Empat Tahun Tutup, Kereta Tertinggi di Amerika Serikat Kembali Melaju di Rel

Lereng Gunung Colorado memiliki banyak pilihan aktivitas selain bermain ski, bersepeda dan mendaki berbagai puncak yang menghiasi negara tersebut. Salah satunya dengan menaiki The Broadmoor Manitou dan Pikes Peak Cog Railway di Manitou Springs untuk menikmati keindahan Corolado dari atas.

Baca juga: Cisomang, Serba-Serbi Jembatan Kereta Tertinggi di Indonesia

Kereta ini pertama kali dioperasikan tahun 1891 oleh penemu kasur Simmons Beautyrest Zalmon Simmons. Dia menemukan pengalaman mendaki hingga ketinggian 14.115 kaki atau 4302 meter dengan kereta api tertinggi di negara Amerika itu yang kemudian ditutup tahun 2017 menyusul evaluasi infrastruktur.

KabarPenumpang.com melansir cntraveler.com (27/5/2021), pada awal penutupannya itu tidak jelas apakah akan dihidupkan kembali atau tutup secara permanen. Namun karena The Pikes Peak Cog Railway memiliki warisan unik di mana ini adalah kereta api bergigi tertinggi pertama di dunia maka pada Mei 2021 mulai direncanakan kembali dibuka.

The Broadmoor Manitou dan Pikes Peak Cog Railway kembali dengan keadaan lebih baik dari sebelumnya setelah ada dana perbaikan sebesar $100 juta. Sebab dengan seratus juta dolar bisa memberi Anda banyak hal termasuk lelucon dari kondektur bahwa dia sekarang adalah bagian tertua dari kereta api karena setiap inci pengalaman, termasuk depot dan pusat pengunjung yang akan datang di puncak, dibangun kembali, ditingkatkan, atau diubah.

Depot utama mempertahankan estetika kota pertambangan abad ke-19 aslinya dengan lapisan cat biru cerah yang baru, tetapi peron kereta kedua, jalan setapak dan kamar mandi serta toko suvenir yang direnovasi sekarang menjadi bagian dari depot juga. Pada 2019, trek dicabut dari dari tanah dan disambungkan kembali dengan yang baru.

Sebelumnya, kereta berjalan pada dua rel roda gigi, sistem baru ini memiliki rel roda baja tunggal yang lebih tebal dari gabungan yang lebih lama, yang meningkatkan kinerja dan keamanan secara keseluruhan. Pada masa itu penumpang masih duduk di bangku kayu. Saat ini, empat kereta api yang telah diperbaharui dan tiga kereta api aluminium baru sepanjang 214 kaki yang dibeli dari Stadler tidak hanya dilengkapi dengan tempat duduk berlapis kain, mereka juga melaju ke Puncak Pikes tidak seperti sebelumnya.

Menjelang akhir perjalanannya ke atas, ketika tanjakan berada pada titik tertajamnya, kereta api merah yang semarak ini melaju dengan kecepatan hampir sepuluh mil per jam. Perjalanan ini dimaksudkan untuk memberikan jalan yang indah ke Fourteener. Perjalanan 70 menit ke Hutan Nasional Pike dan sampai ke puncak penuh dengan pemandangan yang luar biasa, dari batu kuarsa raksasa berusia ribuan tahun yang disebut granit Pikes Peak hingga kanopi cemara biru Colorado, pinus Ponderosa dan pohon Aspen; bahkan air terjun

Tak hanya itu, jika beruntung, Anda mungkin melihat satwa liar seperti domba bertanduk besar, rusa dan elang sesekali. Namun, ketika Anda melewati garis pohon, segalanya menjadi sangat dramatis sepertinya kereta sedang melaju di atas awan. Untuk perjalanan ini tiket pulang-pergi berharga $58, tetapi pertimbangkan untuk membayar biaya tambahan $10 sehingga Anda dapat memilih tempat duduk.

Bila memungkinkan, Anda akan menginginkan kursi A, yang mana ini adalah kursi dekat jendela di sisi kereta yang menghadap ke gunung dan menawarkan pemandangan yang luar biasa. Di puncak Pikes Peak, pemandangan 360 derajat memperlihatkan Taman Para Dewa yang berwarna karat di utara, kota pertambangan Cripple Creek dan benua yang membelah di barat, dan pegunungan Sangre de Cristo di selatan. Tergantung pada jarak pandang, Anda mungkin dapat melihat cakrawala Denver.

Baca juga: Chenab, Jadi Kondang Karena Ada Jembatan Kereta Tertinggi di Dunia

Saat ini, yang benar-benar dapat Anda lakukan di puncak adalah menikmati pemandangan dan mengambil beberapa foto spektakuler. Tapi pusat pengunjung baru, yang akan menampilkan pameran interaktif dan film yang merinci sejarah Pikes Peak, serta restoran, ritel dan teras, akan dibuka pada Juni 2021.

Garuda Indonesia Rugi Terus, Korean Air Bisa Kok Cetak Untung Rp3,2 Triliun!

Kinerja keuangan Garuda Indonesia terus memburuk. Setiap bulan, flag carrier atau maskapai nasional Indonesia itu terus membukukan kerugian sebesar Rp1 triliun. Perseroan mengklaim bahwa semua ini terjadi akibat pandemi virus Corona yang menekan permintaan.

Baca juga: Bila Garuda Indonesia Sampai Dipailitkan, Berkaca dari Kasus Sabena dan Swissair

Dalih tersebut tentu saja sesuai fakta. Namun, tak sepenuhnya benar untuk terus dijadikan kambing hitam. Buktinya, ada beberapa maskapai di dunia yang mencetak keuntungan besar. Korean Air dan Asiana Airlines adalah dua di antaranya.

Melihat laporan keuangan perusahaan, Garuda Indonesia sebenarnya berhasil membukukan keuntungan sebesar US$6,98 juta atau Rp99,11 miliar (kurs Rp14.200 per dolar AS) pada 2019. Namun, keuangannya langsung tertekan pada 2020 atau saat pandemi melanda dunia termasuk Indonesia.

Garuda Indonesia menderita kerugian hingga US$1,07 miliar atau Rp24,29 triliun (kurs 14.296) pada kuartal III 2020. Angkanya berbanding terbalik dibandingkan dengan posisi kuartal III 2019 yang membukukan laba bersih sebesar US$122,42 juta atau Rp1,73 triliun.

Pendapatan perusahaan jeblok dari US$3,54 miliar (Rp50,26 triliun) menjadi US$1,13 miliar (Rp16,04 triliun). Rinciannya, pendapatan dari penerbangan tidak berjadwal sebesar US$46,92 juta (Rp666,26 miliar) dan penerbangan berjadwal US$917,28 juta (Rp13,02 triliun).

Bulan Mei lalu, dari rekaman meeting internal yang bocor ke media, posisi utang Garuda Indonesia diungkap Direktur Utamanya, Irfan Setiaputra, berada di posisi Rp70 triliun. Setiap bulan, Garuda rugi hingga US$100 juta atau sekitar Rp1 triliun.

Tak ayal, di tengah sulitnya kondisi keuangan, program pensiun dini pun digalakkan. Mirisnya, bagi mereka yang memutuskan bertahan, tidak akan digaji karena keterbatasan uang cash. Sulit sekali.

Sebagai maskapai nasional, kondisi Garuda Indonesia sangat jauh berbeda dibanding maskapai nasional di negara lain. Ambil contoh Korea Selatan. Sejak tahun lalu, flag carrier mereka, Korean Air, terbukti mampu mencetak keuntungan bersih. Bahkan, pada kuartal I 2021 pun, maskapai juga berhasil membukukan keuntungan bersih nyaris Rp1 triliun.

Korean Air sempat mengalami kerugian pada kuartal I 2020. Namun, pada kuartal II, maskapai berhasil mencetak untung besar mencapai US$125,2 juta atau sekitar Rp3,1 triliun (kurs 14.296). Keuntungan tersebut didapat dari operasional kargo yang sangat tinggi, menutupi penerbangan penumpang yang jauh menukik.

Maskapai itu tidak sendiri. Di kuartal II, setidaknya ada tiga maskapai lain yang juga mencatat keuntungan. Tiga itu, Asiana Airlines, China Airlines, dan Eva Air.

Di kuartal III 2020, Korean Air kembali membukukan rugi bersih sebesar 385,93 miliar won atau setara US$342 juta (Rp4,8 triliun). Di kuartal IV 2020, perusahaan kembali mencetak keuntungan. Secara keseluruhan, Korean Air mencetak laba US$212 juta atau sekitar Rp3 triliun (kurs 14.296).

Baca juga: Indonesia Tanpa Flag Carrier? Puluhan Negara Ini Tak Punya Maskapai Nasional, Termasuk AS!

Tak hanya itu, tren positif maskapai juga berlanjut di kuartal I 2021. Kantor Berita Yonhap melaporkan, maskapai tercatat membukukan keuntungan US$68,3 juta atau sekitar Rp975 miliar. Sama seperti sebelum-sebelumnya, maskapai membukukan keuntungan berkat memaksimalkan penerbangan kargo.

Antara Indonesia dan Korea Selatan tentu berbeda. Penerbangan kargo Korean Air tertolong dengan posisi Korea Selatan sebagai salah satu pemasok peralatan dan perlengkapan medis serta ekspor barang lainnya. Tetapi, lemah di domestik. Sedangkan Indonesia sebaliknya.

Air Serbia Operasikan Boeing 737-300 Selama 36 Tahun, Bagaimana Bisa?

Sebuah maskapai jarang sekali bertahan untuk mengoperasikan satu jenis pesawat selama puluhan tahun. Mengoperasikan pesawat tua yang sudah puluhan tahun mungkin cukup banyak, tetapi, mengoperasikan pesawat baru sampai puluhan tahun sangat jarang sekali dan itu terjadi pada Leisure Airlines, Avilet.

Baca juga: Boeing 737 Generasi Pertama vs Seri Klasik, Apa Perbedaannya?

Meski saat ini anak perusahaan dari maskapai nasional Serbia, Air Serbia, itu sudah mempensiunkan seluruh Boeing 737-300, namun, tetap saja, begitu banyak cerita sampai maskapai mengoperasikan pesawat tersebut.

Dilansir Simple Flying, sebelum bernama Air Serbia, maskapai tersebut dikenal sebagai JAT Yugoslav Airlines. Maskapai nasional Yugoslavia itu merupakan operator pertama di Eropa yang mengoperasikan Boeing 737-300.

Selain JAT Yugoslav Airlines, ada beberapa maskapai pendahulu Air Serbia yang juga mengoperasikan pesawat tersebut, yaitu Jat Airways, JAT Jugoslovenski Aerotransport, dan tentu saja Aviolet.

Sepanjang sejarah JAT Yugoslav Airlines berdiri, Boeing sebetulnya sangat asing bagi maskapai. Ketika itu, pesawat-pesawat Eropa dan Soviet lebih lumrah digunakan ketimbang buatan AS. Barulah pada dekade 80an, pesawat-pesawat Boeing mulai menghiasi maskapai. Tercatat, hanya 10 pesawat Boeing yang dioperasikan JAT dan seluruhnya ialah Boeing 737-300.

Dari 10 pesawat tersebut, memang tidak semua pesawat dioperasikan selama 36 tahun. Disebutkan, hanya ada dua pesawat yang dioperasikan sampai selama itu; pesawat dengan nomor registrasi YU-ANI, yang mengoperasikan penerbangan terakhirnya dari Stockholm ke Beograd pada 17 Januari 2021 dan YU-ANK yang terakhir terbang dari Frankfurt ke Beograd pada 8 Februari 2021.

Adapun delapan lainnya pensiun di usia yang cukup beragam. Boeing 737-300 dengan nomor registrasi YU-ANV, misalnya, dikirim ke JAT Yugoslavia Airlines pada Maret 1988 dan dipensiunkan Aviolet pada April 2014 di umur 26 tahun.

Begitu juga dengan YU-AON, sempat dikirim ke Transbrasil Brasil pada tahun 1988, pesawat itu kemudian dikirim ke JAT Yugoslav Airlines pada tahun 2002 dan ditarik penggunannya pada tahun 2014 di umur 26 tahun.

Kendati demikian, sebetulnya, dua dari 10 pesawat Boeing 737-300 Air Serbia atau JAT Yugoslavia Airlines tidak benar-benar beroperasi penuh selama 36 tahun.

Antara Juni 1992 dan November 1995, Yugoslavia berada di bawah sanksi internasional akibat meletusnya perang Balkan. Akibatnya, JAT Yugoslavia Airlines tidak diizinkan terbang mengoperasikan rute internasional selama waktu tersebut.

Tak cukup sampai di situ, dua pesawat lainnya juga disita selama sanksi internasional diberlakukan. Ketika itu, Boeing 737-300 dengan nomor registrasi YU-ANI disita di Istanbul, Turki pada tahun 1992. Di sana, pesawat tertahan selama delapan tahun lamanya. Padahal, tak lama setelah ditangkap, Yugoslavia sudah resmi bubar.

Baca juga: Boeing 737 Sabet Predikat Sebagai Pesawat Terlaris Sepanjang Sejarah Aviasi Global

Pesawat lainnya yang diregistrasi sebagai YU-ANH disita di Dublin pada tanggal 9 Juni 1993. Setelahnya, pesawat disewakan ke Bosphorus Airways sebagai bagian dari program pemeliharaan pesawat.

Terkait pertanyaan di awal, mengapa bisa Air Serbia mengoperasikan Boeing 737-300 selama itu? Memang tak ada jawaban pasti atas hal ini. Tetapi, besar kemungkinan, ini disebabkan oleh sederet sanksi oleh PBB kepada Yugoslavia yang membuat maskapai tak bisa membeli pesawat baru.

Penumpang Internasional Masih Loyo di Asia-Pasifik, Lambannya Vaksinasi Jadi Penyebab

Penutupan perbatasan, pembatasan perjalanan, dan lockdown nasional di sejumlah negara di Asia-Pasifik terus menekan penerbangan internasional di kawasan. Terbaru, data dari Association of Asia-Pacific Airlines (AAPA) menunjukkan, jumlah penumpang internasional masih sebesar 3,6 persen dibanding periode yang sama tahun 2019.

Baca juga: Seakan Mati Suri, Akankah Era Perjalanan Backpacker Berakhir Karena Pandemi?

Sebetulnya, penumpang internasional pada April 2021 sudah jauh meningkat dibanding April 2020. Catatan AAPA, sepanjang April 2021, ada sekitar 1.126.000 penumpang internasional yang diangkut maskapai se-Asia-Pasifik. Jauh berbanding terbalik dari kondisi pada April 2020 yang hanya sebesar 367.000 penumpang internasional.

Kendati demikian, angka di kedua tahun tersebut masih jauh dibanding April 2019, di mana angkanya mencapai 31.185.000 penumpang.

Direktur Jenderal AAPA, Subhas Menon, mengungkapkan, ada beberapa faktor penyebab masih rendahnya jumlah penumpang internasional. Salah satunya ialah lambannya vaksinasi di negara-negara Asia-Pasifik.

“Munculnya varian (Covid-19) baru dengan tingkat penularan yang lebih tinggi telah menghalangi ekonomi Asia untuk membuka kembali perbatasan mereka, dengan persyaratan karantina yang ketat semakin menekan permintaan perjalanan internasional,” jelasnya.

“Di Asia, kecepatan vaksinasi yang relatif lambat terus merusak pemulihan ekonomi kawasan, khususnya, sektor perjalanan dan pariwisata yang sangat terpukul,” tambahnya, seperti dikutip dari Simple Flying.

Kehadiran travel corridor antar dua negara sempat meningkatkan asa perjalanan internasional, seperti antara Singapura-Hong Kong serta perjalanan tanpa karantina mandiri antara Selandia Baru-Australia. Kendati demikian, fakta di lapangan berkata lain. Permintaan tetap rendah sekalipun maskapai sudah bersiap kemungkinan lonjakan penumpang.

Menon menyebut, vaksinasi dan kolaborasi antar lembaga berwenang menjadi kunci keberhasilan penerbangan di sebuah negara dan kawasan untuk bisa bangkit. Lebih dari itu, ia menekankan, industri penerbangan harus tetap hidup dan mengambil hikmah dari pandemi Corona agar terus tumbuh dan semakin kuat.

“Mempercepat program vaksinasi akan menjadi kunci untuk membuka jalan bagi dimulainya kembali industri perjalanan. Namun, pemerintah masih menghadapi banyak tantangan, termasuk kendala pasokan dan masalah logistik,” ujarnya.

Baca juga: Terdampak Shutdown Nasional, Penumpang Delta Air Lines ‘Loloskan’ Senpi di Penerbangan Internasional

“Kolaborasi berbagai pemangku kepentingan seperti pemerintah, maskapai penerbangan, bandara dan penyedia layanan, serta penerapan langkah-langkah berbasis risiko yang selaras sesuai dengan pedoman ICAO dan WHO, akan diperlukan untuk memulai kembali perjalanan udara internasional secara cerdas, aman, dan berkelanjutan,” tuturnya.

Selain itu, ia juga menyoroti diwajibkannya paspor vaksinasi Covid-19 sebagai syarat perjalanan internasional. Hal itu dinilai merupakan bentuk diskriminasi terhadap penumpang yang negaranya lamban melakukan vaksinasi. Pada akhirnya itu hanya membuat angka perjalanan internasional terus melambat.

Pahami Kerinduan Penumpang, KAI Hadirkan “Live Cooking” di KA Argo Bromo Anggrek

Sembilan tahun lalu atau tepatnya pada tahun 2012 penumpang kereta api jarak jauh atau KAJJ tak lagi menemukan makanan yang dimasak secara langsung di dalam kereta api yang tengah mengular di lintasan. Maka untuk mengobati kerinduan itu, PT Kereta Api Indonesia (KAI) melalui anak perusahaannya yakni KAI Service menghadirkan kembali makanan yang dimasak secara langsung di kereta api tepatnya di KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir ke Surabaya Pasar Turi.

Baca juga: Ini Loh Menu Andalan Lain di Dalam Kereta Api Selain Nasi Goreng dan Popso

Humas KAI Service Yan Wahid Prasetyo mengatakan, kehadiran live cooking ini sejak 1 Juni 2021 kemarin, bertepatan dengan hari lahir Pancasila. Yan menyebutkan menu yang dimasak secara langsung pada perjalanan kereta api adalah Nasi Goreng Parahyangan Legend, Nasi Rames Ayam Serundeng, Selat Solo dan Bakmi Godog Jawa.

Makanan yang dimasak langsung di KA Argo Bromo ANggrek (Twitter @Argo_Gede)

“Kami memahami keinginan konsumen yang rindu akan kehangatan masakan KA yang baru diangkat dari tungku/kompor; di mana penumpang KA tidak hanya ingin menikmati makanan selama perjalanan KA, tetapi juga menyaksikan proses memasak dan menghirup wanginya aroma bumbu dan bahan makanan bersatu di dalam wajan.,” ujarnya ketika dihubungi KabarPenumpang.com, Kamis (3/6/2021).

Dia menambahkan, nantinya live cooking akan terus ada dalam perjalanan KA Bromo Anggrek dan untuk kereta lainnya akan dihadirkan setelah evaluasi. Selain itu Yan mengatakan, untuk makanan yang bersifat frozen dan makanan fresh yang siap dihangatkan tetap ada dan sifatnya support.

VP Humas PT KAI Joni Martinus mengatakan, adanya live cooking di KA Argo Bromo Anggrek karena bertepatan dengan moment peningkatan pelayanan yang berupa percepatan waktu tempuh dari Gambir menuju ke Surabaya Pasar Turi yang tadinya delapan jam 44 menit menjadi delapan jam 30 menit.

Kehadiran makanan yang dimasak langsung pun banyak masyarakat yang mengatakan akan kerinduannya. Salah satu penumpang mengatakan, dirinya rindu dengan nasi goreng dengan telor ceplok dan yang lainnya rindu steak yang dimasak langsung dan di sajikan ke penumpang.

Meski begitu beberapa penumpang ada juga yang memilih makanan yang dipanaskan ataupun membeli mie cup untuk perjalanan mereka. Kehadiran live cooking ini nantinya juga tak hanya diharapkan di KAJJ lainnya tetapi juga di kelas lainnya baik itu ekonomi atau pun bisnis.

Baca juga: Kereta Api Punya Menu Makanan Baru dan Dapur Sentralnya Ternyata Ada di Yogyakarta

Kalau mengingat beberapa negara yang menghadirkan live cooking, ada yang pernah mengalami kebakaran karena kebocoran gas. Bahkan beberapa negara baik di Asia atau Eropa, lebih banyak yang menggunakan frozen food atau makanan fresh dihangatkan untuk meminimalisir kebakaran dan faktor kebersihan makanan yang lebih terjaga.

Duh, Pilot Nonton Video Porno-Tunjukkan Alat Kelamin ke Kopilot Wanita Saat Terbang!

Entah apa yang merasuki kapten pilot Southwest Airlines, Michael Haak. Beberapa saat setelah lepas landas, tepatnya saat pesawat cruising, tiba-tiba ia menanggalkan pakaian dan menunjukkan alat kelaminnya ke kopilot wanita yang baru kali itu terbang bersama, sambil menonton video porno di laptop kokpit.

Baca juga: Bikin Video Porno di Kereta, Petugas Perempuan Ini Telah Dipecat!

Meski tak sampai berbuat lebih dari itu, Haak tetap diadili dan baru-baru ini dijatuhi hukuman percobaan satu tahun dan denda US$5.000 oleh Kejaksaan AS Distrik Maryland.

Dilansir CNN International, kronologi pilot Southwest Airlines menonton video porno saat masih dalam penerbangan bermula dari guyonan dengan sang kopilot. Tak disebutkan dengan jelas kapan guyonan tersebut terjadi dan candaan apa yang dimaksud, mengingat sang kopilot belum pernah ia temui sebelum penerbangan pada 10 Agustus 2020 tersebut.

Setelah pesawat rute Philadelphia-Orlando itu mengudara, dalam dakwaan jaksa penuntut umum, pilot berusia 60 tahun ini langsung menanggalkan pakaiannya dan menunjukkan alat kelaminnya ke kopilot wanita sambil menonton video porno di laptop kokpit. Sang kopilot yang terkejut tidak menggubris hal itu dan terus menjalankan tugas-tugas penerbangan.

Insiden itu pun kemudian viral dan Michael Haak langsung mengundurkan diri dari maskapai. Anehnya, maskapai tak pernah mengetahui insiden itu karena tak ada laporan sama sekali dari kopilot. Pihak maskapai baru mengetahui kejadian itu setelah Haak mengajukan pengunduran diri. Besar kemungkinan, dalam surat pengunduran diri itu tertuang alasan Haak terkait insiden tersebut.

“Dalam situasi khusus ini, Southwest baru mengetahui insiden tersebut setelah Haak secara sukarela mengundurkan diri dari Southwest Airlines,” kata maskapai.

Kendati demikian, pihak maskapai tetap menghukum Haak dengan cara memangkas tunjangan yang masih tersisa selama mengabdikan diri di perusahaan. Tak sampai di situ, insiden tersebut juga diproses secara hukum.

Asisten Jaksa AS Michael Cunningham menyatakan, Haak sudah berbuat tidak pantas selama pesawat mengudara.

Pengacara Haak, Michael Salnick, menyatakan kliennya itu tidak membuat pembelaan dan mengaku bersalah. Meski begitu, lanjutnya, Haak, yang juga mantan pilot Angkatan Udara AS, pantas mendapat keringanan hukuman karena telah berdedikasi tinggi kepada negara, melayani negara, dan berperilaku baik.

Baca juga: Terobsesi Tayangan Video Porno, Penumpang Ini Bugil dan Lecehkan Pramugari di Kabin

Hukuman sosial yang diterima Haak atas viralnya insiden ini juga menjadi alasan lain mengapa Haak berhak menerima keringanan hukuman.

“Rasa malu yang disebabkan terpublikasinya insiden ini sudah memberikan pukulan kepada Haak dan menjadi hukumannya,” pungkas Salnick.

Selain Antonov An-225 Mriya, Ilyushin Il-62 Pernah Jadi Pesawat Terbesar di Dunia Buatan Soviet

Antonov An-225 Mriya sudah pasti menjadi pesawat terbesar di dunia buatan Uni Sovet atau Rusia paling dikenal oleh avgeek. Padahal, dibalik itu ada lagi pesawat terbesar di dunia buatan Soviet, kendati berada di kelas yang berbeda. Itu adalah Ilyushin Il-62.

Baca juga: Inilah Daftar Pesawat Buatan Uni Soviet dan Rusia Terlaris

Di masanya, atau paling tidak ketika diluncurkan, pesawat tersebut didapuk menjadi pesawat jet terbesar di dunia.

Pesawat dengan panjang 53 meter ini mampu mengangkut hingga 165 penumpang dalam sekali jalan. Itu memang tak mengangkut lebih banyak penumpang dibanding Boeing 707 (183 penumpang) yang sudah meluncur lebih dahulu, tetapi, dari panjang pesawat Il-62 menjadi tak ada yang mampu menandinginya.

Dikutip dari Simple Flying, Ilyushin Il-62 pertama kali terbang pada Januari 1963. Itu terjadi setelah melalui proses pengembangan tak terlalu panjang mulai Februari 1960. Ketika itu, pengembangan pesawat jet empat mesin sedang gencar-gencarnya usai kemunculan pesawat jet komersial pertama di dunia, De Havilland Comet.

Namun Ilyushin Il-62 berbeda. Pesawat ini mampu terbang sejauh 4.500 km saat terisi penuh dan 6.700 km saat diisi oleh sekitar 100 penumpang, didukung oleh empat mesin jet lokal, Kuznetsov NK-8-4. Ilyushin kemudian mengganti mesin tersebut menjadi Soloviev D-30KU yang lebih senyap dan tentu saja buatan lokal.

Akan tetapi, bukan range, empat mesin, mesin yang lebih halus, dan kapasitas penumpang yang menjadi pembeda pesawat jet terbesar di dunia tersebut dibanding pesawat kompetitor, melainkan peletakan mesinnya yang unik.

Mesin Ilyushin Il-62 terletak di bagian belakang badan pesawat layaknya pesawat trijet. Hanya saja, bila pesawat trijet seperti Boeing 727, Yakolev Yak-42, dan berbagai pesawat lainnya, satu di kanan dan kiri belakang badan pesawat dan satu lainnya di horizontal stabilizer, Ilyushin Il-62 meletakkan kedua mesinnya di bagian kanan dan kiri bagian belakang pesawat.

Tak cukup sampai di situ, mesin juga dibungkus oleh nacelle sambung atau nacelle ganda. Ini sebetulnya bukan barang baru mengingat De Havilland Comet sudah mengaplikasikannya lebih dahulu.

Tetapi, pada poin peletakan mesin di bagian belakang badan pesawat sangat jarang pada saat ini. Kompetitor, seperti Boeing 707 dan Douglas DC-8. Menariknya, kompetitor asal Inggris, Vickers VC10, justru menerapkan konsep peletakan mesin yang sama dengan Ilyushin Il-62. Sampai di sini, sempat adanya gonjang-ganjing kemungkinan sadur-menyadur satu sama lain.

Meski demikian tak ada temuan apapun terkait spionase dan sejenisnya. Dengan kata lain, masing-masing memiliki konsep tersendiri sekalipun mirip-mirip. Lagipula, Vickers VC10 tidak menggunakan nacelle ganda sebagaimana Il-62.

Baca juga: Tupolev “Concordski” T-114 – Jiplakan Concorde Yang Kalah Digdaya

Sejak terbang perdana, Il-62 baru memasuki tahun layanan empat tahun setengah setelahnya, yaitu pada September 1967. Ketika itu, Aeroflot mengoperasikan pesawat untuk rute Moskow – Montréal. Enam tahun kemudian, varian Il-62M dengan berbagai peningkatan berhasil memasuki layanan komersial.

Saat ini, pesawat jet terbesar di dunia itu, dari 292 yang diproduksi, 10 di antaranya masih aktif beroperasi bersama Rada Airlines, maskapai nasional Korea Utara Air Koryo, Unit Penerbangan ke-223 Angkatan Udara Rusia.

Dari Insiden KMP Ihan Batak, Inilah Peran Penting “Ramp Door” di Kapal Ferry

Kapal Motor Penumpang Ihan Batak baru saja mengalami insiden di mana ramp door atau pintu rampanya putus ketika tengah bersandar di Pelabuhan Ambarita, Samosir, Sumatera Utara. Pintu rampa ini putus karena angin kencang dan menggeser kapal ketika mobil tengah mmenyeberang ke dermaga dari kapal.

Baca juga: KMP Ihan Batak, Kapal Ferry Ro-Ro Mewah di Danau Toba

Nah, sebenarnya pintu rampa ini apa dan bagaimana cara kerjanya di kapal ferry? Ramp door merupakan suatu konstruksi pintu rampa pada kapal yang berfungsi sebagai jembatan penghubung antara kapal dengan dermaga sehingga bisa digunakan untuk akses keluar masuknya kendaraan ataupun muatan yang akan diangkut oleh kapal.

KabarPenumpang.com merangkum beberapa laman sumber, pintu rampa ada dua jenis yakni yang bisa dilipat dan yang tidak bisa dilipat. Selain itu juga ada dua jenis sistem penggeraknya adalah sistem hidrolik dan wire rope. Setiap pintu rampa, harus dibuat dengan bahan yang kedap air laut agar aman ketika digunakan untuk pelarayan laut terbuka.

Strukturnya dibuat sangat kuat agar mampu menahan beban kendaraan yang melintasinya. Selain itu setiap pintu rampa harus aerodinamis agar saat kapal berlayar bisa menghambat angin atau udara serendah mungkin. Ada beberapa komponen yang terdiri pada ramp door yakni salah satunya adalah pintu rampa itu sendiri dan memiliki beberapa jenis seperti quarter ramp door, side ramp door, slewing ramp door, stern ramp doo dan bow ramp door.

Kemudian ada wire rope yang adalah baja dan dibuat dari pilinan beberapa wire untuk dibentuk menjadi strand untuk membentuk wire rope. Ada pula motor penggerak, ini gunanya untuk menggerakkan pintu rampa sehingga dapat menutup atau membuka. Motor penggerak ini dihubungkan dengan wire roop, ketika wire roop digulung maka pintu rampa akan terangkat.

Ramp door bisa dilipat (pengadaanbarang.co.id)

Ada dua jenis motor penggerak yang umum digunakan, yaitu motor listrik AC dan motor sistem hidrolik yang penggunaannya berdasarkan beban muatan yang diterima oleh ramp door. Biasanya pemasangan dan perbaikan sistem hidrolik lebih rumit dibandingkan motor listrik AC.

Hal ini dikarenakan pada sistem hidrolik terdapat fluida sebagai mekanisme untuk menggerakaannya. Inilah yang membuat, sistem hidrolik pada motor penggerak memerlukan perawatan yang ekstra untuk mencegah terjadinya kerusakan. Ramp dor juga harus dilengkapi dengan rantai.

Bahkan bisa dikatakan rantai merupakan komponen penting dari ramp door yang digunakan saat pintu rampa sedang diturunkan. Rantai ini berfungsi untuk mencegah atau menahan ramp door ketika penumpang atau muatan keluar masuk kapal. Rantai ramp door harus memiliki kualitas yang baik dengan kekuatan minimum 27 ton.

Terakhir adalah winch yang sebenarnya merupakan alat yang digunakan untuk menarik rantai jangkar pada saat kapal berlabuh. Namun seiring perkembangannya digunakan pada tambat kapal ataupun tali baja untuk pintu rampa. Winch ditempatkan di bagian depan atau belakang kapal, adapula yang ditempatkan di kedua sisi samping kamar kemudi.

Baca juga: KMP Kaldera Toba Lengkapi Transportasi Destinasi Pariwisata Super Prioritas

Pada umumnya winch digunakan pada kapal-kapal ikan dan kapal ferry pada skala industri. Winch ini berfungsi untuk menahan tali pada saat operasi towing. Winch ii bekerja dengan menarik pintu rampa menggunakan tenaga penggerak berupa tenaga hidrolik ataupun motor listrik.

Kisah Pilu Pramugari Emirates Gegara Corona, Jualan Sabun Demi Sambung Hidup

Begitu banyak cerita pilu yang dialami pilot dan pramugari-pramugara akibat pandemi Covid-19. Sebab, sepinya penerbangan membuat mereka di-PHK dan terus terkatung-katung selama setahun lebih. Padahal, hidup tetap harus berjalan dan tak bisa menunggu kondisi membaik untuk kembali bekerja sebagai kru pesawat.

Baca juga: Sederet Bintang K-Pop Ini ‘Banting Setir’ jadi Pramugari dan Pramugara

Selagi masih aktif terbang sebagai kru pesawat, tentu tak ada yang menyangka kondisinya jauh berbalik seperti sekarang ini. Salah satunya Rochelle Sañano-Cabardo. Pramugari Emirates asal Filipina itu selama 12 tahun lamanya amat menikmati hari-harinya sebagai kru kabin tanpa pernah sekalipun berpikir kehilangan pekerjaan dengan cara yang sangat miris.

Rochelle, sebagaimana pramugari Emirates lainnya atau mungkin maskapai lainnya, menjadi salah satu yang terkena PHK massal.

Dilansir Aerotime Aero, sejak Juli 2020, Rochelle resmi menganggur dan terpaksa kembali ke negara asal. Setelah itu, pramugari 38 tahun ini masih tidak percaya terhadap apa yang ia terima. Ia takut keluarga dan anak-anaknya tak bisa makan. Selama sebulan lamanya, ia sampai tak bisa berbuat apa-apa. Ia tak bisa berpikir jernih untuk melanjutkan hidup dan sangat depresi.

Di bulan berikutnya, ia mulai berkomunikasi dengan ibunya dan disarankan agar mengikuti kursus atau magang. Apapun itu. Sampai akhirnya ia banting setir dan mendapat inspirasi untuk berjualan sabun, mulai dari sabun mandi, sabun cuci, sabun cuci tangan, sabun cuci piring, dan lainnya.

Kendati demikian, eks pramugari Emirates yang dahulu bekerja di Boeing 777, Airbus A340, Airbus A330 serta Airbus A380 itu tentu saja kesulitan menjual barang dagangannya.

Berbekal pengalamannya dalam menangani pelanggan selama 12 tahun menjadi pramugari Emirates, ia pun memutar otak dan mulai menciptakan brand sendiri. Pelan tapi pasti, bisnis yang dijalaninya sejak Agustus 2020 itu mulai membuahkan hasil.

Saat ini, pramugari yang sudah bergabung dengan Emirates sejak umur 25 tahun itu, setiap harinya mengirim sekitar 30 liter sabun per hari per pelanggan. Terbayang bukan berapa omzetnya?

Selain menjual sabun, Rochelle juga sebisa mungkin turut berkontribusi dalam upaya mengurangi limbah plastik dan lebih ramah lingkungan. Karenanya, ia meminta kepada para pelanggannya agar kemasan sabun yang sudah dibeli agar dibawa kembali ketika melakukan pembelian sabun.

Baca juga: Viral! Mantan Pilot Kerja Serabutan Jadi Tukang Antar Paket dan Kuli Bangunan Usai Dipecat

Kendati sudah sukses berkarir sebagai pengusaha sabun, bekas pramugari Emirates ini tetap berharap suatu hari nanti ia tetap bisa kembali ke langit. Menurutnya, profesi pramugari bukan hanya soal mendapatkan uang melainkan sudah menjadi passion dan gaya hidupnya.

“Jika saya diberi kesempatan, saya ingin terbang lagi karena, bagi saya, itu bukan hanya pekerjaan, itu adalah hasrat saya. Anda tidak pernah tahu apa yang akan terjadi besok, jadi Anda harus menikmati apa yang Anda miliki saat ini. Syukuri apa yang kamu miliki saat ini dan tetap tabah,” pungkasnya.

Bila Garuda Indonesia Sampai Dipailitkan, Berkaca dari Kasus Sabena dan Swissair

Kementerian BUMN tengah mengkaji empat opsi penyelamatan maskapai nasional Garuda Indonesia. Salah satunya ialah melalui restrukturisasi dan di saat bersamaan mendirikan perusahaan maskapai penerbangan baru. Maskapai ini nantinya akan mengambil alih rute-rute dan aset Garuda Indonesia lainnya.

Baca juga: Indonesia Tanpa Flag Carrier? Puluhan Negara Ini Tak Punya Maskapai Nasional, Termasuk AS!

Opsi tersebut tentu bukan hal baru. Di dunia, setidaknya ada beberapa maskapai yang melalui proses tersebut, dua di antaranya ialah Sabena, maskapai nasional Belgia, dan Swissair, maskapai nasional Swiss.

Di luar itu, sebetulnya ada lagi maskapai lain, yaitu Olympic Airways maskapai nasional Yunani, yang juga sudah dibangkrutkan dan didirikan maskapai baru, Olympic Airlines. Namun, agar lebih fokus, redaksi fokus pada Sabena dan Swissair saja.

Dikutip dari airportspotting.com, Sabena atau Societé Anonyme Belge d’Exploitation de la Navigation Aérienne merupakan maskapai nasional Belgia yang didirikan pada tahun 1923. Sama halnya seperti Garuda Indonesia, Sabena sangat prestisius dan bersejarah dalam kapasitasnya sebagai maskapai penerbangan nasional.

Dari segi kelahirannya, Sabena berdiri juga berkat urunan warga Belgia di Kongo Belgia, negara koloni Belgia yang ketika itu tertutup dari dunia luar karena tidak mempunyai akses penerbangan; mirip-mirip seperti sejarah berdirinya Garuda Indonesia Airways, bukan?

Tak cukup sampai di situ, Sabena Airlines juga melalui masa-masa sulit dan berjuang bersama dengan rakyat Belgia. Pada tahun 1940, Belgia diserbu Jerman dan seluruh pesawat Sabena Airlines hancur. Usai bantuan dari sekutu datang dan Jerman terusir, Sabena membantu pengiriman logistik lewat sisa armada yang disimpan apik di Kongo Belgia.

Habis gelap terbitlah terang, sejak Perang Dunia II berakhir, Sabena Airlines mulai aktif kembali terbang dan bisnisnya terus membesar.

Tetapi, dunia berputar, Sabena Airlines mengalami masa-masa sulit kembali di dekade 90an dan merger dengan Swissair, maskapai nasional Swiss yang didirikan pada tahun 1931, dengan kepemilikan saham sebesar 49,5 persen. Sabena tetap menjadi pemegang saham mayoritas.

Alih-alih menjadi sehat oleh aksi korporasi ini, justru itu menjadi awal dari petaka berujung bangkrutnya Sabena Airlines, termasuk juga Swissair.

Pada 7 November 2001, Sabena Airlines melakukan penerbangan terakhir dan setelah itu dinyatakan bangkrut. Kebangkrutan Sabena ketika itu disebut akibat Swissair gagal memenuhi kewajiban kontrak karena kesulitan keuangan.

Swissair, yang menjadi penyebab Sabena Airlines bangkrut, juga ikut mengalami kebangkrutan beberapa bulan setelahnya, yaitu pada 31 Maret 2002. Layaknya, Sabena, Swissair juga memiliki nilai sejarah tinggi bersama rakyat Swiss.

Akan tetapi, nyatanya, karena satu dan lain hal, Sabena Airlines dan Swissair dibangkrutkan. Pertentangan tentu terjadi. Namun, itu bisa dijawab dengan pasca semua proses yang dijalani.

Setelah dibangkrutkan, SN Brussels Airlines didirikan oleh pemerintah Belgia dan mengambil alih sebagian besar dari aset Sabena pada Februari 2002.

Maskapai kemudian berganti nama menjadi Brussels Airlines setelah digabung dengan Virgin Express pada Maret 2007. Sampai saat ini, Brussels Airlines terus eksis dan mencetak keuntungan, kecuali di tengah pandemi Corona seperti sekarang ini.

Baca juga: Seulawah Airlines, Inilah Maskapai Swasta Pertama di Indonesia!

Demikian juga dengan Swissair. Usai bangkrut maskapai dijual ke Crossair dan membentuk anak perusahaan bernama Swiss European Air Lines. Meski sempat kesulitan, maskapai tersebut sukses mencetak keuntungan sejak 2006. Lufthansa kemudian mengambil alih grup maskapai ini dan menjadi semakin besar serta eksis sampai saat ini.

Dari dua kasus di atas terdapat perbedaan mencolok. Swiss tak lagi mempunyai maskapai nasional usai kebangkrutan Swissair, sedangkan Belgia tetap mempunyai maskapai nasional pasca Sabena Airlines dibangkrutkan. Indonesia bisa belajar dari Belgia, dengan mempailitkan Garuda Indonesia dan mendirikan maskapai baru agar tetap mempunyai maskapai nasional.