Berlaku Kasar ke Awak Kabin AirAsia, Model ini Bikin Malu Dirinya Sendiri

Siapapun penumpangnya sepertinya bila menggunakan toilet pesawat sesaat sebelum mendarat tidak akan diperbolehkan oleh awak kabin. Hal ini karena dalam toilet pesawat tidak dilengkapi dengan sabuk pengaman dan menghindarkan penumpang cedera karena goncangan ketika akan mendarat. Baca juga: Tak Bisa Duduk Disamping Sang Pacar, Penumpang ini Siram Air Panas ke Pramugari AirAsia Namun baru-baru ini seorang penumpang yang juga runner-up Miss Malaysia Internasional, Sabee Chin memposting kata-kata dan video perilaku kasarnya pada awak kabin AirAsia di Facebook karena tidak diperbolehkan menggunakan toilet pesawat. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman worldofbuzz.com (23/10/2019), Sabee memposting itu dikarenakan awak kabin menolak untuk mengizinkannya menggunakan toilet karena pesawat sedang bersiap untuk mendarat. Dalam postingannya, Sabee menulis ketika dia tiba di depan toilet dan ada penumpang lain di depannya. Kemudian dirinya bertanya pada awak kabin kenapa tidak diperbolehkan menggunakan toilet. Awak kabin itu menjawab dengan sopan, “Maaf, toilet sudah ditutup, tidak bisa digunakan. Silahkan kembali ke tempat duduk Anda.” Tidak seperti penumpang lain yang akhirnya duduk karena tidak diizinkan menggunakan toilet, Sabee tetap meminta izin menggunakan toilet. Namun tidak direspons oleh awak kabin karena sudah diberitahu. Awak kabin itu mencoba melanjutkan pekerjaannya dan sekali lagi mengingatkan Sabee serta penumpang lain untuk kembali ke kursi mereka. Meskipun demikian, bintang itu sepertinya tidak akan menerima jawaban dan mulai melecehkan awak kabin dengan menginvasi ruang pribadinya dan mendorong ponselnya ke wajah awak kabin itu beberapa kali. Sabee marah dan mengatakan bahwa dia akan mengadu ke departemen layanan pelanggan AirAsia meskipun faktanya dia yang menyebabkan semua drama yang tidak perlu ini. Ketika pesawat akhirnya mendarat, SaBee mengambil video dari semua staf penerbangan. Suaranya bisa terdengar di latar belakang saat dia menyatakan dengan mengejek, “AirAsia! Ini AirAsia ok.” Terlepas dari sikapnya yang buruk, staf penerbangan AirAsia masih melanjutkan pekerjaan mereka dan hanya berdiri dengan sopan, menunggu sang diva untuk tenang. Baca juga: Beli Laptop Lenovo Bisa Dapat Tiket AirAsia Gratis? Inilah Syaratnya! “Sejak postingan itu beredar, warganet mengkritik bintang itu karena perilakunya yang kasar. Staf AirAsia hanya mengikuti protokol, mereka tidak pantas dilecehkan seperti itu! Mudah-mudahan, Sabee telah belajar dari kesalahannya,”ujar seorang warganet.

Rilis 9 Faktor Penyebab Kecelakaan JT610, KNKT: “Satu Tidak Terjadi, Maka Kecelakaan Dapat Terelakkan”

Kecelakaan pesawat Lion Air JT610 yang jatuh di Tanjung Karawang, Jawa Barat pada 29 Oktober 2018 silam memang menyisakan duka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan. Kendati diiming-imingi dana santunan dari pihak Boeing (yang nyatanya hingga kini belum terdistribusi secara merata), namun pihak keluarga korban enggan menerima dan masih tetap berusaha untuk menyuarakan keadilan dan titik terang dari insiden setahun lalu ini. Baca Juga: KNKT (Kembali) Ungkap Kejadian Pra Jatuhnya Lion Air JT610 Sebagai badan yang berkewajiban untuk menelisik terkait insiden yang menyebabkan varian Boeing 737 MAX di-grounded-kan secara massal dari operasional ini, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) lalu melakukan investigasi mendalam. Dalam kurun waktu satu tahun, KNKT berhasil menemukan penyebab jatuhnya dari pesawat ini, yaitu komplikasi dari fitur teranyar Boeing untuk pesawat komersialnya, Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS). Kendati sudah terjadi dan tidak mungkin kembali untuk mencegah kecelakaan ini terjadi, nyatanya KNKT menemukan sembilan faktor yang saling berkaitan dan jika ada salah satu dari faktor ini tidak terjadi, maka besar kemungkinan kecelakaan ini juga tidak terjadi. Diungkapkan pada acara Laporan Akhir Kecelakaan Pesawat Udara Lion Air JT610, Jumat (25/10), berikut adalah kesembilan faktor yang berkontribusi pada jatuhnya pesawat yang menewaskan 189 orang ini. 1. Asumsi terkait reaksi pilot yang dibuat pada saat proses desain dan sertifikasi pesawat Boeing 737 MAX 8, meskipun sesuai dengan referensi yang ada ternyata tidak tepat, 2. Mengacu pada asumsi yang telah dibuat atas reaksi pilot dan kurang lengkapnya kajian terkait efek-efek yang dapat terjadi di kokpit, sensor tunggal yang diandalkan untuk MCAS ini dianggap cukup dan memenuhi ketentuan sertifikasi, 3. Desain MCAS yang mengandalkan satu sensor rentan terhadap kesalahan, 4. Pilot mengalami kesulitan dalam merespon pergerakan MCAS yang tidak seharusnya, mengingat tidak ada petunjuk dalam manual book dan pelatihan, Baca Juga: Akhirnya! Boeing Akui Adanya Kesalahan Sistem pada Boeing 737 MAX 8 5. Indikator Angle of Attack (AoA) Disagree tidak tersedia di dalam pesawat, dimana informasi terkait perbedaan AoA di sayap kanan dan kiri tidak dapat ditampilkan dan baik pilot maupun teknisi tidak dapat mengidentifikasi kerusakan sensor AoA, 6. Sensor AoA yang diganti di Bali mengalami miskalibrasi yang tidak terdeteksi, 7. Investigasi tidak dapat menentukan apakah pengujian sensor AoA baru ini telah terpasang dengan benar atau tidak, dimana ini akan berimplikasi pada miskalibrasi. 8. Informasi mengenai stick shaker dan penggunaan prosedur non-normal Runaway Stabilizer pada penerbangan sebelumnya (Denpasar ke Jakarta) tidak tercatat (mengacu pada poin 5), dan 9. Kondisi di kokpit menjelang jatuhnya pesawat dinilai terlalu hectic, karena pilot mesti berkomunikasi dengan ATC, mengendalikan pesawat secara manual, dan munculnya notifikasi aktivasi dari MCAS membuat pilot kesulitan untuk mengendalikan pesawat secara baik. Dari kesembilan faktor tersebut, KNKT menegaskan apabila salah satunya tidak terjadi, maka kecelakaan nahas ini pun dapat terhindarkan.

KNKT (Kembali) Ungkap Kejadian Pra Jatuhnya Lion Air JT610

Tak terasa, tanggal 29 Oktober mendatang menandakan satu tahun jatuhnya pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT610. Kala itu, Lion Air menggunakan pesawat Boeing 737 MAX 8, dimana ini menjadi titik awal dari aksi grounded massal yang dilakukan oleh seluruh maskapai dunia hingga saat ini. Dalam rentang satu tahun pasca kejadian, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah melakukan sejumlah investigasi guna mencari penyebab utama jatuhnya pesawat nahas tersebut – mulai dari menganalisa Flight Data Recorder (FDR), Cockpit Voice Recorder (CVR), hingga melakukan simulasi langsung. Baca Juga: Benarkah Boeing Gadaikan Faktor Keselamatan 737 MAX Demi Kas Perusahaan? Dari sini, KNKT menemukan bahwa adanya kerusakan pada indikator kecepatan dan ketinggian pada pesawat berkode PK-LQP ini. Kerusakan ini sendiri pertama kali terjadi pada tanggan 26 Oktober 2018, manakala pesawat mengudara dari Tianjin Cina menuju Manado. Berdasarkan informasi yang didapatkan KabarPenumpang.com dari acara Laporan Akhir Kecelakaan Pesawat Lion Air JT610 yang dihelat KNKT pada Jumat (25/10), sejumlah perbaikan terkait kerusakan ini sudah dilakukan, dimana yang terakhir, sensor Angle of Attack (AoA) sebelah kiri pesawat diganti di Bali pada 28 Oktober 2018. Sejak diganti, pesawat bukannya menjadi ‘sembuh’ tapi malah menjadi semakin ngaco. Hal ini tercitra dari deviasi hingga 21 derajat dari sensor AoA sebelah kiri. Sialnya, kerusakan ini tidak terdeteksi manakala pesawat melakukan uji penerbangan setelah sensor baru tersebut terpasang. Adapun deviasi ini berdampak pada perbedaan penunjukkan ketinggian dan kecepatan antara instrumen kiri dan kanan di kokpit, dan juga mengaktifkan stick shaker serta Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS) pada penerbangan dari Denpasar menuju Jakarta pada 28 Oktober. Pada penerbangan dari Denpasar menuju Jakarta tersebut, pilot berhasil mengatasi aktifnya MCAS dengan memindahkan stab trim switch ke posisi cut out. Namun kembali disayangkan, pilot tidak melaporkan terkait hal ini (stick shaker dan pemindahan stab trim ke posisi cut out) kepada ground crew. Hal ini semakin diperburuk dengan absennya lampu peringatan AoA Disagree, sehingga pilot tidak melaporkan kejadian tersebut. Baca Juga: Ternyata Boeing Ketahui Masalah Sensor di 737 MAX Sebelum Lion Air Jatuh! Namun siapa sangka, ini merupakan faktor awal dari jatuhnya Lion Air JT610. Terkait penemuan ini, KNKT mengeluarkan tiga rekomendasi keselamatan kepada Lion Air yang sekiranya dapat dilakukan guna meningkatkan keselamatan di udara, diantaranya terkait manajemen manual dan pengelolaan masalah yang berulang terjadi (dalam kasus ini adalah kerusakan indikator kecepatan dan ketinggian). Rekomendasi lain juga turut dikeluarkan KNKT kepada Boeing (6 rekomendasi), DGCA atau Dirjen Penerbangan Sipil (3 rekomendasi), Federal Aviation Administration atau FAA (8 rekomendasi), hingga AirNav Indonesia (1 rekomendasi).

[Galeri Foto] Deretan Makanan di Pesawat ini Mampu Menjatuhkan Selera Makan Anda!

Penerbangan yang membosankan ditambah dengan perut yang mulai keruyukan merupakan duet maut yang akan memaksa Anda untuk membeli penganan di atas pesawat. Namun, jangan pernah menyimpan ekspektasi lebih dari makanan yang dijajakan di sini, mengingat Anda akan menyesal kelak. Ya, memang tidak semua makanan yang kita pesan di dalam penerbangan akan sesuai dengan apa yang kita harapkan. Namun apa jadinya jika makanan tersebut tampak seperti tidak bisa dimakan karena bentuknya yang sangat tidak menjual? Akankah Anda memakannya? Baca Juga: Yakin Sehat? Ini Rahasia Makanan di Pesawat Kata Mantan Pramugari Sebuah media asal Inggris, thesun.co.uk, pernah merangkum makanan-makanan yang diterima oleh penumpang di dalam pesawat dengan bentuk yang sama sekali tidak ‘menjual’ dan malah menghilangkan selera makan. Kira-kira, makanan apa sajakah itu? Demi menjaga privasi dan nama baik, maka KabarPenumpang.com akan mengikuti thesun.co.uk untuk tidak membocorkan nama maskapainya. Mungkin nama dari makanan ini adalah Sandwich Bakso
Sumber: thesun.co.uk
Kalau tadi Sandwich Bakso, maka yang ini namanya Bubur Bakso
Sumber: thesun.co.uk
Mulanya sih menggugah selera, tapi pas dibuka, kok dagingnya seperti masih mentah, ya?
Sumber: thesun.co.uk
Kalau yang ini sih nasibnya seperti mie instant, gambar memang menipu!
Sumber: thesun.co.uk
Apakah itu pasta yang menggunakan saus kacang basi?
Sumber: thesun.co.uk
Oops.. Harusnya kami menyensor makanan yang satu ini!
Sumber: thesun.co.uk

Bilik Toilet di Bandara Narita Dilengkapi Kertas Tisu Untuk Smartphone

Biasanya di dalam sebuah bilik toilet, hanya ada satu gulungan kertas tisu. Namun, apa jadinya jika ada dua gulungan kertas tisu di dalam satu buah bilik toilet? Di Jepang tepatnya di Bandara Narita Tokyo, dalam setiap bilik toiletnya terdapat dua gulungan kertas tisu. Baca juga: Cair Tapi Bukan Sabun, Lantas Apa yang Dikeluarkan Dispenser Sabun di Bandara Detroit? Gulungan yang besar adalah kertas tisu biasa dan digunakan untuk menyeka setelah Anda buang air. Sedangkan gulungan lainnya lebih kecil dan digunakan untuk menyeka ponsel pintar alias smartphone Anda. Mungkin Anda berpikir untuk apa kertas toilet dan apa hubungannya dengan ponsel pintar yang Anda bawa tersebut. KabarPenumpang.com merangkum dari laman fortune.com, ternyata lembaran kertas ini memang untuk membersihkan smartphone yang dibawa ke bilik toilet. Kertas tisu untuk smartphone ini disediakan oleh NTT Docomo, salah satu operator seluler terbesar di Jepang. Perusahaan tersebut mengatakan, bahwa layanan ini merupakan respon terhadap temuan bahwa layar smartphone disebut-sebut lima kali lebih banyak mengandung kuman dibandingkan sebuah toilet duduk.
Kertas tisu khusus ponsel pintar (The Guardian)
Docomo juga menerbitkan video singkat yang menunjukkan bagaimana menggunakan spray dan informasi lainnya untuk membantu pengunjung mengatasi toilet umum hi-tech yang akan di hadapi di Jepang. Diketahui, toilet merupakan bisnis yang serius di Jepang, dimana bangunan umumnya dilengkapi dengan washlet berteknologi tinggi. Menurut sebuah studi tahun 2013 oleh Ofcom, 11 persen orang Inggris mengaku melihat konten video di telepon, tablet atau laptop saat berada di kamar mandi. Angka itu 20 persen diantara berusia 18 sampai 24 tahun. Selain itu ternyata kuman berbahaya yang ditemukan di smartphone dapat menyebabkan muntah hingga infeksi kuman Ecoli. Baca juga: Tujuh Bandara Ini Jadi Yang Terbaik Untuk Fasilitas Nursery Room Dari survei yang dilakukan kepada para pelancong tentang toilet di Jepang, hasil menunjukkan bahwa pengunjung asing secara universal terkesan dengan kebersihan dan fleksibilitas toilet umum Jepang. Kertas toilet ini sudah dipasang di 86 bilik toilet di terminal kedatangan bandara dan ini ada sampai Maret 2017 kemarin. Setiap lembar kertas tisu untuk ponsel ini, berisi informasi tentang akses WiFi di bandara dan sebuah aplikasi dengan tips perjalanan.

Tisu Toilet di Stasiun Tokyo ‘Ingatkan’ Penumpang untuk Tak Gunakan Ponsel Ketika Berjalan

Masih ingat tisu toilet di Bandara Narita Tokyo yang bisa digunakan untuk menyeka layar ponsel pintar? Kehadiran tisu untuk menyeka layar ponsel ini dikarenakan temuan kuman yang lima kali lebih banyak dibandingkan toilet duduk. Kertas tisu ini disediakan oleh NTT Docomo dan menjawab respon masyarakat. Baca juga: Bilik Toilet di Bandara Narita Dilengkapi Kertas Tisu Untuk Smartphone Ternyata East Japan Railways (JR East) juga membidik pengguna kereta api yang lebih memilih berjalan sembari menatap layar ponsel pintar mereka tetapi tak tahu arah yang pasti di stasiun. East Japan kemudian berkampanye untuk mengingatkan orang agar tidak selalu berfokus pada ponsel ketika mereka berjalan. Tapi tahukah Anda bagaimana JR East melakukan kampanye mereka itu? Dilansir KabarPenumpang.com dari soranews24.com, kampanye itu hadir melalui tisu yang terdapat di toilet stasiun tertentu milik JR East. “Kampanye pencegahan ponsel pintar yang dilakukan JR East terlalu teliti dan menakutkan. Seruan bahkan dengan kertas toilet di ruang pribadi stasiun. Ini tidak bisa membersihkan area intim,” ujar Minami seorang penumpang. Pada kertas itu tertulis gambar ponsel pintar yang menampilkan langkah kaki serta pesan “Yamemasho, aruki sumaho” atau berarti “Mari kita berhenti menggunakan ponsel pintar saat berjalan”. Sistem penyampaian pesan yang tidak biasa ini dibuat JR East bersama dengan operator telepon seluler NTT Docomo, KDDI, SoftBank dan Asosiasi Operator Telekomunikasi Jepang. Media kertas tisu yang dibuat khusus ini, cukup baik untuk memahami pesan selama masih bisa digunakan dengan cara dilipat. “Hei, bukankah ini bagus? Bukankah ini luar biasa? Kertas toilet untuk toilet stasiun. Menyampaikan pesan untuk mencegah ponsel pintar berjalan!” kata Hinari yang berkicau di akun Twitternya. “Dan supaya kau tahu betapa seriusnya mereka, pesan itu berulang. Keseriusan kertas toilet JR luar biasa!!!!!! Meskipun itu sambil berjalan, ponsel pintar yang digunakan ketika berjalan memperingatkan agar semua orang berhati-hati melalui kertas tisu,” ujar penumpang lainnya, Asari. Baca juga: Bilik Toilet di Bandara Narita Dilengkapi Kertas Tisu Untuk Smartphone Kertas tisu ini sendiri hadir di Stasiun Tokyo, Shinjuku dan Shinagawa. Ketiga stasiun ini merupakan stasiun tersibuk di kota serta Stasiun Akihabara yang dilengkapi dengan teknologi.

Perdebatan Duduk di Samping Jendela vs Samping Lorong, Mana yang Lebih Enak?

Kegemaran seseorang untuk menentukan tempat duduk mana yang lebih ia suka selama mengudara memang tidak bisa disama-ratakan, sebagian ada yang menjawab lebih senang duduk di samping jendela pesawat, dan sebagiannya lagi mengatakan lebih senang duduk di samping lorong kabin. Ini merupakan soal selera, sama halnya seperti Anda ditanya soal mana yang lebih Anda suka, nasi goreng atau mie goreng. Mungkin analogi ini cocok untuk menggambarkan perdebatan soal posisi duduk selama berada di pesawat. Baca Juga: Jadi Baiknya Sebagai Penumpang Pesawat Duduk di Kursi Mana? Tentu saja, kedua bangku ini memiliki keuntungannya tersendiri. Jika duduk di samping jendela, maka Anda bisa menikmati pemandangan dari ketinggian selama perjalanan, namun jika Anda duduk di samping lorong kabin, maka itu Anda akan untuk bermobilisasi selama mengudara (semisal menggunakan toilet, dan lain sebagainya). Belum lagi, Anda bisa ‘mencuri start’ untuk keluar dari pesawat ketika sudah landing. Tapi dimana ada keuntungan, maka ada juga kerugian yang dirasakan oleh kedua jenis penumpang ini. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman cnn.com, kerugian duduk di samping jendela pesawat adalah Anda harus melangkahi penumpnag lain yang duduk di samping Anda – terlebih ketika bangku yang Anda duduki adalah bangku kelas ekonomi, dimana jarak antar bangku sangatlah sempit. Maka, sedikit banyaknya ini akan menyulitkan Anda untuk keluar dari bangku. Selain itu, bagi Anda yang suka duduk di samping jendela juga tentu harus bersabar ketika pesawat sudah landing dan waktunya untuk menginggalkan kabin. Karena Anda harus menunggu orang yang duduk di samping Anda keluar, baru Anda bisa mengikuti rombongan lain meninggalkan kabin. Tidak hanya mereka yang gemar duduk di dekat jendela saja yang memiliki kerugian, pun halnya dengan mereka yang duduk di samping lorong kabin. Nah, siap-siap saja waktu istirahat di penerbangan Anda akan terganggu karena ‘hilir-mudik’ penumpang yang berada di sebelah kiri kanan Anda.
ilustrasi. Sumber: istimewa
Mulai dari tangan terbentur mereka yang berjalan di lorong kabin, hingga terpaksa bangkit dari bangku untuk memberikan jalan bagi penumpang yang duduk di dekat jendela merupakan kerugian bagi Anda yang gemar duduk di samping lorong kabin. Belum lagi jika ada penumpang yang harus berdiri di samping Anda untuk mengambil barangnya yang tertinggal di bagasi kabin. Tentu risih bukan kalau sudah seperti ini? Baca Juga: Pilihan Awak Kabin, Inilah Posisi Tempat Duduk Favorit Selama Penerbangan Untuk perjalanan rute pendek, agaknya tidak terlalu masalah untuk memilih duduk di manapun. Namun bagaimana jika penerbangannya memakan waktu yang cukup lama? Tentu ini menjadi masalah baru. Jadi, Anda masuk ke dalam kelompok yang mana, nih? Duduk di samping jendela atau di samping lorong kabin?

Inilah Rahasia Bugar Awak Kabin Qantas Saat Layani Penerbangan Non-Stop Sydney-New York

Pekan lalu, maskapai asal Australia Qantas berhasil membuat jagad aviasi global tercengang. Pasalnya maskapai berjuluk The Flying Kangaroo ini sukses melakukan penerbangan langsung terjauh dan terlama yang dinamakan Project Sunrise. Adapun proyek ini menghubungkan Sydney di Australia dengan New York di Amerika sana. Ya, ini merupakan penerbangan terjauh dan terlama yang pernah dilakukan oleh maskapai manapun yang ada di dunia. Wajar saja jika seluruh penjuru dunia membicarakan penerbangan yang tercatat mengudara selama kurang lebih 19 jam ini. Baca Juga: Setelah Persiapan Ekstra, Qantas Sukses Lakoni Penerbangan Non-Stop Sydney-New York Namun, pernahkah Anda memikirkan tentang ketahanan dari awak penerbang yang beroperasi di Project Sunrise ini? Sejatinya, Project Sunrise merupakan ajang bagi Qantas untuk mempelajari tentang bagaimana pilot dan awak kabin bisa tetap beristirahat, cekatan, dan kompeten selama penerabangan terjauh ini. Jika Anda semua beranggapan bahwa Project Sunrise hanya dilakoni oleh awak utama tanpa ada ‘pemain cadangan’, maka Anda salah besar karena terdapat kru cadangan yang siap berganti shift dengan kru utama.
Tempat istirahat awak kabin Qantas di Project Sunrise. Sumber: businessinsider.sg
Ya, selain untuk menimbang kenyamanan penumpang yang mengudara melintasi 15 zona waktu ini, pihak Qantas juga akan menguji ketahanan awak penerbang mereka. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman businessinsider.sg, total ada empat awak kokpit dan 10 awak kabin yang beroperasi di Project Sunrise ini – tentu saja semuanya memiliki porsi dan jam kerjanya masing-masing. Sebut saja dua pilot dan lima awak kabin di shift satu bekerja selama 9 jam penerbangan awal, sedangkan sisanya beroperasi di sisa waktu perjalanan.
Tempat istirahat pilot. Sumber: businessinsider.sg
Pertanyaannya adalah, apakah awak kabin dan pilot yang sedang tidak beroperasi ini berada satu ruangan dengan penumpang? Tentu saja tidak, karena keduanya memiliki tempat khusus yang dapat mereka gunakan untuk beristirahat.
Kaca yang digunakan awak kabin untuk bersolek. Sumber: businessinsider.sg
Ya, tempat khusus yang hanya diketahui oleh awak penerbang ini sejatinya bisa digunakan untuk beristirahat. Selain terdapat kasur berukuran sedang, lengkap dengan bantal dan tirai, di ruangan khusus kru ini juga Anda bisa melihat eksistensi dari sebuah cermin seukuran tubuh manusia yang dapat digunakan oleh awak penerbang untuk bersolek sebelum kembali bertugas.
Tempat istirahat pilot untuk sejenak. Sumber: businessinsider.sg
Atau jika pilot hanya ingin beristirahat sejenak, mereka bisa menggunakan ruangan kecil yang berisikan bangku lipat dan in-flight entertainment (IFE). Baca Juga: Intip Secret Airplane Bedrooms, Tempat Awak Kabin Melepas Penat Tentu saja, Anda sebagai penumpang tidak diijinkan untuk masuk ke ruangan ini, karena ruangan ini khusus untuk beristirahat para awak penerbang. Tidak enak bukan kalau Anda sedang beristirahat lalu diganggu oleh orang lain?

Mulai 28 Oktober, Batik Air Layani Penerbangan Non-Stop Jakarta-Timika

Setelah sebelumnya melayani penerbangan langsung rute Jakarta-Jayapura, Batik Air, maskapai full service bagian dari Lion Air Group, efektif mulai 28 Oktober 2019 akan membuka penerbangan langsung rute Jakarta-Timika. Selama ini, Batik Air telah melayani rute Jakarta-Timika, namun dengan transit terlebih dahulu di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar. Baca juga: Makin Strong! Batik Air Terima Kedatangan Airbus A320-200CEO Ke-44 Dikutip dari keterangan resmi Batik Air (25/10/2019), disebutkan penerbangan pertama akan menggunakan pesawat bernomor ID-6186 yang akan lepas landas melalui Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten (CGK) pada pukul 00.05 WIB dan dijadwalkan tiba di Bandar Udara Internasional Mozes Kilangin, Timika pada 07.15 WIT. Untuk rute sebaliknya, Batik Air terbang dari Timika pada 07.55 WIT, menggunakan nomor ID-6187 dan diperkirakan mendarat di Soekarno-Hatta, Tangerang pukul 10.50 WIB. “Timika akhirnya melengkapi kota tujuan Batik Air di Papua, setelah Sorong melalui Bandara Eduard Osok, Papua Barat (SOQ), Manokwari – Bandara Rendani, Papua Barat (MKW), Jayapura – Bandar Udara Sentani, Papua (DJJ) dan Merauke – Bandara Mopah, Papua (MKQ),” ujar Chief Executive Officer (CEO) Batik Air, Capt. Achmad Luthfie. Penerbangan pertama akan dioperasikan dengan pesawat terbaru Airbus A320-200 berkapasitas 12 kursi kelas bisnis dan 144 kelas ekonomi yang dilengkapi inflight entertainment (audio video on demand) di setiap kursi. Kesungguhan Batik Air ialah menyediakan pelayanan terbaik dan menambahkan kenyamanan tamu saat berada di pesawat (in-flight services) dengan upaya semakin meningkatkan pengalaman terbang sekitar lima (5) jam di kelas premium services airlines berkonsep pre-flight, in-flight serta post-flight. Baca juga: Terbang Perdana 15 Mei, Lion Air Gantikan Batik Air Layani Penerbangan ke Bandara YIA Bagi tamu dari Timika bisa memanfaatkan menjadi pilihan transit untuk terbang ke Balikpapan, Banda Aceh, Bandar Lampung, Banjarmasin, Batam, Bengkulu, Denpasar/Bali, Gorontalo, Jambi, Kupang, Labuan Bajo, Lubuklinggau, Luwuk, Makassar, Malang, Mamuju, Manado, Manokwari, Mataram—Lombok, Medan, Padang, Palembang, Palu, Pangkalpinang, Pekanbaru, Pontianak, Samarinda, Semarang, Sibolga, Silangit, Surabaya, Surakarta/ Solo, Tarakan, Ternate, Yogyakarta–Adisutjipto, Yogyakarta–Kulonprogo. Untuk rute internasional ke Singapura, Penang di Malaysia, Kunming di Tiongkok serta kota lainnya.

Sambut Piala Dunia 2022, Qatar Perluas Kapasitas Bandara Internasional Hamad

Menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022, Qatar melakukan pembangunan infrastruktur secara besar-besaran dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan di Doha dilakukan pembukaan sejumlah museum, hotel, perpustakaan nasional dan tahap pertama dari Metro Doha yang dibuka awal tahun ini dengan jalur baru. Baca juga: April 2020, Qatar Airways Terbangkan Airbus A350-900 Non-Stop dari Doha ke Osaka Tak hanya itu, Bandara Internasional Hamad (HIA) sebagai hub dari Qatar Airways akan diperluas untuk meningkatkan kapasitas menjadi 53 juta penumpang pada tahun 2022 mendatang. Perluasan bandara ini akan membuat konektivitas lebih mudah baik penumpang transit atau yang akan mengunjungi Qatar.
(forbes.com)
Badr Mohammed Al Meer, Chief Operating Officer di HIA mengatakan, bandara mengalami perkembangan yang pesat, maka cara-cara penumpang untuk melewatinya akan ditingkatkan. Menurutnya salah satu yang akan ditingkatkan yakni memperlancar arus penumpang secara keseluruhan dengan meminimalkan jarak perjalanan untuk koneksi. “Jika ini terlaksana selain berita bagus, area yang diperluas juga bisa mengurangi saat puncak kepadatan,” kata Badr yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman forbes.com (23/10/2019). Perluasan HIA juga akan menghadirkan lounge kelas bisnis yang jauh lebih besar dan lebih baik. Salah satunya yakni lounge bisnis Al Mourjan yang akan berukuran hampir 100 ribu kaki persegi dengan fasilitas spa, gimnasium, restoran dan pusat bisnis. “Lounge saat ini adalah ruangan yang menarik tetapi jauh lebih baik ketika tidak terlalu padat dan karena lebih banyak penumpang yang terbang melalui Doha, maka ini akan terisi. Jadi fakta bahwa mereka membangun lounge baru yang cukup besar adalah berita bagus,” jelas Badr. Selain lounge, pihak otoritas bandara mengatakan, terminal akan menjadi yang pertama di wilayah MENA (Timur Tengah dan Afrika Utara) untuk memperoleh peringkat bintang empat dari sistem penilaian keberlanjutan global. Terminal ini nantinya akan disertifikasi LEED Silver berkat efisiensi energinya. Dalam bandara juga akan dihadirkan taman tropis indoor yang mirip Jewel di Bandara Changi yang memiliki taman tropis dan air terjun fantastis dalam ruangan yang bisa dikunjungi semua orang. Baca juga: Dongkrak Pengalaman Penumpang, Singapore Airlines Siap “Rombak” Lounge di Changi Bedanya, taman tropis di Singapura bisa dikunjungi masyarakat umum, tetapi di HIA akan hadir di dalam terminal dan hanya bisa diakses oleh semua penumpang. Dengan perluasan yang dilakukan ini, nantinya Doha akan mampu mengatasi berbagai masalah dan bisa menjadi pilihan menarik untuk melakukan perjalanan melalui salah satu hub terbesar di dunia ini.