TransJakarta Umumkan Keikutsertaan di Busworld 2019
Moda transportasi berbasis massal, TransJakarta merupakan jaringan Bus Rapid Transit (BRT) terpanjang di dunia dengan total panjang 251 km. Dengan melayani sekira 663.000 penumpang setiap harinya, dan terhitung sejak Januari 2019 kemarin, perusahaan yang kini ditunggangi oleh Agung Wicaksono (ex Direktur Operasi dan Pemeliharaan MRT Jakarta) cs. ini tercatat memiliki 155 rute – peningkatan yang cukup signifikan dibanding 41 rute di tahun 2015 kemarin.
Baca Juga: 15 Tahun Beroperasi, TransJakarta Targetkan 236 Rute di Akhir Tahun 2019
Tidak jumlah rute saja yang meningkat, pun dengan jumlah armada yang juga mengalam peningkatan. Berdasarkan siaran pers yang diterima oleh KabarPenumpang.com, Rabu (28/2/2019), total armada TransJakarta mengalami peningkatan hampir 300 persen – dari 605 bus di tahun 2015 menjadi 1.500 bus di tahun 2017. Bahkan, PT Transportasi Jakarta siap untuk menggandakan jumlah armadanya menjadi 3.000 unit dalam waktu dekat ini.
Mematok tarif yang bersahabat dengan warga Jakarta, yaitu Rp3.500 per-penumpang, TransJakarta sempat mencatatkan rekor di tahun 2018 kemarin, dimana jaringan BRT pertama di Asia Tenggara dan Selatan ini berhasil mengangkut 730.000 penumpang per-hari. Angka ini juga mengalami peningkatan dari angka 331.000 penumpang per-harinya di tahun 2015. Sekitar 189,8 juta penumpang telah menggunakan layanan TransJakarta hanya di tahun 2018 saja, dan bukan tidak mungkin jika TransJakarta menargetkan angka yang lebih fantastis lagi di tahun berikutnya – satu juta penumpang setiap harinya.
Keikutsertaan TransJakarta dalam pagelaran Busworld yang dihelat pada tanggal 20 hingga 22 Maret 2019 mendatang tentu mendapat sambutan hangat dari panitia pelaksana.
Sejak diputuskan untuk mulai beroperasi di jalanan Ibukota sejak 15 Januari 2004 silam, TransJakarta seolah tumbuh menjadi opsi berkendara baru bagi warga Jakarta dan para pendatang – membawa budaya baru dalam berkendara. Baik untuk pembuat kebijakan maupun untuk penduduk kota, TransJakarta merupakan salah satu instrumen pembelajaran dalam menyambut mobilitas perkotaan yang berkelanjutan.
Baca Juga: Tandatangani MoU, TransJakarta dan MRTJ Siap Integrasikan Moda Transportasi Berbasis Massal
15 tahun sudah TransJakarta menjadi simbol pembaruan transportasi berbasis massal yang skalanya tidak hanya sebatas di Jakarta saja, melainkan seluruh Indonesia. Menerapkan sistem yang lebih ‘manusiawi’ bagi para penggunanya, TransJakarta pun seolah menjelma menjadi satu contoh dan bahan pembelajaran tentang bagaimana caranya menyediakan sarana transportasi umum bagi warga dengan harga yang terjangkau dan dibarengi dengan pelayanan yang profesional.
Tidak hanya berperan sebagai pencetus sistem BRT di kawasan Asia Tenggara dan Selatan, TransJakarta juga dijadikan tolak ukur sistem serupa oleh beberapa kota lain di Indonesia, seperti Semarang, Yogyakarta, hingga Medan. Sejak kemunculannya, istilah ‘kejar setoran’ yang kerap dilakukan oleh para pengemudi bus guna mendapat penghasilan yang lebih besar kini sudah semakin samar terdengar – walaupun belum sepenuhnya hilang.
Salahkan Kopilot, Pilot Senior Tidur Saat Menerbangkan Boeing 747
Seorang pilot senior yang telah berpengalaman terbang hampir 20 tahun diketahui tertidur di kokpit saat pesawat tengah mengudara. Kejadian tidur pilot ini di-videokan selama 30 detik oleh kopilot yang tengah menerbangkan pesawat tersebut bersamanya.
Baca juga: Cegah Pilot Tertidur Saat Mengudara, Asosiasi Pilot Inggris Ajukan Proposal “Tes Kelelahan”
Dilansir KabarPenumpang.com dari laman khaleejtimes.com (23/2/2019), pilot tidur tengah menerbangkan pesawat China Airlines Boeing 747. Pilot yang bernama Weng Jiaqi tersebut sudah terbang ke Tokyo, Okinawa, Seoul dan Hong Kong.
Karena kelakuannya yang tidur tersebut, pilot ini mau tak mau harus menerima hukuman yang setimpal. Sebab dirinya dituduhkan mengabaikan prosedur keselamatan penerbangan. Padahal pilot yang tidur ini diketahui juga sebagai seorang instruktur yang bertanggung jawab atas simulasi di pusat pelatihan penerbangang China Airlines.
“Dalam hal ini, pilot itu sendiri secara sukarela melaporkan perilakunya yang tidak pantas di kokpit ke China Airlines,” ujar pernyataan dari China Airlines.
Pilot itu juga menyarankan maskapai agar kopilot yang merekam dan mengunggah video tidurnya tersebut juga mendapat hukuman. Hal ini karena kopilot bukannya membangunkan tetapi malah merekam video itu.
“Kelelahan tidak terhindarkan. Tetapi sebagai perwira senior, pilot seharusnya memberikan contoh yang baik untuk bawahannya. Jika pilot benar-benar terlalu lelah, dia seharusnya memberi tahu anggota kru dan meminta mereka mengamati kondisinya,” ujar seorang pilot China Airlines.
Diketahui, video ini muncul beberapa hari setelah pilot maskapai China Airlines mengakhiri pemogokan tujuh hari yang belum pernah terjadi sebelumya atas masalah kelelahan pilot dan jam kerja yang panjang. Maskapai yang berpusat di Bandara Internasional Taoyuan tersebut menanggapi bahwa insiden pilot tidur ini direkam sebelum pemogokan terjadi.
Biro Penerbangan Sipil Taiwan menyatakan bahwa jika pilot telah terbang selama lebih dari 12 jam, mereka harus diberikan setidaknya 24 jam libur. Pemogokan tujuh hari yang belum pernah terjadi sebelumnya secara resmi berakhir Kamis lalu setelah maskapai dan Persatuan Pilot Taoyuan menandatangani perjanjian yang membahas keluhan tentang pekerjaan yang berlebihan dan kelelahan pilot setelah empat putaran negosiasi.
Baca juga: Viral! Pilot United Airlines Tidur di First Class dengan Seragam Ditanggalkan
Mereka juga mencapai konsensus tentang pelatihan dan promosi kopilot transparan, serta penggantian manajer maskapai yang bertanggung jawab atas hubungan kerja. Sekitar 70 persen dari 1300 pilot kapal induk milik serikat pekerja. Pemogokan itu memengaruhi sekitar 200 penerbangan dan 25.000 penumpang.
Jelang Olimpiade Musim Panas, WiFi Gratis Siap Hadir di Kereta Peluru Shinkansen
Jika beberapa waktu yang lalu Bandara Internasional Haneda yang ada di Jepang akan membuka 50 slot tambahan – di mana 12 diantaranya akan dilimpahkan ke maskapai penerbangan asal Amerika Serikat guna menunjang perhelatan Olimpiade Musim Panas 2020, kini giliran sektor transportasi darat yang menunjukkan kesiapannya untuk mensukseskan pesta olahraga ini. Dikabarkan Japan Railways Group akan menyediakan layanan WiFi gratis di seluruh jaringan kereta peluru shinkansen tahun 2020 mendatang.
Baca Juga: Jelang Olimpiade Musim Panas 2020, Bandara Haneda Tingkatkan Kapasitas Penerbangan
Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman railway-technology.com (25/2/2019), sebanyak 108 stasiun jaringan kereta peluru ini akan dilengkapi dengan layanan WiFi pada tahun 2019 ini, sementara pemasangan sistem WiFi di rolling stock akan mulai diberlakukan sesegera mungkin dan diprediksi rampung pada April 2020. Sebagaimana yang sudah disebutkan di atas, langkah ini merupakan bagian dari persiapan Jepang untuk menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Panas 2020 yang jatuh pada 24 Juli hingga 9 Agustus 2020 di Tokyo.
Rencana tersebut juga termasuk menawarkan layanan WiFi gratis untuk wisatawan yang bepergian di Tokyo Metro selama Olimpiade. Selain itu, langkah ini diharapkan dapat membantu mengurangi masalah konektivitas internet di atas kereta dan meningkatkan pengalaman penumpang. Sejak tahun 2018 lalu, anggota Japan Railways Group (JR Group) West Japan Railway dan Kyushu Railway sudah mulai menawarkan WiFi gratis di kereta peluru. Sekitar 30% armada di Central Japan Railway, anggota grup perusahaan lain, pun menyediakan internet gratis.
Baca Juga: Sambut Olimpiade 2020, Bandara Jepang Siapkan Kemudahan Bagi Penyandang Disabilitas
Tiga operator kereta api dijadwalkan untuk menyediakan WiFi gratis di semua kereta peluru pada Maret 2020. East Japan Railway, perusahaan terbesar dari JR Group, juga mulai menggunakan sistem WiFi dari tahun fiskal lalu. Rencananya, ini akan selesai pada tahun fiskal 2020.
Untuk menggunakan fasilitas ini, para penumpang di jaringan kereta peluru Shinkansen dapat mengakses internet dengan mendaftarkan diri mereka melalui email atau profil jejaring sosial mereka. Sejak dimulainya layanan kereta peluru ini di tahun 1964 silam, jaringan Shinkansen telah berkembang dari 515,4 km menjadi 2.764,6 km di seluruh Negeri Matahari Terbit.
Mengapa Kim Jong Un ‘Lebih Senang’ Naik Kereta Ketimbang Pesawat? Ini Dia Spekulasi yang Beredar!
Kedatangan Supreme Leader Korea Utara, Kim Jong Un ke Vietnam pada Selasa (26/2/2019) kemarin masih hangat untuk diperbincangkan. Tidak melulu membahas tentang isi pertemuannya dengan pimpinan Negara Adikuasa, Donald Trump, namun satu poin yang tidak boleh luput dari perhatian adalah cara Kim Jong Un menyambangi Vietnam, yaitu dengan menggunakan kereta api. Tentu sebagaian dari Anda akan bertanya-tanya, “mengapa pimpinan negara seperti Kim Jong Un lebih memilih untuk naik kereta ketimbang pesawat yang jelas lebih efisien dari segi waktu?”
Baca Juga: Setelah Menempuh Jarak 4023 Km, Kereta Kim Jong Un Tiba di Vietnam Selasa Pagi
Sebagaimana yang diketahui bersama, Kim Jong Un menghabiskan waktu sekira 65 jam untuk mengular dari Pyongyang menuju Vietnam – perjalanan yang jelas tidaklah sebentar. Anak dari Kim Jong Il ini lebih memilih untuk ‘berlindung’ di balik kereta berlapis bajanya ini untuk menembus jarak sekira 4023 km ketimbang harus mengudara yang notabene hanya memakan waktu hitungan jam saja.
Sebenarnya ada sejumlah spekulasi yang beredar di masyarakat tentang pertanyaan ini. Namun satu yang paing santer diberitakan adalah Kim Jong Un takut akan ketinggian, sehingga dirinya lebih memilih untuk menggunakan kereta dalam lawatannya menuju negara lain. Jika ditelisik lebih dalam lagi, ternyata tidak hanya Kim Jong Un saja yang gemar naik kereta api, pun dengan mendiang ayahnya, Kim Jong Il dan mendiang kakeknya, Kim Il Sung.
KabarPenumpang.com mengutip dari laman time.com, melakukan lawatan ke negara lain dengan menggunakan kereta api memang sudah seperti tradisi bagi keluarga Kim Jong Un. Seperti yang sudah disinggung di atas, mulai dari mendiang kakeknya hingga mendiang ayahnya, semuanya gemar naik kereta api ketimbang pesawat. Bahkan, ketiganya diisukan takut untuk naik pesawat terbang.
Terkecuali Kim Jong Un, isu ini semakin dikuatkan dengan Kim Jong Il dan Kim Il Sung pernah menyaksikan secara langsung ledakan pesawat ketika tengah melakukan test flight di tahun 1982 – dan penerbangan Kim Il Sung terakhir terjadi pada 1986, dimana kala itu ia menyambangi Rusia. Sejak saat itu, keluarga para Supreme Leader ini tidak ada lagi yang pernah mengudara.
Kendati sesekali Kim Jong Un lebih memilih untuk naik pesawat, namun ia lebih sering menggunakan kereta dengan dalih mempertahankan tradisi keluarga.
Tidak hanya itu, kereta yang digunakan Kim Jong Un dalam lawatannya menuju Vietnam ini juga tidak sembarangan kereta. 21 rangkaian gerbong yang berlapiskan baja ini dikabarkan memiliki puluhan sofa empuk dan ruang konferensi di dalamnya. Pun dengan penjagaan super ketat guna mengawal sang diktator ini – satu rangkaian berada di depan kereta utama untuk memastikan keamanan jalur, sedangkan satu rangkaian lagi berada di belakangnya untuk mengangkut personel keamanan dan personel pendukung.
Baca Juga: Lakukan Perjalanan ke Beijing, Beginilah Kelebihan dari Kereta yang Bawa Kim Jong-un
Terlepas dari asumsi itu semua, para analis menyebutkan bahwa kunjungan Kim Jong Un ke Vietnam minggu ini merupakan salah satu ajang bagi Korea Utara untuk membuktikan diri bahwa negara beraliran komunis tersebut bisa berdikari tanpa bantuan negara manapun – termasuk Cina.
Pada kunjungannya ke Singapura guna bertemu Presiden Donald Trump pada bulan Juni kemarin, Kim Jong Un meminjam Boeing 747 milik Air China, lantaran pesawat Ilyushin Il-62 miliknya dinyatakan sudah tidak aman untuk mengudara – entah tidak aman dari masalah performa atau ada ancaman dari negara lain.
Nah, dalam kunjungannya yang sekarang, Korea Utara melalui Kim Jong Un seolah ingin menunjukkan bahwa negara tersebut bisa melepaskan ketergantungan terhadap Cina yang selama ini berada di belakangnya untuk urusan supply dalam situasi apapun.
Khawatir Identitas Anda ‘Terekam’ oleh Kamera di Layar Hiburan? Tutupi Pakai Plester Luka Saja!
Setiap orang memang memiliki kebiasannya masing-masing ketika boarding di sebuah maskapai. Pertama kali tentu saja Anda akan mencari tempat duduk sesuai dengan yang tertera di tiket, bukan? Lalu beberapa dari Anda mungkin langsung duduk dan ‘menyetel’ posisi duduk ternyaman Anda, namun tidak sedikit juga dari Anda yang mungkin malah sibuk dengan menata barang bawaannya masing-masing, mana yang harus masuk ke dalam bagasi kabin, mana yang bisa Anda simpan bersama Anda.
Baca Juga: Penumpang Keluhkan Ada ‘Kamera Tersembunyi’ di Layar Hiburan Singapore Airlines
Ketika pada artikel sebelumnya sudah dijelaskan agar Anda selalu menyediakan barang-barang yang sekiranya Anda butuhkan selama perjalanan di tas yang Anda pangku – termasuk selotip atau plester luka (band-aid /tensoplast). Khusus untuk plester luka ini, selain dapat berfungsi untuk menutupi luka selama perjalanan, namun salah satu instrumen wajib di kotak P3K ini juga dapat digunakan untuk menutup ‘kamera pengawas’ yang terletak di layar hiburan di depan Anda.
Ya, sebelumnya seorang penumpang maskapai Singapore Airlines mendapati sebuah kamera pengawas yang berada tepat di bawah layar tersebut dan menyebarluaskan penemuannya ini di media sosial. Tapi setelah diselidiki lebih mendalam, ternyata tidak hanya flag carrier Singapura saja yang memasang fitur semacam ini di armada mereka, tapi muncul juga nama American Airlines, United Airlines, hingga Delta Air Lines – dan mereka semua tidak menampik itu.
Jika ditilik lagi dari sudut pandang yang lain, mungkin Singapore Airlines, American Airlines, United Airlines, dan Delta Air Lines memiliki pemasok atau vendor layar hiburan yang sama – dimana entah secara kebetulan atau tidak, keempat maskapai ini mengambil bundle layar hiburan yang sama, atau tengah mempersiapkan kebutuhan penumpang di masa yang akan datang.
Terkecuali Emirates yang sudah terang-terangan menyebutkan bahwa kamera di bawah layar hiburan tersebut dapat digunakan oleh para penumpang layanan first class untuk melakukan telekonferensi di ketinggian 30.000 kaki.
Kendati contoh-contoh maskapai yang sudah punya pangsa pasarnya sendiri ini mengaktifkan atau tidak fitur yang disebut-sebut sudah menjadi satu bundle dengan layar hiburan ini, namun tetap saja sebagai penumpang Anda harus waspada akan hadirnya fitur semacam ini. Tentu Anda tidak mau kan jika data pribadi Anda diretas oleh oknum-oknum tidak bertanggungjawab?
Baca Juga: Klasik, Ini Dia Rentetan Alasan Delay di Dunia Penerbangan
Nah, menanggapi hal ini, KabarPenumpang.com melansir dari laman inc.com (26/2/2019), ada baiknya Anda untuk selalu membawa plester luka ketika hendak bepergian menggunakan moda udara. Alasannya? Seperti yang sudah disinggung di atas, selain dapat berfungsi untuk membebat luka, dengan membawa plester luka juga Anda bisa menutup kamera pada layar hiburan.
Setidaknya jika Anda membawa selotip, tidak menutup kemungkinan jika petugas keamanan di bandara akan menanyakan kepentingan Anda untuk membawa selotip tersebut. Berbeda jika membawa plester luka, dimana Anda bisa berdalih semisal situasi darurat terjadi.
Lalu pertanyaan lain muncul, bagaimana jika maskapai penerbangan juga menghadirkan fitur mikrofon di layar penerbangan? Apa yang harus Anda lakukan?
MRT Jakarta Siapkan Langkah Keselamatan dan Sediakan Ruang Medis
Apakah PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta sudah menyiapkan langkah-langkah untuk keselamatan penumpang dan pekerja yang akan resmi beroperasi pada akhir Maret 2019? Jawabannya adalah ya, sebab Menteri Tenaga Kerja M Hanif Dhakiri memuji langkah perusahaan untuk memprioritaskan kesehatan dan keselamatan kerja (K3) pekerja dan penumpangnya.
Baca juga: Anda Mau Coba MRT Jakarta Gratis? Jangan Lupa Daftar Pada 5 Maret 2019
Dia mengatakan implementasi sistem K3 di MRT sendiri sudah memadai dan kesadaran pekerja sudah cukup kuat. Dilansir KabarPenumpang.com dari thejakartapost.com (26/2/2019), Hanif mengatakan dirinya tidak memiliki keprihatinan yang signifikan terhadap kesehatan keselamatan karena MRT dipersiapkan dengan baik sebagai pendekatan pembukaannya.
“Ada beberapa hal yang perlu dirapikan, misalnya, mengangkat akses bagi penyandang cacat,” tambah hanif.
Bahkan Direktur Utama PT MRT Jakarta, William Sabandar mengaku pihaknya menjunjung tinggi kesehatan dan keselamatan sejak awal pembangunan MRT. Dirinya juga sudah mengusulkan adanya sertifikasi kesehatan dan keselamata.
“Untuk MRT keselamatan dan keamanan adalah yang paling penting,” kata William.
Sejak hari ini, 27 Februari hingga 11 Maret 2019 mendatang, MRT Jakarta tengah melakukan latihan evakuasi yang melibatkan pemangku kepentingan terkait termasuk polisi, militer, tim pemadam kebarakaran, penyelamatan dan layanan kesehatan.
Latihan ini sendiri dilakukan untuk mengetahui bagaimana pihak yang berwenang menanggapi keadaan darurat di MRT. Direktur Operasional dan Pemeliharaan MRT Muhammad Effendi mengatakan, latihan ini akan mencakup kebakaran, gangguan kereta api, kegagalan listrik hingga ancaman bom yang membutuhkan evakuasi.
“Sebagai tindakan pencegahan bahaya, MRT telah memasang papan nama di lantai dan tangga. Kami juga akan melakukan perawatan berkala di setiap gerbong kereta di mana tersedia interkom darurat dan pemadam api,” jelas Effendi.
Tak hanya itu, stasiun-stasiun MRT Jakarta juga dilengkapi dengan ruang medis baik itu untuk penumpang maupun pekerja yang membutuhkan pertolongan pertama. Sedangkan prosedur untuk memanggil ambulans juga sudah ditetapkan untuk memudahkan penumpang ditangani untuk kondisi yang lebih serius. William menekankan, bagaimanapun, bahwa tidak peduli seberapa siap MRT itu, perilaku penumpang masih akan penting untuk keselamatan.
“Setiap orang memiliki tanggung jawab untuk memastikan keselamatan dan kenyamanan orang lain,” katanya.
Baca juga: Resmi Beroperasi 12 Maret 2019, PT MRT Jakarta Mulai Garap Pembangunan Fase 2
Terkait dengan tarif, William mengatakan Gubenur DKI Jakarta Anies Baswedan akan melakukan konsultasi dengan dewan legislatif Jakarta sebelum mengumumkannya. Adapun rencana tarif yang diberlakukan adalah Rp8500 untuk sepuluh kilometer.
Pemerintah kota belum mengumumkan tarif untuk MRT. Gubernur Jakarta Anies Baswedan mengatakan pemerintah akan berkonsultasi dengan Dewan Legislatif Jakarta sebelum
Airbus Gandeng Huawei Kembangkan Pusat Riset dan Inovasi di Shenzhen
Airbus, manufaktur dirgantara asal Eropa memiliki salah satu fasilitasnya di Provinsi Guangdong, Cina. Kehadiran fasilitas ini merupakan yang kedua di luar Eropa, yakni setelah di Silicon Valley, Amerika Serikat. Kehadiran Airbus di Cina ternyata turut menggandeng kerja sama dengan beberapa perusahaan teknologi yang ada di Shenzhen, Cina.
Baca juga: Dirundung Kerugian, Etihad Kurangi Jumlah Pesanan Pesawat dari Boeing dan Airbus
Dilansir KabarPenumpang.com dari laman asia.nikkei.com (26/2/2019), kerja sama yang dilakukan Airbus dilakukan untuk melakukan inovasi baru yang lebih cepat. Salah satunya dengan Huawei Technologies dan beberapa perusahaan lainnya untuk mengembangkan pesawat generasi berikutnya.
Kerja sama yang dilakukan dalam bentuk penelitian dan perancangan aplikasi untuk konektivitas dalam penerbangan yang dibungkus Internet of Things (IOT). Kerja sama antara Airbus China Innovation Center (ACIC) dan Huawei akan menggabungkan keunggulan kedua belah pihak guna menciptakan pengalaman konektivitas berkecepatan tinggi dalam penerbangan di masa mendatang.
Shenzhen sendiri dikenal dengan “Silicon Valley-nya” Cina, karena banyak perusahaan teknologi yang ada di situ. Investasi yang dikeluarkan oleh Airbus untuk fasilitas terbarunya ini diperkirakan senilai sepuluh juta euro atau sekitar US$11,4 juta (setara dengan Rp159 miliar).
“Di sini dengan pusat inovasi di Shenzhen, Airbus dan mitra kami yang sangat baik menciptakan pilar inovasi baru untuk China. Shenzhen terkenal dengan kecepatannya, yang tentunya bagus untuk perusahaan kami,” kata CEO Airbus Tom Enders.
Huawei, yang berbasis di Shenzhen, akan menjadi mitra pertama. Rencananya kedua perusahaan akan mengembangkan teknologi berbasis internet yang menghubungkan berbagai perangkat keras di pesawat. Airbus juga akan bekerja dengan pembuat layar Royole, sebuah startup Cina yang menarik perhatian internasional tahun lalu dengan inovasi smartphone layar lipat pertama. Airbus terobsesi untuk mengembangkan panel LCD canggih yang terhubung ke sistem hiburan penumpang.
Airbus mengoperasikan laboratorium berdasarkan rencana dari awal 2018. Melalui operasi sekarang dalam skala penuh, fasilitas ini akan meningkatkan perekrutan tenaga lokal. Airbus China Innovation Center juga berencana untuk mengeksplorasi penerapan teknologi IoT di bidang manufaktur kedirgantaraan dengan Huawei untuk mengembangkan digitalisasi, visualisasi, dan analitik.
Baca juga: Airbus dan Layer Kembangkan Kursi Kelas Ekonomi dengan Material Tekstil Pintar
Berbasis di Shenzhen, Pusat Inovasi Airbus China adalah pertama yang didirikan oleh Airbus di Asia. Misinya adalah untuk sepenuhnya memanfaatkan keunggulan lokal, termasuk talenta inovatif, mitra, dan ekosistem, dan menggabungkannya dengan keahlian Airbus dalam teknologi dirgantara. ACIC sekarang beroperasi penuh dengan upacara pembukaan kantor resmi yang akan berlangsung pada awal 2019.
(Lagi) Penumpang Lempar Koin ke Dalam Mesin Pesawat, Lucky Air Tunda Keberangkatan CZ380
Apakah anda masih ingat dengan insiden dimana seorang nenek yang berusia 80 tahun melemparkan koin ke dalam mesin pesawat yang menyebabkan maskapai China Southern Airlines dengan nomor penerbangan CZ380 mengalami keterlambatan keberangkatan? Jika Anda masih ingat, maka kejadian yang juga terjadi di Cina ini akan kembali membangkitkan memori Anda. Ya, dikabarkan seorang penumpang maskapai Lucky Air melemparkan koin ke dalam mesin pesawat sebagai pertanda peruntungan yang baik.
Baca Juga: Lempar Koin ke Mesin, China Southern Airlines Alami Delay 5 Jam
Jangan tanyakan apakah yang dilakukan oleh penumpang berjenis kelamin pria ini menyebabkan pesawat mengalami keterlambatan keberangkatan atau tidak – karena jawabannya sudah pasti mengganggu jadwal keberangkatan. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman independent.co.uk (25/2/2019), adalah Lu, penumpang yang melemparkan koin ke dalam mesin sebelah kiri maskapai Lucky Air pada Minggu (17/2/2019) kemarin. Namun tidak seperti si nenek, petugas Lucky Air menemukan dua koin pecahan satu yuan di bawah mesin pesawat – diperkirakan koin tersebut jatuh dan tidak masuk ke dalam mesin.
Khawatir ada koin yang berhasil masuk ke dalam mesin, terpaksa pihak maskapai melakukan pengecekan secara menyeluruh dan ini berimbas pada pengunduran waktu keberangkatan hingga keesokan harinya. Alhasil, sebanyak 162 penumpang yang dijadwalkan mengudara dari Anqing menuju Kunming di Tiongkok terpaksa dibatalkan.
Terkait insiden ini, maskapai Lucky Air dikenakan biaya denda akibat batal mengudara senilai 140.000 yuan atau yang setara dengan Rp292,5 juta dan pihak maskapai akan membawa Lu ke jalur hukum guna menyelesaikan masalah ini. Kabar terakhir menyebutkan, Lu telah diadili dan mendekam di balik jeruji besi selama tujuh hari lamanya.
Baca Juga: Delay Luar Biasa, 6 Maskapai Ini Pecahkan Rekor!
Sebenarnya, kasus pelemparan koin ke dala mesin pesawat ini tidaklah hanya sekedar dua contoh di atas saja. Sebelumnya, pernah ada kasus dimana seorang penumpang layanan Lucky Air juga yang pernah menerapkan aksi serupa. Buntutnya? Tentu saja penundaan keberangkatan dengan alasan keselamatan penerbangan.
Memang, tradisi lempar koin di kebudayaan Buddha kerap diindikasikan sebagai pembawa keberuntungan atau untuk menolak bala.
Gantikan Armada Airbus yang Sudah Tua, Vietnam Airlines Berencana Pesan 100 Boeing 737 MAX
Tentu Anda semua masih ingat dengan pernyataan dari maskapai berbiaya rendah asal Indonesia, Lion Air yang pada beberapa waktu lalu menyebutkan bahwa pihaknya akan membatalkan sejumlah pesanan armada dari pabrikan Amerika, Boeing pasca insiden kecelakaan pesawat JT-610 di perairan Tanjung Karawang. Lebih tepatnya, isu pembatalan pemesanan ini semakin mencuat ke permukaan setelah pihak Lion Air dan Boeing sempat berselisih paham.
Baca Juga: Buntut Insiden JT-610, Pihak Lion Air Bisa Batalkan Pesanan Pesawat ke Boeing!
Namun hal berbanding terbalik justru dilakukan oleh flag carrier Vietnam Airlines, dimana perusahaan yang tergabung di aliansi penerbangan SkyTeam bersama Garuda Indonesia ini tengah mempertimbangkan untuk memesan 50 hingga 100 armada Boeing 737 MAX di tahun 2019 ini. Rencana pembelian ini merupakan langkah yang ditempuh Vietnam Airlines untuk mengganti armada Airbus yang sudah tua – juga untuk mempersiapkan armada untuk melakukan penerbangan jarak jauh menuju California.
“Armada-armada baru ini akan dikirim di rentang tahun 2020 hingga 2030,” ujar CEO Vietnam Airlines, Duong Tri Thanh, sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman thestar.com.my (25/2/2019).
Kendati sudah membocorkan rencana perusahaan, namun Duong Tri Thanh enggan membocorkan lebih rinci mengenai model apa yang akan dibeli oleh maskpai yang berbasis di Long Biên District, Hanoi ini.
“Ini akan menjadi peluang bagi Vietnam Airlines untuk kembali memanaskan persaingan antara dua raksasa manufaktur pesawat, Airbus dan Boeing,” tutur Duong Tri Thanh.
“Rencana fase akhir akan kami serahkan kepada pemerintah. Kami mengharapkan sesuatu terjadi di tahun ini,” tandasnya.
Tidak bisa dipungkiri, peningkatan permintaan perjalanan udara dengan menggunakan Vietnam Airlines ini juga didukung oleh pertumbuhan ekonomi Vietnam yang cukup signifikan. Selain itu, penerbangan menuju California ini juga didukung oleh persetujuan regulasi dengan pihak Amerika Serikat yang dicapai pada bulan ini terkait sistem keselamatan udara. Dengan tercapainya persetujuan regulasi ini, memungkinan Vietnam Airlines untuk mengudara menuju Negeri Paman Sam. Khusus untuk rencana penerbangan ke Amerika Serikat, Vietnam Airlines berencana untuk memesan 2 pesawat widebody, antara Boeing 777X atau Airbus A350-1000.
Baca Juga: Makin Dekat ke Pembatalan Pesanan, Mungkinkah SJ100 Masuk ke Dalam Daftar Belanja Lion Air?
“Vietnam Airlines berniat untuk mulai terbang dari pusat komersial negara, Ho Chi Minh menuju Los Angeles atau San Francisco, keduanya merupakan rumah terbesar bagi populasi Vietnam-Amerika, pada tahun 2020,” tambah Duong Tri Thanh.
Vietnam Airlines mengharapkan dapat melayani 25 juta penumpang di tahun 2019 ini, 3 juta lebih banyak dari pada 2018, sementara pendapatan diproyeksikan naik menjadi 115 triliun dong (US$5 miliar) dari 102 triliun dong.
Kurangi Kecemasan Pada Calon Penumpang, Anjing Terapi Hadir di Bandara Toronto Pearson
Disambut anjing ketika tiba dibandara? Ini akan dirasakan bagi pelancong yang tiba di Bandara Toronto Pearson, Kanada. Pasalnya akan ada 13 anjing terapi dari St John Ambulance di Terminal 1 dan 3 di bawah program baru yang diluncurkan minggu lalu. Kehadiran anjing-anjing terapi ini untuk membawa kegembiraan dan membantu mengurangi kecemasan yang dialami oleh beberapa penumpang saat mereka bepergian.
Baca juga: Dua Bandara di Australia Hadirkan Anjing Terapi Bagi Penumpang yang Alami Stres
“Di Toronto Pearson, penumpang adalah hasrat kami, dan penting bagi misi itu adalah memastikan semua penumpang merasa santai dan nyaman saat bepergian melalui bandara kami,” ujar Wakil Presiden, Layanan Pelanggan dan Terminal, Toronto Pearson Scott Collier yang dikutip KabarPenumpang.com dari torontosun.com (23/3/2019).
Collier mengatakan, bahwa pihaknya mengetahui saat melakukan perjalanan dapat membuat stres dan kehadiran anjing-anjing terapi dapat membuat perbedaan itu. Mereka akan tersenyum saat melihat dan bertemu karena seperti mendapatkan cinta tanpa syarat dari seekor anjing terapi.
“Saya pikir ini hebat. Ada banyak orang yang takut terbang. Dan ini menenangkan mereka,” ujar seorang penumpang bernama Anne Crouse.
Kehadiran anjing-anjing ini sendiri tidak membutuhkan waktu lama untuk penumpang berkumpul memeluk dan mengelus bulu-bulu mereka. Anjing-anjing terapi ini bahkan diajak berfoto dan penjaga mereka ikut ditanya-tanya.
Dan pertanyaan yang tidak terjawab dapat ditemukan pada kartu bisnis anjing, yang dibagikan kepada wisatawan dan termasuk D.O.B mereka, berkembang biak, serta bahkan informasi pribadi tentang suka dan tidak suka mereka.
“Nama saya Shep … Saya suka makan keju dan menimbun kaus kaki!” Bunyi kartu salah satu anjing.
“Alasan mengapa kita memiliki program terapi anjing adalah bahwa kita ingin penumpang kita merasa disambut dan kenikmatan ketika mereka datang ke sini, dan juga untuk menghilangkan kecemasan atau stres yang mereka rasakan,” jelas Suzanne Gayle, Manajer Penyambutan Program Relawan Tim.
Anjing-anjing memakai bandana yang diberi nama Bella, Cheyenne, Daisey, Ghost, Hunter, Kahlua, Luna, Pumpkin, Ringo Starr, Shep, Snickers, Sofia, Zorie dan mereka siap untuk dielus di kepala, gosokan perut atau hanya pelukan dari salah satu dari 50 juta penumpang yang melewati pintu Pearson International setiap tahun.
“Kami tidak melakukan penerbangan sesuai rencana, dan kami terjebak di bandara, jadi ini cara yang baik untuk menghabiskan sedikit waktu,” kata penumpang Anne Kurucz.
Karena ada sambutan yang begitu antusias untuk teman-teman berbulu, kemitraan bersama antara St John Ambulance Therapy Dogs dan Bandara Pearson berharap untuk memperluas wilayah mereka.
Baca juga: Bebek Ini Bantu Atasi Stress Pasca Trauma
“Saat ini anjing-anjing itu adalah pra-keamanan, dan kemudian pada tahun ini mereka akan mengirim keamanan sehingga mereka akan bertemu penumpang di gerbang, tetapi sekarang kita melihat penumpang yang datang dan bahkan berangkat,” kata Gayle.
