Ingin Lihat Rumah Berkontur ala Pegunungan di Nepal, Yuk Mampir ke Dusun Butuh di Lereng Gunung Sumbing

Berlibur ke Magelang tak melulu harus ke Candi Borobudur, karena ada salah satu dusun yang kini terkenal dan letaknya di lereng Gunung Sumbing. Dusun Butuh yang berada di desa Temanggung Kaliangkrik ini terkenal seperti desa yang berada di Pegunungan Himalaya, Nepal dan menjadi dusun tertinggi di Kabupaten Magelang. Lokasinya berada diketinggian sekitar 1700an meter di atas permukaan laut (mdpl). Baca juga: Sebelum Diterpa Ledakan Besar, Lebanon Tahun 60-an Pernah Jadi Destinasi Favorit Pramugari dan Pilot Dusun ini memiliki keindahan yang luar biasa dan menjadi basecamp bagi para pendaki yang akan menuju ke puncak Gunung Sumbing. Tak hanya itu, rumah-rumah di dusun ini terkenal unik karena susunan yang bertingkat dan bangunannya terlihat berdempetan dari bawah hingga ke atas dengan latar belakang Gunung Sumbing.
Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, sebutan Nepal-nya Jawa Tengah pun diberikan oleh pendaki maupun pelancong yang menamakan dusun ini dengan ‘Namache Bazaar’. Namun, Kepala Dusun Butuh Lilik Setyawan mengatakan, sebelum disebut Nepal, sempat disebut sebagai Rio De Janaeri di Brasil dan ada yang juga menyebut mirip di Tibet. Ini karena kontur Dusun Butuh yang bertingkat seperti terasering dan dulunya tempat ini merupakan ladang pertanian warga sehingga bangunan rumah mengikuti kontur lahan. Lilik mengatakan, sebelum viral setahun lalu tepatnya pada Juni 2019, hanya para pendaki yang akan menuju Gunung Sumbing saja yang melalui basecamp Butuh. Tetapi kini, Lilik mengakui bahwa pelancong dari luar pun datang untuk berfoto dengan latar belakang rumah penduduk maupun hamparan perkebunan holtikultura serta pohon-pohon pinus. Dari Dusun Butuh, pelancong bisa melihat hamparan pemandangan yang luar biasa, bahkan kota Magelang pun bisa terlihat. Bukan hanya untuk berfoto-foto, pelancong pun bisa menikmati keindahan istimewa lainnya yakni dengan melihat matahari terbit atau sunrise. Warna jingga dan kuning yang tergradasi dengan birunya lagit serta putihnya awan akan membuat siapapun yang menikmatinya berdecak kagum. Diakui Lilik, viralnya Dusun Butuh kini berdampak bagi kesejahteraan masyarakat setempat dan membuat mereka berbenah diri. Sehingga bagi pelancong yang akan menikmati sunrise atau menatapi keindahan alam lereng Gunung Sumbing serta udara dingin bisa menginap di Taman Camping ceria yang letaknya di dekat pos 1 yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama satu hingga dua jam atau 20 menit dengan sepeda motor. Saat ini, perangkat desa juga sedang membuat taman yang bisa digunakan untuk kegiatan dan foto yang berlokasi di bawah basecamp. Untuk mencapai lokasi ini memang butuh nyali dan semangat tinggi, karena belum ada angkutan khusus. Sehingga pelancong bisa menggunakan kendaraan pribadi atau sewa. Baca juga: Desa Pelangi, Ubah Wilayah Padat dan Kumuh Jadi Tujuan Wisata Bila menggunakan kendaraan roda empat, maka harus parkir di bawah atau tempat pengepul sayuran. Di dusun itu ada lebih dari 610 KK atau 3000 warga yang tinggal. Rumahnya berada di pereng bukit dan setiap rumah berdekatan satu sama lain.

Curhat Pilot Senior Akibat Pandemi, Jam Terbang Rendah, Serba Lupa, dan Seperti Pertama Kali Terbang

Pandemi virus corona membuat frekuensi penerbangan anjlok. Selain berdampak ke revenue maskapai, sepinya penerbangan juga membuat pilot nyaris kehilangan sentuhan terbaik. Setidaknya, itulah pengalaman pilot senior salah satu maskapai besar Asia, Ashwin Ram. Baca juga: Selain di Pakistan, Pilot Berlisensi Palsu Ternyata Lebih Banyak di India Dilansir Flight Global, Senior First Officer (SFO) yang biasa menerbangkan Airbus A330 and A350 ini mengaku sangat terpukul dengan pandemi Covid-19. Sebab, virus yang diduga berasal dari Wuhan, Cina itu bukan hanya membuatnya kehilangan banyak pemasukan, melainkan juga kehilangan kemampuan terbang. Tak main-main, kemampuan Ashwin saat pertama kali mulai masuk ke kokpit lagi, belakangan ini, diakui sama seperti kemampuan saat ia baru diterima kerja dan mulai melakukan penerbangan pertama. Parahnya lagi, kemampuan di sini terkait dua hal, teknis dan non teknis atau insting, seperti kemampuan membaca situasi, memecahkan masalah, dan insting tajam dalam mengambil keputusan. Di luar pandemi virus corona, Ashwin biasanya sudah mencapai 500-600 jam di bulan Agustus. Bandingkan dengan kondisi Agustus di tahun ini yang bahkan belum mencapai 100 jam. Terpaut jauh, bukan? Cukup wajar bila kondisi itu membuatnya seperti kehilangan sentuhan terbaik. Guna mengatasi hal itu, Ashwin mengaku mau tak mau harus sering-sering ke simulator. Selain itu, maskapai tempatnya bekerja juga membuat program pelatihan berbasis simulator yang dirancang khusus untuk membantu pilot mencapai level terakhir sebelum Covid-19 melanda. Fokus perhatian program tersebut berupa banyak hal, mulai dari basic standard operating procedures and preparation for the flight, visual circuit patterns, engine failure, high- and low-energy go-arounds, system failures (like hydraulics) requiring ECAM management, dan beberapa instrument approaches. Baca juga: Pertama di Dunia, Pramugari Wizz Air Bisa Gantikan Pilot Kemudikan Pesawat Meskipun sudah berusaha mendapatkan kembali kemampuan terbaik, rupanya hal itu belum cukup. Ketika pertama kali masuk ke kokpit untuk memulai penerbangan perdana di tengah pandemi Covid-19, ia mengaku jauh lebih lambat dan cenderung butuh waktu hanya untuk memastikan bahwa ia melakukan langkah-langkah pengoperasian pesawat dengan tepat. Kondisi tersebut mirip saat dirinya baru bergabung ke maskapai dan pertama kali menerbangkan pesawat. Atas pengalamannya itu, ia pun ingin sedikit berbagi agar pengalaman pertama kembali ke kokpit tetap aman, khususnya bagi pilot yang tak punya akses ke simulator. Mereka bisa memulai dengan memvisualisasikan tata letak kokpit, prosedur terbang, hingga membaca buku flight crew operating manual dan company manual.

Meski Didera Badai Covid-19, Inilah Empat Maskapai Anti Bangkrut! Semuanya dari Asia

Tak bisa dipungkiri, pandemi Covid-19 telah meluluhlantakkan keuangan maskapai di seluruh dunia. Hal itu disebabkan turunnya jumlah perjalanan penumpang, sebagai dampak adanya lockdown serempak di hampir seluruh negara. Baca juga: Pengamat: Sulit Untuk Ikuti Cina Turunkan Harga Tiket Pesawat Hingga Rp60 Ribu Sejalan dengan itu, jutaan lapangan pekerjaan di sektor aviasi pun hilang. Akhir April lalu, Asosiasi Transportasai Udara Internasional (IATA) memperkirakan, ada sekitar 25 juta pekerja di sektor aviasi yang terancam PHK. Sejauh ini, sudah ada lima maskapai di dunia yang bangkrut akibat corona. Lima itu, mulai dari maksapai terbesar di Amerika Selatan LATAM Airlines Group, Avianca, Virgin Australia, FlyBe, hingga Trans State Airlines. Mengingat pandemi virus corona masih terus berlanjut di seluruh dunia, di samping belum tersedianya vaksin serta terbatasnya dana talangan, diperkirakan akan lebih banyak maskapai bangkrut di akhir tahun. Setidaknya, begitulah pengamatan dari presiden Emirates, Sir Tim Clark. Akan tetapi, di balik semua itu, setidaknya ada empat maskapai di dunia yang diprediksi bakal tetap bertahan apapun kondisinya. Menariknya, dari empat maskapai itu, satu pun tak ada maskapai dari Eropa dan Amerika Utara (Amerika Serikat dan Kanada). Penasaran? Dikutip dari rateacabincrew.com, berikut empat maskapai anti bangkrut di seluruh dunia. 1. Maskapai nasional Cina Tiga maskapai nasional Cina, Air China, Chinese Eastern, dan Chinese Southern dinilai tidak akan bisa bangkrut, tak peduli apa dan bagaimanapun kondisi industri penerbangan global. Pemerintah Cina dinilai punya modal yang kuat untuk membuat tiga maskapai yang mengangkut lebih dari 300 juta dalam setahun ini terus terbang, sekalipun dalam kondisi merugi selama beberapa dekade. Langkah pemerintah dalam membantu keuangan maskapai selama pandemi Covid-19 mungkin bisa jadi contoh nyata untuk membuktikan penilaian tersebut. 2. Qatar Airways Maskapai terbaik dunia 2019 versi Skytrax tersebut merupakan maskapai nasional Qatar, negara kaya di Timur Tengah. Salah satu dari the three mega carrier Timur Tengah ini, bersama kompetitor abadi dari negeri tetangga, Emirates dan Etihad, dinilai memiliki asset lebih dari US$350 miliar di seluruh dunia, lebih dari cukup untuk membuatnya terus bertahan di tengah pandemi Covid-19 selama beberapa tahun mendatang. Tak hanya itu, kondisi geo politik di Timur Tengah yang terus memanas, ditandai dengan blokade ekonomi oleh sejumlah negara, praktis, membuat maskapai yang dipimpin oleh Akbar Al Baker ini memegang peran vital dalam menyokong pasokan pangan nasional Qatar dari Turki. Refund tiket senilai US$1,2 miliar kepada hampir 600.000 calon penumpang sejak Maret 2020 lalu mungkin jadi salah satu bukti kekuatan finansial maskapai. 3. Etihad Airways Maskapai nasional Uni Emirat Arab (UEA) ini dimiliki oleh keluarga kerajaan Abu Dhabi, dimana sang raja kerajaan tersebut didapuk menjadi presiden UEA. Layaknya maskapai lain di dunia, Etihad Airways mengalami kerugian besar. Namun, pemilik maskapai yang juga mempunyai perusahaan investasi Abu Dhabi Investment Authority (ADIA) dengan kekayaan mencapai US$1 triliun, mustahil rasanya bakal membiarkan maskapai tersebut bangkrut, terlebih bila berbicara reputasi dihadapan maskapai satu negara, Emirates, serta maskapai dari negeri tetangga, Qatar Airways. Baca juga: IATA Usul Dunia Jangan Karantina Wisatawan! Ini Alasannya 4. Singapore Airlines Maskapai nasional Singapura ini jadi maskapai terakhir di dunia yang dinilai anti bangkrut. Dalam menghadapi pandemi virus corona, misalnya, pemerintah bersama sejumlah investor setidaknya telah menyuntikkan dana sebesar 19 miliar dolar Singapura atau Rp218 triliun (kurs Rp 11.292). Dana talangan tersebut juga menjadi dana talangan terbesar ke maskapai di dunia sebagai upaya penyalamatan. Dengan berbagai penjelasan di atas, dimana keempat maskapai Asia tersebut dinilai anti bangkrut, layakkah mereka menyandang gelar sebagai maskapai terbesar di dunia dari segi kekuatan finansial?

Gantikan Lithium Ion, Baterai Lithium-Sulfur Bikin Era Pesawat Listrik Semakin Dekat

Belum lama ini, perusahaan Inggris spesialis baterai lithium-sulfur (Li-S), Oxis Energy, mengumumkan pengembangan baterai lithium-sulfur baru dengan tingkat kepadatan lebih tinggi untuk dipasok ke pesawat listrik regional besutan perusahaan asal Brasil, Texas Aircraft Manufacturing, eColt. Baca juga: Retrofit Cessna Catat Sejarah Sebagai Pesawat Listrik Terbesar di Dunia New Atlas melaporkan, baterai lithium-sulfur Oxis 90-kWh nantinya bakal membuat pesawat sport ringan berkapasitas dua orang yang terbuat dari logam itu (eColt) mampu menempuh jarak maksimal dua jam sejauh 370 km. Baterai tersebut juga diklaim lebih ringan hingga 40 persen dari baterai lithium-ion (Li-ion). Ditargetkan, baterai Li-S Oxis Energy dapat mulai diproduksi secara massal pada 2023 mendatang. Dengan begitu, pesawat listrik eColt dapat menjadi alternatif efisien (biaya operasional lebih murah) dan ramah lingkungan bukan hanya sebagai pesawat sport, melainkan juga sebagai pesawat latih untuk para pilot baru maskapai penerbangan komersial di seluruh dunia. Selain berbagai keuntungan di atas, secara makro, pengembangan baterai Li-S juga dinilai dapat membuat sentimen positif terhadap geliat pesawat listrik regional, all-electric and hybrid-electric powered vertical takeoff and landing (eVTOL), serta pesawat listrik bersayap tetap lainnya di masa mendatang; termasuk juga pengembangan listrik untuk moda transportasi lain. Pada umumnya, tantangan terbesar para peneliti dalam pengembangan pesawat listrik terletak pada kemampuan baterai. Prinsipnya, bagaimana membuat baterai dengan ukuran kecil atau paling tidak seperti ukuran baterai yang ada saat ini namun dengan kapasitas yang jauh lebih besar. Tak hanya itu, pengembangan baterai juga mencakup durasi pengisian daya yang harus jauh lebih cepat dari yang sudah ada. Dengan adanya baterai Li-S, sebagai generasi pengganti baterai Li-ion, secara tak langsung bakal membuat kemampuan pesawat listrik menjadi lebih sepadan bahkan melebihi kemampuan pesawat bertenaga konvensional. Yang paling penting, penggunaan baterai Li-S juga dapat menurunkan harga jual pesawat itu sendiri. Meskipun belum ada perbandingan siginifikan pada pesawat, penggunaan baterai murah dan berkemampuan tinggi mungkin bisa diambil dari mobil listrik. Tesla model 3, berhasil menekan harga jual mobil listrik jauh lebih rendah dengan penggunaan baterai lithium-iron-phosphate, yang sama sekali tak menggunakan kobalt. Baca juga: Pesawat Listrik NASA X-57 Maxwell Segera Terbang Perdana Dilansir dari electrive.com, baterai lithium-sulfur dipilih untuk meminimalisir penggunaan kobalt pada baterai lithium ion. Sulfur menjadi material pilihan para peneliti untuk menjadi katoda pada teknologi baterai lithium ion. Sulfur (S8) dipilih karena ketersedian di alamnya yang melimpah dan harganya murah. Selain itu, sulfur dapat diperoleh dari limbah pengolahan minyak bumi. Secara teoritis, sulfur memiliki kapasitas penyimpanan yang tinggi sebesar 1672 mAh per gram yang nilainya 10 kali lebih besar dari material katoda konvensional seperti LiCoO2 dan LiFePO4. Baterai lithium ion hanya mampu menghasilkan rapat energi 200–265 Wh/kg, sedangkan baterai lithium-sulfur buatan Oxis Energy mampu menghasilkan rapat energi sebesar 400 Wh/kg.

Menolak Pakai Masker, Penumpang Kerera Cepat di Perancis Diusir dari Kereta

Pemakaian masker saat ini menjadi hal yang lumrah dilakukan semua orang untuk meminimalisir penularan Covid-19. Ketika naik transportasi umum pun, masker menjadi salah satu hal pertama yang di cek oleh para petugas dan akan menegur saat ada yang tidak mengenakan masker. Baca juga: Singapura Bedakan Ketentuan Penggunaan Face Shiled dan Masker Seperti seorang penumpang pria di Prancis yang dipaksa turun karena menolak menggunakan masker. Dilansir KabarPenumpang.com dari independent.co.uk (19/8/2020), pria yang tak disebutkan namanya ini melakukan perjalanan dengan layanan kereta cepat TGV Paris – Nice pada 16 Agustus ketika dia diminta untuk menggunakan masker yang saat ini wajib di transportasi umum Prancis. Namun bukannya menggunakan, dia menolak berulang kali dan keputusan akhirnya diambil untuk melakukan pemberhentian tak berjadwal. Pemberhentian ini dilakukan untuk mengusir dan menurunkan pria tersebut dari kereta. Selain diusir dari kereta, pria tersebut juga harus membayar denda sebesar €135 karena tidak mengikuti aturan. “Kami berhenti sebelum mencapai Marseille dan petugas mengeluarkan penumpang di Creusot di wilayah Saone-et-Loire di timur Prancis. Sayang sekali kami berhenti di sana, tetapi keselamatan dan keamanan semua adalah prioritas utama kami,” kata Alain Krakovitch manajer SNCF Voyage di Twitter. “Agen keamanan SNCF kami disumpah dan diberi wewenang untuk mengeluarkan denda karena tidak memakai masker. Mereka juga mampu membuat orang yang tidak patuh keluar dari kereta karena mengganggu ketertiban umum,” tulisnya lagi. Karena hal ini pun seorang penumpang wanita yang juga dalam perjalanan kereta tersebut men-tweet, “TGV saya melakukan pemberhentian yang luar biasa di tengah tempat tinggal untuk mengusir seorang pria yang menolak untuk memakai topeng.” Dia mengatakan, mereka seharusnya berhenti sebelum Marseille dan orang itu berada di kedalaman Burgundy. “Bagus sekali tuan, Anda telah membuktikan kepada dua pengawas dan teman sebangku bahwa Anda benar-benar pemberontak. Selamat kembali ke rumah, nikmati pedesaan Burgundy,” tulisnya lagi. Baca juga: Pengamat Penerbangan: Kalau Sudah Pakai Masker Semua, Kenapa Harus Jaga Jarak? Untuk diketahui, pemberontak tampaknya masih minoritas dan pihak SNCF mengatakan, umumnya pelancong menghormati aturan menggunakan masker. Bahkan lebih dari 95 persen mengikuti aturan dan lima persen lainnya setuju menggunakan setelah diminta.

Duuh.. Penumpang Pesawat ini Gunakan Pakaian Dalam Sebagai Masker Wajah

Masker di masa pandemi menjadi salah satu kebutuhan yang wajib dikenakan untuk meminimalisir penularan virus corona atau Covid-19. Bahkan moda transportasi umum pun kini mewajibkan penumpangnya menggunakan masker dan bila tidak mengenakannya akan ada sanksi sesuai aturan yang berlaku pada moda transportasi. Baca juga: Masker LED Desain Chelsea Klukas Jadi Gaya di Masa Pandemi Saat ini, masker yang sudah menjadi trend memiliki model dan warna yang bisa dipadupadankan dengan pakaian yang dikenakan. Namun apa jadinya jika seseorang yang akan bepergian menggunakan pakaian dalam wanita sebagai ganti masker?
Hal ini terjadi pada penerbangan maskapai Spirit Airlines yang berangkat dari Latrobe dan tengah dalam penyelidikan. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman sumber wpxi.com, diketahui seorang pria yang naik pesawat milik maskapai tersebut menggunakan pakaian dalam sebagai masker wajahnya. Juru bicara Spirit Airlines mengatakan tidak mengetahui secara jelas apakah pria itu mengenakan pakaian dalam tersebut sebelum atau setelah naik. Sebab Spirit Airlines sendiri mengharuskan penumpang dan awaknya untuk mengenakan masker. ”Kami menyadari bahwa masker wajah yang tidak tepat tersebut. Sebagai hasilnya kami telah mengambil tindakan secara internal pada acara yang terisolasi ini untuk memastikan kepatuhan dengan panduan dari CDC tentang masker wajah,” kata juru bicara tersebut. Erik Hofmeyer, manajer hubungan media mengatakan, persyaratan Spirit untuk mengenakan penutup wajah mulai berlaku pada 11 Mei dan pihaknya menyertakan pengingat dalam komunikasi kepada Tamu, yang meliputi email, pusat panggilan, situs web, saluran media sosial, pengumuman sebelum penerbangan dan lainnya. ”Agen menyaring Tamu selama proses boarding untuk memastikan mereka memiliki masker atau penutup wajah yang sesuai dengan pedoman CDC. Awak kabin kami juga dengan hormat memberi tahu Tamu tentang kebijakan tersebut sejalan dengan pedoman yang ada untuk mengelola perilaku Tamu,” kata dia. Erik mengatakan, menjaga tamu dan awak kabin mereka adalah prioritas mutlak. Di mana persyaratan penggunaan masker wajah ini menjadi bagian dari inisiatif keamanan yang berlapis-lapis Spirit yang mencakup filter udara partikulat efisiensi tinggi (HEPA) mutakhir yang menangkap 99,97 persen partikel dan menyaring kontaminan di udara setiap tiga menit. Baca juga: Adidas Hadirkan Masker dari Bahan Daur Ulang ”Kami juga telah menyempurnakan prosedur pembersihan menggunakan disinfektan tingkat rumah sakit yang berfokus pada area dengan sentuhan tinggi seperti gagang, gesper sabuk pengaman, sandaran lengan meja baki. Silakan kunjungi Pusat Informasi COVID-19 kami untuk informasi lebih lanjut tentang peningkatan keamanan,” ujarnya lagi.

Ninja UAV – Drone yang Bantu Pemetaan dan Pengawasan Indian Railways

Ninja UAV kendaraan udara tak berawak yang berbasis drone digunakan Indian Railways dalam upaya untuk mengintensifkan mekanisme keamanan di seluruh jaringannya. Ninja UAV sendiri merupakan alat mikro ringan dan ekonomis yang dibuat untuk pemetaan dan pengawasan. Baca juga: Keren, Taksi Drone Otonom EHang 216 Sukses Ajak Penumpang Terbang Keliling Langit Cina KabarPenumpang.com melansir laman hindustantimes.co (18/08/2020), drone beats ini telah dirancang berdasarkan aset kereta api, sensitivitas daerah dan serangan kriminalnya. Seorang pejabat Indian Railways mengatakan, teknologi pengawasan drone telah muncul sebagai alat penting dan hemat biaya untuk pengawasan keamanan di area yang luas dengan tenaga terbatas. ”Sebagai percontohan, kami telah mulai dengan Divisi Kereta Api Pusat (CR) Mumbai. Kami baru-baru ini membeli dua Ninja UAV untuk keamanan dan pengawasan yang lebih baik di area seperti lokasi stasiun, rel kereta api, halaman, bengkel dan lainnya. Sebuah tim yang terdiri dari empat staf RPF (Pasukan Perlindungan Kereta Api), Mumbai, telah dilatih untuk menerbangkan drone, pengawasan dan pemeliharaan. Drone ini mampu melakukan pelacakan waktu nyata, streaming video dan juga dapat dioperasikan pada mode gagal-aman otomatis,” kata pejabat tersebut. Kamera drone dapat mencakup area yang luas, yang mungkin membutuhkan hingga sepuluh personel RPF. RPF telah merencanakan penggunaan drone secara ekstensif untuk keamanan kereta api di seluruh zonanya. Saat ini, sembilan drone telah dibeli oleh RPF dengan biaya Rs31,87 lakh untuk zona South Eastern Railway (SER), CE dan South Western Railway (SWR) dan Modern Coaching Factory, Raebareili. Indian Railways pun kini tengah berencana untuk menambah drone sebanyak 17 buah dalam waktu dekat dengan biaya Rs97,52 lakh. Nantinya, penyebaran drone bisa menjadi pengganda kekuatan bagi personel keamanan. Drone dapat membantu dalam pemeriksaan aset kereta api dan keamanan halaman. Drone juga dapat digunakan untuk melakukan pengawasan terhadap aktivitas kriminal dan anti-sosial seperti perjudian, membuang sampah sembarangan, menjajakan, antara lain, di tempat kereta api. ”Drone dapat digunakan untuk analisis pengumpulan data dan mungkin terbukti berguna di bagian yang rentan untuk pengoperasian kereta yang aman. Bahkan drone ini dapat digunakan di lokasi bencana untuk membantu penyelamatan, pemulihan, dan operasi restorasi dan koordinasi upaya berbagai lembaga,” kata catatan tentang pengawasan drone yang dikeluarkan Kementerian. Drone dapat berguna saat melakukan pemetaan aset kereta api untuk menilai perambahan pada properti kereta api. Selama upaya pengelolaan kerumunan skala besar, drone dapat memberikan masukan penting seperti besarnya pertemuan, kemungkinan waktu kedatangan dan penyebaran berdasarkan mana latihan semacam itu dapat direncanakan dan dilaksanakan. Baca juga: Agar Bermanfaat dan Tak Membahayakan, Begini Syarat Jadi Pilot Drone Drone juga digunakan untuk menegakkan pembatasan lockdown dan memantau pergerakan migran kembali ke tempat asalnya setelah wabah penyakit virus corona (Covid-19). Sejauh ini, otoritas RPF telah melatih 19 personelnya dalam pengoperasian dan pemeliharaan drone. Dari 19 staf RPF, empat telah menerima lisensi untuk menerbangkan drone dan enam lainnya sedang menjalani pelatihan untuk latihan serupa.

‘Serangan’ Beruang Bikin Penerbangan di Rusia Terhenti Puluhan Menit!

Serangan seekor beruang bikin penerbangan di Rusia, tepatnya di sebuah bandara di Magadan, Oblast, sempat terhenti selama kurang lebih 20 menit. Hal itu dikarenakan beruang liar tersebut berkeliaran di landasan sehingga mengganggu aktivitas penerbangan. Baca juga: Bikin Ketar-Ketir Penumpang, Inilah 6 Insiden Binatang Masuk ke Pesawat Tanpa Sengaja Seperti dilaporkan Aviation Herald, sebagaimana dikutip dari Simple Flying, maskapai S7 sejatinya dijadwalkan mendarat lima jam di Magadan, Timur Jauh Rusia, setelah lepas landas dari Bandara Novosibirsk (OVB) di sebelah Selatan dengan jarak sekitar 4 ribu km. Akan tetapi, saat pesawat A320neo dengan nomor registrasi VQ-BRI menurunkan ketinggian ke 500 kaki dan melakukan pendekatan pendaratan, pilot melihat landasan terhalang objek yang belakangan diketahui seekor beruang. Pilot pun memutuskan kembali meningkatan ketinggian dan menjauh dari landasan. Akibat kejadian itu, pesawat harus berputar-putar di langit sekitaran bandara selama 20 menit sebelum akhirnya mendarat dengan selamat tanpa gangguan beruang. Tak dijelaskan dengan rinci bagaimana beruang tersebut pergi, entah karena desakan dari petugas atau memang pergi begitu saja. Teror beruang di bandara Rusia tentu bukanlah yang pertama. Sebelumnya, pada Juni tahun lalu, salah satu bandara di Negeri Beruang Merah itu, Yelizovo, dilaporkan harus ditutup sementara setelah beruang tak bertuan masuk ke area bandara. Bandara di Timur Jauh itu akhirnya bisa kembali beroperasi setelah petugas penjaga hewan datang. Sayangnya, tak lama petugas datang, beruang tersebut terlebih dahulu melarikan diri dan hilang bak hantu. Timur Jauh Rusia memang jadi salah satu wilayah di Rusia yang kerap kedatangan beruang, mengingat wilayahnya yang masih asri, tak seperti di bagian Barat Rusia, seperti Moskow dan kota-kota lainnya yang sudah dipenuhi bangunan dan manusia. Selain Rusia, penerbangan di negara-negara lainnya juga sempat terganggu akibat kemunculan hewan liar. Di Kenya, maskapai regional negara tersebut, Safarilink pernah bertabrakan dengan rusa liar saat mendarat di Maasai Mara. Beruntung, pesawat Bombardier Q Series atau Dash 8 beserta seluruh penumpang dan kru tak selamat. Namun tidak demikian dengan sang rusa yang dilaporkan mati seketika. Baca juga: Gegara Seekor Merpati di Kabin, Penerbangan Aeroflot Tertunda di Moskow Di Goa, India, pesawat A320-200 AirAsia juga pernah terganggu akibat hewan liar. Berbeda dari dua negara sebelumnya, kala itu, seekor anjing liar yang menjadi aktornya. Begitu juga di Pakistan saat seekor babi hutan berkeliaran di runway. Namun, nahas nasib binatang tersebut, pasalnya pilot tak melihat dan tabrakan antara Etihad A320 dengan babi hutan akhirnya tak terhindarkan. Meskipun pesawat dan seluruh penumpang beserta kru selamat, tidak demikian dengan babi hutan itu yang disebut harus menemui ajalnya. Meskipun tak terlalu sering, gangguan hewan liar di berbagai negara harus ditangani dengan serius. Sebab, jika pada penerbangan siang hari saja, sudah banyak hewan liar yang tertabrak, bagaimana dengan malam hari, dimana visibilitas pilot lebih terbatas terhadap objek asing di landasan. Bila tidak segera dievaluasi dan diambil langkah-langkah konkret, bukan tak mungkin insiden penerbangan terganggu akibat hewan liar akan terus terjadi dan kelak menimbulkan korban jiwa.

PK-KKH, Sang Pendahulu N250 yang Lebih Awal Pamer Pesawat Indonesia di Eropa

Bicara dunia kedirgantaraan Indonesia, banyak kalangan seketika langsung teringat dengan BJ Habibie, Presiden Indonesia ketiga sekaligus perancang pesawat N250, pesawat pertama di Asia yang berhasil terbang ferry flight jarak jauh ke Eropa untuk menjali serangakian promosi, termasuk mengikuti salah satu event kedirgantaraan ternama di dunia Paris Air Show tahun 1997. Baca juga: Dari Bandung ke Paris, N250 Jadi Pesawat Buatan Asia Pertama yang Lakoni Ferry Flight Lintas Benua N250, yang kala itu dipimpin langsung oleh pilot uji senior IPTN, Kolonel Pnb Chris Sukardjono, bersama lima orang lainnya, terdiri dari tiga teknisi dan dua penerbangan, berhasil terbang ferry flight sejauh lebih dari 13.500 km, Bandung-Paris, dengan selamat. Masyarakat Indonesia senang, dunia pun tercengang. Padahal, jauh sebelum itu, pesawat buatan Indonesia (sebelum merdeka) lainnya, PK-KKH sudah lebih dahulu menggemparkan dunia. Menariknya, pesawat tersebut sama-sama lahir di Bandung dari tangan dingin seorang insinyur yang juga dekat dengan Anthony Fokker, Achmad bin Talim. Bedanya, N250 dirancang oleh BJ Habibie langsung, sedangkan PK-KKH dirancang oleh orang Belanda dan dibuat oleh orang Indonesia. Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, sejarah pesawat pertama Indonesia yang melanglang buana sampai ke Eropa dimulai saat pengusaha daging dan roti sekaligus anggota klub terbang LA (Luchtvaart Afdelingen), Khouw Khe Hien, berniat untuk membuat pesawat sendiri. Ia ingin ada pesawat pribadi yang mampu membantunya dalam mengontrol kerajaan bisnis miliknya. Ide tersebut kemudian diceritakan ke rekannya sesama LA, L.W. Walraven. Walvaren bersama Kapten M.P. Pattist kemudian mulai merancang pesawat tersebut pada tahun 1934. Selesai dirancang, Achmad bin Talim pun, yang juga bagian dari LA, ditunjuk untuk menjadikan rancangan tersebut menjadi sebuah pesawat langsing dan aerodinamis serta bersayap tunggal (monoplane) dan rendah (low wing) itu. Berbekal bakar dan pengalamannya saat ditempatkan oleh Anthony Fokker di bagian perbaikan pesawat, Achmad bersama beberapa temannya berhasil merampungkan pesawat berbadan kayu ini dalam tempo enam bulan, termasuk memasang kedua mesin Pobyo 90 TK. Dalam sebuah tulisan di Majalah Angkasa No.3 Desember 1990, ia mengaku tidak menemui kesulitan apapun dalam proses pembuatan karena bahan bakunya tersedia, seperti tripleks, plat, sekrup, kawat, dan sebagainya. Pesawat yang rodanya tidak bisa dilipat (fixed landing gear) ini akhirnya resmi terbang perdana pada tanggal 4 Januari 1935. Bangga dengan pesawat asli Hindia Belanda buatan Bandung ini, Khouw Khe Hien sebagai insiator dan Walraven pun berniat mempromosikan pesawat tersebut ke Eropa dan melenggang ke Eropa, dengan rute Bandung-Cililitan-Amsterdam pada tanggal 9 September 1935. Walraven berangkat ke Belanda dengan menggunakan pesawat dari maskapai penerbangan KLM (Koninklijke Luchtvaart Maatschappij), sedangkan Walraven W-2 dengan nomor registrasi PK-KKH tersebut diterbangi oleh pilot LA, Letnan Kees Terluin dan Khow Khe Hien sebagai pilot kedua. Setelah 18 hari, dari semula target penerbangan kurang dari 10 hari -mengingat adanya kendala mesin- Walvaren 2 PK-KKH akhirnya berhasil tiba di Bandara Schipol, Amsterdam pada tanggal 27 September 1935. Pesawat tersebut dikabarkan menerima sambutan cukup meriah. Sebab, saat itu, belum ada pesawat Asia yang terbang ferry flight cukup jauh ke Eropa. Baca juga: Wiweko Soepono – Bapak ‘Two-Men Cockpit’ yang Sarat Pengalaman di Dunia Dirgantara Belum lagi, pesawat yang hanya dilengkapi dengan jarum penunjuk kecepatan, altimeter, temperatur, kompas, dan penunjuk bahan bakar di kokpit ini, biaya pembuatan pesawat tersebut cukup murah, kurang lebih sekitar 5-6.000 gulden atau setara dua unit mobil sedan Buick. Setelah kembali dari Amsterdam pada 12 November 1935, Walvaren 2 PK-KKH makin menggeliat dengan terbang jauh ke Cina. Namun, proyek pesawat buatan Bandung tersebut akhirnya harus sirna setelah perancang serta inisiatornya menemui ajal masing-masing sebelum Indonesia merdeka.

Hilangkan Kursi Ganda di Bus, Torsus Buat Sekat Antar Kursi Penumpang Guna Cegah Penularan Covid-19

Menjaga jarak sosial antar satu manusia dengan lainnya menjadi hal lumrah di masa pandemi Covid-19. Ini pun diterapkan dalam moda transportasi umum yang sudah mulai kembali beroperasi untuk mengangkut penumpang setelah penguncian di negara-negara dunia diangkat. Baca juga: PO Bus di Myanmar Modifikasi Interior untuk Cegah Penularan Covid-19 Salah satu cara yang digunakan oleh moda transportasi untuk memberikan keamanan dan kenyamanan penumpang adalah memberi sekat antar kursi penumpang. Seperti yang dilakukan oleh perusahaan otomotif di Eropa yakni Torsus. Mereka memiliki cara cerdik untuk melindungi pengendara bus dan penumpang satu dengan lainnya melalui opsi tempat duduk baru. KabarPenumpang.com melansir dari laman autoindustriya.com (18/8/2020), Torsus yang dikenal karena membangun bus off-road saat ini harus beradaptasi dengan normal baru dan mereka menawarkan opsi tempat duduk yang memenuhi pedoman jarak sosial internasional. Perusahaan ini menghapus salah satu kursi ganda dan hanya menyisakan satu kursi di dalam deretan kabin bus per barisnya di setiap sisi. Kemudian kursi-kursi tersebut dibungkus dalam polong pelindung yang dibuat dari plastik bening setebal 3,5 mm yang secara khusus dibentuk untuk dimasukkan ke dalam barisan kursi yang kosong. Dengan adanya ini, setiap penumpang akan lebih aman dan nyaman karena memiliki jaringan pengamanan pribadi di dalam bus. Kehadiran sekat-sekat antar kursi di kabin bus, mengurangi kemungkinan penumpang tertular Covid-19. Selain itu, penumpang juga tidak akan melakukan kontak langsung dengan penumpang lainnya. Namun, nantinya jika situasi kembali normal seperti sediakala dan jarak sosial tidak lagi diperlukan dalam angkutan umum, maka bus dapat dikembalikan ke interior berkapasitas penuh. Ternyata, apa yang dilakukan oleh Torsus bisa dikatakan terlambat, pasalnya perusahaan otobus (PO) di Myanmar sudah terlebih dahulu menggunakan sekat di dalam bus mereka. JJ Express yang merupakan PO asal Myanmar tersebut memodifikasi bus agar penumpang nyaman dan mencegah tertular Covid-19. Modifikasi yang dilakukan adalah memberikan sekat plastik sehingga setiap kursi menjadi seperti bilik yang muat untuk satu orang. Mereka bahkan sudah mengubah selusin armada yang dimiliki dan membangun kabin mini menggunakan panel aluminium serta pintu di sekitaran kursi tunggal dan satu kabin di dekat jendela pada kursi kedua. Baca juga: Dear Penumpang Kereta Komuter, Ilmuan Jepang Beberkan Cara Cegah Corona di Gerbong Loh Tak hanya itu mereka juga merombak sistem pendingin udara dan memasang filter desinfeksi. Setelah dimodifikasi penumpang akan membayar $20 atau sekitar Rp287 ribu dan naik sekitar 20 persen dari harga standar biasanya.