Mumtaz Rais belakangan namanya menjadi buah bibir karena kedapatan mengaktifkan atau menggunakan ponsel saat di pesawat. Bahayanya lagi, pesawat Garuda Indonesia rute Gorontalo-Jakarta yang ditumpanginya saat ‘menggunakan’ ponsel diketahui tengah transit untuk mengisi bahan bakar di Bandara Hasanuddin, Makassar.
Baca juga: Dapat Teror Bom Hoax, Singapore Airlinea SQ423 Dapat Pengawalan dari Dua Jet F-16
Padahal, baik mengaktifkan atau memainkan ponsel saat di pesawat ataupun saat sedang mengisi bahan bakar, baik di bandara maupun di SPBU disebut sama-sama berbahaya. Benarkan demikian?
Dikutip dari ABC Australia, bahaya memainkan atau mengaktifkan ponsel (HP), gawai, tablet, dan sejenisnya saat di SPBU sudah ada sejak tahun 2002 lalu. Beberapa di antaranya menyebut bahaya ponsel di SPBU sudah ada sejak tahun 1999.
Namun, alih-alih benar adanya, bahaya ponsel saat mengisi bensin di SPBU rupanya hanya mitos belaka. Setidaknya itu yang dikatakan Dr Ken Karipidis dari Badan Perlindungan Radiasi dan Keamanan Nuklir Australia (ARPANSA). “Mitos ini telah ada selama lebih dari 15 tahun,” jelasnya.
Selain itu, masih dari Australia, Chris Althaus, CEO Australian Mobile Telecommunications Association (AMTA), pernah mengungkapkan, hasil investigasi biro keselamatan transportasi Australia pada 2005 menemukan ada sekitar 243 insiden kebakaran di SPBU antara 1993-2004. Awalnya, dugaan terkuat ledakan di SPBU disebabkan oleh ponsel atau gawai. Namun pada akhirnya, para ahli tak menemukan bukti apapun soal hubungan ponsel dan ledakan.
Masih belum cukup? Di tahun 1999, Shell UK Oil pernah melakukan penelitian tentang hubungan bahaya ponsel di SPBU, termasuk dugaan ponsel menyebabkan ledakan. Tahun 2003, British Petroleum juga mengkaji soal itu. Hasilnya, energi frekuensi radio atau gelombang elektromagnetik yang dipancarkan ponsel diketahui terlalu rendah untuk menyebabkan percikan api. Di tahun 2006 lalu, penelitian lainnya juga menemukan hasil serupa. Lantas, mengapa masih ada larangan mengaktifkan ponsel saat di SPBU?
Mark McKenzie, CEO dari Australasian Convenience & Petroleum Marketers Association, sebagaimana dimuat ABC Australia mengungkap, meskipun tak ditemukan adanya bahaya ledakan akibat ponsel, namun, tetap saja, ponsel tidak didesain untuk di lingkungan seperti SPBU. Jadi, pendekatan yang dilakukan berupa tindakan pencegahan.
Di samping itu, larangan mengaktifkan ponsel sebetulnya lebih untuk melindungi akurasi takaran karena gelombang elektromagnetik yang dikeluarkan ponsel dapat mengganggu kinerja mesin sehingga takaran jadi tak optimal.
Hoax bahaya mengaktifkan HP di SPBU juga mirip-mirip dengan bahaya mengaktifkan ponsel selama di pesawat, baik saat pesawat di udara maupun di darat. Namun, untuk kasus mengaktifkan ponsel di pesawat ini sebetulnya masih tergolong debatable. Sebab, masih ada temuan dan pembuktian berbeda.
Menurut catatan Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA), sebagaimana dilaporkan BBC, peralatan elektronik individu (PED) beberapa kali kerap membuat kinerja pilot jadi tak maksimal. Sebab, sistem komunikasi dan navigasi pesawat diduga jadi terganggu akibat gelombang elektromagnetik dari ponsel di dalam kabin. Hal itu juga dikonfirmasi dalam sebuah tulisan di theconversation.com. Namun, sekali lagi, hal ini dibantah oleh Chris Althaus, CEO AMTA.
“Tidak ada bukti kuat bahwa ponsel dapat mengganggu sistem pesawat dari dalam kabin penumpang,” jelasnya.
“Meskipun insiden (terganggunya sistem komunikasi dan navigasi pesawat akibat ponsel) dilaporkan secara teratur oleh petugas di udara, laporan anekdot ini belum dikonfirmasi disebabkan oleh ponsel,” tambahnya.
Baca juga: Terima Pesan Hoax, Eurofighter Typhoon Inggris Paksa Mendarat Ryanair
Dalam sebuah survei tahun 2013, sekitar empat dari 10 penumpang pesawat di AS mengaku mereka tidak selalu mematikan peralatan elektronik (mode pesawat) mereka. Namun, hingga kini, tak ada satupun pembuktian ilmiah yang menyebut ponsel sebagai penyebab kecelakaan pesawat. Hanya saja, layaknya bahaya main ponsel di SPBU, karena bisnis pesawat dasarnya zero mistake, maka, penggunaan ponsel di pesawat tetap dilarang untuk alasan keamanan.
Jika sudah begini, bagaimana, Anda masih menganggap bermain ponsel sebagai tindakan berbahaya di SPBU dan pesawat?
Jamu menjadi salah satu minuman tradisional orang Indonesia dan selama pandemi ini, jamu menjadi yang paling di cari untuk menjaga kebugaran dan kesehatan tubuh. Nah bagaimana kalau jamu juga disajikan dalam penerbangan untuk menggantikan atau menambah varian minum baru dalam menu?
Baca juga: HokBen Pasok Menu Baru di Garuda Indonesia, Bagaimana Quality Control-nya?
Ya, tepat pada 17 Agustus 2020 dalam rangka menyemarakkan perayaan Hari Ulang Tahun Ke-75 Kemerdekaan Republik Indonesia, PT Garuda Indonesia bekerja sama dengan PT Mustika Ratu dengan menghadirkan jamu di menu hidangannya dalam Festive Season Inflight Independence Day. Dikutip KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Presiden Direktur PT Mustika Ratu, Bingar Edigius Situmorang mengatakan, pihaknya berharap dengan adanya kerja sama ini, bisa membantu meningkatkan industri jamu di dalam negeri yang masih cukup berpotensial.
Ini karena Indonesia memiliki beragam tanaman herbal yang sangat bermanfaat untuk kesehatan tubuh dan dunia usaha juga semakin kreatif didukung perkembangan pasar online yang menjadi salah satu faktor utama pentingnya generasi milenial terhadap industri jamu.
“Hal ini untuk menghidupkan kembali jamu sebagai minuman modern yang inovatif serta menjadi bagian dari lifestyle yang sehat bagi masyarakat Indonesia,” ujar Edigius.
Dalam kerja sama ini Mustika Ratu menghadirkan fresh jejamu dalam lima varian rasa yakni Kunir Asam, Coco Pandan Latte, Temulawak Latte, Golden Tumeric Latte dan Jahe Merah Sereh. Edigius menambahkan, mereka juga menghadirkan jamu kemasan modern dan siap minum (RTD) seperti Gula Asam, Beras Kencur dan Kunir Asam.
“Keduanya, disediakan sebanyak 4.500 unit dan akan didistribusikan oleh tim manajemen Garuda Indonesia kepada penumpang yang berangkat dari Jakarta ke tujuan golden routes yakni Semarang, Makassar, Solo, Surabaya, Medan, Pekanbaru, Denpasar, Yogyakarta, Balikpapan dan Palembang serta rute strategis tujuan internasional Singapura dan Hongkong,” jelasnya.
Menurut Egidius, jejamu ini adalah jamu fresh yang diracik dengan resep asli dari DR. BRA Mooryati Soedibyo yang biasa dibuat untuk kesehatan para raja dan ratu di keraton. Selain Jejamu dan RTD, Mustika Ratu juga menyiapkan personal health kit yang terdiri dari masker dan hand sanitizer Zaitun.
Direktur Layanan, Pengembangan Usaha, dan IT Garuda Indonesia, Ade R Susardi mengatakan, sejalan dengan misi Garuda Indonesia untuk memperkenalkan keragaman budaya serta keramahtamahan khas Indonesia dalam seluruh touch point layanan penerbangan, jalinan kerja sama dengan Mustika Ratu diharapkan dapat menghadirkan pengalaman penerbangan yang lebih berkesan bagi penumpang.
“Kami tentunya berharap berbagai upaya peningkatan layanan baik pada aspek safety, keamanan dan kenyamanan penerbangan tersebut dapat semakin menggiatkan confident dan minat masyarakat untuk menggunakan moda transportasi udara di masa adaptasi kebiasaan baru ini bersama Garuda Indonesia,” kata Ade.
Baca juga: Mulai 1 Oktober, Singapore Airlines Tawarkan Ramen untuk Penumpang Kelas Satu dan Bisnis
Sayangnya, kehadiran jamu dari Mustika Ratu dalam penerbangan Garuda Indonesia tidaklah lama. Ade menyebutkan ini hanya berlangsung pada penerbangan di 17 Agustus 2020 untuk memperingati HUT RI Ke-75 Kemerdekaan Republik Indonesia.
“Ini hanya satu hari saja,” ujarnya ketika dihubungi KabarPenumpang.com, Selasa (18/8/2020).
Sebelum pandemi Covid-19 melanda dunia, revolusi teknologi dalam industri penerbangan sudah dimulai di berbagai belahan dunia baik di bandara maupun maskapai. Tetapi karena pandemi semua dituntut untuk bisa lebih cepat dalam membuat perjalanan penumpang yang aman dan nyaman.
Baca juga: Eurostar Hadirkan Sistem Pemindaian Wajah, Penumpang Lintas Negara Tak Perlu Perlihatkan Tiket dan PasporKabarPenumpang.com merangkum nationalgeographic.com (13/8/2020), di bandara dan di dalam pesawat mengudara, banyak yang diperlukan saat ini seperti robot pembersih, seragam yang kini menyerupai alat pelindung diri (APD) dan pemeriksaan kesehatan wajib yang bisa menjadi standar perjalanan udara di masa depan. Berikut ini beberapa teknologi yang dapat mengubah pengalam terbang para pelancong.
1. Robot yang membantu dalam pembersihan
Selama pandemi, desinfektan menjadi hal baru dan ultraviolet C (UV-C) menjadi yang terdepan dan bisa merusak DNA serta RNA virus sehingga membuatnya bereplikasi dan mati. Saat ini Bandara Internasional Pittsburgh, telah bekerja dengan startup lokal Carnegie Robotics untuk menguji robot pembersih otonom yang menggunakan tekanan air dan desinfektan kimiawi sebelum pandemi. Bahkan perusahaan ini menawarkan untuk memasang komponen UV-C.
Robot ini mampu bekerja selama sepuluh jam sehari sebelum perlu untuk diisi ulang. Sedangkan Bandara Internasional Cincinnati di Northern Kentucky, juga memiliki robot pembersih yang menggunakan teknik lebih tradisional dan mirip Roomba. Robot yang dibuat oleh AvidBots Kanada ini menggunakan teknologi 3D dan laser untuk memetakan rute dan mengalihkan di sekitar kios, gerobak makanan atau membantu anak-anak tersesat.
2. Wajah Anda sebagai paspor
Beberapa bandara dan maskapai sebelum pandemi terjadi sudah menggunakan teknologi tanpa sentuh untuk mempercepat pengalaman naik pesawat. Andrew O’Connor, wakil presiden manajemen portofolio di Sita mengatakan, teknologi yang ada akan menjadi lebih populer dan lebih cepat dari yang diharapkan.
“Anda dapat menggunakan wajah Anda tanpa harus terlalu sering menyentuh,” kata dia.
Wajah akan dipindai dengan perangkat biometrik dan sebagaian besar menggunakan sensor yang memungkinkan fitur unik seseorang, seperti lekukan telinga, bentuk dahi yang bisa membuktikan identitas. Maskapai seperti Delta, Air France dan JetBlue telah mulai meluncurkan proses boarding biometrik sebelum pandemi.
3. Pemeriksaan kesehatan menjadi standar
Tak lagi menggunakan termometer biasa, beberapa bandara kini mulai menguji kamera skrining termal berjalan yang beroperasi dengan mendeteksi panas yang berasal dari tubuh seseorang dan kemudian memperkirakan suhu intinya. Perangkat baru bernama Symptom Sense dapat memberikan gambaran yang lebih baik kepada maskapai penerbangan tentang status kesehatan penumpang. Alat itu terlihat dan berfungsi seperti gerbang detektor logam yang dilalui para pelancong dalam perjalanan menuju penerbangan mereka.
Dalam lima detik alat ini mengumpulkan suhu penumpang, kadar oksigen dalam darah, detak jantung, dan laju pernapasan. Derek Peterson, CEO Soter Technologies, perusahaan di balik Symptom Sense, mengatakan bahwa teknologi tersebut diluncurkan pada bulan Juni dan dia sudah dalam pembicaraan dengan bandara, maskapai penerbangan dan TSA tentang menambahkan perangkat untuk memeriksa tanda vital penumpang sebagai bagian dari prosedur penyaringan.
“Pada dasarnya kami meniru kunjungan dokter. Anda ingin membangun pendekatan berlapis untuk mengetahui apakah seseorang sehat atau tidak sehat,” kata dia.
4. Aplikasi seluler membantu perjalanan
Penumpang telah menggunakan ponsel cerdas selama lebih dari satu dekade untuk check in penerbangan, mencari tahu apakah mereka akan ketinggalan koneksi putar cepat, atau berganti kursi. Tetapi perangkat seluler akan menjadi lebih menonjol dalam pengalaman terbang selama Covid-19. Saat pengenalan wajah tidak tersedia, aplikasi seluler dapat berinteraksi dengan kios dan gerbang untuk mengurangi sentuhan.
“Apa pun yang dapat Anda lakukan untuk mengurangi jumlah orang yang terjebak adalah ide yang bagus,” kata Paloma Beamer, seorang profesor kesehatan masyarakat di Universitas Arizona.
Di Bandara Internasional Miami dan beberapa bandara Amerika Serikat lainnya, perangkat lunak analitik gerak yang disebut Safe Distance dipasang untuk membantu penumpang mempraktikkan jarak sosial dan untuk mengumpulkan data tentang bagaimana orang berkumpul dan bergerak melalui antrean. Sistem menggunakan kamera untuk melacak pergerakan dan komputer untuk menghitung angka.
5. Awak kabin punya seragam baru
Saat ini awak kabin tak lagi berpakaian rapi seperti biasanya, mereka telah menggunakan APD untuk perlindungan diri. Beberapa maskapai yakni Qatar Airways, AirAsia, Thai Airways, dan Philippine Airlines telah membuat awak kabin menggunakan APD setiap bertugas dalam penerbangan mereka. AirAsia bahkan bukan menggunakan APD melainkan membuat seragam awak kabin seperti kostum hazmat yang dilengkap dengan masker, dan kacamata atau faceshield.
Tak hanya itu, awak kabin Philippine Airlines memakai pelindung wajah dan jumpsuits putih bergaya medis dengan garis pelangi di satu bahu. Dr. Niket Sonpal, seorang ahli gastroenterologi di Touro College of Medicine mengatakan, mode fungsional seperti ini baik untuk digunakan tetapi mereka harus menggunakannya seperti tengah berada di lingkungan medis.
“Harus ada pelatihan APD,. Bagaimana cara memakainya, bagaimana tidak gelisah dengannya, lalu bagaimana cara melepasnya,” ujar Niket.
Baca juga: Antisipasi Covid-19, Awak Kabin AirAsia Punya Seragam Baru Mirip Kostum Hazmat
Tujuannya tetap untuk melindungi penumpang dan pramugari, yang berisiko tinggi terkena Covid-19 di tempat kerja. Awak kabin dan pekerja penting lainnya membutuhkan dukungan dari tempat kerja mereka dan orang-orang di sekitar mereka untuk mengikuti pedoman kesehatan seperti memakai masker dan membersihkan tangan mereka.
“Masih banyak yang belum diketahui tentang novel coronavirus ini,” katanya.
Bulan Juni lalu, jagat industri penerbangan dihebohkan dengan temuan sekitar 262 dari 860 pilot aktif atau 1 dari 3 pilot berlisensi palsu di Pakistan. Jauh sebelum itu, negara tetangga Pakistan, India, tahun 2011 lalu lebih luar biasa lagi, dengan indikasi adanya sekitar 4 ribu pilot berlisensi palsu.
Baca juga: Gawat, 1 dari 3 Pilot di Pakistan Pakai Lisensi Palsu!
Di tahun 2019, kasus pilot berlisensi palsu juga terjadi di Afrika Selatan. William Chander, pilot maskapai South African Airways (SAA), ditangkap pihak berwajib setelah kedapatan hanya memiliki lisensi PPL. Padahal, selama kurang lebih 20 tahun, pilot tersebut menerbangkan pesawat berbadan lebar serta pesawat-pesawat lainnya yang tak sesuai dengan lisensinya.
Pilot tersebut kedapatan berlisensi palsu setelah terjadi sebuah insiden. Kala itu, ia sedang bertugas menjadi co-pilot dalam penerbangan dengan Airbus A340-600. Pesawat tujuan Jerman itu kemudian mengalami turbulensi dan pilot tersebut terindikasi tak menguasai teori atau prosedur saat terjadi turbulensi. Ia pun akhirnya diperiksa dan mengaku menggunakan lisensi pilot Airline Transport Pilot License (ATPL) palsu.
Pada 2010, seorang pilot di Swedia juga kedapatan menggunakan lisnesi palsu setelah 13 tahun mengudara. Sekalipun selama bertugas tak pernah sekalipun terlibat kecelakaan, namun, pada akhirnya ia tetap diadili dengan pidana kurungan penjara selama 12 bulan serta denda sejumlah uang.
Kasus pilot berlisensi palsu memang seolah tak pernah ada habisnya. Panjangnya proses untuk menjadi seorang pilot, besarnya biaya, hingga merasa telah menguasai materi atau teori menerbangkan dan menurunkan pesawat disebut sebagai beberapa penyebab.
Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, proses menjadi seorang pilot memang tidaklah mudah. Setidaknya, ada empat tahap seseorang untuk menjadi pilot. Tentu masing-masing tahap memiliki tingkat kesulitan tersendiri.
Tahap pertama, tentu calon pilot harus mengikuti pendidikan di sekolah-sekolah pilot. Selain tekad kuat, syarat tidak buta kronis, tidak buta warna, dan bebas narkoba juga wajib dipenuhi untuk bisa mengenyam pendidikan pilot. Belum lagi sederet tes, mulai dari tes potensi akademik (TPA), tes kemampuan dasar (TKD), tes kebugaran, tes medis, tes teori penerbangan, tes bakat terbang, hingga wawancara, semua harus dilalui para calon pilot dengan sebaik-baiknya.
Baca juga: Frank William Abagnale Jr. – Pilot ‘Gadungan’ yang Sukses Berkeliling Dunia Secara Gratis!
Tahap berikutnya lebih menantang lagi, mulai dari ground school, simulasi dan solo flight, hingga tes untuk mendapatkan lisensi pilot. Lisensi ini pun juga beragam jenisnya, seperti private pilot license (PPL), commercial pilot license (CPL), instrument rating (IR), multi-engine rating (MER), airline transport pilot license (ATPL), dan type rating (TR). Masing-masing jenis lisensi pilot memiliki tingkat kerumitan tersendiri, baik dari segi kualifikasi maupun tes.
Dengan rentetan proses panjang tersebut, di samping lemahnya pengawasan, pada akhirnya hanya menjadi kesempatan bagi para oknum untuk ‘bermain’. Ironisnya, di saat yang besamaan, para calon pilot juga tergoda untuk mengambil jalan pintas demi menjadi seorang pilot sekalipun dengan lisensi palsu.
Jika Miangas adalah pulau terluar di utara Indonesia, maka Kepulauan Rote sering disebut juga dengan Pulau Roti, terletak di Provinsi Nusa Tenggara Timur, adalah pulau terluar di selatan Indonesia. Dan seperti halnya Miangas, Pulau Rote selain strategis sebagai pos pertahanan perbatasan bagi TNI, pulau ini juga punya daya tarik tersendiri sebagai tujuan wisata. Anda mungkin kenal alat musik Sasando yang cara memainkannya dipetik seperti gitar namun bentuknya seperi cangkang keong, ini salah satu alat musik tradisional Pulau Rote.
Baca juga: Pulau Miangas, Garda Terdepan Yang Eksotis di Utara Indonesia
Selain sasando,budidaya lontar, wisata pantai dan topi adat Ti’i Langga menjadi ciri khas Pulau Rote. Saat ini Rote dengan pulau-pulau kecil disekitanya sudah menjadi Kabupaten Rote Ndao yang ditetapkan melalui Undang-Undang No. 9/2002. Sebenarnya untuk sampai ke Pulau Rote ini cukuplah mudah baik melalui laut maupun udara.
Pantai Oeseli
Sebab kedua moda transportasi ini sudah menjangkau kepulauan Rote setiap harinya. Untuk sampai ke pulau paling selatan Indonesia ini, Anda bisa berangkat dari Kupang, NTT. Bila dengan jalur udara saat ini dari Kupang menuju Baa sudah dilayani sehari sekali perjalanan baik dari dan ke ke Baa (Kepulauan Rote). Bandara di Pulai Rote punya nama David Constantia (DC) Saudale, yang pengelolaanya dibawah naungan Direktorat Jenderal Perhubungan Kementerian Perhubungan.
Penerbangan yang dilayani oleh Bandara DC Saudale memang masih terbatas rute lokal dari Kupang dengan pesawat ATR 72-600. Ada 3 maskapai yang beroperasi di sini termasuk Wings Air, Susi Air dan Trans Nusa. Penerbangan dilayani dengan frekuensi setiap hari. Waktu tempuh dari Bandara El Tari Kupang menuju ke Bandara DC Saudale hanya butuh sekitar 25 menit saja.
Tak hanya lewat udara, Anda juga bisa menggunakan kapal ferry yang mengangkut logistik dan penumpang umum dengan rute Kupang ke Pantai Baru sekitar empat jam perjalanan atau dengan kapal cepat Kupang menuju Baa sekitar dua jam perjalanan. Waktu tempuh dari Pelabuhan Kupang menuju ke Ba’a biasanya ditempuh selama sekitar 3,5 jam dengan kapal ferry lambat atau sekitar 1 jam 40 menit dengan kapal ferry cepat.
Baca juga: Tanpa Jalur Ini, Pulau Samosir Tak Tersambung dengan Daratan Sumatera
Sayangnya jalur kapal cepat ini sering sekali terhalang akibat cuaca buruk. Tak hanya kedua pulau tersebut, ada rute lain yang dilayani perahu dan kapal motor dari pelabuhan rakyat seperti Papela (Rote Timur), Oelaba (Rote Barat Laut), Batutua (Rote Baat Daya) dan Ndao (Pulau Ndao).
Di kepulauan Rote ini, Anda bisa menjelajahi banyak pemandangan alam seperti pantai Nembrala yang banyak digunakan para peselancar untuk mengejar ombak. Pantai Nembrala ini sudah berskala internasional, selain ombaknya pasir putih dengan nyiur-nyiur melambai menambah daya tarik pantai ini sendiri. Untungnya, pantai ini belum terlalu ramai, tetapi perkembangannya cukup pesat karena sudah banyak bangunan penginapan dengan berbagai tarif.
Pulau Rote
Selain Nembrala, ada pantai Bo’a, dimana pengunjung akan merasakan seperti di Hawaii. Pantai Bo’a terletak di Kecamatan Rote Barat, juga menjadi salah satu lokasi yang dijadikan tempat pertandingan selancar, karena memiliki gulungan ombak terbesar kedua setelah Hawaii. Untuk menikmati pemandangan ini, Anda bisa datang antara September atau Oktober.
Baca juga: Mau ke Pulau Komodo? Ada Tiga Pilihan Untuk Anda
Pantai Oeseli, menjadi salah satu lain dari daya tarik dari Rote. Pantai ini belum banyak terjamah manusia, dengan pasir putih dan hiasan batu cadas yang menjadi pintu masuk raksasa ke Rote. Melalui pantai Oeseli, Anda bisa menuju ke perkampungan masyarkat, dan melihat banyak rumput laut yang dijemur. Untuk sampai ke Oeseli, bisa melalui darat dari Nerembala menggunakan mobil dengan menempuh satu jam perjalanan dengan jarak 20 km.
Tak hanya itu, ada juga peninggalan seperti benteng alami yang terletak di pantai Laviti, Danau laut mati dan tiang bendera dari zaman Belanda. Untuk mencapai lokasi-lokasi ini Anda bisa menggunakan kendaraan bermotor.
Raksasa teknologi asal Cina, Baidu, mulai mengoperasikan Apollo RoboTaxi, taksi otonom dengan level tertinggi level 5 di Changsha, ibu kota provinsi Hunan, Cina Tengah. Teknologi taksi otonom tertinggi level 5 berarti taksi beroperasi tanpa “petugas keamanan”, atau sopir cadangan, yang siap untuk mengambil alih kendali manual jika terjadi keadaan darurat, sesuai dengan peraturan lalu lintas saat ini.
Baca juga: Sokong Mobilitas di Olimpiade Musim Panas 2020, Jepang Uji Coba Taksi Otonom Pertama di Dunia
Pengoperasian Apollo RoboTaxi di Changsa, Cina bukan dilakukan dengan tergesa-gesa. Sejak September tahun lalu, kelompok pertama dari 45 taksi otonom secara resmi memulai operasi uji coba di jalan-jalan perkotaan. Itu juga kelompok armada taksi otonom pertama di Cina yang dikelola oleh sistem Baidu’s Vehicle to Everything (V2X).
Selama masa uji coba sampai kemudian mulai dioperasikan secara penuh dalam melayani penumpang, disebutkan rata-rata feedback dari penumpang bernada positif. Beberapa menyebut bahwa taksi otonom Cina, Apollo RoboTaxi, mampu melakukan perjalanan dengan mulus, baik pengereman ataupun pasca pengereman, termasuk ketika terjadi gesekan di jalan seperti adanya kendaraan lain yang melakukan manuver secara tiba-tiba.
Beberapa penumpang lainnya menyebut taksi otonom Cina ini dengan sangat percaya diri berjalan, menambah kecepatan, mengerem, menyalakan lampu sein, berbelok, serta memberi sentuhan psikologis melalui suara wanita yang keluar di dalam kabin berupa kalimat-kalimat yang menenangkan.
Bagi calon penumpang, cara pemesannya pun juga cukup mudah. Apollo RoboTaxi Cina dapat dipesan secara gratis melalui aplikasi navigasi Baidu, Baidu Maps. Saat ini, layanan mencakup area sekitar 130 kilometer persegi, dengan rute termasuk beberapa skenario perkotaan, seperti area perumahan, zona komersial dan taman industri, menurut pernyataan yang dikeluarkan oleh perusahaan seperti dilansir dari deccanchronicle.com.
Selain Changsha, Baidu sedang menguji mobil otonom dengan penumpang di Beijing, Cangzhou di provinsi Hebei, Tiongkok Utara, dan tempat-tempat lainnya.
Tes jalan untuk kendaraan otonom tersedia di lebih dari 20 provinsi dan kota di Cina, dan enam kota – Beijing, Shanghai, Guangzhou, Changsha, Wuhan dan Cangzhou – telah memungkinkan tes pengangkutan penumpang pada kendaraan otonom.
Selain taksi otonom Apollo RoboTaxi by Baidu, Cina juga punya raksasa ride-sharing, DiDi Chuxing, perusahaan lain yang juga sudah mulai mengoperasikan taksi otonom listrik. Meskipun uji coba baru dimulai pada Juni lalu, warga kota sudah sangat antusias mencoba layanan ini. Antrean panjang pun tak terelakkan.
Baca juga: Keren, Taksi Drone Otonom EHang 216 Sukses Ajak Penumpang Terbang Keliling Langit Cina
Namun demikian, taksi otonom DiDi Chuxing masih belum bisa berjalan dengan mulus. Di beberapa kondisi, driver AI melakukan pengereman dengan kasar dan membuat penumpang sampai terhuyung ke depan.
Meskipun dua perusahaan, ditambah beberapa perusahaan lain seperti SAIC Motor, DeepBlue Technology, dan AutoX by Alibaba, sudah mulai mengoperasikan taksi otonom, beberapa pendapat menyebut, untuk memulai pengoperasian secara massif di Cina, setidaknya butuh dua sampai tiga tahun untuk menyesuaikan taksi otonom dengan teknologi yang lebih mapan.
Banyak orang yang dipaksa untuk berpikir secara lokal ketika pandemi membatasi rencana liburan musim panas. Kedekatan tujuan dan keamanan perjalanan telah menjadi hal terdasar yang kini dipikirkan oleh para pelancong seluruh dunia.
Baca juga: MyTrip, Aplikasi yang Beritahu Penumpang Tentang Jadwal Pembersihan dan Kondisi Bus
Bahkan beberapa pelancong diantaranya berpikir lebih kedepan lagi dengan menambahkan teknologi untuk membatu mengatasi normal baru. KabarPenumpang.com melansir laman outlookindia.com (5/8/2020), berikut ini beberapa alat dan aplikasi yang dapat membantu saat bepergian di normal baru.
#1 Roadtrippers
Perjalanan darat muncul sebagai alternatif yang lebih aman dan berjarak secara sosial untuk liburan sempurna. Sehingga Roadtrippers yang merupakan aplikasi perencanaan bisa digunakan untuk mengumpulkan lokasi tidak biasa di seluruh dunia. Aplikasi yang pembuatnya berbasis di Amerika Serikat tersebut menggunakan rekomendasi pengguna untuk mengungkap tujuan unik dari database yang kuat dengan jutaan perhentian yang direkomendasikan secara lokal seperti museum, serangkaian tempat aneh dan unik di antara rute di seluruh dunia. Pilihan lainnya termasuk pemandangan teratas, pengunjung, lokasi berkemah dan lainnya.
#2 Unhotel Co
The Unhotel Co merupakan sebuah perusahaan pengalaman era baru yang berbasis dari Gurugram dan menawarkan akomodasi yang dipilih sendiri untuk tetap aman sembari memuaskan hasrat melancong. UnHotel Co sendiri sudah ada selama empat tahun terakhir dan tampaknya menjadi relevan di normal baru. Aplikasi ini menawarkan pilihan akomodasi di lokasi yang tidak biasa di berbagai tujuan wisata sehinga membuat pelancong jauh dari kesibukan yang biasa. Selain itu UnHotel Co juga memperbarui pelancong tentang berbagai pedoman yang disediakan oleh pemerintah negara bagian dan memastikan pengguna diperbarui dengan opsi perjalanan.
#3 GoMechanic App
Perjalanan darat tampaknya merupakan liburan yang aman, tetapi bagaimana jika mobil Anda rusak? GoMechanic adalah jaringan pusat layanan mobil terbesar di India yang beroperasi di hampir semua kota besar di negara tersebut. Aplikasi yang berbasis di Bangalore menawarkan pengalaman layanan mobil tanpa repot dengan satu ketukan. Aplikasi ini menampilkan pusat layanan terdekat dan bahkan lebih baik lagi dengan menyediakan layanan bantuan pinggir jalan sehingga Anda tidak perlu khawatir berkeliaran di jalan untuk mencari montir. Lakukan pembayaran online dan pertahankan jarak sosial.
#4 Social distancing tool by Google
Mungkin akan ada situasi di mana Anda terpaksa berada dekat dengan orang-orang saat bepergian. Mengenakan masker, mencuci tangan secara teratur dan menjaga jarak sosial adalah cara yang harus dilakukan, tetapi langkah terakhir bisa jadi rumit. Google telah merilis alat augmented reality praktis yang membuat ini jauh lebih mudah yakni Sodar. Ini adalah alat jarak sosial yang menggunakan augmented reality untuk memetakan ruang di sekitar Anda, melapiskan lingkaran radius dua meter pada tampilan dari kamera Anda. Tidak ada aplikasi yang diperlukan, yang perlu dilakukan hanyalah membuka Google dari perangkat android dan meluncurkan alat Sodar.
Baca juga: Cegah Penularan Covid-19, Kapal Ferry di Teluk Bothnia Dilengkapi Aplikasi Khusus untuk Penumpang#5 Temperature-reading glasses
Menjaga jarak sosial tidak masalah, tetapi bagaimana jika Anda tahu apakah orang-orang aman berada di sekitar Anda? Rokid, sebuah perusahaan teknologi yang mengkhususkan diri dalam pengembangan robotika dan AI, telah memproduksi Rokid Glass, kacamata augmented-reality, sejak Mei 2019. Namun, saat pandemi melanda, para peneliti perusahaan memutuskan untuk menambahkan fitur baru ke dalamnya yakni pendeteksi demam bertenaga AI. Kacamata tersebut menggunakan sensor infra merah dan kamera, yang memungkinkan pemakainya untuk ‘melihat’ suhu hingga sepuluh orang secara bersamaan. Kacamata ini juga tersedia di pasar internasional dengan harga yang lumayan $6.999.
Pesawat komersial terbesar di dunia boleh saja dipegang oleh Airbus A380 atau pesawat jumbo Boeing 747 Queen of The Skies. Namun, mesin terkuat di dunia bukan dimiliki oleh kedua pesawat tersebut, melainkan ada pada pesawat triple seven generasi terbaru, Boeing 777X. Kepastian itu didapat setelah pesawat karya pabrikan asal Amerika Serikat (AS) tersebut resmi menggunakannya pada pertengahan tahun lalu.
Baca juga: Boeing 777X Kedua Sukses Terbang Perdana
Tes pemecah rekor mesin terkuat di dunia dilakukan pada tahun 2017 lalu dengan disaksikan langsung oleh perwakilan dari Guinness Book of Record, di fasilitas pengujian General Electric (GE), di Peebles, Ohio, AS. Kala itu, mesin GE9X mampu mengembangkan daya dorong sebesar 134.300 pon, nyaris setara dengan daya dorong roket Soyuz saat mengantar kosmonot Rusia, Yuri Gagarin ke luar angkasa.
Perlu diketahui, daya dorong yang dibutuhkan pesawat dengan roket tentu sangat berbeda. Pastinya, roket membutuhkan daya dorong yang jauh lebih besar, mengingat tipe lepas landas mereka vertikal, bukan diagonal layaknya pesawat. Dengan kondisi tersebut, tentu sangat luar biasa bisa sebuah mesin pesawat nyaris menyamakan kekuatan daya dorong roket.
Tak hanya memberikan daya dorong besar, mesin terkuat di dunia GE9X juga menjamin penggunaan bahan bakar lebih hemat hingga 10 persen dari generasi sebelumnya. Tak cukup besar memang, namun, dengan rata-rata biaya operasional pesawat 20 persennya datang dari bahan bakar, tentu, hemat bahan bakar hingga 10 persen bisa cukup menguntungkan; dalam hal ini maskapai selaku operator.
Menariknya, rekor untuk mesin pesawat terkuat di dunia oleh GE9X Boeing 777X dicapai dengan menggantikan rekor dari mesin GE generasi sebelumnya, GE90-115B. Mesin pesawat yang dirancang untuk pesawat Boeing 777 itu tercatat mampu menghasilkan daya dorong sebesar 127.900 pon pada 2002 lalu, cukup besar untuk ukuran kala itu.
Meskipun berhasil menjadi yang terkuat, Presiden dan CEO GE Aviation, anak perusahaan dari GE, David Joyce, mengaku tak berniat untuk menyabet rekor tersebut.
“Meskipun kami tak bermaksud untuk memecahkan rekor Guiness World Records, kami bangga dengan kinerja mesin, yang merupakan bukti betapa hebatnya karyawan serta mitra kerja kami dalam merancang dan memproduksi produk yang luar biasa untuk pelanggan,” jelasnya, sebagaiman dikutip dari Simple Flying.
Keberhasilan tersebut tentu menjadi sebuah kado manis. Sebab, pengumuman rekor dunia ini diumumkan tepat di hari ulang tahun perusahaan yang ke-100, yakni pada 12 Juli.
Baca juga: Pengamat: Boeing 777X Janjikan Pengalaman Baru Bagi Penumpang
Akan tetapi, usai ditetapkan sebagai mesin pesawat terkuat di dunia, dalam perjalanannya bersama Boeing 777X, mesin pesawat yang lebih besar dari body Boeing pesawat 737 itu tercatat beberapa kali pernah mengalami masalah. Teranyar, tahun lalu, tak lama setelah diluncurkan, Boeing 777X dikabarkan mengalami kendala pada mesin. Tak disebutkan dengan jelas kala itu. Namun, harga mahal dari masalah tersebut, jadwal penerbangan perdana Boeing 777X jadi mundur hingga Januari akhir, dari sebelumnya di akhir tahun.
Mercedes-Benz melanjutkan tradisinya sebagai pioneer inovasi keselamatan dan kemanan di dunia otomotif. Terbaru, pabrikan asal Jerman itu memperkenalkan sistem keamanan dan keselamatan unik berupa fitur airbag untuk penumpang belakang pertama di dunia. Sistem airbag terbaru itu rencananya bakal tersemat di Mercedes-Benz S-Class generasi baru.
Baca juga: Terinspirasi Sarung Tangan Baseball, Airbag Lansiran Honda ini Siap Diluncurkan di 2020
Sebagaimana penumpang di kursi depan, penumpang di kursi belakang juga akan dilengkapi dengan fitur pendukung, seperti sabuk pengaman terbaru serta side airbags atau airbag samping. Demikian juga dengan cara kerjanya, airbag akan keluar dari arah depan penumpang belakang atau tepat di bagian belakang kursi depan.
Meski demikian, airbag penumpang di bagian kursi belakang tidak mengembang dengan penuh, selayaknya airbag di kursi depan, melainkan hanya setengah dari udara yang dipompa melalui tabung silinder untuk membuat airbag mengembang. Bentuknya juga berbeda, bila di airbag di kursi depan bentuknya bulat, airbag penumpang di kursi belakang berbentuk kotak tak sempurna serupa huruf “D”.
Airbag pertama di dunia bagi penumpang di kursi belakang ini juga didesain sedemikian rupa, mulai dari teknik memompa udara ke dalam airbag hingga sirkulasi udara di dalam airbag itu sendiri agar tak cepat keluar ketika kepala dan tubuh penumpang mendarat di airbag.
Airbag tengah antar penumpang di kursi depan. Foto: Autocar Professional
Hanya saja, dengan adanya fitur airbag ini, penumpang di bagian belakang tak lagi bebas bergerak seperti sediakala, mengingat mereka harus tetap menggunakan sabuk pengaman.
“Airbag penumpang di kursi belakang dengan struktur tubular yang inovatif sangatlah unik. Dan sebagai hasilnya, ia menyebar dengan sangat lembut,” kata Dr Thomas W. Hellmuth, head of body and safety Mercedes-Benz, seperti diberitakan whichcar.com.au.
“Wajar jika penumpang harus terus mengencangkan sabuk pengamannya. Dengan illuminated-design seatbelt baru, mengenakan sabuk pengaman kini menjadi lebih nyaman,” tambahnya.
Selain fitur airbag bagi penumpang di kursi belakang pertama di dunia, pabrikan yang akrab juga disapa Mercy itu masih punya beberapa fitur unik lainnya, mulai dari sistem suspensi aktif baru atau Pre-Safe Impulse Side, yang dapat membuat mobil lebih tinggi hingga 8 cm untuk mengurangi beban pada struktur pintu saat terjadinya kecelakaan, suspensi E-Active Body Control yang mampu meredam efek benturan dengan membuat rangka lebih kaku, hingga airbag tengah antara penumpang dan pengemudi di kursi depan, dalam upaya mengurangi guncangan ke arah samping saat kecelakaan.
Desain interior kursi bagian belakang dilengkapi dengan layar canggih MBUX interface generasi kedua. Foto: timesnownews.com
Tak berhenti sampai di situ, sebagai mobil pertama di dunia yang menyediakan fasilitas airbag bagi penumpang di kursi belakang, Mercedes-Benz S-Class generasi baru juga akan dilengkapi dengan fitur MBUX interface generasi kedua, dengan total empat layar sentuh canggih.
Baca juga: 30 Tahun Airbag Hadir Untuk Keselamatan Dunia Otomotif
Fitur tersebut juga akan didukung dengan MBUX Interior Assist, untuk mengingatkan penumpang agar tak membuka pintu saat sistem mendeteksi ancaman dari titik blind spot di luar mobil. Untuk pengemudi, melalui berbagai kamera canggih, mereka juga akan diingatkan bila terdeteksi ngantuk atau kelelahan. Cukup keren, bukan?
Dilansir timesnownews.com, Mercedes-Benz S-Class generasi baru baru akan memulai debut pada 2 September 2020. Namun, tak disebutkan dengan jelas berapa harga yang harus dikeluarkan untuk merasakan berbagai fitur canggih tersebut.
Bandara Changi Singapura seperti rumah sakit? Pertanyaan ini sepertinya cukup mengagetkan dan mungkin ada yang berpikir bandara tersebut berubah jadi rumah sakit sementara untuk membantu para pasien terinfeksi virus corona atau Covid-19. Ya, memang akan terlihat seperti itu, namun nyatanya Bandara Changi tak berubah jadi rumah sakit sementara.
Baca juga: Pakai Kostum Hazmat di Bandara, Naomi Campbell Lagi-lagi Viral di Instagram
Sebab, ratusan calon penumpang terlihat tengah duduk di ruang tunggu dan menggunakan kostum hazmat. Para penumpang ini menjadi viral karena diabadikan dalam sebuah video yang diunggah ke media sosial dan menjadi perbincangan warganet.
Dikutip KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, video tersebut berdurasi 40 detik di unggal oleh pengguna Twitter dengan akun @kurawa. Dalam unggahannya tersebut, akun itu mebuat caption, “Suasana Bandara Changi Singapore, ruang tunggunya lebih mirip RS wisma Atlet di Indonesia. Yang gue pikirkan itu banyaknya Limbah medis spt baju hazmat sekali pakai ini. Bumi makin berat.”
Dalam video pendek itu memperlihatkan hampir semua penumpang menggunakan kostum hazmat lengkap. Tak hanya itu, beberapa penumpang terlihat menggunakan faceshield dan penutup sepatu yang terlihat sepaket dengan kostum hazmat.
Dalam video terlihat tidak ada jarak sosial antar penumpang yang mana mereka ada yang berkumpul dan duduk berdekatan sehingga memperlihatkan ruang tunggu penuh. Unggahan video ini kemudian dikomentari oleh para warganet. Beberapa diantaranya mengatakan, penggunaan kostum hazmat terlalu berlebihan.
“Apa Wajib pake Hazmat yaa ngga bisa baju biasa lengkap dengan masker face shield baju kan bisa dicuci,” tulis seorang warganet.
Seorang warganet berkomentar dengan mengatakan, “Memang harus begini apa gimana ya? Pakai jaket anti air, masker medis dan faceshield aja kayaknya cukup ya. Sungguh kontra sekali sama yg ga peduli di sini, masker kain 5rb perak aja ga mau dipakai. Keduanya extrim.”Baca juga: Awak Kabin Qatar Airways Gunakan Kostum Hazmat untuk Layani Penumpang
Selain itu ada yang mengomentari bahwa jangan sampai limbah kostum hazmat tersebut sampai ke Indonesia karena Singapura kecil. Beberapa lainnya mengatakan, bahwa dengan penggunaan ini sampah makin banyak dan plastik kembali menjadi sumber masalah utama Bumi.