Seperti di Indonesia, Proyek Kereta Cepat India Juga Tersandung Soal Pembebasan Lahan

Ternyata, tidak hanya proyek kereta peluru Indonesia saja yang ‘mandek’, India pun mengalami nasib yang hampir serupa. Kurang lebih satu tahun yang lalu, India secara resmi mulai menggarap kereta cepat yang menghubungkan Mumbai dengan pusat ekonomi di sana, Ahmedabad. Namun setahun berselang, kontraktor hanya mampu membebaskan lahan sekitar 0,9 hektar saja – dari 1.400 hektar lahan yang diperlukan. Inikah pertanda proyek kereta cepat India ini tidak akan berjalan mulus?

Baca Juga: Lintasi Hutan di Karawang, Pembebasan Lahan Kereta Cepat Jakarta-Bandung Optimis Tuntas Akhir Tahun

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman bloomberg.com (17/10/2018), perkara pembebasan lahan juga mewarnai proyek pembangunan jaringan kereta cepat di India. Para petani yang lahannya digusur oleh kontraktor merasa tidak puas dengan kompensasi yang mereka dapatkan dan lebih memilih untuk enggan angkat kaki.

Ya, proyek kereta cepat ini akan jadi batu lompatan bagi Indian Railways, dimana operator kereta dan masyarakat India akan merasakan sebuah perubahan yang signifikan semasa 165 tahun Indian Railways berada di negara penghasil film Bollywood.

“Pembebasan lahan merupakan masalah yang sangat umum di India dan banyak proyek yang tertunda akibatnya,” ungkap Raghbendra Jha, seorang profesor ekonomi di Australian National University. “Saya telah melihat banyak contoh kasus seperti ini – yang berkaitan dengan pembebasan lahan,” tandasnya.

Jika ditelisik lebih dalam, semakin banyak protes yang berkembang di masyarakat, maka itu akan semakin mencoreng citra dari Perdana Menteri Narendra Modi,orang yang selama ini mengimplementasikan beragam proyek, khususnya di ruang lingkup kereta api.

Pada 22 November kemarin, sekelompok petani yang terdampak dari proyek ini mengajukan petisi ke Pengadilan Tinggi Gujarat. Mereka menuntut Pemerintah untuk mengambil sikap atas apa yang telah menimpanya. Selain itu, para petani ini juga mempertanyakan sikap Pemerintah yang seolah mengikhlaskan lahan pertanian di India untuk sebuah proyek yang dikerjakan oleh kemitraan publik dan swasta.

Baca Juga: Jalan di Tempat, Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Masih) Terbelit Pembebasan Lahan

“Kami sudah berkomitmen untuk mengatasi masalah petani yang terkena dampak – akan kami pertimbangkan berbagai kemungkinan yang dapat ditempuh agar para petani mau membebaskan lahannya,” kata Dhananjay Kumar, juru bicara dari National High Speed Rail Corporation.

Jika sudah seperti ini, akankah National High Speed Rail Corporation bisa memenuhi target untuk mulai beroperasi pada Agustus 2022 mendatang?

Dari Mulai Petugas Sampai Porter di Stasiun Gandhi Nagar, Semuanya Adalah Wanita!

Kereta api di India memiliki stasiun dengan para petugasnya wanita baik itu penjaga loket, porter, kepala stasiun, masinis dan lainnya. Bahkan untuk memberikan kenyamanan dan keselamatan bagi para petugas, kereta India melengkapi stasiun dengan kamera pengawas dan pasukan polisi yang juga semuanya wanita.

Baca juga: Stasiun Gandhi Nagar Jaipur, Gunakan Seluruhnya Petugas Wanita!

KabarPenumpang.com merangkum dari devdiscourse.com (15/10/2018), seorang porter wanita bernama Chandra Kala melakukan tugasnya saat kereta datang untuk mencari penumpang yang membutuhkan bantuan mengangkut barang-barang mereka. Kala merupakan satu dari 40 wanita yang bekerja sebagi porter di Stasiun Gandhi Nagar.

“Sebelumnya saya dulu merasa sangat malu. Bagaimana harus berbicara dengan penumpang dan bagaimana saya bisa mengangkat koper? Semua terasa sangat aneh,” ujarnya.

Namun janda dua anak tersebut bekerja sebagai porter menggantikan suaminya yang telah meninggal dan mendapatkan penghasilan sekitar tiga ribu Rupee atau $40. Namun setelah melakukan pekerjaannya tersebut, Kala tak lagi malu, bahkan mulai menyukainya.

Sebab dirinya bekerja dimana stasiun tersebut memiliki petugas loket, kondektur, pejabat hingga petugas kebersihan yang semuanya wanita. Ini juga memberikan pandangan baru dan memberikan harapan sebuah negara dimana perlahan-lahan wanita mulai hilang dari tempat kerja.

Adanya inisiatif dari Stasiun Gandhi Nagar dengan memberdayakan perempuan sebagai tenaga kerjanya, membuat pejabat kereta api India Tarun Jain berencana meniru hal tersebut di stasiun lainnya. Jain mengatakan, setelah para wanita mengambil alih pekerjaan stasiun, Stasiun Nagar memiliki pendapatan yang cukup signifikan kenaikannya.

“Pendapatan telah meningkat secara substansial sejauh menyangkut pemeriksaan tiket. Mereka telah menangkap banyak orang tanpa tiket,” katanya.

Pada April lalu, petugas wanita menangkap 520 penumpang yang mencoba naik kereta tanpa tiket. Stasiun Nagar sendiri memperoleh pendapatan 133.595 Rupee atau setara sengan $1805 dari tiket yang dibeli penumpang-penumpang itu. Padahal tahun 2017 lalu, petugas pria menangkap 67 orang pada bulan yang sama dan hanya memperoleh penghasilan 11.645 Rupee.

“Perempuan menemukan kepercayaan diri untuk memasuki sektor yang didominasi laki-laki secara tradisional. Ini juga mengirimkan pesan positif kepada generasi muda ketika mereka mempertimbangkan pilihan karir,” ujar Aya Matsuura seorang spesialis gender di Organisasi Perburuhan Internasional Amerika Serikat.

Stasiun Gandhi Nagar yang berada ibu kota negara bagian Jaipur, setiap harinya dilewati 25 kereta dengan penumpang sebanyak tujuh ribu. Kebanyakan penumpang ini dari daerah pedesaan dan suku yang konservatif. Bahkan beberapa orang berpikir saat wanita mengambil alih stasiun memandang mereka dengan meminta ganti petugas pria seperti semula.

“Beberapa orang bereaksi dengan sangat marah. Kami tidak tahu bagaimana pekerjaan apa pun akan dilakukan di sini,” ujar Supervisor Reservasi, Neelam Sharma.

Namun, setelah beberapa bulan berlalu, Sharma mengatakan, para penumpang lain akhirnya senang dengan peningkatan di stasiun. Apalagi layanan lebih cepat, antrean sedikit, informasi dan kebersihan lebih baik.

“Sekarang orang-orang yang sama datang kepada kami dan sangat menghargai kami dan mengatakan hal-hal seperti, ‘Nyonya, kami benar-benar suka datang ke sini, pekerjaan kami diselesaikan lebih cepat’, dan, ‘Para pria tidak menjelaskan hal-hal kepada kami dengan benar.’ Penumpang cukup senang sekarang,” ujar Sharma.

Satya Narayan, pria berusia 61 tahun yang sudah biasa di stasiun sejak dia kecil, setuju. “Ada perbedaan malam dan siang di sini. Ketika orang-orang itu bekerja di sini, dulu ada banyak hooliganisme. Tapi sekarang para wanita mengurus segalanya.”

Anggota tim memuji keberhasilan ini dengan motivasi mereka untuk membuktikan diri mereka dalam apa yang biasanya dianggap sebagai benteng laki-laki.

“(Kami) memberikan upaya 100 persen kami. Duduk di belakang panel kontrol dengan garis-garis dan tombol berkode warna-kode yang mengirim sinyal ke kereta yang masuk untuk mencegah kecelakaan. Tapi itu tidak mudah sampai ke titik ini,” kata master stasiun Angel Stella.

Para wanita, yang sebagian besar dipindahkan dari stasiun-stasiun di kota-kota kecil, harus mengatasi keraguan dan ketakutan mereka sendiri menjalankan sebuah stasiun sendiri. Mereka harus bekerja dengan nyaman shift malam dan bekerja di posisi tanggung jawab yang secara tradisional dipegang oleh pria.

Stella menambahkan, itu juga tantangan bagi mereka yang tinggal bersama anak-anak atau mertua mereka untuk menyeimbangkan antara pekerjaan dan keluarga. Untuk memastikan kenyamanan dan keselamatan mereka, pihak berwenang melengkapi stasiun dengan kamera CCTV, mengerahkan pasukan polisi semua-wanita, memasang mesin penjual otomatis pembalut, dan membuat tempat penitipan anak sementara.

Baca juga: Indian Railways Canagkan Pembangunan Koridor Atas Kereta Api di Kerala

Karyawan wanita mengatakan mereka berharap dapat menginspirasi gadis-gadis muda yang melewati stasiun, dan memicu perubahan di antara orang-orang yang berpikir tempat wanita ada di rumah.

“Semua wanita harus maju dan berdiri bahu-membahu dengan pria, terutama dalam pekerjaan yang biasanya dilihat sebagai milik mereka,” kata Usha Mathur, atasan kepala pengawas dan ibu dua anak.

Toyota Motor Rengkuh 2 Visi Futuristik dalam Satu Proyek di Utara Tokyo

Toyota Motor kini mulai ikutan terjun ke dunia kendaraan otonom, dimana mereka diplot untuk meluncurkan proyek uji coba sistem transportasi yang berfokus pada kendaraan otonom. Tidak berjalan sendiri, perusahaan asal Jepang ini turut bekerja sama dengan Universitas Tsukuba dan pemerintah setempat. Diketahui, Toyota Motor menjadikan daerah di sebelah utara Tokyo sebagai medan uji coba kendaraan tersebut.

Baca Juga: Bus Otonom Apolong Baidu Level 4 Meluncur Secara Global di 2019

Dikutip KabarPenumpang.com dari laman asia.nikkei.com (8/10/2018), di bawah sistem otonom yang dikembangkan oleh Toyota, sebuah kendaraan single-seat akan menjemput penumpang dari rumah mereka dan mengantarkannya menuju halte bus terdekat. Di sana, penumpang akan ‘ditransfer’ menuju bus otonom yang siap membawa mereka berkelana menuju kota.

Agak sedikit unik memang konsep dari proyek yang tengah dijalani oleh Toyota Motor ini, namun adapun salah satu tujuan dari pengembangan proyek ini adalah untuk membantu mobilitas dari para lansia yang terisolasi dari dunia luar. Ya, jumlah lansia yang terisolasi ini semakin meningkat di Negeri Sakura pasca pemangkasan sejumlah rute moda transportasi di beberapa daerah.

Nantinya bus-bus otonom ini akan beroperasi di dalam kota, dengan rute yang paling jauh adalah menuju Stasiun Tokyo dan Bandara Narita. Sebenarnya, prioritas awal dari keseluruhan proyek ini adalah untuk menggunakan Artificial Intelligent (kecerdasan buatan) untuk memprediksi kemacetan lalu lintas di area tertentu.

Ibarat pepatah “Sekali merengkuh dayung, dua tiga puau terlampaui”, Toyota nampaknya akan menuai pujian di akhir periode uji coba. Pasalnya, selain digadang-gadang untuk mengentaskan masalah lansia yang terisolasi tersebut, Toyota juga sambil mengembangkan teknologi kecerdasan buatan untuk bus-bus otonomnya dalam menentukan rute tercepat dari daerah yang kerap dilanda kemacetan.

‘Eksperimen’ ini sendiri telah ditetapkan untuk diluncurkan pada fiskal 2019 dan berakhir pada fiskal 2022. Dalam rentang waktu tersebut, pihak Toyota dan semua otoritas terkait akan menguji kelayakan teknologi yang relevan dengan lalu lintas reguler.

Baca Juga: Coba Peruntungan, Sony Ciptakan Mobil Otonom Futuristik!

Tidak melulu soal modanya saja, proyek ini juga akan melibatkan produsen bahan bakar hidrogen dari sumber energi terbarukan untuk bus. Toyota juga akan memperhatikan soal pembangunan pipa untuk stasiun bahan bakar yang tahan bencana – sebagaimana yang kita ketahui bersama, Jepang merupakan negara yang memiliki frekuensi gempa paling tinggi di dunia.

Enggan tertinggal, beberapa perusahaan yang juga terkait dengan tema dari proyek ini mulai membuka obrolan – seperti NEC (perusahaan IT asal Jepang), dan Mitsubishi Electric.

Hantam Panel Penutup Eskalator, Penumpang SMRT Dilarikan ke Rumah Sakit. Lukanya Bikin Merinding!

Seorang penumpang SMRT terpaksa dilarikan ke rumah sakit karena luka yang cukup parah pasca menghantam sebuah panel penutup sisi eskalator di Stasiun MRT City Hall pada Jumat (14/9/2018). Diketahui, korban yang berjenis kelamin wanita bernama Ong Sook Ling mengalami patah tulang kering sebelah kiri pasca kejadian ini. Kala itu, Ny. Ong tengah dalam perjalanan kembali menuju ke kantor bersama suaminya, Kevin Ong setelah makan siang.

Baca Juga: Gas Freon di MRT Singapura Bocor, Gangguan Kesehatan Mengintai Penumpang

Kejadian ini bermula ketika sepasang suami istri ini tengah menuruni eskalator di Stasiun MRT City Hall sekitar pukul 13.00 waktu setempat. Ketika tengah menuruni tangga berjalan tersebut, Kevin mendengar suara seperti dua besi saling beradu yang dibarengi dengan suara teriakan dari sang istri.

“Saya mendengar suara melengking logam dan hal berikutnya yang saya tahu, kaki istri saya tersangkut di sebuah panel, dan eskalator terus bergerak,” ujar Kevin, dikutip KabarPenumpang.com dari laman todayonline.com (16/9/2018). Ketika kejadian, Kevin berada tepat di belakang sang istri.

Ujung panel penutup eskalator yang tajam mematahkan tulang kering Ny. Ong. “Ketika melihat luka yang dialami oleh istri saya, saya melihat sebuah luka menganga yang cukup besar dengan tulang yang patah dan darah yang mengalir. Saya berusaha untuk menenangkan istri saya sembari ia berusah untuk menahan aliran darah untuk mengurangi darah yang keluar dari lukanya itu,” jelas Kevin.

Setibanya di ujung eskalator, semua orang mengerubungi Ny. Ong dan beruntung, salah satu dari merek ada yang mengaku sebagai seorang suster. Tanpa berpikir panjang, wanita yang mengaku sebagai suster ini langsung meminta petugas SMRT untuk membawakannya Kotak P3K dan ia mulai melakukan pertolongan pertama pada Ny. Ong.

“Kami merasa beruntung ada seorang suster di antara orang yang berkerumun itu. Saya tidak sempat bertanya siapa namanya, padahal saya sangat ingin berterima kasih kepadanya,” jelas Kevin.

Setelah mendapat pertolongan pertama dari suster tersebut, Ny. Ong langsung dilarikan ke Mount Elizabeth Novena Hospital guna mendapatkan tindakan lebih lanjut. Menurut dokter yang menanganinya, ukuran luka Ny. Ong kurang lebih sekitar 8cm, dengan kedalaman 3 hingga 4cm.

Menanggapi insiden ini, pihak SMRT melalui Vice-President of Corporate Communications Margaret Teo membenarkan dan meminta maaf atas kejadian tersebut.

Baca Juga: Dua Pria Terlibat Duel Sengit di Gerbong SMRT, Kepolisian Masih Selidiki Penyebabnya

“Tim kami telah menghubungi pihak komuter melalui anggota keluarganya untuk memberikan bantuan sebaik yang kami bisa. Kami sangat menyesal atas kecelakaan itu dan berharap agar korban dapat lekas pulih,” ujar Margaret.

Ia menambahkan, bahwa korban dari panel penutup sisi eskalator ini tidah hanya Ny. Ong saja, melainkan ada satu korban lagi yang enggan dibeberkan detail luka yang dialaminya.

Strator Ride, Otoped Listrik Beroda Besar Siap Masuki Moda Alternatif Perkotaan

Selain sepeda motor, moda transportasi aleternatif yang kini tengah digandrungi oleh banyak orang adalah skuter listrik dengan roda yang besar – tidak berlaku di Indonesia yang tetap ‘mengagungkan’ sepeda motor. Di California, Amerika, seorang desainer produk sekaligus pemain skateboard Nathan Allen mulai mencoba untuk terjun ke bisnis moda transportasi alternatif yang kini tengah naik daun – dan sudah pasti ramah lingkungan.

Baca Juga: Renault EZ-Pro, Solusi Moda Pengantar Paket dari Masa Depan

Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (16/10/2018), adalah Strator Ride, moda alternatif yang dirancang oleh Nathan Allen memiliki bentuk seperti otoped yang memiliki ban besar dan stang yang bentuknya mirip seperti huruf L terbalik. Nathan menggunakan kerangka tubular baja chromoly berlapis-lapis sebagai bahan utama dari Strator Ride.

Moda ini sendiri menggunakan rear motor hub 1.000watt yang dimana mampu membuat Strator Ride melaju hingga kecepatan 40 km per jam. Untuk masalah daya, Nathan menawarkan dua pilihan baterai yang dapat dipilih oleh calon pembeli – 10-Ah atau 20-Ah 48v. Makin tinggi kapasitas baterai, maka semakin jauh pula jarak tempuh dari Strator Ride (10-Ah 48v mampu menempuh jarak hingga 16km, sedangkan 20-Ah 48v mampu menempuh jarak hingga 32 km).

Moda seberat kurang lebih 41kg ini mampu menangkut penumpang dan barang bawaannya dengan berat hingga 118kg. Untuk sistem pengereman, Straror Ride menggunakan rem cakram hidrolik yang terletak pada roda depan. Fitur lain yang juga tersemat di stang Strator Ride ini selain rem tadi adalah indikator baterai, klakson, dan throttle arming.

Dari sekian banyak keuntungan dari menggunakan moda ini, satu hal yang tidak ditemukan adalah lampu untuk berjalan di malam hari. Nampaknya Anda harus melengkapi kekurangan dari moda ini dengan cara membeli lampu portable berdaya baterai untuk menjamin keselamatan Anda ketika berkendara – terutama ketika malam hari. Kendati pihak Strator menawarkan fitur lampu LED, namun itu ditawarkan secara terpisah, dimana Anda harus merogoh kocek lebih dalam untuk mendapatkan salah satu instrumen utama dalam sebuah moda transportasi.

Baca Juga: Mylo Electric Scooter, Moda Lipat Futuristik Mahakarya PIM Bicycles

Bagi Anda yang tertarik dengan moda ini, kiranya Anda harus bersabar karena perusahaan masih mengupayakan Strator Ride untuk masuk ke dalam salah satu subyek kampanye Kickstarter. Untuk rincian harga dan lain-lain, perusahaan masih enggan memberi bocoran lebih lanjut.

Ardenna Kembangkan Drone yang Mampu Deteksi Rintangan di Sepanjang Rel Kereta

Belakangan ini, bisnis pendeteksi kerusakan jalur kereta berbasis Artificial Intelligent (AI) tengah naik daun – salah satunya adalah Ardenna yang diketahui tengah mengembangkan teknologi yang mampu untuk mengidentifikasi kerusakan atau cacat dengan menggunakan perangkat lunak yang ditempelkan pada drone alias Unmanned Aerial Vehicle (UAV). Hadirnya teknologi semacam ini tentu membawa angin segar bagi perusahaan perkeretaapian, karena mereka dapat melakukan efisiensi SDM.

Baca Juga: Central Railways India Keluhkan Absennya Alat Pendeteksi Benda Asing di Rel

Seperti yang dikutp KabarPenumpang.com dari laman railway-technology.com (4/10/2018), teknologi ini dirancang untuk memastikan integritas jalur kereta api secara real-time, termasuk deteksi potensi penghalang, rel anjlok, hingga lintasan yang menekuk. Kendati hanya bertindak sebagai ‘mata’ yang dapat membantu perusahaan kereta api untuk melacak titik kerusakan pada rel, namun hal ini diprediksi ampuh dan lebih efisien.

Semisal perusahaan melihat ada kerusakan di jalur, mereka akan langsung mengutus petugas untuk terjun langsung ke lapangan dan segera memperbaiki hambatan tersebut. Jika ditinjau lebih dalam lagi, pengaplikasian teknologi ini juga akan secara signifikan meningkatkan keselamatan dan layanan secara keseluruhan.

“Kami senang menjadi perusahaan pertama yang mampu menunjukkan kemampuan untuk menanamkan kemampuan deteksi kerusakan pada jaringan rel kereta secara otomatis yang diintegrasikan dengan drone (UAV),” ungkap Direktur Pengembangan Bisnis Ardenna, David Patterson.

“Kami akan terus meningkatkan solusi Cloud dan desktop kami untuk sektor transportasi dan energi,” tandasnya.

Aplikasi ini dapat digunakan oleh operator kereta api untuk melakukan inspeksi rutin, serta menilai kondisi jalur kereta pasca bencana alam seperti banjir, tanah longsor, atau bahkan badai sekalipun.

Adapun cara kerja dari teknologi ini adalah kamera akan dipasang pada sebuah drone yang nantinya akan diterbangkan menyusuri rel kereta. Setelah kamera mendapatkan visual dari rel, gambar tersebut akan diproses oleh alogaritma perangkat lunak khusus yang berjalan pada modul NVIDIA Jetson TX2 embedded computing.

Baca Juga: Bertabur Bebatuan di Sisi Rel Kereta Api, Inilah Penjelasannya!

Setelah melewati tahap tersebut, sistem akan menghasilkan lansiran instan ketika ditemukan adanya anomali pada gambar yang ditangkap oleh kamera tadi.

“Kapabilitas dari teknologi ini hanya akan ditingkatkan karena daya komputasi atau peningkatan baterai drone sehingga bisa mengudara lebih lama,” ujar David yang seolah menyiratkan bahwa penggabungan teknologi semacam ini merupakan yang paling mutakhir dan sulit untuk disaingi.

Porterbrook Jawab Tantangan Menteri Transportasi Ciptakan Perkeretaapian yang Ramah Lingkungan

Perkembangan teknologi dan semakin parahnya tingkat pencemaran udara yang terjadi belakangan ini seolah memaksa para pegiat bisnis transportasi untuk semakin inovatif menggabungkan dua poin tersebut. Di dunia perkeretaapian sendiri, teknologi kereta bertenaga hibrida tengah gencar-gencarnya dikembangkan – semata-mata demi menciptakan kualitas udara yang lebih baik karena kebanyakan dari kereta hibrida ini tidak lagi menggunakan tenaga diesel sebagai penggerak utama si ular besi.

Baca Juga: Gandeng Rolls-Royce, Porterbrook Uji Kereta Bertenaga Listrik Hibrida Pertama di Inggris

Dalam pagelaran InnoTrans 2018 yang diadakan pada 19 September kemarin, perusahaan asal Inggris yang membawahi sejumlah kereta penumpang dalam hal pengembangan MTU Hybrid PowerPacks, Porterbrook merilis blue print salah satu mahakaryanya yang dianggap mampu untuk menjawab tantangan dari para elit, HydroFlex.

Pada kesempatan tersebut, Porterbrook mengungkapkan bahwa HydorFlex baru saja dirakit dan siap untuk memasuki masa uji coba perdananya pada Musim Panas 2019 mendatang.

Sama seperti pendahulunya, HydroFlex akan tetap mempertahankan kemampuannya untuk beroperasi di atas rel listrik berdaya overhead 25kV, dan juga mampu untuk ‘mencerna’ bahan bakar hidrogen untukberjalan di rel non-listrik, tanpa memerlukan mesin diesel lagi.

Dikutip KabarPenumpang.com dari laman railengineer.uk (28/9/2018), dalam mengembangkan HydroFlex ini, Porterbrook bekerja sama dengan Birmingham Centre for Railway Research and Education (BCRRE).

BCRRE sendiri melaporkan bahwa mereka telah melakukan sejumlah penelitian mengenai potensi penerapan teknologi sel bahan bakar hidrogen untuk operasi perkeretaapian dan telah bekerja sama dengan sejumlah pegiat bisnis kereta api global untuk mengidentifikasi peluang potensial ini – untuk masa depan perkeretaapian yang lebih ramah lingkungan.

Baca Juga: Bagaimana Cara Kerja Lokomotif Diesel Elektrik? Cek Jawabannya di Sini!

Namun tetap saja, ini masih bersifat rencana pengadaan dengan segala pertimbangan yang sudah dihitung matang-matang. Sejumlah peneliti masih menemukan adanya kekurangan dari HydroFlex ini, seperti kurangnya pengereman regeneratif dapat menyebabkan sel bahan bakar yang lebih besar.

Jika untuk produksi massal, mungkin Porterbrook dan BCRRE akan segera mencari jalan keluar untuk masalah ini – ini baru blue print yang sifatnya masih sementara dan beragam improvisasi sewaku-waktu bisa saja terjadi.

Jika ditarik mundur ke belakang, HydroFlex merupakan jawaban dari tantangan yang pernah dilontarkan oleh Menteri Departemen Transportasi Inggris, Jo Johnson yang menantang industri kereta api untuk mengembangkan rencana dekarbonisasi, dengan tujuan menghapus kereta api diesel dari jaringan pada 2040.

 

 

Japan Airlines, Flag Carrier Jepang yang Jadi Pengguna Terbanyak Boeing 747 di Asia

Sebagai Flag Carrier Jepang, ternyata Japan Airlines punya cerita suram soal pemesanan pesawat terbang lho – pasalnya pada 30 September 1963, maskapai ini pernah memesan tiga unit pesawat berkecepatan suara, Concorde. Namun apesnya, tiga unit pesawat tercepat di dunia tersebut tidak pernah tiba di daratan Negeri Sakura. Mesti Anda baru tahu kan soal masalah ini?

Baca Juga: Ternyata, Qantas Airways Itu Merupakan Singkatan dari…

Kira-kira, ada fakta unik apalagi ya yang bisa digali dari maskapai berslogan “Fly Into Tomorrow” ini? Berikut KabarPenumpang.com himpun fakta-fakta unik dari Japan Airlines, dikutip dari laman gotravelyourway.com.

Maskapai Jepang Pertama yang Mendarat di Tiongkok
Sebagaimana yang kita ketahui bersama, Jepang dan Cina memiliki hubungan bilateral yang cukup complicated, dan publik dunia sempat dibuat terkejut dengan mendaratnya McDonnell Douglas berlivery Japan Airlines pada di Bandara Beijing pada 7 Maret 1980. Di tahun 2017 kemarin, tercatat sebanyak 13 rute penerbangan menuju Cina yang dilayani oleh Japan Airlines – seperti menuju Shanghai, Guangzhou, atau Shenzhen.

Pelanggan ‘Queen of the Skies’ Pertama di Asia
Tahun 1970 menjadi tahun yang bersejarah bagi Japan Airlines, pasalnya salah satu anggota dari aliansi maskapai Oneworld ini menerima Boeing 747 pertama di Asia. Japan Airlines juga diketahui sebagai salah satu pelanggan terbesar dan paling loyal terhadap armada berjuluk Queen of the Skies ini. Ada lebih dari 110 armada Boeing 747 dioperasikan oleh Japan Airlines – termasuk untuk layanan kargo.

Operator Boeing 767 Terbesar di Asia
Tidak hanya terbesar di Asia, namun Japan Airlines juga berhasil mencatatkan namanya sebagai maskapai nomor empat di dunia yang paling banyak mengoperasikan Boeing 767. Kurang lebih sekitar 40 armada Boeing 767-300ER yang digunakan Japan Airlines untuk mengoperasikan rute domestik dan juga internasionalnya.

Baca Juga: 5 Fakta Unik Tentang Qatar Airways yang Mungkin Baru Anda Tahu!

Penerbangan Internasional Perdana Japan Airlines
2 Februari 1954 merupakan tonggak penting bagi sejarah perusahaan yang berbasis di Shinagawa, Tokyo, Jepang ini. Bermodalkan Douglas DC-6, Japan Airlines melakoni penerbangan internasional perdananya menuju San Francisco. Pada penerbangan tersebut, DC-6 berlivery Japan Airlines ini melakukan dua pemberhentian untuk mengisi bahan bakar – pertama di Wake Island dan satunya lagi di Honolulu.

Di tahun 1960, Japan Airlines lalu mengganti armada DC-6 dengan pesawat jet pertamanya, Douglas DC-8.

Setelah Revitalisasi, Stasiun Tugu Akan Mampu Tampung 14 Ribu Penumpang

Revitalisasi Stasiun Tugu Yogyakarta mendapat dukungan dari Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta. Pasalnya adanya revitalisasi tersebut untuk membantu pengoperasian kereta Bandara Kulon Progo, New Yogyakarta Internasional Airport (NYIA). Pembenahan ini sendiri diharapkan akan mampu menampung hingga 14 ribu penumpang per harinya dibandingkan saat ini yang hanya menampung setengahnya yakni tujuh ribu penumpang.

Baca juga: Sepenggal Cerita dari Loko Coffee Shop Yogyakarta

Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Walikota Haryadi Suyuti usai menghadap Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X bersama direksi PT KAI mengungkapkan pemerintah Yogyakarta telah bersiap melakukan antisipasi dan lonjakan penumpang kereta saat bandara baru beroperasi nanti. Sehingga revitalisasi tersebut sangat diperlukan untuk mengantisipasi lonjakan penumpang itu.

“Revitalisasi nanti akan menambah kapasitas menjadi dua kali lipat  dari tujuh ribu menjadi 14 ribu penumpang per hari,” ujar Haryadi.

Direktur Teknis PT KAI, Doddy Kurniawan, menambahkan pihaknya berupaya menambah kapasitas penumpang di stasiun Tugu. Sebab ke depan nanti jumlah penumpang akan bertambah banyak seiring beroperasinya kereta bandara.

Haryadi menyebutkan paparan pada pertemuan itu merupakan yang terakhir. Sehingga setelahnya akan ada pengembangan Stasiun Tugu dan pelaksanaan pengembangannya dijadwalkan tahun 2019 mendatang.

“Supaya tidak ketinggalan maka kami siapkan. Masak bandara sudah operasional, malah belum siap apa-apa,” ujarnya.

Meski begitu, Haryadi belum menyebutkan detail pembangunannya nanti akan seperti apa. Tetapi sisi selatan yang saat ini berupa trotoar akan dikembangkan untuk kereta api jarak jauh. Sedangkan sisi utara akan digunakan untuk kereta bandara baru.

“Saat ini pengembangannya akan seperti apa akan di konsep. Traffic dan pengamanannya nanti juga akan diatur supaya yang naik nyaman,” jelas Haryadi.

Baca juga: Atasi Dampak Pembangunan Bandara Baru Yogyakarta, Angkasa Pura I Buka Help Desk Bagi Warga

Kepala Dinas Perhubungan DIY, Sigit Sapto Raharjo menjelaskan, lima komponen yang membicarakan terkait penataan stasiun Tugu ini akan mempersiapkan adanya MoU untuk memulai pembangunan. Dia menyebutkan ada lahan seluas 14 hektar untuk pengembangan stasiun Tugu ini.

“Kalau dari kami terkait dengan traffic management. Harapannya, lalu lintasnya sinkron dengan jasa fasilitas parkir karena nanti ada pedestrian Malioboro agar tidak tambah mengganggu,” ujarnya.

Pramugari Air India Jatuh dari Pesawat, “Untung” Hanya Patah Tulang

Seorang pramugari harus terluka parah setelah terjatuh dari pintu pesawat yang parkir di landasan pacu Bandara Internasional Chhatrapati Shivaji, Mumbai. Insiden itu terjadi pada Senin (15/10/2018) saat pramugari tersebut mempersiapkan keberangkatan pesawat ke Delhi.

Baca juga: Pramugari Emirates Lompat dari Pesawat, Akhirnya Tewas Sehari Setelah Jalani Perawatan

KabarPenumpang.com melansir dari laman bbc.com (15/10/2018), Harsha Lobo, pramugari yang terjatuh itu langsung dibawa ke rumah sakit Nanavati untuk mendapat perawatan. Dirinya menderita patah tulang dan cedera lainnya. Sebelum dilarikan ke rumah sakit, seorang dokter yang bertugas dibandara mendatanginya.

“Dia sadar dan berorientasi baik tetapi telah mengalami fraktur (terbuka) patah tulang kaki kanan bawah dan beberapa luka ringan,” ujar seorang pejabat maskapai.

Atas inside ini, pihak Air India melakukan penyelidikan atas insiden tersebut. Diketahui, Harsha jatuh dari pesawat Boeing 777 dengan nomor penerbangan AI 864 penerbangan dari Mumbai menuju ke Delhi.

Pekan lalu, sebuah pesawat Air India yang melakukan perjalanan dari kota Trichy di India selatan menuju ke Dubai mengalami kerusakan setelah menabrak tembok bandara saat lepas landas. Pesawat, yang membawa 130 penumpang dan enam anggota awak, dialihkan ke Mumbai, di mana pesawat itu mendarat dengan selamat.

Insiden itu terjadi berminggu-minggu setelah lebih dari 30 penumpang naik pesawat dari maskapai India Jet Airways harus menerima perawatan setelah pilot lupa untuk menyalakan saklar yang mengatur tekanan kabin. Pada Maret 2018 kemarin, seorang pramugari Emirates tewas setelah melompat dari pintu pesawat Boeing 777 yang terparkir di landasan pacu Bandara Internasional Entebbe Uganda.

Sebelum meninggal pramugari tersebut sempat dilarikan dirumah sakit untuk mendapat perawatan karena luka yang dideritanya cukup parah pada bagian kepala dan meninggal satu hari setelah sempat dirawat.

Insiden itu bahkan membuat keterlambatan keberangkatan pesawat dengan nomor penerbangan EK729 tersebut dari Entebbe menuju ke Dubai. Sebelum melompat, pramugari tersebut diketahu tengah berbincang dengan rekan kerjanya dan menjepit sebuah botol kaca di dagunya.

Baca juga: Capai Usia 102 Tahun, Delta Airlines Rayakan Ulang Tahun Pramugari Pertamanya!

“Kami bisa memastikan bahwa anggota awak kabin kami terjatuh dari pintu yang terbuka sembari menyiapkan pesawat untuk penumpang bisa naik dan berangkat dari Entebbe pada tanggal 14 Maret. Anggota kabin kami yang cedera tersebut dibawa ke rumah sakit terdekat. kami menyediakan semua dukungan dan perawatan yang mungkin bagi kru kami yang terkena dampak dan akan memperpanjang kerja sama kami dengan pihak berwenang untuk menyelidiki kasus ini,” ujar juru bicara Emirates.

Dari foto yang beredar di media sosial menunjukkan, wanita tersebut mengenakan seragam Emirates, terbaring telungkup di aspal dan aliran darah tersebar di sekitar kepalanya.