Dengan menggunakan KA Bromo Anggrek, menempuh perjalanan antara Jakarta dan Surabaya membutuhkan waktu sekitar 9 jam. Namun lain halnya di era Pra Kemerdekaan, persisnya di periode 1914 – 1918, guna meladeni perjalanan Jakarta – Surabaya waktu paling cepat adalah antara 29 sampai 32 jam, itu pun dengan kereta mewah Java Nacht Express.
Baca juga: Java Nacht Express, Layani Jakarta – Surabaya, Inilah Kereta Mewah Pertama di Indonesia
Lamanya perjalanan lantaran kereta api kala itu tidak melaju di malam hari. Alhasil rute Jakarta – Surabaya mengharuskan bagi penumpang untuk menginap atau transit di salah beberapa kota, dalam hal ini Semarang, Bandung dan Yogyakarta.
Dirangkum KabarPenumpang.com dari mikes.railhistory.railfan.net, pada periode 1914-1918 tidak mungkin untuk menyelesaikan perjalanan dari satu ke yang lain dalam satu hari. Satu kekhasan operasi kereta api di Jawa adalah bahwa tidak ada kereta yang berjalan setelah gelap, karena risiko melintas jalur yang tidak dipagari, dan bahaya dari tanah longsor serta hujan tropis.
Semua kereta dari jenis apa pun, berhenti beroperasi antara pukul 6 dan 7 malam. Begitu banyak waktu di hari-hari sebelumnya yang harus dihabiskan untuk berlari di atas kemiringan curam di Preanger sehingga perlu untuk menginap di Bandung atau Yogyakarta, dan kemudian melanjutkan perjalanan pada hari berikutnya.
Ilustrasi
Dengan demikian, dibutuhkan sekitar 29 jam untuk melakukan perjalanan dari Jakarta ke Surabaya. Bahaya operasi kereta api di negara seperti Jawa diilustrasikan bahwa seekor kerbau pernah tersesat ke jalur utama dekat Batavia.
Di tengah Pulau Jawa ada Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), merupakan Perusahaan Kereta Api Hindia Belanda dan berpusat di Semarang. Saat itu jalur kerera terbagi menjadi jalur barat yakni Batavia dan Bandoeng (Bandung) dan jalur timur Surabaya yang dipisahkan oleh bentangan NIS dari Djokjakarta (Yogyakarta) ke Soerakarta (Surakarta).
Baca juga:Adakah Kaitan Antara Pecahnya Perang Diponegoro dengan Pembangunan Jalur Kereta di Jawa?
Jalur Jakarta – Surabaya adalah lintasan yang dipersiapkan untum layanan kereta cepat kala itu, di jalur tersebut kereta dapat dipacu pada kecepatan maksimum 86,5 km per jam. NIS terbilang serius untuk menggarap kereta cepat pada masa itu, dibuktikan dengan sempat dirilisnya model lokomotif kereta uap NIS 171yang berdesain futuristik.
Nah, Anda ingin tahu kelanjutan kisah jalur kereta pra kemeredekaan di Pulau Jawa? Simak pada artikel berikutnya.(Bersambung)
Kabar soal ultimatum yang diberikan pihak Boeing terhadap Federal Aviation Administration (FAA) yang mengisyaratkan bahwa mereka akan memberhentikan produksi dari varian 737 MAX ini bisa dibilang bukan tanpa alasan. Selain memang pihak Boeing yang ingin sesegera mungkin mengembalikan varian tersebut ke udara, ternyata faktor kapasitas pabrik yang sudah terlalu penuh oleh pesawat yang parkir juga menjadi perhatian penyumbang income import terbesar di Negeri Paman Sam ini.
Baca Juga: Belum Rampung Masalah 737 MAX, Boeing Diterpa Isu Cacat Komponen di Seri 737NG
Dapat Anda lihat pada foto yang diunggah pada laman businessinsider.sg (4/8), tampak puluhan hingga ratusan pesawat Boeing 737 yang terparkir di Boeing Field, Seattle, Washington. Foto tersebut merupakan pesawat-pesawat baru yang siap dikirmkan kepada masing-masing maskapai yang sudah memesannya.
Sumber: businessinsider.sg
Ya, karena larangan menerbangkan varian 737 MAX tersebut, maka secara otomatis varian tersebut menumpuk di pabrik Boeing – terlepas dari pesawat yang menumpuk ini sudah lolos sertifikasi ‘tahap dua’ atau belum.
Sumber: businessinsider.sg
Saking penuhnya, dapat Anda lihat bahwa ada dua pesawat yang sampai-sampai ikutan parkir di tempat parkir mobil.
Sumber: businessinsider.sg
Mulai dari FlyDubai, Air Canada, Copa Airlines, Royal Air Maroc, Samoa, United Airlines, American Airlines, Sun Express, SunWing, hingga sejumlah pesawat yang masih belum menggunakan livery semuanya ada di sini, terjemur di bawah terik matahari Amerika.
Baca Juga: Sertifikasi Tak Kunjung Keluar, Boeing Akan Hentikan Jalur Produksi 737 MAX
Sebagaimana yang sudah diketahui bersama, dua kecelakaan fatal yang melibatkan varian Boeing 737 MAX 8 yang masing-masing dioperasikan oleh Lion Air dan Ethiopian Airlines ini terjadi hanya dalam rentang waktu lima bulan saja dan menewaskan kurang lebih 346 jiwa.
Sumber: businessinsider.sg
Masalah pada Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS) dipercaya sebagai biang kerok dari dua kecelakaan maut ini. Kendati pihak Boeing mengklaim bahwa perbaikan sudah dilakukan, namun sertifikasi terkait pengoperasian kembali varian 737 MAX ini masih belum saja dikeluarkan oleh FAA.
Sumber: businessinsider.sg
Kendati raksasa manufaktur asal Eropa, Airbus sudah mengeluarkan pernyataan terkait peberhentian produksi dari varian paling terkenalnya, A380, namun agaknya terlalu sayang untuk melepaskan pesawat jet penumpang terbesar di dunia saat ini. Masih banyak pihak di luar sana yang mengharapkan A380 untuk terus diproduksi – namun tidak bagi pihak maskapai yang merasa terbebani ketika mengoperasikan superjumbo jet ini. Jika tidak mungkin dirakit dalam waktu dekat ini, apakah ada secerca harapan A380 akan dirakit di waktu yang akan datang?
Baca Juga: Ternyata, Emirates Hanya Menggunakan Dua Jenis Pesawat!
“Kendati kami sedih bahwa pesanan (A380) kami tidak bisa ditindaklanjuti dan progam ini tidak bisa bertahan lama, namun kami harus menerima kenyataan dan inilah yang terjadi saat ini,” ujar CEO Emirates, Sheikh Ahmed bin Saeed Al Maktoum.
“Bagi kami, A380 adalah pesawat luar biasa yang dicintai oleh pelanggan dan kru kami. Ini adalah pembeda untuk Emirates. Kami telah menunjukkan bagaimana orang dapat benar-benar terbang lebih baik di A380,” tandasnya.
Ya, Emirates merupakan salah satu pengguna Airbus A380 terbesar di dunia, mengingat maskapai asal Timur Tengah ini hanya mengoperasikan dua jenis pesawt saja – Airbus A380 dan Boeing 777 saja.
Bahkan sekelas Sheikh Ahmed bin Saeed Al Maktoum saja amat menyayangkan pemberhentian produksi dari Airbus A380 ini.
Kembali ke topik pembahasan, mungkin saja pesawat yang dibanderol US$375.3 juta per unit ini diproduksi kembali di masa yang akan datang, hanya jika:
Harga Bahan Bakar Turun
Ya, pertimbangan ini muncul mengingat tonase bahan bakar yang digunakan Airbus A380 sangatlah besar – dan ini berimbas pada biaya operasi harian yang sangat tinggi dan membebankan maskapai yang mengoperasikannya, terlebih jika load factornya ‘kurus’.
Dan hanya jika harga bahan bakar mengalami penurunan atau adanya alternatif bahan bakar seperti biofuel, bukan tidka mungkin apabila pihak maskapai akan mempertimbangkan kembali pengoperasian dari si raksasa angkasa ini.
Populasi Membludak
Ketika populasi di dunia mengalami peningkatan yang signifikan, maka di tahun-tahun berikutnya varian A380 akan sangat berguna. Apabila skema ini terbukti benar di masa yang akan datang, maka bukan tidak mungkin juga apabila populasi dari pesawat narrow-body dan midsize akan sedikt tergeser keberadaannya.
Ya, maskapai mana yang tidak mau mengoperasikan penerbangan efisien?
Baca Juga: Intip Mewahnya Airbus A380 Emirates yang Digunakan Klub Bola Real MadridPassenger and Cargo Handling
Membahas tentang ngebulnya dapur dari A380 tidak melulu mesti memperhatikan dari segi modanya saja – pun dengan infrastrukturnya. Tidak semua bandara di dunia bisa menampung Airbus A380, dan faktor ini menjadi penting untuk diperhatikan apabila ingin melihat A380 menguasai angkasa kembali.
Peningkatan passenger and cargo handling menjadi poin penting berikutnya, dimana peningkatan kapasitas bandara (terutama di bagian imigrasi) menjadi langkah konkret pertama yang bisa dilakukan oleh otoritas terkait untuk menghadirkan kembali A380.
Selain itu, penanganan kargo di setiap bandara juga harus lebih dioptimalkan lagi. Dapat Anda bayangkan, antrean yang terjadi di conveyor belt setiap turun dari pesawat mesti saja membludak. Itu baru dari pesawat narrow-body yang hanya berisikan kurang dari 200 penumpang. Lalu apa yang akan terjadi jika sistem penanganan kargo semacam ini tetap dipertahankan, sedangkan A380 sudah mulai memasuki masa operasinya kembali? Paham kan maksudnya di sini?
Setelah pada pemberitaan sebelumnya disebutkan bahwa nama O-Bahn muncul sebagai salah satu opsi moda transportasi berbasis massal baru yang tengah dikaji pemerintah untuk bisa mengentaskan masalah kemacetan yang ada di Jakarta, ternyata di negara asalnya, Jerman, O-Bahn tidak berjalan sendiri dalam beroperasi mengangkut penumpang. Terdapat Bahn Bahn lain, seperti U-Bahn, S-Bahn, hingga Autobahn. Nah, kira-kira apa perbedaan dari semua Bahn Bahn tersebut? Apakah mereka semua beroperasi di bawah operator yang sama?
Baca Juga: Tengah Dikaji Pemerintah, Apakah O-Bahn Bakal Mengular di Indonesia?
Sebelum melangkah lebih jauh, kata Bahn (bahasa Jerman) sendiri jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti kereta.
Sebagaimana yang sudah diberitakan sebelumnya, O-Bahn merupakan moda transportasi yang menggabungkan elemen-elemen dari sistem bus dan kereta api ini memiliki jalur yang dibangun secara khusus. Tak hanya melalui jalur khusus, O-Bahn juga bisa melaju di jalur biasa. Kendaraan percampuran antara Bus Rapid Transit (BRT) dan Light Rapid Transit (LRT) ini mampu mengangkut 20 persen lebih banyak dibandingkan TransJakarta.
Dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, S-Bahn merupakan jenis kereta hybrid urban – suburban yang melayani wilayah metropolitan. Beberapa kereta S-Bahn yang berukuran besar menyediakan layanan yang mirip dengan rapid transit systems, sedangkan kereta S-Bahn yang berukuran kecil lebih menyerupai kereta komuter atau kereta regional.
Jika bisa disederhanakan dan dibandingkan apple-to-apple, peran S-Bahn di Jerman hampir mirip dengan Commuter Line Jabodetabek yang ada di Ibukota – dimana kedua moda transportasi ini sama-sama menangkut penumpang dalam jumlah yang masif dan waktu keberangkatan dari setiap wahananya sangatlah singkat. Jaringan kereta S-Bahn semacam ini sangat populer dan menjadi tulang punggung transportasi bagi masyarakat di Negara Bavaria.
Baca Juga: Dilengkapi 17 Stasiun, LRT Jabodebek Siap Mengular di 2021
Ambil contoh Berlin S-Bahn, dimana jaringan kereta ini memiliki 15 jalur dan dilengkapi dengan 166 stasiun di seluruh jaringannya. Dioperasikan oleh S-Bahn Berlin GmbH, jaringan kereta ini mampu mengangkut hingga 1.060.000 penumpang setiap harinya.
Tidak seperti O-Bahn yang mampu beroperasi di ‘dua alam’, S-Bahn ini hanya mampu mengular di atas rel saja. Maka dari itu tadi disebutkan bahwa S-Bahn sebenarnya hampir mirip dengan commuter line Jabodetabek.
Belakangan ini, pemberitaan nasional tengah tertuju pada polusi udara yang menyelimuti Ibukota. Di jejaring sosial Instagram, dapat Anda lihat banyak sekali foto langit Jakarta yang semakin menghitam bak tengah ‘melindungi’ Ibukota. Hal ini tentu saja mengundang pertanyaan di publik, “mengapa polusi udara di Jakarta semakin menjadi-jadi?”. Jawaban sederhananya adalah volume kendaraan yang terus mengalami peningkatan setiap waktunya. Selain itu, eksistensi dari ruang terbuka hijau tidaklah sepadan dengan volume kendaraan – jadi, menghitamlah awan Jakarta.
Baca Juga: Kerap Jadi Biang Kemacetan, Driver Ojol Harus Lebih “Peka” Marka Lalu Lintas
Ya, volume kendaraan di Jakarta memang sudah tidak bisa dibendung lagi. Kendati sudah ada moda transportasi umum seperti commuter line Jabodetabek, TransJakarta, hingga MRT, agaknya warga Jakarta masih enggan berdesakan di moda umum. Walhasil, penuhlah setiap jalanan di Ibukota. Mengutip dari laman kompas.com (25/7), Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) merilis analisa Source Apportionment yang menunjukkan bahwa particulate matter (PM) 10 di DKI Jakarta paling banyak dari kendaraan bermotor sebanyak 47 persen.
Particulate matter sendiri merupakan campuran partikel cair dan padat yang terdapat di udara. Sumber dari particulate matter ini sendiri beragam, bisa dari proses industri, aktivitas pembangkit listrik, hingga sisa pembakaran dari kendaraan diesel atau bahan bakar fosil lainnya.
Bagaimana tidak, tingginya angka PM-10 di Jakarta tidak bisa lepas dari peranan jutaan kendaraan bermotor pribadi yang melanglang buana setiap harinya. Belum lagi peran dari ribuan ojek online (ojol) yang juga turut meramaikan jalanan dan ‘menggelapkan’ langit Ibukota. Lalu, bagaimana dengan truk kontainer yang melintasi pinggiran kota Jakarta untuk mengirim barang? Agaknya sudah terlalu kompleks masalah polusi udara di Jakarta.
Sudah Kadung Kompleks
Menilik ke lingkup paling baru dulu di Jakarta, ojol. Memang, tidak bisa dipungkiri bahwa ojol menawarkan kemudahan bagi setiap penumpangnya untuk melakukan mobilisasi dari satu titik menuju titik lainnya – belum lagi untuk urusan antar kirim barang, makanan, atau dokumen.
Dewasa ini, pertumbuhan jumlah ojol di Indonesia – khususnya Jakarta sudah mengalami peningkatan yang signifikan. Pada Maret 2018 saja, ada kurang lebih satu juta orang yang menjadikan ojol sebagai mata pencaharian utama mereka, dan angka tersebut terus mengalami peningkatan dari hari kr hari.
Pengendalian? Mungkin sudah terlambat untuk mengurangi jumlah ‘pasukan hijau’ dari jalanan Ibukota – kecuali Pemerintah atau regulator terkait memiliki lahan baru untuk memperkerjakan para pengemudi ini.
Belum lagi Undang-undang Nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang menyebutkan bahwa motor bukanlah angkutan umum, namun kembali pada poin di atas, populasi pengemudi ojol benar-benar sudah tidak bisa dibendung.
Tawaran Solusi dari Otoritas Terkait
Seolah mentok dengan jalan keluar untuk masalah di atas, berbagai PO bus yang juga ikut mengambil bagian dari jalanan Ibukota ini mencoba untuk mengganti armada yang masih menggunakan bahan bakar fosil dengan moda yang lebih ramah lingkungan – berbahan bakar listrik.
Namun seperti yang sudah diberitakan sebelumnya, pengadaan bus listrik ini tentu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Diperlukan perencanaan yang sangat matang mengingat biaya investasi untuk bus listrik ini dua hingga tiga kali lipat dari bus diesel pada umumnya. Bellum lagi soal regulasi yang juga tengah dimatangkan oleh para regulator terkait.
Jika upaya banting tulang yang tengah dilakukan oleh para otoritas terkait ini masih tidak dioptimalkan sepenuhnya di masa yang akan datang, maka bukan tidak mungkin apabila kondisi polusi di Jakarta akan semakin ‘menghitam’.
Baca Juga: Operasional Bus Listrik di Jakarta Masih Menanti RegulasiKonklusi
Hadirnya moda transportasi umum yang sudah terintegrasi satu sama lain bukanlah dihadirkan Pemerintah sebagai ajang untuk menghambur-hamburkan dana, melainkan untuk dioptimalkan oleh setiap warganya.
Jadi, mulailah belajar untuk meninggalkan kebiasaan menggunakan kendaraan pribadi untuk bepergian kemana-mana. Gunakanlah fasilitas umum yang sudah disediakan oleh Pemerintah. Dengan begitu, Anda sudah iktu berperan besar untuk mengentaskan masalah polusi di Ibukota.
Gempa bumi tektonik yang terjadi pada Jumat, 2 Agustus lalu telah dirasakan lumayan kuat di Jakarta. Dan terkait kejadian alam luar biasa tersebut, Moda Raya Terpadu alias MRT Jakarta merilis merilis beberapa langkah yang akan diterapkan bila gempa bumi terjadi. Langkah tersebut telah dituangkan dalam standar penanangan gempa pada jaringan MRT yang telah berlaku nternasional, diantaranya PT MRT Jakarta akan menghentikan kereta saat terjadi gempa bumi sampai guncangan berhenti dan membuat pengumuman yang tepat kepada penumpang.
Baca juga:Pasca Gempa dan Tsunami 2011, JR East Pulihkan Jalur Kereta Api yang Lumpuh di Prefektur Iwate
Beberapa panduan dan standar ditungkan untuk menjamin keselamatan penumpang. Muhamad Kamaluddin, Corporate Secretary Division Head PT MRT Jakarta dalam pesan tertulis menyebutkan bila terjadi gempa, maka setelah guncangan berhenti penumpang yang berada di Stasiun MRT Jakarta harap mengikuti arahan petugas di stasiun untuk menuju titik berkumpul di luar stasiun. Bagi penumpang yang berada di kereta dihimbau untuk tenang, tidak melalukan tindakan gegabah dan tetap berada di dalam kereta. Petugas di dalam kereta akan membuat pengumuman lewat radio kereta.
Sementara bagi penumpang yang berada di Stasiun MRT Jakarta, dihimbau untuk berlindung di tempat aman sampai guncangan berhenti. Bagi penumpang yang berada di kereta, dihimbau untuk berpegangan pada handrail sampai guncangan berhenti. Setelah guncangan berhenti kereta akan melanjutkan perjalanan dengan kecepatan lebih rendah ke stasiun berikutnya.
Konstruksi jaringan MRT Jakarta sendiri sudah dirancang untuk menahana efek dari gempa bumi, persisnya tahan terhadap gempa hingga berkekuatan mencapai lebih dari 8 skala ricter. Tentang kekuatan konstruksi pada efek gempa, MRT Jakarta mengacu pada teknologi yang telah diterapkan di Jepang, dimana negara tersebut punya pengalaman dan kondisi yang mirip dengan Indonesia dalam hal potensi serta ancaman gempa bumi.
Electric scooter atau yang biasa disinkat e-skuter (dalam Bahasa) memang bukanlah hal baru di dunia per-transportasi-an. Mulai dari teknologi canggih yang berada di dalamnya, hingga kemampuannya untuk dillipat hingga bentuk kecil merupakan fitur yang menjadi daya jual dari e-skuter ini. Namun apa jadinya jika ada e-skuter yang mampu dilipat hingga berukuran sebesar ukulele saja? Wah, apa saja ya yang ditawarkan oleh e-skuter bernama MiniFalcon ini?
Baca Juga: OjO, Skuter Listrik Hasil Kolaborasi Austin Commuter Scooter
E-skuter MiniFalcon ini memiliki panjang kurang lebih 23 inci saja ketika dilipat. Hal ini bisa tercipta berkat tiang kemudi teleskopik, gagang yang dapat dilipat, rakitan roda belakang lipat, dan pijakan kaki yang relatif kecil. Pijakan tersebut hanya cukup untuk satu kaki saja, sedangkan kaki yang satunya lagi bisa Anda tempatkan pada pedal rem yang ada pada bagian belakang – atau mungkin bisa Anda biarkan melayang begitu saja.
Sumber: newatlas.com
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (2/8), MiniFalcon ini sendiri memiliki tinggi 115,5cm, lebar 44cm, dan ukuran dari roda ke roda mencapai 62cm. Sementara ketika dilipat, dimensinya menjadi sangat menyusut – tinggi 60cm, panjang 34cm, dan lebar 15cm saja. Tapi, bagi Anda yang memiliki bobot lebih dari 100kg, agaknya Anda harus menggigit jari karena e-skuter ini hanya mampu mengangkut berat hingga 99,7kg saja.
Kerangka dari MiniFalcon terbuat dari bahan yang sama dengan aluminium pesawat terbang dan menggunakan ban anti bocor yang siap menemani perjalanan Anda. E-skuter ini mampu menembus kecepatan maksimal 25km/jam dan dilengkapi dengan tiga tingkat gear atau gigi. Penambahan fitur gear ini memungkinkan pengguna untuk mengatur kecepatannya, mendaki hingga tingkat kemiringan 15 derajat.
Sumber: newatlas.com
MiniFalcon menggunakan baterai Li-On 5,2Ah dan menggunakan sistem pengereman ABS yang akan memberikan daya pengereman yang maksimal – kendati Anda melakukan pengereman mendadak sekalipun.
Baca Juga: Gogoro Smartscooter, Skuter Listrik Canggih Berbasis Aplikasi Online
Hadirnya layar digital pada stang MiniFalcon memungkin Anda memantau kondisi baterai dan beragam informasi lainnya.
Bagaimana, apakah Anda berniat untuk memiliki salah satu dari MiniFalcon ini? Anda dapat menyisihkan US$329 atau yang berkisar Rp4,7 juta kurs sekarang untuk bisa membawa pulang satu unit e-skuter ini. Berminat?
CSC yang merupakan dealer sepeda motor yang berbasis di Azusa, California baru saja menghadirkan skuter listrik terbarunya. Wiz merupakan skuter listrik yang mengikuti jejak skuter listrik City Slicker.
Baca juga: Gogoro Smartscooter, Skuter Listrik Canggih Berbasis Aplikasi Online
Skuter listrik ini dalam daftar kecepatan sebenarnya hanya mampu mencapai 43,5 mph atau sekitar 70 km per jam. Namun pemilik CSC Steve Seidner mengatakan, pihaknya telah melihat kendaraan tersebut dikemudikan dengan kecepatan mencapai 45-50 mph atau 72-80 km per jamnya tergantung berat pengendara dan jalur yang dilalui.
Dilansir KabarPenumpang.com dari electrek.co (29/7/2019), Wiz mulai minggu ini dikirim kepada para pembeli yang tersebar di Amerika Serikat oleh pihak dealer setelah menanti sejak bulan Mei lalu. Memiliki baterai 2 kwh, jangkauan Wiz cukup jauh yakni 50-65 km dan ini cukup untuk dikendarai hingga ke kota.
Harga untuk sebuah Wiz ini sekitar US$2495 atau sekitar Rp34,9 juta dan harga tersebut lebih murah dibanding skuter listrik lainnya yang jauh lebih mahal. Bahkan saat dibandingkan dengan City Slicker, ternyata Wiz lebih baik meski memiliki kinerja yang sama.
“Kami mengambil City Slicker dan Wiz untuk melihat bagaimana mereka membandingkan satu sama lain. City Slicker lebih cepat keluar jalur karena pengontrol hot-rod baru tetapi Wiz berhasil melakukannya dengan kecepatan yang lebih tinggi. Wiz secara keseluruhan hampir memiliki kinerja yang sama dengan City Slicker,” kata Steve.
Meski memiliki kemiripan, Wiz punya beberapa keunggulan yakni bagasi penyimpanan belakang yang mampu menampung lebih banyak dibanding glovebox kecil City Slicker. Selain itu, box tersebut juga bisa menjadi pengganti sandaran punggung.
Wiz juga merupakan desain step-through seperti kebanyakan skuter. Ini membuat pengendara lebih mudah mengendarainya dan pengguna perempuan yang menggunakan rok lebih bebas. Bahkan, Steve mengatakan bahwa Wiz telah terbukti sangat populer di kalangan pengendara wanita yang mencari motor listrik.
Baca juga: OjO, Skuter Listrik Hasil Kolaborasi Austin Commuter Scooter
“Pelanggan sangat senang dengan gaya skuter step-through Wiz, dan banyak orang yang memiliki City Slicker sekarang tertarik pada Wiz untuk istri mereka.
Secara umum, ada banyak minat dari kerumunan wanita di motor ini,” kata Steve.
Kereta gantung atau cable car yang ada saat ini hanya menghubungkan satu tempat yang dekat dan biasanya berada di area taman hiburan untuk memudahkan pengunjung melihat sekeliling tampat tersebut. Namun bagaimana jadinya jika kereta gantung ini melintas batas untuk memindahkan penumpang dari satu negara ke negara lain?
Baca juga: Biara Tatev, Sajikan Kereta Gantung Double Track Non-Stop Terpanjang di Dunia
Dalam pikiran mungkin ini hanya rencana yang bisa terjadi dan tidak. Namun nyatanya kereta gantung internasional pertama di dunia sudah direncanakan untuk menghubungkan dua negara yang hanya dipisahkan sebuah sungai yakni Rusia dan Cina.
(newatlas.com)KabarPenumpang.com melansir laman newatlas.com (1/8/2019), rencana ini didapat setelah adanya kompetisi arsitektur internasional yang diikuti UN Studio. Mereka dipilih untuk merancang terminal kereta gantung baru di Rusia dengan asumsi semua dapat berjalan sesuai rencana dimana proyek digambarkan sebagai mobil kabel lintas batas pertama di dunia oleh perusahaan.
Kereta gantung ini sendiri akan terhubung dengan mitra di Cina yang mana akan menyediakan perjalanan cepat antar dua negara itu. Terminal gantung yang di bangun di Rusia letaknya di Blagoveshchensk yang akan melibatkan Strelka KB dan lokasi ini berada disebelah Sungai Amur.
Sungai Amur ini sendiri mengalur di antara kota Blagoveshchensk dan Heihe di Cina (bagian sisi proyek yang dipilih). Dalam rancangannya kereta gantung akan terdiri dari dua jalur dengan menjalankan empat kabin yang masing-masingnya mampu menampung 60 penumpang.
Selain itu juga ada ruang bagasi untuk barang bawaan penumpang. Jarak antar Blagoveshchensk, Rusia ke Heihe, Cina yang dipisahkan Sungai Amur hanya 3,2 km dan memakan waktu sekitar tujuh setengah menit.
“Sistem kereta gantung menyediakan bentuk baru angkutan umum yang berkelanjutan, sangat cepat, dapat diandalkan, dan efisien. Meskipun terutama solusi pragmatis, kereta gantung juga merupakan cara yang sangat menyenangkan untuk bepergian karena memungkinkan kita untuk melihat dan mengalami kota-kota kita dengan cara yang sama sekali baru,” kata Ben Studio Berkel dari UN Studio.
Dia mengatakan, ketika melintasi perbatasan alami Sungai Amur, kereta gantung Blagoveshchensk – Heihe akan menjadi sistem kereta gantung pertama yang bergabung dengan dua negara dan budaya. Konteks ini memberikan inspirasi yang kaya untuk stasiun terminal Blagoveshchensk, yang tidak hanya merespons ke lokasi perkotaan langsung, tetapi juga menjadi ekspresi identitas budaya dan podium untuk percampuran budaya.
UN Studio mengatakan, desain bangunan terminal itu sendiri terinspirasi oleh pembekuan Sungai Amur secara teratur. Ini akan mencakup platform tontonan yang ditinggikan yang menawarkan pemandangan Amur menuju Heihe, titik pandang lainnya, taman atap, restoran atau pusat konferensi dan area keamanan seperti bandara.
Baca juga: Ngong Ping 360 – Berani Uji Adrenalin di Kereta Gantung Terpanjang di Dunia?
“Kami belum memiliki kabar tentang tanggal penyelesaian yang direncanakan, tetapi UN Studio memberi tahu kami bahwa pekerjaan di Terminal Kereta Gantung Blagoveshchensk diperkirakan akan dimulai dengan sungguh-sungguh tahun depan,” kata UN Studio.
Menikmati Lintas Raya Terpadu (LRT) Jakarta yang mengular dari Kelapa Gading menuju ke Velodrome di Rawamangun hingga kini masih saja berstatus uji coba publik alias gratis. Padahal tarif Rp5 ribu sudah disebarkan media sejak terdengarnya gaung seperti akan mulai melintas secara sah beberapa waktu lalu.
Baca juga: Stasiun Velodrome LRT Jakarta dan Halte Pemuda TransJakarta Kini Resmi Terkoneksi
Sebenarnya ada apa dengan LRT Jakarta yang melakukan uji coba publik terus-terusan ini? Dari Penelusuran yang dilakukan KabarPenumpang.com, awalnya pihak LRT Jakarta mengatakan mereka belum terintegrasi secara penuh dengan TransJakarta sehingga menunggu adanya integrasi tersebut.
Namun kemudian pada 26 Juli 2019 kemarin Stasiun LRT Jakarta Veledrome sudah terintegrasi dengan skybridge atau jembatan layang penyeberangan orang menuju ke Halte TransJakarta Pemuda Rawamangun. Bisa dikatakan satu masalah pun selesai yakni integrasi antar dua moda transportasi massal sudah terhubung.
Lalu pertanyaan baru muncul lagi, apakah ada masalah pada sistem tiket dan tapping di gate? Humas officer LRT Jakarta Santhi Pradayini Savitiri mengatakan, saat ini masih melakukan proses penyempurnaan semua sistem. Bahkan dia mengatakan, integrasi semua sistem seperti mesin tapping, gate, psd, occ hingga kereta berjalan baik.
“Semua dalam penyempurnaan, jadi flow-nya kita uji terus secara publik,” kata Santi saat dihubungi KabarPenumpang.com, Jumat (2/8/2019).
Dia menambahkan untuk buka secara publik dengan tarif belum jelas kapan akan dibuka. “Nanti kita update untuk pastinya,” kata Santi.
Untuk diketahui, uji coba publik sudah dimulai hampir dua bulan lalu yakni sejak 11 Juni 2019 dengan waktu operasional kereta mulai pukul 05.30-23.00 WIB. Adapun headway atau jarak waktu antar kereta sekitar sepuluh menit.
LRT Jakarta sendiri memiliki lima stasiun yang bisa digunakan sebagai akses naik dan turun penumpang. Lima stasiun itu adalah Boulevard Utara, Boulevard Selatan, Pulomas, Equestrian, dan Velodrome serta satu Depo di Pegangsaan Dua, Kelapa Gading.
Baca juga: Tarif LRT Jakarta Flat Rp5 Ribu, Lalu Kapan Beroperasinya?
Bahkan sebelumnya LRT Jakarta sendiri diperkirakan mengular secara resmi di ibukota Jakarta sejak Januari 2019 atau sebelum Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta mengular dari Lebak Bulus hingga ke Bundaran Hotel Indoneisa (HI). Adapun uji coba publik yang hingga kini masih berlangsung merupakan yang kedua dimana yang pertama sudah berjalan hampir dua minggu sejak 4 Maret hingga 18 Maret 2019 kemarin.