Begitu banyak jalur atau stasiun kereta api yang terbengkalai dan kini hanya sebagai peninggalan tak berarti. Malahan mungkin sudah terlupakan dan tak lagi jelas bentuknya. Sehingga cerita masa lalu tentang stasiun atau jalur kereta api tersebut benar-benar hilang dari peradaban.
Baca juga: Jejak Sejarah Stasiun Muntilan, Kini Berubah Jadi Terminal Bus Prajitno
Untungnya Stasiun Lasem tidak menghilang begitu saja, meski nonaktif bangunan stasiun masih ada dan bisa terlihat jelas bentuknya. Berada di Rembang, Jawa Tengah, Stasiun Lasem masuk dalam Wilayah Aset IV Semarang. Stasiun Lasem dulunya terminus dari paket pembangunan lintas cabang Juwana-Rembang-Lasem.
KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, pada masa jayanya dulu, stasiun yang dibangun pada masa Hindia Belanda oleh Semarang-Joana Stoomtram Maatschappij (SJS) merupakan stasiun terbesar kedua di Rembang setelah Stasiun Rembang. Pendirian Stasiun Lasem sendiri berdasarkan surat petunjuk Gubernur saat itu pada tanggal 18 Maret 1881 dan resmi dibangun tahun 1883 hingga 1900 dan dibuka secara resmi tanggal 1 Mei 1900.
(YouTube)
Luas bangunan stasiun dan overkappingnya yakni 70 m2 diatas tanah seluas 29.930 m3. Sayangnya tahun 1989 Stasiun Lasem harus ditutup karena dianggap tidak efisien, sebab banyaknya angkutan umum yang melewati jalan raya. Kini Stasiun Lasem dijadikan pangkalan truk tidak resmi dan beberapa bus besar.
Dulunya saat awal beroperasi, Stasiun Lasem hanya berfungsi sebagai stasiun pengangkut hasil bumi oleh pihak Hindia Belanda dan perusahaan kereta api SJS. Karena dulunya Lasem merupakan sentra kerajinan batik pesisiran yang terkenal, sehingga untuk mengangkut produk-produk tersebut dibutuhkan sistem transportasi terpadu yakni kereta api.
Kemudian seiringnya waktu berjalan, gerbong-gerbong penumpang hadir dan menjadi alat angkut yang bisa membawa puluhan penumpang dari Lasem menuju Semarang selama beberapa puluh tahun. Bangunan stasiun yang berada di Desa Dorokandang ini berarsitektur indish dengan sedikit sentuhan Tionghoa. Lengkungan atapnya menjadi ciri khas yang tidak ditemukan di stasiun manapun.
Pintu masuk bangunan utamanya sendiri dibuat melengkun dan di sebelah daun pintu terdapat bekas lubang loket yang terbuat dari kayu tebal. Namun kini hanya tersisa bangunan stasiun yang menyatu dengan peron dan bangunan kamar mandi yang dilengkapi dengan menara air.
Baca juga: Stasiun Mayong, Beralih Fungsi Menjadi Lobi Hotel di Magelang
Sayangnya semua kondisi sangat memprihatinkan. Tak hanya itu rel kereta apinya pun kini sudah tak lagi terlihat. Sebagian besar jalur sudah menjadi jalan kampung dengan kanan kiri dipadati pemukiman penduduk serta pemandangan sawah dan ladang. Adapula sebuah bekas jembatan kereta yang masih digunakan sebagai jalan penghubung ke desa Babagan dan Karaskepoh.
Siapa sangka, satu dekade setelah peluncuran Boeing 787 Dreamliner pertama kalinya – yang amat dibanggakan dan diklaim memenuhi harapan luar biasa dan membentuk kembali segmen industri penerbangan komersial, mengalami hambatan dewasa ini karena sorotan tengah berfokus pada pengembangan pesawat berbadan kecil (narrow body).
Baca Juga: Ini Dia Boeing 787-900 Ke-787 Milik China Southern Airlines
Masih kuat di ingatan Anda dimana pada bulan Desember 2009 silam, jutaan orang di dunia melihat penerbanan Boeing 787 Dreamliner pertama kali di internet. Senada dengan peristiwa bersejarah tersebut, pihak Boeing sesumbar mengatakan bahwa armada 787 Dreamliner akan menjadi lambang kesuksesan bagi setiap maskapai yang menggunakan pesawat wide-body ini.
Kini, hampir sepuluh tahun berlalu, dan sorotan dunia tengah tertuju pada peluncuran armada A220 dari pesaing utama Boeing, Airbus. Adapun pesawat ini dikembangkan dari hasil kolaborasi antar Airbus dan manufaktur pesawat asal Kanada, Bombardier.
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman forbes.com (17/1/2019), Airbus A220 dirancang untuk mengangkut 100 hingga 150 penumpang – tergantung konfigurasi yang diminta oleh pihak pemesan (maskapai). Armada A220 juga diklaim akan memberikan kenyamanan kepada para penumpang – kursi yang lebih lega, jendela yang lebih besar, dan penerbangan yang lebih tenang.
Bagi para pihak maskapai yang nantinya menggunakan A220, pihak Airbus menyebut bahwa varian ini lebih efisien dalam hal penggunaan bahan bakar, karena adanya perubahan perhitungan dari segi aerodinamikanya, pun dengan bahan baku pembuatan pesawat yang lebih ringan, dan penggunaan jenis mesin baru. Secara umum, Airbus A220 dapat melakoni tugas yang sama, sama halnya dengan Boeing 787 Dreamliner.
Baca Juga: Lanjutkan Tren Positif Pelayanan, British Airways Ganti Boeing 767 dengan 787 Dreamliners
Diketahui, salah satu maskapai yang telah memesan armada Airbus A220 ini adalah maskapai asal Negeri Paman Sam, Delta Air. Pihak maskapai telah mendatangkan Airbus A220 pada bulan Oktober kemarin. Menurut pihak Delta, rencananya armada teranyarnya ini akan mulai mengudara pertama kali pada bulan Januari ini.
Namun pihak Delta tidak bisa menerbangkan sebuah armada secara komersial tanpa adanya sertifikasi dari Federal Aviation Administration (FAA).
Seorang penumpang wanita paruh baya terpaksa diamankan oleh petugas bea cukai Pulau Kinmen setelah dirinya kedapatan menyelundupkan hewan di dalam penerbangannya. Kepada petugas bea cukai Pulau Kinmen – yang dikelola oleh Taiwan, wanita ini mengaku baru saja tiba dari Cina Daratan. Adapun hewan yang diselundupkan oleh wanita ini adalah gerbil, sejenis hamster. Tidak hanya satu,melainkan ada 24 gerbil yang diselundupkan oleh penumpang yang dianonimkan ini.
Baca Juga: Selundupkan Bayi Boa, Seorang Penumpang Terancam Pidana Denda!
Sebagaimana yang dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, petugas mulai menaruh rasa curiga manakala wanita ini berjalan dengan tidak normal – seperti ada yang mengganjal di dalam rok yang ia kenakan. Seketika mereka memberhentikan si penumpang guna menanyakan apa yang membuatnya berjalan speerti itu. Ketika petugas memeriksanya, benar saja, ada 24 gerbil yang diikat oleh si penumpang di sekitar pahanya.
Kepada petugas, ia mengaku membeli 24 gerbil tersebut di sebuah pet shop di Cina. “Ia membelinya untuk diberikan kepada temannya,” tutur seorang petugas East Coast Guard, dikutip dari laman express.co.uk (17/1/2019).
Menurut petugas, masing-masing dari gerbil tersebut ditempatkan di sebuah plastik dan diikat di pahanya. Ketika diamankan, si penumpang ini mengatakan bahwa ia sengaja mengikat gerbil-gerbil ini agar tersamarkan oelh rok panjang yang ia kenakan.
Sebagai tindak lanjut dari temuan ini, gerbil-gerbil tersebut lalu diserahkan kepada dokter hewan setempat guna diteliti apakah hewan ini ‘mengidap’ penyakit menular atau tidak. Selain itu, gerbil-gerbil ini juga dirawat di sana.
Baca Juga: Gagalkan Penyelundupan Sabu-Sabu, Petugas Avsec Adi Sutjipto Diganjar Hadiah dan Penghargaan
Kasus ini lalu diusut ke Kantor Kejaksaan Distrik Kinmen. Tidak menutup kemungkinan, penumpang wanita ini bisa saja didakwa telah melanggar Undang-Undang Pencegahan dan Kontrol Penyakit Hewan.
Memang, di setiap penerbangan melarang penumpang untuk membawa hewan, kecuali ada surat penunjang dan itu bersifat legal. Jika kasusnya seperti ini, maka wajar saja jika si penumpang dituduh telah menyelundupkan hewan, dimana ini merupakan sebuah pelanggaran di negara manapun. Duh, ada-ada saja ya!
Raksasa manufaktur pesawat, Airbus diketahui sangat ingin meningkatkan produksi pesawat keluarga A320, tetapi pertama-tama, diperlukan komitmen dari para produsen mesin untuk meningkatkan volume dari mesin terkait. Pihak Airbus menginginkan performa mesin yang lebih andal ketimbang model-model sebelumnya, dengan harapan, bisa mengantarkan keluarga A320 terbang lebih jauh dan lebih irit.
Baca Juga: Airbus A320-214 PK-GQR: Sensasi Free WiFi Perdana di Armada Citilink
“Kami sedang mempersiapkan keputusan untuk ‘naik ke tingkat’ yang lebih tinggi,” tutur head of commercial aircraft dari Airbus, Guillaume Faury, dikutip KabarPenumpang.com dari laman flightglobal.com (17/1/2019).
“Para produsen mesin sejauh ini menolak untuk berkomitmen untuk meningkatkan volume mesin. Dan kami paham bahwa ini merupakan diskusi yang akan berlangsung sepanjang tahun ini,” tandasnya.
Pada tahun 2018 kemarin, pihak Airbus telah mengirimkan sekira 626 pesawat keluarga A320 kepada seluruh pelanggannya, atau dengan rataan 52 pesawat per-bulannya. Kendati telah mengirimkan jumlah pesawat yang bisa dibilang tidak sedikit tersebut, namun pihak Airbus mengaku mengalami sejumlah hambatan, salah satu yang paling vokal adalah masalah rantai pasokan mesin dari produsen CFM International dan Pratt & Whitney.
Pihak Airbus sendiri berharap dapat meningkatkan pengiriman pesawat menjadi 60 unit per-bulannya pada pertengahan tahun 2019 ini. Dengan peningkatan pengiriman tersebut, akan berimplikasi pada peningkatan pendapatan perusahaan.
“Kami pernah menyinggung soal pengiriman 70 unit pesawat per-bulan pada tahun lalu, dan itu tidak berjalan sempurna. Maka dari itu, angka tersebut akan diturunkan menjadi 60 unit,” lanjut Guillaume Faury.
“Akan ada langkah perantara,” imbuhnya singkat.
Pembicaraan tentang produksi yang lebih tinggi ini datang di tengah pelambatan pesanan untuk keluarga A320 varian terbaru. Pada tahun 2018, pihak Airbus telah ‘mendaratkan’ penjualan sebanyak 541 armada keluarga A320. Angka tersebut turun dari 1.054 pada tahun 2017 dan menyamakan dengan rasio book-to-bill kurang dari satu.
Baca Juga: JetBlue Upgrade Desain Kabin Airbus A320, Tapi Penumpang Justru Merana
Tetapi Guillaume Faury tidak terlalu menandang relevansi rasio book-to-bill sebagai hal yang patut mendapatkan konsentrasi penuh, dimana ia beranggapan bahwa hal tersebut dapat mengindikasikan kesehatan bisnis di masa depan. Guillaume Faury mengatakan bahwa Airbus akan berfokus pada pemenuhan perintaan hari ini, dan hal tersebut akan menjadi prioritas utama Airbus.
“Kami tidak benar-benar melihat penurunan. Yang kami lihat adalah pengurangan kecepatan pertumbuhan,” tutur Guillaume Faury.
Setelah beberapa waktu yang lalu, marak pemberitaan tentang peresmian Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) atau yang lebih dikenal dengan Bandara Kertajati, dan ramainya gembar-gembor tentang progress dari New Yogyakarta International Airport (NYIA atau Bandara Kulon Progo), tapi tahukah Anda bandara mana yang pertama kali melayani penerbangan internasional di Indonesia? Apakah Bandara Internasional Soekarno-Hatta? Atau Bandara Halim Perdanakusuma?
Baca Juga: Ada Lima Bandara Pionir di Indonesia, Semuanya Buatan Belanda Lho!
Berdasarkan lansiran KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, ternyata bandar udara pertama di Indonesia yang melayani penerbangan internasional bukanlah kedua bandara tersebut, melainkan Bandar Udara Internasional Kemayoran. Ya, khususnya bagi Anda para warga Jakarta, tentu tahu dong dengan bandara yang sudah tidak aktif ini! Bagi Anda yang belum tahu, bandara ini sendiri terletak di daerah Kemayoran, Jakarta Pusat.
Bandar Udara Internasional Kemayoran pertama kali dibangun pada tahun 1934, dan secara resmi di buka pada 8 Juli 1940. Kendati baru di resmikan pada tanggal tersebut, tercatat pada tanggal 6 Juli 1940 sudah mengoperasikan pendaratan perdana dari pesawat berjenis DC-3 Dakota milik maskapai Koningkelije Nederlands Indische Luchtvaart Maatschapij (KNILM) yang diterbangkan dari Lapangan Terbang Tjijilitan (yang sekarang dikenal dengan nama Bandara Halim Perdanakusuma).
Bandar Udara Kemayoran Saat Ini. Sumber: istimewa
Karena dibangun dan diresmikan pada masa penjajahan, maka kondisi saling rebut kekuasaan bandara ini seperti sudah jadi hal yang lumrah. Pada Maret 1942, bandara ini diambil alih kekuasaannya oleh Kekaisaran Jepang. Adapun pesawat-pesawat pabrikan Negeri Sakura yang pernah singgah di Bandar Udara Kemayoran antara lain Mitsubishi A6M Zero, Showa/Nakajima L2D, Nakajima Ki-43 Hayabusa, Tachikawa Ki-9, dan Tachikawa Ki-36.
Pasca tragedi bom Hiroshima dan Nagasaki, Jepang yang pada akhirnya terpaksa menyerah kepada sekutu membuat Bandar Udara Kemayoran langsung direbut oleh sekutu. Sayang, kala itu Pemerintahan Indonesia tengah berpusat di Yogyakarta.
Singkat cerita, pada tahun 1958, Bandar Udara Kemayoran dikelola oleh Djawatan Penerbangan Sipil, yang sekarang lebih dikenal sebagai Direktorat Jenderal Perhubungan Udara. Memasuki era 1970-an, bandara ini mulai dibagi porsi penerbangan internasionalnya. Pada 10 Januari 1974, hampir semua penerbangan internasional di sini dipindahkan ke Bandara Halim Perdanakusuma – tidak pada penerbangan domestiknya.
Baca Juga: Menara ATC Tintin: Cagar Budaya yang Tergerus Modernisasi Ibu Kota
Tak lama berselang, lokasi Bandar Udara Kemayoran ini dianggap terlalu dekat dengan basis militer Indonesia, Bandara Halim Perdanakusuma. Sejak saat itu, keberadaan dari Bandar Udara Kemayoran ini mulai ’dipertimbangkan’ kembali. Seiring dengan rampungnya pembangunan Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Cengkareng, eksistensi dari Bandar Udara Kemayoran mulai tersisihkan dan wacana tentang ditutupnya bandara ini semakin santer.
Hingga pada 31 Maret 1985, Bandar Udara Kemayoran resmi berhenti beroperasi. Kendati masih seumur jagung, tapi bandara ini juga pernah mejeng di komik “The Adventure of Tintin” lho! Maka dari itu, menara Air Traffic Control (ATC) yang pernah muncul di komik ini disebut “Menara Tintin”.
Tak hanya kendaraan roda empat yang dilengkapi dengan airbag untuk melindungi pengemudi atau penumpang yang duduk didepan saat terjadi kecelakaan. Sebab sebentar lagi pengguna sepeda juga bisa aman dengan adanya rompi airbag yang baru-baru ini diluncurkan dan dipamerkan minggu lalu di CES (Consumer Electronic Show) 2019.
Baca juga: Bila Tak Cermat, Airbag Justru Bisa Membayakan Anda
Dikutip KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (15/1/2019), hadirnya rompi ini karena menurut perusahaan Perancis Helite, sekitar 40 persen cedera serius pengguna sepeda mengenai torkas dan 25 persen pada bagian tulang belakang. Sehingga dengan adanya ini perusahaan teknolgi airbag tersebut membuat B’Safe yang adalah sebuah rompi sepeda dan akan mengembang saat penegndara sepeda terjatuh atau mengalami kecelakaan.
B’Safe sendiri memiliki dua bagian dimana rompi ini sendiri dan unit elektronik terpisah yang dipasang di bawah sadel. Dari keduanya ini akan mendapat respon dua jenis kecelakaan utama pada pengendara sepeda. Kasus kecelakan disebabkan oleh dampak sepeda, accelerator di sadel yang mendeteksi kejutan tiba-tiba.
Hal ini menyebabkan unit secara nirkabel memperingatkan sensor gerak di rompi. Jika sensor tersebut mendeteksi bahwa pengendara terjatuh dari sepedanya, itu menyebabkan kartrid CO2 yang dapat diganti pengguna langsung mengembang airbag rompi. Seluruh proses, dari deteksi hingga inflasi penuh, dilaporkan hanya memakan waktu 80 milidetik.
Dalam insiden non benturan seperti jika sepeda menabrak di bawah kondisi yang licin, sensor gerak rompi masih mendeteksi perubahan orientasi pengendara secara tiba-tiba, menyebabkan airbag mengembang. Sistem dihidupkan hanya dengan mengancingkan rompi ke atas dan untuk mematikannya pengguna hanya perlu membuka ritsleting.
Satu muatan USB dari baterai rompi seharusnya baik untuk penggunaan selama tujuh hari, sedangkan unit sadel harus dapat beroperasi selama lima tahun dengan satu baterai. Seorang perwakilan perusahaan mengatakan bahwa B’Safe akan tersedia pada Musim Semi ini di Eropa dan AS, dengan harga US$700 atau sekitar Rp9,8 juta.
Baca juga: 30 Tahun Airbag Hadir Untuk Keselamatan Dunia Otomotif
Helite, kebetulan, sebelumnya telah mengembangkan sistem airbag yang dapat dikenakan untuk melindungi pemain ski menuruni bukit dan manula dari cedera akibat jatuh. Selain itu, perusahaan Swedia Hövding sudah menawarkan perangkat yang dikenakan di leher yang secara otomatis mengembang menjadi helm ketika kecelakaan bersepeda terdeteksi.
Indonesia, negara yang dikelilingi lautan, memiliki kapal motor penumpang, kapal ferry dan kapal lainnya sebagai moda transportasi penyeberangan. Kapal-kapal ini menjadi salah satu pilihan untuk menuju suatu kota selain bus, kereta api dan pesawat. Bahkan meski arus laut tak bisa diprediksi, masyrakat masih banyak juga yang memilih menggunakan transportasi ini.
Baca juga: KMP Ihan Batak, Kapal Ferry Ro-Ro Mewah di Danau Toba
Baru-baru ini PT ASDP Indonesian Ferry berencana untuk membuka layanan kapal penyeberangan dengan rute internasional lima tahun kedepan. Rencana ini sendiri hadir untuk memudahkan masyarakat yang menggunakan kapal menyeberang ke luar negeri. Ada dua rute yang akan dikembangkan dan diarungi kapal milik ASDP yakni Malaysia dan Timor Leste.
Direktur Utama PT ASDP Ira Puspadewi menyebutkan pihaknya tengah mengembangkan dua rute yakni Nusa Tenggara Timur (NTT) menuju Timor Leste dan Riau menuju ke Malaysia. Dalam pengembangan tersebut, ASDP akan bekerjasama dengan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) agar izin dari kedua negara tersebut prosesnya lebih mudah.
“Mudah-mudahan bangun kapal internasional NTT-Dili dan Dumai-Melaka,” ujar Ira yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman tribunnews.com (18/1/2019).
Ira melanjutkan, dengan dibukanya dua rute tersebut guna menambah jumlah wisatawan dari kedua negara tetangga itu dan juga bisa berdampak pada pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, meski begitu Ira belum menjelaskan lebih lanjut terkait rencana tersebut dan juga belum memaparkan berapa jumlah dana yang akan dikeluarkan untuk proyek tersebut.
Meski ada rencana pengembangan, PT ASDP juga tak melupakan pelayanan di tanah air. Sebab untuk pengembangan kapal dan dermaga dalam negeri ASDP sudah mengalokasikan dananya sebesar Rp2,2 triliun di tahun 2019 ini. Direktur Keuangan PT ASDP Djuma Satriawan mengatakan, dari odal yang ada saat ini, sebanyak Rp500 miliarnya didapatkan dari Penyertaan Modal Negara (PMN) dan sisanya berasal dari dalam perusahaan.
Baca juga: Rolls-Royce dan Finferries Hadirkan Falco, Kapal Ferry dengan Kendali Otonom
Dalam rincian sebanyak 39 persen dari dana tersebut nantinya akan digunakan untuk perbaikan kapal-kapal yang sudah tua dan pengadaan sebelas kapal baru. Sebanyak 24 persen untuk pengembangan dermaga dan sembilan persen untuk investasi peningkatan pelayanan dserta sisanya untuk pengembangan bisnis di sektor pariwisata.
“Perusahaan tidak hanya fokus pada bisnis penyeberangan saja tapi juga ekspansi ke sektor pariwisata yang juga mempiliki prospek bagus,” tutur Ira.
Menikmati perjalanan bersama hewan piaraan mungkin saja terjadi dalam penerbangan dengan izin khusus dari maskapai. Namun bagaimana saat berada di dalam sebuah penerbangan dan duduk di kelas bisnis ditemani oleh seekor burung Myna (brurung Jalak) yang entah milik siapa alias burung tanpa pemilik.
Baca juga: Gara-Gara Ikan, Mahasiswi Ini Dikawal Bak Kriminal Saat Masuk Pesawat
Kejadian unik tersebut baru-baru ini dialami oleh penumpang kelas bisnis Singapore Airlines dari Changi, Singapura dengan tujuan Bandara Heatrow, London, Inggris. KabarPenumpang.com yang melansir dari laman khaleejtimes.com (16/1/2019), mendapatkan bahwa burung Myna tersebut menjadi penumpang gelap di kelas bisnis dua jam sebelum pendaratan di Bandara Heathrow Inggris pada 7 Januari 2019 kemarin.
Dalam sebuah rekaman video, burung ini terlihat di atas sandaran kepala sebuah kursi kelas bisnis yang tidak ada penumpangnya. Sehingga tidak ada yang terganggu dengan kehadiran burung Myna ini. Tak hanya itu, dalam rekaman juga terlihat awak kabin yang mencoba menangkapnya.
Sayangnya burung Myna yang berada di dalam penerbangan Airbus A380-800 SQ322 tersebut tidak bisa tertangkap langsung alias menghindari tangkapan awak kabin. Namun akhirnya burung tersebut bisa ditangkap dengan bantuan beberapa penumpang dan memberikannya pada awak kabin.
Kemudian saat tiba di Bandara Heathrow, burung tersebut diserahkan kepada otoritas karantina hewan. Rekaman video burung tersebut sempat diunggah ke laman Facebook oleh penumpang yang merekamnya.
Video tersebut telah dilihat lebih dari 30 ribu kali dan dihapus kemudian diunggah kembali ke YouTube. Diketahui, burung yang umumnya ditemui di Asia Selatan tersebut memasuki pesawat Singapore Airlines dan bersembunyi di tempat yang tak terlihat atau tempat gelap lainnya dalam pesawat.
Diperkirakan burung tersebut sudah berada selama 12 jam setelah pesawat lepas landas dari Bandara Internasional Changi. Karena sempat diunggah ke media sosial, beberapa warganet banyak yang tertawa tetapi juga banyak yang khawatir dengan nasib burung Myna itu.
Akun @xpkwek menulis: “Kasihan sekali. Apakah mereka akan mengirim burung itu kembali ke Singapura? Bayangkan berada di tempat asing.”
Pengguna Twitter @danselstory memposting: “Sekarang saya ingin tahu @SingaporeAir, apakah kalian membawanya kembali ke Singapura? Atau biarkan saja di London? ”
Beberapa tweep berpikir burung itu agak berselera dalam pilihan penerbangannya, @Sushil_bdq memposting: “Itu terbang dengan pesawat A380. Sangat pemilih … ”
Baca juga: Lagi Enak Makan Cemilan, Tiba-Tiba Seekor Anjing ‘Nimbrung’ di Celah Kursi Pesawat
Netizen lainnya cemburu pada burung yang melakukan perjalanan kelas bisnis sebelum mereka melakukannya.
Tweep @bradleyearp memposting: “Saya tidak pernah terbang dengan kelas bisnis. Tapi burung ini punya. Apa yang saya lakukan salah dalam hidup? “
Aplikasi ride-sharing saat ini bukan hanya merambah pengantaran manusia, barang, makanan dan layanan kebutuhan pribadi. Namun kini juga merambah pelayanan untuk asuransi bagi para penggunanya. Ya, Grab aplikasi transportasi online baru saja mengumunkan bermitra dengan ZhongAn Technologies International Group Limited (ZA International) untuk membentuk joint venture (JV) masuk dalam pasar asuransi digital di Asia Tenggara.
Baca juga: Sering Gunakan Layanan Ride-Sharing? Baca Tips Ini Agar Tetap Aman!
Dikutip KabarPenumpang.com dari laman resmi Grab (16/1/2019), ZA Internasional nantinya akan membawa aset-aset teknis untuk menciptakan platform dan wawasan terkait ekosistem dalam JV tersebut. Grab juga akan meluncurkan platform asuransi digital dalam aplikasi sehingga mampu menjangkau jutaan pelanggan dalam memberikan produk asuransi sesuai kebutuhan masing-masing orang.
Platform tersebut akan hadir perdana di Singapura di kuartal pertama tahun 2019 sebelum negara lain. Kehadirannya sendiri diharapkan membuka akses terhadap produk asuransi bagi masyarakat yang termasuk dalam kategori uninsured dan underinsured melalui ponsel mereka. Ini akan memudahkan sebab, bisa langsung mencari dan membeli produk asuransi dengan biaya terjangkau melalui aplikasi Grab tanpa agen.
“Peluncuran platform asuransi ini merupakan bagian dari komitmen kami untuk menjadi everyday superapp terkemuka di Asia Tenggara. Dengan lebih dari 130 juta unduhan aplikasi Grab di Asia Tenggara dan kehadiran kami di 336 kota, pengetahuan mendalam kami mengenai perilaku dan kebutuhan pelanggan memunngkinkan kami untuk menyediakan produk asuransi inovatif yang memberikan nilai lebih bagi pelanggan kami,” ujar President of Grab Ming Maa.
“Pengetahuan mendalam kami mengenai perilaku dan kebutuhan pelanggan memunngkinkan kami untuk menyediakan produk asuransi inovatif yang memberikan nilai lebih bagi pelanggan kami,” tambahnya.
Vice General Manager ZhongAn Wayne Xu menjelaskan pihaknya telah bekerja sama dengan lebih dari 300 mitra ekosistem internet.
“Kami sangat senang dapat mengumumkan kerja sama yang bersifat komprehensif ini bersama Grab sebuah perusahaan internet besar di Asia Tenggara. Selama lima tahun terakhir, ZA Insurance memperoleh pengalaman dan pemahaman yang mendalam untuk menyediakan pelanggan generasi baru dengan perlindungan terhadap berbagai risiko dalam hidup mereka,” ungkapnya.
Baca juga: Ingat! Anda Berhak Peroleh Kompensasi Setelah Lapor Kehilangan Bagasi di Bandara
Meski demikian belum ada informasi kapan layanan asuransi tersebut akan dibawa untuk pelanggan Grab di Indonesia. Sebelumnya Grab juga mengungkap bahwa di 2019 akan ada dua layanan baru yakni travel dan kesehatan.
Puluhan ribu penumpang pesawat di delapan bandara Jerman telah diperingatkan akan mengalami gangguan karena pada Selasa (15/1/2019), karena akan ada aksi mogok yang dilakukan para pekerja di delapan bandara Jerman. Aksi mogok ini dilakukan untuk merevisi pembayaran upah mereka agar dinaikkan dari yang sebelumnya.
Baca juga: Too Good To Go – Aplikasi di Bandara Munich untuk Pesan Makanan dan Kurangi Limbah
Adanya pemogokan yang dilakukan maka mempengaruhi 220 ribu penumpang yang akan berangkat dari delapan bandara tersebut. KabarPenumpang.com merangkum dari airport-technology.com (16/1/2019), delapan bandara tersebut yakni Munich, Hanover, Bremen, Hamburg, Leipzig/Halle, Dresden, Erfurt dan Frankfur.
Aksi mogok kerja ini dilakukan serikat buruh Jerman Vereinte Dienstleistungsgewerkschaft (Verdi) yang mulai berlangsung pukul 02.00 pargi hingga 20.00 malam waktu setempat. Verdi dan serikat buruh mewakili sekitar 23 ribu pekerja keamanan penerbangan Jerman bersama serikat buruh DBB Beamtenbund dan Tarifunion untuk melakukan negosiasi kenaikan upah.
Serikat pekerja ini menuntut agar upah dinaikkan menjadi €20 per jam untuk semua pekerja yang menyediakan layanan penumpang, barang dan pemeriksaan barang di seluruh bandara Jerman. Sebab saat ini upah bervariasi di seluruh Jerman dengan pekerja di beberapa bandara Jerman timur berpenghasilan sekitar €14 setiap jamnya dan €17 untuk pekerja di ibu kota dan bagian barat Jerman.
Karena pemogokan ini, bandara tersibuk di Jerman yakni Frankfurt Fraport harus membatalkan 610 dari 1200 penerbangan terjadwal. Sedangkan Munich menghentikan hampir 100 penerbangan domestiknya. Pemogokan ini sendiri dikatakan asosiasi bandara ADV mengatakan hal tersebut sebagai bentuk tidak tanggung jawab.
“Verdi secara tidak adil melakukan pemogokan ini di punggung para pelancong, maskapai penerbangan dan bandara,” ujar Kepala ADV Ralph Beisel.
Sebagai serikat kerja, Verdi mempertahankan posisinya dan menyatakan hal tersebut untuk meningkatkan tekanan kepada para petinggi yang gagal menghasilkan apapun.
Baca juga: Pajak Bandara di Beirut Naik, Masyarakat Lakukan Demonstrasi
“Pengusaha sama sekali tidak menanggapi pemogokan peringatan pekan lalu, mereka belum datang dengan tawaran yang ditingkatkan,” kata Anggota dewan Verdi Ute Kittel.
Sementara asosiasi pengusaha, BDLS menawarkan kenaikan antara dua hingga 6,4 persen. Putaran negosiasi berikutnya akan berlangsung pada tanggal 23 Januari.