Tidak cukup puas dengan titelnya sebagai penguasa industri mobil di banyak pasar, Jepang baru-baru ini mengutarakan bahwa mereka sangat ingin merajai industri drone penumpang. Salah satu penyedia layanan dan produk teknologi informasi multinasional yang berpusat di Minato, Tokyo, NEC Corp diketahui baru saja melakukan demo terhadap quadcopter yang berisikan ‘penumpang’ pada Senin (5/8) kemarin.
Baca Juga: DJI Kembangkan Teknologi Geofencing Lanjutan untuk Keamanan Navigasi Drone
Dalam uji coba tersebut, drone bertenaga baterai ini tidak berisikan penumpang sama sekali dan mampu mengudara setinggi 10 kaki dari tanah selama beberapa saat saja. Menurut perusahaan, mereka merupakan pioneer yang menguji coba kendaraan semacam drone ini di tanah Jepang. Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman engadget.com (6/8), mitra dari NEC Corp., Cartivator baru akan memulai produksi massal drone ini pada tahun 2026 mendatang.
“Jepang merupakan negara dengan penduduk yang cukup padat, dan hadirnya moda semacam ini akan meringankan beban lalu lintas darat yang kian padat,” tutur Kouji Okada, project leads di NEC.
“Kami memposisikan diri sebagai enabler untuk mobilitas udara, menyediakan data lokasi dan membangun infrastruktur komunikasi untuk mobil terbang,” tandasnya.
Jika tidak meleset, drone semacam ini akan mulai dioperasikan pada tahun 2023 mendatang – atau mungkin saja lebih. Pemerintah setempat berharap, kendaraan futuristik semacam ini mampu menjadi tulang punggung transportasi di masa yang akan datang. Agaknya terlalu muluk-muluk untuk membicarakan moda semacam ini di waktu sekarang, mengingat ada serangkaian prosedur yang harus ditempuh oleh perusahaan sebelum bisa menerbangkannya.
Adapun dimensi dari drone milik NEC Corp. ini 3,9 meter panjang, 3,7 meter lebar, dan 1,3 meter tinggi. Dengan berat mencapai 150kg, salah satu fokus perusahaan dalam mengembangkan moda ini adalah penggunaan baterai yang efisien. Dimana baterai yang digunakan harus bisa tahan lama dan melakukan mobilisasi secara rapid.
Baca Juga: Inggris Berdayakan Drone Untuk Pantau Para Pelanggar dan Inspeksi Jalur Kereta
Sebagaimana yang sudah diketahui sebelumnya, di luar sana ada banyak perusahaan yang tengah mengembangkan moda serupa – mulai dari Volvo, Uber, hingga Boeing dan Airbus sekalipun. Mereka semua tengah berjibaku untuk mengembangkan moda andalannya masing-masing. Hal ini lantaran kondisi jalanan yang sudah semakin tidak kondusif untuk dilalui oleh masyarakat.
Volume kendaraan yang semakin meningkat dari waktu ke waktu tidak sebanding dengan kualitas infrastruktur yang tidak seimbang.
Pada periode 1914-1918 atau saat meletusnya Perang Dunia I, layanan kereta di Pulau Jawa yang dibangun Belanda memiliki kekhasan, diantaranya tidak beroperasi setelah petang. Bisa dikatakan kereta-kereta ini akan berhenti antara pukul 6 dan 7 malam. Kemudian kereta tersebut akan kembali beroperasi pada pagi harinya, sehingga perjalanan dari Batavia (Jakarta) ke Surabaya membutuhkan waktu lebih dari seharian atau 29 jam.
Baca juga:[Bagian 1] Jalur Kereta Jawa Pra Kemerdekaan – Hanya Beroperasi Sampai Pukul 6 Sore
Namun setelah Perang Dunia I berlalu, jalur baru dibangun yang menghubungkan Chirebon (Cirebon) di pantai utara, dimana Pulau Jawa berada di titik tersempitnya dan Kroja (Kroya) di sisi selatan.
Dirangkum KabarPenumpang.com dari mikes.railhistory.railfan.net, pembukaan jalur baru ini juga untuk mengurangi waktu kereta tercepat yang tadinya ditempuh selama 29 jam menjadi 13 jam untuk panjang jalur 512 mil atau 823,9 km. Ini untuk pertama kalinya keseluruhan perjalanan diselesaikan antara matahari terbit dan terbenam. Sejak adanya jalur baru ini pun waktu tempuhnya berkurang hingga 12 jam 20 menit dengan kecepatan rata-rata 41,5 mph atau 66,78 km per jam.
Perjalanan dengan waktu tempuh 13 jam pun sudah termasuk selusin perhentian menengah dan pendakian ke puncak atau jalur tertinggi. Adanya jalur baru ini pun membuat kereta yang berangkat dari Stasiun Weltevreden di Batavia yang menuju Surabaya melakukan perjalanan tanpa henti lebih dari seratus mil atau tepatnya 133,5 mil (214,8 km) ke Cirebon. Bila di total hitungan jam dari Batavia ke Cirebon waktu tempuhnya kurang dari tiga jam.
Pada masa itu pun waktu yang diizinkan untuk bergerak ke arah timur adalah 173 menit dan ke barat 171 menit dimana kereta berjalan dengan kecepatan 75,3 km per jam dari awal bergerak hingga akan berhenti. Sedangkan pengaturan waktu dari Cirebon menuju Prupuk atau Surakata menuju Madiun yakni 77 menit dan ini merupakan waktu perjalanan tercepat di Pulau Jawa.
Tak hanya itu perjalanan dari Kroya menuju Yogyakarta yang ditempuh dengan jarak 140 km ini juga menjadi yang terpanjang tanpa henti. Kereta Ekspres Limited ini terdiri dari enam gerbong penumpang dan satu gerbong makan yang dijalankan oleh lokomotif Pasifik.
Beberapa diantara gerbong-gerbong ini dibuat di Belanda dan lainnya di Swiss. Kereta di rancang untuk bergerak dengan kecepatan 96,5 km per jam dengan bobot per kereta 300 ton. Lokomotif yang digunakan untuk menarik gerbong-gerbong kereta pada masa ini pun beragam yakni lokomotif sederhana dua silinder dan lainnya adalah empat silinder.
Lokomotif uap “Si Gombar” Mallet DD52.
Untuk tender roda delapan besar juga dilakukan agar air yang digunakan cukup serta bahan bakar dapat ditampung pada jalur tanpa henti tersebut. Sayangnya lebih dari beberapa bagian pegunungan di pedalaman pulau perjalanan kereta adalah masalah yang jauh lebih sulit, seperti antara Pegunungan Preanger, di ujung barat, ada beberapa fitur luar biasa tentang rekayasa berbagai jalur yang menghubungkan kota-kota utama.
Baca juga: Lokomotif Mallet“Si Gombar” yang Tak Lagi Menghembuskan Uapnya
Jalur utama lama, yang digunakan oleh Batavia-Soerabaja melalui kereta sebelum pembukaan cut-off Cirebon-Kroya, meninggalkan jalur Cirebon di Tjikampek (Cikampek), dan berbelok ke selatan. Di Poerwakarta (Purwakarta) pendakian ke pegunungan dimulai, dan lokomotif tipe Mallet yang lebih kuat mengambil alih perjalanan kereta saat itu. Lokomotif Mallet adalah lokomotif uap dengan dua bogie yang berdekatan satu sama lain. Lokomotif Mallet yang terkuat adalah DD52 atau dikenal juga dengan sebutan “Si Gombar.”
Kisah jalur kereta api pra kemerdekaan di Pulau Jawa masih berlanjut, nantikan di artikel selanjutnya. (Bersambung)
Shotgun atau senapan ternyata bukan hanya alat untuk menembak tetapi juga digunakan sebagai sebutan kursi bagian depan mobil tepat disebelah pengemudi. Bahkan sebutan ini tidak terbantahkan dan diterima secara universal dengan tradisi yang kini dihormati.
Baca juga: Nissan Hadirkan Jaringan 5G, Teknologi AR dan VR Untuk Penumpang Mini Bus
Tak hanya itu, ada situs web terkait aturan shotgun yang ditujukan untuk hal-hal kecil tentang cara ‘memanggil’ senapan dengan benar. Dirangkum KabarPenumpang.com dari mentalfloss.com, apakah ada alasan menyebut shotgun untuk kursi depan tersebut? lalu kenapa harus senapan?
(Quora)
Jika ada yang menebak asal usulnya dari Barat Lama, mungkin ini benar jika merunut kembali ke tahun 1880-an dan 1890-an ketika bank seperti Wells Fargo perlu mengangkut uang tunai atau barang-barang berharga melintasi dataran dengan kereta kuda, mereka membutuhkan seseorang untuk melindungi semua barang jarahan dari pencuri.
Hal ini membuat mereka menyewa pria yang tampak menakutkan yang disebut “pembawa senapan,” yang tugasnya hanya tampak mengancam dan, jika perlu, membunuh siapa saja yang mencoba menjarah pengiriman mereka.
“Dia umumnya duduk di sebelah kanan pengemudi karena, dengan anggapan dia tangan kanan, akan lebih mudah untuk menangani senjata,” kata W.C. Jameson, penulis beberapa buku terlaris tentang Barat Lama, seperti Billy the Kid: Beyond the Grave.
Tapi inilah bagian yang menarik dimana utusan senapan, dan mereka yang menulis tentang mereka, tidak pernah menggunakan istilah “mengendarai senapan.” Ungkapan khusus itu tidak muncul sampai kemudian, ironisnya jauh melewati titik ketika “mengendarai senapan” adalah pekerjaan aktual yang dibayar oleh koboi untuk melakukan.
Referensi paling awal yang diketahui adalah di sebuah surat kabar di Utah, the Ogden Examiner, yang menerbitkan sebuah cerita pada tahun 1919 dengan tajuk “Ross Will Again Ride Shotgun on Old Stage Coach” —Ross menjadi A.Y. Ross, seorang pembawa pesan tua yang terkenal dengan reputasi sebagai seorang badass, yang pernah membawa lima perampok kereta api sendirian, menembak mereka dalam hujan peluru untuk berhasil mempertahankan $80.000 dalam bunion emas. Seperti yang kami katakan, seorang badass.
“Naik senapan” sebagai ungkapan yang digunakan koboi, meskipun sebenarnya tidak, menjadi kiasan populer dalam film fiksi Barat dan koboi dari abad ke-20, yang paling berkesan adalah Stagecoach klasik John Wayne 1939, di mana Marshal Curly Wilcox (diperankan oleh George Bancroft) menyatakan, “Saya akan pergi ke Lordsburg bersama Buck. Saya akan naik senapan. ”
Jadi bagaimana ketika Anda beralih dari pembawa senapan dengan senjata asli yang tidak pernah mengatakan “mengendarai senapan,” menjadi aktor film dalam topi koboi yang mengacungkan senjata palsu yang mengatakan “mengendarai senapan,” menjadi penumpang mobil modern tanpa senjata (kami berharap) bersaing dengan ” naik senapan”?
Bahkan hingga kini tidak ada yang tahu pasti di mana dan kapan “senapan” pertama kali berteriak untuk mengklaim kursi penumpang, atau bagaimana itu berkembang menjadi hobi nasional yang tak terucapkan. Tetapi kita tahu bahwa pada tahun 1980, itu adalah frasa yang cukup umum bahwa The (London) Times menggunakannya dalam sebuah cerita tanpa penjelasan, menulis, “Secara kebetulan The Times menemukan dirinya mengendarai senapan untuk Tentara Merah.”
Baca juga: Di Telkomsel IIMS 2019, Toyota Hiace Luxury Commuter Type Q Siap Manjakan Penumpangnya
Bisa dikatakan kini jika mengatakan senapan berarti Anda meniru aktor yang menggunakan idiom yang tidak akurat secara historis dari Barat Lama. Meskipun aturan berbeda-beda dari satu daerah ke daerah lain, sudah umum diterima bahwa memanggil senapan hanya diperhitungkan ketika dipanggil di luar, dan dalam pandangan, dari sebuah mobil.
Bagi moda transportasi berpenggerak listrik seperti KRL dan MRT Jakarta, padamnya listrik PLN di Jabodetabek pada Minggu, 4 Agustus lalu membawa dampak besar. Selain merugikan para pengguna jasa karena harus dilakukan evakuasi saat kereta mogok, pun bagi penyedia jasa insiden putusnya pasokan listrik membawa dampak pada citra kepercayaan masyarakat dan kerugian finansial karena layanan tak bisa beroperasi.
Baca juga: Untuk Pertama Kalinya MRT Jakarta Mogok, Inilah Kronologi dan Sumber Pasokan Listrik yang Digunakan!
Khusus terkait kerugian pendapatan finansial yang ditimbulkan akibat terputusnya pasokan listrik dari PLN ke MRT Jakarta, pihak manajemen PT MRT Jakarta memperkirakan kerugian mencapai Rp507 juta per tanggal 4 Agustus 2019. Kerugian yang dimaksud mencakup potensi kehilangan penumpang yang mencapai 52.898 orang pada hari tersebut. Kerugian ini belum termasuk berbagai kerugian moril dan materil yang diderita oleh penumpang dan publik yang menggantungkan perjalanannya kepada MRT Jakarta.
Sebagai dampak tidak langsung, pada Senin kemarin (5/8), MRT Jakarta mengalami penurunan penumpang hingga 16,43 persen dalam satu hari tersebut yang kemungkinan disebabkan oleh kekhawatiran pengguna bahwa pemutusan pasokan listrik dapat terjadi lagi.
Dalam pesan tertulis, pihak MRT Jakarta berharap penurunan ini bersifat sementara, dan diharapkan gangguan listrik seperti ini tidak terjadi lagi kedepannya. PT MRT Jakarta juga saat ini menyempurnakan kembali SOP Evakuasi Keadaan Darurat untuk mengantisipasi situasi pemadaman listrik oleh PLN dan memastikan evakuasi berjalan dengan lancar dan aman.
Skema evakuasi yang dilakukan (sebagaimana penjelasan infografis di bawah ini) menggambarkan pada saat kejadian terputusnya pasokan listrik (4 Agustus) terdapat 7 rangkaian kereta MRT Jakarta yang sedang beroperasi. 3 (tiga) rangkaian kereta berada di jalur bawah tanah yaitu Ratangga 0511 yg sedang berhenti di Stasiun Bundaran HI, dan Ratangga 0411 serta Ratangga 0610 yg terhenti diantara Stasiun Istora Mandiri dan Stasiun Bendungan Hilir. Penumpang di Ratangga 0411 (berjarak + 20 meter dari stasiun) dan Ratangga 0610 (berjarak + 100 meter dari stasiun) dievakuasi ke stasiun terdekat yaitu Stasiun Bendungan Hilir.
Sedangkan 4 (empat) rangkaian lainnya berada di jalur layang yaitu Ratangga 0709 dan Ratangga 0906 sedang berada di Stasiun Blok A; dan Ratangga 0807 serta Ratangga 1004 yang terhenti diantara stasiun Fatmawati dan Stasiun Lebak Bulus Grab. Penumpang di Ratangga 0807 (berjarak + 850 meter dari stasiun) dan Ratangga 1004 (berjarak + 10 meter dari stasiun) dievakuasi ke stasiun terdekat yaitu Stasiun Lebak Bulus Grab.
Jumlah penumpang yang dievakuasi dari seluruh 13 stasiun MRT berjumlah 3.410 orang dalam keadaan baik dan selamat.
Untuk pertama kalinya sejak pengoperasian MRT Jakarta, kereta komuter ini mengalami ‘mogok’ di tengah jalan lantaran putusnya pasokan listrik pada Minggu, 4 Agustus lalu. Selain telah menyampaikan permohonan maaf kepada pengguna jasa, pihak manajemen PT MRT Jakarta menyampaikan kronologi padam listrik dan proses evakuasi yang dilaksanakan oleh tim Operasi MRT Jakarta di lapangan.
Baca juga: Konstruksi MRT Jakarta Tahan Gempa 8 Skala Ricter, Inilah Panduan Keselamatan Penumpang
Sistem pasokan listrik untuk MRT Jakarta (sebagaimana penjelasan infografis di bawah ini) mengandalkan sistem listrik nasional yang dikelola oleh PLN. Gangguan yang dialami oleh PLN berdampak pada terputusnya pasokan listrik untuk 2 jalur pasokan listrik MRT yang bersumber dari 2 subsistem 150kV PLN yang berbeda, yaitu:
1. Subsistem Gandul – Muara Karang melalui Gardu Induk PLN Pondok Indah dan;
2. Subsistem Cawang-Bekasi melalui Gardu Induk PLN CSW.
(MRT Jakarta)
Dikarenakan belum tersedianya subsistem ketiga, maka ketika kedua subsistem diatas mengalami failure hal tersebut menyebabkan gangguan pasokan listrik untuk menggerakkan kereta Ratangga MRT Jakarta.
PT MRT Jakarta saat ini menggunakan pasokan listrik dari PLN dengan kontrak Layanan Premium, MRT Jakarta sangat menyesalkan terputusnya pasokan listrik dari PLN dan membutuhkan tindak lanjut PLN untuk meningkatkan kehandalan pasokan listrik dan secara serius mencegah kejadian serupa terjadi kembali. Sebelumnya, PLN telah berkomitmen untuk mendukung kehandalan pasokan listrik ke sistem MRT Jakarta dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas tambahan di Jakarta sebagai subsistem ketiga tersebut.
Sesuai desain awal, MRT Jakarta juga memiliki sistem pembangkit cadangan (Generator Set/Genset) yang hanya memberikan pasokan listrik untuk kebutuhan keselamatan dan
evakuasi di fasilitas stasiun dan di terowongan. Kapasitas back up power MRT Jakarta tersebut sudah cukup dan berfungsi dengan baik pada saat pasokan listrik terputus, oleh karenanya evakuasi dapat dilakukan dengan aman.
Juga Terjadi di Luar Negeri
Desain pasokan listrik MRT Jakarta mengacu pada sistem kelistrikan MRT di berbagai negara lain. Sebagai contoh, hal serupa terjadi di New York Subway pada bulan Juli lalu, dimana pemadaman listrik terjadi selama 5 (lima) jam dikarenakan kendala pasokan listrik dari kota New York dan melumpuhkan sepertiga dari rute New York Subway. Penumpang tertahan di bawah tanah selama 75 menit sebelum akhirnya berhasil dievakuasi.
Sistem operasi kereta MRT Jakarta menggunakan persinyalan CBTC (Communication Based Train Control) yang menganut tingkat standar safety yang tinggi, seperti halnya sistem persinyalan yang digunakan di Delhi Metro dan Beijing Subway Line 15.
Baca juga: Skybridge MRT Jakarta Hubungkan Poins Square dan Halte TransJakarta
Dimana sistem ATO (Automatic Train Operation) mengharuskan kereta melakukan emergency break (pengereman darurat) ketika terjadi power off (terputusnya pasokan listrik). Hal ini bertujuan untuk memitigasi potensi bencana yang kemungkinan terjadi di jalur depan kereta. Oleh karena itu, pengereman darurat dan evakuasi merupakan cara terbaik yang dilakukan untuk menghadapi kejadian ini.
Bagi Anda yang gemar duduk di samping jendela ketika mengudara, mungkin sebagian dari Anda akan memperhatikan bagian sayap, dimana di setiap ujungnya memiliki bentuk yang berbeda dari satu jenis pesawat dengan jenis lainnya. Nah, bagian yang disebut wingtip ini memang memiliki bentuk yang bervariasi dan memiliki fungsinya tersendiri. Seolah mengikuti badan pesawat serta segala teknologi yang tersemat di dalamnya, wingtip ini juga tidak lekang oleh perubahan dan evolusi yang membawanya menuju perjalanan udara yang lebih nyaman.
Baca Juga: BEHA_M1H, Pesawat Paling Ramah Lingkungan yang Gunakan Model Sayap Unik!
Mungkin Anda masih ingat dengan gambar-gambar tentang pesawat pertama yang dikembangkan oleh Orville dan Wilbur Wright, dimana sayap pesawat masih bertumpuk dua dan masih menggunakan lembaran kayu. Sayap dua lapis yang digunakan oleh Wright bersaudara ini ditopang oleh lebih dari 10 tiang penyangga. Ya, inilah cikal bakal perkembangan pesawat hingga yang dapat Anda nikmati saat ini. Faktanya adalah, penerbangan perdana Wright bersaudara ini berlangsung selama 12 detik dan menempuh jarak hingga 120 kaki atau yang setara dengan 36,5 meter.
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman theengineer.co.uk, perkembangan demi perkembangan terus terjadi dan fokus efisiensi perjalanan menjadi hal terdepan untuk dipertimbangkan. Selain itu, varian yang terdapat pada wingtip ini juga dapat memberikan kenyamanan dalam mengudara yang berbeda-beda.
Penggunaan Material Komposit
Sebelum melangkah lebih jauh ke jenis-jenis wingtip, pengenalan material komposit canggih telah terbukti mengurangi bobot sayap pesawat secara keseluruhan. Dengan bobot sayap yang bisa di-reduce secara signifikan, maka secara otomatis bahan bakar yang diperlukan untuk melakukan operasi juga bisa dikurangi. Dengan begitu, pihak maskapai dapat melakukan penghematan biaya operasi ketika menggunakan pesawat bermaterikan material komposit.
Penggunaan material komposit ini juga lambat laun merambah ke bagian lain di pesawat, seperti body dan tail wing. Semakin ringan beban angkutnya, maka hal tersebut akan mengurangi gaya angkat yang diperlukan. Ternyata, permintaan dari para eksekutif maskapailah yang pada awalnya melatarbelakangi hadirnya material komposit ini pada badan pesawat, karena mereka menginginkan pengoperasian yang efisien bahan bakar dan ramah kocek.
Jenis-Jenis Wingtip
Wingtip FenceWingtip Fence dari maskapai EasyJet. Sumber: Aviation Stack Exchange
Sebagaimana yang bisa Anda lihat pada gambar di atas, winglet ini tampak seperti sirip tambahan yang tegak lurus dengan bentuk sayap dan dilengkapi dengan sejumlah ‘ekor tikus’. Contoh pesawat yang menggunakan winglet jenis ini adalah Airbus A319.
Blended Winglets
Blended Winglet dari Airbus A350XWB. Sumber: Wikipedia
Merupakan jenis winglet yang berupa perpanjangan dari sayap dan ditekuk ke arah atas sayap. Contoh pesawat yang menggunakan winglet jenis ini adalah keluarga Boeing 737 NG.
Raked Wingtip
Raked Wingtip. Sumber: Aviation Stack Exchange
Winglet yang berupa perpanjangan sayap ini memiliki sudut agak lebih tinggi di bagian ujung sayap. Winglet jenis ini adalah salah satu dari teknologi Boeing yang digunakan pada pesawat terbarunya yaitu 787 dan 747-8.
Baca Juga: Stratolaunch, Pesawat dengan Sayap Terlebar di Dunia Sukses Terbang Perdana
Menyoal penggunaan wingtip yang berbeda dari setiap pesawat ini, tidak lain dan tidak bukan ditujukan untuk memberikan kenyamanan lebih terhadap penumpang karena dipercaya bisa memecah turbulensi dengan bentuknya masing-masing.
Setelah aksi massa yang terjadi di Hong Kong beberapa waktu yang lalu, kabar terakhir menyebutkan bahwa kondisi di sana masih belum surut. Walhasil, aksi massa ini berimbas pada pembatalan sekira 200 penerbangan dari Bandara Internasional Hong Kong (HKIA) pada tanggal 5 Agustus kemarin. Salah satu maskapai yang paling banyak melayani penumpang di HKIA, Cathay Pacific terpaksa membatalkan lebih dari 150 penerbangan dan meminta kepada para penumpang untuk menunda keberangkatan mereka hingga kondisinya benar-benar kondusif.
Baca Juga: Dampak Krisis Politik, Sektor Pariwisata Hong Kong Kondusif Meski Ada Pelemahan
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman airport-technology.com (5/8), juru bicara dari Hong Kong Airlines mengatakan bahwa pihaknya telah membatalkan 32 penerbangan – namun tidak dengan United Airlines yang mengatakan bahwa penerbangan mereka tidak terpengaruh sama sekali.
Dari pusatnya di Bandara Internasional Hong Kong, Cathay Pacific melayani sekitar 34 juta penumpang per tahun ke hampir 200 kota di seluruh dunia. Mengutip dari Hong Kong Confederation of Trade Unions, ada lebih dari 1.200 awak kabin dan pilot Cathay Pacific serta lebih dari 2.300 pekerja di sektor aviasi Hong Kong yang ikut serta dalam aksi massa tersebut.
Sementara itu informasi yang diperoleh dari memo internal Cathay Pacific, menunjukkan bahwa ruang udara dan kapasitas landasan di HKIA telah berkurang sekira 50 persen untuk semua maskapai.
“Kami menghimbau kepada seluruh penumpang untuk terus berkomunikasi dengan pihak maskapai terkait update penerbangan terbaru,” tutur salah satu juru bicara dari HKIA.
Otoritas penerbangan sebelumnya telah memperingatkan penumpang tentang potensi gangguan via situs web HKIA dan telah berkoordinasi dengan masing-masing maskapai penerbangan untuk terus memberikan update terbaru dari penerbangan mereka.
Baca Juga: Alipay Siap Ganti Sistem Pembayaran MTR Hong Kong dengan Scan QR Code
Untuk sementara, pemerintah setempat juga telah ‘menangguhkan’ layanan kereta ekspress dari dan menuju Bandara Internasional Hong Kong.
Sebelumnya, Hong Kong berada di dalam kondisi yang cukup mencekam setelah warga Hong Kong tidak setuju dengan otoritas di sana yang memberlakukan RUU Ekstradisi.
Bandung merupakan destinasi akhir minggu yang banyak digandrungi oleh warga Ibukota. Namun karena terhalang macet yang terus ‘memerahkan’ tol Cikampek, warga Ibukota banyak yang enggan menggunakan kendaraan pribadi untuk menyambangi Tanah Priangan. Tak ayal, kereta api menjadi opsi utama warga Ibukota yang hendak cari angin tersebut.
Baca Juga: Nasi Goreng Parahyangan: Racikan Sederhana yang Digandrungi Penumpang ‘Gopar’
Harga tiket yang cukup terjangkau (berkisar antara Rp90.000 untuk kelas economy hingga Rp290.000 untuk kelas executive priority), dan estimasi perjalanan yang bisa dibilang hampir selalu tepat waktu menjadi daya tarik tersendiri bagi para penumpangnya. Namun selain dua poin tersebut, satu hal lain yang kerap terlupakan dari perjalanan dengan menggunakan Kereta Api Argo Parahyangan ini – ya! Spot-spot yang akan memanjakan mata dan mengundang decak kagum.
Sejarah Singkat
Sebelum membahas lebih lanjut, sebenarnya KA Argo Parahyangan atau yang akrab dipanggil Gopar ini merupakan gabungan dari nama KA Argo Gede dan KA Parahyangan. Kendati menyandang nama “Argo”, kereta ini justru merupakan kereta api kelas campuran, tidak sepenuhnya eksekutif sebagaimana seharusnya kereta api lainnya yang juga bernama “Argo”.
Baik KA Argo Gede maupun KA Parahyangan dulunya sama-sama melayani rute Bandung – Jakarta PP. KA Argo Gede beroperasi di rentang tahun 1995 sampai 2010, sedangkan KA Parahyangan beroperasi sejak 1971 hingga 2010. KA Argo Parahyangan sendiri mulai beroperasi pada tanggal 27 April 2010 silam. KA Argo Parahyangan merupakan hasil respons PT KAI atas kekecewaan masyarakat karena dihentikannya pengoperasian KA Parahyangan.
Stasiun PurwakartaRumah Tua di Stasiun Purwakarta. Sumber: Liputan6.com
Sejauh mata memandang, ada banyak hal menarik yang dapat Anda saksikan ketika naik KA Argo Parahyangan. Selain hadirnya Nasi Goreng Parahyangan yang sudah kadung melegenda, sejumlah spot memanjakan mata juga tersaji ketika Anda menjadi penumpang KA Gopar ini.
Dimulai dari kuburan kereta yang ada di Stasiun Purwakarta. Setibanya Anda di Purwakarta, Anda akan melihat tumpukan gerbong kereta tepat di sebelah kanan kiri arah datangnya kereta (jika dari Jakarta). Selain itu, Eksistensi dari rumah tua yang tidak terurus dan pohon beringin yang besar nan menjuntai semakin menambah kesan mistis pada area tersebut.
Konon katanya, gerbong kereta bekas tragedi Bintaro juga ada di sini lho, hiiii!
Terowongan Aktif TerpanjangTerowongan Sasaksaat. Sumber: istimewa
Jika dari dalam gerbong sudah mulai tercium bau asap, maka itu tandanya KA Gopar tengah melintasi Terowongan Sasaksaat! Terowongan yang terletak di antara Stasiun Sasaksaat dan Stasiun Maswati ini dibangun pada rentang tahun 1902 sampai 1903 dengan panjang 949m. Jadi, jangan kaget kalau tiba-tiba pandangan Anda gelap selama beberapa saat, ya!
Baca Juga: Cisomang, Serba-Serbi Jembatan Kereta Tertinggi di IndonesiaJembatan Cisomangjembatan cisomang lama, dan baru
Jembatan kereta api tertinggi yang masih aktif di Indonesia ini merupakan salah satu spot unik yang bisa Anda temui di perjalanan Jakarta – Bandung. Dengan pemandangan jalan tol Cipularang, Anda bisa melihat lukisan sang Maha Kuasa yang terlindung di balik kaca kereta.
Berbenah dan berubah menjadi lebih baik pastinya diharapkan semua orang, bahkan moda transportasi pun bisa melakukan hal itu untuk memberikan kenyamanan bagi penumpangnya. Seperti PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang sudah banyak merubah dan membuat penumpang lebih nyaman dibandingkan naik kereta masa lalu.
Baca juga: Mulai 1 Juli 2019, Sistem Aplikasi KAI Access Diambil Alih PT KAI
Sebelum seperti sekarang kereta api ekonomi tidak menggunakan AC dan penumpang berhimpitan seperti naik kereta komuter. Namun kini, perubahan berarti yang dibuat KAI semakin membuat nyaman penumpang dimana kelas bisnis dan ekonomi juga sudah dilengkapi AC dan lebih tertib dari sebelumnya.
Tetapi, dengan adanya hal baru ini banyak yang tak bisa lagi dirasakan. Apa saja sih sebenarnya kenangan yang tak lagi dirasakan penumpang kereta masa kini? Ternyata ada beberapa yang bisa KabarPenumpang.com sampaikan kepada pembaca. Yuk simak hal-hal yang tidak lagi bisa dirasakan.
Berdesak-desakan
Masa lalu naik kereta api, penumpang hanya mendapatkan karcis tanpa nomor bangku sehingga banyak yang berdiri. Inilah yang membuat berdesak-desakan. Bahkan karena hal ini ada saja penumpang yang kehilangan barang sehingga patut berhati-hati. Meski begitu banyak yang berpikir bagaimana tidurnya? Nah, para penumpang yang berdiri ini terkadang menggelar koran mereka di bawah kursi penumpang lain, di lorong hingga di bordes pun di gelar. Bahkan mereka punya cara untuk tidur di tempat bagasi atas kursi penumpang dan toiletpun terkadang jadi sasaran. Tak hanya itu, ketika berdesakan dan tak bisa masuk lewat pintu, penumpang juga masuk dari jendela kereta.
Merokok di kereta
Ya, kala belum berbenah, penumpang kereta tidak dilarang merokok. Bahkan bordes sering menjadi tempat kumpul penumpang yang merokok dan saling bercerita tujuan dan kenapa mereka bepergian. Kalau masa kini, penumpang merokok akan diturunkan di stasiun selanjutnya dan ditindak oleh petugas.
Tertinggal kereta, bisa naik yang selanjutnya
Karena kereta masa lalu penumpang bisa berdiri saat di dalam gerbong. Maka penumpang yang tertinggal kereta sebelumnya bisa ikut naik di kereta selanjutnya, asalkan tujuannya sama. Kalau masa kini, tertinggal kereta, tiket hangus dan harus beli lagi bahkan kemungkinan ikut kereta selanjutnya pun sedikit.
Perjalanan terlambat
Masa kini, keterlambatan bisa dikatakan jarang. Tapi masa lalu, sepertinya ketika kereta terlambat penumpang sudah biasa saja dan tidak mengeluh karena hal itu.
Beli jajanan kereta
Kalau naik kereta masa lalu pasti ingat banyak pedagang yang ikut masuk dalam kereta ketika berhenti di stasiun. Mungkin Anda juga tidak akan lupa dengan teriakan pedangang seperti ‘cangcimen’, ‘kopmi’, ‘narasi’, ‘pecel’. Selain itu ketika kereta berhenti penumpang bisa jajan yang pedagang asongan jajakan. Beberapa diantara stasiun pun menjual makanan khas mereka sehingga bisa sekalian berwisata kuliner. Kalau masa kini jangankan untuk beli jajanan, sepertinya untuk turun menikmati pemandangan sebentar saja bisa tertingal kereta karena tak lama berhenti.
Baca juga: Lokomotif Uap D1410, Kembali Beroperasi Jadi Kereta Wisata di SoloPengamen dan penyapu sampah
Dulu petugas kebersihan kereta tidak ada, bahkan tempat sampah pun cukup minim dan ini membuat gerbong kotor dan tak layak untuk kesehatan penumpang. Biasanya bila mendekati stasiun akhir ada orang-orang yang sudah siap dengan sapu mereka untuk membersihkan gerbong, tapi itu tidak gratis dan mereka akan meminta dari penumpang. Namun kini hal itu tak terlihat karena petugas kebersihan kereta sudah ada dan gerbong pun bersih. Sedangkan pengamen biasanya naik seperti di bus kota menyanyi selama perjalanan dan ini tak berhenti di situ saja, karena setiap ganti stasiun pengamen pun silih berganti dan uang receh terkadang tak cukup lagi.
Sebagai penumpang, apakah Anda lebih memilih kereta masa kini atau masa lalu?
Tidak ada yang menyangka tragedi jatuhnya dua pesawat Boeing 737 MAX 8 dalam kurun wakru lima bulan ini berbuntut panjang sampai hari ini. Sebagai manufaktur pesawat ‘kelas satu’, jatuhnya Boeing ini seakan memudahkan Airbus – rival apple-to-apple Boeing untuk mencuri ceruk pasar. Terlebih ketika musim libur panjang yang sebentar lagi akan menjelang, maka secara otomatis permintaan penerbangan juga akan meningkat. Nah, dengan di-banned-nya varian 737 MAX ini, mampukah pihak maskapai menyanggupi perkiraan melonjaknya angka perjalanan udara ini?
Baca Juga: Masih Bingung Bedakan Boeing 737 dan Airbus A320? Simak Ini
Jawabannya mungkin saja, namun jangan salahkan pihak maskapai apabila harga tiket yang ditawarkan di pasar pun akan serta merta meningkat. Mengapa bisa seperti ini? Mengingat dalam kasus ini Airbus kasarnya sudah bisa melakukan ‘monopoli’ di kelas pesawat narrow-body dengan A320 family.
Sementara Boeing masih belum boleh menerbangkan varian 737 MAX-nya hingga tahun 2020 mendatang, sedangkan pihak maskapai mungkin akan membutuhkan armada tambahan untuk bisa menampung penumpang, maka bukan tidak mungkin apabila pihak maskapai akan bergegas menyambangi pihak Airbus untuk meminta armada tambahan.
Sudah menjadi hukum ekonomi apabila hanya ada satu ‘penjual’, maka mereka akan menaikkan harga jualannya. Inilah yang menjadi salah satu akar dari meningkatnya harga tiket penerbangan.
Tapi di sini, pihak Airbus juga tidak bisa sekonyong-konyong meningkatkan harga penjualan, mengingat sektor aviasi merupakan bisnis yang sangat kompleks – setiap partisi yang ada di satu pesawat diproduksi oleh lebih dari satu pabrikan. Bisa saja Airbus menyanggupi permintaan pihak maskapai untuk penambahan armada, tapi apakah permintaan serupa juga disetujui oleh pihak manufaktur mesin pesawat seperti General Electrics (GE) atau Rolls Royce?
Southwest Alami Kerugian
Sebagai salah satu maskapai yang paling banyak mengoperasikan varian Boeing 737 MAX, maskapai asal Amerika, Southwest mengalami kerugian karena mereka terpaksa memangkas rute penerbangan menuju Bandara Newark Liberty yang ada di New Jersey, dimana sebeumnya pihak maskapai menggunakan varian 737 MAX untuk menjabani rute penerbangan tersebut.
“Ini semua semata-mata karena (Boeing 737) MAX,” ujar CEO Southwest, Gary Kelly, dikutip KabarPenumpang.com dari laman cbsnews.com (30/7).
Berkaca dari sini saja, sudah dapat ditebak bahwa pihak Southwest bakalan kekurangan armada untuk menyanggupi peningkatan permintaan penerbangan pada musim libur kuartal keempat tahun ini.
Baca Juga: Boeing 737 Sabet Predikat Sebagai Pesawat Terlaris Sepanjang Sejarah Aviasi GlobalDidesak Berbagai Pihak
Kendati CEO Boeing Dennis Muilenburg sudah melontarkan ultimatum terkait sertifikasi varian 737 MAX yang tidak kunjung rampung, ternyata pihak Boeing juga mendapatkan tekanan dari berbagai pihak – salah satunya yang paling santer adalah Ryanair.
Maskapai berbiaya rendah kontroversial asal Irlandia ini mengatakan bahwa pihak Boeing untuk segera menyelesaikan perkara sertifikasi 737 MAX ini.
“Kami awalnya menargetkan untuk menerbangkan 58 unit (737 MAX) pada musim panas 2020. Jika berkaca pada kondisi hari ini, kami dapat mengoperasikan 30 unit saja itu sudah bagus. Mana tahu di waktu yang akan datang angkanya akan terus merosot. 20 unit, 10 unit, atau bahkan sama sekali tidak ada. Intinya di sini adalah pihak Boeing harus sesegera mungkin menyelesaikan permasalahan regulasi ini,” ujar CEO Ryanair, Michael O’Leary.