlines yang lebih punya pamor ketimbang rekan kontraknya. “Kerja sama ini dapat menurunkan standar dan reputasi dari Singapore Airlines. Saya yakin bahwa penumpang enggan mengudara dengan menggunakan Malaysia Airlines, kendati itu berada di bawah kerja sama penerabangan codeshare,” ujar Noordin. Meski menuai kecaman, toh MoU telah ditandatangani, dimana kerja sama kedua belah pihak juga dapat mencakup sektor kargo serta layanan pemeliharaan dan perbaikan. Tidak hanya ‘bermain’ di level first class saja, tapi perjanjian yang sudah diteken ini juga akan berpengaruh terhadap anak perusahaan masing-masing (Scoot, SilkAir, FireFly, dan anak perusahaan dari Malaysia Airlines). Baca Juga: 9 Kali Sehari, Garuda Indonesia Lakukan Codeshare dengan Singapore Airlines “Singapore Airlines dan Malaysia Airlines beroperasi di wilayah dengan pasar perjalanan udara yang berkembang pesat, menghadirkan peluang pertumbuhan yang signifikan bagi kedua maskapai. Kedua maskapai memiliki jaringan operasi yang luas di Asia Tenggara, pun pada skala global yang lebih luas cakupannya,” ujar Chief Executive Officer dari Singapore Airlines, Goh Choon Phong, diwartakan KabarPenumpang.com dari laman singaporeair.com (27/6/2019).    

Dukung Startup Rakit eVTOL, Boeing Pacu Mobilitas di Masa Depan

Dengan dukungan dari salah satu pendiri Google, Larry Page, perusahaan baru yang berbasis di California, Kitty Hawk, mengaku telah mengantungi sejumlah nama penting yang mendukung upayanya untuk mengembangkan taksi terbang. Dan sekarang, Kitty Hawk juga telah mendapat dukungan dari perusahaan raksasa di sektor aviasi global, Boeing dalam hal pengembangan taksi terbang ini di masa yang akan datang. Baca Juga: Skai – Moda eVTOL Multifungsi yang Punya Cost per Ride Setara Uber Kitty Hawk pertama kali memamerkan pesawat Cora buatannya pada tahun lalu – moda electric Vertical Take-Off Landing (eVTOL) dua bangku yang menggunakan 12 bilah baling-baling horizontal pada bagian sayap dan satu baling-baling vertikal pada bagian ekor untuk menggerakkan moda ini ke depan dan ke belakang. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman theverge.com (26/6/2019), Cora bisa merengkuh kecepatan hingga 110mph atau yang setara dengan 180 km per jam dan menempuh jarak hingga 100 km dalam sekali isi ulang baterai. Dengan dukungan yang didapat dari Boeing, maka di masa yang akan datang, Kitty Hawk akan secara otomatis mendapatkan bantuan dalam bentuk apapun dari produsen instrumen kedirgantaraan asal Negeri Paman Sam ini. Dukungan ini juga seolah menegaskan konsep “mobilitas udara perkotaan yang aman” yang sama-sama diusung oleh kedua perusahaan – Boeing dan Kitty Hawk. Entah rencana apa yang ada di dalam eksekutif Boeing di balik dukungannya ini kepada Kitty Hawk, pasalnya, Boeing pun memiliki moda eVTOLnya sendiri. Akankah Boeing mengakuisisi Kitty Hawk? Atau mungkinkah Boeing hanya mengalihkan isu terkait kecelakaan varian 737 MAX? Hanya pihak Boeinglah yang mengetahui jawaban sesungguhnya. Menanggapi pertanyaan yang semakin meliar di publik ini, pihak Boeing menegaskan bahwa mereka hanya berupaya untuk menerapkan penerbangan yang ramah lingkungan di masa depan. Baca Juga: Aska – Moda ‘Dua Alam’ Karya Startup AS dan Israel Siap Terbang Perdana di 2020 “Bekerja dengan perusahaan seperti Kitty Hawk membawa kita lebih dekat ke tujuan kita yaitu memajukan masa depan mobilitas,” ujar Steve Nordlund, wakil presiden dan general manager dari Boeing NeXt. “Kami memiliki visi yang sama dengan Kitty Hawk tentang bagaimana orang, barang, dan ide akan diangkut di masa depan, serta ‘kesejahteraan’ ekosistem dan peraturan yang akan mendukung transportasi itu.” tutupnya singkat.    

Mulai Hari Ini, Penerbangan Domestik dari Bandara Husein Sastranegara Pindah ke Kertajati

Bandara Kertajati yang berada di Majalengka sempat sepi peminat lantaran jarak yang cukup jauh dari kota Bandung. Namun kemudian Bandara Kertajati akhirnya benar-benar siap melayani operasional penerbangan domestik. Baca juga: Bandara Kertajati Memulai Penerbangan Internasional dengan Keberangkatan Umroh Bahkan ditargetkan hari ini, 1 Juli 2019 ini, seluruh penerbangan domestik akan dialihkan dari Bandara Internasional Husein Sastranegara ke Bandara Internasional Kertajati. Saat ini sudah ada lima maskapai yang mendapat izin regulator dan siap mengoperasikan penerbangan mereka di Kertajati. VP of Corporate Communication AP II Yado Yarismano mengatakan, lima maskapai tersebut yakni Garuda Indonesia, Citilink, Lion Air, AiraAsia Indonesia dan Xpress Air. Dia mengatakan, ada 12 rute domestik yang dilayani dari Bandara Kertajadi ini antara lain Garuda Indonesia menerbangkan ke Denpasar; Citilink ada lima kota yakni Surabaya, Denpasar, Pekanbaru, Medan dan Palembang; AirAsia Indonesia ke Denpasar dan Surbaya; Lion Air ke Pekanbaru, Banjarmasin, Surabaya, Medan, Denpasar, Batam, Makassar, Balikpapan, Lombok dan Pontianak; sedangkan Xpress Air ke Padang dan Palembang. Pada 30 Juni 2019 kemarin, AirAsia Indonesia dan Garuda Indonesia dari Denpasar melayani penerbangan ke Bandara Kertajati. Setelah pemindahan ini bagaimana fasiltas yang diberikan oleh Bandara Kertajati? Executive General Manager Angkasa Pura II Cabang Bandara Internasional Kertajati Ibut Astono mengatakan, fasilitas pendukung sudah siap untuk melayani penerbangan. Ibut menjelaskan ada 26 unit meja check in untuk mempercepat proses keberangkatan dan mendukung kelancaran penerbangan. Selain itu enam self check in juga tersedia untuk mempersingkat waktu penumpang dalam memproses keberangkatan. “Kami akan memberikan insentif yang diberikan terdiri dari pembebasan biaya pendaratan (landing fee), biaya parkir pesawat (parking fee), bahkan pajak bandara (airport tax),” Direktur Operasi dan Pengembangan Bisnis BIJB Agus Sugeng Widodo yang dikutip KabarPenumpang.com dari cnnindonesia.com (26/6/2019). Adanya pemindahan ini mungkina akan membuat penumpang sedikit kebingungan dan sulit mendapatkan moda transportasi. Tetapi tenag saja, Perum Damri akan memberikan kursi gratis untuk layanan antar jemput dari Bandung ke Bandara Kertajati di Majalengka. Agus mengatakan, Damri akan memberikan kuota 23 ribu kursi gratis dengan rincian 11500 keberangkatan Bandung-Majalengka dan sebaliknya dengan jumlah yang sama. Dia menjelaskan, biasanya untuk sekali perjalanan dari Bandung menuju Majalengka, penumpang harus merogoh koceknya hingg Rp70 ribu. Biasa dikatakan dengan jumlah terbatas tersebut kuota tersebut hanya digunakan 10-15 hari tetapi jika ramai, periode kursi gratis bisa ditambah agar sesuai dengan ekspektasi. Agus menambahkan, selain Damri ada 12 operator layanan antar jemput (shuttle) dan perusahaan transportasi online yang menawarkan diskon. Saat ini 12 operator shuttle dari dan menuju Bandara Kertajati melayani rute Bandung, Cirebon, Tasikmalaya, Kuningan, Majalengka, Indramayu, Purwakarta, termasuk Sumedang. Nah, setelah semuanya, pertanyaan lainnya yang akan terjawab lebih dekat mana ke Jakarta atau ke Kertajati dari Bandung? Baca juga: Dari Jakarta Mau Bandara Kertajati? Selain via Tol Cipali Nantinya Tersedia Kereta Bandara Ternyata lebih dekat ke Bandara Kertajati kalau dari Bandung dengan jarak tempuh 175,3 km atau 2 jam 25 menit. Sedangkan ke Jakarta sekitar 204,8 km dengan waktu tempuh 3 jam 30 menit. Jadi orang Bandung lebih pilih naik pesawat dari Kertajati atau ke Jakarta setelah pemindahan ini?