Helm Feher, Hadirkan Pendingin Udara Bagi Para Bikers

Helm dengan pendingin udara baru saja diluncurkan Steven Feher bagi pengguna sepeda motor atau bikers. Teknologi pendingin yang digunakan pada helm ini sama dengan yang digunakan untuk mendinginkan jok pengemudi mobil.

Baca juga: Rolls-Royce Rilis Intelligent Awareness, Bantu Pelaut Tingkatkan Kesadaran Situasional

KabarPenumpang.com melansir dari laman newatlas.com (25/8/2018), helm Feher ini diklaim bisa menjaga kepala pengemudi 10-15 derajat lebih dingin di banding cuaca luar. Mendinginkan kepala sebenarnya salah satu cara terbaik untuk menyegarkan diri di hari yang panas, apalagi para bikers tahu betul bagaimana kondisi saat cuaca panas dan menghasilkan keringat saat mengendarai motor mereka.

Steven Feher CEO dan Founder Feher Research mengatakan saat dulu dirinya tengah mengendarai motor pernah merasakan panas dan meletakkan celana pendek cadangan yang dibawanya dileher setelah dicelupkan ke dalam air untuk menghilangkan panas dari teriknya cuaca. Karena hal ini, dirinya kemudian berpikir untuk membuat teknologi bagi para riders dan memulai membuka perusahaan helm.

Feher diketahui menemukan pendingin udara mini yang digunakan untuk mendinginkan kursi mobil Rolls-Royce, Bentley, Ferrari, Lexus dan GM. Kemudian pendingin tersebut diletakkan Feher di bagian belakang helm buatannya untuk mendinginkan kepala.

Dia mengatakan, pendingin ini sama dengan sistem AC mobil dan bekerja lebih baik serta mencegah udara dingin keluar dari helm dengan sebuah penutup kaca. Sebuah pompa thermoelectric kecil juga terpasang di bagian belakang helm untuk membantu menghilangkan kelembapan udara.

Helm ini sendiri dirancang sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu pengguna dan membuat mereka sakit kepala karena dingin. Pada udara dingin juga membantu mengeringkan udara di dalam helm dan memberi efek demisting potensial yang membuat tutup kaca berguna.

Feher mengklaim sebagai cahaya 1450 g (3,2 lbs) untuk seluruh tutupnya. Itu sama ringannya dengan serat karbon AGV SportModular.

Baca juga: Tips Ini Bisa Bantu Hilangkan Udara Panas Dalam Kabin Mobil

Bagian dari bagaimana Feher menyimpan cahaya tutupnya adalah dengan membongkar muatan baterai ke baterai 12 volt di sepeda. Helm dilengkapi dengan tali keriting dan kabel harness untuk dipasang langsung ke baterai sepeda.

Daya imbang sistem AC tidak signifikan, sehingga helm akan membutuhkan baterai yang cukup besar untuk mempertahankannya sepanjang hari. Helm Feher ACH-1 ini akan hadir dariukuran XS hingga 2XL dan di banderol dengan harga US$549 atau setara dengan Rp8 juta.

Canggih, Mercedes Benz Marco Polo Campervan Dilengkapi Voice Recognition!

Pernahkah Anda membayangkan bagaimana rasanya jika Anda mengendalikan kendaraan pribadi hanya dengan menggunakan remote atau gadget? Ya, bagi Anda yang gemar menyaksikan film bergenre action, mungkin scene seperti ini pernah Anda saksikan, bukan? Nah bagi Anda yang ingin memiliki kendaraan semacam ini, bukan lagi hanya sebatas mimpi, karena Mercedes menghadirkan sebuah kendaraan yang bisa dipersonalisasi dengan menggunakan gadget Anda! Keren, bukan?

Baca Juga: Mercedes Benz Sprinter Vansports Camper, Van Lengkap Dengan Ruang yang Besar

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (24/8/2018), adalah Mercedes Benz Marco Polo Campervan didasarkan pada model populer V-Class serta adanya penambahan kursi ataupun kasur untuk empat orang. Salah satu keunikan dari kendaraan bertipe van ini adalah eksistensi dari tempat tidur yang tersimpan di atap yang dapat dikendalikan secara elektrik (melalui gadget) dengan menggunakan modul Mercedes-Benz Advanced Control (MBAC).
Pop-up tersebut terbuat dari plastik yang diperkuat dengan serat karbon. Mercedes Benz Marco Polo Campervan ini dilengkapi dengan semua perabotan layaknya apartemen mewah dengan balutan trim piano black hingga pencahayaan LED, yang membuat suasana di dalam semakin terkesan mewah nan hangat.
Selain itu, Mercedes Benz Marco Polo Campervan juga dilengkapi dengan sebuah meja besar dan satu set meja dengan empat kursi yang dapat dilipat datar dan tersimpan rapi di dalam kompartemen jika tidak digunakan.
Anda lelah? Cukup tekan tombol pintar di gadget Anda dan bangku belakang akan bertransformasi menjadi sebuah double bed.
Layaknya V-Class standar, campervan versi Marco Polo ini didukung oleh mesin empat-silinder 2,1 liter turbodiesel. Tersedia dengan kapasitas 136, 163 atau 190 HorsePower. Tenaga dikirim ke roda depan melalui transmisi otomatis.
Selain menggunakan tombol tadi, teknologi voice recognition juga tersematkan pada kendaraan ini. Cukup mengatakan “Hai Mercedes”, maka teknologi voice recognition ini akan aktif dan siap menerima semua perintah yang sudah dipersonalisasi sebelumnya. Contoh sederhananya adalah ketika Anda mengatakan, “Saya ingin rileks”, maka bangku belakang akan berubah menjadi sebuah ranjang, dan seterusnya. Keren, bukan?

 

Naik Kelas, Kartu Multi Trip Siap Berevolusi Jadi E-Money

Dalam beberapa waktu lagi, para pengguna Kartu Multi Trip (KMT) dapat merasakan keuntungan tambahan, yaitu dapat berfungsi sebagai alat tukar elektronik (e-money). Untuk dapat mewujudkan rencana ini, PT Kereta Commuter Indonesia (PT KCI) harus terlebih dahulu mengantongi ijin dari Bank Indonesia (BI) lantaran statusnya yang beroperasi secara tertutup. Dengan bertambahnya fungsi dari KMT ini, maka para pengguna bisa membayar tol hingga melakukan pembayaran di beragam toko ritel.

Baca Juga: PT KCI Hadirkan Mesin Penyelaras Tarif dan Penetapan Saldo Minimum Baru Untuk Kartu Multi Trip

Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.comdari berbagai laman sumber, VP Corporate Communication PT KCI, Eva Chairunisa mengatakan bahwa saat ini jumlah KMT yang beredar di masyarakat mencapai angka 1,5 juta kartu. Tingginya penggunaan KMT ini mendorong PT KCI untuk terus menambah fitur di dalamnya, yaitu menjadi e-money.

“Jadi memang untuk KMT saat ini yang beredar sudah mencapai 1,5 juta kartu. Karena ada juga pengguna yang mengumpulkan seri-seri khusus. Ke depanya kita akan kembangkan KMT menjadi kartu uang elektronik,” tuturnya, dikutip dari laman Liputan6.com(17/8/2018). “Sekarang prosesnya kami sedang melakukan pengurusan untuk mendapatkan perizinan terkait uang elektronik tersebut. Targetnya mudah-mudahan akhir tahun ini bisa selesai,” tandasnya.

Tidak hanya dapat digunakan untuk membayar tol dan berbelanja di beragam toko ritel, namun dengan ‘naik kelasnya’ KMT PT KCI menjadi e-money, itu menandakan KMT dapat terintegrasi dengan antarmoda lainnya seperti MRT Jakarta, LRT Jabodetabek, hingga TransJakarta.

Beberapa waktu yang lalu, lanjut Eva, PT KCI telah memperbarui sistem yang memungkinkan integrasi antar moda transportasi.

Baca Juga: Tak Hanya Hadirkan KMT Khusus, Inilah Rute KRL dan TransJakarta Untuk Pengunjung Asian Games 2018

Jika ditelaah lebih jauh, koordinasi yang dilakukan oleh PT KCI dan BI ini merupakan salah satu langkah yang ditempuh untuk semakin menyebarluaskan dan menjangkau ‘pasar baru’ dalam program cashless society yang belakangan ini tengah digalakkan oleh Pemerintah Pusat.

Sebagai informasi tambahan, hingga saat ini, pengguna KMT dan Tiket Harian Berjaminan (THB) merupakan pengguna terbesar, yakni 80 persen. Sedangkan 20 persen sisanya adalah pengguna kartu berbayar yang dikeluarkan oleh beragam bank.

Bingung Pilih Earphone atau Headphone? Pilih Earbud UE Dong!

Bagi Anda yang memiliki ketertarikan sendiri terhadap dunia musik, mungkin Anda akan sedikit rewel ketika tengah dihadapkan pada pilihan earphone atau headphone. Kualitas suara yang dihasilkan, keseimbangan antara bass dan treble, hingga bentuknya menjadi tiga pertimbangan penting yang tidak luput dari perhatian para calon pembeli – walaupun pada akhirnya, semua kembali pada selera masing-masing pengguna.

Baca Juga: Smartsealz, Headset Berteknologi Augmented Reality, Sanggup Bantu Tugas Pilot!

Namun, tahukah Anda bahwa headphone memiliki risiko merusak sistem pendengaran lebih kecil ketimbang earphone? Ya, hal tersebut diungkapkan oleh Dr. Brastho Bramantyo Sp THT-KL (K), Divisi Neurotologi THT Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia – Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dalam sebuah pernyataan. “Itu lebih aman daripada yang menggunakan earphone,” ungkap Dr. Brastho.

Penjelasannya cukup sederhana – bentuk speaker earphone yang notabene lebih kecil daripada headphone ternyata dipaksa mengeluarkan intensitas suara yang hampir sama besarnya dengan headphone. Secara tidak disadari, ini akan berdampak pada sistem pendengaran kita cepat atau lambat.

Nah, lantas bagaimana dengan earbud? Secara kasat mata, earbud memiliki bentuk yang hampir mirip dengan earphone, namun kebanyakan earbud tidak menggunakan kabel (wireless) dan menggunakan bluetooth. Jika Anda menggunakan earbud ketika tengah mengudara, mungkin suara-suara lain seperti suara mesin dan penumpang lain akan tetap terdengar oleh Anda.

Tapi, jangan salah. Dikutip KabarPenumpang.com dari laman forbes.com (17/8/2018), adalah Ultimate Ears Customs (UE) yang mendesain earbud sedemikian rupa sehingga Anda dapat mendengarkan musik favorit Anda dengan kualitas suara ciamik walaupun Anda tengah berada di kabin pesawat. “Bisa dibilang, ini akan menjadi earphone terbaik yang pernah Anda masukkan ke dalam telinga. Earbud ini akan memberikan kenyamanan lebih dan suara superlatif dan tidak akan pernah jatuh dari telinga Anda,” tutur General Manager dari UE, Jonah Staw.

Baca Juga: Jurus Selamat Hindari Aksi Pencopetan di Moda Transportasi Massa

“Dengan disematkannya sistem peredam bising, hampir dapat dipastikan telinga Anda akan terisolasi 26 desibel dari gangguan dunia luar,” tandas Jonah. Tidak muluk-muluk, dengan pengalaman selama kurang lebih 25 tahun di dunia earphone, UE terus berusaha untuk meningkatkan kualitas dari produk yang dihasilkannya ini.

Jadi untuk urusan penggunaan earphone atau earbud yang akan mengganggu sistem pendengaran, nampaknya hal tersebut sudah sangat dipertimbangkan oleh perusahaan dan mereka menjamin bahwa penggunaan earbud UE ini aman – selama memperhatikan batas volume maksimal yang disarankan.

Punya Panjang Rel 12 Km, Inilah Miniatur Jaringan Kereta Api Terbesar di Dunia!

Tidak ada tolak ukur yang sahih memang untuk mengukur ‘kegilaan’ dan rasa cinta seseorang terhadap sesuatu. Inilah yang terjadi pada kembar Frederik dan Gerrit Braun, dimana kedua pria asal Jerman ini berhasil mencatatkan namanya di Guinness World Record berkat miniatur jaringan kereta api terbesar di dunia buatannya. Tidak tanggung-tanggung, si kembar membuat lintasan kereta api sepanjang 12 km meliuk dengan indahnya di dalam sebuah gedung tua berlantai tiga.

Baca Juga: Pengabdian 50 Tahun Gage Park Mini-Train, Miniatur Kereta di Topeka, Kansas

Semua kegilaan yang mereka ciptakan ini berawal dari sebuah impian masa kecil, dimana si kembar ingin menciptakan miniatur kereta api terbesar di dunia. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, pembangunan Miniatur Wunderland (Bahasa Jerman untuk Miniature Wonderland) dimulai pada Desember 2000.

Di sini, Frederik dan Gerrit membangun Knuffingen (sebuah kota fiktif), Central Hamburg, dan Austria sebagai awalan dari miniatur jaringan kereta terbesar di dunia tersebut.

Sumber: mobgenic.com

Kurang dari satu tahun berselang, tepatnya pada Agustus 2001, si kembar berhasil menyelesaikan first section dari miniatur ini. Semua bagian di dalam miniatur ini dibangun dengan menggunakan H0 scale, sebuah skala paling terkenal di dunia miniatur perkeretaapian yang mengambil perbandingan 1:87. Dalam pembangunannya, Frederik dan Gerrit dibantu oleh kurang lebih sebanyak 185 staf dengan keahliannya masing-masing.

Jaringan kereta api buatan ini terus mengalami perkembangan setiap waktunya dan menambahkan beberapa kota lain di dalamnya, seperti Amerika, Negara Skandinavia, Swiss – hingga yang paling fantastis adalah replika dari Bandara Hamburg dan Italia. Hingga kini, miniatur jaringan kereta api tersebut telah menduduki area seluas 1.150 meter persegi!

Semua miniatur ini dibuat dengan sangat teliti sehingga detail yang dihasilkan pun bisa dibilang sangat mirip dengan aslinya. Jika Anda berkesempatan mengunjungi Miniatur Wunderland yang berada di Speicherstadt, Hamburg ini, maka Anda akan dimanjakan dengan eksistensi dari 1.040 rangkaian kereta (kurang lebih 9.250 gerbong), lebih dari 100.000 kendaraan yang bergerak (mulai dari kereta hingga mobil), 385.000 lampu LED yang bisa menyala ketika hari sudah mulai malam, hingga 130.000 pohon imitasi.

Baca Juga: Kakek ini Pajang 1.500 Koleksi Miniatur Pesawatnya di Bandara Shannon, Irlandia

Dengan menghabiskan dana lebih dari 21 juta euro atau yang setara dengan Rp355,6 miliar, kedua kakak beradik ini berhasil menorehkan sejarah sekaligus mewujudkan impian kecil mereka.

 

Ride Sharing Masa Depan Bakal Seperti Layanan dalam Penerbangan

Apa jadinya jika mobil dan layanan ride sharing dimasa depan menghadirkan layanan seperti dalam penerbangan? Tentunya ini akan memudahkan penumpang atau pengguna untuk mendapatkan sesuatu selama perjalanan mereka baik hiburan maupun kenyamanan.

Baca juga: Grab Bermitra dengan Cargo, Hadirkan ‘Kotak Penjual’ Kebutuhan Penumpang

Hal ini kemudian dilakukan Cargo dan Vendy yang bekerja sama layanan ride sharing dengan menghadirkan produk cemilan hingga earbud di dalam mobil yang bisa di pesan ketika penumpang berada di dalamnya. KabarPenumpang.com melansir dari laman mashable.com (19/8/2018), Cargo telah bermitra dengan Uber untuk layanan penjualan dalam ride sharingnya, sama seperti Grab yang beberapa waktu lalu juga bermitra dengan Cargo yang menghadirkan layanan penjualan seperti yang Uber lakukan.

Awal bulan Agustus 2018, Amazone meluncurkan perangkat pengembang untuk Alexa yang terhubung langsung ke sistem infotaiment mobil sehingga perangkat Amazon Echo bisa ada di dalam kendaraan.

“Kita lebih banyak menghabiskan waktu di dalam mobil, kita makan untuk kenyamanan, hiburan dan produktivitas. Perjalanan mobil menjadi pengalaman bukan hanya sarana mencapai suatu tempat,” ujar Pendiri Cargo, Jeff Cripe.

Cripe juga mengatakan perjalanan menggunakan mobil dengan layanan lainnya akan diminati dan melihat mobil bukan lagi sebagai mobil melainkan sebagai tempat untuk menyelesaikan pekerjaan, tidur sejenak hingga menonton serial televisi terbaru. Ini seperti mendapatkan pengalaman dalam penerbangan yang mendapatkan hiburan, koneksi internet, makanan, bantal selimut dan lainnya hanya saja berada di dalam sebuah mobil.

Tak hanya dengan Grab dan Uber, awal tahun ini, ternyata Cargo juga bermitra dengan Snapchat dengan menawarkan lensa Snapchat unik di dalam box penjualannya selain Red Bull dan RXBAR. Adanya kemitraan ini, menunjukkan ponsel dan mobil ride sharing dapat dengan cepat mendapat promosi hingga iklan.

CEO Vendy, Salomon Horowitz yang berasal dari Lyft mengatakan, dirinya melihat layanan ride sharing tengah naik daun sehingga membuka peluang ecommerce, iklan hingga penjualan dengan box di dalamnya.

“Kami menghabiskan lebih banyak waktu di mobil dan kami harus mengandalkan mobil itu sendiri,” jelas Horowitz.

Cripe sendiri menambahkan, mobil kini bisa digunakan sebagai platform iklan besar-besaran, tetapi dengan menaiki mobil juga memberikan orang untuk melakukan tugas lain seperti bekerja dan membaca email. Atau bahkan mobil menjadi ruang untuk memberi tahu asisten digital untuk menyelesaikan berbagai hal.

Shell dan General Motors baru-baru ini juga mengumumkan kemitraan untuk membayar bahan bakar kendaraan langsung dari Chevy, Buicks, GMC dan layar infotainment Cadillac yang terpasang di dashboard mobil. Kode tiga digit pada layar akan mengaktifkan pompa tertentu dan kemudian pengguna mobil dapat mulai mengisi.

Baca juga: Podcars, Ide Kendaraan Masa Depan Yang Diambil dari Imajinasi Masa Lalu

Pembayarannya pun melalui aplikasi dimana sudah ada data terkait kartu kredit yang dimiliki penguna. Karena mobil diproduksi untuk realitas yang lebih terhubung, membayar apa saja dan segalanya bisa terjadi tanpa mengeluarkan dompet Anda bahkan tak perlu lagi keluar dari tempat duduk.

Kedepannya mobil telah menjadi dan akan terus berubah menjadi, ruang di mana Anda dapat bersantai, berbelanja, mengirim beberapa email, menonton TV hingga apa pun selain berkendara.

Inilah Destinasi Favorit Pilihan Garuda Indonesia Untuk Rute Domestik dan Internasional

Tak perlu ditanyakan lagi, Pulau Dewata selalu menjadi salah satu destinasi incaran para pelancong baik domestik maupun internasional. Ini terbukti dari Garuda Indonesia yang mendapatkan bahwa pelancong ke Bali memiliki presentase terbesar dibandingkan kota lainnya.

Baca juga: Jangan Terlewat! Garuda Online Travel Fair Fase Dua Mulai 24 Agustus 2018

Meski begitu, maskapai plat merah ini juga memiliki rute-rute destinasi yang cukup menarik untuk dikunjungi di domestik maupun internasional. Ini bisa terlihat dari beberapa kota di Indonesia dan negara yang dipilih pelanggan untuk menjadi favorit mereka.

Direktur Niaga Domestik Garuda Indonesia, Nina Sulistyowati mengatakan pada Garuda Online Travel Fair (GOTF) fase 2, untuk domestik Bali menempati urutan pertama dengan kunjungan pelancong sebesar 80 persen baik itu dari domestik maupun internasional. Sedangkan untuk Medan dan Surabaya di pilih sebanyak 70 persen oleh pelancong.

Bahkan dengan adanya GOTF yang sudah berlangsung sejak 2016 lalu, Bali tetap menjadi favorit utama pelancong domestik dan internasional. Meski begitu tiap tahun selalu ada saja yang menarik dan kota berbeda yang dipilih pelancong selain Pulau Dewata.

Seperti tahun 2017 kemarin Surabaya, Medan, Makassar, Padang, Yogyakarta, Semarang dan Palembang menjadi rute favorit pelancong untuk liburan panjang. Sedangkan pada GOTF fase ketiga yang berlangsung pada November 2017 lalu kota Belitung, Yogyakarta, Labuan Bajo, Sorong, Manado dan tak ketinggalan yakni Pulau Dewata menjadi pilihan.

Kemudahan dengan adanya GOTF ternyata tak hanya dimanfaatkan pelancong untuk menikmati negeri sendiri, tetapi banyak juga yang memilih untuk melakukan perjalanan ke mancanegara. Hal tersebut terbukti dengan adanya pilihan rute penerbangan tujuan Jepang, Australia dan Amsterdam diatas 80 persen.

Baca juga: Papua Barat Rencanakan Bangun Bandara Besar di Misool, Raja Ampat

Bahkan di fase 1 GOTF 2018, Korea, Singapura dan Hong Kong menjadi pilihan yang juga banyak diminati pelancong domestik. Meski begitu, peminat untuk ke negara-negara Asia  seperti Thailand, Malaysia, India dan lainnya juga tak kalah saing.

Untuk GOTF fase 2 tahun 2018 kali ini, rute domestik pilihan pelanggan Garuda ialah Bali, Yogyakarta, Medan, Malang, Sorong dan Tanjung Pinang. Nina menambahkan, pada fase 2 ini, Sorong menjadi yang diminati pelanggan Garuda dikarenakan Raja Ampat menjadi salah satu destinasi tujuan liburan yang sedang booming di masyarakat.

Antisipasi Lari Maraton Asian Games 2018, Daop 1 Jakarta Rekayasa Pola Operasi Pemberangkatan Kereta Api

0

Perhelatan Asian Games 2018 yang akan memasuki hari ke-8 dan 9 pada 25-26 Agustus 2018, akan mempertandingkan cabang olahraga lari maraton. Khusus cabor lari maraton ini, beberapa ruas jalan di Jakarta akan dijadikan rute lomba, diantaranya GBK Senayan-Jalan Jenderal Sudirman-Jalan MH Thamrin-Jalan Medan Merdeka Barat–Jalan Majapahit-Jalan Gajah Mada-Jalan Hayam Wuruk.

Baca juga: 7 Aplikasi Ini Tunjang Pengalaman Anda Selama Asian Games 2018, Yuk Download!

Guna mendukung kelancaraan pelaksanaan lomba ini, ruas jalan tersebut akan ditutup dan akan dilakukan rekayasa lalu lintas di sekitar rute lomba maraton. Stasiun Gambir yang terletak di kawasan Jalan Merdeka Barat diprediksi akan terimbas kemacetan akibat pengalihan lalu lintas penyelenggaraan Maraton Asian Games 2018 ini.

Jadwal peralihan kereta selama Asian Games 25-26 Agustus 2018

Guna mengantisipasi kemacetan yang mungkin terjadi di sekitar Stasiun Gambir dikarenakan pengalihan lalu lintas, dan kemungkinan terjadi hambatan pada perjalanan calon penumpang KA menuju Stasiun Gambir, maka PT KAI Daop 1 Jakarta melakukan rekayasa pola operasi KA pada Sabtu dan Minggu (25-26 Agustus).

Rekayasa pola operasi pemberangkatan KA ini akan diberlakukan pada 15 KA yang berangkat dari Stasiun Gambir pada hari Sabtu dan Minggu (25-26 Agustus) dimana ke-15 KA itu akan Berhenti Luar Biasa (BLB) atau berhenti untuk proses naik penumpang di Stasiun Jatinegara. Operasi rekayasa lalu lintas KA ini berlaku mulai keberangkatan KA 11882 (Argo Parahyangan) yang jadwal berangkatnya pukul 04.20 sampai dengan KA 24 (Argo Parahyangan) keberangkatan pukul 10.30.

“Biasanya KA yang berangkat dari Stasiun Gambir tidak berhenti di Stasiun Jatinegara, namun khusus hari Sabtu dan Minggu (25-26 Agustus) akan berhenti di Stasiun Jatinegara. Hal ini untuk memudahkan calon penumpang KA yang kesulitan menuju Stasiun Gambir, mereka bisa mencari alternatif dengan naik dari Stasiun Jatinegara,” ucap Edy Kuswoyo, Senior Manager Humas Daop 1 Jakarta yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers, Jumat, (24/8/2018).

Ke-15 KA tersebut tetap akan berangkat dari Gambir sesuai jadwal, namun ada penyesuaian pola operasi dimana di Stasiun Jatinegara akan berhenti guna menaikan penumpang.

“Dengan adanya rekayasa pola dengan BLB ini, PT KAI juga telah menyiagakan petugas untuk membantu pelayanan penumpang disana,” tambah Edy.

Baca juga: Sisi Lain Asian Games, Ajak Warga Kurangi Polusi dan Beralih ke Transportasi Umum

Rekayasa pola operasi ini tidak akan berjalan dengan baik tanpa kerja sama calon penumpang. Maka, PT KAI pun menghimbau agar calon penumpang dapat mengantisipasi dengan memperhitungkan waktu keberangkatan KA-nya, sehingga tidak tertinggal.

Selain itu, diingatkan kembali agar calon penumpang memastikan membawa identitas dan tiket/boarding pass yang sesuai untuk memperlancar proses pengecekan di boarding gate stasiun, baik di Gambir ataupun Jatinegara.

Kejar Target Operasi di 2019, MRT Kaohsiung Taiwan “Kedatangan” Armada Alstom

Guna menunjang pengoperasian dari Green Circular Line, produsen kereta asal Perancis Alstom diketahui telah melakukan pengiriman satu dari 15 rangkaian yang dipesan oleh operator layanan pada tanggal 3 Agustus silam. Diperkirakan, kereta ini akan tiba di Taiwan pada awal September mendatang. Adapun kereta yang dipesan oleh operator tersebut berjenis Light Rail Vehicle (LRV) Citadis 305 dan siap untuk mengular di jalur MRT terbaru di Kaohsiung pada awal 2019 mendatang.

Baca Juga: Penumpang MRT Filipina ‘Kehujanan’ di Dalam Gerbong! Lho, Kok Bisa?

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman taiwannews.com.tw (17/8/2018), LRV Citadis 305 ini telah dikirim dari Antwerp, Belgia dan akan tiba di Pelabuhan Keelung, Taiwan. Selanjutnya, rangkaian kereta tersebut akan dibawa menuju Kaohsiung via jalur darat untuk dilakukan serangkaian uji coba pra-operasi. Hadirnya ke-15 kereta ini tidak lepas dari peran Taiwan’s China Steel Corporation yang melakukan pemesanan terhadap Alstom pada Januari 2017 silam.

Kereta ini sendiri memiliki dua kepala yang menandakan pergerakannya bisa maju dan mundur tanpa harus menukar lokomotif layaknya kereta biasa. Selain itu, LRV Citadis 305 ini juga dilengkapi dengan permanent magnet motors dan ecopack onboard storage system milik Alstom. Dengan menggunakan sistem penyimpanan energi tersebut, kereta mampu mengisi daya selama 20 detik ketika kereta berhenti di setiap stasiun yang dilintasinya di jalur Green Circular Line.

Secara keseluruhan, Green Circular Line ini sendiri memiliki panjang jalur 22,1km yang membentuk lingkaran. Dil luar daripada itu, Green Circular Line juga akan menjadi jalur Light Vehicle pertama di dunia yang tidak menggunakan catenary atau kabel di atas jaringan kereta listrik. Pembangunan jalur kereta ini sendiri terbagi ke dalam dua tahapan – tahap 1 sudah rampung dan beroperasi sejak September 2017 silam.

Baca Juga: Nantikan Kehadiran Light Rail, George Street di Sydney Akan Terdampak Paling ‘Parah’

Dari 38 stasiun yang direncanakan, baru 14 stasiun yang rampung (C1 – C14) yang masuk ke dalam bagian pembangunan tahap 1. Seperti yang sudah disinggung di atas, sisa pemberhentian yang belum rampung akan diakselerasi hingga pada awal 2019 kelak bisa beroperasi secara penuh. Untuk jalur tahap 1 sendiri, Kaohsiung Mass Rapid Transit (MRT) selaku operator dari layanan ini menggunakan armada CAF Urbos asal Spanyol.

 

Meski Jaringan Perkeretaapian Sudah Maju, Kuala Lumpur Masih Saja Macet!

Tujuan utama dari hadirnya sarana transportasi berbasis massal adalah untuk menekan volume kendaraan di jalanan. Dengan begitu, konsentrasi para pengguna kendaraan pribadi akan terpecah dan jalanan menjadi sedikit lengang. Namun apa jadinya jika target tersebut meleset ketika layanan transportasi massa sudah tersedia?

Baca Juga: Di Malaysia, Jalur MRT Ini Justru Sepi Peminat

Inilah yang terjadi di negara tetangga – Malaysia, dimana volume kendaraan di jalanan masih tetap tinggi kendati sarana transportasi berbasis massal di sana sudah mampu menghubungkan banyak titik penting. Ada banyak fakta yang seolah menampik semua perkiraan yang dirilis oleh badan survei.

Sebut saja sebuah survei yang dibuat oleh FT pada kuartal keempat tahun 2017 yang menyebutkan bahwa terjadi peningkatan besar dalam penggunaan transportasi umum di Kuala Lumpur dibandingkan lima negara di Asia Tenggara lainnya, kecuali Jakarta. Sebuah survei lain juga memprediksikan jumlah pengguna angkutan umum di Kuala Lumpur akan mengalami peningkatan pada tahun 2018 ini.

Namun apalah arti prediksi jika fakta di lapangan berkata lain. Memegang predikat sebagai negara yang memiliki tingkat kepemilikan kendaraan pribadi tertinggi di Asia Tenggara (415 mobil per 1000 orang di tahun 2017), masyarakat yang tinggal di Kuala Lumpur masih lebih memilih untuk bepergian menggunakan kendaraan pribadi kendati jaringan kereta api di sana sudah bisa dibilang sangat maju.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman todayonline.com, biaya pembangunan MRT Sungai Buloh – Kajang (SBK) sebesar Rm23 miliar atau yang setara dengan Rp81,9 triliun ini (tidak termasuk biaya tanah dan konsultasi) sangat jauh dari ekspektasi, manakala pada Januari 2018 silam, data menunjukkan bahwa MRT SBK hanya mampu mengangkut 132.000 penumpang – target 400.000 hingga 500.000 penumpang.

Bak sebuah dagelan ketika orang-orang di Kuala Lumpur lebih senang bermacet-macetan di jalan padahal jaringan kereta api mereka sudah sangat berkembang – walaupun tidak sempurna. Mundur ke tahun 2014 dimana World Bank telah memperkirakan kemacetan yang terjadi di Kuala Lumpur telah menurunkan produk domestik bruto antara 1,1 dan 2,2 persen.

Dari sini bisa kita simpulkan bahwa kemacetan yang terjadi di Malaysia, khususnya Kuala Lumpur tidak bisa diurai hanya dengan mengandalakan kereta api saja. Sebut saja Singapura yang memiliki sistem Electronic Road Pricing (ERP) yang terbukti ampuh menekan titik kemacetan di sana. Hal serupa pernah dicoba Jakarta, namun Pemprov DKI di era Basuki Tjahja Purnama (Ahok) ternyata mengalami sedikit kendala yang pada akhirnya mendorong kelahiran dari sistem ganjil – genap.

Baca Juga: MRT Malaysia Butuhkan 250.000 Penumpang per Hari Agar Bisa Tembus Break Even Point

Kendati sepi penumpang, tidak membuat operator MRT di Malaysia ini kehilangan asa untuk melebarkan sayap. Sebut saja MRT Corporation tengah menghubungkan Kuala Lumpur dengan Putrajaya yang diharapkan pengoperasiannya bisa dimulai pada tahun 2021 mendatang. Belum lagi rencana dari pemerintah Johor Bahru yang akan memperpanjang jaringan MRT Malaysia menuju Singapura yang diproyeksikan rampung pada tahun 2024.

Akahkan pembangunan jaringan kereta di Malaysia tersebut akan mengalami kerugian lagi seperti jalur-jalur pendahulunya?