Maksa Mendarat di Tengah Kabut Tebal, Antonov An-225 Mriya Alami Kerusakan

Pesawat terbesar di dunia, Antonov An-225 Mriya mengalami kerusakan ringan pada landing gear sebelah kanan setelah baut yang menahan sensor patah. Hal itu terjadi lantaran pesawat yang hanya ada satu di dunia tersebut mendarat di Bandara Rzeszow, Polandia, di tengah kabut tebal.

Baca juga: Hari Ini, 33 Tahun Lalu, Pesawat Kargo Terbesar di Dunia Antonov An-225 Mriya Terbang Perdana

Mendarat di tengah kabut tebal memang diperbolehkan seiring adanya teknologi Instrument Landing Systems (ILS). Meski begitu, pesawat tetap diimbau tak mengudara atau tak mendarat di tengah kabut tebal, utamanya saat pesawat tiba di bandara dimana pandangan pilot benar-benar tergantung dari kaca depan pesawat.

Dalam kondisi tersebut, pilot harus benar-benar jeli untuk menghindari tabrakan dengan kendaraan lain yang berada di lintasan, seperti pesawat lain atau pun mobil caddy.

Pernyataan itu dipertegas oleh juru bicara National Air Traffic Services (Nats), Richard Wright. “Ini bukanlah masalah pengendali lalu lintas udara, namun lebih kepada masalah saat mereka menyentuh landas pacu,” ujar orang yang juga memantau lalu lintas udara di sekitaran Inggris.

“Pesawat-pesawat tersebut membutuhkan ruang lebih ketika mereka sudah berada di landas pacu agar menghindari benturan dengan kendaraan lain,” tambah Richard.

Richard mengatakan alangkah baiknya jika pihak pengelola bandara mengosongkan landas pacu dan mensterilkannya sebelum pesawat lain mendarat. Tentu ini merujuk pada low visibility procedures yang mengatakan setiap pesawat yang mendarat di suatu bandara harus dipisahkan satu sama lain sejauh enam mil atau setara dengan 9,7 meter.

Meski begitu, pendaratan Antonov An-225 Mriya beberapa hari lalu tetap berjalan dengan mulus tanpa insiden apapun, kecuali kerusakan pada landing gear-nya.

Dalam sebuah pernyataan, Antonov menjelaskan, “Pada 9 Januari 2022, saat pesawat AN-225 mendarat di Bandara Rzeszów, Polandia, pada penyangga roda pendarat utama kanan, baut yang menahan sensor posisi roda pendarat ‘flight-ground’ rusak.”

“Kerusakan yang terdeteksi tidak mempengaruhi keselamatan penerbangan dan pendaratan pesawat. Setelah penggantian baut yang rusak, pesawat akan beroperasi penuh. An-225 akan melanjutkan penerbangan komersialnya.”

Baca juga: Selain Antonov An-225 Mriya, Ilyushin Il-62 Pernah Jadi Pesawat Terbesar di Dunia Buatan Soviet

Dari data Radarbox.com, Antonov An-225 Mriya diketahui cukup sibuk belakangan ingin. Bulan Desember bahkan tercatat sebagai waktu tersibuknya sepanjang tahun 2021 dengan mencatat total 22 penerbangan dan 123 jam terbang.

Pesawat terbesar di dunia itu mengangkut kargo jumbo dari dan ke 16 kota di 16 negara, mulai dari Almaty, Tianjin, Istanbul, Leipzig, dan lain sebagainya.

Sering Dilihat Tapi Jarang Orang Tahu, Inilah Arti “Yellow Box Junction”

Saat melintasi beberapa persimpangan jalan yang ada di ibu kota DKI Jakarta, sebagai pengendara atau penumpang, pernahkah Anda melihat garis kuning persegi dan memiliki ukuran besar di aspal? Mungkin sebagian besar pengendara sudah banyak tahu tentang garis kuning persegi itu.

Baca juga: Yuk, Kenali Marka Batas Berhenti Kereta Api

Namun masih banyak juga yang belum paham maksud dari garis kuning tersebut. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, garis kuning tersebut adalah Yellow Box Junction. Ini adalah marka jalan yang bertujuan mencegah terjadinya kepadatan lalu lintas di jalur dan berakibat tersendatnya arus kendaraan di jalur lain yang tidak padat.

Selain itu Yellow Box Junction juga berfungsi mencegah arus lalu lintas persimpangan tidak terkunci saat kepadatan terjadi. Sehingga ketika arus lalu lintas padat, pengendara tidak akan menerobosnya saat lampu berwarna merah.

Bisa dikatakan, ini adalah garis pembatas yang tidak boleh dilintasi pengendara ketika antrean kendaraan di area persimpangan sedang padat. Peraturannya, walaupun lampu lalu lintas sudah hijau, pengguna jalan yang belum masuk Yellow Box Junction harus berhenti jika masih ada kendaraan lain di dalam area kotak kuning itu.

Mereka baru bisa maju jika kendaraan di dalam Yellow Box Junction sudah keluar. Bagi pengendara yang tetap memaksa memasukkan kendaraannya ke dalam Yellow Box Junction, padahal masih ada kendaraan lain di dalamnya, maka akan ditindak karena sama saja melanggar marka jalan.

Untuk memudahkannya melihat pelanggaran, pihak kepolisian memasang CCTV yang memantau langsung persimpangan dengan marak Yellow Box Junction. Bahkan Yellow Box Junction, secara hukum menjadi marka prioritas yang fungsinya paling diutamakan dibanding alat pemberi isyarat lalu lintas dan rambu lainnya.

Ini tertulis dalam UU No.22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ), tepatnya pada Pasal 103 ayat 3 yang berbunyi, “Dalam hal terjadi kondisi kemacetan lalu lintas yang tidak memungkinkan gerak kendaraan, fungsi marka kotak kuning harus diutamakan daripada Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas yang bersifat perintah atau larangan.”

Baca juga: Flash Mobile, Marka Lalu Lintas Untuk Pengemudi Yang Mencoba Berponsel di Jalan Raya

Jika melanggar marka ini, pengguna jalan akan dikenai sanksi sebagaimana tertulis dalam undang-undang yang sama Pasal 287 ayat 2. Sanksi pelanggaran tersebut adalah pidana kurungan paling lama 2 bulan atau denda paling banyak Rp500 ribu.

Bersaing Memikat Calon Penumpang, Modifikasi Pada Bus AKAP Jadi Kebutuhan

Melihat bus saat ini tentu berbeda dengan beberapa tahun yang lalu. Terlebih bus antar kota antar provinsi yang selalu dinamis mengikuti tren yang ada. Membicarakan variasi atau modifikasi dalam bus malam antar kota, tentu hal ini juga mengalami perubahan dari masa ke masa. Mungkin beberapa tahun yang lalu anda melihat bus hanya melakukan variasi sederhana seperti sticker di kaca depan dan itupun tidak banyak.

Baca juga: Ini Ternyata Kerjaan Admin Media Sosial Perusahaan Otobus

Semakin kesini, variasi atau modifikasi pada bus malam antar kota semakin beragam. Tren yang ada biasanya langsung ramai-ramai diikuti oleh perusahaan bus lainnya. Mereka biasanya tidak mau ketinggalan momen yang sedang ngetren di kalangan bus malam antar kota. Para kru pun memiliki kreatifitas masing-masing dalam hal melakukan variasi atau modifikasi pada armada bawaan mereka.

Mulai dari tren lampu kolong, lampu strobo bisa dibilang panjang umur sampai saat ini. Meskipun untuk penggunaan strobo sebenarnya dilarang dan dikatakan melanggar hukum, nyatanya semakin banyak armada bus yang mengikuti tren pemasangan strobo.

Dalam hal ini, biasanya kru mengeluarkan biaya pribadi untuk mempercantik armada busnya. Tentu modifikasi bus malam antar kota menelan biaya yang tidak sedikit. Para kru merogoh kocek pribadi dalam-dalam agar armada bus yang mereka kendarai menarik mata pengguna jalan lain.

Ketika malam tiba, armada bus yang mereka kendarai merupa warna-warni lampu di tengah kegelapan. Hal ini tentu mengundang perhatian banyak pengguna jalan lainnya. Banyak pengguna jalan yang menikmati tren modifikasi ala bus malam antar kota ini, terlebih jika modifikasi dilakukan di bagian lampu.

Gemerlap lampu pada body bus malam antar kota memang sedang menjadi tren modifikasi saat ini, tapi beberapa perusahaan otobus ada yang tidak mengijinkan kru untuk melakukan modifikasi yang berlebihan pada armada bus. Hal ini semata-mata untuk menjaga citra perusahaan di jalan raya. Selain itu, meski digemari kebanyakan penumpang bus masa kini, tren modifikasi termasuk modifikasi lampu pada bus malam antar kota, beberapa justru ada yang membahayakan pengguna jalan lain.

Ada saja beberapa bus yang memasang lampu di bagian belakang bus. Tentunya ini sangat berbahaya bagi pengguna jalan lain, terlebih yang ada di belakang bus tersebut. Ada juga yang memasang lampu strobo dengan jumlah yang banyak pada kaca depan armada bus. Padahal hal ini justru bisa mengganggu konsentrasi pengemudi dan juga pengendara yang berpapasan dengan bus dengan modifikasi seperti ini.

Baca juga: Bukan Nama Wanita, Rosalia Indah Kondang Sebagai Perusahaan Otobus

Memang, pada akhirnya variasi atau modifikasi bus malam antar kota tidak bisa dihindari, dimana semua bertujuan untuk menarik minat penumpang bus. Tapi, di satu sisi, modifikasi yang dilakukan seharusnya memang cukup sewajarnya saja dan tidak berlebihan. Jadi, bisa tetap menarik minat penumpang, menjadi perhatian di jalan raya dan tentunya tanpa mengganggu pengendara lainnya. (Senna Aditiya – Penggemar Bus)

Setelah Lama Dinas Kereta Inspeksi 4 Ini Akhirnya Masuk Balai Yasa Manggarai, Kenapa?

Kereta Inspeksi 4 akhir – akhir ini selalu digunakan untuk perjalanan khusus oleh pejabat kereta api dan orang – orang penting lainnya ke berbagai kota di Pulau Jawa. Apalagi saat perjalanan inspeksi menghadapi Natal dan Tahun Baru 2021 lalu. Dari Jakarta ke Surabaya kereta ini melalukan inspeksi lintas dan lokasi – lokasi tertentu guna pengecekan jalur kereta api. Agar saat dilakukan perjalanan reguler semua dalam kondisi aman dan terkendali.

Baca juga: Rail Bicycle, Mudahkan Petugas Kereta Api Lakukan Inspeksi Pada Jalur Rel

Saat ini Kereta Inspeksi 4 masuk ke Balai Yasa Manggarai bukan untuk pengecekan mesin atau karena kerusakan yang berarti. Dari informasi, kereta ini melakukan pembubutan roda di dalam Balai Yasa. Pembubutan roda ini sangat jarang dilakukan untuk Kereta Inspeksi 4. Karena kereta itu cukup jarang untuk melakukan perjalanan. Hanya dibutuhkan perjalanan khusus atau inspeksi pada hari – hari tertentu saja. Pembubutan roda pada Kereta Inspeksi 4 dilakukan pada pagi hari.

Keberangkatan kereta ini dari Depo Lokomotif Tanah Abang kemudian memasuki jalur 4 Stasiun Tanah Abang. Selanjutnya diberangkatkan dari Stasiun Tanah Abang pada pukul 09.00 WIB menuju Stasiun Manggarai. Setiba di Manggarai sekitar pukul 09.18 WIB rangkaian Kereta Inspeksi 4 langsir menuju Balai Yasa Manggarai untuk memasuki ruang bubut roda.

Baca juga: Ridwan Kamil Naik Kereta Inspeksi Tinjau Stasiun Garut

Roda Kereta Inspeksi 4 yang dilakukan pembubutan setidaknya membutuhkan sekitar 45 menit setiap rodanya. Pembubutan roda dilakukan saat atau mencegah keausan roda yang mengakibatkan roda agak benjol dan menimbulkan suara pada roda. Jadi pembubutan roda harus dilakukan sesegera mungkin agar tidak ada hal yang diinginkan terjadi. Hingga saat ini belum ada informasi kapan Kereta Inspeksi 4 ini selesai untuk bubut roda dan kembali pulang ke Depo Lokomotif Tanah Abang. (PRAS – Cinta Kereta Api)

Maskapai India Pekerjakan Awak Kabin yang Tengah Isolasi Mandiri, Imigrasi Bandara Changi Lakukan Cekal

Covid yang sudah menjadi pandemi di seluruh dunia, membuat banyak negara harus menutup diri dari kedatangan pelancong. Kalaupun mulai membuka diri, setiap negara memiliki aturan tersendiri bagi para pelancong atau siapa pun yang masuk ke negara mereka. Sehingga bagi pelancong yang terinfeksi harus melakukan karantina mandiri agar tidak menularkannya pada orang lain.

Baca juga: Akibat Langgar Karantina, Awak Kabin Vietnam Airlines Dipenjara Dua tahun

Namun, maskapai India mengizinkan awak kabin yang sebelumnya terinfeksi Covid untuk ikut dalam penerbangan padahal belum menyelesaikan isolasi yang wajib dilakukan. Hal ini membuat otoritas imigrasi Singapura tidak senang dan insiden tersebut terjadi beberapa hari yang lalu dan awak kabin tersebut ditahan di Bandara Changi ketika tiba di kedatangan.

Menurut sebuah laporan, awak kabin maskapai penerbangan India ditahan di Bandara Changi karena tidak mengikuti aturan Vovid yang diperlukan. Dilansir KabarPenumpang.com dari simpleflying.com (13/1/2022), awak kabin itu tidak disebutkan namanya dan maskapainya pun adalah yang terkemuka. Awak kabin itu dinyatakan positif Covid belum lama ini, tetapi belum menyelesaikan dua minggu isolasi wajibnya.

“Seorang awak kabin dinyatakan positif pada 31 Desember 2021. Ia dilaporkan kembali bekerja pada Minggu (9/1/2022) ini. Dia terdaftar dalam penerbangan yang berangkat ke Singapura pada hari Selasa dan mendarat di sana pada hari Rabu. Setibanya, pihak berwenang di Bandara Changi menahannya karena dia belum menyelesaikan 14 hari isolasi rumah,” kata seorang kerabat awak kabin itu.

Departemen imigrasi Singapura telah keberatan dengan selang waktu ini dan dapat mengenakan denda pada individu atau maskapai. Direktorat Jenderal Perhubungan Udara telah diberitahu tentang insiden tersebut dan sedang menyelidiki masalah tersebut. Untuk diketahui, lonjakan Covid di India mulai berdampak pada operasi penerbangan.

Selama beberapa hari terakhir, puluhan anggota awak di semua maskapai di negara itu telah dilaporkan sakit. Setelah mematuhi pedoman pemerintah untuk manajemen Omicron, Ditjen Perhubungan Udara telah melonggarkan aturan bagi anggota kru yang bergabung kembali setelah terinfeksi. Mereka yang tidak menunjukkan gejala dapat kembali bekerja setelah tujuh hari isolasi, sementara mereka yang memiliki gejala ringan dapat kembali bekerja setelah 14 hari.

Baca juga: Kembali Berlayar, Seorang Penumpang Kapal Pesiar Asuka II Positif Covid-19 Varian Baru

Melihat lintasan infeksi baru, banyak maskapai penerbangan telah mengurangi operasi dan bahkan mengizinkan penumpang memodifikasi pemesanan mereka secara gratis. IndiGo, Air India dan Vistara telah mengumumkan bahwa mereka membebaskan biaya perubahan tanggal penerbangan untuk perjalanan hingga 31 Maret tahun ini.

Kenapa Rute London-Sydney Qantas ‘Harus’ Transit di Singapura? Ini Jawabannya

Qantas coba meruntuhkan dominasi Singapore Airlines di penerbangan terpanjang dan terlama di dunia dengan merilis penerbangan langsung dari Sydney – New York selama lebih dari 19 jam beberapa waktu lalu. Sayangnya, itu hanya penerbangan uji coba, bukan komersial.

Baca juga: Mengapa Pesawat Tidak Terbang Lurus? Inilah 5 Alasannya

Tetapi, di bawah Project Sunrise, Qantas benar-benar akan merealisasikan penerbangan tersebut secara komersial. Begitu juga dengan penerbangan langsung dari Sydney – London selama lebih dari 23 jam. Ini benar-benar akan direalisasikan, sekalipun pada faktanya, saat ini penerbangan Sydney – London Qantas transit di Singapura terlebih dahulu. Mengapa demikian?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, saat virus Corona merebak dengan cepat di awal tahun 2020, maskapai Air Tahiti Nui berhasil mencetak rekor sebagai penerbangan komersial terjauh.

Ketika itu, maskapai asal Polinesia Perancis tersebut biasanya terbang menuju Bandara Charles de Gaulle di Paris dengan transit terlebih dahulu di Bandara Internasional Los Angeles (LAX), Amerika Serikat.

Namun, karena negara tersebut tengah memberlakukan pembatasan penerbangan akibat maraknya wabah Covid-19, pesawat Boeing 787-9 Dreamliner Air Tahiti Nui terpaksa terbang langsung dari Pape’ete di Tahiti menuju Paris, Perancis.

Namun, siapa sangka, penerbangan yang ‘dipaksakan’ tersebut justru berhasil mendorong terpecahkannya rekor penerbangan komersial terjauh.

Bila sebelumnya rekor tersebut disandang Singapore Airlines pada rute Singapura-Newark dengan jarak tempuh 15.348 km, Air Tahiti Nui berhasil mematahkannya dengan mencatatkan penerbangan sejauh 15.715 km dalam waktu selama 15 jam 45 menit.

Pesawat Boeing 787 Dreamliner yang digunakan saat maskapai tersebut memecahkan rekor penerbangan komersial terjauh, standar pabrikannya hanya mampu terbang sejauh 14.800 km, sedangkan kala itu penerbangan dipaksakan sampai 15.715 km dan itu berhasil lantaran hanya mengangkut total 150 penumpang dari kapasitas maksimal mencapai 290 penumpang.

Kembali ke rute Sydney – London Qantas, sebagaimana dilansir Simple Flying, keduanya diketahui berjarak sekitar 27 ribu kilometer. Tidak ada pesawat komersial manapun di dunia saat ini (dalam kondisi normal) mampu terbang sejauh ini non-stop.

Qantas sendiri memiliki empat jenis pesawat long range, mulai dari Airbus A380-800, A330-300, A330-200, dan Boeing 787-9 Dreamliner. Airbus A380 mampu terbang sejauh 15.200 kilometer dengan muatan normal. Boeing 787-9 Dreamliner memiliki jangkauan 13.621 kilometer dalam kondisi normal. A330-300 bisa terbang 11.200 kilometer dan A330-200 sejauh 13.400 kilometer.

Itu mengapa penerbangan QF1/QF2 Sydney – London Qantas transit terlebih dahulu di Singapura, menjadikan waktu tempuhnya lebih lama.

Baca juga: Kenapa Mayoritas Badan Pesawat Berwarna Putih? Ini Dia Alasan Ilmiahnya!

Tetapi, sebagaimana kasus Air Tahiti, Qantas bisa saja terbang non-stop Sydney – London di bawah Project Sunrise, dengan catatan pesawat harus dalam keadaan hampir kosong, baik di kabin maupun di ruang kargo. Tentu saja ini bukan bisnis yang menguntungkan.

Di masa mendatang, Qantas mungkin bisa melakukan itu dan sedang mempersiapkannya saat ini bersama Airbus A350-1000. Menarik ditunggu, akankah Airbus A350-1000 bisa merealisasikan Project Sunrise Qantas terbang langsung dari Sydney – London – Sydney non-stop?

AirAsia Ride Masuk Pasar Asia Tenggara, Siap Tandingi GoJek dan Grab

Setelah merambah dunia ride hailing di Malaysia, AirAsia Ride sepertinya akan melakukan kudeta persaingan di industri ride hailing regional Asia Tenggara yang saat ini di dominasi oleh Grab Singapura dan GoJek Indonesia. Di mana anak usaha AirAsia Group itu berencana melebarkan sayap ke Thailand dan setelahnya ke Indonesia dan Filipina.

Baca juga: Setelah Ride Hailing, AirAsia Berencana Hadirkan Layanan Taksi Udara

Untuk itu, sekarang AirAsia Ride tengah memposisikan dirinya dalam menghadapi dan menyaingi para raksasa perusahaan ride hailing. Tak hanya itu, AirAsia Ride juga berharap dapat menyaingi Grab dan GoJek dalam lima tahun ke depan.

Kepala Eksekutif AirAsia SuperApp, Amanda Woo, mengatakan, setelah diluncurkan pada bulan Agustus lalu, layanan AirAsia Ride saat ini sudah mencakup semua kota besar di Malaysia, dengan total pemesanan lebih dari enam digit per bulan dan sudah memiliki 30 ribu mitra pengemudi/driver.

“Saya benar-benar melihat AirAsia Ride mendominasi kawasan ini, seperti yang kami lakukan dengan maskapai ini,” kata Woo dilansir dari yang dikutip KabarPenumpang.com dari asianikkei.com (5/1/2022).

Untuk ekspansi ke Indonesia dan Filipina, AirAsia Ride dalam proses untuk mendapat persetujuan dari negara-negara tersebut.

“Kami tidak melihat adanya tantangan dalam mendapatkan persetujuan karena kami adalah merek terkenal di negara-negara ini dan kami memiliki kasus bisnis di Malaysia,” tambah Woo.

AirAsia juga akan bekerja sama dengan perusahaan mitra lokal di tiga negara tersebut untuk memastikan kelancaran operasional saat diluncurkan. Woo menambahkan, keunggulan AirAsia Ride dibandingkan pesaingnya adalah ekosistemnya yang lengkap serta berbagi data dari operasi maskapainya, yang dia tekankan menjadikannya unik di kawasan ini.

“Segera kami akan menggabungkan ride-sharing ke bandara ketika seseorang membeli tiket pesawat mereka. Sistem kemudian akan menetapkan pengemudi terdekat dengan waktu kedatangan penumpang, yang merupakan bagian dari ekosistem kami. Ini unik, dan tidak ada yang bisa melakukan ini,” jelas Woo.

AirAsia Ride adalah salah satu lini usaha Grup AirAsia yang juga dimiliki oleh Tony Fernandes. CEO AirAsia Group ini mulai fokus pada ekspansi bisnis non maskapai setelah pandemi Covid-19 melumpuhkan industri penerbangan mulai Februari 2020.

Baca juga: Pernah Delapan Tahun Kerja di Grab, Tony Fernandes Siap Bawa AirAsia ke Pasar Ride Hailing

Dari langkah awa ke logistik kargo dan bisnis agen perjalanan online, saat ini Fernandes memiliki kerajaan perusahaan non maskapai mulai dari restoran hingga makanan, bahan makanan, pengiriman paket, asuransi, dan pinjaman mikro. Pada Juli 2021 lalu, AirAsia mengumumkan bahwa AirAsia Digital telah mengakuisisi operasi Gojek di Thailand dalam kesepakatan semua saham senilai US$50 juta.

PO Harapan Jaya Jadi yang Pertama Gunakan Kamera Sebagai Spion Bus

Nampaknya inovasi di dunia transportasi darat khususnya bus tidak pernah berhenti. Yang ada adalah semakin banyak inovasi yang dilakukan baik oleh perusahaan otobus (PO) maupun karoseri. Tentunya inovasi ini ditujukan untuk kemajuan transportasi bus.

Baca juga: Kuda Oranye dari Tulungagung Sampai Grup Musik Asal Bandung Pakai Nama Harapan Jaya

PO Harapan Jaya, perusahaan yang berasal dari Tulungagung, Jawa Timur, belum lama ini merilis armada baru mereka. Armada ini merupakan garapan karoseri Tentrem yang berasal dari Malang, Jawa Timur. Avante D1, adalah nama bod yang menjadi armada baru PO Harapan Jaya.

Bus ini ditopang oleh sasis Scania K410 yang tentunya sudah dilengkapi dengan sistem suspensi udara. Mengusung konsep UHD atau Ultra High Deck, bus ini terlihat seperti memiliki dua lantai atau biasa disebut dengan double decker. Akan tetapi, yang bisa digunakan duduk oleh penumpang adalah bagian deck atas.

Untuk deck bawah sendiri hanya bisa digunakan untuk barang. Dengan kata lain, ruang untuk bagasi menjadi lebih luas dibanding dengan bus model lain. Karoseri Tentrem sebagai pembuat bodi ini juga melakukan sebuah inovasi yang bisa dibilang baru pertama kali dalam dunia bus di Indonesia.

Pada bodi Avante D1 ini, Anda tidak akan menemukan spion biasa yang seringkali ditemui pada bus. Sebagai gantinya, Anda akan menemukan kamera yang terpasang pada sisi kanan dan kiri bagian depan bus. Kamera tersebut merupakan pengganti kaca spion.

Spion kamera ini punya fungsi sebagai kaca spion kanan dan kiri, juga sebagai kamera parkir 360 derajat. Pada spion kamera ini, fungsi kaca diganti dengan layar monitor di bagian dalam bus. PO Harapan Jaya untuk saat ini jadi perusahaan otobus yang pertama dan satu-satunya mengaplikasikan model spion kamera pada armada bus milik mereka.

Baca juga: PO Kramat Djati, Ternyata Awalnya Perusahaan Angkutan dan Ternak

Tentunya hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa teknologi spion kamera ini ditanam pada bodi lain selain Avente D1. Bahkan, bukan tidak mungkin untuk selanjutnya karoseri selain Tentrem juga menggunakan teknologi spion kamera ini pada body bus garapan mereka. Selain terkesan futuristik, tentunya spion model ini juga menambah keamanan bagi penumpang. (Senna Aditiya – Penggemar Bus)

NepShuttle, Moda Transportasi Pesisir Ramah Lingkungan dengan Fitur “Anti Mabuk Laut”

Tinggal di daerah pesisir atau di sepanjang aliran sungai? Mungkin Anda akan lebih memilih menggunakan moda transportasi air, sebab biasanya perjalanan yang dilakukan lebih cepat dari pada transportasi darat.

Baca juga: Taksi Air Thunder, Gaya Baru Menyusuri Kanal di Venesia

Meski begitu, moda transportasi air pun banyak juga yang menghasilkan emisi karbon. Tetapi transportasi air dengan nol emisi karbon kini juga dirancang oleh berbagai perusahaan di dunia. Seperti NepShuttle yang dibangun awalanya menggunakan bahan bakar sel dan kini mulai dibuat untuk bisa meminimalkan jejak karbon.

Dilansir KabarPenumpang.com dari newatlas.com (10/1/2022), perusahaan rintisan Perancis NepTech akan membuat PeShuttle yang akan menampilkan desain lambung yang dirancang khusus untuk meminimalkan hambatan hidrodinamik sembari menghasilkan sedikit gelombang atau semprotan. Desain ini juga akan mengurangi area lambung bersentuhan dengan air.

Selain itu, PeShuttle juga akan menggabungkan sistem yang terus-menerus mengeluarkan jejak gelembung udara yang mengalir di sepanjang bagian bawah setiap lambung dengan teknologi “NepAir” yang diklaim dapat mengurangi gesekan lapisan batas saat perahu melewati air.

Selain itu, hidrofoil profil rendah di bagian bawah lambung diklaim dapat meningkatkan stabilitas dan dengan demikian mengurangi kemungkinan mabuk laut penumpang saat bepergian melalui gelombang besar. Tidak seperti foil konvensional, mereka tidak dirancang untuk memungkinkan perahu keluar dari air dengan kecepatan tinggi.

Bukan hanya itu, NepShuttle juga memberikan kenyamanan lainnya yakni kabin kedap suara, kursi anti getaran hingga konektivitas WiFi. Kapal ini dilengkapi motor listrik kembar yang ditenagai oleh beberapa baterai lithium yang pada gilirannya akan diisi oleh dua sel bahan bakar membran elektrolit polimer.

NetShuttle akan mampi melaju dengan kecepatan 35 km per jam dan memiliki kecepatan tertinggi 40 km per jam. Meskipun tidak ada angka kisaran pasti yang diberikan, NepTech menyatakan bahwa dengan bantuan dari sistem manajemen energi dan baterai, NepShuttle akan “menyamai kinerja operasional kapal bertenaga diesel lama.” Pengisian bahan bakar dapat dilakukan di stasiun pengisian bahan bakar hidrogen bergerak,

Baca juga: Surga Kanal Transportasi, Tak Hanya di Venesia Lho!

Perwakilan NepTech memberi tahu kami bahwa rencana peluncuran NepShuttle akan dilakukan sekitar tahun 2023 atau 2024. Awalnya akan digunakan di Sungai Seine dan di Pelabuhan Marseille.

Sejarah Museum Smithsonian, Museum Dirgantara dan Antariksa Terbesar di Dunia

Tidak diragukan lagi, Museum Dirgantara dan Antariksa Nasional Smithsonian adalah museum dirgantara terbesar di dunia bila dilihat dari kualitas dan kuantitas koleksinya. Tentu saja ini tidak dicapai secara instan melainkan melalui proses panjang dan memiliki DNA penelitian yang mendorongnya untuk memperbanyak koleksi hingga pada akhirnya menjadi museum dirgantara terbesar di dunia.

Baca juga: “Si Belo Kuda Troya,” Prototipe Kereta Penumpang yang Dijadikan Kafe dan Museum di Madiun

Sejarah Museum Dirgantara dan Antariksa Nasional Smithsonian sudah pasti erat kaitannya dengan Institut Smithsonian yang didirikan oleh James Smithson pada 1846.

Dilansir laman resmi Smithsonian, di masa-masa awal penerbangan dipelopori oleh Wright bersaudara, Aircraft Building Smithsonian yang dibangun pada 1918, aktif mengoleksi peninggalan-peninggalan bersejarah dirgantara dunia. Jumlah koleksi semakin banyak pasca berakhirnya Perang Dunia I pada tahun 1918.

Terlebih setelah Arts and Industries Building bekas peninggalan PD 1 yang terletak di belakang Kastil Smithsonian dibuka untuk umum pada 1920, koleksi Smithsonian makin lengkap. Meski koleksinya sudah banyak dan lengkap, namun, ketika itu Smithsonian masih independen dan belum dijadikan sebagai museum nasional.

Barulah pada tahun 1946, Presiden Harry Truman menandatangani undang-undang pendirian Museum Udara Nasional Smithsonian untuk mengenang perkembangan penerbangan; mengumpulkan, melestarikan, dan memamerkan peralatan penerbangan; dan memberikan materi pendidikan untuk studi penerbangan.

Pasca ditetapkan sebagai museum nasional, koleksi Museum Smithsonian makin banyak. Saking banyaknya, sampai tidak ada lagi ruang tersisa untuk menampung koleksi dan terpaksa menggunakan pabrik pesawat bekas di Park Ridge, Illinois, pinggiran kota Chicago, AS, sebagai tempat penampungan sementara koleksi terbaru bekas Perang Dunia II.

Setelah memasuki era antariksa, dimana Smithsonian turut andil dengan mendanai dan mendampingi penelitian salah satu roket perintis paling penting di AS, Museum Smithsonian turut menyimpan berbagai koleksi antariksa dari seluruh dunia, salah satunya satelit buatan manusia pertama di dunia buatan Uni Soviet yang berhasil diluncurkan dan memasuki orbit pada 4 Oktober 1957.

Seiring banyaknya koleksi antariksa, sejalan dengan semakin gencarnya AS dan Uni Soviet dalam perlombaan eksplorasi ruang angkasa, Presiden Lyndon Johnson menandatangani undang-undang yang mengubah nama National Air Museum menjadi National Air and Space Museum pada tahun 1966.

Tujuannya tentu untuk mengenang perkembangan jagat dirgantara dan antariksa. Koleksi museum yang dipamerkan kemudian diperluas mencakup rudal dan roket, beberapa di antaranya terletak di luar ruangan dekat Arts and Industries Building di wilayah yang dikenal sebagai “Rocket Row.”

Baca juga: Cathay Pacific Hibahkan Boeing 777-200 Perdana Ke Museum Dirgantara di Arizona

Puncak popularitas National Air and Space Museum Smithsonian terjadi pada 1 Juli 1976. Ketika itu, gedung baru Museum Smithsonian di National Mall, yang juga berfungsi sebagai pusat penelitian, resmi dibuka untuk umum. Antusiasme masyarakat pun sangat luas biasa, menyentuh angka lima juta pengunjung dalam tempo enam bulan.

Saat ini Smitsonian memiliki 19 museum dan galleri, sembilan pusat riset serta kebun binatang yang berlokasi di Washington, D.C., Arizona, Maryland, New York City, Virginia, Panama, dan tempat-tempat lain. Lembaga ini memiliki lebih kurang 142 juta benda koleksi.