Seorang pemilik taksi Marlborough menghubungi hotline pemerintah untuk bertanya terkait New Zealand (NZ) Covid Tracer App setelah mendengar semua bisnis di bawah level siaga 2 harus menampilkan kode QR unik pada pukul 11.59 di hari Rabu (19/8/2020). Jim Watson pemilik taksi Marlborough mengatakan, dirinya langsung bertanya-tanya apakah taksi harus menampilkan kode QR unik meski pengumuman tidak menyebut kendaraan tetapi hanya tempat.
Baca juga: Dari Kode QR Hingga Media Sosial, Inilah Empat Cara Cina Lacak Covid-19
Sebab saat ini masyarakat yang memiliki aplikasi di ponsel mereka akan memindai kode QR unik tersebut sebagai alternatif lebih cepat dibandingkan menulis data secara manual pada setiap tempat yang dikunjungi. Hal tersebut harus dilakukan untuk membantu kementerian melacak kemungkinan kontak dengan orang yang terinfeksi Covid-19.
Karena kode QR unik ini, Watson mengingat bahwa armada mereka pernah membawa orang yang terinfeksi Covid-19 dari bandara tanpa mengetahuinya dan itu membuatnya takut serta kepercayaan pada orang lain sedikit memudar. Dia menceritakan, saat itu pengemudi taksinya mengangkut seorang penumpang pria dengan gejala Covid-19 dari Bandara Marlborough ke Rumah Sakit Wairau di Blenheim pada 24 Maret lalu.
Dia menjelaskan pengemudi taksi itu tidak mengetahui penumpangnya positif Covid-19 sampai dia dilacak dua bulan kemudian. Watson mengatakan, mereka sering dilupakan dan tidak mendapatkan dukungan yang sama dengan para pekerja lainnya. Adanya kabar itu yang membuat dirinya menghubungi hotline pemerintah untuk mengetahui apakah taksi perlu kode QR unik. Tetapi yang didapat adalah dirinya dilempar dari bagian yang satu ke bagian lainnya.
Dilansir KabarPenumpang.com dari stuff.co.nz (18/8/2020), Watson mengaku, ketika bertanya hal itu, mereka mengatakan, dia harus memiliki kode tersebut di taksi dan istrinya kemudian mencetaknya.
“Tapi kemudian kami menyadari itu terlalu besar untuk muat di taksi dengan papan nama saya yang lain, dan itu harus di pintu. Jadi kami menelepon lagi, dan mereka tidak tahu apakah Anda dapat mengubah ukurannya. Mereka menghubungkan saya dengan sekitar tiga orang yang berbeda, hanya untuk memberi tahu saya jika Anda menyusutkan dan memindai dan berfungsi, itu pasti baik-baik saja,” jelasnya.
Setelah itu, Watson kembali bertanya apakah mereka membutuhkan kode QR unik berbeda untuk setiap armada mereka? Tetapi hal itu tidak di jawab, namun ingin tahu pengemudi mana yang membawa penumpang sehingga kode yang dimiliki akan berbeda satu dan lainnya. Karena Kebingungan, Watson kemudian bertanya pada Federasi Taksi NZ dan meminta saran dari Kementerian Transportasi sebelum mengedarkan pemberitahuan ke semua perusahaan taksi dan menjelaskan taksi individu harus memiliki kode QR unik mereka sendiri.
“Itu semua taksi, shuttle, Uber atau apa saja yang membawa penumpang berkeliling dengan tarif tertentu. Apakah mereka tahu bahwa mereka membutuhkannya? Dan siapa yang memantau kepatuhan? Itu ide yang bagus tapi sangat sulit untuk mendapatkan jawaban, dan kami bisa saja dilanggar, meskipun tidak ada yang memberi tahu kami secara langsung,” ujarnya.
Baca juga: Aplikasi Rideshare dan Taksi Kanada Persiapkan Diri untuk Cegah Covid-19
Bersamaan dengan kode yang dipasang di pintu penumpang, Watson juga telah mencetak kode laminasi longgar untuk diedarkan di dalam kendaraan. Dia ingin memberi kesan kepada penumpang betapa pentingnya mereka menggunakan kode QR unik, atau mencatat taksi mana yang mereka gunakan.
Bus penumpang atau pariwisata tidak hanya bisa mengangkut orang untuk bepergian. Sebab beberapa orang atau para pemilik perusahaan otobus (PO) bisa saja mengubah bagian dalam bus mereka sesuai permintaan pelanggan.
Baca juga: Royale VIP Bus, Pindahkan Nuansa Klub Malam ke Dalam Bus
Sebut saja seperti menjadi sebuah kamar, restoran, coffee shop, perpustakaan, tempat karaoke bahkan sebuah bar. Seperti The Party Bus KL yang memanjakan penumpangnya ketika mereka ingin berpesta sembari menikmati perjalanan.
Dilansir Kabar penumpang.com dari laman wolrdofbuzz.com (14/8/2020), The Party Bus KL di Kuala Lumpur, Malaysia, ini mampu menampung 12 orang tamu. Dilengkapi dengan bar, sistem karaoke, televisi layar datar dan soket pengisian data USB agar ponsel Anda tidak kehabisan baterai.
Selain itu The Party Bus KL juga melengkapi dengan lima kursi sofa selain kursi dengan sandaran tinggi dan kursi berputar. Adapula lampu lantai, lampu langit-langit (lampu disko) dan efek khusus untuk memberikan pengalaman seperti pesta dalam perjalanan Anda.
Tentu saja sound system juga melengkapi memainkan lagu favorite Anda. Namun untuk menikmatinya mungkin Anda harus mengocek cukup dalam karena ada berbagai paket yang bisa dipilih setiap pelanggan.
Nah, kehadiran The Party Bus KL ini mengingatkan pada bus berwarna putih dengan plat kuning milik seorang yang gemar mengadakan pesta di Indonesia. Ya, bus milik Daisy Wong Will CEO dari Royale VIP Bus tersebut mengadaptasi gaya hidup orang luar yang memiliki bus serupa.
Daisy membuat bus party ini merupakan sebuah ide gila untuk menikmati gemerlapnya dunia malam ibukota. Bus milik Daisy mampu mengangkut 20-25 orang dan dilengkapi fasilitas air mineral dan es serta snack yang juga dapat dipesan.
Biasanya digunakan untuk perayaan pesta ulang tahun, kelulusan, maupun pesta-pesta lainnya. Penyewanya pun beragam, dari mulai perorangan hingga korporat pernah menyewa party bus ini. Walaupun bus ini terkesan sempit dengan jumlah orang yang masuk, serta dentuman musik dengan volume yang keras, ini bukanlah menjadi suatu halangan bagi para penggunanya.
Diantara mereka malah mengatakan lebih senang berdesak-desakan, karena suasana yang didapat begitu intim. Tidak ada batasan untuk jarak tempuh dari bus ini, yang penting Anda tidak melebihi waktu sewanya. Apabila Anda melebihi waktu sewa, Anda tinggal membayar selisihnya saja. Begitu pula dengan pilihan rutenya, Anda dapat meminta pengemudi untuk melewati daerah yang Anda mau.
Baca juga: Citymapper Temani Penumpang di London dengan Layanan Bus Malamnya
Untuk menikmati Royale VIP Bus ini, Anda harus merogoh kocek Rp3,5 juta untuk tiga jam dan merupakan waktu minimal untuk menyewanya. Meski begitu di dalam bus ini Anda tidak boleh merokok, membawa obat-obatan terlarang, perlakuan susila dan harus menjaga fasilitas didalam bus.
Di antara ratusan maskapai di dunia, Qantas tercatat menjadi masakapai yang paling sering menerbangankan pesawat dengan lima mesin. Alasan di balik hal itu sangat simpel, terkait erat dengan efisiensi.
Baca juga: Boeing 707 Milik Qantas Pernah Terbang dengan Lima Mesin!
Penerbangan perdana Qantas dengan lima mesin terjadi pada akhir Juni tahun 1959. Setelah armada pertama Boeing 707 diterima pada 7 Juni 1959, maskapai pertama di luar Amerika Serikat yang menjadikan Boeing 707 sebagai armadanya ini tak lantas menerbangkan pesawat tersebut.
Kala itu, Qantas masih menunggu kesiapan tim teknik untuk menyematkan mesin kelima yang menempel di sayap bagian kiri. Setelah dua pekan, barulah pesawat siap diterbangkan dengan lima mesin untuk memulai tahun layanan.
Setelah Boeing 707, giliran armada Boeing 747 Qantas yang diterbangkan dengan lima mesin. Bedanya, jika Boeing 707 Qantas terbang dengan lima mesin untuk tujuan safety, dimana satu mesin lainnya diplot sebagai mesin pengganti bila mana suatu waktu mesin mengalami kerusakan, maka, Queen of the Skies Qantas terbang dengan lima mesin untuk memberi dukungan pada pesawat Qantas lainnya yang tengah bermasalah pada mesin.
Simple Flying mengabarkan, meskipun sempat menjadi kontroversi, pesawat Qantas rute Sydney-Johanesburg bernomor penerbangan QF63 akhirnya tetap terbang dengan lima mesin pada 2016 lalu.
Hal itu dilakukan Qantas untuk mempersingkat waktu pengiriman. Pasalnya, bila mesin dikirim via laut, mungkin akan memakan waktu lama. Kemudian, teknik penempatan mesin di sayap juga didorong oleh dimensi pesawat itu sendiri. Boeing 747 tidak cukup besar untuk memuat mesin pesawat. Itulah sebabnya mesin diletakkan di sayap.
Menurut Qantas, Boeing 747 memungkinkan untuk dipasangi satu mesin tambahan di kedua sayapnya. Pemasangan itu pun tidak memengaruhi kondisi pesawat. Hanya saja teknik ini memang jarang digunakan. Namun bagi Qantas, teknik tersebut rasanya sudah begitu melekat, mengingat pada tahun 1959 dan 2011 silam maskapai nasional Australia itu sudah pernah melakoninya.
Secara matematis, bobot mesin Rolls-Royce RB211 yang mencapai enam ton seharusnya bakal menambah beban di bagian kiri pesawat, tempat mesin tambahan berada. Hal itu pulalah yang menjadi dasar kekhawatiran para penumpang dalam penerbangan QF63 Qantas rute Sydney-Johanesburg.
Baca juga: Mengenal GE9X Boeing 777X, Mesin Pesawat Terkuat di Dunia
Namun, hal itu dibantah oleh maskapai. Menurut Qantas, meskipun bobot mesin kelima mencapai enam ton dan berpotensi menganggu keseimbangan, namun, letaknya yang sangat dekat dengan badan pesawat membuatnya tetap seimbang, mirip tengan konsep pesawat trijet dimana mesin ketiga menempel di bagian tengah belakang pesawat.
Sebab, dengan penempatan di dekat badan pesawat, beban mesin seolah bergabung dengan beban badan pesawat sebagai pusat gravitasi. Dengan begitu, pesawat bisa tetap seimbang meskipun dengan mengeluarkan tenaga ekstra -karena tambahan mesin kelima tadi- yang pada akhirnya membuat penggunaan bahan bakar menjadi lebih boros dari biasanya.
Pesawat jet komersial terbesar di dunia mungkin sudah biasa didengar. Siapa lagi kalau bukan Airbus A380 superjumbo. Kompetitor abadi Airbus asal Amerika Serikat (AS), Boeing, juga punya Boeing 747 Queen of the Skies sebagai pesawat jumbo setingkat di bawah A380.
Baca juga: Emirates Operasikan A380 dengan Rute Terpendek di Dunia, Jaraknya Setara Jakarta – Pangandaran!
Demikian juga untuk pesawat terpanjang di dunia yang dipegang oleh Boeing 777-9X, dengan panjang mencapai 76,7 m, disusul oleh Airbus A350-1000 dengan panjang sekitar 73,79 meter, mungkin sudah lumrah didengar. Tetapi, kebalikan dari itu, siapa di antara Anda yang pernah mendengar pesawat jet komersial terpendek di dunia?
Sebelum membahas lebih jauh, pesawat jet komersial terpendek di dunia dalam artikel ini hanyalah pesawat yang pernah digunakan oleh maskapai penerbangan dalam layanan berjadwal.
Diwartakan dari Simple Flying, Airbus tercatat punya pesawat terkecil sepanjang sejarah berdirinya perusahaan. Pesawat tersebut adalah Airbus A318 “Baby Bus”. Pesawat dari keluarga A320 itu bahkan masih lebih kecil dari Airbus A220-100 (tipe terkecil) dengan hanya memiliki panjang 31,44 meter, terpaut sekitar tiga meter lebih dari A220-100 dengan panjang 35 meter.
Tak kalah dengan Airbus, Boeing juga punya pesawat jet komersial terkecil sepanjang beridirinya perusahaan, yakni Boeing 737-100. Sayangnya, pesawat dengan panjang hanya 28,35 meter sudah tak lagi beroperasi dan digantikan dengan saudara kembarnya, Boeing 737-200 dengan panjang 30,53 meter dan masih terus beroperasi hingga saat ini.
Namun, baik pesawat terkecil dari Boeing dan Airbus, rupanya masih belum sanggup bertengger di puncak daftar pesawat terpendek di dunia.
Boeing dan Airbus masih kalah dengan De Havilland Comet One, pesawat jet komersial pertama di dunia dengan panjang hanya 28 meter, sedikit lebih pendek ketimbang BAC One-Eleven yang hanya memiliki panjang sekitar 28,50 meter. Pesawat besutan pabrikan asal Inggris itu (De Havilland Comet One) juga masih lebih pendek dibanding pabrikan asal Rusia, Sukhoi Superjet 100 yang memiliki panjang 29,94 meter.
Melewati pabrikan asal Rusia, Perancis, Amerika Serikat, dan Inggris, pabrikan pesawat asal Brasil, Embraer punya pesawat jet komersial yang lebih pendek dari pesawat-pesawat mereka. Pabrikan yang nyaris diakuisisi oleh Boeing itu punya varian pesawat terpendek, ERJ135, dengan panjang hanya 26,33 m.
Baca juga: Juancho E. Yrausquin Airport, Bandara Terkecil dengan Runway Terpendek di Dunia
Akan tetapi, ERJ135 masih tak cukup pendek dibanding Fairchild Dornier 328-300JET. Pesawat besutan perusahaan asal Jerman itu memiliki panjang sekitar 21,11 meter, yang masih bisa dikalahkan oleh pesawat bekas Uni Soviet, Yakovlev Yak-40. Pesawat yang saat ini kepemilikannya jatuh ke tangan Slovakia ini hanya memiliki panjang sekitar 20 meter.
Meskipun demikian, Yakovlev Yak-40 bukanlah pesawat jet komersial terpendek di dunia. Di bawahnya, masih ada lagi pesawat warisan Jerman Barat yang bertengger di puncak daftar pesawat komersial terpendek di dunia, yakni VFW-Fokker 614 dengan hanya 20,6 meter. Walaupun pendek, pesawat yang diproduksi saat era Jerman Barat itu mampu mengangkut 40-44 penumpang, jauh lebih banyak dari Fairchild Dornier 328-300JET dan Embraer ERJ135.
Dampak pandemi Covid-19 pada terpuruknya sektor penerbangan telah menjadi kenyataan pahit hampir di seluruh dunia. Diantara beban berat yang harus dihadapi maskapai adalah kemampuan perusahaan untuk mengembalikan dana (refund) kepada calon penumpang yang sudah kadung membeli tiket tetapi mengalami pembatalan terbang lantaran serangkaian lockdown di banyak negara.
Baca juga: Proses ‘Anti Bangkrut’ Masih Berjalan, Thai Airways Tunda Refund
Mengembalikan dana yang telah masuk ke kas maskapai pada kenyataan bukan perkara mudah, lantaran kegiatan finansial ini bakal berpengaruh besar pada likuiditas perusahaan yang tengah mendapat tekanan. Kasus yang terjadi pada Thai Airways bisa menjadi contoh, dimana maskapai plat merah Thailand tersebut terpaksa menunda proses refund akibat proses ‘anti bangkrut’ di Pengadilan Kepailitan Pusat Thailand.
Rupanya tak semua maskapai keok untuk melakukan refund, Qatar Airways maskapai tajir asal Timur Tengah telah membuat gebrakan yang spektakuker. Dikutip dari siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com (19/8/2020), disebutkan Qatar Airways telah membayar refund lebih dari US$1,2 miliar kepada hampir 600.000 calon penumpang sejak Maret 2020. Pihak Qatar Airways menyebut langkah itu dilakukan untuk menghormati kewajiban kepada penumpang yang perlu mengubah rencana perjalanan mereka sebagai dampak dari pandemi Covid-19 pada perjalanan global.
Baca juga: Buntut Kisruh Diplomatik, Sejumlah Maskapai Penerbangan Lalukan Refund Tiket Dari dan Ke Qatar
Refund yang dilakukan Qatar Airways disebut-sebut sebagai yang terbesar di dunia dari segi nilai, Qatar Airways telah bekerja keras untuk memproses hampir semua permintaan pengembalian dana yang diminta sejak Maret 2020 (96 persen). Qatar Airways memproses semua permintaan pengembalian dana baru ke bentuk pembayaran awal dalam waktu kurang dari 30 hari.
.
Menjadi salah satu pintu gerbang untuk masyarakat dunia, bandara-bandara didesain sedemikian rupa untuk membuat pelancong nyaman baik ketika menunggu keberangkatan maupun bagi mereka yang tiba di kedatangan. Bahkan beberapa bandara dunia memiliki tempat rekreasi untuk semua pelancong seperti bioskop, taman outdoor, akuarium dan lainnya.
Baca juga: Wow! Tujuh Bandara Ini Punya Fasilitas Tur Gratis
Nah, untuk melepas kepenatan, belum lama ini, Bandara Istanbul menhadirkan sesuatu yang baru bagi pelancong yakni sebuah museum. Di mana keberadaan museum ini bisa dinikmati oleh semua penumpang internasional yang tiba di Turki. Bandara Istanbul yang merupakan pintu gerbang Turki ke dunia, akan mulai pameran di museumnya dengan “Treasures of Turkey: Faces of the Throne.”
Pihak bandara menghadirkan museum untuk meningkatkan dari global hub dengan layanan penumpang yang luar biasa. Sebab di museum ini akan ditampilkan karya-karya dari seluruh sejarah Turki untuk dijelajahi pelancong. Kadri Samsunlu, CEO İGA Airport Operation Inc, mengatakan, pihaknya ingin mengubah waktu yang dihabiskan di bandara menjadi pengalaman yang unik.
“Tujuan kami adalah mengalihkan perhatian penumpang kami pada seni dan budaya,” ujar Kadri yang dikutip KabarPenumpang.com dari prnewswire.com (18/8/2020).
Dia mengatakan, museum ini juga menawarkan informasi pengantar tentang 18 tempat di Turki yang terdaftar sebagai Situs Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO. Kadri menambahkan, pameran pertama akan menampilkan seni dari berbagai era sejarah Turki yakni “Treasures of Turkey: Faces of the Throne,” yang akan menampilkan 316 karya berbeda dari 29 museum di Turki.
Museum ini merupakan koleksi yang terdiri dari beberapa artefak menarik seperti “Kadesh Treaty.” Kadri menyebutkan, “Kadesh Treaty” merupakan perjanjian perdamaian pertama yang dikenal dalam sejarah umat manusia. Pada museum ini juga menampilkan potongan-potongan era Göbeklitepe prasejarah dan Çatalhöyük serta artefak bersejarah milik peradaban Anatolia dan periode lainnya.
“Dengan museum ini, kami dapat mengumpulkan beberapa artefak asli di bawah satu atap yang tidak mungkin dilihat dalam satu waktu,” kata Kadri.
Baca juga: Saking Nyamannya, 9 Bandara Ini Buat Penunjungnya Lupa Pulang
Museum di Bandara Istanbul ini akan buka pukul 09.00 hingga 21.00 waktu setempat setiap harinya. Untuk menikmati museum ini, pelancong bisa merogoh kocek mereka untuk membayar tiket masuk seharga 5 Euro dan anak dibawah delapan tahun tidak perlu membayar tiket alias gratis. Kehadiran museum di Bandara Istanbul sendiri menambah bandara yang sudah memiliki museum seperti San Fancisco Airport di California dan Schipol International Airport di Amsterdam.
Bagi sebagian orang, N250 mungkin sebatas pesawat turboprop berteknologi fly-by-wire pertama di dunia yang terjegal International Monetary Fund (IMF). Namun, bagi sebagian yang lain, N250 lebih dari sekedar itu, apalagi bila menengok kisah pesawat canggih besutan BJ Habibie ini melahap penerbangan ferry flight jarak jauh Bandung-Paris pada tahun 1997.
Baca juga: N-250, Pesawat Komuter Fly By Wire “Asli” Indonesia yang Kandas Tersapu Krisis Moneter
Sebelum membahas sepak terjang N250 menuju Paris lebih jauh, ada baiknya kita membahas mengenai ferry flight terlebih dahulu. Penerbangan ferry flight sendiri bisa dikatakan sebagai penerbangan terbatas atau penerbangan tanpa penumpang umum ke dan dari luar negeri.
Penerbangan ferry flight juga kerap diberlakukan bagi suatu maskapai penerbangan saat membuka rute baru, dimana pesawat saat terbang tidak membawa penumpang atau dalam keadaan kosong.
Kembali ke N250, kala itu, sekalipun ferry flight jarak jauh N250 untuk pamer teknologi ke Paris AirShow 1997 merupakan yang pertama kalinya, melintas Asia-Afrika-Eropa sejauh lebih dari 13.500 km, namun, bukan berarti Sang Gatotkoco -julukan pesawat komuter asli Indonesia ini- canggung. Satu-satunya modal N250 Gatotkoco dengan nomer registrasi PK-XNG hanyalah jam terbang yang sudah mencapai 400 jam kala itu.
Terbukti, pesawat yang digadang-gadang lebih canggih dari ATR atau pesawat sejenis lainnya di zaman itu -dilihat dari teknologi fly-by-wire serta flight control- berhasil terbang dengan mulus tanpa adanya laporan terkait kendala apapun selama di perjalanan.
Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, penerbangan ferry flight pesawat Asia jarak jauh pertama sekaligus penerbangan jarak jauh perdana N250 lintas benua dipimpin langsung oleh pilot uji senior IPTN, Kolonel Pnb Chris Sukardjono, bersama lima orang lainnya, terdiri dari tiga teknisi dan dua penerbangan. Lima orang itu, Letkol Pnb Sumarwoto, Capt. Adi Budi Setiawan Atmoko, dan pilot uji asing, Capt. John Bolton, Hindawan Hariowibowo dan Nurcholis flight test engineer (FTE) serta Yuares Riady flight test instrumentation (FTI).
Baca juga: Lanjutkan Asa N250 yang Tenggelam, Ini Dia R80 Besutan B.J. Habibie
Dari hasil penelusuran redaksi, tak ada rincian apapun di sumber manapun terkait lamanya waktu terbang. Namun, yang pasti, pesawat dengan bentang sayap 28 meter dan panjang 26,3 meter serta memiliki kapasitas 50-70 penumpang ini sampai melakukan penerbangan malam hari untuk berpacu dengan waktu, mengingat N250 Gatotkoco harus mengejar validasi formasi terbang yang akan didemontrasikan di pameran.
Meskipun sukses melakoni penerbangan ferry flight jarak jauh dan unjuk gigi di ajang Paris AirShow, perjalanan N250 kemudian dilanjutkan dengan tur ke sejumlah negara Eropa, Afrika, dan Asia. Sambutan pun diberitakan cukup luar biasa dari berbagai negara yang dikunjungi. Namun, sayang, hal itu tak cukup mampu untuk mendorong pemerintah Indonesia meneruskan perjuangan memproduksi pesawat sendiri ataupun menjegal IMF agar tak menghalang-halangi cita-cita luhur BJ Habibie.
Insiden dalam penerbangan beragam macamnya. Beberapa melibatkan manusia, beberapa lainnya melibatkan binatang, seperti ular, burung, kalajengking, kucing, anjing, hingga kepiting.
Baca juga: Ngeri…! Di Makanan Kelas Satu Delta Airlines Ada Belatungnya!
Penjelasan soal adanya hewan atau binatang yang tak diperkenankan di dalam pesawat (masing-masing penerbangan) tak selalu bisa diterima dengan akal. Terkadang, binatang tersebut seperti penumpang gelap, datang tak dijemput, pulang tak diantar. Untuk itu, berikut redaksi KabarPenumpang.com himpun dari berbagai sumber, enam insiden binatang masuk ke kabin pesawat tanpa sengaja.
1. Burung Jalak di Kabin A380
Burung Myna (Burung Jalak) masuk ke kabin Airbus A380 Singapore Airlines dan ikut terbang 12 Jam dari Singapira ke London. Peristiwa ini terjadi pada 7 Januari 2019. Dalam sebuah rekaman video, burung ini terlihat di atas sandaran kepala sebuah kursi kelas bisnis yang tidak ada penumpangnya. Sehingga tidak ada yang terganggu dengan kehadiran burung Myna ini. Tak hanya itu, dalam rekaman juga terlihat awak kabin yang mencoba menangkapnya.
Sayangnya burung Myna yang berada di dalam penerbangan Airbus A380-800 SQ322 tersebut tidak bisa tertangkap langsung alias menghindari tangkapan awak kabin. Namun akhirnya burung tersebut bisa ditangkap dengan bantuan beberapa penumpang dan memberikannya pada awak kabin.
Kemudian saat tiba di Bandara Heathrow, burung tersebut diserahkan kepada otoritas karantina hewan. Rekaman video burung tersebut sempat diunggah ke laman Facebook oleh penumpang yang merekamnya.
2. Ularyukepo.com
Film “Snakes On A Plane” atau ular dalam pesawat rupanya telah menjadi kenyataan. Insiden hewan atau binatang dalam penerbangan Ravn Alaska rute Alaska-Rusia itu sudah barang tentu membuat heboh seisi pesawat.
Ular pertama kali dilihat oleh seorang penumpang bernama Anna McConnaughy. Dalam kesaksiannya, sebelum kejadian, pilot sempat mengumumkan bahwa ada ular yang terlepas. Namun tak diketahui secara persis posisi terakhirnya.
Akibat kemunculan ular sepanjang 4-5 kaki itu, pesawat terpaksa harus mendarat darurat di Meksiko. Beruntung, binatang yang tak masuk dalam daftar hijau hewan atau binatang yang diperbolehkan masuk ke dalam kabin itu, pada akhirnya tak sampai menimbulkan korban.
3. KalajengkingKalajengking di bagasi kabin Lion Air JT-293. Sumber: istimewa
Maskapai Indonesia rupanya tak mau ketinggalan dengan Air Transat terkait keterlibatan kalajengking di dalam kabin. Insiden tersebut terjadi pada Februari tahun lalu, dalam pesawat Lion Air Boeing 737-800NG.
Untungnya, kalajengking di pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan PK-LPK itu baru ditemukan tak lama setelah pesawat mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
4. Anak Ular BerbisaSumber: Malayala Manorama
Insiden ular masuk dalam kabin pesawat nyaris saja terjadi di India jika tidak digagalkan petugas. Awalnya penumpang menunjukkan gelagat aneh. Hal mengejutkan pun terjadi saat ia kedapatan membawa bayi ular berjenis Indian Krait, salah satu ular paling berbisa di India. Ular tersebut awalnya direncakan ingin dibawa ke Abu Dhabi.
Beruntung, karena rencana tersebut berhasil digagalkan, penerbangan pun jadi lebih aman dari ancaman ular berbisa.
5. Burung Hantu Masuk ke Kokpit(Latestly.com)
Seekor burung hantu bertengger manis di kursi sang pilot dalam pesawat Jet Airways Boeing 777. Pesawat tersebut diketahui tengah parkir sejak semalam di Bandara Mumbai, India. Kemudian saat para teknisi yang saat itu tengah mengecek kesiapan pesawat, dikejutkan dengan penemuan seekor burung hantu yang duduk manis di kokpit Senin (4/2/2019) pagi.
Petugas yang biasa mengecek kesiapan pesawat untuk operasional sehari-hari mengatakan, buruh hantu bermata lebar dengan bulu putih bercampur krem tersebut bertengger nyaman di sebelah kursi pilot. Petugas bandara mengatakan, saat mereka mendekati burung itu untuk dilepaskan, tidak terlihat perlawanan dan tidak berisik.
Baca juga: Ngeri! Ada Sekrup dalam Hidangan Sup di First Class Singapore Airlines
Kala itu, pesawat diketahui tengah menjajaki rute Lahore-London. Pihak maskapai sendiri mengaku kecewa dan baru mengetahui hal itu dari sosial media, bukan dari pelanggan secara langsung dalam penerbangan.
6. Kepiting
Anjing dan kucing mungkin biasa dan pada umumnya termasuk hewan yang memang diperbolehkan berada dalam kabin. Namun, tidak demikian dengan kepiting. Tahun 2017 lalu, sebuah unggahan di YouTube menunjukkan adanya beberapa ekor kepiting yang berkeliaran. Hanya saja, bukan di dalam pesawat, melainkan di sebuah baggage carousel di sebuah bandara New York.
PT Angkasa Pura I (AP I) melakukan dedikasi untuk berkontribusi membangun negeri tanpa membebani keuangan negara. Dalam hal ini, AP I membangun dan mengembangkan bandara-bandara yang termasuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) maupun yang tidak termasuk dengan pembiayaan sendiri baik menggunakan kas internal atau penerbitan obligasi perusahaan.
Baca juga: Gandeng Pelita Air Service, Anak Usaha Angkasa Pura I Luncurkan Layanan Angkutan Kargo
Sebelum melakukan pembiayaan mandiri, AP I mendapat dukungan pendanaan berupa pinjaman dari bank dan lembaga keuangan non-bank dengan nilai keseluruhan Rp5 triliun untuk mendanai pembangunan bandar-bandara naungan mereka. Pendanaan ini bersumber dari Bank Tabungan Negara, PT Sarana Multi Infrastruktur dan BRISyariah.
Direktur Utama PT AP I, Faik Fahmi mengatakan bahwa fasilitas kredit Rp5 triliun bertenor lebih dari sepuluh tahun dengan grace period lima tahun tersebut merupakan bagian dari rencana pemenuhan pendanaan untuk pengembangan bandara AP I di tahun 2018 dan 2019. Sebelumnya, di tahun 2016 AP I telah menerbitkan sukuk ijarah senilai Rp 500 milyar untuk pembiayaan capital expenditure-nya.
“Tahun ini kita melakukan proses pendanaan eksternal sebesar Rp 5 triliun untuk membiayai realisasi capital expenditure (capex) di tahun 2018 dan sebagian di tahun 2019. Di tahun 2019, dengan rencana capex sekitar Rp 17,53 triliun, kami merencanakan pendanaan eksternal sebesar Rp13 triliun, dapat bersumber dari pinjaman lembaga keuangan dan penerbitan obligasi” jelas Faik.
Dalam rencana jangka panjangnya, AP I merencanakan capex senilai Rp 76 triliun untuk tahun 2019-2023. AP I akan mendanai rencana capex tersebut melalui pinjaman dari lembaga keuangan, penerbitan obligasi, sekuritisasi aset dan juga melalui partnership dengan mitra strategis.
“Angkasa Pura I saat ini dihadapi oleh kondisi pertumbuhan penumpang yang jauh lebih tinggi dari kemampuan kami menyediakan kapasitas/lack of capacity. Untuk mengatasi hal tersebut saat ini kami sedang melakukan pembangunan dan pengembangan bandara sebagai upaya kami berkontribusi mendorong perekonomian. Kami harap melalui penandatanganan perjanjian ini dapat mendukung peningkatan kinerja bisnis, meningkatkan kualitas layanan dan kepuasan pengguna jasa di bandara yang kami kelola,” tambah Faik.
Saat ini AP I telah menyelesaikan tiga bandara yang dikelolanya baik dalam proyek pembangunan maupun revitalisasi bandara dan sudah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo. Ketiga bandara tersebut termasuk PSN yakni pembangunan bandara baru Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) di Kulon Progo, pengembangan Terminal baru di Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang dan pengembangan Terminal baru Bandara Syamsudin Noor di Banjarmasin.
“Sebagai wujud dedikasi kepada negara dalam merealisasikan kemandirian ekonomi daerah melalui pengembangan infrastruktur bandara, Angkasa Pura I membangun dan mengembangkan bandara-bandara kelolaannya melalui pembiayaan mandiri tanpa membebani keuangan negara. Pembiayaan mandiri yang dimaksud yaitu melalui penggunaan kas internal maupun penerbitan obligasi perusahaan. Selain itu, Angkasa Pura I juga senantiasa siap menerima penugasan untuk mengelola dan mengembangkan bandara-bandara yang sebelumnya dikelola oleh Pemerintah,” jelas Faik.
Sebagai informasi, pembangunan Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) di Kulon progo menghabiskan dana sebesar Rp10,5 triliun, dimana Rp6,1 triliun digunakan untuk pembangunan fisik dan Rp4,4 triliun untuk pembebasan lahan. Dengan luas terminal sebesar 210 ribu meter persegi dan total luas area bandara mencapai 587 hektar, menjadikan YIA sebagai salah satu bandara terbesar di Indonesia dengan kapasitas saat ini dapat menampung 14 juta penumpang per tahun dan kapasitas ultimate nantinya dapat menampung hingga 24 juta orang per tahun.
Baca juga: Jumlah Penumpang Turun Drastis, PT Angkasa Pura I Kurangi Jam Operasional di 15 Bandara
Terminal Baru Bandara Ahmad Yani Semarang dibangun dengan investasi sebesar Rp2,075 triliun. Terminal baru ini memiliki luas 58.652 meter persegi, hampir sembilan kali lipat dari luas terminal lama, dan dapat menampung 6,9 juta penumpang per tahun. Sedangkan Terminal Baru Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin dibangun dengan nilai investasi sebesar Rp2 triliun memiliki luasan 77.562 meter persegi yang mampu menampung 7 juta penumpang per tahun serta apron atau tempat parkir pesawat yang dapat menampung 14 pesawat narrow body.
Perjalanan lintas batas antara Malaysia dan Singapura yang melintasi Causeway mulai dibuka. Salah seorang warga Malaysia Nurul Hidayah Norezan menjadi salah satu yang berjalan kaki melintasi Causeway. Ia dan warga lainnya harus berjalan sekitar satu kilometer karena tidak ada angkutan umum.
Baca juga: Malaysia Berlakukan “Lockdown,” Ini Enam Ketentuan yang Harus Dipatuhi
Hal ini membuat perjalanan mereka lebih lama satu jam dari biasanya. Nurul sendiri sebelum pandemi dan Malaysia melakukan pembatasan perjalanan untuk memutus penyebaran Covid-19.
“Saya senang bisa kembali bekerja lagi, tetapi pada saat yang sama saya sedih karena akan dipisahkan dari anak saya yang berusia satu tahun,” kata Nurul yang dikutip KabarPenumpang.com dari straitstimes.com (17/8/2020).
Selain itu puluhan warga Malaysia juga meninggalkan Singapura Senin (17/8/2020) pagi untuk kembali ke kota asal mereka. Muhd Shafii Muhd seorang pekerja hotel, mengaku senang melihat keluarganya di Johor Baru setelah lima bulan terpisah. Dia mengatakan, tempatnya bekerja mengizinkan dirinya mengambil cuti tahun ini dengan skema cuti tanpa upah dan akan kembali pada pekerjaannya Januari mendatang.
“Aku sudah lama menunggu ini. Saya sangat merindukan keluarga saya. Hal pertama yang akan saya lakukan adalah menghabiskan waktu bersama keluarga, itu yang terpenting … uang bisa menunggu,” katanya.
Untuk diketahui, dimulainya kembali perjalanan lintas batas antara Singapura dan Malaysia berlangsung dalam dua skema yakni Reciprocal Green Lane (RGL) untuk pelancong dengan kunjungan yang lebih singkat, dan Periodic Commuting Arrangement (PCA). Di mana RGL memfasilitasi perjalanan jangka pendek untuk keperluan bisnis atau resmi antar kedua belah pihak selama 14 hari.
Sedang PCA mengizinkan penduduk Singapura dan Malaysia yang memegang izin imigrasi jangka panjang untuk keperluan bisnis dan kerja di negara lain untuk memasuki Singapuran dan bekerja. Pengaturan tersebut memungkinkan pemberi kerja melakukan perjalanan untuk pertemuan penting dan memberikan kesempatan kepada pekerja untuk lebih sering bertemu dengan keluarga mereka.
Sebelum pandemi Covid-19, lebih dari 300 ribu pelancong menggunakan Causeway setiap hari. Di antara mereka ada sekitar 100 ribu orang Malaysia yang pulang-pergi setiap hari antara Singapura dan Malaysia. Saat ini, ada beberapa orang Malaysia yang memutuskan untuk tetap tinggal, dengan alasan komitmen keluarga dan persyaratan skema PCA yang berat.
Perawat Cindy Ong yang berada di Johor Baru setelah kembali pada Desember tahun lalu untuk melahirkan mengatakan dia belum akan kembali bekerja di Singapura karena tidak bisa membawa bayinya. Suaminya mengikuti, kembali ke Johor Baru tiga bulan kemudian.
“Sampai sekarang, kami bertahan dengan tabungan kami. Suami saya juga membantu bisnis teman. Kami berharap perbatasan akan dibuka kembali untuk memungkinkan perjalanan harian sehingga kami dapat melanjutkan pekerjaan kami di Singapura, ”katanya.
Baca juga: Imbas Lockdown, Singapura Sediakan Kamar Hotel untuk Pengemudi dan Teknisi Bus Asal Malaysia
Manajer pemasaran Steven Tan, yang saat ini berada di Singapura, merasa repot untuk mengajukan skema PCA. Dia mengatakan, proses karantina di malaysia dan Singapura membuatnya jera dan tidak bisa mengambil cuti banyak hari untuk tidak melakukan apa-apa.