Ngeri! Sudah 1.300 Pesawat Dikembalikan Maskapai ke Lessor Gegara Kesulitan Keuangan

Garuda Indonesia baru saja menyelesaikan pengembalian dua armada Boeing 737-800NG kepada salah satu lessor pesawat. Kendati pesawat tersebut belum memasuki jatuh tempo masa sewanya, itu diperbolehkan selama syaratnya terpenuhi, salah satunya melakukan perubahan kode registrasi pesawat terkait.

Baca juga: Garuda Indonesia Percepat Pengembalian Pesawat yang Belum Jatuh Tempo Kepada Lessor 

Selain Garuda Indonesia, di dunia sudah 1.300 unit pesawat dikembalikan ke lessor IBA Aviation sejak pandemi virus Corona sampai tahun 2021 ini.

Celakanya, pesawat-pesawat tersebut dikirim tanpa mempunyai rumah baru atau penyewa dari operator lain. Itu baru dari satu lessor, bila ditotal dari leasing atau lessor lainnya, bukan tak mungkin ada belasan ribu pesawat yang sudah dikembalikan oleh maskapai.

Seperti yang sudah umum diketahui, pengembalian pesawat-pesawat sewaan oleh maskapai sebelum masa sewanya habis didasari oleh anjloknya permintaan penerbangan sejak pandemi Covid-19. Kendati tak terbang, pesawat memang menyedot cost maskapai secara rutin untuk perawatan. Karenanya, opsi pengembalian lebih cepat merupakan langkah terbaik yang ditempuh maskapai.

Berkaca dari pengembalian pesawat lebih cepat oleh maskapai, IBA Avation memperkirakan jumlah pesawat yang dikirim ke fasilitas MRO miliknya juga akan menurun tajam. Sebelum Covid-19 mewabah, jumlah kunjungan ke MRO diperkirakan akan meningkat dari 3.200 pada 2019 menjadi 4.500 unit pada 2023.

Tahun ini, diperkirakan IBA Aviation hanya melayani kurang dari 1.000 pesawat yang melakukan MRO. Kondisi ini diperkirakan terus berlangsung sampai setidaknya 2026 untuk menyamai angka di tahun 2019.

Merespon fenomena ini, Presiden IBA, Phil Seymour, sebagaimana dikutip dari Aviator Aero, mengungkapkan, “Geliat di pasar sewa pesawat komersial beberapa tahun terakhir tiba-tiba diakhiri oleh Covid, dan kami memperkirakan dampak yang signifikan tidak hanya pada lessor tetapi di seluruh rantai pasokan khususnya di sektor MRO.”

Ketika digrounded, pesawat memang tetap harus mendapat perawatan agar pesawat siap beroperasi ketika digunakan, seperti pengecekan pada sistem hidrolik, sistem avionik pesawat, sistem pendingin udara, mesin, ban, komponen elektronik yang jumlahnya begitu banyak dalam sebuah pesawat, dan bagian-bagian lainnya.

Baca juga: Jangan Kaget, Inilah Jumlah Pesawat yang Di-grounded di Seluruh Dunia

Tak cukup sampai di situ, untuk mencegah menumpuknya debu serta burung yang bersarang, mesin serta bagian lain pesawat yang terdapat lubang, termasuk ban pesawat pun juga ditutup dengan kain, plastik, atau media lainnya.

Interior pesawat juga tak luput dari perhatian. Selama pesawat digrounded, seluruh kaca pesawat ditutup dengan tirai. Fungsinya, akan sinar matahari tak masuk ke dalam dan membuat bagian dalam menjadi lembab. Lantai, in flight entertainmet, sistem penerangan, hingga sarung kursi pun juga tetap rutin dicek.

Memaksa Masuk Kokpit, Penumpang ‘Kesurupan’ Berhasil Diamankan Awak Kabin Delta Airlines

Kokpit tak pelak menjadi bagian paling vital dalam pesawat, atas hal tersebut keamanan pada area kokpit adalah menjadi prioritas dan tak sembarang orang bisa memasukinya. Namun kerap kali banyak penumpang yang penasaran dan ingin masuk ke dalamnya tetapi tidak bisa hingga akhirnya berulah. Seperti baru-baru ini seorang penumpang di pesawat Delta Airlines, Amerika Serikat mencoba menerobos masuk ke kokpit.

Baca juga: Berusaha Serang Kokpit, Penumpang ini Akibatkan Pramugari dan Polisi Luka-luka

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman sumber channelnewsasia.com (6/6/2021), untungnya penumpang itu tidak berhasil masuk karena langsung diamankan oleh penumpang lain dan awak kabin. Insiden tersebut terjadi pada penerbangan Delta Airlines dari Los Angeles menuju ke Nashville.


Karena aksi nekat mencoba menerobos ke kokpit tersebut, pesawat akhirnya mendarat darurat di Albuquerque, New Mexico. Kemudian saat pesawat tiba di bandara, penumpang pria tersebut langsung dibawa keluar pesawat dengan tangan dan kakinya diikat dengan kabel ties.

Dalam sebuah rekaman video, menunjukkan penumpang tersebut berulang kali berteriak “Hentikan pesawat ini” dan bergeliat di depan kabin pesawat. Insiden terjadi pada hari Jumat (4/6/2021) dan penumpang yang tidak disebutkan namanya mengatakan, perilaku penumpang itu tampaknya tidak beralasan.

Disebut tidak beralasan, sebab pria itu baru saja bangun tidur, seperti kesurupan dan bergegas ke pintu kokpit serta mulai menggedor pintunya. Penumpang lain yakni Jessica Robertson menggambarkan insiden yang dilihatnya sangat mengerikan dan memuji awak kabin karena tindakan sigap mereka.

FBI di Albuquerque melalui akun Twitter dan mengonfirmasi bahwa mereka telah menangani insiden yang terjadi dalam penerbangan Delta Airlines itu. Tak hanya itu, maskapai tersebut dalam sebuah pernyataan mengatakan berterima kasih kepada awak kabin dan penumpang Delta dengan nomor penerbangan 36 LAX yang membantu menahan seorang penumpang yang nakal.

Baca juga: Empat Jam Tertahan di Kabin, Penumpang Coba Dobrak Pintu Kokpit dan Buka Pintu Darurat!

“Pesawat mendarat tanpa insiden dan penumpang dipindahkan oleh penegak hukum,” tulis Delta. Karena insiden ini, penumpang lainnya harus menghabiskan sekitar lima jam di Albuquerque sebelum penerbangan dilanjutkan ke Nashville.

50 Orang Tewas Akibat Tabrakan Maut Dua Kereta, Potret Buruk Kereta Api di Pakistan

Pada Senin (7/6/2021) kemarin sebuah kereta api di Pakistan menabrak kereta lainnya yang tergelincir dan mengakibatkan 50 orang meninggal dunia. Sedangkan lebih dari 70 penumpang mengalami luka-luka.

Baca juga: Kereta di Taiwan Tergelincir Hingga Tewaskan 51 Orang, Jepang Siap Bantu Pasca Kecelakaan

KabarPenumpang.com melansir reuters.com (7/6/2021), insiden ini membuat banyak gerbong kereta yang hancur. Polisi bernama Umar Tufail mengatakan, insiden tersebut mengakibatkan 50 orang meninggal dunia dan anak buahnya juga melihat ada empat jenazah lainnya yang masih berada di bawah reruntuhan gerbong kereta tersebut.

“Kami belum bisa mengeluarkan mereka sejauh ini, tapi operasi sedang dilakukan untuk itu. Kami telah menyelamatkan tiga orang lagi, mereka mengalami luka berat.” katanya.

Polisi lainnya Kamran Fazal mengatakan ada lebih dari 70 penumpang dirawat dibeberapa rumah sakit. Seorang penumpang yang juga mengalami luka dibagian kepalanya mengatakan, bahwa saat itu kereta yang ditumpanginya membuat penumpang seperti terlempar. Kemudian kereta kedua menabrak kereta mereka dan membuat banyak kerusakan karena insiden terjadi waktu subuh. Penumpang tesebut mengatakan, saat itu penumpang masih banyak yang tertidur.

Seorang juru bicara Pakistan Railway mengatakan, beberapa gerbong pertama terjatuh melintasi rel yang berdekatan setelah tergelincir di distirk Ghotki. Kemudian dalam waktu beberapa menit kereta kedua datang dari arah lain dan menabrak kereta yang tergelincir.

“Masinis mencoba mengerem darurat tetapi lokomotif menabrak gerbong yang tergelincir,” kata Pakistan Railways.

Insiden ini kemudian menyoroti keadaan bobrok sistem kereta api yang berasal dari abad ke-19. Tariq Latif, seorang petugas kereta api mengatakan, rel mengalami masalah di beberapa titik, gerbong yang digunakan pun sudah tua bahkan ada yang berumur 40 tahun.

Perdana Menteri Pakistan Imran Khan mengatakan di Twitter bahwa dia terkejut dengan kecelakaan “mengerikan” itu dan memerintahkan penyelidikan komprehensif terhadap keselamatan kereta api. Menteri Penerangan Fawad Chaudhry menyalahkan kecelakaan itu pada apa yang dia katakan sebagai korupsi oleh pemerintah sebelumnya, dengan mengatakan penyebab pasti kecelakaan itu belum diketahui, dan penyelidikan telah dibuka.

Dalam insiden itu jumlah semua penumpang dari dua kereta sebanyak 1.388 orang. Bahkan insiden ini bukan yang pertama kali karena pada 2005 lalu, di distrik yang sama, sekitar 130 orang tewas ketika kereta penumpang yang penuh sesak menabrak kereta lain disebuah stasiun dan kereta ketiga menabrak reruntuhan.

Baca juga: Akibat Petugas Sinyal Tak Sabar, 189 Nyawa Melayang Pada Kecelakaan Kereta 81 Tahun Lalu di Jalur Sakurajima

Pemerintah Pakistan selama bertahun-tahun telah berusaha mendapatkan dana untuk meningkatkan sistem dari rencana peletakan jalur kereta api baru yang disebut ML-1 sebagai bagian dari Inisiatif Sabuk dan Jalan Cina untuk proyek energi dan infrastruktur. Karena masalah teknis tertentu, proyek ML-1 belum berjalan meskipun persetujuan akhir telah disepakati tahun lalu, kata Ketua Perkeretaapian Pakistan Habib-ur-Rehman Gilani.

Lindungi Kesehatan Penumpang, Bandara Changi Kenalkan Sistem Zonasi Terbaru

Changi Airport Group (CAG) telah menerapkan langkah-langkah keamanan baru yang ditingkatkan untuk mencegah penyebaran Covid-19 di terminal penumpangnya, terutama varian B.1.617 yang lebih menular. Langkah-langkah baru ini didasarkan pada konsep zona kerja khusus untuk meminimalkan kontak antara penumpang yang tiba dan berangkat dan staf bandara, di samping protokol keselamatan yang ditingkatkan.

Baca juga: Jadi Klaster Baru Corona, 9 Ribu Pekerja Bandara Changi Bakal Dites Covid-19

CEO CAG Lee Seow Hiang mengatakan bahwa protokol yang ditingkatkan diharapkan akan diterapkan sepenuhnya pada 13 Juni 2021, untuk memastikan bahwa “zona berisiko tinggi” yang menangani penumpang yang tiba dapat dipagari secara tegas. Oleh karena itu, ini akan membantu melindungi pekerja CAG, dan warga Singapura pada umumnya.

Dilansir KabarPenumpang.com dari mothership.sg (24/5/2021), dua terminal Changi yang saat ini beroperasi, Terminal 1 dan Terminal 3, akan dibagi menjadi tiga Zona berbeda, 1, 2 dan 3. Zona 3 menandai area yang terbuka untuk umum, seperti area check in yang terbuka sebelum gerbang keberangkatan. Zona 2 menandai area transit pusat setelah penumpang yang berangkat melewati gerbang.

Zona 1, termasuk terminal, ruang imigrasi kedatangan dan area pengambilan bagasi, dianggap sebagai zona dengan risiko tertinggi. Tindakan pencegahan ekstra akan dilakukan di sana. Saat berjalan melewati terminal, tanda akan terlihat jelas untuk menunjukkan kepada staf dan penumpang ketika mereka berpindah dari satu zona ke zona berikutnya.

Sebagai tindakan pencegahan tambahan, penumpang dari “negara yang sangat berisiko” akan dikawal ke gerbang terpencil di Terminal 2, bukan Terminal 1 dan 3. Di sana, semua izin imigrasi dan prosedur lainnya akan dilakukan. Setelah itu, mereka akan diangkut dengan bus dari Bandara Changi dan langsung ke fasilitas karantina mereka.

Sehingga penumpang dari negara yang sangat berisiko tidak akan melalui Terminal 1 dan 3 operasional. CAG menyampaikan bahwa di masa lalu, protokol keselamatan bersifat “khusus tugas”. Misalnya, jika seorang pekerja ditugaskan untuk membersihkan toilet, mereka harus mematuhi langkah-langkah keamanan tertinggi. Namun, konsep baru ini didasarkan pada “zona khusus”. Oleh karena itu, pekerja di Zona 1, apa pun tugas yang mereka lakukan, akan mematuhi langkah-langkah keselamatan yang ditingkatkan.

Ini termasuk pemberian Alat Pelindung Diri (APD) berupa gaun, masker bedah, pelindung wajah dan sarung tangan. Pekerja yang membersihkan toilet di Zona 1 juga akan diberikan masker N95 untuk keamanan tambahan. Pekerja Zona 1 juga akan dipisahkan dari pekerja lain selama durasi shift mereka.

Mereka akan diberikan ruang makan dan istirahat mereka sendiri dan toilet yang dipesan. Sebelum memasuki dan keluar dari area ini, staf akan dilengkapi dengan stasiun APD khusus untuk doffing dan donning, di mana mereka dapat melepas atau mengenakan alat pelindung mereka dengan aman.

Selain pada waktu makan, waktu istirahat dan menggunakan toilet, pekerja Zona 1 harus memakai APD mereka setiap saat. Demikian pula, staf yang bekerja di Zona 2 dan 3 juga harus mematuhi persyaratan APD. CAG mengonfirmasi bahwa mereka berupaya agar 100 persen pekerja Zona 1 divaksinasi sepenuhnya ketika protokol diterapkan sepenuhnya.

Hal ini untuk mengurangi kemungkinan infeksi, mungkin mengurangi penularan selanjutnya, dan juga mengurangi keparahan penyakit jika seorang pekerja terinfeksi. CAG akan memindahkan pekerja yang tidak divaksinasi untuk bekerja di Zona lain untuk mengurangi risiko infeksi. CAG juga menargetkan agar lebih dari 90 persen pekerjanya di Zona 2 dan 3 divaksinasi sepenuhnya.

Tes Polymerase Chain Reaction (PCR) dilakukan setiap tujuh hari sekali, diselingi dengan Antigen Rapid Test (ART) pada hari ketiga. Selain itu, CAG merencanakan tes harian non-invasif untuk pekerja Zona 1, yang akan dilakukan pada akhir shift mereka sebelum mereka pulang.

Baca juga: Untuk Kunjungan Singkat di Singapura, Bandara Changi Siapkan Fasilitas Khusus Pelancong Bisnis

CAG lebih lanjut menyatakan penghargaannya untuk para pekerjanya, terutama mereka yang terkena dampak dari langkah-langkah baru tersebut. Lee mengatakan bahwa sementara virus berhasil menembus pertahanan Bandara Changi, sesuatu yang sangat disesalkan CAG, mereka bertekad untuk tidak membiarkan virus merusak komunitas lebih jauh dengan bantuan langkah-langkah pagar cincin baru dan protokol keselamatan yang ditingkatkan.

Parkir Dua Bulan di Bandara Ngurah Rai, WNA ini Bayar Parkir Rp9,6 Juta

Video, foto atau apa pun yang menjadi viral sepertinya sering kali terjadi dan ini biasanya membuat para warganet ikut berkomentar baik yang isinya bersifat positif maupun negatif. Seperti belum lama ini terjadi pada seorang warga negara asing yang viral karena membayar parkir di Bandara Internasional I Gusti NGurah Rai hingga lebih dari US$600 atau sekitar Rp9 jutaan.

Baca juga: Keren, Bandara Internasional Laut Merah, Fasilitasi ‘Sultan’ Parkir Mobil di Dekat Pesawat

KabarPenumpang.com melansir laman thebalisun.com (6/6/2021), sebuah video yang diunggah oleh warga negara asing bernama Jack Morris di media sosial menggambarkan mahalnya parkir di Bandara Ngurah Rai. Video tersebut kemudian menjadi viral karena tarif yang harus dibayarkannya cukup mahal.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by INFOBALI (@punapibali)

Mahalnya biaya parkir yang harus di bayarkan Jack sebenarnya berawal dari dia yang memarkir mobil di Bandara Ngurah Rai, Bali itu sejak 1 April hingga 1 Juni 2021. Kemudian saat dirinya akan membayar parkir mobil, Jack terkejut karena harus membayar sebesar US$671 atau sekitar Rp9,6 juta pada Selasa (1/6/2021) kemarin.

Dalam video yang diunggah satu hari setelahnya itu, dia menjelaskan bahwa tidak menyangka akan mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk membayar parkir mobil yang ia titipkan selama dua bulan di bandara. Membengkaknya biaya parkir Jack juga karena dia mengaku sebelum keberangkatannya dari Bali lebih dari dua bulan lalu, tidak sempat mengatur parkir jangka panjang untuk mobilnya.

Sehingga dia memutuskan untuk memarkirkan mobilnya di area parkir mobil Bandara Ngurah Rai.

“Saya memarkir mobil saya di bandara yang merupakan ide konyol karena itu adalah tempat paling mahal yang bisa Anda parkir dalam jangka panjang.” kata Jack.

Sementara itu otoritas Bandara Ngurah Rai Bali membenarkan bahwa kejadian tersebut benar adanya. Stakeholder Relation Manager Angkasa Pura I Ltd, untuk Bandara Bali, Taufan Yudhistira mengatakan, biaya parkir dikenakan sesuai dengan kebijakan bandara.

“Jumlah uang yang harus dia bayarkan sudah benar. Selain itu, dia sudah membayar biaya sebelum meninggalkan bandara, jadi tidak ada masalah.” kata Yudistira.

Baca juga: 6 Cara Menghemat Uang Saat Parkir Mobil di Bandara

Sebelumnya, PT Angkasa Pura I menerapkan tarif parkir baru untuk sepeda motor dan mobil di Bandara Ngurah Rai Bali per 1 April 2021, sehingga setiap mobil diharuskan membayar US$0,70 sen atau sekitar Rp10 ribu untuk satu jam pertama dan US$0,35 sen atau sekitar Rp5 ribu untuk setiap jam tambahan.

Intip Kecanggihan Pesawat Dinas Presiden Erdogan, Punya Sistem Pertahanan Anti Rudal

Pesawat kepresidenan atau pesawat kenegaraan dinilai paling rentan menjadi target pembajakan atau penyerangan oleh teroris kelas kakap. Oleh karenanya, tak heran bila pesawat tersebut dibekali dengan berbagai sistem pertahanan udara; tak terkecuali pesawat kepresidenan Turki.

Baca juga: Intip Ilyushin Il-96 Air Force One Rusia, Punya Sistem Pertahanan Anti Rudal dan Kursi Lontar

Sejak tahun 2014 lalu, perlahan tapi pasti, Turki mulai tampil percaya diri di panggung perpolitikan dunia dan berubah menjadi salah satu negara yang disegani. Penyebabnya, apalagi kalau bukan figur tegas, cerdas, dan kuat presiden mereka, Recep Tayyip Erdogan.

Kharisma Erdogan bahkan berhasil mengantarkannya sebagai tokoh Muslim paling berpengaruh di dunia tahun 2020 versi pusat penelitian independen The Royal Islamic Strategic Studies Centre yang berbasis di Yordania.

Dinobatkannya Erdogan sebagai tokoh muslim paling berpengaruh di dunia tentu tidaklah aneh. Lihat saja dalam perang antara Azerbaijan dan Armenia tahun lalu. Dalam peperangan tersebut, sudah menjadi rahasia umum kalau Turki berada di pihak Azerbaijan dan Rusia mendukung penuh Armenia. Setelah beberapa hari perang sengit, Azerbaijan akhirnya keluar sebagai pemenang dan mendapatkan kembali wilayah yang selama ini diduduki Armenia.

Dalam peperangan tersebut, Turki mengerahkan drone-drone buatan dalam negeri mereka. Padahal, kita tahu bahwa teknologi militer Rusia, termasuk drone, bisa dibilang jempolan. Namun, semua itu pupus dihadapan Turki dan strategi perangnya yang jitu.

Sebagai negara yang menempati posisi teratas di politik global maupun regional atau kawasan, dalam hal ini di Mediterania, Turki tentu rentan terhadap sabotase; termasuk terhadap pesawat kenegaraan mereka. Karenanya, tidak heran bila pesawat dilengkapi dengan sistem pertahanan anti rudal.

Dikutip dari aa.com, selain dilengkapi sistem pertahanan anti rudal, pesawat kenegaraan Turki, Airbus A330-200 Prestige, juga dilengkapi dengan berbagai fitur mewah lainnya, seperti ruang rapat dan kantor cukup luas, kamar tidur utama, fasilitas gym sederhana, serta kamar mandi setara hotel berbintang.

Selain itu, pesawat yang dikonfigurasi ulang oleh Gore Design Completions dengan mahar sebesar US$100 juta ini juga mampu mengangkut hingga 90 penumpang, cukup banyak untuk kategori pesawat VVIP.

Erdogan tentu bukanlah satu-satunya presiden yang pesawat dinasnya dilengkapi dengan sistem pertahanan anti rudal. Tercatat, pesawat kepresidenan atau kenegaraan lainnya, seperti Amerika Serikat, Rusia, Perancis, Inggris, hingga Jerman, juga dilengkapi dengan sistem itu.

Baca juga: Sah! Jerman Jadi Negara Pertama Operasikan A350-900 XWB Sebagai Pesawat Kenegaraan

Beberapa dari mereka bahkan mempunyai fitur yang lebih canggih dari pesawat kepresidenan Turki, seperti fitur escape pod atau kursi lontar serta peralatan radio militer dengan dilengkapi kombinasi pesan rahasia yang terenkripsi untuk berkomunikasi di udara.

Turki sejauh ini tercatat memiliki enam pesawat kepresidenan. Enam itu adalah Airbus A330-200 Prestige, Airbus A318-100 ACJ, Airbus A319-100 ACJ, Airbus A340-500, Boeing 747-8, dan Bombardier CRJ-200. Sementara itu, untuk jajaran menteri, mereka juga dibekali enam pesawat dinas, mulai dari dua Gulfstream 500, dua Gulfstream GIV, dan dua Cessna Citation.

(1) Hidup Bak ‘Raja’, Inilah Rincian Umum Sistem Gaji Pilot! Pantas Saja Bergelimang Harta

Terlepas dari banyaknya pilot yang jobless akibat pandemi Covid-19, tetap saja pilot masih dipandang sebagai salah satu profesi yang ‘wah’ berkat gaji selangit. Bak gayung bersambut, faktanya, mudah membuktikan stigma tersebut. Cukup buka media sosial, maka, sedikit banyaknya orang-orang akan mengamini stigma tersebut dengan melihat gaya hidup mereka.

Baca juga: Kenapa Pilot ‘Boncos’ Gegara Tak Terbang? Berikut Penjelasannya

Besaran gaji pilot memang berbeda-beda, bergantung pada dimana mereka bekerja, tipe operasional, pesawat yang mereka terbangkan, posisi atau jabatan, serta seberapa lama mereka bekerja untuk perusahaan. Belum lagi pundi-pundi uang lainnya yang mungkin bisa diraup pilot di beberapa kondisi.

Dikutip KabarPenumpang.com dari pilotjobcentral.com,setidaknya ada beberapa tipe atau jenis pekerjaan yang dihandel pilot. Masing-masing jenis pekerjaan tentu saja mempengaruhi pendapatan mereka karena memiliki besaran kompensasi yang berbeda-beda; mulai dari airline pilot pay, corporate pilot pay, cargo pilot pay, charter pilot pay, flight instructor pay, law enforcement pilot pay, aerial firefighter pilot pay, sampai crop duster pilot pay.

Airline pilot pay normalnya dihitung berdasarkan per jam. Tetapi, turunan dari itu bergantung pada setidaknya sembilan kondisi. Sembilan kondisi tersebut mulai dari pilot pay rigs, trip rig pay, duty rig pay, block rig pay, determining pay earned based on pilot pay rigs, work rules effect on pay, paid time of within the rig system, pilot employer operations and quality of life, hingga pilot per diem day.

Pilot pay rigs pada intinya pilot dibayar berdasarkan trip atau tugas yang diberikan kepada mereka, mulai dari satu hari hingga satu minggu. Hal itu tentu berbeda dengan trip rig pay. Rig system tersebut memungkinkan pilot dibayar berdasarkan rasio perjalanan. Seumpama, dalam empat hari, pilot menyelesaikan perjalanan sekitar 78 jam. Biasanya rasio yang digunakan 1:3, 1:4, dan 1:5. Dengan rasio, misalnya, 1: 4 maka 78 dibagi 4 dan hasilnya adalah 19,5. Jika pilot dibayar berdasarkan trip rig, pilot akan mendapat bayaran 19,5 jam.

Senada dengan trip rig, duty rig juga memungkinkan pilot dibayar berdasarkan rasio. Sebagai contoh, dalam empat hari, pilot berhasil terbang selama 42 jam, dengan rincian 8-12-12-10 hari berturut-turut dari hari pertama samapi ke empat. Rasio yang digunakan biasanya berkisar 1:1,5 – 1:3. Itu berarti, dengan rasio, misalnya, 1:2 pilot akan dibayar sebanyak 21 jam, hasil dari 42 dibagi 2. Hal itu justru berbanding terbalik dengan block rig pay, dimana model pembayaran pilot cenderung statis. Maksudnya, bila pilot menyelesaikan 25 jam perjalanan dalam sepekan, maka, ia dibayar seharga itu.

Lain lagi dengan determining pay earned based on pilot pay rigs. Sistem ini dinilai menguntungkan pilot dengan pembayaran berdasarkan catatan tertinggi. Biasanya, pilot diminta untuk memilih mereka dibayar untuk model yang mana di antara tiga ini, away from base, duty time, dan actual flight time.

Nah, dengan model determining pay earned, maka, pilot tak perlu repot memilih ketiga itu. Sebab, sudah otomatis, pembayaran tertinggilah yang akan diberikan ke pilot. Misalnya, berdasarkan away from base, maka pilot mendapat jam terbang 19,5 jam. Berdasarkan duty time, pilot mendapatkan 21 jam. Sedangkan bila berdasarkan actual flight time, pilot mendapat 25 jam. Jika demikian, pilot otomatis akan dibayar sebanyak 25 jam kerja.

Baca juga: (2) Hidup Bak ‘Sultan,’ Inilah Rincian Umum Sistem Gaji Pilot! Pantas Saja Bergelimang Harta

Garuda Indonesia Percepat Pengembalian Pesawat yang Belum Jatuh Tempo Kepada Lessor

Berupaya keras untuk memulihkan kinerja perusahaan, saat ini manajemen Garuda Indonesia tengah melakukan percepatan pengembalian lebih awal armada yang belum jatuh tempo masa sewanya. Langkah strategis tersebut salah satunya ditandai dengan pengembalian dua armada B737-800 NG kepada salah satu lessor pesawat.

Baca juga: Profil Leasing Nordic Aviation Capital yang Tersangkut Kasus 12 Pesawat Bombardier Garuda

Adapun percepatan pengembalian tersebut dilakukan setelah adanya kesepakatan bersama antara Garuda Indonesia dan pihak lessor pesawat, dimana salah satu syarat pengembalian pesawat adalah dengan melakukan perubahan kode registrasi pesawat terkait.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra dalam pesan tertulis (7/6/2021) mengatakan, “Percepatan pengembalian armada yang belum jatuh tempo masa sewanya, merupakan bagian dari langkah strategis Garuda Indonesia dalam mengoptimalisasikan produktivitas armada dengan mempercepat jangka waktu sewa pesawat.” Ia menambahkan, hal tersebut merupakan langkah penting yang perlu kami lakukan di tengah tekanan kinerja usaha imbas pandemi Covid-19, dimana fokus utama Garuda Indonesia adalah penyesuaian terhadap proyeksi kebutuhan pasar di era kenormalan baru.

Berusaha untuk memangkas jumlah armada lainnya, Garuda Indonesia juga terus menjalin komunikasi bersama lessor pesawat lainnya, tentunya dengan mengedepankan aspek legalitas dan compliance yang berlaku.

Baca juga: Dinilai Krusial Bantu Kesuksesan Maskapai, Berikut Daftar 5 Leasing Pesawat Terbesar di Dunia

Garuda Indonesia dikabarkan akan memangkas jumlah armada pesawat mereka dari sekitar 142 pesawat menjadi 70 pesawat. Saat ini, Garuda hanya mengoperasikan sekitar 41 pesawat. Perusahaan pelat merah itu tak bisa menerbangkan lebih banyak armada karena pembayaran belum dilakukan kepada perusahaan leasing. Namun hal ini hanya berlaku untuk layanan penerbangan Garuda saja, tidak termasuk anak usahanya, Citilink Indonesia.

Intip Ilyushin Il-96 Air Force One Rusia, Punya Sistem Pertahanan Anti Rudal dan Kursi Lontar

Air Force One selama ini melekat pada pesawat kepresidenan Presiden Amerika Serikat (AS). Terlebih ketika ada insiden, seperti yang terjadi belum lama ini, dimana Air Force One yang ditumpangi Donald Trump dikabarkan hampir bertabrakan dengan drone, nyaris tak ada ruang untuk Air Force One lainnya untuk mendapat sorotan media.

Baca juga: Sedih! Prototipe Pesawat Teranyar Rusia Ilyushin IL-96-400M Nyaris Rampung, Tapi Sepi Peminat

Padahal, selain Air Force One AS, Rusia juga mempunyai pesawat kepresidenan yang juga disebut Air Force One. Bahkan, bisa dibilang fitur yang ada di pesawat Ilyushin Il-96 Air Force One Rusia tak kalah mewah dan aman untuk dijadikan pesawat VVIP setingkat presiden dengan pengaruh politik global cukup besar seperti Rusia, sekalipun pabrikan pesawat tersebut (Ilyushin) masih jauh dari cukup untuk menyamai nama besar Boeing dan Airbus.

Dikutip KabarPenumpang.com dari Simple Flying, pesawat buatan United Aircraft Corporation (UAC), Ilyushin Il-96-300, saat ini tercatat hanya ada 15 di dunia, dengan rincian tiga digunakan maskapai nasional Kuba, Cubana de Aviación, dan lainnya berada di Rusia, dimana delapan di antaranya digunakan sebagai pesawat kepresidenan.

Pesawat Ilyushin Il-96-300 Air Force One Rusia berbeda dengan versi penumpang. Ilyushin Il-96-300 komersial umumnya mampu mengangkut sebanyak 300 penumpang sejauh 11.500 km, dengan panjang pesawat mencapai 65 m. Namun, untuk versi VVIP, pesawat ini mampu terbang lebih jauh dari itu karena muatan lebih sedikit dari versi penumpang, dengan dimensi pesawat yang jauh lebih besar, sekalipun tak disebutkan dengan rinci perbedaannya.

Masuk ke segi interior, balutan desain neo-klasik dengan kombinasi warna merah, gold, putih, dan coklat dari furniture khas Rusia, karpet merah, permadani di dinding dan beberapa peralatan yang dilapisi emas, menjadi suguhan untuk memanjakan mata rombongan (VVIP). Selain itu, desain tersebut, sekali lagi, sangat cocok untuk peruntukan pesawat kepresidenan Rusia yang notabene memiliki posisi penting dalam percaturan politik global.

Guna mengakomodir kebutuhan meeting, Air Force One Rusia juga dilengkapi dengan ruang rapat dan kantor cukup luas. Tak hanya itu, Ilyushin Il-96-300 VVIP memiliki kamar tidur utama, fasilitas gym sederhana, serta kamar mandi setara hotel berbintang, ditambah dengan gagang atau handle dari emas.

Sebagai bagian dari safety, Air Force One Rusia juga dilengkapi dengan sistem pertahanan anti rudal atau biasa juga disebut CAMS (Civilian Aircraft Missile Protection System) untuk melawan rudal anti pesawat portabel atau man-portable air defence systems (MANPADS).

Baca juga: Untung Rugi Narrowbody vs Widebody untuk Pesawat Kepresidenan Indonesia

Sistem pertahan anti rudal ini akan sangat berguna ketika jet tempur pengawal Air Force One Rusia (biasanya berjumlah tiga-enam) berhasil dilumpuhkan. Namun, sistem anti rudal itu bukanlah opsi terakhir, pesawat masih dibekali dengan fitur escape pod atau kursi lontar. Hanya saja, tak disebutkan dengan jelas berapa jumlah kursi lontar yang tersedia.

Selain Ilyushin Il-96-300, Rusia masih memiliki beberapa Air Force One lainnya yang digunakan sesuai kebutuhan, berupa dua Airbus A319 dan dua Sukhoi Superjet 100 (Sukhoi SJ100). Meskipun tergolong pesawat kecil, namun, versi VVIP kedua pesawat tersebut bukan tak mungkin juga dilengkapi dengan fitur-fitur serupa dengan Ilyushin Il-96-300 VVIP.






















Air Force One Kini Dibuat Replika untuk Edukasi Publik

Pesawat Kepresidenan Amerika Serikat (Air Force One) belum lama ini mulai terbuka untuk umum. Namun, bukan Air Force One sungguhan yang biasa digunakan oleh Presiden Negeri Paman Sam Donald Trump, melainkan sebuah Boeing 747 bekas yang disulap menjadi replika Air Force One.

Baca juga: Pentagon Umumkan Desain “Air Force One” Terbaru, Identik dengan Maskapai Trump Shuttle

Dilansir Simple Flying, niatan untuk membuat replika pesawat kepresidenan pertama kali muncul pada tahun 2016 lalu. Saat itu, setelah melalui riset sederhana, sebuah kelompok memutuskan untuk memulai proyek membuat replika pesawat Air Force One. Tujuannya, untuk mendidik publik, khususnya anak-anak, akan pentingnya demokrasi, tanggung jawab sipil, dan hak untuk memilih.

“Misi kami adalah mendidik generasi warga Amerika berikutnya tentang pentingnya demokrasi, tanggung jawab sipil, dan hak untuk memilih,” kata kelompok tersebut.

Di tahun tersebut, WJAR, salah satu stasiun TV di Amerika Serikat melaporkan bahwa sebuah Boeing 747-200F purna tugas dengan harga sewa sebear $2.000 per minggu, sedang dalam pengerjaan atau modifikasi ulang untuk proyek yang dinamakan ‘Air Force One Experience’ di Bandara Quonset State, Rhode Island, AS.

Interior replikasi Air Force One. Foto: Air Force One Experience

Setelah sempat terhenti, modifikasi dilanjutkan pada tahun 2017. Pesawat dengan nomor registrasi N485EV ini pun menggunakan corak yang identik dengan dua pesawat Boeing VC25-A atau Air Force One aktif. Itu dari sisi eksterior. Dari segi interior, modifikasi ulang menampilkan kabin depan layaknya Air Force One, seperti Ruang Konferensi, Kantor Kepresidenan, dan tempat tidur Presiden.

Pameran ‘Air Force One Experience’ memiliki tujuan pendidikan, dan terdiri dari tur mandiri selama tiga jam di dalam dan di sekitar pesawat. Saat ini hanya terbuka untuk kelompok sekolah. Pesawat dapat diangkut dengan kapal tongkang. Dengan demikian, replika tersebut telah dipamerkan di Washington, D.C. dan New York dalam beberapa tahun terakhir.

Baca juga: Setelah Tiga Dekade Dirahasiakan, Interior “Japanese Air Force One” Diperlihatkan ke Publik

Sebelum berubah nasib menjadi replika Air Force One, pesawat tersebut tercatat pernah beberapa kali membantu beberapa maskapai dunia. Pesawat pertama kali dikirim ke Singapore Airlines pada tahun 1973. Boeing 747-200 itu kemudian dipekerjakan di maskapai Flying Tiger Line dan Pan Am, sebelum akhirnya dikonversi ulang menjadi angkutan kargo.

Maskapai ini memasuki layanan sebagai kargo dengan Evergreen International Airlines pada tahun 1991, sebelum disewakan ke Saudi Arabian Airlines setahun kemudian. Pesawat kembali ke Evergreen pada tahun 2002, dan akhirnya ditarik setelah hampir 40 tahun beroperasi pada tahun 2012.