Melancong ke Eropa bisa banyak mengunjungi negara-negara yang tersebar di benua ini. Untuk mengunjunginya pun Anda bisa menggunakan hampir semua moda transportasi baik darat maupun udara.
Baca juga: 10 Tips Menikmati Perjalanan dengan Kereta di Eropa
Namun karena berdekatan inilah yang membuat pelancong bingung, antara naik pesawat atau kereta api. Sebab banyak hal yang harus dipikirkan seperti waktu, dana dan lainnya ketika ingin berkeliling Eropa. KabarPenumpang.com merangkum thetravel.com, berikut ini alasan yang tepat memilih kereta api atau pesawat untuk berkeliling Eropa.
1. Pesawat lebih cepat dari kereta api
Tergantung dari mana Anda bepergian, tapi seringkali dengan pesawat lebih cepat daripada kereta api. Jika Anda punya waktu sedikit baiknya minimalkan waktu sebanyak mungkin. Tapi bila hanya menempuh jarak yang pendek lebih cepat untuk mengunakan kereta api dan menghindari menghabiskan waktu di bandara.
2. Kereta bisa menikmati pemandangan
Pemandangan dengan menggunakan pesawat hanya akan melihat awan dan pemandangan yang jelas akan terlihat ketika akan mendarat. Tetapi dengan kereta api, banyak pemandangan yang bisa dilihat diluar jendela. Pemandangan sawah, pedesaan atau pegunungan yang tertutup salju. Bahkan beberapa pelancong memilih kereta api hanya untuk menikmati pemandangan.
3. Bandara punya lebih banyak fasilitas daripada stasiun
Naik kereta tidak butuh waktu lama atau hanya menghabiskan waktu sedikit di stasiun. Apalagi fasilitas yang ada hanya sedikit bila dibandingkan dengan bandara. Sebab ketika menghabiskan waktu lama di bandara, pelancong bisa menikmati fasilitas yang disediakan untuk menunggu penerbangan meeka.
4. Tak perlu lewati keamanan ketat
Ketika naik kereta api, pelancong tak perlu melewati keamanan yang ketat seperti di bandara. Memang, masih ada pemeriksaan tetapi tidak seektrem bandara yang harus mengeluarkan semua cairan agar dipisahkan satu kantung transparan. Bila naik kereta, pemeriksaan keamanan pun cukup singkat.
5. Pesawat lebih murah untuk perjalanan jarak jauh
Secara umum untuk perjalanan jarak jauh, bepergian dengan pesawat lebih murah meskipun perjalanan singkat dengan kereta mungkin lebih murah, biasanya akan dikenakan biaya lebih banyak untuk bepergian dengan kereta jika Anda bepergian dari satu sisi Eropa ke yang lain.
6. Naik kereta api tidak ada biaya overweight atau kelebihan beban
Bila di kereta aturan terkait bagasi lebih santai dibanding pesawat. Ini terutama berlaku di kereta api di Eropa. Meski ada pembatasan bagasi di kereta tetapi tidak terlalu diperiksa ketat.
7. Pesawat punya ruang bagasi lebih besar
Meski ruang kursi untuk bergerak tidak besar, tetapi untuk barang, penumpang bisa meletakkannya di bagasi atas kepala. Bahkan tas tangan atau barang yang di jinjing masih bisa diletakkan di bawah kursi. Bila di kereta penumpang harus meletakkan barang di ruang penyimpanan koper dan terkadang warna koper atau tas banyak yang sama dan bisa membuat bingung.
8. Kereta Lebih Punya Fleksibilitas
Kereta memiliki jenis kelas yang berbeda seperti pesawat, dimana kelas satu akan lebih nyaman dibanding kelas lain. Namun kereta memiliki ruang kaki dan kursi yang cenderung lebih luas sehingga ruang gerak lebih banyak.
9. Pesawat lebih aman
Transportasi udara lebih aman dibandingkan dengan yang lainnya. Meski langkah-langkah keamanan di bandara mengganggu, tetapi pada akhirnya membantu membuat perjalanan udara lebih aman. Perjalanan kereta api tidak memiliki prosedur penyaringan intens yang sama, jadi Anda harus bertanya-tanya apakah, dari sudut pandang keamanan, itu sama amannya dengan terbang.
Baca juga: Mau Cari yang Halal? Ini Dia Lima Destinasi Wisata di Eropa yang Muslim-Friendly10. Kereta tidak tertunda cuaca
Penerbangan kerap kali terganggu dan salah satu faktornya adalah cuaca sehingga penumpang terlambat untuk berangkat. Tapi untuk kereta sepertinya kemungkinan terlambat karena faktor cuaca sangat kecil meski ekstrem.
Koneksinya yang sudah mendunia dan belakangan ini juga tengah digandrungi oleh sebagian kalangan membuat sektor kedirgantaraan global semakin menarik untuk dibahas. Jika beberapa waktu yang lalu sudah pernah dibahas tentang rute penerbangan terpendek dari Airbus A380 yang dioperasikan oleh Emirates (dari Dubai ke Muscat, jaraknya hanya 350km), lalu, bagaimana dengan rute penerbangan terpendek dari varian Airbus A320? Apakah jaraknya sama dekat dengan A380?
Baca Juga: Emirates Operasikan A380 dengan Rute Terpendek di Dunia, Jaraknya Setara Jakarta – Pangandaran!
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com (25/10), siapa sangka bahwa penerbangan terpendek di dunia dari varian A320 ada di Indonesia, lho! Bisakah Anda menebaknya? Ya, penerbangan terpendek A320 ini dioperasikan oleh maskapai berbiaya rendah asal Malaysia, AirAsia yang menghubungkan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai di Bali dan Bandara Internasional Praya di Lombok.
Jarak yang terbentang antara Bali dan Lombok ini hanya terpaku 122km saja, dan rute penerbangan A320 terpendek di dunia 15 hingga 25 menit saja. Cepat sekali, bukan? Dibandingkan dengan menggunakan kapal laut, jarak antara Bali dan Lombok ditempuh dalam waktu dua hingga lima jam perjalanan.
Tidak hanya dioperasikan oleh Airbus A320 milik AirAsia saja, ternyata penerbangan dari Bali menuju Lombok ini juga dioperasikan oleh tiga maskapai lainnya – tentu dengan varian pesawat yang berbeda. Ada Lion Air yang terbang dengan menggunakan Boeing 737, Garuda Indonesia dengan ATR-72 dan Boeing 737, serta Wings Air yang menggunakan varian ATR-72.
Adapun harga yang ditawarkan oleh pihak AirAsia untuk rute penerbangan ini juga terbilang cukup murah, yaitu berkisar antara Rp260.000 hingga Rp313.000 (ketika peak season). Mungkin rute penerbangan ini agaknya membuat Anda terheran-heran, “mengapa AirAsia bisa melayani rute terpendek semacam ini?”
Baca Juga: Airbus Rencanakan Upgrade Mesin Untuk Varian A320
Jawabannya sederhana, tidak mungkin pihak maskapai membuka satu rute penerbangan jika tidak melakukan beragam riset terlebih dahulu. Pun dari segi payload, dimana pihak AirAsia sudah bisa mendapatkan keuntungan walaupun hanya mengangkut sedikit penumpang. Namun skema sepi penumpang agaknya merupakan hal yang jarang terjadi, mengingat wisatawan mancanegara yang datang ke Bali biasanya ingin sekalian mengambil ‘paket wisata’ juga ke Lombok.
Paspor biometrik atau elektronik paspor (e-paspor) merupakan jenis paspor yang memiliki data biometrik sebagai salah satu pengamanannya. Biasanya data biometrik ini tersimpan dalam bentuk chip yang tertanam pada paspor.
Baca juga: Mudahkan Pelancong Asing, Jepang Hadirkan Gerbang Pemindai Otomatis di Bandara Narita
Dengan paspor biometrik, pelancong yang akan bepergian lebih dimudahkan, bahkan beberapa negara tidak lagi memerlukan visa ketika sudah menggunakan e-paspor tersebut. Paspor biometrik sendiri sudah diadopsi oleh Malaysia sejak tahun 1998 lalu dan diikuti 60 negara lain pada 2008 dan 120 negara pada 2017.
Bahkan baru-baru ini, Indonesia yang sudah mengeluarkan paspor biometrik mendapat sertifikat Public Key Directory (PKD) dari International Civil Aviation Organization (ICAO). Dilansir KabarPenumpang.com dari biometricupdate.com (2/10/2019), sertifikat ini diterima oleh Direktur Jenderal Imigrasi Indonesia Ronny F Sompie dari Sekretaris Jenderal ICAO Fang Liu di kantor pusat di Montreal minggu lalu.
Bisa dikatakan dari ratusan negara yang menggunakan paspor biometrik, Indonesia satu dari 69 negara yang mendapat sertifikat PKD tersebut. Sehingga pertukaran informasi untuk penyeberangan batas lebih mudah meski baru 69 negara.
Saat ini di Indonesia baru ada beberapa kantor imigrasi yang mengeluarkan paspor biometrik seperti di Bandara Soekarno-Hatta, Tanjung Priok, Surabaya dan Batam. Pihak Imigrasi akan menambah empat kantor lain yang bisa mengeluarkan paspor biometrik di tahun 2019 ini dan semua kantor di 2024 mendatang.
Sayangnya diketahui, sempat ada dugaan cacat privasi kritis dalam paspor biometrik. Hal ini diidentifikasi oleh sekelompok peneliti dari Universitas Luxemburg. Ross Horne, Profesor Sjouke Mauw, kandidat PhD Zach Smith dan mahasiswa Master Ihor Filimonov menemukan kerentanan yang memungkinkan peralatan pemindaian perangkat yang tidak resmi mendapatkan akses ke informasi paspor biometrik.
“Dengan perangkat yang tepat, Anda dapat memindai paspor di sekitarnya dan mengidentifikasi kembali pemegang paspor yang diamati sebelumnya, melacak pergerakannya. Jadi, pemegang paspor tidak terlindungi dari pergerakannya dapat dilacak oleh pengamat yang tidak sah,” jelas Horne.
Taktik ini memiliki beberapa batasan, sehingga hal itu tidak memiliki akses ke semua informasi penting paspor, seperti rincian biometrik yang disimpan dalam chip, tetapi masih dalam kompromi privasi pemegang paspor.
Baca juga: Senyum Anda Tak Dibutuhkan Saat Pemindaian Wajah di Bandara
“Karena sebagian besar paspor saat ini menggunakan standar yang sama, kelemahan keamanan ini berpotensi berdampak global,” lanjut Horne.
Pelanggaran keamanan ini jelas merupakan pelanggaran terhadap undang-undang GDPR (General Data Protection Regulation) dari Uni Eropa yang memaksa organisasi dan pemerintah di Eropa untuk melindungi data pengguna, dokumen, dan privasi online. Namun, dugaan cacat tersebut dibantah oleh ICAO.
Anda masih ingat dengan kasus seorang Ibu yang mengganti popok bayinya di bangku pesawat? Nah, kali ini ada kasus yang lebih menjijikan, dimana ada seorang penumpang pesawat yang entah bagaimana caranya buang air kecil di dalam sebuah kantong plastik. Dari sini saja, tentu Anda sudah mulai bertanya-tanya, “Kenapa ia tidak menggunakan toilet?”. Tidak cukup sampai di situ, alih-alih membuang kantong plastik berisi urin ini, si penumpang malah membiarkannya tergantung begitu saja di bagian meja lipat bangku penumpang. Hiii!
Baca Juga: Sepasang Penumpang ini Bikin Heboh Instagram Karena Lakukan Pedicure Selama Mengudara
Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman thesun.co.uk (10/10), dalam sebuah foto yang sudah kadung viral di jagad Instagram ini tampak sebuah kantong plastik bening yang berisikan cairan berwarna kuning yang diduga kuat sebagai urin. Kantong plastik tersebut tampak diikatkan pada meja lipat dalam keadaan terbuka. Selain kantong plastik berisi urin, tampak pula sebelah sandal hotel berwarna putih yang ditinggalkan begitu saja. Walhasil, akun @passengershaming di Instagram dihujani oleh komentar para warganet.
“Sekantong urin dan sebelah sandal pada hari Rabu,” tulis akun @passengershaming di kolom caption.
Pada postingan yang diunggah pada tanggal 9 Oktober kemarin ini, setidaknya sudah ada lebih dari 1.000 warganet yang mengomentari terkait unggahan ini, dan mendapatkan lebih dari 8.000 likes.
“Itu sangat menjijikan!” ujar akun @vrsixlos.
Baca Juga: Kabin Jetstar JQ284 Kena “Teror” Popok dan Kotoran Balita
“Itu sangatlah jorok, saya tidak paham dengan orang-orang semacam ini. Ada banyak sekali toilet di dunia ini, termasuk di dalam pesawat,” sambung @tantansgram di kolom komentar.
@mrslynda11 menambahkan, “pihak maskapai harus melarang penumpang ini untuk mengudara lagi,”
Sayangnya, tidak diketahui lebih lanjut terkait siapa penumpang yang telah meninggalkan ‘buah tangan’ menjijikan ini, atau di maskapai mana kantong plastik ini ditemukan, namun satu yang pasti, ini amatlah jorok.
Jangan pernah berpikir bahwa pintu kereta sama dengan pintu lift yang bisa dengan mudahnya terbuka ketika menahannya dengan sesuatu. Baru-baru ini seorang penumpang kereta di Vancouver mencoba menahan pintu kereta yang akan menutup dengan melemparkan bungkusan makanan.
Baca juga: Duh! Penyandang Tiga Medali Emas Paralympian Games Terjebak di Pintu Kereta
Sayangnya karena tidak memiliki sensor seperti elevator (lift), pintu tetap saja menutup. Dilansir dari narcity.com (28/10/2019) oleh KabarPenumpang.com, kejadian diunggah oleh TransLink yang mendapat kirimin foto dari salah seorang penumpang dan menjadi hiburan warganet.
Dalam postingan tersebut dikatakan, seorang penumpang yang terlambat naik kereta pada Kamis (24/10/2019) kemarin putus asa. Kemudian melemparkan bungkus makanan Tim Hortons untuk menahan pintu dan membukanya. Sayangnya hal itu menjadi bumerang bagi penumpang tersebut, sebab bukannya membuka tetapi pintu tertutup dan bungkus makanan tersebut tersangkut di pintu kereta.
Translink yang memposting itu memberikan caption yang lucu, “Platform Stasiun SkyTrain Granville Station 06.50 malam pada 24 Oktober, Penumpang berlari ke SkyTrain yang akan berangkat dan dalam keadaan putus asa untuk naik kereta. Anda melempar tas @timhortons di pintu penutup dengan harapan seperti pintu lift terbuka dan naik. Tetapi Tim Hortons Anda yang akan tiba ditujuan, semoga kita dapat terhubung,” ujar postingan tersebut.
Sebenranya unggahan dari TransLink tersebut adalah untuk memberikan peringatan bagi penumpang bahwa taktik tersebut tidak berfungsing. Bahkan akan membuat Anda malu karena melakukan hal itu dan menjadi omongan ketika diunggah pada media sosial.
“Pengingat untuk pelanggan yang membawa Tim dan non-Tim: Kami ingin Anda memiliki perjalanan yang aman dan menyenangkan. Itu berarti melambat, jangan lari ke kereta (yang lain segera hadir!), Bertahan, dan ikuti etiket transit karena keamanan adalah hal mendasar dan itu dimulai dari Anda,” tulis TransLink lagi.
Baca juga: Pintu Kereta Shinkansen Terbuka Saat Melaju 280 Km Per Jam!
Meski menjadi bahan lelucon yang cukup bagus bagi warganet, tetapi ini juga digunakan untuk mengingatkan penumpang agar datang tepat waktu dan mengikuti aturan transit. Memaksa masuk ke pintu itu berbahaya dan baiknya tunggu kereta berikutnya. Diketahui TransLink BC dinobatkan sebagai salah satu sistem transit terbaik di Amerika Utara dan bahkan mengalahkan kota-kota besar Kanada lainnya.
Menikmati keindahan salah satu keajaiban dunia Grand Canyon dengan naik kereta bukanlah mimpi. Apalagi kereta yang digunakan merupakan kereta tahun 1940-an dan 1950-an yang sangat mewah namun masih terawat.
Baca juga: Enam Kereta dengan Perjalanan Paling Romantis Bersama Pasangan
Kereta ini bernama The Rail Baron Charter yang bisa disewa secara pribadi untuk menikmati keindahan Grand Canyon bersama keluarga atau kerabat. KabarPenumpang.com merangkum laman prnewswire.com (28/10/2019), tiga kereta tua yang dijalankan ini bisa disewa untuk acar khusus seperti pernikahan, pertemuan keluarga, ulang tahun, reuni atau acara apapun.
Dalam satu rangkaian ada lima kereta yang ditarik terdiri dari The Kansas, dimana kereta ini memiliki ruang terbuka di bagian belakang. The Utah, yaitu kereta yang berisikan salon, kafe atau lounge untuk dinikmati penumpang.
Lalu ada California, ini adalah ruang kereta dengan tempat tidur dan menjadi yang pertama untuk charter (sewa) dari Williams ke Grand Canyon pada 1 November 2019 mendatang. Selain itu ada dua kereta bersejarah lain yang bisa di charter yakni The Santa Fe yang dilengkapi dengan ruang tamu mewah, lounge dan kafe.
Selain itu Max Biegert adalah kereta yang dilengkapi dengan ruang tamu mewah serta platform belakang yang terbuka. Untuk menikmati perjalanan, penyewa juga bisa memilih mesin-mesin diesel tradisional atau mesin uap yang luar biasa sebagai lokomotif penarik kereta.
Lima kereta ini bisa menampung 200 orang karena memiliki banyak ruang tamu dan kamar tidur serta dapur dalam satu rangkaian. Sebenarnya Grand Canyon Railway bukanlah sebuah kereta wisata atau museum peninggalan (sejarah) sebab ini adalah sebuah kereta penumpang yang berfungsi sehari-hari membentang sepanjang 65 mil atau 104 km dari Williams.
Rute Grand Canyon sendiri melalui Rute 66 yang bersejarah hingga beberapa langkah dari Lingkar Selatan Grand Canyon. Untuk menikmati kereta ini, saat meyewa, sudah termasuk dengan dukungan dari teknisi, brakeman, kondektur dan petugas layanan penumpang yang akan memenuhi kebutuhan.
Baca juga: Rocky Mountaineer, Kereta Wisata yang Akan Bawa Anda Menempuh Perjalanan Romantis
Bahkan koki pribadi pun disiapkan untuk melayani makanan penumpang yang menikmati perjalanan itu. Kereta ini dilengkapi dengan berbagai interior mewah dan seperti era masa lampau, berikut televisi dan radio. Untuk sekali perjalanan harga sewa untuk 200 orang atau keseluruhannya $32 ribu (Rp448 juta) atau utuk per orang sekitar $160 (Rp2,2 juta).
Bandara Istanbul yang dibuka pada Oktober 2018 lalu, kini sudah bisa menampung lebih dari 40 juta penumpang per tahunnya. Sebanyak 252.795 penerbangan baik domestik maupun internasional sudah lepas landas dan mendarat di bandara ini.
Baca juga: Bandara Baru Istanbul Diharapkan Menjadi Aerotropolis
Menteri Transportasi dan Infrastruktur Turki Cahit Turhan mengatakan, setelah dibuka, Bandara Istanbul mengambil alih lalu lintas udara dari Bandara Ataturk utama pada 6 April kemarin. Setelah kehadirannya, Bandara Istanbul bahkan diproyeksi akan menampung 200 juta penumpang setiap tahun dengan kapasitas penuh setelah empat fase dengan enam landasan pacu selesai tahun 2028 mendatang.
Dia menambahkan bahwa pembangunan landasan pacu paralel ketiga yang tersebar di 76,5 juta meter persegi di pantai Laut Hitam Yeniköy dan distrik Akpınar di sisi Eropa Istanbul akan selesai segera. KabarPenumpang.com melansir hurriyetdailynews.com (28/10/2019), bila kedepannya sudah selesai semua, Bandara Istanbul akan diatur menjadi pusat penerbangan global yang mampu menampung lebih dari 100 maskapai dan penerbangan ke lebih dari 300 tujuan di seluruh dunia.
Padahal awal dibukanya bandara ini hanya mampu menangani 11,6 juta penumpang per tahun dan kemudian gedung terminal tambahan diperluas menjadi 41 juta penumpang dengan menghabiskan dana 26 juta Euro. Sebagai catatan, Bandara Sabiha Gokcen yang terletak di sisi Asia telah melayani total 240 juta penumpang sejak diluncurkan pada sepuluh tahun lalu tepatnya 31 Oktober 2009.
Data terbaru dari otoritas bandara DHMİ menunjukkan bahwa antara Januari dan September tahun ini, total 26,7 juta orang menggunakan bandara, menunjuk ke peningkatan tiga persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2018. Tak hanya perluasan bandara, tahun ini diperkirakan mampu menampung 36 juta penumpang, Bandara Istanbul juga menerima robot humanoid untuk membantu penumpang dalam menjelajahi bandara.
Baca juga: Setelah Hadir di Bandara Taipei dan Munich, Kini Robot Pepper ‘Melayani’ Bandara Christchurch
Ada empat robot humanoid yang bisa mengekspresikan diri melalui lengan dan wajah mereka di layar untuk membantu penumpang. Dilengkapi dengan bahasa bilingual, robot ini bisa membantu penumpang dengan memindai tiket mereka untuk melihat stastus penerbangan, petunjuk arah gerbang dan melihat informasi lain dalam Bahasa Inggris dan Turki.
Bagaimana rasanya jika aktivitas Anda di toilet (lavatory)itu diperhatikan oleh orang lain melalui kamera tersembunyi? Wah, tentu saja Anda semua akan murka karena ini tergolong sebagai tindakan terlarang yang melanggar privasi seseorang. Tapi, apa jadinya jika aktivitas Anda ini diamati oleh seorang pilot penerbangan ketika pesawat berada di atas ketinggian? Akankah Anda langsung melabrak sang pengemudi burung besi ini?
Baca Juga: Kamera In-Flight Entertainment, Berbahayakah atau Malah Menguntungkan?
Jawaban dari pertanyaan di atas tentu saja beragam, atau mungkin ada beberapa dari Anda yang melakukan hal seperti yang dilakukan oleh awak kabin yang satu ini. Ya, beberapa waktu ke belakang, seorang pramugari dari maskapai Southwest Airlines menggugat pihak perusahaan dimana kabarnya dua pilot mereka telah menyaksikan aktivitas wanita ini di dalam toilet melalui video live streaming. Adalah Renee Steinaker, korban dari aksi ini, telah mengajukan gugatan di pengadilan di Arizona atas tindakan yang dialaminya ketika Renee sedang dalam perjalanan dari Pittsburgh menuju Phoenix pada Februari 2017 lalu.
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman dailymail.co.uk (28/10), ketika Renee dikonfrontir dengan seorang pilot yang dipercaya ‘menonton’ Renee di dalam toilet, pilot itu lalu mengatakan bahwa ada beberapa kamera tersembunyi yang terpasang di semua armada Southwest Airlines.
Namun tentu saja pernyataan dari pilot tersebut malah berbalik menyerang pihak maskapai, dimana “Jika ini (pernyataan dari pilot) sampai terbongkar ke publik, maka tidak akan ada lagi yang mau naik Southwest,” ujar Renee.
Renee Steinaker. Sumber: abc7.com
Namun dengan cepat pihak maskapai melakukan aksi defensif dengan menyebutkan bahwa mereka tengah mendalami kasus yang terjadi lebih dari dua tahun lalu ini.
“Kami masih menyelidiki tuduhan dan membahasnya dengan pihak-pihak terkait,” ujar pihak maskapai.
Berbanding terbalik dengan apa yang dituturkan oleh pilot tersebut, pihak maskapai malah mengatakan bahwa tidak pernah ada kamera tersembunyi yang terpasang di toilet pesawat.
“Dari hasil penyelidikan, tidak ditemukan kamera apapun di dalam toilet; insiden ini agaknya hanya sebuah humor yang tak pantas,” tambah pihak Southwest Airlines.
Baca Juga: Airbus Bakal Tambah Sensor di Pesawat Guna Pantau Kebiasaan Penumpang
Kisah ini bermula ketika Renee baru saja selesai menggunakan toilet dan dipanggil oleh Kapten Pilot Terry Graham untuk masuk sebentar ke dalam kokpit, sehingga sang pilot bisa menggunakan toilet. Ya, protokol di Southwest Airlines mewajibkan harus ada dua orang awak di dalam kokpit.
Namun ketika Renee berada di dalam kokpit, ia melihat ada sebuah iPad yang berada disisi tempat duduk Kapten Terry dan menayangkan secara langsung kejadian apa yang terjadi di toilet. Renee juga mengaku bahwa ia bisa melihat apa yang sedang Terry lakukan di toilet. Sejak saat itulah kasus ini terus didalami hingga berujung ke meja hijau.
Maskapai asal Perancis, Air France dikabarkan terpaksa harus mengalihkan salah satu penerbangannya setelah mendapati salah satu ponsel mencurigakan di dalam penerbangannya. Adalah Air France Flight AF136 yang tengah menjalani rute penerbangan dari Paris menuju Chicago beberapa waktu yang lalu terpaksa mendarat di Shannon, Irlandia guna menjalankan protokol keselamatan dan keamanan. Ya, pendaratan ini dilakukan lantaran penumpang dan pihak maskapai menemukan sebuah ponsel tidak bertuan di dalam penerbangan tersebut.
Baca Juga: Mengenal Ditching, Pendaratan Darurat Pesawat di Atas Permukaan Air
Sebagaimana yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman independent.co.uk (21/10), maskapai ini mendarat di Shannon Airport Irlandia pada 20 Oktober 2019 kemarin, sekira pukul 16.30 waktu setempat. Setibanya pesawat di bandara, petugas pemadam kebakaran langsung mengerumuni pesawat alih-alih terjadi sesuatu yang tidak diinginkan – terlebih ketika petugas bandara mengetahui bahwa pesawat ini belum membuang muatan bahan bakar sebelum melakukan pendaratan di sana.
“Ponsel tak bertuan tersebut langsung dibawa oleh petugas kepolisian keluar dari pesawat menuju ruang terminal untuk selanjutnya dilakukan investigasi mendalam,” ujar Garda Inspector, Paul Slattery.
Namun setelah dilakukan pemeriksaan lanjutan, petugas keamanan di Shannon Airport mengatakan bahwa yang mereka temukan itu hanyalah ponsel biasa dan dikembalikan ke petugas Air France.
“Setelah kami tidak menemukan apa-apa di dalam ponsel tersebut, kami nyatakan ponsel tersebut aman dan dikembalikan ke pihak maskapai,” tandas Paul.
Kurang lebih dua jam setengah setelah pesawat berjenis Airbus A330-200 tersebut mendarat di Shannon Airport, Air France Flight AF136 kembali melanjutkan perjalanan menuju Chicago O’Hare. Pesawat ini pun dikabarkan sempat melakukan pengisian bahan bakar sebelum melanjutkan perjalanan.
Menanggapi insiden kecil namun cukup membuat jantung penumpang berdegup kencang ini, pihak Air France melalui pernyataan resmi tidak menampik apa yang menimpa salah satu armadanya.
“Pihak Air France mengkonfirmasi bahwa awak pesawat AF136 yang bertolak dari Paris CDG menuju Chicago O’Hare (ORD) pada 20 Oktober 2019 memutuskan untuk mengalihkan penerbangan sebagai tindakan pencegahan setelah kru pesawat dan penumpang menemukan sebuah ponsel tak bertuan di dalam pesawat,” tutur pihak maskapai dalam sebuah pernyataan resmi.
“Air France AF136 mendarat di Chicago dengan selamat sekira pukul 20.26 waktu setempat,” sambungnya.
Kuat dugaan, ponsel tersebut merupakan milik penumpang yang sebelumnya menunggangi pesawat yang sama.
Baca Juga: Insiden Landing Gear Boeing 737-800 SpiceJet, Drama Pendaratan Darurat Yang Dramatis!
Dari sini diharapkan Anda semua bisa menarik satu pembelajaran berharga, dimana Anda harus lebih teliti lagi ketika hendak meninggalkan pesawat – jangan sampai ada barang yang tertinggal seperti pada kasus ini. Toh yang rugi bukan hanya Anda karena kehilangan ponsel, melainkan juga pihak maskapai karena sampai-sampai harus melipir keluar dari jalur penerabangan guna menerapkan skema keamanan dan keselamatan, serta waktu penumpang lain yang terbuang percuma.
Tak peduli kereta eksekutif atau ekonomi, saat ini seluruh kompartemen gerbong kereta telah dilengkapi AC. Dan saat menghadapi hawa dingin di gerbong, rasanya mencicipi hidangan berkuah yang hangat menjadi sesuatu yang direkomendasikan. Hidangan berkuah yang dimaksud seperti bakso atau bakwan. Namun, apakah restorasi PT KAI menjual panganan tersebut?
Baca juga: Tidak Puas Dengan Popso Nasi Goreng Parahyangan, Penumpang Layangkan Petisi ke PT KAI dan PT RMU
Anak perusahaan PT Kereta Api Indonesia (KAI) yakni Reska atau Restoran Kereta Api, rupanya punya sajian hangat yang khas, dibilang khas, karena makanan ini utamanya memang dijual untuk penumpang kereta.
Nah, kali ini KabarPenumpang.com akan membahas Bakso Reska Popso yang kemasannya mirip mie cup (pop mie). Dalam kemasan bakso Popso ini, ada bakso, tahu dan mie bakso layaknya di jual oleh pedagang bakso dengan mangkok.
Penumpang yang ingin makan Popso bisa dengan mudah mendapatkannya, bila gerbong duduk dekat dengan gerbong restorasi, penumpang bisa langsung mendatanginya. Tetapi bila agak jauh biasanya pramugari (prami) dan pramugara akan berkeliling menyusuri tiap gerbong untuk menjajakan makanan salah satunya bakso Popso ini.
Sebenarnya ketika makan bakso Popso ini lebih nikmat berada di gerbong restorasi selain masih panas karena baru diseduh juga penumpang bisa duduk dengan nyaman karena tersedia meja dan kursi. Namun kerap kali banyak penumpang yang duduk berlama-lama untuk bekerja karena kursi mereka tidak memiliki meja dan membuat penumpang lainnya menunggu.
Apalagi gerbong restorasi hanya bisa menampung penumpang makan sekitar delapan orang. Penasaran dengan harganya? Ya memang lebih mahal dari pedagang bakso keliling yakni Rp25 ribu seporsi, tapi setidaknya bakso Popso ini membantu mengenyangkan perut yang lapar.
Tapi jangan heran bila harganya sedikit berubah karena harga kelas ekonomi, ekonomi premium, bisnis dan eksekutif bisa berbeda. Mungkin yang dipikiran penumpang, bisa makan bakso Popso hanya ketika naik kereta jarak jauh, ternyata untuk makan dan dinikmati dengan orang tersayang ataupun keluarga ketika di rumah juga bisa.
Baca juga: Lapar di Kereta Api? Jangan Lupakan Nomer SMS/WhatsApp Ini
Sebab sekarang, bakso Popso kini dijual secara online dan harganya sedikit lebih mahal. Beberapa e-commers seperti Tokopedia ataupun Shopee menjual bakso popso ini.