Inikah Lokasi Pesawat Bersejarah DC-9 “Woyla” PK-GNJ Garuda Indonesia Berada Saat Ini?

Pesawat DC-9 (Douglas DC-9) Woyla Garuda Indonesia PK-GNJ yang dibajak di Bandara Don Mueang, Bangkok, Thailand, saat ini tinggal kenangan. Hal itu karena pesawat bersejarah itu justru dijual ke mancanegara alih-alih di simpan sebagai suatu khazanah perjalanan kedirgantaraan nasional.

Baca juga: 40 Tahun Lalu, Pembajakan Pesawat DC-9 “Woyla” Garuda Indonesia Jadi yang Pertama dalam Sejarah

Padahal, semangat untuk menyimpan pesawat-pesawat bersejarah sudah bukan hal baru. Convair 600 Seulawah Airlines, misalnya, sempat diabadikan di Bandara Internasional Kemayoran sebagai pesawat dari maskapai swasta pertama Indonesia.

Begitu juga dengan Ilyushin Il-14 Avia. Pesawat ini diketahui pernah digunakan sebagai pesawat kepresidenan yang diberi nama Dolok Martimbang, sebuah bukit gagah berdiri tinggi menjulang seakan menggapai langit di daerah tarutung, ibu kota Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara.

Selain itu, pesawat juga berjasa dalam upaya melawan pemberontakan di sejumlah daerah pada 1957 – 1965. Saat ini, pesawat itu masuk dalam barisan koleksi Museum Pusat TNI Dirgantara Mandala (Muspusdirla), Yogyakarta sejak 2017 lalu, sekalipun nasibnya sempat tak jelas. Berkaca dari dua itu, sudah sepatutnya DC-9 “Woyla” Garuda Indonesia juga turut diabadikan karena bernilai sejarah.

Kita tahu, sebelum masuknya era pesawat berbadan sedang Boeing 737 di Indonesia, pelayanan penerbangan jet komersial domestik jarak pendek di Tanah Air dominan dilakukan oleh DC-9 (Douglas DC-9) produksi McDonnell Douglas.

Maskapai pengguna DC-9 tak lain adalah Garuda Indonesia, saat masa jaya DC-9 memang belum tumbuh layanan penerbangan jet komersial swasta seperti saat ini. Debut pesawat ini pun sempat melejit di kalangan warga, lantaran menjadi pesawat pertama dari Indonesia yang dibajak di luar negeri dalam peristiwa “Woyla” di tahun 1981.

Meski bernilai sejarah sebagai pesawat pertama dari Indonesia yang dibajak di luar negeri, sayangnya, nasib DC-9 (Douglas DC-9) Woyla Garuda Indonesia PK-GNJ sudah tak jelas. Namun, andaipun ada kemauan, bisakah pesawat bersejarah tersebut kembali ke Tanah Air?

Dikutip dari planespotters.net, setelah sebelumnya berganti nama menjadi “Porong” dan dilepas Garuda Indonesia pada 1981, pesawat ini jatuh ke berbagai pelukan. Juli 1982, DC-9 Porong dioperasikan maskapai Jerman, Aero Lloyd, berlanjut ke maskapai Midwest Express Airlines pada Februari 1994 sampai Februari 2003.

Pesawat selanjutnya dioperasikan Executive Aero Space mulai April 2004, berlanjut South African Express Airways pada Oktober 2005, dan terakhir berada di tangan Executive Aero Space pada Maret 2006. Sesudah itu, pesawat disebut pensiun dan dipotong-potong serta diperjualbelikan sparepartnya.

Baca juga: Inilah Biju Patnaik, Pilot India yang Bantu Indonesia Merdeka Sekaligus Gurunya Tiga Pahlawan Nasional

Namun, menurut laporan ch-aviation.com pada Maret 2010, pesawat yang terakhir diregistrasi sebagai ZS-TGR itu masih berada di Bandara Johannesburg Oliver Reginald Tambo International (JNB) dan dibiarkan mangkrak, layaknya bangkai pesawat lain di Gurun Mojave, AS.

Hanya saja, tidak ada laporan terbaru setelah tahun tersebut. Mengingat rentang waktu cukup lama dari Maret 2010 sampai Maret 2021, pesawat mungkin saja sudah tidak berada di bandara tersebut. Tetapi, bilapun masih di bandara tersebut, maukah Indonesia, dalam hal ini Garuda Indonesia, mendatangkan kembali pesawat bersejarah DC-9-30 Woyla PK-GNJ Garuda Indonesia? Menarik ditunggu.

Mudahkan Tunanetra, Ransel ini Dibekali “Kecerdasan Buatan” untuk Bantu Navigasi

Berbagai macam teknologi untuk memudahkan tunanetra makin berkembang. Hal ini agar para penyandang tunanetra lebih mudah memahami lingkungan yang ada disekitar mereka. Sehingga ketika melalui lingkungan tersebut mereka bisa menghindari rintangan yang menghalangi jalan.

Baca juga: Kombinasi Teknologi Ponsel Pintar dan Kode QR Bantu Penyandang Tunanetra di Stasiun

Salah satu yang terbaru dan dibuat para teknisi adalah mengembangkan sistem perangkat yang dapat digunakan dengan aktivitas suara sehingga bisa melacak rintangan secara real-time dan mendeskripsikan lingkungan sekitar seseorang. Dilansir KabarPenumpang.com dari newatlas.com (28/3/2021), sistem bantuan visual ini terdiri dari beberapa komponen yang dapat dikenakan tanpa beban lebih dari yang digunakan setiap kali meninggalkan rumah.

Tim teknik pembuat sistem mengatakan, bahwa menyembunyikan elektronik adalah tujuan utama sehingga pengguna tidak terlihat seperti cyborg yang berjalan di jalan. Nantinya ini bisa digunakan di rompi atau tas pinggang yang mengemas serangkaian kamera 4K untuk memberikan informasi warna dan sepasang kamrea stereoskopik yang memetakan kedalaman bidang.

Informasi visual ini kemudian diumpankan ke otak operasi, disimpan di ransel. Di sana, unit komputasi seperti laptop atau Raspberry Pi menjalankan antarmuka dengan AI (artificial intelligence) atau kecerdasan buatan yang disebut OpenCV’s AI Kit with Depth (OAK-D), yang menggunakan jaringan saraf untuk menganalisis data visual.

Ini juga berisi baterai portabel yang dapat digunakan hingga delapan jam, dan unit GPS yang terhubung dengan USB. Data visual yang diolah kemudian diteruskan melalui Bluetooth ke sepasang earphone, memberi tahu pengguna apa yang ada di sekitarnya.

Ini dapat memperingatkan rintangan dari berbagai bentuk, ukuran dan jenis serta menyatakan di mana mereka dalam kaitannya dengan pengguna, menggunakan deskriptor seperti depan, atas, bawah, kiri, kanan dan tengah. Jadi, misalnya, sistem dapat memberi tahu seseorang yang sedang berjalan di jalan bahwa mereka mendekati tempat sampah di “bawah, kiri” atau cabang yang menggantung rendah dengan “atas, tengah”.

Bahaya tersandung seperti trotoar atau tangga dapat terlihat sebagai perubahan ketinggian, dan sistem bahkan dapat mengenali hal-hal penting seperti rambu Berhenti atau penyeberangan saat mendekati sudut. Pengguna juga dapat mengeluarkan perintah suara untuk meminta informasi lebih lanjut.

Tim menjelaskan akan membuat sistem merespons dengan daftar apa yang ada di sekitar mereka dan di mana, seperti “mobil, jam 10”, “orang jam 12”, dan “lampu lalu lintas, jam 1”. Tempat tertentu juga dapat disimpan untuk referensi di masa mendatang dengan perintah seperti “simpan lokasi, kedai kopi”.

Nanti, ketika Anda ingin kembali ke sana, pengguna dapat mengatakan “cari kedai kopi” dan sistem akan memberikan petunjuk arah dan mengatakan seberapa jauh jaraknya.
Alat bantu berteknologi tinggi lainnya untuk penyandang tunanetra bermunculan, seperti tongkat laser yang mendeteksi objek dan perubahan medan, dan kerah pemandu Toyota yang berdengung di sisi kiri atau kanan untuk memberi tahu orang ke mana harus berbelok.

Baca juga: Tak Dapat Kursi, Inilah Derita Penumpang Tunanetra di Kereta Komuter Inggris

Tetapi sistem baru ini terlihat jauh lebih detail dan berpotensi memungkinkan orang dengan penglihatan terbatas untuk menavigasi dunia secara mandiri. Ini masih awal, tetapi tim berharap untuk mempercepat sistem dengan menjadikan proyek non-komersial dan open source.

Intip Konsep Peacock Suites, Desain Hotel ‘Terbang’ Super Mewah Pesawat di Masa Depan

Para inovator di berbagai penjuru dunia, setiap detik saling berlomba menemukan berbagai solusi di kehidupan. Tak terkecuali di bidang penerbangan. 1001 satu inovasi telah dan masih akan terus dilakukan sampai benar-benar tak ada masalah atau mengakomodir seluruh kebutuhan manusia di pesawat. Salah satu solusi yang coba dihadirkan adalah konsep Peacock Suites.

Baca juga: 1001 Inovasi di Ajang Crystal Cabin Award Berikan Kenyaman dan Keamanan Penumpang

Peacock Suite memungkinakn kursi diubah menjadi tempat tidur luas. Cocok untuk pasangan. Foto: Butterfly Seating

Konsep yang diusung Paperclip Design, perusahaan asal Hong Kong, ini bisa dibilang sangat mewah atau super premium. Tak ayal bila mereka berhasil memenangi ajang desain kabin pesawat tahunan bergengsi, Crystal Cabin Award tahun 2019.

Dilansir Simple Flying, Peacock Suites merupakan konsep kabin mewah untuk penumpang first class. Dalam kondisi tertentu, konfigurasi Winter Suite dan Spring Suite bak hotel terbang juga bisa diubah menjadi kelas bisnis kapasitas satu orang, family seating berkapasitas dua orang dewasa dan dua anak-anak, apartement VIP untuk dua orang, honeymoon suite untuk dua orang, bahkan suite VIP dua orang.

Posisi Peacock Suite di depan kelas bisnis. Foto: Butterfly Seating

Konfigurasi konsep Peacock Suites di pesawat terletak di depan kursi kelas bisnis, dengan bentuk masing-masing setengah lingkaran di sisi kanan dan kiri, menyisakan ruang cukup di tengah untuk akses ke dua toilet private di bagian depan dan private mini bar di sebelah belakang.

Secara umum, masing-masing setengah lingkaran tersebut bisa diisi oleh empat orang penumpang dengan konfigurasi 2-2. Bagi penumpang berpasangan, Peacock Suites bisa disulap menjadi tempat tidur cukup luas.

Peacock Suite bisa untuk empat orang ataupun dua orang. Foto: Butterfly Seating

Bagi family seating, Peacock Suites bisa diubah menjadi kursi untuk dua anak-anak dan dua dewasa, lengkap dengan dua lampu tidur, empat kompartemen bagasi di bagain bawah kursi, dua meja makan, tiga jendela pesawat, dan rak buku multi fungsi.

Selain itu, setiap setengah dari setengah lingkaran juga bisa diatur untuk konfigurasi untuk satu penumpang private dengan luas lantai sekitar 35 kaki persegi.

Selain dilengkapi dengan tempat tidur, meja makan juga tersedia di Peacock Suite. Foto: Butterfly Seating

Sebaliknya, agar lebih luas, sekat pemisah antar kamar di masing-masing sisi kiri dan kanan Peacock Suites bisa dibuka dan menghasilkan dua kamar luas yang menyatu. Ini cocok untuk family seating ataupun honeymoon suite, suite VIP, apartement VIP, dan lain sebagainya untuk dua orang, dimana area duduk dan tidur terpisah.

Tempat tidur di Peacock Suite bisa ditambah di bagian atas. Foto: Butterfly Seating

Baca juga: Bersiaplah, Ajang Crystal Cabin Awards Akan Hadirkan Desain Kabin Pesawat Masa Depan

Yang paling mewah tentu gabungan dari seluruh fasilitas yang ada, dimana dua kamar setengah lingkaran, toilet, dan mini bar digabungkan, sehingga menciptakan suasana sangat private, senyap, dan mewah bak hotel terbang. Konsep ini tentu sangat cocok untuk seorang pengusaha kenamaan dunia, sultan tajir melintir, eksekutif setingkat menteri, presiden, perdana menteri, dan lain sebagainya.

Meskipun konfigurasinya mudah ditata ulang, sayangnya, konsep desain Peacock Suites dirancang untuk tersedia hanya di pesawat-pesawat widebody, utamanya Boeing 777 atau Airbus A350.

Inilah Rolls-Royce UltraFan, Mesin Pesawat Terbesar di Dunia, 100 Persen Ramah Lingkungan

Raksasa produsen mesin pesawat asal Inggris, Rolls-Royce, bakal meluncurkan mesin terbaru hasil pengembangan dari keluarga mesin Trent, Rolls-Royce UltraFan. Mesin dengan lebar 3,5 m itu diklaim menjadi mesin pesawat terbesar di dunia. Bila tak ada aral melintang, Rolls-Royce UltraFan ditargetkan bisa beroperasi pada awal tahun mendatang.

Baca juga: Kabar Baik, Rolls-Royce Mulai Uji Mesin 100 Persen Ramah Lingkungan!

Saat ini, Rolls-Royce mengaku sudah mulai membangun mesin demonstrator Rolls-Royce UltraFan. Ini didukung penuh dua negara, Inggris dan Jerman, dimana suku cadang sedang dibangun di Bristol, Inggirs, dan Dahlewitz, Jerman. Setelahnya, mesin Rolls-Royce UltraFan akan dikirim ke fasilitas DemoWorks di Derby, Inggris, untuk pengujian.

Sebelumnya, Rolls-Royce mengaku sudah berhasil membangun mesin pertama untuk keperluan testbed belum lama ini, dengan menghabiskan kocek sebesar US$125 juta atau sekitar Rp1,8 triliun (kurs 14.527). Testbed itu dilakukan di fasilitas testbed indoor terbesar di dunia, Testbed 80, milik FINN company atau Farnborough International, Inggris. Mesin Rolls-Royce UltraFan dijadwalkan akan kembali ke fasilitas testbed ini setelah melahap uji demonstran.

“Ini adalah momen yang menyenangkan bagi kami semua di Rolls-Royce. Ini tiba pada saat dunia mencari cara yang lebih berkelanjutan untuk bepergian di dunia pasca Covid-19, dan itu membuat saya dan semua tim kami sangat bangga mengetahui bahwa kami adalah bagian dari solusi,” kata Presiden Rolls-Royce, Chris Cholerton, dikutip dari Simple Flying.

Selain menjadi mesin pesawat terbesar di dunia, bersaing dengan kompetitornya asal Amerika Serikat, General Electric (GE) -yang notabene sudah meluncurkan mesin pesawat terkuat di dunia yang dipakai Boeing 777X, GE9X- Rolls-Royce juga tak melupakan dampak lingkungan dari kehadiran mesin UltraFan.

Disebutkan, mesin UltraFan akan menghemat konsumsi bahan bakar atau lebih efektif hingga 25 persen dari keluarga mesin Trent generasi pertama. Selain itu, mesin ini didesain untuk bisa dioperasikan dengan bahan bakar ramah lingkungan atau bahan bakar berkelanjutan (SAF-Sustainable Aviation Fuel) serta dioperasikan untuk seluruh pesawat narrowbody dan widebody, tak seperti GE9X yang hanya bisa dioperasikan pada pesawat-pesawat widebody.

“Efisiensi UltraFan akan membantu meningkatkan ekonomi transisi industri ke bahan bakar yang lebih berkelanjutan, yang kemungkinan akan lebih mahal dalam jangka pendek daripada bahan bakar jet tradisional. Uji coba pertama mesin akan dilakukan dengan 100 persen Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan,” jelas Chris.

Baca juga: Ini Dia Mesin Jet Terbesar di Dunia, Harganya Bikin Merem Melek!

Yang paling menarik dari mesin pesawat terbesar di dunia tersebut adalah sentuhan teknologinya selama proses pengujian yang nantinya membuat mesin jadi lebih kuat dan tahan lama.

“Setiap bilah kipas memiliki digital twin yang menyimpan data selama proses pengujian, memungkinkan teknisi untuk memprediksi kinerja dalam layanan. Saat diuji di fasilitas baru Rolls-Royce senilai £90 juta di Testbed 80, data dapat diambil dari lebih dari 10.000 parameter, mendeteksi getaran terkecil dengan kecepatan hingga 200.000 sampel per detik,” jelas Rolls-Royce, dalam sebuah keterangan.

Bantu Hentikan Tangisan Bayi dalam Penerbangan, Pramugara Pakistan Internasional Jadi Juara “HeForShe”

Pada 11 Maret 2021 kemarin dalam penerbangan Pakistan Internasional Airlines (PIA) dari Islamabad ke Karachi membuat seorang awak kabin (pramugara) menjadi pahlawan ketika seorang bayi mulai menangis dan sang ibu cukup lelah karena mengurus anaknya yang lain. Awak kabin itu bernama Tauheed Daudpota yang tengah menjalankan tugasnya dalam penerbangan tersebut.

Baca juga: Aksi Awak Kabin Emirates Tuai Pujian, Selamatkan Nyawa Penumpang dalam Penerbangan

Saat itu Daudpota mengambil bayi menangis tersebut dari sang ibu dan mulai menghiburnya. Bayi tersebut kemudian mulai diam dan tertidur dalam pelukannya. Bahkan beberapa jam setelah kejadian itu, foto dan video Daudpota yang tengah membantu sang ibu menenangkan bayinya tersebut viral dan mendapat pujian dari banyak orang.

Dilansir KabarPenumpang.com dari arabnews.com (26/3/2021), UN Women Pakistan bahkan menyatakan bahwa Daudpota sebagai juara HeForShe karena menunjukkan empati, kepekaan gender, rasa hormat dan perhatian kepada penumpang wanita. HeForShe sendiri adalah gerakan solidaritas untuk memajukan kesetaraan gender yang diprakarsai oleh PBB.

Daudpota kemudian angkata bicara bahwa kesetaraan gender dapat membuat dunia menjadi lebih baik.

“Setiap pria harus menjadi uluran tangan bagi seorang wanita karena agama kami mengajarkan kami kesetaraan antara pria dan wanita, pria dan wanita. Jika masing-masing memainkan perannya secara positif dengan membantu satu sama lain, masyarakat, negara, dan seluruh dunia akan menjadi lebih baik. Ini adalah pelajaran agama, yang saya ajarkan oleh keluarga saya, ibu dan ayah saya,” kata Daudpota.

Daudpota berasal dari Shikarpur, sebuah kota kecil di provinsi Sindh selatan Pakistan, dan telah menjadi karyawan PIA selama 34 tahun. Ketika bayi mulai menangis, Daudpota mengatakan dia pertama kali mengirim dua awak kabin wanita untuk membantu, tetapi ketika tidak ada yang bisa menenangkan bayinya, dia pergi untuk membantu ibunya sendiri.

“Saya mengambil bayi itu, dan dia menatap saya lalu ketika saya menggendongnya di pundak, dia tidur nyenyak dan istirahat yang cukup,” kata Daudpota.

Sebuah video yang dibagikan oleh PIA menunjukkan dia didekorasi dengan medali PBB Wanita Pakistan. “Saya senang bisa melayani maskapai ini, bangsa ini, seluruh dunia, kemanapun PIA pergi dan mendarat,” kata Daudpota.

Baca juga: Cegah Penyebaran Covid-19, Otoritas Penerbangan Cina Rekomendasikan Awak Kabin Gunakan Popok Selama Bertugas

Dia juga mengatakan bahwa dirinya berterima kasih atas pengakuan tersebut dan berharap bisa membantu mengubah norma sosial yang menjadikan pengasuhan anak semata-mata pekerjaan perempuan.

“Ini adalah upaya gabungan dalam kehidupan normal. Anak-anak adalah tanggung jawab ayah sama besarnya dengan tanggung jawab ibu.Kami merawat bayi kami,” katanya.

Bye-bye Mahal, Mulai 1 April Tarif KA Bandara Soekarno-Hatta Cuma Rp5 Ribu!

Bagi penumpang pesawat ataupun commuters yang mengeluhkan tarif KAI Bandara Soekarno-Hatta terlalu mahal, kabar baik menghampiri Anda. Mulai 1 April 2021 mendatang, PT. Railink meluncurkan layanan baru KAI Bandara Premium, dimana tarifnya hanya sebesar Rp5 ribu untuk harga termurah sedangkan tarif termahal sebesar Rp30 ribu, terpaut 100 persen lebih dari tarif KAI Bandara Eksekutif.

Baca juga: KA Bandara Soetta Tawarkan Layanan City Check-In dan Baggage Handling Gratis!

“KAI Bandara Soekarno-Hatta kini hadir dengan pilihan harga yang lebih terjangkau mulai dari Rp5.000,00. Pada tanggal 1 April 2021 nanti kami akan meluncurkan layanan baru yaitu KAI Bandara Premium”, ungkap Plt. Direktur Utama PT Railink Anggoro Tri Wibowo dalam siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com.

Untuk tarif termurah KAI Bandara Premium, relasi terjauh untuk keberangkatan dari Manggara dan BNI City hanya sampai Stasiun Batu Cepet. Sedangkan untuk keberangkatan dari Staisun Batu Ceper, relasi terjauhnya hanya sampai Stasiun Duri. Bila ingin melanjutkan ke bandara, penumpang bandara ataupun commuters yang ingin menjajal layanan ini harus merogoh kocek Rp25 ribu untuk relasi Bandara-Batu Ceper.

Adapun tarif termahal layanan baru KAI Bandara Premium yaitu sebesar Rp30 ribu dengan relasi Bandara-Duri, Bandara-BNI City, Bandara-Manggarai, berbanding Rp40 ribu dari layanan eksekutif yang tarifnya seharga Rp70 ribu.

Jadwal keberangkatan layanan baru KAI Bandara Premium tersedia sebanyak 10 keberangkatan setiap hari, dimana jadwal keberangkata dari Stasiun KA Bandara Manggarai pukul 06.07 WIB, 08.37 WIB, 11.07 WIB, 13.37 WIB dan 16.07 WIB sedangkan keberangkatan dari Stasiun Bandara Soekarno-Hatta pukul 07.19 WIB, 09.49 WIB, 12.19 WIB, 14.49 WIB dan 17.19 WIB.

“Uji Coba Layanan KAI Bandara Premium ini tersedia dalam 10 (sepuluh) jadwal keberangkatan setiap harinya, kita akan evaluasi secara berkala disesuikan dengan kebutuhan pelanggan,” jelas Anggoro.

Perbedaan antara layanan baru KAI Bandara Premium dengan KAI Bandara Eksekutif sendiri terletak dari tempat konfigurasi tempat duduknya.

Untuk KAI Bandara Premium tempat duduknya menyamping atau menghadap sisi kanan dan kiri kereta dengan formasi 10×10 dan saling berhadapan. Mirip seperti kursi di KAI Commuter. Sedangan untuk KAI Bandara Eksekutif konfigurasinya 2×2, dimana kursinya menghadap ke depan. Selebihnya, tak ada perbedaan berarti kecuali tarif.

Program ini berlaku untuk KAI Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. KAI Bandara Executive adalah KAI Bandara yang sudah beroperasional saat ini, sedangkan layanan baru KAI Bandara Premium adalah KAI Bandara Soekarno-Hatta yang mengalami penyesuaian peta atau denah tempat duduk dan tarif pada beberapa jadwal keberangkatan.

“Penyesuaian denah tempat duduk dan tarif ini berlaku pada beberapa jadwal keberangkatan dan tidak semua jadwal keberangkatan mengalami penyesuaian,” tambah Anggoro.

“Tiket KAI Bandara Soekarno-Hatta kelas premium ini hanya berlaku untuk pembelian di channel offline melalui VM & POS serta channel online melalui Website & Mobile Apps, tidak berlaku channel pembelian melalui B2B, Tap & Go, MPOS dan Reduksi atau Corporate Member”, ujar Anggoro.

KAI Bandara memberikan akses yang mudah menuju Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta dengan menawarkan keunggulan-keunggulan kompetitif seperti ketepatan waktu (on time performance), kepastian, kecepatan dan kenyamanan.

Baca juga: Pasang Tarif Rp30 Ribu, KA Bandara YIA Resmi Beroperasi Hingga Stasiun Wojo

Diharapkan, ini menjadi alternatif baru yang bisa mengakomodir kebutuhan dan keinginan para penumpang pesawat ataupun commuters.

“Adanya pilihan layanan tambahan kelas baru ini diharapkan dapat memberi banyak alternatif pilihan bagi pelanggan serta semakin meningkatkan minat masyarakat untuk memanfaatkan transportasi umum sebagai penunjang untuk melakukan mobilitas sehari-hari,” tutup Anggoro.

Perpres Resmi Diterbitkan, Bus Listrik Segera Mengaspal di Jalanan Ibu Kota

Peraturan Presiden atau Perpres No.55/2019 mengenai Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai resmi diterbitkan, dan ini membawa angin segar untuk tatanan kedepannya bagi transportasi perkotaan, khususnya di Jakarta.

Baca juga: TransJakarta Mulai Uji Coba Komersial Bus Listrik Rute Balai Kota-Blok M

Tak hanya itu, kehadiran program Langit Biru yang dicanangkan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan serta Instruksi Gubernur (Ingub) No.66/2019 tentang Pengendalian Kualitas Udara, semakin mendekatkan langkah pemerintah dalam mewujudkan transportasi publik berbasis listrik di ibu kota.

Direktur Utama PT Transportasi Jakarta (TransJakarta) Sardjono Jhony Tjitrokusumo mengatakan, pihaknya mendukung program yang diinisiasi oleh pemerintah guna mengembangkan transportasi publik di Jakarta. Dia menyebutkan, adanya rencana penerapan bus listrik ini diharapkan bisa menjadi solusi untuk mengurangi dan menghapuskan emisi bahan bakar berbahaya kedepannya.

Sehingga hal ini membuat TransJakarta mulai bersiap menuju era baru dengan mengoperasikan bus listrik. Bahkan persiapan proses elektrifikasi sudah mulai dijajaki bersama dengan beberapa penyedia bus listrik. Hal tersebut dilakukan untuk memastikan semua armada bus yang digunakan nantinya hadir dengan kualitas yang baik.

“Ketika pemerintah mengeluarkan misi Jakarta dengan Langit Biru, maka TransJakarta sebagai agen pembangunan haruslah mendukung kebijakan tersebut. Proses penggunaan bus listrik ini sendiri sudah mulai dilakukan sejak tahun 2019 lalu,“ ujar Jhony yang dikutip dari keterangan tertulis, Selasa (29/3/2021).

Dia menambahkan, pada prinsipnya TransJakarta bersama operator siap bekerjasama untuk memberikan layanan terbaik bagi pelanggan. Dalam proses implementasinya, dikatakan Jhony, bahwa sebelum resmi dioperasikan, semua produsen bus diharapkan sudah melakukan sertifikasi armada agar sesuai dengan standar pelayanan minimum atau SPM yang berlaku.

Jhony mengatakan, harapannya sebanyak 10.051 armada bus listrik sudah mengaspal di jalur TransJakarta dan bisa dinikmati oleh semua masyarakat pada tahun 2030 mendatang.

“Bus-bus ini akan kita operasikan secara bertahap. Untuk tahun 2021 ini, kita menargetkan sebanyak seratus armada bus yang akan dioperasikan. Harapan kita, agar saat ulang tahun DKI Jakarta nanti kita bisa implementasikan minimal 20-30 armada bus listrik per Juni 2021,“ ungakpanya.

Jhony menambahkan, nantinya jika berjalan sesuai harapan, ini akan menjadi langkah menuju goals yang lebih besar lagi. Dia menyebutkan bahwa kedepannya armada bus dengan bahan bakar solar perlahan akan berganti dengan bus berenergi listik.

Hal tersebut sejalan dengan ketentuan usia masa berlaku bus yang diperbolehkan beroperasi di DKI Jakarta dan sekitarnya yakni sepuluh tahun. Sehingga tidak serta-merta semua armada akan langsung diganti dengan bus listrik, tetapi akan bertransformasi secara paralel beriringan dengan habisnya masa berlaku bus berbahan bakar solar tadi, tambah Jhony.

Baca juga: PT INKA Punya Bus Listrik dan Kini Diuji Coba di Jakarta oleh PT TransJakarta

Selain itu, untuk mendukung rencana ini, TransJakarta sendiri berencana menyediakan fasilitas charging stasion kedepannya. Jhonye menambahkan, pada rencana awal, fasilitas ini akan berada di duda titik yakni di Kelapa Gading Jakarta Utara dan Pejaten Jakarta Selatan.

Gegara Hal Ini, Pesawat Airbus A340 Lufthansa Terpaksa Terbang “Flight to Nowhere”

Belum lama ini, pesawat Airbus A340-300 Lufthansa dilaporkan terbang flight to nowhere. Tak seperti maskapai lainnya, Lufthansa menjajaki ini dengan terpaksa. Alhasil, bukan kesenangan yang didapat, justru penumpang malah dibuat khawatir karenanya.

Baca juga: Usai Flight to Nowhere, Qantas Luncurkan “Flight Mystery,” Apa Itu?

Sejak awal pandemi Covid-19 tahun lalu, maskapai penerbangan dunia memang bisa dibilang mati suri. Tak ingin tinggal diam, beberapa di antaranya pun memulai terobosan dengan meluncurkan program flight to nowhere atau terbang keliling suatu negara atau negara tetangga untuk kemudian mendarat di bandara yang sama.

Hingga kini, flight to nowhere tercatat sudah dilakoni oleh banyak maskapai, mulai dari EVA Air, China Airlines, dan All Nippon Airways (ANA), Royal Brunei Airlines, Thai Airways, dan Qantas. Dua maskapai lain, yaitu Singapore Airlines dan Korean Air, sebetulnya nyaris melakoni program tersebut. Hanya saja, dua maskapai itu batal merealisasikannya.

Akan tetapi, itu masih jauh lebih baik ketimbang menjalankan program tersebut namun dengan terpaksa. Seperti yang dialami Lufthansa.

Dilansir Simple Flying dari The Aviation Herald, pada 16 Maret lalu, pesawat A340-300 maskapai nasional Jerman itu dilaporkan menjalani flight to nowhere dari Bandara Cancún, Meksiko. Awalnya, pesawat dengan nomor penerbangan LH515 itu tidak berniat menjalani penerbangan flight to nowhere.

Setelah sekitar satu jam, mesin CFM56 nomor tiga dilaporkan mengalami masalah. Meski demikian, mesin tak sampai mengeluarkan asap maupun api. Tak ingin mengambil risiko, pilot mematikan mesin pesawat dan memutuskan turn around atau return to base atau putar balik dari ketinggian 31 ribu kaki, tak jauh dari garis pantai Kuba.

Tak lama kemudian, pesawat turun ke ketinggian 28 ribu kaki, kemudian 20 ribu kaki, dan mendarat dengan selamat di runway 12R di bandara semula, kurang lebih dua jam setelah lepas landas. Belum diketahui secara pasti penyebab kerusakan pada mesin pesawat berusia sekitar 20 tahun itu, mengingat proses penyelidikan masih dilakukan.

Sebelum mulai beroperasi, sebuah pesawat komersial yang dioperasikan maskapai diketahui harus melalui serangkaian uji sertifikasi. Di antaranya ialah sertifikasi Extended-range Twin-engine Operational Performance Standards (ETOPS).

Baca juga: Bisakah Airbus A380 Terbang dengan Satu Mesin? Ini Jawabannya

Secara singkat, ETOPS bisa diartikan sebagai kemampuan pesawat terbang di luar kondisi normal. ETOPS sendiri memiliki beberapa kelas, mulai dari ETOPS 75, 90, 120/138, 180/207, hingga 370. Angka yang tertera di akhir merupakan durasi yang diijinkan untuk pesawat mengudara hanya dengan satu mesin.

Biasanya, sebuah maskapai penerbangan akan mendapatkan ijin ETOPS dari kelas yang paling bawah, yaitu ETOPS 75. Bukan tidak mungkin perijinian ETOPS tersebut akan ditingkatkan dengan cara melewati serangkaian tahapan terlebih dahulu.

Tragis, Pedayung Tunanetra Ditinggal di Tempat Tak Dikenal oleh Pengemudi Taksi

Seorang atlet Paralimpiade di Kanada merasakan hal pahit ketika bepergian menggunakan taksi. Di mana dirinya pada satu minggu yang lalu di turunkan pengemudi taksi di lokasi yang salah tanpa tahu dirinya berada di mana. Victoria Nolan pedayung tunanetra ini mengaku bukan pertama kalinya mengalami hal tersebut dengan sebuah taksi.

Baca juga: Kombinasi Teknologi Ponsel Pintar dan Kode QR Bantu Penyandang Tunanetra di Stasiun

Nolan mengatakan saat itu dirinya mengunjungi Victoria dari Toronto selama beberapa bulan untuk persiapan Paralimpiade Tokyo dan menggunakan aplikasi taksi untuk mengantarnya ke sebuah janji. Dilansir KabarPenumpang.com dari piquenewsmagazine.com (19/3/2021), dia memiliki masalah di masa lalu dengan pengemudi taksi yang menolak tumpangannya karena memiliki anjing pengganggu dan merasa ketegangan dalam kendaraan ketika pengemudi itu tiba.

Dia memberikan alamat ke alun-alun yang dia tuju dan nomor unit bisnisnya. Dia mengatakan bahwa pengemudi tersebut mengatakan kepadanya bahwa mereka telah tiba di tempat yang tepat, dan dia setuju untuk mengantarnya ke pintu, tetapi saat dia mengenakan tali kekang anjingnya, dia melaju pergi dengan pintu taksi masih terbuka.

Nolan, yang menderita retinitis pigmentosa atau kelainan genetik yang menyebabkan hilangnya penglihatan secara bertahap ini dapat melihat cahaya dan bayangan di bidang yang sangat sempit, “seperti melihat melalui sedotan. Turun di tempat yang salah dan kota yang tidak dikenalnya, dia tidak tahu di mana dia berada.

Nolan mencoba menelepon bisnis yang dia tuju tetapi mendapatkan pesan suara mereka. Dia mencoba FaceTime suaminya di Toronto untuk melihat apakah dia dapat membantu mengarahkannya, tetapi hubungannya terlalu buruk. Dia mengatakan, beberapa orang lewat, tetapi “ketika Anda tidak dapat melihat, sulit untuk menghentikan seseorang dan mendapatkan informasi.

“Saya menahannya sepanjang waktu, Anda tahu, mencoba untuk menyatukannya, dan kemudian ketika saya harus menjelaskan apa yang terjadi, saya langsung menangis di telepon,” kata Nolan yang menghubungi perusahaan taksi dan meninggalkan pesan suara.

Dia yakin bahwa pengemudinya kesal karena anjing pemandu berada di dalam kendaraan, sesuatu yang dia alami di taksi di seluruh Kanada. Pengalaman ini membuat Nolan merasa kebebasan dan kemandiriannya dirampas, dan itu bisa membuatnya ragu untuk pergi sendiri lagi.

Nolan, yang merupakan kepala hubungan pemangku kepentingan dan keterlibatan masyarakat untuk Anjing Pemandu CNIB, sebuah program untuk memelihara dan melatih anjing pelayan, mengatakan dia menerima telepon dari seluruh negeri terkait pengalaman serupa. Lima hari setelah kejadian itu, Nolan mendapat telepon dari Yellow Cab of Victoria yang meminta maaf atas pengalamannya. Dia diberitahu bahwa perusahaan akan mengembalikan ongkosnya dan memberikan sumbangan untuk program anjing pemandu CNIB.

Pengemudi diskors selama tiga hari dan diharuskan untuk mengikuti kembali pelatihan aksesibilitas melalui perusahaan. Nolan mengatakan tanggapan perusahaan adalah awal yang baik, dan dia senang mendengar pengemudi akan mengambil lebih banyak pelatihan.

Oriano Belusic, wakil presiden Federasi Tunanetra Kanada, mengatakan dia telah mendengar beberapa contoh di mana penumpang tunanetra diturunkan di lokasi yang salah, tetapi masalah yang jauh lebih umum adalah pengemudi menolak membawa orang dengan anjing pemandu.

Dia ingin melihat lebih banyak denda yang dikeluarkan untuk pengemudi yang menolak penumpang dengan anjing pemandu dan perlindungan yang lebih kuat melalui pengadilan hak asasi manusia, yang menurutnya menerima alasan yang “tipis” dari pengemudi, seperti klaim alergi, tidak melihat penumpang, dan kendaraan yang terlalu kecil untuk seekor anjing.

Baca juga: Tak Dapat Kursi, Inilah Derita Penumpang Tunanetra di Kereta Komuter Inggris

“Sangat disayangkan, menurut saya, otoritas yang dituntut untuk menegakkan hukum, dan mereka yang bertanggung jawab untuk menegakkan hak akses membiarkan masalah seperti ini terus berlanjut,” katanya.

Kisah Perjuangan Jae Won Jess Shin, Gadis ‘Miskin’ Korea yang Sukses Jadi Pramugari dan Pilot

Garis tangan tak ada yang pernah tau kemana seseorang akan dibawa. Seperti yang dialami Jae Won Jess Shin. Gadis asal Korea Selatan ini sejak kecil tak pernah membayangkan dirinya akan menjadi pramugari dan pilot. Penyebab utamanya, apalagi kalau bukan biaya dan skill mumpuni.

Baca juga: Pertama di Dunia, Pramugari Wizz Air Bisa Gantikan Pilot Kemudikan Pesawat

Dilansir Aerotime Aero, Jae Won Jess Shin bukan berasal dari keluarga mampu, yang ketika menginginkan sesuatu, orang tuanya langsung mendukung penuh, baik moral maupun material. Jess Shin bahkan pernah bekerja sebagai au pair di Amerika Serikat, yang bagi sebagian kalangan dianggap sebagai program yang mempekerjakan seseorang dengan balutan program magang lintas negara.

Usai pulang dari program au pair dan membawa pulang sejumlah uang hasil tabungannya di sana, Jess Shin kemudian terngiang-ngiang dengan cerita ibunya. Ketika itu, ibunya bercerita bahwa seusia Jess Shin, ia sangat ingin menjadi pramugari. Dari situlah mimpinya menjadi pramugari dimulai.

Berbekal uang tabungan serta sedikit bantuan dari orang tuanya, ia pun mengambil kursus pramugari dan melamar menjadi pramugari Qatar Airways. Sekalipun berstatus fresh graduate, paras cantik dan bahasa Inggris lancar tentu menjadi modal berharganya. Benar saja, ia berhasil diterima, salah satunya karena kemampuan bahasa asingnya. Terlebih, bahasa ibu Jess Shin -bahasa Korea- bisa dibilang menjadi salah satu bahasa internasional yang banyak dituturkan selain bahasa Inggris.

Selama berkarir sebagai pramugari Qatar Airways, Jess Shin sudah mencicipi nikmatnya terbang di berbagai pesawat, seperti Airbus A320, A330, A340, dan A350 sebagai serta Boeing 777 dan Boeing 787, yang membawanya ke banyak negara di dunia, di hampir seluruh benua, kecuali Antartika.

“Saat-saat ketika saya biasa mendarat di tempat tujuan dan singgah sangat menawan. Tidak peduli di mana saya berada, itu sangat bagus. Saya tidak pernah berpikir bahwa saya akan tinggal di Sudan atau Nigeria atau bahkan Afrika Selatan. Seperti saya tidak pernah berpikir bahwa saya akan dapat pergi mengunjungi negara-negara semacam itu sebelumnya karena itu cukup jauh dari Korea dan itu bukan tempat yang akrab,” ujarnya.

“Saya sebenarnya memiliki salah satu persinggahan terbaik di Nigeria atau bahkan Sudan. Tapi saya pasti bisa mengatakan saya pernah ke sebagian besar benua,” tambahnya.

“Sangat menarik bertemu orang-orang dari begitu banyak negara, negara-negara yang tidak pernah terpikirkan oleh saya, seperti Aljazair, atau Maroko, atau bahkan negara-negara Timur Tengah. Beberapa teman baik saya adalah orang Mesir, jadi, bagaimana saya tahu bahwa saya akan memiliki sahabat dari Mesir,” ceritanya.

Setelah melanglang buana, garis tangan Jess Shin menuntunnya banting setir menjadi pilot. Pada tahun 2019, tiba-tiba seorang teman mengajaknya untuk mengikuti kursus pilot di Afrika Selatan. Secara kebetulan, ia juga sudah bosan dengan rutinitas yang ada. Di samping itu, profesi pilot juga tak banyak berubah dengan dunia yang dialaminya saat itu.

Baca juga: Hari Ini, 28 Tahun Lalu, Barbara ‘Penata Rambut’ Harmer Resmi Jadi Pilot Wanita Pertama Concorde

Langkah besar kemudian diambil sebelum pandemi Covid-19 mewabah. Ketika itu, ia memutuskan resign sebagai pramugari Qatar Airways dan mengambil pelatihan pilot untuk mengejar lisensi pilot komersial atau Airline Transport Pilot License (ATPL). Setelah melewati beberapa ujian, ia pun mendapat lisensi ATPL, disusul lisensi pilot komersial untuk multi-engine dan instrument rating, serta single engine.

Kendati saat ini ia belum dilirik maskapai, namun, ia tetap yakin suatu saat nanti dirinya akan kembali ke udara, bukan sebagai pramugari melainkan sebagai pilot. Bila boleh memilih, ia akan sangat senang bila terbang dengan pesawat impiannya, Boeing 787 Dreamliner.