Satu hal yang harus sudah dipersiapkan dan melewati perhitungan matang oleh manufaktur-manufaktur di seluruh dunia adalah perihal pembatalan pesanan – tidak terkecuali pabrikan pesawat seperti Boeing dan Airbus.
Baca Juga: Stop Produksi di Awal 2019, Kapan Airbus A380 Pensiun Sepenuhnya?
Sebagaimana yang sudah santer diberitakan sejak beberapa bulan ke belakang, dimana salah satu raksasa maskapai berbiaya rendah Indonesia, Lion Air secara terang-terangan akan membatalkan pesanan sejumlah armada Boeing – pasca ketegangan yang terjadi antara dua belah pihak. Pertanyaannya adalah, apakah pihak manufaktur mengalami kerugian yang cukup signifikan terhadap pembatalan pesanan ini?
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman seekingalpha.com, ternyata pembatalan pesanan dari pihak maskapai kepada pabrikan pesawat tidak mencerminkan berkurangnya daya tarik pesawat. Seperti yang sudah diberitakan sebelumnya, jika maskapai Emirates, Etihad, dan Qantas lebih memilih untuk membatalkan pesanan Airbus A380 karena dinilai kurang ekonomis dari segi pengoperasiannya – biaya pengoperasian tinggi, load factor tidak dapat mengimbangi, maka berbanding terbalik dengan British Airways yang malah ingin membeli Airbus A380 bekas dari maskapai lain.
Contoh di atas hanyalah gambaran sederhana terkait pembatalan pesanan pesawat tidak mencerminkan berkurangnya daya tarik pesawat.
Lalu bagaimana dengan pihak manufaktur? Apakah kerugian yang harus mereka tanggung akibat pembatalan pesanan ini berdampak signifikan terhadap kondisi kas perusahaan?
Sebuah data menyebutkan bahwa pada tahun 2018, manufaktur burung besi asal Amerika, Boeing menerima 1.090 pesanan pesawat. Di sisi lain, Dennis Muilenburg cs. menerima 197 pembatalan pesanan dari para konsumennya. Jika dihitung, maka tingkat pembatalan yang diterima Boeing berkisar di angka 18 persen – bukan angka yang sedikit. Angka tersebut mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan tahun 2017 silam, dimana perusahaan menerima total 1.053 pesanan pesawat dan pembatalan pesanan berada di angka 141 – persentase pembatalan berada di angka 13 pesen.
Baca Juga: Semakin Terpuruk, Airbus Terima Pembatalan Pesanan A380 dari Qantas Airways
Jika dihitung-hitung, sudah jelas perusahaan akan mengalami kerugian dengan adanya pembatalan semacam ini, namun ketika dibandingkan dengan jumlah pesanan yang masuk, bukan tidak menutup kemungkinan jika manufaktur pesawat akan mampu untuk tetap ‘balik modal’.
Sebagai catatan tambahan, tidak melulu pembatalan pesanan ini berhubungan dengan pihak maskapai yang mengurungkan apa yang sebelumnya sudahh mereka pesan, tapi bisa juga mencakup perpindahan tangan dari pihak maskapai dengan lessor (pihak yang biasa menyewakan pesawat).
Siapa dari Anda yang sering naik bus sekolah ketika mengenyam bangku pendidikan? Bertemu dengan teman-teman dari kelas lain dan saling bertukar cerita menjadi bagian seru yang tidak boleh terlewatkan, bukan? Nah, tapi hati-hati ketika Anda mengunjungi Kerala, India dimana di salah satu sekolahnya terdapat sebuah bus yang tidak pernah jalan sama sekali – bahkan sejak pertama kali kemunculannya. Duh, ini bus apa ya?
Baca Juga: Seni Graffiti di Inggris, Kebanggaan Kaum Bronx yang Sisakan Kesan Kotor dan Tidak Terjaga
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman cartoq.com (24/2/2019), bus yang terparkir rapi di depan Government Model Boys’ Higher Secondary School, Attingal, Kerala bukanlah selayaknya bus sekolah yang biasa ditemui di sekolah-sekolah pada umumnya – melainkan hanya sebuah mural yang diciptakan oleh seorang seniman. Lukisan yang sangat realistik tersebut kerap mengecoh setiap orang yang melihatnya. Sontak, foto-foto dari mural bus ini menjadi bahan pembicaraan hangat di berbagai platform media sosial, seperti Facebook dan Whatsapp.
Pada caption foto yang tersebar ini, tertulis, “jangan menganggap ini merupakan bus KSRTC yang menabrak sebuah pohon di sekolah,”
Sumber: dailyhunt.in
Ya, pada gambar-gambar yang tersebar di sosial media tersebut, memang tampak sebuah bus Scania berwarna hitam bertuliskan “GOVT. VEHICLE” – lengkap dengan gambaran penumpang beserta pengemudinya yang seolah terpantulkan oleh kaca depan bus. Pada gambar tersebut, terlihat seperti sebuah bus Scania yang terparkir di dekat beranda sekolah. Uniknya lagi, mural ini memiliki skala perbandingan 1:1.
Tidak ada yang mengetahui secara persis siapa seniman di balik mural realistis ini, namun beberapa ada yang meyakini bahwa Suresh Babu merupakan seniman yang ‘bertanggungjawab’ di balik pembuatan mural yang sempat viral di India ini.
Baca Juga: Lukisan Dinding Ramaikan 100 Stasiun di India
Jika diperhatikan hingga ke belakang, barulah Anda akan sadar bahwa ini hanyalah sebuah mural – bukan bus yang sebenarnya. Karena mural ini tidak memiliki ban dan bagian yang menonjol lainnya, seperti spion, gagang pintu, dan lain sebagainya.
Wah, kalau mural seperti ini ada di Indonesia, nampaknya akan menjadi sasaran jepret fotografer dan milenial jaman sekarang, ya!
Jika seorang penumpang dikeluarkan dari pesawat pasca ia berbuat ulah, maka itu suatu hal yang wajar. Namun apa jadinya jika ada seorang Ibu yang membawa serta buah hatinya yang masih balita dikeluarkan dari pesawat – padahal ia tidak berbuat ulah sebelumnya. Adapun maskapai yang mengeluarkan kedua penumpang ini adalah American Airlines. Sontak, kejadian pengusiran dari maskapai ini menjadi bahan pembicaraan hangat di Negeri Paman Sam.
Baca Juga: Karena Masalah Sepele, Tara Reid Dikeluarkan dari Penerbangan Delta Airlines
Kejadian ini berawal ketika seorang Ibu yang bernama Jordan Flake bersama buah hatinya yang baru berumur 12 bulan hendak pulang menuju South Carolina setelah mengunjungi suaminya yang merupakan seorang militer di Texas. Ketika naik ke dalam pesawat, Jordan Flake ditanyai perihal ruam di kulitnya dan buah hatinya. Ruam tersebut seperti radang yang disebabkan oleh kelainan kulit yang diidap oleh Jordan Flake dan bayinya.
Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman marketwatch.com (4/3/2019), Jordan Flake mengidap penyakit yang bernama Ichthyosis – sebuah kelainan genetik yang mempengaruhi kemampuan kulit untuk melepaskan sel-sel kulit mati, menyebabkan kulit menjadi kering, tebal, dan bersisik.
Penyakit ini sendiri bisa dibilang penyakit yang sangat langka, dan ketika sang pramugari tersebut menanyakan kepada Jordan Flake apakah ia membawa surat rujukan dari dokter yang mengijinkan ia untuk bepergian, namun Jordan Flake tidak dapat menunjukkan itu. Pihak maskapai mengatakan bahwa mereka tidak bisa mengembalikan barang bawaan mereka sebelum lepas landas.
Dari situ, Jordan Flake mendapatkan saran dari pramugari untuk membeli produk krim kulit dan pakaian baru karena ia beserta anaknya harus menginap di hotel selama satu malam sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan pada keesokan harinya. Dengan kata lain, pramugari yang identitasnya tidak dibongkar tersebut sudah mengusir Jordan Flake beserta anaknya dari penerbangan American Airlines.
“Saya tidak pernah merasa sesadar ini dan malu terhadap kondisi kulit yang harus saya turunkan kepada anak saya ini,” tulis Jordan Flake dalam blog LoveWhatMatters.com.
“Saya seharusnya tidak merasa malu pada kondisi turunan ini,” tandasnya.
Baca Juga: Melahirkan di Dalam Pesawat, Antara Jaminan Terbang Gratis dan Isu Kewarganegaraan
Menanggapi kejadian ini, pihak American Airlines meminta maaf atas ketidaknyamanan yang menimpa Jordan Flake dan menempatkan dirinya di First Class ketika perjalanan pulang menuju South Carolina.
“Kami meminta maaf atas ketidaknyamanan yang menimpa Jordan Flake pada penerbangannya Kamis (28/2/2019) lalu. Kami akan mengembalikan biaya perjalanan Jordan Flake secara penuh, dan kami berjanji untuk mengusut kasus ini sampai tuntas.” ujar salah seorang juru bicara dari American Airlines.
Sebenarnya, putusan petugas untuk mengeluarkan penumpang dari sebuah penerbangan ini merupakan hal yang sangat legal, karena pada dasarnya kru kabin harus menjaga kondisi penerbangan tersebut tetap kondusif dan tidak membahayakan penumpang lain.
Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta akan mulai diuji coba untuk publik pada 12 Maret 2019 mendatang. Uji coba ini disambut antusias oleh masyarakat saat registrasi online mulai dibuka kemarin, 5 Maret dan akan ditutup pada 23 Maret 2019. Staf PT MRT Jakarta bekerja sejak pukul 10.00 hingga 19.00 WIB untuk menyeleksi dan memilah ribuan para pemohon uji coba MRT, meski resgistrasi dapat dilakukan 24 jam lewat online di http://www.ayocobamrtj.com.
Baca juga: Siap Layani Penumpang, PT MRT Jakarta Kerahkan 3 Shift Karyawan di Setiap Stasiun
Dan sehari pasca regsitasi online dibuka, PT MRT Jakarta memberikan paparan tentang animo peserta. Dalam siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com (66/3/2019), disebutkan sudah 92.348 orang yang telah melakukan pendaftaran. Bisa dikatakan, antusias ini hampir menyentuh setengah dari kuota 285.600 orang, dengan pertingan ujo coba dilakukan pada 12 hingga 24 Maret 2019. Dalam websitenya, pendaftaran dibagi menjadi dua yakni untuk reguler dan penyandang disabilitas.
“Saat ini sudah ada 92.348 orang yang mendaftar dan ini dari total kuota publik yang kita buka dari 12-24 Maret. Ini artinya tinggal tersisa sebanyak 193.252 orang lagi,” kata Corporate Secretary Division Head MRT Jakarta, Muhamad Kamaluddin melalui keterangan tertulis yang diterima KabarPenumpang.com, Selasa (5/3/2019).
Dari data yang didapat melalui hasil pendaftaran online ini, Kamaludin mengatakan mayoritas memilih stasiun keberangkatan MRT dari Bundaran Hotel Indonesia (HI) sebanyak 25 ribu orang dan Stasiun Lebak Bulus sebanyak 19 ribu orang. Sedangkan untuk hari keberangkatan sendiri pilihan terbanyak di hari Sabtu 16 Maret 2019 yang mencapai 19 ribu orang dan Minggu 17 Maret 2019 dengan 22 ribu orang.
“Pemberlakukan kuota ini dengan mempertimbangkan kenyamanan, keamanan dan keselamatan masyarakat yang berpartisipasi dalam uji coba ini dan PT MRT Jakarta memiliki kewenangan dalam mengatur jumlah kuota berdasarkan perkembangan kondisi di lapangan,” ujar Kamaludin.
Dia berharap, melalui uji coba tersebut masyarakat bisa merasakan pengalaman awal sebelum MRT Jakarta beroperasi secara komersial dan dapat menjadi masukan bagi MRT Jakarta untuk meningkatkan kualitas layanan. Kehadiran MRT Jakarta sendiri nantinya tidak hanya akan meningkatkan mobilitas masyarakat, tetapi juga memberikan manfaat tambahan seperti perbaikan kualitas udara dan mendorong perubahan gaya hidup masyarakat ibukota dengan beralih dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum.
Untuk diketahui, pada uji coba untuk masyarakat ini, kereta MRT Jakarta yang akan dioperasikan ada tujuh dan satu cadangan. Uji coba akan berlangsung mulai pukul 08.00-16.00 dengan total perjalanan per harinya 98.
Penumpang yang akan naik per harinya akan berbeda-beda yakni pada 12 Maret sebanyak empat ribu orang, 13 Maret delapan ribu orang, 14 Maret 12 ribu orang, 15 Maret 16 ribu orang, 16 Maret 20 ribu orang dan 17 Maret 20 ribu orang. Untuk tanggal 18 hingga 24 Maret, MRT Jakarta menargetkan akan mengangkut penumpang sebangak 28.800 orang per harinya.
Baca juga: Jamin Kelancaran Saat Uji Coba Gratis, PT MRT Jakarta Berlakukan Kuota Penumpang Per Hari
Sehingga bila di total dari 12 hingga 24 Maret MRT Jakarta akan mengangkut 285.600 orang. Nantinya penumpang yang tiba di stasiun harus menunjukkan QR Code kepada petugas stasiun dan akan mendapat stiker yang disesuaikan dengan waktu kedatangan. Warna merah pukul 08.00-10.00, biru pukul 10.00-12.00, kuning pukul 12.00-14.00 dan hijau pukul 14.00-16.00.
Perkembangan zaman yang semakin menggiring setiap orang untuk jadi pribadi yang serba digital ternyata dapat dimanfaatkan oleh sejumlah sektor usaha guna meraup keuntungan lebih dalam lagi, seperti digitalisasi di pasar aviasi global ini tidak hanya menyasar zona pengoperasian saja, melainkan juga di sistem hiburan untuk penumpang (in-flight entertainment/IFE). Salah satu digitalisasi yang kini tengah ramai diperbincangkan adalah adopsi teknologi Virtual Reality (VR).
Baca Juga: Virtual dan Augmented Reality Ubah Pengalaman Penumpang di Udara
Perusahaan periset pasar yang bermarkas di San Antonio, Texas, Amerika Serikat, Frost & Sullivan menganalisis bahwa investasi di IFE akan meningkatkan dividen yang cukup signifikan bagi maskapai penumpang. Bagi mereka yang berada di luar industri, peningkatan sistem hiburan VR ke dalam penerbangan mungkin tampak seperti pengeluaran modal yang signifikan, tapi pada kenyataannya, itu jauh lebih murah ketimbang meningkatkan sistem IFE seatback yang ada.
Lalu, poin-poin apa saja yang dapat meningkatkan dividen maskapai pengguna IFE berbasis VR ini? Berikut KabarPenumpang.com himpun sejumlah keuntungan, sebagaimana yang dikutip dari laman techwireasia.com (27/2/2019).
Meningkatkan Kepuasan Pelanggan
Jika penumpang sudah puas dengan pelayanan prima dari sebuah maskapai, maka bukan tidak mungkin jika ia akan kembali menggunakan layanan tersebut bersama dengan kerabat terdekat dan keluarganya. Asa inilah yang tercipta jika sebuah maskapai menerapkan IFE berbasis VR, dimana seperti yang kita ketahui bersama, VR kini tengah naik daun dan digandrungi oleh berbagai kalangan.
Pendapatan Tambahan dari Penumpang “Baru”
Sebagaimana yang sudah disebutkan di atas, harapan yang tercipta ini akan terus diperjuangkan oleh pihak maskapai. Sudah bukan rahasia lagi jika pihak maskapai akan terus memperjuangkan margin keuntungan walaupun hanya setipis ‘kue wafer’. Dengan biasa pemasangan yang terbilang lebih hemat ketimbang IFE seatback biasa, maka sudah sewajarnya jika pihak maskapai akan terus memperjuangkan margin tersebut.
Baca Juga: Inilah Para Pengguna Augmented Reality di Industri DirgantaraPendapatan Tambahan dari Iklan
Jika ada sarana hiburan baru, maka sudah barang tentu ini akan menjadi celah baru bagi para pebisnis untuk memasangkan iklan produk mereka di sarana tersebut. Tinggal pihak maskapai menyeleksi saja, mana perusahaan yang berani mematok harga tinggi, mana yang tidak. Pendapatan tambahan lagi, bukan?
Terjadi 28 tahun silam tepatnya 21 Maret 1991, pesawat Singapore Airlines dengan nomor penerbangan SQ117 yang lepas landas dari Kuala Lumpur dibajak oleh empat orang pria asal Pakistan. Pesawat itu akhirnya mendarat darurat di Bandara Changi sekitar pukul 22.30 waktu setempat.
Baca juga: Pembajakan Pesawat Terlama, 39 Hari Kelam Penumpang El Al Flight 426
Empat pria pembajak menginginkan pesawat diisi bahan bakar dan terbang ke Sydney. Mereka juga membuat tuntutan untuk berbicara dengan Perdana Menteri Pakistan saat itu yakni Benazir Bhutto agar membebaskan sejumlah orang yang ditahan. KabarPenumpang.com merangkum dari laman channelnewsasia.com (3/3/2019), setelah negosiasi terjadi dini hari keesokan harinya, para pembajak mulai tak sabar dan mengancam akan membunuh sandera.
Kemudian pihak berwenang memberikan sinyal bagi pasukan elite Singapura (SOF/Special Operation Force) untuk menyerbu pesawat dan menyelamatkan sandera. Seorang anggota pasukan khusus Fred Cheong adalah bagian dari tim tersebut.
“Ketika saatnya tiba, bagi saya hanya ‘lakukan saja’. Tidak ada pikiran lain,” kata Cehong. Sebagai pasukan komando, Cheong beserta semua rekan timnya sudah mempelajari desain interior tata letak kursi di pesawat tersebut. Pada hari H, mereka mulai mendekati Airbus A310 dan melakukan operasi tersebut seperti pada latihan.
“Anda telah melatih pikiran untuk beroperasi di bawah tekanan. Sasaran harus terlihat jelas, menembak tepat pada sasaran, dan mari kita lakukan,” katanya. Pada pukul 06.50 pagi, pasukan komando menyerbu pesawat dan berteriak agar penumpang turun serta menembak para pembajak hingga tewas.
Aksi Cheong dan tim pada momen penyerbuan ikut mengangkat pamor angkata bersenjatab Singapura di mata dunia.
Di usia 18 tahun, Cheong masuk dinas militer Singapura pada tahun 1982. Dia berpikir masuk militer tidaklah salah setelah melihat teman-teman seperjuangannya melakukan hal yang sama.
Hingga akhirnya tahun 2013 lalu, Cheong mengakhiri tugas militernya dan pensiun kemudian ikut dalam pelajaran di Pusat Buddha Amitbha di Geylang karena dirinya seorang Buddhis. Dia terbiasa bangun pukul 04.00 pagi saat menjadi seorang anggota militer untuk berdoa sebelum berangkat bertugas.
Cheong kini memiliki nama baru Yang Mulia Tenzin Drachom yang diberikan Dalai Lama atas pengakuan karirnya di militer selama 32 tahun. Dia menjadi biksu pada 27 September setelah terbang ke Dharamsala, India untuk ditahbiskan.
“Itu menandai awal yang sangat baru bagi saya, awal kehidupan spiritual. Kerasnya biksu, ketika tujuannya adalah untuk menyingkirkan pikiranmu dari gangguan duniawi melalui doa dan meditasi yang terus-menerus,” ujar Cheong.
Menurutnya ada persamaan antara menjadi seorang biarawan dan berada di militer, yakni sama-sama membutuhkan kedisplinan. Salah satunya adalah kesadaran akan musuh dan situasi sedangkan yang lainnya adalah kesadaran akan emosi negatif yang menyebabkan kondisi pikiran yang tidak menyenangkan menjadi lazim bagi semua orang. “Di militer, saya menghancurkan musuh di luar. Sekarang saya menghancurkan musuh di dalam diri,” jelasnya.
“Ada sedikit transisi, maka Anda mengerti bahwa ini adalah kesempatan yang fantastis dan sangat langka untuk berlatih. Itu hanya transit dari prajurit militer ke prajurit spiritual,” ujar Cehong.
Baca juga: Saat Terjadi Pembajakan, Inilah Sinyal Rahasia Yang Dapat Dikirimkan Oleh Pilot
Sebagai seorang biksu, Drachom mengatakan dia merindukan beberapa bagian dari pekerjaan lamanya, terutama interaksi sehari-harinya, seperti berbicara dengan para kadet.
Meski begitu, dia tidak benar-benar menyesal. “Satu-satunya penyesalan saya adalah saya hanya memiliki satu kehidupan untuk melayani negara sayai.”
Salah satu peluncuran ‘burung besi’ yang paling dinanti-nantikan dalam sejarah penerbangan baru-baru ini akan terjadi pada 13 Maret 2019 mendatang ketika Boeing meluncurkan pesawat double-jet raksasa – 777X. Tanggal tersebut diketahui dari sebuah cuitan yang ditulis pihak Boeing dalam akun jejaring sosial Twitter miliknya. Sesuai jadwal 777X akan terbang perdana pada 2019, dan akan diserahkan ke kustomer mulai 2020.
Baca Juga: Kolaborasikan Tenaga Manusia dan Robot, Boeing 777X Siap Mengudara di 2020
Sebagaimana yang sudah diketahui bersama, Boeing 777X terbagi ke dalam dua varian; 777-8 dan 777-9. Di antara kedua varian ini, Boeing adapun varian 777-9 yang akan terlebih dahulu diluncurkan, menyusul 777-8. Memiliki kapasitas 400 bangku untuk Boeing 777-9 dan 350 bangku di Boeing 777-8, kedua varian ini mampu menembus jangkauan lebih dari 17.220 km. Tapi tahukah Anda siapa yang jadi ‘dalang’ di balik perakitan Boeing 777X ini?
KabarPenumpang.com mengutip dari laman airlineratings.com (5/3/2019), bukan pimpinan Boeing yang ternyata menjadi kekuatan pendorong di balik 777X ini, melainkan Presiden Emirates, Sir Tim Clark. Di sini, Emirates telah mencantumkan diri sebagai pembeli utama varian ini dengan total pesanan 150 unit. Mungkin hal ini juga yang melatarbelakangi pembatalan pesanan Emirates terhadap super-jumbo jet, Airbus A380.
“Ini (Boeing 777X) amat baik, dan itu sifatnya absolut,” ujar Sir Tim Clark.
Satu poin yang membuat Sir Tim Clark memuji Boeing 777X ini adalah karena nilai ekonomis dan ruang kabin yang lebih besar. Dikabarkan Boeing 777X lebih efisien 20 persen per-bangku ketimbang saudara tuanya, Boeing 777-300ER. 777X juga memiliki ruang kabin yang lebih besar dengan ukuran jendela yang juga diperbesar. Boeing 777X menggabungkan fitur terbaik dari 777 saat ini dengan badan pesawat yang lebih panjang, mesin baru dan desain sayap komposit dari Boeing 787.
Baca Juga: Wow! Mesin Boeing 777X Lebih Besar dari Body 737
Adapun maskapai lain yang juga telah mencatatkan diri dalam daftar pesanan Boeing 777X adalah Lufthansa, Etihad Airways, Qatar Airways, Singapore Airlines, Cathay Pacific Airways, All Nippon Airlines, dan British Airways.
Alih-alih bersaing, kali ini Boeing dan rival utamanya, Airbus sama-sama sepakat untuk tetap berusaha mengikuti kemauan para maskapai, “atau paling tidak mendekati permintaan tersebut,”
Awak kabin pria memang tak pernah menggunakan riasan atau make up dalam pekerjaannya dalam penerbangan. Namun bagaimana bila hal tersebut dilakukan para pramugari yang akan melayani penumpang tetapi tidak memakai make up sama sekali?
Baca juga: Aturan dan Etika Tata Rias Awak Kabin Masih Mengacu Ke Standar Era 60-anKabarPenumpang.com melansir dari laman fastcompany.com (4/3/2019), baru-baru ini Virgin Atlantic telah memutuskan untuk membuat beberapa perubahan dalam kebijakan penataan dan perawatan yang memungkinkan lebih banyak pilihan bagi para pramugarinya. Seorang perwakilan untuk Virgin Atlantic mengatakan, pramugari tak lagi diharuskan memakai riasan saat bekerja.
“Dalam perubahan signifikan untuk industri penerbangan, awak kabin perempuan kami tidak lagi diharuskan memakai riasan apa pun, jika mereka memilihnya,” ujar juru bicara itu.
Tetapi Virgin Atlantic tetap memperbolehkan pramugari mereka bila tetap menggunakan lipstik, bedak dan riasan lainnya yang ditetapkan oleh maskapai dalam panduannya. Bila dikatakan, menggunakan riasan sudah terlampau lama dengan kemudian mengaplikasikan semuanya di wajah. Hal itu bisa memakan waktu dan uang lebih banyak dibandingkan awak kabin pria.
Tak hanya itu, dengan sebuah riasan dalam panduan yang seharusnya, bisa membuat pramugari menjadi incaran yang potensial dalam pelecahan di kabin.
“Kami telah mendengarkan pandangan orang-orang dan sebagai hasilnya telah mengumumkan beberapa perubahan pada kebijakan gaya dan penampilan pada awak pesawat,” ujar Mark Anderson, Wakil pPresiden Eksekutif Layanan Pelanggan Virgin Atlantic.
“Tidak hanya pedoman baru ini menawarkan tingkat kenyamanan, mereka juga memberi tim kami lebih banyak pilihan tentang bagaimana mereka ingin mengekspresikan diri di tempat kerja. Membantu orang menjadi diri sendiri adalah inti dari keinginan kami untuk membentuk karakrer perusahaan ini.”
Tak hanya memperbolehkan pramugarinya tanpa riasan, Virgin Atlantic juga mengonfirmasi bahwa celana panjang bisa digunakan sebagai opsi seragam standar saat bergabung dengan kru. Celana panjang selalu bisa digunakan pramugari daripada menawarkannya hanya atas permintaan.
Baca juga: Kerap Alami Pelecehan, Cathay Pacific Bakal Ganti Seragam Awak Kabin
Sebelumnya, lipstik merah, maskara hitam atau coklat, eye shadow dalam nuansa netral, coklat dan abu-abu wajib digunakan sebagai pedoman tata rias. Untuk diketahui, kebijakan riasan wajah baru akan berlaku sekarang, dan celana panjang akan diberikan kepada semua anggota kru mulai bulan Juli mendatang.
Seperti diketahui, Airbus telah menghentikan produksi super-jumbo jet rakitannya, A380 pada awal tahun 2019 ini. Sebelumnya, raksasa manufaktur asal Benua Biru ini mendapatkan pembatalan pesanan dari sejumlah maskapai yang telah atau hendak menggunakan armada wide-body ini – mulai dari Qantas, Singapore Airlines, Etihad hingga pengguna terbesarnya, Emirates. Diprediksi, Airbus A380 terakhir diharapkan meninggalkan jalur perakitan pada tahun 2021 mendatang.
Baca Juga: Kendati Produksi Dihentikan, Airbus A380 Tetaplah FenomenalKabarPenumpang.com melansir dari laman simpleflying.com (4/3/2019), flag carrier Singapore Airlines bahkan sudah terlebih dahulu ‘mengandangkan’ A380 ketika sejumlah maskapai lain di luar sana masih menunggu kehadiran dari armada yang pertama kali mengudara pada tanggal 27 April 2005 ini. Sementara itu, kebijakan lain ditempuh oleh British Airways dimana maskapai ini malah berencana untuk membeli A380 bekas untuk menggantikan unit Boeing 747 yang sudah ‘lapuk’ termakan usia.
Lain cerita dengan Qatar yang mengumumkan bahwa mereka akan mulai mempensiunkan 10 unit armada A380-nya kelak ketika menyentuh angka 10 tahun pengoperasiannya – yaitu di tahun 2024 mendatang. Lalu Air France akan mempensiunkan setengah dari 10 armada A380 di akhir tahun 2019 ini, sementara 5 sisanya akan di upgrade dan dilepas di tahun 2020.
Dari beberapa contoh di atas, ini menandakan bahwa kendati sebagian maskapai lebih memilih untuk mengandangkan A380 mereka, namun masih ada permintaan terhadap A380 dari maskapai lain.
Jadi, kalau di luar sana ada pertanyaan, “kapan Airbus A380 benar-benar pensiun dari dunia kedirgantaraan global? Seyogyanya tidak ada jawaban yang benar-benar presisi untuk menjawab pertanyaan tersebut, karena semua ini bergantung dari masing-masing maskapai yang mengoperasikannya. Mengingat mereka memegang kendali penuh terhadap setiap armadanya – termasuk A380. Lepas dari itu, pasokan suku cadang pun masih tetap diproduksi oleh pihak Airbus.
Baca Juga: A380 ‘Terancam Punah,’ Benarkah Airbus Salah Langkah Hadapi Kedigdayaan Boeing?
Namun jika dilihat lagi dari segi penggunaan bahan bakar yang tidak sedikit dari A380 dimana ini akan berimplikasi langsung pada pembengkakkan biaya operasional, juga dari suku cadang yang kelak akan semakin sulit dicari, maka dua faktor ini sudah lebih dari cukup untuk mempensiunkan Airbus A380 lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.
Sebagai bagian dari fasilitas, bus antar kota antar provinsi (AKAP) tak sedikit yang dilengkapi dengan bilik khusus merokok. Kehadirannya sendiri di bus AKAP guna memudahkan penumpang yang merokok dan agar tidak mengganggu penumpang lainnya yang tidak merokok. Selain itu membebaskan penumpang dari penumpang dari risiko sebagai perokok pasif.
Baca juga: Masih Adakah Bilik Rokok di Dalam Bus?
Namun, kehadiran bilik merokok sendiri tidak menutup kemungkinan penumpang lainnya bisa mencium dan menghirup asap rokok. Biasanya hal ini terjadi karena sekat untuk bilik tidak terpasang dengan benar dan pintu pemisah rusak serta belum diperbaiki oleh agen atau PO bus itu. Baru-baru ini Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyoroti ketersediaan fasilitas bilik rokok tersebut.
Pasalnya, YLKI mendapat masukan, keluhan dan menjumpai secara langsung bilik rokok dalam bus AKAP, ironisnya hal itu terdapat dalam bus DAMRI dan Bus Trans Jawa. Tak hanya itu, pihak YLKI pun melihat, sebagai pengguna angkutan umum, khususnya bus AKAP dimana konsumen atau penumpang berhak mendapat keamanan, keselamatan dan kenyamanan selama menggunakannya.
Ketua pengurus harian YLKI Tulus Abadi mengatakan, keberadaan bilik atau area merokok dalam bus adalah anti regulasi karena melanggar peraturan. Dia menyebutkan dalam Pasal 115 Undang-undang No.36/2009 tentang Kesehatan, menyebutkan bahwa angkutan umum adalah Kawasan Tanpa Rokok dan dilarang keras ada area merokok. Ketentuan ini juga ada dalam PP No.109/2012 tentang pengamanan rokok sebagai zat adiktif.
YLKI sendiri meminta Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Republik Indonesia untuk melarang atau membatalkan ruang merokok di semua bus AKAP. Selain itu juga mematuhi regulasi yakni UU tentang kesehatan dan PP No.109/2012.
“Contohlah PT KAI yang sukses dan konsisten menerapkan kereta api tanpa rokok, selama dalam perjalanannya. Tak kenal KA jarak pendek, atau KA jarak jauh,” ujar Tulus yang dikutip KabarPenumpang.com dari liputan6.com (23/2/2019).
Tulus meminta semua pihak untuk konsisten dalam melindungi konsumen atau penumpang yang tidak merokok, terbebas dari kontaminasi racun asap rokok baik langsung atau tidak langsung.
“Lagipula, armada bus yang akan cepat kumuh, kumal dan lebih cepat menjadi bus rongsok akibat dampak asap rokok dari bilik merokok itu. Salah-salah armada bus terbakar oleh perilaku merokok penumpang yang acap teledor dan sembrono,” tutupnya.
Sebenarnya beberapa bus antar kota yang berseliweran di DKI masih memiliki ruang khusus merokok hingga tahun 2014 lalu. Namun, semenjak adanya Peraturan Daerah Propinsi DKI Jakarta No.5/2014 mengenai transportasi, bus antar kota tidak memiliki lagi areal ruang merokok di dalamnya.
Baca juga: Berani Langgar Aturan, Tak Ada Ampun Bagi Perokok di Dalam Kereta
Padahal, dalam bus antar kota yang berseliweran di DKI saat itu, ruangan khusus perokok sudah mendapat izin yang pasti dan segi keamanannya sudah diperhitungkan. Untuk larangan kawasan tanpa rokok sudah di atur dalam Peraturan Pemerintah No.13/2003 tentang pengamanan rokok bagi kesehatan, pada Pasal 22-25 terdapat peraturan Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Selain itu di UU No.36/2009 tentang kesehatan, pada Pasal 115 ayat 1 dan 2 tentang Kawasan Tanpa Rokok dan kewajiban Pemda menetapkan