Viral di TikTok, Wanita dan Pasangannya Diusir dari Kabin Gegara Tak Gunakan Masker

Tak hanya ketika keluar rumah, bepergian dengan moda transportasi apa pun masa kini semua orang diwajibkan menggunakan masker. Bila ada yang tidak menggunakan masker kemungkinan besar akan di usir atau dikenakan sanksi ditempat. Seperti yang terjadi pada seorang wanita yang ikut dalam penerbangan Southwest Airlines.

Baca juga: Siap Lepas Landas, Delta Airlines Kembali ke Gerbang Lantaran Ada Penumpang Tak Mau Pakai Masker

Di mana wanita itu dan teman perjalanannya diusir dari penerbangan karena dituduh menolak menggunakan masker. Insiden ini terekam dalam sebuah video yang viral di TikTok yang diunggah oleh Brendan Elder. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman businessinsider.com (4/4/2021), dalam video itu, seorang wanita terlihat berdebat dengan seorang anggota kru.

@b_edler56

#karen

♬ original sound – Brendan Edler

Video ini direkam secara diam-diam dari tiga baris ke belakang, dimulai di tengah-tengah argumen. Permasalahan ini dikarenakan pada seorang penumpang yang menolak untuk mematuhi protokol kesehatan Covid-19 dengan tidak mengenakan masker.

Pada awal video, penumpang wanita itu menggunakan masker. Reaksi orang-orang di pesawat, bagaimanapun, menunjukkan bahwa ini tidak terjadi sebelumnya. Wanita yang tidak diketahui identitasnya berkeras tidak melanggar aturan.

“Saya benar-benar menurut. Maksudmu aku tidak menurut dan memakai topeng ketika kamu memintaku?” kata wanita itu kepada pramugari.

Tak lama kemudian, wanita tersebut menuduh pramugari tersebut tidak mengatakan yang sebenarnya. “Kamu pembohong dan kamu harus hidup dengan itu,” terdengar dia berkata.

Mereka yang dalam penerbangan kemudian mulai mengejek wanita itu dan mulai mengucapkan selamat tinggal.

“Bye,” teriak satu orang.

“Turun dari pesawat,” teriak yang lain.

“Itulah yang terjadi jika Anda tidak meminta maaf,” terdengar orang lain berkata.

Wanita itu kemudian berdiri, menunjukkan jari tengahnya kepada orang-orang di pesawat, dan berjalan pergi dengan teman seperjalanannya. Penumpang yang tersisa tampak gembira, dengan seorang wanita menari. Sayangnya Southwest Airlines mengatakan tidak memiliki rincian lebih lanjut tentang situasinya tetapi memberikan informasu kebijakan menggunakan masker.

Baca juga: Menolak Pakai Masker Selama Penerbangan, Siap-siap Pramugari Akan ‘Catat’ Nama Penumpang!

“Undang-undang federal mewajibkan Southwest untuk memastikan setiap orang yang berusia dua tahun ke atas untuk mengenakan masker setiap saat selama penerbangan, termasuk selama naik dan turun. Kami mengomunikasikan mandat penutup wajah kepada semua Pelanggan di berbagai titik kontak selama perjalanan perjalanan,” kata juru bicara Southwest Airlines.

Depo EMU Kereta Cepat Jakarta-Bandung Tegal Luar Selesai Dibangun

Kereta cepat pertama di Indonesia sepertinya akan terwujud secara nyata dalam beberapa waktu kedepan. Pasalnya konsorsium usaha patungan Kereta Cepat Jakarta-Bandung (HSR) baru-baru ini mengeluarkan sebuah pernyataan yang mengatakan penyelesaian konstruksi utama dari ketiga bangunan produksi dan kompleks di Indonesia.

Baca juga: Didukung Cina, Indonesia Perpanjang Jalur Kereta Cepat Jakarta-Bandung Hingga ke Surabaya 

Proyek tersebut mulai selesai pengerjaannya dengan penutupan bagian akhir sehingga memperlihatkan sebuah bangunan yang menandai adanya kemajuan lain dari konstruksi. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman xinhuanet.com (5/4/2021), dalam pernyataan yang dikeluarkan oleh KCIC, bagian akhir bagunan ini ditutup pada hari Sabtu (3/4/2021) dan ini mewakili penyelesaian konstruksi utama dari ketiga produksi serta bangunan kompleks di bagian pekerjaan.

Untuk diketahui, total luas konstruksinya sendiri 17 ribu meter persegi. Di mana gedung tersebut akan menjadi pusat komando dan pengiriman untuk depo Electric Multiple Units (EMU) Tegal Luar di pinggiran Bandung, Jawa Barat.

KCIC mengatakan, depo EMU Tegal Luar merupakan yang pertama di Indonesia dan tempat kereta peluru untuk tempat tinggal sebelum maupun setelah beroperasi. Nantinya ini juga akan menjadi tempat kerja profesional untuk pemeriksaan, pengujian dan perawatan kereta api setelah selesai.

Kereta Cepat Jakarta ke Bandung ini akan beroperasi dengan kecepatan 350 km per jam. Nantinya akan mempersingkat waktu perjalanan dari Jakarta ke Bandung yang sebelumnya tiga jam menjadi sekitar 40 menit.

Baca juga: Kereta Cepat Jakarta-Bandung Penuh Masalah, Indonesia Balik Rangkul Jepang! Ahli: Sulit Integrasikan Cina-Jepang

Meski bangunan utama depo selesai, proyek jalur kereta cepat ini masih memiliki masalah yang belum selesai. Beberapa diantaranya adalah dampak buruk analisis dampak lingkungan, ledakan pipa pertamina di proyek hingga berbagai masalah pembuangan limbah, kebisingan hingga kerusakan pada lingkungan sekitar seperti rumah warga.

Bukan Hanya Shuttle Bus Vs A320neo Batik Air, Inilah 6 Insiden Mobil Tabrak Pesawat Terpopuler

Pada Sabtu sore, 3 Maret 2021, shuttle bus maskapai Batik Air menabrak bagian bawah moncong pesawat Batik Air. Kejadian tersebut diduga terjadi di apron Terminal 2 Bandara Internasional Soekarno Hatta.

Baca juga: Insiden Shuttle Bus Tabrak Pesawat A320neo Batik Air Jadi Bahan Ejekan Netizen Asing

Sebelum Batik Air, insiden serupa juga pernah terjadi di berbagai belahan bumi. Namun, tak semua insiden mobil menabrak pesawat dan sebaliknya pesawat menabrak mobil yang menyita perhatian. Agar lebih jelas, berikut KabarPenumpang.com rangkum enam insiden mobil tabrak pesawat terpopuler.

1. Mobil Van Tabrak Pesawat Dragon Air

Foto: Twitter/Mirror

Pada September 2016 lalu, sebuah mobil van dikabarkan menabrak pesawat milik Dragon Air. Kronologi kejadian itu bermula ketika pesawat hendak lepas landas. Setelah persiapan selesai dan mendapat clearance dari petugas, pesawat mulai meluncur. Namun, tak lama kemudian, sebuah mobil van muncul di runway dari arah berlawanan. Pesawat akhirnya menabrak mesin dan sempat terseret sejauh beberapa meter.

2. Mobil AP 1 Tabrak Pesawat Wings Air

Satu pesawat milik Wings Air terpaksa tidak terbang atau grounded hingga saat ini akibat ditabrak kendaraan operasional PT Angkasa Pura I, ketika tengah parkir di apron Bandara Juanda Surabaya, 2017 silam.

Namun, entah bagaimana, mobil tersebut tiba-tiba mundur sendiri dan menabrak pesawat Wings Air yang tengah parkir di parking stand 27. Akibatnya, badan pesawat yang dekat roda mengalami penyok.

3. Mobil AC Tabrak Pesawat Silk Air

Foto: Tribunnews

Pesawat Boeing 737 Silk Air dengan nomor registrasi 9V-MGG dilaporkan ditabrak mobil AC PT JAS Aero-Engineering Services di Bandara Kualanamu, Medan, Sumatera Utara, pada Desember 2017 silam. Akibat kejadian itu, badan pesawat sobek 25 cm.

4. Mobil Polisi Tabrak Pesawat

Mobil tabrak pesawat juga dilaporkan pernah terjadi di Brazil, Amerika Selatan. Ketika itu, pada November 2011, kepolisian Brazil dengan sengaja menabrakkan mobilnya ke pesawat penyelundup yang hendak lepas landas dari bandara kecil. Mobil diketahui menabrak bagian sayap kiri pesawat hingga patah.

5. Mobil Katering Tabrak Pesawat Japan Airlines

Sebuah pesawat Japan Airlines (JAL) yang tengah parkir di apron terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) dilaporkan robek di bagian kanan belakang. Pesawat JAL JA606B tersebut robek akibat tertabrak mobil katering milik Aerofood ACS (Garuda Indonesia Group) pada Februari 2020 lalu.

Baca juga: Bodi Pesawat JAL Robek Gegara Tertabrak Truk Katering Garuda, “Netizen: Gaji 100 Tahun Pun Ga Akan Sanggup Bayar”

6. Pesawat Tabrak Mobil

Foto: Tenerife News

Selain mobil tabrak pesawat, insiden pesawat tabrak mobil juga pernah terjadi. Salah satunya pada Juni 2017 lalu. Ketika itu, sebuah pesawat yang akan lepas landas tiba-tiba bertabrakan dengan mobil di dekat landasan pacu di bandara Alicante-Elche, Spanyol.

Dilansir dari Dailymail, insiden terjadi ketika pesawat yang akan terbang menuju ke Roma bergerak ke arah landasan tiba-tiba bertabrakan dengan sebuah mobil. Akibatnya mesin bagian kanan pesawat mengalami kerusakan.

Insiden Shuttle Bus Tabrak Pesawat A320neo Batik Air Jadi Bahan Ejekan Netizen Asing

Insiden shuttle bus menabrak pesawat Airbus A320neo yang tengah parkir di apron rupanya juga menjadi sorotan netizen asing. Layaknya pengamat dan netizen Indonesia, beberapa dari mereka juga menyoroti kronologi kejadian itu. Beberapa lainnya melihat dampak kerusakan yang dihasilkan cukup besar.

Baca juga: Dua Pesawat KLM Tabrakan di Bandara Schiphol, Serikat Pekerja: Akibat Beban Kerja Terlalu Tinggi

Pada Sabtu sore, 3 Maret 2021, shuttle bus maskapai Batik Air dilaporkan menabrak bagian bawah moncong pesawat Batik Air. Kejadian tersebut diduga terjadi di Apron Terminal 2 Bandara Internasional Soekarno Hatta.

Informasi tersebut disampaikan oleh pengamat transportasi dan kebijakan publik, Agus Pambagio, melalui akun Instagram-nya. Dalam postinganya, Agus menuliskan adanya kecerobohan mobil Ground Handling sehingga menabrak depan pesawat Airbus A320neo.

“Pesawat Airbus Neo A 320 Batik Air dicium mesra mobil Ground Handling Batik Air. Cuma ada satu penyebabnya, kecerobohan Ground Handling Batik Air. Sepertinya pakai sopir tembak,” tulisnya.

Kabag Humas Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Budi Prayitno pun mengkonfirmasi kejadian tersebut. Menurutnya, shuttle bus itu merupakan kendaraan angkutan penumpang eksekutif.

Diketahui mobil itu tengah melaju di jalur average Bandara Soetta. Budi tidak menjelaskan secara detail apakah di shuttle bus itu membawa penumpang atau tidak. Shuttle bus itu menabrak pesawat Batik Air Airbus A320neo yang sedang parkir. Mobil itu terlihat terjepit oleh moncong pesawat.

Secara teknis, pesawat dan shuttle bus mempunyai jalurnya masing-masing sehingga mustahil terjadi insiden seperti itu bila keduanya berada di posisi yang telah ditentukan. Karenanya, investigasi mendalam, diikuti SOP ketat berdasarkan pengalaman itu, harus dilakukan agar insiden serupa tak pernah lagi terjadi di masa mendatang.

Meski demikian, karena sudah kadung terjadi dan foto-foto terkait insiden itu beredar luas di media sosial, netizen asing pun turut mengomentari. Bahkan salah satunya juga mengejek alias tak habis pikir bagaimana insiden seperti itu terjadi.

“Bisakah ditambahkan klaim pada gambar ini bahwa, ‘pesawat itu datang entah dari mana’,” kata salah akun @Veloccerosso, seperti dilihat KabarPenumpang.com dari Twitter @airlivenet.

Baca juga: Bodi Pesawat JAL Robek Gegara Tertabrak Truk Katering Garuda, “Netizen: Gaji 100 Tahun Pun Ga Akan Sanggup Bayar”

Selain itu, netizen lain juga menyoroti biaya reparasi yang ditimbulkan akibat insiden tabrakan itu. “Sepertinya itu bakalan mahal banget (biaya perbaikannya),” tulis akun @StandbyWithMe.

Kendati mendapat perhatian luas dari masyarakat luas, dalam dan luar negeri, namun, pihak Batik Air sendiri sampai saat ini belum buka suara terkait insiden itu. Padahal, ada banyak hal yang harus diklarifikasi, seperti kronologi kejadian, siapa yang menyulut insiden itu, apakah pesawat atau mobil ground handling, berapa biaya kerugian, berapa lama pesawat diperbaiki, dan bagaimana kebijakan perusahaan terhadap karyawan yang terlibat dalam insiden ini.

Arsitek Asal Milan Buat Desain Trem yang ‘Friendly’ di Masa Pandemi

Italia menjadi salah satu negara yang mengalami dampak infeksi virus corona (Covid-19) sangat besar dan Milan menjadi salah satu kota yang terpukul karena pandemi. Apalagi dengan pandemi ini yang kemudian mengubah kebiasaan orang-orang saat ini termasuk bagaimana berpikir untuk kembali menggunakan transportasi umum.

Baca juga: Trem Hybrid Melintas di Jalur Krakow Polandia

KabarPenumpang.com melansir dari laman businessinsider.in (18/6/2020), transportasi umum disebut-sebut sebagai salah satu tempat penyebaran Covid-19 karena ada laporan virus ini bisa bertahan di permukaan bus dan kereta hingga 72 jam. Hal ini kemudian membuat seorang arsitek asal Milan, yakni Arturo Tedeschi merancang versi transportasi umum yang ramah di masa pandemi.

Trem masa lalu dan desain masa kini (businessinsider.com)

Arturo mengadaptasi trem Milan ke zaman Covid-19 dengan cara yang sadar akan estetika dan prinsip-prinsip desain. Adapun tampilan yang dirancang Arturo pada transportasi umum yakni dengan membandingkan trem klasik dengan trem desainnya saat ini.

Di mana akan ada tampilan luar yang diperbarui dengan bahan-bahan modern. Arturo mengatakan, dia menafsirkan kembali gaya dan proposi aslinya tapi masih bisa dikenali. Di bagian sisinya akan menampilkan tampilan rute trem yang dinamis mirip dengan yang dibuat di dalam kereta.

Nantinya trem tersebut akan dilengkapi dengan informasi yang bisa berubah secara real time dan membuat navigasi di kota asing menjadi lebih mudah. Dia mengatakan akan ada ruang yang digunakan untuk iklan.

Uniknya di bagian dalam trem, kursi penumpang yang satu dengan lainnya tidak diberi tanda seperti stiker untuk menjaga jarak melainkan dengan memisahkannya menggunakan plexiglass. Arturo menambahkan dirinya mengubah pusat trem menjadi landasan pacu atau “passerella” yang dikelilingi dengan langkah-langkah keamanan.

Tak hanya itu, desain geometris di lantai juga memberi sinyal jarak yang aman untuk menjaga antar penumpang. Arturo memiliki fokus tak hanya pada kepraktisan tetapi juga desain menarik yang terlepas dari Covid-19.

Bagian dalam trem desain Arturo Tedeschi (businessinsider.com)

“Milano adalah ibukota desain dan ‘Milanesi’ tidak akan mudah beradaptasi dengan solusi yang sepele dan buruk,” katanya.

Dia bahkan memperluas desain ke atap, yang bisa dilihat dari balkon di sekitar Milan. Desain dan pola kuning di atap adalah referensi ke futurisme Italia, menurut Tedeschi. Dalam satu rendering, ia menempatkan Passerella di Piazza del Duomo di Milan, menunjukkan bagaimana desainnya pas di kota.

Baca juga: Trem Kuda di Jakarta Riwayatmu “Doeloe”

Meskipun desain ini khusus untuk Milan, prinsip-prinsipnya dapat digunakan pada transportasi umum di seluruh dunia. Bisa dikatakan saat ini, Arturo telah menciptakan desain yang lebih elegan yang menggabungkan langkah-langkah keamanan, tetapi tidak menjadikannya titik fokus.

Matekane Air Strip, Bandara Terekstrem dengan Ujung Runway Langsung Mengarah Ke Jurang

Lesotho, sebuah negara berbentuk kerajaan di bagian Selatan Benua Afrika ini, dijamin belum banyak yang mendengar. Negara bekas jajaran Inggris ini menjadi salah satu negara di dunia yang tak mempunyai batas laut. Sebab, Lesotho seluruhnya diapit oleh Afrika Selatan, dengan 80 persen topografi wilayahnya terletak di ketinggian melebihi 1.800 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Baca juga: Courchevel, Bandara Ekstrem di Adegan James Bond “Tomorrow Never Dies”

Dengan kondisi topografi mayoritas berada di ketinggian, Lesotho rupaya banyak dikenal di kalangan pilot dunia karena memiliki salah satu bandara terkestrem di dunia, yakni Matekane Air Strip. Betapa tidak, bandara yang berada di ketinggian 2,299 mdpl ini memiliki dua indikator utama yang membuatnya pantas menyandang gelar tersebut (bandara terekstrem di dunia).

Dikutip dari berbagai sumber, dua indikator itu berupa kepemilikan runway terpendek di dunia (hanya 396 meter) dan ujung runway menuju jurang sedalam 600 meter. Jadi, bila sedikit saja pilot melakukan kesalahan, bukan tak mungkin pendaratan akan berujung maut.

Selain itu, indikator lainnya yang membuat Matekane Air Strip pantas menyandang gelar bandara terekstrem di dunia termasuk dikelilingi pegunungan yang menjulang tinggi, cuaca yang kerap berubah dengan cepat, hembusan kencang angin Selatan, serta minimnya infrastruktur keselataman dan keamanan pendaratan.

Dari dua indikator tersebut, setidaknya Matekane Air Strip bisa head to head dengan dua bandara lainnya dalam mengukur seberapa ekstrem bandara itu. Pertama dengan Bandara Juancho E. Yrausquin dan kedua dengan Bandara Courchevel. Dari sisi runway, Matekane Air Strip memiliki runway lebih pendek dari Bandara Juancho E. Yrausquin yang memiliki 400 meter. Lagipula, bila pilot gagal melakukan pendaratan dengan sempurna, pesawat hanya akan jatuh ke laut, masih tergolong aman dibanding jurang sedalam 600 meter.

Adapun dengan Bandara Courchevel, dari sisi ketinggian dan topografi, bandara itu juga memiliki kemiripan dengan Matekane Air Strip, dengan memiliki ketinggian di atas 2.000 meter, dikelilingi pegunungan, dan ujung runway menuju jurang. Hanya saja, Courchevel memiliki runway lebih panjang ketimbang Matekane Air Strip, yakni sepanjang 537 meter. Jadi bisa disebut tak lebih ekstrem.

Matekane Air Strip sendiri, usut punya usut, merupakan bandara milik Matekane Group of Companies suatu perusahaan yang bergerak di bidang kemanusian dan kedokteran di Lesotho. Bandaranya memang khusus bagi para relawan dan dokter-dokter dari seluruh dunia yang mau membantu masyarakat Lesotho. Bandaranya bukan merupakan bandara komersil.

Hal itu memang cukup relevan, mengingat negara yang beribukota Maseru, di sebelah Utara Matekane Air Strip, 40 persen penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan internasional, dengan pendapatan kurang dari Rp20 ribu per hari. Jadi, banyak aktivitas kemanusiaan di negara tersebut, khususnya wilayah di sekitar bandara.

Matekane Air Strip diperkirakan masuk dalam distrik Mafeteng. Jangan membayangkan gedung mewah, sebab bandaranya hanya berupa landasan pacu saja. Belum lagi, akses menuju bandaranya cukup sulit karena ada di atas tebing di kawasan terpencil.

Baca juga: Juancho E. Yrausquin Airport, Bandara Terkecil dengan Runway Terpendek di Dunia

Traveler yang penasaran, bisa memesan penerbangan ke sana melalui situs Matekane Group of Companies. Baru-baru ini, perusahaanya membuka rute penerbangan dengan pesawat perintis CRJ200 ke Bandara Moshoeshoe I di Maseru, ibukota Lesotho. Ya, hanya pesawat perintis saja yang bisa mendarat di sana.

Pemandangan perbukitan hijau di sana memang terlihat cantik, yang membuktikan Lesotho pantas diberi julukan The Kingdom In The Sky. Berbeda dengan pilot, mendarat di sana bagaikan mimpi buruk.

Boeing 707 Milik Qantas Pernah Terbang dengan Lima Mesin!

Pada awal Januari 2016 lalu, Boeing 747 milik Qantas sempat menjadi perbincangan hangat karena membawa lima mesin sekaligus di sayap. Penumpang sempat dibuat khawatir karenanya. Mereka takut tiga mesin di sayap kiri dan dua mesin di sayap kanan membuat pesawat menjadi tidak seimbang dan pada akhirnya dikhawatirkan bakal berdampak fatal.

Baca juga: Penumpang Justru Senang Pesawat Delay 2 Jam Gegara Apollo 11 Kembali Ke Bumi

Namun, kekhawatiran itu langsung dibantah Qantas. Flag carrier Australia tersebut memastikan, pesawat Qantas rute Sydney-Johanesburg bernomor penerbangan QF63 tetap aman sekalipun terdapat perbedaan jumlah mesin di kedua sayap pesawat. Mesin tersebut pada hakikatnya hanya sebagai sebuah ‘tempelan’ saja untuk digunakan oleh pesawat Qantas lainnya yang mengalami gangguan mesin di Johannesburg, Afrika Selatan. Jadi, mesin yang beroperasi tetap hanya empat.

Hal itu dilakukan Qantas untuk mempersingkat waktu pengiriman. Pasalnya, bila mesin dikirim via laut, mungkin akan memakan waktu lama. Kemudian, teknik penempatan mesin di sayap juga didorong oleh dimensi pesawat itu sendiri. Boeing 747 tidak cukup besar untuk memuat mesin pesawat. Itulah sebabnya mesin diletakkan di sayap.

Menurut Qantas, Boeing 747 memungkinkan untuk dipasangi satu mesin tambahan di kedua sayapnya. Pemasangan itu pun tidak memengaruhi kondisi pesawat. Hanya saja teknik ini memang jarang digunakan. Namun bagi Qantas, teknik tersebut rasanya sudah begitu melekat. Tercatat, Qantas pernah menerapkan teknik tersebut pada tahun 2011 dan 1959 silam.

Dikutip dari Simple Flying, Qantas adalah maskapai pertama di luar Amerika Serikat yang menjadikan Boeing 707 sebagai armadanya setelah secara resmi mulai beroperasi pada 29 Juli 1959. Boeing 707 untuk Qantas sebenarnya dibuat secara khusus dan varian yang lebih pendek daripada yang dibeli oleh maskapai AS.

Sebelum mulai dioperasikan, Boeing 707 pertama diterima Qantas pada 7 Juni 1959. Namun, Qantas tak langsung segera menerbangkannya melainkan menunggu selama dua pekan untuk mencari cara agar mesin kelima bisa diangkut di sayap pesawat. Ketika teknik pemasangan mesin kelima di sayap sudah berhasil diaplikasikan dan tak mengganggu keamanan penerbangan, barulah Boeing mengirimkan belasan pesawat sisa, dengan tambahan mesin kelima yang sudah terpasang.

Mesin kelima tersebut dipasang bukan untuk digunakan secara bersamaan dengan keempat mesin lainnya, melainkan hanya sebagai sebuah mesin cadangan bilamana terdapat masalah pada mesin di kemudian hari, baik terhadap pesawat tersebut ataupun pesawat lainnya. Dengan begitu, pesawat-pesawat Qantas dapat tetap terus terbang.

Baca juga: Inilah 11 Perbedaan Maskapai Penerbangan Era 70-an dengan Sekarang

Kehadiran Boeing 707 bagi Qantas dan warga Australia secara umum rupanya berhasil membawa perubahan besar. Pada tahun 1950-an, rata-rata orang Australia butuh waktu setahun (menabung) untuk bisa pergi ke London menggunakan pesawat karena harga tiket selangit.

Perubahan pun muncul ketika Qantas mulai mengoperasikan Boeing 707. Dari semula butuh setahun atau 48 pekan, harga pun anjlok menjadi hanya butuh sekitar 32 minggu di tahun 1960 atau satu tahun setelah 707 beroperasi. Lima tahun kemudian, pada 1965, harga kembali anjlok menjadi hanya 22 minggu. Hal ini pun pada akhirnya menyadarkan masyarakat Australia bahwa liburan ke Eropa bukan lagi sebuah angan belaka.

VACA Limousines – Hasil ‘Kawin Silang’ Boeing 727 dengan Bus Mercedes-Benz, Dijual Rp14,7 Miliar!

Boeing 727 pada umumnya dimodifikasi menjadi sebuah huniah mewah dengan harga beragam, mulai dari Rp500 jutaan hingga Rp3,2 miliar. Namun, tidak demikian bagi VACA Limousines. Perusahaan yang berbasis di Guadalajara, Meksiko itu justru merombak rongsokan Boeing 727-24C menjadi sebuah kendaraan mewah hasil perpaduan dengan bus Mercedes-Benz seharga US$1 juta atau Rp14,7 miliar (kurs 1 dollar Rp14,.900).

Baca juga: Nabung Bertahun-tahun, Pria Ini Sulap Boeing 727 Jadi ‘Tesla’ Mewah Seharga Rp3,2 Miliar

Dikutip dari AutoEvolution, harga semahal itu mungkin sangat sebanding dengan proses, fitur, serta nilai investasi gabungan dari pesawat dan bus. Mula-mula Boeing 727 yang sudah purna tugas dipotong bagian sayap dan ekornya, dan menyambungnya ke bus Mercedes-Benz dengan kapasitas tempat duduk hingga 40 orang.

Sebagian besar kokpit dipertahankan, tetapi pastinya bus ini membutuhkan tambahan stir. Jet limo masih mempertahankan mesin diesel turbo asli 10.886 kg ketika bahan bakar penuh, dan panjangnya sekitar 16 meter. Panjang dan besar, Jet limo ini mampu menempuh kecepatan 124 mph (200 Km per jam).

Sebetulnya Limo Bob, pemilik Limo Jet hasil kawin silang Boeing 727 dengan bus Mercedes-Benz sudah membuat modifikasi unik tersebut sejak 2004 lalu. Namun, baru pada 2007, setelah muncul di eBay, Limo Jet karya Limo Bob mulai banyak dibicarakan orang. Kala itu, di eBay, Limo Jet dipamerkan dengan foto-foto interior jazzy disertai dengan deskripsi singkat yang menyoroti ruang tamu cekung dengan lantai dansa, TV layar lebar, perapian, dan bar.

Fitur ekstra, tipe limusin lainnya termasuk lampu strobo, lampu gemerlap dengan cermin lebih banyak, mesin kabut dan kursi aerodinamik, bersama dengan kamar mandi kecil dan tiga unit AC. Tujuan yang jelas dari desain tersebut adalah untuk menyediakan klub yang bisa untuk pesta 40 orang, sesuai dengan kapasitas bus itu sendiri.

Baca juga: Dengan Kocek Kurang dari Rp500 Juta, Nenek 78 Tahun Sulap Boeing 727 Jadi ‘Little Trump’

Saat ini, Limo Jet terdaftar sebagai bagian dari armada salah satu Limo Bob alias “The Legend,” pemilik Star Limo Service. Jika Anda kebetulan berada di atau di sekitar Los Angeles, Anda masih dapat menyewa limusin yang menarik ini seharga US$ 100,000 sebulan atau Anda bahkan bisa membelinya seharga US$ 1 juta atau Rp14,7 miliar, cukup mahal bila dibandingkan bus lainnya, namun, cukup sebanding bila melihat proses, fitur, dan nilai investasi gabungan dari pesawat dan bus; terlebih, dengan status Limo Jet sebagai penyandang the longest 2-piece in the world and the world’s longest one-piece limousine di Guinness Book of Record.

Sebagai gambaran, pada tahun 1999, Bruce Campbell, eks insinyur listrik di AS telah lebih dahulu memodifikasi Boeing 727 menjadi sebuah hunian idaman. Kala itu, nilai investasinya mencapai Rp3,2 miliar, dengan rincian membeli pesawat Boeing 727 seharga 23.000 dolar AS atau sekitar Rp300 juta serta dana tambahan untuk memodifikasi hingga sebesar 220.000 dolar AS atau sekitar Rp2,9 miliar lebih. Bila di tahun itu saja investasi untuk membuat hunian hasil modifikasi Boeing 727 sudah sebesar itu, cukup masuk akal bukan bila hasil modifikasi Boeing 727 dan bus Mercedes-Benz dibaderol seharga Rp14,7 miliar?

Airbus Tunjukkan Cara Maskapai ‘Curi’ Ruang Kaki Luas Dekat Pintu Darurat

Rasanya ruang kaki ekstra bisa penumpang dapatkan dan menjadi harga yang pantas bagi mereka yang duduk dekat pintu darurat. Namun, Airbus menunjukkan bahwa ada cara bagi maskapai penerbangan untuk mencuri semua ruang kaki dan mengganti dengan bantalan kursi lipat.

Baca juga: Dilema Seat Pitch, Maskapai Tambah Untung Penumpang Merana

Bagi banyak penumpang, kursi baris pintu keluar sebagai cawan suci dalam perjalanan kelas ekonomi. Dilansir KabarPenumpang.com dari simpleflying.com (30/3/2021), sedangkan beberapa maskapai penerbangan mengenakan biaya lebih untuk kursi ini di maskapai lain dan itu hanya keberuntungan yang mengartikan lebih banyak ruang kaki untuk perjalan Anda.

Pada pesawat dengan pintu darurat sayap berlebih, baris keluar cenderung memiliki jarak antar kursi sekitar 36 inci (91 cm), yang jauh lebih murah daripada 31 atau 30 inci pada baris kabin ekonomi. Sisi negatifnya adalah kursi ini hanya boleh ditempati oleh orang berusia di atas 15 tahun, dan mereka yang duduk di sana harus mampu secara fisik dan tidak bepergian dengan hewan peliharaan.

Alasan dari semua aturan ini sederhana dalam keadaan darurat, karena Andalah yang pertama mengambil tindakan. Mereka yang berada di barisan pintu keluar mungkin diminta untuk mengoperasikan pintu dalam keadaan darurat, dan akan diberi pengarahan oleh awak kabin tentang hal ini sebelum lepas landas.

Mereka harus bisa bergerak cepat, mengosongkan barisan, dan memberi jalan kepada orang lain yang harus keluar dari pesawat. Maka dari itulah mengapa ada lebih banyak ruang kaki untuk memungkinkan lebih banyak ruang lantai jika terjadi evakuasi cepat. Tetapi Airbus telah membuat rencana untuk menghilangkan manfaat itu.

Pada Crystal Cabin Awards 2019 yang kerap disebut sebagai ‘Oscar’ desain kabin pesawat, Airbus menghadirkan konsep yang disebutnya X-tend Seat. Kursi ini memiliki konsep baris pintu keluar yang unik, dengan mekanisme penyimpanan otomatis yang terlipat ke bawah saat kursi kosong. Itu dirancang sebagian besar untuk pesawat berbadan sempit dengan pintu keluar overwing, tetapi dapat digunakan di tempat lain juga.

Prinsip dari konsep ini adalah, alih-alih memberikan ruang kaki yang indah kepada penumpang di barisan pintu keluar, maskapai penerbangan dapat memberi mereka seat pitch yang normal dan masih memiliki ruang untuk evakuasi darurat. Airbus mengatakan ini akan menarik kembali sekitar sepuluh “ruang pada benda sempit, yang kemudian dapat didistribusikan ke kursi lain di kabin.

Jika Anda bertanya-tanya, tentang jaket pelampung di bawah kursi, sebagai gantinya ini akan disimpan di bawah jok depan. Kelemahan lain dari duduk di barisan pintu keluar tetap ada, seperti keterbatasan usia dan kemampuan, kurangnya sandaran dan larangan menyimpan tas di lantai.

Pada Airbus A320neo tipikal dalam konfigurasi semua ekonomi, akan ada 30 baris kursi dengan jarak 30 hingga 31 inci di mana sepuluh inci ekstra tidak cukup untuk masuk ke baris kursi lain, jadi mendistribusikan sepuluh inci cadangan ini di sekitar kabin akan memberi sepupuh baris ekstra satu inci, atau semua baris 0.33 inci ekstra.

Satu-satunya keuntungan realistis dari pencurian ruang kaki baris keluar ini, sejauh yang terlihat, adalah memberikan dua baris lagi jarak lima inci masing-masing menciptakan ‘Ekonomi premium’ kabin mini, atau mungkin produk kelas bisnis jarak pendek. Mempertimbangkan pekerjaan yang perlu dilakukan untuk memasang kursi ini dan mengkonfigurasi ulang sisa kabin, kami tidak dapat melihatnya sebagai konsep yang akan diambil lebih jauh dari ini, setidaknya tidak untuk pasar retrofit.

Baca juga: Akhirnya Penumpang Pesawat di Kursi Tengah Tak Perlu Rebutan ‘Armrest’ Berkat Inovasi Kursi Joy

Untuk pemasangan baru, mungkin maskapai hemat akan mempertimbangkan ini. Jika digabungkan dengan jarak 28 inci yang sempit di seluruh kabin, mungkin, mungkin, ada ruang untuk satu baris kursi lagi.

Mudahkan Pelancong, Kotak Camper Modular Bisa Jadi Basecamp Indoor dan Outdoor

Sering berpetualang menikmati keindahan alam, banyak yang memilih menggunakan campervan. Pasalnya kendaraan jenis ini memudahkan untuk menikmati pemandangan dan tidur di bawah langit tanpa harus menyewa hotel. Nah untuk itu kehadiran kit camper in a box bisa menjadi salah satu solusi yang baik bagi para pelancong.

Baca juga: Habiskan Rp10 Juta, Pria Asal Malaysia Ubah Daihatsu Hijet S85 Jadi Campervan

Belum lama ini sebuah kit camper in box dengan desain yang simpel hadir untuk memudahkan para pengguna campervan. Bisa dikatakan elemen umum ini dimiliki oleh banyak orang dan biasanya merupakan kotak horizontal atau sekumpulan kotak yang membentang selebar pintu belakang kendaraan. Tatanan kotak lebar ini berfungsi sebagai bagian paling belakang dari platform tempat tidur sekaligus menampung komponen dapur belakang.

Dilansir KabarPenumpang.com dari newatlas.com (24/3/2021), ini adalah tata letak alami yang menyediakan tiga bagian utama dari mini-camper yakni pengaturan tempat tidur, ruang memasak dan penyimpanan. Sebagai ganti kotak lebar, Girovaga Box menggunakan kotak dengan orientasi persegi untuk membentuk kira-kira setengah platform tidur.

Setiap kotak cocok dengan pelat dasar di lantai beban kendaraan dan serangkaian balok digabungkan untuk membentuk kerangka penyangga panel di bagian depan platform tempat tidur ganda. Pengguna juga dapat membuat kemping solo dengan memasang tempat tidur tunggal di satu sisi kendaraan, membiarkan sisi lainnya gratis untuk sepeda, papan selancar, ski atau perlengkapan olahraga lainnya.

Kemudian beberapa bantal digabungkan untuk membuat kasur. Empat kotak di bagian belakang konfigurasi Girovaga tidak memiliki kemampuan geser keluar, lipat-down atau flip-up untuk mengubah area pintu belakang menjadi dapur kemah. Sebaliknya, masing-masing dipindahkan ke dapur dan ruang makan di luar van.

Kotak yang menahan tumpukan wastafel di atas kotak penyimpanan air, memungkinkan selang dan pompa kaki manual untuk menghubungkan tabung air bersih ke keran dan wastafel ke tabung air limbah. Kompor tabung gas portabel muncul dari kotak lain dan dipasang di atas meja yang menggantung dari kotak wastafel.

Kotak kompor kosong itu kemudian menjadi bangku, diatapi salah satu bantal selebar kasur. Kotak terakhir kosong dalam konfigurasi standar dan menjadi bangku kedua. Salah satu panel yang mengisi ruang di platform tidur memiliki kaki yang dapat disesuaikan di alasnya dan diamankan ke blok wastafel untuk berfungsi sebagai meja makan.

Hanya perlu beberapa menit untuk pergi dari tempat tidur ke dapur atau sebaliknya dan beberapa menit lagi untuk menghapus kotak Girovaga sepenuhnya. Sistem tidak memasang hard-mount ke kendaraan, melainkan diamankan melalui tali pengikat selama transit. Setelah dilepas, keempat kotak dapat ditumpuk satu sama lain untuk menghemat ruang lantai selama penyimpanan.

Girovaga Box saat ini mengadakan kampanye Kickstarter untuk mengumpulkan dana yang dibutuhkan agar camper-in-a-box-nya mulai beroperasi. Mobil ini menawarkan dua ukuran Rodos 61 kg untuk van kompak seperti Fiat Doblo, Nissan NV200 dan Volkswagen Caddy dan Valem 69 kg untuk van ukuran sedang dan ukuran penuh seperti Fiat Talento atau Ducato, Mercedes V-Class atau Sprinter dan Volkswagen Transporter atau Crafter.

Baca juga: SAIC Maxus Life Home V90 Villa Edition, Sensasi Campervan Dua Tingkat

Kit Rodos Deluxe dengan kasur empuk penuh tersedia dengan harga €2.452 (sekitar US$2900), Valem Deluxe seharga €2.574 ($3.050). Girovaga Box juga menawarkan Smart kit dengan kasur tiup masing-masing seharga €1.818 dan €1.988 ($2.150 dan $2.350).