Pesawat Cessna 172 Bawa Spanduk “Maukah Kamu Menikah Denganku” Jatuh dan Tewaskan Penumpangnya

Sebuah lamaran berakhir dengan tragedi setelah sebuah pesawat kecil yang menarik spanduk bertuliskan “will you marry me” – maukah kamu menikah denganku –  jatuh di sebuah pulau dekat Montreal, Kanada. Naasnya, penumpang pesawat Cessna 172 itu tewas, sedangkan sang pilot selamat.

Baca juga: Mendarat Darurat, Pesawat Cessna Gilas Dua Orang di Pantai Caparica

Spanduk itu diyakini jatuh di Sungai St-Lawrence sesaat sebelum pesawat jatuh di Park Dieppe, antara Old Montreal dan Pulau St Helen. Laurel Scala mengatakan, bahwa dia melihat pesawat menerbangkan spanduk sesaat sebelum jatuh sekitar pukul 18.00 waktu setempat pada hari Sabtu.

“Sepertinya ketinggian normal pesawat seperti itu akan terbang ketika memiliki spanduk. Kami berjuang untuk membaca apa yang tertulis di spanduk itu… Dikatakan ‘Maukah kamu menikah denganku,” kata Scala yang dikutip KabarPenumpang.com dari independent.co.uk (5/10/2021).

Saat terjadinya insiden itu, spanduk belum ditemukan dan Dewan Keselamatan Transportasi Kanada belum merilis rincian penumpang yang meninggal. Namun, dalam penerbangan yang berujung kecelakaan itu, pilot pesawat Cessna 172 diketahui bernama Gian Piero Ciambella.

Dia adalah pemilik Publicite Aerogram dan perusahan mengiklankan dirinya sebagai pemimpin Kanada dalam periklanan udara dengan menawarkan penarik spanduk dan skywriting. Sebelum insiden maut ini, pada tahun 2006 lalu, dia melakukan pendaratan darurat yang sukses di tengah Parc Avenue Montreal setelah kegagalan mesin di pesawat Cessna yang sama.

“Ciambella adalah pilot yang sangat berpengalaman,” kata Paul Fréchette, seorang pilot dan mantan penyelidik di Dewan Keselamatan Transportasi.

Untuk diketahui, pesawat itu jatuh tak lama setelah lepas landas dari Bandara St-Mathieu-de-Laprairie sekitar pukul 17.46 waktu setempat. Panggilan mayday dikirim sekitar 15 menit setelah lepas landas sebelum sinyal mati.

Atas insiden itu, puing-puing pesawat dikirim ke Ottawa untuk dianalisis sementara para penyelidik mulai proses mencari penyebab kecelakaan. Bahkan, Dewan Keselamatan Transportasi sedang menunggu untuk mewawancarai pilot saat ia pulih.

“Kita bisa melihat mesin, baling-baling di kontrol pesawat, bisa apa saja seperti terkontaminasi bahan bakar,” kata Isabelle Langevin dari Dewan Keselamatan Transportasi.

Rekaman video setelahnya menunjukkan pesawat yang jatuh dilalap api sebelum kru penyelamat kebakaran bekerja untuk memadamkan api. Beberapa laporan mengatakan para pejabat menerima informasi tentang masalah mesin di pesawat, dengan lokasi kecelakaan menunjukkan pesawat itu mendarat sebelum memantul dan berputar untuk beristirahat. Walikota Montreal Valerie Plante mengatakan timnya sedang memantau perkembangan setelah kecelakaan itu.

Baca juga: Hari ini, 42 Tahun Lalu, Tabrakan PSA Flight 182 Vs Cessna 172 Terjadi Akibat Pilot dan ATC Ceroboh

“Pikiran saya bersama keluarga almarhum,” tulisnya di Twitter.

Tidak jelas apakah penumpang yang meninggal itu terkait dengan lamaran pernikahan atau tidak.

Bakal Layani Penerbangan Berjadwal, Inilah Profil Maskapai Pelita Air, Anak Perusahaan Pertamina

Kegagalan bertahan di ranah bisnis layanan penerbangan reguler pada tahun 2000-2005 silam, tak menyurutkan niat Pelita Air Service (PAS) atau biasa disebut Pelita Air untuk mencobanya lagi. Belum lama ini, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengaku bahwa Pelita Air sudah mengajukan izin sebagai maskapai penerbangan berjadwal.

Baca juga: Pelita Air Siap Layani Penerbangan Berjadwal, Persiapan Garuda Indonesia Bila Bangkrut?

Sepak terjang Pelita Air di sektor aviasi domestik bisa dibilang cukup mapan. Sejak tahun 1963, perusahaan telah mengoperasikan berbagai operasi penerbangan. Ketika itu, Pelita Air belum menjadi perusahaan tersendiri dan masih berupa departemen jasa udara di bawah PT Pertamina yang dinamakan Pertamina Air Service.

Barulah pada tahun 1970, PAS didirikan sebagai sebuah perusahaan mandiri yang menyediakan operasi penerbangan berkelanjutan.

Dilansir laman resmi perusahaan, alih-alih masuk ke ranah penerbangan berjadwal, Pelita Air fokus untuk menyediakan layanan charter yang belum banyak dijamah maskapai dalam negeri, seperti penerbangan transmigrasi, pemadam kebakaran, pengungsi, palang merah, VVIP, lepas pantai, tumpahan minyak, survei geologi, operasi seismik, foto udara, dan transportasi kargo.

Tak puas menguasai pasar penerbangan charter dengan berbagai layanan di atas, Pelita Air mulai tergoda ke ranah bisnis maskapai penerbangan berjadwal. Terlebih, di akhir dekade 90-an, tepatnya pada 15 November 1999, maskapai Lion Air berdiri.

Di awal tahun 2000, Pelita Air resmi menceburkan diri ke pasar penerbangan penumpang berjadwal atau penerbangan reguler dengan brand Pelita Air Venture.

Cukup banyak rute yang dilayani Pelita Air, di antaranya Pekanbaru – Palembang – Jakarta – Yogyakarta – Surabaya – Makassar – Biak – Sorong – Lubuk Linggau. Ketika itu, armadanya bukan Boeing-Airbus, melainkan Fokker F100, De Havilland Dash 7, dan ATR 72-500.

Sayangnya, setelah dua tahun atau efektif lima tahun kemudian (2005), Pelita Air Venture atau Pelita Air resmi menarik diri dari persaingan di sektor maskapai penerbangan berjadwal. Disebutkan, maskapai kembali fokus ke bisnis yang sudah membesarkan namanya, yaitu penerbangan charter.

Saat ini, Pelita Air memiliki tiga sertifikat operasi angkutan udara (AOC) yaitu penerbangan charter, reguler, dan kargo, dan akan segera masuk ke maskapai kategori I yaitu maskapai penerbangan berjadwal.

Baca juga: Gandeng Pelita Air Service, Anak Usaha Angkasa Pura I Luncurkan Layanan Angkutan Kargo

Binsisnya pun juga meningkat dari tahun ke tahun, tidak berhenti di jasa penerbangan charter saja, seperti sertifikasi dan pelatihan, pemeliharaan dan perawatan pesawat, mengelola Bandara Pondok Cabe, pergudangan, hanggar, serta manajemen bandara.

Berbagai bisnis tersebut didukung dengan variasi armada, pesawat sayap tetap dan pesawat sayap-putar (helikopter), mulai dari ATR 42-500, ATR 72-500, CASA 212-200, AT 802, Bell 412 EP, Bolkow NB0-105, Sikorsky S76 C++, Sikorsky S76-A, dan Bell 430.

Ini Deretan Maskapai Pertama yang Operasikan Setiap Tipe Boeing 747

Sejak terbang perdana pada 9 Februari 1969, Boeing 747 terus menarik perhatian maskapai global. Bahkan, usai kemunculan Airbus A380 pun, Queen of the Skies masih tetap menjadi raja di kelas widebody quadjet.

Baca juga: 9 Februari 1969, Memperingati 50 Tahun Penerbangan Perdana Boeing 747

Setelah 50 tahun lebih menghiasi angkasa, pengguna Boeing 747 di seluruh dunia lambat laun mulai berkurang. Bukan karena kualitasnya menurun, tetapi, lebih ke tren perubahan penerbangan global, dimana penumpang menginginkan penerbangan point-to-point dan maskapai lebih memilih ke widebody twinjet.

Terlepas dari semua itu, sebetulnya, maskapai mana yang menjadi operator pertama yang mengoperasikan setiap tipe terbaru Boeing 747?

Dilansir Simple Flying, Pan Am tercatat sebagai maskapai pertama di dunia yang mengoperasikan Boeing 747 pertama, yaitu tipe B747-100. Maskapai yang dikenal sebagai pelopor kelas ekonomi internasional pertama di dunia ini menerima pesawat tersebut pada Januari 1970 dan disaksikan langsung oleh Ibu Negara Pat Nixon. Clipper Victor, begitulah nama yang diberikan Pan Am untuk pesawat ini.

Selang beberapa waktu, Boeing 747-200 dirilis dan KLM adalah operator pertama yang menerima dan mengoperasikannya. Demikian juga dengan Boeing 747-200F, ini mulai dioperasikan oleh Lufthansa pada tahun 1972.

Boeing 747-100SR (Short Range) tahun berikutnya dirilis dan Japan Airlines adalah maskapai pertama yang mengoperasikannya. Maskapai Jepang lainnya turut mengekor setelah ANA (All Nippon Airways) menerima pengiriman B747-100BSR pertama pada bulan Desember 1978.

Selanjutnya, ada Boeing 747SP pertama yang dioperasikan Pan Am. Sesuai tradisi, pesawat diberi nama khusus dan ketika itu diputuskan sebagai B747SP Clipper Freedom pada 5 Maret 1976.

Tujuh tahun berselang, Swissair menerima pengiriman pertama Boeing 747-300. Beberapa tahun setelahnya, pada 1985-1986, Japan Airlines menjadi maskapai pertama yang menerima pesawat Boeing 747-300SR.

Maskapai tersebut mengoperasikan varian SR untuk layanan domestik dengan traffic tinggi, salah satunya Okinawa–Tokyo. Sebelumnya, maskapai nasional Jepang itu sudah lebih dahulu mengoperasikan varian SR lainnya, Boeing 747-100SR.

Pada Februari 1989, Northwest Airlines menjadi maskapai pertama yang mengoperasikan Boeing 747-400, khususnya di rute Minneapolis – Phoenix, AS.

Pada bulan Maret di tahun yang sama, KLM menjadi maskapai pertama yang menerima varian kargo Boeing 747-400M Combi. Begitu pula pesawat Boeing 747-400F, yang pertama kali diterima KLM pada 1993.

Baca juga: Hari Ini, 4 Tahun Lalu, Boeing 747-400 Garuda Indonesia Pensiun, Punya Kenangan Manis dengan Gus Dur

Di dekade 2000-an, Boeing mulai meluncurkan varian Longer Range. Qantas menjadi maskapai pertama yang menerima varian ini, B747-400ER pada Oktober 2002, disusul Boeing 747-400ERF pada Oktober 2002 oleh Air France, dan Boeing 747-400BCF oleh cathay Pacific pada Desember 2005.

Adapun dua varian terakhir Boeing 747-8 atau B747-8i untuk varian penumpang dan B747-8F. Masing-masing, dua varian itu dioperasikan untuk pertama kalinya oleh Cargolux pada Oktober 2011 dan Lufthansa pada Juni 2012.

 

Pelita Air Siap Layani Penerbangan Berjadwal, Persiapan Garuda Indonesia Bila Bangkrut?

Pelita Air dikonfirmasi Kementerian Perhubungan (Kemenhub) sudah mengajukan izin sebagai maskapai penerbangan berjadwal. Menariknya, santer terdengar bahwa maskapai anak perusahaan PT Pertamina ini akan mengambil rute domestik Garuda Indonesia andai maskapai itu bangkrut alias tak bisa keluar dari jerat utang lessor.

Baca juga: Gandeng Pelita Air Service, Anak Usaha Angkasa Pura I Luncurkan Layanan Angkutan Kargo

Sebagai BUMN, hadirnya maskapai Pelita Air di pasar penerbangan berjadwal dikhawatirkan makin mempersulit langkah maskapai nasional dalam upaya menjadi market leader industri penerbangan berjadwal di Indonesia.

Saat ini, Lion Air Group diketahui menjadi grup maskapai terbesar di Indonesia dengan pangsa pasar sekitar 50 persen. Sedangkan Garuda Indonesia Group hanya sebesar 33 persen.

Bila Pelita Air benar bermain di pasar yang sama dengan Garuda Indonesia, apalagi sampai mengambil rute domestik Garuda Indonesia, yang notabene sudah ada Citilink, tentu ini akan menjadi keuntungan tersendiri bagi Lion Air Group.

Itu sebab, pengamat penerbangan Arista Atmaji menilai ketimbang mengambil peran Garuda Indonesia, maskapai Pelita Air ini lebih tepat diproyeksikan sebagai penerus tugas Merpati Airlines.

“Pelita menggantikan Merpati menurut saya lebih logis. Kecuali Garuda enggak bisa lolos lubang jarum dengan lessor dan utangnya, itu skenario paling akhir,” ujarnya.

Sebelumnya, Juru Bicara Kemenhub, Adita Irawati, mengkonfirmasi izin Pelita Air sebagai maskapai berjadwal. Lebih lanjut, seperti dikutip dari Kumparan, pengajuan izin ini seiring terisinya posisi direktur utama (Dirut) maskapai Pelita Air oleh mantan bos Citililnk Indonesia, Albert Burhan, usai dua tahun kosong.

Di tempat terpisah, Komisaris Utama PT Pelita Air Service Michael Umbas, juga memberi sinyal bahwa maskapai pelat merah ini tengah mengkaji potensi penerbangan berjadwal.

Menurut Michael, jajaran pimpinan perusahaan memastikan bakal menjalankan arahan pemegang saham, sembari memetakan peluang maskapai ke depan.

Menurutnya, pengangkatan Dirut Pelita Air membawa optimisme bagi perusahaan untuk mulai mencoba keluar dari gempuran pandemi Covid-19 terhadap dunia penerbangan.

Sayangnya, terkait lini bisnis yang akan diekspansi secara khusus oleh Pelita, belum ada penjelasan baik dari manajemen maupun Kementerian BUMN selaku pemegang saham.

Baca juga: Disebut Sudah Bangkrut, Ini 6 ‘Dosa’ Garuda Indonesia dari Masa ke Masa

Santer terdengar, maskapai yang menjadi pemilik dari Bandara Pondok Cabe ini bakal mengambil tugas Garuda Indonesia khusus di rute-rute domestik.

Sebelum menyita perhatian publik usai pengajuan layanan sebagai maskapai berjadwal, Pelita Air pernah muncul pada pertengahan tahun lalu. Ketika itu, Pelita Air mengadakan kerjasama layanan angkutan kargo dengan PT Angkasa Pura Logistik.

Moha 510, Kereta Retro di Stasiun Miyazaki yang Berubah Jadi Coworking Space

Selama pandemi, para pekerja di dunia mulai dikurangi aktivitasnya untuk bekerja di kantor agar meminimalisir penularan virus corona. Karena hal ini, coworking space banyak diminati oleh para pekerja dari pada duduk di ruang kerja rumah yang kadang membosankan. Bahkan di Jepang, kereta retro juga digunakan sebagai coworking space.

Baca juga: Coworking Space di Stasiun MRT Bundaran HI Resmi Dibuka dan Gratis Hingga 31 Desember

Dilansir KabarPenumpang.com dari japantoday.com (6/10/2021), kereta retro ini berada di Stasiun Miyazaki di jalur Tokyu Denentoshi. Kereta retro ini adalah museum kereta dan bus Denbus dan letaknya tepat di bawah jembatan layang di depan stasiun di dalam gedung B. Untuk menikmati coworking space Denbus, ada empat langkah yang mana harus mengunduh aplikasi Suup.

Suasana co-working space di kereta Moha 510 yang membawa ke masa lalu. Foto: Japan Today

Kemudian, pengguna coworking space akan mendaftarkan detailnya, check in melalui aplikasi dan check out setelah selesai menggunakannya. Mungkin ini agak merepotkan untuk mengutak-atik aplikasi. Tetapi ternyata sepadan, karena fasilitas ini tidak memiliki staf dan tentunya menjaga agar biaya operasional tetap rendah.

Sesudah memiliki tiket di aplikasi, pengguna jasa akan memasuki gerbang otomatis, Anda seperti akan masuk ke stasiun kereta api dan disebelah kanan ada papan nama dan waktu keberangkatan semu serta kereta retro itu sendiri. Di dalam kereta, nuansa panel kayu yang indah, lampu bundar yang hangat dan tempat duduk hijau mewah segera membawa pengguna kembali ke masa lalu.

Kereta yang sekarang menjadi coworking space adalah “Moha 510”, yang diproduksi pada tahun 1931 dan aktif di Jalur Tokyu selama 60 tahun hingga pensiun pada tahun 1989. Museum yang menampung gerbong ditutup dari Februari 2020 hingga Mei 2021 karena pandemi.

Setiap ruang kerja dilengkapi dengan outlet listrik dan ada akses WiFi di seluruh area. Sebagai bonus tambahan, mereka yang menggunakan ruang tersebut bisa mendapatkan diskon 30 persen untuk minuman dibawa pulang di cabang terdekat dari rantai Kopi Tully. Selain itu, mereka yang menggunakan ruang dibebaskan untuk melihat semua detail bersejarah yang menarik di kereta, yang mencakup peta rel tua dan kabin staf.

Kursi untuk duduk dibuat kokoh namun nyaman dan meja dibuat dengan baik. Biaya 200 yen per jam tidak hanya memberi Anda tempat di kereta stasioner, karena Anda juga bisa menggunakan area luar ruangan seperti kamp yang didirikan di dalam gedung. Selain itu ada tempat istirahat di mana Anda bisa makan, simulator mengemudi untuk anak-anak, dan dukungan fasilitas fotokopi

Baca juga: Ekinaka, Booth Working Space untuk Pekerja Mobile di Stasiun Kereta Jepang

Saat Anda siap untuk keluar dan pulang untuk hari itu, cukup pegang aplikasi di atas gerbang tiket otomatis lagi, yang akan memindai kode QR dan memeriksa Anda. Ini adalah tempat yang fantastis bagi penggemar kereta api untuk menyerap suasana perjalanan kereta api kuno sambil bekerja, dan ini adalah tempat yang bagus untuk mengejutkan rekan kerja Anda selama rapat dengan panggilan video.

Diklaim Bantu Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca, Ternyata Ride Hailing Sebabkan Lebih Banyak Polusi

Mungkin banyak yang mengatakan, armada ride hailing bisa membantu mengurangi emisi gas rumah kaca di kota-kota besar. Selain itu juga diklaim menjaga lalu lintas tetap berjalan. Namun, pada kenyataannya tidaklah sesederhana itu.

Baca juga: Layanan Ride Hailing di Amerika Serikat Sumbang 69 Persen Emisi Karbon

Pasalnya, dari studi baru-baru ini menunjukkan bahwa ride hailing rata-rata kurang berpolusi hanya pada perjalanan tertentu. Bahkan keuntungan ini terjadi sepanjang hari oleh semua rute yang mereka lalui tanpa membayar pelanggan alias perjalanan tanpa penumpang.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman thestar.com.my (5/10/2021), menurut sebuah penelitian yang diterbitkan oleh American Chemical Society, bahkan armada kendaraan sewa pribadi yang sepenuhnya listrik tidak akan sepenuhnya mengurangi biaya tambahan yang dikenakan oleh mobil ride hailing kepada masyarakat, dibandingkan dengan mengendarai mobil pribadi.

Ini karena mereka mengemudi lebih lama daripada kendaraan lain, perjalanan dengan mobil ride hailing dapat mengurangi polusi udara yang terkait dengan apa yang disebut start dingin. Selain itu, mereka rata-rata lebih baru dan kurang berpolusi dibandingkan kendaraan penumpang konvensional.

Faktanya, rata-rata, perjalanan naik kendaraan dapat menghasilkan pengurangan 50-60 persen dalam biaya yang terkait dengan polusi udara lokal. Sayangnya, manfaat ini diimbangi oleh efek negatif dari waktu yang dihabiskan di antara tarif.

Di mana pengemudi bepergian tanpa penumpang hingga penjemputan berikutnya. Ini dapat mencapai hingga 40 persen dari total jarak tempuh setiap mobil. Hingga pada akhirnya, setiap perjalanan ride hailing dapat merugikan masyarakat sekitar 35 sen lebih dalam hal penanganan polusi daripada jika dilakukan dengan mobil pribadi.

Baca juga: Imbas Pandemi Bisnis Turun 100 Persen, Jeeny Tata Ulang Model Bisnis Ride Hailing di Arab Saudi

Untuk sampai pada kesimpulan ini, para peneliti mensimulasikan penggantian perjalanan kendaraan pribadi dengan layanan ride hailing di enam kota AS, termasuk Austin, Chicago, dan New York.

Cegah Kebisingan di Airbus A320, Lufthansa Beri Lubang Kecil di Bawah Sayap

Lufthansa bisa dibilang sebagai salah satu maskapai yang paling sering berinovasi demi keberlanjutan. Salah satu inovasinya adalah lubang kecil di bawah sayap pesawat Airbus A320. Ini disebut mampu mereduksi kebisingan mesin sampai dua desibel jelang mendarat. Tetapi, bagaimana itu berhasil?

Baca juga: Kejar Efisiensi, Seluruh Pesawat Lufthansa Bakal Dibalut Kulit Ikan Hiu

Dilansir Airlines.de, inovasi teknologi Lufthansa yang disebut generator vortex ini pertama kali diterpakan pada A320-200 maskapai pada Februari 2014. Ketika itu, pesawat yang teregistrasi sebagai D-AIUB ini tidak mendapat modifikasi signifikan kecuali lubang kecil di bawah sayap tersebut.

Disebutkan, inovasi meredam emisi suara atau kebisingan pada pesawat lewat lubang kecil di bawah sayap oleh Lufthansa adalah yang pertama di dunia. Saking begitu yakinnya dengan teknologi tersebut, Lufthansa meminta Airbus agar memodifikasi seluruh pesawat Airbus A320 Lufthansa di masa depan dengan teknologi ini.

Bila ditelisik lebih lanjut, sebetulnya, generator vortex dari tab logam di bawah sayap pesawat pengurang emisi suara ditemukan oleh Deutsches Zentrum für Luft- und Raumfahrt (Pusat Dirgantara Jerman). Usai temuan itu, Lufthansa, sebagai mitra lembaga tersebut, turut berpartisipasi dan membuktinya lewat pesawat mereka.

Hasilnya, terbukti, bahwa lubang kecil di bawah sayap ini mampu mengurangi emisi suara pesawat saat sedang landing approach. Jelang mendarat, kebisingan terjadi karena adanya udara yang berhembus ke tank pressure equalization. Sederhananya, ini sama seperti meniup botol kaca. Generator vortex yang dihasilkan dari tal logam tersebut berhasil menghentikan terjadinya hal itu.

“Konversi ini adalah bagian dari investasi kami dalam perlindungan kebisingan aktif dan akan membuat armada jarak pendek dan menengah kami lebih tenang di masa depan,” kata Kay Kratky, Direktur Passenger Lufthansa.

Sebelumnya, pada Mei tahun ini, Lufthansa mengumumkan seluruh pesawat Boeing 777F Cargo miliknya ke depan bakal dilapisi dengan teknologi kulit hiu. Itu dilakukan untuk membuat pesawat lebih irit bahan bakar. Guna memuluskan hajat itu, Lufthansa Cargo akan menggandeng entitas bisnis Lufthansa lainnya; Lufthansa Technik.

Mulai tahun depan, Lufthansa Cargo dan Lufthansa Technik akan berkolaborasi untuk menyelimuti armada Boeing 777F mereka dengan teknologi kulit ikan hiu. Kulit ikan hiu dinilai dapat mengurangi gesekan saat pesawat di udara.

Secara sederhana, berkurangnya gesekan sudah pasti akan membuat kinerja mesin menjadi lebih mudah dan pada akhirnya menghemat bahan bakar.

Baca juga: NASA Uji Coba Sayap Pesawat Canggih untuk Kurangi Kebisingan

Teknisnya sendiri, badan pesawat akan dilapisi dengan sejenis kaca film menyerupai kulit ikan hiu berukuran sekitar 50 mikrometer buatan AeroSHARK. Jadi, ini tidak menggunakan kulit ikan hiu asli, mengingat ikan hiu adalah predator tertinggi dalam rantai makanan di laut yang memegang peranan penting dan penjaga keseimbangan ekosistem laut.

Dengan teknologi laser, kaca film kulit ikan hiu ini akan menyatu dengan badan pesawat dan membuat permukaan lebih halus.

 

Coworking Space di Stasiun MRT Bundaran HI Resmi Dibuka dan Gratis Hingga 31 Desember

Akhirnya yang ditunggu dari MRT Jakarta kini bisa digunakan oleh masyarakat baik yang merupakan penumpang maupun bukan. Penasaran? Ya, ini adalah coworking space di Stasiun Bundaran Hotel Indonesia. Coworking space ini merupakan salah satu fasilitas bisnis milik MRT Jakarta yang baru saja diresmikan.

Baca juga: PPKM Level 3, Jumlah Penumpang Naik, MRT Jakarta Fase 2 CP203 Mulai Rekayasa Lalu Lintas

Direktur utama PT MRT Jakarta William Sabandar mengatakan, coworking space merupakan lifestyle business bagi masyarakat dan menjadi business space pertama di moda transportasi Indonesia. Dia mengatakan, untuk saat ini coworking space masih digratiskan hingga 31 Desember 2021 bagi penumpang atau masyarakat yang ingin mencoba bekerja serta memanfaatkan fasilitas tersebut dalam mobilitas mereka.

Sabandar mengatakan coworking space bernama MRT Business Space memiliki luas 8,1×7,6×3 meter dan menyediakan beberapa fasilitas seperti studio untuk live streaming serta podcast, ruang rapat, ruang untuk event, coworking space, serta layanan konsultasi untuk perizinan.

“Oleh karena itulah, coworking space ini dipandang dapat dimanfaatkan bagi pengguna MRT Jakarta yang ingin bekerja sebelum naik MRT atau untuk sekadar rapat secara virtual atau offline. Dari sisi kapasitasnya, MRT Business Space mampu menampung hingga 35 orang,“ ujar William yang dikutip KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber.

Hampir sama dengan coworking space lainnya, MRT Jakarta membukanya dari Senin hingga Minggu mulai pukul 09.00 sampai 18.00. Meski saat ini masih gratis, nantinya setelah masa itu habis, penggunaan coworking space akan dikenakan tarif berbayar mulai dari Rp50 ribu per jam untuk live box dan Rp250 ribu per jam untuk rapat.

MRT Business Space ini dikelola oleh vOffice sebagai penyedia layanan kantor bersama seperti virtual office dan “serviced office” di sejumlah negara. Ruangan ini juga dilengkapi dengan fasilitas koneksi internet nirkabel. Pemesanan MRT Business Space, masyarakat dapat langsung mengakses situs web https://voffice.co.id/.

Selain mengakses situs web https://voffice.co.id/, cara pemesanan MRT Business Space bisa dilakukan dengan memindai barcode QR yang ada di area pintu masuknya dengan ponsel pintar. Kemudian Anda akan dialihkan ke halaman pendaftaran dan bisa memilih menu non-anggota.

Baca juga: MRT Jakarta Uji Coba Bike Trolley Non Lipat di Stasiun Bundaran HI

Di halaman berikutnya, Anda akan diminta mengisi data diri serta fasilitas apa di MRT Business Space yang akan And agunakan. Setelah itu, Anda akan diarahkan ke menu pembayaran dan saat sudah mentransfernya, Anda tinggal memperlihatkan notifikasi pembayarannya kepada staf.






















“Si Belo Kuda Troya,” Prototipe Kereta Penumpang yang Dijadikan Kafe dan Museum di Madiun

Sebagai sentra pembuatan kereta api di Indonesia, PT Industri Kereta Api atau PT INKA, ternyata memiliki sebuah destinasi baru. Yang mana ada sebuah kereta kafe dan museum serta lokasinya di gedung milik PT INKA. Kafe dan museum ini dibuat dari kereta penumpang prototipe pertama PT INKA yang bernama Si Belo Kuda Troya.

Baca juga: Dorong Wisata Pasca Covid-19 , Museum Kereta di York Rilis Poster Bergaya Vintage

Adanya kafe dan museum di gedung bekas direksi PT INKA ini merupakan langkah awal dalam pengembangan pariwisata di wilayah Madiun. Senior Manager PKBL, CSR, dan Stakeholder Relationship PT INKA Bambang Ramadhiarto mengatakan, kereta museum tersebut akan berfungsi sebagai tempat belajar dan juga ada kafe serta restoran.

PT INKA punya kereta kafe dan museum untuk destinasi. Foto: Kompas.com

“Dalam kereta itu juga akan tersedia bioskop atau mini teater yang berisi film dokumneter atau video tentang sejarah perkeretaapian maupun ilmu perkeretaapian,” ujar Bambang yang dikutip KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber.

Kereta kafe dan museum ini dikatakan Bambang, bernama Arum Dalu. Dia mengatakan, konsep seperti ini tujuannya untuk meningkatkan masyarakat terhadap kereta api dan juga mengajak agar mereka bisa mengetahui sejarah perkeretaapian di Indonesia.

Selain itu, nantinya kereta kafe dan museum tersebut akan bersinergi dengan armada bus wisata milik Pemerintah Kota Madiun. Yang mana pelancong akan bisa mengunjungi lokasi itu sebagai destinasi wisata edukasi di Madiun.

“Jadi ini untuk masyarakat umum. Peresmiannya sudah dilakukan oleh Direktur Utama PT INKA (Persero) pada 29 Agustus 2021 sekaligus peringatan HUT INKA ke-40,” kata Bambang.

Namun, saat ini bus wisata belum beroperasi karena ada PPKM. Harga tiket masuk, makanan dan minuman Kafe yang ada di gedung PT INKA yang akan menjual beragam makanan dan minuman ringan. Rencananya, Bambang mengatakan kafe juga akan menyediakan makanan berat dan terkait harganya, mereka belum menentukan, tetapi untuk berkunjung ke museum, pelancong tidak perlu membayar alias gratis.

Baca juga: Museum Kereta Api Bondowoso, Saksi Sejarah Gerbong Maut Pengangkut 100 Pejuang Kemerdekaan

“Jam operasionalnya belum kami tentukan, mungkin dari pagi sampai malam. Tergantung level PPKM. Nanti akan dibicarakan lagi dengan pihak Pemkot Madiun kapan bisa dibuka,” pungkasnya.

Untuk diketahui, Si Belo Kuda Troya merupakan cukal bakal kereta penumpang produksi dalam negeri yang dibuat perseroan sekitar 1982.






















AirAsia Klaim Jadi Operator Airbus Pertama yang Gunakan TaxiBot, Benarkah?

AirAsia India mengklaim sebagai operator Airbus pertama di dunia yang menggunakan layanan TaxiBot untuk taxiing, lengkap dengan penumpang di dalamnya. Klaim ini sebetulnya agak aneh mengingat TaxiBot sudah beroperasi di Delhi International Airport (DIAL) atau Bandara Delhi sejak tahun 2019. Mungkinkah sejak di tahun tersebut, belum ada satupun pesawat Airbus yang dilayani TaxiBot?

Baca juga: Pertama di Dunia, Bandara Delhi Catat 1.000 Pergerakan TaxiBot! Hemat 214 Ribu Liter Avtur

Dalam keterangan resminya yang dikutip financialexpress.com, dukungan TaxiBot terhadap operasional AirAsia India merupakan bagian dari inisiatif digital dan keberlanjutan perusahaan melalui teknologi untuk melakukan berbagai hal, seperti memantau, memprediksi, dan memberikan efisiensi operasional.

Sebelum dilayani TaxiBot untuk taxiing, pesawat terlebih dahulu dimodifikasi untuk kemudahan operasi. Modifikasi dilakukan oleh tim teknik AirAsia India. Setelah selesai, hasil modifikasi disertifikasi terlebih dahulu dan baru diizinkan memulai layanan itu setelah dinyatakan aman.

“Kami dengan senang hati mengumumkan inisiasi operasi TaxiBot untuk meningkatkan operasi penerbangan yang berkelanjutan dan memanfaatkan teknologi untuk mendorong diferensiasi dan efisiensi operasional,” kata Sunil Bhaskaran, CEO AirAsia India.

“Merupakan momen yang membanggakan bagi AirAsia India untuk menjadi operator Airbus pertama di dunia yang memulai layanan TaxiBot dengan penumpang di dalamnya menggunakan armada Airbus yang dimodifikasi. Kami berharap dapat terus mengeksplorasi dan melakukan kemungkinan baru dan menginspirasi dalam penerbangan dan memimpin jalan ke depan,” lanjutnya.

Hanya saja, klaim AirAsia India ini tentu agak sedikit aneh. Sebab, sudah sejak tahun 2019 silam DIAL, lewat program green taxiing solution, mengoperasikan TaxiBot untuk taxiing.

Bahkan, pada Mei tahun ini, Bandara Delhi dan KSU Aviation, operator eksklusif TaxiBot di India, mengumumkan sudah mencetak 1.000 pergerakan TaxiBot dan berhasil mengurangi penggunaan bahan bakar jet atau Avtur hingga lebih dari 214 ribu liter, mengurangi lebih dari 532 ton emisi karbon dioksida.

Sudah begitu, produk teknologi dari Israel Aerospace Industries (IAI), BUMN aviasi Israel, tersebut bukan hanya digunakan di India, tetapi juga di banyak bandara di seluruh dunia.

Mengingat pesawat komersial di dunia pada umumnya didominasi pesawat-pesawat buatan Airbus (dan tentu saja Boeing), mungkinkah tak pernah satupun pesawat Airbus yang taxiing beserta penumpang di kabin dan menggunakan TaxiBot sebagai gantinya?

TaxiBot sendiri adalah towbarless tug semi-robotic yang digunakan untuk membantu pesawat pushback dan taxiing tanpa menyalakan mesin. Sebelum adanya TaxiBot, pesawat biasanya hanya dibantu pushback traktor untuk pushback dan taxiing dengan bantuan mesin. Ini dinilai boros bahan bakar.

Baca juga: Teknologi Aircraft Towing System Janjikan Penghematan Bahan Bakar dan Tekan Emisi C02!

Selain berdampak pada efisiensi bahan bakar dan mengurangi emisi karbon dioksida dari pesawat, penggunaan TaxiBot juga diklaim telah membantu secara signifikan mengurangi risiko kerusakan benda asing (FOD) pada mesin pesawat selama taxiing dan kebisingan di bandara.

Bagi ATC, TaxiBot membantu mengurangi traffic di apron dan pergerakan pesawat, baik untuk lepas landas maupun setelah mendarat dan menuju apron. Bagi pilot, penggunaan TaxiBot juga membantu mengurangi beban kinerja mereka walau hanya sejenak.