Mobil Golf Semi-Otonom Mudahkan Para Lansia di Desa Pegunungan Jepang

Belum lama ini masa depan perjalanan hadir di desa pengunungan terpencil di timur laut Jepang. Ini terlihat dari kehadiran mobil golf yang semi-otonom untuk menghidupkan masyarakat setempat. Hal tersebut dirasakan oleh Asa Ishikami dan melihat perubahan dalam 85 tahun hidupnya.

Baca juga: Sokong Mobilitas di Olimpiade Musim Panas 2020, Jepang Uji Coba Taksi Otonom Pertama di Dunia

“Ini benar-benar nyaman bagi saya karena saya tinggal sendiri dan tidak memiliki sarana lain untuk menempuh jarak yang agak jauh (bagi saya),” kata Ishikami.

(mainichi.jp)

Kendaraan baru ini melaju dengan kecepatan 12 km per jam dan cukup membawa masyarakat di desa tersebut bepergian ke tempat favorit mereka. KabarPenumpang.com melansir mainichi.jp (6/10/2020), mobil golf tersebut memiliki tujuh kursi dan menjadi mobil listrik yang pertama tanpa pengemudi serta digunakanuntuk transportasi berbayar.

Mobil golf listrik diperkenalkan pada November tahun lalu di Kamikoani, desa Prefektur Akita yang memiliki populasi hanya 2200 penduduk dan kebanyakan lansia. Meskipun dapat dengan mudah menavigasi rutenya berkat kabel induksi elektromagnetik yang diletakkan di bawah permukaan jalan, pengemudi harus membawanya melalui persimpangan dan mengendalikannya dalam situasi darurat, sehingga tidak lebih efektif dalam memotong biaya upah daripada bus yang diganti.

Didesain untuk membawa hingga lima penumpang sekaligus, kendaraan yang dijuluki Mobil Koani itu mengemudikan salah satu dari tiga rute setiap pagi pada hari kerja dengan tarif 200 yen, menghubungkan lingkungan, kantor pos, kantor desa dan klinik. Awal beroperasi, masyarakat enggan untuk naik dan jumlah penumpang meningkat secara bertahap dan melampaui target awal 15 penumpang per hari hingga Maret, menurut organisasi nirlaba yang bertanggung jawab atas layanan tersebut.

“Kami mendapat tanggapan yang baik karena banyak orang mengatakan mereka ingin layanan tersebut datang ke lingkungan mereka juga,” kata Yoshinori Hagino, yang memimpin NPO.

Pengambilan dan pengantaran kendaraan yang dikembangkan oleh Yamaha Motor Co dapat dipesan melalui telepon dan NPO juga akan memulai layanan pengiriman bagasi dalam waktu dekat. Layanan kendaraan semi-otonom diperkenalkan oleh Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi, dan Pariwisata karena khawatir bahwa pengurangan layanan bus di daerah pedesaan Jepang yang sepi penduduknya akan meninggalkan masalah mobilitas besar bagi penduduk lanjut usia.

Di Kamikoani, orang yang berusia 65 atau lebih terdiri dari sekitar 53 persen dari populasi pada Mei, dibandingkan dengan angka nasional sebesar 28,7 persen pada September, rekor tertinggi. Dengan sedikit bus yang beroperasi dan tidak ada supermarket di desa, penduduk dapat menemukan diri mereka sendiri tanpa akses ke kebutuhan pokok jika mereka tidak mengemudi, menurut penduduk setempat.

Desa tersebut adalah yang pertama memulai layanan penumpang aktual di antara 18 wilayah pegunungan di mana kementerian transportasi telah melakukan uji coba mengemudi semi-otomatis sejak 2017. Pemerintah nasional bertujuan untuk membantu meluncurkan layanan serupa di setidaknya 40 lokasi di seluruh negeri pada tahun fiskal 2025, dengan satu yang berjalan di jalur kereta api yang sudah tidak beroperasi yang dijadwalkan akan dimulai pada tahun fiskal saat ini di Prefektur Fukui, Jepang tengah.

Namun, pengoperasian di Kamikoani menunjukkan bahwa layanan semacam itu tidak dapat berjalan tanpa dukungan keuangan dari pemerintah. Para pejabat mengatakan, sementara warga berharap rute akan diperluas untuk mencakup lebih banyak area, dibutuhkan investasi awal yang besar untuk memasang kabel induksi penting.

Kendaraan ini sepenuhnya otonom untuk sekitar satu kilometer dari rute dua hingga lima kilometer tetapi juga mengharuskan orang untuk berjaga-jaga untuk memastikan kendaraan pribadi tidak memasuki bagian jalan tempat kendaraan beroperasi di bawah kendalinya sendiri.

Baca juga: Lampaui AS, Cina Mulai Operasikan Taksi Otonom Level Tertinggi, Apollo RoboTaxi

“Layanan semacam ini harus menjadi pemandangan umum di masa depan,” kata Hagino dari NPO, sambil mengakui bahwa masih ada ruang untuk perbaikan. “Kami berharap menjadi pelopor,” ujarnya.

Vickers Viscount, Pesawat Turboprop Pertama di Dunia

Inggris memainkan peranan penting dalam percaturan industri penerbangan global di tahun 40-60an. Pesawat jet komersial pertama dunia, de Havilland Comet, mungkin jadi salah satu bukti. Tak hanya itu, Inggris juga membuka jalan dimulainya era penerbangan turboprop -sebagai pengganti mesin piston yang berisik dan banyak getaran- melalui pengembangan pesawat turboprop pertama di dunia, Vickers Viscount.

Baca juga: De Havilland Comet, Inilah Pesawat Jet Komersial Pertama di Dunia

Dikutip dari baesystems.com, penerbangan perdana Vickers Viscount dimulai pada Juli 1948 melalui prototipe tipe 630. Saat itu, pesawat dengan nomor registrasi G-AHRF ini hanya diperbolehkan oleh Komite Brabazon -komite yang dibentuk oleh pemerintah Inggris pada tahun 1942 untuk menganalisis kebutuhan masa depan pasar pesawat sipil Inggris setelah Perang Dunia II- sebanyak 24 kursi. Namun, setelah prototipe Vickers Viscount tipe 630 sukses terbang, kapasitasnya ditingkatkan menjadi 32 penumpang dengan panjang pesawat hingga 22 meter lebih.

Keberhasilan prototipe Vickers Viscount tipe 630 bersama mesin turboprop Rolls-Royce Dart pun mengundang perhatian dunia. Pasalnya, sebelum Vickers Viscount datang, umumnya pesawat masih menggunakan mesin piston yang tak ramah penumpang. Walaupun masih butuh beberapa perbaikan, Vickers Viscount sebagai pesawat dengan mesin turboprop pertama di dunia kala itu digadang-gadang bakal menggantikan Douglas DC-3 yang dinilai usang.

Belum usai prototipe Vickers Viscount tipe 630 dengan mesin turboprop Rolls-Royce Dart, prototipe kedua Viscount tipe 663 dengan mesin jet Rolls-Royce Tay tak lama berselang siap mengudara. Prototipe ini didapuk sebagai test-bed untuk mengembangkan pesawat Vickers Valiant dengan mesin jet. Maklum, saat itu, perlombaan pengembangan pesawat jet komersial pertama di dunia cukup ketat, dengan saingan terberat datang dari rekan se-negara, De Havilland.

Prototipe Vickers Viscount G-AHRF dengan livery British European Airways (BEA). Foto: baesystems.com

Setelah berdiskusi dengan British European Airways (BEA) sebagai mitra utama Vickers-Armstrongs (pabrikan Vickers Viscount), varian turboprop akhirnya lebih diprioritaskan karena dinilai lebih menguntungkan. Maskapai Inggris itu pun akhirnya memesan 26 pesawat Vickers Viscount tipe 700, dengan penambahan 47 hingga 53 kursi, jauh lebih besar dari dua tipe sebelumnya.

Penambahan kapastitas kursi tentu menuntut Vickers untuk menambah panjang pesawat menjadi sekitar 25 meter dari semula hanya 22 meter. Setelah menanti beberapa tahun, pada 28 Agustus 1950 protoripe Vickers Viscount tipe 700 pun berhasil terbang perdana. Prototipe dengan nomor registrasi G-AMAV inilah yang semakin meyakinkan dunia akan datangnya era pesawat turboprop yang lebih efisien, minim getaran, dan halus.

Tiga tahun berselang, tepatnya pada 18 April 1953, Vickers Viscount BEA dengan nomor registrasi G-AMNY mulai masuk ke dalam layanan dengan menempuh rute London-Siprus. Momen itu pun mengukuhkanya sebagai layanan berjadwal turboprop pertama di dunia.

Dalam rentang 1948 -1963, sebanyak 445 Vickers Viscount diproduksi. Dengan jumlah tersebut, Vickers Viscount menjadi pesawat pertama yang sukses dan menguntungkan setelah Perang Dunia II. Pelanggan terbesar tentu datang dari maskapai domestik sebanyak 77 unit. Sisanya, tersebar di 40 negara melalui lebih dari 60 operator. Umumnya, Eropa dan Amerika Utara masih menjadi pasar terbesar Vickers Viscount.

Baca juga: 55 Tahun Lalu, Antonov An-22 Antei, Turboprop Terbesar di Dunia Terbang Perdana

Ada lima varian berbeda Vickers Viscount yang diproduksi. Mulai dari tipe 630, tipe 663, tipe 700 series, serta tipe 800 series dan tipe 810 series yang lebih panjang. Dari kesemuanya itu, tipe 700 series adalah yang tersukses, dengan total penjualan sebanyak 287 unit.

Dengan jangkauan maksimum mencapai 3.218 km, kemampuan melesat hingga 510 km per jam, serta ketinggian terbang mencapai 6.400 m, Vickers Viscount menjadi benar-benar menjadi idola baru maskapai di seluruh dunia, terutama untuk layanan regional. Penerbangan minim getaran dan nyaman menjadi daya tarik utama penumpang terhadap pesawat ini, melalui mesin turboprop serta jendela yang jauh lebih besar dari yang ada saat itu.

Berkat Teknologi GPS, Lampu Sein di Sepeda Bisa Menyala Otomatis

Sepeda saat ini tengah menjadi transportasi pilihan di kala pandemi juga baiknya memiliki kelengkapan yang cukup bagi pengendaranya. Salah satunya adalah penambahan lampu depan atau belakang atau keduanya. Lampu ini untuk memudahkan pengendara lainnya mengetahui ada pengendara sepeda di depannya.

Baca juga: Sambil Gowes, Iwind Bikin Pesepeda Mampu Menghirup Udara Murni

Baru-baru ini sejumlah lampu sepeda pintar tersedia dan bisa menyala secara otomatis saat keadaan di luar gelap. Lampu ini dilengkapi dengan sistem ioLight di mana bisa menunjukkan pengendara sepeda akan berbelok seperti pengguna sepeda motor.

Untuk penggunaannya, lampu akan menyala karena dipicu oleh koordinat GPS pengguna. Dilansir KabarPenumpang.com dari newatlas.com (1/9/2020), lampu ini besutan produsen lampu sepeda yang berbasis di Los Angeles Lumenus. Di mana perusahaan ini pernah menghadirkan jaket bersepeda dengan lampu sein terintegrasi.

Sistem ioLight ini bisa dengan mudah digunakan melalui tambahan di aplikasi pada Android atau iOS yang bisa mengubah warna LED lampu depan yang putih atau lampu merah di belakang menjadi lainnya. Untuk menggunakan lampu ini, pengguna sebelum berangkat bisa memulai dengan menggunakan aplikasi dan memasukkan tujuan mereka.

Kemudian perangkat lunak akan memilih rute ramah bersepeda tercepat dari lokasinya saat ini ke tujuan. Cara kerjanya pun mudah, ketika pengguna mulai mengayuh, aplikasi akan secara otomatis memberi tahu jika ada belokan di jalanan depan dengan cara berurutan memflash strip lampu ke depan ke arah belokan.

Tak hanya itu, lampu di bagian belakang juga akan ikut berkedip ke arah yang sama. Sehingga dengan kedipan lampu di sepeda membuat para pengendara lainnya sadar akan jalanan yang ditempuh pesepeda.

Jika pengguna ingin mengganti aplikasi, maka mereka dapat mengubahnya secara manual dengan mengaktifkan atau menonaktifkan fungsi sinyal belok (di kedua lampu) serta menekan tombol di kedua sisi lampu depan. Namun jika mereka menggunakan pintasan di luar peta atau tidak ingin sepenuhnya mengikuti rute yang dipetakan, maka perubahan itu akan dicatat oleh aplikasi, dan kemudian dapat dimasukkan ke dalam sinyal belok otomatis pada perjalanan berikutnya.

Selain itu, setiap kali pengendara mendekati area yang “rumit” seperti persimpangan atau bundaran, lampu depan secara otomatis akan menyala untuk memastikan mereka diperhatikan. Tak hanya itu, setiap kali pengendara sepeda menginjak rem, sensor gerak di lampu belakang mendeteksi perlambatan dan merespons dengan berdenyut.

Baca juga: Masih Belum Berminat? Sepeda Listrik Xiaomi Ini Bisa Dilipat Seukuran Ransel!

Lampu juga dapat dibeli secara terpisah dan digunakan sebagai lampu depan atau belakang standar, tanpa aplikasi. Keduanya memiliki output 200 lumens, tahan air dan debu IPX5, memiliki visibilitas 360 derajat, dan dilaporkan dapat bekerja selama lebih dari 30 jam per pengisian baterai lithium 3,7 volt atau 2200 mAh.

Sebagai bonus tambahan, mereka bersinar dalam gelap bahkan saat dimatikan. Dua paket yang terdiri dari kedua lampu dengan harga US$160. Setelah itu, harganya akan naik menjadi US$200.

Boeing C-40, Varian Unik 737 yang Jarang Diketahui Publik

Boeing 737 bisa dibilang jadi salah satu pesawat narrowbody paling fenomenal di dunia. Betapa tidak, sejak pertama kali meluncur pada 1967, selama 55 tahun pesawat berhasil menjadi raja narrowbody sampai akhirnya berhasil digusur oleh keluarga Airbus A320 pada 2018 lalu akibat insiden berkepanjangan yang menimpa Boeing 737 MAX 8.

Baca juga: Boeing 737 Generasi Pertama vs Seri Klasik, Apa Perbedaannya?

Akan tetapi, dibalik reputasi besar Boeing 737, rupanya terdapat salah satu varian yang disebut jarang diketahui publik. Varian tersebut adalah Boeing C-40.

Dikutip dari military.com, Boeing C-40 sendiri adalah versi militer dari Boeing 737-700C (Convertible). Pesawat ini umumnya digunakan oleh Angkatan Laut Amerika Serikat dan Angkatan Udara Amerika Serikat; termasuk Korps Marinir Amerika Serikat yang masih dalam proses produksi.

Boeing C-40 mempunyai tiga varian berbeda, mulai dari C-40A “Clipper”, C-40B, dan C-40C. Embrio masing-masing varian tersebut juga berbeda-beda dan didapuk sebagai pengganti para pendahulunya.

C-40 Clipper adalah versi militer dari pesawat komersial Boeing 737-300. Pesawat ini pertama kali beroperasi pada tahun 2003 dengan berbagai fitur unggulan, seperti rest area kru, kompartemen pengunjung yang istimewa dengan tempat tidur, dua dapur kecil, dan tempat duduk kelas bisnis dengan meja kerja. Fitur-fitur tersebut sangat memanjakan berbagai pejabat penting negara, seperti menteri, anggota DPR, hingga pejabat militer.

Berbeda dengan C-40A Clipper, C-40B versi militer yang lahir dari pengembangan Boeing 737-700 business jet ini diplot sebagai pengganti C-137 yang dianggap sudah senja. Seperti C-40A Clipper, C-40B juga dibuat untuk menjadi kantor terbang bagi para pejabat AS. Namun, fitur yang ditonjolkan berbeda dengan Clipper.

C-40B lebih menonjolkan kemampuan komunikasi sebagai fitur utama pesawat. C-40B menyediakan kemampuan transmisi dan penerimaan data/video broadband serta komunikasi suara dan data yang jernih dan aman. Fitur tersebut tentu sangat menunjang mobilitas para pejabat untuk mengurus pekerjaan dan bisnis di mana saja di seluruh dunia menggunakan Internet on-board dan koneksi jaringan area lokal, telepon, satelit, monitor televisi, serta mesin faksimili dan fotokopi. C-40B juga memiliki sistem data penumpang berbasis komputer.

C-40 Clipper dan C-40B boleh saja dilengkapi dengan fitur berkelas, namun, keduanya tak mempunyai kemampuan untuk mengubah konfigurasi semudah C-40C. Versi militer yang ditugaskan untuk mengisi pos peninggalan C-22 yang sudah uzur ini mampu mengubah konfigurasinya untuk menampung dari 42 menjadi 111 penumpang.

Baca juga: Ada “Alis” di Kokpit Boeing 737? Ini Penjelasannya

Meski demikian, sekalipun berbeda dari segi interior, namun, urusan dapur pacu ketiganya memiliki kesamaan. Dikutip dari laman resmi Boeing, C-40A/B/C menggunakan mesin CFM56-7 dengan range mencapai 5.926 km. Mesin tersebut juga mampu membawa pesawat melesat 0.78-0.82 Mach dengan Extended Operations (ETOPS) mencapai 180 menit.

Menariknya, mesin tersebut juga merupakan mesin yang sama dari Boeing 737-300 dan Boeing 737-700 versi penumpang yang jadi embrio ketiganya, selain tampilan eksterior yang juga nyaris tak ada bedanya dengan versi penumpang. Bila tanpa livery, mungkin versi penumpang dan militer bakal sulit dibedakan.

Asyik, Penumpang Pesawat Kelas Ekonomi Kini Bisa Selonjoran ke Kursi Depan!

Begitu banyak inovasi di kabin first class. Tetapi, hal tersebut bak mimpi di siang bolong untuk kabin kelas ekonomi. Namun, sejak beberapa tahun terakhir, firma desain di seluruh dunia mulai melirik inovasi di kelas tersebut. Salah satunya lewat gelaran Crystal Cabin Awards.

Baca juga: Inilah Economy Sky-Dream, Tempat Tidur Tiga Tingkat untuk Penumpang Kelas Ekonomi Jarak Jauh

Crystal Cabin Awards sendiri merupakan event perlombaan tahunan yang mengundang firma desain seluruh dunia untuk memberikan satu ide desain terbaik mencakup seluruh area di kabin, entah itu kursi pesawat, toilet, jendela, kompartemen bagasi, lampu led, IFE, dan lain sebagainya.

Setiap tahun, ajang ini selalu menghadirkan desain-desain inovatif. Pada tahun 2018 silam, ajang final Crystal Cabin Awards menghadirkan salah satu inovasi yang disebut Eco Zlounge besutan Zodiac Aerospace.

Dilansir Simple Flying, lewat desain Eco Zlounge, penumpang di kabin kelas ekonomi dimungkinkan untuk selonjoran sejajar dengan tempat duduk. Selama ini, hal itu mustahil didapat. Sekalipun bisa selonjoran, paling-paling hanya bisa meregangkan kaki ke bawah kursi di depan.

Penumpang juga akan diberikan wadah dari seatback untuk tumpuan paha bawah hingga betis untuk kenyamanan lebih. Lewat lubang kecil pada bagian kursi, yang memungkinkan kaki menembus kursi depan, penumpang bisa menikmati sensasi selonjoran dalam posisi paling nyaman.

Hanya saja, perlu dicatat, dalam kondisi normal, konsep Eco Zlounge mustahil dilakukan. Sebab, konsep ini mengandalkan kursi kosong di depan. Andaipun tidak kosong, penumpang di sampingnya dipercaya juga tak akan nyaman melihat kaki penumpang lain ada di sebelahnya. Terlebih bila kaki penumpang yang bersangkutan tak semulus yang dibayangkan.

Sudah begitu, konsep ini juga bisa menimbulkan konflik antar penumpang. Ketika kursi di depan seorang penumpang kosong dan hendak dimanfaatkan untuk meregangkan kaki, mungkin itu akan mulus-mulus saja andai penumpang lain tak berniat pindah ke kursi tersebut. Seandainya ia dan kedua penumpang lain ngotot saling mengklaim hak pribadinya pada kursi tersebut, bukan tak mungkin pertikaian akan terjadi bila tak cepat-cepat dilerai.

Daripada mengharapkan inovasi di kursi kelas ekonomi yang rentan konflik, tak ada salahnya berharap banyak pada inovasi kursi kelas ekonomi lainnya; seperti kursi Joy buatan Rebel.Aero.

Kursi Joy didesain untuk menjadi pioneer kursi nyaman di kelas ekonomi. Hal itu didasari sejumlah alasan, seperti terbuat dari bahan ringan dan kuat, tata letak, dan fitur-fitur simple namun sangat dibutuhkan.

Disebutkan, secara keseluruhan, kursi terbuat dari bahan-bahan ringan dan teknik pembuatan modern. Selain itu, seatback dibuat dengan bahan thermoplastik agar perawatannya bisa jauh lebih terjangkau. Dua ini dinilai bukan hanya bermanfaat untuk penumpang, melainkan untuk maskapai karena mengurangi berat total pesawat. Itu berarti menghemat konsumsi bahan bakar atau cost.

Baca juga: Benarkah Penumpang Kelas Ekonomi Kurang Perhatian? Ini Kata Awak Kabin

Sarung jok belakang kursi Joy Rebel.Aero dibuat sangat simple tanpa jahitan. Kursi juga dilengkapi dengan fitur flip up booster, dimana kursi bisa dilipat untuk memberikan keleluasaan kepada para penumpang untuk berdiri di depan kursi.

Fitur spesial kursi Joy Rebel.Aero adalah letak kursi tengah yang sedikit lebih maju dibanding kursi di sebelahnya. Desain seperti ini dinilai menjadi solusi terbaik untuk mengakhiri polemik perebutan armrest di kursi tengah serta gesekan bahu antara penumpang di kursi tengah dengan penumpang di sebelah kanan dan kirinya.

Digunakan Beberapa Jenis Pesawat, Ini Perbedaan T-Tail dan Tailplane

Bagi avgeek atau orang awam sekalipun di seluruh dunia, mungkin beberapa waktu pernah melihat pesawat dengan ekor berbentuk T-tail. Beberapa pesawat lainnya juga pernah terlihat menggunakan ekor tailplane. Kendati sama-sama bisa mendukung aerodinamika pesawat, lantas, apa perbedaan antara keduanya?

Baca juga: Mengenal Pengujian Statis, Proses Sertifikasi Pesawat Tanpa Perlu Terbang

Sebelum jauh ke sana, ekor pesawat pada umumnya memiliki fungsi sebagai penstabil atau stabilitator dan kontrol pesawat dalam penerbangan. Biasanya, itu terbagi menjadi dua, vertical tail fin dan horizontal stabilizer. Pada keduanya, ada elevator untuk mengontrol pitch pesawat serta rudder untuk kemudi.

Di semua pesawat jet komersial besar di dunia, seperti Boeing 747, Airbus A380, dan lain sebagainya, horizontal stabilizer biasanya terletak sejajar dengan badan pesawat. Namun, di banyak pesawat, horizontal stabilizer terletak di bagian atas tail fin. Inilah yang pada akhirnya disebut sebagai T-tail.

Dikutip dari Simple Flying, pesawat-pesawat Boeing dan Airbus saat ini rata-rata sudah menggunakan tailplane atau horizontal stabilizer yang sejajar dengan badan pesawat. Tetapi, di masa lalu, Boeing lekat dengan T-tail, seperti pesawat Boeing 717 atau McDonnell Douglas MD-95 dan 727.

Di luar itu, secara historis, pesawat-pesawat lainnya juga menggunakan ekor-T atau T-tail. Mencakup BAC One-Eleven, DC-9, MD-80, dan MD-90. Berlanjut ke Vickers VC-10, Fokker F28, F70, dan F100, Tupolev Tu-135, Tu-154, serta Ilyushin Il-62.

Airbus A320 Air India dikonfigurasi ulang menjadi pesawat Airborne Early Warning & Control (AEW&C) oleh litbang Kemenhan India. Foto: Airbus

Selain digunakan pesawat ket komersial besar, jet komersial dan bisnis ukuran kecil juga banyak yang menggunakan ekor-T, seperti Bombardier CRJ Series, Embraer ERJ, BAe 146/Avro RJ, Learjet, dan Gulfstream.

Di luar dua itu, pesawat-pesawat militer juga menggunakan T-tail, termasuk Lockheed C-5 Galaxy, Boeing C-17, Airbus A400M, dan Illyushin Il-76. Pada pesawat militer pengangkut, T-tail memang lebih relevan karena mempengaruhi muatan ekstra.

Menempatkan horizontal stabilizer di bawah ataupun di bagian atas, masing-masing mempunyai fungsi tersendiri berbasis pada teori. Untuk horizontal stabilizer di bagian atas hingga membentuk ekor huruf T, ini diyakini bisa mencegah aliran udara yang terhalang di belakang sayap dan mesin. Biasanya, T-tail dipasangkan dengan penggunaan mesin di badan pesawat, seperti Boeing 727 dan pesawat lainnya.

Penggunaan horizontal stabilizer di atas vertical tail fin juga berguna untuk short-field performance atau beroperasi di runway pendek. Aliran udara yang terganggu di atas horizontal stabilizer yang lebih rendah dari T-tail, membuat kontrol pesawat lebih sulit pada kecepatan rendah.

Baca juga: Inilah Celera 500L, Pesawat Mewah Paling Irit Sedunia atau Seirit Mobil dan Secepat Jet

Mengingat T-tail sudah ditinggalkan oleh pesawat-pesawat modern, sebetulnya, apa alasan dibalik itu? Setidaknya ada tiga alasan. Pertama, lower horizontal stabilizer, yang sejajar dengan badan pesawat, lebih mudah dipasang dan dirawat. Kedua, T-tail sudah tak lagi dibutuhkan untuk short-field performance dengan hadirnya mesin jet berkekuatan besar. Ketiga, menghindari kemungkinkan deep stall.

Ketika pesawat di posisi high angle of attack, aliran udara yang terganggu di atas sayap akan mengalir ke stabilizer horizontal yang lebih tinggi atau T-tail dan membuat pesawat kehilangan pitch control. Insiden terkait ini pernah terjadi pada pesawat uji BAC One-Eleven tahun 1963 silam. Dari situ kemudian rekomendasi untuk penggunaan stabilizer horizontal yang lebih rendah menggema.

Penundaan Kereta Cepat Terjadi di Stasiun Beijing Barat Saat Libur May Day

May Day atau Hari Buruh Internasional yang diperingati setiap tanggal 1 Mei, membuat banyak orang melakukan perjalanan liburan. Salah satunya adalah masyarakat Cina yang memanfaatkan waktu libur tersebut untuk berlibur ketika May Day.

Baca juga: Festival Musim Semi di Cina, Kereta Berikan Tarif Murah Jelang Imlek

Namun sayangnya saat May Day, banyak kereta yang perjalanannya tertunda. Karena hal ini, penumpang di Stasiun Beijing Barat menyalahkan operator kereta api nasional yakni China State Railway Group atas penundaan perjalanan selama liburan May Day itu.

Untuk diketahui, saat May Day, sebanyak 30 kereta cepat dari Beijing ke Wuhan, Xi’an dan Changsa ditunda pada hari Sabtu (1/5/2021) kemarin. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman sumber asia.nikkei.com (10/5/2021), ternyata selain penundaan ada 16 perjalanan kereta lainnya dibatalkan.

Hari peringatan May Day tersebut merupakan hari pertama dari lima hari liburan. Hal ini kemudian membuat operator Stasiun Beijing Barat mengatakan, penundaan disebabkan adanya angin kencang di Dingzhou yang merupakan salah satu kota di Hebei dan berbatasan dengan Beijing.

Angin kencang tersebut menyebabkan listrik padam sehingga perjalanan tertunda saat itu. Sayangnya, penumpang tidak mau peduli dengan masalah itu dan menyalahkan perencanaan serta manajemen operator yang buruk.

Baca juga: Liburan Imlek Diperpanjang, Wuhan Masih Akan Jadi ‘Kota Mati’

Karena hal ini, Beijing West telah mengeluarkan permintaan maaf pada hari Minggu di sebuah posting Weibo, mengatakan akan menyelidiki masalah tersebut dan menghasilkan rencana darurat yang lebih baik untuk bergerak maju, menurut laporan itu.

Rongsokan Pesawat Disulap Jadi Mobil RV Seharga Rp400 Jutaan, Modifikasi Butuh 36 Tahun

Di masa awal pandemi virus Corona, industri penerbangan anjlok drastis. Lebih dari setengah populasi pesawat yang beredar digrounded di seluruh dunia. Lockdown dimana-mana. Mudik dilarang. Pergerakan orang dibatasi. Masyarakat diminta di rumah saja selama berbulan-bulan. Efeknya, sudah pasti bikin mereka jenuh.

Baca juga: Rongsokan Mesin Jet Rolls-Royce Disulap Jadi Karavan Unik, Butuh Waktu 1.000 Jam

Geram terus di rumah, masyarakat pun mulai berontak. Sementara pesawat dilarang untuk mengantarkan penumpang ke berbagai wilayah, masyarakat tetap mencari cara untuk bepergian via darat sambil merasakan sensasi naik pesawat. Bila itu yang diinginkan, modifikasi mobil RV 1979 Fleetwood Pace Arrow dan Convair CV-240 tahun 1954 mungkin bisa jadi alternatif.

Dilansir thedrive.com, musim panas lalu, usai lockdown berkepanjangan akibat virus Corona, warga Amerika mulai menyerbu destinasi wisata. Rata-rata dari mereka pergi piknik ke alam terbuka. Saking tingginya minat berlibur warga via darat, rental mobil RV pun melonjak sampai 650 persen, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Musim Panas 2021 nampaknya tak akan jauh berbeda. Minat berlibur warga Amerika tetap tinggi seiring belum pulihnya perjalanan udara. Rental mobil RV (Recreational Vehicle) sudah pasti akan kembali diserbu.

Mobil RV hasil pengabungan dengan pesawat ini bisa dikemudikan di kursi sebalah kanan maupun kiri. Foto: Steve/Craigslist

Bagi warga yang tak mendapat slot penyewaan mobil RV, mungkin tak ada salahnya coba menjajal modikasi pesawat menjadi mobil, Andromeda. Sayangnya, modifikasi Convair-Fleetwood ini tak lagi bisa beroperasi karena tak dirawat dengan baik sejak tahun 80an dan dijual dengan harga murah.

Padahal proses modifikasi Andromeda menghabiskan waktu hingga 36 tahun, termasuk dibumbui dengan pengejaran oleh pihak kepolisian. Menurut Santa Barbara Independent, sang kreator mobil-pesawat tersebut, Roger Crona, ialah seorang kriminil yang kabur dari penjara pada tahun 1972.

Disebutkan, guna menghilangkan jejaknya, ia menggunakan empat nama samaran, salah satunya Von Straussenberg.

Interior Andromeda. Foto: Steve/Craigslist

Crona kemudian bertemu dengan Tony Tosta di California Selatan dan mengajaknya untuk membuat mobil dari body pesawat bekas sampai akhirnya lahirlah Andromeda.

Andromeda diketahui banyak mempertahankan desain asli Convair. Tak heran, Andromeda bisa dikemudikan melalui kursi pilot ataupun kopilot. Sebab, keduanya dilengkapi dengan setir yang saling terhubung layaknya yoke pada pesawat.

Baca juga: VACA Limousines – Hasil ‘Kawin Silang’ Boeing 727 dengan Bus Mercedes-Benz, Dijual Rp14,7 Miliar!

Berdasarkan foto yang diposting di situs jual beli online Craigslist atas nama Steve, perlu beberapa perbaikan sebelum kendaraan ini bisa kembali ke jalan. Bukan tanpa sebab, mantan pesawat ini diubah menjadi motorhome di awal 80-an, setelah ditemukan terbengkalai di balik semak-semak, usai sang kreator kembali ditangkap polisi.

Interiornya saat ini dalam kondisi tidak terawat tapi, meski begitu, jelas dikemas dengan fasilitas lengkap. Ada ruang untuk tempat tidur susun dan kemungkinan untuk membuka atap untuk tidur di bawah bintang-bintang, sound system, kamar tidur terpisah, dapur lengkap dengan kompor gas dan oven, wastafel, microwave, bahkan jacuzzi di tengah ruang tamu. Andromeda saat ini dibanderol seharga US$27.995 dolar AS atau sekitar Rp 400 jutaan. Berminat?

Musim Liburan ‘May Day,’ Penumpang Kereta Cina Alami Lonjakan Tinggi

Hingga saat ini, pandemi virus corona masih berlangsung di seluruh dunia. Bahkan di India kini memasuki gelombang kedua dan disebut sebagai tsunami corona karena hampir 400 ribu orang per harinya terinfeksi virus yang berasal dari Wuhan, Cina ini.

Baca juga: Cina Punya Rel Kereta Menembus Apartemen, Jepang Ternyata Punya Jalan Tol Menembus Gedung 

Hal ini kemudian membuat India melakukan penguncian dan berbagai negara juga melakukan hal serupa. Meski begitu, masa pandemi juga masih membuat banyak orang melakukan perjalanan ke dalam maupun luar negeri baik dengan pesawat atau kereta api.

Nah, bagaimana dengan negara awal berkembangnya virus ini? Dilansir KabarPenumpang.com dari laman sumber ecns.cn (8/5/2021), kasus baru di Cina menurun dan pada masa liburan ternyata masyarakat Cina melakukan perjalanan. Ini terlihat dari 117 juta penumpang di masa liburan.

Jumlah 117 juta penumpang tersebut merupakan totalan selama delapan hari perjalanan sejak 29 April hingga 6 Mei kemarin. Jumlah ini naik sebesar sebelas persen atau 11,54 juta penumpang dari tahun 2019.

Data resemi terkait pelonjakan penumpang tersebut ditunjukan oleh China State Railway Group Co., Ltd pada Jumat (7/5/2021). Bahkan pada May Day atau Hari Buruh pada 1 Mei dan berlangsung hingga 5 Mei, jumlah penumpang kereta api sebanyak 78,5 juta, data menunjukkan.

Baca juga: Prototipe Kereta Maglev Cina Melaju dengan Kecepatan 620 Km Per Jam

Selain kenaikan jumlah penumpang, kereta api Cina juga mengangkut 83,17 juta ton kargo selama periode liburan tersebut. China State Railway Groupmengatakan, angkutan kargo ini pun naik sebesar 14,6 dari tahun ke tahun.

Inggris Mulai Uji Coba Drone Kargo ke Kepulauan Terpencil, Indonesia Kapan?

Perusahaan jasa pos nasional Britania Raya, Royal Mail, mulai menguji coba penggunaan drone kargo untuk mengantar paket ke kepulauan terpencil di Isles of Scilly, Barat Daya London. Drone kargo dinilai akan lebih efisien mengantar paket ketimbang pengiriman secara konvensional mengingat jaraknya mencapai 112 km. Hal serupa sudah dilakukan Inggris saat mengantar APD via drone ke wilayah tersebut.

Baca juga: Di Inggris, Eks Pilot Jet Tempur Operasikan Drone Medis Suplai Pasokan Antar Rumah Sakit

Selain penggunaan drone kargo Royal Mail menghubungkan antara daratan Inggris dengan Isles of Scilly, itu juga mencakup antar kepulauan itu sendiri, mengingat antar pulau-pulau tersebut berjarak sekitar puluhan kilometer.

Mengingat jarak, drone yang digunakan bukanlah drone berkuran kecil yang bisa lepas landas secara vertikal, melainkan drone hybrid dengan dua mesin dan rotor besar, sayap serta vertical serta horizontal stabilizer berbentuk gawang, berkemampuan lepas landas horizontal.

Dilansir Simple Flying, uji coba drone kargo Royal Mail baru-baru ini dilakukan di Perranporth Airfield, dekat Newquay. Drone kargo denga nomor registrasi G-WNDR itu terbang di ketinggian sekitar 2.000 kaki selama perjalanan ke dan dari Kepulauan Scilly. Di awal penerbangan, drone kargo masih dalam pengamatan operator sebelum akhirnya terbang bebas dengan tetap under kontrol melalui monitor.

Ketika itu, uji coba berlangsung sukses dengan kembalinya drone kargo Royal Mail, dua jam usai berangkat dari Perranporth Airfield.

Menurut Otoritas Penerbangan Sipil Inggris (CAA), drone kargo tersebut dibuat oleh Universitas Southampton pada 20 Oktober 2020. Drone ini memiliki kemampuan berat lepas landas maksimum 350kg.

Menurut Royal Mail, drone dapat membawa 100kg surat atau paket di setiap perjalanan. Perusahaan juga mengklaim bahwa drone kargonya dapat diterbangkan dalam kondisi cuaca buruk. Dengan begitu, layanan kargo via drone bakal maksimal di segala kondisi.

Usai tiba di center point atau sejenis gudang paket Windracers Drone, anak perusahaan Royal Mail yang mengoperasikan layanan drone kargo, seluruh paket kemudian dipilah ulang untuk pengiriman akhir. Pada tahap ini, Windracers Drone sudah mulai menggunakan drone kargo yang lebih kecil dengan kemampuan lepas landas vertikal.

Andai uji coba ini terus berhasil, Royal Mail berjanji akan menghadirkan layanan drone kargo ke seluruh pulau-pulau terpencil Britania Raya yang jumlahnya cukup banyak.

“Inggris berada di garis depan revolusi penerbangan, mengembangkan teknologi yang lebih baru dan lebih hemat bahan bakar. ‘Jembatan udara’ Royal Mail ke Kepulauan Scilly tidak hanya akan menghubungkan komunitas terpencil dan pedesaan, tetapi juga menampilkan potensi drone dunia nyata untuk benar-benar mengubah hidup kita,” kata Menteri Bisnis Inggris, Paul Scully.

Baca juga: Tak Seperti Garuda Indonesia, Japan Airlines Mulai Realisasikan Drone Kargo di Perkotaan

Di dunia, Inggris tentu bukan yang pertama mengadopsi drone kargo. Jepang, melalui Japan Airlines sudah memulai layanan tersebut sekalipun di tengah perkotaan. Amerika Serikat melalui raksasa e-commerce, Amazon, juga sudah mengoperasikan drone kargo. Cina juga demikian melalui drone EHang.

Indonesia, melalui Garuda Indonesia, sudah sejak beberapa tahun lalu ingin mengoperasikan layanan drone kargo. Hanya saja, itu akhirnya mentah usai pergantian kepemimpinan maskapai BUMN tersebut.