Manufaktur otomobil asal Benua Biru Toyota Motor Europe dan CaetanoBus dikabarkan baru saja meluncurkan bus kota baru yang hadir dengan menggunakan teknologi bahan bakar dari Toyota pada pagelaran Busworld 2019 di Brussels. Pihak Toyota mengatakan bahwa bus bertenaga bahan bakar hidrogen bernama H2.City Gold tersebut akan mulai diproduksi di Portugal pada tahun 2020 mendatang.
Baca Juga: Bus Tingkat Bertenaga Hidrogen Meriahkan Asian Games 2018
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman autocarpro.in (21/10), adapun pihak Toyota Motor Europe dan CaetanoBus telah mengembangkan bus ini sejak tahun 2018 silam, sembari menunjukkan kemampuan adaptasi yang baik dari teknologi bahan bakar hidrogen yang dikembangkan oleh Toyota. Penggunaan bahan bakar hidrogen yang dipasang Toyota pada bagian atap bus ini akan memungkinkan bus menempuh jarak sejauh 400km – tergantung pada siklus pemakaian hingga penggunaan AC).
Toyota menempatkan lima tangki hidrogen di atap kendaraan, dimana kelimanya ini memberikan total kapasitas hidrogen hingga mencapai 37,5kg dan itu akan menjamin pengoperasian bus dari Toyota Motor Europe da CaetanoBus yang bebas emisi dan tentu saja ramah lingkungan – adapun satu-satunya emisi yang dihasilkan oleh H2.City Gold ini adalah uap air. Menurut pihak Toyota, bus ini akan terus dikembangkan dan melakukan serangkaian uji coba sebelum pada akhirnya memasuki masa komersialisasi pada pertengahan tahun 2020 mendatang.
“Sesuai dengan visi kami, dimana kami akan terus mengembangkan kendaraan bebas emisi tidak hanya pada kendaraan penumpang saja, melainkan juga pada kendaraan berbobot besar seperti bus, truk, forklift, dan truk kecil,” ujar salah satu eksekutif yang ada di Toyota Motor Europe.
“CaetanoBus merupakan mitra yang ideal untuk memulai pengembangan kegiatan penjualan powertrain kami di Eropa. Saya berharap dapat menerima umpan balik pasar dari inisiatif ini dan perluasan bisnis pasokan teknologi sel bahan bakar hidrogen kami,” ujar CEO dari Toyota Motor Europe, Dr Johan van Zyl.
Seperti yang sudah diketahui bersama, ini bukanlah kali pertama Toyota Motor Europe bekerja sama dengan CaetanoBus – melainkan hubungan ini sudah terjalin cukup lama, sehingga tidak lah sulit bagi kedua perusahaan ini untuk saling menyatukan visi dan mengembangkan H2.City Gold.
Baca Juga: Palembang Dapat Bantuan Mobil Listrik Hidrogen, Ini Dia Bedanya dengan Mobil Listrik Biasa!
“Kami sudah berhubungan dengan Toyota dalam waktu yang cukup lama, dan dengan hadirnya proyek H2.City Gold ini, diharapkan kota-kota besar yang ada di Eropa bisa kembali memikirkan soal mobilitas di masa yang akan datang yang tidak mengesampingkan kualitas hidup masyarakatnya,” tutur presiden dari Salvador Caetano Industria, Jose Ramos.
Tentu belum hilang dalam ingatan, bagaimana sadisnya penembakan brutal di Christchurch, Selandia Baru yang dilakukan oleh Brenton Tarrant yang diduga mengidap islamofobia. Kejadian yang terjadi pada tangga 15 Maret 2019 ini setidaknya memakan korban jiwa hingga 50 orang dan korban luka hingga 50 orang. Baca Juga:Bandara Munich Gandeng Lufthansa Hadirkan Robot Humanoid Untuk Bantu PenumpangKini kondisi Christchurch sendiri sudah mulai kondusif, malah berangsur membaik, termasuk kembali bersinar sebagai salah satu kota tujuan wisata di Selandia Baru – ini tampak dari Bandara Christchurch yang mulai memperkenalkan teknologi robotika yang siap membantu setiap penumpangnya. Adapun robot humanoid atau yang menyerupai manusia ini juga sejatinya telah digunakan di Bandara Munich, Jerman dan maskapai Eva Air di Bandara Taipei, Taiwan untuk membantu penumpangnya untuk check-in. Adalah Pepper Robot, yang kini kebagian tugas untuk membantu akomodasi penumpang di Bandara Christchurch dikabarkan sudah menjalani uji coba dan satu diantara tiga robot ini sudah mulai beroperasi secara komersial.
“Kami mempertimbangkan apakah sistem robotika mampu bersanding dengan kinerja manusia untuk menangani penumpang atau tidak,” ujar Airport Chief Executive, Malcolm Johns, seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman internationalairportreview.com(14/10).
“Kami tertarik untuk melihat apa yang orang pikirkan dan rasakan tentang berinteraksi dengan robot dan informasi apa yang mereka dapatkan,” sambungnya. Baca Juga: Pepper Robot, Bantu Check In Penumpang Eva AirHadirnya teknologi robotika di bandara tentu akan menjadi penyegar bagi siapapun yang sudah muak tersesat di bandara, atau mereka yang sudah lelah mengantre di konter check-in. Tidak hanya diperuntukkan dalam jangka waktu pendek, para peneliti di luar sana berasumsi bahwa teknologi semacam ini akan berguna bagi bandara hingga 10-20 tahun mendatang – tentu saja dibareng dengan sejumlah upgrade yang akan menambah kegunaan dari robot tersebut. Terhitung sejak tanggal 14 Oktober kemarin, robot Pepper secara resmi beroperasi di Bandara Christchurch mulai Senin sampai Jumat dalam beberapa jam saja.
Bila dalam dunia dirgantara dikenal istilah Air Navigation Charges, yaitu skemayang mengatur tentang arus perjalanan suatu penerbangan di ruang udara negara lain. Persisnya setiap pesawat harus tunduk terhadap arahan dari masing-masing ATC (Air Traffic Control) yang ada di setiap negara ketika melintasinya. Ada juga biaya “service” yang dikenakan kepada setiap penerbangan yang melintasi ruang udara suatu negara. Tapi, bukan hanya pesawat saja yang harus tunduk pada arahan dari ATC, pun halnya dengan kapal laut yang juga harus tunduk pada TSS selama melakukan navigasi pelayaran.
Baca Juga: “Air Navigation Charges,” Biaya Jasa Navigasi ATC Saat Pesawat Melintas di Suatu Negara
Nah, mungkin sebagian dari Anda akan bertanya-tanya, “Apa sih TSS itu? Apakah penting bagi kelautan Indonesia?”
Merujuk pada definisinya, TSS atau Traffic Separation Scheme merupakan sistem rute manajemen lalu lintas maritim yang pengaturannya berada di bawah International Maritime Organization (IMO). Jalur lalu lintas maritim ini menunjukkan arah umum kapal di zona terkait dan semua kapa yang berada di bawah navigasi dari TSS semuanya berlayar ke arah yang sama (beraturan).
Adapun penerapan dari TSS ini akan berdampak pada:
1. Membantu mengurangi dan mengelola lalu lintas di arus lalu lintas yang berlawanan,
2. Membantu pengelolaan kapal yang hendak masuk atau keluar dari area pelabuhan,
3. Arahan tentang jarak aman antar kapal,
4. Menyediakan rute untuk deep draught vessels, dan lain sebagainya.
Selain mengatur tentang arus lalu lintas kapal, TSS ini juga turut memberikan pedoman terkait kapal yang hendak melintas memotong jalur yang sudah ada. Menurut aturan TSS yang ada di laman wikipedia, setidaknya kapal yang hendak melintas ini membuat sudut 90 derajat layanya zebra cross yang ada di jalanan.
Hadirnya skema lalu lintas maritim semacam ini lantaran adanya peningkatan dari jumlah modanya itu sendiri. Jikalau tidak diatur dengan sedemikian rupa, maka tak pelak kekacauan di jalur laut akan siap mengancam. Poin dari hadirnya TSS adalah menjamin keamanan dan keselamatan dalam lalu lintas pelayaran.
Baca Juga: Tahun 2020, Roller Coaster Hadir di Kapal Pesiar Untuk Jelajahi Laut
Saat ini TSS telah hadir di Selat Sunda dan Selat Malaka, mirip dengan Air Navigation Chargers, setiap kapal yang melewat zona TSS juga berkewajiban membayar biaya jasa pelayanan panduan pelayaran, sesuai peraturan, besarnya biaya jasa TSS ditetapkan dari bobot tonase kapal.
Pejabat di Bandara Internasional Sydney dikabarkan telah menerapkan regulasi baru untuk membatalkan visa penumpang jika ditemukan pelanggaran biosekuriti yang serius. Menteri Pertanian Australia, Bridget McKenzie, mengatakan dengan diterapkannya regulasi ini akan menunjukkan bahwa Australia tidak akan mentolerir siapapun yang punya niatan untuk membahayakan lingkungan, industri, ekonomi dan cara hidup mereka.
Baca Juga: Ikuti Tahapan Ini, Proses Check In dan Pemeriksaan Keamanan di Bandara Bakal Mulus
“Ancaman biosekuriti yang dihadapi negara kita adalah nyata dan dapat menghancurkan semua warga Australia,” kata Menteri Bridget, dikutip KabarPenumpang.com dari laman nationalhogfarmer.com (15/10).
“Kami memiliki penyakit signifikan seperti African Swine Fever (demam babi Afrika) di ambang ‘pintu’ kami, dan salah satu cara agar penyakit ini tidak merambah di Australia adalah dengan cara mencegah mereka via pemeriksaan biosekuriti,” sambungnya.
Menter Bridget menambahkan bahwa salah satu kasus pembatalan visa karena ditemukannya masalah biosekuriti adalah salah satu penumpang asal Vietnam kedapatan menyelundupkan 4,5 kg daging babi di dalam kopernya. Dikhawatirkan, penyelundupan daging semacam ini akan membuka jalur bagi African Swine Fewer untuk berkembang di Australia.
“Masuknya penyakit semacam African Swine Fever ini ke Australia tentu akan memukul industri daging babi yang ada di sini, dimana masuknya penyakit ini juga akan mengancam nasib 36.000 pekerja yang bergantung pada mata pencahariannya di sektor ini,” tambah Menteri Bridget.
Meningkatnya pengawasan di garis perbatasan Australia memang terkesan menambah ribet bagi siapapun yang hendak menyambangi negara berjuluk Negeri Kangguru tersebut. Namun jika ditinjau lebih mendalam, hadirnya penambahan regulasi seperti ini akan membawa dampak baik bagi negara terkait, dimana ancaman dari luar – khususnya penyakit akan menjadi sedikit ter-filter dan tidak bisa dengan mudah masuk via jalur udara.
Baca Juga: Ben Gurion, Bandara Paling Aman dengan Standar Keamanan Tertinggi di Dunia
“Memastikan perbatasan yang kuat berarti memastikan sistem biosekuriti yang kuat untuk melindungi reputasi perdagangan internasional kami sebagai pemasok utama makanan yang aman, sehat, dan berkualitas tinggi,” ujar Menteri Bridget.
Ia menambahkan, jika ada penumpang yang terjaring pemberlakuan dari regulasi baru ini, maka si penumpang tersebut akan dicekal untuk masuk ke Australia selama tiga tahun lamanya.
Jika tiada aral melintang, pada Januari 2020, Garuda Indonesia akan memulai fase uji coba drone kargo BZK-005 besutan Beihang, Cina. Dalam periode tiga bulan, hingga Maret 2020, rencananya dua unit drone BZK-005 bakal didatangkan dari Cina untuk fase uji coba, yang kabarnya akan mengambil lokasi di wilayah Nanggroe Aceh Darussalam.
Baca juga: Fokus di Wilayah Sulawesi, Maluku dan Papua, Inilah Tantangan Operasional Drone Kargo Garuda Indonesia
Bagi sebagian orang, muncul pertanyaan, mengapa Garuda Indonesia justru mengakuisisi drone dari Cina? Kepada KabarPenumpang.com, Direktur Kargo dan Pengembangan Garuda Indonesia Muhammad Iqbal dalam diskusi Forum Wartawan Perhubungan (Forwahub) menjelaskan, bahwa sejatinya ada tiga negara yang menjadi survei dan pertimbangan dalam proses akuisisi drone kargo.
“Pertama adalah Amerika Serikat (AS), namun AS tidak memberikan akses atas rencana akuisisi drone jenis ini. Kemudian ada Israel, meski teknologi Israel sangat maju, namun membeli drone dari Israel jelas dapat memicu masalah di dalam negeri. Dan pilihan lantas jatuh kepada Cina, yang memang sudah tergolong maju dalam adopsi teknologi drone,” ujar Muhammad Iqbal yang hari ini (22/10/2019) menjadi pembicara dalam diskusi bertajuk “Menata Drone di Langit Pertiwi: Potensi dan Penerapannya sebagai Angkutan Logistik Udara Nasional” di Jakarta.
Harbin BZK-005. Sumber: Wikipedia
Iqbal menambahkan, sampai saat ini drone (kargo) belum ada yang mencapai tahapan komersial penuh, semua yang beredar di luar negeri juga masih berstatus uji coba. Pun begitu halnya dengan BZK-005 yang masih dalam status menanti sertifikasi dari Civil Aviation Administration of China (CAAC). Untuk itu, uji coba pada Januari 2020 di Aceh juga akan melibatkan asistensi penuh dari pihak manufaktur.
Menurut rencana, implementasi komersial drone kargo BZK-005 akan dimulai pada tahun 2021. Selain sertifikasi kelayakan dari CAAC, sudah barang tentu juga dibutuhkan sertifikasi serupa dari otoritas penerbangan di Indonesia.
Dalam roadmap-nya, Iqbal menjelaskan Garuda Indonesia akan mendatangkan 100 unit drone kargo BZK-005 dan 50 unit drone kargo VTOL (Vertical Take-Off Landing). “Khusus untuk pesanan BZK-005, kami sudah melakukan pembicaraan dengan pihak PT Dirgantara Indonesia, dimana besar harapan nantinya drone ini dapat diproduksi di dalam negeri,” tambah Iqbal.
Dengan beroperasinya drone kargo, Garuda Indonesia memastikan biaya jasa kargo nantinya dapat turun hingga 30 persen. Dalam fase uji coba di Januari 2020, drone BZK-005 akan membawa payload seberat 500 kg, sementara kapasitas kargo maksimal yang dapat digotong mencapai 1.200 kg.
Baca juga: ‘Belanja’ ke Cina, Garuda Indonesia Datangkan Drone Untuk Angkutan Kargo
Di Cina sendiri, BZK-005 sudah berstatus operasional, namun bukan sebagai drone kargo, melainkan sebagai drone intai militer. Bahkan militer Cina mengerahkan drone jenis ini untuk meronda di kawasan Laut Cina Selatan.
Dari spesifikasi, BZK-005 mampu terbang dengan jarak maksimal hingga 1.200 km pada ketinggian 5.000 meter. Adapun, waktu terbang maksimal selama 4–5 jam dengan kecepatan hingga 300 km per jam. Pihak Garuda Indonesia berargumen, BZK-005 hanya butuh panjang landasan 600 meter dan dapat beroperasi di landasan rumput sekalipun.
Udara kota besar yang semakin hari dipenuhi polusi akibat emisi pembuangan dari knalpot kendaraan maupun pabrik, membuat udara tidak sehat. Untuk mengembalikan ini moda transportasi seperti trem memiliki peluang dalam penyeimbangan kualitas udara dan perekonomian suatu daerah serta mengurangi kemacetan.
Baca juga: Hindari Tabrak Motor, Pengemudi Trem ini “Lempar” Beberapa Penumpang
Transport for the North (TfN) bisa menghadirkan trem untuk masuk dalam bagian dari proposal Rail North. Di mana dalam proposal tersebut juga harus menyertakan light rail dan tramways dengan masing-masing moda menyediakan layanan optimal dalam berbagai arus lalu lintas.
Persyaratan penting adalah integrasi penuh moda seperti pertukaran dan tiket yang memungkinkan perjalan tanpa batas ke dan di dalam daerah Barat Laut. Dilansir KabarPenumpang.com dari airqualitynews.com (11/10/2019), trem dan kereta ringan harus membuat komponen penting dari penyediaan transportasi umum terutama untuk terkoneksi di Timur dengan Manchester Metrolink hingga dari West ke Cheshire dan Liverpool.
Nantinya ini akan memenuhi peran yang sama dengan London Underground yang merupakan basis konektivitas dan pertumbuhan yang sangat baik. Bisa dikatakan kereta ringan atau trem merupakan pendatang yang relatif baru di dunia angkutan massal dan berbeda dengan kereta biasa atau bawah tanah yang membutuhkan waktu lama dalam pembangunan serta menghabiskan biaya banyak.
Moda baru ini menggunakan kereta yang fleksibel dibanding kereta konvensional dan memiliki kemampuan mengular di jalanan. Kereta ringan bisa berhenti jauh lebih cepat sehingga bisa beroperasi sesuai mode penglihatan tanpa persyaratan persinyalan utama.
Saat ini UKTram Ultra Light Group menawarkan harga £5 juta per kilometer lintasan termasuk depo, kendaraan dan Trem Coventry yang dipasang saat ini sekitar £3 juta per kilometer lintasan. Trem sendiri dianggap sebagai cara yang efisien untuk memindahkan sejumlah besar orang di kota dengan dua ribu hingga 18 ribu penumpang per jam.
Ini sudah memiliki catatan yang terbukti menarik para pengguna kendaraan pribadi berpindah ke trem di jam sibuk sekitar 27 persen. Trem sendiri merupakan kendaraan listrik yang tidak menghasilkan polisi dan dapat menggunakan listrik hijau yang diproduksi secara lokal dan jalurnya membuat berbagai kawasan dengan pejalan kaki menjadi pilihan yang aman.
Dengan demikian, kawasan pejalan kaki dengan trem dapat menyediakan akses ke area pusat kota di mana bus dan mobil akan mengganggu. Bagian penting dari keberhasilan sistem apa pun adalah demonstrasi bahwa mengubah gaya hidup orang menjauh dari mobil pribadi bermanfaat besar bagi mereka dan lingkungan.
Dalam beberapa situasi, di mana sistem trem konvensional tidak sesuai, light rail menengah dapat dipertimbangkan. Ada beberapa jalur bekas dan ringan digunakan di Salford, Eccles dan Warrington yang harus dimasukkan dalam rencana Rail North mengambil keuntungan dari konstruksi berbiaya rendah yang dikembangkan termasuk TremTrain.
Baca juga: Joint Venture Rusia Kembangkan Trem Otonom Guna Minimalisir Human Error
Kendaraan light rail menengah dapat menjadi TremTrain yang dapat berjalan di jalur kereta utama tetapi memiliki beberapa karakteristik kendaraan light rail. Biasanya, mereka akan memiliki ketinggian permukaan 950 mm untuk memberikan akses level pada platform Railtrack standar dan fleksibilitas untuk platform level jalan, rem track magnetik dan balancing, yang mampu berjalan secara berhadapan, bekerja bersama dengan kereta konvensional dan membebaskan kapasitas di stasiun utama.
Mungkin beberapa dari Anda masih ingat dengan rencana maskapai asal Australia, Qantas yang akan melakoni perjalanan antar benua non-stop terjauh, yaitu dari Sydney menuju New York. Menurut pihak maskapai, penerbangan itu akan memakan waktu selama 20 jam di udara – hampir seharian penuh. Mengingat ini merupakan hal yang cukup ekstrem, maka diperlukan persiapan yang amat matang, tidak hanya dari pilot melainkan juga dari segi penumpangnya.Baca Juga: “Sunrise Project,” Qantas Bakal Sabet Gelar Penerbangan Langsung Terlama di DuniaKesiapan PilotSebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman cnbc.com (18/10), pilot Qantas yang nantinya mengoperasikan rute jarak jauh ini akan terlebih dahulu diambil sampel urinnya dan mengenakan alat pemantau kinerja otak guna menguji tingkat kelelahan. Memang, di udara, pilot akan mengaktifkan sistem auto-pilot untuk menjalankan moda yang mereka kemudikan – namun tetap saja mereka harus tetap memasang fokus selama 20 jam waktu perjalanan untuk berkomunikasi dengan menara pemantau (ATC) hingga mengecek pesawat selama berkalana di angkasa (apakah semua fungsi di pesawat beroperasi secara normal atau tidak).
Kesiapan PenumpangSementara untuk penumpang, sebuah studi yang dilakukan oleh peneliti di University of Sydney Charles Perkins Center yang menyebutkan bahwa dari 500 penumpang yang sudah pernah bepergian dengan Qantas selama lebih dari sembilan jam penerbangan (dalam sekali perjalanan), menemukan bahwa sekitar 54 persen dari mereka akan mengenakan headset untuk mereduksi kebisingan dari mesin, 38 persen meminum alkohol, dan 10 persen sisanya menenggak obat tidur. Namun ini semua dinilai kurang baik untuk dilakukan, mengingat mereka akan mengidap dehidrasi dan memperparah efek jet lag yang dirasakan. Baca Juga: Di Penerbangan Jarak Jauh, Qantas Canangkan Sensasi Bersepeda dan Relaksasi Lewat Virtual RealityPenerbangan Ultra-Long HaulKendati ada banyak hal yang mesti dipersiapkan sebelum terbang bersama The Flying Kangaroo dalam rute penerbangan super jauh ini, namun pihak maskapai telah sukses menghubungkan jarak 16.200km yang terbentang antara Sydney dan New York beberapa hari ke belakang, dimana penerbangan yang total memakan waktu perjalanan 19 jam 16 menit ini memboyong 49 penumpang saja dengan menggunakan Boeing 787-9 Dreamliner. Hal ini diketahui dari unggahan @instagramaviation pada 21 Oktober 2019 di jejaring sosial Instagram.
Sebagian dari Anda mungkin masih ingat dengan Sybil Peacock Harmon, ia adalah pramugari Delta Air Lines yang pertama kali mengudara bersama maskapai asal Amerika Serikat ini pada tahun 1940, kini dikabarkan telah tutup usia. Ya, Sybil meninggal di usianya yang ke 103 tahun – padahal di ulang tahunnya yang ke-102, pihak Delta Air Lines masih merayakan pramugari yang pernah mengabdi selama tiga tahun ini.
Baca Juga: Capai Usia 102 Tahun, Delta Airlines Rayakan Ulang Tahun Pramugari Pertamanya!
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman southernliving.com (16/10), wanita kelahiran Minden, Louisiana, pada 9 Juli 1916 ini sebelumnya sempat mengenyam bangku pendidikan di sekolah keperawatan. Hingga kelak umurnya menyentuh angka 24 tahun, ia ditarik oleh pihak maskapai menjadi salah satu awak kabin pertama dari Delta Air Lines.
“Terbang itu istimewa bagiku karena aku bisa pergi ke berbagai tempat,” ujar Sybil ketika merayakan ulang tahunnya yang ke-102 bersama Delta.
Menjadi pramugari, bagi Sybil pribadi merupakan sebuah kebanggaan yang tidak tertandingi kala itu. Semua orang seolah menganggap mereka adalah seorang pahlawan, terutama anak-anak di bandara yang sampai-sampai bergerombol menghampirinya untuk meminta tanda tangan.
“Anak-anak yang ada di bandara akan berteriak pada kami (pramugari – sebutan awak kabin kala itu), berlari menuju kami, dan meminta tanda tangan. Kami merasa seperti seorang selebriti,” kenang Sybil di ulang tahunnya yang ke-102.
Ketika masih mengabdi kepada Delta Air Lines, Sybil beroperasi di pesawat DC-3 Dakota yang berkapasitas 21 penumpang. Jasa yang telah dilakukan oleh Sybil kepada Delta Air Lines memang tidak bisa dipandang sebelah mata – bahkan pada pihak maskapai masih menganggap Sybil sebagai bagian dari keluarga besar Delta Air Lines.
“Sybil adalah anggota keluarga Delta yang dicintai yang meninggalkan jejaknya sebagai anggota pramugari kelas satu kami, dan kami sangat sedih mendengar kabar bahwa Sybil telah meninggalkan kami semua,” ujar pihak Delta dalam sebuah pernyataan. Baca Juga: Vesna Vulovic – Pramugari Selamat dari Ledakan Pesawat di Ketinggian 10.000 MeterTidak ada yang menyangka bahwa pertemuan pihak Delta Air Lines pada perayaan ulang tahun Sybil yang ke-102 (tahun lalu) merupakan pertemuan terakhir mereka dengan sang awak kabin DC-3. Kendati sudah berpulang, namun pihak maskapai dan keluarga tidak akan pernah melupakan jasa Sybil semasa hidupnya. Selamat jalan, Sybil Peacock Harmon!
Setiap berita yang terkait Boeing 737 NG kini mendapat respon cepat dari netizen, seperti yang terjadi kemarin, Minggu, 20 Oktober 2019 saat momen pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih, diwartakan Boeing 737-800 NG PK-LBY milik Batik Air dengan nomor penerbangan ID-7540 rute Bandar Adisutjipto, Yogyakarta menuju Bandara Halim Perdanakusuma, terpaksa dialihkan pendaratannya ke Bandara Soekarno-Hatta.
Baca juga: Ada Keretakan di Boeing 737 NG, Kembali Ingatkan “Teori Habibie”
Danang Mandala Prihantoro, Corporate Communications Strategic Lion Air Group dalam pesan tertulis menyebutkan, bahwa pilot melakukan persiapan pendaratan sesuai standar operasional prosedur (SOP), namun mendapat informasi dari pengatur lalu lintas udara Bandara Halim Perdanakusma masih terdapat kepadatan di bandara sehingga pesawat harus berputar (holding), lebih dari satu jam.
Lamanya waktu tunggu hingga satu jam tentu membawa konsekuensi tersendiri, dalam memastikan keselamatan dan keamanan penerbangan (safety first), lantas pilot memutuskan untuk melakukan pengalihan pendaratan (divert) ke Bandara Soekarno-Hatta. Keputusan tersebut adalah sudah sesuai prosedur operasional.
Akhirnya, pesawat mendarat secara normal di Bandara Soekarno-Hatta pada pukul 18.55 WIB. Sesaat setelah mendarat dan posisi pesawat sudah sempurna di landas parkir, seluruh tamu diarahkan dan dibawa menuju ruang tunggu keberangkatan, guna mendapatkan informasi lebih lanjut.
Sesuai dengan prosedur setiap pesawat yang akan diterbangkan kembali adalah kewajiban pilot yang akan menerbangkannnya untuk melakukan pengecekan penggantian salah satu ban pesawat yang diluar jadwal penggantian dan membutuhkan pengerjaan kurang lebih 30 menit. Keputusan tersebut dilakukan untuk memastikan keamanan dan keselematan penerbangan selanjutnya.
Baca juga: Boeing 737 NG Garuda dan Sriwijaya Air ‘Terjangkit’ Crack, Kemenhub Siap Gelar Inspeksi
Kemudian Boeing 737-800 NG registrasi PK-LBY diterbangkan ke Halim Perdanakusuma pukul 20.45 WIB, tanpa membawa tamu. Lamanya waktu tunggu di Bandara Halim Perdanakusuma pada 20 Oktober kemarin diduga karena padatnya lalu lintas penerbangan tamu-tamu negara dan VVIP yang turut menghadiri Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden.
PT Angkasa Pura I selaku pengelola Bandara Ahmad Yani menghadirkan ruang multisensori pertama di bandara di Indonesia dan bahkan di Asia Pasifik. Fasilitas yang disediakan untuk anak berkebutuhan khusus utamanya autisme merupakan terobosan dan inovasi dari untuk memberikan pelayanan terbaik kepada seluruh pengguna jasa bandara, tidak terkecuali bagi penumpang berkebutuhan khusus.
Baca juga: Aplikasi “Access Houston Airports,” Bantu Penumpang dengan Anak Cacat dan Autisme
Fasilitas serupa ruang multisensori ini setidaknya ada di enam bandara utama Eropa dan Amerika, seperti di Heathrow International Airport (Inggris), Shannon International Airport (Irlandia), Pittshburg International Airport (Rusia), Hartsfield-Jackson Atlanta International Airport (AS), Lehigh Valley International Airport (AS), dan Birmingham-Shuttlesworth International Airport (AS).
“Hadirnya ruang multisensori ini merupakan salah satu komitmen kami dalam memberikan suatu pengalaman yang bernilai kepada seluruh pengguna jasa, tak terkecuali kepada penumpang yang memiliki anak dengan autisme agar dapat merasa tenang, aman, dan nyaman sebelum berpergian dengan pesawat udara, khususnya di tengah situasi bandara yang sibuk,” ujar Direktur Utama Angkasa Pura I Faik Fahmi dalam siaran pers (21/10/2019).
Ruang multisensori ini didesain agar dapat memberikan stimuli yang menenangkan, mengatasi ketegangan, dan mengurangi perilaku temper tantrum pada anak dengan autisme. Ruangan ini memiliki 2 tipe kegunaan dengan mengubahnya menjadi ruangan putih (white room) dan ruangan gelap (black room). White room berguna untuk menciptakan rasa aman, santai, dan memberikan sensasi nyaman kepada anak dengan autisme. Sementara black room berguna untuk memfasilitasi pemahaman anak dengan autisme terhadap lingkungan sekitar dan pemahaman mengenai hubungan sebab-akibat.
Memiliki luas 3,6 x 10 meter, ruang multisensori terletak di area ruang tunggu keberangkatan domestik Bandara Jenderal Ahmad Yani. Berbagai fasilitas seperti matras pada lantai dan dinding ruangan, bola gym, bean bag, aqua tube (tabung gelembung akuatik), lampu LED yang bisa berubah warna, laser finger, papan vestibular, dan lain-lain tersedia di dalamnya.
Baca juga: Bawa Anak Autis Dalam Penerbangan? Ini Dia Tipsnya!
“Kami berharap keberadaan ruang multisensori ini dapat digunakan sebaik mungkin dan memberikan banyak manfaat bagi pengguna jasa, khususnya orang tua yang bepergian bersama anak dengan autisme. Ke depan, kami berencana menghadirkan ruang multisensori ini di seluruh bandara yang kami kelola,” jelas Faik Fahmi.