Pernah Ada, Jalur Cirebon ke Kadipaten Hilang dan Hampir Sukar Dilacak

Dulu di masa pemerintahan Kolonial Belanda, ada jalur kereta api dari Cirebon menuju ke Kadipaten di Majalengka. Jalur ini dulunya dibangun sekitar tahun 1901 oleh Semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS) dan diresmikan pada 29 Desember 1901 dengan panjang lintas 48,6 km.

Baca juga: [Bagian 2] Jalur Kereta Jawa Pra Kemerdekaan – Perjalanan Jadi Lebih Cepat Setelah Perang Dunia I Berakhir

Jalur ini pada masa kejayaannya digunakan untuk mengangkut barang atau logistik dari pabrik gula di Kadipaten. Dulunya ada lima pabrik yang berada di sekitar jalur ini dan dilayani oleh kereta api. Kelima pabrik gula tersebut yakni Surawinangun, Gempol (Cirebon), Parung Jaya, Jatiwangi dan Kadipaten.

Dihimpun KabarPenumpang.com dari wikipedia.com, di masa jayanya bukan hanya mengangkut komoditi gula melainkan juga penumpang dan hewan ternak. Di mana jalur ini beroperasi melayani empat kali perjalanan yakni dua kali keberangkatan dari Kadipaten dan dua kali dari Cirebon.

Kereta api berangkat pagi hari dari Kadipaten dan kembali ke Kadipaten sore harinya. Tak jarang bukan hanya penumpang atau komoditi, para pedagang memanfaatkan layanan kereta api ini dengan membawa hasil hutan berupa daun jati dari kawasan hutan jati yang kala itu banyak terdapat di daerah Kadipaten.

Biasanya daun jati ini digunakan untuk pembungkus nasi jamblang. Bahkan dari trase atau rutenya jalur ini melintasi banyak kawasan budaya Cirebon yakni salah satunya adalah Kampung Batik Trusmi. Pada 1 Juli 1922 di jalur Cirebon menuju Kadipaten juga dibuka percabangan menuju ke Gunung Giwur.

Yang mana lokasi percabangan ini sekarang berdekatan dengan Pasar Palimanan dan mengarah ke selatan sejauh lima kilometer. Dulunya jalur ini digunakan kereta untuk mengangkut batu kricak. Namun percabangan ini hanya bertahan sebelas tahun yakni ditutup pada 1933 silam dengan penyebab yang tidak diketahui sama sekali hingga saat ini.

Lahan eks-jalur cabang ini juga digunakan untuk jalur pipa air bersih yang diperkirakan dibuat hampir bersamaan dengan jalur cabang kereta api menuju Gunung Giwur. Jalur pipa air tersebut mengalirkan air dari mata air Gunung Ciremai di Cikahalang sampai Stasiun Cirebon Kejaksan. Jarak antara mata air Cikalahang dan Stasiun Cirebon Kejaksan itu 22 kilometer dan jalur pipanya masih aktif sampai sekarang.

Sayangnya jalur Cirebon menuju Kadipaten ini menjadi salah satu jalur kereta api nonaktif di Jawa Barat. Sebab jalur ini dinonaktifkan sejak 22 Juli 1978 atau setelah 77 tahun beroperasi. Bahkan pasca dinonaktifkannya, jalur ini kemudian menghilang beserta dengan semua stasiun dan perhentian yang ada.

Baca juga: Jalur Kereta di Sulawesi, Nyaris Tak Terdengar Tapi Ada Bukti Jejak Sejarahnya

Tak hanya itu, jalur ini hampir sukar dilacak, kecuali dengan melihat penanda aset milik PT KAI, karena jalur kereta apinya sejajar dengan jalan raya yang menghubungkan Kota Cirebon dengan Kadipaten. Namun tidak ada kabar apakah jalur ini aka direvitalisasi sama seperti jalur mati lainnya.

Hindari Desak-desakan di KRL, Penumpang Pilih Naik KA Bandara Premium

Ada yang menarik dari peluncuran layanan baru KAI Bandara Premium. Kendati baru resmi beroperasi hari ini, namun, fenomena penumpang KRL beralih ke KA Bandara Premium sudah terjadi. Selain tarif murah mulai dari Rp5 ribu, nyaman dan aman menjadi alasan utama.

Baca juga: Tarif Cuma Rp5 Ribu, Railink Optimis Okupansi KA Bandara Naik 20 Persen

“Sengaja naik kereta ini dari Batu Ceper ke Sudirman. Karena kan kalau di KRL penuh ya, terus desak-desakan juga, ga aman kan, apalagi lagi Corona begini. Jadi, gapapalah bayar lebih tapi nyaman aman. Worth it laah,” jelas salah satu penumpang KAI Bandara Premium, Nadia, kepada KabarPenumpang.com.

Selain itu, lanjutnya, dari segi fasilitas, KA Bandara Premium juga jauh lebih lengkap dibanding KRL. KAI Bandara Premium, dengan tarif hanya Rp5 ribu -untuk keberangkatan dari Manggarai dan BNI City sampai Stasiun Batu Ceper- penumpang sudah bisa menikmati kursi nyaman yang dilengkapi armrest dan port USB.

Lebih dari itu, fasilitas dua toilet bersih dan nyaman bak di pesawat juga bisa dinikmati penumpang dengan tarif semurah itu; termasuk juga tempat sampah yang tersedia di setiap pintu-pintu kereta, sesuatu yang rasanya tak pernah ada di KRL.

KAI Bandara Premium diketahui menggunakan kereta buatan PT INKA dan kondisinya relatif baru. Disadari atau tidak, hal itu juga mempengaruhi pengalaman perjalanan penumpang selama di kereta dengan kondisi kabin lebih senyap, halus, terang, dan AC lebih dingin dari KRL.

Di samping penumpang KRL, migrasi juga terjadi bagi penumpang bus Damri. Salah satunya mengaku mulai memilih menumpangi KAI Bandara Premium saat ke bandara ataupun pulang dari bandara karena jauh lebih aman dan nyaman.

Kerumunan dan tampa jaga jarak terjadi di dalam rangkaian KAI Commuter. Meskipun himbauan sudah sering dilakukan, namun, penumpang tak punya pilihan lain karena kondisi seperti ini tak terhindarkan saat jam-jam sibuk. Foto: Alpin Hardiyansah/KabarPenumpang.com

Ketika ditanyai perihal kemudahan, dimana jika menggunakan bus Damri hanya sekali naik dan langsung turun di depan terminal bandara, sedangkan KAI Bandara Premiun (juga Eksekutif) tidak, beberapa di antara penumpang yang hari ini KabarPenumpang.com temui ketika menjajal KAI Bandara Premium dari Stasiun BNI City-Bandara (PP), mayoritas dari mereka mengaku tak masalah. Terlebih sarana dan prasarananya juga sudah jauh lebih baik.

Baca juga: Bye-bye Mahal, Mulai 1 April Tarif KA Bandara Soekarno-Hatta Cuma Rp5 Ribu!

PT Railink sendiri menyambut baik iklim positif dari penumpang terhadap kemunculan layanan baru KAI Bandara Premium. Meskipun masih dalam uji coba, bila kondisi ini terus berlangsung dan meningkat sampai fase uji coba selesai dilakukan sebulan mendatang, perusahaan membuka kemungkinan KAI Bandara Eksekutif bakal dihapus dari layanan.

“Kalau positif (okupansinya tinggi) bukan tak mungkin ke depan akan kami jadikan semua seperti ini kan (KAI Bandara Premium),” kata Plt. Direktur Utama PT Railink Anggoro Tri Wibowo, disela-sela peluncuran layanan baru KAI Bandara Premium, di Stasiun BNI City, Jakarta, Kamis, (1/4).

Tarif Cuma Rp5 Ribu, Railink Optimis Okupansi KA Bandara Naik 20 Persen

Plt. Direktur Utama PT Railink Anggoro Tri Wibowo mengaku optimis okupansi KAI Bandara Soekarno-Hatta naik hingga 20 persen dengan layanan baru KAI Bandara Premium. Layanan ini dinilai menjadi solusi atas kebutuhan penumpang jasa angkutan kereta api.

Baca juga: Bye-bye Mahal, Mulai 1 April Tarif KA Bandara Soekarno-Hatta Cuma Rp5 Ribu!

“Kami optimis okupansi akan meningkat sampai 20 persen, baik secara bulanan maupun tahunan,” ujarnya saat menghadiri peluncuran layanan baru KAI Bandara Premium, di Stasiun BNI City, Jakarta, Kamis, (1/4).

Menurutnya, tiket murah ini, dimana tarif hanya sebesar Rp5 ribu untuk harga termurah sedangkan tarif termahal sebesar Rp30 ribu -terpaut 100 persen lebih dari tarif KAI Bandara Eksekutif- bukan hanya akan dinikmati oleh penumpang pesawat saja, melainkan penumpang KAI Commuter yang ingin menikmati layanan lebih.

Hal itu memang bukan isapan jempol belaka. Pantauan KabarPenumpang.com saat menumpangi KAI Bandara Premium dari Stasiun BNI City-Bandara (PP), banyak pengguna yang mengaku bukan penumpang atau calon penumpang pesawat. Tapi, mereka sengaja menumpangi KAI Bandara Premium untuk alasan kenyamanan dan keamanan.

Kerumunan dan tampa jaga jarak terjadi di dalam rangkaian KAI Commuter. Meskipun himbauan sudah sering dilakukan, namun, penumpang tak punya pilihan lain karena kondisi seperti ini tak terhindarkan saat jam-jam sibuk. Foto: Alpin Hardiyansah/KabarPenumpang.com

“Sengaja naik kereta ini dari Batu Cepet ke Sudirman. Karena kan kalau di KAI Commuter penuh ya, terus desak-desakan juga, ga aman kan, apalagi lagi Corona begini. Jadi, gapapalah bayar lebih tapi nyaman aman. Worth it laah,” jelas salah satu penumpang KAI Bandara Premium, Nadia.

Selain itu, pengguna KAI Bandara Premium lainnya yang juga calon penumpang pesawat mengaku baru pertama kali naik KA Bandara atau sejak layanan baru ini diberlakukan. Sejalan dengan penumpang lainnya, ia mengaku memilih KA Bandara Premium karena tarifnya murah. Selain itu, dibanding moda transportasi lain, KA Bandara Soekarno-Hatta, dalam hal ini KAI Bandara Premium, dinilai jauh lebih cepat, nyaman, dan aman.

“Kalau naik bus kan, satu waktunya ga pasti, kadang suka macet. Uda gitu, penumpangnya ga terkontrol gitu kan, pokoknya ga nyaman deh. Naik kendaraan pribadi ataupun taksi juga bukan solusi,” kata penumpang asal Lenteng Agung yang namanya tak ingin disebutkan ini.

Saat ini, layanan baru KAI Bandara Premium memang masih uji coba dan akan berlangsung selama sebulan ke depan. Kendati demikian, Anggoro berjanji akan mencari cara agar layanan ini terus ada sekalipun selama masa uji coba responnya kurang begitu positif.

Perlu diketahui, tarif termurah KAI Bandara Premium Rp5 ribu, relasi terjauh untuk keberangkatan dari Manggara dan BNI City hanya sampai Stasiun Batu Ceper. Sedangkan untuk keberangkatan dari Staisun Batu Ceper, relasi terjauhnya hanya sampai Stasiun Duri. Bila ingin melanjutkan ke bandara, penumpang bandara ataupun commuters yang ingin menjajal layanan ini harus merogoh kocek Rp25 ribu untuk relasi Bandara-Batu Ceper.

Baca juga: Membentang 22 Km, Jokowi Hari Ini Resmikan KA Bandara Internasional Minangkabau

Adapun tarif termahal layanan baru KAI Bandara Premium yaitu sebesar Rp30 ribu dengan relasi Bandara-Duri, Bandara-BNI City, Bandara-Manggarai, berbanding Rp40 ribu dari layanan eksekutif yang tarifnya seharga Rp70 ribu.

Jadwal keberangkatan layanan baru KAI Bandara Premium tersedia sebanyak 10 keberangkatan setiap hari, dimana jadwal keberangkata dari Stasiun KA Bandara Manggarai pukul 06.07 WIB, 08.37 WIB, 11.07 WIB, 13.37 WIB dan 16.07 WIB sedangkan keberangkatan dari Stasiun Bandara Soekarno-Hatta pukul 07.19 WIB, 09.49 WIB, 12.19 WIB, 14.49 WIB dan 17.19 WIB.

Mendapat Diskriminasi, Mantan Awak Kabin China Southern Minta Keadilan dalam Kasus LGBT

Seorang awak kabin bernama Chai Cheng harus mendapatkan mimpi buruk ketika momen penuh gairahnya tersebar dan membuat dia kehilangan segalanya. Hal ini berawal pada Oktober 2019 di mana rekaman pribadinya bocor ke media online saat Chai mencium seorang pilot dari maskapai yang sama yakni China Southern Airlines. Mereka ketika itu tengah tidak bertugas dan videonya terunggah sangat cepat dan Chai dilarang bekerja, hingga akhirnya dipecat.

Baca juga: Gegara Video Ciuman dengan Rekan Kerja Tersebar Luas, Awak Kabin Gay Menggugat China Southern Airlines

Dia kemudian menggugat maskapai tempatnya bekerja karena kehilangan gaji dalam kasus diskriminasi di tempat kerja. KabarPenumpang.com merangkum dari cnn.com (27/3/2021), adanya pemecatan pada Chai dikatakan para penggiat membuat hal ini kemudian menyoroti bahaya yang dihadapi oleh pekerja LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) di Cina karena kurangnya perlindungan hukum.

Kemudian kini mereka menyerukan undang-undang kesetaraan tempat kerja. Kasus ini membuat Chai sering disebut sebagai anak kabin China Southern, tetapi dalam komunitas LGBT dia menjadi pahlawan dan aktivis yang tidak terduga.

“Saya terkadang berharap bisa mundur ke waktu sebelum kejadian. Jadi saya bisa menjadi awak kabin biasa,” kata Chai.

Homoseksualitas tidak ilegal di Cina dan secara resmi dihapus dari daftar gangguan mental pada tahun 2001. Tetapi para ahli dan aktivis mengatakan orang LGBT masih menghadapi diskriminasi dan prasangka yang terus-menerus. Chai mengatakan dia merahasiakan seksualitasnya selama lima tahun bekerja di China Southern karena takut itu akan merusak prospek karirnya.

Setelah video dirinya berciuman dengan rekan kerja sesama jenis kelamin dan kemudian menjadi viral, Chai mengatakan dia disingkirkan oleh seorang manajer senior yang mengatakan kepadanya bahwa homoseksualitas bertentangan dengan “nilai-nilai inti sosialis,” dan memintanya untuk tetap diam tentang topik tersebut. Chai mengatakan dia mematuhinya tetapi pada April 2020 manajernya mengatakan kepadanya bahwa mereka tidak akan memperbarui kontraknya.

“Mereka mengatakan kepada saya ‘itu karena alasan yang jelas. Tapi saya tidak melanggar hukum atau peraturan perusahaan. Saya berubah dari seorang karyawan yang luar biasa, yang diakui oleh perusahaan dengan promosi cepat, menjadi seseorang yang tidak ingin mereka lakukan apa pun hanya karena orientasi seksual saya. Itu salah dan siapa pun bisa menjadi korban berikutnya,” ujar Chai.

Sayangnya pada kasus ini, hanya Chai yang dipecat, sedangkan pilot tetap bisa terus bekerja. Hal ini lah yang kemudian membuat Chai pada Agustus 2020, memutuskan untuk menuntut China Southern atas kompensasi yang hilang sebagai akibat dari keputusan perusahaan untuk melarangnya selama enam bulan setelah munculnya video.

Gugatan itu secara teknis bukan tentang diskriminasi tetapi pengacaranya mengatakan, jika mereka menang, itu bisa membuka jalan bagi kasus hukum lain yang secara langsung menangani masalah itu. Undang-undang tahun 2008 melarang diskriminasi kerja berdasarkan “gender”, yang telah ditafsirkan oleh beberapa pengacara untuk mencakup orientasi seksual, tetapi tampaknya belum diuji di pengadilan.

Baca juga: West Coast Avanti, Kereta Spesial di Inggris dengan Awak LGBT

Meskipun Chai merekam beberapa komentar homofobia atasannya termasuk menyebut homoseksualitas “tidak normal”, selama percakapan mereka, Zhong mengatakan maskapai tersebut bersikeras di pengadilan bahwa itu mewakili pendapat pribadi, bukan posisi perusahaan.

Anda Lupa Jaga Jarak, Cincin Pintar ini Bisa Ingatkan Penggunanya

Menjaga jarak dengan orang lain di masa pandemi saat ini sangat disarankan untuk mencegah penularan virus corona. Namun, meski sudah ada aturan seperti itu, banyak orang di antaranya masih kerap kali mengabaikannya dan tetap berdekatan. Selain itu ini menjaga jarak juga membuat orang lebih banyak memilih bekerja di depan komputer dan menghadiri rapat melalui panggilan viedo seperti Zoom atau lainnya.

Baca juga: “Blue Carpet,” Solusi Futuristik Atur Antrian dan Jaga Jarak Saat Boarding di Bandara

Tapi, kini tidak perlu khawatir ketika keluar rumah atau lupa untuk menjaga jarak saat di ruang publik. Pasalnya sebuah cincin akan mengingatkan Anda untuk menjaga jarak dengan orang lain yang berada di sekitar. KabarPenumpang.com melansir laman newatlas.com (30/3/2021), ini adalah cincin pintar Wave for Work yang baru saja dilaunching untuk membantu menjaga jarak.

Didesain oleh startup Islandia Genki Instruments, Wave for Work didasarkan pada teknologi yang sama dengan cincin pintar Wave sebelumnya. Cincin pertama dirilis pada tahun 2018, perangkat nirkabel yang dipasangkan dengan komputer memungkinkan pengguna yang memiliki kecenderungan musik untuk “membentuk suara” dan mengontrol efek melalui gerakan tangan.

Sedangkan Wave for Work berfungsi dengan cara yang sama, tetapi lebih ditujukan untuk mengontrol aplikasi seperti Zoom, Skype, PowerPoint, Microsoft Teams dan Keynote. Meskipun demikian, ini juga dapat digunakan untuk tugas terkait musik, seperti memutar, menjeda, melewatkan lagu dan menyesuaikan volume di aplikasi seperti Spotify. Cincin ini dikenakan pada jari telunjuk yang sebenarnya bekerja dalam dua cara.

Pertama-tama, ini mengenali gerakan menggulung tangan, yang dapat ditetapkan pengguna ke fungsi pilihan mereka. Cincin pintar ini juga memiliki tiga tombol fisik, yang dengan mudah didorong oleh ibu jari. Masing-masing juga dapat ditetapkan ke suatu fungsi, yang ditampilkan pada layar sederhana di atas ring.

Genki mengatakan bahwa, cincin Wave for Work dapat digunakan untuk mematikan mikrofon atau mengatur kamera selama konferensi video, untuk memulai dan menjalankan tayangan slide atau untuk meluncurkan program saat pemakainya bergerak di sekitar ruangan. Cincin ini kompatibel dengan sistem operasi macOS dan Windows 10, dan dapat berkomunikasi dengan komputer dari jarak hingga sepuluh meter.

Baca juga: Maksimalkan Jaga Jarak, Emirates Tawarkan Penumpang Blokir Kursi, Segini Harganya

Satu kali pengisian baterainya dilaporkan bisa digunakan selama lebih dari delapan jam penggunaan. Cincin dijual seharga US$99 atau sekitar Rp1,4 juta. Cincin pintar Ring dan Fin serupa keduanya tampaknya tidak lagi diproduksi.

ANA Uji Coba Aplikasi “CommonPass” Pertama Kali Pada Dua Orang Penumpang

All Nippon Airways (ANA) baru-baru ini melakukan uji coba aplikasi kesehatan digital CommonPass pada dua penumpang dalam perjalanan menuju ke New York dari Bandara Haneda Tokyo. CommonPass ini memungkinkan penumpang yang juga pelanggan ANA mengunggah hasil tes Covid-19 negatif mereka.

Baca juga: Israel Berlakukan Paspor Vaksin Covid-19, Akankah Diikuti Negara Lain?

Selain itu juga bukti status vaksinasi sebelum pergi dengan penerbangan internasional. KabarPenumpang.com melansir asia.nikkei.com (29/3/2021). Ini merupakan salah satu dari sejumlah paspor vaksin yang sedang dipertimbangkan atau diuji oleh operator dan otoritas di seluruh dunia untuk menyimpan informasi terkait status, hasil tes dan vaksinasi Covid-19 milik penumpang.

Dalam menerbitkan sertifikatnya, Jepang bekerja sama dengan Cina dan Uni Eropa. Sedangkan maskapai lainnya yakni Japan Airlines mengatakan mereka akan melakukan uji coba CommonPass pada Jumat (2/4/2021) mendatang.

“Kami banyak mengandalkan CommonPass, karena pada akhirnya akan mengarah pada pelonggaran pembatasan masuk untuk setiap negara jika bukti hasil tes negatif dan vaksinasi disetujui secara internasional. Menurunkan beban untuk perjalanan internasional akan sangat berarti bagi bisnis dan juga pariwisata,” Hiroshi Goto, yang mengelola solusi digital ANA.

Aplikasi ini menggabungkan informasi seperti tanggal tes Covid-19 penumpqng, tujuan dan verifikasi bahwa penumpang memiliki dokumentasi yang didiperlukan selama perjalanan.

“Dengan aplikasi ini, saya langsung tahu di klinik mana saya bisa mengikuti tes PCR. Ini sangat praktis,” kata salah satu penumpang yang ikut serta dalam uji coba.

CommonPass dikembangkan bersama oleh Yayasan Proyek Commons nirlaba dan Forum Ekonomi Dunia. Ide di balik izin tersebut adalah untuk mempercepat boarding dengan menghilangkan keharusan maskapai untuk memverifikasi bahwa informasi setiap pelanggan memenuhi persyaratan untuk masuk di tujuan mereka.
Goto dari ANA mengatakan bahwa sistem tersebut akan secara signifikan mengurangi beban kerja staf darat maskapai.

“Ini adalah uji coba pertama di Jepang. Kami ingin menilai apakah aplikasinya, yang lebih sederhana dan lebih kredibel daripada format kertas, dapat digunakan di konter check-in maskapai tanpa masalah,” kata Takanori Fujita dari WEF.

AS, misalnya, saat ini menerbitkan sertifikat tersebut di atas kertas. Aplikasi CommonPass telah menjalani uji coba dengan maskapai penerbangan, termasuk Cathay Pacific Airways, United Airlines dan Lufthansa, sejak Oktober lalu. Pihak berwenang di sejumlah negara, termasuk AS, juga sangat ingin mengadopsi teknologi tersebut.

Banyak pengamat industri percaya kredensial kesehatan akan membawa perjalanan internasional mendekati normal dengan mempercepat prosedur bagi penumpang dengan risiko rendah infeksi Covid-19. Namun, penerapannya akan bergantung pada apakah pemerintah mengizinkan penggunaannya sebagai dokumen entri.

Tanpa standar global yang disepakati, berbagai sertifikat bermunculan di seluruh dunia, termasuk IATA Travel Pass yang dikembangkan oleh Asosiasi Transportasi Udara Internasional. Uni Eropa sedang merencanakan sertifikat kesehatan digital dan Cina memiliki paspor kesehatan yang sudah digunakan.

Tetapi dokumen-dokumen ini hanya berlaku untuk penumpang yang diinokulasi dengan vaksin yang disetujui oleh otoritas tersebut. Mengakui pentingnya koordinasi dengan aplikasi lain, Fujita mengatakan interoperabilitas adalah kuncinya.

Baca juga: Tak Perlu Bawa Surat Hasil Test Covid-19 atau Vaksin, Emirates Gandeng IATA Hadirkan Travel Pass

“Kami juga sedang berdiskusi dengan IATA dan pemerintah Jepang untuk implementasinya. Diharapkan pengguna bisa mendownload aplikasi yang mereka inginkan,” tambahnya.

Untuk diketahui, ANA juga akan melakukan uji coba solusi IATA pada bulan

Tokyo Metro Hadirkan Aplikasi untuk Mudahkan Penumpang Temukan Toilet Kosong di Stasiun

Toilet akan ada di berbagai tempat dan biasanya di sebuah stasiun besar akan ada beberapa dengan jarak yang cukup jauh satu dengan lainnya. Tokyo merupakan salah satu kota yang memiliki beberapa stasiun kereta bawah tanah yang sangat besar dengan beberapa toilet di dalamnya.

Baca juga: Wow, Toilet Umum di Jepang Dibuat Transparan

Hub utama di area Tokyo terdiri dari koridor yang tampak seperti tidak memiliki ujung yang menghubungkan berbagai jalur, pusat perbelanjaan dan deretan restoran. Bahkan diantaranya sangat kompleks sehingga dapat berfungsi ganda sebagai peta penjara bawah tanah RPG.

KabarPenumpang.com melansir dari laman soranews24.com, dalam peta kereta bawah tanah Ikebukuro Metro Tokyo ada empat toilet di area yang berbeda. Meski ada banyak toilet, tetapi jarak satu dengan lainnya cukup jauh sehingga bila panggilan alam dan saat tiba terisi penuh, mau tak mau penumpang harus berjalan cukup jauh dengan menahan hasrat tersebut.

Bisa dikatakan menahannya cukup lama dalam hitungan menit karena jaraknya cukup jauh ke toilet berikutnya. Untungnya Tokyo Metro mempermudah pengadaan tempat buang air besar untuk umum. Mulai 1 Desember, penumpang bisa menggunakan smartphone Anda untuk mengecek, secara real time, kamar mandi mana di Stasiun Ikebukuro yang masih kosong.

Layanan Penyediaan Informasi Lowongan Toilet yang baru ditambahkan dari Aplikasi resmi Tokyo Metro memberi tahu penumpang jumlah total kios dan berapa banyak yang saat ini kosong untuk toilet yang terletak di dekat platform Marunouchi, Yurakucho dan Fukutoshin Line, serta Echika Ikebukuro pertokoan. Informasi diperbarui terus-menerus oleh sensor yang mencatat apakah pintu kios ditutup (dan dengan demikian kios-kios tersebut ditempati).

Kemudian mengirimkan data ke server Tokyo Metro, yang menyampaikannya kepada pengguna aplikasi. Jadi penumpang yang ingin ke toilet tak perlu khawatir, karena tidak ada kamera yang terlibat, jadi aplikasinya tidak bergantung pada perangkat lunak pengenalan wajah untuk menentukan berapa banyak orang yang membuat wajah buang air besar pada waktu tertentu.

Baca juga: Wuih, Ada Robot Desinfektan Beroperasi di Stasiun Takanawa Gateway 

Aplikasi Tokyo Metro gratis untuk digunakan dan dapat diunduh untuk perangkat iOS dan Android. Sebagai permulaan, Layanan Penyediaan Informasi Lowongan Toilet hanya akan ditawarkan untuk Stasiun Ikebukuro sebagai uji kegunaan dan kelayakan program, yang akan berlangsung dari 1 Desember hingga 28 Februari. Bergantung pada hasilnya, Tokyo Metro dapat memperluas program ke program lainnya.

Akhirnya Penumpang Pesawat di Kursi Tengah Tak Perlu Rebutan ‘Armrest’ Berkat Inovasi Kursi Joy

Sejak era maskapai berbiaya murah (LCC) datang dan sangat diminati traveler di dunia, perbincangan hangat terkait hak armrest di bangku tengah terus terjadi. Selain itu, dengan memaksimalkan muatan, bukan kenyamanan, legroom dan jarak antar kursi menjadi sangat dekat.

Baca juga: Japan Airlines Bingung Saat Orang Terberat di Dunia Naik Pesawat, 16 Kursi Jadi ‘Korban’

Alhasil, penumpang kesulitan untuk berdiri sempurna di depan kursi masing-masing serta kerap tak nyaman karena gesekan bahu antar penumpang. Terlebih bila penumpang di sebelah memiliki bobot di atas wajar.

Akan tetapi, mungkin, kisruh perebutan armrest dan berbagai masalah yang sudah dikemukakan di atas akan berakhir saat kursi Joy buatan Rebel.Aero digunakan maskapai di seluruh dunia.

Dilansir Simple Flying, kursi Joy memang didesain untuk menjadi pioneer kursi nyaman di kelas ekonomi. Hal itu didasari sejumlah alasan, seperti terbuat dari bahan ringan dan kuat, tata letak, dan fitur-fitur simple namun sangat dibutuhkan.

Kursi Joy diklaim jadi solusi untuk kenyamanan penumpang kelas ekonomi. Foto: Rebel.Aero

Disebutkan, secara keseluruhan, kursi terbuat dari bahan-bahan ringan dan teknik pembuatan modern. Selain itu, seatback dibuat dengan bahan thermoplastik agar perawatannya bisa jauh lebih terjangkau. Dua ini dinilai bukan hanya bermanfaat untuk penumpang, melainkan untuk maskapai karena mengurangi berat total pesawat. Itu berarti menghemat konsumsi bahan bakar atau cost.

Sarung jok belakang kursi Joy Rebel.Aero dibuat sangat simple tanpa jahitan. Kursi juga dilengkapi dengan fitur flip up booster, dimana kursi bisa dilipat untuk memberikan keleluasaan kepada para penumpang untuk berdiri di depan kursi.

Manfaat lain, fitur kursi lipat ini tentu juga membuat akses keluar masuk penumpang yang duduk di pojok dekat jendela jadi lebih cepat, sehingga meningkatkan on time performance (OTP) maskapai dan efisiensi bahan bakar.

Fitur spesial kursi Joy Rebel.Aero adalah letak kursi tengah yang sedikit lebih maju dibanding kursi di sebelahnya. Desain seperti ini dinilai menjadi solusi terbaik untuk mengakhiri polemik perebutan armrest di kursi tengah serta gesekan bahu antara penumpang di kursi tengah dengan penumpang di sebelah kanan dan kirinya.

Di bagian tengah, kursi Joy dibuat sedikit lebih maju agar tidak sejajar dengan bahu penumpang di sebelahnya. Foto: Rebel.Aero

Lagi pula, secara sosial, armrest di kursi tengah merupakan hak penumpang yang duduk di kursi tersebut, mengingat penumpang yang duduk di sisi aisle dan dekat jendela sudah memiliki keuntungan tersendiri.

“Kalau penumpang yang duduk di window seat bisa menyandarkan kepalanya di jendela. Sedangkan, buat yang duduk di sisi aisle punya keleluasaan apabila akan berjalan ke lorong untuk ke toilet dan keluar pesawat,” dikutip dari akun instagram Angkasa Pura I

Baca juga: Dear Maskapai, Mau Kejar OTP Tinggi? Perhatikan Pengaturan Masuknya Penumpang Ke Kabin!

Dengan penegasan ini, diharapkan tidak ada lagi penumpang yang bingung mengenai etika ini. Selain itu, diharapkan kenyamanan penumpang pesawat tetap terjaga, khususnya di penerbangan jangka waktu lama.

“Jadi, karena sudah tau etikanya, jangan rebutan sandaran tangan di pesawat lagi, ya!” ujar API mengingatkan.

Berada Satu Meter Dibawah Lumpur, Bagian Inti CVR Sriwijaya Air SJ-182 Ditemukan

Tak jauh dari lokasi titik ditemukannya Flight Data Recorder (FDR) dan berada satu meter di bawah permukaan lumpur, bagian penting dari komponen Black Box, yaitu Cockpit Voice Recorder (CVR) dari pesawat Boeing 737-500 Sriwijaya Air PK-CLC dengan nomor penerbangan SJ-182, akhirnya ditemukan pada 30 Maret 2021, pukul 20.00 WIB.

Baca juga: Black Box Pesawat Bisa Hancur! Ini Penyebabnya

Karena berada di bawah permukaan lumpur dan banyaknya puing-puing yang berserakan di dasar laut, menjadikan operasi pencarian CVR selama ini mengalami kesulitan, terlebih dengan pencarian secara visual. Baru kemudian, pihak KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi) menggunakan jasa kapal penyedot lumpur TSHD King Arthur 8 saat melakukan upaya pencarian CVR.

“Bersama dengan 15 penyelam, kami menggunakan kapal penghisap lumpur, Kapal TSHD, di-area 90×90 meter. Kapal TSHD ini punya kemampuan menyedot lumpur seperti vacuum cleaner,” kata Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono dalam jumpa pers saat serah terima CVR di Dermaga JICT, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (31/3/2021). Selanjutnya, bagian utama CVR yang ditemukan akan dibawa ke laboratorium KNKT dan diharapkan hasilnya dapat didengarkan dan dibuatkan transkrip percakapan dalam waktu 3-5 hari.

CVR berfungsi merekam data-data percakapan pilot di dalam kokpit, termasuk percakapan kru pesawat dengan ATC selama 30 menit sampai 2 jam (teknologi baru bisa mencapai 25 jam). Soerjanto Tjahjono sendiri mengungkapkan, bahwa pihaknya sangat sulit untuk menentukan penyebab kecelakaan SJ-182 tanpa adanya informasi dari CVR. Adapun black box CVR, tepatnya casing CVR sudah ditemukan pada 15 Januari 2021. Tetapi, black box dalam kondisi hancur sehingga memori CVR-nya terlepas dari casing dan baru ditemukan 30 Maret 2021.

Secara umum, black box mampu menahan benturan dengan kecepatan hampir 500 km per jam. Black box menahan panasnya api sampai 1.100 derajat celcius selama 1 jam. Selama 30 hari, black box mampu mengirim sinyal ping yang dapat ditangkap sonar hingga kedalaman 6.000 meter lebih. Itu berarti, di atas batasan-batasan tersebut, black box sangat mungkin hancur atau tidak berfungsi maksimal.

Ketimbang ‘Sepi Merana,’ Bandara Kertajati Bakal Disulap Jadi Pusat Bengkel Pesawat

Setelah resmi beroperasi pada 24 Mei 2018, boleh dikata denyut aktivitas di Bandara Internasional Kertajati tidak berjalan sesuai harapan. Padahal bandara yang dikelola PT Angkasa Pura II dan telah menghabiskan kocek Rp2,6 triliun itu punya spesifikasi tinggi, sebut saja landas pacunya dapat didarati pesawat wide body sekelas Boeing 777.

Baca juga: Sepi Penumpang di Masa Pandemi, Bandara Kertajati Sewakan Area untuk Foto Prewedding

Namun, lain dari yang diharapkan oleh pemerintah, pelan-pelan maskapai mulai meninggalkan Bandara Kertajati, pangkal musababnya adalah rendahnya animo pengguna jasa yang naik dan turun di bandara yang berlokasi di Majalengka, Jawa Barat tersebut. Waktu tempuh yang relatif lama dari Kota Bandung, membuat pengguna jasa lebih memilih Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta.

Bagi maskapai, mereka justru lebih tertarik untuk kembali ke Bandara Husein Sastranegara di Bandung. Dari 11 rute pernerbangan yang didaftar, hanya satu yang beroperasi. Itu pun dipaksakan. Sisanya, dibatalkan oleh maskapai lantaran tingkat okupansi penumpang masih di bawah 30 persen. Maskapai pun enggan terbang dari Kertajati.

Sepinya Bandara Kertajati sudah terjadi sebelum era pandemi Covid-19 di Indonesia, dan bisa dibayangkan, semakin sepi lagi bandara yang punya runway 3.000 meter ini setelah ditimpa efek pandemi. Pengelola bandara pun dibuat kelimpungan, lantaran untuk mengoperasikan sebuah bandara tidaklah kecil. Setidaknya butuh Rp 6-7 miliar per bulan untuk biaya pengoperasian.

Saat pesawat Kepresiden mendarat perdana di Bandara Internasional Kertajati

Sebagai catatan, pada awal pandemi pengelola Bandara Kertajati sempat menyiasati untuk mencari pemasukan untuk biaya operasional dengan menawarkan jasa penyediaan tempat untuk foto prewedding. Tapi beragam upaya itu tak membuahkan hasil maksimal. Tetap saja, Kertajati sepi, plus pandemi menghantam, maka pudarlah pamor Bandara Kertajati.

Dikutip dari RM.id (31/3/2021), menghadapi persoalan di atas, Presiden Jokowi pada Senin lalu menggelar Rapat Kabinet membahas nasib Kertajati. Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi Sumadi, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, ikut hadir.

Hasilnya diputuskan, Bandara Kertajati akan difokuskan sebagai tempat Maintenance, Repair, Overhaul (MRO) atau bengkel pesawat. Ridwan Kamil memastikan, fungsi tersebut tidak menghilangkan peran komersialisasi angkutan penumpang dan layanan kargo. Ridwan Kamil menyebut, sepinya Bandara Kertajati salah satunya disebabkan belum berfungsinya Tol Cisumdawu (Cileunyi-Sumedang-Dawuan). Rencananya jalur tol tersebut akan dibuka pada Desember 2021.

Baca juga: [Opini] Bandara Internasional Kertajati, Untuk Siapa?

Nantinya kawasan Bandara Kertajati bakal ramai, pasalnya Presiden Jokowi dalam amanatnya juga telah menginstruksikan pemindahan lokasi dua Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yakni PT Pindad dan PT Dirgantara Indonesia dari Kota Bandung ke wilayah Kertajati.