Punya Rating Rendah, Penumpang Uber Bisa Kesulitan Dapatkan Kendaraan

Uber sejak April 2018 memang tinggal kenangan di Indonesia, meski begitu, layanan transportasi online asal Amerika Serikat ini masih membekas, tentu ini wajar mengingat Uber kadung dikenal sebagai pendobrak bisnis aplikasi transportasi online. Sentuhan baru dari Uber hingga kini masih tetap diperhitungkan sebagai tolok ukur penyedia layanan sejenis saat ini. Salah satunya adalah model pemberian rating.

Baca juga: Di 2020, Uber dan Volvo Siap Uji Mobil Otonom Generasi Ketiga

Soal pemberian rating kini diadaptasi oleh GoJek dan Grab, yaitu rating dari penumpang kepada pengemudi. Sebaliknya, Uber di luar negeri telah menyediakan fitur pemberian rating dari pengemudi kepada penumpang.

Ya, Uber menghadirkan sistem rating atau peringkat bukan hanya untuk pengemudi tetapi juga untuk penumpangnya. Adanya pemberian rating tersebut agar tidak hanya pengemudi yang dinilai oleh penumpang, tetapi penumpang juga bisa dinilai oleh pengemudi dari berbagai hal.

Dengan adanya sistem rating ini penumpang yang memiliki rating dibawah rata-rata akan sulit mendapatkan akses ke aplikasi apalagi mendapatkan pengemudi. Ini merupakan bagian dari peluncuran pedoman komunitas yang diperbarui perusahaan dan bisa ditaati oleh penumpang yang menggunakan layanan Uber.

Menurut Uber, larangan berperilaku buruk tidak akan mengejutkan penumpang yang tersinggung. Karena sebelumnya penumpang akan dikirimkan pemberitahuan terkait hal tersebut.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman washingtonpost.com, nantinya jika penumpang mendapat rating yang rendah dan dianggap buruk, mereka juga bisa menaikkannya agar tetap dalam performa yang baik. Uber memberikan tips agar penumpang bisa mendapatkan rating yang baik yakni dengan cara bersikap sopan, tidak meninggalkan sampah di dalam kendaraan hingga tidak meminta pengemudi melebihi batas kecepatan.

“Rasa hormat adalah jalan dua arah, dan begitu juga akuntabilitas. Pengemudi telah lama diharapkan untuk memenuhi ambang batas peringkat minimum yang dapat bervariasi dari kota ke kota. Meskipun kami hanya berharap sejumlah kecil pengendara pada akhirnya akan terpengaruh oleh penonaktifan berbasis peringkat, itu adalah hal yang benar untuk dilakukan,” ujar Kate Parker, kepala merek keselamatan dan inisiatif Uber dalam blognya.

Sayangnya ambang batas rating bagi penumpang yang akan dinonaktifkan tidak dijelaskan. Setiap penumpang Uber bisa melihat rating mereka yang muncul dibawah nama dalam aplikasi dengan membuka menu utama. Sama seperti penumpang yang bisa memberi rating pada pengemudi, pengemudi juga bisa memberi rating dengan skala satu sampai lima bintang.

Dari hasil yang didapat, Uber mengatakan, tidak banyak penumpang maupun pengemudi yang memiliki nilai sempurna lima bintang. Bahkan pengemudi dengan rating 4,6 adalah batasnya, bila lebih rendah mereka agak kehilangan akses penumpang.

Tetapi akhirnya diturunkan hingga bintang empat dan ini didefinisikan sebagai ‘Ok, bintang tiga ‘Mengecewakan’, bintang dua ‘Buruk’ dan bintang satu ‘Mengerikan’. Uber mengatakan akan meluncurkan kampanye untuk mendidik pengendara dan pengemudi tentang pedoman komunitas yang diperbarui. Penumpang di Amerika Serikat dan Kanada akan menjadi yang pertama untuk melihat permintaan dalam aplikasi dengan ringkasan pedoman dan akan diminta untuk mengonfirmasi bahwa mereka memahaminya.

“Dengan mendidik pelanggan dan mitra tentang Pedoman Komunitas, meminta mereka untuk mengonfirmasi bahwa mereka memahami, dan meminta pertanggungjawaban semua orang, kami dapat membantu Uber bersikap ramah dan aman untuk semua,” kata Parker.

Baca juga: Anda Ingin Diberi Rating 5 oleh Pengemudi Uber? Ikuti Tips Ini!

Untuk diketahui, sebelum Uber di Asia tepatnya di Indonesia di akuisisi oleh Grab, pemberian peringkat bagi penumpang juga sudah ada. Dimana penumpang dengan peringkat bintang empat hingga lima akan mudah mendapat pengemudi dan sebaliknya bila peringkat lebih kecil akan sulit.

Mulai 21 Juni, Citilink Resmi Buka Penerbangan Jakarta-Phnom Pehn

Setelah diumumkan beberapa waktu lalu, maskapai nasional berbiaya murah, Citilink pada Jumat (21/6) resmi membuka penerbangan perdananya dari Bandara Soekarno-Hatta ke Bandara Internasional Phnom Penh, Kamboja. Penerbangan rute Jakarta – Phnom Penh selanjutnya akan dilayani tiga kali seminggu, yakni pada hari Senin, Rabu dan Jumat dengan menggunakan pesawat Airbus A320 berkapasitas sebanyak 180 penumpang.

Baca juga: Di Tengah Lesunya Pasar, Mulai Juni Citilink Buka Penerbangan Langsung ke Phnom Penh

Dalam catatan tertulis, VP Corporate Secretary Citilink Indonesia Resty Kusandarina mengatakan, pembukaan rute penerbangan ini merupakan sejarah dalam hubungan diplomatik Indonesia dan Kamboja selama 60 tahun. “Citilink Indonesia dengan ini merasa bangga dapat turut berperan aktif di dalamnya. Kedepannya diharapkan penerbangan ini dapat memperkuat kerja sama antara kedua negara,” ujar Resty di Cengkareng, Sabtu (22/6/2019).

Resty menambahkan, bahwa penerbangan rute Jakarta – Phnom Penh ini diharapkan dapat menjadi solusi alternatif bagi 3.500 masyarakat Indonesia yang tinggal di Kamboja serta dapat membantu target pemerintah Indonesia untuk mendatangkan 10.000 wisatawan Kamboja menuju Indonesia pada tahun 2019.

Kamboja kini tengah menjadi opsi pilihan favorit para wisatawan mancanegara ketika berwisata ke Asia Tenggara, tercatat sekitar 6,2 juta turis asing berkunjung ke negara tersebut. Sedangkan pada tahun 2018, sebanyak 55.000 masyarakat Indonesia mengunjungi Kamboja dan 8.000 masyarakat Kamboja mengunjungi Indonesia.

Pada penerbangan perdana 21 Juni lalu, pesawat berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta Terminal LCCT (Low Cost Carrier Terminal) pukul 10.55 dengan QG 512 dan tiba di Bandara Internasional Phnom Penh pukul 14.25. Sedangkan penerbangan sebaliknya berangkat dari Bandara Internasional Phnom-Penh pukul 15.30 dengan QG 513 dan tiba di Bandara Soekarno-Hatta Terminal LCCT pukul 19.00.

Baca juga: Kamboja Punya Kereta Bandara yang Unik, Mirip Railbus Batara Kresna di Solo

Pada penerbangan perdana Citilink Indonesia juga mengadakan program aktivasi di atas pesawat “Barista on Board”, di mana Citilink Indonesia bekerja sama dengan barista-barista andal menyajikan kopi spesial secara gratis khusus untuk seluruh penumpang dan menjadi maskapai pertama yang memiliki program tersebut.

Menyoal Fitur Keselamatan Terbaru Pada Kendaraan, Masih Butuh Waktu untuk Adaptasi

Perkembangan teknologi yang semakin melesat setiap harinya memberikan dampak positif pada banyak lini, tidak terkecuali di sektor transportasi. Hadirnya fitur-fitur yang dapat menunjang keselamatan penumpang selama berkendara di jalan juga terus bermunculan. Jika dahulu hanya ada sabuk pengaman yang menjadi fitur keselamatan di kendaraan, namun kini ada airbag yang menjadi tandem dari sabuk pengaman tersebut.

Baca Juga: Pangkas Human Error, Nanyang University Gandeng Volvo Hadirkan Bus Otonom

Peningkatan fitur keamanan di dalam kendaraan ini terus ditingkatkan, seiring dengan pernyataan dari National Highway Safety Administration yang menyebutkan bahwa sembilan dari 10 kecelakaan yang terjadi selama ini dilatarbelakangi oleh human error. Belakangan ini ramai diberitakan bahwa fitur-fitur keselamatan baru seperti peringatan tabrak depan dan sistem pengereman darurat otomatis dapat membantu pengemudi untuk menghindari sebuah kecelakaan. Tidak sedikit dari mobil-mobil baru yang sudah diaplikasikan fitur keamanan sejenis – namun masih banyak pula mobil keluaran baru yang belum terinstal fitur keamanan tersebut. Mengapa bisa seperti itu?

Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman komonews.com (6/6/2019), hanya ada sekitar 44 persen kendaraan baru yang sudah terpasang fitur pengamanan tambahan di atas pada tahun 2019. Data tersebut seolah belum menjawab keinginan konsumen yang ingin menjadikan fitur peringatan tabrak depan dan sistem pengereman darurat otomatis sebagai salah satu standar keamanan yang harus tercantum di setiap kendaraan.

Ambil contoh sabuk pengaman, dimana fitur ini pertama kali diuji coba pada tahun 1956, namun membutuhkan waktu 10 tahun lebih bagi otoritas terkait untuk menerbitkan regulasi baru terkait keberadaan sabuk pengaman yang harus ada di setiap kendaraan. Hingga saat ini saja, sudah ada beberapa kali pembaruan terkait fungsi sabuk pengaman di dalam kendaraan, mulai dari yang fixed, hingga sabuk pengaman yang akan ‘mengikat’ ketika tersentak.

Baca Juga: 85% Kecelakaan Lalu Lintas di Kenya Karena Human Error

Jadi apabila mengacu pada contoh di atas, pengaplikasian fitur-fitur keselamatan tambahan pada setiap kendaraan bukan berarti tidak bisa diaplikasikan pada kendaraan baru, melainkan masih membutuhkan waktu untuk bisa mengimplementasikannya dan dijadikan sebagai standar keamanan baru dalam berkendara.

 

Lockheed Martin Bocorkan Rencana Garap Pesawat Supersonik yang Senyap!

Ketika pihak Airbus dan Boeing tengah bersaing untuk mengembangkan pesawat narrow body yang mampu menempuh perjalanan jarak jauh seperti Airbus A380 atau Boeing 787 Dreamliner, maka lain halnya dengan perusahaan kedirgantaraan asal Amerika, Lockheed Martin yang lebih memilih untuk mengembangkan pesawat berkecepatan supersonik. Namun di sini, pihak Lockheed Martin tidak hanya sekedar mengembangkan pesawat berkecepatan fantastis saja, melainkan disertai dengan fitur mesin yang senyap alias tidak bising.

Baca Juga: 50 Tahun Sejak Terbang Perdana, Inilah ‘Jejak’ Supersonik Concorde yang Selalu Dikenang

Kendati masih berbentuk konsep, namun pihak Lockheed Martin sudah meluncurkan desain pesawat berkecepatan supersonik yang diberi nama Lockheed Martin X-59 QueSST ini pada minggu ketiga Juni 2019. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman cnn.com (21/6/2019), adalah Quiet Supersonic Technology Airliner, teknologi yang tersemat di Lockheed Martin X-59 QueSST ini memungkinkan pesawat untuk mengangkut sekira 40 penumpang dan menjelajah angkasa pada kecepatan Mach 1,8 atau yang setara dengan 22.226,4 km per jam.

Lockheed Martin X-59 Quiet SuperSonic Technology X-Plane ini merupakan pesawat yang dikembangkan bersama dengan badan antariksa Amerika Serikat, NASA. Adapun teknologi X-Plane yang juga nantinya akan terpasang memungkinkan pesawat untuk tidak secara intens menghasilkan ledakan supersonik (supersonic boom) – dimana ini merupakan tipikal dari pesawat yang melanggar hukum dari kecepatan suara.

Berkaca pada kasus Concorde yang sangat bising ketika mencapai kecepatan lebih dari Mach 1 dan pada akhirnya berdampak pada tidak ekonomisnya pesawat ini untuk beroperasi di atas daratan, Lockheed Martin bersama NASA mencoba untuk memperbaiki kekurangan dari pesawat yang sudah pensiun dini tersebut.

Baca Juga: Gandeng Aerion, Boeing Siap Luncurkan Pesawat Supersonik di Tahun 2025

Enggan memikirkan soal regulasi mengudara di atas daratan terlalu jauh, salah satu insinyur dari Lockheed Martin, Mike Buonanno mengatakan bahwa dirinya lebih memilih untuk uji konseptual terlebih dahulu.

“Saat ini, kami hanya melakukan studi desain konseptual awal untuk menetapkan apakah desain itu layak, mengukur ukuran untuk konsep, seberapa besar pesawat ini kelak, berapa beratnya, dan lain sebagainya … Studi sensitivitas awal untuk memastikan semuanya masuk akal,” ujar Mike.

 

Qantas Pesan 36 Unit Airbus A321XLR, Mulai Diterima Pertengahan 2024

Kendati pihak Airbus baru saja mendapatkan isu tentang kenyamanan penumpang pada varian A321XLR yang baru dirilisnya pada perhelatan Paris AirShow 2019 kemarin, tapi itu tidak menyurutkan asa dari maskapai asal Australia, Qantas untuk memesan total sebanyak 36 unit pesawat tersebut. Dari total 36 pesanan Qantas tersebut, sebenarnya pihak maskapai hanya memesan 10 armada tambahan saja, dan 26 unit sisanya merupakan konversi dari pesanan terhadap varian A321neo yang sudah terlebih dahulu diajukan oleh The Flying Kangaroo.

Baca Juga: Di Paris AirShow 2019 Airbus Perkenalkan A321XLR, Apa Saja Keunggulannya?

Penambahan pesanan dari pihak Qantas ini menandakan pertumbuhan pada keluarga A320, dari 99 unit menjadi 109 unit. KabarPenumpang.com mengutip dari laman simpleflying.com (19/6/2019), pihak Qantas rencananya akan mulai menoperasikan varian ini pada pertengahan tahun 2024 mendatang – seiring dengan pengiriman perdana dari model ini. Jika tidak ada aral melintang, maka di masa yang akan datang, Qantas akan mengoperasikan 28 unit pesawat Airbus A321LR, 36 unit pesawat Airbus A321XLR, dan 45 unir pesawat A320neo.

Terkait dengan pemesanan ini, CEO dari Qantas, Alan Joyce mengatakan bahwa pihak maskapai akan mulai mempertimbangkan untuk mengoperasikan rute yang memiliki permintaan rendah, dimana ini berjalan beriringan dengan daya angkut dari pesawat yang juga tidak terlalu besar.

“Nantinya A321XLR mungkin akan terbang dari Cairns menuju Tokyo atau dari Melbourne menuju Singapura, dimana penerbangan semacam ini tidak bisa dilakukan oleh pesawat narrow-body generasi sebelumnya,” terang Alan.

“Tentunya hal seperti ini akan mengubah pola perekonomian dari sejumlah rute potensial yang ada di kawasan Asia, dan ini akan sangat menarik untuk ditekuni jika dilihat dari segi finansialnya,” imbuhnya.

Alan juga menambahkan bahwa dirinya belum bisa memutuskan di rute mana saja A321XLR akan beroperasi, “karena baik kami maupun JetStar memiliki banyak rute potensial yang dapat dilayani oleh varian terbaru dari Airbus ini,”

Baca Juga: ‘Curi’ Pasar Boeing, Airbus Genjot Produksi A321XLR

Tidak hanya pihak Qantas saja yang langsung memesan atau mengkonfersi pesanannya terhadap A321XLR – pun dengan salah satu maskapai terbesar asal Negeri Paman Sam, American Airlines. Maskapai ini diketahui mengkonversi 30 pesanan A321neo-nya menjadi A321XLR dan menambah sekitar 20 unit tambahan.

Tapi jika dipikir-pikir, bukankah hadirnya varian A321XLR ini lambat laun akan menenggelamkan bisnis penerbangan codeshare yang selama ini diberlakukan oleh banyak maskapai, dimana salah satu latar belakang dari munculnya bisnis penerbangan codeshare ini adalah soal moda yang memiliki daya angkut rendah, namun bisa melakoni penerbangan jarak jauh.

 

Tersebar Isu Soal Kenyamanan Penumpang, Terlalu Dinikah Airbus Luncurkan A321XLR?

Kendati telah memperkenalkan varian A321XLR pada Paris AirShow 2019, namun bukan berarti pihak Airbus hanya tinggal menunggu pesanan dari maskapai datang. Dikabarkan, kini pihak produsen pesawat asal Eropa tersebut tengah dibuat bingung dengan isu kenyamanan penumpang . Ya, Airbus A321XLR memang pesawat narrow-body yang sengaja dikembangkan untuk melayani perjalanan jarak jauh, maka rasanya agak tidak mungkin apabila Airbus tidak memperdulikan tingkat kenyamanan penumpang melalui bangku yang ada di dalam kabin.

Baca Juga: Di Paris AirShow 2019 Airbus Perkenalkan A321XLR, Apa Saja Keunggulannya?

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman Reuters (17/6/2019), sebelumnya baik Airbus maupun saingan terbesarnya, Boeing telah meluncurkan pesawat untuk melakoni penerbangan jarak jauh berbahan serat karbon terbaru seperti 787 Dreamliner atau A350, namun kedua varian ini menawarkan ruang kabin yang besar dan mampu membantu penumpang agar tidak terkena jetlag yaitu dengan cara mengatur tekanan kabin sehingga mirp dengan tekanan ketika berada di darat.

Selain varian 787 Dreamliner dan A350, baik Boeing dan Airbus juga telah mengembangkan pesawat narrow-body yang mampu mengarungi penerbangan jarak jauh – karena varian seperti inilah yang dinilai paling efisien oleh para operator penerbangan, dan menurut mereka, mengudara dengan menggunakan pesawat narrow-body akan mendukung regulasi tentang pemberlakuakn tarif murah.

Sudah barang tentu, variabel kedua yang dipikirkan oleh produsen pesawat setelah keselamatan adalah kenyamanan penumpang. Apabila mengudara dengan menggunakan pesawat twin-aisles (lorong ganda) atau kondang disebut widebody, mungkin masalah kenyamanan bukanlah menjadi sebuah perkara yang berati. Tapi apakah bisa pihak produsen pesawat ‘memindahkan’ tingkat kenyamanan yang sama kepada varian single-aisle? Di sinilah letak permasalahan yang sesungguhnya.

Tidak usah membahasnya terlalu jauh, dimulai dari hal paling sederhana saja – tekanan di dalam kabin. Di dunia penerbangan, dikenal dengan yang namanya equivalent effective cabin altitude atau yang biasa disingkat cabin altitude saja, dimana ini merupakan pengaturan tekanan udara yang ada di dalam kabin ketika pesawat mengudara.

Tidak bisa secara serta merta sebuah pesawat memberikan tekanan udara di dalam kabin yang setara dengan tekanan udara ketika berada di darat. Sebagai contoh, pesawat 787 Dreamliner milik Boeing dan A350 milik Airbus memiliki tekanan udara di dalam kabin yang setara dengan ketinggian 6.000 kaki. Atau varian Airbus lainnya, A320 yang memiliki tekanan kabin setara dengan ketinggian 8.000 kaki.

“Tekanan kabin dari Airbus A321XLR bisa menjadi masalah,” ujar salah satu eksekutif dari pihak maskapai yang ingin namanya tetap anonim.

Baca Juga: Paris Air Show 2019 Jadi Ajang ‘Klarifikasi’ Besar-Besaran Bagi Boeing

Pernyataan ini dilontarkan pasca maskapai terkait pernah menggunakan varian A320neo pada tahun 2015 silam, dan menyatakan bahwa varian tersebut memiliki kelemahan terkait tekanan udara di dalam kabin ketika mengudara di ketinggian.

Lalu, bukankah sudah semestinya Airbus memikirkan terlebih dahulu setiap detail pada keseluruhan pesawat sebelum memperkenalkannya ke publik? Atau ini merupakan salah satu ‘ancaman’ dari pihak Airbus terhadap Boeing yang tengah terseok-seok pasca grounding massal terhadap varian 737 MAX? Atau Airbus terkesan terlalu terburu-buru dalam meluncurkan varian ini, mengingat rival setaranya, 737 MAX tengah terpuruk?

Lion Air Bersiap Turunkan Harga Jual Tiket Penerbangan Domestik

Manajemen Lion Air hari ini (21/6) menyampaikan bahwa akan mengikuti keputusan pemerintah sehubungan penurunan harga jual tiket pesawat pada jaringan domestik untuk kategori maskapai layanan minimum (no frills/ low cost carrier). Lion Air akan memberlakukan harga jual tiket promo sampai dengan 50 persen dari tarif dasar batas atas (basic fare), akan diterapkan pada waktu (jam-jam) keberangkatan (schedule time departure) dan kondisi tertentu serta mengikuti syarat dan ketentuan.

Baca juga: Disebut Punya Utang Rp614 Triliun, Berikut ini Klarifikasi dari Lion Air

Tarif yang berlaku belum termasuk tarif bagasi tercatat (didaftarkan), pelayanan jasa penumpang udara (passenger service charges/ PSC), pajak pertambahan nilai (PPN) dan biaya asuransi (Iuran Wajib Jasa Raharja/ IWJR). Untuk pemesanan/ pembelian tiket promo harus dilakukan paling lambat 10 hari sebelum keberangkatan (H-10). Lion Air saat ini sedang melakukan persiapan dan proses terkait penyesuaian harga jual tiket.

Lion Air saat ini sudah melakukan penurunan harga jual tiket melalui beberapa promo, antara lain bertepatan momen 19 tahun Lion Air.

Danang Mandala Prihantoro, Corporate Communications Strategic Lion Air menegaskan bahwa besaran tarif tiket (harga jual) yang dijalankan telah sesuai ketentuan yang ditetapkan regulator menurut layanan kelas ekonomi domestik. Dalam menentukan tarif penumpang pelayanan kelas ekonomi domestik, Lion Air Group telah menghitung dan memberlakukan secara bijak.

Baca juga: Inilah Penjelasan Lion Air Seputar ‘Tingginya’ Harga Tiket Multiple Flight

Untuk harga jual tiket penerbangan yang dijual merupakan implementasi penggabungan beberapa komponen menjadi kesatuan harga tiket pesawat. Biaya tiket untuk penerbangan langsung terdiri dari komponen, tarif dasar (basic fare) tiket pesawat menurut jarak, pajak (government tax) dengan kisaran 10 persen dari harga dasar (basic fare) tiket pesawat, iuran wajib asuransi yang disingkat IWJR (Iuran Wajib Jasa Raharja), Passenger Service Charge (PSC) atau airport tax dimasukkan langsung dalam biaya tiket pesawat. Besarnya berbeda-beda sesuai dengan bandar udara di masing-masing kota.

Pendapat Pakar: Kapten MH370 Telah Kurangi Tekanan Kabin Sebelum Jatuhkan Pesawat di Samudera Hindia

Kendati sudah lebih dari lima tahun pasca kejadian, namun misteri yang menyelimuti insiden jatuhnya Boeing 777-200 Malaysian Airlines dengan nomor penerbangan MH370 masih saja tertutup rapat. Hingga saat ini, belum ada pihak yang dapat dengan presisi menyebutkan penyebab dari hilangnya pesawat nahas ini. Sementara upaya untuk menguak misteri hilangnya pesawat yang hendak bertolak menuju Beijing Capital International Airport ini masih dilakukan oleh sebagian pihak, isu-isu yang beredar di luar sana pun semakin santer beredar.

Baca Juga: Empat Tahun Pasca Hilangnya MH370, Malaysian Airlines Rilis Laporan Investigasi

Kini sebuah isu yang tengah ramai diberitakan adalah terkait keputusan pilot untuk mengurangi tekanan di dalam kabin untuk membunuh semua penumpang yang ada di dalamnya secara perlahan – pernyataan ini diklaim oleh para ahli yang turut menangani salah satu misteri terbesar dari sektor aviasi global ini. Sementara itu menurut kelompok independen yang juga turun menangani kasus ini, Capt. Zaharie Shah yang sebelumnya memang sudah terkenal bermasalah dan ‘kesepian’, sengaja membunuh 238 penumpang yang ada di dalam kabin, sebelum akhirnya menjatuhkan pesawat ke Samudera Hindia.

Adapun kelompok independen ini berisikan pakar di bidang aviasi, dimana tujuan utama dari kelompok independen ini adalah untuk membongkar misteri dari Malaysian Airlines MH370. Tidak sedikit dari mereka juga yang dipanggil oleh pihak berwenang untuk memabtnu proses pencarian atau pengungkapan hilangnya pesawat. Sebagaimana yang sudah diketahui bersama, Malaysian Airlines MH370 hilang dari radar pada 8 Maret 2014 silam.

Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman metro.co.uk (18/6/2019), kelompok independen ini mengklaim bahwa Capt. Shah dengan sengaja membawa pesawat jauh keluar dari jalur yang semestinya sehingga akan lebih cepat bagi pesawat untuk kehabisan bahan bakar atau dengengan sengaja menukikkan pesawat menuju Samudera Hindia yang berakibat pada hancurnya pesawat.

Capt. Zaharie Shah (Kanan). Sumber: metro.co.uk

Di sisi lain, seorang electrical engineer yang juga menjadi bagian dari kelompok independen tersebut, Mike Exner percaya bahwa Capt. Shah telah melakukan pendakian ke titik 40.000 kaki sebelum akhirnya melakukan aksi bunuh diri sekaligus pembunuhan massal ini.

“Proses climbing (pendakian) dengan cepat akan mempercepat proses pengurangan tekanan udara di dalam kabin,” terangnya.

Sementara itu, seorang pakar aviasi yang bernama William Langewiesche mengemukakan pendapat yang berbeda.

“Kuat dugaan Capt. Shah telah terlebih dahulu membunuh rekan ko-pilotnya sebelum mengurangi tekanan di dalam kabin,” papar William.

Baca Juga: Perlu Anda Tahu! Masker Darurat di Kabin Hanya Pasok Oksigen Selama 15 Menit

Menanggapi pernyataan dari Mike tadi, William menambahkan bahwa proses pengurangan tekanan di dalam kabin akan berimbas pada turunnya masker oksigen dari arah atas bangku penumpang – namun sayang, masker oksigen di dalam sebuah penerbangan hanya mampu bertahan selama 15 menit saja, “dan masker oksigen ini hanya akan berfungsi ketika pesawat berada di ketinggian di bawah 13.000 kaki,”

Pada akhirnya, kasus hilangnya Malaysian Airlines MH370 masih menjadi salah satu kasus paling misterius di jagad aviasi global.

 

FlixTrain Mulai Masuki Pasar Kereta Api Perancis

FlixTrain yang merupakan salah satu operator kereta api baru-baru ini mengajukan permintaan kepada regulator kereta Prancis Arafer untuk lima rute. Kelima rute ini akan mulai meluncur pada 1 Januari 2021 mendatang. FlixTrain sendiri berencana untuk bersaing dengan operator lama SNCF Mobilities.

Baca juga: Petinggi Perancis dan Maroko Lakukan Inagurasi Kereta Cepat Pertama di Afrika

Layanan FlixTrain ini nantinya akan mencakup empat rute domestik dan satu rute internasional. Permintaan ini setelah empat tahun pengenalan kereta berbiaya rendah di Perancis.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman railwaygazette.com (18/6/2019), layanan rute yang diusulkan adalah antara Paris dan North serta Brussel dan North. CEO FlixBus di Perancis Yvan Lefranc-Morin mengatakan, tujuan utama memilih jalur tersebut adalah mendapat keuntungan dari saling melengkapi kedua moda transportasi.

“Koneksi kereta api kami tidak akan mematikan jalur bus kami,” jelasnya.

Dia menambahkan, meski asal dan tujuannya sama, tetapi pihaknya melayani rute lain dengan jadwal dan tarif yang berbeda. Di Jerman, integrasi ini sendiri berfungsi dengan baik.

“Kami telah mengangkut satu juta penumpang selama tahun pertama eksploitasi. “Di Perancis, perusahaan ingin siap pada 2021,” kata Yvan.

Proyek-proyek yang diajukan oleh FlixTrain semuanya berhubungan dengan koneksi Paris-Utara – Brussels-Utara, Paris-Bercy – Lyon Perrache, Paris-Bercy – Nice, Paris-Bercy – Toulouse, dan Paris-Austerlitz – Bordeaux dengan total 25 pemberhentian.

FlixTrain, cabang dari FlixMobility Group, yang juga merupakan bagian dari FlixBus, adalah satu-satunya kandidat untuk lima koneksi kereta. Menurut FlixTrain, perusahaan tidak berencana untuk menawarkan kereta api berkecepatan tinggi, tetapi sebuah penawaran yang setara dengan kereta api antarkota dengan anggaran rendah.
Wifi

“Penumpang akan memiliki wifi yang mereka miliki, dan power point. Kami juga akan menawarkan hiburan, makanan ringan bio. Kami akan dapat menawarkan layanan yang lebih efisien dan lebih murah. Kami tahu dari data kami bahwa ada permintaan besar untuk perjalanan yang lebih murah di koneksi kereta ini, kami bahkan mempertimbangkan kereta malam di jalur Paris-Nice,” kata dia.

Baca juga: Ribuan Warga Turin Unjuk Rasa Dukung Hadirnya Kereta Berkecepatan Tinggi ke Lyon

FlixTrain sendiri mengatakan, kereta mereka direncanakan akan menggunakan kelas multi sistem BB36000 dengan kapasitas 400 dan seribu penumpang per kereta. Saat ini, FlixTrain sendiri diketahui masih dalam proses menerima lisensi operasi dan sertifikat keselamatan.

Transport for London Lacak Pergerakan Penumpang via Jaringan WiFi

Melacak penumpang melalui sinyal WiFi dari ponsel pintar akan mulai dilakukan oleh Transport for London (TfL). Nantinya data yang didapat oleh TfL akan digunakan untuk memahami gerak dan aktivitas penumpang di sekitaran jaringan transportasi.

Baca juga: Gandeng Boingo, Bandara Heathrow Rilis Akses WiFi 100 Mbps!

Pelacakan ini akan dibantu oleh London Underground saat penumpang melalui stasiun dan mengumpulkan sinyal WiFi yang digunakan mereka dari ponsel pintar. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman ft.com (22/5/2019), TfL mengatakan, data pelacakan ini akan dimulai pada Juli 2019 mendatang dimana akan dipahami bagaimana penumpang melewati jaringan transportasi dan menggunakan data.

Sehingga TfL akan menargetkan memberikan informasi agar penumpang terhindar kemacetan dan penundaan kereta. Dengan adanya pengumpulan data ini, pihak TfL pun diuntungkan karena ada manfaat komersial dimana bisa mengetahui situs iklan yang ada di stasiun dengan harga premium.

Nantinya jika ini berhasil, TfL yang kehilangan pendapatan dari jalur Crossrail sebanyak £17,6 miliar akan dapat melisensikan teknologi tersebut ke jaringan transportasi global lainnya seperti yang sudah dilakukan Sydney dan New York pada teknologi tiket mereka.

Lauren Sager Weinstein, kepala petugas data TfL, mengatakan TfL harus “membatalkan algoritme” setelah percobaan awal sistem pada 2016 untuk memastikan analisis waktu nyata.

“Jika Anda ingin menjawab pertanyaan tentang seberapa sibuk stasiun Anda, Anda ingin tahu itu sekarang, bukan tiga hari kemudian,” jelasnya.

Sager mengatakan TfL juga telah bekerja dengan Kantor Komisaris Informasi sejak persidangan 2016 untuk lebih baik “mendepersonalisasi” data dan melindungi privasi pengguna. Tetapi para pakar teknologi telah mengajukan keprihatinan tentang apakah data dapat dianonimkan dengan benar atau dirahasiakan.

“Sistem transportasi umum menghasilkan banyak data yang kaya tentang pola komuter. Ini dapat meningkatkan layanan dan menghemat biaya. Tapi privasi perlu dipertimbangkan secara serius, terutama dalam penyebaran yang belum pernah terjadi sebelumnya seperti London, yang dapat mempengaruhi tempat lain,” kata Peneliti privasi independen dan penasihat Lukasz Olejnik.

TfL akan memasang rambu-rambu yang memberi tahu penumpang bahwa mereka dapat memilih keluar dari pengumpulan data dengan mematikan Wi-Fi mereka, tetapi mereka tidak akan dapat mengakses internet di bagian-bagian jaringan tanpa penerimaan. TfL sendiri diketahui tengah berada dalam kesulitan keuangan yang sulit sejak pemerintah Inggris mulai menarik dana bantuan operasinya, yang mencapai £1,1 miliar pada 2013-2014 dan sekarang telah sepenuhnya hilang.

Pembekuan ongkos yang dilembagakan oleh walikota London Sadiq Khan dan penurunan jumlah penumpang juga berkontribusi pada masalah TfL. Rencana bisnis TfL meramalkan kerugian operasi £900 juta untuk 2019-2020, tetapi itu sebelum pembukaan penuh Crossrail dimasukkan kembali hingga 2021.

Baca juga: Teknologi 5G, Apakah Aman untuk Perkeretaapian Dunia?

Penundaan Crossrail akan menelan biaya TfL £1 miliar dalam pendapatan yang hilang, menurut lembaga pemeringkat Moody, £300 juta-£400 juta lebih dari yang diantisipasi oleh rencana bisnis TfL pada 2018.