Hari ini, 20 Tahun Lalu, Bandara Incheon di Korea Selatan Resmi Beroperasi

Bicara tentang Korea Selatan, maka tak bisa diepaskan dari keberadaan Bandara Internasional Incheon, pasalnya, inilah pintu keluar masuk utama bagi para pelancong dan pebisnis yang bertandang ke Negeri Ginseng. Dan tahukah Anda, bahwa tepat hari ini, Bandara Incheon telah berusia 20 tahun.

Baca juga: Hindari Tatap Muka, Bandara Incheon Korsel Kerahkan Robot Canggih Pengukur Suhu dengan Sederet Kemampuan

Merujuk ke sejarahnya, Bandara Incheon kehadirannya melengkapi Bandara Internasional Gimpo. Awal kehadirannya di mana setelah Olimpiade Musim Panas pada 1988, lalu lintas udara menuju Korea Selatan meningkat drastis. Bahkan pada dekade 1990-an, hal itu semakin jelas bahwa Bandar Udara Internasional Gimpo tidak mampu mengatasi peningkatan lalu lintas udara.

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, untuk mengurangi beban Bandara Gimpo, maka pembangunan Bandara Incheon dimulai pada bulan November 1992. Incheon sendiri dibangun di atas tanah reklamasi antara Pulau Yeongjong dan Pulau Youngyu dan menghabiskan waktu selama delapan tahun untuk pembangunannya.

Enam bulan setelahnya pun digunakan untuk pengujian. Hingga akhirnya resmi dibuka secara resmi pada 29 Maret 2001. Awal mulai beroperasinya, banyak masalah yang terjadi di Bandara Incheon terutama pada masalah handling bagasi. Di mana memerlukan sistem yang dapat beroperasi semi otomatis.

Sebagian besar masalah tetap terjadi selama satu bulan dan ketika bandara mulai beroperasi. Setahun kemudian tepatnya tahun 2002 lalu lintas udara menuju Korea Selatan meningkat tajam. Karena meningkatnya, Korea Selatan melakukan pembangunan tahap kedua yang dimulai Februari 2002 dan pembangunan berakhir pada Desember 2008.

Karena Olimpiade Musim Panas 2008 pada bulan Agustus 2008, tetapi, jadwal konstruksi disesuaikan untuk memungkinkan pembangunannya berakhir pada Juli 2008. Pada tanggal 15 November 2006, Airbus A380 mendarat di bandara sebagai bagian dari leg pertama perjalanan sertifikasinya. Pengujian di landasan pacu, taxiway dan ramp menunjukkan bahwa bandara mampu menangani pesawat Airbus A380.

Untuk lebih meningkatkan pelayanan, Incheon dan perusahaan logistik besar Korea, Hanjin Corporation (perusahaan induk dari Korea Flag carrier, Korean Air), sepakat pada tanggal 10 Januari 2008 untuk membangun rumah sakit berlantai sembilan di dekat bandara. Setelah pembangunan selesai pada tahun 2011, Yeongjong Medical Centre diharapkan untuk melayani warga di dekatnya dan sebagian dari 30 ribu pelancong medis setiap tahunnya.

Baca juga: Antisipasi Peningkatan Trafik, Bandara Incheon Bangun Landas Pacu Keempat

Pada 2017 pembangunan terminal penumpang ke dua dibagian utara selesai untuk memperluas terminal kargo dan infrastruktur. Pada 2020 kemarin, adalah tahap pembangunan terakhir dan ultimate. Sehingga setelah selesai bandara akan memiliki dua terminal penumpang, empat concourse satelit, 128 pintu gerbang dan lima landas pacu sejajar (satu landas pacu dikhususkan untuk penerbangan kargo) yang sanggup melayani 100 juta penumpang dan tujuh juta metrik ton kargo per tahun, dengan kemungkinan perluasan lebih lanjut. Bandara diproyeksikan untuk bertransformasi ke dalam satu dari sepuluh besar bandara tersibuk di dunia pada tahun 2020.

Di India, Privatisasi Perusahaan Kereta Api Dianggap Ide Buruk, Ini Alasannya

Privatisasi adalah proses penjualan perusahaan milik negara ke sektor swasta. Privatisasi mungkin dilakukan dengan berbagai macam alasan dan kepentingan, seperti sisi positif yang dikemukanan adalah pada perbaikan kualitas layanan sampai dapat mengurangi beban keuangan pemerintah. Namun, tak selamanya langkah privatisasi bisa pas dilakukan, seperti di India, privatisasi pada perusahaan kereta api dianggap merupakan kebijakan yang keliru.

Baca juga: Pertama Kalinya Jaringan Kereta India Berhenti Operasi Dalam 167 Tahun

Dalam perspektif pelayanan publik dan kepentingan nasional, privatisasi pada jaringan kereta api India dianggap sebagai ide yang buruk. Pasalnya yang akan mendapatkan keuntungan adalah swasta dan publik mendapatkan kerugian. Ini terjadi dalam pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi yang tidak pernah serius mendanai lembaga publik.

Sejak Modi menjabat sebagai Perdana Menteri pada 2014 ternyata pemerintahannya telah membuka saluran untuk menjual sektor publik dan mengubah kebijakan Foreign Direct Investment atau FDI pada Agustus 2014. Di mana pemerintah memasukkan pembangunan, pengoperasian dan pemeliharaan sepuluh area perkeretaapian termasuk elektrifikasi, sistem persinyalan dan terminal kargo.

Dirangkum KabarPenumpang.com dari newslaundry.com (18/3/2021), Nantinya ini akan membawa mereka di bawah seratus persen FDI melalui jalur otomatis yang berarti pembeli atau investor tidak memerlukan persetujuan sebelumnya dari Reserve Bank of India atau pemerintah. Rencana Kereta Api Nasional, atau NRP mengatakan, semua kereta barang akan diprivatisasi pada pada 2031, bersama dengan 30 persen dari 750 unit stasiun KA.

Semua gerbong AC yang menghasilkan keuntungan juga akan diprivatisasi. Hanya kereta penumpang kelas dua yang merugi yang akan tertinggal dengan rel. Menariknya, pemain swasta hanya perlu berinvestasi dalam menjalankan kereta. Pengemudi dan penjaga akan berasal dari rel kereta api seperti halnya relnya. Kereta api juga akan memelihara stasiun, sementara pemesanan akan dilakukan oleh Indian Railway Catering and Tourism Corporation, atau IRCTC, anak perusahaan dari Indian Railways.

Ini berarti Kereta Api India hanya akan menjalankan kereta penumpang yang merugi sementara semua kereta yang menghasilkan keuntungan akan dioperasikan oleh sektor swasta. Sehingga bisa dikatakan tidak ada data yang didapat dari privatisasi perekeretaapian.

Hal ini karena Indian Railway hanya akan memungut biaya pengangkutan termasuk biaya untuk menggunakan lokasi stasiun, mesin kereta api, rel, sinyal, overhead listrik serta gaji masinis. Sedangkan pihak swasta akan bebas mengutip harga berapa pun dan dapat menggunakan harga dinamis seperti yang tejadi pada perjalanan udara.

Untuk menyikapi ini, penting untuk menyoroti kasus Reliance Infrastructure, yang meninggalkan Delhi Airport Link Metro pada Juli 2012 setelah lebih dari setahun beroperasi karena tidak memperoleh keuntungan yang diharapkan. Delhi Metro Rail Corporation, atau DMRC, memiliki perjanjian dengan Reliance untuk pengembangan dan pemeliharaan jalur kereta bandara dengan dasar pembagian investasi 50-50.

Total biaya proyek adalah Rs5.800 crore, dan DMRC menyumbang Rs 2.915 crore. Sisanya akan ditanggung oleh Reliance tetapi, melalui pemotongan biaya besar-besaran, mereka menahan seluruh investasi. Setelah selesai, proyek metro ditemukan memiliki struktur yang lemah dengan kebocoran dan cacat. Selain itu, Reliance menetapkan Rs150 sebagai ongkos, mengharapkan 44.000 penumpang akan menggunakan layanan mereka sehari.

Tetapi itu tidak terjadi dan tidak ada keuntungan. Reliance menutup operasi di tengah jalan dan DMRC harus mengambil alih. Setelah perbaikan, mereka membuka kembali jalur dengan tarif Rs50, dan penumpang kembali. Bisa dikatakan sudah terbukti berkali-kali bahwa sektor swasta tidak datang untuk berinvestasi di infrastruktur karena memiliki masa tunggu yang panjang, dan mereka harus menunggu keuntungan datang.

Baca juga: Tindaklanjuti Masalah Malfungsi Roda Kereta, Indian Railways Siap Pasang Sensor Canggih!

Perkeretaapian India didorong oleh kewajiban sosial untuk menyediakan fasilitas transportasi dasar bagi warga masyarakat, dan meletakkan dasar bagi beberapa kegiatan ekonomi skala kecil dan menengah. Jadi privatisasi perkeretaapian berarti memprivatisasi keuntungan dan membebani sektor publik dengan kerugian.

Ulang Tahun Ke-7, TransJakarta Tambah Tiga Fitur Baru di Aplikasi Tije

Ulang tahun ke tujuh (24 Maret 2021) membuat PT Transportasi Jakarta merambah ke dunia digital. Hal ini terlihat dari kehadiran beberapa fitur baru di aplikasi Tije. Direktur Eksekutif Transformasi Digital Tekonologi Informasi Transjakarta Gidionton Saritua mengatakan, di ulang tahun ketujuh, PT TransJakarta memberikan hadiah dari sisi fitur baru di aplikasi Tije.

Baca juga: Mudahkan Pengguna, “The Next Level of TransJakarta” Menjadi Pembaruan di Aplikasi Tije

Gidi menyebutkan ada tiga fitur terbaru yakni Loyalti-Je, Suara Pelanggan dan Kartu Layanan Gratis. Ia menjelaskan bahwa kehadiran loyalti, karena pelanggan berharap ada satu apresiasi yang bisa didapatkan ketika mereka menggunakan bus TransJakarta sebagai transportasi mereka.

“Sedangkan untuk suara pelanggan ini merupakan digital feedback atau laporan khusus yang adalah channel khusus agar memudahkan penumpang melaporkan apa pun yang dikeluhkan. Pelanggan dengan adanya ini bisa mengungkapkan yang selama ini tidak bisa diungkapkan karena tidak ada medianya,“ ujar Gidi.

Dia menambahkan nantinya pelanggan bisa laporkan terkait bus, halte atau pelayanan yang mereka terima selama menggunakan bus TransJakarta. Gidi menyebutkan keluhan tersebut akan masuk ke sistem dan dilihat satu persatu.

Encourage pelanggan untuk gunakan digital feedback ini. Selain itu juga ada layanan kartu gratis dan ini bisa digunakan bagi mereka yang menerimanya,“ kata Gidi. Nantinya pelanggan akan daftar melalui aplikasi sehingga tidak perlu datang ke kantor TransJakarta. Gidi menegaskan, nantinya pelanggan hanya mengirim berkas melalui aplikasi Tije sehingga tidak ada kontak fisik dan waktu yang harusnya datang ke kantor TransJakarta bisa digunakan untuk hal lain.

Sedangkan untuk pengambilannya nantinya pelanggan akan diberitahukan, kartu dikirim melalui pos atau langsung diambil ke kantor TransJakarta. Gidi menyebutkan pihaknya akan manghadirkan live chat beberapa bulan kedepan.

Sehingga pelanggan bisa berkomunikasi secara real time dengan petugas di command center. Hingga saat ini Gidi mengatakan untuk pembayaran masih menggunakan LinkAja dan partner lainnya sudah mulai dikoordinasikan sehingga channel pembayaran lain akan secepatnya hadir.

Baca juga: Ini Dia Empat Fitur Baru di Aplikasi “Tijeku” TransJakarta

“Kami sadar pelanggan punya preference lain sehingga kita juga giat kolaborasi dengan calon partner lainnya,“ ungkapnya.

Gidi menambahkan, kedepanya fitur—fitur di aplikasi Tije, bisnis platform dan customer platform, layanan dan lainnya akan di beratkan pada platform ini. Sehingga ini menjadi satu—satunyanya platform digital servis pada pelanggan.

E-paper Bantu Penumpang Dapatkan Berbagai Informasi Secara Real Time di “Bus Stop”

Teknologi yang semakin berkembang kini memudahkan penumpang yang akan menggunakan kendaraan umum. Salah satunya adalah kehadiran e-paper atau kertas elektronik di bus stop untuk membantu penumpang mengetahui secara nyata kapan bus datang dan berangkat dari halte.

Baca juga: Malaga, Kota Pertama di Eropa yang Operasikan Bus Listrik Otonom di Jalan Raya

Teknologi e-paper ini memiliki resolusi tinggi Luminator yang memberikan informasi waktu nyata yang dinamis. Di mana penumpang transit dapat mengetahui terkait peringatan pengendara, informasi rute dan lainnya.

E-paper sendiri hadir dengan multi halaman yang mudah dibaca yang tersedia dengan layar 13 inci dan 32 inci. Ini diperbarui dari jarak jauh dan otomatis sehingga memungkinkan penumpang transit mengakses informasi terbaru sekaligus mengurangi biaya tenaga kerja yang terkait dengan penggantian tampilan kertas secara manual.

Untuk diketahui, e-paper mengoptimalkan efisiensi operasional dan energi dengan LED yang berdaya sangat rendah. Bahkan dengan kemampuan tenaga surya opsional yang memungkinkan pemasangan yang mudah dan murah di hampir semua lokasi.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman masstransitmag.com (19/11/2020), untuk memaksimalkan aksesibilitas, sistem informasi penumpang e-paper Luminator dilengkapi dengan pengumuman audio on demand yang meningkatkan informasi tersedia untuk semua penumpang.

Baca juga: e-paper Papercast, Sistem Informasi Digital di Halte Bus dengan Tenaga Surya

Selain ini juga ada e-paper yang bertenaga surya yakni Papercast yang tampilannya dikontrol oleh sistem manajemen berbasis cloud yang canggih dan menawarkan integrasi sederhana dengan standar data terbuka seperti GTFS dan SIRI serta kemampuan untuk mengelola setiap tampilan termasuk pembaruan konten, pemantauan dan diagnostik.

 

Akhir 2021, Startup Hong Kong Luncurkan Layanan Drone Penumpang Pertama! Target Selanjutnya Indonesia

Sebagai wujud merealisasikan mobilitas udara perkotaan (UAM), startup asal Hong Kong, Seaplane, berencana meluncurkan layanan drone penumpang pada akhir 2021 mendatang. Tak hanya itu, perusahaan juga akan melayani penerbangan charter serta joyflight (tamasya udara). Layanan tersebut akan tersebut tersedia di beberapa kota di Hong Kong serta Greater Bay Area (wilayah teluk meliputi Guangdong-Hong Kong-Makau).

Baca juga: Taksi Drone Otonom EHang 216 Bakal Manjakan Pengunjung Kota Wisata Terpopuler di Guangdong

Dilansir hk.asiatatler.com, dilihat dari mobilitas dan geografi wilayahnya, Hong Kong bisa dibilang urgen untuk mulai merealisasikan UAM atau sistem transportasi perkotaan yang menggerakkan orang melalui udara, mengingat salah satu pusat bisnis terbesar di Asia ini sudah sangat padat.

Dengan luas 1.106 km², wilayah administratif yang terkenal dengan prinsip satu negara dua sistem ini dihuni oleh sekitar 8 juta lebih. Itu belum termasuk wisatawan yang seperti tak ada hentinya, baik wisatawan domestik maupun internasional.

Selain itu, geografinya yang berupa kepulauan, juga mendorong untuk tersedianya layanan drone penumpang pertama di Hong Kong. Kendati transportasi umum negara tersebut sudah sangat baik, dimana warga yang tidak mempunyai kendaraan tetap bisa berkeliling penjuru kota menaiki bus, tetap saja, kemacetan dan waktu tempuh tak bisa ditolelir.

Dari Victoria Park ke Bandara Internasional Hong Kong, misalnya, sebetulnya sangat mudah dijangkau dengan kendaraan pribadi -baik melalui jalan tol atau jalur arteri- maupun menggunakan transportasi publik. Hanya saja, jalannya harus memutar ditambah macet. Jadi waktu tempuh jadi kurang efisien. Padahal, bila melihat peta, keduanya hanya terpisah oleh teluk.

Sebetulnya, bisa saja warga menggunakan transportasi laut, seperti feri. Tapi, harganya cukup mahal dan waktu tempuhnya tak begitu singkat. Berbagai pertimbangan itulah yang membuat pada akhirnya Seaplane begitu yakin atas proyek ini.

Menurut pendiri Seaplane Hong Kong, Steven Cheung, proyek senilai HK$100 juta ini nantinya akan menawarkan layanan tamasya udara kepada warga lokal, penerbangan charter, serta layanan taksi udara kemanapun, di sekitaran Greater Bay Area, menggunakan drone canggih yang dikendalikan secara otomatis berkapasitas dua orang.

Agar memudahkan penghitungan tarif dan pemesanan, nantinya Seaplane Hong Kong juga akan menyediakan aplikasi di ponsel, layaknya ojek online. Dengan begitu, mobilitas udara perkotaan jadi lebih efisien dan efektif dalam menunjang mobilitas penduduk perkotaan.

Karena mengedepankan waktu sebagai sebuah keunggulan, layanan taksi udara melalui drone penumpang ini menargetkan warga dengan mobilitas tinggi. Perjalanan antara Central, Kwun Tong, dan Tseung Kwan O, misalnya, bisa ditempuh hanya dalam lima sampai delapan menit dari sebelumnya 25-35 menit.

Saat ini, layanan drone penumpang dengan tagline mudah, aman, dan ramah lingkungan ini sudah diajukan ke Departemen Penerbangan Sipil Hong Kong. Setelah disetujui, Seaplane masih harus mendapat persetujuan serupa dari Administrasi Penerbangan Sipil Cina (CAAC) untuk memulai operasi pada Januari 2022 mendatang.

Baca juga: Keren, Taksi Drone Otonom EHang 216 Sukses Ajak Penumpang Terbang Keliling Langit Cina

Bila segalanya lancar, Seaplane Hong Kong juga berencana memperluas ekspansi pasar ke sejumlah negara di Asia Tenggara, seperti Vietnam, Filipina, dan Indonesia.

Selain menggunakan drone, Seaplane juga mengandalkan dua pesawat Twin Otter untuk mendukung layanan tersebut. Pada 2025 mendatang, perusahaan berencana menambah jumlah armada menjadi 28 pesawat.

Intip Panel Surya Bandara Soetta, PLTS Terbesar di Indonesia yang Saingi Bandara Changi

Bandara Soetta boleh saja berbangga diri menjadi bandara terbesar di Indonesia yang ditenagai pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Hanya saja, sekalipun berstatus terbesar, nyatanya, luas PLTS di Bandara Soekarno-Hatta masih kalah tipis dibanding Bandara Changi, Singapura.

Baca juga: Bandara Kempegowda Aplikasikan Panel Surya Guna Operasional Harian

Sejak 1 Oktober 2020, sebanyak 720 solar panel system dengan photovoltaics berkapasitas maksimal 241 kilo watt per peak (kWp) dibangun dan dikelola oleh Bukit Asam yang juga menggandeng anak usaha PT LEN Industri yakni PT Surya Energi Indotama di atap gedung guna mengaliri listrik ke peralatan-peralatan canggih di fasilitas AOCC. Gedung AOCC sendiri merupakan salah satu fasilitas yang sangat vital di kawasan Bandara Soekarno-Hatta.

Gedung itu adalah pos komando terintegrasi untuk memastikan kelancaran operasional Soekarno-Hatta, dengan personil berasal dari PT Angkasa Pura II selaku pengelola bandara, lalu airline operator, air navigation dan authorities seperti Karantina, Bea dan Cukai, Imigrasi, Kepolisan dan sebagainya.

Sekalipun berkapasitas tak terlalu besar, ini merupakan PLTS terbesar yang dipasang di bandara di Indonesia dengan sistem atap (rooftop).

Sebelum PLTS terbesar di bandara mulai dibangun pada 2020 lalu, sebetulnya, harap sempat muncul jauh sebelum itu, tepatnya pada tahun 2013 lalu. Ketika itu, Angkasa Pura I diketahui telah menyepakati kontrak dengan SunEdison untuk pembangunan 15 MW di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.

Sayangnya, proyek yang digadang mampu mengurangi karbon sampai 200 ribu ton per tahun itu tak kunjung teralisasi. Tak heran bila akhirya PLTS terbesar kemudian jatuh ke tangan Bandara Soetta.

Disarikan dari berbagai sumber, kendati demikian, PLTS terbesar di bandara berbasis rooftop di Indonesia rupanya masih kalah tipis dibanding PLTS di Bandara Changi. Bandara yang terletak di Singapura itu juga merupakan bandara yang menggunakan solar panel di Asia Tenggara.

Walaupun cukup kecil, namun PLTS yang menjadi sumber tenaga listrik di terminal LCC bandara tersebut, masih lebih besar dibanding PLTS terbesar yang dipasang di bandara di Indonesia dengan sistem atap (rooftop).

Baca juga: Akhir 2022, Operasional Bandara Internasional Edmonton Pakai Tenaga Surya

Selain itu, sistem yang didanai oleh Pemerintah Singapura melalui the Clean Energy Research and Test-bedding (CERT) program, telah mengurangi hingga 320,000 kWh penggunaan listrik konvensional per tahunnya.

Panel surya yang digunakan adalah 127 kWp of First Solar’s thin film solar modules dan 123 kWp of REC’s polycrystalline solar modules dengan sistem pemasangan untuk rooftop. Sistem ini mampu mengurangi karbon hingga 160 ton hingga 25 tahun.

Indonesia Menjadi Negara Pertama Mendapatkan Bebas Visa ke Uzbekistan

Pelancong Indonesia kini bila memasuki negara Uzbekistan tak lagi perlu mengurus visa. Pasalnya Uzbekistan memberlakukan peraturan bebas visa ke tujuh negara dan yang pertama adalah Indonesia, kemudian ada Malaysia, Singapura, Jepang, Turki, Korea Selatan serta Israel.

Baca juga: Khusus ke Pulau Jeju, Bertandang ke Korea Selatan Memang Tak Perlu Visa

Peraturan tersebut ternyata sudah berlaku sejak 10 Februari 2018 dan untuk setiap pelancong diberikan waktu selama 30 hari. Namun bagi mereka yang akan menetap lebih lama bisa mengurus visa tinggal di kantor atau situs resmi imigrasi Uzbekistan. Bisa dikatakan bebas visa ini sangat menguntungkan bagi pelancong Indonesia yang gemar berkeliling dunia. Sebab negara di Asia Tengah ini memiliki objek wisata yang menarik untuk dikunjungi.

Anak-anak di Uzbekistan (detik.com)

KabarPenumpang.com menghimpun dari berbagai laman sumber mendapatkan fakta bahwa dulunya negara yang berbatasan dengan Kazakhstan, Tajikistan, Kirgistan, Afghanistan dan Turkmenistan ini memegang penting sebagai salah satu rute pada jalur sutera. Negara beribukota Tashkent ini, membuatnya begitu lekat dengan kultur dan sejarah.

Bahkan pada 2019, Uzbekistan dinobatkan sebagai negara paling baik karena budaya yang dipertahankan selama ribuan tahun. Di beberapa daerahnya memiliki landmark bagunan yang dijaga dan ke konsistenannya membuat UNESCO memberikan label situs warisan dunia untuk beberapa kota.

Kota itu antara lain Bukhara, Samarkand, Khiva dan Shakhrisabz. Bangunan-bangunnya sengaja dibiarkan untuk memancarkan eksotisme dari masa lalu Uzbekiztan. Bukan cuma keindahan arsitektur kuno, alam Uzbekistan pun begitu cantik. Ada pegunungan hingga padang pasir yang disuguhkan kepada wisatawan yang mau menjelajahi Uzbekistan.

Karena dekat dengan Laut Aral, Uzbekistan memiliki iklim yang cenderung hangat. Para penduduknya berbicara bahasa Uzbek dan Rusia dan beberapa lainnya yang tinggal di kota besar mahir berbahasa Inggris. Sedangkan mata uang yang digunakan adalah Uzbekistani som.

Negara ini sendiri dulunya adalah pecahan Uni Soviet, sehingga penduduknya masih berbicara dalam bahasa Rusia. Tak hanya bangunan dan alamnya, kuliner khas di Uzbekistan pun wajib di coba yakni Palov, Uzbek Shurpa, Shashlyk, Samsa, Lagman atau Manty.

Baca juga: Mau Melancong? Yuk Intip Biaya Visa on Arrival Saat Tiba di Bandara Luar Negeri

Setiap tahunnya ada 2,5 juta pelancong yang mampir ke negara di Asia Tengah ini. Untuk melancong ke negara ini, Anda bisa menyiapkan kocek sekitar Rp20 juta untuk pulang pergi. Durasi penerbangannya sekitar 22 jam dengan transit satu kali.

Hebat, Ternyata Telepon Umum di Jepang Bisa Kirim Email ke Telepon Seluler

Sebelumnya, robot sudah banyak hadir di berbagai tempat di Jepang, toilet di Negeri Sakura ini pun dilengkapi dengan teknologi berserta fitur yang keren. Namun ternyata tak hanya itu, sebab telepon umum di Jepang tengah menjadi sorotan karena adanya beberapa gerakan online baru-baru ini.

Baca juga: Toilet Berteknologi Tinggi, Bikin Pelancong Bingung di Bandara Haneda

Di mana telepon umum ini berbeda dari yang biasanya dan banyak orang tak tahu tentang gebrakan tersebut yakni pengguna bisa mengirimkan email ke telepon seluler. Terlebih lagi ternyata Jepang telah memiliki kemampuan ini selama bertahun-tahun.

Dilansir KabarPenumpang.com dari soranews24.com (31/10/2019), sebelum kehadiran telepon umum ini, pengguna bisa menggunakan telepon umum untuk mengirim email ke pengguna telepon dengan penyedia layanan Docomo, au ataupun SoftBank. Sedangkan dua yang terakhir yakni au dan SoftBank telah menghapus fitur tersebut dan Docomo masih mempertahankannya.

Seorang reporter SoraNews Seiji Nakazawa berpikir email yang dikirim melalui telepon umum akan menjadi semacam kejutan untuk membuat rekan kerjanya kaget. Saat mencobanya, Seiji memasukkan koin 100 yen ke dalam lubang koin di telpon umum yang akan digunakan dan mulai bekerja.

Prosedur untuk mengirim email adalah, setelah pengguna memasukkan koin, kemudian tekan 090-310-1655. Lalu tekan nomor telepon orang yang ingin pengguna kirimi email, nantinya akan mendengar suara ditelpon mengatakan “Messeji wo irete kudasai” (“Harap masukkan pesan Anda”), ketik pesan Anda.

Setelah selesai kemudian tekan tombol pagar (#) dua kali dan tutup telepon. Cara ini cukup simpel bila terlihat, Namun bagaimana Anda bisa mengetik pesan tanpa keyboard atau layar sentuh? Ternyata solusi untuk ini sudah ada hampir 30 tahun di mana pengguna mengetik pesan seperti orang biasa ketika mereka mengirim pesan teks ke pager.

Setiap karakter sesuai dengan kode dua digit, dengan digit pertama di kiri dan digit kedua di atas. Misalnya, untuk mengetik S Anda akan menekan 49 (88 untuk mengosongkan ruang). (soranews24.com)

Jika tahun 1990-an adalah sejarah kuno bagi Anda, berikut bagan praktis. Seperti yang Anda lihat, Anda dapat mengirim pesan dalam alfabet Latin atau teks Jepang. Untuk teks bahasa Jepang Anda menggunakan karakter katakana fonetik, bukan hiragana atau kanji, tetapi tetap memungkinkan Anda menulis kalimat yang dapat dimengerti.

Mengirim pesan pada dasarnya gratis, tetapi Anda malah dikenakan biaya untuk waktu yang Anda habiskan untuk memasukkannya, dengan tarif yang sama seperti yang Anda bayarkan untuk panggilan telepon ke ponsel cerdas. Karena itu, Anda sebaiknya merencanakan pesan Anda sebelumnya, dan berkat sedikit pekerjaan persiapan, Seiji dapat menyelesaikan pesannya dalam jumlah waktu yang telah dibeli oleh koin 100 yen miliknya.

Baca juga: Kereta Shinkansen Jepang Hadirkan Tiket Kereta Elektronik

Dan benar saja, tak lama setelah dia menutup telepon, telepon Pak Sato berdengung hidup dengan pemberitahuan pesan untuknya, dengan pengirim ditampilkan sebagai “PublicPhone.” Seperti disebutkan di atas, dua dari tiga penyedia layanan telepon seluler utama Jepang telah kehilangan kemampuan jaringan mereka untuk menerima email dari telepon umum, tetapi untuk saat ini Docomo tetap menggunakannya, yang merupakan kabar baik bagi semua orang di Jepang yang telah masih menggunakan pager hingga teknologi itu secara resmi dihentikan bulan lalu.

Head to Head COMAC C919 ‘Made in China’ Vs Airbus A320neo, Siapa Unggul?

Perusahaan dirgantara pelat merah asal Cina, China Commercial Aircraft Corporation of China (COMAC) mulai goyang duopoli Boeing dan Airbus. Meski masih jauh untuk bisa berdiri sejajar dengan kedua produsen pesawat komersial terbesar di dunia, COMAC tetap tak dianggap sebelah mata.

Baca juga: Cina Pusing COMAC Masuk Daftar Hitam, Proyek Pesawat Komersial “Made in China 2025” Mangkrak

“Ada banyak tantangan dan saya pikir masih terlalu dini untuk mengatakan sejauh mana (COMAC) mampu bersaing dengan Boeing dan Airbus. Namun kami menanganinya dengan serius dan kami mengamati dengan cermat apa yang terjadi di sana,” kata CEO Airbus, Guillaume Faury, seperti dikutip dari Simple Flying.

Di antara pesawat buatan COMAC yang paling potensial, pesawat narrowbody COMAC C919 adalah salah satunya. Pesawat ini nantinya akan bersaing ketat dengan Airbus A320neo di pasar pesawat menengah. Meski demikian, hal itu nampaknya tak akan mudah.

Dilihat dari spesifikasi pesawat, COMAC C919 masih jauh tertinggal dari Airbus A320neo. Agar lebih lengkap, berikut head to headnya. COMAC C919 akan kami sebutkan terlebih dahulu.

Panjang – 38,9 meter vs 37,57 meter.
Wingspan – Sama-sama membentang sepanjang 35,8 meter.
Tinggi – 11,95 meter vs 11,76 meter.
Kapasitas penumpang – 158 penumpang vs 150-180 penumpang.
Range – 4.075-5.555 km (2.200-3.000 NM) vs 6.300 km (3.400 NM).

Dari data di atas, COMAC C919 terbukti hanya unggul dari segi panjang dan tinggi pesawat, yang sebetulnya tak terlalu berpengaruh dengan perbedaan sekecil itu. Sebaliknya, di bagian-bagian terpenting, seperti kapasitas penumpang dan range atau jangkauan terbang, pesawat Made in China itu justru kalah telak. Dengan begitu, bisa dibilang, pesawat yang tengah bersiap melewati uji sertifikasi itu jauh tertinggal dari segi spesifikasi pesawat.

Satu-satunya yang mungkin COMAC C919 bisa lebih bernilai daripada A320neo adalah dari segi harga. Sebagaimana produk-produk buatan Cina lainnya, COMAC C919 digadang bakal sedikit lebih murah dari Airbus. Peluang itu ada sekalipun tak cukup besar. Sebab, dalam kasus ini berbeda.

Produk-produk Made in China pada umumnya mayoritas diproduksi oleh perusahaan lokal atau buatan lokal. Alhasil, harganya murah. Tetapi, COMAC C919 tidak demikian. Hampir seluruh komponen pesawat tersebut adalah buatan Barat. Bahkan, bisa dibilang, COMAC C919 hanya namanya saja pesawat Made in China, nyatanya, hampir seluruh komponennya berasal dari Barat. Setidaknya, itulah yang dikatakan Scott Kennedy, penasehat senior Center for Strategic and International Studies (CSIS).

Laporan NTD News, Kennedy pernah mengatakan bahwa pesawat COMAC C919 hanya namanya saja Made in China. Sebab, nyaris seluruh komponen yang membuatnya terbang berasal dari rantai pasokan di Barat, khususnya Amerika Serikat (AS).

Baca juga: COMAC Serius Goyang Duopoli Airbus dan Boeing, Pesanan Nyaris 1.000 Unit Jadi Sinyal Kuat

Mesin C919, misalnya, memakai produk CFM Internasional dan General Electric, perusahaan patungan AS-Perancis. Sistem avionik, landing gear, dan flight control diproduksi oleh Honeywell serta sistem komunikasi dan navigasi diproduksi oleh Rockwell Collins. Keduanya merupakan perusahaan asal AS. Secara keseluruhan, perusahaan AS memasok seperlima komponen pesawat COMAC C919.

Sedangkan perusahaan-perusahaan Eropa memasok sekitar sepertiga komponen ke pesawat itu; termasuk juga ke pesawat “Made in China” lainnya, COMAC ARJ21. Adapun sisanya dipasok oleh 14 perusahaan Cina, dengan tujuh di antaranya merupakan perusahaan patungan.

Hadirkan Resolusi Digital, Thales Persembahkan Inovasi Baru di Industri Kereta Api

Teknologi kereta otonom saat ini sudah digunakan di banyak negara, dan belum lama ini, perusahaan multinasional milik Perancis,  yakni Thales mengadakan konferensi pers yang memaerkan solusi “rel digital”-nya. Amaury Jourdan, Vice President dan CTO Thales membahas pentingnya keamanan siber dan solusi digitalnya saat ini dan di masa depan untuk industri perkeretaapian.

Baca juga: Dengan Lokomotif Otonom, Swiss Federal Railway Siap Naikkan ‘Kasta’ Armadanya

KabarPenumpang.com menghimpun dari railway-technology.com, Jourdan mengatakan Thales saat ini tengah mengerjakan apa yang disebut dengan teknologi kecerdasan buatan.

“Tetapi hari ini kami tidak dapat melakukannya karena kami memiliki standar dan peraturan yang sangat, sangat ketat. Untuk mencapai teknologi otonomi kereta api, sensor perlu disertakan untuk memberikan kereta api kesadaran situasional, yang dapat dikomunikasikan melalui satelit,” jelas Jourdan.

Selain itu, dengan memastikan langkah-langkah keselamatan agar ditegakkan, kereta juga perlu diberikan informasi mengenai rutenya, informasi keselamatan penumpang dan lainnya.

“Kami sudah melakukan uji coba pertama misalnya dengan SNCF di Prancis [dan] dengan operator di Jerman. Kami saat ini sedang melakukan uji coba dengan sensor dan bagaimana kami sebenarnya dapat mengotomatiskan lebih banyak dengan keyakinan operasi kereta jalur utama,” ujarnya.

Thales percaya bahwa pada tahun 2025, otonomi kereta api utama akan menjadi fungsi yang sepenuhnya tersedia. Masa pandemi ini mengubah cara semua orang menjalani kehidupan sehari-hari secara dramatis seperti jarak sosial, pemakaian masker dan sanitasi yang sering.

Pentingnya menjaga jarak sosial dalam lingkungan stasiun adalah kunci untuk memastikan tidak hanya keselamatan penumpang sendiri tetapi juga sesama penumpang. Teknologi yang dikembangkan oleh Thales dikenal sebagai DIVA. Ini adalah algoritme deteksi kerumunan untuk membantu penumpang menghindari area ramai di dalam stasiun serta memberikan wawasan, prediksi dan peringatan kepada operator transportasi.

Teknologi tersebut bekerja dengan memanfaatkan kamera CCTV yang ada di dalam dan sekitar stasiun kereta api dengan menggunakan algoritma computer vision. Data ini kemudian digunakan untuk menghasilkan data waktu nyata dan peta panas untuk memberikan wawasan tentang kepadatan penumpang bagi penumpang dan karyawan.

Salah satu cara teknologi dapat digunakan adalah dengan memberikan panduan penumpang di platform dengan menggunakan data CCTV, DIVA dapat menunjukkan kepada penumpang yang sedang menunggu di peron mana gerbong kereta yang mendekat lebih atau kurang ramai. Informasi ini diberi kode warna seperti hijau untuk rendah, kuning untuk sedang dan merah untuk tinggi.

DIVA menyediakan peta kepadatan jaringan langsung yang menunjukkan kepada karyawan tingkat kepadatan penumpang di setiap area stasiun. Sistem kode warna merah, kuning, dan hijau digunakan lagi untuk menunjukkan ambang batas kepadatan yang dapat dikonfigurasi sebelumnya sebelum pemasangan teknologi. Pemantauan kepadatan penumpang ini juga akan memungkinkan operator untuk menentukan berapa banyak kereta yang perlu dijalankan.

Baca juga: Teknologi Geolokasi Real Time Mudahkan Perbaikan Masalah di Kereta Api

Thales juga mempresentasikan metode mobilitas berkelanjutannya, GreenSpeed. Teknologi nasihat pengemudi ini, yang dikendalikan oleh algoritme, memberi tahu pengemudi cara terbaik mengemudikan kereta sesuai dengan berbagai isyarat lingkungan. Teknologi tersebut memantau kecepatan, kondisi cuaca dan lintasan kemacetan, dan menurut Thales, akan mengurangi emisi hingga 15 persen yang setara dengan konsumsi kota yang berpenduduk 2.000 jiwa per tahun.