Lima Bulan Koma Pasca Terjangkit Campak, Pramugari El Al Israel Airlines Hembuskan Nafas Terakhir

Anda masih ingat dengan awak kabin (pramugari) El Al Israel Airlines yang pada beberapa bulan lalu terjangkit campak dan mengalami koma? Ya, berita duka kini datang dari maskapai tersebut yang mengabarkan bahwa awak kabin berusia 43 tahun tersebut kini telah berpulang menghadap Sang Pencipta. Sebelumnya, awak kabin ini dikabarkan bahwa besar kemungkinan awak kabin ini terjangkit campak ketika mengudara dari New York, atau dari Israel – mengingat pada awal tahun 2019 kemarin, wabah campak tengah menjadi di kedua destinasi tersebut. Baca Juga: Diduga Terjangkit Campak, Pramugari El Al Israel Airlines Koma 10 Hari! Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman jpost.com (14/8), awak kabin yang bernama Rotem Amitai ini menghembuskan nafas terakhir pada Selasa (13/8) kemarin setelah lima bulan bertahan hidup melawan penyakit ensefalitis atau radang otak dan dugaan kuat virus campak. Sejak 31 Maret 2019, Rotem dirawat di salah satu rumah sakit di Israel, Meir Medical Center setelah sebelumnya menjalani penerbangan El Al Airlines flight LY002 dari New York pada tanggal 26 Maret dan tiba di Tel Aviv pada keesokan harinya. Beberapa hari berselang, Ibu dari tiga anak ini dinyatakan koma setelah tim dokter yang menangani Rotem menyatakan bahwa ia menderita ensefalitis. Dari serangkaian tes yang dijalani oleh Rotem sebelumnya, tim dokter menyatakan bahwa ia baru mendapatkan vaksin campak sekali – seharusnya dua kali. Namun nasib berkata lain, Rotem dinyatakan meninggal dunia oleh tim dokter yang menangani kasusnya ini di Rabin Medical Center-Beilinson Campus, Israel setelah kondisinya kian memburuk dari hari ke hari. Baca Juga: Diterjang Bau Kentut, Tiga Awak Kabin Tumbang “Kami dari pihak El Al Israel Airlines mengucapkan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya atas kepergian mendiang Rotem, dan kiranya keluarga mendiang diberikan kekuatan dan ketabahan,” ujar salah satu juru bicara perusahaan. “Setelah kasus ini terungkap (persebaran virus campak), kami bekerja keras untuk terus memvaksinasi kru kami dan perusahaan juga akan terus berpedoman pada ketentuan yang sudha diterapkan oleh Departemen Kesehatan sebelumnya,” sambungnya.  

Hanya Empat Penumpang Selamat, Tragedi JAL 123 Kecelakaan Udara Terburuk di Jepang

12 Agustus 34 tahun lalu selalu dikenang sebagai hari yang kelam dalam dunia kedirgantaraan. Di tahun 1985, sebuah pesawat jumbo jet Boeing 747SR  milik Japan Airlines (JAL) dengan nomor penerbangan 123 jatuh di pegunungan Takamagahara, Prefekur Gunma atau tepatnya 100 km dari Tokyo, Jepang. Baca juga: Terdampak Cuaca Buruk, Pesawat Carter ini Tergelincir Menuju Jalan Tol Penerbangan nahas tersebut mengangkut 509 penumpang dan 15 awak. Dalam insiden kecelakaan itu sebanyak 505 penumpang dan 15 awaknya tewas. Bahkan seorang aktor dan penyanyi terkenal Jepang, Kyu Sakamoto ikut tewas dalam kecelakaan pesawat paling mematikan dalam sejarah. Namun, hal mengejutkan lainnya adalah ada empat penumpang yang selamat dari kecelakaan dan semuanya perempuan.
Monumen mengenang kecelakaan JAL123
Mereka adalah seorang pramugari JAL Yumi Ichiai yang tengah cuti dan terjepit di antara kursi, seorang ibu dengan anaknya berusia 8 tahun Hiroki Yoshizaki dan Mikiko Yoshizaki yang terkurung di runtuhan badan pesawat dan anak perempuan 12 tahun Keiko yang terlempar ke semak-semak. Keempatnya bahkan diketahui saat itu duduk dalam satu barisan yang sama di sebelah kiri bagian belakang pesawat. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, pesawat tersebut awalnya berangkat dari Bandara Haneda di Tokyo yang akan menuju ke Bandara Internasional Osaka. Pesawat JAL 123 tersebut saat itu tengah mengangkut masyarakat Jepang yang akan pulang ke kampung halaman untuk merayakan festival keagamaan ‘Obon’ yakni acara menghormati arwah leluhur. Kronologis kecelakaan ini, pesawat JAL 123 lepas landas dari Bandara Haneda pukul 18.12 waktu setempat. Setelah 12 menit lepas landas, bagian penyekat buritan belakang pesawat pecah dan mengalami beberapa ledakan dekompresi parah yang merobek ekor pesawat. Terlepasnya ekor pesawat kemudian merusak sistem hidrolik pesawat secara keseluruhan dan membuat melayang-layang tanpa terkendali selma 30 menit sebelum akhirnya jatuh menabrak gunung. Awalnya sebelum jatuh, pilot mencoba mencari tempat mendarat darurat, dimana mula-mula kembali ke Bandara Haneda di Tokyo, tempat pesawat ini lepas landas. Ketika pesawat semakin tidak terkendali, pilot mencoba terbang menuju pangkalan Angkatan Udara Amerika Serikat di Yokota. Namun, semua usaha tersebut sia-sia. Pukul 18.56 waktu setempat, pesawat hilang kontak dengan radar dan menabrak punggung gunung dan menabrak kedua gunung kemudian terbalik serta menghantam tanah dimana punggung pesawat terlebih dahulu. Dari penyelidikan kecelakaan pesawat yang dilakukan omisi Penyelidik Kecelakaan Pesawat dan Kereta Api Jepang kemudian, ekor pesawat tersebut pernah tersenggol dalam sebuah pendaratan di Bandara Itami pada 2 Juni 1978. Ekor pesawat itu kemudian tidak diperbaiki dengan sempurna oleh teknisi Boeing dan JAL yang menyebabkan berkurangnya kemampuan penyekat bertekanan bagian belakang (rear pressure bulkhead) dalam menahan beban tekanan selama penerbangan sehingga mengakibatkan kelelahan logam dan kecelakaan tersebut terjadi. Pasca kecelakaan, Presiden JAL, Yasumoto Takagi, memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatannya. Di Haneda, seorang manajer perawatan JAL memutuskan bunuh diri akibat tidak kuat menanggung rasa malu yang telah ditimbulkannya kepada perusahaan. Baca juga: Tak Hanya Tabrak Tiang, Pesawat Juga Saling Bertabrakan di Apron dan Landas Pacu Pihak maskapai kemudian memutuskan tak lagi memakai nomor penerbangan Japan Airlines 123 untuk rute Tokyo-Osaka dan menggantinya dengan penerbangan 127. Tak hanya itu, Japan Airlines juga mengganti jenis pesawat yang digunakan dari Boeing 747 menjadi Boeing 767 dan Boeing 7777. Di Prefektur Gunma, lokasi yang berdekatan dengan kecelakaan dibangun monumen untuk mengenang para korban.

Kelola Bandara-bandara Potensial di Dalam dan Luar Negeri, Angkasa Pura I Gandeng Incheon

Dalam persiapan mengelola bandara yang selama ini dikelola Kementerian Perhubungan, PT Angkasa Pura I telah menggadeng Incheon Internasional Airport Corporation (IIAC), Korea Selatan untuk menjajaki peluang kerja sama pengelolaan bandara. Tidak hanya pada potensi di dalam negeri, kerja sama ini juga mencakup pengelolaan bandara di luar negeri. Baca juga: Bangun Fasilitas Bandara di 2019, Angkasa Pura I Investasikan Rp17,24 Triliun Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) yang dilakukan oleh Direktur Utama PT Angkasa Pura I (Persero) Faik Fahmi dan Presiden CEO IIAC Koo Bon Hwan, di Incheon, Korea Selatan, Rabu (14/8/2019). Seperti diketahui, Angkasa Pura I saat ini tengah dalam proses untuk mengelola beberapa bandara yang dikelola oleh Kementerian Perhubungan RI seperti Bandara APT Pranoto Samarinda, Bandara Sentani Jayapura, Bandara Juwata Tarakan, serta Bandara Syukuran Aminuddin Amir Luwuk. Angkasa Pura I juga tengah mengikuti tender untuk mendapatkan kontrak kerja sama pengelolaan Bandara Komodo Labuan Bajo dan Bandara Hang Nadim Batam. “Kerja sama ini pada tahap awal fokus pada upaya untuk menangkap peluang kerja sama pengembangan dan pengelolaan Bandara Hang Nadim Batam yang ditender oleh Kementerian Perhubungan. Nantinya Angkasa Pura I akan membentuk konsorsium dalam rangka partisipasi seleksi Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) Bandara Hang Nadim,” ujar Faik Fahmi dalam pesan tertulis. Baca juga: Antisipasi Peningkatan Trafik, Bandara Incheon Bangun Landas Pacu Keempat Selain Bandara Hang Nadim, nota kesepahaman ini juga mencakup rencana pengelolaan bandara di luar negeri, antara lain Bandara King Abdul Aziz di Jeddah, Bandara di Kuwait, serta bandara regional lainnya yang memungkinkan.

Panel Sayap Lepas, Boeing 777-300ER China Eastern Terpaksa Return to Base

Bagi Anda yang gemar duduk di samping jendela pesawat, apa yang akan Anda rasakan jika melihat salah satu panel yang ada di bagian sayap lepas? Jawabannya tentu saja tegang, bukan? Ya, inilah yang dirasakan oleh penumpang Boeing 777-300ER yang dioperasikan oleh maskapai China Eastern. Baca Juga: Bermasalah di Mesin, Airbus A330 China Eastern Terpaksa Return to Base Dilaporkan, salah satu panel yang ada di sayap pesawat ini lepas taklama setelah pesawat meninggalkan landas pacu John F. Kennedy International Airport, New York City pada Senin (12/8) kemarin. Walhasil, burung besi yang seharusnya melanjutkan perjalanan menuju Shanghai ini terpaksa kembali ke New York guna pemeriksaan lebih lanjut. Sebagaimana yang dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, salah satu panel sayap Boeing 777-300ER sebelah kiri terlepas ketika pesawat dengan nomor penerbangan MU588 ini saja mengudara.
Perjalanan China Eastern MU588 yang sempat berputar-putar di atas Green Mountain National Forest. Sumber: FlightRadar24
Jika dilihat dari laman FlightRadar24, pesawat ini lepas landas sekira pukul 19.00 waktu setempat – atau terlambat dua jam dari jadwal yang seharusnya. Ketika mencapai ketinggian 23.000 kaki, tampak China Eastern MU588 berputar beberapa kali di atas Negara Bagian New York, Massachusets, dan New Hampshire – tepatnya pesawat berputar-putar di atas Green Mountain National Forest.
Panel sayap Boeing 777-300ER milik China Eastern yang lepas. Sumber: istimewa
Pada awalnya, pihak bandara masih kebingungan terkait apa yang dilakukan oleh pesawat ini, apakah mereka sedang berusaha membuang bahan bakar, atau apa. Kuat dugaan, pilot yang sudah mendapat laporan terkait lepasnya salah satu panel pada bagian sayap ini memutuskan untuk mengosongkan tangki bahan bakar terlebih dahulu dengan cara berputar-putar di atas Green Mountain National Forest sebelum pada akhirnya melakukan pendaratan kembali di New York. Baca Juga: Romantis Berujung Pahit, Pramugari China Eastern Airlines Justru Dipecat Setelah Dilamar di Udara Dua setengah jam berselang setelah keberangkatannya, China Eastern MU588 kembali ke New York dan tidak ada penumpang yang mengalami cidera terkait insiden ini. Merujuk pada keselamatan penumpang, pihak maskapai memutuskan untuk Return to Base (RTB) dan memperbaiki terlebih dahulu kerusakan terkait sebelum pada akhirnya melanjutkan perjalanan menuju Negeri Tirai Bambu. Menanggapi insiden ini, pihak China Eastern membenarkan apa yang terjadi dan mengatakan mereka telah mengakomodasi sekitar 300 penumpang yang ada di dalam penerbangan tersebut dengan pesawat baru. Pihak maskapai enggan memberikan informasi lebih lanjut terkait insiden ini.    

Penumpang Tak Perlu Keluarkan Ponsel Pintar, Hitachi Rilis Teknologi Sensor Pembaca Aplikasi Tiket Kereta

Hitachi Rail kini mengembangkan teknologi baru untuk menghilangkan hambatan tiket yang mana nantinya penumpang tidak akan dikenakan biaya yang berlebihan. Teknologi baru tersebut kini menjalami pengujian ketat untuk Trenito Transporti di Trento, Italia. Bahkan Hitachi berharap teknologi ini juga bisa digunakan pada bus, trem dan kereta api di Inggris. Baca juga: Dengan EFC, Sistem Pembayaran Moda Transportasi Massal Akan Terintegrasi di 2019 “Teknologi ini memiliki kemampuan untuk mengubah transportasi umum di setiap sudut negara, dari bus pedesaan ke stasiun kereta pusat kota. Masalah antrian perjalanan yang biasa terjadi di mesin tiket atau mencoba menemukan tarif termurah dapat diselesaikan tanpa perlu meraih kantong Anda. Kami sekarang mulai menguji teknologi ini dan melihat kemungkinan satu aplikasi bekerja di seluruh negara. Misalnya, seorang penumpang dapat menggunakan aplikasi untuk naik bus di kota setempat dan kereta api di tempat lain di negara itu semua dalam satu hari,” kata Karen Boswell, Managing Director Hitachi Rail yang dikutip KabarPenumpang.com dari railpro.co.uk (12/8/2019).
(railpro.co.uk)
Dia mengatakan, teknologi tersebut akan berpotensi membuat transportasi umum lebih mudah di akses oleh semua penumpang. Ini juga dipercaya menjadi kabar baik bagi operator yang mana bisa menarik orang lebih banyak untuk menggunakan transportasi umum dengan metode pembayaran baru. Tekonologi ini adalah dimana tiket pintar dihadirkan dengan teknologi suar yakni satu metode berupa sensor yang akan mendeteksi aplikasi perjalanan yang diinstal penumpang melalu ponsel pintar mereka. Hal ini nantinya memungkinkan penumpang memasuki kereta atau bus tanpa menunjukkan tiket kertas, kartu uang elektronik dan kartu pintar. Tak hanya itu, ponsel pintar penumpang pun tak perlu di keluarkan dari tas ataupun saku pakaian karena bisa langsung terdeteksi oleh sensor tersebut ketika akan naik atau turun dari transportasi umum. Selain itu, dengan sistem sensor ini, antrean dan hambatan bisa diminimalisir dan penumpang bisa lebih cepat naik ke bus, trem atau kereta. Aplikasi tiket pintar yang terhubung ke kartu pembayaran sudah lama diterapkan oleh Hitachi seperti tahun 2001 meluncurkan kartu yang digunakan di seluruh Jepang yakni kartu Penguin. Nantinya hasil dari konsep kerja di Italia akan membantu menginformasikan cara terbaik untuk menerapkan teknologi di masa depan. Saat ini hanya 25 persen pengguna yang memahami jenis tiket yang benar, sehingga solusi baru dari Hitachi ini bisa membuat lebih banyak orang percaya menggunakan transportasi umum. Adanya teknologi tersebut juga membantu meningkatkan aksesibilitas bangi penyandang disabilitas atau penumpang dengan anak kecil. Menghapus tiket fisik di bus, bisa memberikan kebebasan yang lebih besar kepada penumpang dengan gerekan terbatas. Diketahui, kartu perjalanan pintar Hitachi di Jepang saat ini sudah digunakan lebih dari 50 juta kali sehari di seratus moda transportasi berbeda. Baca juga: Tap Ponsel Pintar, Satu Detik Masuk Stasiun Tanpa Antri Tiket Perusahaan telah berinvestasi secara signifikan di Inggris dengan mendirikan pabrik kereta api bernilai 100 juta poundsterling di Timur Laut Inggris. Pada tahun 2022, perusahaan akan memiliki 286 kereta berjalan di Inggris, masing-masing menawarkan teknologi pintar canggih untuk meningkatkan kinerja dan pengalaman penumpang.

Ini Baru Dahsyat! Bajaj di India Angkut 24 Penumpang dan Jadi Viral

Bajaj memang asalnya dari India, dan pernak-pernik tentang kendaraan roda tiga ini ya memang pusatnya ada di India, meski turunan Bajaj seperti Tuk-Tuk juga cukup populer di Thailand. Sewajarnya Bajaj akan mengangkut paling banyak empat hingga lima orang penumpang. Ini pun sudah termasuk dengan anak-anak dan orang dewasa. Tapi bagaimana bila melebihi tujuh orang? Apakah akan muat dan bisakah berjalan? Baca juga: Jamnalal Bajaj, Sang Pendiri Bajaj Yang Terlahir dari Keluarga Marjinal Dilansir KabarPenumpang.com dari laman dnaindia.com (12/8/2019), ternyata di Telangana, India sebuah Bajaj mengangkut 24 penumpang. Ini bukan hanya mengherankan tetapi juga mengejutkan dan satu-satunya terjadi di dunia yakni India. Penumpang sebanyak 24 orang yang naik Bajaj ini terekam dalam video dan menjadi viral di media sosial. Namun ternyata 24 orang tersebut adalah ibu-ibu dan anak-anak mereka yang akan bepergian ke suatu tempat. Karena hal ini, Bajaj tersebut dihentikan oleh pihak kepolisian setempat dan sekitar 24 orang turun dari Bajaj tersebut karena di rasa terlalu padat. Komisaris Polisi Karimnagar mentweet video tersebut untuk membawa fokus pada masalah keselamatan jalan. “Orang-orang harus menjaga keselamatan mereka sendiri. Mereka tidak boleh menaiki mobil penumpang yang penuh sesak tanpa mempedulikan keselamatan mereka, ”baca keterangan pos. Video berdurasi 2:09 menit saat ini memiliki lebih dari 16.400 penayangan, hampir seribu orang suka dan lebih dari 370 retweet. Baca juga: Bajaj “Bapake, “Jadi Andalan Patroli Polres Cilacap Reaksi berbeda mengalir di atas video, sementara beberapa membahas masalah keselamatan jalan, banyak bercanda pemandangan seperti itu hanya dapat dilihat di India. Hal ini mengingatkan dua belas buruh tewas dan enam lainnya cedera ketika sebuah truk menabrak autorickshaw yang penuh sesak di distrik Mahabubnagar, Telangana, pekan lalu. Kalau di Indonesia mungkin memang hanya empat orang, tetapi biasanya yang terbanyak adalah Bajaj mengangkut barang dan diletakkan hingga di atap. Sedangkan penumpang akan duduk tepat disebelah pengemudi Bajaj.

Hejaz Railway – Jaringan Kereta Abad 19 yang Mampu Reduksi Waktu Perjalanan Jamaah Haji

Jika pada artikel sebelumnya dijabarkan tentang apa-apa saja jaringan kereta yang ada di Jazirah Arab yang dapat membantu mobilisasi para Tamu Allah, kini saatnya membahas salah satu jaringan kereta yang pernah dan rencananya akan dibuka kembali untuk ‘mempertebal’ lini pelayanan terhadap Jamaah Haji di masa yang akan datang. Adalah Hejaz Railway, jaringan perkeretaapian narrow-gauge yang sempat mengular dari Damaskus di Suriah menuju Madinah via Hejaz yang masuk teritorial Arab Saudi. Baca Juga: Sejak Dahulu, Jaringan Kereta di Arab Mudahkan Mobilisasi Jemaah Haji Asal Mula Kilas balik ke tahun 1860-an, dimana euforia pembangunan jalur kereta tengah menjadi-jadi kala itu, dan Hejaz merupakan salah satu area yang diekspektasikan bakal menjadi jalur yang ramai digunakan oleh penumpang. Semula, jaringan kereta Hejaz Railway ini dicanangkan untuk bisa mengular dari Damaskus sampai ke Laut Merah, namun rencana ini gagal karena Amir Mekkah kala itu mengatakan bahwa jaringan perkeretaan bakal mematikan bisnis transportasi unta yang menjadi salah satu tulang punggung transportasi di Jazirah Arab. Mengutip dari berbagai laman sumber, pembangunan jalur kereta api ini sendiri sudah dilakukan pada tahun 1840 namun baru direalisasikan pada tahun 1908 – atau pada masa pemerintahan Usmaniyah Turki pada masa pemerintahan Sultan Abdul Hamid II. Pembangunan jaringan kereta api ini tidak hanya memudahkan sarana transportasi di sana saja, melainkan menjadi salah satu program Pan Islamisme yang dilancarkan oleh Sultan Abdul Hamid II. Pan Islamisme merupakan paham politik yang lahir pada saat Perang Dunia II mengikuti paham yang tertulis dalam al-a’mal al-Kamilah dari Jamal-al-Din Afghani – seorang aktivis politik dan nasionalis Islam.
Peta Jaringan Hejaz Railway. Sumber: Reddit
Konstruksi pembangunan jalur ini cukup sulit, karena melalui daerah kawasan gurun pasir yang memiliki rintangan cukup tinggi. Selain melalui gurun pasir yang rawan akan terjadinya badai gurun, juga menghadapi wilayah yang bergunung gunung batu seperti lereng Naqab di selatan Yordania Masa Beroperasi Singkat cerita, jalur kereta Hejaz Railway sepanjang 1.320 km rampung dan mulai mengakomodasi penumpang. Hadirnya jaringan kereta ini ternyata membawa perubahan yang sangat signifikan terhadap para Tamu Allah. Sebelum ada Hejaz Railway, mereka membutuhkan waktu sekira 40 hari untuk tiba di Tanah Suci, namun ketika jaringan kereta ini sudah beroperasi, hanya dibutuhkan lima hari saja untuk bisa memulai perjalanan spiritual di Baitullah. Seolah menjadi primadona baru, ratusan hingga ribuan Jamaah Haji yang berasal dari Rusia, Asia Tengah, Iran, dan juga Irak terus membanjiri Damaskus untuk naik kereta menuju Madinah.
Hejaz Railway Station di Damaskus, Suriah Sumber: wikipedia
Baca Juga: Canangkan Pembangunan ‘Kereta Perdamaian,’ Israel Nantinya Akan Terhubung dengan Sejumlah Negara Teluk Namun sayang, kereta ini tidak pernah mengular sampai ke Mekkah tatkala Pemberontakan Arab melawan Ottoman pecah pada tahun 1916 hingga 1918. Sejumlah bagian dari jaringan kereta tersebut diledakkan oleh Arab dan sekutunya. Hingga pada akhirnya, Hejaz Railway harus ‘pensiun’ pada tahun 1920. Rencana Pembangunan Kembali Menurut rencana yang beredar, Hejaz Railway ini akan kembali beroperasi pada tahun 2020 mendatang, hanya saja berganti nama menjadi Hejaz-Istanbul Railway – namun masih belum ada kejelasan lebih lanjut terkait rencana pengoperasian kembali ini.

Inilah Lima Fakta Unik dari Raksasa Penguasa Angkasa Luas – Airbus A380!

Amat disayangkan memang jika airbus A380, pesawat yang masuk ke dalam kelas superjumbo jet ini menghentikan produksinya. Menyandang predikat sebagai pesawat jet penumpang komersial terbesar di dunia, ternyata hingga saat ini masih belum ada produsen pesawat lain yang bisa mengambil tahta dari A380. Ada banyak hal yang diunggulkan dari varian ini, mulai dari kapasitas angkutnya hingga waktu tempuh dalam sekali perjalanannya yang fantastis. Baca Juga: Ternyata, Emirates Hanya Menggunakan Dua Jenis Pesawat! Penasaran dengan keunggulan dari Airbus A380 ini? Berikut KabarPenumpang.com sarikan sejumlah poin wahid yang dimiliki superjumbo jet namun tidak dimiliki oleh varian lain, dikutip dari laman thepointsguy.co.uk. Sangat Besar Ada yang tahu beban takeoff maksimum dari A380 ini? Jawaban tepatnya adalah 1,3 juta pon atau yang setara dengan 590.000 kg! Beban tersebut setara dengan tujuh unit Boeing 737-800 atau 30 persen lebih berat ketimbang model terbesat dari varian Boeing 747. Ingin tahu kapasitas bahan bakar maksimum dari A380? 85.000 galon! Konsumen Terbesar Mungkin Anda semua sudah tahu siapakah maskapai yang paling banyak mengoperasikan varian 380 ini? Ya, Emirates! Dikabarkan, maskapai asal Timur Tengah ini memiliki hampir 40 persen dari total kuantitas A380 yang pernah diproduksi oleh Airbus. Agaknya fakta ini menjadi sebuah kewajaran manakala Emirates hanya mengoperasikan dua jenis pesawat saja – Airbus A380 dan Boeing 777. Harga yang Setara Dengan 36 Bugatti La Voiture Noire Mobil Bugatti La Voiture Noire dinobatkan sebagai mobil paling mahal di dunia pada tahun 2019 dengan harga menyentuh US$12,5 juta atau yang setara dengan Rp176,5 miliar. Lalu berapakah harga satuan dari Airbus A380? Satu unit A380 dibanderol dengan harga US$445,6 juta atau yang setara dengan Rp6,4 triliun. Itu berarti, harga satu unit Airbus A380 setara dengan 36 unit mobil termahal di dunia saat ini! Mampu Mengudara Hingga 17 Jam! Empat mesin Rolls-Royce Trent 900 atau Engine Alliance GP7000 yang menjadi daya dobrak utama A380 ini memberikan dampak yang sangat besar terhadap pengoperasiannya. Dalam kondisi bahan bakar terisi penuh, superjumbo jet ini mampu menempuh perjalanan selama 17 jam non-stop atau yang setara dengan perjalanan dari Dubai menuju Auckland yang ada di Tenggara Australia. Baca Juga: Intip Mewahnya Airbus A380 Emirates yang Digunakan Klub Bola Real Madrid Hanya Dikemudikan Dengan Menggunakan Joystick Pesawat tingkat dua, mampu mengangkut hingga lebih dari 600 penumpang dalam sekali jalan (konfigurasi satu kelas bisnis), dapatkah Anda membayangkan kemudi dari Airbus A380? Mungkin yang ada di benak Anda adalah sebuah setir super besar yang ada di ruang kokpit, namun pada kenyataannya Anda salah besar! Karena Airbus A380 ini hanyalah dikemudikan dengan menggunakan joystick – sebagaimana pesawat Airbus tipe lainnya.

[Galeri Foto] Eks Jembatan Kereta di Cina ini Disulap Jadi Tempat yang Instagramable!

Anda masih ingat dengan Jembatan Cisomang lama yang berubah menjadi spot untuk berburu foto keren nan ciamik? Ya, jembatan bekas kereta api memang menawarkan nilai estetika tersendiri bagi para pemburu foto – mulai dari memotret rel bekas yang masih terpasang, hingga pemandangan yang tersaji di sekelilingnya. Apabila jembatan yang ada di Cisomang lama (yang terletak diantara Bandung dan Jakarta) hingga saat ini masih dibiarkan begitu saja tanpa direnovasi, maka lain halnya dengan eks jembatan kereta yang ada di Cina ini. Baca Juga: Cisomang, Serba-Serbi Jembatan Kereta Tertinggi di Indonesia Melintang di atas Sungai Songhuajiang, bekas jembatan kereta ini disulap oleh otoritas setempat sehingga bisa dioperasikan kembali namun tidak oleh kereta – melainkan oleh pelancong. Jembatan yang terletak di Harbin, Ibukota dari Provinsi Heilongjiang ini rampung direnovasi dan dibuka untuk publik pada tanggal 5 Agustus 2019 kemarin.
Sebuah kapal tengah melintas di bawah eks jembatan kereta Songhuajiang. Sumber: xinhuanet.com
Rel kereta yang diganti dengan tegel dan dihiasi oleh ratusan lampu membuat jembatan sepanjang lebih dari satu kilometer ini menjadi daya tarik wisata baru di Cina bagian Timur Laut ini.
Eks jemabtan kereta yang dipadati oleh pengunjung. Sumber: xinhuanet.com
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, jembatan kereta ini dibangun pada tahun 1900 dan memberhentikan pengoperasiannya pada tahun 2014 kemarin.
Wah, hati-hati barang bawaannya dicopet, Ci! Jangan keasikan selfie ya! Sumber: xinhuanet.com
Baca Juga: Jembatan Ciherang, Lintasan Melengkung dan Spot Foto Favorit Para Railfans Walhasil, eks jembatan kereta ini berhasil disulap menjadi tempat yang instagramable baru di Cina.
Lumayan, buat content Instagram! Sumber: xinhuanet.com
Bagi Anda yang hendak atau tengah mengunjungi Cina, jangan lupa untuk menambahkan foto baru di berbagai media sosial Anda dengan latar belakang jembatan ini, ya!  

Penumpang Sadar Gaya Hidup Sehat, Singapore Airlines Tawarkan Makanan Sehat dalam Penerbangan

Makanan pesawat kerap kali dikatakan tidak sehat karena sudah dimasak dan dibekukan lebih dari 24 jam atau bahkan berhari-hari sebelum dihidangkan. Ini kemudian membuat maskapai Singapore Airlines akhirnya menetapkan perubahan preferensi makanan pelancong masa kini. Baca juga: Tingkatkan Kualitas Hidangan, Singapore Airlines Gandeng Como Shambhala Hadirkan ‘Makanan Sehat’ Dimana makanan yanga akan ditawarkan pada pelancong adalah masakan kesehatan. Untuk menghadirkan makanan sehat tersebut, Singapore Airlines berkolaborasi dengan rumah krsehatan Combo Shambhala yang berbasis di Negeri Singa ini. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman businnesstraveler.com (9/8/2019), makanan sehat tersebut akan diintegrasikan ke dalam menu pesawat yang akan dinikmati pelancong. Selain itu hidangan akan diperkenalkan pada penerbangan tertentu yang berangkat dari Singapura di beberapa bulan mendatang. Kehadiran makanan sehat ini pula bertujuan untuk menawarkan lebih banyak pilihan menu kepada pelanggan. Kolaborasi antar keduanya ini merupakan langkah besar dalam industri penerbangan. Karena hal ini menyoroti akan perlunya maskapai penerbangan untuk menghasilkan bukan hanya makanan sehat tetapi lezat. Bahkan Como dan Singapore Airlines pun akan menghadirkan makanan musiman yang menjadi fokus kuat bagi para mitra untuk menggunakan bahan-bahan berkelanjutan. Tak hanya itu, misi kesehatan ini pun terlihat pada layanan Book the Cooknya. Hadirnya kolaborasi tersebut juga menjadi bagian tren lebih besar lagi untuk menghilangkan mitos makanan pesawat yang tidak enak dan tidak sehat. Kehadiran makanan sehat ini juga dikarenakan banyaknya penumpang yang menyadari pentingnya makanan sehat meski dalam penerbangan. Diketahui, kolaborasi Como dan Singapore Airlines sudah mulai sejak Maret 2019 dan saat ini memasuki fase pertamanya bahkan akan ada di semua kelas penerbangan asal Singapura itu. “Dalam kolaborasi, akan menggunakan bahan musiman dan berkelanjutan, masing-masing dengan profil gizi mereka sendiri. Gaya memasak ini bertujuan untuk menginspirasi selera Anda dengan rasa yang berkesan dan lezat. Mengawinkan makanan sehat dengan keahlian memasak yang menyenangkan,” kata Singapore Airline. Baca juga: Kali Ini Gigi Manusia Ditemukan di Dalam Makanan Singapore Airlines Tak hanya makanan, kedepannya Singapore Airline akan kolaborasi meluas ke fasilitas di atas kabin dan hiburan dalam penerbangan.