Perkenalkan Direksi Baru, TransJakarta Siap Integrasikan Antarmoda

Kurang lebih sudah lima pekan, PT Transportasi Jakarta merombak jajaran direksinya. Nama Agung Wicaksono yang sebelumnya menjabat menjadi Direktur Operasional dan Pemeliharaan PT MRT Jakarta ditunjuk oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk naik jadi Direktur Utama PT Transportasi Jakarta, menggantikan posisi yang sebelumnya dijabat oleh Budi Kaliwono. Tidak hanya Agung, ada empat nama lain yang kini juga terpampang di jajaran direksi yang membawahi moda transportasi TransJakarta ini. Baca Juga: Tandatangani MoU, TransJakarta dan MRTJ Siap Integrasikan Moda Transportasi Berbasis Massal Berdasarkan pantauan langsung KabarPenumpang.com pada acara “Temu Jurnalis” yang digelar oleh PT Transportasi Jakarta, Selasa (11/12/2018), adapun nama lain yang muncul di jajaran direksi PT Transportasi Jakarta adalah Achmad Izzul Waro sebagai Direktur Pelayanan dan Pengembangan dan untuk Direktur Keuangan PT Transportasi Jakarta kini dijabat oleh Welfizon Yuza. “29 Oktober kemarin, saya diperintahkan Pak Anies (Gubernur DKI Jakarta) untuk jadi direktur TransJakarta, alasannya hanya satu, yaitu untuk integrasi (antarmoda),” ujar Agung. Tidak bisa dipungkiri, isu integrasi antarmoda ini memang tengah dimatangkan oleh sejumlah perusahaan penyedia layanan transportasi. Salah satu yang dapat dijadikan patokan integrasi antarmoda adalah dari sistem pembayarannya. Nah, mungkin beberapa dari Anda sudah ada yang kenal dengan JakLingko. Bagi yang belum tahu, JakLingko adalah kartu integrasi pembayaran yang dapat digunakan oleh multi moda. Jadi cukup gunakan JakLingko untuk bayar bea TransJakarta dan MRT Jakarta kelak. “Integrasi punya beberapa faktor, salah satunya adalah sistem pembayaran, seperti sudah jadi ciri khas,” terang Direktur Pelayanan dan Pengembangan, Izzul Waro. Masifnya pembangunan di sektor transportasi Jakarta kerap kali menimbulkan stigma miring di masyarakat. Tidak sedikit dari mereka yang beranggapan bahwa antarmoda transportasi adalah pesaing yang saling unjuk gigi untuk merebut hati penumpang. “Stigma persaingan antarmoda masih berkembang di masyarakat, padahal tidak, kita saling support satu sama lain,” tandasnya. Baca Juga: Percayakan Produk Eropa Ketiga Kalinya, TransJakarta Resmi Gunakan Sasis Volvo Karena pada dasarnya, para penyedia layanan transportasi berbasis massal di Jakarta punya satu tujuan yang jelas dan senada – memerangi kemacetan yang kian hari semakin parah. Di sisi lain, Direktur Operasional PT Transportasi Jakarta, Daud Joseph mengatakan siap menjangkau semua wilayah yang hingga saat ini masih belum dijamah oleh TransJakarta. “Kami siap meng-cover setiap wilayah di Jakarta, semua daerah akan kita operasikan TransJakarta,” jelasnya singkat.

Helm Ini Dapat Sadarkan Anda Ketika Mulai Mengantuk!

Mengantuk saat berkendara? Duh, ini merupakan hal yang sangat berbahaya dan dapat mengancam nyawa seseorang! Tidak memandang apakah itu pengemudi mobil, terlebih sepeda motor, mengantuk memang kerap kali menjadi latar belakang sejumlah kecelakaan maut. Mulai dari kurang tidur, hingga masalah pada bagian helm adalah dua faktor yang sering menyebabkan seseorang mengantuk ketika dalam perjalanan. Baca Juga: Aplikasi ini Dirancang Untuk Sadarkan Pengemudi Lelah dan Mengantuk Ya, ternyata helm juga dapat menjadi salah satu penyebab kantuk saat berkendara. Kondisi muka yang tertutup oleh kaca helm sering membuat mata terasa lelah dan kekurangan udara. Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman klikdokter.com, dr. Suci Dwi Putri menyarankan untuk sesekali membuka kaca helm untuk menyegarkan wajah Anda. Ia juga menyarankan untuk tidak melakukan ini terlalu sering karena dinilai tidak aman bagi keselamatan pengendara. Tapi perkataan dr. Suci tersebut berkorelasi dengan hembusan angin yang menerpa wajah kita ketika kaca helm berada dalam kondisi terbuka. Hal ini tidak jarang membuat seseorang juga menjadi mengantuk ketika berkendara. Jadi pada intinya adalah harus seimbang, kapan waktunya untuk menutup keseluruhan kaca helm, kapan waktunya untuk membuka kacanya. Namun, ini terdengar sedikit rumit – dimana Anda harus membuka tutup helm selama perjalanan. Untungnya, seorang alumnus jurusan Teknik Manufaktur Universitas Surabaya bernama Kristiawan Manik menciptakan helm anti-kantuk yang memadukan sebuah helm dengan sejumlah teknologi. Dikutip dari laman sumber lain, Kristiawan yang akrab disapa Kris ini menamai helm tersebut dengan nama Anti Drowsing System (Androsys). Helm Androsys ini memanfaatkan denyut nadi seseorang sebagai sensor kantuk saat mengemudi. Pada kondisi normal, jumlah denyut nadi seseorang dapat mencapai 80 denyut per menit. Jumlah tersebut bakal menurun ketika Anda mulai mengantuk. Baca Juga: Sering Ngantuk Padahal Cukup Tidur, Mungkin Inilah Sebabnya! Nah, ketika denyut nadi Anda kurang dari 80 denyut per menit, maka sebuah mikro controler akan mengirimkan pesan untuk disalurkan ke vibrator. Lantas vibrator yang dilekatkan di kepala bagian atas bakal bergetar dan dapat menjamin Anda tidak akan mengantuk selama perjalanan. “Ide berawal berawal dari banyaknya kecelakaan karena pengemudinya mengantuk. Lalu saya juga sempat membaca di surat kabar kalo angka kecelakaan paling banyak dipicu karena pengendara mengantuk,” tutur Kris.

Sebelum Buka Rute Ke AS, Garuda Indonesia Bersiap Buka Penerbangan Langsung Ke Istanbul

Sebelum membuka penerbangan rute Jakarta – Los Angeles pada kuartal kedua tahun depan (2019), Garuda Indonesia terlebih dahulu mencanangkan membuka penerbangan langsung rute Jakarta – Istanbul, Turki pada awal tahun 2019. Saat ini Garuda Indonesia memang telah melayani rute Jakarta – Istanbul non stop, namun dengan cara codeshare dengan maskapai Turkish Airlines. Baca juga: Transit di Seoul, Garuda Indonesia Siap Buka Rute Jakarta – Los Angeles di Q2 2019 Pernyataan pembukaan rute langsung Jakarta – Istanbul, diungkapkan Direktur Utama Garuda Indonesia Ari Askhara Danadiputra dalam situs thejakartapost.com (6/12). Dengan hadirnya opsi tersebut, menjadikan ada dua pilihan maskapai yang melayani penerbangan langsung Jakarta – Istanbul (Bandara Ataturk). Dengan dibukanya jalur ke Turki, maka nantinya dimungkinkan koneksi lebih lanjut ke beberapa kota di Eropa Barat. Belum dijelaskan jenis pesawat yang nantinya akan digunakan untuk melayani rute baru ke Istanbul, namun masih dari sumber yang sama, Ari Askhara menyebut jenis Boeing 787 Dreamliner adalah pilihan yang ideal, dengan ukuran pesawat yang lebih kecil tapi mempunyai kinerja serta jangkauan lebih jauh. Selama ini penerbangan code share bersama Turkish Airlines menggunakan pesawat widebody Boeing 777. Penerbangan ini dilakukan setiap hari, dan menjadi pilihan utama wisatawan dari Indonesia yang ingin bertandang ke Turki. Baca juga: Mau Berlibur ke Istanbul? Baca Dulu Beberapa Tips Berikut Ini! Istanbul memang menjadi daya tarik favorit wisatawan dari Indonesia, sebut saja disana Anda bisa melihat The Blue Mosque, Hagia Sophia Cathedral, menghabiskan waktu berjalan-jalan di Alun-alun Sultanahmet, hingga melintasi Jembatan Galata yang terkenal merupakan beberapa spot wisata yang tidak boleh Anda lewatkan.

Setelah X-Ray, Kini Giliran Robot Patroli Hadir di Stasiun MRT Singapura

Belakangan ini, pengamanan pada prasarana transportasi di Singapura kian ketat, sebagai contoh adalah penggunaan X-ray bagi calon penumpang yang akan memasuki stasiun MRT (Mass Rapid Transit). Dan masih terkait pengamanan pada area stasiun, Land Transport Authority (LTA), sebagai otoritas yang berwenang mengatur transportasi darat di Singapura, telah memperkenalkan sosok robot untuk tugas patroli. Baca juga: Antisipasi Serangan Teroris, Stasiun MRT Singapura Akan Dilengkapi Pemindai X-Ray Dikutip KabarPenumpang.com dari straitstimes.com (6/12), pihak LTA telah mengonfirmasi kehadiran satu unit robot patrol di Stasiun MRT Hougang. Status penggunaan robot ini masih dalam tahap uji coba, dimana LTA tengah mencoba alur navigasi dan kapabilitas pengawasan yang dapat dilakukan. “Di masa depan, penggunaan robot untuk patroli akan berpotensi menggantikan peran hadirnya petugas keamanan,” ujar juru bicara LTA. Robot berwarna putih dengan tinggi 1,6 meter ini dikembangkan langsung oleh ST Engineering. Fitur yang melekat pada robot patroli ini adalah 7 unit kamera pengintai yang dapat memanta situasi 360 derajat. Untuk akurasi lokasi, robot ini juga dilengkapi GPS (Global Positioning System), plus beragam sensor seperti LIDAR (Light Detection and Ranging) dan laser tracker. Dalam tahap lanjutan, LTA menyebut robot akan punya kemampuan analisa video dan audio. “Tahapan latihan kali ini akan memetakan potensi kehadiran robot yang diperlukan untuk menjamin keamanan di area transportasi publik,” kata pihak LTA. Sebagai konsol kendali ditempatkan pada unit kendaraan, yang di dalamnya operator dapat memanta lewat kamera, serta memungkinkan mengirimkan output data langsung ke Pusat Operasi LTA di Hampshire Road. Sebelumnya, robot sejenis yang dioperasikan pihak Kepolisian Singapura telah dijajal kemampuannyua pada 33rd Asean Summit di Suntec Singapore International Convention and Exhibition Centre. Baca juga: Bantu Penumpang Bawa Barang Hingga ke Gerbang, KLM Hadirkan Robot Care-E Menurut Dr Rohan Gunaratna dari International Centre for Political Violence and Terrorism Research di S. Rajaratnam School of International Studies, pengetatan keamanan pada stasiun MRT menjadi isu yang dikedepankan Singapura setelah pada tahun 2010 lalu ditemukan peta Stasiun MRT Orchard di rumah seorang tersangka teroris yang tewas di Indonesia. Pada peta yang ditemukan, nampak posisi stasiun Orchard yang dilingkari.

Aniaya Awak Kabin, Penumpang Qantas Terpaksa Mendekam di Hotel Prodeo!

Seorang penumpang pria dijatuhi hukuman satu tahun kurungan setelah dirinya kedapatan ‘membanting’ tubuh seorang awak kabin pada penerbangan Qantas pada bulan April tahun 2017 lalu. Adalah Patrick Walters, seorang penumpang Qantas Airways rute Port Hedland – Brisbane yang menjadi tersangka dalam kasus ini, dimana dirinya dituduh menyerang seorang awak kabin bernama Karyn Dwyer. Baca Juga: Ternyata, Qantas Airways Itu Merupakan Singkatan dari… Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman foxnews.com (10/12/2018), pria berusia 48 tahun ini disinyalir berada di bawah pengaruh minum-minuman beralkohol ketika masuk ke dalam pesawat. Kala itu, Patrick tidak sendiri. Ia ditemani oleh seorang teman yang juga berada di bawah kendali alkohol. Namun karena kondisi teman Patrick ini lebih parah, maka dari itu pihak maskapai tidak mengijinkannya masuk. Sempat terjadi perdebatan antara teman Patrick ini dan awak kabin yang bertugas kala itu. Tidak ingin melewatkan momen, Patrick langsung berinisiatif untuk mengeluarkan ponselnya dan berupaya untuk merekam perdebatan tersebut. Namun ketika hendak merekam, ia diperingati oleh Karyn Dwyer untuk tidak melakukan pengambilan gambar apapun selama berada di dalam kabin. Karyn yang kala itu tengah berusaha direkam oleh Patrick berusaha untuk mengambil ponsel yang digunakan Patrick untuk merekam. Namun sial, Karyn malah didorong oleh Patrick hingga dirinya terpental ke belakang. Tidak diketahui secara pasti apakah ada luka serius yang dialami oleh Karyn, namun selama perjalanan, ia menghabiskan waktu di dalam ruang kokpit. Sementara itu, Patrick dan temannya ini terpaksa dikawal selama berada di dalam pesawat. Ternyata kasus ini berbuntut hingga ke meja pengadilan. Pihak pengadilan Australia melalui Hakim Goetze mengatakan bahwa adanya indikasi tindak kekerasan pada kasus yang menyeret kedua orang mabuk ini dan tentu saja – ada hukuman yang siap menanti mereka berdua. Baca Juga: Qantas Airways – The “Flying Kangaroo” Rajai Maskapai Teraman di Dunia “Temuan saya adalah adanya tindak kekerasan … dan itu adalah jotosan,” tukas Hakim Goetze. Menurut laporan dari laman sumber lain, Karyn sempat mengalami penganiayaan setelahnya, dimana Patrick sempat memukul bahu, pinggul, dan kepala Karyn. Sang awak kabin ini mengaku bahwa dirinya mengalami trauma jika harus berhadapan dengan penumpang pasca insiden tersebut. Patrick baru bisa memenuhi syarat untuk pembebasan bersyarat setelah melewati enam bulan kurungan.  

Jijik! Penumpang British Airways Dapati Bangku Putrinya ‘Digenangi’ oleh Cairan Urin

Seorang penumpang British Airways mengklaim bahwa putrinya diberi tempat duduk yang berbau menyengat dan basah seperti terkena air seni selama penerbangan tujuh jam dari Roma menuju Bandara Internasional Logan di Boston via Bandara Internasional Heathrow di London pada 18 November 2018 silam. Alih-alih membersihkan tempat duduk yang tidak layak tersebut, pihak maskapai enggan melakukannya dengan dalih akan menunda jadwal penerbangan. Duh! Baca Juga: British Airways Flight 9, Guratan Kelam Dunia Aviasi Akibat Abu Vulkanik Adalah Ann Fretts, seorang warga Boston yang tengah terbang bersama anaknya ini yang menjadi korban dari tindakan kurang mengenakkan ini. Kepada media setempat, Ann menuturkan bahwa, “anak perempuan saya mengalami hari yang mengerikan di penerbangan bersama British Airways,” dikutip KabarPenumpang.com dari laman foxnews.com (9/12/2018). “Bangku putri saya dibasahi oleh urin, pun dengan lantai dan dindingnya. Belum lagi baunya yang sangat menyengat,” tandas sang Ibu. Ketika Ann memberitahukan kepada pihak awak kabin mengenai hal ini, pihak awak kabin pun tidak bisa menyangkal bahwa bau yang ditimbulkan dari bangku tersebut adalah bau urin. Akhirnya putri Ann dipindahkan ke bangku lain dan awak kabin langsung menutupi bangku tersebut dengan menggunakan semacam selimut – namun tetap saja baunya tidak hilang. Sebagai upaya untuk menghilangkan baunya, awak kabin British Airways lalu menyemprotkan cairan anti-odor yang malah berdampak buruk bagi Ann yang kebetulan duduk di samping bangku tersebut.
Sumber: Twitter
“Saya duduk di samping bangku itu selama tujuh jam penerbangan,” tutur Ann. Ternyata cairan yang disemprotkan awak kabin tersebut diduga kuat telah mengakibatkan iritasi pada hidung dan tenggorokannya. “Saya terpaksa menutupi hidung dan mulu dengan menggunakan polo shirt yang saya kenakan selama penerbangan,” jelasnya. Kesialan Ann dan putrinya ini ternyata tidak berakhir sampai di situ saja. Banku putri Ann yang baru juga tenyata bermasalah – dimana sistem hiburan on-board tidak berfungsi. Menurut penuturan Ann, ia melihat ada bekas tumpahan anggur pada sistem hiburan on-board tersebut dan sesekali timbul percikan api akibat adanya korsleting. “Headphone putri saya pun tidak berfungsi,” Baca Juga: Dua Hari Tanpa Akomodasi dan Makanan, 200 Penumpang British Airways Terlantar di Bandara Ketidakpuasan Ann terhadap pelayanan British Airways ini berbuntut pada tuntutan yang dilayangkan Ann agar pindah ke penerbangan lain. Namun tuntuan Ann tersebut ditolak oleh staf British Airways dengan alasan yang tidak disebutkan. Lalu ia meminta pengembalian dana kepada pihak maskapai, namun pihak maskapai hanya mengembalikan US$168 untuk bangku baru yang diduduki oleh putrinya tersebut. Sebelumnya, Ann dikenakan biaya senilai tersebut untuk mengadakan bangku baru bagi putrinya. Hingga saat ini, Ann mengklaim bahwa pihak British Airways masih belum mengembalikan biaya penerbangan tersebut.

Tawarkan Paket Menarik, Scoot Layani Penerbangan Umrah dengan Boeing 787 Dreamliner

Jasa maskapai yang melayani rute penerbangan Umrah kini kian ramai, persisnya setelah maskapai berbiaya murah asal Singapura, Scoot, yang merupakan milik Singapore Airlines Group, telah mengumumkan melayani penerbangan Umrah dari 5 kota di Indonesia ke Jeddah, Arab Saudi melalui Singapura dengan harga terjangkau. Baca juga: Q4 2019, Scoot Akan Pindah dari Terminal 2 ke Terminal 1 di Bandara Changi Scoot menawarkan harga tiket pulang pergi mulai Rp4.840.000 untuk kelas Economy FLY dan Rp9.340.000 untuk kelas ScootBiz (kabin campuran). Scoot terbang dari 5 kota di Indonesia yaitu Jakarta, Denpasar, Surabaya, Palembang, dan Pekanbaru; dengan Balikpapan, Lombok, Makassar, Manado, Semarang, dan Yogyakarta akan segera bergabung dengan jaringan pada tahun 2020. Saat ini, Scoot merupakan satu-satunya LCC yang melayani jemaah Umrah Indonesia dengan transit di Bandara Changi Singapura. Untuk penerbangan 3 kali seminggu dari Singapura ke Tanah Suci, Scoot mengoperasikan pesawat Boeing 787 Dreamliner dengan kabin yang luas, atmosfer kabin yang nyaman, tidak berisik, dan kompartemen kabin yang lebih besar. Dikutip dari siaran pers yang dierima KabarPenumpang.com (10/12), pada saat memesan tiket, penumpang juga dapat membeli fasilitas modern tambahan seperti konektivitas WiFi dalam penerbangan, stopkontak saluran listrik di kursi, serta makanan hangat, makanan ringan, dan minuman dari menu Scoot Café yang terus diperbarui. Penumpang juga dapat menikmati ScooThru – konektivitas tanpa hambatan antara Indonesia, Singapura, dan Arab Saudi, di mana penumpang tidak perlu melewati imigrasi dan check-in pada saat transit di Singapura. Melalui ScooThru, bagasi check-in akan langsung diangkut ke tujuan terakhir, dan apabila terjadi delay sehingga penumpang ketinggalan penerbangan lanjutan, penumpang akan diberangkatkan dengan penerbangan yang tersedia berikutnya tanpa biaya tambahan. Dalam pemasarannya, Scoot telah bermitra dengan lebih 100 agen perjalanan di Indonesia. Produk full-service untuk pemesanan grup antara lain kursi standar, jatah bagasi check-in 30 kg, jatah bagasi kabin sampai 10 kg, makanan hangat bersertifikat halal dan makanan ringan lezat, selimut, dan jatah bagasi air zamzam 5 kg. Baca juga: Inilah 10 Destinasi Favorit Pelancong Milenial Indonesia Versi Scoot Sebagai catatan, dalam penerbangan antara Indonesia dan Singapura menggunakan pesawat (narrow-body) Airbus A320. Sedangkan dalam penerbangan antara Singapura dan Jeddah menggunakan pesawat berbadan lebar (wide-body) Boeing 787 Dreamliner. Sejak tahun 2016, Scoot telah melayani lebih dari 110.000 penumpang dari Indonesia ke Jeddah, baik penumpang solo maupun grup.

Transit di Seoul, Garuda Indonesia Siap Buka Rute Jakarta – Los Angeles di Q2 2019

Akibat krisis finansial yang melanda Asia, berimbas pada penutupan rute Jakarta – Los Angeles pada tahun 1997. Maka sejak itu berakhirlah rute jarak jauh yang menjadi kebanggaan Garuda Indonesia sejak dekade 80-an. Dan kini dekade telah berganti, ada kabar bahwa maskapai plat merah ini berencana untuk kembali membuka rute ke Los Angeles, Amerika Serikat pada kuartal kedua tahun 2019. Baca juga: Korean Air, Setiap Hari Layani Penerbangan Langsung Cengkareng-Incheon Bila dahulu Garuda Indonesia melayani rute Jakarta – Los Angeles via Honolulu, Hawaii, maka di tahun 2019, jalur yang akan dilalui berbeda. Dari Jakarta akan transit terlebih dahulu di Seoul, Korea Selatan, baru kemudian melintasi Pasifik Utara menuju daratan Amerika Serikat. Hal ini disebutkan oleh Direktur Utama Garuda Indonesia Ari Askhara yang dikutip dari thejakartapost.com (6/12). Sebelumnya pada tahun 2017, sempat tersiar kabar rencana pembukaan rute ke Los Angeles, namun sebagai Bandara transit adalah Narita di Tokyo, Jepang. Izin dari FAA (Federal Aviation Administration) sudah diberikan, meski masih dalam proses saat itu. Mengutip sumber dari kompas.com (24/1/2017), upaya Garuda Indonesia dalam membuka rute ke AS masih terhambat di Otoritas Penerbagan Sipil Jepang. Dalam hal ini, Kementerian Pertanahan, Infrastruktur dan Transportasi Jepang untuk mendapatkan hak angkut kelima. Hak angkut kelima diperlukan Garuda Indonesia karena dalam rute penerangannya dari Jakarta ke Los Angeles terlebih dahulu transit di Narita. Izin tersebut digunakan untuk mengangkut penumpang dari Jepang ke Amerika Serikat, bukan untuk kembali ke negara asal. Baca juga: DC-10 30, Kenangan Pesawat Trijet Jarak Jauh di Era Keemasan Garuda Indonesia Direktur Garuda Indonesia saat itu, M Arif Wibowo mengatakan upaya dalam mendapatkan hak angkut kelima tersebut merupakan kerja sama antar pemerintah atau government to government (G to G). “Yang mengajukan itu Kementerian Perhubungan atas permintaan Garuda karena ini ‘G to G’ menyangkut ‘fifth freedom traffic right’ (hak angkut kelima),” tuturnya. Garuda Indonesia melalui Kemenhub telah mengajukan penerbangan tujuh hari seminggu (daily flight).

Uji Pemindai “Walk Through,” Bandara Cardiff Jamin Potong Antrean Plus Tingkatkan Keamanan

Sebuah alat pemindai super sensitif yang akan ‘menguak’ berbagai ancaman keamanan tersembunyi diketahui tengah diuji coba di Bandara Cardiff di Inggris beberapa waktu yang lalu. Adapun alat pemindai berjenis walk-through ini menggunakan teknologi ruang angkasa yang akan menggambarkan panas tubuh manusia – hasil kolaborasi antara Sequestim Ltd. (sebuah perusahaan keamanan) dan ilmuwan dari Universitas Cardiff. Baca Juga: Pemindai Generasi Baru Siap Deteksi Laptop di dalam Tas Proses computer learning yang juga menjadi bagian dari alat pemindai ini memungkinkan petugas keamanan untuk membedakan antara ancaman dan bukan, tanpa penumpang harus berhenti atau menanggalkan pakaian mereka. Berdasarkan lansiran KabarPenumpang.com dari laman phys.org (4/12/2018), Bandara Cardiff sendiri mengakomodasi 12 juta penumpang setiap harinya dengan 120.000 penerbangan yang tersedia. Teknologi ini juga dipercaya mampu memotong antrean di terminal bandara, dimana ini akan berimplikasi pada keefektifan sistem keamanan dan mampu membantu menjaga penumpang tetap aman dari beragam ancaman. “Jumlah penumpang di sektor moda udara diperkirakan akan berlipat ganda dalam 20 tahun ke depan, menempatkan fasilitas keamanan bandara di bawah tekanan besar,” ujar Ken Wood, Direktur Penjualan dan Pemasaran Sequestim Ltd. “Pemindai kami menggabungkan sejumlah teknologi terdepan di dunia yang dikembangkan oleh tim kami di Inggris. Alat ini menggunakan tubuh manusia sebagai sumber ‘pencahayaan’, berbeda dengan pemindai yang ada saat ini. Sistem kami pun hanya membutuhkan waktu beberapa detik saja untuk memindai seseorang,” tandasnya. Dapat Anda bayangkan, semisal sistem futuristik ini rampung kelak, maka Anda tidak perlu lagi menanggalkan jaket, melepas segala sesuatu yang mengandung logam – cukup berjalan normal melintasi gerbang pemeriksaan. Uji coba sistem pemindai ini sendiri berlangsung sejak tanggal 4 hingga 7 Desember dan digaungkan tidak akan mempengaruhi perjalanan penumpang di Bandara Cardiff. “Kami memiliki sejarah inovasi yang membanggakan di Inggris dan keselamatan penumpang di semua moda transportasi tetap menjadi prioritas penting bagi pemerintah,” tutur Menteri Aviasi Inggris, Liz Sugg. Baca Juga: Cina Siap Kontrol Warganya dengan Teknologi Pemindai Wajah “Program Future Aviation Security Solutions menunjukkan dukungan kami untuk proyek perintis yang dapat membantu mengurangi ancaman keamanan di bandara. Saya secara pribadi senang melihat bahwa bantuan yang diberikan kepada Sequestim telah memberikan dampak positif pada perkembangan teknologi ini dan siap untuk menjadi bagian dari sistem penyaringan penumpang baru di Bandara Cardiff,” imbuhnya.  

Tidak Ada Masalah dengan Pesawat, Garuda Indonesia Tetap Lanjutkan Pengadaan Boeing 737 Max 8

Rencana Rusdi Kirana, pendiri Lion Air Group untuk membatalkan pesanan ratusan unit Boeing 737 Max series telah menjadi headline utama di berbagai media. Maklum nilai kontrak untuk lebih dari 190 unit pesawat tersebut mencapai US$22 miliar, atau setara Rp314 triliun. Pangkal musababnya apalagi jika bukan terkait insiden jatuhnya Lion Air JT-610 di Teluk Karawang pada 29 Oktober silam. Baca juga: Buntut Insiden JT-610, Pihak Lion Air Bisa Batalkan Pesanan Pesawat ke Boeing! Akibat insiden tragis yang menewaskan 189 penumpang dan awak tersebut berimbas pada respon di dunia aviasi. Seperti Direktorat Penerbangan Sipil India yang menyarankan kepada maskapai pengguna pesawat Boeing 737 Max untuk melakukan evaluasi menyeluruh, terutama pada ‘Maneuvering Characteristics Augmentation System’ selama penerbangan. Di Amerika Serikat, asosiasi pilot di Negeri Paman Sam juga mempertanyakan mengapa Boeing tidak memberitahu pada awak tentang aplikasi anti stall, fitur yang kini menjadi bahan investigasi oleh Komisi Nasional Keselamatan Transportasi Nasional (KNKT). Meski pamor Boeing dengan produk 737 Max tengah dipertanyakan, namun maskapai Garuda Indonesia, yang juga sebagai pengguna Boeing 737 Max 8, menyatakan bahwa kinerja pesawat yang digunakan berjalan dengan baik dan tidak ada masalah. Dikutip dari thejakartapost.com (6/12), Presiden Direktur PT Garuda Indonesia Ari Askhara Danadiputra mengatakan, bahwa saat ini Garuda Indonesia telah mengoperasikan satu unit Boeing 737 Max 8 dan sesuai jadwal akan mendatangkan 49 pesawat serupa sampai tahun 2030. Baca juga: Pesawat Canggih Boeing 737 Max 8 Lion Air Jatuh Perairan Tanjung Karawang, Ini Dia Spesifikasinya! Bahkan Ari Askhara mengatakan rencananya akan tiba 3 unit Boeing 737 Max 8 pada tahun 2020. “Kami akan menunggu laporan kecelakaan terakhir dan akan melihat apa masalahnya. Bila nanti ada perbaikan atau penarikan yang diperlukan kami akan mengikutinya,” ujar Ari Askhara terkait eksistensi Boeing 737 Max 8.