Setiap negara memiliki pembatasan barang yang dibawa masuk melalui bandara. Ketika barang-barang tersebut tidak sesuai maka pihak bea cukai bisa saja mengamankannya dan memasukkan ke karantina untuk pemeriksaan lebih lanjut. Apalagi jika barang-barang tersebut tidak dilengkapi dengan surat izin.
Baca juga: Per Agustus 2019, Bea Cukai Arab Saudi Sita Produk Tembakau yang Tidak Memiliki Stempel PajakKabarPenumpang.com melansir dari laman nationalhogfarmer.com (23/9/2019), spesialis pertanian Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan Amerika Serikat atau CBP (Customs and Border Protection) dari Bandara Internasional Dallas-Forth Worth baru-baru ini menemukan berbagai produk tanaman dan hewan yang dilarang ada dalam bagasi terdaftar penumpang. Produk tanaman dan hewan ini dibawa seorang penumpang yang melakukan perjalanan dari Vietnam melalui Korea Selatan.
Penumpang tersebut kemudian tiba di Bandara DFW pada 9 September 2019 kemarin dan barang bawaannya diamankan oleh spesialis pertanian CBP untuk dilakukan pemeriksaan lanjutan. Pada awalnya penumpang tersebut menyatakan dirinya tidak membawa barang yang dilarang itu.
Namun ternyata ketika inspeksi, spesialis pertanian CBP menemukan beberapa barang terlarang termasuk tiga jeruk Vietnam (Cam Sanhn), kerupuk nasi dengan babi suwir kering, 2,2 pon kue bulan dengan isian daging babi dan 3,5 pon umbi bawang.
“Spesialis pertanian CBP adalah garis pertama dalam upaya untuk mencegah barang-barang terlarang memasuki Amerika Serikat dan merusak tanaman dan hewan. Penumpang diberikan banyak kesempatan untuk memberikan deklarasi yang benar. Ketika mereka gagal melakukannya, mereka membahayakan industri pertanian Amerika Serikat,” kata Direktur Pelabuhan Bertindak Daerah Timothy Johnson.
Dia mengatakan, jeruk negara lain dapat membawa penyakit tanaman dan olahan babi dapat diserang penyakit hewan asing seperti demam babi Afrika yang dapat membahayakan sumber daya pertanian Amerika Serikat. Karena hal ini, penumpang tersebut di denda US$300 atau sekitar Rp4,2 juta karena gagal mengungkapkan barang bawaannya.
Baca juga: Agar Barang Bawaan Tak Kena Denda, Cermati Ketentuan dari Bea Cukai di Bandara!
Diketahui, pada hari-hari biasa di tahun fiskal 2018, spesialis pertanian CBP menemukan adanya 319 hama di bandara masuk Amerika Serikat dan 4552 bahan yang akan dikarantina seperti tanaman, daging, produk sampingan hewan dan tanah.
Grab yang merupakan superapp di Asia Tenggara melakukan kerja sama dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI) dalam layanan pengiriman paket on-demand miliknya yakni GrabExpress dengan Rail Express. Adanya kemitraan strategis ini juga merupakan komitmen GrabExpress untuk terus memberdayakan bisnis skala kecil dan UMKM di Indonesia.
Baca juga: Pakai GrabWheels Jangan Lupa Scan Kode QR Setelah Selesai Kalau Tak Mau Didenda Rp300 RibuKabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, Direktur Utama PT KAI Edi Sukmoro mengatakan melalui kerja sama strategis dengan Grab, pihaknya berharap dapat membuka lebih banyak akses kepada pelanggan dan masyarakat Indonesia melalui jenis layanan pengiriman barang antarkota yang andal, mudah serta didukung dengan teknologi tinggi.
Diketahui, GrabExpress juga telah meluncurkan berbagai fitur antara lain bukti pengiriman dan pelacakan langsung untuk memantau proses pengiriman melalui pelacakan lokasi kurir serta mendapat bukti pengiriman barang melalui foto yang akan diambil kurir pada saat pengambilan dan penerimaan barang. Fitur Kirim ke Banyak Tujuan dan Banyak Pemesanan Sekaligus juga membantu pengguna melakukan pengiriman hingga ke 50 alamat berbeda dalam satu waktu.
Sementara itu, layanan pengiriman antarkota Grab Rail Express ke depannya akan mencakup pelayanan first and last mile dan akan diluncurkan secara bertahap. Pada fase awal operasional layanan first mile Grab Rail Express akan tersedia dalam layanan dua roda dan pengiriman berasal dari Jakarta ke kota lainnya.
Managing Director Grab Indonesia Neneng Goenadi mengatakan, pihaknya senang dapat berkolaborasi dengan KAI dalam menghadirkan layanan pengiriman barang first mile yang terintegrasi dan mudah dalam satu aplikasi.
“Tidak hanya memanjakan pelanggan individu, layanan Grab Rail Express juga dapat membantu bisnis kecil dan komunitas sosial seller Tanah Air sehingga semakin sukses dalam menjalankan bisnisnya sejalan dengan komitmen Grab for Good lewat pemberdayaan wirausahawan mikro dan bisnis skala kecil,” ujar Neneng.
Layanan GrabExpress saat ini tersedia di 150 kota di Indonesia, jumlah pengiriman harian menggunakan GrabExpress meningkat yang lebih dari 50 persen pengguna GrabExpress merupakan wirausahawan mikro. Dengan armada GrabBike dengan jumlah terbanyak di Indonesia, lebih dari 90 persen pemesanan GrabExpress dalam satu tahun terakhir dapat diselesaikan sesuai dengan estimasi waktu pengiriman yang dijanjikan.
Baca juga: Grab Targetkan 50 GrabKitchen Hingga Akhir 2019 di Seluruh Indonesia
“Kami berharap kerja sama GrabExpress dan KAI dapat membantu meningkatkan pertumbuhan. Tidak hanya wirausahawan mikro, tetapi juga mitra pengemudi dan pelanggan. Sejalan dengan misi pemanfaatan teknologi untuk kebaikan Grab, kami juga berharap dapat menciptakan lebih banyak lagi lapangan pekerjaan dan peluang bisnis bagi jutaan UMKM di Indonesia. Harapannya, dapat membantu Indonesia memperkuat ekonomi digital di Asia Tenggara,” kata Neneng.
Kabar mengejutkan datang dari Pulau Dewata, dimana maskapai asal Timur Tengah, Emirates dengan nomor penerbangan EK450 yang melayani rute penerbangan Dubai – Auckland via Bali melakukan pendaratan darurat di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali pada Selasa (1/9) kemarin sekira pukul 15.07 WITA. Diwartakan, Emirates EK450 yang menggunakan Boeing 777-300ER ini mengalami Clear Air Turbulence (CAT) ketika pesawat berada di ketinggian 35.000 kaki (10.668 meter) dan berada di atas Singapura.
Baca Juga: Terlihat Cantik, Ternyata Awan-Awan Ini Berbahaya
Menanggapi hal ini, Humas Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali Arie Ahsan mengkonfirmasi kebenaran dari kejadian ini. Arie mengatakan, bahwa kapten penerbangan EK450 meminta first priority landing di bandara berkode DPS tersebut.
“Akibat insiden ini, 11 dari 326 penumpang mengalami cidera dan langsung mendapatkan penanganan medis,” terang Arie, dikutip KabarPenumpang.com dari laman bisnis.com (1/10).
“Lima ada di KKP, dua dirujuk ke Rumah Sakit BIMC Kuta, dan empat lainnya hanya mengalami cidera ringan,” tandasnya.
Ketika pesawat sudah berada di darat, ground handling Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai dan teknisi dari Emirates langsung memeriksa kondisi pesawat semisal ada kerusakan atau hal lain yang menghambat penerbangan selanjutnya.
“Untuk para penumpang dengan tujuan Denpasar – Auckland sempat mengalami keterlambatan karena ada beberapa pengecekan dan pembersihan di dalam pesawat oleh teknisi pesawat tersebut. Namun semua sudah diberangkatkan tadi sore dengan menggunakan pesawat yang sama sekira pukul 19.34 WITA ke Auckland,” katanya.
Clear Air Turbulence
Hingga saat ini, urusan turbulensi di dunia penerbangan memang masih menjadi momok yang menakutkan – tidak hanya bagi para penumpang, melainkan juga kepada para penerbang. Secara umum, ada beberapa jenis turbulensi yang lumrah terjadi di sektor kedirgantaraan. Namun untuk mempermudah pemahaman, turbulensi terbagi menjadi dua: ada yang bisa terdeteksi oleh radar, dan ada yang tidak.
Turbulensi yang bisa terdeteksi oleh radar merupakan turbulensi yang biasa Anda rasakan di dalam pesawat setelah kapten mengumumkan bahwa penerbangan memasuki cuaca buruk. Umumnya, turbulensi ini juga dapat diprediksi mengingat gumpalan awan yang terdeteksi oleh radar dan penglihatan pilot.
Sementara itu, turbluensi yang tidak terdeteksi oleh radar dan penglihatan pilot seperti CAT ini lah yang mengerikan, dimana pilot seolah dikejutkan oleh guncangan di dalam pesawat tanpa adanya ‘pemberitahuan’ terlebih dahulu.
Ada beberapa faktor yang dipercaya para ahli dapat meningkatkan terjadinya Clear Air Turbulence, seperti aliran jet, gradien suhu di udara, angin yang berhembus secara tiba-tiba (wind shear), mountain waves, hingga gravity wave wind shear.
Baca Juga: Terjadi Turbulensi? Tetap Tenang dan Jangan Panik
Nah, jika di dalam suatu penerbangan mengalami Clear Air Turbulence, adapaun tindakan yang harus dilakukan pilot melingkupi:
1. Mempertahankan kecepatan yang disarankan ketika melintasi turbulensi,
2. Mengubah ketinggian atau arah penerbangan,
3. Mengamati termometer untuk mengetahui posisi pesawat, apakah berada di atas atau di bawah aliran Clear Air Turbulence (hanya jika Clear Air Turbulence datang dari satu arah), dan mengarahkan pesawat jauh dari tropopause (lapisan yang membatasi troposfer dan stratosfer), dan
4. Mengeluarkan Pilot Report (PIREP), yang mencakup posisi pesawat (termasuk koordinat dan ketinggian), dan tingkat keparahan turbulensi. Hal ini ditujukan untuk memberitahu pesawat lain bahwa di lokasi tersebut ada Clear Air Turbulence.
Bepergian dengan menggunakan pesawat agaknya sudah menjadi hal lumrah bagi sebagian kalangan. Utamanya adalah, bepergian dengan menggunakan pesawat biasanya diidentikkan dengan mereka yang ingin menghemat waktu perjalanan ketimbang perjalanan darat. Namun bagi anda yang sudah kadung menambatkan hati pada si burung besi ini, tahukah Anda tentang sejarah di balik dunia penerbangan global? Atau jika pertanyaannya dipersempit, “tahukah Anda siapa maskapai tertua yang ada di dunia?”
Baca Juga: Ternyata, Jakarta Merupakan Destinasi Penerbangan Antar Benua Perdana KLM!
Bagi Anda yang tidak tahu jawaban dari pertanyaan di atas, predikat maskapai tertua yang ada di dunia disandang oleh Koninklijke Luchtvaart Maatschappij atau yang biasa disingkat KLM Royal Dutch Airlines.
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman worldatlas.com, flag carrier dari Negeri Oranye ini akan berulang tahun yang ke-100 pada tanggal 7 Oktober mendatang. Pukul mundur ke satu abad yang lalu, delapan pebisnis asal Belanda termasuk Frits Fentener van Vlissingen mendirikan Koninklijke Luchtvaart Maatschappij dan tercatat sebagai maskapai komersial perdana di dunia.
Lalu pada 17 Mei 1920, KLM pertama kali mengoperasikan penerbangan penumpangnya dari Croydon Airport yang berada di Inggris menuju Belanda dengan menggunakan pesawat De Haviland berjenis DH-16. Adapun penerbangan bersejarah itu mengangkut beberapa wartawan koran asal Tanah Britania. Setelah itu, di akhir tahun 1920, pihak maskapai mencatat telah menerbangkan 440 penumpang dengan total kargo 22 ton. Sebuah pencapaian yang luar biasa kala itu!
Menyusul KLM yang bercokol di peringkat pertama, predikat maskapai tertua kedua di dunia disandang oleh Avianca, maskapai nasional Kolombia. Tercatat, maskapai ini didirikan pada tanggal 5 Desember 1919 – hanya berselang beberapa bulan dari KLM. Di fase awal pendiriannya, maskapai ini menggunakan nama Sociedad Colombo-Alemana de Transportes Aéreos atau SCADTA.
Baca Juga: Ternyata, Qantas Airways Itu Merupakan Singkatan dari…
Lalu untuk peraih medali perunggu, maskapai tertua ketiga di sektor aviasi global diraih oleh The Flying Kangaroo, Qantas. Maskapai asal Australia ini didirikan di Winton, Queensland pada 20 November 1920. Bagi Anda yang belum tahu, Qantas merupakan akronim dari Queensland and Northern Territory Aerial Services.
Jadi, Anda semua sudah tahu ‘kan jawaban dari, “Siapakah maskapai tertua yang ada di dunia?”
Apa yang akan Anda lakukan jika salah satu barang bawaan Anda tertinggal di rumah? Walaupun agak kesal karena harus kembali lagi untuk mengambil barang terkait, namun setidaknya ini masih bisa dilakukan oleh Anda sendiri. Namun apa jadinya jika barang bawaan Anda tertinggal di tarmac dan kru maskapai seolah tidak memperdulikan itu semua? Dapatkah Anda membayangkan bepergian ke satu destinasi tanpa membawa pakaian ganti karena tertinggal di kota awal? Wah, tentu ini akan menjadi masalah tersendiri, ya!
Baca Juga: Koper Anda Hilang atau Tertukar? Baggage Claim Jadi Solusinya
Ya, skema kejadian di atas rupanya dialami oleh salah seorang penumpang maskapai kenamaan asal Jerman, Lufthansa – dimana penumpang yang bernama Karn Rateria melihat dengan jelas kopernya tertinggal di tarmac dan reaksi awak kabin ketika mendengar laporan dari Karn seolan acuh tak acuh.
Sebagaimana yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman indiatimes.com, kejadian ini sendiri terjadi di penghujung bulan September 2019, dimana Karn hendak mengudara dari Munich menuju Manchester. Proses boarding awalnya berjalan lancar, hingga pada saat pesawat siap untuk melakukan taxi menuju landas pacu, Karn menyadari ada suatu hal aneh yang ia lihat dari tarmac. Dari dalam pesawat, ia dapat melihat dengan jelas bahwa koper yang ia bawa tidak ikut serta di dalam penerbangan tersebut dan tertinggal begitu saja di tarmac.
Sadar bahwa kopernya tertinggal di tarmac, Karn langsung melaporkan apa yang ia lihat kepada awak kabin. Namun tanggapan dari awak kabin tersebut sangatlah ketus, dimana ia mengatakan bahwa, “semua proses loading bagasi penumpang telah selesai dilakukan,”
Tentu saja tanggapan ini menyulut emosi dari Karn dan mengatakan bahwa, “saya dapat melihat dengan jelas bahwa koper saya masih tertinggal di tarmac,”
Seolah tidak mengindahkan keluhan Karn, awak kabin yang identitasnya disamarkan ini tidak melaporkan apa-apa kepada kapten penerbangan seolah tidak ada yang terjadi, dan pesawat tinggal landas dengan kondisi koper Karn masih berada di tarmac. Sebagai bukti bahwa Karn tidka mengigau, ia langsung berinisiatif untuk mengambil ponselnya dan memotret kopernya yang tertinggal di aspal bandara tersebut.
UPDATE – GOT THE BAG!
Thanks to everyone who messaged with support. To the people who laughed, I shall join you once I’m unpacked.
Anyway, happy to be reunited with my it. Hope none of you have to watch your bag being left behind and not be able to do anything about it. pic.twitter.com/u3JK9oD1eg
Bertujuan untuk menegur pihak Lufthansa via jejaring sosial Twitter, Karn lalu mengunggah foto kopernya tersebut dengan keterangan, “Uhm @lufthansa kalian telah meninggalkan koper saya di tarmac! Saya sudah menghubungi kru penerbangan namun mereka mengatakan bahwa proses loading sudah selesai. Dan kami tinggal landas dengan kondisi koper saya masih berada di tarmac. Apa-apaan ini?!”
Baca Juga: Global Locator, Alat Pelacak Posisi Bagasi Dalam Penerbangan
Orang-orang yang melihat cuitan dari Karn ini sontak membalasnya dengan tanggapan yang beragam – mulai dari yang menaruh simpati, hingga yang menjadikan momen ini sebagai lelucon. Tak lama berselang, pihak Lufthansa membalas unggahan Karn tadi dengan jawaban yang tidak nyambung sama sekali.
“Kami sangat menyesal atas kejadian ini. Ada pemadaman sistem bagasi di Bandara Frankfurt. Tim kami akan melakukan yang terbaik guna menemukan tas Anda dan mengantarkannya secepat mungkin. /Sam,” balas Lufthansa.
Jawaban yang tidak relevan dari Lufthansa tersebut sontak membuat jagad Twitter ramai membicarakan unggahan Karn yang di-upload pada 29 September. Hingga berita ini diturunkan, cuitan Karn tersebut mengundang 101 komentar dari netizen dan beruntung, koper Karn tersebut sudah kembali kepada empunya pada tanggal 1 Oktober.
Kabar mengejutkan datang dari sektor kedirgantaraan internasional, dimana Thomas Cook Group terpaksa gulung tikar setelah 179 tahun berkecimpung di dalamnya. Tentu saja, hal ini tidak melulu meninggalkan kekesalan bagi para penumpang yang gagal mengudara, namun juga bagi siapa saja yang pernah mengudara – atau mereka yang merupakan bagian dari Thomas Cook Group itu sendiri. Kira-kira, bagaimana bentuk emosional yang coba diungkapkan oleh mereka yang kadung cinta terhadap Thomas Cook Group?
Baca Juga: Thomas Cook, Travel Agent Tertua di Dunia yang Kini ‘Tutup Usia’
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman news.com.au, seorang awak kabin Thomas Cook Airlines yang tengah berada dalam perjalanan dari Cancun menuju Manchester tak kuasa menahan emosinya. Diketahui, penerbangan ini merupakan penerbangan Thomas Cook Airlines terakhir menuju Inggris.
Pada kesempatan itu, sang awak kabin yang menggunakan sistem komunikasi dalam kabin mulanya meminta maaf atas keterlambatan penerbangan yang terjadi. Tak lama berselang, suaranya mulai parau dan di situlah menjadi momen awal pecahnya emosi sang awak kabin.
“Karena mungkin beberapa dari Anda sadar, bahkan beberapa dari Anda mulai mengeluarkan ponsel Anda (guna mengabadikan momen ini),” ujar sang awak kabin.
Sadar bahwa situasinya mulai mengharu biru, beberapa penumpang mulai menyemangatinya agar awak kabin ini bisa terus tabah dan kuat.
“Pada kesempatan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada penumpang yang telah mempercayakan Thomas Cook Airlines, dan kepada Anda juga yang baru terbang bersama kami,” ujarnya dengan nada yang sedikit gemetar.
“Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh kru penerbang yang telah bekerja secara profesional … Kami harap Anda menikmati penerbangan Anda dengan Thomas Cook, dan Anda adalah orang terakhir yang berada di pesawat ini. Jadi diharapkan Anda dapat menikmati penerbangan ini. Terima kasih.” sambungnya.
Baca Juga: Singapore Airlines Pertimbangkan Sajian Makanan ‘On Demand’ di Kelas Bisnis
Sontak setelah alat komunikasi dimatikan, sorak sorai tepuk tangan penumpang seolah menutup pidato singkat awak kabin yang sudah mengabdi kepada Thomas Cook selama 25 tahun. Sungguh momen yang sangat mengharukan.
Sebagaimana yang sudah diketahui bersama, Thomas Cook Group terpaksa gulung tikar setelah perusahaan tidak bisa mendapatkan dana sejumlah US$368 juta yang dibatasi oleh pemberi pinjaman pada akhir minggu kemarin.
Tertunda penerbangan selama dua jam di dalam pesawat bukanlah hal yang diinginkan semua penumpang. Apalagi ketika tertunda, penumpang sudah dalam kondisi kebelet pipis dan tidak diperbolehkan ke toilet pesawat oleh awak kabin.
Baca juga: Bila Ada Penumpang Pipis di Kursi, Inilah Prosedur Penanganan dari Awak Kabin!
Bulan lalu dalam penerbangan Air Canada dari Bogota (Kolombia) ke Toronto (Kanada) yang tertunda dua jam (pesawat masih di tarmac), seorang penumpang wanita ternyata kebelet pipis. Saat itu, dia sudah mengatakan kepada awak kabin dan memohon untuk menggunakan toilet tetapi di tolak.
“Saya bertanya empat kali selama dua jam, apakah saya bisa menggunakan toilet dan mengatakan kepada anggota awak kabin bahwa itu adalah keadaan darurat dan saya akan mengalami ‘kecelakaan’ jika mereka tidak membiarkan saya menggunakan toilet,” kata wanita itu yang dikutip KabarPenumpang.com dari thesun.co.uk (30/9/2019).
Dia mengaku disuruh kembali ke kursi serta tidak diberi akses ke toilet sama sekali dan akhirnya pipis di kursi penumpang. Dia harus merasakan duduk di atas pipisnya sendiri selama tujuh jam penerbangan dan mengatakan benar-benar terhina karena diabaikan oleh awak kabin selama sisa perjalanan tersebut.
“Ketika saya meninggalkan pesawat, saya mencari anggota kru yang berbeda yang telah saya minta untuk menggunakan toilet agar mereka tahu betapa jijiknya saya tentang cara mereka memperlakukan saya, tetapi mereka telah bersembunyi dengan pengecut di belakang pesawat,” kata wanita tersebut.
Setelah mendarat dan tiba di Toronto, wanita tersebut terpaksa membayar hotel hanya untuk membersihkan dirinya dari basahnya air pipis selama penerbangan. Tak hanya itu, dia pun mengeluh kepada maskapai karena mengetahui adanya penumpang lain yang diizinkan menggunakan toilet saat penundaan.
Adanya hal ini, Air Canada mengaku menawarkan voucher penerbangan sekitar £300 sebagai kompensasi tetapi itu ditolak karena dia tidak akan menggunakannya setelah apa yang terjadi.
Baca juga: Wadaw! Gara-Gara Pipis di Botol, Alat Kelamin Pria Ini Tersangkut
“Saya kira itu tidak cukup baik sehingga awak kabin dapat lolos dan tidak cukup baik sehingga saya diberi kompensasi dengan voucher yang hanya bisa saya gunakan di Air Canada dan bukan mitra mereka, jadi saya tidak akan pernah menggunakannya,” kata dia.
Bila di Indonesia ada KRL Jabodetabek, maka di kota terbesar di Australia, Sydney, juga ada kereta komuter Sydney Trains. Seperti halnya KRL Jabodetabek, Sydney Trains yang berhenti di setiap stasiun tidak dilengkapi fasilitas toilet. Namun baru-baru ini ada yang merusak label Sydney Trains yang dikenal sebagai kereta komuter bersih nan modern. Persisnya ada seorang penumpang yang berani pipis di pojokan gerbong double decker Sydney Trains.
Baca juga: Pipis di Kereta Komuter, Wanita Asal Selandia Baru Terpaksa Menahan Malu
Belum diketahui persis, apakah si penumpang ini dalam kondisi mabuk atau mungkin sakit jiwa. Perilaku tersebut berhasil di-videokan oleh Jordy Lee dan mengunggahnya ke akun Facebook miliknya. Saat itu kereta berangkat dari Stasiun Werrington menuju ke Kingswood pada pukul 08.30 pagi waktu setempat.
(news.com.au)KabarPenumpang.com melansir dari laman news.com.au (27/9/209), Jordy mengunggahnya dengan caption, “Share babi ini. Ia melakukan (pipis) di depan anak-anak dalam perjalanan ke sekolah pagi ini.”
Rekaman tersebut memperlihatkan seorang penumpang laki-laki berusia sekitar awal 20 tahun bersandar pada tiang dekat pintu kereta. Kemudian pria itu melepaskan hasrat pipisnya ke lantai kereta yang tengah berjalan. Selesai merekam video tersebut, ibu tersebut memberitahu di akun Facebook-nya bahwa dia merasa jijik melihat kejadian itu.
“Saya sangat terkejut bahwa ini terjadi pada jam sibuk di hari Jumat pagi (26/9) di depan anak-anak yang akan berangkat ke sekolah. Ini hal yang benar-benar menjijikkan untuk dilakukan. Anjing saya bahkan tidak akan melakukan itu,” kata dia.
Anak-anak lantas melihat pria itu berbaring di kursi ketika mereka duduk. Kemudian selama perjalanan dia terbangun dan mulai buang air, bahkan setelahnya dia kembali duduk di kursi dan tertidur lagi. Postingan video tersebut ramai dikomentari oleh warga net di Sydney.
“Apa binatang!” kata seorang warganet.
Yang lainnya mengatakan, ini benar-benar menjijikkan. Seorang juru bicara Sydney Trains mengatakan, bahwa penumpang harus segera melapor jika hal ini terjadi.
“Sydney Trains mendorong penumpang untuk tetap sopan kepada orang lain saat bepergian di jaringan kami. Insiden seperti ini jarang terjadi, namun kami mendorong penumpang yang menyaksikan perilaku seperti ini untuk segera melaporkannya ke Train Guard atau staf stasiun,” ujar juru bicara itu.
Dia menambahkan petugas transportasi melakukan pemeriksaan di seluruh jaringan dan memiliki kekuatan untuk mengeluarkan pemberitahuan, penalti dan peringatan ketika penumpang melakukan pelanggaran.
Baca juga: Pipis Dilorong Kabin, Pria Mabuk Ini Viral di Media
“Kami juga bekerja erat dengan Komando Transportasi Polisi NSW, yang bertanggung jawab untuk pencegahan kejahatan di seluruh jaringan kereta api. Hanya polisi yang memiliki kekuatan, pelatihan, dan sumber daya untuk merespons kejahatan secara efektif. Perilaku ofensif dapat dikenakan denda antara $400 dan $1100,” ujar juru bicara Sydney Trains.
Dalam setiap penerbangan, secara sadar Anda akan kehilangan semua batasan fisik. Sebab Anda akan berbagi sandaran tangan, ruang kaki kecil hingga pundak yang tiba-tiba menjadi sandaran penumpang tidur. Adanya hal ini kemudian, penumpang akan mencari kebebasan lain untuk mendapatkan kenyamanan dalam hal kecil seperti pemandangan dari jendela atau lorong kabin.
Baca juga:Saat Take Off and Landing, Penutup Jendela Pesawat Wajib Dibuka, Inilah Sebabnya!
Baru-baru ini seorang redaktur pelaksana lifehacker.com.au bernama Virgina Smith harus kehilangan hak istimewanya ketika penumpang di kursi sebelahnya menutup tirai jendela saat akan mendarat. Apalagi penumpang yang duduk dekat jendela seperti memiliki ‘kuasa’ tersendiri untuk membuka dan menutup jendela ketika dalam penerbangan.
Sehingga banyak penumpang yang disebelah terkadang gusar karena ketika ingin menikmati pemandangan justru harus melihat tirai penutup jendela dan bahkan terkadang penumpang yang duduk dekat jendela pun tidak mau mendengar penumpang yang ada di sebelahnya.
Dilansir dari lifehacker.com.au (30/9/2019) oleh KabarPenumpang.com, masalah tirai jendela ini menjadi kontroversial bahkan Wall Street Journal dan New York Magazine telah memihak dengan keputusan terkait tirai jendela dan ternyata tidak semua orang setuju akan hal ini.
“Tirai penutup jendela maskapai harus selalu ditutup kecuali saat lepas landas atau mendarat,” kata Michael Barbaro dari New York Times di akun Twitter-nya.
Namun, masalah yang dialami Virginia ini adalah penumpang yang menutup tirai jendela ketika pendaratan akan terjadi. Di mana pilot mengumumkan bahwa akan mendaratkan pesawat dan awak kabin meminta untuk penumpang membuka penutup jendela mereka.
Dibukanya tirai jendela ini juga memberikan gerak pandang penumpang yang gugup agar lebih nyaman dan mengurangi rasa itu. Selain itu penumpang juga bisa melihat pemandangan bandara sekitar tempat mereka akan mendarat.
Alasan lain dibukanya tirai jendela adalah untuk keselamatan penumpang, dimana ketika kasus darurat pesawat, ada 90 detik waktu yang digunakan untuk melakukan evakuasi dan awak kabin harus melihat kondisi diluar pesawat. Alasan berikutnya menyesuaikan diri dengan kondisi cahaya rendah sebelum terjadi insiden yang tidak baik, ada kemungkinan Anda akan memiliki kapasitas visual seribu kali lebih baik dibandingkan bila tiba-tiba berada dalam kegelapan.
Baca juga: Berkat Lubang Kecil Ini, Jendela Pesawat Dipastikan Bebas Kabut
Tetapi, ada dua pengecualian, jika ini adalah penerbangan awal dan penumpang tidur, penumpang kursi dekat jendela harus benar-benar menutup tirai, terlepas dari preferensi mereka dan sebaliknya ketika mendarat.
Selain pemberitaan tentang Thomas Cook Group yang terpaksa gulung tikar setelah lebih dari satu abad melayani para pelancong yang hendak traveling, sebelumnya mungkin isu serupa sempat menyeruak dari dalam negeri, dimana salah satu maskapai swasta yang sempat ‘berkolaborasi’ dengan Garuda Indonesia, Swiwijaya Air juga dirundung isu bangkrut. Namun, apa yang sebenarnya terjadi pada maskapai yang didirikan oleh Hendry Lie, Chandra Lie, Johannes Bundjamin, dan Andy Halim ini?
Baca Juga: Digoyang Isu Stop Beroperasi, Sriwijaya Air Group Keluarkan Bantahan
Sebelum membahas tentang kisruh yang terjadi di tubuh Sriwijaya, ada baiknya untuk menyimak terlebih dahulu kilas sejarah dari maskapai ini. Didirikan pada tahun 2003, adapun penerbangan perdana Sriwijaya Air ini bertepatan dengan Hari Pahlawan – 10 November 2003. Kala itu, Sriwijaya Air langsung mengoperasikan empat penerbangan sekaligus, Jakarta-Pangkalpinang PP, Jakarta-Palembang PP, Jakarta-Jambi PP, dan Jakarta-Pontianak PP.
Diawal perjalanannya, maskapai ini hanya mengoperasikan satu unit Boeing 737-200 saja, namun seiring berkembangnya bisnis perusahaan, pada Maret 2016 tercatat Sriwijaya Air menggunakan 36 unit pesawat yang terdiri dari Boeing 737-300, Boeing 737-500, Boeing 737-800, Boeing 737-900ER, Boeing 737 MAX 8, dan Boeing 777-300ER.
Polemik
Singkat cerita, induk perusahaan dari NAM Air ini mulai mengalami masalah finansial. Mengutip dari laman moneysmart.id (16/11/2018), Sriwijaya Air memiliki total hutang senilai Rp355 miliar kepada Garuda Indonesia. Mengingat bisnis di sektor transportasi udara diharuskan memiliki sokongan dana yang super kuat, maka Kerja Sama Operasional (KSO) di bidang marketing dan manajemen perusahaan pun dihelat antara Sriwijaya Air dan Citilink Indonesia – anak perusahaan dari Garuda Indonesia Group pada akhir tahun 2018 kemarin. Kendati begitu, banyak pihak di luar sana yang menganggap bahwa Sriwijaya Air diakuisisi oleh Garuda Indonesia Group.
Ternyata beragam penghargaan bergengsi yang berhasil disabet oleh Sriwijaya Air seperti Boeing International Award for Safety and Maintenance of Aircraft pada 2007 hingga sertifikasi Basic Aviation Risk Standard (BARS) yang didapat dari Flight Safety Foundation pada tahun 2015 silam tidak melulu memuluskan langkah bisnis dari maskapai ini.
Polemik Berkelanjutan
Seiring waktu berjalan, lagi-lagi langkah Sriwijaya harus terseok-seok manakala Direktur Quality, Safety, dan Security PT Sriwijaya Air Toto Soebandoro merekomendasikan agar maskapai ini stop operasi karena dipengaruhi oleh beragam faktor – mulai dari Sriwijaya Air hanya mengerjakan line maintenance sendiri, dengan metode Engineer On Board (EOB) dengan jumlah engineer 50 orang, dengan komposisi 20 orang certifying staff, 25 orang RII dan certifying staff, 5 orang management and control, dan personnel tersebut dibagi dalam 4 grup.
Mengutip dari cnbcindonesia.com (30/9), Sriwijaya Air juga memiliki minimum stock consumable part dan rotable part di beberapa bandara yakni CGK (Cengkareng), SUB (Surabaya), KNO (Medan) dan DPS (Denpasar), sebagai penunjang operasi penerbangan. Ditambah soal kendala di sektor operasional yang membobol kas perusahan senilai Rp3,2 miliar dalam kurun waktu satu bulan.
Belum lagi pemberitaan tentang pihak maskapai yang tidak bisa memenuhi kewajiban pembayaran jasa dari kesepakatan kedua belah pihak (Sriwijaya Air dan Garuda Indonesia Group). Kerja sama dilakukan dalam rangka penyelesaian utang kepada sejumlah perusahaan, seperti PT GMF AeroAsia Tbk, PT Bank Negara Indonesia, dan PT Pertamina.
Baca Juga: Buntut Pencabutan Logo “Garuda Indonesia,” Sriwijaya Air Group Rombak Susunan Direksi dan Komisaris
Peliknya masalah yang menggelayuti tubuh perusahaan sampai-sampai menyeret Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rini Soemarno guna menjadi mediator untuk mencari jalan keluar terbaik bagi semua pihak.
Terakhir, dikabarkan bahwa dua direksi dari Sriwijaya Air, Direktur Operasi Captain Fadjar Semiarto dan Direktur Teknik Romdani Ardali Adang mengundurkan diri dari perusahaan. Tidak lain dan tidak bukan, pengunduran diri ini merupakan buntut dari pertikaian bisnis antara Sriwijaya Air dan Garuda Indonesia Group.
“Saya terus terang, sejak putus (hubungan dengan) GMF sampai hari ini saya khawatir sekali. Ada tunggakan Rp 800 miliar, operasional penerbangan berisiko,” kata Direktur Operasi Captain Fadjar Semiarto, dikutip dari laman cnbcindonesia.com (30/9).
Akhir kata, akankah Sriwijaya Air menyusul Merpati, Adam Air, dan Bouraq yang sudah terlebih dahulu pensiun dini akibat polemik finansial perusahaan?