Merusak Screen Door di Stasiun Orchard, Pria Muda Didakwa Pengadilan Singapura

Merusak fasilitas umum bukanlah hal yang baik, biasanya akan terkena hukuman dengan pasal-pasal dari undang-undang yang berlaku. Seroang pria muda bernama Mohamad Adib Azfar melakukan perusakan dengan menendang dan menghancurkan screen door di MRT Orchard hingga akhirnya didakwa di pengadilan.

Baca juga: Platform Screen Doors Alami Kendala, Penumpang MRT Singapura Terjebak Delay Dua Jam!

Padahal screen door tersebut masuk dalam aset Otoritas Transportasi Darat Singapura dan harus diperbaiki dengan dana yang dikeluarkan seharga S$3061. Karena perusakan ini, Azfar harus duduk dipersidangan untuk mengakui kesalahannya tersebut.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman channelnewsasia.com (19/6/2019), saat dipengadilan diketahui awal perusakan Azfar sedang berada di Stasiun MRT Orchard bersama rekan-rekannya pukul 06.00 pagi waktu Singapura pada 24 September 2018 lalu. Azfar bersama teman-temannya baru selesai shift sebagai asisten perjamuan paruh waktu di Orchard Hotel.

Insiden ini terjadi saat Azfar dan seorang temannya bermain-main di peron dengan saling mendorong dan menarik. Kemudian saat kereta tiba, Azfar mencoba mengahalangi temannya masuk meski akhirnya berhasil naik.

Setelah pintu kereta ditutup, screen door pun ikut menutup dan Azfar berlari ke arahnya kemudian melompat, menendang screen door secara paksa dengan kaki kanannya. Akhirnya setelah ditendang, screen door tersebut hancur.

Jaksa Penuntut Umum Dwayne Lum mengatakan, Azfar kemudian langsung meningalkan stasiun dan naik taksi ke rumah. Tetapi saat penyelidikan dia teridentifikasi dan tertangkap oleh kamera pengawas di peron stasiun MRT.

Pengadilan mendapat kabar bahwa Azfar belum melakukan pembayaran restitusi untuk perbaikan atas tindakan perusakan yang dilakukannya. Hakim distrik Eddy Tham bertanya pada Azfar, “Mengapa Anda melakukan hal bodoh seperti itu?”

Azfar yang datang kepengadilan bersama sang ibu hanya bergumam yang tidak terdengar sebagai jawaban.

“Apakah kamu mabuk?” tanya Hakim pengadilan.

“Tidak,” jawab Azfar.

“Apa yang akan kamu lakukan terhadap kerusakan yang disebabkannya? Itu bukan hal yang murah. Kerusakan yang disebabkan lebih dari S$3.000,” lanjut hakim.

Baca juga: Akibat Iseng di Platform Screen Doors, Kereta Bawah Tanah Jepang Terlambat 1 Menit

Dia meminta laporan percobaan dan menunda hukuman 17 Juli. Hukuman karena melakukan tindakan kerusakan yang menyebabkan kerugian atau kerusakan sebesar S$ 500 atau lebih adalah hukuman penjara maksimum dua tahun, denda atau keduanya.

Google Maps Mudahkan Pengguna Kereta dan Bus di India Dapatkan Informasi

Google Maps kini memudahkan pengguna di India untuk memeriksa stastus kedatangan kereta api, waktu perjalanan bus dan berbagai moda transportasi lainnya. Aplikasi Google Maps sendiri sudah digunakan oleh ratusan juta orang di India dan baru-baru ini memperkenalkan tiga kemampuan terbarunya.

Baca juga: Mudahkan Pengguna Kereta dan Bus, Google Maps Hadirkan Pembaruan

Fitur terbaru tersebut adalah dimana penumpang kereta bisa langsung memeriksa status kedatangan kereta api yang hendak mereka gunakan, waktu kedatangan dan perjalan bus di sepuluh kota besar India dan sarana moda perjalanan campuran dengan menggabungkan auto becak dan transportasi umum.

Untuk status kereta api, Google bekerja sama dengan Sigmoid Labs. Ini adalah startup lokal yang diakuisis tahun lalu. Dilansir KabarPenumpang.com dari techcrunch.com, Sigmoid Labs memiliki aplikasi bernama Where is My Train yang menawarkan fungsi yang sama maupun berdiri sendiri sebagai aplikasi mandiri.

Para pengguna Google Maps bisa melakukan pembaruan aplikasi dan masyarakat India bisa mendapatkan jadwal pasti kereta yang sesuai antara dua tujuan dan memeriksa keberadaannya. Diketahui, setiap hari lebih dari delapan juta orang di India naik kereta untuk bergerak antara dan melewati kota-kota kecil untuk mulai bekerja.

Untuk waktu perjalanan bus, fitur yang diperkenalkan Google untuk pertama kalinya di pasar mana pun, perusahaan mengatakan mengandalkan kombinasi dari data lalu lintas langsung dan jadwal bus umum untuk menghitung penundaan dan memberikan waktu perjalanan yang akurat. Ini tersedia di Delhi, Bangalore, Mumbai, Hyderabad, Pune, Lucknow, Chennai, Mysore, Coimbatore dan Surat.

Sedangkan penggabungan dua transportasi, maka saat penumpang menggunakan becak yang akan menggunakan bus akan diperkirakan waktunya dan naik bus dari tujuannya. Google mengatakan aplikasi Maps sekarang dapat menyarankan kepada pengguna ketika mengambil beberapa perjalanan adalah pilihan yang layak, dan memperkirakan berapa banyak waktu yang dibutuhkan untuk perjalanan.

Aplikasi ini juga akan dapat menyarankan kapan pengguna harus beralih dari satu moda transportasi ke moda transportasi lain. Fitur ini awalnya terbatas untuk pengguna Android yang berlokasi di Delhi dan Bangalore, tetapi Google mengatakan akan segera diperluas ke kota-kota lainnya.

Dalam beberapa bulan terakhir, Google telah menambahkan sejumlah fitur ke Google Maps di India, beberapa di antaranya juga tersedia di pasar lain. Penambahan tersebut mencakup kemampuan untuk melaporkan kemacetan dan kecelakaan lalu lintas dan yang terbaru, dukungan untuk perjalanan becak otomatis.

Aplikasi ini juga memungkinkan pengguna untuk berbagi lokasi langsung mereka dengan teman dan keluarga. Akhir tahun lalu, perusahaan menandatangani kesepakatan dengan platform pemesanan tiket Redbus untuk menambahkan informasi transportasi bus antar kota.

Google tetap berkomitmen secara agresif ke India, pasar di mana diperkirakan memiliki lebih dari 300 juta pengguna. Perusahaan telah menggunakan negara sebagai tempat uji coba untuk banyak layanannya, termasuk YouTube Go dan Google Station.

Baca juga: Google Maps Hadirkan Permainan Klasik “Snake” dengan Ikon Moda Transportasi Dunia

Itu membantu Google melonjak dalam hal penggunaan. Itu, dikombinasikan dengan dominasi Android sebagai sistem operasi, telah menyebabkan penyelidikan anti-trust pada pengaruh Google di negara ini. Ternyata untuk fitur terkait dengan kereta api, di Indonesia sendiri sudah ada sejak lama, meski ketepatan waktu kedatangan kereta tak persis sama yang diberitahukan oleh Google Maps.

Tak hanya itu, di Indonesia sendiri, pengguna Google Maps juga dibantu untuk menemukan kendaraan lain seperti bus TransJakarta atau angkutan umum lainnya hingga moda transportasi online. Bahkan estimasi waktu perjalanan dan tarif pun tertera.

Geser Singapore Airlines, Qatar Airways Kini Jadi Maskapai Terbaik Dunia

Singapore Airlines (SIA) yang tahun lalu mendapat penghargaan maskapai terbaik dunia, harus rela memberikan gelar tersebut pada Qatar Airways. Qatar sendiri akhirnya kembali dinobatkan menjadi maskapai terbaik dunia pada World Airline Awards 2019 di Paris, Selasa (18/6/2019) kemarin.

Baca juga: Qatar Airways Umumkan Jadi Maskapai Pertama yang Operasikan Boeing 777X

Bahkan dengan menjadi maskapai terbaik dunia, Qatar sudah mendapatkan gelar ini untuk kelima kalinya dimana sebelumnya pada tahun 2017, 2015, 2012 dan 2011. Selain mendapat gelar maskapai terbaik di dunia, Qatar Airways juga mendapat penghargaan kelas bisnis terbaik, kursi kelas bisnis terbaik dan maskapai terbaik di Timur Tengah.

“Ini adalah momen yang membanggakan bagi maskapai ini karena inovasi dan standar layanan kami yang konstan menjadi tolak ukur dalam industri kami,” kata kepala eksekutif grup Qatar Airways Akbar Al Baker.

KabarPenumpang.com melansir dari laman straitstimes.com (19/6/2019), meski Singapore Airlines tak menjadi yang terbaik di dunia, maskapai asal Negeri Singa ini juga memenangkan beberapa penghargaan utama seperti awak kabin terbaik, kelas satu terbaik, maskapai terbaik di Asia dan kursi kelas satu terbaik.

Urutan maskapai terbaik ketiga diraih oleh All Nippon Airways atau ANA yang merupakan maskapai Jepang. Urutan keempat dan kelima diduduki oleh Cathay Pacific milik Hongkong dan Emirates.

Urutan keenam diraih oleh EVA Air asal Taiwan, dimana maskapai ini juga mendapat penghargaan sebagai maskapai terbersih. Posisi ketujuh ada Hainan Ailines, kedelapan diduduki oleh Qantas Airways, sembilan oleh Lufthansa dan sepuluh oleh Thai Airways.

Tak hanya itu, AirAsia Malaysia bahkan dinobatkan sebagai maskapai penerbangan bertarif rendah terbaik di dunia. Bangkok Airlines menjadi maskapai regional terbaik dunia.

Philippine Airlines sebagai maskapai yang paling ditingkatkan dan Star Alliance sebagai aliansi maskapai terbaik. World Airline Awards, yang diselenggarakan oleh perusahaan riset yang berbasis di London, Skytrax, adalah salah satu yang paling bergengsi di industri penerbangan.

Baca juga: OAG Flightview: Garuda Indonesia Jadi Maskapai Paling On Time di Asia

Pemeringkatan ini didasarkan pada survei yang dilakukan kepada pelancong global dan lebih dari 21 juta suara dihitung dalam survei tahun ini, yang dilakukan sejak September 2018 hingga Mei 2019.

Depo di Ancol Barat, MRT Jakarta Fase II Punya Tujuh Stasiun

PT MRT Jakarta melakukan Kick-off dan penandatanganan pakta integritas pelaksanaan pengadaan proyek fase 2 MRT Jakarta Koridor Bundaran HI-Kota. Pembangunan fase II Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta semuanya akan dibangun di bawah tanah.

Baca juga: Libur Lebaran, MRT Jakarta Jadi “Wahana Hiburan” Favorit Keluarga

Hal ini dikarenakan lahan di darat lebih sulit dan ada kali yang menjadi hambatan di daerah Harmoni. Direktur PT MRT Jakarta William Sabandar mengatakan, fase II akan 100 persen di bawah tanah dan kedalamannya sekitar 30 meter atau akan lebih dari fase I karena ada kali diatasnya.

Dia menjelaskan, dalam fase II pembangunan MRT Jakarta sendiri akan ada tujuh stasiun yang membentang dari Bundaran Hotel Indonesia (HI) menuju ke Kota dan menjadi delapan termasuk depo MRT fase II.

“Mulai dari Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok dan di akhiri di Kota dengan panjang lintasan 8,3 km,” ujar William.

Dia mengatakan, fase II ini sendiri deponya akan dibangun di daerah Ancol Barat dan sudah diputuskan dalam rapat pimpinan bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

“Lokasi depo sedang dalam percakapan diskusi dalam rapim gubernur sudah diputuskan di Ancol Barat jadi proses administrasinya sedang dilaksanakan antara Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat,” tambahnya.

Pemilihan Ancol Barat sendiri karena adanya lahan yang cukup luas untuk membangun depo fase II yang membutuhkan lahan 9,4 hektar. Untuk pembangunannya sendiri akan dilakukan jika sudah ada penetapannya.

“Tergantung nanti penetapannya. Karena ini dalam proses studi yang kami lakukan merekomendasikan jalur menuju ke depo di fase 2 sebagai opsi karena lahan di Kampung Bandan enggak tersedia,” kata dia.

Dalam pengerjaan fase II ini, akan ada enam paket kontrak yang terdiri dari CP200 untuk pekerjaan Gardu Listrik (RSS) di Monas, CP201 untuk Bundaran HI-Monas, CP202 Harmoni-Mangga Besar, CP203 Glodok Kota, CP205 sistem perkeretaapian dan rel, CP206 untuk pekerjaan kereta. Adapun peletakan batu pertama atau Groundbreaking fase II sendiri sudah dilakukan sejak 24 Maret 2019 lalu oleh Presiden Joko Widodo.

PT MRT Jakarta menargetkan pembangunan fase II MRT Jakarta koridor Bundaran HI-Kota selesai tahun 2024 mendatang. Nilai anggaran yang disiapkan untuk fase I ini sebesar Rp22,5 triliun yang merupakan pinjaman dari Jepang.

Baca juga: MRT Fase II Hingga ke Ancol? Budi Karya: Nilai Investasi Bisa Bengkak Rp10 Triliun

Diketahui, pasokan listrik untuk MRT Jakarta fase II lebih kecil dari fase I yang sebesar 60 megawatt (MW). General Manajer PLN Distribusi Jakarta Muhamad Iksan Asaad mengatakan alasan pasokan listrik hanya 50MW karena sudah dibackup dari Fase I dimana sentral pasokan di Lebak Bulus mencukupi hingga Kota.

Volvo Rilis Dynamic Steering, Teknologi yang Ringankan Kinerja Pengemudi

Volvo, perusahaan otomotif multinasional asal Swedia meluncurkan sebuah terobosan teknologi kemudi ringan yang didaulat dapat memudahkan dan mengurangi tingkat kelelahan pengemudi. Adalah Volvo Dynamic Steering, penggabungan antara power steering hidrolik konvensional dan motor listrik yang diatur secara elektronik ini nantinya akan dipasang pada roda kemudi.

Baca juga: Volvo B8RLE, Bus Low-Deck yang Tawarkan Optimalisasi Biaya Operasional

Menurut pihak Volvo, sistem ini akan mengurangi tenaga yang dibutuhkan dalam mengemudi hingga 85 persen dan mampu meredam hentakan akibat lubang, jalan tidak rata, jalan berlumpur, hingga pengereman. Selain itu, Volvo Dynamic Steering juga akan menjaga truk tetap lurus ke arah yang dipilih pengemudi.

Berdasarkan pantauan KabarPenumpang.com di Sentul, Bogor (20/6/2019), Marketing Director dari Volvo, Jurn Terpstra mengatakan, “Teknologi yang dipatenkan ini bermanfaat bagi pengemudi truk di Indonesia pada setiap kondisi operasi. Di jalan bebas hambatan, sistem Volvo Dynamic Steering ini akan memberikan stabilitas arah kendaraan yang tak tertandingi,”

“Bahkan di jalan off-road sekalipun, truk bermuatan penuh yang berjalan pada kecepatan rendah juga akan dapat sangat mudah dikendalikan, bahkan hanya dengan satu jari,” tandasnya.

Volvo Dynamic Steering ini bekerja pada sistem kemudi mekanis konvensional, pada poros terhubung ke roda kemudi. Unit servo hidrolik menghasilkan tenaga yang membantu pengemudi untuk memutar lingkar kemudi truk. Di sini, motor listrik yang saling bahu membahu dengan teknologi power steering hidrolik akan menyesuaikan diri ribuan kali per detik.

“Fungsi motor listrik adalah untuk memberikan pengendalian yang akurat di setiap saat ketika masa pengoperasian,” terang Jurn.

“Pada kecepatan rendah, bantuan motor listrik membuat truk jadi sangat mudah dikendalikan, bahkan truk konstruksi yang sarat akan muatan dapat dikendalikan tanpa ada kesulitan sama sekali. Bahkan, seekor hamster pun dapat mengendalikan sebuah truk,” tambahnya sedikit berkelakar.

Fitur baru ini sendiri sekarang sudah tersedia di Indonesia untuk truk rigid dan prime mover sengan poros roda depan tunggal (6X4) dan poros depan ganda (8X4), namun belum tersedia untuk truk all-wheel drive (truk dengan daya penggerak di keseluruhan roda).

Ketika disinggung apakah teknologi Volvo Dynamic Steering ini bisa diaplikasikan pada moda bus, Jurn Terpstra mengatakan, “Mengapa tidak?”

Baca Juga: Pemerintah Gothenburg Tunjuk Volvo 7900 Electric Bus Sebagai “Perpustakaan Keliling”

Senada dengan Jurn, Chief Operating Officer dari PT IndoTruck Utama, Eka Lovyan mengatakan bahwa untuk waktu dekat, mungkin Volvo tidak akan mengaplikasikan teknologi Volvo Dynamic Steering pada bus-bus di Indonesia.

“Mungkin tahun depan kita akan memboyong teknologi tersebut (Volvo Dynamic Steering) beserta dengan bus yang baru juga,” paparnya. (Rendy Nurhalim)

IATA Tetapkan Standar Layanan Bagi Penyandang Disabilitas di Bandara

Penyandang disabilitas kerap kali mendapatkan masalah ketika bepergian menggunakan berbagai moda transportasi, salah satunya adalah pesawat terbang. Biasanya yang cukup kesulitan adalah penyandang disabilitas yang harus menggunakan jasa kursi roda.

Baca juga: Bepergian Sendiri, Penyandang Disabilitas ini Dilarang Mengudara oleh Hong Kong Airlines!

Hal ini kemudian membuat IATA (International Air Transport Association) menetapkan standar layanan bagi penumpang disabilitas agar dapat menikmati perjalanan lebih mudah. Resolusi ini sendiri disepakati dalam pertemuan umum tahunan IATA di Seoul, Korea Selatan.

IATA juga menyerukan kepada pihak regulator untuk bekerja sama saat membuat peraturan dan hukum yang mengatur akomodasi bagi penyandang disabilitas. KabarPenumpang.com merangkum dari laman runwaygirlnetwork.com, tak hanya pemerintah, IATA juga meminta Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) untuk ikut mengadopsi prinsip-prinsip inti IATA tentang aksebilitas sebagai dasar untuk inisatif multilateral itu.

Resolusi ini juga mencerminkan kesadaran terkait banyaknya tantangan yang dihadapi penumpang penyandang disabilitas saat bepergian dengan pesawat. Seperti masalah kerusakan kursi roda karena kelalaian maskapai yang menyulitkan penyandang disabilitas.

Wakil presiden senior anggota dan hubungan eksternal di IATA, Paul Steele mengatakan, pihaknya menyusun praktik terbaik untuk menangani masalah dan melacak kerusakan yang terjadi karena apa.

“Saya pikir itu akan menjadi hasil yang logis. Kami terlibat dengan berbagai pemangku kepentingan, dan khususnya dengan asosiasi yang mewakili penyandang cacat. Dan, kami akan mengikuti rekomendasi mereka. Kami membuat panduan untuk maskapai penerbangan sehingga kami memiliki standar yang telah di tetapkan. Kami berusaha memastikan kami mengumpulkan data, karena tidak ada banyak data,” ujarnya.

“Saya tahu ada banyak kemunduran dan ke depan, terutama ketika kursi roda listrik, misalnya, memiliki baterai lithium. Bagaimana kita menghadapinya? Apa praktik standar yang harus kita gunakan? Karena kami tidak dapat membawa baterai itu di ruang tunggu untuk alasan keamanan. Itu dilarang. Jadi (baterai) harus diangkut di kabin. Itu artinya kita harus mengeluarkan (baterai) dari kursi roda listrik.”

Steele megatakan kepada Runway Girl Network (RGN) bahwa IATA menjangkau produsen perangkat mobilitas untuk mengatasi masalah desain yang membuat perangkat ini sulit dimuat ke dalam pesawat, dan akan terus bekerja dengan perwakilan dari komunitas penyandang cacat. IATA baru-baru ini melakukan penelitian bersama dengan Bandara Heathrow untuk lebih memahami layanan mobilitas yang dibutuhkan penumpang.

Ketika mereka belajar, banyak orang meminta bantuan kursi roda ketika mereka sebenarnya menginginkan jenis bantuan yang berbeda untuk menavigasi bandara. Sehingga ini bisa membuat orang yang benar-benar membutuhkan bantuan kursi roda harus menunggu.

Baca juga: Mudahkan Penyandang Disabilitas, Tahun 2025 Semua Bus di Seoul Adopsi Low Deck

IATA telah meluncurkan kampanye untuk mempromosikan penggunaan kode DPNA (Penumpang Cacat dengan Intelektual atau Pengembangan Kebutuhan Cacat). Salah satu ketidakkonsistenan peraturan yang mengkhawatirkan IATA adalah kebijakan Amerika Serikat tentang hewan pendukung emosional.

 

Pria Tambun Terpleset Saat Naik Kereta yang Berjalan dan Terjatuh ke Celah Peron

Terpleset di peron ketika hendak naik kereta kerap kali terjadi pada penumpang. Apalagi kereta itu sudah mulai berjalan. Namun pertanyaannya apakah saat tergelincir dan masuk ke jalur kereta penumpang tersebut selamat?

Baca juga: Akibat Didorong Penumpang Lain, Kaki Wanita Ini Terperosok di Celah Peron Stasiun MRT

Jawabannya iya dan tidak, sebab saat penumpang masuk ke celah peron saat kereta melintas bisa saja celaka ataupun selamat. Baru-baru ini, seorang pria 60 tahun di India terpeleset ketika hendak naik kereta yang tengah berjalan.

KabarPenumpang.com melansir dari laman kalingatv.com (18/6/2019), dari video terlihat pria bertubuh tambun itu mencoba mengejar kereta dan memegang pegangan di samping pintu kereta dan berusaha naik. Sayang dia kemudian tergelincir dan sempat terbentur hingga akhirnya jatuh ke celah peron.

Penumpang lain yang ada di sekitar peron melihat ke celah peron apakah pria itu selamat atau tidak. Terlihat beberapa penumpang mencoba untuk menyelamatkannya namun gagal karena celah peron yang sempit dan kereta pun tengah melaju di rel.

Pria tersebut diketahui bernama Rakesh Talwar seorang penduduk Sambalpur yang tengah melakukan perjalanan dari Howrah ke Sambalpur. Dia pergi bersama istri dan putranya dengan kereta Samaleswari Express, yang mana sekitar pukul 08.30 pagi waktu setempat kereta berhenti di Stasiun Jharsuguda dan Rajesh turun untuk minum teh.

Kemudian saat kereta mulai bergerak kembali, Rajesh mencoba mengejarnya dan sayangnya saat itu insiden dirinya tergelincir dan masuk ke celah peron terjadi. Untungnya saat kejadian tak lama seorang penumpang menarik rem darurat sehingga kereta berhenti.

Lalu, dua personil Pasukan Perlindungan Kereta api (RPF) yang mengetahui kejadian tersebut bergegas untuk menyelamatkannya dan membantu naik ke kereta tersebut. Namun, usai insiden itu tidak dapat diketahui dengan jelas apakah pria tua tersebut mengalami luka setelah kecelakaan atau tidak.

Pada April 2019 kemarin, seorang wanita juga tejatuh dari MRT Singapura dan kakinya terperosok ke celah peron di Stasiun Buona Vista. Wanita itu terjatuh ketika kereta penuh karena di dorong penumpang lainnya.

Baca juga: Akibat Ibu Asik Main Ponsel, Anak Jatuh Diantara Peron dan Rel

Kakinya terperosok masuk dari bagian lututnya di celah peron tersebut. Untungnya petugas lain cepat tanggap dan membantu wanita itu untuk dibawa ke rumah sakit mendapat pengobatan.

Layanan First Class Cathay Pacific Hilang dari Peredaran, Siapa yang Diuntungkan?

Setelah Korean Air memberlakukan regulasi untuk membabat first class seat di sejumlah rute penerbangan, pun dengan Asiana Airlines yang juga telah memangkas habis first class seat di semua rute penerbangannya, kini santer beredar kabar dari flag carrier Hong Kong, Cathay Pacific yang juga memberlakukan regulasi serupa. Duh, kok bisa ya maskapai sekelas Cathay Pacific menghilangkan first class seat mereka di sebagian besar rute operasinya? Apakah ini ada kaitannya dengan masalah finansial perusahaan?

Baca Juga: Cathay Pacific Hong Kong, Ternyata Didirikan oleh Orang Australia dan Amerika

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman onemileatatime.com (18/6/2019), Cathay Pacific merupakan salah satu maskapai yang dimana sebagian besar armadanya memiliki first class seat. Namun pihak maskapai seolah acuh tak acuh dengan keberadaan bangku paling nyaman di penerbangan konvensional tersebut – tidak menghilangkannya, tapi juga tidak mengembangkannya.

Hingga saat ini, layanan first class dari Cathay Pacific tersedia di 32 armada Boeing 777-300ER saja – atau lebih dari setengah dari total armada Boeing 777-300ER yang mereka miliki. Cathay Pacific menyediakan layanan first class pada rute penerbangan jarak jauh, seperti menuju London, Los Angeles, New York, Paris, dan beberapa rute lainnya.

Tidak hanya rute-rute tersebut, Cathay Pacific juga cukup konsisten untuk menyediakan layanan first class seat pada penerbangan menuju Tokyo Haneda dan Beijing. Cathay Pacific juga secara selektif menawarkan layanan first class di pasar lain, termasuk ke Bangkok, Shanghai, Singapura, dan Taipei.

Menurut laman sumber, Cathay Pacific menempuh kebijakan untuk menghilangkan layanan first class pada penerbangan jarak pendek (rute regional) mereka – kecuali menuju Tokyo Haneda dan Beijing. Kendati telah meniadakan layanan first class, namun Cathay tidak serta merta mengubah konfigurasi bangku mereka, melainkan tetap membiarkannya kosong dan tidak menjual tiket untuk kelas bergengsi tersebut.

Baca Juga: Serba-Serbi Cathay Dragon, Mantan Pesaing Cathay Pacific yang Kini Jadi Anak Perusahaan

Pihak Cathay Pacific mengatakan bahwa mereka akan mengijinkan anggota elite yang ada di loyalti program mereka yang duduk di kelas bisnis untuk bebas duduk first class. Maskapai juga hanya akan menugaskan tujuh awak kabin untuk beroperasi di dua kelas ini (bisnis dan first class).

Walaupun pihak Cathay Pacific masih belum membeberkan latar belakang mengapa mereka meniadakan layanan first class di sejumlah penerbangan regional mereka, namun satu dugaan yang cukup kuat adalah karena minimnya permintaan dari penumpang. Ya, hanya segelintir orang tertentu saja yang akan duduk di first class untuk penerbangan jarak pendek ketimbang duduk di kelas bisnis apalagi ekonomi.

Di Paris AirShow 2019 Airbus Perkenalkan A321XLR, Apa Saja Keunggulannya?

Dengan diberhentikannya program A380, bukan berarti Airbus menyerah begitu saja terhadap keadaan. Permintaan pasar yang lebih mengarah kepada daya tempuh yang jauh namun dengan daya angkut yang tidak terlalu banyak membimbing Airbus untuk mengembangkan varian terbarunya. Adalah Airbus A321XLR, sebuah pesawat single aisle kembangan Airbus yang mampu mengarungi jarak hingga 4.700 nautical miles ini digadang-gadang sebagai pengganti A380 dan diperkenalkan ke publik pada perhelatan Paris AirShow 2019.

Baca Juga: ‘Curi’ Pasar Boeing, Airbus Genjot Produksi A321XLR

XLR, yang merupakan singkatan dari Xtra Long Range ini akan membawa penumpang hingga jarak terjauh 8.700km. Memang, jarak tersebut belum bisa menyaingi jarak tempuh dari A380 yang mencapai angka 15.200 km, namun dengan kemampuan tempuhnya yang bisa dibilang melebihi rata-rata pesawat lorong tunggal lainnya, maka keberadaan Airbus A321XLR tidaklah bisa dipandang sebelah mata. Ya, kini bukanlah load factor saja yang menjadi perhatian utama para pegiat bisnis aviasi, melainkan lebih kepada efektifitas dalam melakukan operasi.

Seeprti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman forbes.com (17/6/2019), Airbus A321XLR merupakan hasil dari pengembangan lanjutan dari varian sebelumnya, A321neo yang dikembangkan menjadi A321LR (Long Range) sebelum akhirnya diakhiri dengan dirilisnya varian A321XLR.

Pihak Airbus mengungkapkan bahwa A321XLR akan lebih hemat bahan bakar sekitar 30 persen per penumpang ketimbang varian yang dirilis kompetitor terbesarnya, Boeing 757. Sementara untuk jarak tempuhnya sendiri, Airbus A321XLR 15 persen lebih jauh ketimbang kakak kandungnya, Airbus A321LR yang hanya mampu menempuh jarak 4.600 mil atau yang setara dengan 7.403km.

Sumber: Airbus

Dengan kapasitasnya untuk mengarungi jarak 8.700km, maka rute penerbangan sekelas Tokyo – Sydney, London – Miami/Tampa, atau Dubai – Cape Town bukanlah sebuah masalah yang berarti, karena jarak dari ketiga contoh di atas berada di kisaran 4.000 nautical miles atau yang setara dengan 7.408 km.

Baca Juga: Paris Air Show 2019 Jadi Ajang ‘Klarifikasi’ Besar-Besaran Bagi Boeing

Peningkatan jarak tempuh pada varian A321XLR ini tidak lepas dari peran tangki bahan bakar yang juga lebih besar ketimbang varian sebelumnya. Dan jangan lupakan modifikasi yang dilakukan Airbus pada bagian landing gear yang meningkatkan maximum takeoff weight dan stream flaps pada bagian tepisayap yang lebih ramping.

Kendati sudah dipamerkan di Paris AirShow 2019, namun pihak Airbus merencanakan pesawat yang mampu mengangkut 180 hingga 220 penumpang ini baru bisa mengudara pada tahun 2023 mendatang.

 

TransJakarta Punya Rute Baru Setiap Bulan, Bagaimana Integrasi dengan Mikrolet?

Hingga saat ini ternyata mikrolet yang terintegrasi dengan TransJakarta baru sebesar tujuh persen. Bila ditotal jumlah dari 12 ribu armada baru ada 800 mikrolet yang terintegrasi. Padahal integrasi yang baik antar angkutan darat merupakan hal penting untuk menarik masyarakat agar beralih ke transportasi umum.

Baca juga: Pasca Lebaran, TransJakarta Buka Rute ke Bandara Soekarno-Hatta

Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) DKI Jakarta Shafruhan Sinungan mengatakan, transportasi yang ada di ibukota saat ini sudah cukup lengkap mulai dari mikrolet, bus TransJakarta, kereta listrik (KRL) hingga MRT. Bahkan dirinya menyebutkan tak lama lagi kereta ringan atau LRT juga akan ikut ambil bagian dalam moda transportasi publik di Jakarta. Namun Shafruhan mengatakan, meski sudah banyak tetapi semuanya belum terintegrasi secara optimal.

“Idealnya, mikrolet dirotasi jalur trayeknya menjadi angkutan pengumpul yang masuk ke lingkungan pemukiman warga, dengan tujuan akhir di koridor-koridor Transjakarta. Transjakarta juga terhubung dengan MRT dan KRL. Jadi, kalau dari depan rumah sudah tersedia transportasi publik yang terintegrasi, maka ini akan menarik minat warga untuk beralih,” kata dia yang dikutip dari republika.co.id (19/6/2019).

Padahal, Direktur Operasional PT Transportasi Jakarta Daud Joseph mengatakan, TransJakarta akan menambah lima rute baru setuap bulannya untuk meningkatkan jumlah penumpang. Hal ini dilakukan agar strategi TransJakarta untuk mencapai target penumpang satu juta per hari bisa tercapai.

“Hingga saat ini, jumlah penumpang Transjakarta per harinya telah mencapai sekitar 800 ribu orang dan sedang menuju 900 ribu. Dalam internalnya sendiri, Daud dan tim menyebutnya sebagai “Gerakan 900K Gaspol” Pokoknya kita mesti ‘gas’ gimana caranya supaya bisa mencapai 900 ribu penumpang per hari dalam satu sampai dua bulan ini. Kalau sudah 900 ribu kan tinggal selangkah lagi satu juta,” jelas Daud.

Selain terus membuka rute-rute baru, dia menyebutkan, TransJakarta juga akan menambahkan jumlah bus kecil dari semula 904 unit menjadi 1.441 unit dari mulai bulan depan hingga Oktober mendatang. Dengan penambahan ini, ia optimistis jumlah penumpang akan naik.

“Nanti akan ada total penambahan 93 rute, sesuai dengan surat keputusan Dinas Perhubungan (Dishub),” ujar dia.

Selain itu, Daud juga mengatakan, pengintegrasian Transjakarta dengan moda raya terpadu (MRT) dan lintas rel terpadu (LRT) sangat membantu mencapai target satu juta penumpang per hari. Untuk LRT, ia mengatakan, sudah ada sekitar 50 unit bus Transjakarta yang berintegrasi dan pihaknya menargetkan untuk menambah satu hingga dua rute lagi pada Juli 2019.

Baca juga: Animo Pengguna MRT Jakarta Tinggi, TransJakarta Koridor 1 Tidak Mengalami Penurunan Penumpang

Selain itu saat dihubungi KabarPenumpang.com untuk menanyakan apakah akan ada penambahan mikrolet yang akan terintegrasi dengan TransJakarta, pihaknya menjawab belum ada.

“Untuk penambahan seperti ini yang berhak bicara dari Dinas Perhubungan,” ujar Humas PT TransJakarta Wibowo yang dihubungi, Rabu (19/6/2019).