Untuk meningkatkan cakupan layanan di Inggris, Uber akan membeli Autocab berbasis Stockport yang menyediakan teknologi bagi operator swasta dan taksi untuk menjalankan bisnis mereka. Teknologi ini termasuk perangkat lunak pemesanan dan pengiriman serta akses ke pada iGo-nya. Bahkan Autocab telah menetapkan jaringan iGo-nya sebagai pesaing Uber.
Baca juga: Uber Hadirkan “Hourly Rentals,” Sistem Sewa Kendaraan Maksimum 12 Jam Per Hari
Solusi tersebut memungkinkan pengemudi menerima order dalam cakupan nasional dan Autocab sendiri tahun lalu merayakan satu juta perjalanan. Tahun 2019 lalu, perusahaan ini melakukan penelitian komisi dan menunjukkan bahwa kebanyakan orang di Inggris tidak dapat memesan Uber dari rumah mereka sendiri.
Dilansir KabarPenumpang.com dari laman businesscloud.co.uk (6/8/2020), saat ini Uber beroperasi di 40 kota besar dan kecil di seluruh Inggris serta mengatakan kesepakatan ini akan memungkinkan membuat akses ke sekitar 130 kota besar.
“Melalui pasar iGo Autocab, Uber akan dapat menghubungkan pengendara ini dengan operator lokal yang memilih untuk melakukan pemesanan. Pada gilirannya, operator harus dapat memperluas operasi mereka dan menawarkan lebih banyak peluang pendapatan kepada pengemudi lokal,” kata perusahaan itu dalam pengumumannya.
Saat ini, Uber juga berencana untuk menjajaki penyedia peluang pendapatan tambahan bagi para pengemudinya terkait paltform untuk layanan lain seperti pengiriman. Sayangnya kesepakan tersebut rinciannya tidak diungkapkan sehingga membuat Autocab mempertahankan dewannya sendiri.
“Autocab telah bekerja dengan operator lokal di seluruh dunia untuk menyediakan teknologi agar mereka lebih efisien dan membuka pasar untuk menyediakan lebih banyak perjalanan. Bekerja dengan Uber, kami dapat meningkatkan ambisi kami, menyediakan ratusan ribu perjalanan tambahan untuk pelanggan kami, dan membantu memperkuat tempat operator berlisensi di komunitas lokal mereka,” kata Safa Alkatab, CEO Autocab.
Jamie Heywood, Manajer Umum Regional, Eropa Utara & Timur, Uber, menambahkan, Autocab telah berhasil bekerja dengan taksi dan operator persewaan swasta di seluruh dunia selama lebih dari tiga puluh tahun dan Uber harus banyak belajar dari pengalaman mereka.
Baca juga: Uber Hancurkan Ribuan Sepeda Listrik Jump dan Skuter
“Kami berharap dapat bekerja sama dengan tim Autocab untuk membantu operator lokal tumbuh dan memberikan peluang pendapatan asli bagi pengemudi,” ujar Heywood.
Pada bulan April Autocab menjanjikan setengah juta poundsterling untuk mendukung industri selama krisis virus korona, menawarkan diskon pembayaran untuk pemesanan dan perangkat lunak pengiriman mereka.
Merpati Airlines dikabarkan bakal terbang lagi. Desas-desus comeback maskapai yang berdiri sejak 6 September 1962 ini tersiar usai beredar surat dari PT Merpati Nusantara Airlines (Persero)/MNA, induk maskapai Merpati Airlines.
Baca juga: Xian MA60, Pesawat Cina Jiplakan Antonov An-24 yang Bikin Merpati Airlines Bangkrut
Dalam surat tertanggal 23 Juli, sebagaimana yang dilihat KabarPenumpang.com, dengan nomor MNA/DZ/100/AD 3/2020 tersebut, pihak Merpati Airlines diketahui meminta dukungan slot parkir kepada Direktur Utama PT Bandar udara Internasional Jawa Barat (BIJB) Salahudin Rafi, untuk 10 pesawat Airbus A320neo dan 8 Airbus A321neo secara bertahap, mulai tanggal 15 Agustus 2020 mendatang.
Kabar kembalinya Merpati Airlines dengan pesawat tersebut tentu sedikit mengejutkan, mengingat, maskapai yang sudah stop operasi mulai 1 Februari 2014 itu sebelumnya diketahui bakal memesan 10 unit MC-21, entah itu MC-21-300 atau MC-21-200. Namun, pada prosesnya, sejak 2018 lalu, Merpati Airlines memang belum melangkah lebih jauh untuk mendapatkan pesawat Rusia buatan Irkut Corporation itu.
Padahal, menurut perusahaan yang masih ada kaitannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, Irkut MC-21 menjanjikan konsumsi bahan bakar lebih hemat hingga 15 persen dibanding pesawat generasi saat ini.
Di samping itu, harga pesawat itu juga dipatok lebih murah dibanding pesawat narrow body sejenis, Boeing 737 MAX dan Airbus A320neo. Belum lagi gangway MC-21 yang dikabarkan jauh lebih besar ketimbang kompetitor dari Boeing dan Airbus, dengan bisa memuat troli katering dan satu orang lainnya dalam waktu bersamaan tanpa harus bergantian, tentu menjadi daya tarik tersendiri bila comeback Merpati Nusantara Airlines menggunakan pesawat ini.
Sejarah mencatat, dimensi pesawat terbukti membuat Boeing 707 menuai sukses -sekaligus awal dari kesuksesan divisi komersial Boeing- setelah Presiden Boeing, Bill Allen,menginstruksikan Tex Johnston, kepala uji coba Boeing untuk membuatnya menjadi beberapa inci lebih lebar dari McDonnell Douglas DC-8.
Tak lupa, in flight entertainment pesawat berupa sistem pencahayaan LED di dalam kabin, layar hiburan, serta port USB type A juga tersemat untuk memanjakan penumpang. Bahkan, konon kabarnya, penumpang juga dapat mengakses fasilitas wi-fi gratis selama penerbangan – kendati pihak Irkut masih enggan menyebutkan siapa yang menjadi vendor untuk urusan ini.
Selain meminta slot parkir ke BIJB, comeback Merpati Nusantara Airlines juga diketahui bakal meminta slot parkir di area hanggar PT MMF-SUB dan Bandara Kualanamu Medan (KNO). Dari sini, maskapai itu disinyalir bakal menjadikan KNO sebagai homebase atau hub.
Baca juga: MC-21-300 Berhasil Lewati Uji Kemampuan di “Kolam” Air
Sampai berita ini ditulis, redakasi KabarPenumpang.com sudah coba meminta tanggapan dari manajemen Merpati Nusantara Airlines terkait rencananya kembali terbang; termasuk kebutuhan pilot dan pramugari serta berbagai pekerja di bidang lainnya. Namun belum mendapat respon apapun.
Sebagai informasi, terlepas dari kabar Merpati Airlines kembali terbang, saat ini MNA masih menjalankan beberapa lini bisnis, seperti Maintenance Repair and Overhaul (MRO) dan Training Center serta bisnis kargo yang sudah dimulai sejak 10 November 2019 lalu, dengan mendapat dukungan dari 10 BUMN.
Semua maskapai penerbangan dunia saat ini menderita kerugian besar sejak perjalanan udara dihentikan ketika sebagian besar negara menutup perbatasan mereka untuk mencegah penyebarluasan virus corona (Covid-19). Hal ini kemudian membuat beberapa maskapai yang tidak memiliki penerbangan domestik akan membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih.
Baca juga: Awal Juli 2020, Cathay Pacific Buka Kembali Penerbangan Ke Lima Tujuan Utama
Seperti Cathay Pacific dan Singapore Airlines yang hanya melayani penerbangan internasional dan tidak memiliki layanan penerbangan domestik. Kepala konsultan penerbangan Asia di Cirium, Joanna Lu mengatakan, kedua operator tersebut saat ini melihat keuntungan berubah menjadi kerugian dalam laporan pendapatan terbaru mereka.
KabarPenumpang.com melansir dari laman cnbc.com (13/8/2020), maskapai yang berbasis di Hong Kong tersebut melaporkan kerugian HK$9,87 miliar di paruh tahun pertama 2020. Angka ini didapat setelah mencatatkan keuntungan HK$1,35 miliar setahun lalu.
Sedangkan maskapai asal Singapura mencatatkan untuk kuartal yang berakhir 30 Juni kemarin mengalami kerugian bersih S$1,12 miliar dan turun dari laba bersih S$111 juta pada tahun sebelumnya. Meski beberapa negara sudah mulai membuka diri untuk pelancong dengan hasil pengujian Covid-19 dan pemeriksan kesehatan di bandara, tetapi masih banyak yang tertutup untuk pengunjung internasional karena kasus yang dikonfirmasi masih tinggi secara global.
Lu mengatakan, Capital Connection pada hari Rabu (12/8/2020), bahwa perjalanan dalam pasar domestik atau regional kemungkinan akan dilanjutkan lebih cepat dibandingkan dengan penerbangan jarak jauh ke tujuan internasional.
“Maskapai penerbangan yang melayani pasar domestik skala besar mungkin akan mendapatkan keuntungan lebih dari itu, termasuk maskapai penerbangan di Cina, Jepang dan mungkin Indonesia,” katanya.
Namun, hal yang sebaliknya berlaku untuk Hong Kong dan Singapura, di mana penduduk lokal tidak melakukan perjalanan domestik melalui udara karena wilayah daratan yang kecil. Lu juga mempertimbangkan alasan mengapa Asosiasi Transportasi Udara Internasional pada bulan Juni yang mengatakan Asia Pasifik diperkirakan akan mencatat “kerugian absolut terbesar” pada tahun 2020.
Baca juga: Demi Selamatkan Perusahaan, 6000 Staf Singapore Airlines Group Ambil Cuti Tanpa Dibayar
Dia mengatakan gangguan perjalanan internasional telah menjadi “penyebab utama” dari “kemajuan negatif” dalam industri di Asia Pasifik. Selain itu, Lu menambahkan bahwa kawasan ini memiliki banyak negara dan pasar, sementara Eropa dan Amerika Serikat “cukup banyak beroperasi sebagai pasar domestik tunggal yang bersatu”.
Bagi pecinta dirgantara, pesawat amfibi mungkin mempunyai tempat tersendiri. Sebab, selain mudah dioperasikan di segala medan, sensasi menumpangi apalagi mengendarai flying boat disebut sangat berkesan.
Baca juga: Hughes H-4 Hercules Flying Boat, Pesawat Amfibi (Gagal) dengan Rentang Sayap Terbesar
Meskipun jarang dijadikan untuk keperluan komersial oleh berbagai operator penerbangan, namun, penggunaannya untuk olah raga air dan rekreasi sudah cukup massif. Di dunia ini, ada banyak pabrikan pesawat yang memproduksi pesawat amfibi.
Bahkan, salah satunya didapuk menjadi peswat amfibi terbesar di dunia yang masih ada, mengingat dimensinya masih kalah dengan Hughes H-4 Hercules Flying Boat, pesawat amfibi terbesar yang pernah terbang. Agar lebih jelas, berikut KabarPenumpang.com rangkum tujuh pesawat amfibi terbaik di dunia.
1. China Jiaolong AG600, Flying Boat Terbesar di Dunia
Dikutip dari ridgelandingairpark.com, pesawat amfibi terbesar di dunia ini pertama kali diluncurkan pada Juli 2016 lalu. Meskipun berukuran jumbo, pesawat ini mampu terbang dengan kecepatan 500 km per jam dan jarak jangkau terbang 4.500 km atau terbang non stop 12 jam. Data ini disampaikan oleh Aviation Industry Corporation China (AVIC).
AG600 memiliki panjang 37 meter dengan panjang bentang sayap 38,8 meter. Deputi General Manager AVIC, Geng Ruguan, menyebut pesawat yang memiliki ukuran sebesar Boeing 737 ini diklaim sebagai pesawat amfibi terbesar di dunia.
Saat take off dan landing di atas air, AG600 memerlukan area dengan panjang minimal 1.500 meter, lebar 200 meter dan kedalaman air 2,5 meter. Saat bertugas, pesawat amfibi made in China ini bisa mengisi air sebanyak 12 ton dalam waktu 20 detik dan mampu membawa 370 ton air sekali terbang. Untuk misi SAR, pesawat mampu menyelamatkan 50 orang yang terombang-ambing di lepas pantai.
2. Lisa Airplanes AkoyaLisa Airplanes Akoya. Foto: ridgelandingairpark.com
Startup asal Perancis Lisa Airplanes tengah membuat Lisa Akoya, pesawat amfibi yang mampu beroperasi di air, darat, dan salju. Sayangnya, karena keterbatasan dana, proyek pengembangan pesawat amfibi itu harus tertunda. Namun, dikabarkan, perusahaan telah mendapatkan investor dengan dana besar dari Cina. Rencananya, pesawat amfibi itu akan mulai diujicoba di Pegunungan Alpen beberapa tahun lalu.
3. Pesawat Sport Ringan The Icon A5
Pengerjaan pesawat amfibi ini sebetulnya dimulai sejak 2006. Namun, karena berbagai kendala, pesawat ini baru bisa beroperasi pada 2014 lalu. Pesawat amfibi ini bisa dibilang cukup keren dengan berbagai fitur, seperti sayap yang bisa dilipat, bobot ringan, serta dapat beroperasi dengan bakar avtur maupun bensin.
4. Cessna 206 on Wipline 3450 Floats
Pesawat keluaran Cessna ini bisa dibilang membuat para pesaingnya gentar. Dengan berbagai teknologi keren yang disesuaikan, pesawat amfibi Cessna 206 berwujud Wipline 3450 Floats menjadi salah satu pesawat amfibi yang paling diminati.
5. Seawind 300CSeawind 300C. Foto: ridgelandingairpark.com
Pesawat amfibi dengan kapasitas dua orang dewasa dan tiga orang anak ini dinilai paling cocok untuk digunakan untuk kebutuhan rekreasi keluarga. Pesawat ini juga mampu melaju kencang, mencapai 190 mph. Meski demikian, pesawat tersebut tetap efisien.
Baca juga: Day Limo, Perahu Amfibi Keluaran Iguana Yacht, Oke di Darat dan Lautan6. Seamax M-22Seamax M-22. Foto: ridgelandingairpark.com
Pesawat ini menjadi salah satu pesaing terberat The Icon A5 mengingat sama-sama bisa dioperasikan dengan bahan bakar bensin. Pesawat ini juga cukup ringan dan cocok untuk kebutuhan sport atau rekreasi.
7. Viking Twin Otter 400SViking Twin Otter 400S. Foto: ridgelandingairpark.com
Pesawat besutan produsen asal Kanada, Viking Air ini dinilai paling cocok untuk kebutuhan komersial. Pesawat ini pertama kali dipamerkan di Singapore Airshow. Viking 400S adalah pengembangan besar dalam komunitas pesawat amfibi. Harga jual peawat ini juga lumayan, berkisar $6 juta.
Indian Railways (IR) telah mengundang investor swasta untuk mengoperasikan 151 kereta penumpang di 109 rute terpilih di seluruh jaringan. Salah satunya adalah memahami struktur bisnis penumpang IR. Operator ini mengoperasikan rata-rata 13.523 kereta penumpang harian pada 2018-2019.
Baca juga: Pertama Kalinya Jaringan Kereta India Berhenti Operasi Dalam 167 Tahun
Jumlah ini mencakup 3695 layanan pos dan ekspres antar kota, 3947 kereta regional jarak pendek biasa dan 5881 lainnya adalah kereta listrik yang dioperasikan di pinggiran kota. Layanan surat dan ekspres antar kota merupakan bisnis penumpang inti dari IR di mana ini perlu dipelihara dan dikembangkan sebagaimana mestinya.
Dilansir KabarPenumpang.com dari financialexpress.com (16/7/2020), bisa dikatakan dalam kategori ini, hanya kelas atas yang akan menarik bagi operator swasta terutama mengingat fleksibilitas dalam penetapan tarif. Sehingga penting untuk menganalisis proyek dalam kaitannya dengan tujuan dan sasaran utama yakni mengurangi defisit penawaran-permintaan mendorong perpindahan moda dari udara ke kereta api dan secara signifikan mengurangi waktu transit.
Jumlah penumpang di jalur kereta api hampir stagnan dan meningkat hanya 0,8 persen, dari 8.286 juta pada 2017-2018 menjadi 8.354 juta pada 2018-2019, dan diproyeksikan mencatat kenaikan 0,9 persen pada 2019-2020, menjadi 8.428 juta. Kekurangan kapasitas kereta api yang endemik telah membuat bagiannya di pasar transportasi nasional terus menyusut.
Meskipun ada keributan yang hampir tak pernah terpuaskan untuk menambah kereta, tujuh koridor dengan kepadatan tinggi yang membentang lebih dari 10.500 km tetap tersumbat di mana stasiun dan pemeliharaannya terlalu berlebihan sehingga kecepatan tetap rendah dan layanan jauh kurang memuaskan. Permintaan perjalanan kereta api jauh melampaui pasokan dan tetap akan terus tumbuh secara substansial mengingat geografi negara yang luas, kelas menengah dan urbanisasi yang berkembang pesat dan tujuan pelestarian lingkungan.
Sektor jasa yang terus berkembang terus memicu tingginya mobilitas dan permintaan perjalanan penumpang, umumnya dari kalangan atas. Perpindahan lalu lintas ke kereta api tidak hanya akan bergantung pada pengurangan waktu perjalanan tetapi juga pada frekuensi layanan kereta api, yang menawarkan akomodasi sesuai permintaan.
Seiring dengan berkembangnya teknologi dan ledakan aspirasi orang, perjalanan kereta api perlu menyesuaikan dengan layanan udara dan jalan raya dalam hal kenyamanan, keandalan dan kecepatan pra-board dan onboard. Sebab dalam menghadapi persaingan yang ketat dari maskapai murah, bus berkapasitas tinggi, dan mobil pribadi, IR perlu menyusun strategi terpadu untuk memperluas, mempercepat dan memodernisasi layanan penumpang antar kota.
Keyakinan Menteri Perkeretaapian Piyush Goyal bahwa partisipasi sektor swasta akan memungkinkan IR melewati “era kereta yang bergerak lambat” tampaknya salah tempat. Meskipun inisiatif luar biasa yang dirintisnya 50 tahun lalu melalui Rajdhanis antar kota “kecepatan tinggi”, kereta barang dan penumpang di seluruh jaringan tetap terjebak di jalur lambat selama beberapa dekade.
Seperti “proyek percontohan” set kereta api “Tejas” kelas atas yang dioperasikan oleh IRCTC di rute Delhi-Lucknow dan Mumbai-Ahmedabad yang memiliki waktu tempuh yang hampir sama, sekitar 6,5 jam sekali jalan seperti Shatabdis yang lebih tua di rute ini. Ketua Dewan Kereta Api Vinod Kumar Yadav menjelaskan bagaimana, setelah menyelesaikan dua DFC yang sedang berlangsung pada Desember 2021, dan peningkatan gradasi rute kereta api Delhi-Mumbai dan Delhi-Kolkata yang ada dengan biaya Rs13 ribu crore akan melihat kereta berjalan pada 160 km per jam.
Baca juga: Rajdhani Express Kembali Beroperasi, Indian Railways: Tidak Ada Selimut dan Makanan
Namun, sebagian besar jalur lain dengan kereta barang dan penumpang campuran yang berdesak-desakan untuk mendapatkan ruang dan dibatasi oleh batas kecepatan hanya akan menyebabkan rangkaian kereta baru secara substansial kurang dimanfaatkan dalam hal potensinya, dan jauh di bawah ekspektasi pelanggan untuk kecepatan dan layanan yang sering. Kereta api pribadi akan menjadi bagian yang sangat kecil dari kereta penumpang. Namun demikian, penempatan 150 rangkaian kereta yang diusulkan secara teknis lebih unggul dan lebih cepat yang dioperasikan oleh sektor swasta diharapkan dapat memberikan facelift pada layanan penumpang kereta api, mengantarkan persaingan di segmen kelas atas dari bisnis penumpang.
Seorang astronot bisa melihat berbagai tempat di Bumi meski tengah berada di luar angkasa. Dengan jarak 250 mil Anda bisa membuat daftar keinginan yang cukup untuk melihat Bumi. Namun apakah seorang astronot lebih menyukai berlibur di luar angkasa atau di Bumi? Randy Bresnik seorang astronot mengatakan, saat standar Anda meningkat di luar angkasa, itu membuat persepektif sedikit berbeda dari wisatawan lain.
Baca juga: Sebelum Terbang dengan Kapsul Boeing CST-100 Starliner, Astronot Berlatih dengan VR
Meski begitu, Randy juga memiliki beberapa tempat untuk berlibur bersama dengan keluarganya. Tempat pertama terfavorit Randy adalah Australia yakni perjalanan ke Crains yang paling berkesan di Queensland di Great Barrier Reef. Di mana dirinya bisa menikmati hutan, melakukan arung jeram di Sungai Tully dan mengendarai sepeda melintasi hutan dalam waktu satu hari.
Dia juga memilih Slovenia tempat kakek dan neneknya, karena menurutnya, negara tersebut sangat indah. Randy mengaku dari sebuah kastil di ibukota bisa melihat hampir seluruh tempat. Dia mengaku meski banyak tempat indah yang bisa dilihat dari luar angkasa, Randy masih penasaran untuk menikmati perjalanan ke Amerika Selatan. Dia mengaku Patagonia terlihat seperti planet lain dari luar angkasa.
“Patagonia benar-benar cantik. Kami saat berada di luar angkasa juga menemukan Gunung Everest dari luar angkasa dengan kecepatan 17.500 mil per jam dan sungguh menyenangkan. Menemukan tempat dari luar angkasa bisa jadi sedikit menantang karena Anda bergerak dengan kecepatan sepuluh kilometer per detik. Jadi bisa dibayangkan baru melihat sebentar dan sesuatu di pinggir jalan sudah hilang dalam sedetik,” ungkap Randy.
Dia mengatakan tak pernah lupa membawa kamera ketika bepergian baik di luar angkasa maupun di Bumi. Randy mengatakan, pada usianya kini tak banyak memiliki video maupun foto saat tumbuh dewasa, tetapi anak-anaknya akan dapat kembali melihat seperti apa masa kecil mereka bersama orang tua. KabarPenumpang.com merangkum dari nationalgeographic.com (13/8/2020), Randy menjelaskan mereka bisa menemukan pemandangan atau warna tertentu dari luar angkasa seperti hijau aurora ketika melintas diatasnya.
“Berada di atas sana, dan menikmati malam-malam yang menakjubkan dan ini di mana atmosfer bagian atas bumi semakin bersemangat oleh energi kosmik ini. Ini seperti aksi terbang di atas ombak di tengah lautan saat matahari bersinar dari air. Itu tak terlukiskan. Melihat planet kita dari orbit adalah hal yang emosional,” jelasnya.
Dia mengaku, untuk mengelilingi bumi, para astronot hanya membutuhkan waktu selama 90 menit. Randy mengatakan, setelah mengelilingi Bumi dengan waktu 90 menit Anda akan merasa sangat rendah hati dan menempatkan perspektif tentang betapa kecil dan rapuhnya sebuah planet.
Astronot yang melakukan perjalanan ke stasiun luar angkasa pada tahun 2009 dan 2017 itu berharap pekerjaan yang sedang dilakukannya saat ini membuatnya begitu akrab seperti perjalanan maskapai masa kini. Mantan letnan Korps Marinir ini menambahkan, makanan yang ada di pesawat lebih baik dibandingkan makanan untuk para astronot di stasiun luar angkasa.
“Dalam satu ekspedisi saya mengelilingi bumi selama lima bulan. Dengan kemiringan orbit kita, dengan Bumi berputar di bawah kita, kita menutupi sekitar 90 persen permukaan dan populasi Bumi. Dan saya tidak melihat ke mana pun saya tidak ingin pergi. Semuanya sangat indah. Ketika kita melewati krisis virus saat ini, saya pikir orang harus mengambil kesempatan untuk keluar dan melihat dunia,” kata dia.
Baca juga: Pratiwi Pujilestari Sudarmono – Calon Astronot Pertama Indonesia yang Terpaksa Mengubur Asanya Ke Luar Angkasa
Untuk diketahui, selama perjalanan tersebut, Randy dan krunya mengambil 808.126 foto Bumi termasuk beberapa tempat yang kemudian akan dia kunjungi secara pribadi.
Tak bisa dipungkiri, banyak masyarakat di seluruh dunia rindu kembali bepergian keluar negeri, mengunjungi tempat-tempat eksotis di seluruh dunia, setelah sekian lama keinginan tersebut tertunda akibat kebijakan lockdown di hampir seluruh negara.
Baca juga: First Airlines, “Maskapai” Jepang dengan Penerbangan Virtual Reality Pertama
Bagi Anda yang sudah tak lagi bisa menahan rasa rindu bepergian, mungkin maskapai Jepang ini bisa jadi jawaban. Menariknya, maskapai tersebut tidak mewajibkan penumpang membawa surat bebas Covid-19, visa, masker, hand sanitizer, serta semua peraturan lainnya di masa new normal.
Bahkan, maskapai Jepang yang mulai beroperasi pada Februari 2018 lalu ini juga menawarkan harga special untuk paket keliling dunia, seperti berjemur di Hawaii, menikmati arsitektur kota Roma, atau berjalan menyusuri Champs Elysees di Paris, dengan banderol hanya sebesar $60 atau lebih dari Rp800 ribuan (kurs Rp14.734), cukup terjangkau bukan? Maskapai yang dimaksud adalah First Airlines.
Simple Flying melaporkan, maskapai penerbangan virtual pertama di dunia ini menawarkan perjalanan unik tanpa harus terbang dengan pesawat. Meski demikian, sebelum perjalanan virtual dimulai, penumpang akan dipersilahkan masuk ke kabin first class A310 asli, lengkap dengan jok kulit orisinil bawaan pabrik.
Setelah masuk ke kabin pesawat Airbus A310 dan menikmati kursi first class sungguhan, penumpang kemudian akan diminta memakai perlengkapan berupa audio dan virtual reality. Setelah itu, layaknya penerbangan sungguhan, penumpang akan menerima penjelasan terkait safety induction atau demonstrasi keselamatan penerbangan, layanan troli makan dan minum pramugari, announcement dari pilot, sebelum akhirnya terbang meninggalkan daratan.
Selama penerbangan, termasuk saat lepas landas dan mendarat, efek suara dan visual canggih dijamin bakal membuat penumpang seperti benar-benar merasa tengah dalam penerbangan. Begitu juga dengan hal-hal di luar pesawat, seperti gumpalan awal, dan sejenisnya yang cukup terlihat nyata. Selain itu, sensasi terbang juga makin terasa dengan kemampuan melihat hingga 360 derajat.
Tak lupa, para penumpang penerbangan virtual ini juga akan disuguhi dengan sajian mewah khas first class dengan menyesuaikan tujuan masing-masing. Untuk rute ke Perancis, penumpang akan dimanjakan dengan sajian ikan salmon asap. Bagi penumpang yang memilih ke Roma, sajian khusus berupa daging babi panggang dijamin bakal jadi santapan yang pas. Rute ke Hawaii tak kalah mentereng, dengan sajian udang cangkang lunak dan kerang.
Baca juga: Selain Manjakan Penumpang, Layanan Virtual Reality Buka Peluang Peningkatan Laba Maskapai
Begitupula dengan rute-rute lainnya seperti Finlandia, Selandia Baru, New York, Jepang, serta perjalanan keliling dunia lainnya. Hanya saja, tak dijelaskan dengan rinci ada berapa rute yang ditawarkan maskapai virtual asal Jepang ini. Yang jelas, masing-masing penerbangan, sekalipun dengan jarak yang bervariasi, seluruhnya hanya membutuhkan waktu 120 menit saja.
Meskipun hanya berupa penerbangan virtual dan pesawat sama sekali tidak meninggalkan daratan, eks pramugari tetap dilibatkan dalam penerbangan ini. Pramugari tersebut akan melayani berbagai keinginan pelanggan dengan penuh keramahtamahan serta tentu saja, tutur kata, gerak-gerik yang tetap disesuaikan layaknya pramugari yang tengah bertugas.
Tak bisa dipungkiri bahwa pandemi virus Corona telah mendorong terciptanya berbagai solusi untuk tetap terus mempertahankan bisnis. Bila tak pandai mencari peluang melalui sedikit inovasi, bukan tak mungkin sebuah perusahaan hanya akan tinggal kenangan.
Baca juga: Rindu Santapan ala Kabin, Maskapai ini Tawarkan Sensasi In-Flight Meals untuk Korban Lockdown
Di Israel, sebuah perusahaan katering maskapai, Tamam Kitchen, awalnya sempat terguncang hebat akibat industri penerbangan di Negeri Zionis kalap menghadapi serangan Covid- 19. Sekitar 550 karyawan pun sempat dirumahkan mengingat perusahaan sama sekali tak mendapatkan pemasukan.
Namun, setelah kurva virus Corona mulai melandai, perusahaan mulai kembali memanggil para karyawan dan melakukan jajak pendapat untuk mencari ide bisnis hingga akhirnya muncullah ide untuk menjual berbagai sajian di pesawat (in flight meals), bukan hanya rasa, melainkan juga wadah makanan itu sendiri yang menyerupai persis seperti sajian saat dalam penerbangan, tanpa perlu terbang.
https://www.facebook.com/393464714147429/videos/284007989600804
Tamam Kitchen, yang biasa melayani seluruh sajian maskapai nasional Israel, El Al, Turkish Airlines, serta maskapai internasional lainnya yang mempunyai rute ke negara tersebut, awalnya tak percaya bahwa ide seperti itu bisa benar-benar membantu perusahaan untuk setidaknya bertahan selama industri penerbangan masih dalam fase pemulihan.
“Kami harus memikirkan kembali dan menemukan kembali diri kami sendiri. Saat kami mendapatkan ide ini, dan rasanya seperti, Anda tahu, seperti petir menyambar kami,” kata Nimrod Demajo, wakil presiden operasional Tamam Kitchen seperti dikutip dari npr.org.
Ide bisnis tersebut tercatat mulai dijajaki perusahaan sejak 21 Juli lalu. Awalnya, perusahaan mengaku tak banyak mendapat pesanan. Tetapi kini, Taman Kitchen berhasil menjual setidaknya 100 menu penerbangan setiap hari tanpa harus membuat pembeli terbang terlebih dahulu untuk menikmatinya.
Baca juga: Ngeri! Ada Sekrup dalam Hidangan Sup di First Class Singapore Airlines
Menu yang ditawarkan juga cukup beragam dan tentu saja sesuai dengan sajian khas di penerbangan, mulai dari menu dengan irisan ikan dicampur saus tomat, kacang hijau, ubi, couscous , dan lentil hitam, hingga daging sapi dicampur saus tiram, nasi serta kacang hitam. Selain itu juga ada menu khusus anak-anak. Harganya juga tergolong murah, mulai dari $3 sampai yang paling mahal sekitar $70 per menu.
Saat ini, berbagai kalangan tercatat menjadi pelanggan tetap Taman Kitchen, termasuk kalangan artis hingga profesional seperti karyawan Google. Namun, yang paling banyak memesan adalah kaum lansia yang mencari makanan murah serta tak bisa pergi kemanapun untuk berbelanja. Selain itu, ada pula berbagai kantor yang rutin menyediakan sajian meeting dengan berbagai menu pesawat khas Taman Kitchen.
Di masa pandemi, banyak sektor yang mengalami penurunan pendapatan bahkan mengalami defisit keuangan baik perusahaan besar maupun usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Hal ini kemudian mendorong GoJek untuk menunjukkan komitmennya dalam mengakselerasi pertumbuhan UMKM yang terdampak.
Baca juga: GoTransit, Fitur Integrasi Multimoda di Aplikasi GoJek
Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, untuk membantu UMKM, GoJek meluncurkan situs melajubersamagojek.com dan mengenalkan aplikasi Selly. VP of Merchant Marketing GoJek Diera Yosefina Hartono menjelaskan bahwa, Selly merupakan salah satu aplikasi solusi yang ditawarkan pihaknya.
Aplikasi Selly sendiri dirancang sangat komperhensif dalam memfasilitasi pengusaha UMKM untuk memproses suatu pesanan. Informasi mengenai solusi lengkap Selly sendiri bisa didapatkan melalui situs www.melajubersamagojek.com.
Selly diketahui merupakan aplikasi keyboard dan dashboard terlengkap yang dapat menjadi andalan para mitra UMKM dalam melayani pelanggan dan mengelola bisnisnya secara online dan modern. Solusi keyboardnya pun terdiri dari fitur autotext yang membuat tempalate sesuai kebutuhan, fitur untuk mengecek ongkos kirim secara real time dari berbagai ekspedisi, fitur pengiriman invoice untuk membuat tagihan secara otomatis dengan berbagai pilihan format order dan fitur pengingat pelanggan.
Sedangkan solusi dashboard Selly dilengkapi dengan fitur statistik toko yang membantu pengelolaan toko dan pelaporan penjualan dalam satu klik serta fitur asisten penjualan yang membantu mengecek data pelanggan, multi admin, pencetak label pengiriman, pengingat harian hingga pemesanan logistik yang sangat praktis dan mudah. Diera menambahkan, solusi yang ditawarkan GoJek akan membantu UMKM Go Digital.
“Di Selly, semua kebutuhan pengusaha yang menjual produknya secara online sudah diakomodasi yaitu dengan fitur invoicing, order management, jasa pengiriman, atutotext dan keyboard. Solusi ini mempermudah operasional mitra UMKM,” jelas Diera.
Tak hanya membahas Selly, situs www.melajubersamagojek.com juga menghadirkan informasi lain mengenai berbagai solusi yang memudahkan para pengusahan UMKM dalam menjalankan usaha berbasis teknologi digital dengan mengunduh seperti MidTrans Payment Link yang menjadi solusi pembayaran paling lengkap untuk usaha online, aplikasi GoBiz untuk manajemen usaha pelaku UMKM seperti pesan-antar, pengaturan promosi dan pembayaran.
Adapula Moka yang merupakan aplikasi kasir online dan alat pembayaran nontunai, layanan GoSend dan GoBoz, layanan GoPay, aplikasi GoFood dan GoShop. Terlebih lagi jika memakai layanan pengantaran GoSend dari aplikasi Selly, barang dagangan bisa sampai ke pelanggan lebih cepat.
Baca juga: Pengguna GoJek Kini Bisa Cek Suhu Tubuh Pengemudi Lewat Aplikasi
“Ini karena GoSend memungkinkan barang diterima oleh pelanggan dalam satu hari yang sama, atau lebih cepat dari layanan pengantaran lainnya yang bisa memakan waktu dua hingga tiga hari. Dengan kecepatan ini, maka kepuasan pelanggan akan terjaga,” kata Diera.
Bandara Internasional Gerald R. Ford dilaporkan mulai mengujicoba robot otonom berteknologi UV. Dalam pengaplikasikannya, robot tersebut akan mengeluarkan sinar UV (ultra violet) untuk mendisinfeksi seluruh ruangan yang dilalui selagi masih dalam radius jangkauan sinar UV robot itu.
Baca juga: Inilah GermFalcon, Robot Pembasmi Virus Corona di Kabin Pesawat dengan Teknologi UV
Selain mendisinfeksi ruangan, robot otonom berteknologi UV itu juga bakal mendisinfeksi seluruh barang yang menempel serta barang bawaan penumpang, seperti sepatu, celana, tas, baju, ponsel, kunci, tablet, troli bagasi, kursi roda, pod, dan berbagai barang lainnya.
Untuk memuluskan proses disinfeksi selama proses uji coba, pihak bandara internasional Gerald R. Ford menggandeng beberapa ahli ultraviolet germicidal irradiation atau UVC dari Michigan, serta iP Program yang berbasis di Florida untuk mengukur efektivitas alat disinfeksi otomatis tersebut ke semua sudut-sudut ruangan dan barang.
Robot UVC otonom ini diklaim mampu membunuh 99,99 persen bakteri, virus, dan jamur serta dapat bergerak dioperasikan manusia. Dibutuhkan sekitar 10 hingga 15 menit untuk mendisinfeksi sebuah ruangan.
Tak seperti cairan disinfektan yang biasa digunakan, proses disinfeksi oleh robot tersebut tanpa menggunakan bahan kimia apa pun sehingga cukup aman digunakan kapanpun dan mengurangi risiko terkenanya bagian-bagian sensitif seperti selaput mata dari cairan kimia.
Disinfeksi robot otonom ini memancarkan spektrum cahaya berukuran 254 nanometer, yang mampu membunuh Covid-19 dan virus lainnya, termasuk flu pada umumnya.
“Saat kami meneliti solusi holistik untuk memerangi penyebaran Covid-19, teknologi UV telah terbukti di industri lain dapat membunuh virus, jadi kami membuat keputusan untuk mengujinya di Bandara Ford,” kata Tim Haizlip, direktur pemeliharaan bandara, seperti dikutip dari Fox 17.
“Sebagai bandara, kami berfokus pada inovasi dan pengalaman tamu yang superior, sehingga teknologi ini sangat cocok untuk kami,” tambahnya.
Dilihat dari bentuk, cara kerja, dan teknologinya, bisa dibilang, robot UVC otonom itu mirip dengan robot GermFalcon yang sudah lebih dahulu ada mulai pertengahan Februari lalu. Produk buatan perusahaan asal AS, Dimer UVC Innovations ini dikhususkan untuk digunakan maskapai dalam mendisfeksi kabin pesawat.
Baca juga: Bandara Hong Kong Terapkan Teknologi Disinfeksi Canggih yang Mampu Sterilkan 99 Persen Bakteri
Saat ini, robot pembasmi tersebut sudah tersebar di beberapa bandara di AS. Menariknya lagi, perusahaan memberikan layanan robot tersebut secara gratis selama fase tanggap darurat virus corona.
GermFalcon kurang lebih terlihat seperti troli makan yang biasa digunakan dalam penerbangan komersial. Bedanya, GermFalcon dilengkapi dengan semacam sayap yang melebar ke sisi kanan dan kiri pesawat. Alat tersebut kemudian memancarkan sinar UV (UltraViolet)-C yang bisa mensterilkan ruang sekitar.