Dua Kali Ditutup, “Angkas” Layanan Ride Hailing di Filipina ini Terbukti Jadi Primadona
Angkas menjadi aplikasi ride hailing yang ternyata sudah ada selama tiga tahun di Filipina. Aplikasi yang menjadi saingan Grab ini milik seorang bankir asal Singapura. Nama Angkas sendiri diambil dari bahasa Filipina yang berarti menumpang satu tumpangan. Ternyata selama tiga tahun ini, aplikasi Angkas sudah mencapai tiga juta unduhan dengan pengemudi sebanyak 27 ribu orang.
Baca juga: Grab Rail Express Mudahkan Bisnis Skala Kecil dan UMKM di Indonesia
Dilansir KabarPenumpang.com dari laman straitstimes.com (3/10/2019), karena diberlakukannya Undang-Undang lima dekade yang menentang penggunaan sepeda motor untuk transportasi umum di Filipina, Angkas sudah dua kali ditutup oleh regulator. Larangan pada Angkasa sebenarnya dimaksudkan untuk meningkatkan keselamatan jalan.
Meski dua kali di tutup CEO Angkas Angeline Tham mengatakan pihaknya masih beroperasi meski dengan lisensi sementara. Dia berharap untuk mendapat legalitas penuh ketika peninjauan dilakukan oleh regulator pada Desember 2019. Angkas didirikan oleh Tham pada 2016 lalu karena melihat lalu lintas Manila yang kian macet parah dari waktu ke waktu. Bahkan seseorang bisa menghabiskan enam jam dalam satu hari hanya untuk bepergian di Manila.
Menurut Tham, kehadiran Angkas sudah mampu memberika arti yang positif, seperti dalam aspek keselamatan, dimana jumlah kecelakaan dapat semakin ditekan. Untuk menunjang Angkas, Tham mengaku telah mendirikan dua pusat pelatihan yang menawarkan kursus mengemudi gratis dan berkampanye untuk penggunaan helm yang tepat.
“Kami telah mampu mempertahankan catatan keselamatan yang mencapai 99,997 persen. Kami bahkan lebih aman daripada kondom,” kata dia.
Angkas menantang raksasa Grab di Asia Tenggara dengan menjanjikan perjalanan yang lebih murah mulai dari 50 peso (S$1,30) per perjalanan. Namun kini Angkas masih beroperasi di wilayah abu-abu, yang menghalangi para investor untuk menanamkan modal di Angkas. Setelah penutupan Angkas memicu kemarahan publik yang kuat, regulator pada Juni mengizinkan Angkas untuk beroperasi selama periode percobaan enam bulan.
Jika Manila memutuskan untuk menyalakan lampu hijau layanan ini, itu bisa membuka pintu bagi para pesaing baru seperti Grab dan GoJek untuk masuk pasar di Filipina.
Baca juga: Saingan GoJek dan Grab, “Anterin” Bisa Pilih Pengemudi Suka-Suka
Tham, yang pada Agustus mengajukan kecaman atas promo pemasaran yang menyamakan layanan aplikasi dengan seks, yakin bahwa permulaannya telah berkinerja cukup baik untuk menggalang dukungan publik dan politik untuk mengubah undang-undang transportasi Filipina. Dia mengatakan Angkas dapat berekspansi ke lebih banyak kota karena minat yang kuat dari dana pemodal regional untuk berinvestasi dalam berbagai solusi di kota-kota Asia Tenggara yang tersumbat.
KA Arek Surokerto, Akankah Kembali Mengular Saat Tarif Tol Naik?
Tarif tol rencananya akan dinaikkan oleh Pemerintah Pusat pada akhir 2019 dan membuat Walikota Mojokerto berencana mengajukan surat kepada PT Kereta Api Indonesia (KAI) untuk kembali mengoperasikan Kereta Api (KA) Arek Surokerto Permintaan ini menurut Walikota Mojokerto Ika Puspitasari untuk meringankan beban masyarakat karena kenaikan tarif tol.
Baca juga: Kereta Lokal Daerah Seperti Tak Terurus, Bahkan Terkesan Diabaikan PT KAI
Selain itu, juga membuat masyarakat Mojokerto beralih menggunakan transportasi kereta api di banding kendaraan pribadi.
“Pengajuan surat ini tidak lain karena Kota Mojokerto akan dinobatkan sebagai Kota Pariwisata. Sebagai kota pariwisata, maka hal-hal seperti ini juga kami pertimbangkan. Supaya wisatawan tidak kesulitan dalam mengakses ke sininya. Kalau biaya perjalannya sudah mahal, nanti akan berdampak juga,” jelasnya yang dikutip KabarPenumpang.com dari beritajatim.com (2/10/2019).
Dia menambahkan, pengaktifan KA Arek Surokerto tersebut bisa mengurangi pengeluaran para pekerja Mojokerto yang bekerja di daerah lain seperti Surabaya. Apalagi bila dibandingkan dengan tarif KA Arek Surokerto ini ketika masih beroperasi hanya Rp3500 dan tarif tol yang akan naik sekitar Rp36 ribu sekali jalan.
Diketahui, KA Arek Surokerto sendiri melayani relasi Surabaya Gubeng – Mojokerto sejak 2009-2013 dan dioperasikan oleh Daop VIII Surabaya. Nama kereta ini merupakan akronim dari Angkutan Rakyat Ekonomi Kecil Surabaya-Mojokerto.
Ketika masih beroperasi, KA Arek Surokerto menggunakan rangkaian rel kereta rel diesel elektrik (KRDE). Awal kehadiran KA ini untuk meningkatkan kebutuhan moda transportasi bagi penumpang dari Mojokerto dan sekitarnya yang akan bekerja di Surabaya.
KA Arek Surokerto pertama kali diresmikan pada 29 Agustus 2009 dengan tari Rp3500 dan selama sebulan beroperasi tarifnya digratiskan. Sayang KRDE ini tak lagi beroperasi dikarenakan armadanya mengalami gangguan dan diperbaiki di Sidotopo.
Baca juga: Mengintip Jenis Commuter Line di Luar Jakarta
Sedangkan armada lainnya digunakan untuk Komuter Delta Ekspres. KA Arek Surokerto sendiri kala masi beroperasi berhenti di Stasiun Surabaya Gubeng, Shelter Ngagel, Stasiun Wonokromo, Stasiun Sepanjang, Stasiun Boharan, Stasiun Krian, Stasiun Kedinding, Stasiun Tarik dan terakhir Stasiun Mojokerto.
Aneh bin Ajaib! Seekor Angsa Tabrak dan Berdiri Anteng di Dalam Taksi
Apa yang akan Anda lakukan jika sebuah mobil yang sedang Anda kemudikan dimasuki oleh sesuatu yang tidak pernah terduga sebelumnya? Kaget? Tentu saja! Apa lagi yang merangsek masuk itu adalah sebuah makhluk hidup yang terkenal galak ketika sedang marah! Duh, bisa berabe urusannya!
Baca Juga: Ada Tanda Unik di Toilet Luar Negeri, Jangan Salah Artikan Yaa..
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman standard.co.uk (2/10), di sebuah area bernama Dunkirk di Inggris, seorang pengemudi taksi melaporkan suatu kejadian yang sangat aneh – dimana ada seekor angsa yang merangsek masuk ke dalam taksi dengan cara menjebol kaca. Adalah Nayyar Tabasam, pengemudi taksi nahas ini kabarnya baru saja mengantarkan salah seorang penumpangnya di daerah Dunkirk.
Semua masih berjalan mulus, bahkan sampai si penumpang membayar bea perjalanan dan keluar dari taksi. Namun selang beberapa saat si penumpang ini keluar dari taksi, Nayyar mendengar seperti suara tabrakan yang sangat keras di dekat dirinya. Nayyar yang masih shock akibat suara tersebut lantas melihat sekeliling guna memastikan apa yang terjadi.
Alih-alih melihat kecelakaan atau hal lain yang berkenaan dengan suara tabrakan, alangkah terkejutnya Nayyar ketika ia mendapati seekor angsa tengah berdiri anteng di bagian bangku penumpang. Nayyar juga melihat pecahan kaca berserakan di bangku penumpang – di sekeliling kaki si angsa.
“Awalnya saya mengira ada seseorang yang melempar taksi yang saya kemudikan dengan menggunakan batu atau benda keras lainnya, tapi saya tidak melihat siapa-siapa di luar jendela,” terang Nayyar.
“Ketika saya tidak berhasil menemukan siapapun di luar taksi, terdengar suara yang sangat memekakkan telinga dan suara tersebut berasal dari angsa yang ada di bangku belakang,” sambungnya.
Beruntung, angsa ini tidak melukai Nayyar dan seketika itu juga, ia langsung menghubungi petugas keamanan guna membantunya melewati kejadian aneh ini. Radford Road Police yang kala itu datang untuk membantu Nayyar mengaku kebingungan dengan kehadiran angsa ini, dan sempat berkelakar terkait keberadaannya melalui jejaring sosial Twitter.
Baca Juga: Unik, Penumpang Masukkan Sebuah Bir Kaleng Ke Bagasi Pesawat dan Diberi ‘Tag’
“Ketika ada seorang pengemudi taksi yang melaporkan bahwa mobilnya telah ditabrak oleh seekor angsa, maka kami harus datang untuk mengeceknya secara langsung,” ujar Radford Road Police.
“Angsa itu langsung dibawa ke dokter hewan dan sayangnya taksi tersebut harus diperbaiki akibat kerusakan yang cukup parah,” sambungnya.
Lebih Elegan dan Nyaman, Qantas Rombak Interior Airbus A380 Besar-Besaran
Qantas baru saja menerbangkan kembali superjumbo Airbus A380 pada Selasa (1/10/2019) kemarin setelah melakukan perombakan besar-besaran. Ada pun yang dirombak oleh maskapai ini adalah interior pada kabin kelas bisnis, kelas ekonomi premium dan lounge on-board yang didesain ulang.
Baca juga: Baling-Baling Mati Sebelah, Penerbangan QantasLink Dash 8 Terpaksa “Return to Base”
Kelas bisnis pada superjumbo A380 milik Qantas yang sebelumnya memiliki letak Skybeds 2-2-2 kini menjadi 1-2-1. kehadiran tata letak ini juga memudahkan penumpang yang duduk di dekat jendela pesawat langsung bisa melihat bagian lorong.
Dilansir KabarPenumpang.com dari stuff.co.nz (2/10/2019), kursi ekonomi yang tadinya ada di bagian belakang lantai dua pesawat pun kini sudah tidak ada dan khusus untuk kelas ekonomi premium dan bisnis. Bahkan 30 kursi ekonomi dihilangkan dan kursi ekonomi premium meningkat dari 35 menjadi 60.
Kelas ekonomi premium ini menghadirkan kursi yang lebih besar dan kapasitas pesawat meningkat menjadi 485 kursi. Lounge on-board juga diperluas dan mampu menampung sepuluh penumpang di kelas bisnis maupun kelas satu.
Selain itu Qantas juga meningkatkan fasilitas di ke-14 kelas satunya dengan tambahan bantalan baru, layar hiburan dengan resolusi lebih besar.
“A380 adalah bagian penting dari armada jarak jauh kami dan program peningkatan ini akan membuat pelanggan menikmati semua yang ditawarkan pesawat selama bertahun-tahun mendatang,” kata CEO Qantas Alan Joyce.
Dia mengatakan, bekerja dengan Airbus, membuat pihaknya bisa menggunakan ruang kabin menjadi lebih efisien dan meningkatkan pengalaman yang lebih baik di setiap bagian pesawat.
“Pada akhir peningkatan ini, kita akan memiliki tempat duduk generasi mendatang di seluruh armada jarak jauh A380, A330, dan 787,” kata Alan.
Superjumbo yang baru dirombak besar-besaran ini mulai lepas landas dari London, Inggris terbang melalui Singapura dan tiba di Sydney, Australia Rabu (2/10/2019) pagi.
Baca juga: “Sunrise Project,” Qantas Bakal Sabet Gelar Penerbangan Langsung Terlama di Dunia
Komitmen ulang Qantas terhadap armada A380 yang ada, datang saat jet penumpang terbesar di dunia tidak disukai oleh maskapai penerbangan di seluruh dunia. Pabrikan Airbus mengumumkan pada Februari akan menghentikan produksi A380 pada 2021, setelah pengiriman superjumbo terakhirnya ke Emirates, pelanggan terbesar untuk pesawat ini. Gegernya soal lesu pasar A380, membuat Qantas juga membatalkan pesanan untuk delapan A380 pada bulan Februari lalu.
Dilansir KabarPenumpang.com dari stuff.co.nz (2/10/2019), kursi ekonomi yang tadinya ada di bagian belakang lantai dua pesawat pun kini sudah tidak ada dan khusus untuk kelas ekonomi premium dan bisnis. Bahkan 30 kursi ekonomi dihilangkan dan kursi ekonomi premium meningkat dari 35 menjadi 60.
Kelas ekonomi premium ini menghadirkan kursi yang lebih besar dan kapasitas pesawat meningkat menjadi 485 kursi. Lounge on-board juga diperluas dan mampu menampung sepuluh penumpang di kelas bisnis maupun kelas satu.
Selain itu Qantas juga meningkatkan fasilitas di ke-14 kelas satunya dengan tambahan bantalan baru, layar hiburan dengan resolusi lebih besar.
“A380 adalah bagian penting dari armada jarak jauh kami dan program peningkatan ini akan membuat pelanggan menikmati semua yang ditawarkan pesawat selama bertahun-tahun mendatang,” kata CEO Qantas Alan Joyce.
Dia mengatakan, bekerja dengan Airbus, membuat pihaknya bisa menggunakan ruang kabin menjadi lebih efisien dan meningkatkan pengalaman yang lebih baik di setiap bagian pesawat.
“Pada akhir peningkatan ini, kita akan memiliki tempat duduk generasi mendatang di seluruh armada jarak jauh A380, A330, dan 787,” kata Alan.
Superjumbo yang baru dirombak besar-besaran ini mulai lepas landas dari London, Inggris terbang melalui Singapura dan tiba di Sydney, Australia Rabu (2/10/2019) pagi.
Baca juga: “Sunrise Project,” Qantas Bakal Sabet Gelar Penerbangan Langsung Terlama di Dunia
Komitmen ulang Qantas terhadap armada A380 yang ada, datang saat jet penumpang terbesar di dunia tidak disukai oleh maskapai penerbangan di seluruh dunia. Pabrikan Airbus mengumumkan pada Februari akan menghentikan produksi A380 pada 2021, setelah pengiriman superjumbo terakhirnya ke Emirates, pelanggan terbesar untuk pesawat ini. Gegernya soal lesu pasar A380, membuat Qantas juga membatalkan pesanan untuk delapan A380 pada bulan Februari lalu. Ada Keretakan di Boeing 737 NG, Kembali Ingatkan “Teori Habibie”
Isu keretakan (crack) yang menimpa Boeing 737 NG beberapa waktu yang lalu sejatinya semakin menenggelamkan nama Boeing yang di-plot sebagai Raja Kedirgantaraan Global – disusul oleh Airbus yang mulai menyeimbangi dan menyalip perlahan posisi dari manufaktur pesawat asal Negeri Paman Sam ini. Pertanyaannya adalah, “Bagaimana sebuah pesawat bisa mengalami keretakan? Apakah retakan itu membahayakan suatu penerbangan?”
Baca Juga: Boeing Digoyang Masalah (Lagi), Kini Ditemukan Retakan pada Seri 737 NG
Ilustrasi Sederhana
Selayaknya benda yang memiliki jangka hidupnya masing-masing, tidak terkecuali pesawat juga memiliki fungsi layaknya tubuh manusia. Jika kita memforsir pekerjaan atau suatu aktivitas, maka tubuh akan menjadi lelah – dan bisa menjadi sakit akibat kelelahan tersebut, terlebih jika tidak dibarengi dengan check up ke dokter.
Ilustrasi serupa juga sama halnya seperti yang dialami oleh si burung besi, dimana ketika sebuah pesawat sudah melakukan banyak penerbangan dengan mengangkut beban yang tidak hanya penumpang saja, maka beragam ‘penyakit’ siap mengintai – salah satunya adalah crack ini. Kurang lebih gambaran sederhananya seperti ini.
Nah, di sektor kedirgantaraan global, crack ini muncul karena setiap material yang digunakan untuk membangun pesawat memiliki tingkat ketahanan waktunya sendiri atau yang dikenal sebagai material fatigue. Ini sudah menjadi hal yang lumrah terjadi di setiap benda mati dan isu crack seperti ini sempat booming di era tahun 1960-an.
Kasus Crack di Penerbangan Dunia
Faktanya, keretakan yang masuk ke dalam klasifikasi kegagalan struktural pesawat ini pernah mengakibatkan kecelakaan – seperti yang menimpa de Havilland DH.110 yang terbang pada 1952 di Farnborough Airshow, pesawat Douglas DC-6 yang dioperasikan oleh National Airlines Flight 470 pada 1953, serta pesawat de Havilland Comet yang digunakan maskapai BOAC (kini British Airways) Flight 781 dan maskapai South African Airways Flight 201.
Pihak maskapai maupun manufaktur pesawat kala itu tidak mengetahui apa yang menyebabkan pesawat-pesawat tersebut mengalami kecelakaan, hingga muncullah nama BJ. Habibie yang membawa angin segar di tengah ketidak-tahuan mereka akan crack. Pria yang akrab disapa ‘eyang’ semasa hidupnya ini kala itu tengah ikut dalam project pengembangan Airbus A300B dan berbarengan dengan itu, lahirlah crack propagation theory.
Baca Juga: N-250, Pesawat Komuter Fly By Wire “Asli” Indonesia yang Kandas Tersapu Krisis Moneter
Eyang Habibie dan Crack Propagation Theory
Crack Propagation Theory ini merupakan model matematika untuk memprediksi perilaku perambatan retak pada struktur pesawat hingga tingkat atom. Temuan Eyang Habibie ini dapat digunakan untuk menghitung dan memprediksi titik retak, hingga sebuah materi dapat diperkuat dengan lebih presisi.
Setelah titik crack dihitung, derajat keselamatan dapat diturunkan dengan mengurangi campuran material sayap dan badan pesawat. Kendati beban berkurang, titik crack justru mampu meningkatkan kinerja pesawat.
Kendati sudah menemukan jawaban atas salah satu misteri terbesar di sektor aviasi kala itu, namun Eyang Habibie enggan berjumawa begitu saja. Dirinya terus mengembangkan teori ini hingga dipatenkan dan diadopsi untuk kemajuan teknologi kedirgantaraan. Lambat laun, orang menyebut ilmu penghitungan crack ini dengan sebutan “Teori Habibie”.
Gara-gara Jalur 9 Km di Shizuoka, Pembangunan Jalur Maglev Terancam Menggantung
Keberadaan jalur kereta levitasi magnetik atau maglev ultra cepat antara Tokyo dan Nagoya yang akan mulai mengular di 2027 sepertinya terbentur masalah. Ini dikarenakan ada jalur sepanjang sembilan kilometer dari total seluruhnya 286 km yang akan berada di prefektur Shizuoka tak bisa dikerjakan.
Baca juga: Di 2027, Jepang Hadirkan Kereta Cepat Maglev Tokyo-Nagoya
KabarPenumpang.com merangkum asia.nikkei.com (27/9/2019), Gubernur Shizuoka Heita Kawakatsu mengatakan, penentangan untuk menyetujui pembangunan bagian terowongan utama karena didasarkan kekhawatiran atas dampak pada air sungai setempat. Hal ini bahkan membuat curiga para Guberbur dari Prefekur lain yang akan dilintasi jalur maglev ini.
Mereka beranggapan Kawakatsu terlibat dalam brinkmanship untuk mendapat lebih bayak manfaat prefekturnya yang tidak akan berhenti pada jalur maglev.
“Tujuan memulai operasi pada tahun 2027 tidak realistis. Jika waktu berlalu saat kita terjebak dalam tatapan ke bawah, kita akan berada dalam masalah,” kata Kawaktsu.
Padahal otoritas lain telah menyusun skema perkotaan mereka dan kebijakan ekonomi berdasarkan tanggal penyelesaian yang direncanakan maglev. Presiden Central Japan Railway (JR Tokai) Shin Kaneko mengatakan, bila masalah ini terjadi maka jadwal 2027 untuk mulai operasional dapat terpengaruh.
JR Tokai mengatakan jalur baru akan membawa penumpang dari Tokyo ke Nagoya hanya dalam 40 menit. Harga real estat telah meningkat di kota yang terakhir untuk mengantisipasi peningkatan konektivitas.
Bagian yang paling sulit dari proyek maglev melibatkan tunneling melalui daerah pegunungan yang dikenal sebagai Pegunungan Alpen Selatan. Bagian Shizuoka dijadwalkan selesai pada November 2026, tetapi terobosan ini telah tertahan selama dua tahun.
“Semakin jauh pembangunan mulai tertunda, semakin sulit untuk menebus waktu yang hilang. Jika kami sepenuhnya mempekerjakan pekerja dan mesin sekarang, kami hanya akan hampir mencapai batas waktu,” kata Kaneko.
Kawakatsu mengatakan terowongan melalui pegunungan Alpen Selatan akan mengurangi volume air yang mengalir ke Sungai Oi. Sungai adalah isu sensitif bagi penduduk Shizuoka. Penyelesaian bendungan pembangkit listrik tenaga air pada 1960-an memicu gerakan protes di kalangan penduduk setempat.
Shizuoka akan menjadi satu-satunya prefektur yang tidak memiliki stasiun maglev, dan bisa membatasi keuntungan ekonomi. Pada bulan Juni, Kawakatsu mengajukan gagasan untuk membayar dampak kompensasi lingkungan yang setara dengan biaya rata-rata membangun stasiun maglev di prefektur lain.
Itu akan menghasilkan hadiah 82,5 miliar yen ($767 juta). Gagasan itu segera ditarik kembali, tetapi JR Tokai dan pemangku kepentingan lainnya merasa bahwa Kawakatsu akhirnya mengisyaratkan kesediaan untuk tawar-menawar.
“Jika dia akan menegosiasikan persyaratan, saya berharap dia akan menunjukkannya dengan jelas,” kata seorang eksekutif JR Tokai.
Kemungkinan pertukaran untuk maglev dapat mencakup stasiun kereta peluru Shinkansen yang akan dibangun di bawah Bandara Shizuoka, jalan baru melalui Pegunungan Alpen Selatan, atau dana yang didedikasikan untuk perlindungan lingkungan.
“Menyelesaikan masalah air dan lingkungan adalah segalanya,” katanya.
Pada akhir April, Kaneko dan Ketua JR Tokai Koei Tsuge bertemu secara diam-diam dengan para pejabat senior dari Shizuoka dan Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi dan Pariwisata Jepang. Ketiga pihak berusaha agar Kaneko dan Kawakatsu menegosiasikan kesepakatan lingkungan pada bulan Juni, kemudian berjabat tangan untuk membangun bagian Shizuoka.
Tetapi ketika seorang pejabat senior Shizuoka mengunjungi kantor Kawakatsu pada bulan Mei, Gubernur dengan datar menolak rencana itu. Banyak legislator prefektur Shizuoka melihat Kawakatsu sebagai akademis yang kebal terhadap kebijaksanaan konvensional dalam politik.
Baca juga: Cina Canangkan Kereta Cepat Maglev dengan Kecepatan 800 Kilometer Per Jam!
Gubernur menampilkan dirinya sebagai seseorang yang tidak terikat oleh proses kompromi politik. JR Tokai memiliki sedikit ruang untuk menyerap biaya keterlambatan. Perusahaan ini telah menyiapkan 3 triliun yen dalam pembiayaan pemerintah untuk mendorong perluasan jalur maglev ke Osaka setidaknya delapan tahun.
“Kapan kita harus memutuskan bahwa kita tidak akan selesai tepat waktu? Itu akan menjadi keputusan bisnis yang sangat politis” kata seorang eksekutif JR Tokai.
Bentuk Satgas Khusus, Boeing Tingkatkan Keselamatan di Masa Mendatang
Setelah didera masalah keretakan yang ditemukan pada seri 737 NG, kini pabrikan pesawat terbesar di dunia, Boeing kabarnya akan meningkatkan upaya pembenahan dari seri 737 MAX agar pesawat ini bisa kembali ke layanan dalam waktu dekat. Selain melakukan pembenahan terhadap software, perusahaan juga mengklaim telah melakukan perombakan terhadap jajaran direksinya.
Baca Juga: Boeing Digoyang Masalah (Lagi), Kini Ditemukan Retakan pada Seri 737 NG
Adalah Beth Pasztor, seorang karyawan Boeing berusia 34 tahun yang baru-baru ini menjadi eksekutif di Departemen Keselamatan dan Kepatuhan diklaim akan memimpin kelompok keselamatan terbang terbaru. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman cnbc.com (30/9), dewan kehormatan Boeing pada pekan lalu merekomendasikan perubahan pada jajaran direksi dan serangkaiannya yang bertujuan untuk meningkatkan budaya keselamatan yang selama ini coba dibuktikan oleh pihak perusahaan.
Ini merupakan respon Boeing terhadap serangkaian rekomendasi yang masuk ke perusahaan yang mendukung agar seri 737 MAX bisa kembali mengudara. Adapun Beth Pasztor merupakan seorang veteran di perusahaan, dimana nantinya ia akan bertanggungjawab terhadap semua aspek keselamatan dari suatu produk – termasuk melakukan investigasi terhadap kekhawatiran atau temuan dari para karyawan Boeing.
Tidak hanya menerima laporan dari karyawan Boeing saja, tapi di posisi barunya ini, Beth Pasztor juga akan menerima laporan dari dewan peninjau keselamatan dan teknisi ahli yang merepresentasikan Federal Aviation Administration (FAA).
Baca Juga: NTSB Rekomendasikan Latihan Khusus Pilot Sebelum Menerbangkan Boeing 737 MAX
“Dari sudut pandang kualifikasi teknis, Beth Pasztor adalah yang terbaik. Ia merupakan seorang pemimpin yang kompatibel, dan juga seorang kolaborator,” tutur CEO Boeing, Dennis Muilenburg dalam sebuah acara tertutup perusahaan.
Dengan dibentuknya tim baru ini, diharapkan Dennis Muilenburg cs bisa meraup kembali kepecayaan Boeing pasca diterpa sederet kasus yang berdampak pada anjloknya saham perusahaan – dan tentu saja, ini bukanlah pekerjaan yang mudah. Sertifikasi yang didapat oleh Boeing kelak, akan menjadi satu tonggak penting dimana itu tandanya, mereka dapat kembali menerbangkan varian 737 MAX di masa yang akan datang.
Dilengkapi QR Code, Kini Boarding Pass Garuda Indonesia Punya Benefit Tambahan
Garuda Indonesia secara resmi memperkenalkan “The New Boarding Pass” dengan desain dan fitur terbaru yang memberikan nilai tambah bagi pengguna jasa Garuda Indonesia serta mitra bisnis Garuda Indonesia. Boarding pass baru ini juga merupakan manifestasi dari komitmen untuk menghadirkan pengalaman penerbangan yang semakin interaktif dengan berbagai penawaran added value bagi pelanggan, sejalan dengan langkah adaptif perusahaan mengikuti perkembangan teknologi di era milenials.
Baca juga: Tekan Limbah, Qantas Tahun Ini Stop Penggunaan Boarding Pass Berbahan Kertas
Dalam pesan tertulis (2/10), Direktur Utama Garuda Indonesia, Ari Askhara mengatakan bahwa peluncuran “The New Boarding Pass” ini merupakan upaya perusahaan untuk meningkatkan layanan “digital experience”, khususnya bagi generasi millennials, melalui berbagai pengembangan platform digital yang kini dimiliki perusahaan, serta sebagai bentuk upaya peningkatan layanan kepada pengguna jasa.
“Boarding pass merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam pengalaman penerbangan para pengguna jasa kami. Melalui peluncuran The New Boarding Pass ini Garuda Indonesia menawarkan alternatif yang efektif serta kemudahan bagi seluruh partner kami mudah menjangkau dan mempromosikan perusahaannya kepada lebih 2 juta penumpang kami angkut setiap bulannya,” papar Ari.
Dengan menggunakan gadget dan memindai QR Code yang ada di belakang boarding pass penumpang mendapatkan berbagai informasi promo menarik dan berbeda-beda yang tersambung ke laman mitra bisnis Garuda Indonesia.
Melalui QR Code tersebut, para pengguna jasa juga akan mendapatkan kemudahan untuk mengakses list merchant yang bekerjasama dengan Garuda Indonesia melalui program Boarding Pass True Value (BPTV) yang menawarkan potongan harga hingga 60% di lebih dari 1.500 merchant termasuk hotel, spa, kuliner, dan layanan gaya hidup di lebih dari 50 kota di seluruh dunia.
Boarding pass baru ini diharapkan menjadi wadah komunikasi yang bermanfaat bagi mitra bisnis Garuda Indonesia di mana fitur barunya meliputi slot ads yang dapat digunakan partner atau merchant sebagai media untuk branding dengan exposure penumpang Garuda Indonesia.
Adanya boarding pass ini menghadirkan model baru ruang promosi bagi mitra untuk menjangkau target market dengan lebih efektif, efisien, dan tepat sasaran melalui komunikasi visual dan menggunakan fitur digital — dalam hal ini QR code.
BMW Group Indonesia sebagai salah satu mitra yang mendapatkan kesempatan pertama turut merayakan peluncuran Boarding Pass Garuda Indonesia terbaru ini. “Boarding pass yang umum dikenal sebagai platform komunikasi satu arah kini telah berubah menjadi wadah komunikasi dua arah,” ujar Ramesh Divyanathan, President Director BMW Group Indonesia.
Melalui kolaborasi ini, Indihome ingin menyajikan pengalaman terbaik kepada seluruh masyarakat Indonesia, khususnya pelanggan setia Garuda Indonesia yang ingin merasakan kualitas akses internet berkecepatan tinggi yang mencapai 300 mbps dan hiburan terlengkap melalui berbagai channel program lokal dan internasional.
Baca juga: Heboh Boarding Pass 2015 di Batik Air, Ternyata Hanya Penunjuk Waktu Keberangkatan
Hal senada juga disampaikan CEO & Vice President Director PT Erajaya Swasembada, Hasan Aula, “Eraspace.com yang merupakan situs e-commerce yang menaungi ibox,erafone,dan urban republic berkomitmen untuk menghadirkan pengalaman terbaik bagi customer dalam berbelanja.”
Volvo Siap Rilis Mobil Otonom Super Mewah Tanpa Bangku Baris Depan
Pernahkah Anda membayangkan tentang sebuah mobil yang tidak memiliki bangku pada bagian depannya? Mungkin sebagian dari Anda akan sulit membayangkan moda semacam ini, mengingat Anda tidak pernah melihat atau menunggangi sebelumnya, bukan? Namun agaknya moda semacam ini tengah direncanakan kehadirannya oleh produsen otomotif asal Swedia, Volvo. Adapun moda yang diberinama XC90 ini mengangkat desain SUV super mewah – bahkan Volvo sampai menyebut konsep Excellence Lounge yang diangkat untuk XC90 ini. Wah, Anda tentu penasaran bukan dengan interior dari moda ini?
Baca Juga: Antara Fakta dan Mitos Pada Penerapan Mobil Otonom
Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman businesstraveller.com, Volvo XC90 merupakan sebuah moda yang mampu menampung tiga penumpang dengan kenyamanan bangku layaknya seat di penerbangan first class. Sementara bangku di baris depan Volvo XC90 ini dilepas, maka ruang gerak penumpang yang duduk di bangku belakang akan menjadi sangat leluasa – mungkin tidak berlebihan jika Volvo XC90 ini merupakan kendaraan roda empat yang memiliki ruang gerak kaki paling luas di antara yang lain.
Belum lagi ciri khas anggun yang selalu disematkan Volvo dalam setiap mahakaryanya, dijamin akan menambah nilai jual dari mobil otonom ini. Kenyamanan dari Volvo XC90 ini akan semakin bertambah dengan kehadiran meja nampan berlapis kulit di hadapan bangku penumpang, kulkas mini pada bagian tengah, hingga iPad 13 inci yang terintegrasi dengan sistem hiburan yang disempurnakan.
Menurut pihak perusahaan, moda ini akan hadir dalam edisi yang amat sangat terbatas di seluruh dunia.
“Sebut saja di pasar India, dimana rencananya hanya akan 20 model saja yang tersedia di sana,” ujar salah satu juru bicara Volvo.
Jika ditelisik lebih detail lagi, adapun bangku dari Volvo XC90 ini dilengkapi dengan fungsi ventilasi dan pijat yang bisa membantu Anda untuk lebih rileks selama perjalanan.
Baca Juga: Di 2020, Uber dan Volvo Siap Uji Mobil Otonom Generasi Ketiga
“Pendekatan khas kami bertujuan untuk memberikan pengalaman mewah dan menenangkan bagi pelanggan kami. Volvo XC90 Excellence Lounge adalah mobil paling indah yang pernah kami buat,” tutur Managing Director Volvo Car India, Charles Frump.
Namun sayang, pihak Volvo masih enggan menyebutkan kapan moda ini biisa dirilis ke publik. Jadi, tunggu saja perkembangannya!
DoCoMo dan JR Central Uji Coba Jaringan 5G di Kereta Shinkansen Model N700S
Operator NTT DoCoMo yang bekerja sama dengan Central Japan Railway Company (JR Central), melakukan uji coba pencapaian mereka yang diklaim sebagai komunikasi seluler 5G band-GHz 28G pertama di dunia. Di mana data berkecepatan sangat tinggi dan video berkualitas tinggi ditransmisikan dengan sukses antara terminal mobile eksperimental 5G yang dipasangan dalam versi uji kereta Shinkansen model N700S yang melaju dengan kecepatan 283 km per jam.
Baca juga: Integrasikan Big Data dan Cloud, Huawei Rilis 5G LTE-R untuk Sistem Komunikasi Kereta
Stasiun pangkalan eksperimental 5G sendiri dipasang di sepanjang jalur Tokaido Shinkansen. KabarPenumpang.com melansir rcrwireless.com (1/10/2019), N700S yang digunakan dalam uji coba merupakan model Shinkansen generasi berikutnya dari JR Central yang akan diluncurkan secara komersial di Jepang tahun 2020. Uji coba eksperimental sendiri dilakukan anara Stasiun Mishima dan Shin-Fuji di daerah Fuji, prefekur Shizuoka antara 24 Agustus dan 7 September kemarin.
“Uji coba memverifikasi keberhasilan transmisi data nirkabel 5G dengan kecepatan melebihi 1,0 Gbps dan penyebaran berturut-turut di antara tiga stasiun pangkalan yang terletak di sepanjang trek. Transmisi difasilitasi dengan teknologi beamforming tracking yang tergabung dalam mobile station 5G dan base station,” kata NTT DoCoMo.
NTT DoCoMo juga menambahkan, bahwa konten video 8K ultra-high-definition bisa dengan cepat diunduh dari stasiun pangkalan. Ke depannya, DoCoMo akan terus menantang untuk mewujudkan komunikasi seluler 5G yang cepat dan stabil di berbagai lingkungan termasuk kereta peluru.
NTT DoCoMo mengumumkan peluncuran uji coba layanan 5G di sejumlah kota di Jepang pada 20 September lalu. Perusahaan telekomunikasi itu mengatakan bahwa pengguna di Tokyo dan kota-kota besar lainnya di Jepang, termasuk Nagoya dan Osaka, nantinya dapat menikmati teknologi 5G menjelang peluncuran komersial penuh, yang diperkirakan akan berlangsung tahun depan.
Layanan jaringan 5G eksperimental akan tersedia di tempat-tempat kompetisi untuk Piala Dunia Rugby dan lokasi lainnya di seluruh Jepang. Dalam konferensi sebelumnya dengan investor, Presiden dan CEO Kazuhiro Yoshizawa mengatakan bahwa perusahaan bertujuan untuk meluncurkan layanan 5G komersial di seluruh Jepang pada pertengahan 2020.
Pada bulan Juli, perusahaan-perusahaan Jepang NEC Corporation dan Fujitsu mengatakan mereka telah mulai mengirimkan peralatan 5G untuk penyebaran 5G NTT DoCoMo. NTT DoCoMo juga mengumumkan bahwa bekerja sama dengan Fujitsu Limited, NEC Corporation dan Nokia, dan telah berhasil mencapai interoperabilitas multi-vendor di berbagai peralatan stasiun basis 4G dan 5G yang kompatibel dengan standar internasional Open Radio Access Network (O-RAN) Persekutuan.
Baca juga: Teknologi 5G, Apakah Aman untuk Perkeretaapian Dunia?
Spesifikasi antarmuka fronthaul O-RAN memberikan dasar untuk interoperabilitas antara unit terpusat dan unit jarak jauh dari stasiun pangkalan 5G yang dipasang dari jarak jauh yang diproduksi oleh beragam mitra. NTT DoCoMo mengatakan pihaknya berencana untuk memperluas cakupan 5G dengan menggabungkan jaringan 5G dengan jaringan 4G yang ada menggunakan peralatan dari beragam vendor.
