Mulai Mengular 2021, Kereta Cepat Jakarta-Bandung Gunakan Kereta Generasi Baru CR400AF

Bila tak ada kendala lagi, Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) akan mengular sekitar dua tahun lagi atau tepatnya pada 2021 mendatang. Dalam pengoperasiannya ini, PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) akan memiliki konsesi pengelolaan selama 50 tahun atau lebih lama sepuluh tahun dibandingkan dengan MRT Jakarta ke Jepang.

Baca juga: Nantinya, Kereta Cepat Jakarta-Bandung Akan Terintegrasi LRT Bandung Raya

Konsesi ini akan berlaku sejak KCJB beroperasi dan bila masanya habis, pihak KCIC harus mengembalikan semua prasarana kepada pemerintah dalam kondisi clear and clean serta laik untuk beroperasi. Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Zulfikri mengatakan hal tersebut dan menambahkan kereta cepat ini bisa beroperasi.

Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Zulfikri sendiri menegaskan bahwa pihak pemerintah sama sekali tidak mengeluarkan dana dari APBN untuk proyek kereta cepat tersebut. Sehingga saat nantinya pun akan mulai beroperasi, pemerintah tidak akan mengalokasi anggaran untuk subsidi kereta cepat.

“Oh tidak ada subsidi, itu investasi full. Pemerintah tidak ada ikut sama sekali termasuk lahan pun mereka (KCIC),” katanya.

Apalagi sejak awal pengerjaan proyek ini, pemerintah secara tegas menyatakan tidak akan menjaminnya secara finansial. Pemerintah hanya memberikan jaminan terkait konsistensi kebijakan pembangunan kereta cepat dan sesuai dengan Perpres No.107/2015 tentang percepatan penyelenggaraan prasarana dan sarana kereta cepat antara Jakarta dan Bandung.

Nantinya kereta yang akan digunakan untuk KCJB akan menggunakan kereta generasi baru CR400AF yang merupakan hasil pengembangan CRH308A oleh CRRC Qingdao Sifang. KCIC mengatakan, kereta generasi baru ini memiliki keunggulan seperti kecepatan desain hingga 420 km per jam dan kecepatan operasional 350 km per jam.

KCIC mengatakan, kecepatan 350 km per jam bisa dicapai karena satu rangkaian kereta CR400AF ini terdiri dari delapan kereta atau cars dengan komposisi empat bermotor dan empat lainnya tanpa motor. CR400AF juga dipastikan mampu menghadapi kondisi geografis lintasan Jakarta-Bandung yang cenderung menanjak.

Dengan kondisi itu, CR400AF disebut bisa menempuh jarak 142,3 km Jakarta-Bandung hanya dalam waktu 36 menit untuk perjalanan langsung atau 46 menit dengan kondisi perjalanan berhenti di setiap stasiun. Di sepanjang trase kereta cepat Jakarta-Bandung akan terdapat empat stasiun pemberhentian, yakni di Halim, Karawang, Walini dan Tegalluar.

Dari sisi keamanan, setiap rangkaian CR400AF dilengkapi dua lightning arrester. Fungsinya untuk meningkatkan keamanan terhadap sambaran petir, terutama di sisi peralatan tegangan tinggi. CR400AF juga dilengkapi dengan dua emergency brake.

Baca juga: Kemenhub Dorong PT KAI Jadi Operator Kereta Cepat Jakarta-Bandung

Pertama, emergency brake EB yang bekerja berdasarkan perintah driver controller, fasilitas emergency brake penumpang, dan kontrol kewaspadaan masinis. Kedua, emergency brake UB yang akan aktif berdasarkan fungsi automatic train protection (ATP), pendeteksi jarak antarkereta dan pada saat power kereta dalam kondisi off/tidak bekerja.

“Dengan dua sistem emergency brake ini, CR400AF menawarkan tingkat keamanan yang lebih untuk melindungi kereta pada saat terjadi kesalahan sistem maupun human error,” tulis KCIC.

Pacu Jalur Penerbangan Domestik, Garuda Indonesia Lakukan Codeshare dengan 14 Maskapai Global

Setelah muncul pemberitaan codeshare Garuda Indonesia dengan China Airlines pada rute domestik Jakarta-Makassar, kini Garuda Indonesia terus mengembangkan codeshare untuk pangsa penerbangan domestik. Codeshare dinilai sebagai jurus ampuh untuk meningkatkan frekuensi penerbangan tanpa harus menambah jumlah armada. Tidak tanggung-tanggung, Garuda Indonesia telah menggandeng 14 mitra maskapai global untuk codeshare di penerbangan dalam negeri.

Baca juga: Beredar Kabar China Airlines Lakoni Rute Domestik Jakarta–Makassar, Ini Penjelasannya!

Dikutip dari siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com (18/6), maskapai mitra bertindak sebagai marketing carrier (maskapai yang memasarkan) dan Garuda Indonesia bertindak sebagai maskapai yang mengoperasikan penerbangan (atau operating carrier).

Kerjasama codeshare dengan maskapai asing dilaksanakan pada rute – rute dari ibukota negara (atau kota-kota utama) masing – masing ke Jakarta dengan penerbangan mereka (mereka sebagai operating carrier) dan dari Jakarta ke wilayah domestik lainnya, dimana Garuda Indonesia sebagai operating carrier atau maskapai yang mengoperasikan penerbangan di Indonesia.

Direktur Niaga Garuda Indonesia Pikri Ilham Kurniansyah mengatakan bahwa pelaksanaan codeshare dengan maskapai global merupakan strategi Garuda Indonesia untuk meningkatkan jumlah penumpangnya dan bagian dari peningkatan layanan dengan memberikan semakin banyak pilihan destinasi bagi penumpang.

“Kerjasama codeshare di domestik tersebut juga bagian dari upaya Garuda Indonesia untuk memperkuat posisi Jakarta, Surabaya, dan Medan sebagai hub penerbangan di domestik, selain Bali dan Makassar. Semua penerbangan di domestik yang menjadi bagian dari kerjasama codeshare dioperasikan oleh Garuda Indonesia. Dalam hal ini Kementerian perhubungan telah memberikan izin perpanjangan bagi rute domestik Garuda Indonesia untuk menjadi bagian dari codeshare hingga periode musim panas (summer season) mendatang atau Oktober 2019.

Melalui kerjasama codeshare, Garuda Indonesia sebagai operating carrier akan menerbangkan penumpang internasional dari maskapai penerbangan global tersebut pada rute rute domestik yang dilayani Garuda Indonesia. Selanjutnya, pihak maskapai global yang melaksanakan codeshare dengan Garuda Indonesia akan menjadi marketing carrier yang akan menjual dan menawarkan tiket rute domestik Garuda Indonesia kepada para penumpang.

Penjualan tiket rute domestik Garuda Indonesia oleh marketing carrier dari luar negeri haruslah menjadi satu kesatuan dengan tiket internasional dari kota asal (negara) penerbangannya dan penumpang tersebut – walaupun terbang di domestik dengan Garuda Indonesia – dianggap penumpang internasional.

Baca juga: Perluas Rute, Mulai 8 Mei Garuda Indonesia dan Japan Airlines Tingkatkan Codeshare

14 maskapai global yang bekerjasama codeshare dengan Garuda Indonesia tersebut , diantaranya adalah All Nippon Airways, Japan Airlines, Etihad Airways, KLM Royal Dutch Airlines, Vietnam Airlines, Saudi Arabian Airlines, Malaysia Airlines, China Airlines, Bangkok Airways, Turkish Airlines, Oman Air, Air Europa Lineas Aereas, serta Aeromexico. Dengan pilihan rute penerbangan yang dioperasikan oleh Garuda Indonesia sebagai berikut :

Jakarta – Lampung pp | codeshare dengan Malaysia Airlines & China Airlines
Jakarta – Palembang pp | codeshare dengan Malaysia Airlines & All Nippon Airways
Jakarta – Padang pp | codeshare dengan Etihad Airways
Jakarta – Pekanbaru pp | codeshare dengan China Airlines & Etihad Airways
Jakarta – Medan pp | codeshare dengan Saudia Airlines, China Airlines, All Nippon Airways, Etihad Airways
Jakarta – Yogyakarta pp | codeshare dengan Bangkok Airways, China Airlines, Malaysia Airlines, All Nippon Airways, KLM, Japan Airlines
Jakarta – Solo pp | codeshare dengan Etihad Airways & Malaysia Airlines
Jakarta – Semarang pp | codeshare dengan Bangkok Airwayss, Saudia Airlines, China Airlines, Malaysia Airlines, All Nippon Airways, KLM
Jakarta – Surabaya pp | codeshare dengan Bangkok Airways, Etihad Airways, Malaysia Airlines, All Nippon Airways, China Airlines, Vietnam Airlines, KLM, Japan Airlines, Saudia Airlines
Jakarta – Denpasar pp | codeshare dengan Etihad Airways, Turkish Airlines, Bangkok Airways, Oman Air, Saudia Airlines, Vietnam Airlines, Air Europa, All Nippon Airways, KLM, Aeromexico
Jakarta – Lombok pp | codeshare dengan All Nippon Airways
Surabaya – Kupang pp | codeshare dengan Malaysia Airlines
Jakarta – Pontianak pp | codeshare dengan China Airlines
Jakarta – Banjarmasin pp | codeshare dengan Malaysia Airlines
Jakarta – Balikpapan pp | codeshare dengan Etihad Airways, KLM, China Airlines, All Nippon Airways
Jakarta – Manado pp | codeshare dengan All Nippon Airways, & Etihad Airways
Jakarta – Makassar pp | codeshare dengan Malaysia Airlines, Saudia Airlines, Bangkok Airways, China Airlines, All Nippon Airways, KLM, Saudia Airlines, Etihad Airways
Jakarta – Ambon pp | codeshare dengan KLM
Surabaya – Lombok pp | codeshare dengan Malaysia Airlines
Surabaya – Makassar pp | codeshare dengan Malaysia Airlines

Upaya Kembalikan Kepercayaan Publik, Boeing Pertimbangkan Rebranding 737 MAX

Setelah dua bulan berturut-turut (April dan Mei) tanpa adanya order masuk ke perusahaan, akhirnya Boeing mempertimbangkan untuk mengubah nama dari varian 737 MAX yang belakangan ini menjadi sorotan publik dunia. Pernyataan ini diutarakan oleh Chief Financial Officer Boeing, Greg Smith pada pagelaran Paris AirShow 2019. Dirinya mengungkapkan bahwa pihak Boeing sangat terbuka dalam menerima masukan yang ada.

Baca Juga: Paris AirShow 2019 Jadi Ajang ‘Klarifikasi’ Besar-Besaran Bagi Boeing

“Kami berkomitmen untuk melakukan apa yang perlu untuk pemulihan. Jika itu berarti kami harus mengubah nama, maka kami akan mengkaji. Jika tidak, kami akan melakukan yang terbaik,” ujar Greg, dilansir KabarPenumpang.com dari laman Reuters (18/6/2019).

Kendati begitu, melakukan rebranding bukanlah satu-satunya jalan keluar terbaik bagi Boeing untuk keluar dari zona keterpurukan. Stigma buruk tentang penggunaan nama sebelumnya tidak akan serta-merta begitu saja luntur dari varian terkait. Pernyataan ini didukung oleh pakar penerbangan asal Florida Institute of Technology, Shem Malmquist. Ia mengungkapkan bahwa rebranding untuk sebuah nama yang dilatarbelakangi oleh kejadian atau insiden yang sangat buruk akan sangat dulit terjadi – mengingat maskapai tidak akan memesan armada terkait dengan menggunakan nama barunya.

Akan sangat sulit bagi Boeing untuk mengembalikan kepercayaan penumpang terhadap varian 737 MAX. Bayang-bayang dua kecelakaan dalam rentang waktu lima bulan yang menimpa Lion Air dan Ethiopian Airlines akan tercatat dalam sejarah dan hal inilah yang akan menjadi ancaman besar bagi Boeing.

Tidak hanya dari sisi dua kecelakaan tersebut saja, melainkan pengakuan dari CEO Boeing, Dennis Muilenberg terkait pihak produsen kedirgantaraan yang telah terlebih dahulu mengetahui masalah ini sebelum dua kecelakaan yang menewaskan lebih dari 300 orang tersebut akan menjadi bahan pertimbangan pihak maskapai dan penumpang untuk kembali mempercayakan produksian mereka. Ya, siapa yang tidak punya ketakutan hal serupa akan terjadi kembali di masa yang akan datang?

Baca Juga: Berikan Dukungan Pada Boeing, Donald Trump Usulkan Rebrand 737 MAX

Menyoal rebranding, sebelumnya pada tanggal 15 April 2019 yang lalu, Presiden Donald Trump sudah memberikan kode agar Boeing melakukan rebranding terhadap varian 737 MAX melalui media sosial Twitter.

Paris Air Show 2019 Jadi Ajang ‘Klarifikasi’ Besar-Besaran Bagi Boeing

Pagelaran Paris Air Show yang diadakan mulai 17 Juni hingga 23 Juni 2019 seharusnya menjadi ajang saling pamer antara produsen pesawat dari berbagai penjuru dunia – dengan dua aktor utamanya, Boeing dan Airbus. Namun tampaknya tahun ini pagelaran yang diadakan di Parc des Expositions Paris-le Bourget tidaklah berjalan seimbang, pasalnya Airbus tidak mendapatkan saingan yang setara. Ya, Boeing memang datang dengan kondisi terseok-seok ke perhelatan pameran dirgantara terbesar di dunia ini.

Baca juga: Berikan Dukungan Pada Boeing, Donald Trump Usulkan Rebrand 737 MAX

Bahkan, seperti yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman aljazeera.com (18/6/2019), pagelaran Paris AirShow 2019 didominasi oleh krisis yang dialami oleh Boeing – dimana ada banyak pihak yang lalu menaruh perhatian kepada Boeing. Merasa sudah mendapatkan banyak pasang mata, pihak Boeing lalu berusaha untuk mengembalikan image dari varian 737 yang sudah kadung tercoreng akibat dua kecelakaan fatal yang menimpa Lion Air di bulan Oktober 2018 dan Ethiopian Airlines pada Maret 2019.

Selain perbaikan sistem yang sudah dilakukan Boeing sejak beberapa bulan ke belakang, penyandang predikat eksportir terbesar bagi Amerika Serikat ini juga membuka kesempatan untuk melakukan rebranding yang ditujukan agar masyarakat awam bisa melupakan dua kecelakaan fatal tersebut. Namun kembali lagi, tidak ada yang bisa menjamin bahwa Boeing tidak akan melakukan kesalahan yang sama di waktu yang akan datang.

Pada pagelaran yang sama, eksekutif Boeing juga mengatakan bahwa mereka telah memperbaiki keseluruhan sistem yang ada di 737 MAX dan siap untuk mengudara kembali. Tapi apakah dengan diperbaikinya keseluruhan sistem yang error dan melakukan rebranding akan mengubah mindset masyarakat awam yang sudah kadung jelek ketika mendengar nama Boeing 737 MAX?

Dalam sebuah pidato di Paris Air Show 2019, Chief Financial Officer dari Boeing, Greg Smith mengatakan, “dua kecelakaan nahas tersebut hanya mengintensifkan upaya kami untuk memastikan tingkat keamanan tertinggi dari segi kualitas dan segalanya,”

Baca Juga: Boeing 737 MAX 7, Pecahkan Rekor Internal Penjualan Pesawat Tercepat Sepanjang Sejarah!

Sebagai informasi tambahan, Boeing 737 MAX sempat menyandang predikat sebagai pesawat dengan penjualan tercepat sepanjang masa – setidaknya gelar tersebut bertahan hingga Lion Air dengan nomor penerbangan JT-610 jatuh di perairan Tanjung Karawang pada Oktober 2018 silam.

 

Tingkatkan Efisiensi, Garuda Indonesia Resmi Adopsi Digital Navigation Chart

Mengikuti tuntutan efiensi yang tengah mengemuka di segmen maskapai internasional, Garuda Indonesia telah resmi meluncurkan apa yang disebut sebagai digital navigation chart, yaitu inovasi terbarunya dalam mempelopori digitalisasi sistem layanan operasional penerbangan. Digital navigation chart merupakan upaya optimalisasi operasional navigasi sekaligus menjadi komitmen perusahaan dalam mempelopori komitmen menuju paperless airline dengan penerapan digital navigation chart dalam tata kelola operasional penerbangan.

Baca juga: Auto Pilot – Sistem yang Mudahkan Pilot Atur Navigasi Selama Mengudara

Digital navigation chart Garuda Indonesia menggunakan aplikasi electronic flight bag (EFB) Jeppesen FliteDeck Pro hasil kerja sama dengan Jeppesen Sanderson, Inc, yang merupakan anak perusahaan dari Boeing. Adapun melalui penggunaan digital navigation chart diharapkan mampu memaksimalkan efisiensi biaya melalui proses bisnis yang lebih efektif dan efisien. Penggunaan digital navigation chart ini sekaligus mengurangi cost hingga 59 persen per tahun dari aspek biaya manual navigation chart melalui kerja sama kontrak yang baru termasuk gratis paket JeppFD.

Tidak hanya itu, digital navigation chart juga turut berpotensi menghemat biaya perawatan mesin pesawat .

“Jika dibandingkan sebelumnya, navigation chart yang seluruhnya masih menggunakan hard copy dalam bentuk buku kini dapat diakses hanya dengan aplikasi di tablet PC, tentunya hal ini akan memberikan nilai tambah bagi Perusahaan, khususnya terkait komitmen maskapai dalam menegakan prinsip-prinsip paperless airlines”, ujar Direktur Operasi Garuda Indonesia Capt. Bambang Adisurya Angkasa dalam catatan tertulis yang diterima KabarPemumpang.com (19/6).

Aplikasi navigation chart Jeppesen FliteDeck Pro mampu meningkatkan aspek keamanan pada saat di udara karena kemudahan akses informasi dan distribusi data serta komunikasi antar lini operasional dapat berlangsung jauh lebih cepat, tepat dan akurat. Dengan demikian beban kerja dan waktu persiapan yang dilakukan para Pilot ketika berada di cockpit dapat berkurang. Selain itu, digital navigation chart diharapkan dapat meminimalisir potensi gangguan penerbangan akibat data manual yang belum diperbarui.

Aplikasi digital navigation chart secara dinamis akan menampilkan informasi detail mengenai enroute weather layer, in App NOTAM, real-time data, GPS-based positional awareness, vector-based terminal charts yang mampu mendorong kesadaran situasional para Pilot pada saat di dalam cockpit.

Bambang menyampaikan bahwa aplikasi Jeppesen Flite Deck Pro juga terintegrasi dengan aplikasi Electronic Flight Bag (EFB) Project lainnya yang salah satunya adalah e-performance calculation untuk meningkatkan kecepatan dan keakuratan pada saat aircraft performance calculation.

Baca juga: Dihilangkan dari Dunia Aviasi Modern, Kira-Kira Inilah Tugas Seorang Flight Engineer

Proses transformasi digital navigation chart sendiri akan dilakukan secara bertahap, untuk saat ini implementasi digitalisasi dilakukan pada pesawat wide-body jenis Boeing 777 dan Airbus 330 serta tercatat 800 pilot sudah didaftarkan untuk menggunakan tablet PC yang telah terpasang aplikasi Jeppesen FliteDeck Pro.

Pakistan Klaim 200 Peziarah Sikh Tak Bisa Lalui Perbatasan India dengan Kereta

Sebanyak 200 peziarah Sikh asal Pakistan tak bisa melalui perbatasan India karena kereta mereka tak mendapatkan izin melintas. Padahal para peziarah tersebut akan menghadiri Jore Mela atau peringatan kematian Guru Arjun Dev Jee.

Baca juga: Jepang Rencanakan Bangun Proyek Kereta Cepat di 5 Kota India

Hal ini bahkan diklaim oleh pihak Pakistan pada Jumat (14/6/2019), dimana India menolak membiarkan kereta api melintasi perbatasan ke Lahore tepatnya di Stasiun Attari. Ketua Komite Sikh Gurdwara Parbhandhik (PSGPC) Pakistan Tara Singh mengatakan keputusan India telah mengecewakan komunitas Sikh di Pakistan.

Dilansir dari news18.com (15/6/2019) oleh KabarPenumpang.com, Amir Hashmi juru bicara Dewan Properti Evacuee Trust mengatakan, dalam perayaan tersebut Pakistan sudah mengeluarkan visa untuk 200 Sikh India untuk menghadiri Jore Mela dan akan tiba di Lahore dengan kereta api pada hari Jumat.

“Kami tetap berhubungan dengan pihak berwenang India di perbatasan mengenai membiarkan kereta api Pakistan melintasi perbatasan untuk memilih Yatris Sikh yang menunggu tetapi mereka jelas menolak,” klaim Hashmi.

Padahal kedutaan Pakistan telah mengeluarkan visa tujuh hari kepada 200 anggota Sikh untuk mengunjungi Lahore dan beberapa tempat suci Sikh lainnya di negara tetangga, termasuk Gurdwara Kartarpur Sahib. Namun, ternyata pemerintah India menolak untuk mengizinkan kereta Pakistan masuk wilayahnya untuk membawa Sikh Yatris.

Bahkan pemberitahuan tersebut pada pagi hari, dimana para peziarah diberitahu di stasiun kereta Attari bahwa tidak ada izin dari pemerintah India untuk mengizinkan kereta, datang dari Wagah, untuk memasuki stasiun. Sekretaris Jenderal Persatuan Akali Dal Paramjit Singh Jijani mengatakan, kereta tersebut adalah kereta khusus untuk mengangkut bhakta Sikh dari India.

Baca juga: Makan dan Minum Gratis di Kereta India Bila Tak Diberi Tagihan

Dalam hal penolakan tersebut, Hashmi mengatakan bahwa pihak berwenang India tidak memberikan alasan dari penolakan yang nereka lakukan.

“Kami telah memprotes keputusan India. Karena Komisi Tinggi Pakistan (di Delhi) telah mengeluarkan visa kepada 200 Sikh, tidak ada gunanya menghentikan mereka datang ke Lahore. Bahkan masalah ini akan menjadi masalah India, di tingkat pemerintah,” kata Hashmi. Sebagai informasi, India dan Pakistan beberapa lalu sempat bersitegang dalam insiden duel udara di wilayah udara Kashmir.

Memukau, ‘Sosok’ Airbus A380 Emirates Jadi Ladang Bunga Terbesar di Dubai

Pernah lihat sebuah pesawat Airbus A380 dipenuhi bunga-bunga di seluruh permukaannya? Mungkin hal ini dianggap mustahil dan hanya sebuah editan bila dilihat dalam foto. Tetapi ternyata di Dubai, Uni Emirat Arab, ada A380 milik Emirates yang seluruh bodi luarnya dipenuhi dengan bunga segar.

Baca juga: So Sweet! Pramugari Emirates Dilamar di Udara

Tentu saja yang dimaksud bukan pesawat asli, melainkan berupa mockup yang dibentuk dengan skala penuh. KabarPenumpang.com merangkum dari laman emirates.com, bunga-bunga tersebut bisa terpasang di mockup A380 tersebut karena adanya kerja sama Emirates dengan Dubai Miracle Garden yang membangun instalasi bunga terbesar dalam bentuk pesawat. Untuk memenuhi seluruh permukaan pesawat Emirates A380, dibutuhkan lebih dari 500 ribu bunga segar dan tanaman hidup.

Saat bunga-bunga ini bermekaran, maka akan ada lima juta bunga dengan berat lebih dari 100 ton yang belum pernah terjadi sebelumnya. Boutros Boutros, Divisional Senior Vice President, Corporate Communications, Marketing & Brand mengatakan, Emirates yang menggunakan pesawat Airbus A380 sangat populer di kalangan penumpang seluruh dunia.

“Melalui upaya kolaborasi dengan Dubai Miracle Garden, kami berharap dapat menginformasikan, menginspirasi dan menyenangkan pengunjung melalui skala tipis dan keindahan instalasi A380 bermotif bunga. Penerbangan mempengaruhi seluruh kehidupan kita, dan A380 yang dipamerkan akan menawarkan pengunjung kesempatan untuk lebih dekat dengan sosok pesawat angkut komersial terbesar ini. Inisiatif lingkungan yang progresif dan metode membangun dan menanam instalasi Emirates A380 juga selaras dengan eko-efisiensi pesawat,” ujarnya.

Abdel Naser Rahhal, Co-Founder and Creator of Dubai Miracle Garden mengatakan, menggunakan Emirates A380 adalah pencapaian besar bagi Dubai Miracle Garden. Apalagi pihaknya bangga memiliki instalasi bunga pada pesawat sebagai karya bunga terbesar di dunia yang pernah dibuat.

“Kami berharap bahwa ketika pengunjung mendekat ke Emirates A380 mereka akan merasakan skala di mana ia dibangun. Seperti moto kami mengatakan: Kami adalah tuan hijau dan pembuat bunga, ke mana pun kami pergi, kami membuatnya hijau, apa pun yang kami sentuh, kami membuatnya berkembang,” ujar Rahhal.

Bunga yang digunakan untuk membuat A380 Emirates adalah bunga hidup yang ditanam secara berkelanjutan dan dipanen selama empat bulan di pembibitan Taman Miracle Dubai di Uni Emirat Arab (UEA). Ada tujuh varietas tanaman yang tersebar di badan pesawat A380 tersebut yakni Petunia, Coleus (Plectranthus scutellarioides), Marigold (Tagetes), Snapdragon (Antirrhinum), Viola, Geranium (Pelargonium) dan Gaillardia (Gaillardia aristata).

Bahkan sembilan ribu bunga dan tanaman membentuk logo ikon dari Emirates serta 100 ribu bunga membentuk sayap yang sangat besar mencapai lebih dari 80,27 meter. Lebih dari 200 anggota kru instalasi dengan cermat bekerja 10 jam sehari selama 180 hari untuk membangun, melapisi dan memasang dedaunan tekstur pada struktur baja 30 ton yang membentuk Emirates A380.

Struktur pesawat bahkan mencakup kipas mesin yang bergerak dan fitur desain utama lainnya yang menangkap esensi dari desain pesawat asli.

Instalasi tanaman ini adalah struktur terbesar yang pernah dibangun di taman dan diatur pada petak bunga 7.460 meter persegi, sekitar 10 persen dari Dubai Miracle Garden. Pendekatan Dubai Miracle Garden untuk praktik hortikultura dan lansekap yang berkelanjutan berarti ia tumbuh dan mengangkut bunga dan tanaman dengan jejak karbon minimal.

Praktek perkebunan vertikal digunakan untuk meminimalkan konsumsi air, dengan benih hibrida berkualitas tinggi dijahit ke nampan dan kemudian dipindahkan ke berbagai tanah khusus, memungkinkan aerasi dan retensi air yang tepat. Setelah musim Dubai Miracle Garden berakhir, tanah akan digunakan sebagai pupuk organik.

Baca juga: Abaikan Tombol Panggilan dari Penumpang, Awak Kabin Emirates Terima Memo Peringatan

Struktur Emirates A380 dibangun dari bahan daur ulang dan bunga serta tanaman diairi melalui sistem air tetes yang dirancang khusus untuk struktur yang akan membuat instalasi A380 terhidrasi dan subur sepanjang musim. Instalasi Emirates A380 akan dipamerkan untuk umum mulai 27 November 2016 lalu dan dapat dilihat dari platform khusus di pusat Dubai Miracle Garden.

Siap Saingi AirAsia, Scoot Minat Buka Rute Domestik di Indonesia

Menanggapi ide dari Presiden Joko Widodo yang hendak memasukkan maskapai asing untuk beroperasi di rute domestik, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan bahwa ada sejumlah nama maskapai asing yang tertarik untuk membuka perusahaan di Indonesia – salah satunya datang dari maskapai negara tetangga, Scoot. Ya, maskapai yang melayani sektor Low Cost Carrier (LCC) ini dikabarkan tertarik untuk melayani penerbangan domestik di Tanah Air.

Baca Juga: ‘Impor’ Maskapai Asing untuk Turunkan Harga Tiket, Ini Kemungkinan Terburuknya!

Sebagaimana yang diwartakan KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, keberadaan anak perusahaan dari Singapore Airlines akan bersanding dengan bersanding dengan AirAsia yang sudah terlebih dahulu melayani penerbangan domestik di Indonesia.

“AirAsia sudah tinggal menambah saja. Yang ada apa itu, (maskapai) Scoot sama siapa, ada tiga itu yang baru,” ujar Menteri Budi, dikutip dari laman cnnindonesia.com (17/6/2019).

Untuk dua maskapai lagi, Meneteri Budi masih enggan menyebutkan, namun ia menekankan bahwa pihaknya ingin membuka kesempatan bagi maskapai asing untuk beroperasi di Indonesia. Selain dapat memperkaya pilihan maskapai bagi penumpang, upaya mengimpor maskapai asing ini juga dipercaya oleh sebagian pihak dapat menekan harga tiket pesawat yang mengalami lonjakan beberapa waktu ke belakang.

“Jadi spiritnya bukan asing tapi kompetisi. AirAsia pertama mungkin (yang pertama) bisa jalan,” lanjut Menteri Budi.

Sementara untuk AirAsia, Menteri Budi menambahkan bahwa maskapai besutan Tony Fernandes ini hanya akan menambah rute penerbangan saja. Tujuannya agar layanan penerbangan domestik bisa dilayani oleh banyak maskapai, karena saat ini, sekitar 97 persen penerbangan domestik dikuasai Garuda Indonesia Grup dan Lion Air Grup.

Diketahui, saat ini Scoot mengoperasikan 48 armada – Airbus A319-100 (satu unit), Airbus A320-200 (26 unit), Airbus A320NEO (dua unit), Boeing 787-8 (10 unit), dan Boeing 787-9 (sembilan unit).

Baca Juga: Kurang Armada untuk Tangani Rute, Scoot Bakal Sewa 12 Unit Airbus A320

Kendati menyandang predikat sebagai Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi tidak punya kuasa untuk mengatur harga tiket pesawat yang terus melonjak. Menurutnya, ia hanya sebatas mengatur tarif batas atas dan tarif batas bawah.

“Tiket itu bukan urusan saya. Jadi urusan dari airlane-nya. Saya urusannya (tarif batas) atas dan bawah. Saya cuma mengatur batas (tarif),” tegasnya.

Adopsi Bus Listrik, Antara Harapan dan Tantangan yang Menghadang

Sebagai salah satu kota utama di Asia, Jakarta kini tengah melakukan uji coba dalam implementasi bus listrik. Persisnya lewat operator PT TransJakarta, unit bus listrik kini sedang lalu-lalang di sekitaran Monas dan Taman Mini Indonesia Indah guna melihat seberapa jauh respon masyarakat, selain tentunya melihat performa dari bus yang mengandalkan pasokan energi listrik dari baterai ini.

Baca juga: Mampu Angkut 250 Penumpang, BYD Automobile Luncurkan Bus Listrik Terpanjang di Dunia

Meski menawarkan sejumlah keunggulan berupa bebas emisi dan memajukan penggunaan energi terbarukan, namun adopsi bus listrik bukan tanpa kendala pada kota-kota yang masih dalam lingkup ‘berkembang.’

Dilihat dari populasinya, saat ini bus listrik baru menguasai pangsa 17 persen di dunia atau sebanyak 425 ribu armada dengan 99 persen bus listrik dioperasikan di Cina.

Selain penyiapan infrastruktur, lambatnya penetrasi bus listrik disebababkan oleh beberapa keraguan. Semisal beberapa produsen bus besar masih mengatasi masalah mereka dari sisi lini produksi. Selain itu ada tantangan pada kinerja, selama tes awal di tempat-tempat seperti Belo Horizonte, Brasil, bus listrik kesulitan melewati bukit curam dengan muatan penumpang penuh. Albuquerque, New Mexico, membatalkan kesepakatan 15 bus dengan BYD pabrikan Cina setelah menemukan masalah pada perangkat selama pengujian.

Bus listrik bisa menempuh jarak sekitar 225 mil atau 362,102 km dalam sekali charge (isi ulang) baterai, tergantung pada kondisi topografi dan cuaca, yang berarti operator harus kembali ke depot sekali sehari pada rute yang lebih pendek di kota padat dan ini menjadi masalah di berbagai area yang padat akan kemacetan. Hal utama yang tampaknya dilupakan orang-orang tentang bus listrik adalah bahwa mereka perlu dikenakan biaya. Perlu dicatat, waktu isi ulang baterai secara penuh bisa memakan waktu sampai 4 jam, ini tentu harus diperhitungkan agar tidak menganggu pelayanan.

Instalasi depot pengisian energi dalam ukuran standar bisa menelan biata US$50 ribu. Investasi akan lebih tinggi bila depot dirancang untuk meng-handle beberapa bus ukuran besar sekaligus. Nilai di atas belum termasuk biaya konstruksi. Di pusat kota yang padat, pergerakan di dalam depot bus dapat diatur dengan ketat untuk mengakomodasi parkir dan pengisian bahan bakar. Pembangunan infrastruktur bus listrik merupakan tantangan yang berat dalam hal pengembalian investasi.

Lain dari itu, penyedia jasa pengisian listrik harus mendapatkan pasokan langsung ke stasiun pengisian mereka, bukan tak mungkin harus ada investasi untuk menyiapkan gardu baru. Warren, eksekutif New Flyer, memperkirakan butuh listrik 150 megawatt-jam untuk membuat depot 300 bus terisi penuh sepanjang hari. Sebagai perbandingan rumah tangga di  Amerika Serikat hanya mengonsumsi 7 persen dari jumlah itu dalam satu tahun.

Baca juga: BYD K9 – Inilah Bus Listrik untuk Koridor 13 TransJakarta

Diperkirakan bahwa hanya kurang dari 60 persen dari semua armada bus di dunia yang akan dikonversi menjadi bus listrik pada tahun 2040.

[Video] Airbus Kembangkan “AlbatrossOne,” Desain Sayap yang Terinspirasi dari Burung Albatros

Anda pernah mendengar nama burung Albatros? Ya, siapa sangka burung yang identik dengan area perairan ini menjadi inspirasi para insinyur di sektor aviasi dalam menciptakan sebuah pesawat yang kompatibel dengan kebutuhan penerbangan di masa yang akan datang. Alih-alih menciptakan sebuah pesawat yang memiliki kontur body seperti burung Albatros yang terkenal bisa mengarungi angkasa tanpa harus mengepakkan sayapnya, namun para insinyur dari Airbus menduplikasi bagian sayap dari burung Albatros. Perkenalkan, AlbatrossOne!

Baca Juga: Tak Kunjung Balik Modal, Tepatkah Airbus Hentikan Program A380?

Tentu saja nantinya sayap dari AlbatrossOne tidak akan bisa mengepak, melainkan bagian ujung sayapnya (wingtip) saja yang sengaja didesain untuk dapat bergerak mengikuti hembusan angin. Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (18/6/2019), nantinya pihak Airbus akan menambahkan engsel khusus pada bagian wingtip – sama seperti varian Boeing 777X yang dapat melipat bagian ujung sayapnya ketika bentang sayap terlalu lebar untuk masuk ke ‘parkiran’ pesawat.

Untuk bagian wingtip sendiri, Airbus menggunakan bahan semi-aeroelastik yang akan bergerak bebas ketika tertiup oleh angin. Penggunaan desain sayap seperti ini dipercaya oleh pihak Airbus akan memberikan perubahan yang cukup signifikan ketika pesawat menghadapi turbulensi. Selain itu, para insinyur juga percaya bahwa penggunaan wingtip berengsel ini dapat mengurangi berat sayap secara keseluruhan.

Dalam upayanya untuk mewujudkan model ini, pihak Airbus telah menciptakan versi remote control yang telah sukses diuji coba di Filton, Inggris. Ya, Filton diketahui sebagai rumah bagi Concorde, pesawat berkecepatan super yang sudah memasuki masa pensiunnya sejak puluhan tahun lalu.

“Panjang dari wingtip di AlbatrossOne diperkirakan akan memakan space sepertiga bentang sayap. Nantinya wingtip ini akan beroperasi secara mandiri selama turbulensi dan mengurangi beban sayap pada bagian pangkal – yang dimana ini akan berimplikasi pada pengurangan beban pada pesawat secara keseluruhan,” ujar salah satu insinyur di Airbus, Tom Wilson.

“Ketika ada hembusan angin atau turbulensi, sayap pesawat konvensional mentransmisikan muatan besar ke badan pesawat, sehingga pangkal sayap harus sangat diperkuat, dan secara otomatis akan menambah bobot pada pesawat,” tandasnya.

Baca Juga: Tidak Ada Varian Airbus A370, Netizen Sampai Bikin Ilustrasi Sendiri!

Tom Wilson percaya bahwa dengan mengaplikasikan wingtip yang mampu bereaksi mandiri sesuai dengan hembusan angin akan mengurangi beban pesawat secara keseluruhan. Pihak Airbus sendiri belum bisa menentukan kapan pesawat kembangannya ini dapat melakukan first maiden, namun uji coba penerbangan dengan menggunakan remote control sudah rampung dilakukan terhitung sejak bulan Februari 2019 kemarin.

Berikut adalah video yang menunjukkan hasil uji coba penerbangan dengan menggunakan remote control yang dilakukan oleh Airbus pada bulan Februari lalu.