Sadarkah Selama ini Psikologi Anda Dimainkan di Bandara?

Bagi sebagian orang, bandara kerap kali dinilai hanya sebagai tempat singgah sementara sebelum melanjutkan perjalanan dengan menggunakan pesawat, atau sebagai tempat kedatangan setelah mereka bepergian dari suatu kota. Kehadiran dari petugas pengamanan yang berlapis-lapis seolah tidak menjadi masalah bagi Anda mengingat tidak ada niatan lain selain mengudara, bukan? Namun bagi sebagian orang, sejatinya bandara merupakan salah satu tempat yang paling menjenuhkan karena terkesan ribet mengingat eksistensi dari petugas keamanan berlapis tadi dan skema perjalanan udara yang juga jauh lebih ribet ketimbang moda-moda lainnya. Baca Juga: Pamerkan Mock-Up 777X, Boeing Mainkan Sisi Psikologis Penumpang Namun tahukah Anda bahwa bandara dirancang sedemikian rupa untuk mempengaruhi psikologis para calon penumpang? Ya, normalnya, Anda akan menemukan beragam toko yang menjajakan penganan, hingga pernak-pernik khas daerah terkait setelah Anda melewati pos pengamanan pertama dan counter check-in. Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman bbc.com (1/5), zona berbelanja ini disebut sebagai recomposure zone, dimana Anda bisa menyegarkan pikiran sejenak setelah berjibaku dengan ketatnya pengamanan di bandara. Tapi, kehadiran dari recomposure zone ini bukanlah momen perdana psikologis Anda ‘dimainkan’ oleh para perancang bandara. Sebelumnya juga Anda sudah ‘diarahkan’ oleh papan penunjuk yang akan mengantarkan Anda ke gerbang keberangkatan. Kehadiran dengan papan penunjuk jalan dengan ukuran yang besar dan jalan yang itu-itu saja juga ternyata diklaim memainkan psikologis penumpang, dimana seperti yang sudah disebutkan di atas, Anda seolah diarahkan oleh mereka. “Bandara yang sempurna akan menjadi tempat di mana Anda secara ‘natural’ akan dipandu oleh lingkungan,” ungkap Alejandro Puebla, perencana bandara senior di perusahaan teknik sipil Jacobs. Dengan kata lain, jika Anda salah jalan, maka besar kemungkinan Anda sempat melamun sehngga tidak memperhatikan tanda yang akan membimbing Anda semua. Baca Juga: Di Luar Regulasi, Manipulasi Psikologi Turut Campur Tangan di Perkeretaapian Jepang Satu lagi permainan psikologis yang ada di bandara adalah terdapat lebih banyak jalan yang berbelok ke kanan daripada ke kiri. Ini dikarenakan populasi orang kidal tidaklah sebanyak orang normal (menggunakan tangan kanan), dan sejatinya orang akan lebih sering menengok ke kanan ketimbang ke kiri. Apakah selamaini Anda sadar bahwa psikologis Anda sudah dipermainkan oleh bandara?

Diduga Cari Proyek Sampingan, Boeing Bantu Pembangunan Bandara di Chennai

Pabrikan kedirgantaraan asal Amerika Serikat, Boeing dikabarkan akan menyusun rencana untuk membangun Bandara Chennai di India dalam beberapa bulan mendatang. Rencana ini termasuk untuk melengkapi jalan di depan bandara sebagai bagian dari fasilitas selama kurun waktu 10 tahun ke depan. Dalam hal ini, Boeing tidak sendiri, melainkan perusahaan yang kini tengah terseok-seok ini juga kabarnya telah menggandeng Airports Authority of India (AAI) sebagai tandemnya. Baca Juga: Boeing Digoyang Masalah (Lagi), Kini Ditemukan Retakan pada Seri 737 NG Hadirnya pemberitaan semacam ini tentu saja membuat Anda semua bertanya-tanya, “Apakah ini merupakan salah satu upaya Boeing untuk bisa mendapatkan keuntungan setelah beberapa bulan ke belakang sektor pesawat penumpang komersialnya anjlok habis-habisan?” Jawabannya, mungkin saja! Ini merupakan upaya sampingan dari pihak Boeing untuk menutupi kas perusahaan yang dikabarkan sempat tidak ada pesanan sama sekali. Namun terlepas dari spekulasi soal ini, KabarPenumpang.com mengutip dari laman thehindu.com (24/10), seorang pejabat di Boeing mengatakan bahwa pihaknya akan menurunkan beberapa tim ke lapangan guna meninjau langsung lokasi, dan selanjutnya akan melakukan serangkaian studi guna melancarkan pembangunan bandara tersebut. “Tim akan pergi ke Chennai pada Jumat (25/10) dan mengadakan diskusi awal dengan pihak Boeing. Selanjutnya mereka akan melakukan studi selama enam bulan guna mempertimbangkan proyeksi lalu lintas udara, pembebasan lahan, dan bagaimana bandara ini dapat beroperasi secara efisien di masa yang akan datang,” terang salah satu pejabat dari AAI. Mereka mengatakan bahwa pihak Boeing nantinya juga akan menyarankan cara untuk meningkatkan kapasitas sisi udara dari bandara tersebut – termasuk dari segi komunikasi, navigasi, hingga sistem pengawasan. “Misalnya, mereka (pihak Boeing) dapat menyarankan cara untuk meningkatkan waktu huni landasan (jumlah waktu yang dihabiskan pesawat di landasan pacu). Kami sekarang mencoba menurunkannya menjadi 55 hingga 60 detik, tetapi ini akan menjadi lebih baik di tahun-tahun mendatang jika kami harus menangani lalu lintas udara yang terus mengalami peningkatan,” tandasnya. Baca Juga: Bus Kota di Chennai, Potret Buruk Transportasi di India Ya, sejumlah bandara di dunia belakangan ini mengalami masalah yang hampir serupa, yaitu adanya peningkatan perjalanan penumpang yang bisa menghambat perjalanan para penumpang, dan masalah seperti ini harus ditangani dengan cepat dan tepat. Selain di Chennai, Boeing juga rencananya akan melakukan studi di beberapa bandara yang bernaung di bawah AAI, seperti di Kolkata dan Ahmedabad.

JR East Bangun Stasiun Robotika, Mudahkan Penyandang Disabilitas dan Pelancong Asing

Teknologi yang semakin berkembang membuat beberapa negara menghadirkan robot sebagai pembantu para pelancong untuk mendapatkan informasi. Bahkan beberapa negara maju dan berkembang di bandaranya sudah memiliki robot seperti ini sebut saja Bandara Incheon di Seoul, Korea Selatan. Baca juga: Adopsi Kecerdasan Buatan dan Robotika, Hitachi Rail Siap Hadirkan Stasiun Masa Depan Hal ini kemudian membuat Japan Railways kemudian ingin membangun tim robot yang akan membantu para pelancong baik memberikan informasi hingga menangkap penjahat di stasiun-stasiun. Dilansir Kabarpenumpang.com dari soranews24.com, Japan Railways East mendirikan perusahaan baru bernama JRE Robotics Station atau Stasiun Robotika JRE untuk mewujudkan visi masa depan yang penuh dengan robot. Pada 5 Juli 2017 lalu, JR East mengumumkan pembentukan Stasiun Robotika JRE. Mungkin nama ini terdengar seperti stasiun kereta api untuk robot. Tetapi bukan, bahkan tidak kalah keren, pasalnya ini adalah perusahaan yang didirikan JR East untuk memberikan dorongan tambahan pada proyek pengembangan robotiknya. Bahkan secara khusus, Stasiun Robotika JRE akan berfokus pada robot dengan satu dari empat klasifikasi fungsional. Perusahaan akan merancang robot panduan untuk membantu pelancong menemukan jalan mereka di sekitar stasiun dan membantu tiba di stasiun tujuan. Selain membantu masyarakat lokal, robot ini juga dilengkapi dengan kemampuan multi bahasa yang bisa memudahkan pelancong di Jepang. Dalam daftar perencanaan, robot-robot tersebut bisa membawa barang bawaan pelancong meski tujuan utamanya adalah membantu penyandang disabilitas. Sedangkan untuk pelancong biasa, robot tetap sebagai pembantu perjalanan. Stasiun Robotika JRE ini juga tengah merencanakan untuk membuat robot yang bisa menangani kebersihan keamanan dan konsep seni dari perusahaan yang bisa mendeteksi pengutil. JR East yang juga mengelola sejumlah pusat perbelanjaan dan hotel, robot-robot ini juga akan digunakan tidak hanya di stasiun tetapi propreti lainnya. Bahkan pihaknya juga menunggu beberapa saat sampai melihat robot muncul untuk membantu penumpang membeli tiket kereta api. Baca juga: Minimalisir Tenaga Manusia, Jepang Mulai Kembangkan Puluhan Robot di Stasiun Bahkan tahun 2018 kemarin, Stasiun Osaka sudah memiliki Robot dengan fitur kecerdasan buatan – Artificial Intelligence (AI) untuk memudahkan pelancong dalam perjalanan mereka. Robot ini bahkan mampu membantu pelancong dengan pilihan bahasa Jepang dan Inggris.

Scoot Resmi Pindah dari Terminal 2 ke Terminal 1 Bandara Changi

Seperti telah diwartakan pada November 2018, bahwa maskapai berbiaya murah asal Singapura, Scoot mencanangkan pemindahan fasilitas pelayanannya di Bandara Changi, yakni dari Terminal 2 ke Terminal 1. Nah, sesuai dengan target yang ditetapkan, yaitu pada kuartal keempat 2019, maka pihak Scoot pada 22 Oktober lalu telah mengumumkan pemidahan layanan terminalnya. Baca juga: Q4 2019, Scoot Akan Pindah dari Terminal 2 ke Terminal 1 di Bandara Changi Dikutip dari pesan tertulis Scoot yang diterima KabarPenumpang.com, dikatakan bila pemindahan terminal ini untuk memfasilitasi target pertumbuhan double digit Scoot tiga tahun ke depan dan memberikan pengalaman yang lebih baik dan lebih efisien kepada penumpang, dengan lebih banyak counter check-in self service dan fasilitas check-in bagasi yang tersedia di Terminal 1. Pada 22 Oktober 2019, Scoot juga merakayan telah menerbangkan penumpang ke-65 juta. Secara keseluruhan pada 22 Oktober, ada 9.877 penumpang dengan 4.726 bagasi dan 56 penerbangan dari Singapura yang diproses di Terminal 1. Upaya pemidahan terminal pelayanan tak dilakukan dalam waktu sekejab, persisnya Scoot telah memulai beberapa uji coba operasional dan sistem, termasuk dua penerbangan percobaan, sejak Agustus 2019 untuk memastikan pemindahan berjalan lancar. Sejak Juli 2019, Scoot telah mengirim pemberitahuan kepada penumpang melalui situs, media sosial, email, dan aplikasi. Di bandara, papan informasi ditaruh di lantai Kedatangan dan Keberangkatan Terminal 1 maupun Terminal 2. Pengumuman dalam penerbangan Scoot menuju Singapura telah diperbarui sejak 1 Oktober 2019 untuk memberi informasi kepada penumpang mengenai pemindahan. Staf tambahan juga ditempatkan di Terminal 1 dan Terminal 2 pada hari pemindahan, untuk memastikan penumpang akan segera mendapat bantuan bila perlu. Lee Leek Hsin, Chief Executive Officer Scoot mengatakan, “Dalam waktu delapan tahun sejak kami berdiri pada 1 November 2011, kami telah melalui merger dua maskapai low-cost, menerbangkan lebih dari 65 juta penumpang, mengembangkan jaringan hingga hampir 70 kota di seluruh dunia, dan menambah armada menjadi 20 Boeing 787 dan 28 Airbus A320, dan masih banyak lagi dalam proses pemesanan. Scoot telah menjadi maskapai lowcost terbesar di Singapura, menguasai sekitar 45 persen pasar maskapai low-cost di Singapura. Terminal 2 Bandara Changi Singapura adalah tempat kami melakukan penerbangan perdana ke Sydney pada Juni 2012, dan merupakan rumah yang indah bagi kami, namun pemindahan ke Terminal 1 akan memberi lebih banyak ruang untuk rencana ekspansdi masa depan.” Baca juga: Lecehkan Pramugari Scoot, Pria India Divonis 2 Tahun Penjara dan Hukuman Cambuk Penerbangan terakhir Scoot menuju Terminal 2 adalah TR431 dari Kuching ke Singapura pada 21 Oktober 2019, yang tiba pada jam 12.40 waktu setempat pada 22 Oktober 2019 dengan membawa 115 penumpang. Sedangkan penerbangan pertama Scoot dari Terminal 1 adalah TR100 dari Singapura ke Guangzhou, yang berangkat pada jam 5.13 waktu setempat dengan membawa 315 penumpang.

Ternyata Boeing 777 Sempat Dirancang dengan Konsep “Trijet”

Selain keluarga Boeing 737 yang kini sedang terjungkal akibat jatuhnya dua unit varian 737 MAX 8, produsen kedirgantaraan asal Amerika Serikat ini juga sejatinya memiliki varian lain yang juga tercatat sebagai salah satu pesawat paling sukses di dalam sejarah penerbangan. Adalah Boeing 777, yang hingga saat ini masih berjibaku guna mematok kedigdayaan di sektor pesawat wide-body. Tentu Anda semua sudah tidak asing lagi dengan varian pesawat ini, bukan? Tapi, tahukah Anda bahwa mulanya pesawat ini dirancang untuk bisa terbang dengan menggunakan tiga buah mesin? Baca Juga: Inilah Alasan, Mengapa Boeing Menggunakan Angka 7 di Produk Jet Komersialnya Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com (21/10), Boeing 777 sejatinya membawa perubahan besar pada sektor dirgantara global, dengan pertama kali moda ini beroperasi dengan menggunakan livery United Airlines pada tahun 1995 silam. Penggunaan pesawat ini menandai era baru penerbangan twin engine, dimana suara yang dihasilkan lebih tenang, lebih efisien, lebih ekonomis, dengan jangkauan yang lebih jauh. Walaupun, peluncuran Boeing 777 kala itu yang diwakilkan oleh seri 777-200LR ini seolah menjadi lonceng kematian bagi Boeing 747 yang tentu saja kalah saing dengan triple seven. Seperti yang sudah disebutkan di atas, pada mulanya Boeing 777 dirancang untuk menggunakan tiga mesin jet (trijet). Kala itu, teori menyebutkan bahwa semakin banyak mesin yang digunakan, maka semakin baik pula performa pesawat ketika mengudara. Namun karena satu dan lain hal, akhirnya pengembangan Boeing 777 dengan tiga mesin ini urung dilaksanakan. Andai saja kala itu perusahaan tetap bersikukuh untuk tetap menggunakan tiga mesin jet, maka bukan tidak mungkin apabila Boeing 777 akan menjadi rival bagi pesawat rilisan McDonnel Douglas asal Amerika Serikat, MD-11 dan DC-10. Mungkin karena alasan sama-sama barang Amerika, maka dari itu Boeing dengan varian 777 mengalah kepada DC-10 yang sudah mulai mengudara secara komersial pada Agustus 1971. Baca Juga: DC-10 30, Kenangan Pesawat Trijet Jarak Jauh di Era Keemasan Garuda Indonesia Hingga saat ini, pesawat wide-body yang menggunakan tiga mesin jet paling kondang di dunia masih disandang oleh MD-11 dan DC-10, dan mungkin tidak akan tergantikan dalam waktu dekat ini – karena hampir semua burung besi yang tengah dirancang kini masih berpaku pada penggunaan dua mesin yang mampu melakoni peran sama atau bahkan melebihi pesawat trijet.

Sukses di Jerman Hingga Dubai, Giliran Volocopter Unjuk Gigi di Singapura

Tampaknya gagasan untuk menghadirkan drone untuk mengentaskan kemacetan dan polusi kini kian mendekati realita. Upaya demi upaya terus dikerahkan oleh sejumlah perusahaan yang menggeluti moda jenis baru ini untuk bisa meyakinkan para regulator bahwa drone ini tidak hanya aman, namun bisa membawa dampak signifikan pada kondisi lalu lintas kota-kita besar. Baca Juga: Terima Kucuran Dana Segar, Volocopter Fokus Kembangkan VTOL Andalannya Memang, perusahaan-perusahaan yang mengembangkan moda udara ini seperti Boeing, Ehang, hingga Volocopter sejatinya sudah dalam tahap pengembangan pasca uji coba dan bisa dibilang hanya tinggal menunggu sertifikasi saja untuk bisa masuk ke dalam layanan komersial. Selain menunggu proses sertifikasi, salah satu dari ketiga nama perusahaan di atas, Volocopter dikabarkan baru saja melakukan uji penerbangan terhadap taksi udara rilisannya di Marina Bay, Singapura beberapa waktu yang lalu. Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman aljazeera.com (22/10), adapun moda Volocopter ini berhasil mengudara selama kurang lebih dua menit – atau satu menit lebih cepat ketimbang yang diiklankan oleh pihak perusahaan. Ini bukan lantaran masalah teknis, melainkan karena faktor cuaca yang tidak mendukung saat uji coba. Adapun uji penerbangan di Singapura dilakukan oleh seorang pilot di dalamnya. Kendati demikian, nantinya moda-moda udara modern semacam ini akan berjalan secara otonom alias nirawak. Sebelum di Singapura, Volovopter sudah terlebih dahulu melakukan penerbangan demonstrasi publik di Jerman, Dubai, dan Finlandia.
Membahas sedikit tentang Volocopter ini sendiri, moda electric Vertical Take Off and Landing (eVTOL) ini menawarkan perjalanan udara yang aman, tenang, dan bebas emisi. Moda ini mampu mengangkut dua penumpang beserta barang bawaan mereka menuju jarak hingga 30 km dengan kecepatan 110 km per jam. “Ini (uji penerbangan Volocopter) merupakan tonggak penting untuk pengenalan mobilitas udara perkotaan, karena kami memberikan gambaran kepada orang-orang terhadap moda udara modern dan betapa tenangnya itu (Volocopter) dalam penerbangan penuh,” ujar CEO Volocopter, Florian Reuter. Baca Juga: Prototipe Taksi Drone Ehang 184, Sukses Uji Coba Dalam 1000 Kali Terbang Senada dengan Florian, Civil Aviation Authority of Singapore (CAAS) mengatakan bahwa hadirnya Volocopter di Singapura diharapkan dapat mereduksi kemacetan yang terjadi di jalanan dewasa ini. “Dengan bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan seperti Volocopter, kami berharap dapat memfasilitasi inovasi untuk penggunaan moda yang bermanfaat, sembari memastikan penerbangan dan keselamatan publik,” tutur Ho Yuen Sang, direktur divisi industri penerbangan di CAAS.

Tergolong Pesawat Tua, Lima Maskapai ini Masih Operasikan Airbus A300, Ada Apa?

Indonesia patut berbangga dengan pesawat Airbus A300. Ya, dalam proses perakitan pesawat wide-body pertama milik Airbus ini, tidak lepas dari peran salah seorang warga negara Indonesia yang kini dikenal sebagai Bapak Two-Men Cockpit, Wiweko Soepono. Selain terkenal sebagai pesawat wide-boy pertama di dunia, A300 juga menyandang predikat sebagai ‘pembuat jalan’ dari ETOPS. Baca Juga: Ada Kisah Antara Wiweko Soepono dan Airbus A300B4 Garuda Indonesia Bagi Anda yang belum mengetahui tentang ETOPS, ini merupakan sertifikasi yang dirilis oleh Federal Aviation Administration (FAA) dimana sejatinya pesawat masih bisa  mengudara hanya dengan menggunakan satu mesin saja (semisal satu mesinnya lagi mati karena masalah teknis atau non-teknis). Pesawat ini mulai mengudara untuk pertama kalinya pada 28 Oktober 1972, dan masih terus diproduksi setidaknya sampai tahun 2007 silam. Hingga saat ini, tercatat pesawat A300 sudah diproduksi lebih dari 560 unit dan digunakan oleh sejumlah maskapai. Kendati sudah tidak uzur, namun masih ada beberapa maskapai di luar sana yang mengoperasikan pesawat tua ini. Pada masa kejayaannya dulu, pesawat ini termasuk sebagai pesawat mulfifungsi, dimana beberapa operator tidak hanya menggunakannya untuk mengangkut penumpang, melainkan juga untuk mengangkut kargo, kargo militer, hingga digunakan sebagai pesawat tanker. Nah, seperti yang sudah dijanjikan di atas, berikut adalah maskapai yang masih setia menggunakan Airbus A300, seperti yang dirangkum KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com (20/10). Mahan Air Karena hampir semua Airbus A300 yang masih beroperasi saat ini dioperasikan oleh maskapai penerbangan Iran, agak sulit untuk mendapatkan informasi yang akurat tentang mereka. Meskipun demikian, Mahan Air tercatat sebagai maskapai dengan jumlah Airbus A300 terbesar yang masih beroperasi. Di rentang tahun 2009 hingga 2014, Mahan Air dikabarkan memboyong 11 unit A300 dari Lufthansa, Japan Airlines, dan Kyrgyz Airways. Iran Air Kendati Iran Air tercatat sebagai flag carrier dari Iran, namun jumlah pesawat A300 yang dimiliki oleh maskapai ini tidaklah sebanyak Mahan Air – Iran Air hanya memiliki 35 unit, sedangkan Mahan Air memiliki 46 unit. Kendati kalah dalam jumlah, Iran Air mengoperasikan delapan unit A300 sebagai pesawat kargo. Baca Juga: Wiweko Soepono – Bapak ‘Two-Men Cockpit’ yang Sarat Pengalaman di Dunia Dirgantara Selain dua maskapai di atas, ada juga Qeshm Air, Meraj Airlines, dan Pemerintah Irak yang masih mengoperasikan Airbus A330. Mungkin sebagian dari Anda bingung mengapa hanya maskapai Irak atau Iran saja yang masih mengoperasikan pesawat tua semacam A330. Hal ini lantaran sanksi yang dijatuhkan oleh pihak Amerika Serikat sehingga Iran dan Irak harus berpuas hati dengan hanya mengoperasikan pesawat A300 saja.

Hapuskan Perbedaan Gender, Petugas Wanita JR East Tidak Lagi Mengenakan Rok

Dari beberapa operator kereta di Jepang, East Japan Railway (JR East) adalah operator kereta terbesar yang melayani lusinan jalur padat di Tokyo, termasuk kereta peluru oetsu, Hokuriku, dan Tohoku Shinkansen. Belum lama ini, JR Eeat mengumumkan pembaruan seragam petugasnya, yang unik pembaruan seragam ini menjadi yang pertama dilakukan dalam satu setengah dekade ini, terakhir pembaruan seragam dilakukan JR East pada tahun 2003. Baca juga: Gunakan Bahasa Inggris Sebagai Nama Stasiun, JR East Dipetisikan Warga Tokyo! Dikutip dari soranews24.com (10/10/2019), sebagai permulaan, skema warna seragam utama akan diubah dari abu-abu ke biru tua, warna yang menurut JR East membawa nuansa “martabat tradisional,” dan bekerja dengan baik sesuai visi perusahaan guna menciptakan rasa nyaman bagi para pelanggannya. Pada seragam desain baru nampak masih memiliki sedikit warna abu-abu dengan garis-garis aksen di lengan mereka (dua garis menunjukkan kepala stasiun). Yang unik dari pembaruan desain seragam yaitu dihapuskannya penggunaan rok bagi karyawan wanita, tidak seperti seragam terdahulu, pada seragam terbaru rok telah dihapuskan dan diganti model celana panjang. Dengan mengenakan seragam celana panjang, maka setiap petugas/karyawan wanita kini juga harus mengenakan dasi, mengikuti kostum yang selama ini digunakan pada stelan seragam karyawan pria. Untuk seragam baru ini, karyawam diperbolehkan memilih satu diantara tiga desain seragam.
Seragam lama untuk karyawan/petugas wanita.
Uniknya, JR East merancang seragam “cool biz,” yaitu kostum yang dirancang untuk periode konservasi listrik, yang disebut saat itu temperatur AC kurang sensiif. Untuk jenis seragam yang satu ini, baik petugas pria dan wanita dapat mengenakan kostum tanpa dasi dan kerah kemeja yang tidak perlu dikancingkan. Baca juga: Terus Kembangkan Shinkansen, JR East Uji Coba ALFA-X Pihak JR East menyebut pemberlakuan seragam baru merupakan bagian dari revisi peraturan Reformasi 2027 yang sedang berlangsung dan telah dimulai tahun lalu. Presiden JR East Yuji Fukasawa dalam siaran pers mengakatan, bahwa pembaruan seragam diantaranya dilakukan untuk menyambut Olimpiade Tokyo dan Paralimpiade 2020. Tujuan lain pembaruan seragam ini dimaksudkan untuk menghilangkan perbedaan gender. Di sisi lain, kelompok feminis justru mengkritik kebijakan tersebut, yang menyebut seharusnya manajemen JR East memberikan pilihan bagi petugas wanita, apakah ingin menggunakan celana panjang atau rok.

[Video] Duh! Airbus A320 Nyangkut di Jembatan Jinhe, Cina

Bagaimanca ceritanya ada sebuah pesawat yang nyangkut di bawah jembatan ketika sedang dibawa dengan menggunakan sebuah truk? Ya, pesawat ini sejatinya hendak dirakit menjadi satu kesatuan, namun malang, pesawat berjenis Airbus A320 ini malah tersangkut di sebuah jembatan karena si pengemudi truk tidak memperhitungkan secara matang antara tinggi keseluruhan moda (termasuk tinggi truk dan pesawat) dengan tinggi jembatan. Walhasil, kejadian yang sempat diabadikan dalam bentuk video berdurasi 00.44 detik ini menjadi bahan perbincangan netizen. Baca Juga: Libatkan 1.500 Perusahaan, Inilah Proses Perakitan Airbus A380 Yang Fenomenal Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com (22/10), peristiwa ini sendiri terjadi pada tanggal 13 Oktober 2019 kemarin, di Distrik Daoli, Harbin, Cina – tidak terlalu jauh dari Bandara Internasional Harbin Taiping. Diduga, pesawat yang hendak dirakit ini akan dibawa ke bandara tersebut. Menurut penuturan saksi mata yang berada di sekitar lokasi, truk ini tersangkut di sebuah jembatan bernama Jinhe, dan pengemudi truk tersebut sempat kebingungan untuk keluar dari kondisi tersebut. “Pengemudi truk sempat merenungi nasibnya selama 20 menit, karena truk yang ia kendarai benar-benar tidak bisa bergerak,” ujar salah satu saksi mata. https://www.youtube.com/watch?v=wpc2sOWIZZY Namun setelah mendapatkan ilham, pengemudi truk ini turun dari kendaraannya dan mengurangi tekanan angin dari semua ban truknya. Dengan begitu, ketinggian dari truk akan berkurang dan pesawat yang tengah diangkutnya tersebut bisa lolos dari kolong jembatan. Hingga berita ini diturunkan, baik Jembatan Jinhe maupun fuselage Airbus A320 yang sempat nyangkut tersebut masih menjalani pemeriksaan lebih lanjut guna menemukan kerusakan jika ada. Baca Juga: Masih Bingung Bedakan Boeing 737 dan Airbus A320? Simak Ini Kejadian seperti ini tentu terkesan mustahil terjadi, mengingat seharusnya truk pengangkut fuselage pesawat semacam ini sudah memperhitungkan terlebih dahulu jalur mana yang hendak dilintasi, serta mempertimbangkan kemungkinan kendala yang muncul – seperti halnya apakah truk akan melintasi kolong jembatan atau tidak, dan kemungkinan hambatan perjalanan lainnya.

British Airways Sajikan ‘Makanan Kelinci’ Kepada Penumpang!

Janganlah menaruh ekspektasi tinggi terhadap makanan yang akan Anda semua dapatkan di dalam sebuah penerbangan – atau nantinya Anda akan merasa kecewa jika apa yang didapatkan tidak sejalan lurus dengan apa yang Anda idamkan. Hal inilah yang menimpa salah satu penumpang dari British Airways (BA), dimana ia merasa kesal setelah menerima makanan yang dianggapnya tidak layak disuguhkan kepada penumpang. Kejadian ini sontak menjadi viral setelah sang penumpang meluapkan kekesalannya di media sosial. Baca Juga: Kenali Jenis Makanan Khusus dalam Penerbangan Kisah ini berawal manakala Carolyn, penumpang wanita yang hendak mengudara dari Vancouver mendapati makanannya hanyalah berisikan nasi, tahu, baby corn, dan beberapa iris sayuran lainnya. Carolyn merasa tidak dihargai dengan disuguhi makanan itu, dimana seharusnya ia dan penumpnag lainnya mendapatkan penganan yang jauh lebih layak dan lebih kaya gizi. Saking kesalnya, ia mengatakan bahwa, “kami bukanlah kelinci!” Diwartakan KabarPenumpang.com dari laman birminghammail.co.uk (18/10), Carolyn bahkan sampai menyebutkan bahwa in-flight meal yang disuguhkan British Airways amatlah menyedihkan. “British Airways, ini adalah makanan vegetarian menyedihkan yang menurut kalian cocok untuk disajikan di dalam sebuah penerbangan jarak jauh?” cuit Carolyn di Twitter. “Akankah kalian memakannya? Ada yang mau? Memakan tahu putih, dengan nasi dan baby corn yang berasal dari makanan kaleng,” sambungnya. Sebagai tanggapan pihak maskapai tentang apa yang menimpa salah satu penumpangnya ini, British Airways mengatakan bahwa mereka akan terlebih dahulu mengkonfirmasi kebenaran dari apa yang dicuitkan oleh Carolyn sebelum menindaklanjutinya kepada pihak penyedia catering. “Kami akan pastikan kasus makanan yang menyedihkan ini sampai ke pihak penyedia catering,” balas pihak British Airways. Baca Juga: Singapore Airlines Pertimbangkan Sajian Makanan ‘On Demand’ di Kelas Bisnis Lagi, Carolyn ingin memastikan bahwa British Airways akan segera menindaklanjuti kasus ini kepada pihak catering. “Tolong beri tahu pihak catering bahwa kami (penumpang) bukanlah kelinci. Kami suka makanan yang lezat! Dan kami lebih memilih puding yang ketimbang buah melon sebagai makanan penutup,”