Beragam Kasus Seksis yang Sempat Warnai Dunia Pramugari

Stigma seksi agaknya sulit dipisahkan dari seorang pramugari. Walaupun di luar sana sudah banyak kasus yang menjerumuskan pihak maskapai karena pramugarinya menggunakan pakaian terlalu ‘berani’, namun tetap saja ada maskapai di luar sana yang seolah buta terhadap masalah gender semacam ini. Tidak melulu soal gaya berpakaian atau seragam saja, urusan poles memoles wajah juga kerap menjadi buah bibir warganet – mulai dari detail make up hingga urusan tata rambut. Baca Juga: VietJet Buka Rute Jakarta-Vietnam, Penumpang Pria Siap-Siap Kecewa Seorang pramugari yang ingin tetap anonim mengatakan bahwa isu seksis seperti yang sudah digambarkan di atas masih sangat jamak terjadi khususnya di sektor aviasi global. Lalu, kira-kira isu seksis apa saja atau maskapai mana saja yang masih sangat santer dengan penjabaran di atas? Berikut ada tiga contoh kasus seksis yang masih menyelimuti sektor aviasi global, dikutip KabarPenumpang.com dari laman forbes.com. Viet Jet Mungkin beberapa dari Anda masih ingat kejadian yang sempat mengegerkan sektor aviasi dalam negeri, dimana maskapai asal Vietnam, Viet Jet hendak membuka rute penerbangan langsung dari ‘kandangnya’ menuju Jakarta pada tahun 2017 silam. Satu yang membuat pemberitaan ini dengan cepat menyebar adalah karena Viet Jet merupakan maskapai yang ‘mewajibkan’ awak kabinnya untuk menggunakan bikini di dalam penerbangan. Khusus untuk rute menuju Jakarta, Viet Jet mengatakan bahwa pihaknya tidak akan memberlakukan aturan penggunaan bikini kepada para pramugarinya – sehingga dapat memenuhi aturan norma yang ada di Tanah Air. Skymark Airlines
sumber: forbes.com
Kedua ada maskapai berbiaya rendah asal Jepang, Skymark Airlines. Nama maskapai ini sempat juga menjadi bahan pembicaraan warganet dan kalangan terkait pada tahun 2014 silam, dimana pihak perusahaan mengeluarkan seragam pramugari sementara yang dinilai terlalu ketat dan minim. Skymark Airlines mengatakan bahwa seragam yang dinilai terlalu berani ini ditujukan untuk rute penerbangan domestik. Seolah tidak tergoyahkan dengan banyaknya pihak yang menentang aturan ini, dikabarkan pihak maskapai masih menggunakan seragam seksi ini dengan dalih, “tidak mempengaruhi keselamatan penerbangan,” Baca Juga: Iklan Menjurus Seksis, AirAsia Menuai Kecaman dari Netizen Pramusaji Hooters
sumber: forbes.com
Restoran Hooters terkenal dengan outfit pramusajinya yang cukup berani – dengan menggunakan celana super pendek yang dipadukan dengan tank top. Tidak ada masalah jika restoran ini tetap berada di darat, namun lain cerita ketika sudah masuk ke ranah transportasi udara. Terbukti di tahun 2003, ada sebuah maskapai di Amerika Serikat yang ‘mempekerjakan’ karyawan Hooters di dalam penerbangannya. Seragam yang digunakan? Ya tetap seragam Hooters!

Bandara Toulouse-Blagnac Uji Coba Truk Otonom Pengangkut Bagasi Penumpang

Dapatkah Anda membayangkan masa depan dari sektor aviasi global, dimana semua pekerjaan yang sebelumnya melibatkan tenaga manusia, lambat laun mulai tergantikan oleh teknologi otomatisasi? Belakangan yang tengah ramai dibicarakan adalah kehadiran robot-robot multi fungsi di dalam bandara, dimana robot-robot ini berfungsi untuk mengarahkan penumpang menuju gerbang keberangkatan. Itu baru sebagian kecil dari teknologi yang berkembang – belum lagi era otomatisasi yang juga perlahan mulai merambah ke apron. Baca Juga: Antara Fakta dan Mitos Pada Penerapan Mobil Otonom Sebut saja Bandara Toulouse-Blagnac di Perancis yang tercatat menjadi bandara pertama di dunia yang menguji coba mobil traktor otonom dalam skala penuh dan kondisi layanan sesungguhnya. Adalah Autonom Tract AT135, moda otonom rakitan Charlatte Autonom diklaim memiliki banyak sekali sensor yang akan menunjang pengoperasian komersialnya kelak. Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (8/12), hadirnya AT135 ini akan mempercepat proses pemindahan bagasi penumpang dari area terminal menuju pesawat, ataupun sebaliknya. Sepintas, AT135 ini tampak seperti traktor pengangkut bagasi biasa – namun ketika Anda menilik ke bagian dalamnya, Anda akan menemukan tombol switch yang dapat mengubah fungsi kendaraan – dari otonom menjadi manual, ataupun sebaliknya. Moda ini ditenagai oleh baterai 32kWh yang memberikan kecepatan tertinggi di angka 24km/jam, dengan maksimal beban angkut 25 ton. Nampaknya pemangku kepentingan setempat tidak tanggung-tanggung dalam mengembangkan project ini, mengingat ‘aktor-aktor’ utama yang bermain di project pengadaan moda otonom ini berisikan perusahaan-perusahaan raksasa, seperti Navya (pemasok sistem kemudi otonom), Groupe 3S (memiliki keahlian di ground handling), Air France, Bandara Toulouse-Blagnac, serta TCR yang bertanggung jawab seputar masalah pemeliharaan dan pengoperasian. Baca Juga: Di 2020, Uber dan Volvo Siap Uji Mobil Otonom Generasi Ketiga “Uji coba ini merupakan langkah awal bagi kami untuk meluncurkan kendaraan sejenis di bandara-bandara lain,” tutur Vincent Euzeby, head of IT & Tech Innovation di Air France. Jika ditelaah sedikit lebih dalam lagi, kehadiran moda otonom semacam ini di apron akan meminimalisir human error yang mungkin ditimbulkan ketika bekerja. Jika tugas manusia sudah muali tergantikan dengan kehadiran teknologi seperti ini, maka mereka bisa ditempatkan di ‘sisi’ lain yang membutuhkan perhatian khusus.

Tidak Melulu di Bandara, Osaka Metro Hadirkan Teknologi Face Recognition di Stasiun Bawah Tanah

Jika selama ini Anda mendengar pemberitaan seputar teknologi face recognition hanya sekedar di ruang lingkup bandara saja, maka saatnya Jepang untuk membuktikan bahwa teknologi semacam ini juga bisa diimplementasikan di prasarana transportasi lain. Dikabarkan, Osaka Metro Co. pada hari Selasa (10/12) kemarin melakukan uji coba terhadap teknologi face recognition di salah satu gate tiket otomatis. Menurut pihak operator kereta bawah tanah ini, teknologi face recognition ini akan diluncurkan pada tahun fiskal 2024, berdekatan dengan pagelaran akbar World Expo 2025. Baca Juga: Tak Hanya di Imigrasi Bandara, Restoran Cepat Saji Mulai Adopsi Pemindai Wajah Untuk Pemesanan Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman japantimes.co.jp (10/12), uji coba ini sendiri melibatkan sekitar 1.200 karyawan Osaka Metro dan dilalah menjadi pengujian teknologi face recognition pertama yang dilakukan oleh operator kereta api Jepang. Menurut pihak perusahaam, uji coba ini sendiri akan dihelat hingga bulan September 2020 mendatang dan titik pengujian akan tersebar di empat stasiun: Dome-mae Chiyozaki, Morinomiya, Dobutsuen-mae dan Daikokucho. Nantinya, setiap stasiun ini akan memiliki gate face recognition yang dikembangkan oleh empat perusahaan berbeda. Hal ini ditujukan agar pihak Osaka Metro bisa membandingkan produk mana yang menawarkan teknologi paling sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Adapun empat perusahaan yang berkecimpung dalam pengadaan gate face recognition ini adalah Omron Social Solutions Co., Takamisawa Cybernetics Co., Toshiba Infrastructure Systems & Solutions Corp. dan Nippon Signal Co. Pada uji coba yang dilakukan oleh salah satu karyawan Osaka Metro pada hari Senin (9/12) kemarin, pria yang sebelumnya sudah didaftarkan terlebih dahulu identitasnya berusaha untuk melintasi gate face recognition. Seketika kamera memindai wajah karyawan tersebut, gate langsung terbuka dan karyawan tersebut bisa masuk ke area boarding kereta bawah tanah. Baca Juga: Cina Siap Kontrol Warganya dengan Teknologi Pemindai Wajah “Bahkan lansia dan penyandang disabilitas dapat dengan muda melintasi gate ini tanpa harus taping,” tutur salah seorang pejabat perusahaan. “Kami mengharapkan teknologi ini bisa dipasang di semua stasiun di Jepang,” imbuhnya.

Kadishub DKI Usulkan Pergeseran Rute MRT Jakarta Fase III

Tak terasa, sudah sembilan bulan MRT Jakarta hadir untuk melayani warga Ibukota. Kendati sudah terbilang cukup berhasil dalam mengakomodasi penumpang setiap harinya, namun PT MRT Jakarta terus melakukan pembenahan di berbagai lini guna meningkatkan pelayanan kepada para penumpangnya. Pada perhelatan Diskusi Publik “Evaluasi 9 Bulan Operasional MRT Jakarta”, Direktur Operasi dan Pemeliharaan PT MRT Jakarta, Muhammad Effendi mengatakan bahwa diharapkan acara seperti ini bisa menjadi wadah untuk mengumpulkan informasi dan rekomendasi guna meningkatkan pelayanan. Baca Juga: Di 2030, MRT Jakarta Bakal Mengular Sepanjang 230 KM di Jabodetabek “Dari diskusi publik ini juga diharapkan setiap narasumber dan peserta dapat memberikan respons dan rekomendasi konstruktif demi perbaikan pelayanan dan fasilitas di MRT Jakarta,” ujar Muhammad Effendi. “Dengan begitu, diharapkan akan meningkatkan jumlah penumpang dan harapannya juga terhadap meningkatnya kepuasan pelanggan terhadap layanan MRT Jakarta,“ imbuhnya. Salah satu poin dari diskusi publik ini juga cukup menarik untuk dibahas lebih dalam lagi – dimana MRT Jakarta berhasil mengubah kebudayaan berkendara dengan menggunakan transportasi massal. Warga Indonesia yang terkenal cukup susah diatur menjadi lebih tertib ketika hendak menggunakan MRT Jakarta, cukup dengan ‘iming-iming’ akan viral di sosial media, maka para calon pelanggar tersebut sontak mengurungkan niatnya. Selain itu, Kepala Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta Syafrin Liputo yang juga turut hadir dalam acara yang diadakan di Hotel Grand Sahid Jaya, Rabu (11/12) kemarin ini mengatakan bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah mengubah paradigma membangun kota dari car oriented development menjadi transit oriented development melalui beberapa cara, “seperti revitalisasi trotoar, akses first and last mile dalam bentuk jalur sepeda, serta peningkatan kualitas dan kuantitas transportasi publik, agar lebih banyak lagi masyarakat yang berpindah menjadi pengguna transportasi umum untuk kegiatan sehari-harinya,” Tidak hanya itu, Syafrin juga sempat menyinggung soal usulan tentang perubahan MRT Jakarta Fase III koridor Timur – Barat, dimana pada awalnya, rute yang diprioritaskan membentang dari Kalideres hingga Ujung Menteng. “Memang yang kami usulkan adalah untuk koridor MRT itu naik ke Harmoni atau Sawah Besar, jadi intersection-nya ada di sana,” tutur Syafrin. Usul tersebut disampaikan sebagai tanggapan atas permintaan dari Direktur Prasarana Perkeretaapian Ditjen Kereta Api Kementerian Perhubungan, Heru Wisnu Wibowo untuk mengubah jalur LRT Pulo Gadung-Kebayoran Lama karena berhimpitan dengan koridor Timur – Barat MRT Jakarta. Baca Juga: “Bebas,” Jadi Film Pertama yang Dibuat dengan Latar MRT Jakarta Adapun alasan dari dipilihnya kawasan Harmoni atau Sawah Besar sebagai intersection baru di koridor Timur – Barat MRT Jakarta karena permintaan penumpang yang tinggi dari kawasan tersebut. Kapasitas yang mampu diangkut MRT Jakarta dinilai mampu untuk mengakomodir pergerakan penumpang di kawasan tersebut. “Jika kita melihat demand real yang ada saat ini, maka transfer yang paling besar terjadi di Harmoni, itu kenapa kemudian Transjakarta membangun Harmoni Central Busway,” terangnya.

Bandara Australia Pekerjakan Robot Untuk Jual SIM Card Perjalanan

Bepergian ke luar negeri memang menjadi salah satu opsi terbaik untuk menghabiskan waktu liburan akhir tahun. Mulai dari mengunjungi beragam destinasi wisata hingga menyaksikan pesta kembang api di malam pergantian tahun menjadi aktivitas yang amat sayang untuk dilewatkan. Namun apa jadinya jika perjalanan Anda mesti terhalang masalah keterbatasan jaringan komunikasi karena lupa membeli SIM card negara tujuan? Wah, ini memang masalah sepele dan harus Anda tangkal sebelum terjadi. Baca Juga: Geser Yang “Manual,” Selamat Datang Era Robotika di Bandara Guna mengatasi masalah ini, perusahaan telekomunikasi terbesar kedua di Australia, Optus dikabarkan tengah aktif mengembangkan sistem robotika yang akan menjual SIM card perjalanan kepada setiap penumpang yang masuk ke bandara-bandara di Australia. Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman finder.com.au, robot humanoid kembangan Optus ini dapat mendengarkan pertanyaan dari para pelancong dalam berbagai bahasa. Ketika ada penumpang yang hendak membeli SIM card perjalanan, robot Optus ini akan mendengarkan dan menanggapi permintaan penumpang. Lazimnya, robot ini akan merekomendasikan SIM card perjalanan sesuai kebutuhan penumpang. Setelah memilih SIM card yang hendak dibeli, maka Anda dapat dengan mudah mengaktifkannya melalui kios otomatis dengan cara memindai paspor (guna memverifikasi ID). Jika malas membayar dengan menggunakan uang tunai, Anda juga bisa memanfaatkan kartu kredit Anda untuk membayarnya. Simple, bukan? Mungkin Anda semua akan sedikit bertanya-tanya, “mengapa sebuah robot yang notabene sangat canggih ditugaskan untuk menjual SIM card perjalanan? Mengapa tidak memerintahkan mereka untuk melakukan sebuah tugas yang lebih sulit atau berat?” Jawabannya sederhana, karena robot dapat bekerja 24 jam/7 hari. Ya, bandara merupakan gerbang kedatangan utama bagi para pelancong yang hendak berkunjung ke Australia. Terlebih hampir semua bandara di Australia melayani penerbangan internasional selama 24 jam dalam sehari. Baca Juga: Robot Vortex – Robot Kecil yang Lakukan Maintenance Pada Badan Pesawat Besar Kemampuan utama yang dijual oleh pihak Optus adalah kemampuan bahasa dari robot humanoidnya – dimana perusahaan mengatakan bahwa robot ini bisa ‘menerjemahkan’ 20 bahasa, walaupun sampai saat ini robot baru bisa ‘menerjemahkan’ bahasa Inggris dan Chinese saja.

Gandeng Bosch, Mercedes-Benz Perkenalkan ‘Taksi’ Otonom di San Jose

Setelah kurang lebih satu tahun pasca mengutarakan niat untuk mengembangkan moda otonom, akhirnya dua perusahaan kenamaan asal Jerman, Mercedes-Benz dan Bosch sukses meluncurkan moda otonom S-Class yang kelak ditujukan untuk mengangkut penumpang dari San Jose (California) sebelah barat menuju ke pusat kota. Rencana yang dilontarkan oleh kedua perusahaan ini pun terbilang cukup tepat waktu, mengingat pada tahun 2018 lalu, keduanya sepakat akan merilis moda otonom di paruh kedua tahun 2019. Baca Juga: Kembangkan Moda Otonom, Scania Masih Gunakan Bahan Bakar Nabati Terbarukan Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman theverge.com (9/12), sudah barang tentu nantinya moda ini tidak akan melakukan perjalanan dinamis layaknya moda pengangkut manual di luaran sana, melainkan moda ini hanya akan beroperasi di rute tetap yang ada di sepanjang San Carlos Street dan Stevens Creek Boulevard saja. Guna mencegah hal-hal yang tidka diinginkan, kedua perusahaan ini kabarnya akan menambahkan fitur safety drivers pada bagian bangku depan guna memantau pengoperasian dari moda otonom ini. Kendati baik Mercedes-Benz maupun induk perusahaannya, Daimler sudah banyak berkecimpung di ranah perakitan moda otonom, namun project bersama Bosch ini akan menjadi yang pertama bagi Mercedes-Benz, mengingat moda yang dikembangkannya ditujukan untuk pasar ride-hailing atau layanan taksi. Memang, moda otonom bukanlah sesuatu yang baru lagi di era modern ini – sejumlah perusahaan sudah terlebih dahulu berkecimpung di dalamnya, mulai dari Waymo, Lyft, Voyage, hingga raksasa manufaktur otomotif asal Jepang, Honda juga dikabarkan tengah mengembangkan moda otonomnya sendiri. Tentu saja fitur yang ditawarkan oleh semuanya berbeda, namun tetap menjual fitur driverless sebagai yang utama. Baca Juga: City of Bryan Siap Rilis Moda Otonom Bertenaga Listrik Pada Pertengahan Oktober Mendatang! Baik Mercedes-Benz maupun Bosch sama-sama saling mengembangkan perangkat lunak untuk mengendalikan pergerakan serta manajemen kendaraan – dimana ini akan menjadi salah satu pilar penting dalam terwujudnya ekosistem transportasi nirawak. Setidaknya, kedua perusahaan ini sudah lebih dari dua tahun dalam pengembangannya. Perlu dicatat bahwa Mercedes-Benz merupakan salah satu dari 65 perusahaan yang berlisensi di California yang mendapatkan fasilitas untuk menguji mobil nirawak di jalan umum.

Begini Sensasi Terbang dari London ke Singapura ala Maskapai LCC

Jika pada artikel sebelumnya telah diberitakan tentang Norwegian Air Shuttle (Norwegian AS) yang diplot sebagai Low Cost Carrier (LCC) yang pernah mengoperasikan penerbangan terjauh, yaitu dari London Gatwick menuju Singapura, maka kini giliran untuk mengulas bagaimana pengalaman penumpang yang pernah menjajal rute penerbangan ini. Kira-kira, apakah yang dirasakan penumpang selama mengudara bersama Norwegian AS di rute London Gatwick – Singapura ini? Baca Juga: London Gatwick-Singapura, Menjadi Rute Penerbangan LCC Terjauh di Dunia! Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman independent.co.uk, kendati penerbangan ini tercatat sebagai maskapai LCC, namun Norwegian AS menawarkan dua pilihan kelas di dalam penerbangan yang dilakoni dengan armada Boeing 787-9 ini – premium class dan economy class. Masalah utama yang selama ini menggelayuti benak para penumpang maskapai penerbangan berbiaya rendah adalah soal legroom. Namun beruntung bagi para penumpang premium class Norwegian AS, dimana ukuran legroom mencapai 117cm – sebuah ruang yang cukup untuk kaki dapat melakukan ‘manuver kecil’ untuk menghindari kelelahan. Sementara untuk ukuran legroom yang ada di economy class hanyalah berkisar 79cm saja. Tentu saja, ukuran legroom di economy class ini menjadi salah satu titik perhatian, dimana agaknya Anda akan sedikit ‘tersiksa’ ketika harus mengudara selama 13 jam dari London Gatwick menuju Singapura ataupun sebaliknya.
IFE Norwegian AS. Sumber: Twitter.com
Untuk masalah hiburan, tersedia In-Flight Entertainment (IFE) yang tersemat di balik armrest masing-masing bangku – tidak seperti kebanyakan pesawat atau maskapai yang menyimpan IFE mereka di bagian belakang bangku penumpang. Selain IFE, meja lipat juga ‘disembunyikan’ di balik armrest – dimana laman sumber mengatakan bahwa ukuran armrest sendiri terbilang cukup besar sehingga bisa digunakan oleh dua penumpang sekaligus. Pun halnya dengan tayangan yang ada di IFE Norwegian AS di rute penerbangan London Gatwick – Singapura, dimana Anda bisa menikmati berbagai film, mulai dari film jadul sampai yang baru sekaligus. Penumpang pun akan diberikan headset serta selimut ketika mereka mengudara di rute penerbangan ini – begitu pula halnya dengan In Flight Meal, dimana jika Anda duduk di premium class, maka Anda akan disuguhkan beberapa penganan selama perjalanan. Baca Juga: Regulasi Perusahaan Jadi ‘Separator’ Layanan LCC di Seluruh Dunia Jika membaca deskripsi di atas, agaknya perbedaan kasta antara penerbangan full service dan berbiaya rendah saat ini sudah semakin terkikis – hanya berbeda di tempat duduk saja. Terlebih ini merupakan penerbangan LCC dengan jarak terbang terjauh di dunia, dimana fasilitas seperti makanan, selimut, headset, dan lain-lain akan menjadi hak yang akan Anda dapat sebagai penumpang. Namun sayang, karena satu dan lain hal, Norwegian AS tidak lagi memperpanjang rute penerbangan ini per Januari 2019 kemarin.

Nok Air, Terkenal dengan Logo Paruh Burung, Inilah LCC Khas Thailand

Warna warni pada livery di bodi pesawat ini sangat unik, bahkan saking khasnya membuat armada Nok Air mudah dikenali dari kejauhan. Menggunakan warna-warna pastel, ditambah gambar paruh burung pada hidung kokpit, menjadikan maskapai low cost carrier yang berbasis di Bandara Don Mueang, Bangkok ini lumayan tersohor di Thailand. Nok Air namanya, sayang maskapai LCC ini tidak melayani penerbangan ke Indonesia. Namun melihat corak livery pada Nok Air menjadikan rasa penasaran untuk mengetahui sepak terjang dari juga mengambil logo paruh burung ini. Bagi Anda yang menginjakan kaki di Bandara Don Mueang, maka besar kemungkinan akan melihat armada Nok Air yang tengah parkir di apron. Baca Juga: Liburan di Bangkok? Ini Tips dari Tourism Authority of Thailand Biar Tak Salah Arah! Mungkin beberapa dari Anda masih agak asing dengan nama maskapai yang satu ini – namun jangan salah, destinasi yang dilayani Nok Air mencapai 32 destinasi yang tersebar di Thailand, Cina, India, Myanmar, dan Vietnam. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, maskapai ini sendiri didirikan pada tanggal 10 Februari 2004, dan memulai operasi komersialnya lima bulan berselang. Untuk diketahui, Nok Air ini berada di bawah naungan perusahaan asal Myanmar, Sky Asia Co., Ltd. Kendati begitu, saham kedua terbesar yang ada di tubuh maskapai ini dipegang oleh flag carrier Thailand, Thai Airways. Satu ciri khas unik yang akan Anda temui dari maskapai Nok Air ini adalah adanya gambar paruh burung berbentuk kartun berwarna kuning di hampir setiap pesawat yang beroperasi – mungkin ini juga yang menjadikan inspirasi bagi pihak maskapai untuk menjadikan paruh burung tersebut sebagai logo perusahaan. Dalam menjalankan bisnisnya, Nok Air menggunakan 23 unit pesawat yang terdiri dari 15 unit Boeing 737-800, dan delapan unit Bombardier Dash 8 Q400 NextGen. Mengutip dari Wikipedia, Nok Air tercatat sebagai salah satu maskapai yang sudah memesan varian Boeing 737 MAX 8 sebanyak tujuh unit guna memperkuat lini armada burung besinya. Baca Juga: Long Haul Low Cost Carriers, Solusi Terbang Jarak Jauh Tanpa Harus Kuras Dompet! Selayaknya maskapai lain yang berusaha menggeliat di tengah persaingan transportasi udara yang semakin ketat, Nok Air yang resmi mengudara sejak 23 Juli 2004 dikabarkan juga tergabung ke dalam sebuah aliansi penerbangan bernama Value Alliance. Aliansi penerbangan ini sendiri merupakan yang kedua (setelah U-FLY Alliance) yang hanya berisikan maskapai-maskapai LCC saja. Di Value Alliance, Nok Air tergabung bersama Cebu Pacific, Cebgo, Jeju Air, dan Scoot. Bagi Anda yang masih melihat Nok Air sebagai sebuah maskapai dengan sebelah mata, agaknya fakta bahwa Nok Air telah bekerja sama dengan Scoot untuk menghadirkan LCC baru bernama NokScoot akan membuat pandangan Anda berubah. Selain kaya akan wisata alam dan budayanya, ternyata Thailand juga menyuguhkan berbagai alternatif perjalanan bagi para pelancong – khususnya via jalur udara.

Pembangunan Capai 90 Persen, Maret 2020 Seluruh Penerbangan di Bandara Adisutjipto Pindah ke YIA

Pembangunan Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) diwartakan hampir tuntas. Hingga 8 Desember 2019, progress pembangunan bandara yang berada di Kulon Progo ini telah mencapai 90 persen. Saat ini fokus pekerjaan meliputi penyelesaian pekerjaan interior terminal penumpang dan jalan layang menuju area keberangkatan lantai 3. Baca juga: Menuju Operasional Penuh di 2020, Proses Pembangunan YIA Kini Mencapai 82 Persen  PT Angkasa Pura I selaku pengelola YIA menargetkan bandara ini dapat beroperasi secara penuh pada Maret 2020 dan memindahkan seluruh penerbangan domestik dan internasional dari Bandara Adisutjipto ke YIA. “Saat ini, YIA telah melayani 13 rute untuk penerbangan domestik, yaitu Denpasar, Cengkareng, Halim Perdanakusumah, Banjarmasin, Palembang, Palangkaraya, Samarinda, Makassar, Medan, Tarakan, Balikpapan, Batam, dan Pontianak. Rute-rute tersebut dilayani oleh maskapai Lion Air, Garuda Indonesia, Citilink, dan Batik Air,” ujar Direktur Utama Angkasa Pura I Faik Fahmi dalam pesan tertulis (11/12/2019). “Proses tersebut akan melibatkan banyak pemangku kepentingan, sehingga serentak atau tidaknya proses pemindahan penerbangan juga bergantung pada kesiapan masing-masing maskapai penerbangan,” imbuh Faik.
YIA merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) yang diamatkan oleh Pemerintah Republik Indonesia kepada Angkasa Pura I. YIA mendesak untuk dibangun mengingat Bandara Adisutjipto yang ada saat ini sudah dalam kondisi lack of capacity. Setelah pembangunan tahap I selesai di awal 2020, YIA akan memiliki terminal penumpang tiga lantai seluas 219.000 meter persegi berkapasitas 20 juta penumpang per tahun. Bandara ini memiliki landas pacu (runway) sepanjang 3.250 x 45 meter dengan shoulder (bahu runway) 15 meter di setiap sisi. Spefisikasi runway ini mampu didarati pesawat berbadan besar seperti Boeing 777-300 dan Airbus A380. Adapun fasilitas Penyelamatan Kecelakaan Pesawat dan Pemadam Kebakaran (PKP-PK) di YIA masuk ke dalam Kategori 8. Bandara ini dilengkapi 5 unit fixed bridge dan apron seluas 371.205 meter persegi berkapasitas 22 parking stand. Luas terminal kargo YIA adalah 12.000 meter persegi dengan kapasitas 40.300 ton per tahun. Gedung parkir tiga lantai dengan luas area 137.280 meter persegi yang mampu menampung ribuan kendaraan juga menambah kelengkapan fasilitas di YIA. Di dalam terminal penumpang, tersedia 12 konter check-in, 2 x-ray, 2 walk through metal detector (WTMD), 400 kursi tunggu, 6 konter imigrasi, serta 2 baggage conveyor. Adapun fasilitas standar pelayanan bandara lainnya yang sudah tersedia yaitu signage, konter informasi, flight information display system, announcement, informasi transportasi lanjutan, pusat informasi pariwisata, serta staf pelayanan pelanggan (customer service) yang berasal dari warga lokal Kulon. Juga terdapat difable lounge, difable toilet, difable lift, difable drop zone, nursery room, kid zone, reading corner, serta 400 unit troli. Baca juga: Pasang Tarif Rp30 Ribu, KA Bandara YIA Resmi Beroperasi Hingga Stasiun Wojo Berbagai layanan pendukung bandara lainnya juga telah siap, seperti layanan navigasi penerbangan, layanan meteorologi, layanan pengisian bahan bakar pesawat udara, fasilitas kesehatan pelabuhan, karantina ikan, hewan, dan tumbuhan, dan dukungan transportasi pemadu moda (Damri, shuttle bus, kereta api, dan taksi).

Kunjungan Kenegaraan, Raja Swedia Naik Pesawat Komersial dan Duduk di Kelas Ekonomi

Belum lama ini, Air India mendapatkan kehormatan dengan ditumpangi sepasang tamu VIP asal Swedia, yaitu Raja Swedia, His Majesty Carl Gustaf Folke Hubertus dan Ratu Her Majesty Silvia Renate Sommerlath. Kedua tokoh kenegaraan ini diketahui menggunakan Boeing 787 Dreamliner Air India AI168 dari Stockholm ke New Delhi. Sampai disitu tentu kabar ini terasa masih biasa saja. Baca juga: Bak Raja, Pria Asal Lithuania Menjadi Satu-Satunya Penumpang Pesawat Tujuan Italia Namun lebih dari itu, ada fakta yang mengejutkan, ternyata raja dan ratu Swedia tidak duduk di kabin kelas bisnis, juga bukan di kelas satu, melainkan mereka duduk di kelas ekonomi. Dikutip dari thelocal.se (4/12/2019), disebutkan bahwa pesawat milik negara yang biasa mereka gunakan dikabarkan tengah mengalami kerusakan, sehingga jadilah pasangan VIP ini terbang menggunakan penerbangan komersial. Media di India dan Swedia pun dibuat riuh dengan kenyataan raja dan ratu naik di kelas ekonomi. Dalam keseharian, pasangan kerajaan ini memang dikenal akan kesederhanaannya, termasuk saat ke Indonesia tahun 2017 silam. Selain punya sifat sederhana, raja pun tak ingin dimanja layaknya pejabat tinggi. Saat tiba di New Delhi pada 2 Desember 2019, lagi-lagi raja membuat heboh netizen, lantaran Ia menenteng tas dan koper sendiri. Ternyata pada kunjungan kenegaraan ke Indonesia pada 2017, sesaat tiba di Bandara Soekarno-Hata, raja Swedia ini juga terlihat menenteng koper sendiri. Padahal kedatangan Raja Swedia ke India dalam misi kenegaraan, dimana Ia dijadwalkan untuk bertemu Presiden India Ram Nath Kovind dan Perdana Menteri Narendra Modi. Swedia dan India akan membicarakan bisnis dan perdagangan bilateral, serta berbagai isu yang terkait perubahan iklim. Baca juga: Pengemis di Swedia Wajib Bayar Lisensi dan Punya Identitas Valid Meski netizen meributkan tentang ‘kesederhanaan’ Sang Raja, namun Carl Gustaf Folke ternyata tidak terpengaruh oleh keriuhan yang ada. Dalam lawatan ke India, raja dan ratu Swedia ini didampingi oleh Menteri Luar Negeri Swedia Ann Linde dan Menteri Bisnis Ibrahim Baylan, namun tidak diketahui apakah kedua pejabat pemerintah tersebut juga ada dalam penerbangan yang sama dengan Sang Raja.