Ada Masalah Teknis, Air Force One Wapres Kamala Harris Terpaksa ‘Return to Base’

Untuk pertama kalinya, Wakil Presiden Amerika Serikat Kamala Harris melakukan lawatan dinas ke luar negeri pada 6 Juni 2021. Wanita keturunan India tersebut mendapat tugas untuk mengunjungi Meskiko dan Guatemala pada minggu ini, yang fokus untuk membicarakan masalah gelombang migran asal Amerika Latin yang terus membanjiri perbatasan AS.

Baca juga: Boeing Terlibat Masalah dengan Kontraktor, Jadwal Penyelesaian Air Force One Terancam Molor

Namun, penerbangan perdana Kamala ke luar negeri ternyata tidak berjalan mulus. Dikutip dari cnn.com (6/6/2021), Kamala Harris yang bertolak dari Pangkalan Angkatan Udara Andrews di pinggiran kota Washington, rupanya harus return to base, pasalnya sesaat setelah pesawat Kepresidenan Air Force mengudara, diketahui ada masalah teknis yang serius.

Seorang Juru bicara Wapres AS menyebutkan apa yang terjadi adalah karena masalah teknis, dan tidak ada masalah keamanan utama. Setelah pesawat berhasil mendarat di bandara asal pada pukul 15.00, tak lama kemudian, Sang Wapres kembali melanjutkan penerbangan menggunakan pesawat pengganti pada pukul 16.19 waktu setempat. Pesawat pengganti yang digunakan Kamala adalah jenis C-32, yakni varian modifikasi dari Boeing 757 untuk Air Force One.

Baca juga: Air Force One Kini Dibuat Replika untuk Edukasi Publik

Harris akan berada di Guatemala dan Meksiko di tengah tekanan politik untuk membendung arus migran ke AS. Taruhannya tinggi bagi Harris saat ia memasuki panggung internasional dengan latar belakang semakin banyak imigran yang tiba di perbatasan AS-Meksiko. Pada bulan April 2021, Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS menemui lebih dari 178.000 migran, 44 persen di antaranya berasal dari Amerika Tengah.

Setelah Vakum Tiga Tahun, Kereta Malam Paris-Nice Kembali Dibuka

Sebuah kereta tidur atau sleeper train berangkat dari Stasiun Austerlitz di Paris dan membawa Perdana Menteri Prancis Jean Castex sebagai penumpangnya. Ini adalah perjalanan perdana Jean selama 12 jam ke Nice. Padahal bila menggunakan pesawat hanya menempuh waktu selama 90 menit.

Baca juga: Layanan Kereta Malam di Eropa – Mantan Primadona yang Tidak Pernah Kehilangan Penggemar

KabarPenumpang.com melansir laman bloomberg.com (1/6/2021), Jane melakukan ini setelah rute dari Paris ke Nice sempat vakum tiga tahaun lalu dan peluncurannya kembali menjadi dorongan yang ambisius untuk menghidupkan kembali kereta malam di seluruh Eropa. Bahkan kehadirannya ini menukar penerbangan jarak pendek dengan perjalanan kereta api malam yang lebih lama dan lebih ramah lingkungan.

Hal ini pun terlepas dari perkembangan mutakhir kereta peluru berkecepatan tinggi dan pesawat hipersonik, Perancis tidak sendirian dalam berinvestasi dalam bentuk perjalanan yang lebih lambat ini. Sebab pada bulan Mei, kereta tidur Austria Nightjet memulai layanan Wina ke Amsterdam.

Bahkan pada tahun depan, perusahaan rintisan Belanda European Sleeper merencanakan layanan semalam baru yang menghubungkan Amsterdam, Berlin, Brussel dan Praha. Yang kemudian ada kolaborasi jangka panjang di antara banyak perusahaan kereta api nasional Eropa Barat untuk menghubungkan kota-kota lintas batas besar termasuk Barcelona, ​​Berlin, Paris dan Wina melalui kereta malam.

Upaya kolektif adalah kunci dari Kesepakatan Hijau Eropa 2019, yang bertujuan untuk mengurangi emisi transportasi di seluruh Benua hingga 90 persen, bagian dari tujuan yang lebih besar untuk menjadi netral karbon pada tahun 2050. Menurut angka dari Komisi Eropa, transportasi menyumbang 25 persen dari keseluruhan emisi gas rumah kaca Uni Eropa.

Dari angka itu, perjalanan darat menyumbang hampir tiga perempatnya, sedangkan sisanya adalah penerbangan dan transportasi laut. Kereta api, moda transportasi dengan intensitas karbon paling rendah, hanya menyumbang 0,4 persen emisi. Itu menjelaskan mengapa EC telah berkomitmen €5,8 miliar ($7,1 miliar) untuk infrastruktur kereta api di seluruh blok dan menetapkan 2021 sebagai “Tahun Kereta Api Eropa.

Bagi para pelancong, ini bukan hanya cara yang lebih hijau untuk melihat Eropa. Penggemar kereta api Pascal Dauboin, yang telah mengadvokasi sejak 2016 untuk kembalinya kereta malam di Prancis melalui kolektifnya Oui au Train de Nuit (Yes to the Night Train), memuji manfaat bangun untuk matahari terbit dan terbenam yang berapi-api.

“Saya suka merasakan dan melihat pemandangan berlalu, melewati terowongan mengetahui saya melintasi pegunungan, dan merasakan geografi di kereta malam,” kata Dauboin.

Ketika Komisi Eropa menandai 2021 dengan penunjukan pro-kereta api, agensi tidak mengharapkannya bertepatan dengan pandemi. Sebagian besar kampanye dijadwalkan untuk dimulai pada bulan September, dengan kereta Connecting Europe Express yang akan mengambil rute memutar dari Lisbon ke Paris, berhenti di 70 kota di 26 negara di sepanjang jalan untuk mempromosikan manfaat kereta api baik untuk liburan maupun bisnis perjalanan.

Baca juga: Terdesak Kereta Cepat, Parlemen Eropa Tinjau Kelayakan Bisnis Kereta Malam

“Kereta api saat ini memiliki niat baik yang belum pernah terjadi sebelumnya. Politisi memberikan pengaruh mereka untuk mencoba meningkatkan infrastruktur, menawarkan layanan yang lebih baik, dan menjalankan lebih banyak kereta api. Konsumen juga akan mengikuti,” kata Kevin Smith, pemimpin redaksi publikasi perdagangan Inggris International Railway Journal.

Bukan Jenis Ikan, Salem yang Satu Ini Adalah Nama Stasiun di Sragen

Jangan terkecoh, salem bukan hanya sejenis ikan yang mirip dengan salmon, tapi salem yang ini adalah sebuah nama stasiun di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Ya, Stasiun Salem, ini merupakan salah satu stasiun tua dan bangunannya peninggalan sejarah.

Baca juga: Vakum 5 Tahun, Stasiun Prupuk Kembali Melayani Kereta Api Penumpang

Sebab pembangunannya saat masa Hindia Belanda. Sebelum Stasiun Salem berdiri hingga saat ini, dulunya dilakukan pembangunan jalur rel kereta api Tanggung-Kedungjati-Gundi-Solo Balapan. Pembangunan dimulai tahun 1868 dan selesai tahun 1870 oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) yang merupakan perusahaan kereta api swasta milik Belanda.

Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, jalur tersebut dibangun sepanjang 83 km dan ini merupakan bagian proyek besar jalur kereta api Semarang-Vorstenlanden. Vorstenlanden merupakan istilah yang digunakan orang Belanda dalam sejarah Jawa untuk menyebut daerah-daerah yang berada di bawah kekuasaan empat monarki asli Jawa pecahan dari Dinasti Mataram, yaitu Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, Kadipaten Mangkunegaran, dan Kadipaten Pakualaman.

Stasiun Salem sendiri berada dalam Operasional PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasional (Daop) VI Yogyakarta. Letaknya berada di Jalan Solo-Purwodadi Km. 20 di desa Kwangen, kecamatan Gemolong, Sragen, Jawa Tengah. Tepatnya lokasi stasiun ini berada di sebelah utara perempatan palang Gemolong berjarak sekitar 100 meter, atau di depan Koperasi Simpan Pinjam Bhina Raharja Cabang Pembantu Gemolong.

Berada di ketinggian +146 meter diatas permukaan laut, stasiun ini merupakan stasiun kelas III atau kecil. Stasiun Salem sendiri memiliki tiga jalur dengan jalur 2 merupakan sepur lurus ke arah utara yakni Gundih dan selatan menuju Solo.

Dari stasiun ini, melayani pembelian tiket online dan melayani pemesanan langsung di loket khusus hanya untuk kereta api lokal/komuter yang singgah di stasiun ini saja. Tetapi tak hanya itu, kereta api Kalijaga tujuan ke Purwosari dan Semarang Poncol yang juga berhenti di stasiun ini.

Baca juga: Stasiun Lasem, Dahulu Stasiun Besar Kedua di Rembang, Kini Hanya Jadi Tempat Parkir

Sedangkan kereta api Brantas tujuan Kediri dan Tanah Abang (Jakarta), serta kereta api Matarmaja tujuan ke Malang dan Pasar Senen (Jakarta). Perkeretaapian di wilayah Semarang-Vorstenlanden merupakan jalur kereta api yang didirikan pertama kali di Indonesia. Bangunan stasiun ini memiliki keunikan karena nilai historisnya.

Ini Perbedaan Penerbangan Jarak Jauh dan Jarak Pendek dari Kacamata Pramugari

Setiap maskapai dan bandara cukup beragam dalam mendefinisikan penerbangan ultra jarak jauh, jarak jauh, menengah, dan jarak pendek. Maskapai-maskapai seperti Cathay Pacific, Singapore Airlines tentu sudah jelas, hanya mengoperasikan penerbangan jarak jauh.

Baca juga: Fenomena Aneh Pramugari Pakistan, Manfaatkan ‘Layover’ untuk Kabur dan Minta Suaka di Negara Maju

Bandara Hong Kong menganggap sebagian besar tujuan Asia tergolong sebagai penerbangan jarak pendek. Sedangkan tujuan lainnya seperti Amerika Serikat, Eropa, dan Australia merupakan penerbangan jarak jauh.

American Airlines menggunakan jarak penerbangan sebagai ukuran apakah itu penerbangan jarak jauh atau jarak pendek. Maskapai lain ada yang menilainya dari segi durasi. Penerbangan jarak pendek berkisar satu sampai tiga jam.

Sedangkan penerbangan jarak jauh berkisar enam sampai 12 jam. Adapun penerbangan tiga sampai enam jam merupakan jarak menengah.

Ada lagi maskapai yang menganggap itu penerbangan jarak jauh dan jarak pendek dari kapasitas kursi dan pesawat. Kapasitas kursi pada penerbangan jarak pendek biasanya hanya 100-200, menggunakan pesawat narrowbody Boeing 737 dan Airbus A320.

Sedangkan untuk jarak jauh mengangkut lebih dari 200 penumpang menggunakan pesawat widebody, seperti Boeing 777, 787, 767, 747, Airbus A330, A340, A350, dan A380.

Dari sudut manapun penerbangan jarak jauh dan dekat dinilai maskapai, yang pasti, bagi pramugari itu sama saja. Baik penerbangan jarak jauh 12 jam maupun penerbangan jarak dekat 30 menit, prioritasnya sama-sama keselamatan penumpang.

Tetapi tentu, dari sudut pandang pengalaman pramugari, terdapat banyak perbedaan antara penerbangan jarak jauh dan pendek.

Menurut Milano Hazrati, mantan pramugari Virgin Atlantic, seperti dilansir Aerotime Aero, penerbangan jarak jauh lebih banyak keuntungan dibanding jarak dekat.

Dari segi layanan, penerbangan jarak pendek lebih berfokus pada waktu dan pada penerbangan jarak jauh memberi pramugari atau kru pesawat banyak ruang dan waktu untuk membuat penumpang nyaman.

Penumpang nyaman berarti pramugari nyaman. Tak jarang, pada penerbangan jarak jauh, pramugari kerap menemukan teman baru yang pada akhirnya kerap menjadi sahabat atau bahkan pasangan hidup.

Selain itu, pada penerbangan jarak jauh, pramugari lebih mendapat banyak istirahat ketimbang jarak pendek. Kendati terlihat lebih simpel, penerbangan jarak pendek lebih membuat mereka (pramugari) lelah.

Sebab, sepanjang penerbangan mereka bekerja dan setelah mendarat pun mereka langsung beres-beres serta sederet pekerjaan lainnya. Itu harus dilakukan dengan cepat karena penerbangan lain menunggu.

Penerbangan jarak jauh yang menggunakan pesawat widebody juga menguntungkan pramugari, mulai dari kemudahan beraktivitas di dapur hingga mengakses lorong.

Baca juga: Masuk Usia 60 Tahun, Pramugari ini Enggan Pensiun

Demikian juga dengan pengalaman, penerbangan jarak jauh memberikan pramugari kesempatan untuk berlibur selama layover di negara asing di Eropa, Amerika, Asia, Australia, bahkan Timur Tengah, merasakan suasana kota, cuaca, musim, sosial budaya yang berbeda dengan negara asal.

Dari segi take home pay atau gaji yang didapat juga lebih besar. Kita tahu, pramugari memiliki tiga sistem gaji; away from base, duty time, dan actual flight time. Berhubung penerbangan jarak jauh yang diambil, biasanya sistem away from base lah yang diambil, beserta sederet tunjangan lainnya.

Intip Deretan Koleksi Jet Pribadi Bill Gates yang Picu Kontroversi

Bill Gates belakangan menjadi sorotan lantaran perceraiannya dengan Melinda Gates. Orang terkaya keempat di dunia itu menyusul orang terkaya pertama di dunia, Jeff Bezos, yang sudah bercerai lebih dahulu dengan pasangannya MacKenzie Scott pada 2019.

Baca juga: Bill Gates Ramai Disebut Telah Beli Kapal Pesiar Mewah Seharga Rp8,8 Triliun, Ini Faktanya!

Perceraian Bill Gates (termasuk Jeff Bezos) pun ramai diperbicangkan. Bagaimana bisa harta yang selama ini dinilai membuat sebuah rumah tangga langgeng justru tak bekerja sama sekali. Pada akhirnya, netizen sadar bahwa harta tak selamanya mendatangkan kebahagiaan dalam konteks berumah tangga.

Terlepas dari percerainnya dengan Melinda Gates, Bill Gates memang sudah sejak lama menjadi sosok yang kontroversial; terlebih pasca menjadi aktivis lingkungan. Menurut banyak kalangan, tindakan dan gagasannya sering kali tak sinkron.

Di satu sisi ia terus menggalakkan kampanye lingkungan, menulis banyak buku tentang lingkungan (salah satunya berjudul ‘How To Avoid Climate Disaster’), dan mendanai banyak program lingkungan. Tetapi di sisi lain, ia terus menyumbang emisi karbon atau karbon dioksida melalui empat pesawat jet pribadi miliknya.

Sebuah studi yang dilakukan oleh Universitas Lund di Swedia menunjukkan bahwa pada tahun 2017, Bill Gates melakukan 59 penerbangan dengan jet pribadi, melepaskan sekitar 1.600 ton CO2, dibandingkan dengan rata-rata global yang kurang dari lima ton per orang.

Kendati demikian, ia mengklaim telah menggunakan bahan bakar ramah lingkungan dan mendanai banyak program untuk mengurangi emisi karbon.

Menurut Private Jet Charter Bill Gates memiliki empat pesawat jet pribadi berupa dua Gulfstream G650ER (menggantikan dua jet Bombardier 700 Global Express yang sudah tua), masing-masing bernilai hampir US$70 juta, dan dua Bombardier Challenger 350, bernilai US$ 27 juta per unit.

Pesawat Gulfstream G650ER mampu memuat 11 sampai 18 penumpang dengan jangkauan maksimum 13.890 km dan melesat maksimum Mach 0,90 per jam. Jet tersebut dilaporkan memegang rekor penerbangan jet bisnis tercepat dan terjauh saat terbang antara Singapura dan Tucson, Arizona, AS dalam waktu 15 jam dan 23 menit pada 2019.

Dari segi interior, pesawat tersebut terbagi menjadi empat area untuk bekerja, hiburan, dan relaksasi. Kursinya yang bisa berubah menjadi tempat tidur terbuat dari kulit handmade, membuatnya makin mewah. Di dunia, ada 400 Gulfstream G650 yang beroperasi, salah satunya milik Jeff Bezos.

Baca juga: Inilah Airbus ACJ319neo, Jet Pribadi Crazy Rich yang Terinspirasi Mobil Sport

Sedangkan Bombardier Challenger 350 disebut mempunyai kabin paling besar dan paling tenang di kelasnya. jet ini dapat membawa hingga 10 penumpang. Jangkauan terjauh jet ini mencapai 5.900 km serta mampu melesat di kecepatan tertinggi mencapai Mach 0.83.

Selain itu, Bill Gates juga memiliki Eurocopter EC135, yang ia tersimpan rapi di helipad apungnya di Danau Washington serta pesawat amfibi Cessna 208 Amfibi Caravan.

Penumpang ‘Cabul’ di Pesawat, Pramugari Malah Kasih Selimut Agar Lebih ‘Private’

Ada-ada saja tingkah penumpang pesawat. Terbaru, sebuah pasangan kedapatan asik ciuman dalam tempo yang cukup lama di sebuah penerbangan Airblue. Walau sempat ditentang penumpang lain, dua sejoli itu justru didukung pramugari dengan memberikan selimut agar bisa melanjutkan aksinya tanpa terlihat penumpang lain. Baca juga: Berciuman Memakai Masker, Kelakuan Penumpang Pesawat di Masa Pandemi Semakin Aneh Meski begitu, penumpang lain yang tak terima dengan tindak-tanduk tersebut tak tinggal diam. Salah satunya Bilal Farooq Alvi. Melalui pengacaranya, ia melaporkan kasus ini secara resmi ke Otoritas Penerbangan Sipil (CAA) Pakistan. Saat ini, CAA tengah melakukan penyelidikan atas peristiwa menggelitik itu. Dilansir republicworld.com, pasangan yang berciuman itu terjadi di pesawat Aiblue dengan nomor penerbangan PA-200 rute Karachi-Islamabad, pada 20 Mei silam. Menurut sejumlah saksi mata, pasangan muda tersebut diketahui duduk di baris ke-empat dari depan. Di awal penerbangan, keduanya sudah menampilkan gelagat yang tak mengenakkan, sampai akhirnya mereka mulai berciuman dalam tempo yang lumayan lama dan berkali-kali. Penumpang lain yang geram coba menegur sendiri namun ditentang balik. Tak menyerah, beberapa penumpang melapor ke pramugari. Hasilnya pun sama, imbauan pramugari agar menghentikan aksinya itu tak digubris. Tak ingin ambil pusing, pramugari maskapai terbesar kedua di Pakistan itu pun mengambil selimut untuk menutupi keduanya. Pasangan tersebut pun mengamini dan mulai lanjut memadu kasih di udara. Atas apa yang terjadi, pengacara Bilal menuding bahwa pramugari tampak melegalkan perbuatan terlarang itu. Padahal, mereka (kru pesawat) bisa berbuat lebih tegas daripada sekedar mengimbau apalagi melegalkannya. Pengacara itu juga menunjukkan sebuah video yang memuat kejadian sebagai bukti. Selain peristiwa itu, CAA diketahui juga tengah menyelidiki momentum pernikahan sebuah pasangan di atas kuil keramat di Pakistan yang melanggar protokol kesehatan. Disebutkan, pasangan bernama Rakesh dan Dakshina mencharter pesawat Boeing 737 SpiceJet dari Madurai Tamil Nadu. Pasangan tersebut kemudian menjadi sebuah pasangan yang sah saat pesawat berada tepat di atas Kuil Madurai Meenakshi Amman. Itu terpaksa dilakukan karena otoritas setempat karena kuil keramat itu ditutup selama pandemi. Baca juga: Awak Kabin Jual Foto dan Video Cabul, British Airways Tengah Lakukan Penyelidikan Ketat Dalam momen nikah di pesawat itu, CAA dan Satgas Covid-19 hanya mengizinkan 50 tamu. Tetapi, itu membludak dan dihadiri oleh 161 tamu. Pihak SpiceJet sendiri tak ingin menjadi kambing hitam atas hal ini. Melalui juru bicaranya, maskapai tersebut mengaku sudah memberikan pengarahan lengkap, termasuk terkait protokol kesehatan.

Ini Dia Kereta Punjab Mail di India yang Berusia 110 Tahun

Kereta berumur lebih dari seratus tahun dan masih beroperasi, adakah? Ternyata ada di India dan yang dimaksud adalah Punjab Mail. Kereta ini pada 1 Juni 2021 lalu, telah  berusia 110 tahun. Menjadi kereta api jarak jauh tertua yang dioperasikan Indian Railways, Punjab Mail menghubungkan antara Kota Mumbai dengan Firozpur.

Baca juga: Empat Tahun Tutup, Kereta Tertinggi di Amerika Serikat Kembali Melaju di Rel

Dulunya, Punjab Mail menghubungkan antara Mumbai dengan Peshawar yang sekarang menjadi bagian dari  wilayah Pakistan. Meski begitu asal usul kereta ini tidak begitu jelas. Pada masa lalu Punjab Mail disebut dengan Punjab Limited dan lebih tua 16 tahun usianya dari kereta lain yang lebih glamor Frontier Mail.

Punjab Mail keluar dari stasiun Ballard Pier Mole Bombay yang merupakan pusat dari Great Indian Peninsular Railways (GIPR), yang kemudian menjadi CR. Berdasarkan makalah Perkiraan Biaya tahun 1911 dan keluhan oleh penumpang yang marah pada bulan Oktober 2012 tentang “kedatangan kereta beberapa menit kemudian di stasiun Delhi”.

Ini yang kemudian membuat CR menyimpulkan bahwa Punjab Mail membuat perjalanan perdananya pada tanggal 1 Juni 1912. Awalnya, ada kapal uap P&O yang membawa surat, dan petugas Raj Inggris yang bersemangat bersama pasangan mereka, datang ke pos pertama mereka di kolonial India setelah perjalanan laut selama 13 hari dari Southampton ke Pelabuhan Mumbai.

KabarPenumpang.com melansir tribuneindia.com (31/5/2021), karena para pejabat Inggris memegang tiket gabungan baik untuk perjalanan laut ke Bombay dan kemudian melanjutkan perjalanan darat dengan kereta api ke tempat pos mereka. Setelah turun mereka hanya akan naik salah satu kereta api dari sini menuju Delhi, Calcutta atau Madras.

Punjab Limited biasa beroperasi pada hari-hari pengiriman tetap dari Bombay ke Peshawar menempuh 2.496 km dalam waktu sekitar 47 jam di sepanjang rute Great Indian Peninsular, melalui Itarsi, Agra, Delhi dan Lahore. Saat itu, hanya memiliki tiga gerbong penumpang dengan total kapasitas 96 orang, tiga untuk barang pos dan surat, dan merupakan kereta tercepat di British India.

Semua gerbong penumpang adalah mobil koridor di kelas satu, kompartemen tempat tidur ganda dan dilengkapi dengan toilet, kamar mandi, mobil restoran, kompartemen untuk bagasi dan pelayan perwira Inggris. Kemudian, dari tahun 1914, Punjab Limited mulai bermula dan berakhir di Stasiun Bombay VT, sekarang Chhatrapati Shivaji Maharaj Terminus Mumbai dan sebuah situs Warisan Dunia UNESCO.

Hari ini, waktu perjalanan Punjab Mail, yang diangkut oleh mesin listrik, telah turun secara signifikan, menempuh jarak hanya 1.930 km antara Mumbai CSMT-Firozpur Cantt dalam 34 jam 15 menit Dibandingkan dengan enam mobil asli Punjab Limited. Punjab Mail sekarang memiliki sembilan gerbong ber-AC, enam gerbong tidur, lima gerbong umum kelas dua, sebuah pantry dan sebuah van generator.

Pada pertengahan 1930-an, ia juga mulai melayani orang-orang India yang bepergian dengan mobil kelas tiga, mendapat pelatih ber-AC pertama pada tahun 1945, dari Mei 1976, ditarik oleh mesin diesel.  Tahun 1980-an ditarik dengan mesin listrik sebagai sebagian besar dari rute trunk di jaringan IR mendapat listrik.

Baca juga: Pertama Kalinya dalam Sejarah, Layanan Kereta di India Mampu ‘On Time’ 100 Persen

Mulai Desember 2020, Punjab Mail memulai perjalanannya dengan pelatih Linke Hofmann Busch (LHB) Alstom LHB GmbH yang dirancang Jerman yang memberikan lebih banyak keamanan dan pengalaman perjalanan yang menyenangkan bagi penumpang.

Crazy Rich Malang Hibahkan Bus Mercedes-Benz 1626 Seharga Rp2 Miliar untuk RANS Cilegon FC

Perusahan Otobus (PO) Juragan 99 yang dimiliki Crazy Rich Malang belum lama ini memberikan salah satu busnya untuk diberikan kepada RANS Cilegon FC. Nantinya bus mewah itu akan digunakan sebagai kendaraan operasional selama Liga 2 2021/2022.

Baca juga: Crazy Rich Asal Malang Punya Jet Pribadi dan Bus Mewah, Ini Dia Armadanya

Gilang Widya Pramana pemilik PO Juragan 99 memberikan bus dengan sasis Mercedes-Benz 1626 yang menggunakan bodi bus dari karoseri Adiputro yakni Jetbus 3+. Nah kenapa bus ini disebut mewah? KabarPenumpang.com merangkum berbagai laman sumber, yang membuatnya mahal adalah fasilitas, fitur di dalam kabin, pendingin udara hingga model jok yang dipilih oleh pemiliknya.

Di mana salah satu yang membuat mahal adalah sasis yang digunakan. Sasis sendiri mengambil bagian setengahnya atau 50 persen dari keseluruhan biaya pembangunan komponen satu unit bus. Sedangkan untuk pembuatan bodi, penambahan jok, pendingin ruangan atau AC, fitur kabin seperti port USB hingga cat eksterior berkisar sekitar Rp900 jutaan.

Sehingga bila ditotal secara keseluruhan harganya sekitar Rp2 miliar lebih. Hal inilah yang membuat bus Mercedes-Benz 1626 disebut mewah. Pada bus Mercedes-Benz 1626 yang diberikan untuk RANS Cilegon FC menggunakan mesin 6.374 cc, tipe OM 906 LA Euro 3 Diesel, 6-Silinder Segaris, Direct Injection, dengan Turbocharger dan Intercooler.

Di mana mesin tersebut bisa menghasilkan tenaga hingga 191 KW (260 dk) pada 2.200 rpm dan torsi maksimum 950 Nm di rentang 1.200-1.600 rpm. Tenaga itu disalurkan melalui pilihan transmisi manual enam percepatan atau transmisi otomatis enam percepatan.

Untuk diketahui, sasis Mercedes-Benz 1626 yang akan diberikan kepada RANS Cilegon FC memiliki suspensi udara dan dikenal punya rancang bangun yang fleksibilitas dibanderol dengan harga hampir Rp2 miliar. Sebelumnya Gilang pernah mendukung Arema FC dengan memberikan bus tim pada 2020.

Baca juga: PO Pandawa 87 – Dari Pasuruan Punya Filosofi “Tak Akan Terputus”

Gilang memberikan Arema FC bus Mercedes-Benz dengan sasis 1526 seharga Rp1,8 miliar. Bus tersebut dimodifikasi dengan menggunakan 32 bangku. Jumlah tersebut menyesuaikan dengan jumlah skuad Arema demi menunjang kenyamanan.

Hubungkan Cina, Rusia, Kanada dan AS, Bagaimana Nasib Proyek Terowongan Kereta Bawah Laut Sepanjang 200 Km?

Tujuh tahun lalu, tepatnya pada 2014, saat hubungan Washington dan Beijing masuh harmonis, sebuah laporan hadir, di mana Cina tengah dalam diskusi untuk membangun jalur kereta api berkecepatan tinggi yang akan menuju timur laut dari Beijing sejauh 13 ribu km melintasi Siberia di Rusia, kemudian akan menempuh jarak 200 km di bawah air melintasi Selat Bering menuju Alaska, negara bagian di utara AS.

Baca juga: Serba-Serbi Channel Tunnel, Terowongan Rel Terpanjang Kedua di Dunia

Kala itu, rencana ambisius tersebut akan meningkatkan jaringan kereta api berkecepatan tinggi Cina yang mengesankan dan meningkatkan perdagangan antara Cina, Rusia, Kanada dan tentunya Amerika Serikat. Dilansir KabarPenumpang.com dari interestingengineering.com (31/5/2021), sayangnya gaung tersebut cepat sekali mereda dan kabarnya pun hanya terdengar sedikit terkait rencana itu.

Bahkan saat ini tidak terlihat adanya tanda untuk segera melanjutkan proyek kereta api yang akan melewati Alaska dan Kanada sebelum tiba di AS. Tapi ada laporan terbaru memberi indikasi penundaan proyek. Di mana ini dikritik habis-habisan karena usulan anggaran awal mereka sebesar US$200 miliar.

Beberapa orang yang tidak setuju menunjukkan bila penerbangan dan kapal kargo adalah pilihan yang lebih murah untuk perdagangan karena infrastrukturnya sudah ada. Selain itu masalah lainnya juga hadir dari sisi rekayasa dan logistik. Sebab nantinya terowongan tersebut akan menjadi proyek yang belum pernah tejadi sebelumnya dan memilik panjang empat kali lebih dari Terowongan Channel dan Seikan yang panjangnya sekitar 50 km.

Meski begitu apakah harapan untuk pembangunan terowongan yang akan menghubungkan Cina, Rusia, Kanada dan AS tersebut akan terealisasikan? Ternyata masih ada indikasi proyek tersebut bisa berjalan lancar meski hubungan Cina dan AS harus ditingkatkan sebelum itu bisa terjadi.

Untuk diketahui, laporan asli tahun 2014 mengklaim bahwa Cina sudah maju dalam pembicaraan dengan Rusia yang telah mempertimbangkan jalur di bawah Selat Bering selama bertahun-tahun untuk mulai bekerja di jalur tersebut, dengan para insinyur dari kedua negara yakin proyek itu mungkin dilakukan dengan menggunakan teknologi saat ini.

Seperti yang ditunjukkan IFL Science, Cina menyetujui kereta peluru bawah air pertama di dunia pada tahun 2018, menunjukkan bahwa teknologi kereta api berkecepatan tinggi layak dilakukan di bawah laut. Proyek kereta peluru yang direncanakan akan diperpanjang 77 km dari Ningbo ke Zhousan sepanjang 16,2 km.

Baca juga: Cina Bakal Punya Terowongan Kereta Cepat Pertama di Bawah Laut

Meskipun jalur Ningbo ke Zhousan jauh lebih kecil dari Terowongan Channel, itu akan membentuk semacam proyek uji untuk jalur rel maglev bawah air. Cina kemungkinan akan beralih ke proyek yang lebih besar, seperti “jalur China-Rusia-Kanada-Amerika”, jika jalur Ningbo ke Zhousan berhasil.

Menteri Agama Tiadakan Haji, Garuda Indonesia ‘Paling Kecil’ Rugi Rp3,3 Triliun

Indonesia resmi meniadakan penyelenggaraan ibadah haji tahun 2021 akibat tidak mendapatkan kuota haji dari pemerintah Arab Saudi.

Baca juga: Hady Syahrean – Sukses Hantarkan Layanan Haji Garuda Indonesia

Kendati keputusan itu sudah diambil pemerintah melalui Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas, namun, Duta Besar Arab Saudi, Essam bin Ahmed Abid Althaqafi, meluruskan bahwa sampai saat ini, pihaknya belum mengeluarkan instruksi apapun berkaitan dengan pelaksanaan ibadah haji tahun ini.

“Di samping itu otoritas yang berkompeten di Kerajaan Arab Saudi -sampai saat ini- belum mengeluarkan instruksi apapun berkaitan dengan pelaksanaan haji tahun ini, baik bagi para jamaah haji Indonesia atau bagi para jamaah haji lainnya dari seluruh negara di dunia,” jelasnya melalui keterangan resmi kedutaan Arab Saudi yang diterima media.

Lebih lanjut, di tempat terpisah, ia juga menghormati keputusan yang diambil pemerintah Indonesia untuk meniadakan ibadah haji, menggenapinya menjadi dua tahun berturut-turut pada 2020 dan 2021.

Keputusan meniadakan haji oleh pemerintah Indonesia tentu merugikan jamaah. Selain jamaah haji yang memang sudah sangat rindu dengan kota suci Makkah-Madinah, tidak adanya pemberangkatan ibadah haji tahun 2021 ini juga merugikan Garuda Indonesia.

Kecuali umrah, yang boleh diterbangkan oleh maskapai manapun, penerbangan haji di Indonesia selama ini dijalankan tunggal oleh maskapai pelat merah tersebut. Dengan ditiadakannya penerbangan haji, praktis, pundi-pundi rupiah yang bisa diraup pun sirna seketika.

Kepada Kompas, Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra, pernah menyebut bahwa penerbangan haji berkontribusi 10 persen terhadap pendapatan perusahaan di tahun-tahun sebelumnya.

Dari laporan keuangan Garuda Indonesia di 2019 yang dilansir Kontan, layanan penerbangan haji berkontribusi sebesar US$234,27 juta ke pendapatan maskapai tersebut. Itu berarti, kerugian yang diterima Garuda Indonesia akibat peniadaan atau pembatalan pelaksanaan ibadah haji tahun ini sebesar Rp3,3 triliun (kurs 14.370).

Tentu, angka tersebut besar kemungkinan lebih tinggi mengingat biaya penerbangan ke Arab Saudi setiap tahun mengalami kenaikan. Di samping itu, jumlah jamaah yang diberangkatkan setiap tahun juga mengalami kenaikan.

Baca juga: Garuda Indonesia Rugi Terus, Korean Air Bisa Kok Cetak Untung Rp3,2 Triliun!

Dari data tahun 2019, Indonesia sukses memberangkatkan 229.613 jamaah haji. Tahun 2018 ada 221.000 jamaah haji yang berangkat. 2017 ada 211.000 jamaah yang berangkat. Bila rata-rata kenaikan sebanyak 8 ribu jamaah, bisa dibayangkan berapa potensi rupiah yang didapat flag carrier Indonesia itu.

Potensi pendapatan yang sirna tersebut tentu amat disayangkan. Pasalnya, saat ini Garuda Indonesia sangat terpuruk. Betapa tidak, perseroan memiliki utang Rp70 triliun. Setiap bulan utang bertambah Rp1,4 triliun.