Bingung dengan ‘Bahasa Teknis’ di Laporan Akhir KNKT Seputar JT-610? Ini Penjelasannya!

Pada Jumat (25/10) kemarin, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah melaporkan terkait sejumlah penyebab jatuhnya pesawat Lion Air JT-610, mulai dari kerusakan yang ada pada indikator kecepatan dan ketinggian, masalah pada Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS), hingga kondisi di dalam kokpit yang dikabarkan super hectic pada detik-detik terakhir pesawat terhubung dengan menara pemantau atau ATC. Baca Juga: KNKT (Kembali) Ungkap Kejadian Pra Jatuhnya Lion Air JT610 Namun di dalam penuturan KNKT kemarin, ada beberapa bahasa teknis yang digunakan dalam penjelasannya, seperti stab trim, angle of attack, dan lain-lain. Mungkin beberapa dari Anda masih ada yang belum mengetathui tentang arti dari bahasa teknis tersebut, bukan? Nah, berikut adalah penjelasannya, dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber. Stab Trim Sederhananya, ini merupakan salah satu instrumen yang ada di pesawat yang digunakan untuk menyeimbangkan pesawat (stab di sini diambil dari kata stabilizer yang berarti alat penstabil, sementara trim diambil dari kata trimmable). Dalam kasus ini, stab trim juga memiliki fitur untuk menggerakkan permukaan ekor horisontal pesawat secara keseluruhan. Angle of Attack (AoA) Sebagaimana yang sudah pernah diberitakan sebelumnya, AoA merupakan sudut antara garis referensi pada body pesawat dan vektor yang mewakili gerakan relatif antara pesawat dan fluida yang bergerak di antaranya. AoA Disagree Masih berkaitan dengan poin di atas, AoA Disagree merupakan sebuah kondisi dimana sensor yang diterima oleh pesawat (yang didapat dari sensor) bertentangan dengan arah dari hidung pesawat. Dalam kasus Lion Air JT-610 ini, pilot yang menerbangkan pesawat dari Denpasar menuju Jakarta tidak melaporkan adanya masalah pada stab trim karena absennya lampu peringatan AoA Disagree. Baca Juga: Rilis 9 Faktor Penyebab Kecelakaan JT610, KNKT: “Satu Tidak Terjadi, Maka Kecelakaan Dapat Terelakkan” Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS) Ini merupakan fitur otomatisasi baru yang diterapkan oleh Boeing, dimana MCAS ini bertugas untuk menjaga pesawat dari manuver-manuver berbahaya seperti mengangkat hidung terlalu tinggi yang dapat berakibatpada stall. Sebagai informasi tambahan dari laman aviatren.com, fitur MCAS ini masih tetap bisa berfungsi kendati pesawat dikendalikan secara manual (autopilot mati).

Pensiun Angkut Penumpang, Boeing 747-400 Dikonversi Jadi Pesawat Pemadam!

Kendati posisinya mulai tergantikan oleh moda-moda lain yang lebih efisien dalam penerbangan berjadwal, namun Boeing 747 tidak lantas begitu saja hilang ditelan jaman. Masih banyak perusahaan di luar sana yang berupaya untuk memanfaatkan the Queen of the Skies guna ‘memutar roda’ perusahaan – salah satunya Global SuperTanker Service. Baca Juga: Sepi Pesanan, Boeing 747 Beralih dari “Queen of the Skies” Jadi “Flying Truck” Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com (26/10), pesawat berjenis Boeing 747-400 yang dioperasikan oleh Global SuperTanker Service ini sejatinya telah dirombak secara besar-besaran oleh pihak operator sehingga pesawat tersebut tidak lagi difungsikan untuk mengangkut penumpang, melainkan ratusan hingga ribuan galon air dan memasuki peran barunya sebagai VLAT atau Very Large Air Tanker. Ya, di tubuh Global SuperTanker Service, the Queen of the Skies berfungsi sebagai pesawat pemadam kebakaran. Ambil contoh kebakaran hutan di Bolivia pada akhir bulan Agustus silam, Global SuperTanker Service mengirimkan Boeing 747-400-nya untuk memadamkan api. Itu merupakan salah satu tugas baru dari Boeing 747-400 setelah sekian lama mengangkut penumpang. Salah satu alasan dari penggunaan Boeing 747-400 ini lantaran kecepatan dari pesawat ini yang luar biasa. Perusahaan menyebut, pesawat ini bisa tiba di hampir seluruh titik di penjuru dunia hanya dalam waktu kurang dari 20 jam (berangkat dari basis perusahaan di Colorado Springs).
Boeing 747-400 milik Global SuperTanker Service. Sumber: wikipedia
Jika Anda berpikiran bahwa pesawat ini hanya berisikan ribuan galon air saja, maka Anda salah besar – karena nyatanya pesawat ini telah dimodifikasi sehingga bisa menampung ribuan galon air di lantai bawah, 14 bangku first class dan dua ranjang untuk staf pendukung dan awak pesawat tambahan di lantai atasnya. Selain berfungsi untuk menyemprotkan air pada titik yang mengalami kebakaran, Boeing 747-400 milik Global SuperTanker Service ini juga bisa digunakan untuk menyemprotkan dispersan pada tumpahan minyak di laut. Mengutip dari laman Airfleets, pesawat Boeing 747-400 dengan nomor registrasi N744ST milik Global SuperTanker Service pertama kali dibeli dari maskapai Japan Airlines. Pesawat yang sudah berusia 19 tahun ini lalu dibawa ke perusahaan Evergreen International Aviation di McMinnville, Oregon, Amerika Serikat untuk disulap menjadi sebuah pesawat pengangkut air. Baca Juga: Inilah Fakta di Balik Berhentinya Produksi Boeing 747-8 Intercontinental Selain N744ST, varian lain yang juga memasuki tahapan baru sebagai pesawat pemadam adalah Boeing 747-100 dengan nomor registrasi N479EV, dan Boeing 747-200 dengan nomor registrasi N470EV.

Stress Karena Antrean di Bandara? Ternyata ini Penyebab dan Solusinya!

Dapatkan Anda membayangkan bagaimana jadinya jika langkah Anda menuju ke gerbang keberangkatan mesti tertahan karena antrean yang ada di bandara? Entah itu antrean di konter check-in atau antrean pemeriksaan keamanan yang berlapis. Tentu saja hal semacam ini bisa membuat Anda gusar sekaligus tidak nyaman. Bahkan, tidak sedikit dari Anda yang akan bertanya-tanya, “Apakah yang sebenarnya terjadi di ujung antrean sana? Berapa lama lagi kami harus menunggu?” Baca Juga: Bosan Antri Lama di Bandara, Begini Cara Cepat Ambil Barang di Klaim Bagasi Ternyata, tidak sedikit calon penumpang yang berspekulasi tentang apa yang terjadi di barisan paling depan. Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman internationalairportreview.com, bukan melulu antrean panjang yang membuat penumpang stress, melainkan karena mereka sejatinya tidak mengetahui apa yang terjadi di ujung antrean. Beragam studi yang berkenaan dengan psikologis penumpang sudah pernah dilakukan, dan semua hasilnya mengerucut pada ketidaktahuan akan hal yang terjadi di baris depan merupakan penyebab utama penumpang menjadi stress. Kendati sudah ada beragam teknologi canggih yang siap melancarkan antrean di bandara – seperti self-check-in hingga self-service bag drops, namun itu sejatinya hanya akan berjalan jika tidak ada kesalahan dalam pengaplikasiannya. Lalu, bagaimana jika ada kesalahan dalam pengoperasiannya? Ya, ujung-ujungnya antrean penumpang akan tersendat juga. Mungkin dengan menampilkan informasi tentang apa yang membuat satu barisan tersendat akan menjadi jawaban untuk persoalan di atas, namun, solusi ini baru bisa diterapkan setelah antrean terjadi – kasarnya mengobati, bukan mencegah. Ada lagi solusi lain yang dapat digunakan untuk mereduksi tingkat kecemasan dan kegelisahan penumpang selama berada di antrean bandara, yaitu dengan menggunakan kamera 3D. Ya, kamera 3D tidak bisa dipungkiri mampu memberikan tingkat akurasi yang tak tertandingi untuk statistik penghitungan orang dan perkiraan tenggat waktu. Tapi solusi ini tidak cocok untuk mengukur bagaimana pergerakan orang yang sedang mengantre dalam satu proses (seperti antrean konter check-in atau antrean imigrasi). Baca Juga: Bicara Kompensasi Saat Terjadi Delay Ada di Peraturan Menteri Perhubungan Melihat hal ini, solusi terbaik untuk menghilangkan kegelisahan penumpang di antrean bandara adalah dengan cara menggabungkan beberapa teknologi yang ada di sana. Penggabungan teknologi Internet of Things (IoT) untuk mengumpulkan data yang diperoleh dari berbagai sensor dipercaya merupakan solusi paling efektif untuk problematika semacam ini. Para peneliti percaya bahwa solusi ini dapat menghilangkan blind-spot yang ada di bandara dan diharapkan dapat mereduksi kegundah-gulanaan penumpang di antrean.

Sambut Pembukaan Global Village, Dubai Taxi Corporation Hadirkan “Low Cost Taxi”

Anda semua tentu sudah tahu dengan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), bukan? Ya, ini merupakan replika dari Indonesia dalam skala yang diperkecil, dimana Anda semua bisa melihat beragam suku budaya yang ada di Tanah Air di taman hiburan yang terletak di daerah Jakarta Timur ini. Nah, lain halnya dengan Global Village yang ada di Dubai sana, dimana Anda bisa melihat hingga 90 kebudayaan yang berbeda dari berbagai penjuru dunia. Baca Juga: Ternyata! Biaya Taksi di Jakarta Tidak Semahal di Negeri Tetangga Nah, guna menunjang pengalaman penunjung yang datang ke tempat yang diklaim sebagai proyek pariwisata, rekreasi, belanja dan hiburan terbesar di dunia ini, pihak pengelola rencananya akan menggandeng Dubai Taxi Corporation (DTC) untuk memberikan perjalanan bertarif rendah kepada mereka yang datang ke Global Village – mulai tanggal pembukaan resmi 29 Oktober 2019. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman gulfnews.com (27/10), DTC yang berada di bawah pengelolaan Roads and Transport Authority (RTA) dikabarkan telah menandatangani kontrak kerja sama dengan pihak Global Village, dimana nantinya mereka akan menyediakan berbagai layanan taksi, limosin, hingga bus eksklusif. Perjanjian ini memungkinkan DTC untuk secara eksklusif memberikan layanan berkendara kepada pengunjung Global Village. Pengunjung juga akan lebih mudah untuk memesan layanan inii di Global Village,” ujar CEO dari DTC, Dr. Yousef Al Ali. Pemberlakuan tarif yang lebih murah ini memang sengaja dirancang khusus untuk mendorong tingkat permintaan – terlebih ketika perayaan musiman yang dilakukan di Global Village,” sambungnya. Kelak, layanan bertarif murah ini akan tersedia bagi pengunjung yang berada di assembly point (titik berkumpul) dan hendak menuju ke gerbang masuk Global Village atau sebaliknya. Selain diproyeksikan untuk mendatangkan keuntungan bagi kedua perusahaan, hadirnya kerja sama ini juga akan menjadi ajang promosi bagi kedua perusahaan. Baca Juga: Seoul Hadirkan Taksi Khusus Wanita, Tarifnya Lebih Rendah dari Biasanya “Kerja sama ini mendukung upaya Pemerintah untuk memberikan layanan kelas dunia kepada wisatawan dan meningkatkan pengalaman para penggunanya,” tambah Dr. Yousef. Untuk diketahui bersama, Global Village telah menjadi tujuan wisata utama di Emirat, setidaknya sejak 24 tahun terakhir.

KA Badra Surya – Kereta Ekonomi Legendaris Favorit Mahasiswa di Perantauan

Pergi jalan-jalan ke Bandung banyak yang memilih menggunakan kereta api, sebab selain cepat, harga terjangkau dan tak perlu macet-macetan. Apalagi markas besar PT Kereta Api Indonesia (KAI) berada di Tanah Pasundan. Nah, bagi pecinta kereta pasti tahu kereta-kereta yang mengular di jalur Bandung ini. Baca juga: KA Sarangan Ekspres – Hanya Ramai Penumpang Ketika Musim Liburan Tapi pernahkah Anda tahu kereta api Badra Surya? Pasti bingung, nama kereta ini adalah singkatan dari Bandung Raya Surabaya. Di mana kereta tersebut adalah kereta api kelas ekonomi yang cukup legendaris di Stasiun Bandung Kebon Kawung dengan relasi hingga ke Stasiun Surabaya Gubeng. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, relasi panjang KA Badra Surya ini sangat populer di kalangan mahasiswa, tak lain dan tak bukan karena tiketnya yang cukup murah. KA Badra Surya mulai beroperasi sejak tahun 1970-an dan berhenti beroperasi tahun 1997 begitu angkutan lebaran selesai kala itu. Kereta yang satu ini sudah beberapa kali berganti nama dari pertama beroperasi yakni KA Ekspres Siang Jaya. Berangkat dari Surabaya pagi-pagi sampai Kroya dan dipecah dua. Sebagian rangkaian kereta menuju Bandung dan yang lainnya ke Jakarta. Hingga akhirnya rangkaian KA yang menuju Jakarta dihilangkan dan semuanya dari Surabaya menuju Bandung serta sebaliknya. Sekitar tahun 1985, KA ini berubah nama menjadi KA Badra Surya dengan mengangkut rangkaian kelas ekonomi dan bisnis. Di masa Perumka, KA Badra Surya pernah menjadi raja jalur selatan waktu siang hari karena hampir selalu tepat waktu, bahkan terkadang lebih cepat dari jadwal semestinya. Sebelum KA Pajajaran atau Argo Wilis beroperasi, KA ini sering dirangkaikan dengan gerbong K1 yang di-charter wisatawan asing dari Bandung ke Yogyakarta. Selama perjalanan bila berangkat dari Bandung, para penumpang bisa menikmati indahnya panorama pegunungan di Bumi Parahyangan Timur serta kali Progo di daerah Wates dan kali Serayu di daerah Banyumas. Sedangkan jika berangkat dari Surabaya para penumpang akan disuguhi hamparan sawah dan perkebunan jati di daerah Caruban. Tiket yang cukup murah saat itu yakni Rp8.500, pelancong sudah bisa sampai ke Surabaya dan bila menambah Rp2 ribu bisa nyambung kereta tujuan Banyuwangi Kereta ini pada masa jayanya juga menjadi andalan untuk menuju Surabaya lalu menyeberang ke Sulawesi. Para penumpangnya yang banyak diantaranya merupakan mahasiswa telah mendapat banyak hikmah dalam berbagai keterbatasan yang ada. Baca juga: KA Banyubiru Ekspres – Mati Karena Uzur dan Kalah Saing dengan Transportasi Lain Kini KA Badar Surya dihapus dan sebagai gantinya KA Pasundan menggunakan jadwal perjalanan KA Badra Surya. Dimana kala itu KA Pasundan menemani rangkaian KA Badra Surya dan berangkat dari Stasiun Kiaracondong.

Otoped Listrik Mulai Menjamur, Apakah Bakal ada Regulasinya?

Meski masih dominan untuk kebutuhan ‘jalan-jalan,’ otoped listrik (skuter listrik) kini mulai merambah jalanan di Jakarta dan kota-kota besar lain di Tanah Air. Selain turut mengkampanyekan gerakan kendaraan bebas polusi, naik otoped listrik tak pelak menjadi tren pergaulan, utamanya bagi kaum milenial. Dengan populasi yang makin banyak, punya kecepatan relatif lesat, ditambah kadang melaju di jalanan umum, menjadikan beberapa pihak bertanya, akankah nantinya ada regulasi yang mengatur operasional otoped listrik? Baca juga: Pakai GrabWheels Jangan Lupa Scan Kode QR Setelah Selesai Kalau Tak Mau Didenda Rp300 Ribu Apalagi saat ini Grab, menghadirkan GrabWheels dan menyebarkan skuter listriknya di berbagai sudut ibukota. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, ternyata saat ini pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai menyiapkan regulasi untuk pengguna skuter dan sepeda listrik. Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo mengatakan, regulasi tengah disiapkan oleh pihaknya karena saat ini skuter dan sepeda listrik menggunakan model bike share. “Operator mengenakan charge, hitungannya mungkin Rp5 ribu per 30 menit. Ini sedang kami lakukan regulasinya seperti apa, kemudian kita jalankan,” ujar Syafrin yang dikutip dari antaranews.com (15/10/2019). Dia mengatakan, otoped listrik akan diatur untuk digunakan di jalur sepeda karena spesifikasinya kendaraan kecil dan mirip dengan sepeda. Meski menggunakan motor listrik, kedua moda transportasi ini berbeda dengan sepeda motor yang memiliki kecepatan 70-80 km per jam. “Otoped listrik paling 20-25 km per jam itu sudah kencang banget. Jadi ini makanya kita perlu pejalan kaki, kemudian pesepeda baru kendaraan bermotor lainnya, kata Syafrin. Bahkan Sekretaris Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Agus Suyatno mengatakan, kehadiran otoped listrik ini harus ada uji standar, karena beberapa negara tidak memperbolehkan transportasi tersebut beroperasi. Di Perancis bahkan membuat aturan baru karena ratusan insiden, yang beberapa diantaranya menyebabkan kematian. Di Perancis, Jumat lalu (25/10/2019) keluar aturan, bahwa pengguna otoped listrik setidaknya harus berusia 12 tahun dan tidak bisa mengendarai di trotoar. Otoped listrik pun tidak boleh melaju lebih dari 50 km per jam. Menteri Transportasi Junior Jean-Baptiste Djebbari mengatakan dalam sebuah pernyataan, peraturan baru akan mendorong penggunaan yang lebih bertanggung jawab dan mengembalikan rasa ketenangan bagi pejalan kaki, khususnya yang paling rentan seperti orang tua, anak-anak dan orang dengan kebutuhan khusus. Adapun aturan yang akan berlaku bagi pengguna otoped listrik di Perancis yakni: * Penggunaan trotoar dilarang kecuali pada area yang ditentukan * Hanya satu pengendara yang akan diizinkan per perangkat dan tidak diperbolehkan menggunakan ponsel ketika berkendara * Tidak boleh lawan arus dan harus melintas di jalur yang tersedia * Penunggang tidak akan diizinkan mengenakan headphone saat menggunakan skuter mereka * Pada Juli mendatang, kecepatan tertinggi skuter akan dibatasi pada 25 km per jam * Pengguna yang berkendara di jalan yang diizinkan lebih cepat harus mengenakan helm dan pakaian visibilitas tinggi * Otoped listrik akan dilarang sepenuhnya di jalan negara Nantinya jika pengguna melanggar aturan-aturan tersebut, akan dihukum dengan denda €135 (£116) dan hingga €1500 bila melampaui batas kecepatan. Akhir pekan lalu, seorang pria berusia 25 tahun tewas dan seorang wanita muda terluka serius setelah otoped yang mereka kendarai ditabrak oleh sebuah mobil di kota Bordeaux. Baca juga: Sasar Pasar Last-Mile Transport, Hyundai Kembangkan Skuter Listrik yang Bisa Dilipat Setidaknya lima kematian terkait otoped listrik lainnya telah dilaporkan di Perancis, termasuk di ibukota Paris dan pinggiran kota dan kota Reims di timur. Saat ini diketahui sekitar 15 ribu otoped listrik tersedia untuk disewa di Paris. Nah, apakah Pemprov DKI juga akan mencontoh Pemerintah Perancis?

Boarding Pass Raksasa untuk Prank Bikin Semua Orang Tertawa

Ketika akan masuk ke kabin pesawat, setiap penumpang wajib memiliki boarding pass sebagai tanda masuk mereka ke kabin. Namun bagaimana bila boarding pass yang dimiliki seukuran dengan tinggi penumpangnya? Baca juga: Serbu Kokpit, Wanita Muda ini Tak Boleh Terbang dengan Jet2.com Seumur Hidup Juli lalu, seorang pria asal Inggris dengan tinggi enam kaki sepuluh inchi harus bersusah payah membawa boarding pass miliknya. Pasalnya boarding pass milik James Ormond yang akan menuju Krakow di Polandia itu setinggi tubuhnya dan bila dilipat pun masih lebih besar dibanding ukuran boarding pass lain. KabarPenumpang.com melansir laman dailymail.co.uk, Ormond kala itu bepergian degan teman-temannya dengan menggunakan pesawat milik maskapai Jet2.com dan mereka memberikan boarding pass dengan panjang enam kaki tersebut sedangkan yang lainnya berukuran normal. Dia harus membuka lipatan boarding pass itu setiap pemeriksaan keamanan. Tak hanya itu, ketika tiba di pintu masuk pesawat, temannya Chris Hodkin bertanya kepada seorang pramugari, “Apakah harus memeriksa boarding pass?” Pramugari menjawab harus dan Ormond memberikan boarding pass jumbo miliknya. Pramugari itu membuka boarding pass tersebut sambil tertawa dan melipatnya lagi sebelum menyerahkan kembali ke si-empunya. “Apakah Anda berhasil memindai ini?” kata pramugari itu sembari memberikan boarding pass tersebut. Lelucon itu kemudian membuat teman-temannya tertawa dan menurut Hodkin hal itu lucu dan membuatnya tak bisa berhenti tertawa. Dia mengatakan saat pemeriksaan boarding pass milik Ormond, dirinya dan teman yang lain hanya berdiri di sudut dan menikmati lelucon itu. Meski dibuat lelucon, Hodkin tetap mencetak boarding pass milik Ormond dengan ukuran asli, ini dilakukan agar ketika pemindaian bisa terlihat jelas. “Saya membukanya dan itu sangat besar. Itu dilipat jadi saya tahu itu besar dan konyol. Aku berjuang untuk membukannya. Rencana mereka untuk membuat setinggi saya,” kata Ormond. Baca juga: Ini Dia Maskapai Asing yang Sabet Predikat Terburuk dalam Tanggapi Keluhan Penumpang Dia menambahkan, salah satu hal yang menyenangkan adalah ketika mereka meninggalkan gerbang, ada sebuah keluarga yang mengucapkan selamat tinggal kepada seseorang dan menangis. Tetapi ketika Ormond membuka kertas boarding pass raksasanya itu membuat mereka terawa terbahak-bahak. “Setidaknya itu ada gunanya, tapi untung saya juga memiliki boarding pass dengan ukuran normal. Awak kabin sangat baik dan juga bercanda,” kata dia.

Stasiun di India Punya Ruang Tunggu Megah yang Mampu Tampung 500 Penumpang

Seringkali dianggap tak beraturan dan kumuh, ternyata India bisa memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi penumpang keretanya. Hal ini terlihat kehadiran sebuah ruang tunggu terbesar di jalur milik Indian Railways tersebut. Baca juga: Bajaj Masuk Peron di Stasiun India, Pengemudi Diamankan Petugas Ruag tunggu yang dilengkapi dengan pendingin udara ini hadir di Stasiun Patna Junction yang merupakan stasiun kereta api tersibuk di Negara Bagian Bihar. Selain dilengkapi pendingin udara, KabarPenumpang.com melansir dari laman financialexpress.com (14/10/2019), daya untuk pendingin dan penerangan di ruang tunggu ini menggunakan energi surya. Ruang tunggu tersebut mampu menampung 500 orang sekaligus dan bisa dinikmati semua penumpang kereta dari berbagai kelas ataupun kereta penumpang biasa. Ruang tunggu ini diresmikan oleh Menteri Kereta Api India Piyush Goyal dan menghadiahkannya kepada penumpang. Direktur Stasiun Patna Junction, Nilesh Kumar mengatakan, ruang tunggu itu dibangun diatas lahan seluas 7500 meter persegi di stasiun persimpangan Patna. Tak hanya pendingin udara, ada tujuh televisi HD 65 inci dipasang untuk hiburan penumpang yang tengah menunggu kereta mereka. Layar digital ini tak hanya untuk hiburan tetapi juga menghadirkan informasi penting terkait jadwal kereta, informasi platform dan lainnya. Televisi ini sendiri akan nyala sepanjang hari di ruang tunggu itu. “Lampu LED terpasang di seluruh ruangan untuk penerangan dan ada titik pengisian daya ponsel serta laptop. WiFi gratis juga hadir untuk digunakan penumpang yang menunggu kereta di ruang tunggu,” jelas Kumar. Bangku baja, furnitur, dan kipas langit-langit juga disediakan untuk kenyamanan serta kemudahan penumpang. Dinding ruang tunggu telah dihiasi dengan lukisan dan karya seni tradisional yang mewakili budaya rakyat setempat dan tradisi negara bagian Bihar. Baca juga: Laksana Bandara Internasional, Ternyata ini Sebuah Stasiun di India Lukisan-lukisan mencerminkan kegiatan Chhath Puja yang terkenal yang merupakan simbol dari perayaan meriah kota kuno. Dindingnya juga dihiasi dengan karya seni yang cerah dan berwarna-warni yang mencerminkan budaya Madhubani oleh seniman rakyat setempat. Selain itu, kebersihan ruang tunggu dirawat oleh staf stasiun sepanjang hari.

Stiker “Baby on Board” Ternyata Bisa Picu Kecelakaan Lalu Lintas

Stiker bertuliskan Baby on board atau child on car  sudah jamak ditempel pada kaca-kaca kendaraan pribadi. Pemasangan stiker ini tak lain untuk memberi peringatan pada pengendara lain agar berhati-hati untuk menjaga jarak, lantaran di dalam kendaraan berstiker terdapat penumpang bayi atau anak-anak. Namun, tahukah Anda bahwa tempelan stiker tersebut juga bisa berujung maut. Dilansir KabarPenumpang.com dari telegraph.co.uk, adanya stiker baby on board sudah menyebabkan satu dari 20 orang pengendara mengalami kecelakaan. Hal ini didapat dari hasil survei yang mengatakan bahwa adanya stiker ini cukup mengganggu perhatian. Sebagian dari pengemudi mengatakan, bisa mengaburkan penglihatan bila diletakkan di jendela belakang mobil. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Confused.com, harusnya pengemudi menggunakan tanda-tanda yang dipasang di mobil dengan cermat. “Pengemudi perlu memastikan bahwa pandangan mereka tidak dikaburkan dan mereka memiliki pandangan yang jelas tentang jalan di sekitar mereka setiap saat,” kata juru bicara Departemen Transportasi. Baca juga: Terpaksa Gunakan Kantung Muntah? Baca Dulu Tips Ini Adanya tanda baby on board sendiri sebenarnya cukup berguna untuk para petugas medis atau polisi bila terjadi kecelakaan, karena menegaskan di dalam mobil tersebut ada anak-anak. Hal ini disampaikan oleh Julie Towsend selaku wakil kepala eksekutif badan amal Brake. “Stiker bantuan ini bisa menjadi penghalang jika pengemudi menampilkan tanda-tanda saat anak mereka tidak berada di dalam kendaraan. Lebih buruk lagi bahaya yang ditimbulkan pengemudi bila di jendela mobil di pasang banyak tanda,” katanya. Menurut hasil dari pertemuan 2.000 pengemudi, 46 persen mengatakan, orangtua banyak yang memasang stiker tersebut terlepas dari ada atau tidaknya anak-anak di dalam mobil tersebut. Selain itu 15 persen lainnya mengatakan dengan adanya stiker membuat kendaraan mobil mereka seperti baru, sedangkan 46 persen lainnya menganggap adanya stiker atau tanda adalah bahaya. Baca juga: Duuh! Ini Dia 10 Bandara Terburuk di Dunia Andrew Howard, Kepala AA Safety Road mengatakan ada 150 ribu kecelakaan dalam satu tahun. “Menurut angka yang dikeluarkan pemerintah, dalam gangguan akibat stiker ini mencaai tiga persen, dengan ‘titik buta’ kendaraan untuk dua persen lainnya di atas itu. Direktur eksekutif Dewan Penasehat Parlementer Keselamatan Transportasi Robert Gifford mengatakan, harus berhati-hati dengan temuan dan hasil survei yang ada. Sebab menurutnya, bila terlalu banyak mengambil kesimpulan maka dapat membuat kesalahan terhadap penilaian masing-masing pengemudi. Baca juga: Ibarat “Sedia Payung Sebelum Hujan,” Jangan Sepelekan Kotak P3K di Kendaraan “Poin penting yang harus diingat adalah Anda bertanggung jawab atas mobil setiap saat dan pandangan Anda tidak boleh dikaburkan,” jelas Gifford. Diketahui, tanda baby on board ini sudah ada sejak tahun 1980-an dan pertama kali dijual oleh Safety 1st Corporation yang bertujuan untuk membantu pengendara lain mengemudi dengan hati-halti bila berada di belakang kendaraan dengan tanda tersebut. Baru-baru ini yakni tepatnya tahun 2005, Transport for London menerbitkan tanda untuk ibu hamil.

Gara-Gara Bocah Tak Pakai Sepatu, Satu Keluarga Tak Bisa Naik Pesawat Jetstar

Setiap maskapai memiliki aturan bagi penumpang yang akan naik dalam penerbangan mereka. Salah satunya adalah menggunakan pakaian lengkap dan sepatu. Belum lama ini Jetstar mengusir keluarga dengan anak tanpa menggunakan sepatu. Baca juga: Orang Tuanya Dalam Pesawat yang Diterbangkan, Pilot Jetstar Menyapa Spesial dari Kokpit KabarPenumpang.com melansir news.com.au (25/10/2019), seorang ibu dan dua anaknya yang masih kecil diusir dalam penerbangan Jetstar karena putranya yang berusia balita tidak memakai sepatu. Seorang saksi mengatakan, staf di Bandara Queenstown menolak untuk membiarkan keluarga itu naik meski ada penumpang yang memberikan sepasang sepatu pada bocah laki-laki itu. Isobel Mebus, kaget dan marah setelah menyaksikan insiden itu pada Kamis (24/10/2019) kemarin. Mebus mengaku tengah akan menumpang pesawat Air New Zealand ke Wellington ketika melihat wanita yang menggendong anaknya menangis keluar dari penerbangan. “Ada pasangan Samoa yang lebih tua di belakangku dan dia menjelaskan kepadaku bahwa dia tidak diizinkan dalam penerbangan karena putranya tidak memakai sepatu. Jadi orang-orang mulai berkeluaran dan pasangan yang lebih tua itu berkata, ‘Yah, kita akan pergi dan membelikannya sepatu’ karena ibu tidak punya uang untuknya,” ujar Mebus. Dia mengatakan, seorang penumpang wanita datang dengan sepasang sepatu dan mengenakannya pada bocah laki-laki itu dan mereka berkata petugas masih tidak membiarkan mereka naik. Tak hanya menolak, Mebus mengatakan, staf Jetstar malah memerintahkan bagasi mereka untuk diturunkan dari pesawat. Hal tersebut menyebabkan penundaan dan gangguan bagi banyak penumpang lain yang menunggu untuk terbang keluar dari Queenstown. Mebus mengaku tidak bisa percaya dengan apa yang disaksikan. “Dia benar-benar di samping dirinya sendiri dan menangis. Itu sangat mengerikan dan saya sangat marah. Mereka menyelesaikan masalah itu karena anak itu memakai sepatu tetapi masih ditolak,” katanya. Baca juga: Kabin Jetstar JQ284 Kena “Teror” Popok dan Kotoran Balita Diketahui, Jetstar memiliki syarat dan ketentuan dimana mereka memiliki hak untuk menolak penumpang jika tidak mengenakan alas kaki. Juru bicara Jetstar mengonfirmasi bahwa ketiga orang tersebut tidak bisa ikut penerbangan itu karena tidak memiliki sepatu. Dia menambahkan mereka tinggal satu malam lagi di Queenstown dengan kerabat dan berangkatkan besoknya ke Auckland dengan biaya penerbangan pribadi.