Mengenal Irkut MC-21, Pesawat Produksi Rusia yang Jadi Calon Armada Merpati Airlines
Setelah pada artikel sebelumnya sempat ada perdebatan mengenai armada apa yang akan digunakan oleh Merpati Airlines jika beroperasi kelak, kini teka-teki tersebut mulai menemui titik terang. Pihak Merpati Airlines yang sempat membocorkan sebuah petunjuk dengan menyebutkan, “armada asal Rusia,” yang akan digunakan. Alih-alih memilih nama-nama kawakan seperti Sukhoi, Tupolev, atau Ilyushin, Merpati Airlines lebih memilih Irkut dengan jenis pesawatnya MC-21.
Baca Juga: Antara Merpati Air, Kim Johanes Mulia dan Sukhoi SJ100
Irkut MC-21 sendiri merupakan pesawat jenis narrow-body bermesin ganda rilisan anak perusahaan dari United Aircraft Corporation (UAC), Irkut. Desain awal dari pesawat ini pertama kali diluncurkan pada tahun 2006, dan desain yang lebih detailnya dikembangkan lebih lanjut pada tahun 2011. Dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, ‘perkenalan’ perdana pesawat ini terkendala beberapa masalah sehingga terpaksa ditunda hingga tahun 2020 mendatang – rencana awal tahun 2012.
Kendati ‘perkenalan’ perdana pesawat ini ditunda, namun itu sama sekali tidak menghalangi perusahaan untuk terus mengembangkan mahakarya ini. Tercatat, pada 8 Juni 2016, Irkut meluncurkan MC-21-300 dan melakoni first maiden pada 28 Mei 2017. Secara keseluruhan, armada ini masih dalam tahap penyempurnaan hingga bisa dirilis pada tahun 2020 mendatang.
Sayap dari pesawat ini menggunakan bahan serat karbon yang diperkuat polimer dan dilengkapi dengan pilihan mesin Turbo Pratt & Whitney PW1000G atau Aviadvigatel PD-14. MC-21 sendiri memiliki dua varian, yaitu MC-21-200 dan MC-21-300. Untuk varian MC-21-200, pesawat ini mampu menampung penumpang dengan kapasitas 132 penumpang dengan konfigurasi dua kelas, dan 165 penumpang dengan konfigurasi satu kelas. Sementara untuk jarak tempuh maksimum, pesawat jenis ini mampu menembus jarak 3.500 nautical miles atau yang setara dengan 6.400 km.
Baca Juga: Meski Batal Pailit, Bukan Perkara Mudah Bagi Merpati Nusantara untuk Mengudara lagi
Lalu untuk varian MC-21-300, adapun daya tampung maksimum untuk armada ini mencapai 211 penumpang dengan konfigurasi satu kelas, dan 163 penumpang untuk konfigurasi dua kelas – hal ini dilandaskan oleh panjang pesawat yang memiliki selisih 5,4 meter. Kendati hampir mengungguli MC-21-200, namun jarak tempuh maksimal dari MC-21-300 ini ternyata lebih pendek – hanya 6.000 km.
Terhitung sejak Juli 2018, sudah ada 175 perusahaan yang memesan varian MC-21, dengan 150 intensi dari perusahaan lain.
Boeing 727 Lakukan Penerbangan Terakhir di Iran
Pesawat regional trijet Boeing 727 sudah lama di grounded dalam dunia penerbangan komersial. Debut pesawat ini tenggelam semenjak popularitas Boeing 737 mengemuka dengan twinjet-nya. Namun ada kabar yang mengejutkan datang dari Negeri Para Mullah, bahwa masih ada Boeing 727 yang mengangkasa, dan berita ini sekaligus mewartakan bahwa Boeing 727 dengan nomer penerbangan EP851 milik Iran Aseman Airlines, menjadi Boeing 727 yang terakhir terbang di dunia.
Baca juga: Boeing 727 Ini Berubah Jadi Penginapan Mewah di Tepi Pantai
Dikutip KabarPenumpang.com dari independent.co.uk (16/1), disebutkan jurnalis Babak Taghvaee dalam tweeter-nya menyebutkan Boeing 727-200 EP851 melakukan penerbangan terakhir pada 13 Januari 2019. Penerbangan terakhir Boeing 727 EP851 melayani rute Zahedan ke Tehran dengan durasi 2 jam perjalanan pada malam hari. Menurut sumber yang sama, Boeing 727 EP851 sudah dioperasikan selama 39 tahun oleh Iran Aseman.
Boeing 727 series memulai debut terbang perdana pada 9 Februari 1963, dan digunakan secara komersial perdana oleh Eastern Airlines pada 1 Februari 1964. Boeing mengakhiri produksi 727 pada tahun 1984, dengan total produksi mencapai 1.832 unit.
Meski populasinya kian mengecil, armada Boeing 727 dalam varian kargo masih terbang sampai saat ini. Dari spesifikasinya, Boeing 727 termasuk pesawat narrow body. Khusus Boeing 727-200 yang digunakan Iran Aseman Airlies, menggunakan mesin JT8D-7/9/11. Pesawat dengan kapasitas 155 kursi ini dapat menjelajah hingga 3.500 km dengan kecepatan Mach 0.8. Ketinggian terbang pesawat ini disebut bisa mencapai 11.00 meter.
Tumbangnya Boeing 727 dalam pasar pesawat penumpang lebih dikarenakan factor efisiensi bahan bakar, dimana adopsi trijet dipandang boros untuk rute regional. Meski tak populer, Boeing 727 series juga sempat dioperasikan oleh maskapai di Indonesia, seperti Jatayu Airlines, Indonesian Airlines, dan Merpati Nusantara Airlines.
Baca juga: Beroperasi Singkat, Maskapai Indonesia Ini Tinggal Cerita
Selain bermesin tiga, ciri khas Boeing 727 yakni tersedianya fasilitas tangga di bagian ekor pesawat, mengingatkan pada tangga di ekor yang ada di pesawat Douglas DC-9
Dipukuli Awak Kabin, Penumpang Pria Gugat American Airlines dan Tuntut US$160 Ribu
Seorang penumpang American Airlines baru-baru ini mengajukan sebuah gugatan kepada maskapai besar itu dan mengklaim bahwa seorang awak kabin telah meninju wajah dan kepalanya saat bepergian dari Charlotte di North Carolina menuju Philadelphia pada tahun 2018 lalu. Gregory Lagana mengajukan gugatannya di Pengadilan Distrik Amerika Serikat untuk Distrik New Jersey pada hari Jumat (11/1/2019).
Baca juga: Jari Terjepit di Sandaran Bangku, Penumpang ini Gugat American Airlines dan SkyWest Airlines
Dalam gugatannya dia mengatakan awak kabin bernama Lance Wiley menjepit lengan kanannya dan berulang kali meninju wajah serta bagian belakang kepalanya saat dirinya duduk dengan menggunakan sabuk pengaman. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman usatoday.com (15/1/2019), dalam gugatan itu Wiley tengah mendorong troli makanan dan minuman.
Kemudian keduanya diduga berdebat terkait minuman pesanan Lagana sebelum terjadinya pertengkaran tersebut. Bahkan Lagana mengklaim tidak terlibat kesalahan yang membahayakan keselamatan pesawat.
Dia mengatakan dalam gugatan karena hal tersebut dirinya menderita Hematoma kulit kepala, lecet, bengakak, kemerahan, luka memar dan luka di bagian tangannya. Lagana diketahui mendapat perawatan medis di Priceton Medical Center di New Jersey dan termasuk perawatan neurologis, bedah saraf dan chiropraktik.
“Akibat kecelakaan itu, penggugat menderita luka-luka serius dan permanen, serta cedera mental dan emosional yang membuatnya terluka secara permanen dan sangat parah,” menurut gugatan itu.
Lagana menutut dalam gugatan sendiri untuk mendapatkan ganti rugi sebesar US$161 ribu atau Rp2,2 miliar. Seorang juru bicara American Airlines Matt Millter mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa maskapai tersebut tengah meninjau gugatan dan rincian penerbangan dan tidak mengomentari hal tersebut lebih lanjut.
Lagana, seorang warga New Jersey, mengklaim dalam keluhan bahwa luka-lukanya disebabkan oleh peristiwa yang tidak terduga atau tidak biasa pada penerbangan tahun lalu. Dia awalnya memesan penerbangannya pada Juni 2017 dalam penerbangan menggunakan United dari Newark ke Bonaire yang dijadwalkan berangkat 23 Desember 2017.
Baca juga: Diskriminasi Penumpang Israel, El Al Tolak Turunkan Dana Kompensasi
Kemudian melanjutkan dengan American Airlines untuk penerbangan dari Aruba ke Philadelphia yang dijadwalkan 3 Januari 2018. Karena adanya penundaan dan pembatalan penerbangan mengakibatkan tiket perjalanan Lagana dipesan ulang untuk beberapa penerbangan dalam perjalanan kembali Aruba ke Charlotte dan Charlotte ke Philadelphia.
Penumpang KAI Kini Bisa Cetak Boarding Pass Sejak H-7 di Stasiun Online Manapun
Lagi-lagi PT Kereta Api Indonesia (KAI) memberikan kemudahan bagi pengguna jasa. Kali ini KAI memberlakukan aturan baru terkait check in yang dimulai 17 Januari 2019 pukul 15.00 WIB. Dimana penumpang yang memiliki bukti pembelian tiket kereta api baik blanko putih yang dibeli di stasiun, email notifikasi, struk ataupun elektronik tiket, nantinya bisa melakukan check in atau mencetak boarding pas pada mesin check in counter di semua stasiun online yang melayani kereta api jarak jauh.
Baca juga: Punya KAI Access? Ini Cara Mudah Tukar Jadwal Keberangkatan Kereta
KabarPenumpang.com mengutip dari kai.id (16/1/2019), penumpang bisa melakukan check in mulai H-7 hingga H-1 (24 jam) sebelum keberangkatan kereta api. Seperti penumpang kereta api Argo Parahyangan dengan relasi Gambir menuju Bandung yang akan berangkat 2 Februari 2019, maka bisa check in di Stasiun Yogyakarta paling lambat tanggal 1 Februari 2019 atau 24 jam sebelum keberangkatan kereta api.
Tetapi jika kurang dari 24 jam, penumpang hanya bisa melakukan check in dan mencetak boarding pass di stasiun keberangkatan dan stasiun antara sesuai relasi tiket kereta api. Manajer Humas PT Kereta Api Indonesia Daerah operasi (Daop) 6 Yogyakarta, Eko Budiyanto mengatakan, adanya perubahan ini sendiri bertujuan untuk memudahkan penumpang yang akan melakukan check in jauh-jauh hari sebelum keberangkatan dari stasiun online terdekat penumpang.
Kemudahan ini juga untuk mencegah keterlambatan penumpang karena antrean check in di mesin check in counter pada hari keberangkatan. Meski begitu, sebagai pelanggan setia kereta api bisa lebih dimudahkan lagu dengan menggunakan aplikasi KAI Access.
Sebab, dengan aplikasi tersebut, penumpang tak lagi repot antri di check in counter karena ada elektronik boarding pass yang bisa di akses dua jam sebelum keberangkatan. Selain mudah, penghematan penggunaan kertas juga bisa dibantu dengan adanya ini karena tidak perlu mencetak.
Bahkan dengan menggunakan KAI Access, penumpang juga bisa merasakan berbagai manfaat lainnya seperti memesan makanan. Kehadiran aplikasi tersebut juga kini mampu membantu penumpang untuk melakukan reschedulle jadwal pemberangkatan dan melakukan pembatan tiket kereta api yang dibeli baik dari KAI Access maupun lini masa pembelian lainnya.
Baca juga: Gunakan Aplikasi KAI Access, Kini Tak Perlu Antre Cetak Boarding Pass di Stasiun
Dengan berbagai kemudahan ini, KAI berharap dapat membuat penumpang menjadi lebih nyaman dalam melakukan perjalanan kereta api dari mulai sebelum keberangkatan, selama perjalanan, hingga tiba di stasiun tujuan.
Selundupkan Bayi Boa, Seorang Penumpang Terancam Pidana Denda!
Apa jadinya jika penerbangan Anda ditemani oleh seekor ular? Bagi Anda yang cinta terhadap hewan melata yang satu ini, mungkin perjalanan ini akan sangat menyenangkan. Tapi bagaimana jika Anda merupakan seseorang yang sangat anti dengan ular? Wah, hampir dapat dipastikan perjalanan udara tersebut akan terasa sangat-sangat lama. Nah, ngomong-ngomong soal ular, baru-baru ini ada seorang penumpang yang berusaha untuk menyelundupkan ular di dalam sebuah penerbangan!
Baca Juga: Gagalkan Penyelundupan Sabu-Sabu, Petugas Avsec Adi Sutjipto Diganjar Hadiah dan Penghargaan
Dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, seorang berjenis kelamin laki-laki terpaksa diamankan oleh pihak keamanan Bandara Schönefeld-Berlin, Jerman setelah dirinya berhasil menerbangkan seekor ular dari Israel pada malam Natal 2018 kemarin. Uniknya, si penumpang yang berusia 43 tahun ini menyelundupkan ular di dalam celananya – yang sudah terlebih dahulu dibungkus dengan menggunakan karung.
Petugas bea cukai Jerman yang kala itu menyadari kejanggalan dari penumpang anonim ini – ada tonjolan besar di dalam celana, langsung menggeledahnya. Ternyata benar saja, seekor ular berjenis boa dengan panjang kurang lebih 40cm ditemukan di dalam karung tersebut.
Dalam keterangan resmi yang dirilis oleh Potsdam Custom, para petugas di bandara tersebut menyadari bahwa ada sesuatu, “yang semestinya tidak ada di dalam sana (celana),”
Ular boa sendiri merupakan salah satu hewan yang dilindungi dan diatur di bawah regulasi dari Washington Convention on the Protection of Cities, dimana setiap kegiatan ekspor maupun impor yang menyertakan ular jenis ini harus disertai dengan surat khusus.
Dikutip dari laman newsweek.com (15/1/2019), penumpang ini tidak bisa menunjukkan surat-surat keterangan tersebut, dan tindakannya masuk ke dalam kategori penyelundupan barang secara ilegal. Sebagai konsekuensinya, ia akan diperiksa lebih lanjut guna mendapatkan keterangan tambahan, sedangkan untuk ular yang diperkirakan masih bayi ini, diambil alih penanganannya oleh pusat reptil yang ada di Brandenburg, Jerman.
Baca Juga: Lagi, Calon Penumpang Kedapatan Selundupkan Emas ke Dalam Botol Suplemen Makanan
Menurut laman sumber lain, si penumpang yang kedapatan menyelundupkan hewan dilindungi ini paling ringan akan dijatuhi hukuman denda atas perbuatannya – walaupun tidak ada rincian lebih lanjut tentang nominalnya.
Airbus A320-214 PK-GQR: Sensasi Free WiFi Perdana di Armada Citilink
Menikmati WiFi di penerbangan maskapai Indonesia kini bukan hanya sebatas impian semata. Pasalnya sebagai maskapai berbiaya hemat (LCC) Citilink telah mewujudkannya, dimana penumpang bisa merasakan konektivitas yang terus tersambung selama terbang di 35 ribu kaki atau sekitar 10 ribu meter.
Baca juga: Citilink Hadirkan Fitur WiFi Onboard Pada 2019 Mendatang!
Dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers, kemarin tepatnya Rabu (16/1/2019), pesawat Airbus A320-214 dari Jakarta menuju Denpasar dengan nomer penerbangan QG 684 mulai melayani pengalaman berinternet di ketinggian 35 ribu kaki. Ini merupakan pesawat pertama Citilink yang sudah dilengkapi dengan fasilitas WiFi dalam kabinnya.
“Di dalam penerbangan QG 684 dengan nomor registrasi PK-GQR yang merupakan pesawat pertama kami dengan fasilitas koneksi WiFi, penumpang akan dapat menikmati secara perdana sambungan WiFi secara cuma-cuma untuk melakukan aktivasi Onboard dengan mudah,” kata Direktur Utama Citilink Indonesia Juliandra Nurtjahjo.
Selain itu, penumpang akan diajak melakukan aktivitas interaktif melalui akun social medianya dari ketinggian 35.000 kaki dengan menggunakan hashtag #citilinkfreewifi #koneksidiatas35000kaki #betterflycitilink. Dalam penyediaan konektivitas WiFi Onboard ini, Citilink bekerjasama dengan PT Mahata Aero Teknologi yang difasilitasi oleh Immarsat sebagai satelit dan Lufthansa technik untuk software dan hardware.
Demikian juga instalasi atas equipment WiFi ini dilakukan oleh PT Garuda Maintenance Facility AeroAsia Tbk. Kolaborasi ini menjadikan Citilink sebagai maskapai LCC pertama di Asia Pasifik yang memberikan layanan WiFi gratis dengan GX System Aviation.
“Fasilitas WiFi gratis yang disediakan oleh Citilink Indonesia diharapkan dapat mendukung peningkatan ekonomi digital Indonesia,” tambah Juliandra.
Secara umum, penyediaan WiFi gratis ini merupakan salah satu upaya Citilink sebagai digital airline yang dapat menjadi penghubung dalam berinteraksi berbasis digital bagi penduduk Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Sehingga penyediaan konektivitas on board secara gratis ini menjadi sebuah gerakan untuk mewujudkan potensi Indonesia sebagai The Digital Energy of Asia di tahun 2020.
Dikutip dari detik.com, penumpang yang berada di dalam pesawat tersebut sangat antusias menyalakan ponsel mereka saat berada di ketinggian 35 ribu kaki. Saat menyalakan WiFi, penumpang nantinya akan masuk dalam layanan InflightWiFi milik Citilink.
Awalnya penumpang akan diminta untuk memasukkan alamat email dan otomatis tersambung dengan jaringan internet di pesawat. Meski saat masuk ke jaringan butuh beberapa menit untuk tersambung, setelahnya penumpang akan bisa melakukan aktivitas internet.
“Jadi untuk yang sekarang ini kemungkinan kita hanya akan memasukkan email, tapi nanti akan ada semacam unique code yang akan diberikan pada penumpang sebelum dia terbang,” ujar Presdir Mahata Group, M Fitriansyah.
Sayangnya, karena ada regulasi, maka beberapa hal tidak bisa dilakukan dalam penerbangan seperti video call ataupun voice call. Sehingga penumpang hanya bisa mengunggah dan dan men-download serta menerima pesan dari berbagai aplikasi seperti WhatsApp, Line dan sebagainya.
Baca juga: 50MB Kuota WiFi Gratis di Rute Domestik Citilink dan Garuda Indonesia
Kuota yang diberikan pun hanya 50 MB dan ini terbatas, sehingga bila sudah habis, penumpang bisa memperpanjangnya atau menambahkannya dalam pesawat. Saat ini baru diketahui ada satu pesawat yang dilengkapi WiFi Onboard, nantinya akan terus meningkat di 12 sampai 20 pesawat lainnya.
15 Tahun Beroperasi, TransJakarta Targetkan 236 Rute di Akhir Tahun 2019
Bus TransJakarta tak terasa sudah melayani masyarakat ibu kota 15 tahun lamanya. Sejak pertama kali hadir di jalanan ibu kota pada 15 Januari 2004 lalu, keberadaannya menjadi sesuatu yang baru dalam sistem transportasi Indonesia.
Baca juga: Tandatangani MoU, TransJakarta dan MRTJ Siap Integrasikan Moda Transportasi Berbasis Massal
Kehadirannya dinilai menjadi salah satu moda angkutan massa yang berkelanjutan dan menjadi pembelajaran baik pemerintah sebagai penentu kebijakan ataupun masyarakat ibu kota. Dulu waktu pertama kali hadir, bus TransJakarta seperti kebut setoran karena menjadi moda baru untuk angkutan massal.
Namun kini tidak ada lagi sistem kejar setoran dalam operasionalnya. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) mencatat, kini ada 663 ribu penumpang per harinya yang menggunakan bus TransJakarta tersebut. Jumlah ini sendiri mengalami peningkatan yang cukup signifikan sebesar 120 persen dalam waktu kurang tiga tahun yakni pada 2016 ada 297 ribu penumpang per hari.
Peningkatan jumlah penumpang tercatat karena adanya pengembangan rute layanan langsung yang dilakukan secara masif. Dalam realisasinya PT Transportasi Jakarta menyediakan 155 rute di seluruh wilayah DKI Jakarta.
Waktu pertama kali beroperasi, TransJakarta menerapkan sistem tertutup yakni hanya ada tujuh koridor hingga tahun 2008. Sistem ini membuat penumpang harus transit di halte tertentu jika ingin melanjutkan perjalanan ke koridor lainnya.
Sistem ini cukup membuat penumpang kesulitan dan membuat masyarakat kembali ke angkutan umum yang sudah ada sebelumnya seperti Metromini, Kopaja dan bus angkutan kota lainnya. Tahun 2009, manajemen TransJakarta kemudian memberlakukan sistem jaringan antar koridor dengan membuka rute 2A Pulogadung-Kalideres dan rute 6A Ragunan-Monas.
Hingga tahun 2013 sistem serupa diberlakukan untuk menjangkau area luar koridor. Berbagai perbaikan terus dilakukan salah satunya adalah bekerja sama dengan Kopaja melalui 320 unit bus meidum yang beroperasi di enam rute.
Sehingga sistem setoran yang selama ini menjadi masalah angkutan umum dihilangkan perlahan. Lima belas tahun meluncur dijalanan ibu kota, PT TransJakarta menargetkan mengangkut sebanyak 231 juta penumpang bus TransJakarta selama tahun 2019 ini. Direktur Utama TransJakarta Agung Wicaksono mengatakan, target tersebut naik dari tahun 2018 lalu yakni 189,77 juta penumpang.
Baca juga: Perkenalkan Direksi Baru, TransJakarta Siap Integrasikan Antarmoda
“TransJakarta menargetkan jumlah pelanggan mencapai 231 juta. Untuk mencapai ini, kita akan melakukan penambahan rute secara signifikan,” ujar Agung.
BUMD Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berharap di akhir tahun 2019 ini, sudah ada 236 rute yng beroperasi. Tak hanya itu Halte TransJakarta nantinya akan tersebung skybridge dengan Stasiun LRT Veledrome.
Komunitas LGBTI: Pelatihan Petugas Bandara Akan Mengembalikan Hak Transgender
Sebagai salah satu fase yang harus dilewati setiap penumpang sebelum mengudara, pemeriksaan keamanan di bandara memang ditujukan untuk menjamin keamanan para penumpang dan setidaknya untuk meminimalisir ancaman dengan benda-benda yang tergolong berbahaya yang disimpan di dalam hand-luggage. Namun terlepas dari fungsi dari pemeriksaan keamanan tersebut, akankah para petugas keamanan tetap bersikap ‘netral’ kepada pelancong transgender?
Baca Juga: Parah! Petugas Keamanan Bandara London Lakukan Pelecehan Seksual Pada Waria
Jika merunut dari regulasinya, sudah jelas bahwasanya para petugas keamanan harus berlaku ‘netral’ kepada setiap penumpang – apapun jenis kelaminnya. Namun di luar sana masih banyak saja intimidasi yang dilakukan oleh para oknum petugas terhadap transgender. Tentu saja, intimidasi di sini tidak berbau kekerasan – melainkan lebih kepada tindak pelecehan, namun di sini, para korban tidak sedikit yang mengalami trauma. Nah, teruntuk para oknum petugas ini, perlukah manajemen memberikan pelatihan khusus agar tidak mencoreng nama perusahaan karena sikap mereka?
Melansir dari laman airport-technology.com (15/1/2019), KabarPenumpang.com mendapati informasi bahwa Lesbian Internasional, Gay, Biseksual, Trans dan Intersex Association (ILGA) – sebuah organisasi yang menyatukan lebih dari 1.300 kelompok LGBTI di seluruh dunia – ada dua masalah utama muncul pada pemeriksaan keamanan bandara.
“Salah satunya adalah masalah sosial, persepsi budaya dan yang lainnya berkaitan dengan dokumen identitas hukum,” kata Zhan Chiam, koordinator Program Identitas dan Gender Expression Gender ILGA.
Masalah sosial di sini maksudnya adalah berkaitan dengan jenis kelamin seorang transgender – dimana hal tersebut akan mempengaruhi gaya berdandan mereka. Zhan Chiam menjelaskan bahwa di bawah hukum internasional, seharusnya hal ini tidak menjadi persyaratan bagi seorang petugas untuk mengidentifikasi atau diakui oleh identitas gender mereka.
“Namun, ketika seseorang menampilkan gender yang tidak dikenali orang sebagai milik biner perempuan atau laki-laki, pihak keamanan yang dapat mengajukan serangkaian pertanyaan dan interogasi guna memastikan jenis kelamin mereka, tentu saja dengan cara yang sopan,” tambah Zhan Chiam.
Kedua adalah berkaitan dengan dokumen identifikasi pribadi seperti KTP dan lain-lain. Ini akan menimbulkan kebingungan bagi sebagian petugas manakala data yang mereka dapatkan di dokumen identifikasi pribadi tersebut bertolak belakang dengan apa yang mereka lihat di lapangan – semisal di dokumen identifikasi pribadi tertera jenis kelamin pria, namun tampilan penumpang di lapangan adalah wanita.
Baca Juga: Setarakan Kaum Minoritas, Formulir Tiket Kereta di India Akan Tambah Kolom T Untuk Transgender
“Sangat penting bagi staf bandara untuk lebih memahami bahwa beberapa orang transgender mungkin tidak memiliki dokumentasi yang cocok dengan identitas gender mereka,” ungkap Bex Stinson, kepala Trans Inklusi di kelompok LGBTI yang berbasis di Inggris.
Guna mencari jalan keluar dari polemik ini, sejumlah bandara di Amerika Serikat berkolaborasi dengan komunitas LGBTI guna memberikan pelayanan yang lebih baik kepada penumpang.
“Memastikan staf bandara menerima pelatihan keberagaman dan inklusi adalah langkah penting untuk menciptakan lingkungan yang inklusif dan ramah bagi penumpang trans. Setiap orang LGBTI harus bisa menjalani kehidupan sehari-hari mereka dengan perasaan aman dan bebas dari diskriminasi.” tutup Bex.
Busworld South East Asia 2019 Siap Digelar di Jakarta, Inilah Pameran Bus Terbesar Berskala Internasional
Bakal ada event besar yang berlangsung pada akhir Maret mendatang, persisnya pada 20 – 23 Maret akan berlangsung Busworld South East Asia 2019 di JIExpo Kemayoran Jakarta. Busworld South East Asia digadang menjadi pameran terbesar di kawasan Asia Tenggara yang menampilkan inovasi terbaru di segmen bus dan industri karoseri yang akan menampilkan berbagai macam bus, coach bus, minibus, termasuk spare parts, komponen-komponen dan juga pelayanannya.
Baca juga: Siap Kembalikan Mas Jaya Bus AKAP, Inilah Serba-Serbi Terkait Tol Trans Jawa
Inisiasi pamera bus terbesar ini digawangi oleh GEM (Global Expo Management) Indonesia bekerja sama dengan Busworld International. Busworld merupakan pameran B2B terbesar di bidang bus dan indsutri karoseri. Pameran berskala internasional ini pertama kali diadakan 47 tahun lalu di kota Kortrijk, Belgia pada tahun 1971, dan diselenggarakan secara berkala dua tahun sekali.
Guna memperkenalkan program Busworld South Asia 2019, GEM Indonesia dan Busworld International menggelar konferensi pers pada Rabu, 16 Januari 2019 di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta. Dalam acara konferensi pers dihadiri oleh Sommy Lumadjeng, Ketua Askarindo (Asosiasi Karoseri Indonesia), Kurnia Lesani Adnan, Ketua Ipomi (Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia) dan Baki Lee, Direktur Utama GEM Indonesia selaku penyelenggara pameran.
Tumbuhnya industi karoseri dan permintaan bus yang tinggi di Indonesia merupakan momen penting dalam penyelenggaraan pameran Busworld. Sommy Lumadjeng menyebutkan bahwa tahun 2019 bakal menjadi titik balik kejayaan kendaraan bus, persisnya pada 20 Deember 2018 lalu, Presiden Jokowi telah meresmikan Tol Trans Jawa yang menghubungkan Jakarta hingga Surabaya.
“Secara langsung peresmian Tol Trans Jawa membawa nilai positif bagi industri bus AKAP dan tentunya industri karoseri. Belum lagi BRT (Bus Rapid Transit) akan dibangun di sejumlah kota besar seperti Jakarta, Yogyakarta, dan Bandar Lampung, ” ujar Sommy.
Tentang pameran Busworld South East Asia merupakan pameran ketujuh pada agenda Busworld terkini setelah Turki, India, Rusia, Cina, Kazakhstan dan Kolombia. Busworld South East Asia 2019 juga akan memberikan edukasi terkini mengenai perkembangan bus baik dari dalam maupun luar negeri, dari segi regulasi sampai teknologi akan dibahas dalam Busworld Academy yang akan menghadirkan para pakar dari industri transportasi.
Baca juga: Menhub Gulirkan Rencana Bus “Trans Java,” Pengusaha Bus AKAP Utarakan Kekecewaan
Terselenggaranya Busworld South East Asia yang akan dilakukan bersamaan dengan Busworld Academy ini diharapkan bisa membantu Indonesia dalam menghadapi era industri 4.0.
Musim Hujan Suka Melancong? Gunakan Tips Ini Untuk Rawat Jaket Hujan
Musim hujan tiba, pelancong yang bepergian dan tak mau repot membawa payung biasanya memilih jas hujan atau jaket hujan. Selain simple, jaket hujan bisa melindungi penggunanya meski terkena hujan deras atau angin yang kencang. Hal ini dikarenakan sifatnya yang tidak menyerap air sehingga banyak pengguna yang lupa untuk membersihkannya.
Baca juga: Tips Kemas Barang Saat Melancong dengan Koper Kecil
Padahal jaket hujan juga ternyata perlu dibersihkan. Sebab bila tidak bau dari keringat, kotoran dan debu bisa menyerap ke dalam bahan dan perawatannya membantu menghemat uang karena jaket favorit bisa tetap digunakan untuk jangka lama.
Cara mencucinya pun berbeda dari jaket lainnya, karena jaket hujan memiliki bahan khusus yang tahan air. Dirangkum KabarPenumpang.com dari siaran pers Timberland, ada beberapa tips yang bisa digunakan pelancong untuk membersihkan jaketnya agar terlihat bagus dan melindungi pengguna dalam waktu lama.
1. Mengenal bahan jaket
Biasanya jaket hujan memiliki pori-pori yang kecil agar bahan tetap bisa bernafas dan kelemababan, termasuk keringat bisa menguap dengan mudah serta bukan mengembun di dalam jaket. Kemudian, bagian luar bahan jaket diberi lapisan tambahan yang disebut sebagai “durable water repellent” (DWR) untuk memberi bahan tersebut perlindungan ekstra dari air. DWR menyebabkan air membutir dengan cepat supaya bisa menggulir dari jaket dengan mudah. Ini mencegah air terdiam lama di atas bahan dan menyerap secara perlahan ke dalam bahan.
2. Jaket mengalami ‘wet-out’
Jaket yang sering dipakai akan terekspos pada panas, hujan, keringat, minyak kulit, dan kotoran yang semuanya akan menyebabkan DWR perlahan-lahan luntur. Akibatnya, jaket akan mudah lembab ketika terkena air dan pemakai tidak akan lagi terlindungi dari basah seperti dahulu. Proses ini disebut sebagai ‘wet-out‘.
3. Mencuci khusus
Untuk mencegah terjadinya ‘wet-out’ pada jaket, semua kotoran dan minyak yang menyebabkan lunturnya lapisan DWR perlu dibersihkan. Namun, jaket hujan tidak boleh dicuci dengan deterjen biasa karena kimia di deterjen terlalu keras bagi bahan DWR. Sebaiknya, bacalah instruksi cara pencucian yang tertera di label jaket. Jika tidak yakin bisa mencuci sendiri, kirimkan jaket ke binatu atau jika tetap ingin mencuci sendiri, gunakan cairan pencuci khusus untuk jaket hujan. Cairan ini biasanya tersedia di toko online.
4. Jangan terlalu sering mencuci
Bila terlalu sering mencuci jaket hujan, maka akan menghilangkan lapisan DWR dengan cepat. Apalagi lapisan ini akan terkikis setelah beberapa kali pencucian. Sehingga pengguna untuk membersihkan kotoran bisa dengan kain bersih setelah menggunakan jaket dan mengangin-anginkannya untuk mengeringkan sisa lembab di jaket.
Baca juga: Mau Melancong ke Hong Kong? Ada 8 Tips Penting untuk Pemula
5. Mengembalikan lapisan DWR yang telah luntur
Jika jaket hujanmu kini mudah lembab, itu berarti bahwa lapisan DWR telah luntur. Namun jangan khawatir karena lapisan DWR dapat dikembalikan dengan membeli cairan DWR yang bisa dibeli secara online. Tutup resleting jaket terlebih dahulu lalu semprot cairan DWR ke seluruh permukaan luar jaket dan beri lapisan tambahan pada area-area yang lebih terekspos atau sering bergesekan dengan benda lain, seperti bagian bahu yang sering terkena tali ransel.
